Akibat Terburuk Masyarakat Gampang Tersinggung

Seorang teman pengelola museum baru saja mengeluh dan kesal dengan kelakuan salah seorang pengunjung yang mengaku dirinya “orang penting”. Pasalnya, orang penting itu datang saat museum sudah ditutup tapi memaksa untuk tetap masuk. Setelah tawar menawar akhirnya diizinkan. Tak berhenti di situ, BELIAU memegang benda-benda seni yang dipajang. Saat ditegur, seperti sudah bisa diduga dia membentak balik pengawas “TERSERAH SAYA MAU PEGANG APA PUN!”

Hidup di negara, oh well, kota yang dipenuhi oleh warga yang ingin diperlakukan sebagai orang penting, membuat kejadian seperti ini menjadi lumrah. Di media sosial banyak disiarkan urusan orang-orang penting yang kelakuannya yagitudeh. Ada banyak cerita serupa dari teman-teman terutamanya yang sering mengadakan acara. Mulai dari permintaan jemputan, karcis masuk khusus, duduk di baris terdepan, sampai penundaan acara karena akan datang terlambat. Padahal, kalau benar penting tak perlu minta pasti diberi.

Setiap menyaksikan kejadian serupa di depan mata, di kepala saya selalu bertanya-tanya, apa yang telah dilakukannya sampai merasa berhak mendapat perlakuan spesial. Kalau benar diusut bisa dibagi dalam 3 alasan besar: tahta, harta dan permata. Ok, yang terakhir buatan saya sendiri untuk menggantikan wanita, daripada diserang feminis nazi. Istrinya siapa, anaknya siapa, orang tuanya siapa, bahkan kalo perlu tetangganya siapa. Seringnya juga, siapa-nya sendiri tak minta diperlakukan spesial.

Menulis soal ini, sebenarnya memuakkan. Karena merasa orang penting, tak bisa sedikit pun diusik. Nama keluarga. Agama. Ukuran badan. Tempat lahir. Usia. Orientasi seksual. Lokasi hunian. Tempat bekerja. Jabatan. Semua diharapkan untuk selalu dijunjung tinggi oleh orang lain. Merasa dilecehkan sedikit, langsung keluar tanduk. Senggol bacok.

Sialnya, banyak yang paham betul akan sifat ini dan kemudian memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi. Sengaja dibikin tersinggung supaya terjadi pertentangan. Dan setelah warga terpecah belah, maka akan muncul sang juru selamat yang seolah menyatukan semua. Menjadi pahlawan. Sayangnya, ini semua hanya di permukaan. Dalam hati sesungguhnya ya siapa yang tau.

Sifat ini juga yang belakangan bermunculan di media sosial. Ada kerugian besar yang sedang kita derita bersama: jarang sekali kita akan menemukan diskusi atau perbincangan yang bermanfaat. Diskusi baru akan terjadi kalau ada perbedaan. Ada friksi. Bukan untuk kemudian menyamakan, tapi untuk menambah pemahaman dan pengetahuan. Jangan membahas agama di meja makan, adalah petuah lama. Karena rupanya memang dari dulu, agama ini soal yang lebih sensitif dari G-spot. Seiring bertambahnya waktu semakin banyak hal yang sebaiknya tidak dibahas tak hanya di meja makan, tapi di mana-mana.

Soal politik apalagi. Lagi seru-serunya membaca perbincangan di Twitter, akan ada aja yang nyamber “ah itu kan karena lo kafir”. Yah, terpaksa terhenti deh. Atau lagi membahas soal diet, akan ada yang nyelutuk “lah yang gendut siapa?” LOH! Apakah orang tak berbadan ideal tak boleh membahas soal diet? Apakah seorang kafir tak boleh berpendapat soal politik? Apakah seorang gay tak boleh membahas soal membesarkan anak? Kalau memang dianggap pendapatnya tak mumpuni, silakan diberi pemahaman. Silakan sampaikan pengetahuan yang bisa memperkaya masing-masing.

Salah satu atau dua kalimat yang paling mematikan berkembangnya sebuah pemikiran adalah sanggahan-sanggahan macam “ya kan gak semua orang begitu” atau “ya itu kan subyektif”. Halllow, kalo sebuah pendapat harus didasarkan terlebih dahulu pada “semua orang begitu” tidak akan pernah ada yang namanya pendapat. Dan kalo ada pendapat yang bisa mewakili semua orang, bisa dipastikan bukan pendapat yang jujur. Kok judgemental gitu? Ya karena setiap orang punya hidupnya sendiri-sendiri, punya pemikiran dan perasaannya sendiri-sendiri, tidak ada yang sama. Maka semanusiawinya, pendapatnya akan berbeda.

Pendapat subyektif. Apa yang salah dengan menjadi subyektif? Malah pertanyaan yang lebih mengasyikkan untuk dibahas, apa benar ada pendapat yang benar obyektif? Jangan-jangan bukan obyektif, tapi dianggap obyektif hanya karena sesuai norma. Coba bayangkan kalo semua kolom penulis di berbagai media diharuskan untuk obyektif, mau baca apa? Tidak diizinkan menuliskan pandangan personal yang subyektif. Ucapkan selamat tinggal pada media-media pribadi. Dan yang paling menyedihkannya, ucapkan selamat tinggal pada keragaman.


Foto-foto di tulisan ini adalah karya Eddie Hara. Kenapa? Gak kenapa-kenapa… Adanya itu.

Advertisements

Leave a Reply