(Tidak) Kepingin Mati

27 Desember 2016.

Tidak lama setelah hari Natal, saya harus kembali bekerja. Saya mulai kerja cukup siang, dan terbiasa untuk bangun agak mepet biar ada waktu bercengkerama dengan bantal, guling dan selimut lebih lama sebelum waktunya untuk bersiap.

Tapi pagi itu saya bangun subuh. Jam 6 pagi. Saya terjaga dengan perasaan aneh.

Saya tidak ingin hidup lagi.

Hanya sebuah pikiran, tapi tidak hanya terlintas tapi bercokol. Awet. Rasa-rasanya kalau waktu itu saya memutuskan melakukan sesuatu, akan saya lakukan juga. Tapi tidak. Saya berusaha untuk kembali tidur dan tidak ambil pusing, tetapi saya tidak bisa kembali tidur sampai saatnya bersiap-siap kerja.

Seharian di kantor saya berusaha menganalisa – sebenarnya ada apa sih sampai tidak kepengen hidup lagi? Hidup saya ini ada masalah apa? Sebagai orang yang terbiasa memisahkan hal-hal dalam hidup dalam kompartemen yang berbeda-beda, saya mengecek ‘kotak-kotak’ itu dan berupaya menemukan akar permasalahan yang mungkin bisa menjadi penyebab pikiran dan perasaan tidak enak itu.

Lah, semuanya baik-baik saja. Tidak ada masalah yang permanen, yang saya anggap begitu mengganggu sampai terbawa alam bawah sadar. Tidak kekurangan, tidak berada dalam kondisi yang mengharuskan saya untuk berjuang, tidak ada hal menyakitkan yang bisa saya gali dalam hidup saya pada masa itu. Saya pun sampai ke konklusi bahwa kalau tidak ada masalah, ya tidak perlu dibesar-besarkan. Mungkin ini hanyalah sebuah fase dalam hidup yang nanti juga akan saya lewati. Ditinggal tidur saja, paling besok juga sudah tidak apa-apa dan hanya akan terasa seperti mimpi buruk. Toh, ada hal-hal yang lebih penting yang perlu saya pikirkan dibanding memikirkan masalah yang bukan masalah…

Tapi saya salah. Walaupun tidak setiap hari, setelah itu pikiran itu berulang kali memunculkan diri di benak saya. Bulan-bulan pertama, hanya menjadi pikiran yang menyebalkan yang kadang-kadang say hello. Saya ini baik-baik saja, dan bahkan situasi hidup lebih enak daripada orang-orang lain yang saya kenal. Kok malah bukannya bersyukur dan menikmati yang ada? Malah lebih dominan merasa kesal karena tidak tahu sebenarnya apa penyebab saya begini.

Bulan-bulan berikutnya, pikiran ini makin sering muncul dan semakin mengganggu. Mulai terpikir cara-cara untuk mewujudkan pemikiran itu. Ketika saya menyadari bahwa kondisi saya tidak membaik, saya mulai agak panik. Takut kalau saya menuruti pikiran ini dan melakukan sesuatu. Dan saya menghubungi seseorang yang menyayangi saya dan meminta dia untuk menghubungi saya tiap beberapa hari sekali. Saya jelaskan apa yang sedang saya alami dan ketakutan saya. Dia mengerti. Setelah mengancam saya untuk tidak melakukan hal-hal bodoh, setelah itu dia rajin mengirim pesan whatsapp beberapa hari sekali, memastikan bahwa saya sehat dan baik-baik saja.

Tetapi kondisi saya tidak juga membaik. Makin parah, malah. Permasalahan dan tekanan yang saya alami sehari-hari dari masa-masa sebelumnya, yang biasanya saya bisa tangani dengan santai dan bahkan tidak dipedulikan karena tidak relevan, sekarang terasa berat, menghimpit dan begitu besar hingga saya tidak lagi mampu untuk mengatasinya atau menempatkan masalah itu sesuai porsinya seperti yang saya biasa lakukan sebelum-sebelumnya.

Saya juga berubah. Orang-orang terdekat yang mengenal saya sebagai sosok periang, percaya diri dan cuek dan sayapun mengidentifikasikan diri sebagai orang yang seperti itu. Pada suatu titik, saya merasa bahwa saya harus benar-benar berusaha untuk terlihat periang, percaya diri dan cuek dalam keseharian saya. Karena capek, saya menghabiskan banyak waktu sendiri dan pada saat yang sama, merasa hancur berantakan karena saya tidak merasa kuat.

Akhirnya saya menyerah dan mencari bantuan professional. Saya diberi obat. Saya rajin minum obat. Pikiran-pikiran tidak jelas untuk berhenti hidup jadi jarang muncul. Saya merasa lebih baik. Agak beresan.

Demikianpun, pikiran buruk itu masih muncul sesekali. Dan pemicunya kadang-kadang hal terkecil yang tidak masuk akal. Dan saya juga tidak berani untuk menceritakan ini kepada orang lain kala terjadi, saking sepelenya. Menyadari persis, bahwa kemungkinan besar orang tidak mengerti saya ini kenapa.

Kadang, dengan ditinggal tidur saja keesokan harinya semua baik-baik saja. Menjauhkan diri dari media sosial, mematikan HP dan memutus sambungan internet sebisa mungkin juga salah satu solusi untuk saya. Saat ini, saya sudah mematikan salah satu media sosial karena setiap saya buka dan scrolling, saya merasa sangat tertekan dan tidak nyaman dengan isinya. Yang masih ada, saya pergunakan dengan hati-hati dan kewaspadaan dalam pikiran saya. Ketika sudah menjadi tidak menyamankan, stay away from it.

Lebay? Ya terserah kalau mau dibilang begitu. Yang jelas, saya mau mengusahakan semaksimal mungkin untuk tetap hidup. Bagian saya adalah mengusahakan semaksimal mungkin untuk menjaga diri saya dari situasi-situasi yang saya tahu bisa menimbulkan masalah.

….

Beberapa hari lalu Twitter heboh dengan pembicaraan orang dengan tendensi suicidal yang diserang kecemasan dan melukai diri sendiri karena membaca sebuah twit yang kebetulan mengandung kalimat “… kenapa gak pada mati aja sih?”

Sialnya, saya mengerti argumen kedua belah pihak, baik yang mengucapkan dan yang terdampak dan menyadari bahwa tidak ada solusi jelas dalam masalah ini.

Di satu sisi, media sosial merupakan ranah umum dan semua orang memiliki hak yang sama untuk mengekspresikan diri mereka sendiri. Ada batasan tak-kasat-mata yang sulit untuk diperjelas, yang dianggap kelewatan di ranah media sosial itu seperti apa bentuknya karena akan kembali ke argumen “ya terserah gue dong. Account gue ini.” Orang-orang yang tidak sanggup untuk menanggapi linimasanya sesuai dengan proporsi yang semestinya selalu disarankan untuk klik unfollow, unfriend, mute, atau uninstall sekalian. Cari pengganti porsi sosial media dengan hal lain yang lebih “aman”. Kenyataannya, tidak ada yang bisa mengatur siapa bicara apa dan bersikap bagaimana. Toh, belum tentu juga orang dibalik layar itu sama dengan avatar dan gambar profilnya.

Di sisi lain, saya juga menyadari persis bahwa tendensi-tendensi suicidal ini kadang TIDAK MASUK AKAL. Berkaca dari pengalaman pribadi saya, hal yang tidak ada hubungannya dengan saya saja bisa menjadi pemicu. Hanya butuh kata-kata yang salah di waktu yang salah untuk membuat seseorang bertendensi demikian untuk hancur berantakan terporak poranda. Mau sehati-hati apapun, sebijak dan sebenar apapun niat,tindakan dan perkataan orang, tetap bisa menjadi pemicu masalah bagi orang-orang tertentu… there will never be enough precaution taken and you will never be politically correct enough to prevent this from ever happening. Apalagi kata-kata seperti “mati aja lah” – saya sendiri sangat bisa mengerti bagaimana kata itu bisa mengguncang mental dan emosi seseorang walaupun diucapkan dengan nada bercanda.

Saya sempat membaca twit seseorang yang mengomentari kasus ini dan bertanya “How can you survive life?”. Walaupun dan spektrum dan pemicunya berbeda, saya sejujurnya kepingin menjawab…

“Dengan susah payah.”

Advertisements

3 thoughts on “(Tidak) Kepingin Mati

Leave a Reply