Apa Kabar Karin & Susi?

“Cantik banget sekarang” kurang lebih gitu tweet seseorang di Twitter. Setelah penampilannya di sebuah fashion week,  banyak yang gak percaya sama tampilan barunya Awkarin. Gak cuma makin ketje, akun Instagram dan Youtubenya pun makin idup dan rame. Banyak brand yang mengajaknya bekerja sama. Tadinya brand-brand rumahan dan belakangan semakin meningkat bahkan hotel bintang lima satu berlian pun sepertinya pernah.

“Akunnya kayak Tokopedia” kata salah seorang penggagas linimasa.com. Ya siapa yang gak mau. Konon sekarang Awkarin udah punya tarif sendiri buat di IG story, IG post, dan Youtube. Harganya pun gak bisa dibilang murah. Seorang brand manager sempat gak jadi memakai jasa Awkarin karena harganya yang mahal. “Gue pake temennya aja deh yang lebih murah”. Kalo pengen tau kurang lebih penghasilan Awkarin seperti apa, baca aja laporan mojok.co ini.

July 2016, gue sempat menulis mengenai Awkarin di linimasa.com. Kalo statistik masih bisa dibuka mungkin akan gue skrinkep untuk ngebuktiin kalo tulisan itu masih jadi tulisan yang paling banyak pembacanya sepanjang sejarah linimasa.com. Gosah sedih, pas saat itu banyak yang ngehujat tulisan ini juga. Buat mereka, Awkarin itu sampah. Berujung pada Awkarin yang harus berkunjung ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Kementerian Komunikasi dan Informasi. Dan seperti biasa namanya juga keributan netijen, setelah ada berita yang lebih seru, Awkarin mulai terlupakan.

“Lo yakin nulis gituan? Or are you just trying to be funny?” begitu salah satu pesan teman yang gak setuju sama tulisan gue. “Kalo anak gue kayak dia mah dah gue botakin!” tambahnya lagi. Gak semua penulis linimasa.com pun setuju sama tulisan itu. Gak masalah sih. Gue nulis bukan buat cari pendukung. Gue nulis itu karena gue sampai sekarang pun yakin Awkarin memang berbakat. Dia punya mata dan selera yang bagus. Dia bisa ngedit video jadi menghibur. Dan dia tau cara bikin konten. Lagi-lagi gue bilang, ini gak gampang. Itu aja pointnya. Dan sepertinya sekarang udah terbukti kan? Mon maap sebelomnya ni, kalo diliat dari statistik di socialblade.com sih, akun Awkarin kayaknya belum pernah tuh beli followers. Yang beli followers dan like? Banyak lah… bahkan yang dari luarannya tampak sopan, berbudaya, beriman, berwawasan internasional, berilmu, beradab…

https://mojok.co/redaksi-mojok/rame/nafkah/inilah-jumlah-penghasilan-awkarin/

Mundur lagi ke 2014, waktu seorang menteri perempuan yang diangkat jadi Menteri Kelautan dan Perikanan. Saat diinterview media, dia sedang jongkok di pinggir jalan sambil merokok. Waduh, para pemuja harkat dan martabat langsung ribut. “Menteri itu kan role model, ya gak pantes kelakuannya. Sorry ya, aku gak setuju dengan pemujaan seperti begini” YAGITULAH kurang lebih ekspresi yang muncul.

Waktu berlalu, netijen kembali lupa dengan kasus menteri perempuan merokok kemudian beralih ke meme tenggelamkan! Mei 2017, Ibu Susi Pudjiastuti mendapatkan penghargaan Peter Benchley Ocean Awards atas visi dan kebijakan pembangunan ekonomi dan konservasi laut di Indonesia. Melihat prestasinya, makin banyak yang kagum pada ibu menteri ini. Dan saat foto-fotonya muncul di media sosial, banyak yang berkomentar “manglingi”

Mereka adalah dua perempuan yang saat awal namanya naik di media sosial mendapat penghakiman. Dua-duanya karena kelakuannya yang dinilai “tidak pantas”. Menurut gue ini jahat sih. Udah banyak kejadian di mana korbat gak kuat dan kemudian mundur teratur. Yang lebih lucunya lagi, gue gak ngerti sih apa tujuan yang ngehujat. Mau Awkarin dilenyapkan gitu? Ibu Susi diturunkan gak jadi menteri? Atau sekedar menyampaikan hujatan biar dianggap lebih berkelas, bermartabat dan beriman dibanding mereka? Sampai sekarang masih misteri.

Karin dan Susi udah ngebuktiin kalo mereka berhasil melaju terus saat anjing menggonggong. Apa kabar yang dulu menggonggong?

Gue percaya masa depan negara kita ini, ditentukan oleh keragaman panutan saat ini. Gak kebayang apa jadinya kalo semua panutan setipe, serupa, seagama, sesuku dan sepemahaman. Yang namanya contoh kan emang harus ada dua: contoh yang baik dan contoh yang gak baik. Ngarep semua contoh harus baik? Setdah… khayal namanya.

Kalo emang dirasa ada contoh yang gak baik, ya kasih aja contoh yang baik sesuai versi masing-masing. Bukan menghakimi untuk kemudian mematikan. Ironi saat yang dewasa berharap yang muda untuk ngasih contoh yang baik, sementara yang dewasa ngasih contoh sebaliknya.

Buktinya, tuh banyak bener orang dewasa ngasih komentar di media sosial dengan kata-kata kasar. Kan semua bisa baca, termasuk anak-anak mereka sendiri. Bukannya ini bentuk perusakan yang terus menerus, konsisten dan terencana? Lalu kenapa juga berharap orang lain macam Awkarin dan Sri Pudjiastuti untuk memberi contoh teladan?

mojok.co

Harapan gue mah ke depannya kita barengan belajar untuk ngontrol diri sebelum ngontol. Gak semua yang lagi rame harus ikutan komen. Apalagi harus ikutan ngehujat. Selain belom tentu bener juga, gak semuanya perlu persetujuan dan restu dari kita.

Advertisements

Leave a Reply