RESEPSI pernikahan, dan kematian. Dalam kehidupan seseorang secara umum, setidaknya dua peristiwa tersebut yang bisa mengum­­­­­­­­pulkan dan mempertemukan banyak orang sekaligus.

Apa kesamaan dari keduanya? Resepsi pernikahan maupun kematian sama-sama merupakan perayaan. Sehingga banyak orang mengusahakan diri untuk hadir. Meskipun begitu, resepsi pernikahan adalah perayaan yang dapat direncanakan sedemikian rupa. Sedangkan kematian selalu datang sebagai kejutan, dengan sang mendiang sebagai bintang utamanya.

Seorang kawan saya meninggal Minggu siang lalu. Selama dua hari berturut-turut–Senin dan Selasa kemarin, saya datang dan melayat ke satu rumah duka di Jakarta Barat sebelum akhirnya mendiang dikremasi di Dadap tadi pagi.

Kami “merayakan” kematiannya dengan air mata dan tawa. Kami saling berbagi cerita, karena hanya itu yang kami punya tentang almarhum. Karangan bunga dan ucapan belasungkawa pun datang dari hampir seluruh Indonesia. Semoga dia berbahagia.

Terlepas dari suasana duka itu sendiri, saya ternyata cukup beruntung untuk bisa mengamati dan mengalami situasi-situasi menarik di sana. Membuat saya menyadari banyak hal yang sebenarnya selalu terjadi selama ini, tapi kerap tak diacuhkan dan berlalu begitu saja. Berikut beberapa di antaranya.

  • KEMATIAN TAK KENAL AGAMA

Apa pun suku dan agamanya, kematian pasti menimpa siapa saja. Tugas para manusia yang masih hidup adalah mengurus dan memulasarakan jasad mendiang, serta mempersilakan semua kerabat dan kenalan almarhum untuk datang memberikan penghormatan terakhir maupun memanjatkan doa.

Ketika dirasa kurang nyaman menyemayamkan jenazah dan menerima para tamu di rumah sendiri, rumah duka bisa jadi pilihan logis. Dimulai dari ketersediaan tempat parkir, meja dan tempat duduk, pasokan air minum dan kudapan bagi para tamu, serta ruang yang lebih lega untuk menempatkan tubuh mendiang.

Rumah duka publik (殯儀館), baik yang dikelola secara komersial maupun gratis dalam bentuk yayasan sosial identik sebagai salah satu aktivitas sosial khas warga Tionghoa di Indonesia. Biasanya bernaung di bawah paguyuban-paguyuban.

Dengan label fasilitas umum, pada dasarnya siapa saja dipersilakan untuk memanfaatkan pelayanan rumah duka-rumah duka tersebut. Hanya mekanismenya yang berbeda, menyesuaikan kebijakan pengurus masing-masing.

Di Samarinda, misalnya. Satu-satunya rumah duka publik di sana menggratiskan pemakaian ruang parkir, ruangan, meja dan kursi, piring dan gelas, berteko-teko teh dan kopi tubruk panas. Keluarga hanya perlu mengganti air mineral, kudapan (seperti kacang, kuaci putih, kue-kue basah) yang telah digelontorkan secara free flow selama masa duka.

Selebihnya, pihak keluarga juga tetap dipersilakan untuk berdonasi kepada pihak yayasan pengelola, atau memberikan uang jasa kepada para pelayan yang bertugas di sana. Itu pun tidak wajib. Jika mendiang berasal dari keluarga yang kurang mampu, semuanya digratiskan sampai ke urusan penyediaan peti mati, bahkan pengantaran dengan mobil jenazah ke pemakaman atau krematorium. “Klien” yang disemayamkan di sana pun tidak melulu warga Tionghoa dan non-muslim. Saya pernah melihat sendiri warga bersuku Dayak maupun jenazah yang muslim ditempatkan di sana selama masa berduka.

Walaupun demikian, satu-satunya rumah duka di Samarinda itu jarang sekali mengalami full house. Padahal di sana hanya ada lima ruangan. Berbeda dengan rumah duka-rumah duka di Jakarta maupun Surabaya, dengan belasan hingga puluhan ruangan dalam gedung tiga-empat lantai yang hampir setiap malam selalu terisi, bahkan sampai menghasilkan semacam waiting list! Sudah meninggal, masih harus menunggu ketersediaan ruangan pula.

Hari Senin dan Selasa kemarin tentu bukan yang pertama kalinya saya datang melayat ke rumah duka publik-komersial. Tetapi kondisinya sangat berbeda dengan rumah duka di Samarinda, dan saya pun menyempatkan diri berkeliling.

Hasilnya… rumah duka adalah rumah gaung doa semua agama!

Semuanya dilantunkan bersamaan, sama-sama nyaring dan dilakukan secara massal, dalam tradisi dan ditujukan kepada entitas berbeda. Semua orang hanyut dalam “perayaan” kematian bagi mendiang. Tidak ada ruang untuk merasa risi, terganggu, apalagi tersinggung dengan doa dan tradisi dari agama maupun mazhab yang berbeda.

Di sepanjang lantai 2, saya bisa mendengar khotbah misa arwah; kidung-kidung penghiburan Kristiani; tuntunan upacara penutupan peti dalam kepercayaan tradisional Tionghoa; lantunan Sutra-Sutra Mahayana (mazbah Buddhisme bernuansa Tiongkok) berupa bahasa Sanskerta yang ditransliterasi ke dalam bahasa Tionghoa, dibarengi berbagai alat musik perkusi menjadi semacam pertunjukan seni; maupun pembacaan Paritta (syair-syair renungan) dukacita Theravada (mazhab Buddhisme ortodoks) dalam bahasa Pali.

Tak ada satu pun yang berkomentar: “…yang di situ enggak bakal masuk surga,” atau sejenisnya.

Apa yang saya lihat dan dengar saat itu, benar-benar menambahkan makna pada ungkapan: “Kematian pasti menimpa siapa saja. Tak peduli agama, suku, ras, dan kedudukannya.

Pembacaan Maha Karuna Dharani, ritual sinkretisme ala Mahayana Tiongkok.
  • SUDAH SIAP DITINGGAL?

Banyak ceramah agama yang menekankan pada kesiapan menghadapi kematian. Apa pun isinya, tetap bisa disarikan dengan: “Kumpulkan banyak bekal akhirat dengan banyak-banyak berbuat baik dan beribadah. Didik anak cucu supaya bisa mendoakan dan melapangkan jalan menuju alam baka.

Dilihat dari apa yang terjadi selama ini, mungkin ada segelintir orang yang betul-betul siap mengalami kematian. Hanya saja, tidak ada seorang pun yang sungguh-sungguh siap ditinggal mati. Ini berlaku pada banyak kondisi. Kesiapan finansial dan meneruskan penghidupan; kesiapan emosional dan penerimaan atas proses alamiah ini; kesiapan spiritual dan kesanggupan untuk menjalankan ritual kematian sesuai agama masing-masing; kelapangan hati untuk merelakan atau memaafkan, serta kesiapan akal untuk mempertahankan nalar.

Contohnya: suami meninggal, ayah atau ibu meninggal, anak meninggal, sahabat meninggal, musuh meninggal.

Semoga kita dijauhkan dari segala bentuk kedukaan yang berlebihan dan keterpurukan atas kematian. Semoga orang-orang yang kita cintai, bila memang sudah waktunya, diketemukan dengan maut dalam keadaan yang baik dan tidak menyakitkan.

  • ORANG BAIK BANYAK TEMANNYA

Ini bukan sekadar urusan siapa yang bersedia mengangkat keranda atau peti mati; bukan perkara siapa yang akan mengantar sampai ke pemakaman atau krematorium; bukan perkara siapa yang sudi memberikan penghormatan dan menyempatkan diri untuk memanjatkan doa serta penghormatan; bukan juga perkara siapa yang memberi amplop putih saat datang melayat. Melainkan siapa saja yang merasa sangat kehilangan sosok mendiang; siapa saja yang terinspirasi tindakan-tindakan mendiang semasa hidup; siapa saja yang sangat berterima kasih pada mendiang; maupun siapa saja yang bertekad meneruskan hal-hal baik peninggalan mendiang.

Bagi yang meninggal, kematian seharusnya bukan cuma perkara masuk surga atau neraka; tapi juga apa yang bisa ditinggalkan. Kematian orang-orang baik akan selalu “dirayakan” dalam bentuk kenangan.

Mendiang kawan disemayamkan di “ruang” kanan. Di saat bersamaan, berlangsung ritual ala Mahayana Tiongkok di “ruang” sebelah kiri dan hanya diikuti oleh keluarga.

Sebagai seorang pembelajar Buddhisme yang menganggap tubuh ini hanyalah komposisi dari unsur-unsur terpisah namun saling terhubung (interdependen), saya percaya bahwa kenangan-kenangan tersebut tidak akan berpengaruh pada mendiang pasca-kematiannya. Akan tetapi justru penting bagi manusia-manusia yang ditinggalkan, yang masih hidup. Makin banyak pengalaman dan ingatan positif dalam hidup seseorang, makin terasa bahagia hidupnya… dan semoga kita semua bisa menjadi bagian dari kenangan-kenangan positif dalam hidup seseorang. Sebab dengan begitu, keberadaan kita bisa dianggap berguna dan berfaedah bagi sesama.

Apa gunanya hidup dengan segala kepandaian, kecendekiaan, kekayaan, kemasyhuran, ketampanan dan kecantikan wajah, keelokan fisik, kedudukan tinggi, kesuksesan dan keberhasilan, tapi berperilaku macam bajingan. Cuma menghabiskan kuota memori orang lain dengan komentar-komentar negatif, perasaan jengkel dan kesal, serta sakit hati.

Semoga kita selalu berkesempatan memiliki dan menjalani kehidupan yang baik serta berbahagia, hingga pada akhirnya juga bertemu dengan kematian dalam keadaan yang baik.

[]

Posted in: @linimasa

2 thoughts on “Mati Leave a comment

  1. “Semoga kita selalu berkesempatan memiliki dan menjalani kehidupan yang baik serta berbahagia, hingga pada akhirnya juga bertemu dengan kematian dalam keadaan yang baik.”

    Menghela nafas panjang saat membaca tulisan ini, ada cita-cita yang akhirnya muncul setelah membacanya.
    Terima kasih banyak, ini semacam pengingat, secara personal buat saya. 🙂

Leave a Reply