Ada Yang Tahu Siapakah Roy Sayur Itu?

Judul di atas bukan cuma sekedar judul. Coba kita baca dengan intonasi yang benar, selayaknya kalau kita menanyakan sesuatu. Anda kenal dengan Roy Sayur? Kalau jawabannya “iya”, maka bisakah Anda ceritakan ke saya siapa sebenarnya Roy Sayur? Soalnya, hampir dua tahun menulis untuk Linimasa, sekalipun saya belum pernah bertemu langsung dengan Roy Sayur.

Iya. Anda tidak salah baca kok. Saya belum pernah bertemu dengan Roy Sayur sama sekali.

(Photo courtesy of Roy Sayur)

(Photo courtesy of Roy Sayur)

Pertama kali saya tahu nama Roy Sayur ya dari Twitter. Saya lupa, siapa yang lebih dulu follow. Sempat lihat tautan blog pribadi beliau. Tulisannya menarik. Lalu pernah mengirimkan pesan ke saya via email, mengajak untuk menulis di linimasa. Waktu itu linimasa belum jadi seperti sekarang. Tidak langsung saya sanggupi. Pikirnya, blog pribadi aja tidak pernah di-update, apalagi blog orang lain.
Beberapa tahun kemudian, tawaran yang sama datang kembali. Cuma dia langsung mendeskripsikan konsep seperti yang Anda semua lihat sekarang. Saya langsung bilang “ya”. Entah kenapa yang membuat saya tidak berpikir panjang. Padahal saat itu, saya sedang terburu-buru makan siang sebelum mengejar meeting.

Selama itu, saya tidak pernah bertemu langsung dengan Roy Sayur. Komunikasi kami benar-benar hanya lewat bahasa tulisan. Saya punya nomer telepon Roy Sayur, tapi tidak pernah menelponnya. Saya tahu dia pakai iPhone, tapi kami tidak pernah FaceTime. Kalau berkomunikasi lewat WhatsApp, baik di grup ataupun obrolan pribadi, kami cuma menulis, dan tidak pernah meninggalkan voice note.

(Photo courtesy of Roy Sayur)

(Photo courtesy of Roy Sayur)

Jadi sampai sekarang, saya tidak pernah tahu wajah Roy Sayur, tidak pernah mendengar suara Roy Sayur, tidak pernah bertemu langsung dengan Roy Sayur.
Penulis Linimasa yang lain sudah pernah. Kecuali saya. Selalu ada anomali di setiap kelompok ‘kan?

Saya cuma tahu, atau kalau boleh dibilang “kenal”, Roy Sayur lewat tulisannya setiap Sabtu di Linimasa ini.
Roy Sayur yang saya tahu, selain mahir berbicara tentang ekonomi dan kebijakan negara dalam perekonomian, adalah Roy Sayur yang suka bersepeda. Seperti yang terlihat di foto-foto di tulisan ini. Semuanya saya ambil dari akun Path miliknya, tentunya dengan meminta ijin terlebih dahulu. Foto-foto ini juga dia share di akun Facebook dan Instagramnya. Di kedua aplikasi media sosial tersebut, dan di aplikasi serupa lainnya, tidak ada satu pun gambar atau foto yang menampakkan muka asli Roy Sayur. Kalaupun ada, pasti ditutupi sticker, sehingga yang tersisa hanya tampak tangan.

(Photo courtesy of Roy Sayur)

(Photo courtesy of Roy Sayur)

Apakah saya penasaran?
Jawabannya, kadang-kadang.

Siapa sih yang tidak penasaran dengan orang yang belum pernah ditemui, padahal sudah berkomunikasi selama bertahun-tahun? Kalau sudah begitu, biasanya Glenn atau Gandrasta yang memberikan definisi sendiri tentang Roy Sayur untuk memenuhi rasa penasaran saya.

(Photo courtesy of Roy Sayur(

(Photo courtesy of Roy Sayur(

Saya sempat “mengancam”, mau memenuhi ritual ‘kaul’ kalau Roy Sayur sampai datang ke festival film yang saya gelar. Waktu saya bilang ke teman-teman lagi mikirin kaulnya apa, ini jawaban Glenn:

“Kaul itu kan mesti yang bermanfaat. Misalnya, kalo Roy Sayur akhirnya dateng, kamu nulis buat linimasa seminggu full. Kalau bisa wefie bareng Roy Sayur, kamu nulis di linimasa selama sebulan.”

Jawaban saya waktu itu? “Hmmm. Aku pertimbangkan dulu.”
Untung tidak langsung bilang “ya”, dan untung juga sampai sekarang tidak pernah ketemu Roy Sayur.

(Photo courtesy of Roy Sayur)

(Photo courtesy of Roy Sayur)

Lagi pula, di dunia maya, we choose who we want to be. We are free to be what we want to be.
Roy Sayur sudah memilih untuk tidak menampilkan bentuk fisik aslinya sama sekali. Pilihan yang dijalani dengan konsisten selama beberapa tahun ini. Most likely, he will still be that way sampai dunia media sosial berakhir.
Dan sebagai orang di luar immediate circle Roy Sayur, saya harus menghargai pilihan itu. Demikian juga dengan opini, komentar atau apapun yang orang lain pilih untuk ditampilkan mewakili dirinya. Tentu saja kita juga berhak kepo atau ingin tahu, tapi kita juga perlu tahu bahwa ada ranah privacy yang harus kita hargai.

Patut dicatat, bahwa tanpa pernah tatap muka pun, komunikasi dan pekerjaan masih bisa lancar dilakukan. Tanpa pernah bertemu Roy Sayur pun, saya masih bisa menulis untuk linimasa tanpa absen setiap minggu sejauh ini.
Beberapa tahun silam, saya pun pernah bekerja dengan Glenn untuk sebuah project, tanpa kami harus bertemu terlebih dulu. Brief hanya lewat telepon dan email.
Tentu saja setelah itu saya menyempatkan diri untuk bertemu langsung dengan Glenn.

(Photo courtesy of Roy Sayur)

(Photo courtesy of Roy Sayur)

Yang penting, komunikasi lancar. Hati senang.
Belum pernah bertemu muka? Biarkan saja imajinasi yang berbicara.

Jadi, ada yang tahu siapa Roy Sayur itu?

(Photo courtesy of Roy Sayur)

(Photo courtesy of Roy Sayur)

Advertisements

Jangan Paksa: Kebahagiaanmu Bukan Kebahagiaan Orang Lain

IZINKAN saya langsung menyampaikan inti gagasannya: apa yang kamu pikir bisa membuatmu bahagia, belum tentu bisa membahagiakan orang lain.

Jadi, akan lebih baik jika tidak bersikap sok iye, dan memaksakan hal-hal tersebut tanpa menyisakan sedikit pun ruang untuk menghargai betapa unik dan istimewanya kehidupan setiap orang.

Sebelum lanjut, saya percaya ada perbedaan yang cukup besar antara bahagia/kebahagiaan, gembira/kegembiraan, senang/kesenangan, serta ria/keriaan lantaran menyangkut suasana batin dan perasaan setiap orang yang berbeda-beda. Bisa saja yang dianggap kebahagiaan oleh seseorang, tak ubahnya hanya sebuah keriaan sesaat bagi orang lain. Jadi, silakan ganti dan sesuaikan semua kata bahagia/kebahagiaan dalam tulisan ini dengan pilihan kata lain yang cocok menurut Anda.

Unik dan istimewa, berarti tidak ada yang bisa disamaratakan, dipukul rata sepenuhnya. Termasuk untuk hal-hal yang dirasa cocok dan bisa berjalan dengan baik dalam kehidupan seseorang. Satu orang saja. Dirasa, karena pakai perasaan. Lebih abstrak dan enggak bisa diukur. Dirasa-rasa. Sebab selama ini, justru hal-hal abstrak itu yang cenderung bisa menggerakkan orang dengan daya seakan tanpa batas. Sedangkan yang konkret-konkret, yang bisa dihitung-hitung. Kalau habis ya sudah. Mentok. Berganti atau berhenti.

Jangan pula terlalu gampang menjustifikasi, atau mencari pembenaran atas tindakan pemaksaan tersebut dengan prefiks: “kan ini untuk kebaikanmu juga.” Entah, “-mu” di sini sebenarnya ditujukan kepada siapa. Juga tidak ada siapa pun yang bisa menjamin, apakah kebaikan yang disebut-sebut tadi berlaku sama pada setiap orang?

Bukan mustahil, pemaksaan itu ternyata bertujuan untuk memuaskan diri sendiri, menyenangkan candu ego, merengkuh “kebahagiaan” pribadi. Makanya bisa sampai sebegitu mati-matian dilakukan. Akan lebih parah, apabila pemaksaan ini berarti meniadakan kebahagiaan orang lain. Dan menjadi sebuah kejahatan, apabila malah menikmati ketika orang lain kehilangan kebahagiaannya.

Termasuk pembenaran dengan aneka rupa alasan lain. Seperti yang sempat disinggung sebelumnya: batasan dan ikatan struktural. Baik itu ikatan darah, hubungan keluarga, senioritas usia, kekerabatan, ketokohan, bahkan etiket maupun tata susila lengkap dengan salah satu pernyataan paling menjengkelkan dalam peradaban manusia: “kamu tahu apa? Belum bisa membedakan mana yang benar dan yang salah kok.

Pemaksaan kebahagiaan ini yang barangkali dibawa ke Irian Jaya (kini Papua) lewat Operasi Koteka, pada masa Orde Baru dulu.

Dengan dalih kasihan dan iba atas kehidupan warga asli Papua yang dirasa primitif berkoteka serta telanjang dada, pemerintah menjatuhkan banyak sekali pakaian penutup tubuh standar. Mereka, para warga asli Papua pun diharuskan mengenakan pakaian-pakaian tersebut, tak peduli betapa mengganggunya kain-kain tersebut dalam keseharian mereka. Parahnya lagi, ada peraturan yang melarang mereka masuk wilayah kota apabila masih berkoteka. Dengan begini, sebenarnya siapa sih yang bahagia? Apakah orang-orang asli Papua yang mendapatkan budaya baru berupa kain penutup tubuh, atau orang-orang yang merasa beradab karena sudah lahir dan tumbuh berkembang dengan ketakutan pada ketelanjangan?

Serupa dialami orang-orang Dayak di pedalaman Kalimantan. Pemerintah beberapa dekade lalu juga mengidentikkan penghuni hutan Borneo ini sebagai suku terasing, primitif, dan wajib menjadi sasaran program-program “pemanusiaan”.

Soal ini, salah satu Bu Guru cantik waktu saya masih SD–entah namanya Ibu Dwi, atau Ibu Sri–pernah cerita, ia dan rekan-rekannya pertama kali dikirim dari pulau Jawa ke Kaltim bukan untuk langsung menjadi guru. Ia harus ke pedalaman, bertemu dengan suku Dayak yang masih tinggal berpindah-pindah, membagikan pakaian dan mengajari mereka cara hidup layak serta menetap. Seolah-olah, semua itu bisa meningkatkan derajat kebahagiaan para objek sasarannya.

Bayangkan saja, peladang gunung dipaksa harus memancing.


(Video ini NSFW. Aslinya berupa film bisu. Musik petikan Sampeq ditambahkan kemudian.)

Mengutip Appell (1985).

Pada masa-masa awal dibukanya daerah relokasi, kami diberi tahu bahwa semua laki-laki (Dayak) disuruh berbaris oleh orang-orang Jawa petugas relokasi. Cawat-cawat mereka dilepas, dilemparkan ke dalam sebuah tong, dan mereka diberi celana pendek. Seseorang yang ngotot ingin tetap mengenakan baju aslinya disuruh berjemur di bawah matahari seharian penuh.

Masih mending jalan ceritanya begini, seseorang tadi mematuhi perintah berjemur di bawah matahari. Ia seakan mengalah, mengerti bahasa, salah satu ciri manusia beradab. Bisa dibayangkan, apabila ia menolak dan kemudian malah menghabisi si petugas dengan Mandau-nya, apakah itu termasuk perlawanan atau bentuk dari keprimitifan? Toh intinya adalah cawat versus celana pendek, kan? Kenapa harus disamaratakan?

Tetapi jangan khawatir. Perubahan tetap terjadi kok. Sudah banyak orang Papua dan Dayak yang modern, bahkan menjadi figur unggulan di bidangnya masing-masing. Ada yang tetap berkoteka, tapi ada pula yang lebih suka pakai kemeja. Di beberapa pemukiman baru, ada beberapa keluarga Dayak yang tak betah dan kembali ke hutan serta hidup berpindah-pindah sesuai kebutuhan, namun ada pula yang bertahan dan akhirnya menjadi juragan. Kalau sudah begini, urusannya bukan lagi benar dan salah. Semuanya kabur baur, sebab semuanya bersifat kasuistis. Setiap manusia dan kehidupannya itu unik dan istimewa.

Mengambil contoh lain yang lebih gampang deh. Anak seorang dokter, yang dipaksa harus berkuliah di jurusan kedokteran, bahkan sudah diskenariokan untuk mengambil studi lanjutan spesialisasi yang bergengsi. Padahal si anak enggak suka, namun akhirnya terpaksa menjalani perintah itu. Sinetron banget memang. Tapi, bila dipindahkan ke kehidupan nyata, orang tua selalu benar dan anak harus selalu diarahkan? Atau tidak? Silakan jawab masing-masing.

Saat kamu merasa sudah punya pikiran yang pasti tepat diterapkan untuk kebahagiaan semua orang, jangan lupa bahwa alam pikiran itu tak lain hanyalah resonansi dan gema pemikiran-pemikiran pada pendahulu. Ada yang cocok, bisa jadi. Ada juga yang sudah usang. Obsolete.

Lalu, di manakah posisi etika dan moralitas? Tergantung. Pembahasannya pakai sudut pandang apa.

Mau percaya atau tidak, semuanya lumat dalam perubahan.

Perubahan itu berlangsung organis dan fleksibel, memunculkan ruang-ruang baru yang tak terduga sebelumnya, dan sanggup untuk mengisi ruang-ruang baru tersebut dengan substansi yang tak kalah asingnya.

Sebagai homo cogitans, makhluk yang mampu berpikir, perlu penyesuaian untuk menghadapi perubahan. Penyesuaian itu seringkali melelahkan. Ya konsekuensi sih, namanya juga hidup.

12241195_10208123581355424_2674146848798290986_n

Happy Hump-day!

[]

Damn, what’s wrong with me and my head anyway?
Minggu depan mau ngomongin yang jelas-jelas aja ah.

Misteri Yang Tak Pernah Mati

Kebiasaan saya semenjak ada internet (dengan kecepatan yang agak lumayan) dan susah hilang adalah ngeyucub kemudian tersesat dan susah untuk kembali. Pertama kali niat membuka Youtube adalah untuk melihat salah satu musik video dari musisi kegemaran yang cuma berdurasi tiga sampai empat menit. Tapi ujungnya berselancar entah kemana dan tiba-tiba berakhir dengan melihat video proses bertelurnya penyu di Pulau Galapagos. Saya tidak mengerti ini kenapa bisa terjadi. Apakah mungkin saya adalah seorang zoologist di dunia yang lain? Entah.

loch

Itu seringkali terjadi dan imbasnya saya justru jadi menikmati. Seperti bertualang tanpa arah tujuan. Penuh kejutan. Sampai suatu ketika saya kembali ke tahun 1995. Radiohead baru saja merilis album keduanya. Hit single-nya High & Dry. Lagu yang justru paling saya benci. Tapi di situ ada satu lagu dengan musik video yang sampai sekarang masih misterius. Sebagian pasti banyak yang sudah melihat. Tapi mudah-mudahan banyak yang belum juga. Karena saya masih mencari jawaban dari misteri ini. Apa sebetulnya yang dikatakan oleh bapak-bapak yang tiba-tiba berbaring di trotoar jalanan? Kenapa ia berbaring menyamping? Dan kenapa semua orang  yang ada di sana semuanya pada akhirnya ikut berbaring di trotoar?

Video ini sudah mau berusia 21 tahun dan saya masih belum mendapatkan jawaban yang memuaskan. Ini sama misteriusnya dengan Supersemar, Monster Loch Ness, atau penampakan piring terbang. Kalo ada yang tau silakan cantumkan di kolom komentar. Serius boleh. Lucu apalagi. Terima kasih.

Pertarungan BATMAN v SUPERMAN Sesungguhnya

image

Sumber: screenrant.com

BATMAN: “Alien!”
SUPERMAN: “Codot!”
….. Tarung

SUPERMAN: “Martha ibuku.”
BATMAN: “Enak aja, Martha ibuku!”
….. Tarung

BATMAN: “Pagi-pagi ngopi.”
SUPERMAN: “Pagi-pagi jogging.”
….. Tarung

SUPERMAN: “Jangan pake gadget di meja makan.”
BATMAN: “Loh, bajuku kan gadget?”
….. Tarung

BATMAN: “Celana dalemku besi.”
SUPERMAN: “Celana dalemku gampang pipis.”
….. Tarung

SUPERMAN: “Ubud.”
BATMAN: “Canggu.”
….. Tarung

BATMAN: Matiin lampu
SUPERMAN: Nyalain lagi
….. Tarung

SUPERMAN: (di Indomaret) “Mana tas belanjaannya?”
BATMAN: “Yah, lupa…”
….. Tarung

BATMAN: buka baju
SUPERMAN: “Lama banget buka bajunya?”
….. Tarung

SUPERMAN: “Ini siapa yang mencet odol dari tengah?”
BATMAN: “Aku. Emang kenapa?”
….. Tarung

BATMAN: Manasin Batmobile
SUPERMAN: Terbang duluan
….. Tarung

SUPERMAN: “Yang beli Chitato rasa Indomie terkutuk!”
BATMAN: Lempar bungkus Chitato
….. Tarung

BATMAN: Buka sepatu deket kasur
SUPERMAN: “Pindahin deket pintu ndak?!”
…… Tarung

SUPERMAN: “Hmmm Ben Affleck…”
BATMAN: “Hmmm Henry Cavill…”
….. Tarung

BATMAN: “Gal Gadot?”
WONDER WOMAN: “Apaan?”
SUPERMAN: “…..”
….. Tarung

SUPERMAN: “Capek…”
BATMAN: “Sama…”
….. Pelukan

Brand Loyalty, Kan Kucoba Semua

Mungkin sekarang sudah sampailah waktunya kita ucapkan selamat tinggal kepada Brand Loyalty*. Di era di mana brand-brand dan layanan baru datang dan pergi lebih cepat dari perkiraan semua umat manusia di bumi, masih ada dan relevan kah Brand Loyalty?

Bagi yang lahir di tahun 70-an, pasti ingat ada dua taksi yang merajalela di Jakarta: President Taxi dan BlueBird. President Taxi menjadi musuh bersama. Kondisi taksi yang tak memadai, argo tak jelas, AC tak jalan, bau dan lain sebagainya. BlueBird bagaikan penyelamat yang memberi kenyamanan di kota ini. Semua harapan akan layanan taksi yang sempurna diberikan oleh BlueBird. Ini pun diakui saat turis dari negara tetangga berkunjung ke Jakarta. Lawan Malaysia dan Singapura aja sih, BlueBird masih megang lah. Maka, BlueBird memiliki BrandLoyalty yang tinggi. Dari personal sampai korporat.

Kehadiran Uber Taxi dan kawanannya, dari pengamatan di media sosial rupanya menggoyangkan kesetiaan pada BlueBird. Apalagi setelah demo kemarin. Banyak yang menyatakan tidak akan lagi menggunakan jasa taksi burung biru ini. Selain mengutuk aksi anarkis yang dituduhkan kepada BlueBird. Aksi memenangkan hati pelanggan pun dilakukan oleh pihak BlueBird dengan memberikan layanan taksi gratis seharian keesokan harinya. Aksi ini pun mendapat banyak cemoohan. Intinya, BlueBird kalah set.

Tidak menggunakan BlueBird sama sekali, mungkinkah? Bagi para pengguna layanan angkutan umum sejati, pasti paham bagaimana sering kita dihadapkan pada pilihan yang tidak ada pilihan. Uber dan layanan aplikasi, kadang sedang down. Sinyal di kota ini ya tau sendiri deh. Atau situasi genting seperti hujan, kepepet waktu dan lokasi kurang memadai, sering membuat kita memutuskan untuk memakai layanan transportasi umum apa pun asal sampai tujuan.
Kengototan tak mau menggunakan jasa angkutan tertentu, hanyalah milik orang yang punya pilihan dan kemewahan. Terutamanya kemewahan waktu. Bisa jadi yang bersumpah tak lagi mau menggunakan BlueBird keluar dari mulut yang hanya menggunakan jasa taksi sesekali saja. Karena sudah punya mobil lengkap dengan sopirnya.

“Gapapa lah gue nunggu aja sampe dapet Uber” kata seorang teman di sebuah mall Jumat sore Jakarta. Okede Jek! Gue ciao dulu ya… bye bye fanboy.

Tak hanya BlueBird, berbagai brand telepon pintar kini bermunculan. Tak lagi didominasi oleh Apple dan Samsung. Mulai terdengar review pribadi akan puasnya pada brand-brand yang baru ini. Beberapa bahkan bangga karena menggunakan brand yang “anti-mainstream”, brand perjuangan. Dan karena mereka rata-rata sudah pernah menggunakan Apple atau Samsung sebelumnya, mereka bisa bercerita pengalaman barunya akan brand-brand baru ini. Bisa membandingkan.

Nike dan Adidas. Dua brand yang sudah lama bersaing dan membelah dunia menjadi dua. Kini pun mulai digoyang oleh brand-brand baru spesialis. Khusus lari, bersepeda, basket, sepakbola dan lainnya. Memaksakan setia pada salah satu brand padahal bikin kaki sakit sepertinya bukan pilihan bijaksana. Memilih sepatu olahraga yang penting gaya, hanyalah bagi pemula. Yang sudah menekuni cukup lama tau dan sadar, gaya adalah prioritas terakhir. Keselamatan dan performa adalah yang pertama. Diperlukan keterbukaan untuk mencoba sampai menemukan brand yang paling sesuai untuk kaki masing-masing.

Setia pada satu brand untuk makanan? Gila aja! Hari begini beragam brand makanan hadir. Menawarkan beragam variasi dan inovasi. Ada yang bermain di rasa banyak pula yang menawarkan gaya. Tak ingin coba-coba? Gak gaul. Kita bisa terasingkan di percakapan baik di dunia nyata mau pun di media sosial. Bakmi, dulu yang terkenal dan ada di mana-mana yang hanya Bakmi Gajah Mada. Sekarang? Ada layanan GoFood yang bisa menghadirkan beragam bakmi ke tempat kita berada.

foreign-goodbye-1222x330

Linda Locke, seorang praktisi periklanan senior yang entah ke mana sekarang, sedang duduk di cafe depan Harrods. Dia menyaksikan beragam perempuan dari berbagai penjuru dunia masuk untuk berbelanja di Harrods. Linda kemudian mengambil kesimpulan “ada beragam agama di dunia, tapi ada satu agama yang menyatukan: shopping”.

Rangsangan untuk mencoba-coba brand baru kini semakin besar dengan adanya media sosial. Review dari teman dekat mau pun teman maya pun tak terbendung. Tak perlu percaya 100% pada iklan. Kata orang tentu lebih bisa dipercaya ketimbang kata produsen. Selama tak terlalu menyita banyak biaya dan pengorbanan, mengapa tak dicoba saja. Mana tau menemukan yang lebih cocok dari brand yang selama ini sudah kita yakini.

Fanatisme, perlahan mulai memudar. Selain agama, fanatisme akan sebuah brand hanya akan membawa kita masuk dalam tempurung. Yang mengasingkan kita bukan hanya pada peradaban tapi kemajuan zaman. Pilih saja brand yang sesuai dengan hidup kita.

Bukan pula serta merta memuja segala brand yang baru. Brand baru atau lama bukan masalah selama memudahkan hidup kita. Syukur-syukur bisa menghemat uang kita. Terbukti, brand loyalty (apalagi berlebihan) hanya akan membuat hidup kita miskin. Miskin duit, dan terutamanya miskin pengalaman.

Hey, Relax… They are only brands… Buat apa setia sama brand, setialah pada kebutuhan dan hidup kita. Karena brand datang dan pergi, hidup kita jalan terus.

Bagaimana brand loyalty bisa membuat kita miskin? Ya saat produsen menyadari brandnya banyak yang ngefans gila, perlahan harganya pun mulai dinaikkan. Kadang sampai bisa mencekik leher. Karena toh akan selalu ada yang membelinya. Akan selalu ada yang memujanya, serendah apa pun inovasi produknya. Enak aja! Waktunya kita menjadi konsumen yang pandai.

Konsumen yang pandai adalah musuh para produsen pemalas. Produsen malas berinovasi dan hanya menginginkan uang. Produsen yang tak mempedulikan keinginan dan aspirasi konsumen. Produsen yang percaya iklan bisa mengelabui dan membuai. Saatnya konsumen berdiri dan membuat pagar betis menjadi pengawas.

Konsumen yang tidak mau dikungkung pada sebuah brand. Konsumen yang memilih dengan akal sehat. Sesuai kebutuhan, sesuai kantong, dan sesuai dengan gaya hidup masing-masing. Internet telah membuka pilihan brand lebih banyak. Saatnya ucapkan selamat tinggal pada brand loyalty. Rugi, Jek! Sama pasangan hidup aja susah beuth mau loyal apalagi sama brand :p

Dunia dan segala keindahannya 

‘Kan kucoba semua 

Beraneka ceria dan pesona 

Harus kurasakan semua 

Begitu banyak gaya baru 

Kutergoda menikmatinya

Bebaskan dan ekspresikan diri

Sambut hari ini dengan ceria 

Sadari dalam setiap langkahku 

Gejolak jiwaku dengan harapan pasti

Ooh Kuraih Semua Kuraih Segalanya

Kan Kucoba – AbThree

*Brand loyalty is when consumers become committed to your brand and make repeat purchases over time. Brand loyalty is a result of consumer behavior and is affected by a person’s preferences. Loyal customers will consistently purchase products from their preferred brands, regardless of convenience or price.

 

Mengenal Bebegig, Dunia Lain dan Uka-Uka Konsumtif Penuh Keriaan Syalalala

Kerana setan duit bermunculan saat dompet menebal. “Inget ndak, Say? Kamu kan dari kemaren dah ngincer sepatu ini. Ya mumpung lah. Ndak tau kan bulan depan uda disabet orang.”
Setan Duit ada dimana-mana. Mereka biasanya ngumpul di mal. Tapi sekarang mereka lebih demen nemplok di layar laptop, hape, dan pertemuan arisan.

Setan duit bisa muncul juga dalam bentuk setan kredit. Ho’oh. Mereka ada di kartu plastik bernama kertu kredit. Setan jenis ini gatel melulu bawaannya dan minta digesek selalu.

Kaki kita dua saja. Sepasang. Berapa banyak sepatu yang tertata di rak? Di kolong meja kubikel? Belum yang ketinggalan di rumah pacar. Juga di bagasi mobil dan di bawah setir.

Tanggal muda bagi pekerja pemula itu bagaikan surga ketigabelas. Darah deras mengalir. Ndak bisa diem lihat tas baru, gawai terkini, atau bunyi perut minta dimanjakan untuk diisi dengan sajian restoran yang menggiurkan dan tampilannya resik.

Setan perut namanya. Kerjaan utama, meneteskan air liur saat instagram dan path kawan kita menghadirkan tempat ngopi, ngumpul-ngumpul atau sajian istimewa lainnya.

Setan ini adalah setan jenis baru, varian terkini yang dilahirkan dari dunia konsumtif. Kan apa salahnya wong kita mampu. Kenapa ndak? Lagian teman-teman kita pun melakukan hal yang sama. Mencari keriaan dan tertawa bersama.

Ada satu lagi namanya Setan Lancong. Setan yang hinggap di promo tiket, voucher hotel dan ngadem di tepi pantai berpasir mutiara, di pucuk cemara pegunungan, dan di bagian pengurusan visa.

Setan-setan di atas didukung penuh dengan asisten setan yang bersembunyi bagai bug dan virus dalam berbagai aplikasi. Mereka mendekam diam-diam pada aplikasi go-food, bukalapak, traveloka, olx, lazada, m-tix, priceline, airbnb, dan amazon.

Lalu hati kecil kita lama-lama bicara. Sepertinya bukan kerjaan setan deh. Ini kan emang kemauan gue sendiri. Hidup kan kudu dinikmati. Kapan lagi? Duit-duit sendiri, ngapain pelit? Buat sendiri lagi. Hidup mah sekali aja. Makanya kudu dibuat seneng dan jangan nyesel.

Maka dari itu, sepertinya setan sendiri kalah jauh dari pola pikir dan cara bujuk anak zaman sekarang. Sering dapat kultwit, sharing akademi berbagi, apalagi kita orang kuliah sampe S3. Belanja mah belanja aja. Toh kita juga gampang dapetin duit lagi.

Kalau perlu kita malah yang bujuk setan biar kerjaannya ndak cuma menggoda kita. Tapi belajar untuk belanja, pesen tiket pesawat ke raja ampat. Biar cakrawala berpikir mereka agak maju, cukup wawasan, dan bisa pamer di media sosial.

Bukankah kita adalah generasi terkini, yang selalu diketahui oleh khalayak mengenai keberadaan kita berdasarkan apa yang sanggup kita beli. Siapa kita adalah apa yang kita konsumsi.

Aku pakai iphone, kamu hape cina. Ndak level. Kamu pakai avanza, aku pakai mini duonk. Sepakat ndak level? Kamu nongkrong di starbucks, aku mah St.Ali. Lebih kekinian lah! Jelas!

Lihat? Kita berbeda atas apa yang kita konsumsi. Jurang yang dipisahkan gaya hidup.

Bagaimana jika penggagas iphone, desainer mini cooper, pemilik waralaba St. Ali malah hidupnya penuh dengan kalkulasi. Berangkat kerja naik kendaraan umum, dengan bekal yang dibawa dari rumah, membawa termos berisi teh hangat. Makan siang bersama kolega di kantin terdekat, dan mengenakan kemeja katun biasa.

Duit mereka diperlakukan istimewa. Disimpan rapi dan digemukkan agar beranak pinak. Lewat usaha lain. Diberikan kepada para manajer agar rela memberikan lebih banyak uang lagi untuk mereka.

Zaman sekarang adalah zaman kermasan bagi setan konsumtif. Karena setan konsumsi yang terdiri dari setan duit, setan lancong, setan kredit, sekarang sedang menikmati pasive income. Mereka sudah pada kuadran terakhir: menuai hasil tanpa mengeluarkan keringat.

Itu pun jika memang setan ada. Jika ternyata ndak, darimana dorongan konsumtif ini berasal?

Ada yang tau?

Dari Darwinian sampai Tokopedia, Aku Begini karena Dia

Hari ini saya janji, untuk tidak keluar kamar kalau belum selesai menulis untuk Linimasa. Tengah hari sudah berlalu, dan saya masih di kamar – di tempat tidur tepatnya – sambil memangku laptop, dan banyak tab browser yang terbuka (demi riset). Sempat ingin mencari tahu soal teorinya Darwin, Googling sedikit soal evolusi versi dia, lalu mendadak bingung seperti ada yang hilang. Lalu ingin baca Origin of Species, kemudian berpikir panjang, kok sepertinya agak berlebihan ya. Lalu ingat kalau Richard Dawkins membahas soal teori ini panjang lebar di salah satu bukunya. Rantai pikiran berikutnya adalah saya ingat ada teman saya yang punya dan sudah baca. Tangan lalu meraih ponsel dan mengirimkan pesan ke teman tersebut, untuk mengkonfirmasi subyek buku itu. Ternyata benar, dan tidak cuma itu, teman pun menawarkan saya meminjamnya. Rumah dia masih dekat rumah saya, lalu saya katakan, akan segera saya kirim Go-Jek ke rumahnya untuk mengambil.

Dua puluh menit kemudian buku sudah di tangan. Dokumen di layar saya masih blangko.

IMG_20160325_123945

Kenapa sih, saya belakangan ini jadi mati ide begini? Kecurigaan adalah tempat kerja baru. Bukan bikin stres, justru malah sebaliknya. Saya suka sekali tempat kerja sekarang, dan besyukur bisa kerja di sini. Tidak menyangkal kalau semuanya baru dan menantang. Baru, karena itu masih banyak yang bisa dipelajari. Menantang, karena berbeda sekali dengan apa yang bertahun-tahun lalu dikerjakan, karena itu saya tidak bisa hanya berjalan untuk mengejar, tetapi harus berlari, bahkan sprint!

Selain pekerjaannya sendiri, juga ada faktor perjalanan ke dan dari tempat kerja yang lebih jauh dari tempat kerja terdahulu. Dalam minggu pertama, saya melakukan beberapa eksperimen, apa moda transportasi yang paling cepat dan praktis untuk commuting setiap hari. Dari Trans Jakarta, taksi, GoJek, Uber, semua dicoba. Sempat terjebak kemacetan yang parah di jalur yang salah, saya terserang anxiety attack yang saya kira serangan jantung. Jadi lah saya mampir ke rumah sakit untuk EKG. Untungnya semua hasil normal. Kembali lagi saya dituduh GERD atau sakit maag. Sepertinya dokter di Indonesia sudah janjian ya, soal kambing hitam; pencernaan (Saya ada cerita lebih ekstrim lagi soal ini, mungkin nanti) (Hore, ada inspirasi). Tetapi setelah mencoba dan salah, akhirnya saya menemukan cara paling nyaman dan relatif cepat untuk pergi dan pulang dari kantor. Tetapi tetap saja jauh lebih makan waktu dibandingkan commuting saya dahulu selama lima tahun.

avcrx87

Tapi saya mulai terbiasa. Dan tak lama lagi, semuanya mungkin tak terasa berbeda. Seperti juga kebiasaan-kebiasaan lama, yang secara sadar maupun tak sadar sudah ditinggalkan. Kebiasaan baru yang diadaptasi sudah terasa seperti bagian hari sejak dahulu. Seperti ponsel layar sentuh contohnya. Sekarang kok, rasanya seumur hidup saya sudah menggunakannya. Kalau diingat benar, ternyata kurang lebih 4 tahun lalu saya masih menggunakan ponsel dengan keyboard QWERTY. Satu kebiasaan saya yang mulai hilang juga: mencari barang di mal atau pertokoan. Apapun yang dicari sekarang, akan saya Google dulu, atau kalau saya sudah tahu toko onlinenya, saya langsung ke sana dan membelinya. Pencet beberapa tombol, dan yang terpenting tidak harus ada interaksi dengan manusia asing, selesai. Tinggal tunggu barang sampai. Sejujurnya ketika sedang “riset” tadi saya juga sempat bertransaksi membeli silikon gasket untuk mokapot ditambah dengan tumbler untuk double espresso, supaya tidak boros paper cup kalau saya memesannya di kedai kopi di lobby kantor. Untuk mencari bahan memasak yang tidak mainstream untuk pola makan saya, sekarang jarang sekali mengandalkan supermarket. Sudah mengunduh aplikasi Tokopedia, ternyata nyaris apa saja bisa didapatkan di sana. Malu tak malu saya akui, kalau saya pernah membeli dari mulai casing ponsel, t-shirt, cacao butter, coconut flour, almond flour, hingga kerupuk kulit dari situ. Apakah saya sadar sepenuhnya kalau kebiasaan saya berubah? Tidak terlalu. Karena kebutuhan saya tidak bisa dipenuhi oleh supermarket biasa, wajar saja kalau cari sumber lain.

online-shopping

Either you adapt or die. Jadi sering terdengar ya frase ini belakangan? Tapi memang benar juga sih, seperti juga teorinya dari Charles Darwin yang sering dikutip orang sebagai satu frase; survival of the fittest. Seperti ilmuwan lainnya, Darwin juga sering salah dimengerti. Banyak orang menyangka kalau survival of the fittest itu mengandung arti, yang bertahan hidup adalah yang paling pintar, kuat, yang paing besar dan yang paling cepat. Padahal, tidak demikan. Yang akan bertahan hidup dan pada kondisi optimal untuk bereproduksi (dalam konteks biologi) adalah yang paling sesuai dan atau bisa menyesuaikan dengan situasi dan kondisi alam ketika itu. Sehingga jumlahnya akhirnya jadi lebih banyak dari spesies yang lebih besar sekalipun, yang mungkin justru tidak optimal kecocokannya dengan lingkungannya. Kalau secara berangsur semakin berkurang jumlah, lalu spesies tiba-tiba hilang, besar kemungkinan tidak ada yang sadar. Bukan tidak mungkin 5 tahun dari sekarang kita mendengar ini di percakapan, “ingat tidak, beberapa tahun yang lalu, kalau kita ingin mencari taksi harus ke pinggir jalan dulu dan mengawe-ngawe sampai lelah?”

mjaxmi01mmq3zwfhogmxytrkmdq2

Sepertinya bodoh di jaman ini lebih aman damai dibandingkan kalau jadi pintar. Ya tak? Ya tak?

Maafkan kebawelanku. Anggap saja ini balas dendam dari minggu lalu alpa mengunggah post.

Pekerjaan Kita, Wajah Kita

Beberapa minggu lalu, di suatu hari Sabtu, saya bertemu seorang teman lama. Dia adalah seseorang yang cukup mumpuni di bidang seni. Cukup sering menjadi kutu loncat, alias pindah-pindah dari satu institusi ke institusi lain. Namanya sering terlihat di beberapa acara seni Tanah Air. Malam itu, dia menjadi kurator sebuah pameran seni yang diadakan oleh lembaga asing.

Saya mulai menyapa dia di saat rehat pertunjukan.

“Akhirnya, bisa ngajak ngobrol elo. Selamat ya!”
Thank you. Masih nyempetin dateng, ih. Padahal lagi sibuk-sibuknya ‘kan, buat minggu depan?”
“Lumayan lah. Lagian lama nggak ketemu elo. Jadi sekarang full-time nih di sini?”
“Iya. Emang mereka yang minta sih.”
“Trus kalau full-time gitu, masih bisa ngerjain yang lain.”
“Selama nggak jadi head of curation, atau director gitu, ya masih bisa.”
“Maksudnya?”
“Kalau sekedar jadi kurator tamu, atau terlibat di tim penyusun program acara gitu, masih bisa. Tapi kalau jadi, misalnya, program director, atau sole curator gitu, nggak bisa. Soalnya kalau seperti itu kan, you have to be the face of the program since you’re the head of it. Nah, itu yang sekarang ini lagi nggak bisa gue kerjakan, karena gue pun jadi representatif lembaga ini di Indonesia. Mau nggak mau, I have to be the face of this company.”

Rehat selesai, acara dimulai lagi. Saya masih belum meninggalkan tempat duduk kami. Sedikit berpikir tentang apa yang baru saja dia katakan.
Bahwa pekerjaan kita adalah wajah kita. Bahwa wajah kita merepresentasikan apa yang kita kerjakan.

Businessman with smile computer screen isolated on white background

Sambil menyeruput sisa teh yang sudah mulai dingin, saya ingat bahwa beberapa orang yang pernah saya temui masih menandai nama saya di phonebook mereka dengan nama “Nauval X”. Lambang X di sini bisa berarti nama festival film yang pernah saya kerjakan dulu, atau proyek penerbitan buku yang sudah saya tinggalkan, atau pekerjaan menulis di surat kabar yang sudah lama vakum. Bukan nama lengkap, karena kita terbiasa mengingat nama depan. Jadi jarang saya jumpai mereka yang menuliskan nama lengkap Nauval Yazid. Selalu nama depan, diikuti dengan jenis pekerjaan yang kita lakukan saat berkenalan.

Akhirnya, nama belakang buatan itulah yang akan selalu mengikuti nama kita. Jenis pekerjaan yang menempel di belakang nama kita akan selalu membuat orang mengasosiasikan, atau paling tidak mengasumsi, bahwa profesi kita seumur hidup adalah apa yang mereka tahu sehari-hari.

Tak hanya wajah, nama kita pun merepresentasikan pekerjaan kita.

Happy-Face

Mau tidak mau, suka tidak suka, each one of us is a public relations (PR) officer of what we do.

Ketika kita memutuskan untuk mengambil suatu pekerjaan, maka di saat yang sama sebenarnya kita sudah memutuskan untuk menghabiskan paling tidak sebagian hidup kita di situ.

Salah satu nasihat lama yang pernah saya dapatkan dari seorang paman jauh waktu saya baru mencari kerja dulu adalah, “Setelah kamu lulus sekolah atau kuliah, maka 75% hidup kamu akan diisi oleh kerja dan kerja. Maka penting buat kamu untuk menyukai pekerjaanmu. Even if you do it for money. Aku nggak bilang kamu harus cari kerjaan yang sesuai minat kamu lho. Apalah itu istilahnya, ngejar passion. Nggak semua orang bisa, nggak semua orang punya luxury itu. Toh akhirnya yang penting kamu bisa hidup dengan bayaran dari pekerjaanmu itu. Cuma ingat. Kamu akan menembus macet, ketemu orang-orang yang nyebelin, kena deadline seabrek-abrek. Kalo kamu nggak cinta, susah. Jadi cari sampe dapet, satu saja bagian dari pekerjaanmu itu yang kamu suka. Mau itu temen-temen kerja yang enak, mau itu makanan di kantin yang murah, pokoknya anything to get you out of bed everyday to work.”

xjPoARLj_400x400

Mencari bagian yang disukai dari pekerjaan memang mutlak diperlukan. Apalagi kalau sudah menjadi pemimpin atau leader dari sebuah tim. Apa yang diucapkan pemimpin menjadi sabda pengikutnya. Apa yang dilakukan pemimpin menjadi contoh tingkah laku anak buahnya.

Setiap saya menjalani festival film yang sudah saya lakukan selama beberapa tahun terakhir, pasti ada saja kesalahan yang terjadi. Namanya juga event.
Minggu lalu, ada kesalahan penulisan jam tayang di suatu acara. Informasi sudah disebar. Di grup WhatsApp, saya langsung panik.
Teman saya langsung menelepon. Dia bilang, “Udah gue minta desainer buat benerin. Cepet kok. Lagian, jangan panik ah. Elo panik, nanti anak-anak volunteer gimana? Panik juga kan?”

A gentle reminder, indeed, bahwa bagaimana kita menangani pekerjaan kita akan dilihat dan mungkin ditiru juga oleh orang lain.

We are what we do. What we do defines who and what we are.

Selamat menikmati the long weekend!

You-are-what-you-eat-man

Baper Pada Tempatnya

PADA awalnya, tulisan ini ingin saya juduli “Jika Tidak Mengerti, Jangan Sok Bereaksi, Nanti Merasa Bego Sendiri” dengan maksud yang barangkali hanya berupa pengulangan topik-topik sebelumnya. Yaitu soal pentingnya menyimak untuk memahami, serta pentingnya memahami sebelum bertindak demi kebaikan bersama dan diri sendiri. Membosankan. Bisa jadi sama seperti Mas Agun yang bosan membaca komentar-komentar meledak-ledak di artikelnya soal EDM, dari para remaja yang kemampuan membacanya terhenti sampai judul dengan tulisan berukuran besar. Hahaha!

Tapi, setelah dipikir-pikir, terserah saja sih mau ngapain. Toh setiap orang memang berhak melakukan apa pun yang mereka inginkan, kok. Yang penting jangan sampai lupa, setiap tindakan selalu dibayangi oleh konsekuensinya masing-masing. Jadi, saat Anda berhasil membuat orang lain menangis karena sakit hati, pasti ada waktunya ketika Anda menghadapi situasi serupa. Beda suasana, beda penyebabnya, tapi dengan dampaknya yang kurang lebih sama. Sama-sama enggak menyenangkan.

Apakah itu yang disebut karma? Kayaknya enggak juga. Enggak akan pernah bisa sesederhana itu. Karena orang kita selama ini terlalu sering menyalahkaprahkan karma dengan balasan berupa keburukan saja.

Sebaliknya, sebagai penyeimbang ilustrasi di atas, ada waktu saat hati Anda dipenuhi rasa syukur setelah berhasil memberikan pertolongan, sesepele apa pun. Setelahnya akan ada masa ketika Anda merasa sangat berterima kasih kepada seseorang yang sudah memberikan bantuan di momen yang tepat. Impas, bahkan teramplifikasi.

Dalam beberapa tulisan yang lalu, berulang kali disampaikan untuk jangan melakukan sesuatu yang tidak ingin kita alami sendiri. Seruan yang sudah dikumandangkan sejak pertama kali manusia mengenal dan membakukan etika ini tidak pernah berubah sedikit pun. Inti pesannya sama. Lebih bersifat membendung, menahan, mengendalikan, meredam apa pun dorongan yang muncul dan membuat kita ingin melakukan sesuatu.

Namun bagaimanapun juga, pembendungan, penahanan, pengendalian, peredaman itu hanya akan memberikan hasil sementara. Mustahil dihilangkan, dan tak mungkin dipuaskan begitu saja. Hanya bisa menekan. Mengkondisikan terjadinya penumpukan, dan bisa meledak sewaktu-waktu dengan efek lebih besar.

Hadir sebagai legitimasi supremasi tertinggi biar makin tidak bisa ditawar-tawar lagi, seruan-seruan tersebut dipatenkan sebagai salah satu fondasi agama. Beragam nama kodenya, tapi tema utamanya tetap sama. Tidak boleh begini begitu, karena tidak boleh dan terlarang. Titik! Yang diperlukan adalah kepatuhan dan rasa tunduk, serta ketaatan. Tanpa ada ruang untuk kompromi, tanpa ada kesempatan untuk berdiskusi. Munculnya niat untuk berkompromi dan diskusi saja bahkan sudah bisa dikategorikan sebagai bibit-bibit kebejatan, pembangkangan. Padahal memang begitulah cara pikiran bekerja. Diamati untuk dipahami, bukan diborgol dengan rasa takut.

Pada akhirnya, segala bentuk pembendungan, penahanan, pengendalian, peredaman, pembatasan, dan pengekangan yang sedemikian rupa itu pun, tetap saja tidak mampu memadamkan kegelisahan atau menyelesaikan pikiran buram yang menanti untuk ditenangkan, dibuat klir, dijernihkan.

Ditangani dengan akal sehat, bukan semata-mata diberangus macam membasmi rumput ilalang gulma dengan menyemprot racun herbisida.

Jangan heran jika tindak tanduk mereka yang disebut “anak zaman sekarang” kerap dikeluhkan generasi orang tuanya. Dikeluhkan karena kebebalan mereka. Padahal memang metode dan kerangka pikir generasi seniornya saja yang tak lagi tepat dijlentrehke bulat-bulat.

Parahnya lagi, masih banyak sekali “anak zaman sekarang” yang dibesarkan dalam lingkungan terpasung. Ketika mengemukakan pendapat adalah tindakan yang tidak valid, tak bisa diterima, pelecehan terhadap hierarki struktural.

Kalaupun ada ruang untuk menyampaikan pendapat, melulu hanya seremonial, sekadar untuk memperjelas siapa yang bisa mendominasi dan yang harus patuh tanpa “tapi… tapi…”, meriah diwarnai “pokoknya…

Tetapi, lagi-lagi ya, boro-boro bisa memberi dasar alasan dan argumentasi yang tepat, masih banyak anak-anak zaman sekarang yang dibesarkan untuk manut saja. Orang tuanya pun begitu, lantaran merupakan produk dengan metode serupa. Hasil akhirnya, sama-sama enggak bisa berlapang akal dan dada.

Tidak bakalan bisa terjadi, atau mungkin langka, ketika ada orang tua yang bisa menanggapi argumentasi dan alasan-alasan logis anaknya dengan komentar: “bener juga ya kamu.” Ketika sang buah hati memang benar-benar benar dan tepat. Lewat penerimaan argumentatif itu pula, tak menutup kemungkinan sang anak akan tumbuh dengan batin yang kondusif, yang enggak doyan gedebuk-gedebukan demi mencari kepuasaan misterius, yang terbiasa bertingkah laku waras di tengah belantara kegilaan.

Tak hanya dalam lingkungan keluarga, begitupun juga dalam sekat-sekat kantor dan lingkup sosial lainnya. Setiap orang seolah diwajibkan untuk mengobarkan ego sebesar-besarnya. Entah apa tujuan sebenarnya.

Sesungguhnya, saya ndak ngerti sedang bicara (menulis) apa. Mbuh!

Boleh jadi saya hanya lelah. Lelah dengan kelakuan manusia-manusia Indonesia lainnya, yang diekspose beragam media, kemarin.

Para sopir taksi membabi buta di Jakarta, bahkan kepada sesama rekannya sendiri atas nama solidaritas. Kampret! Padahal saya di Samarinda yang adem ayem ndak ada apa-apa. Baper tidak pada tempatnya kali. Entahlah.

Baca tweets aksi sosial galang dana operasi tulang patah untuk seorang bayi yang gagal diaborsi. Bajingan! Kalau yang ini jelas baper, soalnya baru punya keponakan kandung usia setengah tahun. Lagi lucu-lucunya.

Serangan bom di Brussels sana (dan sebelum sebagian dari Anda protes, simpati saya juga untuk serangan yang terjadi di Turki beberapa hari sebelumnya). Keduanya, ya okelah secara proximity agak kurang terasa menggetarkan ketimbang dua kejadian sebelumnya, tapi ya tetap mbunuh-mbunuhin orang. Nyawa kayak enggak ada banderol harganya.

Pasti ada aja yang bisa nyeletuk: “ya udah, gak usah nonton TV, buka Internet, atau mainan media sosial. Repot amat!” Jalan keluar yang egois dan menipu diri sendiri. Sebab, memutus kontak informasi dengan dunia luar begitu saja ibaratnya sama seperti sengaja mencungkil mata karena benci dengan teriknya sinar matahari, di musim kekeringan yang mematikan. Ndak ngefek!

Sedangkan di sisi yang berseberangan, makin bingung membedakan mana anarchist benaran dan activist yang sekadar poser, baik dari alur pemikiran kiri maupun kanan.

Setan saja barangkali takut berhadapan dengan manusia.

Ah… Lebih baik bergeming, duduk tenang di dipan bernama “saat ini”. Membiarkan semua kekalutan yang tidak nyaman itu muncul, dihadapi dengan cara diamati, sesusah apa pun itu, dan… ya sudah, begitu doang.

Maaf ya, sudah membuat Anda menyia-nyiakan beberapa belas menit dari Rabu pagi yang indah ini. 🙂

[]

Aku Akan Selalu Ada Di Belakangmu

Media sosial dan internet ini adalah dua hal yang sangat erat kaitannya. Siapa sih yang tidak punya akun di Facebook, Twitter, Path, Instagram, Whatsapp atau Line? Saya kira hampir 75% mereka yang mempunyai telepon genggam pintar yang terkoneksi dengan internet pasti memiliki salah satu akun di atas. Yang membedakan adalah kadar pemakaiannya. Dari kadar pemakaian tersebut bisa dilihat tergolong ke bagian mana kamu sebetulnya. Apakah yang cuma scroll aja. Atau tidak henti-hentinya selfie. Atau kultwit setiap saat seakan dunia akan berakhir besok. Atau check-in di mana pun anda berada. Atau foto makanan lalu unggah ke media sosial favorit sebelum makanan tersebut dilahap. Hap.

psycho

Semua tipe itu akan berujung kepada dua golongan. Voyeur atau eksebisionis. Atau dua-duanya. Voyeurisme ini mungkin lebih dikenal dengan kata kepo kalo kata anak muda sekarang. Yang akan menuju pada tahap stalking atau menguntit. Sementara eksebisionis mungkin mereka yang suka memamerkan kegiatan apapun dan mengunggahnya ke media sosial favorit anda dengan sadar. Dunia harus tahu. Gila aja udah liburan jauh masa orang-orang gak tau. Dua tipe di atas mempunyai konsekuensi. Bisa bagus bisa jelek.

a ​person who gets ​sexual ​pleasure from ​secretly ​watching other ​peoplein ​sexual ​situations, or (more ​generally) a ​person who ​watches other people’s​private ​lives:

Voyeurisme, ngintip, kepo, atau nguntit. Itu bila kamu sekedar skroll di media sosial. Jarang sekali posting. Tapi selalu ada. Selalu mengamati. Suatu gejala yang saya kira cukup wajar di era millennium ini. Selama kadarnya masih wajar saja. Tapi voyeurisme ini bisa sangat menggoda iman. Dengan pepatah rumput tetangga terlihat lebih hijau maka ini akan menjadi berbahaya bagi sebagian orang. “Waduh si Badu jalan-jalan mulu ya ke luar negeri. Ke Tanzania pulak. Jadi pengen.” Ini salah satu ekses yang bisa terjadi. Dan apabila iman anda goyah maka akan mengikuti Badu untuk ikut jalan-jalan. Padahal kamu mungkin gak begitu membutuhkan itu. Tapi demi mengunggah foto dengan latar belakang citah, beruang, atau singa kan akan mengundang belasan mungkin puluhan “love”.  Walaupun resikonya bisa diterkam beruang. Yagapapa. Leo aja dapet Oscar kan karena menderita karena diterkam beruang? Padahal ngomongnya dikit. Cuma modal bewok ama mengerang dan melenguh “Aarrghh”, “Eurghhh”. Gitu doang.

Voyeurisme ini akan menjadi berbahaya ketika kamu menjadi Robin Williams di film “One Hour Photo”. Voyeurisme yang terjadi kepada Glenn Close di film “Fatal Attraction” pun tentunya sangat dihindari oleh Michael Douglas. Film pertama Chris Nolan pun yang berjudul “The Following” temanya mengenai voyeurisme yang mengundang bahaya. Film termurah dari Chris Nolan sebelum dia membuat “Memento”. Contoh lain dari voyeurisme adalah film dari David Lynch yang berjudul “Blue Velvet”, yang juga berbahaya. Seperti pepatah terkenal dari Botswana yang mengatakan “curiousity killed the cat”.

rear2

Tapi sebaliknya voyeurism bisa bermanfaat ketika kakimu cedera, digips, dan tidak bisa kemana-mana. Padahal tugas untuk memotret sudah terjadwal. Jari udah gatel pengen mencet tustel. Yang bisa dia lakukan hanya duduk di kursi roda dan melihat situasi dan kondisi terkini tetangga melalui jendela apartemennya seperti James Stewart di film “Rear Window”. Film besutan Hitchcock ini mungkin contoh paling afdol mengenai voyeurisme. Ketidakberdayaannya di kursi roda ini menimbulkan rasa ingin tahu yang besar. Karena apa yang bisa dilakukan? Apalagi jika anda seorang fotografer handal yang gemar bertualang? Pemandangan sekitar akan menjadi sesuatu yang menarik untuk dilihat. Dan rasa ingin tahu akan keadaan sekitarnya adalah hal yang sangat manusiawi. Di sini kita melihat psikologi seorang manusia yang pada dasarnya kepo. Apalagi jika melihat ada sesuatu yang janggal dengan salah satu dari banyak tetangganya. Dia bahkan menelantarkan kekasihnya yang cantik jelita yang diperankan oleh Grace Kelly. Meski ia sudah berupaya sedemikian rupa untuk menarik perhatian pasangannya tapi tidak berhasil yang membuat ia meragukan apakah betul James mencintainya dan akan menikahinya. Karena James Stewart tetap bergeming dan melanjutkan kegiatan ngintipnya. Kesel gak? Nyebelin kan? Grace Kelly gitu lho. Dia malah terobsesi menjadi detektif dadakan dan berusaha mengungkap misteri yang terjadi. Tapi percaya deh. Ini salah satu film terbaik yang pernah dibuat oleh Hollywood. Ini adalah film tentang film-film dalam sebuah film. Seperti kata “curcol”. Sudah singkatan disingkat lagi disingkat lagi. Jika belum menonton sempatkanlah. Jika sudah sempatkanlah menonton lagi. Buat yang anti film Hollywood, kamu kenapa? Siapa yang menyakitimu?

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS. Al-A’raaf:31)

Dan akhirul kata, seperti ayat Qur’an di atas. Maka memang bahwa sesuatu yang berlebihan itu tidak banyak manfaatnya. Lebih banyak mudharatnya. Sewajarnya saja. Yang sedang-sedang saja. Tidak cantik dan tidak jelek. Yang penting setia. Seperti lagu dangdut. Jangan kayak Sting pas nyanyi lagu di bawah ini. Hih. Stalker.

 

 

 

 

 

Pesta dalam Hati

“Mana foto yang tadi, kok gak diposting?”

“Seru tuh pendapat lo, tulis aja di blog!”

“Video belaga gila tadi mana? Post dong di Instagram!”

“Eh eh mana foto wefie barusan? Share di group ya…”

Kalau aku tidak mempostingnya, pasti ada alasannya. Berikut adalah penjelasan suara hatiku:

“Ada banyak hal yang ingin aku simpan dalam hati saja.

Soal kebersamaan kita. Saat aku bahagia bersama kamu.

Saat aku menikmati makan siang bersama teman-temanku.

Saat aku bercerita bebas tentang perasaan dan pemikiranku.

Aku memilih kamu, kamu dan kamu yang aku yakini bisa mendengarkanku.

Tak hanya mendengar bahkan mengoreksi dan menambahkan.

Berbagi cerita bersama kopi kegemaran kita masing-masing.

Bertukar telinga sampai kau utarakan semua.

Semua tersimpan dalam hatiku. Di sini.

Dan aku memang tak ingin membaginya untuk sesiapa pun.

Karena kamu, kamu dan kamu, terlalu istimewa bagiku untuk diumbar.

Aku percaya, makanan terenak adalah makanan yang kita makan bersama.

Bukan makanan yang diposting di Instagram.

Aku yakin, saat kebersamaan paling istimewa adalah saat kita tak lagi perlu bicara saat bersama.

Bukan senyuman kompak ceria diposting di Path.

Aku lebih suka, pendapatku kau simpan dalam hatimu. Demikian pula sebaliknya.

Bukan untuk ditulis di Facebook.

Pemberian kado terindah darimu, begitu berkesan.

Tak ingin aku memamerkannya di Twitter.

Kebersamaan kita adalah saat yang mungkin tak lagi bisa kita ulang.

Izinkan aku untuk menyimpannya dalam hatiku saja.

Ucapanmu, banyak yang akan kubawa selamanya.

Perkenankan aku menabungnya dalam hatiku saja.

Supaya waktu aku bertemu dengan Sang Pencipta,

aku bisa bercerita banyak padanya. Dan hanya untukNya.

Sebelum semua habis sudah kubagi di media sosial.

Kebersamaan kita, keluh kesah kita, makanan raga dan jiwa,

kopi dan minuman hati yang dahaga.

Kebahagiaan yang tersenyum dalam hati.

Kesedihan yang menitik perlahan dalam hati.

Keindahan yang terindah dalam hati.

Kamu, kamu dan kamu, terlalu istimewa bagiku untuk aku bagi.

Ini cara aku mengindahkan persahabatan kita.

Cara aku memuliakan cinta kita.

Supaya waktu aku bertemu dengan Sang Pencipta,

aku bisa berbagi padanya.

Aku ingin Dia yang membuka kotak Pandora ini.

Dan biarkan dia yang melihat foto-foto saat aku di bumi.

Seperti pesta yang dihadiri oleh beragam kerabat dan handai taulan.

Yang dipenuhi makanan terbaik yang pernah kucicipi.

Pemandangan alam terindah yang pernah kulihat.

Orang-orang yang pernah singgah dan menetap dalam hatiku.

Yang memenuhi setiap pojokan hati.

Siap untuk dikorek sampai bersih sebersih bersihnya.

Untuk kemudian bersih, lapang.

Dan kemudian berdetak kembali.

Sampai kita bertemu lagi.”

3644010482_945fd5b5ac_b

 

Pesan Liem Sioe Liong Tentang Path-casila

Sila Peltama:

Jangan pernah sklinkep.   

Apalagi yang lu gituin adalah akun-akun yang haus lope-lope, sok cali sensasi pembobol lahasia negala, atau genelasi jadul. Lu kagak pelu nyebal-nyebalin HOAX. Dalipada nyebalin hoax, mending jadi temen ahox.

 

Sila Kedua:

Jangan pelnah pamel tanpa sadal.

 

Sila Ketiga:

Jangan pernah ngiklanin kantor lama

Walaupun maksudnya baik. Celita bagus-bagusnya kantol atau tempat kelja lama,  Lu olang ntal dikila muna. Ngapain ngiklanin lowongan kelja kantol lama, padahal lu olang sendili malah pelgi.

Duit gajian kantol lama lu olang udah jadi makanan dan sekalang malah uda jadi tai. Jangan dong ah pamelin tai sendili dan bilang masih enak. Bukan dikila lu blom muv-on. Bukan! Tapi lu bakalan dikila so’ baeq.

 

Sila Keempat:

Jangan  ngomongin kantor sekarang mulu.

Ngomongin kantol soal jelek-jeleknya tuh ndak baeq. Banyak godaan untuk ngomongin ginian. Ndak mesti soal kebijakan tempat kelja, tapi juga ngomongin bos, temen sendili, bawahan, keluh kesah soal kondisi kelja. Lu kan lagi cali mamam disono, telus tempat mamam situ diludahin, telus dimamam lagi gitu.

Ya kali.

 

Sila Kelima:

Jangan pelnah belteman dengan bukan teman

Path itu kudunya buat hopeng lu aja. Kagak pellu lu temenan sama banyak olang. We kasih tau lagi: Boosss, path bukan kayak twittel Bos sampe pabanyak-banyak followel. Tapi path buat hubungan intim aje. Bahkan kalo ada temen lama tapi keljaannya ngutukin, cela, sok paling benel, undfliend ajalah. Atau yang suka gengges. Lu olang kagak usah lagu-lagu, apalagi malu. Dalipada nyusahin idup lu. Kan hidup benelan uda susah, masa dunia maya bikin susah lagi. Itu namanya lu olang “ogeb.”

Udah ah. Menurut we sih, lu olang lajin kelja aja kayak ponakan we, Ahok. Demen banget we liatnya.

Salam cuan.

Liem

 

Dihargai

Singkat saja: apa yang membuat kita senang melakukan apa yang kita kerjakan?

Jawabannya adalah apresiasi.

Bukan berupa gaji bulanan, bonus, bayaran atau honor. Tapi apresiasi dalam bentuk lain, yang acap kali sifatnya adalah intangible, atau tidak terhitung secara kuantitatif. Bisa saja dalam bentuk benda, tapi apresiasi yang mengena di hati biasanya tidak berbentuk barang.

Kalau dalam line pekerjaan saya, apresiasi datang saat pembuat film bertemu penontonnya, yang menyampaikan pertanyaan, atau sekedar kesan terhadap film itu. Semuanya disampaikan langsung, sehingga pembuat film dan penonton sama-sama tahu reaksi mereka.
Ini berlaku juga untuk bidang lain, saat orang mendengar, tersenyum, memuji penampilan musisi yang mereka tonton. Penikmat seni menyampaikan pemahaman mereka atas patung, lukisan, foto, atau seni instalasi yang mereka lihat.
Atau sekedar hadir dari undangan peluncuran buku, pemutaran perdana film, pertunjukan tari, meskipun tontonan itu di luar area kenyamanan kita.

Semua bentuk apresiasi ini tidak perlu uang. Hanya perlu kesungguhan.

Dan buat Anda yang mengapresiasi, keberanian Anda untuk mengungkapkan pendapat, bertanya, atau sekedar datang menghadiri undangan patut dipuji. Perlu keberanian untuk berpendapat. Perlu kejujuran untuk bertanya. Perlu rasa legowo untuk memprioritaskan satu acara di atas acara lain.

Ucapan “congrats ya”, atau “selamat!”, rasanya kadang melebihi paycheck kita. Mereka tidak akan bisa mengganti kebutuhan kita akan bayaran. Tapi mereka akan melengkapi, dan membuat kita semakin semangat lagi untuk melakukan apa yang kita kerjakan.

Semua orang ingin dihargai. Semua orang patut menghargai.

Singkat saja.

vault_boy_dock_icon_by_oloff3