Ungkapkan Saja!

SEPERTI biasanya, niat menulis untuk piket pekan ini kembali diawali dengan pertanyaan: “nulis apa ya buat besok?” kepada para pengasuh lain lewat grup WA.

Pertanyaan di atas berbuah saran tentang beberapa topik dan judul. Salah satunya adalah: “Mengapa Guru Spiritual Rentan Terhadap Godaan Obat Terlarang: Pandangan Saya”. Menarik, tapi kayaknya akan sangat timpang karena tidak didukung data yang valid dan terverifikasi. Di gudang Google pun bahkan nyaris tidak ada informasi yang sesuai terkait hal tersebut.

Sampai akhirnya percakapan pribadi ini terjadi, kemarin malam.

Aku lagi naksir seseorang nih. Suka banget sama dia.

Oh… Terus gimana? Sudah sampai mana?

“Gak gimana-gimana sih.”

“Hah? Maksudnya? Minimal kamu sudah bilang ke dia kalau kamu suka sama dia, belom?

Belum. Tapi pasti ditolak. Aku bukan tipenya. She’s in a different league.”

Tahu dari mana pasti ditolak? Dicoba aja belom.”

Aku gak siap kalau ditolak.

“…”

Jadi gimana dong? Aku galau.

“Sa’karepmu!”

Pembicaraan semacam ini bukan sesuatu yang asing sekarang, ketika kita sama-sama sepakat bahwa akan selalu terjadi pertentangan antara perasaan dan logika dalam diri seseorang. Lebih-lebih jika menyangkut soal asmara.

Sederhananya, perasaan lebih baik diutarakan daripada berlama-lama dipendam. Konsekuensinya hanya dua: diterima, atau ditolak. Sepahit apa pun hasilnya, yang pasti ujungnya sudah jelas. Lega, plong, tuntas, meskipun menyakitkan. Setelah itu, saatnya untuk move on. Sebab masih ada hidup yang terus bergulir.

Gagasan idealnya sih begitu, dan dijadikan nasihat andalan setiap kali ada yang curhat.

Lucunya lagi, kondisi ini juga bisa berbalik. Ada banyak orang yang hanya mampu menjadi penasihat bagi orang lain, namun tidak bagi dirinya sendiri. Saat kena giliran, model galaunya serupa dan dibiarkan berlarut-larut. Enggan untuk menuntaskannya, serta lebih memilih untuk terus penasaran dan gemas geregetan. Tak mau menghadapi kenyataan. Entah ditolak, atau ternyata malah diterima. Buyar semua penjelasan dan alasan logis yang dahulu pernah ditumpahkan kepada temannya saat gelisah.

Kira-kira, kenapa ya lebih suka memendam perasaan ketimbang diutarakan? Mungkin ini alasannya.

Mungkin.

o0o

Takut Kenapa-napa

Dalam hal ini, rasa takut memiliki banyak aspek. Utamanya sih takut ditolak, dan takut pada ketidaknyamanan dan rasa canggung yang bisa muncul setelahnya. Seperti yang kerap terjadi pada pasangan “naksir teman” dalam konteks apa saja. Banyak orang khawatir penolakan tersebut akan berujung pada kerenggangan hubungan yang sudah terjalin selama ini. Di sekolah, kampus, kantor, dan sebagainya. Parahnya lagi, enggak sedikit kasus yang berpengaruh pada produktivitas. Bisa jadi atas dasar itu, maka ada perusahaan yang tidak menyarankan sesama pegawainya berpacaran (apalagi selingkuh).

Rasa takut yang lainnya lebih bersifat situasional. Misalnya, takut diledek teman karena naksir seseorang, takut dimarahi orang tua dan keluarga, takut dibunuh pasangan maupun pasangan yang ditaksir, atau takut diazab tuhan. Jadi, daripada reputasi sampai tubuh hancur binasa, lebih baik tetap memendam rasa. Walau sampai akhir masa.

Ada pula bentuk ketakutan lain yang beda tipis antara visioner dan mengada-ada. Seperti takut si dia akan merasa malu dan pindah kota setelah “ditembak” oleh kita, bisa juga takut tidak bisa terima kalau ternyata si dia punya kepribadian yang buruk dan tidak sesempurna gambaran dalam benak kita selama ini, atau takut jangan-jangan si dia ternyata adalah guru spiritual seseorang. Toh, tidak ada yang mustahil terjadi di dunia ini, termasuk…

o0o

Masokis Asmara

Bagi sebagian orang, hati yang disiksa rindu tak terjangkau, terombang-ambing dalam ketidakjelasan, dan galau gara-gara asmara itu mungkin syahdu, dan mengasyiqkan. Ketimbang terburu-buru mengungkapkan perasaan, tidak ada salahnya untuk menikmati perasaan-perasaan tersebut sedikit lebih lama sebelum hilang.

Ya! Menikmati siksaan asmara berupa rasa penasaran yang agresif, kenangan, dan khayalan tentang “dia lagi ngapain ya sekarang?” Asal bukan…

o0o

Delusional

Ini! Mau mengungkapkan rasa cinta kepada siapa? Lah wong orangnya enggak ada, atau cuma dikenal sebatas foto, tayangan, suara, dan media lainnya.

[]

Advertisements

Iklan Bertagar Seliweran Tak Beraturan

Ronaldinho mantan pemain bola paling bersinar dari Brasil pernah kena getahnya. Kejadian itu tahun 2012, ketika dia kembali ke negara asalnya, Brasil, dan bermain untuk Flamengo, namun karena tidak dia tidak dibayar gajinya dia pindah ke Atletico Mineiro. Ronaldinho adalah bintang iklan Coca-Cola pada saat itu. Sementara Atletico Mineiro disponsori oleh Pepsi. Di saat konferensi pers, Ronaldinho dikelilingi oleh botol-botol Pepsi. Dan bahkan ditengarai tidak sengaja meminum Pepsi. Hal ini diketahui oleh Coca Cola, dan ini membuat mereka marah sehingga mereka memutuskan kontrak saat itu juga. Padahal kontrak berjalan satu tahun. Khilaf?

iklan

Michael Jordan adalah yang menyebabkan sepatu Nike ada Air di belakangnya. Air Jordan. Sekarang yang lagi hype Air Max. Itu pun sebetulnya turunan dari Air Jordan. Di Olimpiade 1998, Michael Jordan bersama Dream Team-nya yang tidak ada lawan sepadan bisa dipastikan dapat emas melalui cabang olah raga basket. Tapi masalah datang. Kontingen basket Amerika Serikat disponsori oleh Reebok. Mereka memaksa kepada semua pemain basket untuk memakai jaket dengan logo Reebok di dada atas. Hampir tidak ada pemaen NBA yang disponsori oleh Reebok pada saat itu. Kebanyakan Nike. Tapi Michael Jordan punya ide brilian. Dia menutupi logo Reebok dengan bendera Amerika yang gantungkan di pundaknya. Reebok kalah. Michael Jordan? Walau sudah pensiun. Sepatu Nike Air Jordan terus diproduksi. Dan tetap laku. Nike kaya begitu pula Michael Jordan. Be like Mike.

iklan4

Di artikel pun begitu. Jika artikel tersebut merupakan pesanan. Maka kasih tahu pembaca bahwa itu adalah tulisan iklan. Itu aturan yang mungkin tidak tertulis. Atau mungkin tertulis. Tapi lebih enak jika kita melakukan sesuatu dengan jujur tanpa maksud mengelabui. Apalagi jika itu berbentuk review. Big Mac di iklan TV terlihat enak kan? Dan besar. Apa aslinya seperti itu? Tidak. Tapi kita tahu itu iklan. Kalo kita tetap mengkonsumsinya berarti kita korban iklan. Atau kepaksa karena Whopper abis. Atau emang doyan aja.

IMG_20160830_013507_410

Apabila kamu penggiat media sosial, pasti sering melihat tulisan bertagar berseliweran. #SaveBlablabla #PrayFroYeyeye itu banyak ditemui di Instagram, Facebook, tapi yang paling heboh adalah Twitter. Di sana ada yang namanya buzzer? Apa itu? Sama seperti yang dilakukan Wayne Rooney. Nge-tweet sesuatu dengan tagar tulisan tertentu dan nanti dibayar. Yang jadi masalah adalah banyak yang terjebak dengan jebakan tagar ini. Kenapa? Karena banyak yang tidak tahu itu kampanye, iklan atau sejenisnya. Mereka biasanya mempunyai follower ribuan. Puluhan ribu. Ratusan ribu. Atau bahkan jutaan. Ini adalah ladang uang buat sebagian orang. Buat Awkarin setidaknya. Ada yang melakukannya dengan gratis. Tanpa paksaan. Kita tidak bisa bilang mereka buzzer ya. Kita tahu bagaimana riuhnya media sosial ketika Pilpres kemaren?  Yang satu menjelekkan Jokowi. Yang satu lagi menjelekkan Prabowo. Tapi tahukah kamu kalau sebagian dari mereka itu bayaran?

Wayne Rooney pada tahun yang sama dengan Ronaldinho juga melakukan iklan melalui akun twitternya. Iklan ini mempromosikan sepatu bola model terbaru dari Nike. ASA, kependekan dari Advertising Standard Agency, sebagai anjing penjaga dari para pengiklan melihat ini dan melarang Wayne Rooney dan beberapa pemain bola lainnya untuk melakukan kampanye melalui media sosial. Nike membela hal ini. Tapi ASA bergeming. Jika ingin beriklan ada aturan yang harus dipenuhi. Contohnya pasanglah tagar #ad, #spon, #ads, atau apapun itu. Intinya yakinkan mereka yang melihat bahwa itu iklan. Jangan mengecoh. Jangan mengelabui.

iklan2

Twitter pun menerima iklan. Instagram juga. TV hidup dari iklan. Facebook iklannya bejibun. Google pun begitu. Kita memang tidak bisa lepas dari iklan. Dari bangun tidur hingga akan tidur lagi. Selalu ada produk yang kita lihat. Coba tengok kamar mandi anda. Saya yakin ada satu produk dari Unilever di sana. Tidak terhindarkan. Namun sayangnya Indonesia tidak mempunyai Advertising Standard Association seperti di Inggris. Atau Federal Trade Commision di Amerika Serikat. Yang bisa melarang Wayne Rooney dkk. untuk beriklan tanpa diikuti dengan #ads, #ad, #spon. Beratkah untuk memberi tahu bahwa tweet-mu itu iklan? Susahkah?  Di TV pun ada aturan. Iklan rokok boleh tayang dari jam 9 malam ke atas kalau tidak salah. Mereka juga punya KPI. Walau aturannya kadang konyol. Di koran pun ada kolom advertorial. Ada iklan baris. Semuanya transparan. Jelas. Mau iklan sehalaman penuh juga gak ada masalah. Ketika sesuatu sudah masuk ke area abu-abu maka agak susah memang. Tapi semua itu adalah pilihan.

02:30

​Polisi ndak berguna. Seperti biasa. Sudah 4 bulan lebih kasus ini belum juga menemukan titik terang. Fahmi terdiam di depan layar komputer. Matanya lincah mencari-cari CCTV di situs Bhineka. Saatnya melindungi diri sendiri. Jangan sampai malapetaka datang untuk keluarganya.

Awalnya keluarga Burhan, masih satu RT sama Fahmi, ditemukan meninggal di rumahnya. Suami-Istri Burhan ditemukan tanpa kepala di satu ranjang. Kepala mereka ada di dapur. Anak perempuan Pak Burhan paling mengenaskan. Badannya terpisah-pisah di empat ruangan. Dua hari kemudian, Cak Pardi, Satpam komplek juga ditemukan terpotong-potong di tikungan dekat gerbang belakang menghadap tembok. Belum juga olah TKP rampung dilaksanakan oleh kepolisian, kejadian serupa menimpa keluarga Hasan. Cuma Mia anak semata wayang Hasan yang selamat karena saat Hasan dan istri dibantai habis, ia sedang berada di rumah neneknya di luar kota. Terakhir, istri Pak Jhonny yang dua hari hilang ditemukan di dalam mobilnya, lagi-lagi termutilasi. 

Desas-desus berhamburan. Makhluk halus, teroris dan alien kena getahnya. Sampai Polisi bisa menangkap pelakunya, apapun akan dipercaya sebagai kebenaran. Polisi ndak mampu menjelaskan kecuali semua kejadian berlangsung antara pukul 02:30 sampai 04:00 dini hari. Meski penjagaan diperketat sejak kejadian pertama, hasilnya percuma. 

Seminggu sudah Fahmi memasang CCTV di penjuru rumahnya. Tiap malam ia putar hasil rekaman CCTV tersebut untuk memastikan ndak ada bahaya yang mengancam. Tapi, entah karena beruntung atau pelakunya tahu ia akan diawasi, rumah Fahmi aman saja. Ndak ada gerak-gerik dari orang yang mencurigakan, makhluk halus atau sosok alien yang terekam. Cuma Fahmi baru sadar kalau ia sering berjalan dalam tidur keluar rumah sekitar pukul 02:30.

Mataku Untukku Matamu Untukmu

Pameran lukisan dan karya seni, sepertinya selamanya akan membuat sebagian orang mengernyitkan dahinya. Seperti perbincangan Mili dan Maura di film Ada Apa dengan Cinta 2 berikut

Mili: Ini tuh apa ya maksudnya? Idenya tuh apa ya Maur?

Maura: Munduran dikit, munduran dikit… Pasti tau apa. Iya, sini. Nah segini nih…

Mili: Gue masih gak paham sih.

Maura: Aduh Mil… Masak gini aja gak tau sih? Ini tuh seni instalasi loh. Seni… Mau dikasih tau berapa kali, juga gak bakalan ngerti.

Leo Tolstoy dalam bukunya What is Art? mengatakan “Seni memang sulit untuk dijelaskan. Apalagi definisi karya seni yang baik, karya seni yang berguna, atau karya seni sebagai persembahan ke Kuil.” Seni pun kemudian masuk ke dalam kotak hitam misteri. Dan kemudian para pencinta seni sering dianggap sebagi makhluk yang lebih tinggi kastanya karena “bisa memahami” makna seni. Seni kemudian dianggap hanya bisa dipahami oleh kaum ningrat, cendekiawan, terpelajar. Dalam perkembangannya, kaum proletar pun kemudian menciptakan karya seninya sendiri. Makanya kita mengenal ada tarian keraton, dan ada tarian rakyat. Musik orkestra dan dangdut. Lukisan kanvas dan mural. Keduanya terus tumbuh dan berkembang sehingga menjadi klasik. Adalah kesalahan besar kalau mengaitkan kata klasik hanya untuk karya seni kalangan atas. Karena klasik sebenarnya lebih berkaitan dengan urusan waktu yang kekal bukan kasta. Soal kualitas bukan derajat. Dangdut adalah karya seni klasik Indonesia. Atau Batik menurut saya lebih cocok disebut karya klasik Indonesia ketimbang tradisional apalagi etnik.

Pertengahan abad 20, lahirlah budaya pop yang dimulai dari generasi muda di Barat. Kemudian mendunia di akhir abad 20. Budaya yang awalnya dikaitkan erat dengan budaya konsumtif, tak terpelajar, sensasional belaka dan superfisial ini terus tumbuh berkembang dan sekarang memiliki anak budayanya sendiri. Walau bagi banyak pihak masih banyak yang tak sudi menganggapnya sebagai budaya apalagi seni. Tapi ternyata tekanan ini malah membuat budaya pop semakin banyak peminat. Seperti letupan kembang api tak berkesudahan, budaya pop datang dan pergi. Pertanyaan “sampai kapan akan bertahan?” tak berlaku bagi budaya pop. Karena memang tidak diciptakan untuk bertahan lama. Tapi masih sulit untuk didefinisikan seperti itu mengingat usianya yang masih terbilang muda. Ada banyak icon budaya pop yang agak-agaknya akan menjadi klasik.

Karena seni yang baik itu sulit didefinisikan, maka sering kita mendengar seni itu subyektif. Tergantung siapa yang melihatnya. Dan karya seni yang populer di dunia sering dituduh sebagai hasil olahan para petinggi dunia untuk kepentingan politis. Karena subyektif, izinkan saya untuk memiliki definisi saya sendiri. Apa yang pertama kali saya lihat ketika melihat sebuah karya seni.

1. IMPRESI PERTAMA

Perasaan apakah yang saya rasakan pertama kali melihatnya. Senang, cemas, gelisah, takut bahkan jijik dan sebagainya. Ini menjadi penentu apakah saya ingin melihat lebih lama dan masuk lebih dalam. Bisa karena obyeknya, warnanya, tarikannya, atau ekspresi yang dihadirkan.

2. PESAN

Banyak yang bilang karena latar belakang saya adalah dunia grafis dan periklanan, pesan menjadi hal yang penting. Padahal tak selamanya karya seni harus memiliki pesan. Saya suka karya yang menyampaikan pemikiran dan pandangan kreatornya dengan jelas. Apalagi kalau pesannya bisa relevan dengan hidup saya saat ini. Pesannya tak harus sejalan, bahkan bisa berseberangan. Tapi melihat karya tanpa pesan, membuat saya jadi merasa hampa saat melihatnya.

3. RELEVAN

Saya suka dengan karya-karya yang tak hanya relevan dengan kehidupan saya pribadi tapi juga dengan kondisi negara dan dunia saat ini. Karya seni masa lalu yang sudah dikategorikan klasik, bisa saya kagumi tapi tak langsung berarti saya sukai.

4. DETAIL

Mungkin karena saya penyuka batik, saya juga suka lukisan yang detailnya mengagumkan. Terkadang ada karya yang hanya karena detailnya bagus, maka saya langsung menyukainya. Bisa jadi karena terbayang dedikasi yang diberikan penciptanya sehingga saya langsung memberikan apresiasi.

Ada dua pameran lukisan yang saya hadiri, Popcon Asia 2016 dan Bazaar Art 2016. Yang Popcon lebih ke budaya pop tadi. Sementara yang BazaarArt lebih ke berbagai aliran dari berbagai galeri di dalam dan luar negeri. Lukisan yang saya sukai selalu saya upload di Instagram, walau tanpa menuliskan alasan. Hanya judul, nama pelukis, tahun dan mediumnya saja. Bukan karena tidak sempat, tapi lebih karena malas. Tapi tidak sekarang. Dengan 4 syarat karya seni yang saya sukai di atas, berikut adalah lukisan yang saya sukai.

1. Pop Will Eat Itself Pop Will Eat Us All  – Indieguerillas | 2008, Acrylic on Canvas, 145 x 200 cm.

2016-08-14 15.10.42

2. Ironman Hulk Buster VS Arjuna – R. Sumantri MS | 2016, Oil on Canvas, 200 x 300 cm.

2016-08-26 20.03.27

3. The Guardian – Andi Wahono | 2008, Acrylic on Canvas, 140 x 180 cm.2016-08-14 15.13.48

Saya menyukai dua lukisan ini karena saya bisa merasakan dan berempati kepada kedua pihak. Yang menyerang dan yang melawan. Seperti kehidupan sehari-hari saya yang sering dipaksa menyeimbangkan antara masa depan dan masa lalu. Kenangan analog dan digital. Barat dan Timur. Tradisi dan Inovasi. Dan benturan-benturan sehari-hari yang saya hadapi di kehidupan saya. Antara keyakinan dan kekhawatiran. Keberanian dan ketakukan. Tekad dan keragu-raguan.

4. Favourite Place: Girl with Blue Dress – Hiroshi Mori | 2015, Acrylic on Canvas, 91 x 91 cm.

2016-08-14 15.20.14

5. A Pot of Male Onsen Named Da Tong – HUA Chien-Chiang | 2015, Acrylic on Canvas, 112 x 145,5 cm.

2016-08-26 20.17.17

Kedua lukisan ini menonjolkan skill dan detail yang luar biasa indahnya. Dalam sekali melihatnya saja bisa membuat saya terpaku lama. Melihat kedua karya ini langsung membuat saya merasakan kerja keras pelukisnya untuk menghasilkan lukisan ini. Waktu dan dedikasi yang dicurahkan. Dan yang terpenting adalah fantasi pelukisnya yang telah dibagikan kepada yang melihatnya. Lukisan seperti ini tak langsung berarti harus dimiliki, tapi bisa melihatnya langsung pun sudah memberikan kebahagiaan selamanya untuk saya.

6. Hi Guys… Tease Me Please – Iroel | 2016, COLOR PENCIL on Canvas, 190 x 250 cm.

2016-08-26 17.03.33

Tak hanya karena detail yang terbuat dari pensil warna di lukisan sebesar ini yang membuat saya kagum, tapi juga karena lukisan ini menyiratkan banyak tanda tanya dan interpretasi. Yang pertama terlintas adalah soal pria bule yang suka berbohong sedang menggoda perempuan Indonesia. Atau soal budaya asing yang dianggap sedang berusaha mengelabui budaya klasik kita. Atau… kalau melihat dari judulnya, jangan-jangan ini soal perempuan kita yang diam-diam kepincut dengan barat walau sudah tahu pembohong. Minta digoda. Tapi tetap dengan posisi anggun karena hipokrit dan jaim.

6. Smile Target – I Nyoman Masriadi | 2014, Acrylic on Canvas, 200 x 150 cm.

2016-08-26 20.38.37

Ini adalah salah satu lukisan yang saya tidak bisa menjelaskan mengapa saya menyukainya. Kalau pun dipaksa kemungkinan besar karena misteri yang dipancarkannya. Saya tidak paham maksudnya tapi sepertinya saya paham. Saya merasa dekat namun juga berjarak dengan obyeknya. Saya bingung apakah saya sedang meledek atau diledek oleh lukisan ini. Apa pun itu, ini adalah salah satu lukisan yang ditaksir bernilai US$ 194,000 – 323,000 oleh rumah pelelangan Sotheby’s.

Saya bukan kolektor lukisan. Saya belum mampu. Karenanya banyak nama-nama pelukis asing yang baru saya ketahui saat menghadiri pameran. Internet memudahkan saya untuk kemudian mencari tahu lebih banyak soal pelukis dan karyanya. Salah satunya adalah Hiroshi Mori yang secara mengejutkan dan menggembirakan membalas tweet pujian yang saya berikan padanya! Tak hanya itu, dia pun kemudian mengfollow akun Twitter saya. Artinya, komunikasi langsung dengannya sedikit terbuka.

Ada banyak keseruan yang bisa didapatkan dari menghadiri pameran lukisan. Dan sepertinya semakin ke sini, pameran lukisan tak lagi asing. Terutamanya bagi para pencinta selfie. Beberapa lukisan dianggap sebagai latar yang baik untuk selfie. Salah? Ah tidak juga. Setidaknya ini bisa menjadi jembatan yang menghubungkan manusia dengan karya seni. Menimbulkan minat bagi generasi terkini. Ini penting untuk terus menerus diupayakan karena karya seni tanpa penikmat adalah mati.

Di saat yang bersamaan, pelukis juga tak lagi diproyeksikan sebagai pemimpi idealis yang jauh dari keduniawian. “We don’t make arts, we make money” sepertinya menjadi semangat kekinian dunia seni. Ini penting. Kalau tidak, siapa yang ingin jadi pelukis, perupa, seniman kalau terlalu diproyeksikan sebagai “orang susah”. Semua bidang perlu regenerasi.

Belakangan ada istilah Artfordable, yang menghadirkan lukisan-lukisan dengan harga yang lebih terjangkau. Untuk para kolektor pemula atau young executives yang tinggal di apartemen di tengah kota. BazaarArt 2016 menghadirkan pojokan menarik yang menawarkan lukisan-lukisan berukuran kecil dari beberapa pelukis yang sudah memiliki nama besar seperti Hendra Hehe. Atau Gudang Gambar yang menghadirkan Wenas Heriyanto. Lukisan-lukisan binatang yang ekspresif ini bisa untuk apartemen berukuran dua kamar sampai rumah di kompleks perumahan. Selain itu juga bisa menjadi bentuk investasi bagi pemula.

2016-08-26 20.19.30

Belum memiliki rumah atau dana untuk berinvestasi lukisan tapi senang dengan karya-karya pelukis? Belakangan semakin banyak yang menjual “wearable art” dengan harga pasaran yang terjangkau. Salah satunya adalah Eko Nugroho yang memang memiliki “distro” bernama Daging Tumbuh. Jauh sebelum namanya mendunia dengan Louis Vuitton.

2016-08-27 10.21.15

Jadi segera kunjungi BazaarArt2016 di Pacific Place. Hari ini, 28 Agustus 2016 adalah hari terakhir. Gratis. Setidaknya, bisa selfie dengan latar karya seni. Tak perlu khawatir menjadi Mili. Semua berhak untuk sok tau soal seni seperti Maura. Karena bukan tak mungkin, bahkan pelukisnya sendiri tak paham akan karyanya sendiri. Kisah nyata dalam sebuah konperensi pers, seorang wartawan bertanya kepada pelukisnya, mengapa kali ini banyak menggunakan warna hitam? Apakah berhubungan dengan misteri? Atau ingin menyampaikan soal kelamnya dunia? Pelukis ini menjawab dengan tenang “istri saya terlalu banyak membeli cat berwarna hitam dan toko tak mau menerima barangnya dikembalikan”. Kisah nyata berikutnya, di sebuah acara Q&A setelah pemutaran perdana. Ada satu bagian di mana kamera menyorot gunung dari telaga dan tak bergerak sama sekali selama lebih dari 30 detik. Semua pun menerka ada alasan filosofis dan mendalam. Sutradara menjawab “karena kalau kamera saya geser ke kiri, ada bangunan yang rusak. Dan kalau saya geser ke kanan ada pohon besar yang baru ditebang”

Processed with VSCO with c1 preset

 

 

 

 

 

 

 

Pelan-Pelan Bermartabat

Ini adalah kali ketiga saya diminta atasan untuk menjadi mentor bagi calon pegawai baru. Mereka biasanya hadir berkelompok antara 10-12 orang. Gelombang anak kinyis-kinyis yang berharap banyak dapat mengubah nasib masing-masing.

Bagi sebuah entitas bisnis, tenaga kerja baru diperlukan untuk menambal sekrup dan perkakas yang telah usang (dibaca: pensiun) atau pindah. Manajemen modern memperkenalkan MT. Management Trainee yang mempersilakan bibit unggul hasil talent scouting maupun hasil membuka lowongan di surat kabar terkemuka untuk mengenal roda bisnis secara keseluruhan. Para fresh from the oven ini diminta untuk belajar mengenai budaya kerja, lini bisnis perusahaan dan disadarkan adanya kesempatan karir yang membentang luas.

Mereka selama setahun tidak diminta bekerja akan tetapi diminta “belajar bekerja”. Setiap dua minggu ditugaskan di unit kerja tertentu secara bergiliran. Tujuannya tentu saja agar mereka benar-benar memahami wahana perusahaan. Apa saja arena bermain yang ditawarkan, dimana toilet, dimana penjual tiket, dimana arung jeram, dimana roller coaster, dan dimana tempat ibadah. 

Sebelum kembali ke institusi asal saya bekerja, di kantor saya saat ini, profit bukan menjadi tujuan utama. Efektivitas kebijakan lebih diutamakan. Juga soal lain yang menjadi fungsi utama lembaga. 

Oleh karena itu, selama menjadi mentor, adalah kesempatan saya menanamkan dogma-dogma pribadi, manifesto sayur, dan paling utama: menyematkan hati dalam setiap aktivitas. 

Beruntung saya bahwa bibit-bibit unggul ini berasal dari kampus yang baik-baik saja. Soal kualitas cukup lumayan. Walaupun desas-desus mengatakan bahwa ada sebagian dari calon pekerja ini adalah titipan orang-orang penting negeri ini, bagi saya itu bukan menjadi soal. 

Secara psikologis, ketika mereka masuk ke dalam loka baru, maka itu adalah kesempatan bagi mereka untuk membuat personal branding kembali. Ketika semua bibit ini dianggap mampu, maka bibit karbitan pun akan berpura-pura untuk mampu, atau setidaknya mati-matian akan mengejar ketinggalan kompetensi dengan yang lainnya.

Nah, disinilah masalahnya. Soal kompetensi masih bisa dikejar. Bagaimana soal integritas? Perlu ada alat ukur yang secara presisi- atau setidaknya ada alat ukur mumpuni yang dapat memperlihatkan karakter dan watak calon pekerja dari sisi integritas. 

Selama ini hal tersebut baru dapat diterka lewat riwayat pekerjaan maupun saat wawancara. Tapi apakah hal tersebut cukup layak dijadikan alat ukur uji integritas? 

Dengan merekrut anak kemarin sore yang baru lulus kuliah maka ada harapan besar integritas anak tersbut dapat ditempa. Kita tidak sedang mencari profesional muda yang sudah gape melakukan ini-itu. Tapi kami menerima anak didik yang diibaratkan sebuah gunung es. Tugas saya adalah mengasah dan mengoptimalkan potensi untuk membuat bagian bawah gunung es muncul ke atas permukaan laut. 

Dalam bekerja logika itu utama, tapi di lembaga publik seperti yang saya tempati saat ini ada hal lebih utama: nurani. 

Anak muda kelahiran diatas 90-an yang saat diajak diskusi selalu gatel ingin membuka hape. Generasi awkarin yang menyukai googling daripada mengunjungi library. Lebih paham kisah Harry Potter daripada Voltaire. Mengenal Kaesang daripada Tommy. Mereka sudah selayaknya tak perlu dituntut untuk selalu manut. Utamakan kompetensi baru loyalitas. Tak usah pandai menjilat dan tunjuk jari ke orang lain. Cukup pandai saja dalam beragumentasi, beropini dengan akal sehat. 

Mengapa saya selalu dipilih jadi mentor? 

Entahlah. Tapi suatu ketika, bertahun-tahun lampau, bos besar bertanya, “apa yang akan kamu lakukan kepada anak-anak ini?”

Saya menjawab: 

“Pelan-pelan saja Pak. Saya hanya ingin mereka menjadi manusia yang bermartabat.”

Linimasa’s The 21st Century’s 65 Most Delightful Films

Kurang paham kalau Anda, yang pasti kalau saya dengar satu orang lagi menyebutkan Shawshank Redemption sebagai film favoritnya sepanjang masa saya akan berlari menjauh sampai Timbuktu. Tidak ada salahnya sih, cuma, apa tidak ada film lain? Antara saya yang memorinya terlalu pendek, atau banyak orang yang masih ingin tetap selalu mengingat kejayaan abad 20, menurut saya banyak sekali film di abad ini yang bagus dan patut menggantikan posisi Shawshank.

Karena itu saya cukup lega kalau daftar film terbaik kini mulai moving on to this century’s films. Termasuk daftar dari BBC Culture ini, yang saya dapat dari post teman saya sesama penggemar film di sebuah socmed. Tetapi begitu melihat daftarnya saya kok, agak kurang setuju ya. Siapakah 117 kritikus film yang diminta untuk ikut polling ini? Apakah syaratnya ikut polling punya selera pretensius dan punya jenggot hipster? Apa maksudnya Spring Breakers masuk ke daftar? Apa maksudnya satu-satunya film Quentin Tarantino yang masuk Inglorious Basterds? Bagaimana dengan Kill Bill? Apa maksudnya The Prestige-nya Christopher Nolan tidak masuk? Apa maksudnya film Wes Anderson masuk tiga biji, sementara Edgar Wright tidak ada satu pun? Beside the obvious choices, yang saya setuju dengan daftar ini hanya kurang dari 25.

Karena itu, demi keadilan dan kekayaan sudut pandang, saya pun melakukan polling terhadap ketujuh penulis linimasa (yours truly included) dan membuat daftar film paling menyenangkan versi kami yang dirilis mulai tahun 2000. Kriterianya? Hati kami senang ketika menontonnya. Subyektif? Sudah pasti. Dari daftar yang diberikan , saya mengurutkan berdasarkan nama muncul lebih dari sekali, selebihnya suka-suka saya saja ya!

  1. Mad Max: Fury Road (George Miller, 2015)
  2. PK (Rajkumar Hirani, 2014)
  3. August: Osage County (John Wells, 2013)
  4. A Single Man (Tom Ford, 2009)

    single_man_6_l

    A beautiful, beautiful film, A Single Man

  5. The Prestige (Christopher Nolan, 2006)
  6. No Country for Old Men (Ethan Coen, Joel Coen, 2007)
  7. Bridge of Spies (Steven Spielberg, 2015)
  8. The Departed (Martin Scorsese, 2006)
  9. Whiplash (Damien Chazelle, 2014)
  10. Kingsman: The Secret Service (Matthew Vaughn, 2014)
  11. I Saw the Devil (Kim Jee-Woon, 2010)
  12. Kill Bill Vol. 1 (Quentin Tarantino, 2003)
  13. Spotlight (Tom McCarthy, 2015)
  14. The Walk (Robert Zemeckis, 2015)
  15. Perfume: The Story of a Murderer (Tom Twyker, 2006)
  16. Syriana (Stephen Gaghan, 2005)
  17. Hero (Zhang Yimou, 2002)
  18. Gravity (Alfonso Cuarón, 2013)
  19. Wall-E (Andrew Stanton, 2008)
  20. Pan’s Labyrinth (Guillermo del Toro, 2006)
  21. Confessions (Tetsuya Nakashima, 2010)

    tumblr_lj3frdpwyj1qcxmr7o1_500

    Captivating!

  22. Apocalypto (Mel Gibson, 2006)
  23. The Hunt (Jagten) (Thomas Vinterberg, 2012)
  24. Amélie (Jean-Pierre Jeunet, 2001)
  25. Snatch (Guy Ritchie, 2000)
  26. The Good Shepherd (Robert De Niro, 2006)
  27. The Little Death (Josh Lawson, 2014)
  28. Begin Again (John Carney, 2013)
  29. Kal Ho Naa Ho (Nikhil Advani, 2003)
  30. Top Five (Chris Rock, 2014)
  31. Love, Actually (Richard Curtis, 2003)
  32. Finding Nemo (Andrew Stanton, Lee Unkrich, 2003)
  33. Dallas Buyers Club (Jean-Marc Vallée, 2013)
  34. The Fall (Tarsem Singh, 2006)

    the-fall-12

    Gorgeous!

  35. There Will be Blood (Paul Thomas Anderson, 2007)
  36. A.I. Artificial Intelligence (Steven Spielberg, 2001)
  37. Elephant (Gus Van Sant, 2003)
  38. A Good Year (Ridley Scott, 2006)
  39. Babel (Alejandro G. Iñárritu, 2006)
  40. Shortbus (John Cameron Mitchell, 2006)
  41. Chef (Jon Favreau, 2014)
  42. Dreamgirls (Bill Condon, 2006)
  43. Bridget Jones’s Diary (Sharon Maguire, 2001)
  44. The Hurt Locker (Kathryn Bigelow, 2008)
  45. Siti (Eddie Cahyono, 2014)
  46. The Weekend (Andrew Haigh, 2011)
  47. Crash (Paul Haggis, 2004)
  48. Big Fish (Tim Burton, 2003)
  49. Her (Spike Jonze, 2013)
  50. Prisoners (Denis Villeneuve, 2013)

    maxresdefault

    Gripping!

  51. The Cabin in the Woods (Drew Goddard, 2012)
  52. Sing Street (John Carney, 2016)
  53. Happy Feet (George Miller, Warren Coleman, 2006)
  54. Enchanted (Kevin Lima, 2007)
  55. Hairspray (Adam Shankman, 2007)
  56. Ada Apa dengan Cinta 2 (Riri Riza, 2016)
  57. Talk to Her (Pedro Almodovar, 2002)
  58. The Reluctant Fundamentalist (Mira Nair, 2012)
  59. The Hundred-Foot Journey (Lasse Hallström, 2014)
  60. Radit dan Jani (Upi Avianto, 2008)
  61. Zootopia (Byron Howard, Rich Moore, Jared Bush, 2016)
  62. Locke (Steve Knight, 2013)
  63. Scott Pilgrim vs. the World (Edgar Wright, 2010)

    bf2e7b2c83baa1929a4ad5eda9bebc9b

    I’m in lesbians with you…

  64. Tangerine (Sean Baker, 2015)
  65. Joy (David O. Russel, 2015)

Kalau Anda ingin melengkapi hingga genap 100, silakan sebutkan di kolom komen! Terima kasih sudah membaca dan semoga daftar ini juga bisa jadi inspirasi tontonan akhir pekan.

Merencanakan Yang Tak Bisa Direncanakan

Akhir pekan lalu, saya menghabiskan beberapa saat dengan Glenn. Pikiran saya sedang kalut. Banyak hal yang membuat saya tidak bisa berpikir jernih.

Untuk sekedar melepaskan beban di benak, saya menghubungi Glenn, sebagai sounding board. Seperti yang kita bisa baca lewat tulisan-tulisannya di Linimasa ini, Glenn orang yang taktis, pragmatis, dan sedikit manis. Faktor-faktor inilah yang membuat saya akhirnya curhat ke Glenn.

Saya datang ke rumahnya. Duduk di sofa, yang seolah sudah jadi kursi pasien psikiater.
Saya mulai berbicara, menceritakan pelbagai masalah yang sedang dihadapi. Masalah-masalah yang dihadapi sekarang, yang semuanya berakar dari kejadian-kejadian di masa lalu, yang semuanya akan menentukan kehidupan di masa depan.

When Harry Met Sally ...

When Harry Met Sally …

Tidak banyak detil yang bisa saya ungkap. Glenn pun merasa gemas. Tapi saya terus bercerita. Tentang rencana-rencana saya untuk beberapa bulan dan tahun ke depan. Tentang kegelisahan saya karena tidak tahu harus membuat rencana apa.

Sampai akhirnya, setelah beberapa saat, Glenn berkata:

“Tau nggak, aku tuh ngerasa, kalau kita kebanyakan bikin rencana, Tuhan tuh malah bisa ngetawain kita.”

“He? Ngetawain gimana?”

“Ya ngetawain. Mungkin Tuhan pikir, sapose elo bok, sok bikin dan ngatur-ngatur rencana. Kan gue juga yang nanti nentuin. Gitu. Udah deh, gak usah terlalu ribet bikin rencana. Elo semua gak pernah tau kejutan apa dari gue. Hahahaha.”

Saya terdiam barang sesaat, sebelum akhirnya ikut terkekeh juga.
Lalu kami berbicara banyak hal. Mulai dari finansial, pekerjaan, sampai ngobrolin tentang Anda semua, para pembaca Linimasa.

Saving Private Ryan

Saving Private Ryan

Saya pamit saat jarum jam sudah berpindah hari.
Dalam perjalanan pulang, di kursi belakang mobil, saya mengingat-ingat lagi beberapa film yang sering saya tonton. Mulai dari When Harry Met Sally …, You’ve Got Mail, Love, Actually, sampai ke film horror seperti Rosemary’s Baby, drama perang layaknya Saving Private Ryan, atau film action macam Speed.

Ternyata ada satu benang merah dari semua film di muka bumi ini.
(Hampir) semuanya bercerita tentang kejutan.
Kejutan ini berasal dari ide cerita paling mendasar yang pernah dikemukakan beberapa ahli analisa film: “what makes a good story is when you put an ordinary man or woman in an extraordinary situation, and you let he or she deal with the situation.

Karakter-karakter di film-film itu (dibuat) tidak tahu akan apa yang mereka hadapi, siapa yang akan mereka temui, dan kejadian apa yang akan mereka alami. Kejutan dalam cerita membuat kita tertarik menonton, mengikuti sampai akhir, kadang diiringi dengan tangisan, jeritan, tawaan, atau reaksi apapun sesuai genre film itu.

Rosemary's Baby

Rosemary’s Baby

Lalu saya berpikir, maybe that’s how life is supposed to be.
Bahwa rencana apapun yang kita buat, pasti akan ada kejutan lain yang kita tak pernah tahu sebelumnya.

Seperti saya pernah tulis di sini, ada yang aneh kalau saya tidak bisa merencanakan harus berbuat apa dan dalam waktu kapan di satu hari. Dari sini akan beruntut, rencana apa yang harus dikerjakan minggu ini, bulan ini, sampai ke tahun ini. Lalu berlanjut lagi sampai ke tahun depan, dua tahun yang akan datang, dan seterusnya. Sebisa mungkin meninggalkan sedikit ruang, atau meminimalisir bagian-bagian yang tak direncanakan.

Padahal, yang namanya kejutan selalu ada di depan. Kita tidak tahu akan ketemu siapa hari ini, akan kena macet atau tidak, atau akan ada kejadian apa bulan depan yang bisa mengubah semua rencana kita.
Saya dan Anda pun tidak tahu, misalnya, apa yang akan terjadi pada Linimasa di ulang tahunnya yang ke-3 tahun depan, yang ke-4 dua tahun lagi, dan seterusnya.

Love, Actually

Love, Actually

Kalau sudah begitu, the best thing is just go with it.
Pasrah pada aturan Tuhan, semesta, atau apapun yang kita yakini.
Pasrah yang tidak sepenuhnya menyerah, karena sambil menjalani bagian yang tidak direncanakan itu, diam-diam kita membuat rencana baru.

Sepandai-pandainya kita mengantisipasi, acap kali kejutan akan datang mengecoh kita.

Mungkin, menanti kejutan akan membuat hidup lebih menarik.

And maybe, life is worth living for again, just to anticipate surprises ahead.

Selamat Ulang Tahun, Linimasa!

 

ANDAI bisa masak, saya mungkin akan bela-belain bangun subuh hari ini untuk bikin sepanci misoa ayam (meskipun lebih enak kalau pakai babi) dengan kuah bawang putih dan jahe. Disajikan bareng “Naga Merah” atau telur rebus dikesumba, dan rawit kecap asin. Minumnya teh hangat tidak terlalu manis, disantap pagi-pagi sekali.

Photo: Van Robin in Flickr

Kenapa? Karena hari ini ulang tahunnya Linimasa!

Menu sederhana yang saya enggak tahu nama resminya sampai sekarang itu, memang jadi hidangan khas setiap kali terjadi kelahiran, peringatan hari lahir, maupun momen-momen membahagiakan lainnya. Tidak cuma mengenyangkan, hangat, lezat dan gurih, serta cocok dihadirkan di setiap perayaan, ada doa dan harapan khusus dalam semangkuk misoa rebus tersebut.

Misoa yang bukan mi biasa, menjadi perlambang panjangnya usia. Setiap helainya utuh tanpa terputus, bertekstur lebih halus ketimbang bihun maupun sohun, cukup fragile dalam kondisi kering, dan sangat lembut ketika sudah dilunakkan. Dengan begitu, setiap seruputan misoa bisa langsung dilahap tanpa perlu menggigit dan memotong, juga tanpa kesulitan mengunyah atau bikin tersedak.

“Naga Merah” atau telur rebus yang cangkang luarnya telah diberi kesumba. Lantaran kata telur memiliki pelafalan yang sama dengan naga dalam dialek Hokcia. Memakan naga, berarti memakan keberuntungan. Paling tidak, beruntung bisa makan yang enak dan bergizi sekali lagi. Di restoran-restoran Chinese Food seantero Indonesia, telur merah ini digantikan dengan lima atau enam butir telur puyuh rebus pada seporsi Mi Ulang Tahun. Bentuknya lebih kecil. Pernah lihat, kan?

Kebetulan banget piket hari ini bertepatan dengan genap 2 tahun usia Linimasa. Blog guyub rukun yang mulai ditangani dengan asas keroyokan nan tertib sejak 24 Agustus 2014, diawali tulisan Ko Glenn soal pengalamannya sebagai seorang pelari, eh, penari.

Setiap hari. Tanpa jeda.

Ehm, kadang sih.

Kecuali kalau ada force majeur se-majeur-majeur-nya.

Kalau diibaratkan gaya pacaran remaja zaman sekarang, dua tahun itu sudah ngapain aja coba? Pasti banyak banget, termasuk soal kepastian untuk berlanjut ke jenjang berikutnya atau tidak. Pastinya, selalu ada yang berubah.

Begitu pula yang terjadi dalam Linimasa. Sedikit banyaknya, selalu ada yang berubah. Apalagi semuanya mengalir begitu saja.

Lucu juga sih kalau dipikir-pikir. Kami berdelapan ternyata bisa betah dan hampir mampu bertahan dengan komitmen dalam waktu yang cukup panjang. Komitmen untuk terus menulis, menyaru kolumnis sambil senyum manis. Ditotal-total, sudah ada 726 published posts. Hampir seribu tulisan, seribu buah pemikiran. Entah mana di antaranya yang serius dan patut dipikirkan lebih lanjut, dan mana yang sekadar bahan lamunan. Urusan data dan perihal analitis, Mas Roy yang lebih paham. Bisa tanya langsung sama ybs yth.

Lucu juga sih kalau dipikir-pikir. Di jagat maya yang mahaluas ini ternyata ada juga yang betah baca Linimasa, yang hanya menghadirkan satu tulisan baru setiap hari. Tapi kondisi ini tentu saja tak bisa dilepaskan dari profil para penulisnya. I mean, saya sendiri amat bersyukur bisa berkolaborasi dengan orang-orang hebat di balik Linimasa.

Lebih dari separuhnya merupakan orang Twitter lama; orang-orang yang bikin merasa bahwa bermedia sosial itu menyenangkan, membuka pandangan, dan aman. Ya! Aman, lewat pengalaman benaran saat tweetups alias kopdar.

Selain Ko Glenn dan Mas Roy yang begitu itu, ada Gandrasta, Mas Nopal, Kang Agun, Mbak Leila, dan Farah yang ngajakin ikut nulis. Kalau saja enggak diajakin Farah dua tahun lalu, bisa jadi hari ini cuma jadi pembaca harian saja. Menanti sambil membatin: “ada tulisan soal apa lagi ya hari ini?

Capture

Tuh, katanya Mas Roy Sayur di Medium-nya. Hahaha!

Terus, lucu juga sih kalau dipikir-pikir. Walaupun sudah hampir dua tahun saling kolaborasi dan komunikasi (lewat grup wasap), semua penulis Linimasa baru benar-benar kumpul bareng di pertengahan tahun ini. Setelah sekian lama. Dari yang benar-benar asing dan “siapa sih?”, sampai akhirnya bisa benar-benar nongkrong ngebir bareng, nonton beskop, dan lainnya.

Bahagia? Tentu saja. Namanya juga pengalaman personal.

Moga-moga Anda semua juga turut merasa bahagia.

Jadi, dengan semangkuk misoa virtual ini, semoga Linimasa dan semua yang terlibat di dalamnya: para penulis dan pembaca, selalu beruntung dan bahagia, panjang usia, serta sehat lahir maupun batinnya.

[]

Gegara Skena, Streaming Jadi Mainstream.

Kalau tidak salah sekitar awal tahun 2000an. Ada kata baru yang masuk ke KBBI. Kata-kata tersebut adalah unggah dan unduh. Unggah adalah terjemahan dari upload dan unduh adalah terjemahan dari download. Iya. Facebook sedang berlari kencang setelah Friendster dan miRc mati suri. Internet sudah masuk ke kota dan desa. Napster mengubah lanskap cara kita mendengarkan musik. Dari kaset atau CD menjadi mp3. Satu hal yang membuat Metallica marah kepada Sean Parker sebagai penggagas dari Napster. Napster dianggap merugikan musisi dengan karena telah membagi musik dengan gratis. Cerita lengkapnya mengenai hal ini bisa ditelusuri lebih jauh di film dokumenter yang berjudul Downloaded. Atau di film Social Network pun ada dibahas kehadiran Sean Parker yang diperankan oleh Justin Timberlake.

eyd1

Tahun demi tahun berlalu semakin banyak kata yang belum ada padanannya atau sudah ada tapi dimodifikasi. Tapi saya sedikit terganggu dengan kata gegara. Iya kata ini diambil dari kata gara-gara. Entah kenapa saya koq merasa jengah mendengarnya. Kenapa dengan gara-gara? Apa terlalu panjang? Atau biar singkat aja. Terdengar cute? Entahlah tapi saya selalu menghindari kata itu. Masih ada karena. Tapi kalau buat lucu-lucuan ya mungkin bolehlah.

Satu kata lagi yang menggangu: Skena. Kata ini diambil dari music scene. Punk music scene. Metal music scene. Indie music scene. Tapi kemudian kita masih mempunyai kata “Paguyuban”. Dari kata dasar “guyub”. Terdengar jadul? Kurang modern? Mungkin. Tapi saya menganggap kata itu masih bisa dipakai. Tidak mainstream ya? Lagi-lagi kata ini keluar. Dan menjadi “masalah” baru karena ini memberi PR baru buat Ivan Lanin dan timnya untuk mencari padanan kata tersebut. Kata “arus utama” kemudian muncul. Masih terdengar edgy ya? Aduh apalagi edgy? Ini harus ada padanannya. Which is which is which is worthed gak sih (tentu saja ngomongnya sambil nyeruput Frappucino di Starbucks).

Lalu kemudian berdatanganlah Youtube, Spotify, Netflix, dan banyak lagi teman-teman sejenisnya. Lagi-lagi ada kata baru yang belum ada padanannya: streaming. Keluarlah kata “alir”. Lalu kalau saya sedang mendengarkan lagu Chrisye di Spotify itu gimana yang benernya? “Iya ini lagi ngalir lagu nih di Spotify” atau, “Anak ini kerjaannya ngalir mulu di Youtube?” Gitu? Atau “Aduh akhir minggu ini gak bisa kemana-mana nih. Mau binge-watch Stranger Things. Seru tauk”. Lagi-lagi PR baru buat kata binge-watch.

Apa tidak sebaiknya kata-kata itu sebaiknya kita serap “apa adanya”? Streaming jadi striming? Terdengar wajar ya? Tidak? Atau apa tidak sebaiknya kita melibatkan Guruh Soekarno Putra dalam penggodokan kata-kata baru yang belum ada padanannya ini? Kenapa Guruh? Thesaurusnya subhannallah. Gak percaya? Coba alir lagu di bawah ini.  Lagu tahun 1978 tapi masih terdengar seperti baru. Yang ini versi pop. Lagu aslinya dibuat tahun 1977. Lagunya Guruh Gipsy. Tapi tidak terdengar enak di telinga. Too edgy for me.  Which is which is which is.. (frappuccino abis tapi masih pengen nongkrong secaraa waifai kenceng bok.. )

Ratih Dewi Citra khayalku, prana dalam hidupku yang haus asmara. Hm…..nikmatnya bercinta.. Andika dewa sirna duli sang asmara.. merasuk sukma, menyita heningnya cipta oh.. resahku jadinya..

Atau mungkin kita harus kembali ke Bahasa Sanskerta atau Kitab Weda. Terdengar indah. Arkaisme. Saya yakin banyak kata-kata yang belum dipakai di sana dan masih relevan dengan kondisi hari ini. Atau Debby Sahertian mungkin. Dulu banyak kata-kata ajaib keluar dari mulutnya. Ya gak sih, cyiiin? 

 

 

Segera!

​10 Tanggapan atas “Kirimkan berkas kontrak ini segera untuk ditandatangani klien!” yang menandakan buruknya komunikasi antara pemberi dan penerima perintah.

1. Sekarang Pak?

2. Ok Pak, sekarang ya?

3. Ok Pak, saya kirimnya sekarang?

4. Kapan Pak?

5. Kontraknya dikirim sekarang Pak?

6. Kontraknya dikirim sekarang ya Pak?

7. Saya kirim sekarang ya Pak?

8. Sekarang banget Pak?

9. Gimana Pak?

10. Habis makan siang ya Pak?

Cinta Non-Instagrammable?

Di sebuah masa jauh ke belakang, untuk seseorang menjadi model ditentukan oleh media. Makanya ada istilah Cover Girl/Cover Boy. Sebutan untuk model yang wajahnya dinilai pantas untuk menjadi sampul sebuah majalah. Ini adalah posisi prestise karena tidak semua orang bisa. Di masa itu banyak sekali ajang pemilihan yang juga kebanyakan diselenggarakan oleh media. Pesertanya berebutan dari seluruh penjuru tanah air. Ada yang berhasil menang dan tentu lebih banyak yang tidak berhasil menang. Apa yang acara ini hasilkan sebenarnya? Legitimasi akan makna cantik dan ganteng. Kita didikte, syarat dan ketentuan cowok ganteng dan cewek cantik. Di luar dari itu, maka (bisa dibilang) tidak atau kurang cantik dan ganteng. Pun sebenarnya berwajah cantik ganteng, tapi kalau bukan model, maka manusia biasa.

Hasil diktean media ini kemudian menjadi panutan. Wajah cantik dan ganteng adalah seperti yang ada di sampul majalah. Berkulit putih, kuning langsat, sampai hitam pun bisa berubah-ubah sesuai dengan yang ditampilkan media. Kalau ingin lebih luasnya lagi, selain media juga ada budaya pop seperti bintang film dan penyanyi yang ikut menentukan. Bedanya, di film dan musik, bakat juga menjadi syarat. Banyak bintang film dan penyanyi tak berwajah menarik tapi tetap bisa menonjol. Khusus tulisan ini, kita hanya membahas media konvensional.

Bagaimana dengan orang-orang berwajah “biasa” yang wajahnya tidak sesuai standard media? Ya selamat bergabung dengan rakyat kebanyakan. Tekanan-tekanan yang terus menerus diberikan, sering membuat orang terutamanya anak muda, merasa rendah diri. Saya tidak cantik maka saya tak pantas mendapatkan yang ganteng, dan sebaliknya. Makanya kemudian muncullah usaha lain untuk menutupi dengan keterampilan, kebaikan hati, kekayaan dan lain sebagainya. “Kecantikan fisik itu sementara, kecantikan hati itu abadi” bermunculan di mana-mana. Atau “kalo laki mah yang penting berduit lah, ganteng tapi kere siapa yang mau?” Maka berlomba-lombalah kaum non-model ini mencari prestasi dan karir. Selain untuk eksistensi diri juga untuk mendapatkan pengakuan dari lawan jenis atau sejenis, sesuai orientasi seks masing-masing.

Kemudian Instagram datang. Doktrinasi media akan makna cantik dan ganteng kemudian memudar perlahan. Yang ditampilkan di sampul majalah, tak lagi menjadi panutan. Karena di Instagram, dengan mudah ditemukan yang lebih cantik dan ganteng daripada pilihan media. Tanpa perlu melakukan pemilihan wajah sampul, Instagram telah melakukan seleksi alam yang dibuktikan oleh jumlah followers. Bermunculanlah CelebGram dan InstaModel yang kemudian menjadi idola. Jumlahnya tentu jauh lebih banyak dari pilhan media. Sangat banyak dan semakin banyak. Para InstaModel ini pun sekarang menjadi “media mini” yang memberikan banyak hal untuk followersnya. Mulai dari inspirasi gaya hidup, fashion, olahraga, diet dan lain sebagainya. Seru kan?

nolikesyet_01Artinya, makna cantik dan ganteng kini tak hanya ditentukan oleh media, tapi oleh sesama kita. Yang dilegitimasi oleh Instagram. Maka berlomba-lombalah orang menampilkan sisi terbaik fisiknya di Instagram. Ada yang berhasil dan lagi-lagi lebih banyak yang tidak. “Duh kalo ngarep jadi Instaceleb badan kotak-kotak gitu, bisa keburu mati gue” celutukan seorang teman kaum Gen-Z. Dia tidak sendirian. Semakin bermunculan remaja bahkan dewasa yang berupaya mempercantik dan memperganteng tampilannya, supaya bisa ditampilkan di Instagramnya. Merak yang mengembangkan bulu-bulu indahnya untuk menarik perhatian yang ditaksir. Atau tebar jala, kali-kali ada yang nyantol.

Nyantol di sini memang beragam. Ada yang cukup senang kalo digandrungi, ada yang bermotivasi bisnis menjadi CelebGram, ada yang mencari cinta semalam, tapi tentu banyak yang mencari cinta sejati. “Ah, cari cinta sejati mah jangan di Instagram lah!” Benar, tapi Instagram kini terlanjur jadi panutannya. Tak hanya wajah, tapi juga gaya hidup. Instagram menjadi kiblat trend yang dimunculkan oleh sesama kita. Salah satu syarat penjualan barang konsumsi bisa laku zaman sekarang adalah kalau barang atau makanannya instagrammable. 

Tak hanya baju, sepatu dan tas, tapi juga kebahagiaan dan keberhasilan hidup. Foto diri sedang meloncat bahagia di pantai biru indah, menjadi pernyataan “aku bahagia”. Atau foto boarding pass kelas bisnis, menjadi pernyataan “aku berhasil”. Foto gandengan tangan dengan pasangan di atas sprei pada kamar hotel, menjadi pernyataan “aku laku”. Walau pernyataan-pernyataan itu mengundang pertanyaan-pertanyaan, bukan masalah. Yang penting, bisa meraup tanda “like” yang sialnya disimbolkan dengan bentuk hati. Ini pokok permikiran tulisan kali ini.

Karena like tak berarti hati (cinta). I like you, tak berarti i love you. I like your photo on Instagram tak langsung berarti I like you as a person. Tapi ini hanya bisa dipahami oleh yang sudah dewasa. Apalagi yang sudah kena patah hati berkali-kali. Bagi remaja berbeda. Mereka bisa saling gontok-gontokan karena incerannya meng’like’ foto orang lain tapi tidak foto dirinya. “Kok kamu ngelike fotonya dia terus sih? Naksir ya?” kata seorang remaja perempuan pada pasangannya. Bukti lain betapa pentingnya Like dan Followers di Instagram adalah postingan ucapan terima kasih karena sudah mencapai followers atau like dalam jumlah tertentu. 

Sudah banyak tulisan dan upaya yang mengingatkan remaja untuk tak terlena pada cinta di Instagram. Hasilnya sama seperti usaha membungkam burung pipit untuk bernyanyi. Kau dapat mematahkan paruhnya, tapi tidak nyanyian hatinya.

Lalu, bagaimana dengan sebagian besar dari kita yang fisik dan kehidupannya tidak instagrammable? Masih adakah like (baca: cinta) untuk kita? Belakangan ada banyak tulisan berdasarkan survery ditemukan bahwa remaja masa kini tak mencari cinta. Atau lebih tepatnya, cinta tak lagi menjadi dambaan hidupnya. Remaja masa kini lebih mementingkan karir, duit dan hidupnya. Kalau mau ditarik lebih jauh karena karir dan duit bisa mendatangkan barang-barang yang diinginkan, liburan sesuai impian, kendaraan pribadi dan lain-lain yang lebih Instagrammable ketimbang cinta. Lebih jauh lagi, remaja tak lagi menggilai seks. Cenderung tak suka seks. Bahkan banyak yang merasa seks bukan kebutuhan hidup dan buang-buang waktu. Atau seks bisa digantikan dengan kegiatan lain yang lebih Instagrammable. Berolahraga, misalnya. Posting diri sedang berlari atau beryoga di pegunungan akan mengundang banyak Like. Sementara cinta? Foto bersama pasangan lebih sering mengundang gunjingan. Atau lebih jauh, mematikan pasaran 🙂

4 Types Of Love Millennials Settle For Instead Of The Real Thing

‘There isn’t really anything magical about it’: Why more millennials are avoiding sex

Millennials Are Having Less Sex Than Other Gens, But Experts Say It’s (Probably) Fine

 

 

KISAH SAKERHETS-TANDSTICKOR DAN SEBATS TRZ CABS

LAV14:SPORT-BOXING:LAS VEGAS,NEVADA,09NOV96 - Challenger Evander Holyfield (L)takes aright fist to the face from Mike Tyson during the first round of their WBA Heavyweight Championship fight at the MGM Grand hotel in Las Vegas, November 9. Holyfield defeated Tyson by TKO in the 11th round when the referee stopped the fight. bps/Photo by Gary Hershorn REUTERS ORG XMIT: LAV14

Jika benar bahwa harga rokok dinaikkan oleh penyelenggara negara dengan tujuan mengurangi konsumsi, maka lebih baik saya akan tertawa. Haha! Bukan karena curiga itu semacam gombalan gaya baru oknum penyelenggara negara untuk cari perhatian para pengusaha rokok yang juga kebetulan orang-orang terkaya negeri ini agar lebih dekat atau lebih rajin sowan, melainkan memang pola pikir pemerintah kita ini norak.

Pertama, dengan menentukan harga sebuah barang yang diketahui diminati banyak orang, akan dengan sengaja dan sadar penyelenggara negara menciptakan inflasi non inti yang baru. Semacam penciptaan administered prices lain. Sepertinya mereka keranjingan bikin warganya panik. Setelah harga BBM ndak bisa bikin  panik, sekarang proyek kepanikan diciptakan lewat jalur rokok.

Kedua, dengan menaikkan harga rokok yang konon katanya membahayakan kesehatan warga, jelas terlihat bahwa daya kreativitas negara dalam menaikkan penghasilan dari cukai sangat miskin ide. Mengapa perokok harus head-to-head dengan harga. Penyelenggara bagai Don King yang mempertemukan Mike Tyson dengan seekor anjing gila. Kedua-duanya bisa mati. Perokoknya tewas karena semakin kismin, dan pengusaha rokok juga terancam bangkrut jika ternyata daya beli warga menukik tajam.

4510619354_9db418953f

Mengapa tidak dilakukan upaya alternatif yang manis dan elegan. Misalnya saja yang dinaikkan harganya adalah korek api, baik batangan maupun gas. Banyak hal positif jika yang dilakukan adalah usulan saya ini. Gadis penjual korek api akan kaya dan tak lagi kedinginan. Dia bisa beli hape dan mengirim uang bulanan kepada emaknya. Selama korek api bukan diproduksi oleh anak perusahaan rokok, cara ini juga menumbuhkan bibit wirausaha baru. Banyak nantinya penjual suryakanta untuk mengganti cara kerja sebatang korek. Hal negatifnya dan menjadi kekuatiran saya adalah meningkatnya angka kriminalitas dengan modus curankor. Selain itu, ndak ada.

10959725_826072290792870_2659399898465782032_n

Ndak aneh nantinya jika sebagian warga akan membawa tabung gas elpiji tiga kiloan karena dipikirnya jauh lebih murah daripada membeli sebatang cricket atau tokai. Zippo tak lagi istimewa. Korek gejres sakerhets-tandstickor bakalan dikoleksi oleh Hotman Paris.

Jangan hanya karena sebatang rokok maka keluarga gudang garem dan djarum atau sampoerna jadi kaya raya lalu penyelenggara negara cawe-cawe untuk minta jatah preman. Ndak perlu membanding-bandingkan harga rokok di luar negeri dengan harga disini. Toh kami ndak pernah banding-bandingkan bagaimana kualitas bus kota di Melbourne dengan Kopaja.

Bukannya konsumsi rokok berkurang, tapi malah menciptakan barang mewah lainnya, sebagai tambahan anak tangga strata sosial.

“Gila cuy, si Dewi lebih milih Irwan daripada gue.” 

“Napa?”

“Irwan soalnya perokok cuy. DASAR CEWE’ MATRE!”

Sudahlah. Ada banyak hal tak perlu diurusi. Toh walau indomi dipercaya secara jangka panjang akan memperburuk kesehatan, tak ada yang secara nyata melarang peredarannya. Atau ngutak-atik harganya. Padahal sudah jelas, semangkuk indomi rebus dengan telor dan rawit diiris adalah dosa besar di kala rinai hujan. Mungkin saat saya menulis ini, Jokowi sedang berebut suapan terakhir dengan Kaesang.

Tunggu saja vlog-nya dirilis mereka.

Salam anget,

Roy

 

Bonus

Ada Marta dalam Martabat

Baru ngeh kalau Michael Moore merilis film baru dari Agun, langsung saya cari dan tonton tentunya. Walau dokumenter ala Moore memang tak jarang hanya menyentuh permukaan masalah, dan terkadang merupakan simplifikasi, tetapi saya selalu terhibur, dan terusik untuk mencari tahu tentang subyek-subyek itu lebih dalam.

Tetapi film ini, banyak sekali hal yang menyentil saya. Terutama dalam hal ternyata, walau tidak jarang orang di sini berteriak-teriak tentang anti Amerika, kita banyak sekali hal-hal yang berkiblat ke sana. Biaya kesehatan dan pendidikan yang mencekik leher, contohnya (sebelum ada BPJS). Kemudian hal war on drugs; kita mengadaptasi hukum dari AS nyaris persis. Selain itu, yang membuat saya berpikir juga adalah ketika Moore mengunjungi Portugal yang telah mendekriminalisasi kepemilikan narkotika dan obat terlarang. Obatnya sendiri tetap ilegal tentunya. Ternyata perkiraan banyak orang yang menyangka hal ini akan meningkatkan angka kematian akibat over dosis obat-obatan terlarang, salah. Sejak hukum itu diberlakukan tahun 2001, tahun lalu Portugal tercatat memiliki angka kematian akibat over-dosis obat-obatan terlarang kedua terkecil setelah Rumania, yaitu 3 orang per 1 juta populasi.

Ketika ditanya oleh Michael Moore, jika para polisi ini punya pesan yang ingin disampaikan kepada US, mereka berkata (kutipan bebas).

Human dignity is the backbone of our society, therefore all laws are executed with human dignity as principle. In our police trainings, we are always reminded to respect the dignity of humanbeings. As long as you have death penalty, human dignity can’t be protected.

Dignity dalam bahasa Indonesia adalah martabat (tentu Anda sudah paham). Sementara ‘menjunjung tinggi harkat dan martabat bangsa’ sering sekali terdengar di sana sini, tetapi apakah martabat orang-orang ini terlihat dijunjung tinggi?

cover-242947f0b10e11a5686919d183de4717_420x280

Tidak ada martabat yang dijunjung tinggi di sini

medium_82pemerkosa-siswi-sma-riau

Di sini juga tidak

ospek-itn-640x480

Apalagi ini

gusur-kaki-lima-700x336

Ini juga tidak

Sebagai comedy relief, mari kita lihat klip dari salah satu film favorit saya Talladega Nights: The Legend of Ricky Bobby yang dikutip juga di film Where to Invade Next.