Brand Loyalty, Kan Kucoba Semua

Mungkin sekarang sudah sampailah waktunya kita ucapkan selamat tinggal kepada Brand Loyalty*. Di era di mana brand-brand dan layanan baru datang dan pergi lebih cepat dari perkiraan semua umat manusia di bumi, masih ada dan relevan kah Brand Loyalty?

Bagi yang lahir di tahun 70-an, pasti ingat ada dua taksi yang merajalela di Jakarta: President Taxi dan BlueBird. President Taxi menjadi musuh bersama. Kondisi taksi yang tak memadai, argo tak jelas, AC tak jalan, bau dan lain sebagainya. BlueBird bagaikan penyelamat yang memberi kenyamanan di kota ini. Semua harapan akan layanan taksi yang sempurna diberikan oleh BlueBird. Ini pun diakui saat turis dari negara tetangga berkunjung ke Jakarta. Lawan Malaysia dan Singapura aja sih, BlueBird masih megang lah. Maka, BlueBird memiliki BrandLoyalty yang tinggi. Dari personal sampai korporat.

Kehadiran Uber Taxi dan kawanannya, dari pengamatan di media sosial rupanya menggoyangkan kesetiaan pada BlueBird. Apalagi setelah demo kemarin. Banyak yang menyatakan tidak akan lagi menggunakan jasa taksi burung biru ini. Selain mengutuk aksi anarkis yang dituduhkan kepada BlueBird. Aksi memenangkan hati pelanggan pun dilakukan oleh pihak BlueBird dengan memberikan layanan taksi gratis seharian keesokan harinya. Aksi ini pun mendapat banyak cemoohan. Intinya, BlueBird kalah set.

Tidak menggunakan BlueBird sama sekali, mungkinkah? Bagi para pengguna layanan angkutan umum sejati, pasti paham bagaimana sering kita dihadapkan pada pilihan yang tidak ada pilihan. Uber dan layanan aplikasi, kadang sedang down. Sinyal di kota ini ya tau sendiri deh. Atau situasi genting seperti hujan, kepepet waktu dan lokasi kurang memadai, sering membuat kita memutuskan untuk memakai layanan transportasi umum apa pun asal sampai tujuan.
Kengototan tak mau menggunakan jasa angkutan tertentu, hanyalah milik orang yang punya pilihan dan kemewahan. Terutamanya kemewahan waktu. Bisa jadi yang bersumpah tak lagi mau menggunakan BlueBird keluar dari mulut yang hanya menggunakan jasa taksi sesekali saja. Karena sudah punya mobil lengkap dengan sopirnya.

“Gapapa lah gue nunggu aja sampe dapet Uber” kata seorang teman di sebuah mall Jumat sore Jakarta. Okede Jek! Gue ciao dulu ya… bye bye fanboy.

Tak hanya BlueBird, berbagai brand telepon pintar kini bermunculan. Tak lagi didominasi oleh Apple dan Samsung. Mulai terdengar review pribadi akan puasnya pada brand-brand yang baru ini. Beberapa bahkan bangga karena menggunakan brand yang “anti-mainstream”, brand perjuangan. Dan karena mereka rata-rata sudah pernah menggunakan Apple atau Samsung sebelumnya, mereka bisa bercerita pengalaman barunya akan brand-brand baru ini. Bisa membandingkan.

Nike dan Adidas. Dua brand yang sudah lama bersaing dan membelah dunia menjadi dua. Kini pun mulai digoyang oleh brand-brand baru spesialis. Khusus lari, bersepeda, basket, sepakbola dan lainnya. Memaksakan setia pada salah satu brand padahal bikin kaki sakit sepertinya bukan pilihan bijaksana. Memilih sepatu olahraga yang penting gaya, hanyalah bagi pemula. Yang sudah menekuni cukup lama tau dan sadar, gaya adalah prioritas terakhir. Keselamatan dan performa adalah yang pertama. Diperlukan keterbukaan untuk mencoba sampai menemukan brand yang paling sesuai untuk kaki masing-masing.

Setia pada satu brand untuk makanan? Gila aja! Hari begini beragam brand makanan hadir. Menawarkan beragam variasi dan inovasi. Ada yang bermain di rasa banyak pula yang menawarkan gaya. Tak ingin coba-coba? Gak gaul. Kita bisa terasingkan di percakapan baik di dunia nyata mau pun di media sosial. Bakmi, dulu yang terkenal dan ada di mana-mana yang hanya Bakmi Gajah Mada. Sekarang? Ada layanan GoFood yang bisa menghadirkan beragam bakmi ke tempat kita berada.

foreign-goodbye-1222x330

Linda Locke, seorang praktisi periklanan senior yang entah ke mana sekarang, sedang duduk di cafe depan Harrods. Dia menyaksikan beragam perempuan dari berbagai penjuru dunia masuk untuk berbelanja di Harrods. Linda kemudian mengambil kesimpulan “ada beragam agama di dunia, tapi ada satu agama yang menyatukan: shopping”.

Rangsangan untuk mencoba-coba brand baru kini semakin besar dengan adanya media sosial. Review dari teman dekat mau pun teman maya pun tak terbendung. Tak perlu percaya 100% pada iklan. Kata orang tentu lebih bisa dipercaya ketimbang kata produsen. Selama tak terlalu menyita banyak biaya dan pengorbanan, mengapa tak dicoba saja. Mana tau menemukan yang lebih cocok dari brand yang selama ini sudah kita yakini.

Fanatisme, perlahan mulai memudar. Selain agama, fanatisme akan sebuah brand hanya akan membawa kita masuk dalam tempurung. Yang mengasingkan kita bukan hanya pada peradaban tapi kemajuan zaman. Pilih saja brand yang sesuai dengan hidup kita.

Bukan pula serta merta memuja segala brand yang baru. Brand baru atau lama bukan masalah selama memudahkan hidup kita. Syukur-syukur bisa menghemat uang kita. Terbukti, brand loyalty (apalagi berlebihan) hanya akan membuat hidup kita miskin. Miskin duit, dan terutamanya miskin pengalaman.

Hey, Relax… They are only brands… Buat apa setia sama brand, setialah pada kebutuhan dan hidup kita. Karena brand datang dan pergi, hidup kita jalan terus.

Bagaimana brand loyalty bisa membuat kita miskin? Ya saat produsen menyadari brandnya banyak yang ngefans gila, perlahan harganya pun mulai dinaikkan. Kadang sampai bisa mencekik leher. Karena toh akan selalu ada yang membelinya. Akan selalu ada yang memujanya, serendah apa pun inovasi produknya. Enak aja! Waktunya kita menjadi konsumen yang pandai.

Konsumen yang pandai adalah musuh para produsen pemalas. Produsen malas berinovasi dan hanya menginginkan uang. Produsen yang tak mempedulikan keinginan dan aspirasi konsumen. Produsen yang percaya iklan bisa mengelabui dan membuai. Saatnya konsumen berdiri dan membuat pagar betis menjadi pengawas.

Konsumen yang tidak mau dikungkung pada sebuah brand. Konsumen yang memilih dengan akal sehat. Sesuai kebutuhan, sesuai kantong, dan sesuai dengan gaya hidup masing-masing. Internet telah membuka pilihan brand lebih banyak. Saatnya ucapkan selamat tinggal pada brand loyalty. Rugi, Jek! Sama pasangan hidup aja susah beuth mau loyal apalagi sama brand :p

Dunia dan segala keindahannya 

‘Kan kucoba semua 

Beraneka ceria dan pesona 

Harus kurasakan semua 

Begitu banyak gaya baru 

Kutergoda menikmatinya

Bebaskan dan ekspresikan diri

Sambut hari ini dengan ceria 

Sadari dalam setiap langkahku 

Gejolak jiwaku dengan harapan pasti

Ooh Kuraih Semua Kuraih Segalanya

Kan Kucoba – AbThree

*Brand loyalty is when consumers become committed to your brand and make repeat purchases over time. Brand loyalty is a result of consumer behavior and is affected by a person’s preferences. Loyal customers will consistently purchase products from their preferred brands, regardless of convenience or price.

 

Posted in: @linimasa

13 thoughts on “Brand Loyalty, Kan Kucoba Semua Leave a comment

  1. Bagus tulisannya.
    Saat ini pemilik merk gak bisa seenaknya sama customer. Harus selalu kreatif, bersaing sama merk merk baru.
    Customer choose not to choose.

Tinggalkan Balasan