Sebuah Tujuan?

SEPERTI yang pernah diceritakan beberapa pekan lalu, tulisan ini dibuat saat berada di Samarinda. Sambil menyeruput kopi, memandangi bukit sebelah, dan berusaha membenahi mood. Untuk kemudian, tanpa sengaja, teringat pernah menulis begini di blog pribadi.

Kapan kamu mau keluar dari comfort zone-mu?

Hah? Apaan?

Entah, lamunan apa yang sedang menguasai pikiranku saat itu. Namun yang pasti, pertanyaan seorang kawan tadi tidak menempel di benak sama sekali, bahkan mungkin hanya berlalu begitu saja. Layaknya anak panah yang ditembakkan menuju pelat baja setebal 5 cm, mentul total.

“Kapan kamu mau keluar dari comfort zone­-mu? Kondisi kamu saat ini. Kenyamanan hidup yang sedang kamu jalani.”

“Memangnya hidupku sudah nyaman? Kamu tahu dari mana?”

Percakapan itu hampir berakhir dengan singkat. Tanpa banyak argumentasi yang biasanya meruncing menjadi sebuah perdebatan, pertanyaan mengenai zona nyaman dalam hidup seseorang menjadi tidak valid untuk dijawab, lantaran sang penanya mendadak sadar bahwa sikap sok tahu kerap tidak menyenangkan.

“Oke kalau gitu, kapan kamu terakhir pergi jauh? Jauh dari sini, jauh dari apa yang selama ini kamu lakukan sehari-hari, pokoknya jauh.”

Ehm… Sudah lama. Banget. Mungkin 2008. Tapi maksudnya gimana ya?”

“Jauh, sampai bisa merasa sangat asing. Bukan keterasingan yang bikin takut, waswas, curiga. Tapi yang bisa bikin kamu terasa makin utuh. Redefining your existence. Kebingungan yang membahagiakan.”

“…” (jujur saja, tak tahu harus dijawab seperti apa)

Dia tersenyum menunggu jawaban, agar durasi pembicaraan terus berjalan. Sementara aku mendadak terdiam, berpikir keras dalam-dalam. Saking kerasnya, hingga seolah merasa tak punya isi tengkorak untuk dipakai berpikir lagi.

“Selama ini kamu ngapain aja?”

“Ya kerja lah. . . ”

“Kamu senang dengan hasil pekerjaanmu?”

Ehm… Iya… Most likely…

Komentar “most likely” tadi seakan menyusun sebuah pertanyaan baru, bukan dari orang lain, melainkan dari diri sendiri, dan untuk kembali dicecarkan kepada diri sendiri. Pertanyaan itu masih menanti untuk dijawab, hingga saat ini.

Kini, kendati telah maju beberapa tahun, pertanyaan-pertanyaan tersebut terdengar tetap/kembali relevan. Tentang zona nyaman, tentang mempertanyakan eksistensi, tentang kepuasan batin, tentang kemampuan menerima, tentang memandang dengan apa adanya. Hanya jawaban dan cara menjawabnya saja yang berbeda. Barangkali.

Berpindah dari Samarinda ke Jakarta (atau dari satu kota ke kota lain), telah menetap dan mengikatkan diri, saya ternyata berhadapan dengan refleksi yang telah diperbarui. Idealnya, kehidupan, tanpa peduli sekeras apa pun deraannya, selalu mampu mengasah kebijaksanaan. Menjadikan seseorang lebih awas dan waspada, terbuka, terlucut dari praduga, lebih biasa-biasa saja, stabil dalam emosi. Kian mampu memberikan tanggapan yang tepat dan tidak berlebihan. Sebab tindakan yang berlebihan itu melelahkan.

Bisa jadi kita hanya beralih dari satu zona nyaman ke zona nyaman lainnya. Mungkin karena merasa jenuh terhadap zona nyaman yang kita huni saat ini; merasa butuh tantangan baru; atau merasa perlu peningkatan dalam hidup. Kita beranjak dari lingkar kenyamanan saat ini, mencari cerukan yang baru. Lalu bersusah payah membuat perubahan, memahat sudut-sudut tajam yang cadas, menghaluskan sisi-sisi dinding yang kasar, memangkas ujung-ujungnya yang mencuat dan menusuk. Sedemikian rupa kita lakukan, agar ceruk itu bersesuaian dengan kita. Pas dan cocok, mirip potongan-potongan puzzle. Di sisi lain, kita pun ikut menyesuaikan diri. Memberi toleransi semaksimal mungkin untuk segala bentuk ketidaknyamanan yang ditemui.

Bukan proses yang gampang, atau pun terjadi dalam waktu yang singkat. Sejak memutuskan untuk beranjak dari zona nyaman awal, mencari dan menakar, melakukan perubahan dan turut menyesuaikan diri, bisa berlangsung setahun, sewindu, belasan-puluhan tahun, atau malah seumur hidup. Oleh karena itu, bersyukurlah jika kamu telah pernah menikmati zona nyaman hingga beberapa waktu lamanya, untuk selanjutnya merasa bosan, dan berkesempatan untuk mencari calon zona nyaman yang baru. Terlebih bila berhasil menikmatinya.

Itu tandanya, kamu “punya tujuan”, dan “punya tujuan” selalu terasa menenangkan. Setitik tenteram dalam kegelisahan. Tahu ada yang ingin dituju, walau sesampainya di sana, justru terasa biasa-biasa saja.

Selebihnya, bagi kamu yang sudah tak membutuhkan tujuan, atau melampaui batas punya/tidak punya tujuan, izinkan saya bersulang pakai secangkir kopi di sini.

Cheers!

[]

Advertisements

4 thoughts on “Sebuah Tujuan?

  1. Aku ingat sekali awal aku diterima jadi CPNS sudah ditemani bacaan di sini sekitar 3-4 bulan.
    Makin ke sini menyadari, tampaknya tulisan dan pikiran Mas Gono ttg penerimaan diri, ketidaklekatan, dan memandang apa adanya sangat membantu selama ini dan sangat berkontribusi saat bulan lalu aku dipindahkan ke bagian baru yang tidak pernah aku harapkan sebelumnya, juga paling tidak mungkin buat Agnes di mata orang-orang di kantor.
    Mungkin kalau belum dibekali bacaan di sini, juga mindfullness dari Mas Reza Gunawan, aku masih dalam belenggu “penolakan”.

    Terima kasih banyak Mas Gono, semoga secara tepat wujud syukur diri ini bisa tersampaikan lewat komentar ini. Semoga lain waktu bisa bertemu.

    • Terima kasih sudah berbagi, dan terima kasih sudah membaca tulisan-tulisan Linimasa selama ini.

      Salah satu tantangan terbesar dari menulis soal batin dan seluk beluknya, adalah sikap jujur dan apa adanya. Apa yang saya tulis, sedikit banyaknya adalah yang saya amati dan alami sendiri. Cetek? Mungkin banget. Lebih baik begitu daripada ditinggi-tinggikan sekadar untuk mencari kesan.

      Syukurlah jika bisa memberi perspektif yang dibutuhkan. Semoga selalu mendapatkan yang terbaik, ya.

    • “Utuh” dalam keterkondisian. Ada bagian yg tertambahkan, dan ada juga yg mesti dilepaskan. Masih bisa berubah. Hehe.

Leave a Reply