Dari Darwinian sampai Tokopedia, Aku Begini karena Dia

Hari ini saya janji, untuk tidak keluar kamar kalau belum selesai menulis untuk Linimasa. Tengah hari sudah berlalu, dan saya masih di kamar – di tempat tidur tepatnya – sambil memangku laptop, dan banyak tab browser yang terbuka (demi riset). Sempat ingin mencari tahu soal teorinya Darwin, Googling sedikit soal evolusi versi dia, lalu mendadak bingung seperti ada yang hilang. Lalu ingin baca Origin of Species, kemudian berpikir panjang, kok sepertinya agak berlebihan ya. Lalu ingat kalau Richard Dawkins membahas soal teori ini panjang lebar di salah satu bukunya. Rantai pikiran berikutnya adalah saya ingat ada teman saya yang punya dan sudah baca. Tangan lalu meraih ponsel dan mengirimkan pesan ke teman tersebut, untuk mengkonfirmasi subyek buku itu. Ternyata benar, dan tidak cuma itu, teman pun menawarkan saya meminjamnya. Rumah dia masih dekat rumah saya, lalu saya katakan, akan segera saya kirim Go-Jek ke rumahnya untuk mengambil.

Dua puluh menit kemudian buku sudah di tangan. Dokumen di layar saya masih blangko.

IMG_20160325_123945

Kenapa sih, saya belakangan ini jadi mati ide begini? Kecurigaan adalah tempat kerja baru. Bukan bikin stres, justru malah sebaliknya. Saya suka sekali tempat kerja sekarang, dan besyukur bisa kerja di sini. Tidak menyangkal kalau semuanya baru dan menantang. Baru, karena itu masih banyak yang bisa dipelajari. Menantang, karena berbeda sekali dengan apa yang bertahun-tahun lalu dikerjakan, karena itu saya tidak bisa hanya berjalan untuk mengejar, tetapi harus berlari, bahkan sprint!

Selain pekerjaannya sendiri, juga ada faktor perjalanan ke dan dari tempat kerja yang lebih jauh dari tempat kerja terdahulu. Dalam minggu pertama, saya melakukan beberapa eksperimen, apa moda transportasi yang paling cepat dan praktis untuk commuting setiap hari. Dari Trans Jakarta, taksi, GoJek, Uber, semua dicoba. Sempat terjebak kemacetan yang parah di jalur yang salah, saya terserang anxiety attack yang saya kira serangan jantung. Jadi lah saya mampir ke rumah sakit untuk EKG. Untungnya semua hasil normal. Kembali lagi saya dituduh GERD atau sakit maag. Sepertinya dokter di Indonesia sudah janjian ya, soal kambing hitam; pencernaan (Saya ada cerita lebih ekstrim lagi soal ini, mungkin nanti) (Hore, ada inspirasi). Tetapi setelah mencoba dan salah, akhirnya saya menemukan cara paling nyaman dan relatif cepat untuk pergi dan pulang dari kantor. Tetapi tetap saja jauh lebih makan waktu dibandingkan commuting saya dahulu selama lima tahun.

avcrx87

Tapi saya mulai terbiasa. Dan tak lama lagi, semuanya mungkin tak terasa berbeda. Seperti juga kebiasaan-kebiasaan lama, yang secara sadar maupun tak sadar sudah ditinggalkan. Kebiasaan baru yang diadaptasi sudah terasa seperti bagian hari sejak dahulu. Seperti ponsel layar sentuh contohnya. Sekarang kok, rasanya seumur hidup saya sudah menggunakannya. Kalau diingat benar, ternyata kurang lebih 4 tahun lalu saya masih menggunakan ponsel dengan keyboard QWERTY. Satu kebiasaan saya yang mulai hilang juga: mencari barang di mal atau pertokoan. Apapun yang dicari sekarang, akan saya Google dulu, atau kalau saya sudah tahu toko onlinenya, saya langsung ke sana dan membelinya. Pencet beberapa tombol, dan yang terpenting tidak harus ada interaksi dengan manusia asing, selesai. Tinggal tunggu barang sampai. Sejujurnya ketika sedang “riset” tadi saya juga sempat bertransaksi membeli silikon gasket untuk mokapot ditambah dengan tumbler untuk double espresso, supaya tidak boros paper cup kalau saya memesannya di kedai kopi di lobby kantor. Untuk mencari bahan memasak yang tidak mainstream untuk pola makan saya, sekarang jarang sekali mengandalkan supermarket. Sudah mengunduh aplikasi Tokopedia, ternyata nyaris apa saja bisa didapatkan di sana. Malu tak malu saya akui, kalau saya pernah membeli dari mulai casing ponsel, t-shirt, cacao butter, coconut flour, almond flour, hingga kerupuk kulit dari situ. Apakah saya sadar sepenuhnya kalau kebiasaan saya berubah? Tidak terlalu. Karena kebutuhan saya tidak bisa dipenuhi oleh supermarket biasa, wajar saja kalau cari sumber lain.

online-shopping

Either you adapt or die. Jadi sering terdengar ya frase ini belakangan? Tapi memang benar juga sih, seperti juga teorinya dari Charles Darwin yang sering dikutip orang sebagai satu frase; survival of the fittest. Seperti ilmuwan lainnya, Darwin juga sering salah dimengerti. Banyak orang menyangka kalau survival of the fittest itu mengandung arti, yang bertahan hidup adalah yang paling pintar, kuat, yang paing besar dan yang paling cepat. Padahal, tidak demikan. Yang akan bertahan hidup dan pada kondisi optimal untuk bereproduksi (dalam konteks biologi) adalah yang paling sesuai dan atau bisa menyesuaikan dengan situasi dan kondisi alam ketika itu. Sehingga jumlahnya akhirnya jadi lebih banyak dari spesies yang lebih besar sekalipun, yang mungkin justru tidak optimal kecocokannya dengan lingkungannya. Kalau secara berangsur semakin berkurang jumlah, lalu spesies tiba-tiba hilang, besar kemungkinan tidak ada yang sadar. Bukan tidak mungkin 5 tahun dari sekarang kita mendengar ini di percakapan, “ingat tidak, beberapa tahun yang lalu, kalau kita ingin mencari taksi harus ke pinggir jalan dulu dan mengawe-ngawe sampai lelah?”

mjaxmi01mmq3zwfhogmxytrkmdq2
Sepertinya bodoh di jaman ini lebih aman damai dibandingkan kalau jadi pintar. Ya tak? Ya tak?

Maafkan kebawelanku. Anggap saja ini balas dendam dari minggu lalu alpa mengunggah post.

Iklan

2 thoughts on “Dari Darwinian sampai Tokopedia, Aku Begini karena Dia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s