Jangan Paksa: Kebahagiaanmu Bukan Kebahagiaan Orang Lain

IZINKAN saya langsung menyampaikan inti gagasannya: apa yang kamu pikir bisa membuatmu bahagia, belum tentu bisa membahagiakan orang lain.

Jadi, akan lebih baik jika tidak bersikap sok iye, dan memaksakan hal-hal tersebut tanpa menyisakan sedikit pun ruang untuk menghargai betapa unik dan istimewanya kehidupan setiap orang.

Sebelum lanjut, saya percaya ada perbedaan yang cukup besar antara bahagia/kebahagiaan, gembira/kegembiraan, senang/kesenangan, serta ria/keriaan lantaran menyangkut suasana batin dan perasaan setiap orang yang berbeda-beda. Bisa saja yang dianggap kebahagiaan oleh seseorang, tak ubahnya hanya sebuah keriaan sesaat bagi orang lain. Jadi, silakan ganti dan sesuaikan semua kata bahagia/kebahagiaan dalam tulisan ini dengan pilihan kata lain yang cocok menurut Anda.

Unik dan istimewa, berarti tidak ada yang bisa disamaratakan, dipukul rata sepenuhnya. Termasuk untuk hal-hal yang dirasa cocok dan bisa berjalan dengan baik dalam kehidupan seseorang. Satu orang saja. Dirasa, karena pakai perasaan. Lebih abstrak dan enggak bisa diukur. Dirasa-rasa. Sebab selama ini, justru hal-hal abstrak itu yang cenderung bisa menggerakkan orang dengan daya seakan tanpa batas. Sedangkan yang konkret-konkret, yang bisa dihitung-hitung. Kalau habis ya sudah. Mentok. Berganti atau berhenti.

Jangan pula terlalu gampang menjustifikasi, atau mencari pembenaran atas tindakan pemaksaan tersebut dengan prefiks: “kan ini untuk kebaikanmu juga.” Entah, “-mu” di sini sebenarnya ditujukan kepada siapa. Juga tidak ada siapa pun yang bisa menjamin, apakah kebaikan yang disebut-sebut tadi berlaku sama pada setiap orang?

Bukan mustahil, pemaksaan itu ternyata bertujuan untuk memuaskan diri sendiri, menyenangkan candu ego, merengkuh “kebahagiaan” pribadi. Makanya bisa sampai sebegitu mati-matian dilakukan. Akan lebih parah, apabila pemaksaan ini berarti meniadakan kebahagiaan orang lain. Dan menjadi sebuah kejahatan, apabila malah menikmati ketika orang lain kehilangan kebahagiaannya.

Termasuk pembenaran dengan aneka rupa alasan lain. Seperti yang sempat disinggung sebelumnya: batasan dan ikatan struktural. Baik itu ikatan darah, hubungan keluarga, senioritas usia, kekerabatan, ketokohan, bahkan etiket maupun tata susila lengkap dengan salah satu pernyataan paling menjengkelkan dalam peradaban manusia: “kamu tahu apa? Belum bisa membedakan mana yang benar dan yang salah kok.

Pemaksaan kebahagiaan ini yang barangkali dibawa ke Irian Jaya (kini Papua) lewat Operasi Koteka, pada masa Orde Baru dulu.

Dengan dalih kasihan dan iba atas kehidupan warga asli Papua yang dirasa primitif berkoteka serta telanjang dada, pemerintah menjatuhkan banyak sekali pakaian penutup tubuh standar. Mereka, para warga asli Papua pun diharuskan mengenakan pakaian-pakaian tersebut, tak peduli betapa mengganggunya kain-kain tersebut dalam keseharian mereka. Parahnya lagi, ada peraturan yang melarang mereka masuk wilayah kota apabila masih berkoteka. Dengan begini, sebenarnya siapa sih yang bahagia? Apakah orang-orang asli Papua yang mendapatkan budaya baru berupa kain penutup tubuh, atau orang-orang yang merasa beradab karena sudah lahir dan tumbuh berkembang dengan ketakutan pada ketelanjangan?

Serupa dialami orang-orang Dayak di pedalaman Kalimantan. Pemerintah beberapa dekade lalu juga mengidentikkan penghuni hutan Borneo ini sebagai suku terasing, primitif, dan wajib menjadi sasaran program-program “pemanusiaan”.

Soal ini, salah satu Bu Guru cantik waktu saya masih SD–entah namanya Ibu Dwi, atau Ibu Sri–pernah cerita, ia dan rekan-rekannya pertama kali dikirim dari pulau Jawa ke Kaltim bukan untuk langsung menjadi guru. Ia harus ke pedalaman, bertemu dengan suku Dayak yang masih tinggal berpindah-pindah, membagikan pakaian dan mengajari mereka cara hidup layak serta menetap. Seolah-olah, semua itu bisa meningkatkan derajat kebahagiaan para objek sasarannya.

Bayangkan saja, peladang gunung dipaksa harus memancing.

(Video ini NSFW. Aslinya berupa film bisu. Musik petikan Sampeq ditambahkan kemudian.)

Mengutip Appell (1985).

Pada masa-masa awal dibukanya daerah relokasi, kami diberi tahu bahwa semua laki-laki (Dayak) disuruh berbaris oleh orang-orang Jawa petugas relokasi. Cawat-cawat mereka dilepas, dilemparkan ke dalam sebuah tong, dan mereka diberi celana pendek. Seseorang yang ngotot ingin tetap mengenakan baju aslinya disuruh berjemur di bawah matahari seharian penuh.

Masih mending jalan ceritanya begini, seseorang tadi mematuhi perintah berjemur di bawah matahari. Ia seakan mengalah, mengerti bahasa, salah satu ciri manusia beradab. Bisa dibayangkan, apabila ia menolak dan kemudian malah menghabisi si petugas dengan Mandau-nya, apakah itu termasuk perlawanan atau bentuk dari keprimitifan? Toh intinya adalah cawat versus celana pendek, kan? Kenapa harus disamaratakan?

Tetapi jangan khawatir. Perubahan tetap terjadi kok. Sudah banyak orang Papua dan Dayak yang modern, bahkan menjadi figur unggulan di bidangnya masing-masing. Ada yang tetap berkoteka, tapi ada pula yang lebih suka pakai kemeja. Di beberapa pemukiman baru, ada beberapa keluarga Dayak yang tak betah dan kembali ke hutan serta hidup berpindah-pindah sesuai kebutuhan, namun ada pula yang bertahan dan akhirnya menjadi juragan. Kalau sudah begini, urusannya bukan lagi benar dan salah. Semuanya kabur baur, sebab semuanya bersifat kasuistis. Setiap manusia dan kehidupannya itu unik dan istimewa.

Mengambil contoh lain yang lebih gampang deh. Anak seorang dokter, yang dipaksa harus berkuliah di jurusan kedokteran, bahkan sudah diskenariokan untuk mengambil studi lanjutan spesialisasi yang bergengsi. Padahal si anak enggak suka, namun akhirnya terpaksa menjalani perintah itu. Sinetron banget memang. Tapi, bila dipindahkan ke kehidupan nyata, orang tua selalu benar dan anak harus selalu diarahkan? Atau tidak? Silakan jawab masing-masing.

Saat kamu merasa sudah punya pikiran yang pasti tepat diterapkan untuk kebahagiaan semua orang, jangan lupa bahwa alam pikiran itu tak lain hanyalah resonansi dan gema pemikiran-pemikiran pada pendahulu. Ada yang cocok, bisa jadi. Ada juga yang sudah usang. Obsolete.

Lalu, di manakah posisi etika dan moralitas? Tergantung. Pembahasannya pakai sudut pandang apa.

Mau percaya atau tidak, semuanya lumat dalam perubahan.

Perubahan itu berlangsung organis dan fleksibel, memunculkan ruang-ruang baru yang tak terduga sebelumnya, dan sanggup untuk mengisi ruang-ruang baru tersebut dengan substansi yang tak kalah asingnya.

Sebagai homo cogitans, makhluk yang mampu berpikir, perlu penyesuaian untuk menghadapi perubahan. Penyesuaian itu seringkali melelahkan. Ya konsekuensi sih, namanya juga hidup.

12241195_10208123581355424_2674146848798290986_n
Happy Hump-day!

[]

Damn, what’s wrong with me and my head anyway?
Minggu depan mau ngomongin yang jelas-jelas aja ah.

Posted in: @linimasa

Tagged as: , , , ,

6 thoughts on “Jangan Paksa: Kebahagiaanmu Bukan Kebahagiaan Orang Lain Leave a comment

  1. saya merasakan ini, betapa atas nama kebaikan orang bisa memaksakan apa yang dirasa baik pada orang, pas nonton Inside Out. Saya suka tulisannya, Koh! 🙂

Leave a Reply