Kencan Millennials

Baru-baru ini sebuah penelitian statistik mengungkapkan sedikitnya generasi millennials yang mau berkomitmen jangka panjang ketimbang generasi sebelumnya. Menurut Pew Research Center, 59% orang dewasa tahun 1960-an menikah pada umur 18-29, sementara hanya 20% yang menikah di usia yang sama pada tahun 2011. Dan, dari jajak pendapat Gallup baru-baru ini, 64% usia 18-29 tahun ndak hidup atau menikah dengan pasangan.

Menurut The Journal of Sex Research, 31,9% mahasiswa angkatan 1988-1996 memiliki lebih dari satu pasangan seksual di masa lalu. Hampir identik dengan data 2000-2008, 31,6% punya setidaknya dua pasangan seks sebelum menikah. Studi yang sama tahun 2012, angkanya anjlok jadi 12,8%. Millennials memiliki pasangan seksual lebih sedikit daripada generasi sebelumnya.

Artinya. Berlawanan dengan kepercayaan banyak orang, mayoritas millennials ndak punya kebiasaan sex brutal, sering, atau sex bebas. Kehidupan dewasa generasi ini jauh berbeda dari satu generasi di belakangnya. Terutama soal kebiasaan, pengetahuan dan kemampuan sex mereka. Amannya kita kotakkan hasil dan pembahasan ini sebagai cuplikan di kota-kota besar yang terpapar teknologi dan arus informasi setara dengan kemajuan dunia.

Hasil penelitian ini juga mementahkan argumen bahwa kemajuan teknologi informasi mendorong perilaku sex bebas. Pornografi mengakibatkan pemerkosaan. Budaya barat dan internet berujung pada kehamilan diluar nikah. Bukan! Kebodohan dan keterbelakangan adalah dasar  utama kebiadaban.

Jadi, untuk yang belum menikah dan ndak berhubungan sex produktif, ngapain aja? Mencoba untuk memutuskan.

image

Generasi ini dimulai dengan revolusi informasi. Meski klise, sosial media beserta implikasi yang menyertainya ndak cuma mengubah millennials secara sosial budaya. Ia juga mempengaruhi  tataran seksual mereka.

Konsekuensi dari hilangnya jarak antar manusia adalah berkurangnya interaksi fisik diantara kita. Berita, konsultasi kedokteran, bahkan karir beberapa orang sekarang dibangun secara digital. Ndak perlu lagi meyakinkan banyak orang lewat orasi atau wawancara. Baca saja semua jejak digital lewat Google. Grup-grup whatsapp bisa dipakai meeting berkala sampai arisan. Cloud working bisa menyelesaikan satu tugas pelik tanpa harus bertatap muka. Menulis di Linimasa ini pun tanpa tatap muka sebelumnya dengan @roysayur. Kita belum bicara soal video call, virtual reality dan aneka teknologi interaktif lain lho ya.

Millennials ndak perlu lagi sembunyi-sembunyi untuk belajar soal sex. Jutaan materi pornografi bisa diakses gratis kapanpun, di manapun. Majalah erotis udah usang. Apalagi novel. Sex bukan lagi naluri. Ia diperhitungkan dengan matang manfaat dan akibatnya. Millennials selalu menimbang, apakah kegiatan tersebut cukup berguna. Sayangnya, kemudahan ini dihancurkan dengan rendahnya kemampuan mereka dalam komunikasi fisik. Dan sex sepenuhnya soal interaksi fisik. Dari mata turun ke hati. Dari hati turun ke selangkangan. Belum ada alternatif digitalnya. Mau mulai dari mana? Bilang apa? Siapa buka baju duluan? Bawa kondom apa ndak? Mesti makan malam dulu? Ndak bisa diemail aja gitu? Repot!

Maka millennials memproduksi surplus pilihan. Tinder, Grindr, Hinge, Bumble, Setipe dan sejenisnya berkembang secara eksponensial. Memudahkan pertemuan. Meningkatkan kemungkinan mendapat pasangan setelah Facebook dan Twitter dianggap gagal memecahkan masalah berkencan.

Dari prevalensi kencan online, orang menganggap millennials gampang dapat pasangan sex. Bahkan Prof. Donna Freitas dari Boston University bilang ke New York Times, “Anak-anak muda saat ini tidak tahu bagaimana untuk terbebas dari budaya kencan online.

Tapi, masalahnya bukan soal pasangan sex, melainkan ketidaktahuan bagaimana memulainya. Banyak kasus kencan online ndak  berlanjut secara offline. Survei Pew mengungkapkan bahwa sepertiga dari online daters ndak pernah benar-benar ketemuan. Dan, meskipun sudah umum  digunakan (Tinder membanggakan 26 juta pasangan match), hanya 8% dari pengguna usia 18-29 tahun yang menemukan pasangan sex-nya secara online. Kencan online ironisnya menghasilkan stagnasi romantisme.

Sebagian besar percaya  bahwa pilihan  meningkatkan kebahagiaan kita. Nyatanya, terlalu banyak pilihan melumpuhkan kita. PJ Vogt, produser radio Freakonomicspodcast, bilang: “bagian tersulit dari kencan online adalah banyak orang yang kliatannya lumayan.

Priya Parker, Harvard Innovation Lab, menyebut soal FOBO: Fear of Better Option. Semakin banyak opsi yang kita dapat, semakin kita takut akan memilih salah satunya. Maka, kemudahan kencan online melumpuhkan kita dengan banyaknya kemungkinan. Setelah beberapa waktu menggunakan kencan online, Vogt menyadari, “saya akan sangat jauh lebih senang kalau hampir tidak ada pilihan, dan saya bisa bertemu hanya satu orang dan merasa saya akan hidup bahagia bersamanya.”

Hal ini terutama disebabkan naluri sabotase diri ketika berhadapan dengan pilihan terbatas. Dalam satu studi perjodohan, terungkap bahwa semakin sedikit pasangan potensial para peserta, mereka lebih cenderung untuk mengevaluasi ciri-ciri substantif. Tapi ketika mereka menemui banyak potensi dalam satu malam, peserta menjadi kewalahan dan cenderung menilai lebih dangkal. Bayangkan evaluasi apa yang terjadi di ranah online? Belum lagi ditabrak banyak faktor lainnya seperti: foto palsu, profile bodong, dan online marketing.

Untuk alasan ini dan mungkin juga alasan lain, 40% dari millennials berpikir bahwa kencan sekarang lebih sulit daripada generasi sebelumnya. Menurut data Pew, 8 dari 10 millennials masih mengatakan bahwa romantisme adalah penting.

Sayangnya, tindak lanjut mereka untuk  masalah itu sangat ndak romantis. Paul Oyer, pakar ekonomi dan dating expert mengatakan hal terakhir yang generasi ini ingin lakukan adalah: berkomitmen. “Sama seperti menerima pekerjaan yang tidak mereka inginkan, pada titik tertentu kita harus menerima pasangan hidup.

Iklan

5 thoughts on “Kencan Millennials

  1. Gandrasta sayang, boleh aku ikut berkomentar?

    Generasi millenial lahir dari rahim generasi apapun itu namanya. Buah dari generasi sebelumnya itulah yang menjadi contoh, atu bahkan ndak sempat memberi contoh karena kesibukannya, egoismenya, hingga melupakan darah dagingnya untuk menyempatkan waktunya. Saya percaya genetika, bersama-sama faktor lingkungan, membuahkan generasi sekarang ini.
    Generasi kekecewaan.
    Generasi yang banyak belajar bahwa hidup itu ya begini adanya. Bukan nilai idealisme yang dibangun, karena ketika dalam keluarga nilai idealis justru tidak membuat mereka nyaman dalam menjalani hidup.

    Setiap anak butuh kehadiran orang lain. Paling atas, dalam daftar siapa yang dibutuhkan tentu saja orang tuanya. Bagaimana jika orangtuanya tidak memberikan cukup waktu dan perhatian?

    Anak bukan robot yang dapat diprogram dengan rumus sakamoto, teori budi pekerti, apalagi ujian soal rukun islam dan rukun iman, doa rosario dan lain-lain. Ketika anak tumbuh kembang dengan program orangtua saja belum tentu sesuai dengan cita-cita ortu, apalagi yang tidak dilakukan perencanaan matang.

    Lebih banyak anak yang lahir bukan dari “Keluarga Berencana”, melainkan “Keluar Ga Berencana”.
    Butuh kejujuran kita, bahwa bagaimanapun juga generasi saat ini adalah produk dari segala sesuatu yang kita lakukan dan hasilkan.

    Lalu manusia dengan beban psikologis masing-masing, mempercepat proses perubahan pemikiran dan perilaku tersebut.

    Masih panjang,
    tapi jempol udah mulai goyang.

    Crot!

    Disukai oleh 4 orang

  2. Belum lagi belakangan ini teknologi Virtual Reality (VR) semakin berkembang. Nggak kaget kalau perangkat pendukung VR yang umumnya dipasang di wilayah kepala, nantinya berekspansi dipasang juga di sekitar selangkangan. šŸ˜›

    Suka

  3. Jadi ingat, dua tahun lalu bikin diskusi tentang penyebaran HIV dan penyakit AIDS di Papua di sebuah kampus universitas swasta di Jakarta. Yang mencengangkan, ada pertanyaan dari mahasiswi tingkat awal yang berbunyi seperti ini: “itu gimana ya orang-orang di Papua pedalaman bisa berhubungan seks? Kan di sana ndak ada internet.”

    tepok jidat

    Disukai oleh 2 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s