Apa salahnya jadi orang Jakarta?

Lewat laman Twitter saya, ada satu percakapan tentang orang Jakarta yang cukup menarik perhatian saya.

“Belajar ‘Gue-Lo’ dulu ah sebelom besok ke Jakarta,” kata G, teman saya.

“Awas keceplosan bilang ‘Aing’ “, balas A, teman saya.

“Jangan pake aku-kamu ya nanti pada baper anak Jkt mah digituin wkwkwk,” sambar A, bukan teman saya.

At least klo udh fasih lo-gue nya nanti sounds enakeun gitu ya di telinga which is gak malu-maluin juga,” balas N, bukan teman saya.

“Duh euy, gue-elo teh repot euy. Nyobain di depan kaca aja kaya orang bego 🙁 Ah tidaaaaak….. Jangan sampe terkontaminasi ya Allah :(” jawab G, menanggapi teman-temannya.

Saya, teman G, orang Jakarta, emosi.

***

Saya pernah kuliah di Bandung. Bisa dibilang, hampir 5 tahun lamanya saya menjadi ‘warga’ di kota Bandung, kalau menetap lama di suatu daerah bisa dibilang sebagai warga. Selama hampir 5 tahun tersebut, walau wajah saya Sunda pisan, logat dan sikap saya sudah seperti orang Garut, tetap stigma “Anak Jakarta” atau “Orang Jakarta” masihlah menempel tebal di dahi saya yang tidak lebar ini.

Mundur ke belakang, di awal-awal masa kuliah saya, ketika sedang mencari-cari tempat kos dengan letak dan biaya yang ramah bagi saya, seorang ibu yang merupakan warga sekitar menanyakan, “Sudah dapat kos-kosannya?” kepada saya dan ibu saya. Kami berdua menggeleng dan menceritakan alasan kenapa hingga siang hari kami belum mendapatkan kos-kosan yang cocok. Selain karena alasan tempat yang jauh dari jalan utama dan bangunan fakultas saya, alasan harga yang tidak ramah di kantong kami pun menjadi permasalahan utamanya. Tahu komentar warga tersebut? “Lho ya harga segitu kan murah, orang Jakarta ‘kan kaya semua.”

Ibu dan saya cuma melengos.

Bahkan ketika saya sedang berkunjung ke Bandung atau ke kota-kota lain di luar Jakarta dan bertemu dengan teman-teman saya saat kuliah dulu, komentar mereka tidak jauh dari, “Wah lo di Jakarta sekarang gajinya 10 juta pasti dapet ya.” Atau “Wah ada anak Jakarta nih, ngeri euy.” Atau “Emang orang Jakarta enggak bisa bilang ‘Terima kasih’ ya? Bisanya bilang ‘thank you’.” atau “Orang Jakarta mah nekat-nekat orangnya. Berani.” Atau “Orang Jakarta tuh enggak punya rasa toleran.”

Ada rasa bangga, sedikit. Sisanya, saya cuma diam sambil memendam emosi. Baper ah.

Belum lagi candaan para netizen Indonesia tentang orang Jakarta. Mulai dari ‘orang-orang Jakarta sekarang serius semua enggak bisa diajak bercanda sejak ganti Gubernur.” atau candaan tentang ‘Orang Jakarta tuh uangnya enggak berseri’ tentang pembuatan Getah Getih, sebuah karya seni dari bambu yang dibuat oleh seniman Joko Avianto yang memakan biaya tidak sedikit yang diambil dari APBD Provinsi DKI Jakarta, belum lagi candaan tentang kalau kamu orang jakarta sudah pasti kamu adalah anak gaul atau celotehan tentang bahasa anak Jaksel yang kini sedang booming di media sosial.

Memangnya kenapa sih kalau jadi orang Jakarta?

***

Saya lahir, besar, bekerja dan tinggal di Jakarta. Dari kecil saya sudah terbiasa dengan hidup keras yang orang-orang lain bilang tentang Jakarta. Terbiasa tepat waktu, terbiasa tegas dengan pilihan yang saya pilih. Terbiasa tidak membiasakan remeh temeh dengan orang-orang tertentu. Terbiasa merubah kepala jadi kaki, kaki jadi kepala demi bisa bertahan hidup. Sulit? Bisa jadi.

Tidak semua orang Jakarta mendapat penghasilan 10 juta perbulan. Tidak semua orang Jakarta kaya raya. Tidak semua orang Jakarta yang kalian bilang selalu berbicara ‘Gue-Lo’ itu adalah anak gaul yang hidupnya hanya dipenuhi jiwa hura-hura. Tidak semua orang Jakarta adalah orang yang kalian deskripsikan.

Menjadi orang Jakarta itu tidak mudah. Pendapatan bulanan yang pas-pasan membuat kami kreatif mencari pendapatan tambahan agar dapur di rumah tetap mengebul. Hidup kami tidak dipenuhi nongkrong setiap hari di kedai kopi. Setiap hari di waktu berangkat atau pulang kantor kami harus bertarung dengan ribuan orang lainnya di jalan, di KRL, di Transjakarta agar cepat sampai rumah atau cepat sampai kantor.

Kami ini pejuang. Kami ini orang dengan rasa tak pernah takut. Kami akan tinggalkan orang-orang yang tidak mau berusaha seperti kalian. Kami tinggalkan zona nyaman kami agar hidup kami lebih baik. Tahu alasan kenapa banyak orang Jakarta memilih tempat pensiun di sebuah pedesaan di pelosok daerah Indonesia? Karena kami tahu rasanya hidup di tempat paling keras dan paling stres, yang akhirnya akan membuat kami bisa menghargai hidup yang nyaman.

Hidup itu tentang berjuang. Dan Jakarta tempatnya.

Pejuang namanya, dan orang Jakarta namanya.

Makanya, sebelum bilang orang Jakarta itu seperti ini atau seperti itu, sini tinggal dulu di Jakarta. Nikmati 5 tahun kalian disini. Kenali Jakarta dan kenali kami, orang Jakarta.

Siapa tahu kamu bisa jatuh cinta.

Iya enggak?

Advertisements

(Tidak) Kepingin Mati

27 Desember 2016.

Tidak lama setelah hari Natal, saya harus kembali bekerja. Saya mulai kerja cukup siang, dan terbiasa untuk bangun agak mepet biar ada waktu bercengkerama dengan bantal, guling dan selimut lebih lama sebelum waktunya untuk bersiap.

Tapi pagi itu saya bangun subuh. Jam 6 pagi. Saya terjaga dengan perasaan aneh.

Saya tidak ingin hidup lagi.

Hanya sebuah pikiran, tapi tidak hanya terlintas tapi bercokol. Awet. Rasa-rasanya kalau waktu itu saya memutuskan melakukan sesuatu, akan saya lakukan juga. Tapi tidak. Saya berusaha untuk kembali tidur dan tidak ambil pusing, tetapi saya tidak bisa kembali tidur sampai saatnya bersiap-siap kerja.

Seharian di kantor saya berusaha menganalisa – sebenarnya ada apa sih sampai tidak kepengen hidup lagi? Hidup saya ini ada masalah apa? Sebagai orang yang terbiasa memisahkan hal-hal dalam hidup dalam kompartemen yang berbeda-beda, saya mengecek ‘kotak-kotak’ itu dan berupaya menemukan akar permasalahan yang mungkin bisa menjadi penyebab pikiran dan perasaan tidak enak itu.

Lah, semuanya baik-baik saja. Tidak ada masalah yang permanen, yang saya anggap begitu mengganggu sampai terbawa alam bawah sadar. Tidak kekurangan, tidak berada dalam kondisi yang mengharuskan saya untuk berjuang, tidak ada hal menyakitkan yang bisa saya gali dalam hidup saya pada masa itu. Saya pun sampai ke konklusi bahwa kalau tidak ada masalah, ya tidak perlu dibesar-besarkan. Mungkin ini hanyalah sebuah fase dalam hidup yang nanti juga akan saya lewati. Ditinggal tidur saja, paling besok juga sudah tidak apa-apa dan hanya akan terasa seperti mimpi buruk. Toh, ada hal-hal yang lebih penting yang perlu saya pikirkan dibanding memikirkan masalah yang bukan masalah…

Tapi saya salah. Walaupun tidak setiap hari, setelah itu pikiran itu berulang kali memunculkan diri di benak saya. Bulan-bulan pertama, hanya menjadi pikiran yang menyebalkan yang kadang-kadang say hello. Saya ini baik-baik saja, dan bahkan situasi hidup lebih enak daripada orang-orang lain yang saya kenal. Kok malah bukannya bersyukur dan menikmati yang ada? Malah lebih dominan merasa kesal karena tidak tahu sebenarnya apa penyebab saya begini.

Bulan-bulan berikutnya, pikiran ini makin sering muncul dan semakin mengganggu. Mulai terpikir cara-cara untuk mewujudkan pemikiran itu. Ketika saya menyadari bahwa kondisi saya tidak membaik, saya mulai agak panik. Takut kalau saya menuruti pikiran ini dan melakukan sesuatu. Dan saya menghubungi seseorang yang menyayangi saya dan meminta dia untuk menghubungi saya tiap beberapa hari sekali. Saya jelaskan apa yang sedang saya alami dan ketakutan saya. Dia mengerti. Setelah mengancam saya untuk tidak melakukan hal-hal bodoh, setelah itu dia rajin mengirim pesan whatsapp beberapa hari sekali, memastikan bahwa saya sehat dan baik-baik saja.

Tetapi kondisi saya tidak juga membaik. Makin parah, malah. Permasalahan dan tekanan yang saya alami sehari-hari dari masa-masa sebelumnya, yang biasanya saya bisa tangani dengan santai dan bahkan tidak dipedulikan karena tidak relevan, sekarang terasa berat, menghimpit dan begitu besar hingga saya tidak lagi mampu untuk mengatasinya atau menempatkan masalah itu sesuai porsinya seperti yang saya biasa lakukan sebelum-sebelumnya.

Saya juga berubah. Orang-orang terdekat yang mengenal saya sebagai sosok periang, percaya diri dan cuek dan sayapun mengidentifikasikan diri sebagai orang yang seperti itu. Pada suatu titik, saya merasa bahwa saya harus benar-benar berusaha untuk terlihat periang, percaya diri dan cuek dalam keseharian saya. Karena capek, saya menghabiskan banyak waktu sendiri dan pada saat yang sama, merasa hancur berantakan karena saya tidak merasa kuat.

Akhirnya saya menyerah dan mencari bantuan professional. Saya diberi obat. Saya rajin minum obat. Pikiran-pikiran tidak jelas untuk berhenti hidup jadi jarang muncul. Saya merasa lebih baik. Agak beresan.

Demikianpun, pikiran buruk itu masih muncul sesekali. Dan pemicunya kadang-kadang hal terkecil yang tidak masuk akal. Dan saya juga tidak berani untuk menceritakan ini kepada orang lain kala terjadi, saking sepelenya. Menyadari persis, bahwa kemungkinan besar orang tidak mengerti saya ini kenapa.

Kadang, dengan ditinggal tidur saja keesokan harinya semua baik-baik saja. Menjauhkan diri dari media sosial, mematikan HP dan memutus sambungan internet sebisa mungkin juga salah satu solusi untuk saya. Saat ini, saya sudah mematikan salah satu media sosial karena setiap saya buka dan scrolling, saya merasa sangat tertekan dan tidak nyaman dengan isinya. Yang masih ada, saya pergunakan dengan hati-hati dan kewaspadaan dalam pikiran saya. Ketika sudah menjadi tidak menyamankan, stay away from it.

Lebay? Ya terserah kalau mau dibilang begitu. Yang jelas, saya mau mengusahakan semaksimal mungkin untuk tetap hidup. Bagian saya adalah mengusahakan semaksimal mungkin untuk menjaga diri saya dari situasi-situasi yang saya tahu bisa menimbulkan masalah.

….

Beberapa hari lalu Twitter heboh dengan pembicaraan orang dengan tendensi suicidal yang diserang kecemasan dan melukai diri sendiri karena membaca sebuah twit yang kebetulan mengandung kalimat “… kenapa gak pada mati aja sih?”

Sialnya, saya mengerti argumen kedua belah pihak, baik yang mengucapkan dan yang terdampak dan menyadari bahwa tidak ada solusi jelas dalam masalah ini.

Di satu sisi, media sosial merupakan ranah umum dan semua orang memiliki hak yang sama untuk mengekspresikan diri mereka sendiri. Ada batasan tak-kasat-mata yang sulit untuk diperjelas, yang dianggap kelewatan di ranah media sosial itu seperti apa bentuknya karena akan kembali ke argumen “ya terserah gue dong. Account gue ini.” Orang-orang yang tidak sanggup untuk menanggapi linimasanya sesuai dengan proporsi yang semestinya selalu disarankan untuk klik unfollow, unfriend, mute, atau uninstall sekalian. Cari pengganti porsi sosial media dengan hal lain yang lebih “aman”. Kenyataannya, tidak ada yang bisa mengatur siapa bicara apa dan bersikap bagaimana. Toh, belum tentu juga orang dibalik layar itu sama dengan avatar dan gambar profilnya.

Di sisi lain, saya juga menyadari persis bahwa tendensi-tendensi suicidal ini kadang TIDAK MASUK AKAL. Berkaca dari pengalaman pribadi saya, hal yang tidak ada hubungannya dengan saya saja bisa menjadi pemicu. Hanya butuh kata-kata yang salah di waktu yang salah untuk membuat seseorang bertendensi demikian untuk hancur berantakan terporak poranda. Mau sehati-hati apapun, sebijak dan sebenar apapun niat,tindakan dan perkataan orang, tetap bisa menjadi pemicu masalah bagi orang-orang tertentu… there will never be enough precaution taken and you will never be politically correct enough to prevent this from ever happening. Apalagi kata-kata seperti “mati aja lah” – saya sendiri sangat bisa mengerti bagaimana kata itu bisa mengguncang mental dan emosi seseorang walaupun diucapkan dengan nada bercanda.

Saya sempat membaca twit seseorang yang mengomentari kasus ini dan bertanya “How can you survive life?”. Walaupun dan spektrum dan pemicunya berbeda, saya sejujurnya kepingin menjawab…

“Dengan susah payah.”

Atas Nama Cinta (Pada Ego)

Turut berbela sungkawa atas sekaratnya jiwa

Para berkerumun tertawa-tawa di sempitnya ruang bahagia yang seharusnya luas tak terbatas

dan turut berduka cita

atas tak berartinya bunga

terganti umpat, benci, caci, maki, bunuh dan lukai benci dan lukai

(FSTVLST, Orang-Orang di Kerumunan)

Kasus pengeroyokan suporter Persija hari ini mengisi headline berita di berbagai surat kabar, baik offline maupun online. Jika ada celetukan ‘Netizen Maha Benar’, maka kali ini ‘Suporter Maha Benar’. Adalah Haringga Sirila yang kali ini menjadi korban pengeroyokan hingga tewas oleh pendukung Persib Bandung, atau yang lebih dikenal dengan Bobotoh. Bukti bahwa perbedaan belum benar-benar diterima secara merata oleh kita, masyarakat Indonesia. Dan memberi makan ego lebih mudah dari pada memberi makan mereka yang benar-benar terlantar dan membutuhkan. Jika semua dilakukan atas nama cinta, kepada siapakah? Pada cinta yang mana? Pada klub bola, atau ego di dalam diri yang merasa sebagai penguasa?

Miris dan sedih adalah reaksi yang melimpah ruah di berbagai media. Ucapan kemarahanpun ditemukan di berbagai komen postingan berita, hingga di akun pribadi sosial media.

Tapi, tahukah kamu apa yang membuat hati lebih miris? Berdasar video yang tersebar, ada puluhan (atau bahkan ratusan, cmmiw) orang di sana, tapi beberapa di antaranya sibuk merekam aksi tidak manusiawi tersebut dengan smartphone ketimbang berusaha beramai-ramai menghentikan. Apakah tak ada lagi rasa iba di hati kita? Bukankah kita masih sama-sama manusia? Kita itu siapa, sampai merasa berhak mengambil hak seseorang untuk hidup? Kita itu siapa, sampai merasa berhak tertawa-tawa dan diam saja melihat kebencian dipertuhankan?

Kita tentu tidak tahu bagaimana kondisi sebenarnya di sana, tapi apapun alasannya, pengeroyokan bukanlah merupakan kebebasan yang boleh dilakukan oleh siapapun. Kita perlu ingat, ada keluarga yang menangis kehilangan. Semoga peristiwa ini menjadi pelajaran untuk siapa saja, bahwa tidak perlu berlomba-lomba membuktikan siapa yang paling berkuasa. Bahwa kita tidak perlu berlomba-lomba siapa yang lebih dulu mengupload di sosial media dan membiarkan kekejaman merajalela di depan mata. Ini nyawa, bukan bahan untuk bercanda.

Semoga peristiwa ini membuat kita sadar dan mulai peka, bukan buta pada sekitar.

Semoga kita tidak buta pada apa yang kita bela, karena

Bagaimana jika satu yang terbela selalu, ternyata bukan satu yang ternyata juga belamu? (FSTVLST- Satu Terbela Selalu)

Lebih baik kita beramai-ramai dalam damai, daripada beramai-ramai dalam benci. Lebih baik kita melerai, daripada bersorak-sorai. Damailah dalam beda, Indonesiaku!

Path, Aplikasi Curhat, dan Generasi Bertopeng

SAAT menulis ini Sabtu siang kemarin, saya masih belum memutuskan kafe mana yang akan didatangi untuk memanfaatkan jaringan internetnya mengunduh semua data dari akun Path. Tidak menyangka, dari hanya 4.238 moments sepanjang menggunakan media sosial yang pernah disebut Mas Roy sebagai Aplikasi Pamer Anak, Tempat, Hidangan itu, totalnya mencapai 1,4 GB!

Path moment.

Moment pertama.

Sejak awal, saya adalah pengguna Path dengan intensitas relatif rendah. Kadangkala bisa bawel dan membagi banyak hal dalam kurang dari 24 jam, tetapi ada lebih banyak hari tanpa satu moment pun. Toh jumlah teman yang terhubung melalui Path juga kurang dari seratus orang. Sampai sekarang.

Boleh dibilang itulah daya tarik Path. Ketika kita mulai terbiasa dengan keterbukaan dan ekspose personal yang membabi buta lewat media sosial, Path hadir dengan pembatasan dan keterbatasan. Justru itu, Path menjadi semacam wadah digital baru tanpa perlu risau soal reputasi, nama baik, citra, dan tanggapan orang-orang yang kita kira kita kenal.

Path moment.

Sebuah moment.

Pembatasan dalam Path membuat penggunanya kembali nyaman untuk jujur dan apa adanya. Demi menjaga perasaan orang lain, ulasan dan komentar di Twitter atau Facebook cenderung berupa pujian dan terkesan sangat baik. Sedangkan di Path, kita mungkin menemukan pendapat yang berbeda serta alasan-alasannya. Untuk konsumsi pribadi, tentu saja.

Pada dasarnya, manusia sangat senang bila mendapatkan perhatian. Sebab dengan itu pula, manusia tersebut bisa merasa signifikan, penting, didengar dan diikuti, serta dipenuhi keinginannya. Kehadiran beraneka platform media sosial melimpahi manusia-manusia modern dengan ilusi perhatian. Awalnya, mereka menikmati itu. Followers diterjemahkan secara harfiah, sehingga jumlah pengikut menjadi label yang membanggakan diri sendiri. Di sisi lain, mereka pun merasakan sindrom selebritas, beranggapan bahwa para followers tadi memang sebegitu gandrungnya dengan semua yang mereka unggah-bagi.

Para warganet yang telah jenuh dengan kebisingan media sosial, bisa beralih ke Path untuk pengalaman berbeda. Idealnya begitu. Hingga kemudian memunculkan para pengguna ikut-ikutan yang asal mengirimkan permintaan pertemanan, dan membagi konten yang sama untuk semua akun media sosial yang dimilikinya.

Path moment.

Sebuah moment lainnya.

Semenjak kabar penutupan Path beredar, banyak orang—setidaknya kontak di Path saya—yang berkesah bahwa mereka akan kehilangan tempat untuk berkeluh dan menumpahkan unek-unek tanpa khawatir menyinggung orang lain. Bagaimanapun kondisinya, mereka selalu merasa perlu menyampaikan segala yang ingin mereka sampaikan. Entah itu pemikiran atau isi hati.

One of the main reasons why we vent is to reduce our stress levels. Rime (2009) states that disclosing stress is a coping mechanism.

The Psychology of Venting

Akun anonim mengemuka sebagai salah satu alternatif. Terutama di Twitter, berupa akun-akun alter ego non-prostitusi*. Namun, dengan catatan akan lebih baik jika si empunya akun mengunci lini masa mereka. Lantaran fitur pencarian spesifik dan niche tetap menyasar akun-akun publik, cukup dengan kata kunci yang sesuai.

Sementara di Path, terdapat berlapis-lapis pelokalisasian. Moments hanya bisa dilihat oleh teman. Fitur pencariannya pun tak semulus Twitter atau pun Facebook. Selain itu ada pula Inner Circle, dan pengaturan privasi di tiap moments. Kebebasan dan kenyamanannya jelas berbeda. Dalam hal ini, Path bernasib sama dengan beberapa aplikasi curhat yang telah menghilang lebih dahulu. Misalnya Ooh! dan Secret yang sudah tidak tersedia, serta Legatalk yang mentok sampai halaman signup.

Bagi mereka yang terbiasa bebas bicara, dengan demikian mau tidak mau harus memilih antara mengorbankan rasa nyaman demi norma sosial, mulai belajar menggunakan topeng sosial dan membiasakan diri berada di baliknya, atau bersikap persetan.

Btw, terima kasih Path.

[]

Bacaan lainnya terkait anonimitas saat berinternet:
Why Do People Seek Anonymity on the Internet? Informing Policy and Design
Verbal Venting in the Social Web: Effects of Anonymity and Group Norms on Aggressive Language Use in Online Comments

Jadilah Pendukung Yang Biasa-Biasa Saja (2)

Saya dulu adalah penggemar Persib. Ketika mempunyai kesempatan untuk menonton pasti saya sempatkan. Stadion Siliwangi dulu adalah stadion satu-satunya jika Persib bertindak sebagai tuan rumah. Belum ada Stadion Jalak Harupat atau yang terbaru Stadion Gelora Bandung Lautan Api atau lebih dikenal dengan GBLA. Belum sempat menonton di GBLA. Entah karena kehabisan tiket atau waktunya tidak ada.

Hari Minggu kemarin adalah hari yang kelabu bagi persepakbolaan Indonesia. Telah kita ketahui bersama kalau ada suporter Persija menjadi korban penganiayaan oleh suporter Persib. Kejadian yang berlangsung dua jam sebelum Persib lawan Persija bertanding ini lagi-lagi mencoreng muka sepakbola Indonesia. Semua orang menyayangkan kenapa ini terjadi. Kemenangan Persib atas Persija pun yang dirasa manis sebelumnya menjadi pahit. Menjadi tak bermakna. Rasanya kalau boleh memilih, saya lebih memilih kalah asalalkan Haringga Sirla tetap hidup dan menonton bola dengan nyaman.

Hukuman apa yang pantas untuk klub Persib? Pertandingan tanpa penonton? Sudah pernah. Pembekuan liga? Sudah pernah juga. Pertandingan digelar di tempat netral? Sudah pernah juga. Saya serahkan ini kepada ahlinya saja. Saya tidak mempunyai jawaban. Selama itu bisa mengurangi korban jiwa di pertandingan selanjutnya maka akan saya dukung.

Tragedi Heysel yang melibatkan 39 korban jiwa dan ratusan luka di kubu suporter Liverpool dan Juventus pada tahun 1985. Akibatnya klub dari Inggris dilarang untuk tampil di ajang kompetisi Eropa selama lima tahun dan tiga tahun tambahan untuk klub Liverpool, padahal klub Inggris sedang jaya-jayanya pada saat itu. Salah satu musuh bebuyutan Liverpool di Liga Inggris adalah Manchester United. Jika kedua tim sedang bertanding maka dijamin tensi akan memanas. Di luar dan di dalam lapangan.

Tetapi ada kejadian lucu yang terjadi. Gary Neville adalah mantan pemain Liverpool sementara Jamie Carragher adalah mantan pemain Liverpool. Keduanya mempunyai posisi yang sama, yaitu bek atau pemain bertahan. Pernah juga memperkuat timnas Inggris. Keduanya adalah pundit dan mempunyai acara TV di Sky Sport. Di salah satu acaranya mereka bertarung untuk adu penalti dan yang kalah harus mengenakan jersey dari tim yang menang.  Jamie memenangi adu penalti, yang artinya Gary harus mengenakan jersey Liverpool. Haram hukumnya seorang penggemar sejati Manchester United untuk mengenakan sesuatu yang berbau Liverpool dan begitu juga sebaliknya. Bisa diliat di bawah videonya.

Saya sekarang jadi membayangkan bagaimana jika Kang Ridwan Kamil dan Pak Anies Baswedan hadir dalam salah satu talk show di TV, Kang Ridwan mengenakan jersey Persija dan Pak Anies mengenakan jersey Persib. Saya kira ini patut dipikirkan. Untuk meredakan tensi. Sebagai pengingat bahwa sepakbola hanyalah hiburan. Bahwa fanatisme berlebihan itu tidak pernah membawa manfaat. Dalam hal apapun.

Tontonan Gratis di Masa Kampanye

Masa yang dinantikan dan mungkin dikhawatirkan oleh banyak orang dalam hitungan hari akan tiba. Masa kampanye pemilihan Presiden akan dimulai 23 September 2018. Bisa dipastikan, media sosial akan ramai. Setiap hari bisa ada 2 sampai 3 berita atau bahan perbincangan baru. Seru? Pastinya.
Gue menyambut dengan gembira masa kampanye karena bisa dipastikan banyak akun yang akan bersuara dan berpendapat. Gue termasuk orang yang suka mendengarkan pendapat orang. Tak berhenti di situ, kalau ada pertentangan, maka setiap kubu akan mencari pembenarannya masing-masing. Ada yang rasional lengkap dengan data, banyak pula yang mengandalkan perasaan. Apa pun, sah aja karena menjadi tontonan yang tak hanya menghibur tapi juga memberi ilmu. Di masa ini pula banyak berita atau meme hoax yang bertebaran di berbagai penjuru group chat. Lengkap dengan imbuhan-imbuhan yang mendukung atau mencela. “Orang Gila” sepertinya akan menjadi umpatan terhalus, sampai taraf terkasar. Gue suka juga membacanya. Karena bisa membuka sisi lain seseorang yang mungkin selama ini belum gue lihat. Sangat menghibur seperti menonton orang tawuran dari menara gading. Menjadi yang pertama, bisa dibilang adalah hasrat terbesar manusia. Di masa kampanye ini akan kita temui banyak manusia yang ingin jadi yang pertama menyebarkan berita. Semacam ada perasaan bangga di jempolnya, saat dia bisa jadi yang pertama menyebarkan berita. Sumbernya dari mana, benar atau tidak, relevan atau tidak, tak masalah. Yang penting share duluan! Ini tontonan seru, apalagi kalau pelaku mendapat perlawanan dari member group yang lain. Pendukung kedua calon Presiden pun dipastikan akan menyadikan pertunjukkan yang spektakuler. Lebih spekta ketimbang kembang api di Asian Games 2018. Beragam bentuk kreativitas akan muncul ke permukaan. Teman-teman ilustrator pasti banyak yang sudah mempersiapkan aneka bentuk ekspresi mendukung capresnya. Nantikan di feed Instagram terdekat di jempol Anda. Kalau suka, jangan segan-segan untuk melike atau bahkan ikut menyebarkannya. Belum lagi timses dan kaum intelek seperti RoySayur yang akan menyampaikan pendapatnya atau sanggahannya secara gratis dalam bentuk cuitan, sindiran atau tulisan. Kapan lagi coba bisa membaca pikiran orang intelek? Karena bisa jadi sesudah masa kampanye mereka akan mulai sibuk jadi staff ahli Presiden baru nanti. Yang penting, selama masa kampanye, kita, penonton, sudah bisa mendapatkan pengetahuan tambahan.
Aneka hidangan tarian, nyanyian, bahkan puisi akan banyak muncul di masa kampanye. Di sinilah kita bisa menonton kreativitas tanpa batas yang  tak jarang bisa mengocok perut dan logika kita. Walau tak menutup kemungkinan sajian yang menyeramkan seolah mengancam kehidupan bernegara kita. Tak perlu dianggap serius, anggaplah tontonan horor. Banjir salah penulisan kata dalam bahasa Indonesia, bisa dipastikan juga akan membanjiri linimasa media sosial kita. Kata “silahkan” sepertinya jadi kata yang paling sering digunakan. Kalau iseng, silakan koreksi. Reaksi yang diberikan karena dikoreksi sering bisa jadi tontonan tersendiri. Tak ingin jadi penonton, ingin berpartisipasi? Silakan saja. Akan ada banyak ajakan untuk bergabung. Bisa dimulai dari lingkungan terdekat menjaga keamanan kompleks selama masa kampanye, sampai masuk ke dalam jajaran dekat dan semakin dekat dengan sumbunya. Perubahan dari penonton yang kemudian menjadi pemain pun akan menjadi tontonan yang seru karena biasanya diiringi dengan perubahan sikap dan cuitan di sosial media. Sebagai penonton, tentunya kita ingin menjadi penonton yang baik. Seperti apa? Ini gue bikin daftarnya dan silakan tambahkan di kolom komen kalau ada yang ketinggalan.
  1. JANGAN SEBARKAN HOAX Biarkan orang lain saja yang menyebarkan. Kita jangan. Biar orang lain yang diomelin dan makan hasil perbuatannya sendiri. Kita jangan. Cara mengetahui berita hoax atau bukan bisa dengan melacak asal berita dimulai, dan kalau tidak yakin kebenarannya, anggap saja hoax!
  2. GAK USAH PAKE URAT Yang namanya politik semua bisa berubah dalam hitungan detik. Dinamis katanya. Makanya kalo membela apa pun dan siapa pun, pastikan dalam taraf wajar. Kenapa? Karena kalo kita mempertontonkan emosi, artinya kita sudah jadi pemain, bukan lagi penonton.
  3. TAK ADA SATU KEBENARAN Apa sih yang bikin semua cerita di dunia ini menarik? Saat tak ada yang absolut benar atau salah. Yang benar ada salahnya, yang salah ada benarnya. Demikian pula dalam masa ini. Yakinlah semua yang tampak benar, sesungguhnya ada celanya. Demikian pula sebaliknya. Menyaksikan orang ngotot membela kebenaran dan dilawan dengan kebenaran yang lain semasa masa kampanye, tentu akan sangat mengasikkan.
  4. PILIHAN BAIK & BENAR Seorang ayah sedang menggendong anaknya yang masih balita, kaos ayah itu bertuliskan: If you have to choose between being kind or being right, choose being kind and you are always be right. OK, mari kita aplikasikan ke masa kampanye ini. Tak ada salahnya untuk disalahkan demi menjaga perdamaian dan kebaikan semua. Kenapa? Satu keributan bisa berakibat perpecahan yang bersifat selamanya. Sementara masa kampanye akan selesai dan Presiden baru akan dilantik. Hidup akan terus berjalan.
  5. SIBUKKAN DIRI Iya bener. Salah satu penyebab perpecahan di media sosial karena terlalu banyak orang menganggur yang hidupnya terlalu menempel dengan media sosial. Tanpa disadari, segala yang dibacanya dianggap kebenaran yang hqq. Padahal? Jadi supaya tak terpeleset, sibukkan diri. Ambil kursus, belajar memasak, meluangkan waktu lebih untuk yang tersayang, mulai berolahraga dan banyak aktivitas lainnya.
Selamat menyambut masa kampanye pemilihan umum Presiden Republik Indonesia 2018.

Ketika Jomlo Ingin Melupakan Mantan

Gue pernah baca artikel dan diaminkan oleh beberapa (sok) ahli mengenai tahapan patah hati dan pulihnya. Kalau nggak salah ingat ada yang 4 tahapan, 7 tahapan, bahkan sampai lebih dari 10. Nggak ngerti lagi deh itu tahapannya bisa-bisa ngalahin proses lamaran orang Batak (cari tahulah sendiri :p).

Patah hati nggak melulu soal pacar. Kali ini gue membicarakan patah hati karena kehilangan pekerjaan dan hubungan ‘romantis’ (tapi bukan affair) di dalamnya.

Sewaktu kita menandatangani perjanjian kerja, itu adalah hari pertama kita menjalin hubungan secara resmi setelah sebelumnya PDKT melalui penyaringan CV, wawancara, tes ini, tes itu, dan lain-lain. Official nih, sudah bisa pamer di medsos kalau kita sudah kerja. Apalagi kalau tempat kerjanya keren kan, yang lebih banyak sofa dan bean bag dari pada meja.

Seiring waktu bekerja, tentunya nggak selalu mulus. Kesal sama atasan, berkutat dengan deadline, makan mulai suka lupa (atau malah terlalu rajin), kopi dan bir bergantian menemani, kehilangan waktu bersosialisasi adalah beberapa contoh pertengkaran dalam berpacaran yang suka bikin mikir untuk break (baca: cuti) atau putus (baca: resign). Tapi kemudian mulai berpikir kalau kita merasa terlalu sayang dan membatalkan pikiran untuk lepas dari pacar. Eh, pekerjaan. Lalu baru baikan, besok sudah berulah lagi. Kesal-kesal sebentar, baikan lagi. Gitu aja terus, tarik ulur kayak tali tambang.

Sampai akhirnya tiba hari di mana kita sudah tidak bisa menoleransi lagi segala kejengkelan akibat pekerjaan. Pilihannya putusin atau diputusin. Apapun yang terjadi, ujung-ujungnya adalah menjadi jomlo. Pengangguran. Status yang pada saat emosi, tampak lebih baik dari pada terus berhadapan dengan bos resek, tapi pada saat sudah terjadi dan ‘waras’ adalah sebuah penyesalan.

Shock! Adalah situasi pertama yang kita rasakan. Biar bagaimanapun stabilnya finansial kita atau punya cadangan pekerjaan lain (freelance misalnya), kehilangan pekerjaan hanya memberi angin segar sesaat. Masa-masa senang hanya ada sesaat meninggalkan pekerjaan/rekan kantor/bos toxic tersebut. Lalu kita mulai linglung karena putus berarti kehilangan. Can’t believe it that I’m unemployed!

Lalu masa-masa susah move on itu datang. Setiap cerita ke orang lain, kita masih saja ngomongin mantan baik dan buruknya. Kita masih belum menghapus grup kantor dan grup rahasia kantor di Whatsapp (biasanya membernya hampir sama, hanya minus si bos), ada email-email nyangkut, beberapa mantan klien masih belum dihapus juga history chat-nya dari Whatsapp, dan mungkin juga urusan handover pekerjaan belum 100% selesai. Kita masih dihubungi sesekali untuk menanyakan masa lalu, minta tolong ini, minta tolong itu. Lha udah putus, tapi masih minta jatah mantan, piye?

Setelah berusaha menyangkal diri dengan situasi dan status baru yang ternyata nggak selamanya menyenangkan (apalagi belum dapat pengganti), mulailah galau-galau nggak jelas. Pikiran-pikiran negatif mulai berduyun-duyun datang. Ketidak-PD-an mulai menghinggapi dan memutuskan untuk menyendiri karena minder ketemu orang lain. Sendiri lebih nyaman tapi tidak menyenangkan. Dalam kesendirian, mulai deh ingat-ingat lagi kesalahan apa yang pernah dibuat sampai bos kesal, lalu menyesali seandainya tidak berbuat ini, tidak berbuat itu, seandainya bisa kembali ke masa itu untuk memperbaiki kesalahan, dan lain-lain. Sibuk sama pikiran negatif sendiri sampai lupa dengan dunia luar yang mungkin nggak semenyeramkan yang dibayangkan.

Sedih berlebih sudah? Selanjutnya rasa marah datang. Menyalahkan siapa saja hanya untuk membuat diri merasa lebih baik. Berhasil? Nggak dong. Marah sama mantan itu sia-sia, apalagi kalau dia mati rasa. Kita sibuk marah-marah, dianya peduli juga nggak tuh. Dia malah senang-senang tanpa mikirin kita. Tapi, pada masa ini juga tanduk setan itu terpasang. Bersyukur atas kesialan yang dialami mantan menjadi mood booster. Ini sih sudah mulai nggak sehat dan usahakan selesai di tahap ini lebih cepat kalau memang nggak bisa menghindari emosi yang satu ini.

Lalu saat amarah mereda atau menghilang, tiba-tiba timbul keinginan untuk ngajak balikan. Jangan bodoh dan gegabah. Apalagi sampai berbaik hati mengerjakan sesuatu yang dihargai saja tidak, boro-boro dinilai dengan uang. Oh, kalo ini pengalaman sih. Sudah putus, masih ngasih kenang-kenangan berupa ide yang membantu usahanya. Terima kasih nggak ada, apalagi bayaran. Hari gini ide itu dibayar kan? 🙂

Sudah merasakan semua di atas? Beberapa usaha untuk mendapatkan kembali ada yang berhasil nggak? Kalau berhasil, selamat ya! Tapi jangan lupa berhati-hati agar nggak mengulang kesalahan yang sama. Lantas kalau nggak berhasil? Ya, selamat datang kembali pikiran buruk karena menyadari memang sudah nggak ada harapan untuk balikan apalagi dapat penggantinya. Terparah sih kalau sampai depresi. Malas melakukan ini itu, gairah menghilang, dan putus asa. Padahal sebenarnya saat sedang sendiri ini, lo bisa mulai memperbaiki diri, menambah value diri, update CV lah minimal.

Semua ada waktunya. Setelah semua badai di atas yang periodenya bisa berbeda-beda pada setiap orang, pada akhirnya kita akan berada dalam satu titik menerima kenyataan pahit itu. Putus bukanlah akhir dari semuanya (klise ya?). Ciri-ciri saat kita sudah mulai menerima kenyataan adalah, kita akan lebih terbuka dengan orang lain. Misalnya sebelumnya kita nggak cerita tentang keadaan kita karena malu, akhirnya kita cuek dan mulai cerita keadaan sesungguhnya, mencari pekerjaan baru, dan membenahi diri lagi. Kita mulai sadar kenapa kita memang harus putus, mungkin mengingat kalau hak-hak pekerja kita selama ini nggak dipenuhi, kita akan mengingat kembali masa-masa suram itu tapi sebagai pengingat kalau kita nggak pantas diperlakukan seperti itu. Kita mulai menghargai diri kita sendiri dan siap mencari pengganti yang lebih baik dan menghargai kita.

Mungkin nggak semua orang pernah mengalami semua tahapan ini, nggak semua orang selemah ini, tapi ini sebagai pengingat masa susah kita. Selamat, kalau di antara kita adalah orang yang gampang move on. Sebarkan positive vibe kita kepada orang-orang di sekitar kita. Hal buruk yang kita alami bukanlah alasan untuk putus asa, karena selalu ada jalan keluar kalau ada kemauan.

Jadi, yang lagi jomlo sudah dapat penggantikah? Semangat berjuang!

Sebuah Tujuan?

SEPERTI yang pernah diceritakan beberapa pekan lalu, tulisan ini dibuat saat berada di Samarinda. Sambil menyeruput kopi, memandangi bukit sebelah, dan berusaha membenahi mood. Untuk kemudian, tanpa sengaja, teringat pernah menulis begini di blog pribadi.

Kapan kamu mau keluar dari comfort zone-mu?

Hah? Apaan?

Entah, lamunan apa yang sedang menguasai pikiranku saat itu. Namun yang pasti, pertanyaan seorang kawan tadi tidak menempel di benak sama sekali, bahkan mungkin hanya berlalu begitu saja. Layaknya anak panah yang ditembakkan menuju pelat baja setebal 5 cm, mentul total.

“Kapan kamu mau keluar dari comfort zone­-mu? Kondisi kamu saat ini. Kenyamanan hidup yang sedang kamu jalani.”

“Memangnya hidupku sudah nyaman? Kamu tahu dari mana?”

Percakapan itu hampir berakhir dengan singkat. Tanpa banyak argumentasi yang biasanya meruncing menjadi sebuah perdebatan, pertanyaan mengenai zona nyaman dalam hidup seseorang menjadi tidak valid untuk dijawab, lantaran sang penanya mendadak sadar bahwa sikap sok tahu kerap tidak menyenangkan.

“Oke kalau gitu, kapan kamu terakhir pergi jauh? Jauh dari sini, jauh dari apa yang selama ini kamu lakukan sehari-hari, pokoknya jauh.”

Ehm… Sudah lama. Banget. Mungkin 2008. Tapi maksudnya gimana ya?”

“Jauh, sampai bisa merasa sangat asing. Bukan keterasingan yang bikin takut, waswas, curiga. Tapi yang bisa bikin kamu terasa makin utuh. Redefining your existence. Kebingungan yang membahagiakan.”

“…” (jujur saja, tak tahu harus dijawab seperti apa)

Dia tersenyum menunggu jawaban, agar durasi pembicaraan terus berjalan. Sementara aku mendadak terdiam, berpikir keras dalam-dalam. Saking kerasnya, hingga seolah merasa tak punya isi tengkorak untuk dipakai berpikir lagi.

“Selama ini kamu ngapain aja?”

“Ya kerja lah. . . ”

“Kamu senang dengan hasil pekerjaanmu?”

Ehm… Iya… Most likely…

Komentar “most likely” tadi seakan menyusun sebuah pertanyaan baru, bukan dari orang lain, melainkan dari diri sendiri, dan untuk kembali dicecarkan kepada diri sendiri. Pertanyaan itu masih menanti untuk dijawab, hingga saat ini.

Kini, kendati telah maju beberapa tahun, pertanyaan-pertanyaan tersebut terdengar tetap/kembali relevan. Tentang zona nyaman, tentang mempertanyakan eksistensi, tentang kepuasan batin, tentang kemampuan menerima, tentang memandang dengan apa adanya. Hanya jawaban dan cara menjawabnya saja yang berbeda. Barangkali.

Berpindah dari Samarinda ke Jakarta (atau dari satu kota ke kota lain), telah menetap dan mengikatkan diri, saya ternyata berhadapan dengan refleksi yang telah diperbarui. Idealnya, kehidupan, tanpa peduli sekeras apa pun deraannya, selalu mampu mengasah kebijaksanaan. Menjadikan seseorang lebih awas dan waspada, terbuka, terlucut dari praduga, lebih biasa-biasa saja, stabil dalam emosi. Kian mampu memberikan tanggapan yang tepat dan tidak berlebihan. Sebab tindakan yang berlebihan itu melelahkan.

Bisa jadi kita hanya beralih dari satu zona nyaman ke zona nyaman lainnya. Mungkin karena merasa jenuh terhadap zona nyaman yang kita huni saat ini; merasa butuh tantangan baru; atau merasa perlu peningkatan dalam hidup. Kita beranjak dari lingkar kenyamanan saat ini, mencari cerukan yang baru. Lalu bersusah payah membuat perubahan, memahat sudut-sudut tajam yang cadas, menghaluskan sisi-sisi dinding yang kasar, memangkas ujung-ujungnya yang mencuat dan menusuk. Sedemikian rupa kita lakukan, agar ceruk itu bersesuaian dengan kita. Pas dan cocok, mirip potongan-potongan puzzle. Di sisi lain, kita pun ikut menyesuaikan diri. Memberi toleransi semaksimal mungkin untuk segala bentuk ketidaknyamanan yang ditemui.

Bukan proses yang gampang, atau pun terjadi dalam waktu yang singkat. Sejak memutuskan untuk beranjak dari zona nyaman awal, mencari dan menakar, melakukan perubahan dan turut menyesuaikan diri, bisa berlangsung setahun, sewindu, belasan-puluhan tahun, atau malah seumur hidup. Oleh karena itu, bersyukurlah jika kamu telah pernah menikmati zona nyaman hingga beberapa waktu lamanya, untuk selanjutnya merasa bosan, dan berkesempatan untuk mencari calon zona nyaman yang baru. Terlebih bila berhasil menikmatinya.

Itu tandanya, kamu “punya tujuan”, dan “punya tujuan” selalu terasa menenangkan. Setitik tenteram dalam kegelisahan. Tahu ada yang ingin dituju, walau sesampainya di sana, justru terasa biasa-biasa saja.

Selebihnya, bagi kamu yang sudah tak membutuhkan tujuan, atau melampaui batas punya/tidak punya tujuan, izinkan saya bersulang pakai secangkir kopi di sini.

Cheers!

[]

Crazy Rich Asian itu Yusaku Maezawa

Baru pagi ini SpaceX, perusahaan roket Elon Musk, mengumumkan Yusaku Maezawa sebagai penumpang pertama yang berani membayar sekitar $60 juta dollar pulang pergi agar bisa mengelilingi bulan. Siapakah Yusaku Maezawa ini sebetulnya? Yusaku adalah milyarder dari Jepang, pemilik Start Today dengan anak perusahaannya Zozotown. Menurut Forbes, Yusaku membunyai kekayaan tiga milyar dollar. Zozotown adalah online mall terbesar di Jepang yang bergerak di bidang fashion. Dia termasuk ke dalam 20 orang terkaya di Jepang.

IMG_20180918_113710_672

Selain itu dia juga pecinta seni. Ketika anda pecinta seni dan kaya raya, maka tindakan selanjutnya adalah menjadi kolektor lukisan. Ini hal yang wajar dan biasa. Ketika Muhammad Bin Salman, pewaris tahta kerajaan Saudi, memiliki koleksi lukisan Yesus dari Leonardo DaVinci, yang merupakan lukisan termahal di dunia, maka Yusaku mempunyai koleksi lukisan Basquiat seharga $110 juta dan lukisan Pablo Picasso seharga $80juta. Kantornya dikelilingi karya dari Andy Warhol dan Isamu Noguchi.

basquiatyusaku

Jika di film Crazy Rich Asians, kita melihat orang yang super kaya, memilih untuk menghindari publisitas. Maka itu tidak terjadi pada Yusaku Maezawa. Yusaku masih mempunyai media sosial, Instagram & Twitter, dan keduanya aktif. Itu pilihan dan tidak ada yang salah apabila anda mempunyai menjadi “high profile atau low profile”. Yusaku mengumumkan melalui Instagram bahwa dia akan pergi ke bulan. Apakah dia sombong? Atau jujur? Tapi bukankan media sosial dibuat untuk itu? Crazy Rich Asians di mata saya itu Yusaku Maezawa. Selain kaya, mereka juga melakukan hal yang tidak biasa. Dan pergi ke bulan dengan $60 juta itu sepertinya biasa saja dibanding dengan membeli lukisan ratusan juta dollar.

Yusaku juga seorang penikmat musik. Dia dulunya juga mempunyai band punk bernama Switch Image. Dia sering menghadiri konser-konser di belahan dunia. Start Today, parent company dari Zozotown, namanya diambil dari judul lagu dari band New York hardcore Gorilla Biscuits. Dia adalah penggemar berat dari band tersebut. Dia juga piawai bermain drum dan pernah ngejam bersama mereka.  Ya wajar kalo kamu kaya raya mau melakukan hal apa saja pasti bisa. Start Today juga maknanya luas. Mirip dengan Just Do It kepunyaan Nike.

Kita sekarang melihat kalo sekarang sudah ada “pergeseran kekayaan”. Menjadi kaya dan orang Asia adalah hal yang biasa. Yang mau saya tekankan di sini adalah janganlah kita rendah diri menghadapi bule. Karena mental inferior ini masih dimiliki bagi sebagian rakyat Indonesia. Kita sekarang sudah mempunyai Nadiem, pemilik Gojek yang baru saja melebarkan sayapnya ke Vietnam, melalui Go-Viet. Kita juga tau Jack Ma, pemilik Alibaba Group, yang sering berkunjung ke Indonesia, adalah orang terkaya di China.

Jadi janganlah minder kalo liat bule. Biasa aja. Yang penting mulai dari hari ini. Start today!

Elang-Elang yang Mengangkasa di Langit Nusantara

p161258_v_v8_ab

Dalam pesawat perjalanan Jakarta-Surabaya, saya membaca koran hari Rabu pagi yang disediakan mbak-mbak pramugari. Jika ndak salah berita di koran itu soal pelantikan dan penempatan Jaksa baru di lingkungan Kejaksaan RI. Kalau ndak salah lagi jumlah Jaksa yang baru dilantik itu ada 49 orang. Lalu saya menghitung dalam hati jumlah propinsi, membayangkan satu propinsi dapat jatah satu. Lalu ada yang kebagian dua. Kemudian saya bertanya lagi. Jika mereka masih baru, apakah iya akan dapat mewarnai lingkungan Kejaksaan. Bukannya justru mereka yang akan banyak memperoleh cobaan dengan “warna dan budaya” Kejaksaan yang saya sendiri ndak begitu paham apa saja rinciannya. Satu orang hadir, menetas dalam kandang dengan ayam jago dewasa dan induk ayam yang sudah malang melintang dalam dunia perayaman. Apakah pitik ayam dapat mengalahkan kokok jago dan cericuit cerewet induk ayam dalam sekawanan tersebut? Akankah pitik ayam akan menjadi korban persekusi, atau setidaknya akan tidak banyak pilihan untuk menjalani kehidupan sesuai apa yang dijalani para senior ayam. Dalam pesawat saya terhenyak. Merenung. Diselingi nonton film lawas Little Miss Sunshine. Kemudian saya mendapat jawabannya, tepat ketika adegan jenazah sang kakek dibalik selimut putih dibawa kabur dari rumah sakit. Saya berpikir sebagai berikut. Apa yang menetas seharusnya bukan pitik ayam. Haram hukumnya jika yang lahir adalah anak ayam. Seharusnya ia adalah tetas telor yang ketika keluar sebagai anak elang. Biarkan selama masih piyik ia dididik oleh induk ayam namun masih memiliki genetik dan memelihara sifat ksatria elang yang terus mengalir dalam dada. Anak elang adalah jaksa-jaksa muda yang berbeda dengan generasi pendahulunya. Menegakkan sistem peradilan hukum pidana dengan penuh digdaya. Perlahan tapi pasti. Lahir tidak langsung membusungkan dada karena dada anak elang tak sekokoh sabetan kuku ayam jago dewasa. Sudah seharusnya semua jaksa yang masih belia dan baru saja dilantik, dengan diawali diambil sumpahnya dan kemudian ditempatkan di seluruh belahan nusantara bertekad  berlaku ideal. Karena Jaksa adalah chef sajian kulinari pidana. Ia mengumpulkan bahan yang telah disodorkan Penyidik sebelumnya untuk kemudian dimasak untuk disajikan di hadapan yang Mulia Majelis Hakim. Soal ini menjadi penting. Ketika sistem politik dapat diputar dalam hitungan lima tahun sekali lewat proses yang disebut demokrasi, maka birokrasi agak jauh berbeda. Hampir mayoritas seluruh pekerja kementerian dan lembaga negara adalah orang karir. Sejak dini menetas, diasuh dan berkembang dewasa dalam lingkungan birokrasi. Perjalanan birokrasi adalah cetak saring sablonan kaos. Jika tidak kreatif maka pada akhirnya hasil cetakannya akan itu-itu saja dari jaman Kakeknya Nick Young datang ke Singapore sampai Bernard Tai insyaf. Peter Thiel bilang soal rekrutmen adalah soal kunci. Sesuatu yang seharusnya tidak diberikan tanggung jawabnya kepada orang lain. Harus dilakukan sendiri oleh para pimpinan pada suatu perusahaan atau kelompok usaha. Perusahaan tidak berisi budaya perusahaan. karena perusahaan itu sendirilah sebuah budaya. Peter mengingatkan bahwa semenjak Paypal dibeli oleh Ebay, justru menjadi titik awal semua punggawa mafia Paypal menjelma menjadi para pionir teknologi. Kuncinya adalah bahwa “bakat dan kepintaran saja tidak cukup, melainkan kepastian bahwa mereka yang tergabung dalam satu gagasan dan usaha bersama senang melakukannya secara bersama-sama, baik di luar maupun di luar urusan kantor.” Peter pernah mengalami dan menyaksikan sendiri saat sama-sama mengurus urusan perusahaannnya bagaimana kehidupan para pekerja firma hukum yang hanya berinteraksi di dalam kantor dan kemudia jarang sekali bersentuhan di luar jam kerja selain bicara urusan kerjaan. Ini sesuatu yang meruntuhkan, merugikan bahkan tidak rasional. Buang-buang waktu. Alasan bahwa kehidupan profesional harus menyisihkan urusan perasaan dan keriaan sementara maka itu semua omong kosong. Ketika Thiel merekrut pegawai baru, yang ia tawarkan adalah sebuah gagasan bersama yang akan dilakukan perusahaan sebagai sesuatu yang unik. Singkatnya calon pekerja akan ditawari pekerjaan yang tidak akan dilakukan di perusahaan lain karena memang perusahaan tempat nantinya ia bekerja kelak adalah satu-satunya yang akan melakukan “suatu hal” tersebut. Dan syarat yang diminta oleh Peter adalah calon pekerja menyukai bekerja bersama. Titik. Proses kimiawi yang seharusnya sudah kelihatan cocok-tidaknya dalam lingkungan bersama.  Ini sejatinya sesuatu yang menarik dan bisa dilekatkan dalam isu yang dikemukakan di awal. Jaksa. Sebuah pekerjaan khusus yang tidak mungkin dilakukan oleh pihak lain di negeri ini. Apakah ada profesi lain yang melakukan tuntutan dan membacakan dakwaan kepada terdakwa di pengadilan selain Jaksa?  Maka sebuah kelangkaan profesi yang bahkan dijamin undang-undang inilah yang seharusnya menjadi modal dasar dan pusat kesadaran para Jaksa baru untuk memelihara sikap ksatria. Kemudian bahu-membahu melaksanakan kewajibannya dengan penuh rasa tanggung jawab. Ya, dengan satu syarat, bahwa pimpinan tertinggi anak elang ini adalah elang juga. Sepanjang dia masih ayam sayur, maka sudah sepatutnya jadi anak buah RoySayur saja.

Salam elang!

Tebak-tebak Buah Manggis si Emmy vol. 3

Ternyata sudah kali ketiga saya menulis tentang prediksi peraih Emmy Awards di linimasa ini. Kalau ini serial televisi, maka tulisan ini adalah tulisan musim penayangan atau season ke-3. Sementara linimasa-nya sendiri sudah masuk ke season ke-5. Tidak terasa ya, waktu cepat berlalu.

Dan yang tidak terasa juga adalah serial-serial televisi yang absen, lalu muncul kembali, atau sudah berhenti penayangannya. Tidak terasa, karena dengan banyaknya konten tayangan di berbagai kanal dan aplikasi, kita tidak sempat lagi menangisi atau merenungi kepergian tayangan serial kesukaan kita. Kenapa? Karena dengan banyaknya pilihan yang ada, kita langsung mengalihkan pilhan kita ke acara atau serial lain. Begitu mudahnya, begitu cepatnya.

Setiap tahun ada banyak serial baru yang diproduksi dan ditayangkan. Lebih banyak serial baru yang masuk daripada serial lama yang berhenti. Kalaupun tidak berhenti, paling tertunda penayangan musim terbarunya. Dan ini membuat kita hidup di era di mana kita sudah tidak sanggup lagi untuk benar-benar bisa catch up mengikuti satu per satu episode serial yang ada. Waktu kita terbatas.

gq-bill-hader

Barry (source: GQ)

Kalau sudah begitu, maka jangan abaikan personal taste atau kesukaan diri sendiri. Tontonlah apa yang kalian rasa perlu untuk ditonton, dan yang juga penting, yang memang kita sukai. Bagi saya, kalau saya sudah terpikat dengan karakter dan dunia mereka dalam serial tersebut, maka susah buat saya untuk berpaling. Meskipun itu harus menunggu lama di antara musim penayangannya.

Demikian pula dengan serial-serial baru yang mungkin dipuji banyak kritikus luar negeri, tapi tidak terasa dekat dengan saya. Terutama setelah ditonton beberapa episode, saya belum bisa menikmatinya juga.

Maka dari itu, jujur saja, dari nominasi perhelatan 70th Primetime Emmy Awards tahun ini, saya belum bisa menikmati penuh “Atlanta” sebagai serial komedi. Demikian pula dengan “Westworld” season ke-2 yang membuat saya sibuk mengernyitkan kening di hampir semua episode, mencoba mencerna apa yang sedang saya tonton. Meskipun masih powerful, tak urung ada beberapa momen di “The Handmaid’s Tale” season ke-2 yang, mau tak mau, menimbulkan pertanyaan di benak saya.

culturewhisper-gianniamericancrime

The Assassination of Gianni Versace: American Crime Story (source: Culture Whisper)

Sementara di sisi lain, saya langsung tertawa terbahak-bahak di episode pertama “Barry” dan “The Marvelous Mrs. Maisel”. Dan ternyata rasa senang itu berlanjut sampai di penghujung masing-masing serial tersebut. Meskipun tidak sebaik “The People vs OJ Simpson”, namun saya masih menikmati “American Crime Story” kali ini, yang terfokus pada cerita pembunuhan desainer Gianni Versace.

Pada akhirnya, pilihan saya di bawah ini adalah murni pilihan personal. Bukan analisa prediksi kuantitatif dan kualitatif, tapi pilihan saya yang memang menyukai apa yang saya tonton dan apa yang saya pilih.

Semoga pilihan kita berbeda, ya. Kalau sama, juga nggak masalah.

Ini dia:

• Best Comedy Series: The Marvelous Mrs. Maisel
• Best Lead Actor, Comedy Series: Bill Hader – Barry
• Best Lead Actress, Comedy Series: Tracee Ellis Ross – Black-ish
• Best Supporting Actor, Comedy Series: Brian Tyree Henry – Atlanta
• Best Supporting Actress, Comedy Series: Betty Gilpin – GLOW

• Best Drama Series: The Americans
• Best Lead Actor, Drama Series: Matthew Rhys – The Americans
• Best Lead Actress, Drama Series: Keri Russell – The Americans
• Best Supporting Actor, Drama Series: David Harbour – Stranger Things
• Best Supporting Actress, Drama Series: Vanessa Kirby – The Crown

• Best Limited Series: The Assassination of Gianni Versace: American Crime Story
• Best Lead Actor, Limited Series or TV Movie: Darren Criss – The Assassination of Gianni Versace: American Crime Story
• Best Lead Actress, Limited Series or TV Movie: Laura Dern – The Tale
• Best Supporting Actor, Limited Series or TV Movie: Edgar Ramirez – The Assassination of Gianni Versace: American Crime Story
• Best Supporting Actress, Limited Series or TV Movie: Judith Light – The Assassination of Gianni Versace: American Crime Story

Berbeda dari biasanya, Emmy Awards tahun ini akan diadakan hari Senin malam waktu Amerika Serikat, atau Selasa pagi waktu Indonesia. Belum ada informasi di mana akan ditayangkan acara ini. Toh kita masih bisa selalu memantau perkembangannya lewat Twitter.

telegraphUK_crown2

The Crown (source: The Telegraph UK)

Selamat menonton!

😉

Berdamai Dengan Penolakan

“Setelah wawancara pertama ini, kami akan menghubungi Anda apabila hasil wawancara Anda memenuhi kriteria untuk posisi tersebut. Mohon tunggu kabar dari kami”, kata pewawancara beberapa bulan lalu setelah kami selesai melakukan wawancara pertama. Gw yang udah  ganti tempat kerja  macam kucing baru beranak (pindah-pindah sampe 7 tempat) udah tahu banget ini mah pasti gw gak keterima, dan benar aja sampe sebulan kemudian ga ada kabar dari perusahaan itu.

sumber: lisa.de

Seakan itu belum cukup untuk membuat hati gw yang lemah dan rapuh ini rusak berkeping-berkeping, gebetan-gebetan pun turut berkongsi dengan pewancara itu untuk ikutan menolak gw. Nih gw rangkum beberapa skenario penolakan sadis dari gebetan-gebetan berdarah dingin itu:

  1. Sorry, kamu terlalu baik buat aku.” (ya kalo gw jahat gw gak bakal jadiin lo gebetan, njir..yang ada lo jadi korban copet gw)
  2. Kamu udah kaya abang aku sendiri.” (ini adalah mimpi buruk bagi semua pejuang asmara sepertinya ya)
  3. Maaf, saya sedang tidak ingin memiliki hubungan dalam waktu dekat” (tapi beberapa bulan kemudian  liat status Facebooknya update “in Relationship”… kan anying)

Gw ga tahu apa yang salah sama hidup gw beberapa tahun terakhir, tapi gw mengalami begitu banyak penolakan. Di dunia kerja udah dua tahun gw cari kerjaan yang gw mau dan ga dapet-dapet,  dalam kisah percintaan pun usaha gebet-menggebet gw selalu berakhir tragis. Gw bahkan berpikir kalo aja gw dapet satu kuntum mawar untuk setiap satu penolakan yang gw terima, sekarang gw pasti sudah punya satu hektar kebun mawar, terus bisa  gw jualin buat kembang tabur dikuburan. Mayan dapet duit.

Tapi begitulah hidup, tidak selamanya manis.

Penolakan beruntun kaya tabrakan lalu lintas ini sempat bikin gw mikir “emang gw sepayah itu ya”, “emang gw seburuk rupa itu ya?”, “mungkin emang gw gak cocok hidup di bumi, apa gw coba pindah ke Mars aja kali ya?”, dan bertumpuk pikiran-pikiran buruk lainnya. Udah stress sama kerjaan, stress pula mikirin hal-hal yang harusnya gak dipikirin begini, gw pun coba-coba cari tahu bagaimana menghadapai penolakan daaaaann taddaa ketemulah gw sama satu artikel (sayangnya gw lupa linknya), intinya artikel itu bilang gini:

Si penolak itu hanya tidak menerima konsep yang kita tawarkan (konsep diri pada saat wawancara kerja, atau konsep percintaan pada saat penggebetan) bukan menolak kita sebagai satu individu utuh. Jadi kita-kita yang ditolak ini tetap manusia yang berkualitas kok, tetap kece buat manusia-manusia lain diluar sana. Kriteria si penolak dan konsep yang  kita tawarkan saja yang tidak sesuai. Lagipula nih, ditolak itu bukan berarti kualitas kita jelek loh, di beberapa kasus kita ditolak justru karena kita melebihi kualifikasi (over qualified) bisa jadi si perusahaan jadi gak berani gaji kita atau si gebetan jadi minder karena kita kece banget.

Jaddiii….buat kamu-kamu yang ditolak..jangan terus bermuram durja. Gak apa kok kalo sedih tapi sebentar aja, gak apa juga kalo mau nangis sesenggukan tapi jangan lama-lama. Lekas ambil kanebo dan lap air matamu itu. Jadikan penolakan itu kesempatan untuk intropeksi diri, apa yang kurang kita poles lagi. Mungkin CV kita kurang kece, ya download aplikasi-aplikasi bikin CV cetar. Mungkin badan kita kurang bagus, rajin-rajin lah olahraga biar badan makin seksi, mungkin muka kita kurang cakep…ya kalo ini sih terima nasib aja ya. He he he..

Intinya Colonel Sanders aja di tolak 1.009 kali sebelum akhirnya bisa bikin ayam KFC terkenal, masa kita baru ditolak beberapa kali udah mau terjun bebas tanpa parasut.

Tetap semangat, masih banyak yang bisa disyukuri dalam hidup kok. 😊

Photo by Fares Hamouche on Unsplash

Ego Feeding nJengking

BARU selesai sepekan lalu, tugas saya sebagai sukarelawan sebuah konferensi independen dan nirlaba. Menjelang akhir acara, ada satu pernyataan menarik.

Memberi makan ego itu memang menyenangkan.

Iya, menyenangkan. Hanya saja, ego kita akan melahap segalanya bak lubang hitam raksasa. Tak cuma hal-hal menyenangkan, termasuk juga semua ketidaknyamanan. Kita cenderung menerima semuanya tanpa kemampuan pilih-pilih. Semuanya terserap, masuk, langsung berdampak pada ego kita, dan kemudian memengaruhi pertimbangan serta tindakan ke depannya.

Apa pun bentuknya; pujian dan sanjungan, formalitas atas prestasi yang kita capai, penganugerahan, nama baik maupun popularitas, pengakuan atas kesuksesan dan perasaan sebagai seseorang yang penting, pengunggulan, sampai pembalasan keadaan, serta banyak lagi lainnya, semua bisa jadi makanan yang nikmat bagi ego kita yang selalu lapar.

Jangan lupa, atas hal-hal yang menyenangkan tersebut ego kita mustahil dibuat kenyang. Setelah dibuat mengembang karena kegembiraan, kita terdorong untuk terus mencari celah-celah keberhasilan yang baru.

Semua yang bikin senang dan menggembirakan, akan membuat ego kita membesar. Sensasinya bisa mencandukan, membuat kita ingin dan ingin lagi merasakan pengalaman yang sama, bahkan lebih. Baik dari lingkupnya, luas cakupannya, objek dan subjeknya, tingkatannya, signifikansinya. Pokoknya, harus ada penambahan dosis. Jika tidak, paling-paling dianggap receh atau beda level. Lebih baik buat orang lain saja.

Misal, pencapaian berjenjang. Awalnya bisa memberi dampak bagi warga kota setempat, ke ibu kota provinsi, ke kota besar pulau lain, ke tingkat nasional atau ibu kota negara, ke tingkat internasional atau ke kota luar negeri.

Sebaliknya, begitu pula ketika ego kita tanpa sadar berhadapan dengan “santapan” yang tidak menyenangkan. Alih-alih membesar, ego kita akan mengecil, menciut, tetapi tak sampai hilang. Ego kita tetap ada, dan tetap siap untuk dibuat mengembang kembali. Dari pengalaman tidak menyenangkan itu, kita terdorong menjauhi dan menghindarinya.

Seperti apa saja? Tinggal dibalik dari beberapa parameter di atas, atau versi negatifnya. Celaan dan hinaan, pengumuman atas ketidakberhasilan, penganugerahan cemooh, nama cemar maupun popularitas negatif, pengakuan atas kekonyolan dan perasaan sebagai seseorang yang kecil, diungguli atau dilangkahi oleh rival, sampai pembalasan gagal.

Emosi yang menjadi kunci. Ego mengembang, rasanya menyenangkan. Ego dikecilkan, rasanya tidak menyenangkan. Untungnya saja, manusia adalah makhluk dengan kemampuan melupakan, atau memulihkan perasaan. Sekadar dipulihkan, bukan sepenuhnya hilang dari ingatan. Itu saja masih lebih baik dibanding tak mampu beranjak dan melepaskan masa lalu. Makanya, setiap kali ada yang terkenang, pengalaman baik akan memunculkan kebanggaan dan keinginan merasakan kembali kegembiraan dari masa lalu; sedangkan pengalaman buruk akan memunculkan penyesalan, kekecewaan, dan aneka cara agar ingatan itu lekas berlalu. Seringkali sampai pakai cara menggoyang-goyangkan kepala, menutup telinga, membuat bunyi-bunyian seolah-olah tidak ingin mendengar sesuatu, padahal berasal dari dalam diri sendiri.

Semenyenangkan apa pun sebuah pengalaman yang ego feeding, atau setidakmenyenangkan apa pun sebuah pengalaman yang mengecilkan hati, pasti akan berlalu jua. Apa pun yang terjadi, ego kita akan/tetap bisa kembali ke ukuran semula.

Ego yang terus-menerus dibesarkan dan membengkak, pasti akan merasa tidak nyaman bila mengalami pengecilan biar hanya sedikit. Ego yang tertekan dan dikecilkan, pasti tetap akan membesar saat kita dapat menyadari bahwa masih mampu bersyukur dan berterima kasih atas hal-hal kecil.

Tidak perlu kejauhan ingin diterimakasihi oleh orang sekota, atau se-Indonesia, cukup bisa menyenangkan perasaan orang tua atau anak saja, kurang lebih, nilainya terkadang jauh lebih besar dari seisi dunia.

Sementara itu, di sisi lain, ego feeding hanya terasa bagi diri sendiri. Pada waktu kita merasa telah menjadi seseorang yang penting, telah melakukan sesuatu yang penting, telah memberi dampak yang penting bagi orang lain, mesti dipastikan kembali kepada orang-orang lain tersebut; apakah kita, dan apa yang telah kita lakukan, memang sebermanfaat atau berdampak sepenting itu bagi mereka?

Jangan sampai mau ditipu ilusi perasaan sendiri.

[]