Persamaan Virgil dan Dia

Di sebuah masa 30-40 tahun yang lalu, para orang tua berbelanja barang fesyen berkualitas untuk keluarganya. Berkualitas saat itu dimaknai sebagai tahan lama. Awet. Inget sepatu Kickers atau sepatu sendal Birkenstock misalnya. Atau celana jeans Levi’s 501, yang menjanjikan bisa dipakai ratusan tahun. Ah, saya sudah lupa label yang lain. Yang pasti, nasehat orang tua untuk rela mengeluarkan uang sedikit asal tahan lama, menempel dan kemudian menjadi panutan.

Maju ke depan ke tahun 2000-an, hadirlah label-label macam Zara yang menawarkan desain. Zara tidak pernah menjanjikan kualitas tahan lama. Tapi desain yang mengikuti zaman, atau lebih tepatnya desain pakaian yang sedang dikenakan peragawati untuk dikeluarkan di musim berikutnya, Zara pun akan menawarkan desain serupa. Perlahan, awet dilupakan. Kalau kebetulan awet ya alhamdulillah, enggak juga gapapa.

Pemikirannya sederhana, buat apa beli barang fesyen yang tahan lama. Sebentar lagi juga akan ketinggalan zaman. Ganti tren, tinggal beli baru lagi. Begitu seterusnya sampai menumpuk di lemari pakaian. Kemudian Marie Kando, ratu bebenah asal Jepang, mengajarkan untuk bebenah dan meniadakan barang-barang tak terpakai di rumah. Beramai-ramailah masyarakat kekinian melepas barang-barang fesyennya yang tak lagi bisa dipakai. Tentunya, memberikan ruang kosong di lemari pakaian untuk diisi dengan benda fesyen baru lagi. Gitu aja terus lah sampai Indonesia menang Piala Dunia.

2012, Virgil Abloh mengeluarkan label OFF.WHITE yang berkembang di kalangan pencinta street-wear dan dikenakan oleh para selebriti dunia macam Rihanna, Beyonce, Justin Bieber, Kendall & Kylie Jenner dan lain-lain. Virgil dan Kanye West pernah sama-sama magang di rumah fesyen FENDI. Mereka terus berteman dan sekarang masing-masing punya label pakaian yang ngehits. Kanye dengan sepatu Yeezy dan Virgil dengan OFF.WHITE.

Kehadiran Off.White ditanggapi dengan sinis oleh tak hanya oleh para pencinta fesyen tapi dunia desain pada umumnya. Mereka sama-sama merasa tak ada nilai desain yang pantas untuk dihargai mahal. Dan semuanya adalah hasil kerja keras marketing, bukan karena nilai desain.

Terserah setuju atau tidak setuju, yang pasti sekarang bisa disebut sebagai era desain. Desain menentukan apakah sebuah produk bisa laku atau tidak. Strategi marketing tentu membantu, tapi akan berhenti di suatu titik saat desainnya tidak bisa diterima. Ada banyak contoh kerja keras marketing yang gagal mengangkat sebuah karya desain yang tak diterima. Mau teriak sampai jontor kalo jelek ya jelek aja.

Sejak memulai jualan tote mangkok ayam 4 tahun yang lalu karena iseng-iseng, belakangan saya banyak belajar soal desain yang bisa diterima oleh pembeli. Tak semua produk langsung laris. Ada yang pergerakannya lamban. Dari situ saya belajar desain seperti apa yang digemari orang. Karenanya, mengapa produk-produk saya jual di toko off-line seperti Aksara, JKT Creative, dan terakhir Museum Macan karena saya percaya dari sanalah saya bisa belajar sesungguhnya.

Di toko, barang produksi saya tak berjualan sendirian seperti di akun Instagram, tapi berdampingan dengan banyak produk karya lain. Di toko pula, orang lalu-lalang dan kemudian berhenti untuk melihat, memegang, merasakan sebelum memutuskan untuk membeli. Dan di toko pula, kata sold-out menjadi terukur. Kalau dagang di Instagram bilang sold-out tak ada yang pernah tau berapa stock yang disediakan. Jangan-jangan cuma setengah lusin. Tapi di toko, ada catatan berapa barang masuk dan berapa barang keluar.

Berjualan di toko, juga membungkam prasangka kalau pembelinya hanya teman-teman penjualnya. Yang lalu lalang di toko kan bisa dibilang “masyarakat umum” yang kemungkinan besar tidak tahu siapa kreatornya kecuali artis yang biasanya malah sengaja mencantumkan namanya sebagai daya jual.

Kemudian saya iseng memposting desain tas ini di IG Story dengan polling YAY or NAY. Bisa diduga 80% bilang Nay. Tak sedikit yang langsung DM dan dengan keras melarang untuk memproduksinya. Secara garis besar alasannya sama, desain yang gak ok. Ikut-ikutan. Gak asik. Keluar dari pakem Mangkok Ayam selama ini. Sampai ada yang mengancam kalau diproduksi akan memboikot HAHAHAHAHAHA. Tentunya semua pendapat tadi menarik. Karena sekarang semua bicara soal desain. Dan hanya desain. Bukan fungsi. Bukan kualitas.

Kan tidak ada yang bertanya tas itu terbuat dari bahan apa? Ukurannya berapa? Ada warna lain gak? Harganya berapa? Semua membicarakan desain. Buat saya, tentu ini menjadi menarik. Saya harus berterima kasih kepada semua yang selama ini sudah menghadirkan beragam kejadian yang membuat masyarakat semakin mencintai desain.

Ini menjadi penting dan berguna di era keragaman seperti sekarang. Kok jauh amat? Ya karena semakin dekat dengan desain, maka kita akan semakin paham kalau desain itu sangat obyektif. Dan karena obyektif maka tidak ada yang benar dan salah. Sama seperti pemahaman soal agama, cinta, dan Tuhan. Bayakan, kembang hasil desain Tuhan saja, bisa ada yang suka dan ada yang tidak. Apalagi desain seorang Virgil Abloh. Mungkin lewat desain bunga, Tuhan mengajarkan makna toleransi.

 

Advertisements

Kulari ke Pantai di Mall

“Anak kampung” dan “anak kota” selamanya akan jadi pembahasan menarik di mana pun. Anak kampung, selain identik kedekatannya dengan alam, juga terampil saat menolong dirinya sendiri. Sementara anak kota, identik dengan teknologi. Dengan pengetahuan dan tren terkini. Misalnya memasak, anak kampung bisa memasak menggunakan tungku kayu bakar. Sementara anak kota, menyalakan kompor sendiri pun belum tentu bisa. Anak kampung, berbadan atletis karena lebih banyak bergerak di alam bebas dengan kulit hitam rambut pirang karena terbakar matahari. Anak kota, badannya berotot hasil latihan di gym dengan rambut hitam dan kulit putih karena sinar matahari adalah musuh.

Internet, kemudian datang. Saling memperkenalkan keduanya. Anak kampung tau soal kelebihan dan kekurangan anak kota, demikian pula sebaliknya. Tak ada masalah, sampai kemudian dibanding-bandingkan. Yang satu dianggap dan merasa lebih tinggi dibanding yang lain. Kenapa masalah? Karena sesungguhnya keduanya punya kelebihan yang bisa terus diasah untuk kemudian mengisi dunia menjadi lebih baik untuk semua.

Peleburan kemudian terjadi. Anak kampung ingin menjadi anak kota, sepertinya bukan soal baru. Si Doel anak Betawi, Si Kabayan Saba Kota, atau lagu Si Bimbi adalah soal anak kampung yang berusaha untuk menjadi anak kota. Menjadi anak kota, dianggap lebih tinggi harkat dan martabatnya. Sama seperti ketika anak kampung pulang kampung saat Lebaran, jadi kesempatan untuk memamerkan keberhasilannya di kota. Seragam, yang mungkin buat anak kota adalah simbol penjara dan “orba banget” menjadi simbol kebanggaan untuk anak kampung. Sudah bisa memakai seragam baby sitter, polisi, dokter, pilot dan berbagai profesi lainnya. Apalagi kalau sudah bisa jadi pejabat negeri, wah bisa jadi buku kisah sukses yang laris.

Bagaimana dengan anak kota? Anak kota pun mulai masuk kampung. Walaupun masih lebih sering ditanggapi dengan sinis, semakin sering kita menemukan anak kota mulai belajar soal kekayaan kampungnya untuk kemudian dibawa ke kota. Contohnya, di tengah kota kita bisa menemukan rumah makan dengan nuansa pedesaan. Cireng, makanan “kampung” Sunda, bisa jadi hits di kalangan anak kota. Cafe-cafe kekinian yang mengangkat biji kopi kampung dengan cita rasa kopi kampung menjamur di seluruh penjuru kota. Glamping, camping di alam bebas yang glamor karena semua fasilitas sudah disiapkan, juga menjadi tren belakangan ini.

Saat peleburan ini, bentrokan-bentrokan pasti mengiringi. Anak kota dianggap hanya melihat kulitnya saja. Hanya mau foto-foto untuk konten di Instagram. Yang lebih sadisnya lagi, cara pandang anak kota melihat kampung, dianggap sama dengan turis. Berjarak. Demikian pula sebaliknya. Anak kampung dinilai norak, kampungan, dan yang berhasil secara finansial sering disebut OKB (Orang Kaya Baru). You can take the girl out of a village, but you can not take the village out of a girl, kata tulisan di sebuah meme dengan foto salah seorang artis yang dinilai kampungan. Padahal, kampung tak sama dengan kampungan.

Anak-anak kota yang sekarang mendapat pendidikan dua bahasa, Inggris dan Indonesia, mulai lebih nyaman menggunakan bahasa Inggris. Internet membuat mereka lebih dekat dengan keragaman internasional seperti Kendal Jenner, Kanye West dengan sepatu Yeezynya, label internasional pun semakin akrab karena sering dikenakan Syahrini di akun Instagramnya. Anak kampung melihat ini sebagai hal-hal superfisial yang tak bermanfaat dan buang-buang waktu saja. Daripada nontonin IG Story, lebih baik belajar mendaki gunung dan memasak karena lebih berguna untuk kehidupan. Bahasa Inggris penting tapi Bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan bangsa.

Untuk orang dewasa, benturan seperti ini sudah bisa diterima untuk kemudian diolah dan disaring, ambil mana yang penting untuk kehidupan masing-masing. Sudah paham tak ada yang lebih baik atau lebih buruk, keduanya sama-sama bisa bermanfaat. Tapi tentunya untuk anak-anak, tanpa bimbingan yang benar, bisa jadi membingungkan. Anak kampung akan merasa terasing dari kemajuan dunia. Anak kota akan merasa tercabut dan melayang dari akarnya.

Apakah anak kota yang bercita-cita ingin menjadi Youtuber lebih rendah nilainya ketimbang anak kampung yang bercita-cita ingin menjadi pemilik Guest House? Apakah menjadi Celebgram adalah soal tampang semata sementara menjadi Pesinden adalah murni mengasah kemampuan? Keduanya, punya tantangan sendiri-sendiri dan punya masa depannya sendiri-sendiri.

Dalam sebuah diskusi dengan klien, terungkap sebuah fakta bahwa semua kampung perlahan menjadi kota. Pangkal Pinang 30 tahun lalu dinilai sebagai kampung dengan satu bioskop bangunan tua, sekarang sudah seperti Jakarta kecil lengkap dengan XXI-nya. 10 tahun yang lalu, kalau berangkat ke Jogja kita bisa menemukan orang Jogja bawa Jco. Sekarang? Jco pun sudah dianggap ketinggalan zaman di Jogja. Uniqlo dan H&M tak lagi eksklusif milik anak kota. Belum lagi kalau kita membahas soal belanja online. Anak kampung sekarang juga bisa beli sepatu Yeezy di Instagram. Belum mampu? Tak perlu khawatir, palsunya ada di pasar malam terdekat.

Di masa peralihan inilah, film Kulari Ke Pantai hadir. Dari judulnya saja jelas merupakan ajakan untuk ke pantai. Ajakan ke kampung. Mengenal kekayaan alam dan budaya kampung. Dalam film ini pantai-pantai indah di pulau Jawa. Kehadiran makhluk-makhluk “kota” di film ini, lebih sering menjadi bahan tertawaan. Sindiran-sindiran akan kelakuan anak kota, bertebaran di film ini.

Sementara anak kampung di film ini ditampilkan sebagai ceria penuh gairah kehidupan dan penuh kebenaran. Hanya di ujung cerita baru ada yang bisa dipelajarinya dari anak kota. Soal makna pertemanan dan estetika.

Film menghibur berdurasi 2 jam ini, bisa ditonton mulai 28 Juni 2018. Kalau anak kota yang nonton bisa jadi akan menertawakan kelakuan dirinya sendiri, sementara kalau anak kampung yang nonton akan menertawakan kelakuan anak kota. Bagaimana kalau anak hibrida yang menonton? Anak kampung yang berpikiran dan memiliki aspirasi menjadi anak kota dan sebaliknya. Pasti lebih menarik untuk didengar pendapatnya.

Cerita Jakarta Kami

Demi membuat hidup di ibukota yang sumpek ini sedikit menyenangkan, saya dan seorang teman dekat sering melakukan kegiatan-kegiatan tak lumrah. Mulai dari mencoba jadi pengamen di jalanan, menjadi waria di taman lawang pada suatu masa, membayangkan jembatan penyebarangan sebagai catwalk, pura-pura berantem di halte busway, sampai ikutan teman bomber bikin mural lepas tengah malam buta.

Sudah lebih dari 3 tahun kami melakukannya. Waktu itu saya baru putus dari sebuah hubungan dan berencana meninggalkan kota ini. Dan dia baru balik dari sekolah dan bekerja luar negeri sedang frustrasi dengan kota ini. F*<K JAKARTA lah pokoknya. Ide ini muncul saat kami sedang bermalam mingguan bersama. “Kata orang, bukan soal tempatnya tapi sama siapanya” begitu yang kami yakini.

Supaya lebih menarik, setiap kali kami melakukan kegilaan ini, ada satu syarat mutlak: tidak boleh bawa hape. Tidak boleh merekam apa pun secara elektronik. Semua hanya boleh direkam dalam ingatan. “Kita kenalan waktu handphone bahkan belum bisa jadi kamera. Selama di luar negeri, semua kenangan itu sering kembali. Tanpa foto dan dokumentasi apa pun untuk mengenangnya. Semua yang kita lakukan malah jadi selamanya tersimpan di sebuah ruang di dalam hati. Bukan di foto album.” Beklah…

Kegilaan terakhir yang kami lakukan terbagi dalam dua jilid. Yang pertama saat liburan Sincia kemarin, kami menyediakan anggaran sebesar 15 juta untuk masing-masing dan kami bebas berbelanja apa pun. APA PUN! Dan kegilaan yang satunya lagi, baru kami lakukan hari ini, kami berjalan menelusuri kota ini, tanpa uang serupiah pun. TANPA SERUPIAH PUN.

Pasti sering kita ngomong ke diri sendiri, berandai-andai punya uang banyak, maka pengen beli ina inu. Terutamanya saat keuangan lagi tiris. Makin tiris, sepertinya makin besar keinginan. Hari ini, masing-masing punya uang 15 juta untuk dihabiskan. Boleh sampai ludes di berbagai mall yang kami kunjungi. Percaya atau tidak, di ujung hari saya berbelanja 3 kaleng Diet Coke. Dan dia berbelanja sekotak buah Kiwi isi 6. Itu saja. Kok bisa?

Di awal kami memasuki sebuah mall, dengan penuh semangat kami mendatangi toko-toko yang selama ini menjual barang-barang yang kami minati. Saat barang sudah di depan mata…

“Bagus gak?”

“Not bad…”

Sebelum akhirnya barang ditaruh kembali tak jadi beli. Bisa jadi karena merasa tak terlalu membutuhkan. Atau karena harganya sepertinya terlalu mahal. Atau koleksi lama dan sebaiknya menunggu sampai yang baru datang. Alasan-alasan lainnya yang sama sekali tak terduga akan muncul saat tak punya duit.

Setelah memasuki toko ketiga, bosan dan lelah mulai datang. “Ngopi aja yuk!” Di sebuah pojokan mall kami berbincang sambil ngopi dan makan. Tak terasa sore pun datang. “Kita masih bisa ke mall sebelah loh!” Beranjak ke mall sebelah, ternyata tak terlalu banyak membawa perubahan. Malam datang. Makan malam. Ke supermarket. Pulang.

Sebelum tidur kami berdua berbincang. Mungkin karena emang di usia kami tak lagi memerlukan banyak barang. “But, 9 million for a hoodie with Anti Social Social Club printed on it, doesn’t make sense for any age”. Gak juga sih. Kalo kami masih belasan mungkin kami akan segera membelinya. Tapi di usia segitu, pake uang dari mana? Perbincangan kami melebar perihal berat dan mahalnya jadi orang tua yang memiliki anak remaja di kota ini. Oh well… kami tidur pulas malam itu. Uang aman. Lega.


Persiapan hari ini lumayan matang. Karena tak boleh membawa uang, maka tas kami isi dengan minuman dan berbagai kebutuhan yang biasanya dibeli di jalan. Lumayan berat jadinya. Dan tentunya, harus berjalan kaki. Mana Jakarta lagi panas-panasnya belakangan. Tapi yasudahlah… MARI BRENGKI!

Baru sekitar 5 kilometer kami berjalan, di depan sebuah rumah kuno ada kursi kayu panjang di bawah pohon besar. Kami pun memutuskan untuk duduk di situ. Sambil minum dan terdiam karena lelah, sambil mengagumi desain rumah kuno itu. Halamannya dipenuhi dengan aneka bunga terawat dengan apik.

“Kalo kaya raya, pengen sih punya rumah kayak gini”.

“Di Jakarta?”

“Enggak harus sih… Jogja kali”

Kami melanjutkan perjalanan. Dan sepertinya kali ini arah perjalanan kami lebih jelas. Mencari rumah-rumah di kawasan Menteng dan Cikini yang sesuai dengan selera kami masing-masing. Walau sama-sama suka rumah kuno, tapi sepertinya perbedaannya ada di pagar. Saya lebih suka pagar terbuka sementara teman saya lebih suka pagar tertutup. Dia merasa tidak nyaman kalau keluar pintu rumah dan langsung terlihat dari jalan.

Dari perbincangan rumah, kami lanjut berbincang soal trotoar yang kondisinya cukup baik tapi sepi pengguna. Soal kali yang melintasi kota ini. Soal nama pohon-pohon yang kami temui. Ondel-ondel yang tak sengaja lewat. Sayang kami tak membawa uang serupiah pun untuk diberikan. Maafkan kami Ondel-ondel…

Kemudian kami pun masuk ke kawasan Taman Ismail Marzuki. Ke toko buku bekas di pojokan. Menonton sekumpulan remaja sedang berlatih tarian. Sebelum akhirnya memutuskan untuk duduk lagi. Kali ini di emperan jalan.

Baru saja dua teguk air melewati tenggorokan, seorang pengemis berhenti di depan kami.

“Maaf Pak”

“Sedikit aja, buat ongkos pulang”

“Kami juga lagi gak pegang duit, Pak… Dompet juga gak bawa.”

“Kalo gak mau ngasih, gak mau ngasih aja! Gak usah bohong gitu! Beneran gak punya duit nanti, baru tau rasa!”

Melanjutkan perjalanan, kami melewati sebuah cafe tempat nongkrong kami.

“Pengen yaaa”

“Ergh… mayan… Bentar lagi jam 6, pulang yuk! Mayan nih jalan kaki balik”

Sambil melewati jendela kaca cafe itu tiba-tiba

“WOI MAIN LEWAT AJAAAA, MAMPIR KEK… HALO-HALO KEK” teriak pemilik cafe itu tiba-tiba keluar dari cafe dan mendatangi kami.

“Lagi gak bawa duit monyooong, bikin kaget aja luuu”.

Lima belas menit berikutnya, kami sudah duduk bertiga di cafe itu. Dua gelas es cappucino, sepiring singkong goreng keju dan sepiring kue nastar menemani perbincangan kami bertiga.


Malam Minggu pun sebentar lagi tiba. Banyak pasangan muda mulai memasuki cafe ini. Kami pamit. Sebelum berpisah

“Nanti gue transfer ya….”

“GUE TABOK YA!”

Karena matahari sudah pamit duluan, angin sepoi mengiringi perjalanan pulang jadi ringan. Melintasi sebuah jembatan

“Boleh tulis di blog gak?”

“Ergh… Suka ya?”

“Suka.”

“Boleh kalo gitu.”

Di langit berwarna jingga

aku bisa meihat wajah kalian

itulah alasan aku hidup di kota ini

ku tertegun dan terkesima

melihat indahnya alam berwarna

membuat aku sadar

akan jauhnya kampung halaman.

tempat mencari uang

walau tak ada ruang

raih impian sekilas gampang

tapi semua tak semudah membalik telapak tangan

di dalam kesempitan mencari kesempatan

karena hidup kadang penuh beban

melangkah terus ke depan sambil menatap

mentari terbenam

Jakarta Sunset – Hiroaki Kato

Influencer Jaman Now

Dengan penghasilan minimal 5-10 juta per bulan, siapa sih yang gak pengen jadi influencer atau KOL di media sosial. Modal utamanya, kemampuan menghasilkan “konten”. Bisa berupa foto, video, tulisan ditambah kemampuan bercerita dan fisik sedikit saja di atas rata-rata. Makanya modal tambahan macam camera mirorless, backdrop, ring flash semakin banyak peminatnya. Tentunya di saat yang bersamaan, persaingan pun semakin sengit.

Apalagi blogger. Travel, fashion, beauty, selain kemampuan merekam dan mengedit yang mumpuni, juga menulis. Gak berhenti di situ, keunikan sudut pandang pun jadi kelebihan tersendiri. Hotel ya hotel, baju ya baju, lipstik ya lipstik, tapi bagaimana menceritakannya biar jadi menarik dengan sudut pandang yang berbeda. Shasha, seorang travel blogger pernah menuliskan pengalamannya pelesir bersama travel blogger dari luar negeri.

Perlahan, aktivitas ini semakin menjadi profesi. Pekerjaan yang dikerjakan secara profesional. Nah, kalo udah jadi profesional tentu ada risiko di dalam paketnya. Ketika seseorang memutuskan untuk menjadi profesional, maka dirinya sudah menjadi merek/brand. Di saat itulah, diperlukan kepiawaian untuk menjaga “brand”nya. Coba saja lihat bagaimana brand-brand mapan berperilaku di media sosial. Semua point akan digunakan untuk membangun citranya supaya semakin disukai lebih banyak orang. Bukan sebaliknya. Di sini banyak influencer yang lupa. Mau ambil bagian enaknya saja.

Karena merasa dirinya di atas angin, masih bersikap seenaknya. Bahkan lebih buruknya lagi, membongkar aib dari brand atau persona lain. Mulai dari urusan tagihan sampai membandingkan brand yang memperkerjakannya dengan yang lain. Ini repot. Repot karena tanpa disadari, banyak pintu kerjasama yang ditutup sendiri. Kemungkinan karena tabungan lagi penuh-penuhnya, bikin merasa tak perlu lagi membuka jalan baru. Tak perlu orang lain tapi orang lain yang memerlukan dirinya.

Banyak pemilik brand yang mengeluhkan kelakuan para influencer. Konten yang dihasilkannya baik, laporan statistiknya pun baik, tapi sayangnya di luar itu, gak mencerminkan brand yang telah membayarnya. Belum lagi kelakuan yang berharap mendapatkan perlakuan seperti bintang besar. Beberapa pebisnis pernah pula bercerita soal blogger yang meminta gratisan dengan dalih mengajak kerjasama, diiringi ancaman review buruk yang akan ditulis di blognya.

Sayangnya lagi, banyak pula yang tak mau memaparkan laporan statistik jumlah pembaca blognya. Semua dianggap cukup dengan citranya saja sebagai blogger kondang. Padahal bagi pebisnis, setiap rupiah yang dikeluarkan untuk berpromosi, harus bisa dipertanggung jawabkan. Berapa views, reach, engagement dan metriks lain yang seharusnya dengan mudah bisa ditemukan untuk dilaporkan.

Trend penggunaan influencer yang bermula sekitar 5 tahun lalu ini, memang semakin berkembang. Berkembang ke arah mana? Ada banyak laporan dan analisa di internet. Beberapa diantaranya sepertinya bisa jadi panduan baik bagi influencer ataupun pengiklan.

  1. Penggunaan Beragam Influencer

Saat ini, jumlah followers saja tak bisa jadi ukuran. Perlu reach. Jangkauan. Menjangkau yang di luar jumlah followers. Dengan algoritma di Instagram dan Facebook, dilaporkan hanya sekitar 10% persen dari followers yang melihat sebuah postingan. Jadi, kuantitas bisa jadi lebih baik dari kualitas. Ketimbang membayar seorang mega influencer saja, ada baiknya mempertimbangkan untuk menggunakan beragam “kasta” influencer. Jangan lupa ada sistem boosting yang bisa mempromosikan postingan yang baik dari seseorang yang mungkin jumlah followersnya masih rata-rata. Akan tetap menghasilkan reach yang banyak.

  1. Sesuai dengan Produk

Jangan langsung terkesima melihat jumlah followers dan berkilaunya konten yang dihasilkan. Pertimbangkan juga kesesuaiannya dengan brand dan arah kampanye. Di sini pertimbangan karakter influencer menjadi faktor penting juga. Kalo memang tidak sesuai, jangan dipaksakan. Tak jarang kampanye yang gagal mencapai target karena pertimbangannya hanya fisik dari influencernya. Tak salah, tapi tak maksimal.

  1. Hashtag Can Be Overrated

Penggunaan hashtag diperlukan untuk orang mencari sebuah topik. Pertimbangannya, seberapa banyak orang mencari sesuatu berdasarkan hastag. Saat ini, hashtag diperlukan untuk mencari jejak di media sosial. Misalnya mengadakan kompetisi di media sosial. Untuk memastikan sebuah postingan memang ditujukan untuk mengikuti kompetisi itu, maka dicari melalui hashtag. Masih banyak lagi kepentingan hashtag yang sebenarnya lebih untuk keperluan pengiklan saja bukan konsumen.

  1. Nurturing Influencer

Semakin banyak influencer baru yang berdatangan. Kemampuan untuk menemukan mana influencer mini yang akan berkembang menjadi mega. Terlebihnya untuk membangun brand dalam jangka panjang. Pencitraan brand akan ikut berkembang seiring pertambahan jumlah followersnya. Apalagi kalau influencer itu kemudian berkembang menjadi seorang public figure. Menjaga relasi dengan mereka bisa memberikan manfaat buat kedua pihak. Tanpa disadari, influencer itu sudah menjadi brand ambassador.

  1. Edukasi Tak Semalam

Menjadi influencer sebuah brand memerlukan edukasi yang terus menerus. Semakin banyak pengetahuan yang diketahui influencer biasanya isi postingan mengenai brand itu akan semakin berisi dan spontan. Karena urusan edukasi ini tak bisa terjadi dalam semalam, jadinya perlu konsistensi. Bukan saja pengetahuan tapi juga pemahaman akan riwayat dan rencana ke depan brand. Banyak brand yang sudah melakukan ini, dan bisa dibilang berhasil. Ini juga memudahkan saat berkampanye ke depan, tak lagi repot mencari dan dealing dengan influencer baru.

  1. Up to Date

Sejak adanya IG story, netijen banyak yang mulai meninggalkan postingan di feed. Laporan terkini bilang, Twitter sudah ditinggalkan. Youtube menjadi rising star. Dan ini terus menerus berfluktuasi. Belum lagi berkembangnya media sosial baru. Macam Yogrt yang berkembang di kalangan grass root millennials. Atau BBM yang rupanya masih menjadi medium bagi banyak Ibu-Ibu. LINE yang terus menawarkan layanan baru. Silakan pilih mana yang paling sesuai, bukan semata mana yang lagi ngetrend. Seru kan!


Semakin banyak anak-anak muda yang kalo ditanya cita-citanya ingin menjadi Vlogger. Ingin menjadi Celebgram. Semua cita-cita yang baik adalah mulia. Tapi ada baiknya tak hanya dibutakan untuk mendapatkan uang cepat. Ingat, BANYAK yang memiliki cita-cita serupa. Selain menemukan diri sendiri, bekali juga dengan kemampuan teknis yang mengiringinya. Belajar fotografi, belajar video, ngedit, dandan, fashion, menulis, banyak lagi yang pastinya akan selamanya berguna walau nantinya ganti cita-cita ūüôā


NB: Penggunaan foto2 dagangan sendiri di tulisan ini mohon dianggap sebagai bukti penulis juga pengguna jasa influencer :)))

Akibat Terburuk Masyarakat Gampang Tersinggung

Seorang teman pengelola museum baru saja mengeluh dan kesal dengan kelakuan salah seorang pengunjung yang mengaku dirinya “orang penting”. Pasalnya, orang penting itu datang saat museum sudah ditutup tapi memaksa untuk tetap masuk. Setelah tawar menawar akhirnya diizinkan. Tak berhenti di situ, BELIAU memegang benda-benda seni yang dipajang. Saat ditegur, seperti sudah bisa diduga dia membentak balik pengawas “TERSERAH SAYA MAU PEGANG APA PUN!”

Hidup di negara, oh well, kota yang dipenuhi oleh warga yang ingin diperlakukan sebagai orang penting, membuat kejadian seperti ini menjadi lumrah. Di media sosial banyak disiarkan urusan orang-orang penting yang kelakuannya yagitudeh. Ada banyak cerita serupa dari teman-teman terutamanya yang sering mengadakan acara. Mulai dari permintaan jemputan, karcis masuk khusus, duduk di baris terdepan, sampai penundaan acara karena akan datang terlambat. Padahal, kalau benar penting tak perlu minta pasti diberi.

Setiap menyaksikan kejadian serupa di depan mata, di kepala saya selalu bertanya-tanya, apa yang telah dilakukannya sampai merasa berhak mendapat perlakuan spesial. Kalau benar diusut bisa dibagi dalam 3 alasan besar: tahta, harta dan permata. Ok, yang terakhir buatan saya sendiri untuk menggantikan wanita, daripada diserang feminis nazi. Istrinya siapa, anaknya siapa, orang tuanya siapa, bahkan kalo perlu tetangganya siapa. Seringnya juga, siapa-nya sendiri tak minta diperlakukan spesial.

Menulis soal ini, sebenarnya memuakkan. Karena merasa orang penting, tak bisa sedikit pun diusik. Nama keluarga. Agama. Ukuran badan. Tempat lahir. Usia. Orientasi seksual. Lokasi hunian. Tempat bekerja. Jabatan. Semua diharapkan untuk selalu dijunjung tinggi oleh orang lain. Merasa dilecehkan sedikit, langsung keluar tanduk. Senggol bacok.

Sialnya, banyak yang paham betul akan sifat ini dan kemudian memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi. Sengaja dibikin tersinggung supaya terjadi pertentangan. Dan setelah warga terpecah belah, maka akan muncul sang juru selamat yang seolah menyatukan semua. Menjadi pahlawan. Sayangnya, ini semua hanya di permukaan. Dalam hati sesungguhnya ya siapa yang tau.

Sifat ini juga yang belakangan bermunculan di media sosial. Ada kerugian besar yang sedang kita derita bersama: jarang sekali kita akan menemukan diskusi atau perbincangan yang bermanfaat. Diskusi baru akan terjadi kalau ada perbedaan. Ada friksi. Bukan untuk kemudian menyamakan, tapi untuk menambah pemahaman dan pengetahuan. Jangan membahas agama di meja makan, adalah petuah lama. Karena rupanya memang dari dulu, agama ini soal yang lebih sensitif dari G-spot. Seiring bertambahnya waktu semakin banyak hal yang sebaiknya tidak dibahas tak hanya di meja makan, tapi di mana-mana.

Soal politik apalagi. Lagi seru-serunya membaca perbincangan di Twitter, akan ada aja yang nyamber “ah itu kan karena lo kafir”. Yah, terpaksa terhenti deh. Atau lagi membahas soal diet, akan ada yang nyelutuk “lah yang gendut siapa?” LOH! Apakah orang tak berbadan ideal tak boleh membahas soal diet? Apakah seorang kafir tak boleh berpendapat soal politik? Apakah seorang gay tak boleh membahas soal membesarkan anak? Kalau memang dianggap pendapatnya tak mumpuni, silakan diberi pemahaman. Silakan sampaikan pengetahuan yang bisa memperkaya masing-masing.

Salah satu atau dua kalimat yang paling mematikan berkembangnya sebuah pemikiran adalah sanggahan-sanggahan macam “ya kan gak semua orang begitu” atau “ya itu kan subyektif”. Halllow, kalo sebuah pendapat harus didasarkan terlebih dahulu pada “semua orang begitu” tidak akan pernah ada yang namanya pendapat. Dan kalo ada pendapat yang bisa mewakili semua orang, bisa dipastikan bukan pendapat yang jujur. Kok judgemental gitu? Ya karena setiap orang punya hidupnya sendiri-sendiri, punya pemikiran dan perasaannya sendiri-sendiri, tidak ada yang sama. Maka semanusiawinya, pendapatnya akan berbeda.

Pendapat subyektif. Apa yang salah dengan menjadi subyektif? Malah pertanyaan yang lebih mengasyikkan untuk dibahas, apa benar ada pendapat yang benar obyektif? Jangan-jangan bukan obyektif, tapi dianggap obyektif hanya karena sesuai norma. Coba bayangkan kalo semua kolom penulis di berbagai media diharuskan untuk obyektif, mau baca apa? Tidak diizinkan menuliskan pandangan personal yang subyektif. Ucapkan selamat tinggal pada media-media pribadi. Dan yang paling menyedihkannya, ucapkan selamat tinggal pada keragaman.


Foto-foto di tulisan ini adalah karya Eddie Hara. Kenapa? Gak kenapa-kenapa… Adanya itu.

Apa Kabar Karin & Susi?

“Cantik banget sekarang” kurang lebih gitu tweet seseorang di Twitter. Setelah penampilannya di sebuah fashion week,  banyak yang gak percaya sama tampilan barunya Awkarin. Gak cuma makin ketje, akun Instagram dan Youtubenya pun makin idup dan rame. Banyak brand yang mengajaknya bekerja sama. Tadinya brand-brand rumahan dan belakangan semakin meningkat bahkan hotel bintang lima satu berlian pun sepertinya pernah.

“Akunnya kayak Tokopedia” kata salah seorang penggagas linimasa.com. Ya siapa yang gak mau. Konon sekarang Awkarin udah punya tarif sendiri buat di IG story, IG post, dan Youtube. Harganya pun gak bisa dibilang murah. Seorang brand manager sempat gak jadi memakai jasa Awkarin karena harganya yang mahal. “Gue pake temennya aja deh yang lebih murah”. Kalo pengen tau kurang lebih penghasilan Awkarin seperti apa, baca aja laporan mojok.co ini.

July 2016, gue sempat menulis mengenai Awkarin di linimasa.com. Kalo statistik masih bisa dibuka mungkin akan gue skrinkep untuk ngebuktiin kalo tulisan itu masih jadi tulisan yang paling banyak pembacanya sepanjang sejarah linimasa.com. Gosah sedih, pas saat itu banyak yang ngehujat tulisan ini juga. Buat mereka, Awkarin itu sampah. Berujung pada Awkarin yang harus berkunjung ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Kementerian Komunikasi dan Informasi. Dan seperti biasa namanya juga keributan netijen, setelah ada berita yang lebih seru, Awkarin mulai terlupakan.

“Lo yakin nulis gituan? Or are you just trying to be funny?” begitu salah satu pesan teman yang gak setuju sama tulisan gue. “Kalo anak gue kayak dia mah dah gue botakin!” tambahnya lagi. Gak semua penulis linimasa.com pun setuju sama tulisan itu. Gak masalah sih. Gue nulis bukan buat cari pendukung. Gue nulis itu karena gue sampai sekarang pun yakin Awkarin memang berbakat. Dia punya mata dan selera yang bagus. Dia bisa ngedit video jadi menghibur. Dan dia tau cara bikin konten. Lagi-lagi gue bilang, ini gak gampang. Itu aja pointnya. Dan sepertinya sekarang udah terbukti kan? Mon maap sebelomnya ni, kalo diliat dari statistik di socialblade.com sih, akun Awkarin kayaknya belum pernah tuh beli followers. Yang beli followers dan like? Banyak lah… bahkan yang dari luarannya tampak sopan, berbudaya, beriman, berwawasan internasional, berilmu, beradab…

https://mojok.co/redaksi-mojok/rame/nafkah/inilah-jumlah-penghasilan-awkarin/

Mundur lagi ke 2014, waktu seorang menteri perempuan yang diangkat jadi Menteri Kelautan dan Perikanan. Saat diinterview media, dia sedang jongkok di pinggir jalan sambil merokok. Waduh, para pemuja harkat dan martabat langsung ribut. “Menteri itu kan role model, ya gak pantes kelakuannya. Sorry ya, aku gak setuju dengan pemujaan seperti begini” YAGITULAH kurang lebih ekspresi yang muncul.

Waktu berlalu, netijen kembali lupa dengan kasus menteri perempuan merokok kemudian beralih ke meme tenggelamkan! Mei 2017, Ibu Susi Pudjiastuti mendapatkan penghargaan Peter Benchley Ocean Awards atas visi dan kebijakan pembangunan ekonomi dan konservasi laut di Indonesia. Melihat prestasinya, makin banyak yang kagum pada ibu menteri ini. Dan saat foto-fotonya muncul di media sosial, banyak yang berkomentar “manglingi”

Mereka adalah dua perempuan yang saat awal namanya naik di media sosial mendapat penghakiman. Dua-duanya karena kelakuannya yang dinilai “tidak pantas”. Menurut gue ini jahat sih. Udah banyak kejadian di mana korbat gak kuat dan kemudian mundur teratur. Yang lebih lucunya lagi, gue gak ngerti sih apa tujuan yang ngehujat. Mau Awkarin dilenyapkan gitu? Ibu Susi diturunkan gak jadi menteri? Atau sekedar menyampaikan hujatan biar dianggap lebih berkelas, bermartabat dan beriman dibanding mereka? Sampai sekarang masih misteri.

Karin dan Susi udah ngebuktiin kalo mereka berhasil melaju terus saat anjing menggonggong. Apa kabar yang dulu menggonggong?

Gue percaya masa depan negara kita ini, ditentukan oleh keragaman panutan saat ini. Gak kebayang apa jadinya kalo semua panutan setipe, serupa, seagama, sesuku dan sepemahaman. Yang namanya contoh kan emang harus ada dua: contoh yang baik dan contoh yang gak baik. Ngarep semua contoh harus baik? Setdah… khayal namanya.

Kalo emang dirasa ada contoh yang gak baik, ya kasih aja contoh yang baik sesuai versi masing-masing. Bukan menghakimi untuk kemudian mematikan. Ironi saat yang dewasa berharap yang muda untuk ngasih contoh yang baik, sementara yang dewasa ngasih contoh sebaliknya.

Buktinya, tuh banyak bener orang dewasa ngasih komentar di media sosial dengan kata-kata kasar. Kan semua bisa baca, termasuk anak-anak mereka sendiri. Bukannya ini bentuk perusakan yang terus menerus, konsisten dan terencana? Lalu kenapa juga berharap orang lain macam Awkarin dan Sri Pudjiastuti untuk memberi contoh teladan?

mojok.co

Harapan gue mah ke depannya kita barengan belajar untuk ngontrol diri sebelum ngontol. Gak semua yang lagi rame harus ikutan komen. Apalagi harus ikutan ngehujat. Selain belom tentu bener juga, gak semuanya perlu persetujuan dan restu dari kita.

Ya Tuhan, Jauhkanlah Aku dari Halu | Harapan 2018

Bekerja di bidang periklanan, urusannya cuma dua: jualan dan pencitraan. Keduanya menuntut kelihaian untuk menampilkan yang baiknya dan menyimpan yang tidak baiknya. Berbohong? Enggak juga sih. Cuma gak menampilkan keseluruhan fakta aja. Sama kayak kalo lagi pedekate, pastinya di awal hanya semua yang terbaik yang dikasih liat dong. Kemampuan 7 bahasa, dandanan terbaik, body ideal, otak encer, dan kalo bisa kekayaan. Kegemaran kentut dan garuk-garuk pantat pas abis bangun tidur, pasti dikontrol semaksimal mungkin gak diomongin saat kencan pertama.

Kalau ditanya apa pelajaran terpenting 2017, aku akan bilang banyaknya kejadian yang membuka cerita berbeda dengan yang terlihat. Terlihat dari mana? Media sosial pastinya. Yang terlihat kaya raya, ternyata berhutang ribuan orang. Yang terlihat mesra dan romantis, ternyata gak segitunya. Yang terlihat gagah perkasa, ternyata pemalu. Dan ah banyak lagi lah. Salah satu dampaknya jadi kesal sama diri sendiri. Kok bisa sih masih bisa kemakan dan ketipu sama tampilan? Kan aku kerja di dunia advertise ((( ADVERTISE ))).

Belakangan kita semakin sering denger cerita pebisnis jadi pembicara dan motivator bisnis yang ternyata bisnisnya sendiri sebenarnya menuju kebangkrutan. Atau motivator urusan relasi yang ternyata punya masalah relasi. Pemimpin agama kondang yang ternyata melakukan banyak kebejatan dibalik kesucian yang ditampilkan. Atau cerita remeh teman merasa ditaksir hanya karena intens bales-balesan di media sosial.

Di saat yang bersamaan, di¬†sekitar kita semakin banyak sarana “kecil-kecilan” untuk menyalurkan hasrat tampil lebih indah dari aslinya. Dekor Cafe yang instagrammable padahal makanannya sih B aja . Filter-filter yang bikin wajah jadi lebih kece. Aplikasi yang bikin body jadi sempurna. Juga semakin mudahnya buat beli followers dan like di Instagram. Di Rusia, bahkan ada pesawat jet yang bisa disewa untuk foto-foto lengkap dengan champagne dan fasilitas lainnya.

Di awal semua ini bermunculan, aku merasa “lucu-lucu” aja. Seru. Bahkan beberapa bikin pengen nyobain. Tapi belakangan malah mengkhawatirkan dan jadi takut sendiri. Semakin banyak yang kagum kemudian percaya dengan keindahan yang ditampilkan. Saat itulah masalah sebenarnya mulai muncul. Gimana kalo mereka tau semua yang mereka liat selama ini hanya tampilan? Hanya #pencitraan? ITU BELUM SEBERAPA, masalah sebenarnya, dan yang berpotensi merusak mental adalah kitanya menjadi halu. Kita percaya dengan kebohongan yang kita ciptakan sendiri.

Fake it till you make it, gitu katanya. Mungkin di beberapa kejadian benar bisa terjadi. Sama seperti cerita orang kaya dan sukses yang gak pernah sekolah. Kan gak bisa jadi pembenaran semua gak usah sekolah biar kaya dan sukses. Bagaimana kalo ternyata bagian “fake it” itu yang sebenarnya jadi penghalang untuk kita “make it”?

Contohnya, pake filter wajah biar jadi lebih kece buat menjerat jodoh. Eh malah jadi gak pede sama muka sendiri dan jadi minder ketemuan orang. Atau karena nampilin foto liburan padahal nyolong di Google, bikin jadi gak bisa keluar rumah takut kepergok jalan-jalan di mall. Segala cara “gak wajar” buat memperbaiki bentuk tubuh, malah bikin badan sakit. Selalu bilang sibuk di media sosial, malah bikin potensi tawaran kerjaan gak jadi dateng “abis udah sibuk banget sih”.

Jadi kalo ditanya apa resolusi 2018? Jauhkanlah aku dari halu. Halu mengira banyak pengagum dan teman hanya karena jumlah followers dan like. Halu merasa bisnis sukses dan berhasil hanya karena sudah diundang jadi pembicara dan diinterview media. Halu yakin benar sendiri karena postingan mendapat banyak repost dan likes. Halu kepedean banyak yang suka dan cinta hanya karena lope-lope di Instagram. Dan kehalu-haluan lainnya yang berpotensi bikin jalan di depan mata jadi gak jelas.

Halu bikin aku jadi semakin jauh dengan kenyataan sekitar. Merasa sudah sukses padahal masih banyak yang harus dikerjakan. Merasa paling benar padahal masih banyak yang harus dipelajari. Merasa terkenal padahal kalau gak tau gimana menyikapinya, bisa jadi boomerang yang mematikan.

Dari sejak Twitter ngetrend di negeri ini, aku berkeyakinan kalo orang kalo beneran sibuk itu gak bakalan sempet apdet status. Boro-boro apdet status, baca timeline aja belum tentu bisa. Yaelah, saat nulis tulisan begini aja, aku gak bisa nyambi liat timeline seenggaknya sejam dua jam. Gimana kalo kerja beneran yang cari duit kan? Apalagi kalo yang rajin apdet status itu pengurus tertinggi sebuah kota bahkan negara (OK Glenn, hentikan!). Kecuali yang cari uangnya via media sosial, aku melontarkan ketidak percayaan kepada mereka yang menyiarkan kesibukannya sambil tetap aktif di media sosial. Dibilang nyinyir, ya nyinyir deh sebodo amat. Yang pasti semakin ke sini semakin terbukti kan kebenarannya? *mulai halu ngerasa paling benar*

Sebagai tulisan penutup 2017, semoga kita, eh aku, semakin didekatkan hanya dengan kenyataan. Seburuk-buruknya kenyataan tetap lebih baik daripada kemayaan. Aku bertekad menyelesaikan satu per satu masalah-masalah yang selama ini terlupakan saking serunya bermedia sosial. Sebanyak-banyaknya teman di media sosial, tetap lebih bermakna teman di depan mata. Apalah artinya lope-lope di Instagram kalo lope beneran tak jua datang (curcol – red.). Banyak masalah bisa dibantu selesaikan dengan media sosial. Tapi lebih banyak masalah yang tak akan selesai hanya dengan postingan. Seindah apa pun.

Dan kalaupun aku sedang halu, ya Tuhan sadarkanlah bahwa aku sedang halu.

Saat Perubahan Tak Sesuai Harapan

Di awal nama Anies mulai sering disebut di Twitter, begitu banyak orang yang memujanya. Termasuk teman-teman terdekat saya. Mereka semua kagum dengan kepandaian Anies berbicara dan ide Indonesia Mengajar yang dielu-elukan sebagai terobosan yang mencerdaskan bangsa. “Dia itu orang baik” begitu kata teman saya yang baru selesai menyaksikannya berpidato “wah lo kalo dengerin pasti kagum lah!” lanjutnya.

Banyak pula yang ikut ke dalam gerakannya. Beragam hashtag tercipta untuk mendukung setiap gerakan yang diinisiasi oleh Anies. Tak ketinggalan, foto bersama Anies menjadi syarat mutlak selebtweet pada masa itu. Disela-sela puja dan puji itu terselip harapan agar suatu saat nanti Anies bisa menjadi pemimpin bangsa. Atau setidaknya ya… petinggi publik lah.

Demikian pula Sandi. Seluruh pelari pasti tau gerakan Berlari untuk Berbagi, sebuah gerakan berlari sambil mengumpulkan donasi untuk berbagai niat baik. Selain berwajah rupawan, dengan tubuh yang atletis, dan kemampuan bercakap yang mempesona, menjadikan Sandi idola banyak orang. Berlari sambil mengenakan kaos bertuliskan gerakan Sandi semacam menjadi kebanggan sendiri.

Tak terbilang pula teman-teman yang ikut dalam gerakan ini. Mereka begitu bangga mengupload foto bersama Sandi. Apalagi kalau acaranya adalah acara tertutup dan eksklusif di hotel berbintang seperti saat Sandi berpamitan untuk melepas segalanya dan masuk ke ranah politik. Tentu banyak yang berharap padanya dan bersiap-siap untuk memberikan dukungan sepenuhnya.

Di saat ini terjadi, mereka yang memilih untuk diam atau menolak untuk mendukung, akan “dikucilkan” dalam pergaulan. Tidak masuk dalam “the coolest gang” di timeline. Banyak perbincangan internal yang tak dipahami berseliweran di timeline Twitter yang pada saat itu belum seramai sekarang.Tak diikut sertakan dalam acara-acara bernuansa cinta tanah air dan bangsa. Pendapatnya tak didengar apalagi diberikan corong. Berbagai cap dan penghakiman pun terlontar dengan mudahnya. Apatis. Apolitis. Atau sesederhana “ah dia mah cuma mau cari duit doang”.

Belum sampai dua tahun, terasa baru kemarin semua pujian dan harapan ini runtuh menjadi hinaan dan cacian. Terbaca jelas dari kelas menengah di media sosial. Sekumpulan orang yang tadinya memuji dan mendukung sekarang menghina dan menjelek-jelekannya. Berbagai nama ejekan baru diberikan untuk Anies dan Sandi. Dan entah kenapa, seperti panggung mereka sering menampilkan yang tak pernah terduga akan mereka lakukan sebelumnya sebagai pemenang PILKADA DKI.

2017 hampir berlalu. Salah satu pelajaran terpenting yang bisa kita ambil dari banyak kejadian populer, mata semakin menjadi penipu ulung. Yang tampilannya bijaksana nan alim, ternyata pelaku pelecehan seksual kondang. Yang kelihatannya mewah dan terkenal, ternyata berhutang pada puluhan ribuan manusia. Yang fisiknya tampak menawan, ternyata menyimpan penyakit yang mengakhiri nyawanya. Yang di media sosial menampilkan keromantisan, ternyata selingkuhan. Yang selalu mengutarakan semangat santun beragama, kemudian terbukti koruptor kakap. Dan banyak kejadian lagi yang membuat kita berpikir, walau berulang kali diperingatkan, mengapa kita masih sering tertipu.

Betapa mudah kita mempercayai apa yang terlihat dan betapa malas kita mencari fakta dan kebenaran. Tragisnya, ini semua justru terjadi saat informasi seharusnya semakin mudah untuk dicari. Kita lebih memilih untuk membaca informasi yang ingin kita percayai saja. Menyebarkan berita yang judulnya sensasional padahal isinya beda sama sekali. Dan yang lebih parahnya, kita semakin mudah terpancing emosi hanya dengan membaca sebuah cuitan atau postingan. Tak jarang, kelakuan kita membawa kerugian besar pada kita sendiri.

Pendukung fanatik Anies dan Sandi sebelum Pilkada, kini berbalik memperolok pendukung fanatik Anies dan Sandi sesudah Pilkada. Padahal Anies dan Sandi tetaplah manusia-manusia biasa yang selalu berubah dan hanya memainkan peran yang dipilihnya. Perubahan sikap yang drastis ini tentu bisa mendapatkan pembenaran karena mereka berdua dianggap mengecewakan. Padahal udah berkali dibilang, kalo gak mau kecewa, jangan ngarep. Jadi sama-sama tidak konsisten dan konsekwen.

Kapan kita bisa menerima bahwa berpolitik sama seperti bekerja di bidang yang lainnya. Sama-sama tak mungkin mengambil keputusan yang membahagiakan semua pihak. Kalau karyawan mendapatkan KPI dari bosnya, maka politikus pun mendapatkannya dari penyokong dan pendana terbesarnya. Sama-sama soal kepentingan. Perbedaan terbesarnya tentu pada tanggung jawab. Satu pada perusahaan yang berisi ribuan hingga jutaan karyawan, satunya lagi pada negara yang berisi sebagian atau seluruh rakyat.

Kalau mau diambil pelajaran terpenting untuk ke depannya, terutamanya 2019, adalah mengurangi kefanatikan pada manusia. Anies dan Sandi adalah manusia juga. Dan berkali juga sudah diperingatkan, satu-satunya kepastian adalah perubahan. Anies dan Sandi berubah. Kita semua berubah. Anak kita berubah. Orang tua kita berubah. Pasangan kita berubah. Supir Gojek kita berubah. Selera kita berubah. Pemahaman kita berubah. Bahkan tak jarang, agama pun berubah. Lalu, masih adil kah kita berharap Anies dan Sandi tetap sama?

Kita sering berharap perubahan walau sayangnya, perubahan tak selamanya seperti keinginan.

Menyisakan satu pelajaran terpenting lagi, untuk tidak pernah tergila-gila memuja atau menghina sesama manusia. Pemuka agama panutan bisa berzinah. Pemimpin idola bisa korupsi. Bahkan orang tua pun bisa memperkosa dan membunuh anaknya sendiri. Jadi, jangan salahkan manusia yang berubah. Tapi salahkan diri sendiri yang berharap terlalu banyak. Dan membangun imajinasi atas seseorang berdasarkan asumsi hanya dari yang kelihatan. Sepertinya, manusia kekinian berhenti di mengetahui bahwa selalu ada banyak sisi di setiap hal tapi tak ingin menerimanya. Mengetahui bahwa perubahan adalah kemutlakan, tapi tak selalu siap untuk menghadapinya.

Tak selamanya mereka yang diam, berarti tak mendukung. Mereka yang memutuskan untuk nonton, tak bergerak di belakang layar. Dan sebaliknya, mereka yang di depan mata mendukung di belakang malah berkhianat. Mereka yang beraksi kencang ternyata sekedar ingin mengambil keuntungan pribadi. Kemampuan untuk membaca situasi dan menahan diri untuk berkomentar, sepertinya bisa menjadi latihan yang baik di zaman now. Bahkan kalau perlu masuk kurikulum sekolah dasar.

Buah Marlina

Orang-orang tua, terutamanya nenek, pernah bilang kalau ingin merebut hati lelaki dan mempertahankan hatinya untukmu, peganglah perutnya. Dari perut turun ke hati. Sehingga meneguhkan perempuan berada di dapur. Tentunya para feminis akan berteriak menentang. Tapi tunggu dulu. Di sisi lain, dapur memiliki daya magis dan kekuatannya sendiri. Aroma yang sering keluar dari dapur sebuah hunian, sering menjadi daya pikat yang dahsyat.

Seorang Tante berusia lanjut, saat anak-anaknya tak lagi tinggal serumah, memiliki resep Rawon yang luar biasa. Entah bagaimana cara dia memasaknya, yang pasti memang lebih enak bahkan dari kota asalnya, Surabaya. Tapi, jangan harap bisa mendapatkan resepnya. Bahkan mulai dari saat dia berbelanja bahan sampai memasak, semua hanya boleh dilakukannya sendiri. Mengapa? Inilah senjata rahasianya. Her secret weapon.

Senjata untuk apa? Untuk menjaga agar anak-anaknya kembali ke padanya. Agar anggota keluarga merindukannya. Supaya semua berkumpul karena merindukan Rawonnya. Dan di atas segalanya, membuat Tante selalu merasa dibutuhkan. Usia semakin senja, rasa dibutuhkan memberikan semangat hidup yang luar biasa. Melebihi nominal asuransi yang telah disiapkan, atau kebutuhan untuk jalan-jalan tanpa beban.

Dari dapur pula huru hara Marlina, Si Pembunuh dalam Empat Babak berawal, Dapur yang diasosiasikan sebagai kelembutan dan kasih sayang, berubah menjadi tempat rencana pembunuhan dimulai. Dengan ketenangan dan kelembutan yang ditampilkan, Marlina adalah perempuan tangguh karena bisa membunuh 5 laki-laki sekaligus. Hanya dengan sebuah buah beracun yang dicampur ke dalam sup ayam saat dimasak Marlina. Serunya lagi, sup ayam adalah pesanan laki-laki itu sebelum berniat memperkosanya. So guys, be careful what you wish for.

Buah Bintaro yang dipakai Marlina diambil dari laci meja rias di kamarnya. Berarti, Marlina memang mempersiapkannya untuk suatu waktu jika diperlukan untuk membunuh. Mengapa Marlina tidak menyimpannya saja di dapur. Lebih praktis kan. Mungkinkah Mouly ingin menempatkan buah beracun setara dengan alat rias yang juga bisa dianggap sebagai “senjata”?

Marlina adalah juga pembunuh berdarah dingin. Saat Marlina sedang diperkosa dan bersiap membunuh dengan memenggal kepala pemerkosanya, posisi Marlina sedang di atas mengendarai pemerkosa. Dalam bahasa visual, posisi ini memberikan kemerdekaan kepada perempuan untuk mengatur ritme seks. Di saat pemerkosa sedang kenikmatan itulah, Marlina mengeluarkan pedang dari belakang dan menebas kepala pemerkosanya hanya dalam sekali ayun. Kalau orang biasa mana bisa.

Bukti kalau Marlina sudah biasa melakukannya adalah saat Marlina membawa penggalan kepala manusia, Marlina tak berusaha menutupi atau kebingungan. Saat duduk di bis, perempuan biasa tak mampu duduk di sebelah Marlina karena bau yang menyengat. Sementara Marlina tetap duduk dengan tenang saja seperti sedang membawa ayam.

Satu lagi bukti Marlina sudah biasa membunuh, saat teman perempuan yang ditemuinya di jalan menyuruhnya untuk mengaku dosa, Marlina berkata dengan tegas kalau dia tidak merasa berdosa. Kalau pembunuhan yang dilakukannya ini adalah yang pertama kali, beragam perasaan akan berkecamuk dalam dirinya. Termasuk perasaan berdosa karena telah membunuh. Ingat, bukan satu tapi 5 laki-laki sekaligus dibunuhnya dengan sistematis dan terencana.

Satu bukti lagi, sesaat sesudah membunuh, Marlina tidak menghubungi teman atau saudara, tapi berusaha menghubungi kantor polisi. Yang artinya, jelas Marlina tidak merasa bersalah sedikit pun. Dan satu-satunya senyum yang merekah dari bibir Marlina adalah sesaat setelah membunuh. Lalu pertanyaannya, sepanjang hidupnya sudah berapa pembunuhan yang dilakukan Marlina? Siapa saja korban-korbannya?

Yang menjadikan film ini “ngeri-ngeri sedap” adalah sebagai penonton, kita dibawa untuk bersimpati pada Marlina. Usaha ini kayaknya berhasil kalau membaca komentar penonton di media sosial. Kecantikan dan gerak gerik anggun yang ditampilkan Marlina membius kita sehingga semua yang dilakukannya adalah benar. Bukankah ini yang sering terjadi dalam keseharian? Mata kita sering mengelabui. Padahal jelas-jelas di judulnya tertera peran Marlina, Si Pembunuh. Kok bisa kita bersimpati pada pembunuh berdarah dingin?

Wilayah perkosaan adalah wilayah sensitif. Banyak film yang mengangkat kasus perkosaan. Dalam kasus Marlina, si pelaku sebelumnya sudah memberitahukan niat untuk merampok dan memperkosanya. Tidak sekali pun Marlina menolak atau melawan. Tidak ada sedikit pun gerakan tubuh Marlina untuk kabur. Padahal ada pintu belakang rumahnya yang selalu terbuka. Marlina bisa saja kabur saat pemerkosa baru datang sendirian. Dan benar kata polisi, “kalau dia kurus dan tua, mengapa kamu tidak melawan?”

Di sebuah film soal perkosaan (judulnya lupa), yang menjadikan kasus begitu rumit karena korban perkosaan membukakan pintu rumahnya agar si pemerkosa masuk. Tidak ada tanda-tanda pintu rumah dipaksa buka. Yang diterjemahkan sebagai korban perkosaan mempersilakan pemerkosa masuk ke dalam wilayahnya. Dalam kasus Marlina, dia tak hanya membukakan pintu tapi memasakkan sup ayam untuk pemerkosa.


Inilah kehebatan sutradara, Mouly Surya. Dia bisa membawa cerita seolah-olah realita. Dan penonton yang terbiasa pada dunia dan film hitam putih, penjahat dan jagoan, benar dan salah, dibiarkan untuk berpihak kepada Marlina yang diceritakan sebagai jagoan. Sehingga langsung memberikan simpati padanya. Sebuah kebenaran baru yang ditawarkan film ini.

Campuran pemandangan Sumba, musik Lucky Luke koboi Western, tatami shot Yasujiro Ozu memberikan warna yang berbeda. Selain segar, Marlina seperti ingin mengajarkan untuk menyukai film tak perlu alasan. Sama seperti jatuh cinta. Terkadang, saat alasan itu dicari bisa jadi seperti tulisan ini. Mengada-ada.

 

Reaksi setelah Aksi

Pagi itu mata saya belum melek sepenuhnya. Ketika sebuah pesan WA masuk sambil menunjukkan foto potongan pengumuman di koran:

Ternyata tak hanya satu pesan. Tapi ada sekitar 11 pesan lain yang intinya mengkhawatirkan keamanan bisnis tote mangkok ayam Instagram MangkokAyamID. WOW banyak nomor yang asing dan beberapa orang yang tumben-tumbenan menyapa.

Karena saya belum bangun benar, tak langsung saya jawab. Setelah melakukan panggilan alam 1 dan 2, saya pun bikin kopi, masak sarapan, duduk dengan tenang. Sambil sarapan saya membaca pelan-pelan pengumuman itu. Tertera dengan jelas “… termasuk dalam barang kelas 21”, bagi yang pelaku bisnis yang pernah mencoba mendaftarkan karyanya, pasti pernah dijelaskan mengenai klasemen barang yang didaftarkan.

Kurang lebih begini, setiap kita mendaftarkan merek dagang, logo, dan lainnya, maka kita harus memilih kelas sesuai dengan bisnisnya. Setiap bisnis ada kelasnya masing-masing. Misal, merek LALALAND terdaftarkan di kelas 21 yang berisikan perabotan rumah tangga, pecah belah dan lainnya sesuai daftar yang ada di http://skm.dgip.go.id/index.php/skm/detailkelas/21, maka pemilik merek hanya berhak memilikinya di kelas itu saja. Lalu kalo ada orang lain memakai merek LALALAND tapi untuk barang-barang di kelas lain bagaimana? Ya boleh saja. KECUALI, saat mendaftarkan di awal, sekalian mendaftarkan ke semua kelas yang semuanya ada 45 seperti di daftar http://skm.dgip.go.id

Tak hanya di WA, Twitter, Instagram message semua mempertanyakan. “Apakah akun Instagram ini adalah bagian dari PT LIK?” atau “Wah gimana nih? Jadinya selama ini jual barang palsu dong?!” atau sekedar “Udah baca ini?” Tentunya satu persatu saya coba jawab dengan menjelaskan seperti yang saya pahami. Padahal mengenai hukum pastinya seperti apa, ya saya juga kurang paham.

Sebenarnya, kejadian seperti ini sudah saya antisipasi dari awal bisnis yang menggunakan gambar ayam jago ini saya mulai. Saya yakin ini sudah menjadi “public property” karena dilihat dari sejarahnya, gambar ayam jago di mangkok ini sudah dimulai dari Dynasti Ming.

Saking lamanya sepertinya belum ada yang benar tahu siapa pencipta dan pemegang hak cipta mangkok yang banyak dipakai di negara-negara Asia ini. Apa yang dimaksud dengan Public Property? Setelah kurun waktu tertentu, jika tidak ada yang mengklaim sebuah disain atau karya atau ciptaan, jika tidak ada yang menyatakan dan memperpanjang kepemilikannya, maka dia menjadi milik public yang bisa dipakai oleh siapa saja. Lah, ini dari 1368-1644, kita bisa tau dari mana?

OK, tapi namanya di negara ini semua suka mengklaim aja dulu. Seperti misalnya merek sebuah toko perabotan rumah tangga yang saat baru mau buka toko, kesulitan karena mereknya sudah keduluan didaftarkan oleh seseorang di sini. Entah bagaimana kelanjutannya, akhirnya toko itu bisa buka juga. Atau saat keributan Kopi Tiam, yang ternyata dimiliki oleh personal. Maka beramai-ramai semua warung kopi peranakan yang menggunakan merek ini harus menggantinya. Padahal… dari mana Kopi Tiam berasal? ūüėõ

Kami pun mencoba mencari tahu lebih dalam lagi. Sudahkah PT di pengumuman itu mendaftarkan disain ayam jagonya. Usut punya usut di internet, ternyata sudah. Kalau dibaca dari yang tertera di sertifikatnya, tertulis “seni lukis” kemudian karena memang keperluannya untuk mangkok, maka disainnya melengkung menyesuaikan cetakan. Dan ayamnya, sebagaimana lazimnya mangkok ayam, menghadap ke kiri.

Lalu bagaimana kalau lukisan itu sudah menjadi vector, lurus dan menghadap ke kanan? Menurut teman pengacara yang membantu saya dari awal mengurusi ini, “seharusnya aman“. “Lagian, gimana caranya mau ngecek mangkok ayam di seluruh nusantara yang sudah dipakai semua tukang bakso?” lanjut teman saya lagi.¬†Ini pun sebenarnya menjadi pertanyaan saya.

Tak lama kemudian, teman bisnis saya mengirimkan pengumuman di koran itu versi selengkapnya:

Setelah membaca ini, kami pun mengangguk-angguk. Semua jadi jelas. Pengumuman ini dalam bahasa sehari-harinya mau bilang “hey kamu dan kamu yang nama-namanya di sebelah kiri, kamu gak boleh bikin dan jualan mangkok yang ada gambar ayam jagonya ya. Soalnya itu hak cipta dan mereknya udah gue punya nih. Sekalian deh nih gue umumin, semua yang bikin barang-barang di kelas 21, kalo gue udah punya hak untuk produksi, pakai dan dagang motif ayam jago ini.”

Kalau diperhatikan, ada tiga kali kelas 21 disebutkan di iklan pengumuman tersebut. Yang kami anggap sebagai “yakalo di barang-barang di kelas lain mah, terserah lah”. Asumsi? Jelas. Tapi saya sudah mengimel dan berusaha menghubungi dengan berbagai cara tapi belum mendapatkan tanggapan sampai sekarang. Dan sampai detik ini pun, belum ada yang menghubungi saya karena menjual tas dan sarung bantal menggunakan motif ayam jago. Bukan mencari masalah, tapi mencari kejelasan. Atau lebih baik lagi, kalau bisa bekerja sama. Prinsip saya, zaman sulit begini mah bangun jembatan aja sebisa mungkin.

Dan, kebetulan di saat yang bersamaan, disain baru sudah dipersiapkan sebelum pengumuman ini:

Diinspirasikan oleh Ayam Jogo tapi menggunakan Tangram sebagai ekspresinya:

Ya kalo beneran gak boleh jualan pake motif itu, yaudah minta maaf aja terus saya bikin-bikin  desain lain. Rezeki itu dari Tuhan.

Sekarang ini sudah lewat. Sudah tak ada lagi yang membicarakannya. Semua berjalan seperti semula. Life goes on. Tapi ada satu yang membekas. Saat “masalah” ini terjadi, saya dan dua teman lagi yang juga berjualan motif serupa merasakan hal yang sama. Banyak yang peduli. Tapi lebih banyak yang terkesan seru melihat ada masalah ini terjadi. “Nah lo nah looo, kena masalah deeeeh”. Kami agak bingung sebenarnya apa salah kami.

Dan saya pribadi khawatir karena banyak rekan-rekan yang berkecimpung di bidang kreatif baru tau soal kelas hak cipta. Kok bisa?

Kenyataannya, sebelum kasus ini terjadi ada banyak kasus di mana kami menemukan pedagang lain menggunakan motif yang sama pleketiplek. Ya namanya orang dagang di Instagram. Sepertinya semua pedagang di Instagram pasti pernah kena, saat disain atau idenya dicontek. Tote mangkok ayam, saya yang memulai 4 tahun yang lalu. Mulainya dijual dengan harga 99.000 di belowcepek.com Untungnya tak seberapa. Awal mulanya untuk mengumpulkan donasi sekolah anak jalanan dekat sini.

Apa yang kami lakukan saat disain yang sama persis dipakai? Liat-liat sikon dulu lah. Kalau perorangan atau mahasiswa, kami diamkan. Tapi kalau perusahaan atau penyablonan, ya kami peringatkan. Yang kami khawatirkan cuma kalau ada pembeli yang mengira semuanya produk kami. Sesekali kami update di Instagram perihal di mana saja barang asli kami dijual. Itu saja. Toh seperti keyakinan kami, ini adalah public property.

Saat ini, IG medusa.yourock memutuskan tak lagi menjual kaos mangkok ayamnya. Mau ganti disain baru. Sementara IG mangkokayamID melanjutkan menjual tote, tas selempang dan sarung bantal. Seperti di awal berjualan, sampai sekarang kuantitasnya terbatas. Selain di Instagram, saya juga menitip jual di Uma Seminyak – Bali, semua cabang Aksara Jakarta, dan JKT Creative di Senayan City.

Setelah kejadian ini, saya menjadi paham mengenai sulitnya untuk mengklarifikasi berita tak benar atau setengah-setengah yang tersebar di media sosial. Dalam kasus saya, literally setengah halaman pengumuman. Padahal kasus saya ini kecil. Itu pun sudah mendapatkan pertanyaan-pertanyaan menyelidik bahkan dari orang-orang yang tak saya kenal. Setelah dijawab dengan detail, saya bingung juga kok tak ada balasan apa-apa. Palingan “owh gitu…” Yaaah mengecewakan ah. ¬†Beli kek hehehehe.

Bagaimana dengan kasus-kasus lain yang jauh lebh besar dan yang ramai dibicarakan di media sosial. Bagaimana kalo beritanya ternyata setengah-setengah atau bahkan tak benar sama sekalo. Malu kaaan, udah kentjeng salah pulak. Sudah sejak lama, setiap ada kejadian saya menahan diri untuk bereaksi. Diemin aja dulu. Sampai ada penjelasan resmi dari pihak yang menurut saya bisa dipercaya.

Saat kejadian ini terjadi pun, saya mengusahakan tak bereaksi apa-apa di media sosial. Ini kan urusan “dalam”. Di saat bersamaan saya senyum-senyum sendiri membayangkan beberapa persona yang saya kenal, pasti akan berkoar kencang di media sosial. Kalau perlu bikin press-con di Facebook :p. Dalam hati saya saat itu, bisnis saya mah kecil banget. Udah pake mikroskop pun gak keliatan.

Buat yang berkecimpung di dunia desain, pasti paham. Ada banyaaaaaaaaak sekali tiruan dan contekan yang terjadi di negara ini. Tak perlu jauh-jauh lah ke negara lain. Malu-maluin aja. Sesama pedagang IG Indonesia pun saling contek. Dan lebih seringnya, yang besar mencontek yang kecil atau perorangan. Ada yang diselesaikan baik-baik, tapi lebih banyaknya selesai gantung.

Contoh yang lumayan tragis dan magis…. Di sebuah acara kreativitas besar di jantung ibu kota, diresmikan oleh petinggi negara dan dihadiri oleh banyak pelaku kreatif. Sedang berlangsung seminar di tengah acara membahas soal hak cipta. Lumayan ramai pesertanya. Saya berjalan di sekitarannya yang dipenuhi oleh booth-booth milik anak-anak muda. Salah satu, eh, salah banyak booths menjual barang-barang menggunakan motif Pokemon dengan bebasnya.

Bersama tulisan ini, saya mau minta maaf ke berbagai media yang mencoba menghubungi saya saat kejadian ini lagi hot-hotnya. Saya bukan tidak mau menjawab. Atau sok cool diem “no comment” a la Desy Ratnasari gitu. Tapi ada dua hal: pertama saya merasa pengumuman ini tidak ada hubungannya dengan bisnis kecil saya. Kedua, saya yakin ada berita dan kejadian lain yang lebih berguna buat disiarkan.

Sekalian kalau ada yang salah dari pemahaman saya soal hak cipta, merek dagang dan lain-lain, sampaikan di kolom komentar. Saya bukannya tak mau cari tau, tapi setiap berusaha cari tau selalu ada yang saya baru tau.

Seolah Nirupaya adalah Upaya Terbesar Zaman Now

Apa yang menjadikan gue merasa tertarik sama kondisi ekonomi negara ini? Adalah suatu malam menyaksikan interview Sri Mulyani yang pada saat itu menteri keuangan. Mengapa jadi tertarik? Karena Ibu Sri menyampaikan permasalahan dan solusi yang sedang dilakukannya, terdengar mudah dipahami. Seolah effortless atau nirupaya menurut Ivan Lanin.

Apa yang menjadikan gue suka sekali nonton vlog Awkarin yang mendapat hujatan? Besar kemungkinan tanpa disadarinya, Awkarin memberi kesan bahwa membuat vlog itu mudah. Seolah nirupaya. Bahkan di banyak bagian bikin gue pengen mencoba bikin vlog. Walau sudah tau yang namanya bikin vlog bukan perkara mudah.

Mengapa Kim Yuna, sampai sekarang masih dianggap sebagai skater terbaik dunia? Lihatlah bagaimana dia melompat dan menari di atas es. Semua disajikan seolah mudah. Nirupaya. Tanpa beban dan tanpa usaha untuk menunjukkan bahwa dia jagoan. Menjadikan sebuah tontonan yang enak ditonton.

Mengapa Chika Noya menjadi pilihan gue kalau ingin bertanya soal feminis dan pergerakan. Atau Vivi Yip urusan seni. Janti Wignjopranoto dan Avi Mahaningtyas untuk urusan resep makanan dan diet. Mr. X untuk urusan politik negeri. Semua bisa menjelaskan dengan caranya sehingga mudah dicerna dan mereka menjelaskan seolah nirupaya.

Sebaliknya kita sering menemui orang-orang yang menyampaikan segala hal dengan bahasa dan cara yang rumit dipahami. Dengan bahasa yang belibet dan berat atau istilah yang membuat kita harus membuka kamus. Ada dua kemungkinan; pertama karena ingin dianggap lebih tau, lebih pintar dan lebih tinggi derajatnya. Atau memang tidak memiliki bakat untuk menjangkau. Tak mampu menjelaskan.

Menyajikan berbagai hal terutamanya yang sebenarnya berat menjadi seolah tanpa upaya, sepertinya menjadi koentji utama untuk kids zaman now.

Coba lihat bagaimana kita kesulitan mengajak anak muda untuk tertarik dengan masakan tradisional seperti rendang misalnya. Kemungkinan besar karena rendang selalu disiarkan sebagai makanan dengan proses yang panjang dengan bumbu yang sulit didapat.

Atau bagaimana upaya membuat kids zaman now mencintai batik dan kain nusantara lainnya? Yang lebih sering diangkat adalah proses panjang dan filosofi yang terkandung di dalamnya. Tentu ini membutuhkan upaya yang besar dan terus menerus. Sementara, kita sedang hidup di zaman perhatian pendek.

Ketika lembaga sosial ingin memasyarakatkan sebuah isu. Jarang yang berhasil mengkomunikasikannya dengan mudah dicerna. Contohnya ya soal reklamasi. Gue sama sekali tak yakin apakah benar semua orang yang pro atau anti reklamasi, paham betul arti reklamasi. Padahal tanpa pemahaman itu, sepertinya sulit membuat kampanye bernafas panjang.

Kecenderungan yang lebih sering terjadi adalah menyajikan segala hal dengan cara “menggampangkan”. Kiat cepat sukses. Cara cepat kaya. Menangkan hatinya dalam seminggu. Dapatkan perut sixpack dalam 3 hari. Atau seminar-seminar berjudul menulis itu mudah. Bikin film itu gampang. OK, memang ini adalah cara untuk menggaet peserta dan pembeli.

Dalam kenyataannya, semua orang yang sudah bergelut lama di sebuah bidang akan lebih paham bahwa yang mudah itu cuma kelihatannya mudah. Ada upaya dan pengorbanan besar dibalik semua yang terlihat mudah. Belum lagi kalau kita bicara bakat, walau ada yang bilang kerja keras mengalahkan bakat saat bakat tak bekerja keras.

Lalu bagaimana cara menyajikan semua terlihat nirupaya sehingga mudah diterima oleh kids zaman now? Ini adalah kerja keras tak berkesudahan. Pembelajaran yang terus menerus. Dan kerendahan hati untuk menyampaikan seolah berbicara untuk anak kecil. “Ah masa gitu aja gak tau?” adalah sebuah pertanyaan keji yang mematikan.

Hampir semua pertanyaan soal bagaimana berkomunikasi #kekinian bisa dijawab dengan: jadikan seolah nirupaya. Mudah dipahami dan dicerna karena relevan. Dan ini jelas bukan upaya mudah karena harus tetap disampaikan dengan benar dan tidak terjerumus jadi menggampangkan.

Almarhumah Yasmin Ahmad pernah berkata, saat beliau sedang tak punya waktu untuk menulis biasanya tulisannya akan menjadi panjang. Sementara saat punya waktu, tulisannya akan menjadi pendek. Loh? Ya karena untuk menjadikan sebuah tulisan yang ringkas dan mudah dipahami apalagi relevan, perlu waktu lebih lama untuk berpikir dan upaya yang lebih besar.

“Kita ingin membuat semua tampak sulit dan rumit dengan harapan untuk dihargai. Sementara mereka membuat semua tampak mudah dan relevan dengan harapan untuk disukai dulu” saat dua film tentang makanan tayang bersama di bioskop.

Baru-baru ini harian nasional menulis headline (gue tak sempat membaca isinya) “Anak Milenial Tak Suka Politik”. Dalam hati gue berkata, jangankan milenial, gue aja gak doyan! Ya iyalah, siapa yang doyan kalau politik selalu dicitrakan sebagai yang rumit dan berbahaya. Hati-hati karena menyangkut kelangsungan hidup orang banyak. Selalu dikaitkan dengan dosa dan pahala. Baru mau mulai aja keburu takut.

Lihatlah bagaimana Ibu dengan susah payah telah mengandung dan membesarkan kita, telah dijejali dari kecil. Responsnya jadi; membalas budi. Bandingkan dengan; Ibu dengan gembira dan sepenuh hati mengandung dan membesarkanmu. Responsnya jadi; membalas hati.

Menghargai batik bukan karena prosesnya yang panjang dan filosofi yang dalam. Mencintai batik karena batik itu keren. Batik itu cool. Cocok untuk segala aktivitas #kekinian dan bikin banyak lope-lope di media sosial. Batik itu relevan. Nanti kalau sudah diterima, dengan sendirinya akan cari tau lebih banyak.

Masak itu tak perlu alat aneh, tak perlu paham segala dan tak perlu lama. Kamu bisa mulai masak dengan apa yang ada di sekitar. Dengan memasak kamu jadi orang yang lebih menarik sehingga banyak yang naksir. Memasak itu relevan. Nanti kalau sudah merasakan faedah memasak, dengan sendirinya akan cari tau lebih banyak.

Seni itu seru. Seni itu bisa jadi bagian dari hidupmu. Seni bisa bikin kamu jadi lebih menarik. Seni milik semua. Seni ada di mana-mana. Seni itu relevan. Nanti kalau sudah menemukan keseruannya, dengan sendirinya akan cari tau lebih banyak.

Yang kita bisa lakukan adalah memberikan rangsangan. Caranya dengan menyajikan semua seolah nirupaya.

Ketika Awet Tak Lagi Relevan

Sepasang sepatu Doc Mart menarik perhatian saya. Selain mengingatkan saya pada masa SMA, saat semua orang berburu sepatu model boot dengan sol tebal anti kepleset ini. Mendapatkannya di Jakarta saat itu bukan perkara mudah. Tapi sekarang toko sepatu khusus sepatu era skinhead ini sudah hadir di mall. Sepertinya lumayan banyak peminatnya walau bisa dibilang harganya lumayan.

“DocMart gue waktu SMA sampe sekarang masih ada loh, lagi dipake anak gue” kata teman saya. “Wah udah 30 tahunan dong” sahut saya. Kemudian pikiran saya melayang. Di usia yang lewat 40 tahun ini, apakah sepatu dengan janji awet dan tahan lama masih relevan? Sepatu ini akan bertahan sampai saya berumur 70-80 tahun. Di usia segitu, mungkin saya tak kuat lagi berjalan jauh apalagi mengenakan DocMart yang bisa dibilang berat.

Pikiran saya melayang mundur ketika masih kecil. Ibu saya sering menjiplak kaki saya di atas kertas kalau mau titip beli sepatu dengan pesan “beli satu dua ukuran lebih besar biar bisa dipakai lebih lama”. Jadilah saya mengenakan sepatu yang lebih besar seperti donald bebek.

Setelah ukuran kaki saya kayaknya tidak akan bertambah besar lagi, sepatu diusahakan terbuat dari kulit karena dinilai lebih awet. Seriring bertambahnya kebutuhan, ada sepatu buat jalan, kerja, dan olahraga. Pertimbangan tahan lama menjadi yang utama. Supaya gak usah beli-beli terus.

Nyatanya? Tidak juga. Sepatu kulit satu belum rusak sudah mau beli sepatu kulit yang lain. Punya yang warna hitam, tapi perlu yang cokelat juga. Setelah yang cokelat, ternyata disainnya sudah ketinggalan zaman jadi perlu disain baru lagi. Istilah “beli desain yang klasik” sepertinya kurang ampuh. Atau ada saja keperluan mendadak untuk membeli sepatu kulit lagi. Atau ada diskon yang sayang kalau dilewatkan.

Semakin bertambah usia, ternyata saya lebih cocok mengenakan sepatu model slip-on atau bertali sehingga kaki saya terasa lebih longgar. Saya merasa kurang cocok kalo kaki harus tertutup seharian. Dan kesenangan untuk berjalan kaki membuat saya mencari sepatu yang lebih ke nyaman ketimbang gaya.

Sepatu DocMart tak jadi saya beli. Balik rumah, saya membongkar lemari sepatu saya. Jumlahnya ada sekitar belasan. Lumayan. Berbagai jenis sepatu sudah saya miliki. Ada yang tak lagi layak pakai, tapi masih saya simpan karena saya suka modelnya. Ada pula yang salah beli, setelah dibeli dan dipakai ternyata tak nyaman. Atau sepatu-sepatu acara khusus yang memang jarang dipakai. Ada pula sepatu-sepatu pemberian orang. Dan ujung-ujungnya sebenarnya saya mengenakan sepatu yang itu-itu juga.

Lama saya menatap sepatu-sepatu itu dengan sebuah pertanyaan, apakah kata “awet” untuk pakaian dan sepatu masih ada gunanya untuk saya? Buat apa baju tahan lama, toh sebentar-sebentar ada saja alasan membeli yang baru. Jam tangan? Ujung-ujungnya saya hanya memakai satu saja. Yang lain, keburu habis battery dan saya enggan untuk ganti battery. Tas? Well, ada 3-4 jenis tas yang saya pakai dan sudah cukup untuk memenuhi berbagai kebutuhan saya. Ikat pinggang? Segunung ikat pinggang masih rapi di lemari karena sangat amat jarang saya pakai. Jeans? Percaya atau tidak, celana yang ada masanya menjadi celana setiap hari, sudah 3-5 tahun belakangan ini saya rasakan tak lagi relevan untuk dipakai di negara tropis.

Ada banyak barang-barang awet di lemari yang sebenarnya bisa dibilang seandainya saya menyadari ini dari dulu, saya tak akan beli dengan harga lebih tinggi. Untuk apa awet kalau jarang dipakai. Untuk apa awet kalau tak lagi sesuai zaman. Untuk apa awet kalau tak lagi relevan. Untuk apa panjang umur kalau tak hidup.

Mencari Waktu, Uang dan Perhatian

Adalah 3 hal yang kita minta dari orang saat hendak mempromosikan apa pun. Tak hanya barang dan jasa, tapi apa pun. Semua memperebutkan ketiga hal ini. Karenanya, yang namanya waktu menjadi semakin mahal, uang semakin sulit didapat dan perhatian semakin kecil. Waktu terutamanya di usia produktif, menjadi barang langka. Uang, di tengah persaingan yang semakin menggila jadi semakin sulit masuk kantong sendiri. Kalau pun sempat masuk kantong, keluarnya terasa lebih cepat. Perhatian? Sepertinya hanya orang yang memasuki usia senja yang bisa memberikan perhatian lebih.

Saat semua Nabi sedang menyebarkan ajarannya, apa yang diminta dari umatnya? Waktu dan perhatian. Saat pelacur menjajakan tubuhnya, apa yang diminta dari kliennya? Uang dan perhatian. Saat seorang penulis menjual bukunya, apa yang diminta dari calon pembelinya? Waktu, Uang dan Perhatian. Saat mengajak orang berpartisipasi dalam gerakan sosial, apa yang diminta dari publik? Waktu, perhatian dan mungkin uang. Jelas, semakin banyak yang kita minta dari orang lain, maka semakin berat pekerjaannya.

Lima tahun belakangan, saya hampir tidak pernah lagi mendapat pekerjaan eksekusi. Lebih banyak berupa memberikan masukan, nasehat yang sejujurnya membuat saya jadi lebih cepat tua. Tak lagi menguras energi, tapi lebih banyak menguras pikiran. Makanya saya senang berdagang untuk mencari tambahan karena selain pikiran, berdagang juga menuntut energi sehingga saya bisa tetap aktif bergerak. OK, cukup soal pribadi.

Dari sekian banyaknya klien dan kasus yang saya tangani, saya menemukan satu hal yang menjadi kunci permasalahan terbesar dalam berpromosi: membuat orang melihat seperti yang kita lihat dan memahami seperti yang kita pahami. Kualitas produk, sebaik apa pun bisa menjadi sia-sia saat orang tak bisa memahami maksud yang disampaikan. Seburuk apa pun produk, tapi kalau bisa dipahami maka akan bisa diterima untuk kemudian laku. Kaching!

Sebuah contoh sederhana, seorang teman yang hendak mempromosikan gerakan makan sehat di instagramnya berkata “duh, susah banget sih orang untuk ngelike foto gue? Padahal kan konten gue jauh lebih bagus dari yang itu. Cuma karena fotonya yang itu lebih bagus aja”. Mungkin di situ kuncinya, foto bagus. “Aduh foto bagus kan cuma packaging, ini kan soal konten dooong”.

Yang dia lupa, dia sedang berbicara di Instagram tempat kontes visual berlangsung. Kalau tantangan pertama berupa gambar bagus tak ingin dilaluinya, bagaimana bisa membuat orang melihat apalagi mencoba memahami seperti yang diinginkannya.

Seorang teman lagi yang sedang berusaha memasyaratkan bersepeda sebagai moda transportasi kota. Dia berpendapat, bersepeda selain menyehatkan juga banyak faedah lain bagi kota. Cool! Sayangnya, cara pertama yang dipilih untuk mempromosikannya adalah dengan merendahkan yang tidak naik sepeda. Saat melintasi kemacetan dia berujar di media sosialnya “tuh liat, lebih cepet naik sepeda kaaan… ngapain ngotot naik mobil mahal-mahal”. Dari sini saja jelas sudah mengundang penolakan. Dia lupa untuk terlebih dahulu mencari tahu mengapa orang masih rela naik mobil dan ikhlas di kemacetan.  Penolakan ini membuat semakin sulit untuk orang lain menerima apa yang dia tawarkan.

Atau saat orang sedang mempromosikan cara berolah raga yang baru, kemudian kesal karena mendapat penolakan disebabkan tubuhnya yang dinilai tidak ideal oleh “calon pembeli”. Well, sulit memang untuk mengajarkan bahwa bentuk tubuh tak berbanding lurus dengan kesehatan. Dari zamannya Jane Fonda, Berty Tilarso sampai Ade Rai semua pentolan olahraga memiliki tubuh yang ideal. Jadi kalau tubuh masih tak ideal, pastinya orang akan berkata “ok mungkin yang kamu sampaikan benar, tapi kok tubuhmu sendiri yagitudeh?”

Tak hanya menjual barang, mengumpulkan tanda tangan untuk perlindungan orang utan. Mengajak orang berdonasi. Mengundang untuk berpartisipasi. Semuanya perlu melakukan tugas yang pertama dan terberat: membuat orang melihat seperti yang kita lihat dan memahami seperti yang kita pahami. Bahkan seniman yang tadinya dinilai “ini idealismeku, laku sukur enggak udah” pun semakin ke sini semakin menyadari pentingnya partisipasi publik. Untuk semakin memudahkan orang memahami karyanya, banyak yang memilih dengan menjual merchandise menggunakan disain karyanya.

INI adalah contoh-contoh kecil di sekitar kita. Di level korporasi tentu lebih sulit. Saya pernah menulis tentang pentingnya sebuah gagasan. Mengapa? Ya karena saat masalah-masalah ini terjadi langkah pertama adalah pulang kepada gagasan awalnya. Tulisan ini dikerdilkan Roy Sayur, pemilik Linimasa.com yang merasa bahwa di negara ini gagasan tidaklah penting lah. Cukup menggunakan selebriti saja sudah dipastikan laku. Dan linimasa.com adalah gudangnya gagasan.

Roy tidak sepenuhnya salah. Kegagalan Roy hanyalah melihat dari sudut pandang yang berbeda. Tulisan yang ditulis oleh pedagang dipahami Roy yang berprofesi sebagai astronot. Karena semua orang yang sudah pernah berdagang paham, bahwa penggunaan selebriti hanyalah salah satu aspek berpromosi. Selebriti adalah selebriti, di mata Roy. Di mata pedagang dan marketing, selebriti adalah pemberi nafas gagasan. Yang Roy belum diinformasikan, begitu banyak penggunaan selebriti yang gagal mengangkat sales bahkan di kampanye internasional sekali pun.

Saat sedang menulis ini, teman saya sedang makan Macaroni Ngehe dengan nikmatnya. Penasaran, saya googling untuk kemudian mengemukan omzet bulanan yang aduhai. Tak perlu cepat kagum atau sinis, tapi mari kita pelajari apa penyebab kesuksesannya? Sederhana sekali. Semua yang di bisnis makanan paham tiga rasa yang menjamin lakunya sebuah makanan di kota ini: gurih, garing, dan pedas. Macaroni Ngehe gurih? Iya. Garing? Iya. Pedas? Iya. Tak perlu penjelasan panjang lebar.

Masalah akan muncul karena rumus ini pastinya bukan hanya diketahui satu orang. Lalu bagaimana saat semua orang menjajakan makanan yang gurih, garing dan pedas? Lagi-lagi balik ke gagasan. Dan usaha-usaha terus menerus untuk membuat orang melihat seperti yang kita lihat. Memahami seperti yang kita pahami. Ini bukanlah usaha yang mudah terutamanya untuk yang bermental “tak butuh orang lain tapi orang lain yang membutuhkan saya”.

Seorang Planner andalan pernah bertanya di forum “kalau yang kita minta dari konsumen adalah waktu, uang dan perhatian mengapa sebagian besar promosi ditujukan untuk yang muda? Yang muda, tak punya waktu, tak punya uang (walau konsumtif) dan tak punya perhatian. Sementara yang tua, (seharusnya) punya waktu, uang dan perhatian.”

Bersama kami pun mencoba mencari tau lebih banyak mengenai ini. Hasilnya lumayan mengejutkan. Ternyata banyak sekali barang dan jasa yang diberikan untuk kaum lanjut usia dan nilainya luar biasa tingginya. Mulai dari layanan kesehatan, panti jompo eksklusif, perawatan tubuh, pelesir keliling dunia sampai barang-barang fashion.

Seorang teman yang bekerja di butik fashion kelas dunia berujar “yang pake itu bener yang muda-muda tapi duitnya tuh dari yang tua booo…. kalo gak ortunya ya kakek neneknya. Banyak tau anak-anak muda ke sini bareng kakek neneknya minta dibeliin dompet sepatu gitu…”. Bertambah lagi pemahaman kami. Komunikasinya ditujukan untuk yang muda tapi daya belinya dari yang tua. “Mudanya itu sekitaran umur berapa?” / “Yaaah belasan sampai tiga puluh empat puluhan gitu lah….” jawabnya.

Pertanyaan berikutnya, bagaimana membuat orang untuk melihat seperti yang kita lihat. Memahami seperti yang kita pahami. Kunci pertama tentunya adalah mencoba melihat dan memahami seperti yang mereka lihat dan pahami saat ini. Membangun jembatan komunikasi terus menerus adalah pilihan satu-satunya. Karena saat komunikasi itu terputus, maka besar kemungkinan keputusan yang diambil berdasarkan penglihatan dan pemahaman pribadi.