Maling Siah!

Sekitar 2007, Malaysia menggunakan lagu Rasa Sayange untuk mempromosikan pariwisatanya. Secara tidak langsung bilang ini adalah lagu asli Malaysia. Maka berkobarlah api di jagat Twitter yang membela lagu Rasa Sayange berasal dari Indonesia, Maluku tepatnya. Saat itu pula kata Malingsia naik (lagi) ke permukaan.

Tidak, kali ini gue gak mau nulis soal mana yang benar dan salah. Tapi apa yang gue dan teman-teman lakukan diam-diam di balik layar. Gang gue ini adalah sekumpulan manusia yang kerjanya setiap hari bikin-bikin. Ada yang bikin musik, bikin baju, bikin tarian dan sebagainya. Gue sendiri sebagai bikin iklan. Yang kami lakukan sebenarnya sederhana: ngopi. Iya kami ngopi sambil membahas soal klaim mengklaim dan contek mencontek.

Selama kurang lebih 3 jam kami berbincang kesal karena sebenarnya maling di dalam negeri, maling sesama orang Indonesia itu tak terbilang banyaknya. Dan bahkan lebih terang-terangan. Ibaratnya, kalo maling dari luar bisa dibilang kita lalai melindungi rumah kita sendiri. Tapi kalo maling di dalam rumah kan nyesek abis gaeees.

Yang membela diri dengan bilang ini bangsa besar dengan rakyatnya yang sangat menghargai karya, silakan pergi ke Tanah Abang. Di sana akan kita termukan berbagai karya jiplakan. Ada yang menjiplak brand luar negeri dan dalam negeri. Belum lagi cerita tukang bikin musik Indonesia yang sering konser ke negeri jiran, soal bagaimana dia merasa lebih dihargai saat tampil di sana ketimbang di dalam negeri. Singkat kata, kami sepakat mau bilang udahlah wahai netijen yang mulia, gak usah berisik mending beresin kelakuan sendiri dulu.

Setelah Rabbit Town di Bandung yang dituduh menjiplak karya seni instalasi Yayoi Kusama, baru-baru ini juga ada Miranti Minggar yang karya lukisnya menggunakan foto karya Lilian Liu. Miranti sudah minta maaf secara terbuka. Kata “diinspirasikan oleh” sering dipakai sebagai tameng. Seniman Eko Nugroho melaui akun Twitternya bilang

Melalui akun Twitternya itu juga Eko menyampaikan soal pentingnya berkarya dengan jujur dari dalam hati dan mencerdaskan. Cerita soal banyaknya karya jiplakan produksi dalam negeri pun disampaikan sebagai bagian dari rangkaian cuitannya. Dan kalau kita mau jujur, saking nekadnya kita menjiplak, sudah sampai di titik mengerikan.

Ada yang bilang, China maju karena menjiplak. Mungkin ada benarnya. Beragam desain dan teknologi keluaran China sering dituduh sebagai menjiplak dengan sedikit penambahan, kemudian dijual. Produsen tas-tas bermerk dunia, banyak di China. Gandrasta Bangko seperti biasa punya pandangannya sendiri. “Lebih terhormat nyontek terang-terangan bikin KW gitu ketimbang yang pake merek lain kayak Zara gitu-gitu sih” kata Bangko suatu ketika. Setidaknya, yang beli sadar kalau dia sedang membeli karya jiplakan. Sementara kalau sudah menggunakan merek lain, nipunya jadi dua kali.

MangkokAyamID sendiri, selama ini tak pernah merasa terganggu dengan isu jiplak menjiplak ini. Walau kadang gue menemukan artwork keluaran gue telah digunakan oleh banyak pedagang lain. Alasannya sederhana, lah wong Mangkok Ayam sendiri aslinya dari China kok. Istilahnya sudah jadi public property. Jadi ya sudah, mari mengeruk rezeki bersama.

Selain motif mangkok ayam, sebenarnya belakangan MangkokAyamID sudah mulai mengeluarkan motif-motif baru dan mangkok ayam sendiri mengecil ukurannya bahkan sekecil label. Ada Piring Kembang, Saling Silang, Tambal Sulam dan terakhir Tumpang Tindih. Ini dilakukan karena dua alasan: motif mangkok ayam sendiri lama-lama bisa jenuh. Kedua, gue merasa motif mangkok ayam hanya bagus dan stylish kalau di posisi dan ukuran yang tepat. Gue pernah melihat di IG story ada yang mengenakan jilbab dengan motif mangkok ayam berulang. Di selera gue, agak kurang. Atau bisa dibilang, bukan jenis barang dan desain yang ingin gue pake dan jual.

Kabar burung bilang, pernah menemukan desain keluaran MangkokAyamID di Tanah Abang dan akun IG lain. Keluar masuk kuping, gak gue pusingin karena sejujurnya gue merasa brand ini masih terlalu kecil untuk dicontek. Sampai suatu ketika keluar dari toilet Plaza Senayan seorang perempuan masuk ke toilet seberang. Sepintas tampak dia mengenakan jilbab yang mirip dengan desain selendang Piring Kembang. Tadinya gue bermaksud untuk meninggalkan, tapi gak jadi. Tungguin ah. Penasaran. Dan ketika perempuan itu keluar, gue pun minta izin untuk foto-foto. Dia cerita kalau selendang itu adalah kado sehingga dia gak tau beli di mana.

Ini adalah desain selendang Piring Kembang yang dibikin untuk menyambut Lebaran 2017

Modelnya adalah the and only Mbak Pargi

Dan ini adalah desain “KW” yang gue temukan sendiri dipakai orang di tempat umum:

Dan eh kebetulan, dari hasil pencarian ketemu pedagang di Instagramnya:

Secara mengejutkan, saat terpampang nyata di depan mata, ada perasaan bangga yang luar biasa. Selain karena berarti desain ini “dianggap memiliki nilai ekonomis” oleh PASAR, gue juga merasa sudah menjadi bagian mensejahterahkan pedagang. OK I KNOW… beberapa teman bilang ya harusnya gak gitu juga. Tapi gue cuma bisa jujur sama perasaan sendiri. Marah? Jauh lah. Sama sekali enggak. Bahkan tujuan menuliskannya di sini adalah sebagai kenang-kenangan. “This is one of the most important highlight in my career as a graphic designer” kata gue ke teman yang mungkin akan dikecam oleh banyak profesional.

LOOK, di era internet seperti sekarang, gampang banget mau nyontek. Apakah gue terbebas dari mencontek? Ya gak juga. Besar kemungkinan gue pun pernah mencontek. Ingat, MangkokAyamID adalah toko yang menjual produk siap pakai. Desain MangkokAyamID adalah desain untuk berdagang bukan berekspresi.

Bagaimana kalau nanti semakin besar dan semakin banyak yang mencontek? Ya kalau mau berpikir takut dicontek gue akan jadi pedagang paranoid yang ujung-ujungnya gak bisa menghasilkan apa-apa untuk dijual. Selain ada solusi lain, gue akan terus meyakini, selamanya akan ada pelanggan yang memilih untuk memakai produk asli. Semoga ajalah.

Tujuan besar tulisan ini pun adalah ajakan untuk tidak selalu mencibir kelakuan pencontek. Karena bisa jadi, kita pun sudah jadi konsumennya. Siapa coba yang udah pake Zara yang mencontek Gucci dan berbagai label internasional habis-habisan? Banyak kan. Atau punya barang KW di lemari pakaiannya? Handphone KW? Jadi ya kita sudah pernah sama-sama menikmati hasil contekan, tak pantas untuk ikut mencibir pemaling. Paling siap-siap aja kalo kita dimaling juga, gabole mara-mara :p


Eh eh eh… inget koleksi Tumpang Tindih yang pake orang-orangan sawah?

Eh… hari ini ada yang posting pake orang-orangan sawah jugaaa

Aduh gaeees, aku dicontek nih sama BALENCIAGA, gaeees…

Kalau ingin lebih jauh memahami soal bagaimana industri pakaian cepat saji suka mencontek karya desainer silakan tonton video ini:

 

Advertisements

One thought on “Maling Siah!

  1. Kalau Ko Glenn termasuk yang setuju sama kata-kata Pak Arbain Rambey yang begini, “kalau ga mau fotomu dicuri, jangan diposting di internet.”
    Terus kalau ternyata si penjiplak sukses dan jadi lebih kaya dari Ko Glenn, apa ga nyesel, tuh?
    Aku pernah pas jalan di Jogja liat mbak-mbak pakai kerudung motifnya piring kembang. miriiiip banget sama desain Ko Glenn. Tapi bahan dan warnanya lain. Kapan-kapan kalau liat lagi aku fotoin deh. Hehe.

Leave a Reply