Merencanakan Yang Tak Bisa Direncanakan

Akhir pekan lalu, saya menghabiskan beberapa saat dengan Glenn. Pikiran saya sedang kalut. Banyak hal yang membuat saya tidak bisa berpikir jernih.

Untuk sekedar melepaskan beban di benak, saya menghubungi Glenn, sebagai sounding board. Seperti yang kita bisa baca lewat tulisan-tulisannya di Linimasa ini, Glenn orang yang taktis, pragmatis, dan sedikit manis. Faktor-faktor inilah yang membuat saya akhirnya curhat ke Glenn.

Saya datang ke rumahnya. Duduk di sofa, yang seolah sudah jadi kursi pasien psikiater.
Saya mulai berbicara, menceritakan pelbagai masalah yang sedang dihadapi. Masalah-masalah yang dihadapi sekarang, yang semuanya berakar dari kejadian-kejadian di masa lalu, yang semuanya akan menentukan kehidupan di masa depan.

When Harry Met Sally ...
When Harry Met Sally …

Tidak banyak detil yang bisa saya ungkap. Glenn pun merasa gemas. Tapi saya terus bercerita. Tentang rencana-rencana saya untuk beberapa bulan dan tahun ke depan. Tentang kegelisahan saya karena tidak tahu harus membuat rencana apa.

Sampai akhirnya, setelah beberapa saat, Glenn berkata:

“Tau nggak, aku tuh ngerasa, kalau kita kebanyakan bikin rencana, Tuhan tuh malah bisa ngetawain kita.”

“He? Ngetawain gimana?”

“Ya ngetawain. Mungkin Tuhan pikir, sapose elo bok, sok bikin dan ngatur-ngatur rencana. Kan gue juga yang nanti nentuin. Gitu. Udah deh, gak usah terlalu ribet bikin rencana. Elo semua gak pernah tau kejutan apa dari gue. Hahahaha.”

Saya terdiam barang sesaat, sebelum akhirnya ikut terkekeh juga.
Lalu kami berbicara banyak hal. Mulai dari finansial, pekerjaan, sampai ngobrolin tentang Anda semua, para pembaca Linimasa.

Saving Private Ryan
Saving Private Ryan

Saya pamit saat jarum jam sudah berpindah hari.
Dalam perjalanan pulang, di kursi belakang mobil, saya mengingat-ingat lagi beberapa film yang sering saya tonton. Mulai dari When Harry Met Sally …, You’ve Got Mail, Love, Actually, sampai ke film horror seperti Rosemary’s Baby, drama perang layaknya Saving Private Ryan, atau film action macam Speed.

Ternyata ada satu benang merah dari semua film di muka bumi ini.
(Hampir) semuanya bercerita tentang kejutan.
Kejutan ini berasal dari ide cerita paling mendasar yang pernah dikemukakan beberapa ahli analisa film: “what makes a good story is when you put an ordinary man or woman in an extraordinary situation, and you let he or she deal with the situation.

Karakter-karakter di film-film itu (dibuat) tidak tahu akan apa yang mereka hadapi, siapa yang akan mereka temui, dan kejadian apa yang akan mereka alami. Kejutan dalam cerita membuat kita tertarik menonton, mengikuti sampai akhir, kadang diiringi dengan tangisan, jeritan, tawaan, atau reaksi apapun sesuai genre film itu.

Rosemary's Baby
Rosemary’s Baby

Lalu saya berpikir, maybe that’s how life is supposed to be.
Bahwa rencana apapun yang kita buat, pasti akan ada kejutan lain yang kita tak pernah tahu sebelumnya.

Seperti saya pernah tulis di sini, ada yang aneh kalau saya tidak bisa merencanakan harus berbuat apa dan dalam waktu kapan di satu hari. Dari sini akan beruntut, rencana apa yang harus dikerjakan minggu ini, bulan ini, sampai ke tahun ini. Lalu berlanjut lagi sampai ke tahun depan, dua tahun yang akan datang, dan seterusnya. Sebisa mungkin meninggalkan sedikit ruang, atau meminimalisir bagian-bagian yang tak direncanakan.

Padahal, yang namanya kejutan selalu ada di depan. Kita tidak tahu akan ketemu siapa hari ini, akan kena macet atau tidak, atau akan ada kejadian apa bulan depan yang bisa mengubah semua rencana kita.
Saya dan Anda pun tidak tahu, misalnya, apa yang akan terjadi pada Linimasa di ulang tahunnya yang ke-3 tahun depan, yang ke-4 dua tahun lagi, dan seterusnya.

Love, Actually
Love, Actually

Kalau sudah begitu, the best thing is just go with it.
Pasrah pada aturan Tuhan, semesta, atau apapun yang kita yakini.
Pasrah yang tidak sepenuhnya menyerah, karena sambil menjalani bagian yang tidak direncanakan itu, diam-diam kita membuat rencana baru.

Sepandai-pandainya kita mengantisipasi, acap kali kejutan akan datang mengecoh kita.

Mungkin, menanti kejutan akan membuat hidup lebih menarik.

And maybe, life is worth living for again, just to anticipate surprises ahead.

Iklan

8 thoughts on “Merencanakan Yang Tak Bisa Direncanakan

  1. Duh mas Glen :”)
    Belakangan daku juga kepikiran macem ini, “Tau nggak, aku tuh ngerasa, kalau kita kebanyakan bikin rencana, Tuhan tuh malah bisa ngetawain kita.”
    Terima kasih pencerahannya, teman-teman Linimasa.

    Suka

  2. di paragraf terakhir aku jadi keinget india arie – beautiful surprise.

    anyway, aku suka kalimat ini: what makes a good story is when you put an ordinary man or woman in an extraordinary situation, and you let he or she deal with the situation.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s