Pekerjaan Kita, Wajah Kita

Beberapa minggu lalu, di suatu hari Sabtu, saya bertemu seorang teman lama. Dia adalah seseorang yang cukup mumpuni di bidang seni. Cukup sering menjadi kutu loncat, alias pindah-pindah dari satu institusi ke institusi lain. Namanya sering terlihat di beberapa acara seni Tanah Air. Malam itu, dia menjadi kurator sebuah pameran seni yang diadakan oleh lembaga asing.

Saya mulai menyapa dia di saat rehat pertunjukan.

“Akhirnya, bisa ngajak ngobrol elo. Selamat ya!”
Thank you. Masih nyempetin dateng, ih. Padahal lagi sibuk-sibuknya ‘kan, buat minggu depan?”
“Lumayan lah. Lagian lama nggak ketemu elo. Jadi sekarang full-time nih di sini?”
“Iya. Emang mereka yang minta sih.”
“Trus kalau full-time gitu, masih bisa ngerjain yang lain.”
“Selama nggak jadi head of curation, atau director gitu, ya masih bisa.”
“Maksudnya?”
“Kalau sekedar jadi kurator tamu, atau terlibat di tim penyusun program acara gitu, masih bisa. Tapi kalau jadi, misalnya, program director, atau sole curator gitu, nggak bisa. Soalnya kalau seperti itu kan, you have to be the face of the program since you’re the head of it. Nah, itu yang sekarang ini lagi nggak bisa gue kerjakan, karena gue pun jadi representatif lembaga ini di Indonesia. Mau nggak mau, I have to be the face of this company.”

Rehat selesai, acara dimulai lagi. Saya masih belum meninggalkan tempat duduk kami. Sedikit berpikir tentang apa yang baru saja dia katakan.
Bahwa pekerjaan kita adalah wajah kita. Bahwa wajah kita merepresentasikan apa yang kita kerjakan.

Businessman with smile computer screen isolated on white background

Sambil menyeruput sisa teh yang sudah mulai dingin, saya ingat bahwa beberapa orang yang pernah saya temui masih menandai nama saya di phonebook mereka dengan nama “Nauval X”. Lambang X di sini bisa berarti nama festival film yang pernah saya kerjakan dulu, atau proyek penerbitan buku yang sudah saya tinggalkan, atau pekerjaan menulis di surat kabar yang sudah lama vakum. Bukan nama lengkap, karena kita terbiasa mengingat nama depan. Jadi jarang saya jumpai mereka yang menuliskan nama lengkap Nauval Yazid. Selalu nama depan, diikuti dengan jenis pekerjaan yang kita lakukan saat berkenalan.

Akhirnya, nama belakang buatan itulah yang akan selalu mengikuti nama kita. Jenis pekerjaan yang menempel di belakang nama kita akan selalu membuat orang mengasosiasikan, atau paling tidak mengasumsi, bahwa profesi kita seumur hidup adalah apa yang mereka tahu sehari-hari.

Tak hanya wajah, nama kita pun merepresentasikan pekerjaan kita.

Happy-Face

Mau tidak mau, suka tidak suka, each one of us is a public relations (PR) officer of what we do.

Ketika kita memutuskan untuk mengambil suatu pekerjaan, maka di saat yang sama sebenarnya kita sudah memutuskan untuk menghabiskan paling tidak sebagian hidup kita di situ.

Salah satu nasihat lama yang pernah saya dapatkan dari seorang paman jauh waktu saya baru mencari kerja dulu adalah, “Setelah kamu lulus sekolah atau kuliah, maka 75% hidup kamu akan diisi oleh kerja dan kerja. Maka penting buat kamu untuk menyukai pekerjaanmu. Even if you do it for money. Aku nggak bilang kamu harus cari kerjaan yang sesuai minat kamu lho. Apalah itu istilahnya, ngejar passion. Nggak semua orang bisa, nggak semua orang punya luxury itu. Toh akhirnya yang penting kamu bisa hidup dengan bayaran dari pekerjaanmu itu. Cuma ingat. Kamu akan menembus macet, ketemu orang-orang yang nyebelin, kena deadline seabrek-abrek. Kalo kamu nggak cinta, susah. Jadi cari sampe dapet, satu saja bagian dari pekerjaanmu itu yang kamu suka. Mau itu temen-temen kerja yang enak, mau itu makanan di kantin yang murah, pokoknya anything to get you out of bed everyday to work.”

xjPoARLj_400x400

Mencari bagian yang disukai dari pekerjaan memang mutlak diperlukan. Apalagi kalau sudah menjadi pemimpin atau leader dari sebuah tim. Apa yang diucapkan pemimpin menjadi sabda pengikutnya. Apa yang dilakukan pemimpin menjadi contoh tingkah laku anak buahnya.

Setiap saya menjalani festival film yang sudah saya lakukan selama beberapa tahun terakhir, pasti ada saja kesalahan yang terjadi. Namanya juga event.
Minggu lalu, ada kesalahan penulisan jam tayang di suatu acara. Informasi sudah disebar. Di grup WhatsApp, saya langsung panik.
Teman saya langsung menelepon. Dia bilang, “Udah gue minta desainer buat benerin. Cepet kok. Lagian, jangan panik ah. Elo panik, nanti anak-anak volunteer gimana? Panik juga kan?”

A gentle reminder, indeed, bahwa bagaimana kita menangani pekerjaan kita akan dilihat dan mungkin ditiru juga oleh orang lain.

We are what we do. What we do defines who and what we are.

Selamat menikmati the long weekend!

You-are-what-you-eat-man

Iklan

25 thoughts on “Pekerjaan Kita, Wajah Kita

  1. Jadi cari sampe dapet, satu saja bagian dari pekerjaanmu itu yang kamu suka : punya temen2 kntr utk lari sore pulang kerja 🙂 krn lari sore bikin bahagia, spt berasa lari dr kenyataan 🙂 hahaha

    Disukai oleh 1 orang

  2. This is the second time you said you don’t understand me… maybe i should learn to rearrange my thoughts… thanks for the wake up call and thanks for the greetings… have a good long weekend… i hope it’s fulfilling

    Suka

  3. Setuju… pekerjaan (dan kelakuan) kita adalah wajah kita (di dunia profesional). Kalau lingkarannya sudah bergerak ke dalam, mungkin kita akan didata sebagai siapa yang membawa kita?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s