Robohnya Mesjid Kami

Kalau beberapa minggu lalu Tuan datang dari Jakarta menuju Bandung melalui Tol Cipularang. Maka keluarlah di tol Buah Batu. Tidak jauh dari sana, sekitar satu dua kilometer, maka Tuan akan menemukan dua pom bensin berhadapan. Sesudah pom bensin maka Tuan alam menemukan jalan raya dan silakan belok ke kiri masuk ke jalan tersebut. Sekitar satu kilometer dari sana maka tuan akan menemukan mesjid di pinggir jalan raya. Mesjid itu mudah ditemukan karena tidak terurus. Tak berpenghuni. Mesjid itu tidak berkubah. Berbentuk seperti rumah biasa. Hanya saja ada menara cukup tinggi dengan banyak TOA di ujung menara tersebut yang mengarah ke seluruh penjuru mata angin. Di sebelah mesjid tersebut ada lapangan sebesar dua lapangan badminton yang berfungsi sebagai tempat parkir atau sarana bermain anak-anak. Kadang dipakai untuk bermain bola di sore hari.

Dan bila agak masuk ke dalam di pinggir mesjid tersebut ada kamar kecil. Di sana adalah tempat Abah, begitu banyak orang menyebutnya, bangun dan tidur setiap harinya. Abah adalah penjaga mesjid itu selama tiga puluh tahun terakhir. Abah yang pukul bedug ketika subuh menjelang. Abah yang mengumandangkan adzan hampir lima kali sehari. Sebagai garin mesjid, hidup Abah hanya mengandalkan dari sisa kencleng masjid. Atau dari sumbangan warga sekitar. Abah hidup sendiri sejak istrinya meninggal karena terjangkit pneumonia empat puluh tahun lalu. Abah tidak mempunyai anak atau sanak saudara. Pekerjaan lain dari Abah adalah tukang cukur. Pekerjaan utamanya sebelum dia menjadi penunggu mesjid tersebut.

Dua minggu lalu aku pergi ke mesjid itu. Hari Minggu. Saya ingin memotong rambut saya yang mulai awut-awutan. Tiba di sana terlihat Abah sedang mengasah pisau cukurnya dengan kulit domba dari Garut. Padahal pisau tersebut terlihat masih tajam. Masih terlihat berkilau dari kejauhan. “Bah, lagi santai? Mau dicukur kayak biasa.” Si Abah hanya menoleh sambil meneruskan mengasah pisau cukurnya yang masih tajam. Mukanya tampak muram. Ingin aku bertanya kenapa. Tapi aku urung. Aku duduk di bangku tempat Abah biasa mencukur rambut. Tak lama Abah berdiri. Berjalan mengambil kain bekas bendera Indonesia yang sudah lusuh dan mengalungkan kain tersebut di leherku dan menjepitnya dengan jepitan jemuran. “Kayak biasa?” “Iya, Bah. Rapihin aja pinggirnya.”

mesjid2

“Ingin sekali kubunuh begundal itu!” Tiba-tiba si Abah menggerutu sambil mulai merapikan rambutku.

“Lho, kenapa, Bah? Istighfar, Bah. Siapa begundal itu?”

“Mudah-mudahan pisau yang tajam ini bisa menggorok leher begundal tak tahu diri itu.”

Aku tertegun sambil melihat wajah Abah dari cermin dan sedikit memperhatikan hasil cukuran Si Abah. Terlihat marah sekali dia. Belum pernah aku melihatnya marah seperti ini. Abah adalah orang yang sabar. Baik hati. Selalu sholat telat lima waktu. Bahkan dia yang mengumandangkan di setiap adzan apabila tidak sedang berhalangan.

“Si Aden Deni memang brengsek!”

“Aden Deni? Aden Deni yang PNS itu? Dia kan di Kanwil Kemenag, Bah”

“Iya. Emang ada lagi Aden Deni yang lain di daerah sini?”

“Memang dia kenapa, Bah? Ngomong apa dia?”

(klik di sini untuk melihat sambungan cerita ini)

 

 

Posted in: @linimasa

9 thoughts on “Robohnya Mesjid Kami Leave a comment

  1. Robohnya Masjid Kami terinspirasi dari cerpennya A. Nafis yang berjudul Robohnya Surau Kami ya Mas?
    Hehehe… Endingnya samaan gak Mas? Penasaran.

  2. ihhh bersambung nya gak enak banget, bikin KZL, terlalu penasaran, sama seperti kalau partner udah orgasme duluan dan capek gak mau lanjutin dikit lagi biar aku juga selesai.

  3. Rumah saya di sekitaran Buah Batu, masih meraba-raba di mana ini tempatnya sudah bersambung. AH!!

    1. Sama.. Belom nemu pom bensin yg berhadapan, belok ke kiri jalan raya, sukarno hatta kali yak… Share location please,he..

Leave a Reply