HiPPO

Sudah satu jam Wahyu dan kawan-kawan sekerjanya berdiskusi di ruang meeting. Saat itu ada 6 orang dari sektor yang berbeda-beda dari toko online mereka yang sedang saling bertukar pendapat. Wahyu dari sektor layanan pelanggan duduk di bagian tengah; persis berdampingan dengan Lina dari bagian pengembangan aplikasi dan Dito dari desain dan produksi. Mereka sedang menimbang sebuah masukkan dari sekitar 800-an pelanggan mereka yang minta Sofa set yang ditawarkan punya opsi untuk ruangan yang relatif kecil. Minimal bisa pilih setengan set-lah.

Dito menyambut positif saran ini dan memastikan kalau Sofa yang dimaksud juga bisa menghasilkan margin lebih banyak dengan menjualnya satuan ketimbang per set. Bahkan, Dito pun menyarankan variasi bahan dan corak untuk memikat lebih banyak pembeli. Lina mencerna semua perubahan itu dan bersiap dengan kerangka waktu yang ia ajukan hingga aplikasi mereka siap.

Proses selanjutnya tentu saja harus diikuti dengan rangkaian hitungan finansial dan rasionalisasi target dari perubahan yang diminta pelanggan tadi. Itulah sebabnya, banyak pihak ikut hadir dalam diskusi. Termasuk Bapak CEO yang terhormat, Ardi, yang baru saja masuk ruangan karena terlambat. Ia segera menyapa semua yang ada dalam ruangan dan menanyakan sampai mana diskusinya.

Belum juga Wahyu selesai menjelaskan, Ardi segera memotong dan memutuskan: “waduh repot lah. Udah, kita tetep jual Sofa seperti biasa dan lebih baik fokus ke Meja Kerja yang penjualannya low banget. Kita akan buat promo Meja Kerja mulai minggu depan. Coba hubungi bank-bank yang bisa memberikan cicilan 0%…

Seketika diskusi selama 1 jam 15 menit terbuang percuma hanya karena beberapa patah kalimat yang keluar ndak lebih dari 15 detik. Ndak ada yang bisa melawan keputusan Ardi. Analisa Dito dan kawan-kawannya juga ndak lagi diperlukan. Lebih tragis, perusahaan baru saja mengabaikan 800-an suara pelanggan yang ndak ternilai harganya. Ini yang disebut Highest Paid Person’s Opinion (HiPPO) atau Pendapat Seorang Dengan Gaji Tertinggi (Pesangigi?).

HiPPO. Sumber: Google.

Entah berapa banyak waktu meeting di bumi ini yang terbuang sia-sia karena HiPPO. Di beberapa perusahaan, semua keputusan adalah HiPPO. Pegawai lain cuma orang yang menerima perintah tanpa tahu alasannya. Atau, mereka sudah ndak peduli lagi. Yakinlah, HiPPO bahkan dianggap lumrah dan menjadi bagian etika bekerja di banyak perusahaan sekarang ini. Jangankan keputusan perusahaan. Meeting sederhana saja banyaknya hanya jadi bahan pembenaran HiPPO. Jadwal meeting manajerial mingguan sebaiknya diganti jadi “Jadwal Minggunan Mendengarkan Keputusan Pak Direktur.

Lalu, berapa besar kemungkinannya HiPPO benar? Hasil studi the Rotterdam School of Management menyimpulkan ndak lebih dari 5.2% keputusan tersebut benar dan mencapai target. Artinya, 94.8% HiPPO sok tau! Studi ini juga menjawab kecurigaan kalau kekuasaan dan jabatan membuat orang sewenang-wenang. Studi yang sama menyebutkan bahwa suatu proyek yang dipimpin oleh manajer junior lebih sering sukses ketimbang proyek yang dipimpin langsung oleh pegawai yang lebih senior, karena sang junior leluasa mengutarakan kritik dan mempertanyakan langkah-langkah perusahaan melalui pertimbangan yang jauh lebih matang daripada sekedar intuisi pak bos.

HiPPO adalah penyakit yang melumpuhkan perusahaan. HiPPO juga obat bius yang menjadikan pegawai malas berfikir, apalagi mengambil risiko. HiPPO menomorduakan data dan fakta. Menyangkal kebutuhan yang paling mendasar dari perdagangan: pelanggan.

Advertisements

Maling Siah!

Sekitar 2007, Malaysia menggunakan lagu Rasa Sayange untuk mempromosikan pariwisatanya. Secara tidak langsung bilang ini adalah lagu asli Malaysia. Maka berkobarlah api di jagat Twitter yang membela lagu Rasa Sayange berasal dari Indonesia, Maluku tepatnya. Saat itu pula kata Malingsia naik (lagi) ke permukaan.

Tidak, kali ini gue gak mau nulis soal mana yang benar dan salah. Tapi apa yang gue dan teman-teman lakukan diam-diam di balik layar. Gang gue ini adalah sekumpulan manusia yang kerjanya setiap hari bikin-bikin. Ada yang bikin musik, bikin baju, bikin tarian dan sebagainya. Gue sendiri sebagai bikin iklan. Yang kami lakukan sebenarnya sederhana: ngopi. Iya kami ngopi sambil membahas soal klaim mengklaim dan contek mencontek.

Selama kurang lebih 3 jam kami berbincang kesal karena sebenarnya maling di dalam negeri, maling sesama orang Indonesia itu tak terbilang banyaknya. Dan bahkan lebih terang-terangan. Ibaratnya, kalo maling dari luar bisa dibilang kita lalai melindungi rumah kita sendiri. Tapi kalo maling di dalam rumah kan nyesek abis gaeees.

Yang membela diri dengan bilang ini bangsa besar dengan rakyatnya yang sangat menghargai karya, silakan pergi ke Tanah Abang. Di sana akan kita termukan berbagai karya jiplakan. Ada yang menjiplak brand luar negeri dan dalam negeri. Belum lagi cerita tukang bikin musik Indonesia yang sering konser ke negeri jiran, soal bagaimana dia merasa lebih dihargai saat tampil di sana ketimbang di dalam negeri. Singkat kata, kami sepakat mau bilang udahlah wahai netijen yang mulia, gak usah berisik mending beresin kelakuan sendiri dulu.

Setelah Rabbit Town di Bandung yang dituduh menjiplak karya seni instalasi Yayoi Kusama, baru-baru ini juga ada Miranti Minggar yang karya lukisnya menggunakan foto karya Lilian Liu. Miranti sudah minta maaf secara terbuka. Kata “diinspirasikan oleh” sering dipakai sebagai tameng. Seniman Eko Nugroho melaui akun Twitternya bilang

Melalui akun Twitternya itu juga Eko menyampaikan soal pentingnya berkarya dengan jujur dari dalam hati dan mencerdaskan. Cerita soal banyaknya karya jiplakan produksi dalam negeri pun disampaikan sebagai bagian dari rangkaian cuitannya. Dan kalau kita mau jujur, saking nekadnya kita menjiplak, sudah sampai di titik mengerikan.

Ada yang bilang, China maju karena menjiplak. Mungkin ada benarnya. Beragam desain dan teknologi keluaran China sering dituduh sebagai menjiplak dengan sedikit penambahan, kemudian dijual. Produsen tas-tas bermerk dunia, banyak di China. Gandrasta Bangko seperti biasa punya pandangannya sendiri. “Lebih terhormat nyontek terang-terangan bikin KW gitu ketimbang yang pake merek lain kayak Zara gitu-gitu sih” kata Bangko suatu ketika. Setidaknya, yang beli sadar kalau dia sedang membeli karya jiplakan. Sementara kalau sudah menggunakan merek lain, nipunya jadi dua kali.

MangkokAyamID sendiri, selama ini tak pernah merasa terganggu dengan isu jiplak menjiplak ini. Walau kadang gue menemukan artwork keluaran gue telah digunakan oleh banyak pedagang lain. Alasannya sederhana, lah wong Mangkok Ayam sendiri aslinya dari China kok. Istilahnya sudah jadi public property. Jadi ya sudah, mari mengeruk rezeki bersama.

Selain motif mangkok ayam, sebenarnya belakangan MangkokAyamID sudah mulai mengeluarkan motif-motif baru dan mangkok ayam sendiri mengecil ukurannya bahkan sekecil label. Ada Piring Kembang, Saling Silang, Tambal Sulam dan terakhir Tumpang Tindih. Ini dilakukan karena dua alasan: motif mangkok ayam sendiri lama-lama bisa jenuh. Kedua, gue merasa motif mangkok ayam hanya bagus dan stylish kalau di posisi dan ukuran yang tepat. Gue pernah melihat di IG story ada yang mengenakan jilbab dengan motif mangkok ayam berulang. Di selera gue, agak kurang. Atau bisa dibilang, bukan jenis barang dan desain yang ingin gue pake dan jual.

Kabar burung bilang, pernah menemukan desain keluaran MangkokAyamID di Tanah Abang dan akun IG lain. Keluar masuk kuping, gak gue pusingin karena sejujurnya gue merasa brand ini masih terlalu kecil untuk dicontek. Sampai suatu ketika keluar dari toilet Plaza Senayan seorang perempuan masuk ke toilet seberang. Sepintas tampak dia mengenakan jilbab yang mirip dengan desain selendang Piring Kembang. Tadinya gue bermaksud untuk meninggalkan, tapi gak jadi. Tungguin ah. Penasaran. Dan ketika perempuan itu keluar, gue pun minta izin untuk foto-foto. Dia cerita kalau selendang itu adalah kado sehingga dia gak tau beli di mana.

Ini adalah desain selendang Piring Kembang yang dibikin untuk menyambut Lebaran 2017

Modelnya adalah the and only Mbak Pargi

Dan ini adalah desain “KW” yang gue temukan sendiri dipakai orang di tempat umum:

Dan eh kebetulan, dari hasil pencarian ketemu pedagang di Instagramnya:

Secara mengejutkan, saat terpampang nyata di depan mata, ada perasaan bangga yang luar biasa. Selain karena berarti desain ini “dianggap memiliki nilai ekonomis” oleh PASAR, gue juga merasa sudah menjadi bagian mensejahterahkan pedagang. OK I KNOW… beberapa teman bilang ya harusnya gak gitu juga. Tapi gue cuma bisa jujur sama perasaan sendiri. Marah? Jauh lah. Sama sekali enggak. Bahkan tujuan menuliskannya di sini adalah sebagai kenang-kenangan. “This is one of the most important highlight in my career as a graphic designer” kata gue ke teman yang mungkin akan dikecam oleh banyak profesional.

LOOK, di era internet seperti sekarang, gampang banget mau nyontek. Apakah gue terbebas dari mencontek? Ya gak juga. Besar kemungkinan gue pun pernah mencontek. Ingat, MangkokAyamID adalah toko yang menjual produk siap pakai. Desain MangkokAyamID adalah desain untuk berdagang bukan berekspresi.

Bagaimana kalau nanti semakin besar dan semakin banyak yang mencontek? Ya kalau mau berpikir takut dicontek gue akan jadi pedagang paranoid yang ujung-ujungnya gak bisa menghasilkan apa-apa untuk dijual. Selain ada solusi lain, gue akan terus meyakini, selamanya akan ada pelanggan yang memilih untuk memakai produk asli. Semoga ajalah.

Tujuan besar tulisan ini pun adalah ajakan untuk tidak selalu mencibir kelakuan pencontek. Karena bisa jadi, kita pun sudah jadi konsumennya. Siapa coba yang udah pake Zara yang mencontek Gucci dan berbagai label internasional habis-habisan? Banyak kan. Atau punya barang KW di lemari pakaiannya? Handphone KW? Jadi ya kita sudah pernah sama-sama menikmati hasil contekan, tak pantas untuk ikut mencibir pemaling. Paling siap-siap aja kalo kita dimaling juga, gabole mara-mara :p


Eh eh eh… inget koleksi Tumpang Tindih yang pake orang-orangan sawah?

Eh… hari ini ada yang posting pake orang-orangan sawah jugaaa

Aduh gaeees, aku dicontek nih sama BALENCIAGA, gaeees…

Kalau ingin lebih jauh memahami soal bagaimana industri pakaian cepat saji suka mencontek karya desainer silakan tonton video ini:

 

How Not To Be Your Parents

what-i-thought-parenting-meme

Dua bulan masuk SMP dan ikut ekstra kulikuler karate, minggu lalu anak saya minta izin untuk ikut ujian kenaikan level di luar kota, dan (kemungkinan) menginap. Jawaban saya: beri waktu ibu untuk berpikir (dalam hati: over my dead body!). Bukannya saya over-protective ya,  ketika SD anak saya beberapa kali pergi berkemah bersama grup kelasnya.

Sebagian dari Anda dibesarkan oleh orangtua yang sempurna, and I’m happy for you. Tetapi mungkin saja ada yang seperti saya, masa kanak-kanak dihabiskan dengan berpikir kalau orangtua adalah setengah dewa, suatu hari terbangun dan sadar kalau mereka hanya manusia biasa.

Bahkan ketika remaja, saya juga mengalami periode menyalahkan mereka atas semua isu yang saya miliki menjelang saya dewasa. Tetapi tentu ketika ditampar dengan kenyataan demi kenyataan baik getir maupun manis tentang tanggung jawab (sebagai orangtua ataupun orang biasa), mendadak luluh hati dan ingin sungkem kepada mereka yang menerima saya sebagai tanggung jawabnya dahulu, tak peduli betapa menyebalkan ketika melewati masa puber.

Ketika anak saya masih kecil, menjadi orangtua yang baik bukan tugas yang terlalu sulit, karena belum ada feedback yang kita dapat secara langsung. Anak tentu masih sangat tergantung kita, dan mereka selalu gembira ria melihat kita pulang ke rumah setelah seharian kerja atau kembali dari pergi ke minimart setengah jam saja. Mereka juga sangat murah hati memberikan pelukan dan ciuman kapan saja kita memintanya.

Tetapi begitu mereka beranjak remaja, hormon yang meledak-ledak dilengkapi dengan sikap sikap yang sering mengejutkan (kok dia jadi begitu ya? Perasaan dulu gue waktu ABG enggak gitu deh), kalau kita tidak sadar dan hati-hati, mudah sekali mengulangi apa yang dilakukan orangtua kita dulu; melarang, mengatakan tidak, dan tidak mau mendengarkan bantahan dan alasan apa pun. Beberapa tahun melakukan itu secara otomatis, suatu hari kita bangun dan terkejut; OH MY GOD, I’M MY FATHER!

Sepertinya ada baiknya kalau saya membuat peraturan untuk diri sendiri supaya tidak terjebak melakukan apa yang saya kurang setuju orangtua dulu saya lakukan.

  1. Jika harus melarang mereka pergi, saya akan menjelaskan alasannya. Papa saya dulu tidak pernah membolehkan saya pergi ke luar rumah setelah matahari terbenam. Kemping bersama Pramuka? Setelah saya SMP karena saya nekad kabur walau dilarang baru bisa ikut, dan siap menghadapi omelan dan bentakan ketika pulang. Jika saya tanya alasan larangannya, Papa saya tidak pernah menjawab, kalau pun menjawab, akan mengatakan,
    “Karena kamu anak perempuan.”
    Nice, pa. Not sexist at all.
  2. Jika melakukan hal reaktif dan berbuat tak adil ke anak, lalu menyadari kalau saya salah, saya akan minta maaf dengan secara verbal mengatakan saya salah, dan minta maaf. Bukan hanya pura-pura lupa dan menawarkan membeli makanan kesukaan anak.
  3. Saya harus meyakinkan anak kalau kegagalan itu biasa, semua orang pernah mengalaminya dan yang membuat seseorang sukses bukan karena kegagalan jarang atau tak pernah terjadi tetapi bagaimana kita bangkit dan belajar dari pengalaman itu. Tanpa terlalu memuji dia, tetapi juga tetap menghargai usahanya sesuai dengan persentase usaha dan potensi yang kita lihat. I know it sounds complicated, but if you’re a parent, you’d know what I mean.

Jadi bagaimana dengan perjalanan karate anak? Akhirnya saya tidak mengizinkan dia pergi kali ini, karena ini adalah hal rutin dan beberapa bulan ke depan akan ada lagi. Alasan saya; di sekolah yang baru ini saya belum kenal teman-teman dia, dan belum sempat bertemu dengan Senpai dan Sensei-nya, jadi saya merasa tidak nyaman membiarkan dia pergi, karena tidak ada yang bisa dititipkan. Untung dia mengerti alasan ini.

parenting-in-public-parenting-meme

inTelek 💩

Seharusnya ada istilah bagi seseorang yang mengidap atau setidaknya kecanduan untuk dibilang intelek. Bahkan dibilang terpelajar atau cendekia pun terasa kurang. Harus intelek. Cukup. Jangan lebih, tapi juga tidak boleh kurang. Jika ada istilah itu mungkin orang pertama yang perlu disematkan adalah cermin di hadapan saya sekarang. Orang yang ada di cermin ini suka sekali tanpa pikir panjang untuk membeli buku dengan topik beragam, juga membuka jurnal di berbagai situs akademis dan mengunduhnya sebisa dan sebanyak mungkin, walau akhirnya tersimpan rapi dalam berkas penyimpanan komputer dan tak sempat dibaca. Seringkali mengikuti banyak perbincangan menarik dan berkelas dalam debat di media sosial, kemudian diam-diam menindaklanjutinya dengan mencari istilah-istilah asing yang baru didengar untuk dicari tahu apa artinya, dan kapan kata tersebut tepat digunakan. Bisa saja, pada waktunya argumen dalam perdebatan akan lincah, bernas juga mengagumkan ketika didengar dan disimak orang lain. Kalimat keren atau pilihan kata yang lugas juga perlu dikeluarkan kembali dari persembunyiannya ketika menulis sesuatu dalam media tertentu sehingga, yang terpenting, memberi kesan intelek dengan banyak menyimpan pengetahuan dengan baik dan mempergunakannya secara tepat. Hebatnya lagi bagi para pengidap “maunya dibilang intelek” itu merasa bahwa intelek jauh lebih ganteng daripada wajah tampan, lebih berharga dari sekadar dompet tebal dan lebih disukai Tuhan daripada lantunan ayat suci. Ciri lain dari orang yang kecanduan untuk dianggap sebagai sosok intelek adalah pendiriannya yang kokoh untuk tidak follow akun siapapun di twitter. “Intelek sejati tak pernah mengikuti dan arusnya ia yang diikuti”. Jika ada perdebatan sengit yang ia saksikan maka ia akan mengumpat dalam hati: “sebetulnya dua orang yang berbantah-bantahan ini sama-sama bodoh”. Jika ada obrolan di salah satu program acara stasiun televisi, maka ia akan berpikir bahwa seharusnya dialah yang ada di dalam acara tersebut. Bukan pria yang botak dan jika bicara terlalu lama, atau seorang dosen yang terus-menerus bermain kata-kata, bahkan ia merasa melihat sebetulnya begitu banyak hal yang dapat dilakukan oleh pria pembawa acara bersuara serak daripada sekadar memotong perseteruan sengit, menghafal kata-kata mutiara, dan mengundang orang-orang yang doyan adu mulut. Intelek sejati tidak mengumbar kata-kata. Intelek sejati, menurutnya, adalah yang pada setiap kata-katanya tersimpan puncak kegemilangan umat manusia. Kata-katanya adalah mantra, penuh gatra. Saat akan berpergian, sosok intelek akan membawa buku barang satu atau dua biji. Soal nanti dibuka atau tidak, dibaca atau tidak, itu bukan persoalan. Menjadi soal yang pokok jika bahan bacaan tak ada dalam tas atau kantong yang ia bawa. Tokok idola kaum intelek bukan selebritas penuh glamor tapi otaknya kosong. Voltaire atau Noah Harari lebih disukai. Toko buku adalah persinggahan. Bioskop adalah hiburan. Buku adalah perhiasan. Penampilan bukan kisah utama. Perbincangan dan pemikiran adalah tolok ukur. Kemampuan bahasa asing itu utama. Wawasan tentang seniman kiwari adalah pelumas pergaulan. Demikian. Sampai saat ini walau belum berhasil mengetahui apa istilah bagi seseorang yang sebegitunya kebelet mau dibilang intelek, setidaknya sudah dapat dirunut gejala-gejalanya.

Kapan Terakhir Kali Menulis (Bukan Mengetik)?

PERNAH ada masanya, suasana hati dan kepribadian seseorang tak hanya diraba lewat isi tulisan, tetapi diamati sekaligus dari penampilan dan bentuk tulisan tangannya.

Kala itu, masyarakat cukup enteng menganggap bahwa seseorang yang bisa menulis dengan rapi dan teratur, memiliki pembawaan yang tenang; sabar; telaten; halus perasaannya; serta memiliki karsa artistik tinggi lantaran peduli kepada keindahan. Jika ditarik mundur lebih jauh lagi, bahkan bisa menulis saja sudah identik dengan kepandaian dan berpendidikan. Makanya, dahulu ada jabatan carik, kerani, atau klerek. Posisi mentereng yang bisa bikin para orang tua di zaman itu bangga. Padahal tugasnya ya cuma satu, menulis. Yang ditulis pun bukan luapan isi hati, melainkan ucapan, komando, maupun perintah atasan. Bila tulisan pujangga bisa menggetarkan hati dan menggerakkan jiwa, tulisan carik dipercaya bisa menyejahterakan rakyat atau justru sebaliknya.

Kendati menyinggung tentang keindahan, menulis dalam konteks ini tetap berbeda dari membuat kaligrafi. Menulis, tujuan utamanya bukan untuk menghasilkan karya seni atau pajangan, tetapi mencatat. Baik untuk dibaca kembali di kemudian waktu, atau untuk disuratkan. Itu sebabnya, lambat laun aktivitas menulis bisa tergantikan oleh mengetik untuk hasil tulisan yang pasti lebih mudah dibaca, enak dilihat karena bentuk dan jarak yang konsisten, serta lebih hemat waktu maupun tenaga. Termasuk ketika harus digandakan menggunakan mesin stensil atau fotokopi. Ironisnya, bisa saja tulisan tangan para ahli kaligrafi terlihat biasa-biasa saja, tak seindah kaligrafinya, atau malah cenderung berantakan. Kurang lebih cakaran ayam.

Lalu, bagaimana dengan kita sendiri? Kapan terakhir kali kita menulis? Apalagi untuk tulisan yang agak panjang, bukan sekadar catatan daftar belanja atau mengisi formulir pendaftaran tertentu. Itu pun biasanya diminta dalam bentuk huruf balok atau huruf kapital semua biar lebih gampang dibaca.

Postcard from Yogyakarta
Dicomot dari Facebook teman.

Ini contohnya. Seorang teman di Samarinda dikirimi kartu pos. Bentuk dan susunan tulisan yang sedemikian rapi bikin betah dilihat berlama-lama, nyaman di mata.

Dari foto di atas, si empunya tulisan pasti masih rajin menulis. Lewat hasil tulisan tangan, kita dapat dengan mudah mengenali tangan yang masih luwes, dan yang sudah kaku. Silakan saja bandingkan tulisan tangan Anda saat ini, dengan tulisan tangan waktu masih SMA atau kuliah, di saat kita harus menjawab soal esai di berlembar-lembar kertas folio bergaris. Sebelum akhirnya buku-buku catatan atau penjepit kertas berlubang, digantikan dengan laptop dan halaman blog berisi makalah tugas.

Terlebih jika Anda terbiasa menulis huruf bersambung. Makin ke sini, ada makin banyak huruf yang bentuknya tak tertulis utuh sempurna, atau berasa tersendat-sendat. Belum lagi sensasi pegal di pergelangan tangan, maupun di pangkal celah-celah jari.

Book in an art and literature exhibition.
Terakhir kali menulis agak panjang di pameran tentang Pram.

Sementara itu, tidak salah juga apabila soal tulisan tangan ini dianggap perkara sentimental belaka, atau pun bagian dari kerisauan para produsen alat tulis. Sampai-sampai ada hari bernama National Handwriting Day di Amerika Serikat setiap tanggal 23 Januari. Pasalnya, sekarang sudah zaman sarat efisiensi dan efektivitas, kecepatan dan ketepatan, serta hasil akhir sesuai keinginan. Sehingga segala hal yang bertentangan, atau berpotensi menjadi penghalang, sah-sah saja untuk ditinggalkan. Termasuk tulisan tangan.

Para jurnalis, misalnya. Saat ini para pewarta yang mencatat wawancara makin langka dijumpai. Alih-alih membawa notes, mereka merekam suara narasumber menggunakan ponsel. Walhasil, mereka memang memiliki instrumen informasi yang autentik dan bisa diputar kembali, tetapi dalam prosesnya mereka condong untuk tidak/kurang menyimak pernyataan. Ya … lagi-lagi ini perkara efisiensi waktu dan tenaga saat bekerja.

Untung saja, kita bernasib baik terlahir dan menjadi penutur bahasa Indonesia dengan bentuk tulisan yang cukup sederhana: alfabet. Yang kalaupun sudah lama tidak menulis, dampak buruknya tak separah orang-orang Tionghoa. Perubahan kebiasaan dari menulis tangan ke mengetik, membuat mereka lupa caranya menulis. Buta aksara sebagian; mengenali tulisan dan bisa membacanya, tetapi sulit menuliskannya.

Selebihnya, bisa jadi karena itu pula (dunia yang menuntut segalanya serbacepat, efisien, dan efektif), menulis dengan tangan jadi semacam penenteram hati, rekreasi batin, atau sejenis upaya melarikan “diri” dari kejenuhan.

[]

(Di atas ini sebenarnya ada satu tautan video dari Facebook. Apabila video tidak termuat, klik di sini.)

Film Wiro Sableng Yang Kurang Gendeng

Wiro Sableng adalah serial buku silat yang sangat terkenal di Indonesia. Dan uniknya, setau saya, buku ini tidak hadir di toko buku besar. Di kota saya, ini bisa dicari di toko buku Palasari, atau toko buku emperan di Cikapundung, bersandingan bersama buku stensilan Enny Arrow dan Nick Carter. Di era 80-90an Wiro Sableng adalah primadona buku silat Indonesia. Kalau Marvel mempunyai Stan Lee maka Indonesia punya Bastian Tito.

wiro2.jpg

Sebelum difilmkan sebetulnya Wiro Sableng sempat dibuat sinetron di RCTI sekitar medio 90an kalo saya tidak salah, dengan Ken Ken sebagai Wiro Sableng. Lalu pada tahun ini Wiro Sableng dibuat film dengan Vino G. Bastian, yang juga anak dari Bastian Tito, sebagai Wiro Sableng. Tentunya film ini sangat ditunggu untuk pembaca buku Wiro Sableng seperti saya. Saya penasaran bagaimana hasilnya.

Tetapi setelah saya menonton film ini saya merasa kecewa. Walaupun kabarnya sampai hari ini sudah tembus 600 ribu orang yang menonton film ini tapi saya merasa terganggu dengan jalan cerita dari film ini. Saya tidak mempermasalahkan CGI, karena saya pikir film Wiro Sableng tidak begitu banyak memerlukan teknik CGI. Tapi spesial efek menurut saya perlu. Karena banyak jurus yang membutuhkan spesial efek agar terlihat dahsyatnya bagaimana jurus Pukulan Sinar Matahari atau Benteng Topan Melanda Samudra divisualkan. Saya tidak lihat ada di film ini. Saya lupa apa Wiro mengeluarkan jurus Kunyuk Melempar Buah di film ini atau tidak. Saya sangat menantikan itu. Sama seperti saya menantikan Wong Fei Hung mengeluarkan jurus Tendangan Tanpa Bayangan di film trilogi Once Upon A Time In China.

wiro1

Saya melihat di sini, Seno Gumira Ajidarma, sebagai penulis skenario terlihat memaksakan untuk memasukan banyak karakter, baik musuh maupun lawan ke dalam film ini. Ini bisa menjadi keuntungan tapi bisa juga menjadi kerugian. Terhitung ada tujuh penjahat di film ini yang hadir sebagai lawan Wiro Sableng. Sementara dari kubu Wiro Sableng saya hitung ada empat karakter. Total sebelas karakter yang kesemuanya penting dan mempunyai cerita sendiri di bukunya. Tapi itu tidak dijelaskan di filmnya. Semuanya menjadi kabur dan tidak fokus. Tidak jelas asal-usulnya. Tiba-tiba muncul. Ini siapa? Itu siapa?

Angga Dwi Sasongko, sebagai sutradara pun terlihat kewalahan untuk memasukan semua karakter dalam satu film yang hanya berdurasi dua jam. Jadinya editing sedikit berantakan. Agak dipaksakan. Yang pada akhirnya hanya Wiro Sableng dan Bujang Gila Tapak Sakti yang menonjol. Mahesa Birawa memang komandannya, tapi siapa itu Kala Hijau? Pendekar Pemetik Bunga ini menarik. Lelaki tetapi kemayu. Kita semua ingin tau latar belakangnya. Iblis Pencabut Sukma ini dari mana datangnya? Koq misterius dan perannya minimal sekali. Kenapa sekonyong-konyong Anggini dan Dewa Tuak bertemu di tengah hutan dengan Wiro? Semuanya serba cepat. Tidak ada kontinuitas. Angga pun sering sekali memakai zoom untuk adegan filmnya. Bahkan di adegan duel. Mata saya agak pusing lihatnya. Apakah teknik ini mengambil dari film-film Jason Bourne? Saya tidak tahu.

wiro3

Film Wiro Sableng ini mengingatkan saya pada film Batman Forever atau Batman & Robin yang dibintangi oleh Val Kilmer sebagai Batman. Di film ini pun banyak karakter yang terlibat. Ada The Riddler, Mr. Freeze, Bane, Poison Ivy, Robin, Harvey Two-Face, Chase Meridien dan lain-lain. Semuanya dibintangi bintang film kelas atas. Tapi hasilnya film ini jadi samar. Parade penjahat dan protagonis. Kabur. Semua berusaha mencuri panggung dan Jim Carrey sebagai The Riddler adalah pemenangnya. Dan beruntung film ini punya sontrek yang lagunya abadi dari Seal. Walau saya lebih suka U2.

wiro4.jpg

Lalu kita bandingkan dengan Batman Trilogy versi Nolan. Kita lihat di Batman Begins. Jonathan dan Chris Nolan hanya fokus pada bagaimana proses Bruce Wayne menjadi Batman. Penjahatnya cuma dua, Ra’s Agul dan Scarecrow. Bukan penjahat utama. Karena puncak dari trilogi ini ada di sekuelnya, The Dark Knight, di mana Batman bertemu dengan musuh bebuyutannya yang sulit dikalahkan, Joker. Sementara di The Dark Knight Rises, Batman bertemu dengan Bane. Kita lihat bagaimana Nolan Bersaudara meramu trilogi ini tanpa harus memaksakan semua karakter berada di dalam film. Walaupun sebetulnya mereka bisa melakukan itu. Tapi mereka akan menghadapi resiko yang sama dengan Batman Forever atau Batman & Robin. Dan penggemar Batman pun akan tahu bahwa Michael Keaton dan Christian Bale lebih superior dari Val Kilmer ataupun George Clooner.

wiro5

Kenapa saya membandingkan Wiro Sableng dengan Batman Trilogy? Selain keduanya adalah superhero, di post-credit scene juga saya lihat ada Pangeran Matahari. Ini artinya bakal ada sekuelnya, bahkan saya dengar akan dibuat trilogi juga film ini. Pangeran Matahari adalah Joker atau Lex Luthor versi Wiro Sableng. Dia sangat sakti. Sinto Gendeng pun kerepotan melawannya. Dan kalau boleh saya berharap, agar penulis naskah dan sutradara agar lebih fokus kepada satu karakter ini. Buatlah Pangeran Matahari seperti Joker di The Dark Knight. Saya ingin melihat visual yang sama ketika saya membayangkan Pangeran Matahari di bukunya. Bujang Gila Tapak Sakti boleh dipertahankan. Sambil ditambah mungkin Pendekar Hidung Belang Berkipas Sakti buat menyemarakkan suasana.  Ini semua saya tulis karena kecintaan saya terhadap buku favorit masa kecil saya. Saya ingin sekuelnya dipoles mendekati sempurna.

nb: Oiya satu lagi. Prostetik Sinto Gendeng itu sangat mengganggu dan tidak perlu. Saya jadi curiga Sinto Gendeng itu satu almamater dengan Haji Jeje. Rikues Renny Djayusman boleh gak? Dia tidak usah akting juga sudah gendeng dari sananya.

 

 

Pulang ke Ubud

Semua teman dekat gue pasti udah tau, gue jarang jalan-jalan. Kalau pun keluar kota, itu pasti ada urusan kerjaan yang kemungkinan gue perpanjang sehari atau dua hari. Dan mereka juga udah tau ke mana mencari gue saat gue menghilang. Pilihannya cuma ada di dua kota: Jogja dan Ubud. Yang kedua adalah kota yang barusan gue kunjungi.

Begitu sampai di Ubud, ada perasaan selamat datang yang nyaman. Gak ada dorongan untuk ke sana ke sini, belanja ini itu, atau nyobain cafe-cafe baru. Cukup berada di Ubud aja. Makanya kalo ditanya apa rencana di Ubud? Jawabannya akan selalu sama: Gak ada. Paling ada janjian ketemu teman yang memang tinggal di Ubud. Atau mencoba berbagai pengobatan yang tersedia di Ubud. Selebihnya, ke mana kaki melangkah saja. Sehari-hari gue sudah dipenuhi jadwal, gak adil rasanya kalau saat menghilang pun harus dipenuhi jadwal.

“Apa sih enaknya di Ubud?” tanya Shasha, teman dekat gue yang juga seorang travel blogger. Buat Shasha yang eksploratif dan sedikit kontemporer, Ubud bisa jadi kota yang membosankan. Kehidupan kota baru dimulai pukul 10 pagi dan berakhir 10 malam. Tak seperti Seminyak dan Legian yang mungkin jam 10 malam justru baru mulai menggeliat. Di Ubud, jam 10 malam, tak ada yang buka di jalan utama. Kalaupun ada, kemungkinan acara-acara privat.

Seorang teman yang baru pertama kali ke Ubud pun pernah komplen, “Hiiii nyeremin ah Ubud. Horor gitu bawaannya”. Apakah gue pernah mencoba untuk mengubah pandangan orang supaya suka Ubud? Ya enggaklah! Gue gak mau banyak orang yang datang ke Ubud. Gue suka Ubud yang lebih sepi, yang gelap dan horor. Karena di situ gue menemukan banyak kenyamanan. Bukankah hanya di kegelapan gue berani telanjang? Melepas semua atribut yang harus gue kenakan sehari-hari di Ibukota.

Awalnya gue ke Ubud karena ada sepasang suami istri, Cecil dan Atseu, teman yang lebih keluarga dibanding keluarga tinggal di sana. Waktu itu gue datang tanpa harapan, tanpa kehendak. Dan ketika di suatu pagi gue berlari di perbukitan yang bernama Tjampoehan, air mata gue deras mengalir. Untungnya ada angin pagi semilir yang mengeringkan pelan-pelan. Dari mana gue tau kalo hati gue ketinggalan di Ubud? Saat pulang ke Jakarta, batin gue bertanya “what the hell am I doing in this city?”

Sebelum memutuskan untuk ke Ubud kali ini, seseorang terdekat bertanya meyakinkan

“Are you sure? Nanti kalau pulang baperan lagi gimana?”

Gue hanya bisa menjawab sekenanya

“Kayaknya enggak deh, gak tau juga mau ke mana lagi”.

“Sure?”.

“No. But I have my job here, my career, my mother, and yeah…. you are here”. 

Perjumpaan berikutnya dengan Ubud mulai lebih nyaman. Tak intens secara emosional. Tapi bahagianya menetap di dalam hati. Selain Cecil dan Atseu, sekarang ada Peggy yang punya butik Mao-Mao di jalan utama Ubud, Hanoman. Baju-baju santai dari bahan linen, dengan desain klasik dan warna-warna nyaman di mata jadi ciri khas Mao-Mao. Waktu pertama kali dilaunch, Mao-Mao langsung menjadi brand fashion favorit gue.

Melihat koleksinya, Peggy kayaknya makin nyaman dengan desain-desainnya. Aksen kecil sana sini, seperti panjang celana yang asimetris, motif di pundak, dan selendang-selendang kalem bikin butik kecil ini jadi seperti ketenangan tersendiri di keramaian jalan Hanoman. Pilihan warna pun jadi semakin banyak.

Selain Peggy, adalagi teman yang baru buka restoran bernama MyWarung di jalan utama Ubud. Awalnya gue ke sana ya karena punya teman. Tapi setelah nyobain menu andalannya L’ Entrecôte tak hanya puas di lidah tapi bangga punya teman yang menjual makanan seenak ini. L ’Entrecôte kasarnya adalah steak yang dipotong-potong untuk dimakan dengan pilihan kentang dan salada. Seperti biasa gue pesan tingkat kematangan medium rare. Ketika pesanan datang, melihat dari warna dagingnya saja sudah ketauan benar medium rare. On point!

Bisik-bisik bilang kalo Nasi Babi Sambal Matah juga menjadi jagoannya. Malam terakhir sebelum meninggalkan Ubud, gue sempatkan untuk mampir. Lagi-lagi benar adanya. Puas rasanya kalo makanan di sebuah resto sesuai dengan kabar yang didengar. Makan di restoran milik teman, walau tanpa kehadirannya, bisa bikin bahagia. Serasa jadi saksi kemajuan bisnis teman sendiri. Well done, Juan!

Menginap di mana? Seperti biasa buat gue bayar hotel mahal-mahal di Ubud adalah kesia-siaan. Bahkan paket sarapan pun jarang gue ambil. Buat apa? Tinggal jalan kaki sedikit, ada cafe yang menyediakan sarapan enak. Mau sarapan air kelapa muda? Tinggal tunjuk. Kopi enak, tinggal mangap. Dan sebagian besar waktu gue kalau di Ubud adalah di luar hotel. Makanya pilihan kali ini adalah ke hostel milik seorang teman lagi, namanya Namastay.

Lagi-lagi tanpa harapan, gue datang untuk menikmati hostel yang menamai dirinya sendiri boutique hostel. Begitu masuk langsung merasa seperti di rumah sendiri. Tak ada keistimewaan berlebihan malah bikin Namastay jadi istimewa. Bahkan tak ada air mineral di dalam kamar, tapi disedikan termos yang bisa dibawa ke mana pun selama menginap di Namastay. Tak banyak pelayan yang mondar-mandir bikin suasana jadi tenang. Kamar Namastay yang secukupnya, bikin gue merasa cukup.

Selain kamar satuan, Namastay juga menyediakan area dorm yang berisikan ranjang bertingkat. Ada yang campur untuk laki dan perempuan. Ada yang khusus laki dan khusus perempuan. Seandainya sudah ada sejak gue SMA pasti seru buat jalan bareng-bareng temen. Tapi mungkin, Ubud bukan kota pilihan anak muda kalau ke Bali.

Buat yang pengen ngerasain tidur di bawah langit malam Ubud yang legendaris, juga tersedia tenda ala-ala di rooftop. Kebayang seru sih kalo rame-rame main capsa sambil ngobrol ngalor ngidul sampai melihat matahari terbit.

Namastay terletak kurang lebih 20 langkah saja dari jalan utama, memudahkan akses berbagai kebutuhan. Tadinya, gue berencana mendaki gunung Batur yang sudah diatur oleh pihak Namastay. Sayang, semalaman Ubud hujan deras. Walau kali ini batal, suatu saat nanti gue akan kembali.

Meninggalkan Namastay, gue jadi teringat lagu drama seri Cheers. Sangat mungkin Namastay menjadi hostel di mana pengunjung dan pengurus hostel saling mengenal.

Making your way in the world today
Takes everything you got
Taking a break from all your worries
It sure would help a lot
Wouldn’t you like to get away?
Sometimes you want to go
Where everybody knows your name
And they’re always glad you came
You want to be where you can see
The troubles are all the same
You want to be where everybody knows your name
You want to go where people know
The people are all the same
You want to go where everybody knows your name

Di tengah kemacetan Jakarta, dia bertanya

“Are you here?”

“Iya dong…”

“Baper?”

“Kayaknya enggak”

“Tumben”

“Kali ini Ubudnya yang ngikut”

“Oh I thought you come back for me”

“Gak lah! GILA APAAA???”