Berpacaran dengan Orang yang Pintar

ADA yang bilang:

Intelligent men and women are easily annoyed by people in general, but tend to say nothing in attempt to avoid meaningless arguments.

…dan apakah mungkin karena itu, berpacaran dengan orang yang pintar memang terasa lebih menyenangkan?

Ketika si dia lebih mudah memahami sesuatu yang terjadi, dan meminimalisasi terjadinya kesalahpahaman. Memahami isi pesan yang disampaikan. Mengerti kapan sebaiknya memberikan tanggapan atau tidak dalam setiap kesempatan, dan dengan tanggapan yang seperti apa? Mengerti posisi diri dalam sebuah situasi. Termasuk memahami ke mana arah dari hubungan yang sedang berjalan; perlukah diteruskan, atau lebih baik dihentikan demi kedewasaan dan masa depan.

Atau jangan-jangan, berpacaran dengan orang yang pintar ternyata malah lebih susah? Ketika si dia susah diajak bertukar pikiran, karena merasa pendapatnya adalah yang paling benar. Memiliki ego yang begitu besar. Membuat kita selalu berada di posisi yang tidak nyaman. Membuat hubungan yang tengah berjalan terasa timpang, karena seakan bukan terjalin antara dua orang kekasih, melainkan antara guru dan murid les privat, antara pengagum dan yang dikagumi. Terus menerus membuat kita merasa terintimidasi. Hingga akhirnya susah banget untuk diakhiri, diputusi.

Dua paragraf celotehan di atas barangkali menggambarkan hubungan yang terjalin dengan/antara orang-orang–sebut saja­–pintar. Dari dua penggambaran tersebut, seringkali muncul generalisasi bahwa hubungan pacarannya orang yang pintar, atau dua orang yang sama-sama pintar itu cenderung sulit bertahan lama. Not alone sampai bisa menapak jenjang keseriusan dan ikatan komitmen berikutnya: “gantung kalung” (tradisi untuk menandakan semacam reservasi), pertunangan atau saling bertukar cincin, pernikahan yang terbagi menjadi seremoni keagamaan dan pesta resepsi, sampai peneguhan ulang ikatan pernikahan di tempat-tempat tertentu.

Ini hanya generalisasi. Ada yang begitu, tapi banyak juga yang sebaliknya.

Toh, bila somehow dua orang yang sama-sama pintar saling memilinkan komitmen, konsekuensinya hanya tiga: mereka menjadi lebih besar bersama-sama, ada persaingan dan salah satunya menjadi lebih besar dengan menekan yang lain dalam resistensi, atau salah satunya menjadi lebih besar dengan kerelaan yang lain untuk menahan diri dan berhenti berkembang.

Namun selain itu, tak sedikit pula yang mengatakan bahwa justru orang-orang pintar susah mendapat pasangan.

Orang-orang yang pintar memiliki banyak pertimbangan. Ribet. Mulai dari hal-hal yang mesti cocok di lapisan paling dasar, sampai urusan-urusan sepele macam FYIs. Walaupun biasanya, tingkat toleransi atas penerimaan berbanding terbalik dengan usia. Makin approachable.

Pintar dalam hal ini tentu berbeda dengan cerdas, apalagi cerdik, terlebih lagi bijak. Kepintaran tertentu, atau ilusi atas kepemilikannya seringkali dibarengi ego atau kesongongan. Dan ego yang terlalu besar justru menjadi semacam penghalau, repellant. Sehingga memunculkan celetukan: “enggak penting pintar, yang penting baik hati, jujur, dan mau menerima apa adanya.

Kepintaran seseorang bisa menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi bisa bikin tertarik, di sisi lain bisa memunculkan ekspektasi. Akan tetapi kepintaran membuat seseorang mampu memodifikasi sikap dan tindakannya. Mereka bisa jaim saat diperlukan, menutupi sifat aslinya. Sedangkan hubungan pacaran membuat orang-orang yang terlibat di dalamnya mengenali satu sama lain lebih jauh. Ada banyak kasus, setelah dipacari malah bikin menyesal. Kondisi ini pun memunculkan sikap susah percaya pada orang yang pintar/terlihat pintar.

Sementara itu, pada titik yang cukup ekstrem, sehebat apa pun kepintaran seseorang dalam menyikapi peliknya urusan hubungan asmara dan perpacaranan, pasti akan dihadapkan dengan satu dilema terberat. Yaitu pertanyaan: “seberapa siapkah kamu untuk meneruskan hidup dalam kesendirian?

Pertanyaan itu memang terdengar mengerikan. Sebab memang sudah alamiahnya masa depan identik dengan misteri dan tak bisa diduga-duga. Kendati tetap sah-sah saja jika dijawab dengan: “I’ll try my best to keep managing myself at that time.

Foto Pinterest.

Lagipula, bagi orang yang pintar, enggak cuma jadian, untuk berani putusan pun perlu banyak pertimbangan.

Lalu, apa maksud dari tulisan ini? Sederhana saja kok. Dan saking sederhananya, kamu pasti sudah cukup pintar untuk memahaminya sendiri. 🙂

[]

11 thoughts on “Berpacaran dengan Orang yang Pintar Leave a comment

  1. berlaku juga untuk: selingkuh lah dengan orang yang pintar.
    harus sudah tau kalau harus dijalani dengan tujuan having fun, tidak boleh clingy, tidak boleh demanding, tidak boleh pakai hati, hanya murni lust.
    kenapa? supaya tetap aman damai di kedua pihak ketika sudah berakhir, nggak rempong, nggak ribet, karena masalah hidup sehari-hari saja sudah banyak.

    1. Dilematis sih. Mestinya, kalau seseorang sudah cukup pintar, dia enggak akan begitu.

      Di sisi lain, lust itu kan kalau selingkuh seksual, nah kalau selingkuh emosional bagaimana? 🙂

      1. selingkuh emosional itu kyk gimana ya? beneran gak ngerti.

        tapi gini deh..
        selingkuh seksual itu, sedikit banyak pake emosi gak sih?
        NYAMAN bersama seseorang, ngobrol, hangout dan lain lain (hingga terjadi selingkuh seksual) itu emosional.

        eh ini udah beda lagi pembahasannya ya? :p

        1. Ketika kamu malah merasa lebih nyaman untuk bercerita, berkeluh kesah, dan sebagainya dengan orang lain ketimbang ke pasangan sendiri. Tapi, tidak ada sedikit pun keinginan untuk terlibat secara seksual.

          Ya barangkali begitu sih.
          Entahlah. 😀

Tinggalkan Balasan