Abu-abu

DI DUNIA yang dibuat serba putih hitam ini, tak ada yang mau menjadi abu-abu. Cuma ada putih, dan hitam. Kalau bukan putih, ya berarti hitam. Hanya itu pilihannya. Tanpa kompromi, tanpa toleransi.

Di dunia yang dibuat serba putih hitam ini, semuanya ingin menjadi putih, atau setidaknya terlihat putih. Putih perlambang yang baik-baik, meskipun belum tentu berupa kebaikan sungguhan, sementara hitam mengisyaratkan segala keburukan. Semua yang putih disanjung puji, sedangkan yang hitam diperolok dan dipinggirkan.

Tidak ada yang mau jadi orang salah, atau yang dipersalahkan. Karena itu, semua orang berusaha mati-matian untuk tidak salah, dan menghindari kesalahan. Pokoknya, jangan sampai salah, jangan sampai ketahuan salah, atau dipersalahkan.

Caranya bermacam-macam. Kalau belum kejadian, dimulai dari bersikap hati-hati, benar-benar memerhatikan semua tindakan dan perbuatan, hingga menghindari melakukan apa pun kecuali terpaksa. Ketika kesalahan telanjur terjadi, ada yang menerima dan mempertanggungjawabkan perbuatannya, namun ada pula yang pura-pura tidak tahu, menolak dipersalahkan, bahkan sampai “buang bodi” melemparkan kesalahan kepada orang lain dan menempatkan diri sebagai korban yang merasa patut dikasihani.

Lebih jauh lagi, mereka menyingkirkan semua yang berbeda, serta memaksakan yang tersisa untuk menjadi sama. Lantaran “benar” dan “salah” muncul dari dan dalam perbedaan, maka mereka hilangkan sejak awal. Pada akhirnya berujung pada satu kesimpulan kasar: “beda = salah; salah = tidak benar; beda = tidak benar.”

Tidak ada juga yang mau jadi orang kalah, atau yang dikalahkan. Karena itu, semua orang berusaha mati-matian untuk tidak kalah, dan menghindari kekalahan. Seringkali bukan karena mengejar tujuan-tujuan di balik kemenangan itu sendiri, melainkan untuk menjaga ego dan harga diri.

Caranya juga bermacam-macam. Dimulai dengan memikirkan dan mempertimbangkan semua hal dengan sangat detail dan hati-hati, menjalankan semua rencana dengan cermat, termasuk mengantisipasi semua kemungkinan dan kekeliruan yang bisa terjadi. Ketika kekalahan telanjur terjadi, ada yang tetap menerimanya dengan rasa bangga dan kehormatan, ada yang menerimanya dengan penyesalan dan kekecewaan terhadap diri sendiri, ada yang tidak sanggup menahan rasa malu tapi sudah tiada daya untuk bersuara, ada pula yang berkeras tidak mau terima dan menyalahkan segalanya. Termasuk mengutuk sang lawan, menuduhnya melakukan kecurangan-kecurangan, dan terus melontarkan banyak alasan.

Sama seperti di atas, mereka juga menyingkirkan semua yang berbeda, serta memaksakan yang tersisa untuk menjadi sama. Lantaran “menang” dan “kalah” muncul sebagai akibat dari perbedaan, maka mereka hilangkan sejak awal. Menang sejak awal. Terhindar dari kekalahan sejak awal.

Kebenaran (merasa benar), dan kemenangan adalah kebaikan (hal yang dianggap baik), sedangkan kesalahan (termasuk perasaan bersalah) dan kekalahan itu merupakan keburukan (hal yang dianggap buruk). Semua orang ingin merasa dianggap baik, atau setidaknya terlihat baik.

Pertanyaannya, jadi siapa yang benar-benar putih dan hitam di sini?


Maafkan kenaifan berikut ini, tapi apa enggak bosan ya terus menerus membaca, merespons, mendengar, menonton, dan membicarakan tentang pertikaian urusan agama melulu setiap hari? Dalam hal ini, tentu bukan tentang ajaran agamanya secara langsung, melainkan hal-hal yang hanya bersinggungan dengan salah satu aspeknya. Mulai dari pilihan agama yang dianut seseorang, nukilan kitab suci, polah tingkah para pemuka massa, aksi unjuk banyak-banyakan pendukung, ilusi superioritas, klaim jumlah dan perhitungan untuk mendapatkan angka yang sebenarnya, merek-merek air minum, roti, stasiun televisi, persidangan perdana, sampai air mata dan sebuah pelukan.

Selalu ada dua pihak terstruktur dalam pertikaian ini, yang mendukung dan yang menolak. Kedua pihak sama-sama merasa benar, sama-sama tidak ingin dianggap salah, dan sama-sama ingin memenangkan pertikaian. Keduanya ingin menjadi yang putih, dengan saling lempar argumen yang tidak ada habis-habisnya. Ambil contoh soal air mata dan pelukan. Pihak yang satu bersimpati, menyatakan kesedihan dan trenyuh. Sedangkan pihak yang satunya malah mencibir, menyebutnya sebagai air mata buaya, dan pelukan yang tidak sepantasnya dilakukan.

Enggak bakal ketemu.

Dua macam argumentasi tersebut berseliweran sepanjang hari, kemarin dan mungkin sampai hari ini, tapi tidak saling amprok-amprokan.

Di kantin, di Twitter, dan di Facebook, kedua pihak mengiyakan, menghinakan, meneruskan informasi yang mereka peroleh kepada rekan sesamanya, lengkap dengan komentar positif maupun negatif, kemudian memperbincangkan atau memperdebatkannya secara verbal maupun lewat kolom komentar. Semua tergantung dari isi informasi yang mereka peroleh di awal, sesuai atau bertentangan dengan pandangan kelompok masing-masing.

Apabila ada tanggapan atau komentar yang berbeda, pilihannya hanyalah meneruskan berdebat, atau langsung menghapusnya, kemudian unfriend, unfollow, dan block yang bersangkutan.

Karena memandang perbedaan sebagai masalah, masing-masing pihak pun memilah sumber-sumber informasi yang bisa langsung tampil di berandanya. Isi artikel atau posting-an yang sudah diseleksi pun tentu yang sesuai dengan pandangan mereka. Selain sumber-sumber tersebut, tentu cukup dengan di-unfollow atau bahkan di-block.

Sekali lagi, kondisi ini terjadi di kedua pihak. Mereka saling menciptakan echo chamber alias ruang gemanya masing-masing. Nyaris mustahil terjadi diskusi yang sungguhan, bukan sekadar adu cacian dan makian.

Tak peduli seberapa akurat artikel berita yang ditampilkan, selalu ada komentar berbeda. Termasuk menuding bahwa media/portal berita tersebut membela satu pihak, dan menyudutkan pihak lainnya. Sampai-sampai dianggap pantas diboikot, dibarengi pelecehan terang-terangan. Begitupun tulisan hari ini, para pembacanya atau orang-orang yang berminat membacanya barangkali didominasi dari satu pihak, dan bukan dari pihak seberangnya.

Contoh lain, tak peduli seberapa tajam dan menarik tulisan-tulisan di Seword, Mojok, Qureta, dan sebagainya untuk mengajak berpikir kritis serta berdiskusi, yang mau membaca dan berkomentar tetap saja orang-orang yang cenderung setuju dengan ide dan pemikiran dalam artikel tersebut. Padahal nama, foto, dan profil penulisnya lengkap terpampang. Sedangkan orang-orang di sisi seberangnya tetap lebih suka membaca/share artikel dari MediaNKRI, MartirNKRI, GarudaNKRI, Bersamadakwah, Dakwahmedia, Nasionalinfo, dan situs-situs anonim sejenis.

Penjelasan teknis terkait ini sudah pernah ditulis Mas Agun beberapa pekan lalu, di sini. Pengguna media sosial cenderung akan disodori konten yang sesuai dengan preferensinya.

Enggak bakal ketemu.

Membosankan lho, sebenarnya, menyaksikan kondisi seperti ini setiap hari. Ketika banyak yang berteriak untuk menyadarkan, atau mengajak orang lain berdiskusi, tapi pada akhirnya suara terpantul dan cuma terdengar untuk diri sendiri. Bebal, dan sia-sia. Oh iya, membosankan dan melelahkan.


Pada sadar, kan, kalau tidak ada yang benar-benar putih atau hitam dalam hal ini. Tidak ada yang sungguhan benar atau salah; yang mengaku benar tetap punya kesalahan, dan yang dipersalahkan ternyata gak gitu-gitu amat. Semuanya abu-abu.

Politik itu abu-abu.
Abu rokok itu abu-abu.
Kehidupan manusia itu abu-abu.

Ketimbang memusingkan tuntutan tak kasatmata untuk menjadi manusia-manusia “putih”, masih banyak hal-hal krusial lain dalam hidup yang lebih penting untuk diseriusi. Misalnya: “bisa makan apa ya hari ini?

[]

Iklan

2 thoughts on “Abu-abu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s