Elang-Elang yang Mengangkasa di Langit Nusantara

p161258_v_v8_ab

Dalam pesawat perjalanan Jakarta-Surabaya, saya membaca koran hari Rabu pagi yang disediakan mbak-mbak pramugari. Jika ndak salah berita di koran itu soal pelantikan dan penempatan Jaksa baru di lingkungan Kejaksaan RI. Kalau ndak salah lagi jumlah Jaksa yang baru dilantik itu ada 49 orang. Lalu saya menghitung dalam hati jumlah propinsi, membayangkan satu propinsi dapat jatah satu. Lalu ada yang kebagian dua. Kemudian saya bertanya lagi. Jika mereka masih baru, apakah iya akan dapat mewarnai lingkungan Kejaksaan. Bukannya justru mereka yang akan banyak memperoleh cobaan dengan “warna dan budaya” Kejaksaan yang saya sendiri ndak begitu paham apa saja rinciannya. Satu orang hadir, menetas dalam kandang dengan ayam jago dewasa dan induk ayam yang sudah malang melintang dalam dunia perayaman. Apakah pitik ayam dapat mengalahkan kokok jago dan cericuit cerewet induk ayam dalam sekawanan tersebut? Akankah pitik ayam akan menjadi korban persekusi, atau setidaknya akan tidak banyak pilihan untuk menjalani kehidupan sesuai apa yang dijalani para senior ayam. Dalam pesawat saya terhenyak. Merenung. Diselingi nonton film lawas Little Miss Sunshine. Kemudian saya mendapat jawabannya, tepat ketika adegan jenazah sang kakek dibalik selimut putih dibawa kabur dari rumah sakit. Saya berpikir sebagai berikut. Apa yang menetas seharusnya bukan pitik ayam. Haram hukumnya jika yang lahir adalah anak ayam. Seharusnya ia adalah tetas telor yang ketika keluar sebagai anak elang. Biarkan selama masih piyik ia dididik oleh induk ayam namun masih memiliki genetik dan memelihara sifat ksatria elang yang terus mengalir dalam dada. Anak elang adalah jaksa-jaksa muda yang berbeda dengan generasi pendahulunya. Menegakkan sistem peradilan hukum pidana dengan penuh digdaya. Perlahan tapi pasti. Lahir tidak langsung membusungkan dada karena dada anak elang tak sekokoh sabetan kuku ayam jago dewasa. Sudah seharusnya semua jaksa yang masih belia dan baru saja dilantik, dengan diawali diambil sumpahnya dan kemudian ditempatkan di seluruh belahan nusantara bertekad  berlaku ideal. Karena Jaksa adalah chef sajian kulinari pidana. Ia mengumpulkan bahan yang telah disodorkan Penyidik sebelumnya untuk kemudian dimasak untuk disajikan di hadapan yang Mulia Majelis Hakim. Soal ini menjadi penting. Ketika sistem politik dapat diputar dalam hitungan lima tahun sekali lewat proses yang disebut demokrasi, maka birokrasi agak jauh berbeda. Hampir mayoritas seluruh pekerja kementerian dan lembaga negara adalah orang karir. Sejak dini menetas, diasuh dan berkembang dewasa dalam lingkungan birokrasi. Perjalanan birokrasi adalah cetak saring sablonan kaos. Jika tidak kreatif maka pada akhirnya hasil cetakannya akan itu-itu saja dari jaman Kakeknya Nick Young datang ke Singapore sampai Bernard Tai insyaf. Peter Thiel bilang soal rekrutmen adalah soal kunci. Sesuatu yang seharusnya tidak diberikan tanggung jawabnya kepada orang lain. Harus dilakukan sendiri oleh para pimpinan pada suatu perusahaan atau kelompok usaha. Perusahaan tidak berisi budaya perusahaan. karena perusahaan itu sendirilah sebuah budaya. Peter mengingatkan bahwa semenjak Paypal dibeli oleh Ebay, justru menjadi titik awal semua punggawa mafia Paypal menjelma menjadi para pionir teknologi. Kuncinya adalah bahwa “bakat dan kepintaran saja tidak cukup, melainkan kepastian bahwa mereka yang tergabung dalam satu gagasan dan usaha bersama senang melakukannya secara bersama-sama, baik di luar maupun di luar urusan kantor.” Peter pernah mengalami dan menyaksikan sendiri saat sama-sama mengurus urusan perusahaannnya bagaimana kehidupan para pekerja firma hukum yang hanya berinteraksi di dalam kantor dan kemudia jarang sekali bersentuhan di luar jam kerja selain bicara urusan kerjaan. Ini sesuatu yang meruntuhkan, merugikan bahkan tidak rasional. Buang-buang waktu. Alasan bahwa kehidupan profesional harus menyisihkan urusan perasaan dan keriaan sementara maka itu semua omong kosong. Ketika Thiel merekrut pegawai baru, yang ia tawarkan adalah sebuah gagasan bersama yang akan dilakukan perusahaan sebagai sesuatu yang unik. Singkatnya calon pekerja akan ditawari pekerjaan yang tidak akan dilakukan di perusahaan lain karena memang perusahaan tempat nantinya ia bekerja kelak adalah satu-satunya yang akan melakukan “suatu hal” tersebut. Dan syarat yang diminta oleh Peter adalah calon pekerja menyukai bekerja bersama. Titik. Proses kimiawi yang seharusnya sudah kelihatan cocok-tidaknya dalam lingkungan bersama.  Ini sejatinya sesuatu yang menarik dan bisa dilekatkan dalam isu yang dikemukakan di awal. Jaksa. Sebuah pekerjaan khusus yang tidak mungkin dilakukan oleh pihak lain di negeri ini. Apakah ada profesi lain yang melakukan tuntutan dan membacakan dakwaan kepada terdakwa di pengadilan selain Jaksa?  Maka sebuah kelangkaan profesi yang bahkan dijamin undang-undang inilah yang seharusnya menjadi modal dasar dan pusat kesadaran para Jaksa baru untuk memelihara sikap ksatria. Kemudian bahu-membahu melaksanakan kewajibannya dengan penuh rasa tanggung jawab. Ya, dengan satu syarat, bahwa pimpinan tertinggi anak elang ini adalah elang juga. Sepanjang dia masih ayam sayur, maka sudah sepatutnya jadi anak buah RoySayur saja.

Salam elang!

Advertisements

Leave a Reply