Atas Nama Cinta (Pada Ego)

Turut berbela sungkawa atas sekaratnya jiwa

Para berkerumun tertawa-tawa di sempitnya ruang bahagia yang seharusnya luas tak terbatas

dan turut berduka cita

atas tak berartinya bunga

terganti umpat, benci, caci, maki, bunuh dan lukai benci dan lukai

(FSTVLST, Orang-Orang di Kerumunan)

Kasus pengeroyokan suporter Persija hari ini mengisi headline berita di berbagai surat kabar, baik offline maupun online. Jika ada celetukan ‘Netizen Maha Benar’, maka kali ini ‘Suporter Maha Benar’. Adalah Haringga Sirila yang kali ini menjadi korban pengeroyokan hingga tewas oleh pendukung Persib Bandung, atau yang lebih dikenal dengan Bobotoh. Bukti bahwa perbedaan belum benar-benar diterima secara merata oleh kita, masyarakat Indonesia. Dan memberi makan ego lebih mudah dari pada memberi makan mereka yang benar-benar terlantar dan membutuhkan. Jika semua dilakukan atas nama cinta, kepada siapakah? Pada cinta yang mana? Pada klub bola, atau ego di dalam diri yang merasa sebagai penguasa?

Miris dan sedih adalah reaksi yang melimpah ruah di berbagai media. Ucapan kemarahanpun ditemukan di berbagai komen postingan berita, hingga di akun pribadi sosial media.

Tapi, tahukah kamu apa yang membuat hati lebih miris? Berdasar video yang tersebar, ada puluhan (atau bahkan ratusan, cmmiw) orang di sana, tapi beberapa di antaranya sibuk merekam aksi tidak manusiawi tersebut dengan smartphone ketimbang berusaha beramai-ramai menghentikan. Apakah tak ada lagi rasa iba di hati kita? Bukankah kita masih sama-sama manusia? Kita itu siapa, sampai merasa berhak mengambil hak seseorang untuk hidup? Kita itu siapa, sampai merasa berhak tertawa-tawa dan diam saja melihat kebencian dipertuhankan?

Kita tentu tidak tahu bagaimana kondisi sebenarnya di sana, tapi apapun alasannya, pengeroyokan bukanlah merupakan kebebasan yang boleh dilakukan oleh siapapun. Kita perlu ingat, ada keluarga yang menangis kehilangan. Semoga peristiwa ini menjadi pelajaran untuk siapa saja, bahwa tidak perlu berlomba-lomba membuktikan siapa yang paling berkuasa. Bahwa kita tidak perlu berlomba-lomba siapa yang lebih dulu mengupload di sosial media dan membiarkan kekejaman merajalela di depan mata. Ini nyawa, bukan bahan untuk bercanda.

Semoga peristiwa ini membuat kita sadar dan mulai peka, bukan buta pada sekitar.

Semoga kita tidak buta pada apa yang kita bela, karena

Bagaimana jika satu yang terbela selalu, ternyata bukan satu yang ternyata juga belamu? (FSTVLST- Satu Terbela Selalu)

Lebih baik kita beramai-ramai dalam damai, daripada beramai-ramai dalam benci. Lebih baik kita melerai, daripada bersorak-sorai. Damailah dalam beda, Indonesiaku!

Advertisements

Leave a Reply