Selamat Ulang Tahun, Linimasa!

 

ANDAI bisa masak, saya mungkin akan bela-belain bangun subuh hari ini untuk bikin sepanci misoa ayam (meskipun lebih enak kalau pakai babi) dengan kuah bawang putih dan jahe. Disajikan bareng “Naga Merah” atau telur rebus dikesumba, dan rawit kecap asin. Minumnya teh hangat tidak terlalu manis, disantap pagi-pagi sekali.

Photo: Van Robin in Flickr

Kenapa? Karena hari ini ulang tahunnya Linimasa!

Menu sederhana yang saya enggak tahu nama resminya sampai sekarang itu, memang jadi hidangan khas setiap kali terjadi kelahiran, peringatan hari lahir, maupun momen-momen membahagiakan lainnya. Tidak cuma mengenyangkan, hangat, lezat dan gurih, serta cocok dihadirkan di setiap perayaan, ada doa dan harapan khusus dalam semangkuk misoa rebus tersebut.

Misoa yang bukan mi biasa, menjadi perlambang panjangnya usia. Setiap helainya utuh tanpa terputus, bertekstur lebih halus ketimbang bihun maupun sohun, cukup fragile dalam kondisi kering, dan sangat lembut ketika sudah dilunakkan. Dengan begitu, setiap seruputan misoa bisa langsung dilahap tanpa perlu menggigit dan memotong, juga tanpa kesulitan mengunyah atau bikin tersedak.

“Naga Merah” atau telur rebus yang cangkang luarnya telah diberi kesumba. Lantaran kata telur memiliki pelafalan yang sama dengan naga dalam dialek Hokcia. Memakan naga, berarti memakan keberuntungan. Paling tidak, beruntung bisa makan yang enak dan bergizi sekali lagi. Di restoran-restoran Chinese Food seantero Indonesia, telur merah ini digantikan dengan lima atau enam butir telur puyuh rebus pada seporsi Mi Ulang Tahun. Bentuknya lebih kecil. Pernah lihat, kan?

Kebetulan banget piket hari ini bertepatan dengan genap 2 tahun usia Linimasa. Blog guyub rukun yang mulai ditangani dengan asas keroyokan nan tertib sejak 24 Agustus 2014, diawali tulisan Ko Glenn soal pengalamannya sebagai seorang pelari, eh, penari.

Setiap hari. Tanpa jeda.

Ehm, kadang sih.

Kecuali kalau ada force majeur se-majeur-majeur-nya.

Kalau diibaratkan gaya pacaran remaja zaman sekarang, dua tahun itu sudah ngapain aja coba? Pasti banyak banget, termasuk soal kepastian untuk berlanjut ke jenjang berikutnya atau tidak. Pastinya, selalu ada yang berubah.

Begitu pula yang terjadi dalam Linimasa. Sedikit banyaknya, selalu ada yang berubah. Apalagi semuanya mengalir begitu saja.

Lucu juga sih kalau dipikir-pikir. Kami berdelapan ternyata bisa betah dan hampir mampu bertahan dengan komitmen dalam waktu yang cukup panjang. Komitmen untuk terus menulis, menyaru kolumnis sambil senyum manis. Ditotal-total, sudah ada 726 published posts. Hampir seribu tulisan, seribu buah pemikiran. Entah mana di antaranya yang serius dan patut dipikirkan lebih lanjut, dan mana yang sekadar bahan lamunan. Urusan data dan perihal analitis, Mas Roy yang lebih paham. Bisa tanya langsung sama ybs yth.

Lucu juga sih kalau dipikir-pikir. Di jagat maya yang mahaluas ini ternyata ada juga yang betah baca Linimasa, yang hanya menghadirkan satu tulisan baru setiap hari. Tapi kondisi ini tentu saja tak bisa dilepaskan dari profil para penulisnya. I mean, saya sendiri amat bersyukur bisa berkolaborasi dengan orang-orang hebat di balik Linimasa.

Lebih dari separuhnya merupakan orang Twitter lama; orang-orang yang bikin merasa bahwa bermedia sosial itu menyenangkan, membuka pandangan, dan aman. Ya! Aman, lewat pengalaman benaran saat tweetups alias kopdar.

Selain Ko Glenn dan Mas Roy yang begitu itu, ada Gandrasta, Mas Nopal, Kang Agun, Mbak Leila, dan Farah yang ngajakin ikut nulis. Kalau saja enggak diajakin Farah dua tahun lalu, bisa jadi hari ini cuma jadi pembaca harian saja. Menanti sambil membatin: “ada tulisan soal apa lagi ya hari ini?

Capture
Tuh, katanya Mas Roy Sayur di Medium-nya. Hahaha!

Terus, lucu juga sih kalau dipikir-pikir. Walaupun sudah hampir dua tahun saling kolaborasi dan komunikasi (lewat grup wasap), semua penulis Linimasa baru benar-benar kumpul bareng di pertengahan tahun ini. Setelah sekian lama. Dari yang benar-benar asing dan “siapa sih?”, sampai akhirnya bisa benar-benar nongkrong ngebir bareng, nonton beskop, dan lainnya.

Bahagia? Tentu saja. Namanya juga pengalaman personal.

Moga-moga Anda semua juga turut merasa bahagia.

Jadi, dengan semangkuk misoa virtual ini, semoga Linimasa dan semua yang terlibat di dalamnya: para penulis dan pembaca, selalu beruntung dan bahagia, panjang usia, serta sehat lahir maupun batinnya.

[]

Iklan

20 thoughts on “Selamat Ulang Tahun, Linimasa!

  1. Selamat ulang tahun linimasa!
    Terima kasih sudah nemenin saya 1 tahun ini. Jadi bahan yg enak untuk dibaca dan berpikir ulang soal banyak hal tsah kecup penulis satu-satu

    Suka

  2. Selamat ulang tahun, Linimasa.

    Terima kasih Glenn, Gandrasta, Agun, Dragono, Farah, Nauval, Leila, dan Roy sudah guyub menulis di sini (hampir) setiap harinya. Yang membuat Linimasa ini betah saya baca adalah karena menarik; berisi ide-ide yang sejalan dengan saya namun tidak bisa saya tuliskan, atau bertolak belakang tapi memberi perspektif baru. Ditambah lagi bahasanya pun enak diikuti, dan terasa tulus berbagi, tidak terus-terusan mereferensi diri.

    Semoga kalian nggak bosan berbagi ide kepada pembacanya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s