Karut Marut Media Sosial (2)

Mark Zuckerberg baru-baru ini kebakaran jenggot. Facebook, mesin uang miliknya dituduh memberitakan fake news yang menyebabkan Hillary Clinton kalah dan harus merelakan Donald Trump menjadi Presiden Amerika Serikat ke-45. Menurut survey yang dilakukan oleh PEW, sebanyak 45% dari warga Amerika memilih Facebook sebagai media utama dalam mencari berita. Terbesar di ukuran media sosial. Lucunya banyak situs berita-berita geje yang mendapatkan banyak pembaca. Kalau anda mempunyai Line, ya berita model Line Today itu yang mereka lahap. Ditelan mentah-mentah tanpa dicerna. Bahkan mungkin tidak dibaca beritanya. Langsung share. Untuk lebih mudah, yang dimaksud dengan fake news itu adalah ketika kamu melihat linimasa di Facebook lalu kamu klik satu situs mengenai Jokowi atau MUI maka nanti akan melihat suggested post dengan berita serupa. Tapi masalahnya berita itu tidak bisa dipertanggungjawabkan. Bahkan hanya ada yang sekedar opini, blog. Tapi karena beritanya kontroversial dan memojokkan satu pihak maka berita itu laku apalagi dengan headline yang bombastis. Yamiriplah dengan apa yang dikirim di Whatsapp group. Copas dari grup sebelah. Tolong share dan katakan amin. Semoga kita masuk surga. Oreally?  

November 18, 2016

Facebook beberapa tahun lalu sempat memecat banyak editorialnya dan menggantinya dengan robot yang dibekali algoritma. Sehingga tampilan Facebook terkini yang bisa dinikmati adalah hasil kerja robot. Apakah robot tahu kalau banyak berita yang disetir yang memihak? Tidak. Dengan menggunakan mesin yang dinamakan Crowd Tangle. Maka kita bisa mengetahui situs berita yang paling banyak dibagi, dibaca, paling banyak disukai, atau paling banyak dikomentari di media Facebook. Robot itu tidak tahu keabsahan berita tersebut. Dan para pengguna aktif pun kadang tidak begitu peduli dengan kredibilitas dari satu berita dengan berita yang lainnya. Selama itu isinya bombastis, menyenangkan dirinya, atau mungkin lucu, maka berita itu akan menjadi viral. Coba silakan perhatikan linimasa Facebook anda. Banyak sekali media berita yang saling tangkis dengan media berita lainnya. Apalagi sekarang, warga Facebook di Indonesia terkena pusaran yang sama. Isinya pro- Ahok atau anti-Ahok. Yang berujung pada pro-Jokowi atau anti-Jokowi. Yang tadinya apatis jadi ikut-ikutan. Secara tidak langsung itu sudah memperbanyak trafik dari situs abal-abal. Baik pro atau anti. It’s just like fucking Buzzfeed or 9gag, man. But for politics.    

fakenews4

Tapi sebetulnya bukan Facebook saja yang harus menganggung “kesalahan” ini. Media sosial lainnya seperti Twitter pun sami mawon. Tidak lebih baik. Lebih parah malah. Karena di sini banyak individu yang berbicara. Mereka yang folowernya bejibun padahal isinya gitu-gitu doang. Isinya melulu politik. Saya kadang heran orang kenapa begitu nyamannya membaca ciutan buzzer yang dibayar yang tentu saja isinya pro atau kontra terhadap salah satu calon. Dalam hal ini yang sedang seru sampai tahun depan adalah Pilkada Gubernur Jakarta. Twitter mengakui bahwa mereka kesulitan untuk menangkis isu cyber-bullying di medianya. Dan selama ditemukan penangkalnya maka saling mem-bully di dunia politik ini akan terus terjadi. Tahun depan pun masih akan kita nikmati. Yang mem-bully kembali di-bully. Begitu seterusnya. Gak capek?

Cyber Bullying, word cloud concept 3

Sekarang saya jadi mengerti kenapa orang banyak yang berhenti menggunakan Twitter. Ada yang pindah ke medsos lainnya yang lebih tenang dan tidak menguras energi. Tidak ada gunanya. Tidak ada hal positif yang bisa diambil. Bahkan sampah saja masih bisa didaur ulang.  Satu-satunya jalan adalah unfolow. Atau dilaporkan. Ada koq fiturnya. Kecuali kalau memang kamu kuat iman.

fakenews7

Tuduhan itu bukan tidak beralasan dan Mark Zuckerberg harusnya tahu. Memang banyak situs abal-abal yang memberitakan suatu tema yang keabsahannya dipertanyakan. Bahkan banyak satu situs berita yang hanya digawangi oleh satu orang. Tapi mungkin uang lebih penting buat Mark Zuckerberg. Bahkan ini mungkin berita bagus buat dia. Keuntungan Facebook melalui iklan konon sudah menembus enam milyar dollar sampai catur wulan ke tiga. Begitu pula dengan buzzer politik. Mereka juga melakukan itu sebagai mata pencahariannya. Mereka tidak peduli dengan hasilnya. Walau terkadang itu bisa menjadi bumerang. Karena yang popular di dunia maya belum tentu menjadi pemenang di dunia nyata. Sudah ada buktinya. Perlu saya jabarkan? Tidak kan.

Iklan

5 thoughts on “Karut Marut Media Sosial (2)

  1. Ping-balik: LINIMASAAbu-abu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s