Spesial Karena …

 

Beberapa hari terakhir ramai dengan selebrasi #HarryPotter20, memperingati 20 tahun sejak diterbitkannya buku Harry Potter untuk pertama kali. Media sosial pun ramai dengan ekspresi para fans yang menuliskan pengalaman mereka dengan serial legendaris karya JK Rowling satu itu.

Niat saya awalnya hanya sekadar menikmati kisah-kisah lucu dari hasil scrolling ibu jari tersebut. Tetapi, ketika sebuah akun di Instagram mengunggah foto satu tangan tengah memegang buku Harry Potter dan menuliskan pengalamannya mendapatkan buku tersebut, saya pun ikut tergelitik menumpahkan kisah sendiri di kolom komentar:

“Pernah ada masa ketika Harry Potter rilis bertepatan dengan masa ujian sekolah. Saya dibolehin beli sama ortu, tapi…. disita dan ‘disembunyikan’ dulu sama ibu sampai masa ujian selesai. Tiap beliau lagi mandi atau keluar rumah, saya bergerilya mencari-cari di mana tempat persembunyiannya (tapi enggak berhasil hahaha) 😂 Kalau enggak salah, itu Harry Potter keempat.”

Keesokan harinya, akun yang sama kembali mengunggah foto satu-tangan-memegang-buku. Harry Potter kali ini absen, digantikan Supernova karya Dee Lestari. Saya lagi-lagi merasa punya kenangan yang sama erat dengan buku ini, dan merasa harus membagikannya di kolom komentar:

“Sekitar 2001 atau 2002, seseorang yang lebih senior memberikan buku ini pada saya. Waktu itu saya bahkan belum lulus SD 😂 Teman sekelas melihat saya membawa buku ini ke sekolah dan saya masih ingat keheranannya, ‘Kamu baca Supernova?’. Setelah itu, beberapa kali saya mencoba membacanya tetapi enggak connect. Mungkin karena belum dewasa 😋 Kemudian buku ini terlupakan di rak, sampai kira-kira saya SMA saya mencoba membacanya kembali. Astaga, luar biasa, bisa memahami buku yang dulu pernah kubaca tapi tak kumengerti (kira-kira begitu sensasinya hahaha). Ini… ini salah satu buku terbaik yang pernah orang lain berikan pada saya.”

Setelah dua hari turut menyumbangkan komentar, saya jadi ingat memori-memori sentimentil lainnya terkait buku. Terlarut dalam nostalgia, saya pun tersadar: jangan-jangan yang membuat sebuah buku spesial tidaklah hanya soal seberapa membekas isinya, atau seberapa drastis ia mengubah pemikiran kita, melainkan kenangan akan kapan dan bagaimana saya memilikinya.

Jujur, buku-buku koleksi saya di rumah masih belum banyak. Setidaknya, tidak seperti Karl Lagerfeld yang mengklaim menyimpan sampai 300.000 buku di rumahnya atau book-hoarders akut lainnya. Tapi, dari dulu, memang buku selalu menjadi bagian dari (dan pasti juga, membentuk) hidup saya.

Ada judul-judul tertentu di rak buku, yang akan selalu saya ingat bagaimana mendapatkannya: buku yang dibeli dalam perjalanan mudik ke kampung kakek-nenek, koleksi serial yang berhasil didapat setelah berkeliling kios loak, kamus hadiah dari guru les karena hasil ujian saya melebihi ekspektasinya, komik yang dipinjam tetangga begitu lama dan begitu dikembalikan isinya penuh coretan, novel yang saya pinjamkan ke gebetan begitu lama dan begitu dikembalikan dia (gebetan, bukan buku) sudah ada yang punya…

Hingga judul-judul tertentu yang menjadi penanda zaman: Wah, saya pertama kali baca serial ini di perpustakaan SD. Yang ini, dibaca sembunyi-sembunyi waktu SMP. Yang itu, teenlit yang hits banget waktu SMA, semua baca!

Ah, such a bittersweet nostalgia. Terima kasih kalian semua, untuk menjadi saksi bisu segelintir kenangan pahit-manisnya babakan hidup.

Untitled


Salah satu buku yang saya anggap paling spesial bagi saya bukan karena penulisnya terkenal atau karena ceritanya memukau nalar dan mengguncang iman… tetapi karena tulisan yang terdapat di halaman pertamanya:

“Selamat ulang tahun ke-9. Semoga panjang umur dan kelak menjadi orang yang bijak. Tetaplah membaca untuk menambah pengetahuan, tapi… jangan lupa belajarnya! Sayang selalu dari Papa, Mama, dan Adik.”

[]

Penulis: Mariska // @mvergina (Twitter dan Instagram). Tinggal di Tangerang, sehari-hari bergelut dengan kata-kata di salah satu harian di Jakarta.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s