Robohnya Mesjid Kami (2)

(untuk yang belum membaca bagian satu silakan klik di sini)

Aden Deni memang orang yang ceplas ceplos. Ngomong suka seenaknya. Tidak pernah liat lawan bicara. Tapi dibalik celotehannya banyak terkandung makna. Banyak pesan moral yang bisa diambil dari dia sebenarnya. Tapi banyak orang tak suka. Banyak omong. Pernah dia bilang kalo alkohol itu halal yang penting akibatnya dia bilang. Bukan alkoholnya. Selama itu membawa manfaat kenapa dibilang haram. Al-Quran dan hadits itu hanya panduan. Tidak harus ditelan mentah-mentah. Kalo tidak percaya baca saja sejarah. Jangan percaya begitu saja apa yang ustadz di TV dia bilang. Coba baca buku sejarah kejayaan Islam dia bilang. Para ilmuwannya tukang minum wine dia bilang. Aljabar sudah jago matematika ratusan tahun sebelum Einstein menemukan teori relativitas. Ibnu Sina sudah jadi dokter jauh sebelum Isaac Newton menemukan teori Gravitasi. Jalaludin Rumi sudah menjadi penyair jauh sebelum Shakespeare membuat Hamlet. Islam jaya selama ratusan tahun. Banyak penemuan penting dihasilkan. Jauh sebelum jaman Rennaisance di benua Eropa. Sebelum Copernicus tahu bahwa bumi itu bulat dan mengelilingi matahari dia bilang. Sebelum Leonardo DaVinci bikin lukisan Monalisa dia bilang. Kata “alkohol” pun orang Islam yang menemukannya.

Dia bilang kemarin pas katanya aku orang yang belum tentu masuk surga. “Padahal aku penjaga masjid ini. Aku yg pukul bedug. Aku yg mengumandangkan adzan. Aku yg menjadi imam. Sudah puluhan tahun!”

“Dia bilang gitu, Bah?”

Suatu hari nanti, dia bilang, di akhirat, akan berkumpul semua umat manusia dengan berbagai golongan dan suku untuk dihisab. Mereka akan dinilai oleh Tuhan dengan bantuan para malaikat, kemana mereka akan berujung. Surga atau neraka. Banyak yang tersenyum puas banyak juga yang merasa cemas. Haji Syarif adalah salah satu yang paling rileks. Karena dia merasa sudah menunaikan semua yang diperintahkan-Nya. Dan tibalah giliran Haji Syarif. Tuhan pun bertanya.

“Jelaskan dirimu.”

“Namaku Syarif, Tuhanku. Sudah naik haji tiga kali. Rajin tahajud, Tuhanku.”

“Aku tak peduli kamu sudah naik haji berapa kali. Tak penting buatku jidatmu menghitam. Apalagi?”

“Aku bekerja di MUI, Tuhanku. Sudah khatam Qur’an belasan kali. Bisa baca tulisan Arab gundul juga.”

“Ridwan, bawa masuk dia ke neraka.”

Malaikat Ridwan pun menyeretnya ke neraka. Haji Syarif kaget tak kepalang. Dia tak habis pikir. Apa dosa dia. Tapi ternyata dia tidak sendiri. Ada banyak juga Haji-Haji dan Hajjah-Hajjah lainnya yang perlahan terbakar api neraka. Bahkan ada teman dekatnya. Haji Syarif mendekati mereka. “Lho kalian ada di sini juga? Apa kalian tidak heran kenapa kita masuk neraka? Kita semua menjalankan perintahNya. Aku pergi ke Mekkah berkali-kali. Dan kamu juga Norman. Aku ingat kau selalu kurban sapi. Kau bahkan banyak memberangkatkan sanak saudaramu naik haji tanpa menunggu bertaun-taun. Kau tidak bertanya apa yang salah?” Norman pun tertegun lalu berkata, “Iya juga ya. Saya taat beribadat. Selalu menyebut namaNya. Lalu apa yang harus kita lakukan?” Haji Syarif pun berujar, “Mari kita protes ke Tuhan. Apa sebetulnya kesalahan kita.” “Setuju!” Ternyata banyak juga yang merasa tidak bersalah. Mereka pun lalu bergerombol mendatangi Tuhan untuk bertanya apa sebetulnya dosa mereka.

“Ada apa?”

“Tuhanku yang mulia. Kami ingin bertanya apa sebetulnya kesalahan kami. Kami sudah menjalankan semua perintahMu dan menjauhi laranganMu. Kenapa kami masuk ke neraka?” Haji Syarif bertanya yang diamini oleh rombongan lainnya.

“Kalian dari Indonesia?”

“Betul sekali, Tuhanku.” Serempak mereka menjawab

“Mayoritas muslim?”

“Tentu, Tuhanku. Negara kami penduduk muslimnya terbanyak di seluruh dunia.”

“Betul. Banyak yang dari Aceh juga. Cuma di Aceh yang menetapkan hukum Islam. Kami tunaikan semua yang ada di Qur’an dan hadits. Kami rajam mereka yang zinah. Kami cambuk mereka yang melanggar aturan.”

“Korupsi juga negerimu?”

“B-b-betul. Tapi semua negara juga begitu.”

“Banyak anak putus sekolah?”

“Iya Tuhanku. Biaya sekolah di negeri kami mahal, Tuhanku. Dari TK hingga Universitas.”

“Kalian memang rajin menyembahku. Kalian rajin shalat. Puasa. Zakat. Naik haji. Tapi itu tidak penting buatku. Kalian melakukannya karena kalian takut masuk neraka. Tapi kalian menelantarkan apa yang ada di sekitarmu. Kalian egois. Kalian hanya memikirkan diri sendiri. Kalian hanya memikirkan bagaimana cara memperkaya diri sendiri. Kalian semua hanya ingin cari aman. Kalian tamak. Yang kalian pikirkan hanyalah kekuasaan. Kalian makan uang rakyat. Semua ibadahmu tidak ada artinya bagiku. Kalian bodoh. Membaca tapi tidak mengerti. Buku kalian bakar. Buku kalian larang. Kalian baca Qur’an kan? Ayat pertama itu Iqro. Baca. Pahami. Beda sedikit kalian adu jotos. Demi sesuap nasi kalian menjadi orang lain. Mau diadu domba. Mau jadi budak demi dengan bawa agama. Kalian lawan hati nurani. Departemen Agama kalian korupsi. Dana Abadi Umat yang triliunan kalian pake buat apa? Tempat ibadah banyak yang tidak layak. Banyak sekolah yang tidak layak. Banyak anak putus sekolah. Banyak anak yang malnutrisi. Banyak orang tak punya rumah. Padahal negara kalian kaya. Anggaran pendidikan berapa persen dari APBN? 20? Berapa persen yang kalian selewengkan? Olah raga kalian pun tidak berprestasi. Padahal punya potensi. Sudah masuk lagi sana.”


“Aden Deni cerita begitu, Bah?” Abah hanya terdiam dan terisak. Kelopak matanya mulai basah oleh linangan air mata yg mengalir. Sebagian menetes mengenai rambutku yang sudah terpotong di lantai. Aku diam.


mesjid2

Pagi itu aku sedang memanaskan motorku. Hendak berangkat ke pasar. Pak RT menegur dari luar pagar. “Kamu sudah tahu Si Abah?” Aku menoleh, “Kenapa si Abah, Kang? Kenapa?” Aku mulai khawatir. “Tadi subuh ditemukan mati gantung diri dengan tali tambang jemuran di kamarnya.” Aden Deni bangsat!! Ujarku dalam hati. Geram.


Jam empat subuh. Aden Deni sudah bangun. Biasa dia lakukan setiap hari. Ritual untuk melaksanakan shalat shubuh di masjid. Selepas mengambil air wudlu dia pun mengenakan kopiah dan pergi ke mesjid. Berjalan kaki. Tapi dia tidak mendengar suara adzan. Aden Deni teruskan berjalan menuju mesjid. Sesampainya di sana. Tidak ada suara adzan. Si Abah kemana. Aden Deni bertanya-tanya. Dia pun cari Abah ke kamarnya di sebelah masjid. Pintunya sedikit terbuka. Terlihat ada kursi yang terbalik dan badan yang menggantung dan kaki yang tidak menapak ke lantai. Aden Deni berlari dan memeluk badan Abah sambil berusaha memutuskan tali tambang yang mengikat lehernya dengan pisau cukur yang dia temukan di atas meja. Tapi terlambat. Mukanya sudah membiru. Tragis. Aden Deni tendang kursi sekuat tenaganya hingga kaki kursi tersebut patah menghantam tembok. Aden Deni kalut. Terduduk dia di lantai sambil melihat sekujur badan Abah yang sudah tidak bergerak. Pisau cukur itu masih dalam genggamannya. Tatapan Aden Deni kosong. Dia pun berdiri keluar kamar meninggalkan Abah. Dia berjalan gontai menuju rumahnya. Lunglai. Masuk ke kamar. Dia kunci kamar. Masih berdiri, dia sayat nadi di tangan kirinya. Lalu dia sayat lehernya perlahan. Darah mengucur deras dari leher dan tangannya. Aden Deni tersungkur. Ambruk. Darah tidak berhenti mengucur.

 

(cerpen ini adalah hasil jiplakan dari cerpen berjudul Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis)

Posted in: @linimasa

6 thoughts on “Robohnya Mesjid Kami (2) Leave a comment

Leave a Reply