Path, Aplikasi Curhat, dan Generasi Bertopeng

SAAT menulis ini Sabtu siang kemarin, saya masih belum memutuskan kafe mana yang akan didatangi untuk memanfaatkan jaringan internetnya mengunduh semua data dari akun Path. Tidak menyangka, dari hanya 4.238 moments sepanjang menggunakan media sosial yang pernah disebut Mas Roy sebagai Aplikasi Pamer Anak, Tempat, Hidangan itu, totalnya mencapai 1,4 GB!

Path moment.

Moment pertama.

Sejak awal, saya adalah pengguna Path dengan intensitas relatif rendah. Kadangkala bisa bawel dan membagi banyak hal dalam kurang dari 24 jam, tetapi ada lebih banyak hari tanpa satu moment pun. Toh jumlah teman yang terhubung melalui Path juga kurang dari seratus orang. Sampai sekarang.

Boleh dibilang itulah daya tarik Path. Ketika kita mulai terbiasa dengan keterbukaan dan ekspose personal yang membabi buta lewat media sosial, Path hadir dengan pembatasan dan keterbatasan. Justru itu, Path menjadi semacam wadah digital baru tanpa perlu risau soal reputasi, nama baik, citra, dan tanggapan orang-orang yang kita kira kita kenal.

Path moment.

Sebuah moment.

Pembatasan dalam Path membuat penggunanya kembali nyaman untuk jujur dan apa adanya. Demi menjaga perasaan orang lain, ulasan dan komentar di Twitter atau Facebook cenderung berupa pujian dan terkesan sangat baik. Sedangkan di Path, kita mungkin menemukan pendapat yang berbeda serta alasan-alasannya. Untuk konsumsi pribadi, tentu saja.

Pada dasarnya, manusia sangat senang bila mendapatkan perhatian. Sebab dengan itu pula, manusia tersebut bisa merasa signifikan, penting, didengar dan diikuti, serta dipenuhi keinginannya. Kehadiran beraneka platform media sosial melimpahi manusia-manusia modern dengan ilusi perhatian. Awalnya, mereka menikmati itu. Followers diterjemahkan secara harfiah, sehingga jumlah pengikut menjadi label yang membanggakan diri sendiri. Di sisi lain, mereka pun merasakan sindrom selebritas, beranggapan bahwa para followers tadi memang sebegitu gandrungnya dengan semua yang mereka unggah-bagi.

Para warganet yang telah jenuh dengan kebisingan media sosial, bisa beralih ke Path untuk pengalaman berbeda. Idealnya begitu. Hingga kemudian memunculkan para pengguna ikut-ikutan yang asal mengirimkan permintaan pertemanan, dan membagi konten yang sama untuk semua akun media sosial yang dimilikinya.

Path moment.

Sebuah moment lainnya.

Semenjak kabar penutupan Path beredar, banyak orang—setidaknya kontak di Path saya—yang berkesah bahwa mereka akan kehilangan tempat untuk berkeluh dan menumpahkan unek-unek tanpa khawatir menyinggung orang lain. Bagaimanapun kondisinya, mereka selalu merasa perlu menyampaikan segala yang ingin mereka sampaikan. Entah itu pemikiran atau isi hati.

One of the main reasons why we vent is to reduce our stress levels. Rime (2009) states that disclosing stress is a coping mechanism.

The Psychology of Venting

Akun anonim mengemuka sebagai salah satu alternatif. Terutama di Twitter, berupa akun-akun alter ego non-prostitusi*. Namun, dengan catatan akan lebih baik jika si empunya akun mengunci lini masa mereka. Lantaran fitur pencarian spesifik dan niche tetap menyasar akun-akun publik, cukup dengan kata kunci yang sesuai.

Sementara di Path, terdapat berlapis-lapis pelokalisasian. Moments hanya bisa dilihat oleh teman. Fitur pencariannya pun tak semulus Twitter atau pun Facebook. Selain itu ada pula Inner Circle, dan pengaturan privasi di tiap moments. Kebebasan dan kenyamanannya jelas berbeda. Dalam hal ini, Path bernasib sama dengan beberapa aplikasi curhat yang telah menghilang lebih dahulu. Misalnya Ooh! dan Secret yang sudah tidak tersedia, serta Legatalk yang mentok sampai halaman signup.

Bagi mereka yang terbiasa bebas bicara, dengan demikian mau tidak mau harus memilih antara mengorbankan rasa nyaman demi norma sosial, mulai belajar menggunakan topeng sosial dan membiasakan diri berada di baliknya, atau bersikap persetan.

Btw, terima kasih Path.

[]

Bacaan lainnya terkait anonimitas saat berinternet:
Why Do People Seek Anonymity on the Internet? Informing Policy and Design
Verbal Venting in the Social Web: Effects of Anonymity and Group Norms on Aggressive Language Use in Online Comments

Advertisements

2 thoughts on “Path, Aplikasi Curhat, dan Generasi Bertopeng

Leave a Reply