Ya Tuhan, Jauhkanlah Aku dari Halu | Harapan 2018

Bekerja di bidang periklanan, urusannya cuma dua: jualan dan pencitraan. Keduanya menuntut kelihaian untuk menampilkan yang baiknya dan menyimpan yang tidak baiknya. Berbohong? Enggak juga sih. Cuma gak menampilkan keseluruhan fakta aja. Sama kayak kalo lagi pedekate, pastinya di awal hanya semua yang terbaik yang dikasih liat dong. Kemampuan 7 bahasa, dandanan terbaik, body ideal, otak encer, dan kalo bisa kekayaan. Kegemaran kentut dan garuk-garuk pantat pas abis bangun tidur, pasti dikontrol semaksimal mungkin gak diomongin saat kencan pertama.

Kalau ditanya apa pelajaran terpenting 2017, aku akan bilang banyaknya kejadian yang membuka cerita berbeda dengan yang terlihat. Terlihat dari mana? Media sosial pastinya. Yang terlihat kaya raya, ternyata berhutang ribuan orang. Yang terlihat mesra dan romantis, ternyata gak segitunya. Yang terlihat gagah perkasa, ternyata pemalu. Dan ah banyak lagi lah. Salah satu dampaknya jadi kesal sama diri sendiri. Kok bisa sih masih bisa kemakan dan ketipu sama tampilan? Kan aku kerja di dunia advertise ((( ADVERTISE ))).

Belakangan kita semakin sering denger cerita pebisnis jadi pembicara dan motivator bisnis yang ternyata bisnisnya sendiri sebenarnya menuju kebangkrutan. Atau motivator urusan relasi yang ternyata punya masalah relasi. Pemimpin agama kondang yang ternyata melakukan banyak kebejatan dibalik kesucian yang ditampilkan. Atau cerita remeh teman merasa ditaksir hanya karena intens bales-balesan di media sosial.

Di saat yang bersamaan, di sekitar kita semakin banyak sarana “kecil-kecilan” untuk menyalurkan hasrat tampil lebih indah dari aslinya. Dekor Cafe yang instagrammable padahal makanannya sih B aja . Filter-filter yang bikin wajah jadi lebih kece. Aplikasi yang bikin body jadi sempurna. Juga semakin mudahnya buat beli followers dan like di Instagram. Di Rusia, bahkan ada pesawat jet yang bisa disewa untuk foto-foto lengkap dengan champagne dan fasilitas lainnya.

Di awal semua ini bermunculan, aku merasa “lucu-lucu” aja. Seru. Bahkan beberapa bikin pengen nyobain. Tapi belakangan malah mengkhawatirkan dan jadi takut sendiri. Semakin banyak yang kagum kemudian percaya dengan keindahan yang ditampilkan. Saat itulah masalah sebenarnya mulai muncul. Gimana kalo mereka tau semua yang mereka liat selama ini hanya tampilan? Hanya #pencitraan? ITU BELUM SEBERAPA, masalah sebenarnya, dan yang berpotensi merusak mental adalah kitanya menjadi halu. Kita percaya dengan kebohongan yang kita ciptakan sendiri.

Fake it till you make it, gitu katanya. Mungkin di beberapa kejadian benar bisa terjadi. Sama seperti cerita orang kaya dan sukses yang gak pernah sekolah. Kan gak bisa jadi pembenaran semua gak usah sekolah biar kaya dan sukses. Bagaimana kalo ternyata bagian “fake it” itu yang sebenarnya jadi penghalang untuk kita “make it”?

Contohnya, pake filter wajah biar jadi lebih kece buat menjerat jodoh. Eh malah jadi gak pede sama muka sendiri dan jadi minder ketemuan orang. Atau karena nampilin foto liburan padahal nyolong di Google, bikin jadi gak bisa keluar rumah takut kepergok jalan-jalan di mall. Segala cara “gak wajar” buat memperbaiki bentuk tubuh, malah bikin badan sakit. Selalu bilang sibuk di media sosial, malah bikin potensi tawaran kerjaan gak jadi dateng “abis udah sibuk banget sih”.

Jadi kalo ditanya apa resolusi 2018? Jauhkanlah aku dari halu. Halu mengira banyak pengagum dan teman hanya karena jumlah followers dan like. Halu merasa bisnis sukses dan berhasil hanya karena sudah diundang jadi pembicara dan diinterview media. Halu yakin benar sendiri karena postingan mendapat banyak repost dan likes. Halu kepedean banyak yang suka dan cinta hanya karena lope-lope di Instagram. Dan kehalu-haluan lainnya yang berpotensi bikin jalan di depan mata jadi gak jelas.

Halu bikin aku jadi semakin jauh dengan kenyataan sekitar. Merasa sudah sukses padahal masih banyak yang harus dikerjakan. Merasa paling benar padahal masih banyak yang harus dipelajari. Merasa terkenal padahal kalau gak tau gimana menyikapinya, bisa jadi boomerang yang mematikan.

Dari sejak Twitter ngetrend di negeri ini, aku berkeyakinan kalo orang kalo beneran sibuk itu gak bakalan sempet apdet status. Boro-boro apdet status, baca timeline aja belum tentu bisa. Yaelah, saat nulis tulisan begini aja, aku gak bisa nyambi liat timeline seenggaknya sejam dua jam. Gimana kalo kerja beneran yang cari duit kan? Apalagi kalo yang rajin apdet status itu pengurus tertinggi sebuah kota bahkan negara (OK Glenn, hentikan!). Kecuali yang cari uangnya via media sosial, aku melontarkan ketidak percayaan kepada mereka yang menyiarkan kesibukannya sambil tetap aktif di media sosial. Dibilang nyinyir, ya nyinyir deh sebodo amat. Yang pasti semakin ke sini semakin terbukti kan kebenarannya? *mulai halu ngerasa paling benar*

Sebagai tulisan penutup 2017, semoga kita, eh aku, semakin didekatkan hanya dengan kenyataan. Seburuk-buruknya kenyataan tetap lebih baik daripada kemayaan. Aku bertekad menyelesaikan satu per satu masalah-masalah yang selama ini terlupakan saking serunya bermedia sosial. Sebanyak-banyaknya teman di media sosial, tetap lebih bermakna teman di depan mata. Apalah artinya lope-lope di Instagram kalo lope beneran tak jua datang (curcol – red.). Banyak masalah bisa dibantu selesaikan dengan media sosial. Tapi lebih banyak masalah yang tak akan selesai hanya dengan postingan. Seindah apa pun.

Dan kalaupun aku sedang halu, ya Tuhan sadarkanlah bahwa aku sedang halu.

Advertisements

3 thoughts on “Ya Tuhan, Jauhkanlah Aku dari Halu | Harapan 2018

Leave a Reply