Pernikahan

LAHIR (1), tumbuh dewasa menjadi orang baik, menikah (2) dan memiliki anak (3), membesarkan dan mendidik mereka hingga siap menjalani kehidupannya sendiri–dibarengi dengan merawat dan menjaga orang tua yang masih ada, hingga tiba waktunya pensiun menikmati sisa usia (4).

“人生齊全”

Kesempurnaan Perjalanan Hidup Manusia

Kurang lebih demikianlah gambaran ideal fase hidup manusia dalam perspektif budaya Tionghoa mainstream, meskipun secara kasatmata, idealisme di atas sudah berlaku secara universal tanpa batasan lingkup etnik tertentu. Setidaknya di Asia Timur dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia pada umumnya.

Disepakati sebagai format terbaik pencapaian hidup manusia, urutan di atas harus dijalani secara teratur (1-2-3-4). Segala tindakan potong jalur dan hasilnya, kerap dianggap sebagai penyimpangan sosial serta menyalahi skema usia. Misalnya, tanpa mengurangi rasa hormat, ketika telah menjadi orang tua sebelum pernikahan; atau, amit-amit jabang bayi, anak meninggal mendahului orang tuanya. Karena itu, saat seseorang mentok di fase tertentu, siap-siap saja untuk menghadapi tekanan sosial yang kekuatannya berbanding lurus dengan deadline. Baik dari orang-orang yang merasa tengah mempertaruhkan kredibilitas dan reputasinya sebagai orang tua; dari orang-orang yang concern terhadap kehidupan temannya, dan merasa perlu berbuat sesuatu yang (dianggapnya) baik; maupun dari orang-orang yang memang kepo dan suka merecoki kehidupan orang lain sebagai salah satu bentuk hiburan.

Patut disayangkan, tekanan sosial dan kegelisahan seseorang akhirnya makin menjauhkan fase-fase di atas dari esensinya. Terkesan harus dicapai, bagaimanapun caranya. Terutama untuk urutan nomor 2: pernikahan. Pasalnya, urutan nomor 1, nomor 3, dan nomor 4 tidak lepas dari takdir/nasib atau kamma/karma/jodoh dalam arti luas (因緣). Di luar kendali manusia. Sedangkan mengenai pernikahan, ada jutaan orang Indonesia yang percaya bahwa setiap orang pasti diciptakan dengan pasangannya masing-masing. Kalau belum ketemu, hanya masalah waktu, kurang berusaha, kurang rupawan, atau terlampau bergaya dengan jual mahal dan terlampau picky.

Okelah, orang-orang yang belum menikah bisa terbagi menjadi dua kategori: mereka yang mau tapi belum berkesempatan, dan mereka yang belum mau atau bahkan tidak mau menikah.

Kategori pertama bisa diisi oleh siapa saja regardless their sexual orientation. Mereka memerlukan empati, dorongan semangat untuk bisa segera merealisasikan impiannya. Akan tetapi, orang-orang di kategori kedua sering jadi sasaran perlakuan tidak menyenangkan. Masyarakat kita masih susah memberi ruang yang proporsional bagi orang-orang yang memutuskan untuk melewati fase menikah lantaran alasan tertentu. Alih-alih menghormati keputusan dan sikap hidup orang lain, eh masyarakat kita malah memberikan julukan sesuka hati: bujang lapuk, dan perawan tua. Sebuah olokan, tujuannya gamblang sebagai penghinaan. Bukan motivasi, tapi mengintimidasi. Kan sompret namanya.

Memang benar adanya, banyak pasangan suami istri yang sungguh-sungguh menikah sebagai wujud kasih dan kesetiaan, serta menghabiskan hari-hari mereka bersuka dalam cinta. Mereka bahkan bisa melewati lebih dari empat atau lima dekade kebersamaan, hingga menggenapi bunyi janji pernikahan: “…until death do us apart.

Eits… Jangan tutup mata dulu. Toh sampai sekarang, masih banyak pasangan suami-istri yang bahkan kurang jelas dengan tujuan mereka terlibat ikatan pernikahan. Terus menerus mempertanyakan keputusan mereka sebelumnya, kemudian ya seolah menjalani kehidupan berumah tangga dalam kondisi limbung, cluelessly.

Maafkan kelancangan ini, tapi berapa banyak curhat yang telah Anda dengar? Dari para suami yang merasa terjebak, yang merasa takluk dan lebih memilih mengalah ketimbang beradu sengit dengan risiko mesti tidur di luar kamar, atau diancam tidak diberi “jatah” (kedunguan syahwat memang bikin bodoh. Hubungan suami istri kan seharusnya mutual, bukan seperti ransum makan siang di penjara). Ada juga para suami yang masih rutin ngelaba kanan-kiri, dan saling menuturkan kembali pengalaman berlendir mereka kepada sesamanya dengan nada antusias penuh kebanggaan.

Di sisi berseberangan, ada ratapan para istri yang menyesali keputusannya menikahi seseorang; baik budi dan memesona saat pacaran, namun berubah jadi brengsek luar biasa setelah pernikahan. Ada yang merasa tak berdaya melawan tindakan buruk suaminya, bahkan yang memilih makan hati demi anak-anak ketimbang standup dan berusaha melepaskan diri, walaupun dengan risiko harus cari uang sendiri.

Dengan sedikit contoh kurang menyenangkan ini, wajar bila semua pemikiran mengerucut pada satu pertanyaan:

“Mengapa menikah?”

Idealnya, pernikahan adalah perwujudan atas kesungguhan hati dan kekuatan cinta, yang saking kuatnya sampai mampu mengikat dua orang di dalamnya menjadi satu kesatuan.

Asoi banget ya, kedengarannya.

Mending kalau begitu, lah, beda ceritanya kalau menikah karena perasaan insecure, terhadap apa saja. “Kalau enggak menikah, nanti begini, nanti begitu,” dan seterusnya.

Izinkan saya untuk bersikap naif dan sok tahu, tapi setidaknya ada delapan insecurity yang lazim dijadikan alibi pernikahan.

1) Sebagai legalitas ikatan status

Pernikahan sebagai legalitas ikatan, menunjukkan kekuatan cinta saja dianggap belum cukup untuk menyatakan kesungguhan hati kedua mempelai, sehingga harus dinyatakan sah secara hukum (yang diperoleh dari lembaga negara maupun lembaga keagamaan), dan sosial (yang diperoleh dari komentar para undangan). Itu sebabnya, pernikahan siri dianggap pincang di mata negara.

Di sisi lain, pernikahan yang resmi bisa dijadikan semacam jaring pengaman virtual bagi para wanita. Sebab, gender ini selalu dianggap sebagai kaum yang paling rentan dirugikan (merasa rugi, atau dipaksa rugi oleh masyarakat) dalam hubungan dengan lawan jenis. Cinta tanpa legalitas ikatan, hanya lewat pernikahan siri, membuat wanita dengan mudahnya bisa ditinggalkan tanpa kekuatan hukum yang memadai untuk menuntut. Dalam hal ini, kita memang enggak bisa memaksa semua wanita menjadi figur yang kuat dan sanggup tegar bila ditinggalkan, sebab kaum pria juga bisa berurusan dengan kelemahan hati, dan ketakberdayaan ketika dicampakkan. Hanya saja, pria tidak akan bisa hamil dan melahirkan.

Ditambah lagi dengan adanya anggapan sosial (yang entah siapa pun pencetusnya, namun berhak untuk mendapatkan serapah dari saya), bahwa marginalisasi gender membuat wanita lebih rendah dari pria. Menyebabkan wanita yang sudah pernah intim dengan seorang pria, dianggap “has been used”. Ketika hymen disamakan seperti segel, dalam kalimat “jangan terima barang bila dalam keadaan segel terbuka.” Kasar sekali.

Kalau sudah begini, jangan pernah anti atau merasa risi dengan perjanjian pranikah. Bukan bermaksud untuk mendorong terjadinya perceraian, atau mendoakan pernikahan yang bakal berlangsung tidak bertahan lama, karena prenup agreement inilah jaring pengaman yang sebenarnya.

2) Sebagai legalitas persetubuhan (baca: biar boleh ngewe tanpa waswas digerebek)

Agak dungu sih sebenarnya, ketika seseorang menjalani pernikahan hanya supaya bisa bersanggama, oleh mereka yang kebelet pipis enak. Cukup rendah, apabila institusi pernikahan yang harusnya berupa ikatan janji sehidup semati, dijadikan sekadar “tiket” untuk boleh menyetubuhi atau disetubuhi.

Marriage is way more sublime than just sex. Jangan sampai pernikahan cuma menunjukkan bahwa manusia ingin melakukan persetubuhan tapi insecure, mau tapi malu. Enggak ingin dianggap sebagai penyimpangan secara agama (sebagai zina), secara normal sosial, maupun hukum positif (sebagai tindakan perkosaan atau mesum). Intinya, sangat disayangkan apabila entitas pernikahan dan keberadaan tuhan sebagai saksi janji suci diletakkan tidak jauh dari urusan selangkangan.

3) Sebagai legalitas berketurunan

Konsekuensi alamiah dari persetubuhan adalah pembuahan, kan? Apalagi sampai saat ini, masih banyak pria yang berkomentar kalau pakai kondom itu enggak enak, dan coitus interruptus itu seringkali nyebelin. Akan tetapi intinya bukan itu, melainkan pada status hukum dan identitas sosial si jabang bayi yang bakal hadir.

Dihasilkan dari ikatan pernikahan yang sah, sang manusia baru tidak akan disebut anak haram (kok disamakan dengan babi sih?) Bukan hanya itu, bahkan negara pun juga melakukan diskriminasi serupa. Sang manusia baru yang lahir tanpa bisa memilih, harus siap menanggung nasib tidak memiliki Akta Kelahiran. Untung saja, kalau ndak salah, baru-baru ini sudah diloloskan revisi hukum baru yang memperbolehkan Akta Kelahiran hanya mencantumkan nama ibu kandung.

Selain itu, rupanya status orang tua berdasarkan ikatan darah seringkali kalah kuat tanpa ada surat keterangan. Dokumen (sok) sakti bernama Kartu Keluarga hanya bisa dikeluarkan bila dua nama di urutan teratasnya, memiliki Surat Nikah.

4) Supaya keturunan yang dihasilkan menjadi penerus segala hal milik keluarga, secara legal

Kalau yang ini, lebih kepada urusan warisan dan pengaturan harta ke depannya. Bukannya menghakimi, tapi pernikahan begini kerap terjadi sebagai hubungan transaksional, dengan tujuan utama agar harta yang ada tetap dipegang oleh anggota keluarga sendiri.

Konkretnya, pernikahan antara dua orang yang awalnya saling asing dan tanpa ketertarikan emosional. Pernikahan dilangsungkan lewat perjodohan demi aneka tujuan. Untuk bisnis, untuk perdamaian antarsuku, untuk perdamaian antarkeluarga, maupun untuk alasan-alasan non-cinta lainnya.

5) Sebagai legitimasi sosial (biar terbebas dari cibiran tetangga, sama seperti keluarga lainnya)

Ada jutaan ibu yang harus siap kuping panas saat kondangan, karena bolak balik mendapat pertanyaan: “duh, jeng, kapan nyusul mantuan?” Terberkatilah para ibu yang santai dan mampu cuek menghadapi omongan-omongan seperti itu, tapi banyak juga yang kalah dengan keadaan. Sehingga ingin anaknya segera menikah supaya bebas dari cibiran dan lontaran mulut-mulut berbisa orang lain dalam satu lingkungan populasi. Setidaknya dengan menikahkan anak-anaknya, para orang tua bisa lega, dianggap sukses sebagai orang tua, sampai bisa menggendong cucu. Seolah-olah anak-anak mereka wajar untuk diperlakukan seperti Lego abstrak, yang bisa disusun-pasang-bongkar menjadi apa pun.

Padahal, orang-orang yang cuma bisa mencibir tadi, tidak punya hak apa-apa untuk memodifikasi kehidupan kita, kecuali kalau kita persilakan.

Itu di sisi orang tua. Di sisi anak-anaknya, banyak juga yang kalah dengan cibiran sosial. Bosan dan malu terus-terusan diejek. Sampai akhirnya “ya sudah deh, yang penting nikah.” Seringkali mesti lewat jalur paksaan berupa perjodohan. Menerima perjodohan bikin hati tertekan, tapi menolaknya berarti akan tetap sendiri untuk rentang waktu yang masih menjadi misteri.

Pernikahan pun akhirnya berlangsung hanya demi status.

6) Sebagai pemuasan ego pribadi maupun keluarga

Kalau begini, pernikahan dilakukan untuk mengejar dan mendapat pengakuan sosial, biar eksis. Lebih vulgar lagi, disebut pernikahan pamer dan gaya-gayaan, yang penting sudah disebut spektakuler, wedding of the year, ingin dijadikan objek iri. Baik bagi si orang tua dan keluarga besar, maupun bagi kedua mempelai. Kalau perlu harus mengundang segerombolan orang penting (yang mungkin sebenarnya enggan datang), menghabiskan anggaran sampai sepuluh digit angka, serta tidak ketinggalan diekspose ke semua media massa.

Cinta, sebagai fondasi utama sebuah pernikahan, bisa digantikan dengan “pokoknya aku harus nikah dengan dia! Soalnya dia ganteng/cantik, keren/seksi, kaya, bloon (?)“, atau “pokoknya aku harus nikah dengan dia, biar bisa terkenal,” dan aneka alasan lain yang kerap dihadirkan sebagai bagian cerita sinetron.

Silakan dibayangkan, cewek usia pasca-ABG (early 20 up to 25), merasa jadi seorang putri. Bermimpi ingin menikah dengan sosok prince charming on a white horse; cowok tampan berbodi atletis yang datang dengan “menunggang” mobil keren. Tidak lupa dengan hasil akhir “life happily ever after. The end.” Padahal realitasnya, sang “Tuan Putri” tadi tetap ingin menjalani hidup dimanja nan hedon, dan pernikahan tadi bukan terjadi untuk menjadikan si pangeran sebagai kekasih, apalagi suami, melainkan sebagai pelengkap gaya hidup. Biar bisa dipamerkan ke orang-orang.

7) Supaya ada anak dan cucu yang merawat dan menemani saat tua nanti

Untuk alasan yang ini, sangat manusiawi. Banyak dari kita yang takut menjadi tua tanpa ada yang bisa/mau merawat dengan sepenuh hati. Memerlukan perawatan dari orang-orang terdekat yang hangat, bukan orang yang dibayar untuk sekadar menjadi perawat.

Ya, semoga kita semua bisa sehat dan kuat sampai usia tua. Jadi, tidak sampai harus merepotkan orang-orang di sekeliling kita. Amen!

8) Membahagiakan orang tua, mumpung mereka masih ada

Kalau untuk alasan yang satu ini, saya tidak berani berkomentar lebih jauh. Semuanya kembali pada bagaimana kedekatan Anda dengan orang tua masing-masing. Ada orang tua yang sabar menanti dan tidak menuntut, akhirnya bikin anak-anaknya sungkan dan berusaha sekuat tenaga. Sebaliknya, ada yang mengeluh, menyindir, menuntut, dan sebagainya, yang akhirnya menimbulkan ketidaknyamanan. Percekcokan.

Beban batin makin kuat, setiap kali ada orang yang berkata “cepat sudah menikah, mumpung orang tuamu masih ada.” Bikin canggung.

Saya memang belum menikah. Oleh karenanya, akan sangat maklum bila Anda menganggap semua tulisan di atas omong kosong belaka. Yang jelas, saya bukan orang yang anti terhadap institusi pernikahan, setidaknya sampai saat ini. Cuma sering merasa geregetan aja. So, no hard feeling ya. 🙂


Omong-omong, tanpa terasa tulisan ini sudah jadi hasil piket ke-52 saya. Itu artinya, sudah genap setahun kita saling ngobrol melalui Linimasa.

Izinkan saya merayakan momen ini, dengan menerima semua pendapat, masukan, kritik, atau bahkan cercaan dari Anda-Anda sekalian, yang telah sudi “mampir” dan bercengkerama bersama selama ini. Lengkap dengan ucapan terima kasih atas peluk hangat dan jabat erat dari Anda.

Saya juga bersulang (pakai air putih doang sih ini) untuk para orang hebat, yang selama hampir setahun ini, telah mewarnai buana maya dengan lebih banyak hati.

Teruntuk Mas Roy ❤ Ko Glenn ❤ Mas Gandrasta ❤ Fafa ❤ Mas Nopal ❤ Mbak Lei ❤ Mas Gun ❤ semoga kebahagiaan, kesehatan, dan kesejahteraan ada pada Anda semua.

[]

 

Iklan

14 thoughts on “Pernikahan

  1. Ping-balik: LINIMASAMati
  2. Pertanyaan yg sama menggelayuti pikiram tahun2 terakhir ini. Jadi alasan apa yg paling sahih utk menikah? Katanya cinta pun tak cukup di samping 8 alasan di atas yg tidak memadai. Kenapa hidup makin rumit ya? Padahal menikah mah nikah aja asal siap menanggung segala resiko sukur-sukur bisa dapat berkahnya. Ah, entahlah.

    Selamat Mas Naga, saya salah satu pembaca setiamu. Setahun berasa akrab, ciieee…akrab. Terima kasih atas renungan yg selalu dibagi dan buat saya belajar (hidup)

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s