Buah Marlina

Orang-orang tua, terutamanya nenek, pernah bilang kalau ingin merebut hati lelaki dan mempertahankan hatinya untukmu, peganglah perutnya. Dari perut turun ke hati. Sehingga meneguhkan perempuan berada di dapur. Tentunya para feminis akan berteriak menentang. Tapi tunggu dulu. Di sisi lain, dapur memiliki daya magis dan kekuatannya sendiri. Aroma yang sering keluar dari dapur sebuah hunian, sering menjadi daya pikat yang dahsyat.

Seorang Tante berusia lanjut, saat anak-anaknya tak lagi tinggal serumah, memiliki resep Rawon yang luar biasa. Entah bagaimana cara dia memasaknya, yang pasti memang lebih enak bahkan dari kota asalnya, Surabaya. Tapi, jangan harap bisa mendapatkan resepnya. Bahkan mulai dari saat dia berbelanja bahan sampai memasak, semua hanya boleh dilakukannya sendiri. Mengapa? Inilah senjata rahasianya. Her secret weapon.

Senjata untuk apa? Untuk menjaga agar anak-anaknya kembali ke padanya. Agar anggota keluarga merindukannya. Supaya semua berkumpul karena merindukan Rawonnya. Dan di atas segalanya, membuat Tante selalu merasa dibutuhkan. Usia semakin senja, rasa dibutuhkan memberikan semangat hidup yang luar biasa. Melebihi nominal asuransi yang telah disiapkan, atau kebutuhan untuk jalan-jalan tanpa beban.

Dari dapur pula huru hara Marlina, Si Pembunuh dalam Empat Babak berawal, Dapur yang diasosiasikan sebagai kelembutan dan kasih sayang, berubah menjadi tempat rencana pembunuhan dimulai. Dengan ketenangan dan kelembutan yang ditampilkan, Marlina adalah perempuan tangguh karena bisa membunuh 5 laki-laki sekaligus. Hanya dengan sebuah buah beracun yang dicampur ke dalam sup ayam saat dimasak Marlina. Serunya lagi, sup ayam adalah pesanan laki-laki itu sebelum berniat memperkosanya. So guys, be careful what you wish for.

Buah Bintaro yang dipakai Marlina diambil dari laci meja rias di kamarnya. Berarti, Marlina memang mempersiapkannya untuk suatu waktu jika diperlukan untuk membunuh. Mengapa Marlina tidak menyimpannya saja di dapur. Lebih praktis kan. Mungkinkah Mouly ingin menempatkan buah beracun setara dengan alat rias yang juga bisa dianggap sebagai “senjata”?

Marlina adalah juga pembunuh berdarah dingin. Saat Marlina sedang diperkosa dan bersiap membunuh dengan memenggal kepala pemerkosanya, posisi Marlina sedang di atas mengendarai pemerkosa. Dalam bahasa visual, posisi ini memberikan kemerdekaan kepada perempuan untuk mengatur ritme seks. Di saat pemerkosa sedang kenikmatan itulah, Marlina mengeluarkan pedang dari belakang dan menebas kepala pemerkosanya hanya dalam sekali ayun. Kalau orang biasa mana bisa.

Bukti kalau Marlina sudah biasa melakukannya adalah saat Marlina membawa penggalan kepala manusia, Marlina tak berusaha menutupi atau kebingungan. Saat duduk di bis, perempuan biasa tak mampu duduk di sebelah Marlina karena bau yang menyengat. Sementara Marlina tetap duduk dengan tenang saja seperti sedang membawa ayam.

Satu lagi bukti Marlina sudah biasa membunuh, saat teman perempuan yang ditemuinya di jalan menyuruhnya untuk mengaku dosa, Marlina berkata dengan tegas kalau dia tidak merasa berdosa. Kalau pembunuhan yang dilakukannya ini adalah yang pertama kali, beragam perasaan akan berkecamuk dalam dirinya. Termasuk perasaan berdosa karena telah membunuh. Ingat, bukan satu tapi 5 laki-laki sekaligus dibunuhnya dengan sistematis dan terencana.

Satu bukti lagi, sesaat sesudah membunuh, Marlina tidak menghubungi teman atau saudara, tapi berusaha menghubungi kantor polisi. Yang artinya, jelas Marlina tidak merasa bersalah sedikit pun. Dan satu-satunya senyum yang merekah dari bibir Marlina adalah sesaat setelah membunuh. Lalu pertanyaannya, sepanjang hidupnya sudah berapa pembunuhan yang dilakukan Marlina? Siapa saja korban-korbannya?

Yang menjadikan film ini “ngeri-ngeri sedap” adalah sebagai penonton, kita dibawa untuk bersimpati pada Marlina. Usaha ini kayaknya berhasil kalau membaca komentar penonton di media sosial. Kecantikan dan gerak gerik anggun yang ditampilkan Marlina membius kita sehingga semua yang dilakukannya adalah benar. Bukankah ini yang sering terjadi dalam keseharian? Mata kita sering mengelabui. Padahal jelas-jelas di judulnya tertera peran Marlina, Si Pembunuh. Kok bisa kita bersimpati pada pembunuh berdarah dingin?

Wilayah perkosaan adalah wilayah sensitif. Banyak film yang mengangkat kasus perkosaan. Dalam kasus Marlina, si pelaku sebelumnya sudah memberitahukan niat untuk merampok dan memperkosanya. Tidak sekali pun Marlina menolak atau melawan. Tidak ada sedikit pun gerakan tubuh Marlina untuk kabur. Padahal ada pintu belakang rumahnya yang selalu terbuka. Marlina bisa saja kabur saat pemerkosa baru datang sendirian. Dan benar kata polisi, “kalau dia kurus dan tua, mengapa kamu tidak melawan?”

Di sebuah film soal perkosaan (judulnya lupa), yang menjadikan kasus begitu rumit karena korban perkosaan membukakan pintu rumahnya agar si pemerkosa masuk. Tidak ada tanda-tanda pintu rumah dipaksa buka. Yang diterjemahkan sebagai korban perkosaan mempersilakan pemerkosa masuk ke dalam wilayahnya. Dalam kasus Marlina, dia tak hanya membukakan pintu tapi memasakkan sup ayam untuk pemerkosa.


Inilah kehebatan sutradara, Mouly Surya. Dia bisa membawa cerita seolah-olah realita. Dan penonton yang terbiasa pada dunia dan film hitam putih, penjahat dan jagoan, benar dan salah, dibiarkan untuk berpihak kepada Marlina yang diceritakan sebagai jagoan. Sehingga langsung memberikan simpati padanya. Sebuah kebenaran baru yang ditawarkan film ini.

Campuran pemandangan Sumba, musik Lucky Luke koboi Western, tatami shot Yasujiro Ozu memberikan warna yang berbeda. Selain segar, Marlina seperti ingin mengajarkan untuk menyukai film tak perlu alasan. Sama seperti jatuh cinta. Terkadang, saat alasan itu dicari bisa jadi seperti tulisan ini. Mengada-ada.

 

Reaksi setelah Aksi

Pagi itu mata saya belum melek sepenuhnya. Ketika sebuah pesan WA masuk sambil menunjukkan foto potongan pengumuman di koran:

Ternyata tak hanya satu pesan. Tapi ada sekitar 11 pesan lain yang intinya mengkhawatirkan keamanan bisnis tote mangkok ayam Instagram MangkokAyamID. WOW banyak nomor yang asing dan beberapa orang yang tumben-tumbenan menyapa.

Karena saya belum bangun benar, tak langsung saya jawab. Setelah melakukan panggilan alam 1 dan 2, saya pun bikin kopi, masak sarapan, duduk dengan tenang. Sambil sarapan saya membaca pelan-pelan pengumuman itu. Tertera dengan jelas “… termasuk dalam barang kelas 21”, bagi yang pelaku bisnis yang pernah mencoba mendaftarkan karyanya, pasti pernah dijelaskan mengenai klasemen barang yang didaftarkan.

Kurang lebih begini, setiap kita mendaftarkan merek dagang, logo, dan lainnya, maka kita harus memilih kelas sesuai dengan bisnisnya. Setiap bisnis ada kelasnya masing-masing. Misal, merek LALALAND terdaftarkan di kelas 21 yang berisikan perabotan rumah tangga, pecah belah dan lainnya sesuai daftar yang ada di http://skm.dgip.go.id/index.php/skm/detailkelas/21, maka pemilik merek hanya berhak memilikinya di kelas itu saja. Lalu kalo ada orang lain memakai merek LALALAND tapi untuk barang-barang di kelas lain bagaimana? Ya boleh saja. KECUALI, saat mendaftarkan di awal, sekalian mendaftarkan ke semua kelas yang semuanya ada 45 seperti di daftar http://skm.dgip.go.id

Tak hanya di WA, Twitter, Instagram message semua mempertanyakan. “Apakah akun Instagram ini adalah bagian dari PT LIK?” atau “Wah gimana nih? Jadinya selama ini jual barang palsu dong?!” atau sekedar “Udah baca ini?” Tentunya satu persatu saya coba jawab dengan menjelaskan seperti yang saya pahami. Padahal mengenai hukum pastinya seperti apa, ya saya juga kurang paham.

Sebenarnya, kejadian seperti ini sudah saya antisipasi dari awal bisnis yang menggunakan gambar ayam jago ini saya mulai. Saya yakin ini sudah menjadi “public property” karena dilihat dari sejarahnya, gambar ayam jago di mangkok ini sudah dimulai dari Dynasti Ming.

Saking lamanya sepertinya belum ada yang benar tahu siapa pencipta dan pemegang hak cipta mangkok yang banyak dipakai di negara-negara Asia ini. Apa yang dimaksud dengan Public Property? Setelah kurun waktu tertentu, jika tidak ada yang mengklaim sebuah disain atau karya atau ciptaan, jika tidak ada yang menyatakan dan memperpanjang kepemilikannya, maka dia menjadi milik public yang bisa dipakai oleh siapa saja. Lah, ini dari 1368-1644, kita bisa tau dari mana?

OK, tapi namanya di negara ini semua suka mengklaim aja dulu. Seperti misalnya merek sebuah toko perabotan rumah tangga yang saat baru mau buka toko, kesulitan karena mereknya sudah keduluan didaftarkan oleh seseorang di sini. Entah bagaimana kelanjutannya, akhirnya toko itu bisa buka juga. Atau saat keributan Kopi Tiam, yang ternyata dimiliki oleh personal. Maka beramai-ramai semua warung kopi peranakan yang menggunakan merek ini harus menggantinya. Padahal… dari mana Kopi Tiam berasal? 😛

Kami pun mencoba mencari tahu lebih dalam lagi. Sudahkah PT di pengumuman itu mendaftarkan disain ayam jagonya. Usut punya usut di internet, ternyata sudah. Kalau dibaca dari yang tertera di sertifikatnya, tertulis “seni lukis” kemudian karena memang keperluannya untuk mangkok, maka disainnya melengkung menyesuaikan cetakan. Dan ayamnya, sebagaimana lazimnya mangkok ayam, menghadap ke kiri.

Lalu bagaimana kalau lukisan itu sudah menjadi vector, lurus dan menghadap ke kanan? Menurut teman pengacara yang membantu saya dari awal mengurusi ini, “seharusnya aman“. “Lagian, gimana caranya mau ngecek mangkok ayam di seluruh nusantara yang sudah dipakai semua tukang bakso?” lanjut teman saya lagi. Ini pun sebenarnya menjadi pertanyaan saya.

Tak lama kemudian, teman bisnis saya mengirimkan pengumuman di koran itu versi selengkapnya:

Setelah membaca ini, kami pun mengangguk-angguk. Semua jadi jelas. Pengumuman ini dalam bahasa sehari-harinya mau bilang “hey kamu dan kamu yang nama-namanya di sebelah kiri, kamu gak boleh bikin dan jualan mangkok yang ada gambar ayam jagonya ya. Soalnya itu hak cipta dan mereknya udah gue punya nih. Sekalian deh nih gue umumin, semua yang bikin barang-barang di kelas 21, kalo gue udah punya hak untuk produksi, pakai dan dagang motif ayam jago ini.”

Kalau diperhatikan, ada tiga kali kelas 21 disebutkan di iklan pengumuman tersebut. Yang kami anggap sebagai “yakalo di barang-barang di kelas lain mah, terserah lah”. Asumsi? Jelas. Tapi saya sudah mengimel dan berusaha menghubungi dengan berbagai cara tapi belum mendapatkan tanggapan sampai sekarang. Dan sampai detik ini pun, belum ada yang menghubungi saya karena menjual tas dan sarung bantal menggunakan motif ayam jago. Bukan mencari masalah, tapi mencari kejelasan. Atau lebih baik lagi, kalau bisa bekerja sama. Prinsip saya, zaman sulit begini mah bangun jembatan aja sebisa mungkin.

Dan, kebetulan di saat yang bersamaan, disain baru sudah dipersiapkan sebelum pengumuman ini:

Diinspirasikan oleh Ayam Jogo tapi menggunakan Tangram sebagai ekspresinya:

Ya kalo beneran gak boleh jualan pake motif itu, yaudah minta maaf aja terus saya bikin-bikin  desain lain. Rezeki itu dari Tuhan.

Sekarang ini sudah lewat. Sudah tak ada lagi yang membicarakannya. Semua berjalan seperti semula. Life goes on. Tapi ada satu yang membekas. Saat “masalah” ini terjadi, saya dan dua teman lagi yang juga berjualan motif serupa merasakan hal yang sama. Banyak yang peduli. Tapi lebih banyak yang terkesan seru melihat ada masalah ini terjadi. “Nah lo nah looo, kena masalah deeeeh”. Kami agak bingung sebenarnya apa salah kami.

Dan saya pribadi khawatir karena banyak rekan-rekan yang berkecimpung di bidang kreatif baru tau soal kelas hak cipta. Kok bisa?

Kenyataannya, sebelum kasus ini terjadi ada banyak kasus di mana kami menemukan pedagang lain menggunakan motif yang sama pleketiplek. Ya namanya orang dagang di Instagram. Sepertinya semua pedagang di Instagram pasti pernah kena, saat disain atau idenya dicontek. Tote mangkok ayam, saya yang memulai 4 tahun yang lalu. Mulainya dijual dengan harga 99.000 di belowcepek.com Untungnya tak seberapa. Awal mulanya untuk mengumpulkan donasi sekolah anak jalanan dekat sini.

Apa yang kami lakukan saat disain yang sama persis dipakai? Liat-liat sikon dulu lah. Kalau perorangan atau mahasiswa, kami diamkan. Tapi kalau perusahaan atau penyablonan, ya kami peringatkan. Yang kami khawatirkan cuma kalau ada pembeli yang mengira semuanya produk kami. Sesekali kami update di Instagram perihal di mana saja barang asli kami dijual. Itu saja. Toh seperti keyakinan kami, ini adalah public property.

Saat ini, IG medusa.yourock memutuskan tak lagi menjual kaos mangkok ayamnya. Mau ganti disain baru. Sementara IG mangkokayamID melanjutkan menjual tote, tas selempang dan sarung bantal. Seperti di awal berjualan, sampai sekarang kuantitasnya terbatas. Selain di Instagram, saya juga menitip jual di Uma Seminyak – Bali, semua cabang Aksara Jakarta, dan JKT Creative di Senayan City.

Setelah kejadian ini, saya menjadi paham mengenai sulitnya untuk mengklarifikasi berita tak benar atau setengah-setengah yang tersebar di media sosial. Dalam kasus saya, literally setengah halaman pengumuman. Padahal kasus saya ini kecil. Itu pun sudah mendapatkan pertanyaan-pertanyaan menyelidik bahkan dari orang-orang yang tak saya kenal. Setelah dijawab dengan detail, saya bingung juga kok tak ada balasan apa-apa. Palingan “owh gitu…” Yaaah mengecewakan ah.  Beli kek hehehehe.

Bagaimana dengan kasus-kasus lain yang jauh lebh besar dan yang ramai dibicarakan di media sosial. Bagaimana kalo beritanya ternyata setengah-setengah atau bahkan tak benar sama sekalo. Malu kaaan, udah kentjeng salah pulak. Sudah sejak lama, setiap ada kejadian saya menahan diri untuk bereaksi. Diemin aja dulu. Sampai ada penjelasan resmi dari pihak yang menurut saya bisa dipercaya.

Saat kejadian ini terjadi pun, saya mengusahakan tak bereaksi apa-apa di media sosial. Ini kan urusan “dalam”. Di saat bersamaan saya senyum-senyum sendiri membayangkan beberapa persona yang saya kenal, pasti akan berkoar kencang di media sosial. Kalau perlu bikin press-con di Facebook :p. Dalam hati saya saat itu, bisnis saya mah kecil banget. Udah pake mikroskop pun gak keliatan.

Buat yang berkecimpung di dunia desain, pasti paham. Ada banyaaaaaaaaak sekali tiruan dan contekan yang terjadi di negara ini. Tak perlu jauh-jauh lah ke negara lain. Malu-maluin aja. Sesama pedagang IG Indonesia pun saling contek. Dan lebih seringnya, yang besar mencontek yang kecil atau perorangan. Ada yang diselesaikan baik-baik, tapi lebih banyaknya selesai gantung.

Contoh yang lumayan tragis dan magis…. Di sebuah acara kreativitas besar di jantung ibu kota, diresmikan oleh petinggi negara dan dihadiri oleh banyak pelaku kreatif. Sedang berlangsung seminar di tengah acara membahas soal hak cipta. Lumayan ramai pesertanya. Saya berjalan di sekitarannya yang dipenuhi oleh booth-booth milik anak-anak muda. Salah satu, eh, salah banyak booths menjual barang-barang menggunakan motif Pokemon dengan bebasnya.

Bersama tulisan ini, saya mau minta maaf ke berbagai media yang mencoba menghubungi saya saat kejadian ini lagi hot-hotnya. Saya bukan tidak mau menjawab. Atau sok cool diem “no comment” a la Desy Ratnasari gitu. Tapi ada dua hal: pertama saya merasa pengumuman ini tidak ada hubungannya dengan bisnis kecil saya. Kedua, saya yakin ada berita dan kejadian lain yang lebih berguna buat disiarkan.

Sekalian kalau ada yang salah dari pemahaman saya soal hak cipta, merek dagang dan lain-lain, sampaikan di kolom komentar. Saya bukannya tak mau cari tau, tapi setiap berusaha cari tau selalu ada yang saya baru tau.

Seolah Nirupaya adalah Upaya Terbesar Zaman Now

Apa yang menjadikan gue merasa tertarik sama kondisi ekonomi negara ini? Adalah suatu malam menyaksikan interview Sri Mulyani yang pada saat itu menteri keuangan. Mengapa jadi tertarik? Karena Ibu Sri menyampaikan permasalahan dan solusi yang sedang dilakukannya, terdengar mudah dipahami. Seolah effortless atau nirupaya menurut Ivan Lanin.

Apa yang menjadikan gue suka sekali nonton vlog Awkarin yang mendapat hujatan? Besar kemungkinan tanpa disadarinya, Awkarin memberi kesan bahwa membuat vlog itu mudah. Seolah nirupaya. Bahkan di banyak bagian bikin gue pengen mencoba bikin vlog. Walau sudah tau yang namanya bikin vlog bukan perkara mudah.

Mengapa Kim Yuna, sampai sekarang masih dianggap sebagai skater terbaik dunia? Lihatlah bagaimana dia melompat dan menari di atas es. Semua disajikan seolah mudah. Nirupaya. Tanpa beban dan tanpa usaha untuk menunjukkan bahwa dia jagoan. Menjadikan sebuah tontonan yang enak ditonton.

Mengapa Chika Noya menjadi pilihan gue kalau ingin bertanya soal feminis dan pergerakan. Atau Vivi Yip urusan seni. Janti Wignjopranoto dan Avi Mahaningtyas untuk urusan resep makanan dan diet. Mr. X untuk urusan politik negeri. Semua bisa menjelaskan dengan caranya sehingga mudah dicerna dan mereka menjelaskan seolah nirupaya.

Sebaliknya kita sering menemui orang-orang yang menyampaikan segala hal dengan bahasa dan cara yang rumit dipahami. Dengan bahasa yang belibet dan berat atau istilah yang membuat kita harus membuka kamus. Ada dua kemungkinan; pertama karena ingin dianggap lebih tau, lebih pintar dan lebih tinggi derajatnya. Atau memang tidak memiliki bakat untuk menjangkau. Tak mampu menjelaskan.

Menyajikan berbagai hal terutamanya yang sebenarnya berat menjadi seolah tanpa upaya, sepertinya menjadi koentji utama untuk kids zaman now.

Coba lihat bagaimana kita kesulitan mengajak anak muda untuk tertarik dengan masakan tradisional seperti rendang misalnya. Kemungkinan besar karena rendang selalu disiarkan sebagai makanan dengan proses yang panjang dengan bumbu yang sulit didapat.

Atau bagaimana upaya membuat kids zaman now mencintai batik dan kain nusantara lainnya? Yang lebih sering diangkat adalah proses panjang dan filosofi yang terkandung di dalamnya. Tentu ini membutuhkan upaya yang besar dan terus menerus. Sementara, kita sedang hidup di zaman perhatian pendek.

Ketika lembaga sosial ingin memasyarakatkan sebuah isu. Jarang yang berhasil mengkomunikasikannya dengan mudah dicerna. Contohnya ya soal reklamasi. Gue sama sekali tak yakin apakah benar semua orang yang pro atau anti reklamasi, paham betul arti reklamasi. Padahal tanpa pemahaman itu, sepertinya sulit membuat kampanye bernafas panjang.

Kecenderungan yang lebih sering terjadi adalah menyajikan segala hal dengan cara “menggampangkan”. Kiat cepat sukses. Cara cepat kaya. Menangkan hatinya dalam seminggu. Dapatkan perut sixpack dalam 3 hari. Atau seminar-seminar berjudul menulis itu mudah. Bikin film itu gampang. OK, memang ini adalah cara untuk menggaet peserta dan pembeli.

Dalam kenyataannya, semua orang yang sudah bergelut lama di sebuah bidang akan lebih paham bahwa yang mudah itu cuma kelihatannya mudah. Ada upaya dan pengorbanan besar dibalik semua yang terlihat mudah. Belum lagi kalau kita bicara bakat, walau ada yang bilang kerja keras mengalahkan bakat saat bakat tak bekerja keras.

Lalu bagaimana cara menyajikan semua terlihat nirupaya sehingga mudah diterima oleh kids zaman now? Ini adalah kerja keras tak berkesudahan. Pembelajaran yang terus menerus. Dan kerendahan hati untuk menyampaikan seolah berbicara untuk anak kecil. “Ah masa gitu aja gak tau?” adalah sebuah pertanyaan keji yang mematikan.

Hampir semua pertanyaan soal bagaimana berkomunikasi #kekinian bisa dijawab dengan: jadikan seolah nirupaya. Mudah dipahami dan dicerna karena relevan. Dan ini jelas bukan upaya mudah karena harus tetap disampaikan dengan benar dan tidak terjerumus jadi menggampangkan.

Almarhumah Yasmin Ahmad pernah berkata, saat beliau sedang tak punya waktu untuk menulis biasanya tulisannya akan menjadi panjang. Sementara saat punya waktu, tulisannya akan menjadi pendek. Loh? Ya karena untuk menjadikan sebuah tulisan yang ringkas dan mudah dipahami apalagi relevan, perlu waktu lebih lama untuk berpikir dan upaya yang lebih besar.

“Kita ingin membuat semua tampak sulit dan rumit dengan harapan untuk dihargai. Sementara mereka membuat semua tampak mudah dan relevan dengan harapan untuk disukai dulu” saat dua film tentang makanan tayang bersama di bioskop.

Baru-baru ini harian nasional menulis headline (gue tak sempat membaca isinya) “Anak Milenial Tak Suka Politik”. Dalam hati gue berkata, jangankan milenial, gue aja gak doyan! Ya iyalah, siapa yang doyan kalau politik selalu dicitrakan sebagai yang rumit dan berbahaya. Hati-hati karena menyangkut kelangsungan hidup orang banyak. Selalu dikaitkan dengan dosa dan pahala. Baru mau mulai aja keburu takut.

Lihatlah bagaimana Ibu dengan susah payah telah mengandung dan membesarkan kita, telah dijejali dari kecil. Responsnya jadi; membalas budi. Bandingkan dengan; Ibu dengan gembira dan sepenuh hati mengandung dan membesarkanmu. Responsnya jadi; membalas hati.

Menghargai batik bukan karena prosesnya yang panjang dan filosofi yang dalam. Mencintai batik karena batik itu keren. Batik itu cool. Cocok untuk segala aktivitas #kekinian dan bikin banyak lope-lope di media sosial. Batik itu relevan. Nanti kalau sudah diterima, dengan sendirinya akan cari tau lebih banyak.

Masak itu tak perlu alat aneh, tak perlu paham segala dan tak perlu lama. Kamu bisa mulai masak dengan apa yang ada di sekitar. Dengan memasak kamu jadi orang yang lebih menarik sehingga banyak yang naksir. Memasak itu relevan. Nanti kalau sudah merasakan faedah memasak, dengan sendirinya akan cari tau lebih banyak.

Seni itu seru. Seni itu bisa jadi bagian dari hidupmu. Seni bisa bikin kamu jadi lebih menarik. Seni milik semua. Seni ada di mana-mana. Seni itu relevan. Nanti kalau sudah menemukan keseruannya, dengan sendirinya akan cari tau lebih banyak.

Yang kita bisa lakukan adalah memberikan rangsangan. Caranya dengan menyajikan semua seolah nirupaya.

Ketika Awet Tak Lagi Relevan

Sepasang sepatu Doc Mart menarik perhatian saya. Selain mengingatkan saya pada masa SMA, saat semua orang berburu sepatu model boot dengan sol tebal anti kepleset ini. Mendapatkannya di Jakarta saat itu bukan perkara mudah. Tapi sekarang toko sepatu khusus sepatu era skinhead ini sudah hadir di mall. Sepertinya lumayan banyak peminatnya walau bisa dibilang harganya lumayan.

“DocMart gue waktu SMA sampe sekarang masih ada loh, lagi dipake anak gue” kata teman saya. “Wah udah 30 tahunan dong” sahut saya. Kemudian pikiran saya melayang. Di usia yang lewat 40 tahun ini, apakah sepatu dengan janji awet dan tahan lama masih relevan? Sepatu ini akan bertahan sampai saya berumur 70-80 tahun. Di usia segitu, mungkin saya tak kuat lagi berjalan jauh apalagi mengenakan DocMart yang bisa dibilang berat.

Pikiran saya melayang mundur ketika masih kecil. Ibu saya sering menjiplak kaki saya di atas kertas kalau mau titip beli sepatu dengan pesan “beli satu dua ukuran lebih besar biar bisa dipakai lebih lama”. Jadilah saya mengenakan sepatu yang lebih besar seperti donald bebek.

Setelah ukuran kaki saya kayaknya tidak akan bertambah besar lagi, sepatu diusahakan terbuat dari kulit karena dinilai lebih awet. Seriring bertambahnya kebutuhan, ada sepatu buat jalan, kerja, dan olahraga. Pertimbangan tahan lama menjadi yang utama. Supaya gak usah beli-beli terus.

Nyatanya? Tidak juga. Sepatu kulit satu belum rusak sudah mau beli sepatu kulit yang lain. Punya yang warna hitam, tapi perlu yang cokelat juga. Setelah yang cokelat, ternyata disainnya sudah ketinggalan zaman jadi perlu disain baru lagi. Istilah “beli desain yang klasik” sepertinya kurang ampuh. Atau ada saja keperluan mendadak untuk membeli sepatu kulit lagi. Atau ada diskon yang sayang kalau dilewatkan.

Semakin bertambah usia, ternyata saya lebih cocok mengenakan sepatu model slip-on atau bertali sehingga kaki saya terasa lebih longgar. Saya merasa kurang cocok kalo kaki harus tertutup seharian. Dan kesenangan untuk berjalan kaki membuat saya mencari sepatu yang lebih ke nyaman ketimbang gaya.

Sepatu DocMart tak jadi saya beli. Balik rumah, saya membongkar lemari sepatu saya. Jumlahnya ada sekitar belasan. Lumayan. Berbagai jenis sepatu sudah saya miliki. Ada yang tak lagi layak pakai, tapi masih saya simpan karena saya suka modelnya. Ada pula yang salah beli, setelah dibeli dan dipakai ternyata tak nyaman. Atau sepatu-sepatu acara khusus yang memang jarang dipakai. Ada pula sepatu-sepatu pemberian orang. Dan ujung-ujungnya sebenarnya saya mengenakan sepatu yang itu-itu juga.

Lama saya menatap sepatu-sepatu itu dengan sebuah pertanyaan, apakah kata “awet” untuk pakaian dan sepatu masih ada gunanya untuk saya? Buat apa baju tahan lama, toh sebentar-sebentar ada saja alasan membeli yang baru. Jam tangan? Ujung-ujungnya saya hanya memakai satu saja. Yang lain, keburu habis battery dan saya enggan untuk ganti battery. Tas? Well, ada 3-4 jenis tas yang saya pakai dan sudah cukup untuk memenuhi berbagai kebutuhan saya. Ikat pinggang? Segunung ikat pinggang masih rapi di lemari karena sangat amat jarang saya pakai. Jeans? Percaya atau tidak, celana yang ada masanya menjadi celana setiap hari, sudah 3-5 tahun belakangan ini saya rasakan tak lagi relevan untuk dipakai di negara tropis.

Ada banyak barang-barang awet di lemari yang sebenarnya bisa dibilang seandainya saya menyadari ini dari dulu, saya tak akan beli dengan harga lebih tinggi. Untuk apa awet kalau jarang dipakai. Untuk apa awet kalau tak lagi sesuai zaman. Untuk apa awet kalau tak lagi relevan. Untuk apa panjang umur kalau tak hidup.

Mencari Waktu, Uang dan Perhatian

Adalah 3 hal yang kita minta dari orang saat hendak mempromosikan apa pun. Tak hanya barang dan jasa, tapi apa pun. Semua memperebutkan ketiga hal ini. Karenanya, yang namanya waktu menjadi semakin mahal, uang semakin sulit didapat dan perhatian semakin kecil. Waktu terutamanya di usia produktif, menjadi barang langka. Uang, di tengah persaingan yang semakin menggila jadi semakin sulit masuk kantong sendiri. Kalau pun sempat masuk kantong, keluarnya terasa lebih cepat. Perhatian? Sepertinya hanya orang yang memasuki usia senja yang bisa memberikan perhatian lebih.

Saat semua Nabi sedang menyebarkan ajarannya, apa yang diminta dari umatnya? Waktu dan perhatian. Saat pelacur menjajakan tubuhnya, apa yang diminta dari kliennya? Uang dan perhatian. Saat seorang penulis menjual bukunya, apa yang diminta dari calon pembelinya? Waktu, Uang dan Perhatian. Saat mengajak orang berpartisipasi dalam gerakan sosial, apa yang diminta dari publik? Waktu, perhatian dan mungkin uang. Jelas, semakin banyak yang kita minta dari orang lain, maka semakin berat pekerjaannya.

Lima tahun belakangan, saya hampir tidak pernah lagi mendapat pekerjaan eksekusi. Lebih banyak berupa memberikan masukan, nasehat yang sejujurnya membuat saya jadi lebih cepat tua. Tak lagi menguras energi, tapi lebih banyak menguras pikiran. Makanya saya senang berdagang untuk mencari tambahan karena selain pikiran, berdagang juga menuntut energi sehingga saya bisa tetap aktif bergerak. OK, cukup soal pribadi.

Dari sekian banyaknya klien dan kasus yang saya tangani, saya menemukan satu hal yang menjadi kunci permasalahan terbesar dalam berpromosi: membuat orang melihat seperti yang kita lihat dan memahami seperti yang kita pahami. Kualitas produk, sebaik apa pun bisa menjadi sia-sia saat orang tak bisa memahami maksud yang disampaikan. Seburuk apa pun produk, tapi kalau bisa dipahami maka akan bisa diterima untuk kemudian laku. Kaching!

Sebuah contoh sederhana, seorang teman yang hendak mempromosikan gerakan makan sehat di instagramnya berkata “duh, susah banget sih orang untuk ngelike foto gue? Padahal kan konten gue jauh lebih bagus dari yang itu. Cuma karena fotonya yang itu lebih bagus aja”. Mungkin di situ kuncinya, foto bagus. “Aduh foto bagus kan cuma packaging, ini kan soal konten dooong”.

Yang dia lupa, dia sedang berbicara di Instagram tempat kontes visual berlangsung. Kalau tantangan pertama berupa gambar bagus tak ingin dilaluinya, bagaimana bisa membuat orang melihat apalagi mencoba memahami seperti yang diinginkannya.

Seorang teman lagi yang sedang berusaha memasyaratkan bersepeda sebagai moda transportasi kota. Dia berpendapat, bersepeda selain menyehatkan juga banyak faedah lain bagi kota. Cool! Sayangnya, cara pertama yang dipilih untuk mempromosikannya adalah dengan merendahkan yang tidak naik sepeda. Saat melintasi kemacetan dia berujar di media sosialnya “tuh liat, lebih cepet naik sepeda kaaan… ngapain ngotot naik mobil mahal-mahal”. Dari sini saja jelas sudah mengundang penolakan. Dia lupa untuk terlebih dahulu mencari tahu mengapa orang masih rela naik mobil dan ikhlas di kemacetan.  Penolakan ini membuat semakin sulit untuk orang lain menerima apa yang dia tawarkan.

Atau saat orang sedang mempromosikan cara berolah raga yang baru, kemudian kesal karena mendapat penolakan disebabkan tubuhnya yang dinilai tidak ideal oleh “calon pembeli”. Well, sulit memang untuk mengajarkan bahwa bentuk tubuh tak berbanding lurus dengan kesehatan. Dari zamannya Jane Fonda, Berty Tilarso sampai Ade Rai semua pentolan olahraga memiliki tubuh yang ideal. Jadi kalau tubuh masih tak ideal, pastinya orang akan berkata “ok mungkin yang kamu sampaikan benar, tapi kok tubuhmu sendiri yagitudeh?”

Tak hanya menjual barang, mengumpulkan tanda tangan untuk perlindungan orang utan. Mengajak orang berdonasi. Mengundang untuk berpartisipasi. Semuanya perlu melakukan tugas yang pertama dan terberat: membuat orang melihat seperti yang kita lihat dan memahami seperti yang kita pahami. Bahkan seniman yang tadinya dinilai “ini idealismeku, laku sukur enggak udah” pun semakin ke sini semakin menyadari pentingnya partisipasi publik. Untuk semakin memudahkan orang memahami karyanya, banyak yang memilih dengan menjual merchandise menggunakan disain karyanya.

INI adalah contoh-contoh kecil di sekitar kita. Di level korporasi tentu lebih sulit. Saya pernah menulis tentang pentingnya sebuah gagasan. Mengapa? Ya karena saat masalah-masalah ini terjadi langkah pertama adalah pulang kepada gagasan awalnya. Tulisan ini dikerdilkan Roy Sayur, pemilik Linimasa.com yang merasa bahwa di negara ini gagasan tidaklah penting lah. Cukup menggunakan selebriti saja sudah dipastikan laku. Dan linimasa.com adalah gudangnya gagasan.

Roy tidak sepenuhnya salah. Kegagalan Roy hanyalah melihat dari sudut pandang yang berbeda. Tulisan yang ditulis oleh pedagang dipahami Roy yang berprofesi sebagai astronot. Karena semua orang yang sudah pernah berdagang paham, bahwa penggunaan selebriti hanyalah salah satu aspek berpromosi. Selebriti adalah selebriti, di mata Roy. Di mata pedagang dan marketing, selebriti adalah pemberi nafas gagasan. Yang Roy belum diinformasikan, begitu banyak penggunaan selebriti yang gagal mengangkat sales bahkan di kampanye internasional sekali pun.

Saat sedang menulis ini, teman saya sedang makan Macaroni Ngehe dengan nikmatnya. Penasaran, saya googling untuk kemudian mengemukan omzet bulanan yang aduhai. Tak perlu cepat kagum atau sinis, tapi mari kita pelajari apa penyebab kesuksesannya? Sederhana sekali. Semua yang di bisnis makanan paham tiga rasa yang menjamin lakunya sebuah makanan di kota ini: gurih, garing, dan pedas. Macaroni Ngehe gurih? Iya. Garing? Iya. Pedas? Iya. Tak perlu penjelasan panjang lebar.

Masalah akan muncul karena rumus ini pastinya bukan hanya diketahui satu orang. Lalu bagaimana saat semua orang menjajakan makanan yang gurih, garing dan pedas? Lagi-lagi balik ke gagasan. Dan usaha-usaha terus menerus untuk membuat orang melihat seperti yang kita lihat. Memahami seperti yang kita pahami. Ini bukanlah usaha yang mudah terutamanya untuk yang bermental “tak butuh orang lain tapi orang lain yang membutuhkan saya”.

Seorang Planner andalan pernah bertanya di forum “kalau yang kita minta dari konsumen adalah waktu, uang dan perhatian mengapa sebagian besar promosi ditujukan untuk yang muda? Yang muda, tak punya waktu, tak punya uang (walau konsumtif) dan tak punya perhatian. Sementara yang tua, (seharusnya) punya waktu, uang dan perhatian.”

Bersama kami pun mencoba mencari tau lebih banyak mengenai ini. Hasilnya lumayan mengejutkan. Ternyata banyak sekali barang dan jasa yang diberikan untuk kaum lanjut usia dan nilainya luar biasa tingginya. Mulai dari layanan kesehatan, panti jompo eksklusif, perawatan tubuh, pelesir keliling dunia sampai barang-barang fashion.

Seorang teman yang bekerja di butik fashion kelas dunia berujar “yang pake itu bener yang muda-muda tapi duitnya tuh dari yang tua booo…. kalo gak ortunya ya kakek neneknya. Banyak tau anak-anak muda ke sini bareng kakek neneknya minta dibeliin dompet sepatu gitu…”. Bertambah lagi pemahaman kami. Komunikasinya ditujukan untuk yang muda tapi daya belinya dari yang tua. “Mudanya itu sekitaran umur berapa?” / “Yaaah belasan sampai tiga puluh empat puluhan gitu lah….” jawabnya.

Pertanyaan berikutnya, bagaimana membuat orang untuk melihat seperti yang kita lihat. Memahami seperti yang kita pahami. Kunci pertama tentunya adalah mencoba melihat dan memahami seperti yang mereka lihat dan pahami saat ini. Membangun jembatan komunikasi terus menerus adalah pilihan satu-satunya. Karena saat komunikasi itu terputus, maka besar kemungkinan keputusan yang diambil berdasarkan penglihatan dan pemahaman pribadi.

Kembalinya Makna

Model baru Kaia Gerber, putri dari mantan supermodel Cindy Crawford, menjadi salah satu icon dari peragaan busana dunia. Kaia menjadi model pembuka atau penutup yang merupakan posisi prestise yang selama ini salah satunya dipegang oleh model Instagram dan reality show Kendall Jenner. Uniknya Kaia memiliki gaya berjalan yang mengingatkan pecinta fashion pada cara berjalan para supermodel era 80’an. Era belum ada media sosial sehingga menjadi supermodel merupakan perjalanan terjal dan berliku. Tak bisa hanya bermodal wajah dan tubuh rupawan.

Alexander Wang RTW Spring 2018

Yang menjadikannya lebih menarik, adalah membaca kolom komentar di Youtube. Banyak yang memuji Kaia seraya mengungkapkan kerinduannya pada peragawati “beneran”. Mereka beranggapan Kendall bisa meraih posisi sebagai model papan atas tak lebih hanya karena popularitas di media sosial walau mereka tak bisa berjalan di catwalk dengan baik. Hanya modal tampang dan popularitas.

Hal ini pula yang ditangisi oleh banyak profesional di berbagai bidang. Fotografer misalnya. Merasa sulit untuk bertanding dengan para selebriti Instagram yang populer dadakan walau tanpa pemahaman fotografi yang sesuai rumus dan ilmu. Atau para penulis buku, yang kehilangan pegangan saat profesinya seperti dirampas oleh penulis buku yang laris karena kepopulerannya di media sosial. Traveller, yang sudah sekian tahun bersusah payah menjelajahi berbagai tempat di dunia, dipaksa bersanding dengan traveller baru yang lebih beken karena banyaknya followers di media sosial.

“Dilihat-lihat, bosen juga ya sama foto-foto travelling ini. Pemandangan cakep-cakep, kasih caption puitis, udah. Semuanya sekarang begitu” keluhan ini keluar dari traveller “baru” yang sedang ramai kerjaan untuk keliling Indonesia. Atau seorang pria berbadan indah dan kerap memposting foto telanjang dadanya, menemukan kesulitan untuk meraup followers. “Susah banget mau naikin followers, padahal segala jurus udah gue kerahkan bentar lagi bugil nih!” katanya sambil tertawa perih.

Tentu ini bukan tanpa alasan. Setelah mata disodorkan pada keindahan-keindahan visual yang melenakan, sekarang tiba lah era keseragaman. Semua tampak sama. Semua indah, semua keren. Manusia #kekinian pun beranjak mencari yang baru. Mungkinkah yang baru ini adalah kedalaman makna? Hanya waktu yang bisa menjawabnya.

Di aplikasi-aplikasi kencan untuk berbagai orientasi seksual pun belakangan mulai banyak status-status yang terang-terangan bilang “not for fun”. Setelah seks mudah didapatkan, cinta semakin sulit ditemukan. Begitu ungkapan salah satu profil. Mulai bermunculan status-status yang merindukan keintiman seperti “cuddling”, LTR Only dan tak lagi melulu mencari penetrasi. Manusia mungkin mulai merindukan kehangatan sesama manusia daripada sekedar ejakulasi.

“Good Body, Bad Sex” sebuah tuduhan yang lumayan keji untuk manusia kekinian. Semakin banyak yang memperhatikan keindahan tubuhnya dengan berolahraga dan diet. Tentunya selain urusan kepercayaan diri, juga untuk tampilan di media sosial yang lebih mumpuni. Di saat yang bersamaan, keinginan eksplorasi dan hasrat bersenggama semakin menurun. Ada banyak perkiraan penyebabnya, salah satunya karena terlalu sibuk mencari uang yang terasa semakin sulit didapat. Kemudian faktor agama yang semakin menguat. Mungkin juga karena berhubungan seks tidak instagrammable. Penyakit kelamin yang mengancam. Atau sekedar karena sudah terlalu lelah mencari eksistensi. Seperti apa sebenarnya, mari kita nantikan hasil penelitian di Universitas Google.

Mungkinkah Kaia menjadi simbol kembalinya era “beneran” yang selama ini dirindukan atau sekedar keanomalian? Kalau benar yang pertama, maka kita bisa berharap kembalinya buku-buku yang ditulis dengan baik kembali diminati daripada yang ditulis pesohor media sosial. Kita akan kembali menemukan foto-foto yang bercerita daripada sekedar indah dilihat. Lagu yang memiliki makna dalam dengan lirik yang enak dihayati daripada sekedar enak didengar. Dan profesi-profesi lain yang selama ini harus menepi untuk memberi jalan kepada yang mendapat pengakuan “instan”.

Sekolah menjahit yang tadinya mulai ditinggalkan karena lebih banyak yang ingin menjadi desainer pakaian saja, mulai ramai peminat. Para desainer mulai menemukan keterbatasan saat mendesain karena tidak memahami pola dan mesin jahit.

Seorang desainer muda yang baru-baru ini kembali mempelajari pola dan teknik menjahit, menemukan desain-desain barunya yang lebih baik dan dapat diterima pasar. “Kan tadinya main asal disain aja gitu, sekarang gue lebih ngerti biar baju gue lebih enak pas dipake mesti gimana gituuu” katanya sambil tersenyum bahagia. “Gue juga berubah sih kalo liat baju. Tadinya kan yang penting keren, lucu, udah. Sekarang gue mulai ngeliatin jaitannya, pilihan bahannya, jatuhnya di badan, gitu-gitu… Kalo liat ke belakang suka tengsin sendiri sih sama desain gue dulu” lanjutnya sambil tertawa lebar.

Kalau bandul sudah mulai bergerak ke arah ini, tak ada lain yang bisa kita kerjakan selain kembali ke meja kerja masing-masing. Kembali mencari ilmu untuk mendapatkan kedalaman. Yang selama ini menghabiskan waktu demi nampang di media sosial, harus mulai menyisihkan waktu untuk belajar sesuai dengan bidang yang diminati. Daripada sibuk memikirkan cuitan demi mengundang retweet, mungkin bisa mulai belajar menulis. Daripada mementingkan jumlah lope-lope di Instagram, mungkin bisa belajar jadi fotografer beneran. Kalau perlu belajar mencuci foto sendiri secara manual sehingga bisa paham sepenuhnya makna depth of field.

Atau kembali ke dapur dan mulai menghasilkan makanan-makanan yang mengguggah rasa. Tak melulu manis, gurih dan pedas. “Gila ya bo, minuman yang ngetrend sekarang pada manis-manis gilak!” kata seorang teman setelah mencicipi Mango Bomb setelah sebelumnya gandung Es Kopi Susu. “Tadinya yang pedes-pedes sampe gak berasa apa-apa selain pedes” lanjutnya mereferensikan saat di mana ramen pedas dan mie instant super pedas digandrungi.

Silakan hitung sendiri ada berapa kata mungkin di tulisan ini. Tulisan ini bukan kepastian atau rumus baku. Bukan pula cara penulisnya melindungi diri. Lebih tepat merupakan ajakan untuk sejenak melihat dari jauh dan meraba ke mana arah pergerakan. Gunanya untuk apa? Ya selain untuk bertahan juga supaya tetap eksis lah 🙂

 

Yang Nulis Gak Punya Otak!

“Disrespect invites disrespect. Violence incites violence…” kata Meryl Streep saat menerima penghargaan Cecil B. DeMille, Golden Globes 2017.

Kekhawatiran terbesar Meryl adalah saat para penguasa mempertontonkan kesewenangannya dan menggunakan kekuasaannya untuk merendahkan, mempermalukan, menghina dan mentertawakan orang lain, maka semua akan melakukannya. Tentunya Meryl merujuk pada perilaku Presiden Amerika saat ini. Banyak yang berpendapat kekhawatiran Meryl bagai emak-emak merepet yang tak menerima kekalahannya. Bisa jadi. Tapi mari kita lihat sekitar kita saat ini.

Sekitar kita yang jauh dari negara adi daya itu. Sekitar kita yang selalu ada dalam genggaman kita. Sekitar kita yang teknologinya selalu update, tapi sayang otak dan perilaku penggunanya semakin terbelakang. Manusia-manusia kekinian yang dipenuhi oleh berita-berita rupanya mulai kehilangan filter dan pegangan tentang apa yang patut untuk dibagikan.

Seorang bintang yang baru melangsungkan pernikahan mendapat pelecehan di media sosial. Lalu apa yang dilakukan oleh para pelaku media sosial yang terhormat? Dengan riang gembira tertawa ikut merepost. Hasrat untuk menjadi pusat perhatian karena postingannya, menutupi selera humor yang rendah dan kepekaan yang menguap. Mari kita sama-sama ikut mentertawakan. Termasuk perempuan yang seringkali lebih jahat dan suka menghakimi sesama perempuan.

Ibu Negara yang mendapatkan perlakuan kurang ajar di media sosial, Instagram, mendapat sambutan dengan banyaknya postingan ulang. Bisa dibuka makian, atau ajakan untuk menghajar, atau doa-doa agar pelaku mendapat ganjaran dunia akhirat. Mungkin inilah yang kita sebut serigala berbulu domba 2.0

Sebuah survey tak resmi menyatakan Warganet Indonesia masih doyan hoax. Berita-berita hoax, mendapat ladang subur untuk tumbuh dan berkembang di tengah manusia-manusia yang suka asal posting tanpa berpikir akibatnya. Padahal sudah terbukti merugikan.

Salah satu contohnya, saat Pandji Pragiwaksono menulis pendapatnya tentang calon unggulannya di Pilkada, tentunya banyak mendapat banyak dukungan dan banyak tentangan. Yang mendukung, tentunya akan merepost. Yang tidak mendukung? Merepost juga. Bahkan lintas media sosial dan group chat. “Wat de fak Pandji?!” Begitu kurang lebih pembukaannya di Path. Teman-temannya tentu bertanya “ada apa sih?”, dilanjutkan dengan “nih baca sendiri, dasar Pandji guoblok!”

Di pikiran sehatnya tentulah semua orang akan setuju dengannya dan ikut mengumpat. Yang tak sampai di pikirannya, bahwa sesungguhnya dia telah menjadi kepanjangan dan pion-pion penulis yang dibencinya itu. Lebih panjang lagi, kemudian menjadi diskusi dan gosip mengenai Pandji. Hasilnya, tulisan Pandji semakin banyak yang membaca, dan Pandji semakin tenar.

Sandiaga Uno, saat itu sedang melakukan atraksi bangau di sebuah kampung. Berita ramai meliputnya dengan foto dari berbagai sudut. Silakan pingsan karena ternyata banyak yang memposting foto dan berita itu juga adalah Ahokers. Tujuannya hendak mentertawakan dan menghina tentunya. Yang sebenarnya sedang terjadi adalah, Ahokers sedang membantu mempromosikan Sandiaga Uno yang merupakan lawan bebuyutan. Bahkan di kolom komentar ada yang menuliskan “oh gitu mukanya sandy, baru liat nih”. Wow! Promosi gratis.

Ah sudahlah, jangan lagi kita membuka luka lama. Mari bahas yang #kekinian, Saracen. Yang disinyalir sebagai sindikat penyebar kebencian, sumber hoax yang membangkitkan perselisihan agama dan ras. Tak ingin membahas kebenarannya, tapi mari kita pikir bersama, apa yang sangat amat dibutuhkan oleh pembuat hoax? Ladang yang membesarkannya, yang akan membuat pembacanya beranak pinak. Apalah artinya berita hoax tanpa pembaca, kan?

“Hoax nih!” Kata seseorang saat memposting berita yang dianggapnya hoax. Apa yang terjadi selanjutnya bisa ditebak, semakin banyak yang membaca beritanya. Pembuat hoax tentu berpesta pora melihat ketololan kita beraksi. Sudah tau hoax, kenapa disebarkan? Sudah tau tak benar, kenapa ingin semua orang tau? Mengapa kita tidak memilih untuk menjadi penyebar hanya kebenaran dan kebaikan? Takut kurang populer dan sensasional?

Sebuah postingan keburukan yang pura-puranya dibungkus dengan kebaikan saat direpost, jatuhnya sama saja. Malah banyak penulis-penulis headline handal yang berhasil membuat orang lain membaca. “Bego kok dipelihara?” “Yang nulis gak punya otak!” “Sakit jiwa!” adalah “umpan headline” yang diberikan saat tulisan-tulisan yang tak disetujuinya direpost. Namanya orang kita, paling gampang terbakar, pasti akan segera membacanya juga. Lebih parah lagi, keburu komentar bahkan sebelum membaca. Luar biasa!

Kurang lebih dua tahun lagi, bangsa kita akan PEMILU. Sebelum keriuhan terjadi, ada baiknya kita berlatih. Menjadi lebih kritis saat membaca dan membagikan berita atau apa pun kontennya. Lebih memikirkan akibat yang lebih luas dari kelakuan jempol kita. Lagian, apa sih yang didapat dari memposting berita-berita atau apa pun yang berisikan keburukan? Apakah cara ini dikira bisa meraih simpati, dukungan dan lope-lope?

Lalu bagaimana kalau mau memberitahukan sebuah berita hoax ? Darah dibalas darah, harga diri dibalas harga diri, tulisan dibalas tulisan. Sampaikan pemikiran Anda. Mengapa berita itu hoax. Mengapa orang itu sinting? Mengapa tak masuk akal? Mengapa datanya salah. Tuliskan yang Anda ketahui. Data apa yang Anda miliki? Di mana Anda mengetahuinya? Dan semua hal yang mendukung apa yang Anda ketahui. Masa’ tulisan dibalas dengan cuitan umpatan di Twitter dan Facebook? Entah dari mana rumusnya.

Berat? Memang. Tapi itu satu-satunya cara.

Kalau berani mengatakan penulisnya gak punya otak, artinya mengakui punya otak. Sampaikanlah sejelas-jelasnya.

Mengatakan seseorang sakit jiwa, artinya mengakui diri lebih waras. Tuliskanlah sejernih-jernihnya.

Tak setuju dengan pendapat yang bodoh, artinya mengakui diri pintar. Utarakanlah secerdas-cerdasnya.

Masalahnya sekarang kalau ditanya alasan tidak setujunya, banyak yang cuma menjawab dengan “ya gila aja”, “kan katanya…”, “yang gue denger sih…” “kata orang-orang” dan penyanggahan tak valid lainna yang didasari asumsi dan besar kemungkinan hoax juga. Sama aja dong, Nyong! Belum lagi kalau dilengkapi dengan tuduhan tak beralasan seperti penulisnya dibayar, penulisnya goblok, penulisnya antek komunis :)))

Saat kita menjadi lebih kritis dan berhati-hati dalam menyerap berita, otomatis kita akan lebih berhati-hati saat membagikannya. Di saat itu pula, kita akan menemukan tidak ada kebenaran dan kesalahan seutuhnya. Kebenaran yang satu akan berbentrokan dengan kebenaran yang lain. Kebenaran hakiki cuma satu: Gandrasta Bangko itu Miss Universe.

Gantungkan Citra-Citramu Setinggi Langit

Lima sampai sepuluh tahun belakangan ini, ada semacam gerakan yang mendorong anak-anak muda memulai bisnis sendiri. Menjadi pengusaha, wiraswasta, freelancer, dan tentunya entrepreneur. Seketika ramai pelatihan, bimbingan dan seminar untuk memfasilitasi kebutuhan itu. Acara televisi, radio, semua kanal online, menyampaikan betapa negara ini krisis entrepreneur. Kekurangan pengusaha. Diperlukan lebih banyak pengusaha muda. Bahkan kalau bisa dari masih di bangku sekolah. Setiap acara seperti ini dilangsungkan, bisa dipastikan peminatnya membludak.

Jadilah Young on Top, di puncak saat usia muda. Puncak di sini tentunya identik dengan keberhasilan ekonomi dan ketenaran. Dua hal yang dibuat seolah berhubungan. Kaya dulu baru tenar atau tenar baru kaya, tak masalah. Usia muda di sini lebih tepatnya adalah mereka yang baru memasuki atau akan sudah memasuki usia produktif.

Hasilnya lumayan menggembirakan. Kita banyak menemukan kreasi-kreasi baru hasil karya anak muda di masa itu. Beberapa masih bisa kita nikmati sekarang. Mulai dari restoran, aplikasi, perangkat mobile, dan sebagainya. Di korporasi pun banyak yang mencapai posisi tinggi di usia muda. Sekarang kita bisa menemukan brand manager, brand director bahkan CEO di usianya kepala dua.

Tentunya lebih banyak lagi yang masih berusaha mendaki. Tak terbilang pula yang balik badan, bubar jalan grak! Apa pun hasilnya, seharusnya sudah bisa menjadi pengalaman yang memperkaya pengetahuan dan pengalaman. Selama tak terlalu merugikan banyak pihak, anggaplah sebagai biaya kuliah. Selamanya akan lebih baik pernah mencoba daripada tidak sama sekali.

Di sisi lain, geliat ini juga membuat kekayaan dan ketenaran tak hanya cita-cita tapi obsesi. Segala hal dilakukan untuk meraih kedua hal itu. Tak ada salahnya sampai kemudian menjadi senjata makan tuan. Didorong media sosial, senjata itu tak hanya memakan tuannya tapi juga mematikan. Young on Top rupanya sepaket dengan Lonely At The Top.

Setelah di puncak pun ternyata banyak biaya dan pengorbanan yang harus dikeluarkan. Apalagi urusan, kesiapan mental. Gampangnya, pengen tajir melinting tapi udah siap belum untuk tajir melinting? Ingin segera terkenal, udah siap mental belum jadi terkenal? Menjadi kaya dan terkenal punya risikonya masing-masing.

Bayangkan suatu ketika di tabungan yang biasanya berisi belasan juta, mendadak masuk uang ratusan juta saja. Seketika pasti rasanya menjadi pemilik dunia. Semua bisa dibeli. Setelah kebutuhan pokok dinaikkan derajatnya, lalu kebutuhan sosial pun harus ikut naik. Didukung semakin banyak media tersedia untuk mempertontonkannya. Mengundang like, lope-lope dan decak kagum. Seringnya membuat orang menjadi besar kepala dan banyak yang kemudian lupa diri. Terbang setinggi langit dan saat melihat ke bawah yang dilihat adalah gumpalan awan nan indah. Harapannya tentu di atas langit masih ada langit, maka segala cara dilakukan agar terbang semakin tinggi lagi seiring jumlah rekening.

Di kondisi puncak, mendadak semua orang di sekitar menjadi baik dan manis. Siapa benar teman siapa lawan mulai tak jelas. Namanya di puncak, tentu banyak yang ingin di posisi yang sama. Menginspirasi. Jalan menuju puncak yang tadinya sepi menjulang ke atas mendadak ramai. Pemain semakin banyak, pesaing bermunculan, puncak pun semakin melandai. Bukan masalah, selama yang sedang melayang di awan-awan menyadari dan ikhlas untuk turun lagi tanpa beban. Mudah? Tentu tidak.

Namanya kondisi puncak, semua ada semua tersedia. Mendadak yang sudah ada jadi terasa kurang. Rumah kurang besar. Mobil kurang mewah. Handphone kurang kekinian. Pasangan hidup kurang cocok. Batin kurang terisi. Eksistensi kurang maksimal. Otomatis segala dilakukan untuk mengisi kekurangan-kekurangan ini. Mendadak biaya hidup semakin membengkak juga. Padahal besar kemungkinan tak ada yang kurang sebenarnya. Ini mungkin yang sering disebut ongkos sebuah kesuksesan yang selalu dilekatkan pada kekayaan dan ketenaran. Tak ada yang gratis, termasuk pencitraan.

Latihan percepatan menuju puncak, tak diimbangi dengan penanganan saat sudah di puncak. Makanya belakangan kita sering menemukan orang-orang yang mendadak kaya. Mendadak beken. Jangan pernah menyepelekan masalah ini. Bagai pucuk gunung es, di bawahnya bisa tersimpan kebobrokan yang luar biasa dan di luar akal sehat. Terutamanya soal mental dan bagaimana mereka melihat sesama manusia dan kehidupannya. Ini adalah salah satu dari buah pahit dari benih yang ditanam lima sampai sepuluh tahun lalu tersebut.

Banyak pengusaha muda yang sekarang tak lagi mampu menutupi boroknya. Padahal bukan borok, tapi kenyataan. Banyak pemilik bisnis yang gulung tikar. Padahal bukan gulung tikar, tapi tikar memang tak pernah dibentang. Banyak tokoh dan selebriti dadakan mendadak hilang namanya. Padahal bukan hilang, tapi ternyata hanya terkenal di dunia maya. Makna pencitraan pun semakin buruk. Seolah sama buruknya dengan mengelabui.

Padahal, semua orang, perusahaan bahkan negara pun melakukan pencitraan. Pencitraan itu bukan berbohong, tapi menyampaikan yang baiknya saja. Bukan menutupi kekurangan, tapi menonjolkan yang baiknya saja. Seorang teman yang paham budaya Jawa bilang “kami ini sebagai orang Jawa diajarkannya untuk menampilkan semuanya  itu “under control”, terkendali. Kami gak boleh menampilkan kegelisahan, masalah dan kesedihan, karena itu hanya boleh di kamar tidur bukan di ruang tamu. Makanya gue gak bisa sama konsep studio apartment gitu bok… kamar tidur dan ruang tamu kok nyampur…”.

Diantara pengusaha-pengusaha muda yang gagal meraih puncak itu pun ada yang memilih untuk kembali ke tanah dan menata ulang hidupnya. Kembali menjadi karyawan, melunasi hutang akibat gagal bisnis, mengevaluasi ulang cita-citanya. Banyak pula yang memilih untuk melanjutkan hidupnya dengan cara menggantungkan citra-citranya setinggi langit. Dengan keyakinan dan harapan, semakin tinggi pencitraannya semakin tinggi pula kelak pemasukkannya. Pemasukkan dan pencitraan kejar-kejaran. Seperti nasi dan sambal. Orang-orang di sekelilingnya, semakin seru menonton dan bahkan menyoraki untuk memberikan semangat untuk semakin menggantungkan citra setinggi langit. Pertunjukkan ini semakin hari semakin banyak pelakonnya. Tentu banyak penonton yang juga ingin menjadi pelakon.

Sialnya, sebagai penonton kadang kita suka lupa bahwa itu hanya tontonan. Bukan hanya yang mecitrakan pengusaha sukses saja. Saat yang mencitrakan kesehatan kemudian sakit, kita kecewa. Saat yang mencitrakan kekuatan ternyata lemah, kita marah. Saat yang mencitrakan keberhasilan ternyata gagal, kita menghina. Saat yang mencitrakan keharmonisan ternyata berantakan, kita menghujat. Saat yang mencitrakan kaya ternyata miskin, kita ngamuk.

Kita bertingkah seperti ibu-ibu tetangga yang ngamuk sama Meriam Belina karena dia selalu berlakon sebagai ibu tiri yang kejam. Padahal pas nonton sinetron mengaku sadar ini cuma tontonan. Atau dalam kehidupan sehari-hari, bagaimana dengan mudahnya kita tertipu oleh tampilan dan pembawaan. Penghakiman yang sebenarnya kita buat sendiri. Berpenampilan mewah artinya kaya. Berotot artinya sehat. Bersih artinya higienis. “Modest” artinya taat beragama. Mata kita memang penipu ulung.

Sepertinya layaknya manusia modern harus ada yang selalu disalahkan. Kalau seperti ini siapa yang salah? Yang melakon atau yang menonton? Salah yang menonton. Karena pelakon akan selamanya ada di sekitar kita dan jangan pernah lupa, kita juga pelakon. Kita berlakon untuk hidup, act of survival. Berlakon rajin hanya saat ada boss di kantor. Berlakon alim di depan calon mertua. Berlakon pintar karena gengsi. Berlakon sopan nan jantan hanya di depan gebetan. Jangan-jangan menjadi diri sendiri dan apa adanya itulah semu yang sesungguhnya.

Saat bisa meyakinkan penonton bahwa yang sedang disaksikannya adalah kenyataan, itulah puncak kesuksesan pelakon. Pelakon akan terus menerus mengasah kemampuannya membangun citra. Maka seabgai penonton kita juga harus semakin mengasah kemampuan memisahkan pencitraan dan kenyataan. Sehingga saat lampu dipadamkan, riasan dihapus, kostum dilepas, penonton tak perlu kecewa apalagi marah. Toh tak ada yang pernah memaksa untuk menonton apalagi mempercayainya. Semua atas kehendak penonton sendiri.

Lulu Lutfi Labibi, Perancang Suasana Hati

Malam itu di sudut Ibu kota sedang berlangsung salah satu acara kesenian termewah. Besar kemungkinan ada pengunjung acara tersebut yang mengenakan pakaian Lulu Lutfi Labibi. Di malam itu juga Lulu memilih salah satu cafe kecil di pojokan Halim Perdanakusuma untuk diwawancara khusus buat linimasa.com. Sambil menantikan jam pesawat yang akan membawanya pulang ke Jogja. Perjalanan pulang yang akan selalu mengingatkannya pada kepulangannya di tahun 2013 meninggalkan Ibukota. Sampai 2015, majalah Dewi yang saat itu dipimpin oleh Leila Assegaf – yang juga penulis linimasa- memberikannya panggung di Dewi Fashion Knight. Saat itu Lulu membawakan Jantung Hatinya.

Dua hal yang selama ini dilekatkan pada dirinya oleh media dan dirinya sendiri adalah teknik menjahit draperi dan bahan lurik. Kedua sarana itu dan tubuh manusia sebagai kanvasnya telah dipilih Lulu untuk menyampaikan gagasannya. Gagasan yang mungkin selama ini belum bisa dirumuskan oleh Lulu sendiri atau bahkan tak dia pedulikan. “Apa sih artinya gagasan?” tanya Lulu. Lulu memang sedang asik bermain-main di rumah yang juga menjadi butiknya di salah satu gang depan pasar di Kotagede.

Coba tengok akun Instagramnya yang menampilkan hal-hal kecil nan lumrah di sekitarnya seperti daun pisang, kucing rumah, terpaan sinar matahari, seonggok jerami yang saking lumrahnya luput dari perhatian orang, ditangkap oleh Lulu untuk kemudian disodorkan kembali dengan bentuk yang lebih relevan, pakaian. Lulu seolah sedang berusaha mengingatkan bahwa kebahagiaan dan keindahan tak perlu dicari ke mana-mana. Dia ada di sekitar kita. Dia ada di dalam hati. Inilah gagasan besar Lulu Lutfi Labibi.

Menengok ke belakang soal koleksinya, dia beri nama Jantung Hati (2015) menyampaikan kedalaman perasaan, Gedangsari Berlari (2016) bekerjasama dengan SMKN 2 Gedangsari di dekatnya, Hypecyclus (2017) kolaborasi dengan seniman Yogyakarta. Dan terakhir, Perjalanan. Yang merupakan perjalanan ke dalam, ketimbang perjalanan ke luar. Di video presentasinya Lulu meruntuhkan sekat jarak dan menyampaikan perasaannya di semesta yang lebih luas dari rumah, kampung dan kotanya.

Gagasan ini lagi-lagi tercermin dari prakata yang ditulisnya sendiri untuk Tirakat koleksi terbarunya “… kita lupa untuk memberikan ruang yang cukup longgar untuk sedikit pelan, sedikit mengerem suatu keinginan, dan sesekali menyapa inti terdekat dalam diri sendiri hanya untuk menanyakan apa kabar”. Menjelaskan tentang koleksinya kali ini dengan bahasanya sendiri “kali ini akan menampilkan sisi noraknya Lulu. Akan ada dangdut koplo dan warna warni. Akan ada model yang menenteng jerami… Berbeda dengan Perjalanan yang moodnya kan sunyi. “ Lulu sama sekali tidak membahas soal penggunaan bahan dan cutting. Padahal ada bahan campuran katun dan linen yang merupakan favoritnya muncul di Tirakat. Dia berbicara soal suasana hati yang akan ditampilkannya. Karena dia perancang suasana hati.

Di dalam tempurungnya Lulu membuat sendiri lubang-lubang agar sinar tetap masuk ke dalam sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya. Sinar Dries van Notten, Yohji Yamamoto dan Akira Isogawa yang diizinkan masuk itu jatuh di dandang dan cerek dapurnya kemudian memantul ke kandang kerbau seberang butiknya. 

Jangan pernah mengajaknya diskusi politik, dia tidak tertarik. Jangan pula berdiskusi soal fashion, dia juga tidak tertarik. Tapi tanyakan makan siang apa hari ini? Maka dengan senang hati dia akan memamerkan kemewahan masakan Mbok di rumahnya. Atau tanyakan kabar kucing peliharaannya. Atau soal pohon pisang yang ada di belakang butiknya. Tanyakan soal nasi kucing angkringan saat makan malam tadi. Lulu akan menjelaskan dengan panjang lebar. Bukan hanya soal nasi kucingnya, tapi juga orang-orang yang ditemui saat makan bersama. Pantang menanyakan soal cinta padanya, karena saat ini dia sedang memilih jalan sunyi sendiri. Hal-hal inilah yang menjadi nafas karya-karyanya.

Josephine Komara atau O’bin pernah berkata “fashion is all about silhouette“. Maka yang Lulu lakukan selama ini adalah bermain-main dengan siluet. Draperi adalah cara yang sering digunakannya. Bukan tak mungkin suatu saat Lulu akan mengeksplorasi teknik menjahit yang lain. Yang akan terus dilakukannya adalah mengobrak-abrik tampilan bentuk tubuh manusia saat berpakaian agar tak selamanya sempit pada “keliatan lebih langsing”. Selama ini terbukti berhasil dengan relanya pembeli  dari Jakarta khusus ke Yogyakarta untuk membelinya. Ini salah satu sebab mengapa Lulu sering disebut Anomali.

Keberhasilan terbesar dalam perjalanan Lulu adalah membuat pemakainya menemukan dirinya yang baru saat mengenakan pakaian Lulu. Penemuan-penemuan diri yang baru inilah yang menjadikannya menarik bagi pemakainya. Ternyata pantas juga. Seru juga. Asik juga. Tak banyak pakaian yang bisa memberikan rasa dan suasana hati yang berbeda. Rasa yang muncul saat mengenakan karya Lulu bukan karena lurik, bukan karena draperi, bukan pula karena telah dipakai banyak orang, tapi karena gagasan yang teranyam diantaranya.

“Harusnya sih enggak ya….” kata Indah Ariani penggiat dan pemerhati seni, saat ditanya apakah Lulu selamanya harus terdikte menggunakan lurik dan draperi. Setelah semuanya ini, menantikan karya Lulu Lutfi Labibi berikutnya bisa jadi semakin mengasyikkan atau semakin membosankan semua ada di tangan Lulu. “Aku harus semakin menjaga jarak antara Lulu dan Lulu Lutfi Labibi. Kalau terlalu dekat dan intens hasilnya malah jadi kayak apa’an sih Luuuu?! Tapi kalo Lulu bisa main-main dulu, punya waktu lebih buat bernapas, sebelum balik lagi menemui Lulu Lutfi Labibi, kayaknya hasilnya lebih baik” kata Lulu menyimpulkan dirinya sendiri. “Sekarang mungkin lagi perlu gak ngapa-ngapain dulu” kata Lulu mengejar pesawat yang akan membawanya pulang.

 

Pokoknya Marah Dulu

“Kepada penumpang Sitiling kami informasikan pesawat Anda ditunda keberangkatannya…” sayup-sayup suara pengumuman itu menghilang di kepala saya. Satu setengah jam tertunda, ya sudah. Sepertinya ini bukan peristiwa langka di seluruh dunia. Segera saya kabarkan pihak di kota yang dituju. Supaya tak menunggu terlalu lama. Mati Baik-Baik Kawan –  Martin Aleida saya keluarkan dari tas punggung yang selalu menemani di setiap perjalanan. Tapi baru halaman 4, maaf Martin, kali ini godaan untuk membuka Instagram lebih kuat. Beberapa foto saya posting sambil menonton IG Story orang-orang favorit yang memang langsung sukses membuat saya tersenyum sendiri.

Setelah bosan, saya melanjutkan membuka Facebook untuk menemukan tautan menarik. Sambil membaca, seketika saya merasa sebenarnya sudah lama saya tak mengalami ini. Sendirian tanpa gangguan sama sekali. Di sini tak ada yang bisa menemui saya. Kalau pun mencari saya, pastinya tidak bisa langsung ditemui. Saya mendadak terisolasi dan saya sangat menikmatinya. Jaz menemani saat langka ini. Entah sudah berapa kali berputar Dari Mata saya tak peduli. Saya pun menghilang.

Sampai kandung kemih yang merintih menemukan saya kembali. Saya pun membenahi tas. Begitu membalikkan badan, saya terkejut menyaksikan kerumunan penumpang di depan meja resepsionis. Di balik meja itu ada seorang kru darat yang terduduk sambil menatap kosong komputer di depannya.

“Saya ini kan pilih Sitiling karena katanya on time, lah kalo tiba-tiba begini gimana pertanggung jawabannya?” Hardik seorang Ibu yang pakaiannya tampak lebih terhormat dari rata-rata manusia di bumi.

“Mana managernya, mana?!!!” teriak seorang pemuda.

Sudah jalan ke sini” jawab kru itu.

“Jangan jalan dong, lari! Lari!!!” Teriak pemuda itu lagi.

Selintas percakapan yang saya dengar tentunya dengan intonasi marah. Seorang penjaga kamar kecil yang menonton kejadian itu, saya tanyai “kenapa itu pak?”

“Ya itu pesawat terlambat” jawabnya.

“Dari tadi ini?” tanya saya lagi.

“Iya pas pengumuman, langsung pada ngumpul”.

Sambil melepaskan beban kandung kemih tadi saya bertanya dalam hati, emang kalo marah-marah bisa bikin pesawat jadi tepat waktu? Bisa dapat ganti rugi semua biaya tiket? Toh sesuai perjanjian tertulis, makanan dan minuman ringan telah disediakan. Tapi dari wajah para penumpang itu saya bisa melihat kebahagiaan dan kepuasan melampiaskan amarahnya. Mungkin ini salah satu bentuk kekecewaan saja.

“Ditanyain cuma iya-iya aja, minta maaf pun enggak” gerutu seorang penumpang lagi. Kenapa kru itu harus minta maaf? Pesawat terlambat bukan karena kesalahannya. Kalau pun dia minta maaf maka itu hanya formalitas. Dan saat pengumuman keterlambatan, permintaan maaf formal kan sudah disampaikan. Harus berapa kali minta maaf?

Tak berapa lama panggilan untuk masuk ke pesawat berkumandang. Saya pun bergegas menuju gerbang itu. Yang ternyata sudah dipenuhi penumpang mengantri masuk pesawat. Sambil berdiri mengantri tiba-tiba terdengar suara tak sabar di belakang saya “buruan, buruan!!!”. Saya melihat ke arah bapak itu dan mempersilakannya maju ke depan saya. Ini kan bukan urusan siapa cepat dia dapat. Semua pasti kebagian kursi. Nomor kursi sudah tertera di boarding pass. Masuk pertama atau belakangan, tak ada bedanya.

Perjalanan di angkasa berjalan dengan lancar. Sampai setelah pesawat berhenti, belum lagi ada aba-aba dari kru pesawat, para penumpang segera berdiri mengambil tas dan seolah berebut hendak keluar pesawat. Tadi mau buru-buru masuk pesawat sekarang mau buru-buru keluar pesawat. 

Ada apa gerangan? Jangan-jangan saya yang selama ini kelewat santai.

Setelah keluar pesawat, saya pun menuju ban berjalan menanti barang saya. Dan benar saja, hampir semua penumpang yang tadi ingin buru-buru keluar, sekarang berdiri di depan ban itu juga. Keluar pesawat duluan tak berarti barang keluar duluan. Bahkan saat semua penumpang sudah menunggu pun barang belum tentu bisa langsung keluar. Lalu apa gunanya berebutan keluar pesawat? Tak bisakah menjalaninya dengan kalem saja?

Sesampainya di kamar hotel, saat sedang bebersih untuk mempersiapkan acara hari itu, tiba-tiba AC bocor dan airnya jatuh di lantai berkarpet. Dalam perjalanan keluar saya sempatkan mampir ke resepsionis untuk melaporkan. “Airnya jatuh ke karpet, kalau basah kan repot bisa bau sekamar nanti” saya melapor. “Baik Pak, akan segera saya periksa”. Saya pun pergi melanjutkan aktivitas hari itu sampai menjelang malam. 

Saat di lift balik kamar, bersama dengan saya seorang tamu dan seorang karyawan hotel yang mengenakan jas. Tamu itu berbicara dengan pitch tinggi “saya kan udah bayar ini hotel mahal Pak, masa AC kamar bisa bocor beggitu? Hotel apa’an sih ini? Bapak managernya kan? Urus yang becus dong Pak! Kita udah capek di jalan, sampe kamar kok malah dibeginiin!!!” Saya mendengarkan sambil memutar mutarkan kepala saya untuk pelemasan saja.

Kejadian-kejadian ini sepertinya sering kita temui sehari-hari. Melihat orang yang marah-marah untuk banyak hal. Bukan hanya urusan macet, yang pastinya marah tak akan bisa menyelesaikannya, tapi juga urusan kopi yang disajikan kurang panas atau kepanasan, sampai soal standar sopan santun seorang menteri. 

Saya mendapatkan impresi, semua hal bisa jadi alasan untuk melampiaskan kemarahan. Marah demi memuaskan diri sendiri atau marah supaya bisa memperbaiki keadaan, semakin lama semakin buyar garisannya. Semua berhak marah dan saya sedang tidak berusaha menghentikan itu. Marah adalah hak segala bangsa. Yang lucu sebenarnya, yang marah jadi bertambah marah karena yang lain tak ikut marah. Ha. Ha. Ha.

Hidup diantara para sumbu pendek, pastinya bukan perkara mudah. Godaan untuk ikut marah itu besar sekali. Dan jangan dikira yang tak marah itu tak kesal. Bukan berarti pula yang tak marah artinya diam saja. Perbedaannya mungkin, ada yang marah dengan cara yang lebih bersahabat dengan tensi dan jantung. Marah pun ternyata ada tingkatannya. Marah langsung jotos, ini paling primitif dan yang tertinggi adalah marah dengan diam.

Tidak semua kemarahan itu mubazir, banyak yang ada gunanya. Kemarahan bisa memperbaiki keadaan, bisa memberikan energi untuk berkarya, semangat untuk berolah raga, dan banyak lagi bukti nyata yang diakui dunia bersumber dari kemarahan. 

Seperti kemarahan pejalan kaki karena trotoar dipakai oleh kendaran roda dua. Atau warga yang marah karena ketua RT diduga melakukan korupsi. Atau kemarahan mahasiswa karena dikekang sebuah orde pemerintahan. Bahkan ada masanya para seniman di tanah air kita didorong untuk marah sebagai simbol perlawanan. 

Alanis Morissette, Pink, Taylor Swift dan Beyonce pernah meraih ketenaran karena lagu tentang kemarahan. Picasso, Roy Lichtenstein, Francis Bacon, pelukis yang karyanya sering didasari pada kemarahan. Favorit saya tentunya Banksy, marah pada situasi politik yang disampaikan dengan cara ciamik. Sayang kan kalau kemarahan terbuang percuma bersama angin. Setidaknya jadikanlah tulisan.

Marah bukanlah musuh tapi perlu belajar untuk disampaikan dan disalurkan dengan cara cerdas. Kalau sekedar marah-marah saja, saya punya teori disebabkan oleh kurang seks dan atau kurang gula. Kemudian beberapa teman menambahkan, kurang makan, kurang uang, kurang olahraga, kurang pengakuan, kurang perhatian sampai kurang serat sehingga tak bisa pup, bisa jadi penyebab gampang marah.

Kurang seks, karena saya yakin seks adalah kebutuhan dasar manusia. Sama seperti makan. Jadi kalo itu kurang, bisa menyebabkan kegelisahan. Kurang gula, karena gula bisa bikin bahagia. Kurang olahraga, karena energi dalam tubuhnya bertumpuk sehingga butuh penyaluran. Kurang pengakuan, sama seperti seks, pengakuan dan perhatian adalah kebutuhan dasar. Dan berbagai kurang-kurang lainnya yang membawa kita pada satu kesimpulan: sebelum mengambil hak untuk marah-marah, selesaikan dulu kewajiban untuk memenuhi segala kekurangan.

 

 

Diet Menurut Agama dan Kepercayaan Masing-Masing

OK, mungkin bukan diet, lebih tepatnya memperhatikan makanan yang masuk ke dalam tubuh saya. Perjalanan yang dimulai sekitar 2004, saat saya memasuki dunia pekerjaan. Diet yang sedang terkenal saat itu adalah Atkins Diet. Itulah awal mulanya saya mengetahui soal bahaya gula bagi kesehatan. Tapi karena saat itu internet belum seperti sekarang, sulit untuk mencari tahu lebih banyak.

Saat itu saya tidak tahu makanan-makanan apa saja tempat gula bersembunyi. Seperti makanan kaleng, siap saji, kecap dan banyak lagi yang baru saya ketahui mengandung banyak gula bertahun kemudian. Jangan lupa, saat itu tak mudah untuk mencari orang-orang yang “sepaham” untuk kemudian membentuk FB Group seperti sekarang. Paling sesekali bertanya dengan teman dokter yang jawabannya pun bisa beragam.

Setelah mencoba berbagai macam diet, akhirnya saya memutuskan diet yang paling sesuai dengan saya. Diet yang menjadi agama saya. Tapi ya agama di KTP pun saya tak taat menjalaninya apalagi diet. Dengan keyakinan berbagi itu bagian dari kebahagiaan, berikut adalah panduan saya:

  1. MEMASAK SENDIRI

Kalau tak sembarang orang boleh memegang tubuh kita, mengapa kita sering membiarkan sembarangan makanan malah masuk ke dalam tubuh kita? Memasak sendiri menjadi keputusan awal saya sehingga saya benar-benar tau apa yang masuk ke dalam tubuh. Ini menjadi prinsip awal terpenting apa pun diet saya di kemudian hari.

Pendapat ini diamini oleh Janti @alterjiwo yang juga penggiat makanan sehat dan penyembuhan non-invasif. “Mau mulai makan sehat harus dimulai dari masak sendiri. Bisa masak sendiri saja sudah jauh lebih baik daripada makan “makanan sehat” di luar.”

Saat masak sendiri, ada banyak hal yang saya pelajari. Kalau pernah mencuci ayam negeri sendiri, sepertinya semua akan paham mengenai aroma kimia yang tercium kuat saat mencuci. Atau kita jadi mengetahui bahan apa saja yang mengandung gula. Berbagai sumber minyak, minyak kelapa, minyak jagung, minyak zaitun, dan sebagainya. Yang kalau beli jadi di restoran, itu semua tak kelihatan.

Saat memasak sendiri saya biasanya memilih makanan yang sederhana. Yang proses memasaknya tidak terlalu lama. Saya bisa melihat dengan mata kepala sendiri bahan-bahan yang akan saya gunakan. Terutama soal kebersihannya. Nigella Lawson, home chef idola saya pernah bilang, tidak ada bahan makanan kotor. Yang ada adalah kesalahan dalam pengolahannya sehingga berakibat makanan bisa menjadi tak baik bagi tubuh.

Seorang teman yang baru memulai diet Keto saat sedang mempromosikan dietnya berkata “iya, kalo makan malam gitu mah sekarang gampang, beli aja gulai otak dari restoran padang, beres deh!”. Dalam hati saya berkata (karena tak berani melawan) “tak ada yang salah dengan gulai otak. Tapi tahu kah kita bagaimana gulai otak tadi dimasak? Sudah berapa lama gulai otak dipajang di restoran? Proses memasak dan kebersihannya? Ada pengawet? Gula yang terkandung di dalamnya?” Tapi ah sudahlah, ini hanya pendapat pribadi bukan kapasitas saya pun.

2. NASI

Saya masih makan nasi. Dalam ukuran yang menurut saya wajar. Seminggu mungkin sekitar 2 kali. Itu pun nasi yang kebanyakan saya masak sendiri. Beras pilihan saya adalah beras pecah kulit. Yang menurut Dr. Tan Shot Yen bisa dimakan karena kulit ari dan lembaga yang masih menempel di beras membantu untuk meredam lonjakan gula di dalam tubuh. Belakangan saya lagi mencoba sorghum dan beras hitam Jowo Melik, beras merah, dan sumber karbohidrat lain secara bergantian.

Mengenai makan nasi ini ada perdebatan panjang sekali. “Ah, nenek buyut kita semua makan nasi toh umurnya panjang juga” begitu kita sering mendengar. “Di semua negara Asia bahan dasarnya adalah nasi. Mau Jepang, India semuanya nasi. Apa semuanya itu salah?” OK, izinkan saya memiliki teorinya sendiri.

Bukan salah berasnya, tapi manusianya. Tahukah Indonesia ini tadinya memiliki ratusan jenis beras yang tumbuh sesuai dengan alamnya masing-masing. Sawah dekat pantai atau sawah di pegunungan menghasilkan beras yang berbeda. Kemudian oleh tangan-tangan tak bertanggung jawab, jenis beras ini diseragamkan demi alasan industri dan ekonomi. Kita jadi hanya tahu beras Rojolele dan Pandan Wangi. Untuk memaksa menanam jenis beras itu di berbagai lahan, tentunya tidak mudah. Diserang hama yang paling seringnya. Dan karena banyak yang kegagalan panen, akhirnya dikeluarkan pestisida untuk memastikan pertumbuhannya. Istilahnya, dipaksa tumbuh secara tidak alami. Di sinilah malapetaka dimulai.

Bahkan ada masanya di mana kita terkagum-kagum karena beras yang putih dan bersih. Kita diajari bahwa beras yang baik adalah yang putih bersih, demikian pula nasinya. Proses beras alami menjadi putih bersih bagai mutiara ini, yang menghilangkan kulit ari dan lembaganya.

Selain itu, karena saya menjalani: kalo makan nasi ya sama sayur, atau daging dengan sayur. Bukan nasi dengan daging. Jadi saya tetap bisa makan nasi dan atau sumber karbohidrat lain selama didampingi sayur saja.

3. KEMASAN KECEMASAN

Sebisa mungkin saya mencoba menghindari makanan dalam kemasan. Pun di kemasannya tertera tulisan SUGAR FREE, ORGANIC, dan lain-lain. Balik ke poin nomor satu, sebaik-baiknya makanan kemasan tentu lebih baik makanan dimasak diolah sendiri.

Contoh gampangnya, belakangan sedang demam Es Kopi Susu. Bahkan Presiden kita sampai mampir ke salah satu tokonya. Banyak teman-teman saya yang menyukainya. Termasuk saya. Tapi, karena kebiasaan untuk selalu menyangsikan bahan-bahan yang digunakan dan rasanya yang menurut saya kelewat manis, saya pun mencoba membuatnya sendiri. Kalau pun menggunakan gula, saya menggunakan gula aren cair yang saya buat sendiri dengan takaran yang lebih sedikit.

Santan, adalah salah satu contoh bahan yang belakangan banyak digunakan oleh penggiat diet. Sayangnya, sebagian besar menggunakan santan dalam kemasan. Buruk? Tidak juga. Tapi lebih baik kalau bikin santan sendiri. Selain hasilnya lebih nikmat, santan yang dibuat dengan benar bisa tahan lama selama disimpan di lemari pendingin yang dingin maksimal. Saya sudah membuktikannya sendiri, santan tahan lebih dari dua minggu :O Ya ini pun sebenarnya tak baik mungkin. Tapi saya yakin tetap lebih baik daripada santan dalam kemasan. Santan dalam kemasan hanya saya gunakan saat terpaksa.

Apakah berarti saya tidak makan Chitato, Potabees dan Indomie? Ya makanlah… Nah ini membawa ke point berikutnya:

4. TAHU DIRI

Ini adalah prinsip pengaturan pola makan yang sering saya ceritakan kalau ada yang bertanya. Tau diri aja lah, kalo hari ini udah makan mi instan, masa’ besoknya makan itu lagi. Setelah memakannya, artinya saya sudah merusak tubuh saya. Lalu apa yang akan saya lakukan untuk membalasnya? Memberikan makanan yang bermanfaat bagi tubuh. Gampang kan!

Malam minggu ini diajak nonton rame-rame, semua makan popcorn. Ya makanlah. Minum soda? Ya minumlah. Tapi makan dan minum dengan kesadaran. Sadar bahwa makanan yang sedang saya makan itu sebenarnya memiliki kecenderungan merusak tubuh. Dan karena sadar maka saya pun akan berusaha untuk “membayar balik” dan membatasi konsumsinya.

Belakangan saya lagi suka sekali makan es krim bentuk ikan dengan minum kopi pahit. Entah kenapa saya menemukan kenikmatan yang luar biasa. Saya terus mengkonsumsinya sampai saya bosan. Tak sampai tiga minggu saya mulai berhenti. Tentunya dengan tubuh yang mulai terasa berat hihihi.

Buat saya ini lebih baik. Ketimbang saya berusaha keras untuk melawannya. Kenapa? Semakin dilawan semakin kepengen 🙂 Mending kalo pengen makan ya makan aja. Lagi-lagi asal tahu diri.

Yang membawa ke point berikutnya:

5. DENGARKAN TUBUH

Tubuh saya akan selalu memberikan tanda-tanda penolakan atau penerimaan. Kalau tubuh menerima makanan yang bermanfaat, maka organ-organ tubuh kita akan bekerja dengan maksimal. Badan akan merasa segar, aktif, tak mudah lelah, mawas dan sebagainya. Sebaliknya, kalau tubuh cepat lelah, kulit gatal-gatal, migren, ngantukan, dll, coba cek makanannya. Jangan-jangan terus menerus diberikan makanan tak berguna. Ya pantas dong kalo tubuh ngambek.

Karena  sedang membahas tubuh, sekalian kita bahas soal bentuk tubuh indah menurut saya. Otot-otot yang menonjol dengan jelasnya, langsing, dan ideal, sayangnya tak selalu berarti tubuh yang sehat. Loh kok?! Ya karena belum tentu “jeroannya” baik. Contoh gampangnya, badan bagus tapi sering sembelit. Tubuhnya indah tapi matanya cekung, kulitnya kusam, rambut rontok dan sebagainya yang merupakan tanda-tanda organ tubuh tak sejahtera.

Semakin banyak berolah raga, semakin harusnya kita memperhatikan makanan. “Boleh dong makan apa aja kan udah olahraga”. Bagaimana mungkin? Tubuh membutuhkan energi dari makanan. Kalau yang masuk hanya numpang lewat dan tak berguna, sementara terus berolahraga maka kita sedang menyiksa tubuh. Tubuh yang memang akan mengurus di awal, tapi perhatikan kemudian bagaimana tubuh akan berdegradasi.

Tidak ada olahraga yang bisa menutupi makanan yang buruk. Bahkan, lebih baik tidak berolahraga tapi memperhatikan makanan yang masuk. Ketimbang sebaliknya.

KESIMPULAN (SEMENTARA) SAYA…

Diet bukanlah perihal satu minggu, satu bulan, satu tahun… tapi soal kelanggengan. Diet baru akan terasa manfaatnya kalau dilaksanakan secara terus menerus. Karenanya selalu pertimbangkan gaya hidup, pekerjaan, uang dan faktor keseharian lain sebelum menentukan jenis diet yang dijalani.

Tak ada diet yang paling bagus atau paling buruk. Setiap badan dan gaya hidup memerlukan dietnya sendiri-sendiri. Tak perlu memaksakan jenis diet tertentu. Metabolisme orang berbeda-beda, jam kerja orang berbeda-beda, kebutuhannya pun berbeda-beda. Dan di atas segalanya, prioritas orang berbeda-beda.

Misalnya sejak Januari, pekerjaan saya lagi banyak-banyaknya. Pulang paling cepat jam 11 malam kadang subuh. Tidur kurang maksimal dan bangun dalam keadaan tubuh lelah. Makanan? Boro-boro sempat ke dapur. Makan apa saja yang ada di sekitar saya. Semuanya saya jalani dengan kesadaran karena prioritas hidup saya sedang menyelesaikan pekerjaan. Saya sadar tubuh saya sedang rusak perlahan. Berat badan saya naik dan gemuknya tampak tak sehat. “Bebeung” istilah saya.

Berbeda dengan tahun lalu saat saya berlatih untuk ikutan marathon. Setiap hari saya berlatih dan makanan yang saya jaga semaksimal mungkin. Otomatis badan saya jadi bugar bahkan otot perut masa lalu perlahan muncul. Prioritas saya saat itu adalah menyelesaikan marathon dengan hasil semaksimal mungkin.

Menuntut anak kos untuk masak sendiri, tak adil rasanya. Prioritas orang tua beranak tiga yang masih kecil-kecil dengan orang tua beranak satu yang sudah mandiri, pastinya berbeda. Single dan sudah berpasangan, juga punya prioritasnya sendiri-sendiri. Semua prioritas akan mempengaruhi keputusan diet dan olahraga mana yang akan dilakukannya. Atau tidak melakukannya sama sekali. Apa pun itu, tetap harus dihargai.

Karenanya pula, tak perlu terlalu ngotot akan suatu jenis diet. Semakin ngotot biasanya orang akan semakin menjauh. Percayalah, setiap orang akan ada saatnya sendiri akan mulai memperhatikan makanannya. Dan saat itu datang, nikmati saja. Nikmati proses mengenali tubuh dan makanan yang masuk. Proses ini jauh lebih penting karena mengenal diri sendiri adalah landasan segalanya.

Lakukan proses dengan ceria. Dengan bahagia. Dengan sukacita. Ini akan terpancar dan orang-orang di sekitar kita akan ikut mendukung diet yang kita lakukan. Tak ada gunanya diet kalau malah bikin diri sendiri dan orang sekitar kesal.

 

 

 

Bergegas Menggagas

Ada banyak yang pandai melukis dan menggambar, tapi mengapa hanya beberapa yang namanya naik dan terus dipuja dan dikenang sepanjang masa? Ada jutaan orang pandai bernyanyi tapi mengapa hanya beberapa yang bersinar sampai akhir. Tak terhingga yang pandai menulis, tapi tak banyak yang menggugah. Setiap hari jutaan manusia di bumi ini mencoba berkarya sayangnya hanya sedikit yang berhasil diperhitungkan.

Kapan terakhir kali kita mendengar kata “gagasan”. Kata yang terkubur lama oleh kata-kata semacam cita-cita dan passion. Kata yang sepertinya tak pernah ada di bangku sekolah. Yang kalau menurut KBBI dipersempit maknanya menjadi “ide”. Padahal gagasan adalah soal sudut pandang. Yang menjadi awal dari segala kehidupan dan kreasi sesudahnya. Bahkan yang melandasi ide. Lebih dekat maknanya ke alasan, tapi rasanya kurang pas. “Ah banyak alasan lo?!” Berkonotasi negatif dan cenderung pasif.

“Gajah mati meninggalkan gading. Harimau mati meninggalkan belang, Manusia mati meninggalkan nama.” Ini yang mengakar dalam kebudayaan kita. Padahal apalah artinya nama tanpa gagasan. Soekarno tidak menjadi Soekarno karena namanya. Tapi karena gagasannya. Demikian pula Nina Simone, Coco Chanel, dan Saridjah Niung a.k.a Ibu Sud. Mereka bukan sekedar nama, tapi gagasan. Gagasan besar yang masih hidup dan relevan sampai sekarang.

Setiap kali melihat logo CHANEL di mall eksklusif, di benak pasti muncul itu label orang kaya raya. Sangat kaya raya. Padahal, kita tak perlu mampu membeli karyanya selama kita mampu memahami gagasannya. Itu jauh lebih berguna bagi hidup kita dan sekitar ketimbang mengenakan jaket Chanel yang  legendaris.

Di Youtube ada banyak lagi interview dengan orang-orang besar yang namanya sering kita lihat, quotenya sering kita tweet, karyanya sering kita kagumi. Dari menonton interview itu kita bisa mengenali gagasannya. Sehingga kita tak lagi menjadi bangsa yang gemar mencontek hasil akhir karya mereka.

Tulisan ini berawal dari sebuah diskusi santai dengan teman-teman generasi millennials. Secara mengejutkan, di usia yang masih kepala dua menjelang tiga, mereka memiliki satu kesamaan “merasa hidup tak berarti”. Secara garis besar, mereka merasa apa gunanya hidup kalau toh kita akan mati juga.

Sebagai generasi yang melintas antara Gen X dan Millennials, bisa dibilang tantangan mereka lebih besar dalam urusan distraksi. Hampir setiap waktu yang dimiliki punya gangguan. Dulu sebelum tidur Gen X punya waktu untuk diam dan kemudian mulai berpikir apa saja, sendiri. Sekarang? Baca timeline media sosial. Belum lagi tekanan-tekanan untuk senantiasa menampilkan kehidupan yang keren di media sosial. (((SENANTIASA))). Menjadi distraksi untuk tidak lagi melihat ke dalam. Apa gagasan hidupnya? Jangankan yang muda, yang dewasa saja sulit setengah mati.

Gagasan tidak sama dengan tujuan. Gagasan adalah awal yang menjadi dasar dari sebuah tujuan. Sebelum kapal berlayar ke tujuan mana pun, gagasan yang memberikan alasan mengapa kapal harus ke tujuan tersebut. Karena memang sudah takdir? Karena kewajiban membawa penumpang yang sudah beli tiket? Atau karena ingin melancarkan perekonomian bangsa? Mendekatkan silaturahmi Lebaran? Atau karena ingin menjadi jembatan sehinga laut adalah pemersatu dan bukan pemisah antar pulau?

Ini menjadi begitu penting karena inilah nyawa dari kapal dan perjalanannya. Sehingga saat masalah datang, solusi apa yang akan diambil. Sehingga kapal tak merasa hampa karena rutinitas semata. Sehingga kapal merasa bangga akan perannya di masyarkat. Sehingga kapal tak lagi dilihat sebagai alat benda mati hasil rakitan manusia. Sehingga kapal menemukan siapa dirinya yang sebenarnya. Sehingga kapal bisa terus berfungsi sampai waktunya usai.

Ada seorang pemikir ulung di negara ini, cerdas cendekiawan, terkenal, dan ucapannya sering menjadi panutan dalam mengambil keputusan negara. Setiap kali ada orang baru yang ingin bertemu dengannya, pertanyaannya bukan apa posisinya atau di mana dia bekerja apalagi apa bintangnya? Tapi apa gagasan dia? Tanpa gagasan, bisa dipastikan orang tersebut tak akan ditemuinya. Sombong? Sah aja lah… daripada buang-buang waktu. Hare geneee…

Ini bukan pula soal gagasan besar dan kecil. Karena gagasan kecil bisa menjadi besar. Tapi tanpa gagasan, apa yang mau dibahas? Kehidupan jadi kosong seperti keluhan millennials di atas. Tak perlu jauh-jauh memikirkan cita-cita, apalagi passion, tentukan dulu apa gagasanmu.

Sebelum kamu ingin jatuh cinta, tentukan dulu apa gagasanmu. Apa pandanganmu tentang cinta, relasi, dan pernikahan. Demikian pula sebelum bekerja. Sebelum memulai hari, tanyakan apa gagasan hari ini? Terlebih sebelum kita ingin dihargai atau dipuja, tanyakan dulu apakah gagasanmu sudah pantas untuk dihargai dan dipuja?

“Gue pengen sih bikin apa gitu tapi gak tau apa dan mulainya gimana” pasti sering kita dengar. Sebelum tergesa-gesa mengikuti seminar dan kursus sana sini, atau berbincang dengan berbagai manusia di setiap sudut cafe di kota ini, ada baiknya pertanyakan dan tentukan dulu apa gagasanmu?

Sudah terlalu membosankan untuk dengar “let it flow ajalah…. mengalir”. Seorang teman dekat berkata “tai di sungai juga mengalir…”. Hidup tanpa gagasan itu tai. Tentukan sekarang. Sebentar lagi mati.


Saya sedang jatuh cinta…

Pada pagi yang mengingatkan hidup sebentar lagi.

Pada siang terik yang membuat saya rindu hujan.

dan pada malam yang menyimpan birahi.

Saya sedang jatuh cinta…

Pada tempat tinggal yang penuh sesak dengan kenangan.

Ranjang yang selalu memeluk tanpa banyak tanya.

Dapur yang mengingatkan pasang surut perekonomian saya

Pada kakus tempat ide datang dan pergi.

Lemari baju sebagai penanda tubuh saya belum berubah banyak.

Pada kulkas yang masih menyimpan lebih banyak makanan daripada obat.

Rak sepatu yang mempertanyakan perjalanan berikutnya.

Dan dinding yang memamerkan beragam bukti cinta.

Saya sedang jatuh cinta…

Pada tempat makan favorit yang tak pernah menolak saya.

Tempat ngopi yang selalu rela diduakan untuk kemudian dilupakan.

Pada track belari yang menyimpan rahasia keluhan dengan baik.

Pada kursi bioskop yang selalu siap untuk berdiskusi.

Dan pada tempat-tempat tersembunyi yang tak pernah ember.

Juga tempat-tempat lain yang tak menuntut saya untuk selalu bicara.

Saya sedang jatuh cinta…

Pada kamu, kamu dan kamu yang diam-diam atau terang-terangan

membenci atau mencintai saya.

Karena kalian saya jadi sadar, untung saya manusia dan bukan malaikat.

Pada kamu, kamu dan kamu yang diam-diam atau terang-terangan

menghina atau memuji saya.

Karena kalian saya jadi sadar, untung masih ada yang mengajari saya.

Pada kamu, kamu dan kamu yang diam-diam atau terang-terangan

menemui dan meninggalkan saya.

Karena kalian saya jadi sadar, untung tak ada yang abadi di dunia.

Saya sedang jatuh cinta…

Pada semua perubahan yang rasanya semakin cepat.

Membuat saya bersyukur saya ada bersamanya.

Pada semua yang stagnan dari awal saya ada.

Bagai poros untuk saya berputar sampai sisi terluar dan sesekali kembali.

Pada semua yang mengejutkan dan menenangkan.

Pada kelebihan dan kekurangan.

Pada hutang dan piutang.

Pada untung dan rugi.

Pada uang kertas dan receh.

Saya sedang jatuh cinta…

Pada bekas luka di tubuh sebagai tanda mata.

Pada otot kaki yang kadang protes tapi tetap bekerja.

Pada bekas jerawat yang mengingatkan saya pernah remaja.

Pada perut yang masih setia menyapa setiap pagi.

Saya sedang jatuh cinta…

Pada setiap patah hati yang membuat jatuh cinta berikutnya semakin bermakna.

Pada setiap janji palsu yang membawa ketulusan di janji berikutnya.

Pada setiap birahi tanpa cinta yang membuat cinta ada gunanya.

Saya sedang jatuh cinta…