Influencer Jaman Now

Dengan penghasilan minimal 5-10 juta per bulan, siapa sih yang gak pengen jadi influencer atau KOL di media sosial. Modal utamanya, kemampuan menghasilkan “konten”. Bisa berupa foto, video, tulisan ditambah kemampuan bercerita dan fisik sedikit saja di atas rata-rata. Makanya modal tambahan macam camera mirorless, backdrop, ring flash semakin banyak peminatnya. Tentunya di saat yang bersamaan, persaingan pun semakin sengit.

Apalagi blogger. Travel, fashion, beauty, selain kemampuan merekam dan mengedit yang mumpuni, juga menulis. Gak berhenti di situ, keunikan sudut pandang pun jadi kelebihan tersendiri. Hotel ya hotel, baju ya baju, lipstik ya lipstik, tapi bagaimana menceritakannya biar jadi menarik dengan sudut pandang yang berbeda. Shasha, seorang travel blogger pernah menuliskan pengalamannya pelesir bersama travel blogger dari luar negeri.

Perlahan, aktivitas ini semakin menjadi profesi. Pekerjaan yang dikerjakan secara profesional. Nah, kalo udah jadi profesional tentu ada risiko di dalam paketnya. Ketika seseorang memutuskan untuk menjadi profesional, maka dirinya sudah menjadi merek/brand. Di saat itulah, diperlukan kepiawaian untuk menjaga “brand”nya. Coba saja lihat bagaimana brand-brand mapan berperilaku di media sosial. Semua point akan digunakan untuk membangun citranya supaya semakin disukai lebih banyak orang. Bukan sebaliknya. Di sini banyak influencer yang lupa. Mau ambil bagian enaknya saja.

Karena merasa dirinya di atas angin, masih bersikap seenaknya. Bahkan lebih buruknya lagi, membongkar aib dari brand atau persona lain. Mulai dari urusan tagihan sampai membandingkan brand yang memperkerjakannya dengan yang lain. Ini repot. Repot karena tanpa disadari, banyak pintu kerjasama yang ditutup sendiri. Kemungkinan karena tabungan lagi penuh-penuhnya, bikin merasa tak perlu lagi membuka jalan baru. Tak perlu orang lain tapi orang lain yang memerlukan dirinya.

Banyak pemilik brand yang mengeluhkan kelakuan para influencer. Konten yang dihasilkannya baik, laporan statistiknya pun baik, tapi sayangnya di luar itu, gak mencerminkan brand yang telah membayarnya. Belum lagi kelakuan yang berharap mendapatkan perlakuan seperti bintang besar. Beberapa pebisnis pernah pula bercerita soal blogger yang meminta gratisan dengan dalih mengajak kerjasama, diiringi ancaman review buruk yang akan ditulis di blognya.

Sayangnya lagi, banyak pula yang tak mau memaparkan laporan statistik jumlah pembaca blognya. Semua dianggap cukup dengan citranya saja sebagai blogger kondang. Padahal bagi pebisnis, setiap rupiah yang dikeluarkan untuk berpromosi, harus bisa dipertanggung jawabkan. Berapa views, reach, engagement dan metriks lain yang seharusnya dengan mudah bisa ditemukan untuk dilaporkan.

Trend penggunaan influencer yang bermula sekitar 5 tahun lalu ini, memang semakin berkembang. Berkembang ke arah mana? Ada banyak laporan dan analisa di internet. Beberapa diantaranya sepertinya bisa jadi panduan baik bagi influencer ataupun pengiklan.

  1. Penggunaan Beragam Influencer

Saat ini, jumlah followers saja tak bisa jadi ukuran. Perlu reach. Jangkauan. Menjangkau yang di luar jumlah followers. Dengan algoritma di Instagram dan Facebook, dilaporkan hanya sekitar 10% persen dari followers yang melihat sebuah postingan. Jadi, kuantitas bisa jadi lebih baik dari kualitas. Ketimbang membayar seorang mega influencer saja, ada baiknya mempertimbangkan untuk menggunakan beragam “kasta” influencer. Jangan lupa ada sistem boosting yang bisa mempromosikan postingan yang baik dari seseorang yang mungkin jumlah followersnya masih rata-rata. Akan tetap menghasilkan reach yang banyak.

  1. Sesuai dengan Produk

Jangan langsung terkesima melihat jumlah followers dan berkilaunya konten yang dihasilkan. Pertimbangkan juga kesesuaiannya dengan brand dan arah kampanye. Di sini pertimbangan karakter influencer menjadi faktor penting juga. Kalo memang tidak sesuai, jangan dipaksakan. Tak jarang kampanye yang gagal mencapai target karena pertimbangannya hanya fisik dari influencernya. Tak salah, tapi tak maksimal.

  1. Hashtag Can Be Overrated

Penggunaan hashtag diperlukan untuk orang mencari sebuah topik. Pertimbangannya, seberapa banyak orang mencari sesuatu berdasarkan hastag. Saat ini, hashtag diperlukan untuk mencari jejak di media sosial. Misalnya mengadakan kompetisi di media sosial. Untuk memastikan sebuah postingan memang ditujukan untuk mengikuti kompetisi itu, maka dicari melalui hashtag. Masih banyak lagi kepentingan hashtag yang sebenarnya lebih untuk keperluan pengiklan saja bukan konsumen.

  1. Nurturing Influencer

Semakin banyak influencer baru yang berdatangan. Kemampuan untuk menemukan mana influencer mini yang akan berkembang menjadi mega. Terlebihnya untuk membangun brand dalam jangka panjang. Pencitraan brand akan ikut berkembang seiring pertambahan jumlah followersnya. Apalagi kalau influencer itu kemudian berkembang menjadi seorang public figure. Menjaga relasi dengan mereka bisa memberikan manfaat buat kedua pihak. Tanpa disadari, influencer itu sudah menjadi brand ambassador.

  1. Edukasi Tak Semalam

Menjadi influencer sebuah brand memerlukan edukasi yang terus menerus. Semakin banyak pengetahuan yang diketahui influencer biasanya isi postingan mengenai brand itu akan semakin berisi dan spontan. Karena urusan edukasi ini tak bisa terjadi dalam semalam, jadinya perlu konsistensi. Bukan saja pengetahuan tapi juga pemahaman akan riwayat dan rencana ke depan brand. Banyak brand yang sudah melakukan ini, dan bisa dibilang berhasil. Ini juga memudahkan saat berkampanye ke depan, tak lagi repot mencari dan dealing dengan influencer baru.

  1. Up to Date

Sejak adanya IG story, netijen banyak yang mulai meninggalkan postingan di feed. Laporan terkini bilang, Twitter sudah ditinggalkan. Youtube menjadi rising star. Dan ini terus menerus berfluktuasi. Belum lagi berkembangnya media sosial baru. Macam Yogrt yang berkembang di kalangan grass root millennials. Atau BBM yang rupanya masih menjadi medium bagi banyak Ibu-Ibu. LINE yang terus menawarkan layanan baru. Silakan pilih mana yang paling sesuai, bukan semata mana yang lagi ngetrend. Seru kan!


Semakin banyak anak-anak muda yang kalo ditanya cita-citanya ingin menjadi Vlogger. Ingin menjadi Celebgram. Semua cita-cita yang baik adalah mulia. Tapi ada baiknya tak hanya dibutakan untuk mendapatkan uang cepat. Ingat, BANYAK yang memiliki cita-cita serupa. Selain menemukan diri sendiri, bekali juga dengan kemampuan teknis yang mengiringinya. Belajar fotografi, belajar video, ngedit, dandan, fashion, menulis, banyak lagi yang pastinya akan selamanya berguna walau nantinya ganti cita-cita 🙂


NB: Penggunaan foto2 dagangan sendiri di tulisan ini mohon dianggap sebagai bukti penulis juga pengguna jasa influencer :)))

Advertisements

5 thoughts on “Influencer Jaman Now

Leave a Reply