Ungkapkan Saja!

SEPERTI biasanya, niat menulis untuk piket pekan ini kembali diawali dengan pertanyaan: “nulis apa ya buat besok?” kepada para pengasuh lain lewat grup WA.

Pertanyaan di atas berbuah saran tentang beberapa topik dan judul. Salah satunya adalah: “Mengapa Guru Spiritual Rentan Terhadap Godaan Obat Terlarang: Pandangan Saya”. Menarik, tapi kayaknya akan sangat timpang karena tidak didukung data yang valid dan terverifikasi. Di gudang Google pun bahkan nyaris tidak ada informasi yang sesuai terkait hal tersebut.

Sampai akhirnya percakapan pribadi ini terjadi, kemarin malam.

Aku lagi naksir seseorang nih. Suka banget sama dia.

Oh… Terus gimana? Sudah sampai mana?

“Gak gimana-gimana sih.”

“Hah? Maksudnya? Minimal kamu sudah bilang ke dia kalau kamu suka sama dia, belom?

Belum. Tapi pasti ditolak. Aku bukan tipenya. She’s in a different league.”

Tahu dari mana pasti ditolak? Dicoba aja belom.”

Aku gak siap kalau ditolak.

“…”

Jadi gimana dong? Aku galau.

“Sa’karepmu!”

Pembicaraan semacam ini bukan sesuatu yang asing sekarang, ketika kita sama-sama sepakat bahwa akan selalu terjadi pertentangan antara perasaan dan logika dalam diri seseorang. Lebih-lebih jika menyangkut soal asmara.

Sederhananya, perasaan lebih baik diutarakan daripada berlama-lama dipendam. Konsekuensinya hanya dua: diterima, atau ditolak. Sepahit apa pun hasilnya, yang pasti ujungnya sudah jelas. Lega, plong, tuntas, meskipun menyakitkan. Setelah itu, saatnya untuk move on. Sebab masih ada hidup yang terus bergulir.

Gagasan idealnya sih begitu, dan dijadikan nasihat andalan setiap kali ada yang curhat.

Lucunya lagi, kondisi ini juga bisa berbalik. Ada banyak orang yang hanya mampu menjadi penasihat bagi orang lain, namun tidak bagi dirinya sendiri. Saat kena giliran, model galaunya serupa dan dibiarkan berlarut-larut. Enggan untuk menuntaskannya, serta lebih memilih untuk terus penasaran dan gemas geregetan. Tak mau menghadapi kenyataan. Entah ditolak, atau ternyata malah diterima. Buyar semua penjelasan dan alasan logis yang dahulu pernah ditumpahkan kepada temannya saat gelisah.

Kira-kira, kenapa ya lebih suka memendam perasaan ketimbang diutarakan? Mungkin ini alasannya.

Mungkin.

o0o

Takut Kenapa-napa

Dalam hal ini, rasa takut memiliki banyak aspek. Utamanya sih takut ditolak, dan takut pada ketidaknyamanan dan rasa canggung yang bisa muncul setelahnya. Seperti yang kerap terjadi pada pasangan “naksir teman” dalam konteks apa saja. Banyak orang khawatir penolakan tersebut akan berujung pada kerenggangan hubungan yang sudah terjalin selama ini. Di sekolah, kampus, kantor, dan sebagainya. Parahnya lagi, enggak sedikit kasus yang berpengaruh pada produktivitas. Bisa jadi atas dasar itu, maka ada perusahaan yang tidak menyarankan sesama pegawainya berpacaran (apalagi selingkuh).

Rasa takut yang lainnya lebih bersifat situasional. Misalnya, takut diledek teman karena naksir seseorang, takut dimarahi orang tua dan keluarga, takut dibunuh pasangan maupun pasangan yang ditaksir, atau takut diazab tuhan. Jadi, daripada reputasi sampai tubuh hancur binasa, lebih baik tetap memendam rasa. Walau sampai akhir masa.

Ada pula bentuk ketakutan lain yang beda tipis antara visioner dan mengada-ada. Seperti takut si dia akan merasa malu dan pindah kota setelah “ditembak” oleh kita, bisa juga takut tidak bisa terima kalau ternyata si dia punya kepribadian yang buruk dan tidak sesempurna gambaran dalam benak kita selama ini, atau takut jangan-jangan si dia ternyata adalah guru spiritual seseorang. Toh, tidak ada yang mustahil terjadi di dunia ini, termasuk…

o0o

Masokis Asmara

Bagi sebagian orang, hati yang disiksa rindu tak terjangkau, terombang-ambing dalam ketidakjelasan, dan galau gara-gara asmara itu mungkin syahdu, dan mengasyiqkan. Ketimbang terburu-buru mengungkapkan perasaan, tidak ada salahnya untuk menikmati perasaan-perasaan tersebut sedikit lebih lama sebelum hilang.

Ya! Menikmati siksaan asmara berupa rasa penasaran yang agresif, kenangan, dan khayalan tentang “dia lagi ngapain ya sekarang?” Asal bukan…

o0o

Delusional

Ini! Mau mengungkapkan rasa cinta kepada siapa? Lah wong orangnya enggak ada, atau cuma dikenal sebatas foto, tayangan, suara, dan media lainnya.

[]

Posted in: @linimasa

6 thoughts on “Ungkapkan Saja! Leave a comment

  1. sudah! setelah tiga tahun dipendam dan … ditolak.
    Kalau inget ditolaknya sih sedih banget. Tapi kalau mengingat saya sudah melewati salah satu ketakutan terbesar saya, bangga juga. :))

Tinggalkan Balasan