Pelan-Pelan Bermartabat

Ini adalah kali ketiga saya diminta atasan untuk menjadi mentor bagi calon pegawai baru. Mereka biasanya hadir berkelompok antara 10-12 orang. Gelombang anak kinyis-kinyis yang berharap banyak dapat mengubah nasib masing-masing.

Bagi sebuah entitas bisnis, tenaga kerja baru diperlukan untuk menambal sekrup dan perkakas yang telah usang (dibaca: pensiun) atau pindah. Manajemen modern memperkenalkan MT. Management Trainee yang mempersilakan bibit unggul hasil talent scouting maupun hasil membuka lowongan di surat kabar terkemuka untuk mengenal roda bisnis secara keseluruhan. Para fresh from the oven ini diminta untuk belajar mengenai budaya kerja, lini bisnis perusahaan dan disadarkan adanya kesempatan karir yang membentang luas.

Mereka selama setahun tidak diminta bekerja akan tetapi diminta “belajar bekerja”. Setiap dua minggu ditugaskan di unit kerja tertentu secara bergiliran. Tujuannya tentu saja agar mereka benar-benar memahami wahana perusahaan. Apa saja arena bermain yang ditawarkan, dimana toilet, dimana penjual tiket, dimana arung jeram, dimana roller coaster, dan dimana tempat ibadah. 

Sebelum kembali ke institusi asal saya bekerja, di kantor saya saat ini, profit bukan menjadi tujuan utama. Efektivitas kebijakan lebih diutamakan. Juga soal lain yang menjadi fungsi utama lembaga. 

Oleh karena itu, selama menjadi mentor, adalah kesempatan saya menanamkan dogma-dogma pribadi, manifesto sayur, dan paling utama: menyematkan hati dalam setiap aktivitas. 

Beruntung saya bahwa bibit-bibit unggul ini berasal dari kampus yang baik-baik saja. Soal kualitas cukup lumayan. Walaupun desas-desus mengatakan bahwa ada sebagian dari calon pekerja ini adalah titipan orang-orang penting negeri ini, bagi saya itu bukan menjadi soal. 

Secara psikologis, ketika mereka masuk ke dalam loka baru, maka itu adalah kesempatan bagi mereka untuk membuat personal branding kembali. Ketika semua bibit ini dianggap mampu, maka bibit karbitan pun akan berpura-pura untuk mampu, atau setidaknya mati-matian akan mengejar ketinggalan kompetensi dengan yang lainnya.

Nah, disinilah masalahnya. Soal kompetensi masih bisa dikejar. Bagaimana soal integritas? Perlu ada alat ukur yang secara presisi- atau setidaknya ada alat ukur mumpuni yang dapat memperlihatkan karakter dan watak calon pekerja dari sisi integritas. 

Selama ini hal tersebut baru dapat diterka lewat riwayat pekerjaan maupun saat wawancara. Tapi apakah hal tersebut cukup layak dijadikan alat ukur uji integritas? 

Dengan merekrut anak kemarin sore yang baru lulus kuliah maka ada harapan besar integritas anak tersbut dapat ditempa. Kita tidak sedang mencari profesional muda yang sudah gape melakukan ini-itu. Tapi kami menerima anak didik yang diibaratkan sebuah gunung es. Tugas saya adalah mengasah dan mengoptimalkan potensi untuk membuat bagian bawah gunung es muncul ke atas permukaan laut. 

Dalam bekerja logika itu utama, tapi di lembaga publik seperti yang saya tempati saat ini ada hal lebih utama: nurani. 

Anak muda kelahiran diatas 90-an yang saat diajak diskusi selalu gatel ingin membuka hape. Generasi awkarin yang menyukai googling daripada mengunjungi library. Lebih paham kisah Harry Potter daripada Voltaire. Mengenal Kaesang daripada Tommy. Mereka sudah selayaknya tak perlu dituntut untuk selalu manut. Utamakan kompetensi baru loyalitas. Tak usah pandai menjilat dan tunjuk jari ke orang lain. Cukup pandai saja dalam beragumentasi, beropini dengan akal sehat. 

Mengapa saya selalu dipilih jadi mentor? 

Entahlah. Tapi suatu ketika, bertahun-tahun lampau, bos besar bertanya, “apa yang akan kamu lakukan kepada anak-anak ini?”

Saya menjawab: 

“Pelan-pelan saja Pak. Saya hanya ingin mereka menjadi manusia yang bermartabat.”

Posted in: @linimasa

5 thoughts on “Pelan-Pelan Bermartabat Leave a comment

Tinggalkan Balasan