So You’ve Been Publicly Shamed, What’s Next for Us?

Beberapa bulan lalu, saya membeli buku berjudul “So You’ve Been Publicly Shamed” karya Jon Ronson. Dalam waktu singkat, tak sampai 48 jam, buku itu selesai saya baca. Sampai segitu menariknya buku ini? Buat saya, ya, buku ini sangat mudah dibaca dan isinya sangat menggugah.

Buku non fiksi ini berkisah tentang pengalaman pengarang saat dia terkena fitnah di Twitter. Usut punya usut, ternyata fitnah tersebut bersumber dari akun palsu yang punya nama sama dengan beliau, tapi merupakan akun “spam bot” buatan mesin. Tertarik mengetahui lebih banyak tentang fenomena “spam bot” ini, perjalanan Ronson malah membawanya menemui orang-orang yang dipermalukan secara umum di media sosial.

Cover buku So You’ve Been Publicly Shamed (source: Amazon)

Kasusnya menarik, dan berbeda-beda. Ada seorang penulis yang ketahuan memalsukan kutipan yang menjadi isi buku yang ditulisnya. Ada seorang jurnalis yang menuduh dua ilmuwan atas sexism, namun tuduhan ini malah berbalik arah, sehingga jurnalis tersebut dipecat karena menyebarkan tuduhan palsu. Ada pekerja rumah jompo yang dipecat karena mengunggah foto becandaan yang malah dianggap senonoh dan tak pantas. Ada seorang pekerja humas yang kehilangan kredibilitas begitu dia mengunggah twit humor yang justru dianggap melecehkan kaum etnis tertentu.

Kasus yang berbeda-beda, namun semuanya mempunyai kesamaan: semuanya mengalami hujatan langsung di sosial media (Facebook dan Twitter yang menjadi studi kasus buku ini) oleh jutaan orang di seluruh dunia. Mereka kehilangan pekerjaan. Mereka terpaksa dan dipaksa mundur dari “masyarakat” secara virtual, bahkan hampir semuanya akhirnya menarik mundur dari kehidupan nyata. Berdiam diri di rumah. Kalaupun keluar rumah, hanya untuk menemui psikiater yang merawat kesehatan mental mereka setelah kasus yang menimpa mereka masing-masing.

Akhir perjalanan mereka berbeda-beda. Ada yang mendapatkan pekerjaannya kembali, ada yang pindah ke negara bagian lain, ada yang harus sampai re-invent a new persona untuk mengembalikan reputasinya. Pilihan terakhir yang rasanya mustahil, namun ternyata bisa dilakukan. Tentu saja harganya selangit.

Isi buku ini masih bercokol di benak saya lama setelah saya selesai membacanya. Ingin menulis untuk berbagi kesan tentang buku ini di sini, namun entah kenapa belum ada penggerak untuk melakukannya dari dulu. Sampai sekarang. Tepatnya setelah ada kejadian besar yang menimpa saya.

Kemarin, atau sehari sebelum tulisan ini saya unggah, saya meninggalkan komentar atas sebuah status teman saya di suatu media sosial. Komentar yang saat saya tulis dan tinggalkan di situ, saya anggap sebagai sebuah candaan belaka. Celakanya, komentar tersebut diterima oleh teman saya sebagai sebuah celaan. Buru-buru saya baca lagi. Memang komentar saya itu bisa dibaca sebagai a joke, tapi bisa juga sebagai an insult. Saya tidak bermaksud untuk menyinggung teman saya sama sekali.

Teman saya protes secara terbuka di balasan komentar saya. Komentar dari teman saya cukup keras. Rupanya komentar saya sebelumnya sangat menyinggung perasaannya.
Buru-buru saya meminta maaf sebagai balasan komentar tersebut. Berhubung saya mempunyai nomer ponselnya, saya juga meminta maaf secara pribadi. Saya sampaikan bahwa saya menyesal atas apa yang saya tulis.

Saat kita meminta maaf, kita sadar bahwa kita tidak berhak untuk meminta apalagi memaksa orang tersebut untuk memaafkan kita. Itu hak mereka. Yang menjadi kewajiban kita adalah meminta maaf kalau kita sudah menyinggung apalagi menyakiti mereka.

Lalu saya teringat isi buku di atas. Bahwa sebuah guyonan atau humor sangat jarang yang bisa tersampaikan dengan baik. Artinya, apa yang dimaksud sebagai a joke oleh penyampainya, belum tentu diterima sebagai hal yang sama bagi mereka yang mendengarnya. Makanya sebagian besar dari kita tidak berprofesi sebagai komedian. Dan dari yang sedikit itu, tidak banyak komedian yang berhasil.

Dan saya sadar, dari pengalaman kemarin dan isi buku itu, bahwa jari kita mempunyai kekuatan yang luar biasa untuk mengubah hidup orang lain. Mengubah hidup bisa mulai dari mengubah hari, mengubah mood, sampai mengubah nasib orang. Kita memang tidak bisa mengontrol apa yang orang lain pikirkan atau rasakan. Yang bisa kita kontrol adalah untuk memikirkan ulang sebelum kita menulis: is it worth it? Is it worth saying? Is it worth sharing?

Setiap tulisan kita, sesingkat atau se-trivial apapun, mempunyai potensi untuk dilihat dan dibaca jutaan orang lain. Istilahnya, “goes viral”. Di kasus-kasus dari buku tersebut, para pemilik akun korban mempunyai pengikut (followers) yang tidak banyak. Maksimal ratusan. Namun saat cuitan mereka disebarkan oleh ratusan akun lain yang jumlah pengikutnya jauh lebih banyak, maka tak bisa dielakkan lagi, public shaming happens.

Saya pribadi bukan orang yang pandai beropini. Keterbatasan kemampuan otak saya untuk belajar hal baru, menerima informasi baru, dan menyerap apa yang baru dipelajari sampai benar-benar mengerti, ternyata sangat terbatas. Ditambah lagi dengan kemampuan intelejensia yang semakin menurun seiring dengan bertambahnya umur. Setiap saya baca berita, saya selalu mencari sumber lain tentang topik yang sama untuk membandingkan sudut pandang. Karena kebanyakan informasi yang dibaca, akhirnya malah tidak berniat untuk membagi karena takut kesalahpahaman saya malah menularkan keburukan untuk orang lain.

Pada akhirnya spontanitas memang bukan menjadi urutan utama dalam berinteraksi di media sosial. Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, social media is not for the weak of heart and mind. Perlu kedewasaan dalam berinteraksi tanpa tatap muka lewat media tulisan. Perlu kesabaran, ke-legowo-an, dan keikhlasan di media sosial. Ini berlaku buat semua: yang menulis, dan yang membaca tulisan.

Sampai tulisan ini diunggah, akhirnya saya memutuskan untuk mengurangi waktu di media sosial. Dari jumlah waktu yang sudah saya habiskan selama ini di akun-akun media sosial, mungkin untuk sementara waktu saya akan lebih mengurangi lagi untuk social media interaction. Bukan menghilang sama sekali, tapi hanya mengurangi.
Tentu saja ini pilihan pribadi, sama sekali bukan ajakan. Bagi mereka yang berprofesi sebagai pemegang akun-akun media sosial publik, atau bekerja di ranah media sosial, keputusan saya tersebut mustahil untuk dilakukan. Tetapi buat saya yang hanya memiliki akun pribadi, maka mengurangi untuk menahan diri adalah pilihan yang bisa diambil.

Saya teringat sebuah kutipan dari film yang dibintangi Julia Roberts, salah satu film komedi romantis favorit saya sepanjang masa, yaitu Notting Hill. Adegan ini terjadi saat Julia tertangkap basah sedang di rumah Hugh Grant:

William (Hugh Grant): I mean, today’s newspapers will be lining tomorrow’s waste paper bins.
Anna (Julia Roberts): Excuse me?
William: Well, you know, it’s just one day. Today’s papers will all have been thrown away tomorrow.
Anna: You really don’t get it, do you? This story gets filed. Every time anyone writes anything about me, they’ll dig up these photos. Newspapers last forever. I’ll regret this forever.

Notting Hill

Memang tidak mudah untuk berhati-hati, tanpa harus kehilangan atau meninggalkan jati diri. Di media sosial, kita ingin didengar. Namun kadang kita harus menghabiskan lebih banyak waktu untuk mendengar. Sebagian besar apa yang harus kita dengar kadang tidak mudah untuk diterima.

Learning is never easy. But it always brings us somewhere better.

Advertisements

Narcissus Interruptus

Echo sangat mencintai Narcissus. Tapi Narcissus sebagai pria paling menawan di jamannya tidak peduli dengan perhatian dari Echo. Banyak sekali wanita yang jatuh hati padanya. Padahal Echo adalah wanita yang cantik sekali. Dia rela meninggalkan suaminya, Juno hanya untuk mengejar cintanya Narcissus. Ia yang tidak lelah menaruh harapan. Kemanapun Narcissus pergi, Echo selalu membayangi. Tapi Narcissus arogan. Dia terlalu mencintai dirinya sendiri sehingga dia tidak bisa membiarkan seorang wanita pun memilikinya. Sampai pada suatu saat Narcissus merasa ada yang mengikuti, lalu dia berkata, Siapa itu? Echo tercekat dan dia balik menjawab, Siapa itu? Narcissus pun menoleh tapi Echo bersembunyi. Dia kembali berkata Keluarlah. Echo balik menjawab, Keluarlah. Kenapa kamu selalu menghindar? Tukas Narcissus. Kenapa kamu selalu menghindar? Echo menjawab sambil keluar dari semak belukar. Dia akhirnya mengeluarkan semua isi hatinya yang selama ini ia pendam. Narcissus menghardik Echo. Pergilah! Aku lebih baik mati daripada kau memiliku! Echo lari menuju hutan. Menyendiri dengan segala kekecewaannya. Hatinya hancur berkeping-keping. Tubuhnya memudar. Badannya mengkerut. Tulang-belulangnya berubah menjadi batu. Yang tersisa hanyalah suaranya yang menjawab dengan mengulang dari suara yang terdengar. Narcissus terus berjalan menuju hutan. Sampai dia menemukan kolam yang begitu jernih. Dia melihat refleksi wajahnya di kolam tersebut. Narcissus sangat mengagumi wajahnya. Dia tidak beranjak dari sana hingga akhir hayatnya.

narcissus

O.J. Simpsons adalah mantan atlet NFL ternama dari Amerika Serikat. Berkulit hitam dan tampan. Di jamannya dia adalah atlet paling terkenal. Sekelas David Beckham atau Michael Jordan. Usai pensiun dari olah raga dia tetap menyukai sorotan kamera. Dia menjadi aktor. Bintang iklan. Selalu hadir di acara televisi. Semua orang Amerika Serikat tahu dia. Sampai pada suatu saat istrinya terbunuh. Semua bukti jelas mengarah ke O.J. Simpson. Tapi O.J. tidak mengakui perbuatannya. Dia merasa tidak bersalah. Dia menyewa sekumpulan pengacara papan atas. Mereka dijuluki The Dream Team. Pengadilan ini dijuluki “Trial of the Century”. Terjadi di tahun 1994. Pengadilan yang diliput oleh televisi. Selama sembilan bulan. Rasisme masih terjadi. Banyak drama terjadi sebelum dan selama pengadilan ini terjadi. Pengadilan yang menyedot seluruh perhatian rakyat Amerika. O.J. adalah pahlawan kulit hitam. Dia juga banyak disukai oleh kulit putih. Kepribadiannya yang menyenangkan membuat ia dicintai banyak orang. Meski semua bukti mengarah kepadanya, tapi ia dinyatakan tidak bersalah oleh juri. Rakyat kulit hitam Amerika bersorak gembira. Ini mungkin cikal bakal dari reality show yang hingga kini masih terjadi. O.J. Simpson bebas. Tapi ia tidak bisa lepas dari sorotan kamera. Dia ketagihan. Walau namanya sudah memudar. Sampai pada tahun 2006 ia merampok dengan senjata api di Las Vegas. Hanya untuk mengambil memorabilia yang berkaitan dengannya. Sepele. Demi meraih perhatian. O.J. Simpson kembali masuk ke pengadilan. Tapi vonis kali ini tidak berpihak kepadanya. Dia kini harus meringkuk di penjara.

narcissus2

Budaya narsisme ini bukan budaya baru. Dari jaman batu ini sudah terjadi. Di Mesir, tepatnya di bagian dalam piramidanya banyak sekali pesan yang disampaikan melalui tulisan hierogliph. Di gua-gua pun banyak ditemukan hal seperti itu. Hukum Hammurabi terdapat dalam sebuah batu. Manuskrip Dead Sea Scrolls ditemukan dalam sebuah gulungan papyrus. Prasasti yang ada di wilayah Indonesia juga banyak terdapat tulisan. Candi Borobudur pun begitu. Di era internet di abad 21 fenomena ini semakin merajalela. Semua orang bisa narsis dengan gayanya masing-masing. Media sosial menyediakan sarana itu. Dari taraf yang pasif saja sampai taraf kronis. Ketika hal ini terjadi maka bagaimana kita menyikapinya. Ada yang bersembunyi. Ada yang menguntit. Ada yang menarik diri. Ada yang berpartisipasi. Ada yang lucu-lucuan. Ada yang tidak peduli. Ada yang misuh-misuh. Macam-macam. Semuanya sah-sah saja dilakukan. Selama masih dalam batas wajar. Untuk semua hal sebetulnya. Asal jangan sampai terjerembab seperti O.J. Simpsons, Narcissus, atau Echo.

Everything in moderation. Including moderation. ~ Oscar Wilde

Oya. Selamat mudik dan selamat Lebaran semuanya! 🙂

 

 

Aku Berlindung Dari Gempuran Iklan Yang Mengepung

Tiada hari tanpa Star Wars. Itulah yang terjadi selama setahun terakhir ini. Setahun? Rasanya lebih ya. Mungkin dua tahun. Yang jelas, sejak J.J. Abrams diumumkan menjadi sutradara baru Star Wars, publik langsung terkesiap. We sit up and take notice. Dan sejak saat itu, bergulirlah pelan-pelan iklan tentang Star Wars baru ini.

Mulai dari isu bocornya script. Lalu pengumuman siapa saja yang membintangi film ini. Lantas foto mereka berkumpul untuk table read atau membaca naskah film bersama-sama. Kemudian foto-foto suasana syuting diunggah ke media sosial. Bintang-bintang baru di-brief dengan cermat agar tidak membocorkan rahasia cerita. Boleh saja diwawancarai tentang Star Wars, tapi mereka biasanya akan tersenyum, memberikan jawaban yang vague atau tidak berkomentar sama sekali. Tentu saja ini menimbulkan analisa macam-macam, yang berujung pada spekulasi cerita. Muncullah berbagai teori cerita di forum-forum. “Permainan” ini semakin memanas saat judul baru resmi diumumkan. The Force Awakens. What kind of force? Whose force? Why does it need awakening?

IMG_1599

Teaser trailer dan teaser poster muncul. Para fans berteriak. Beberapa bulan kemudian, final trailer dan final poster diluncurkan. Para fans menjerit. Komentar menggebu-gebu bermunculan di berbagai media, mulai dari media massa konvensional sampai media sosial. Mulai dari yang menyembah-nyembah sampai yang mencaci maki.

Dan sekarang, saat ranggal rilis sudah sangat dekat, gempuran itu semakin terasa. Kalau saya pergi dan pulang beraktivitas, pasti saya akan melewati jalan-jalan besar dengan billboard berisi iklan promosi gratis tiket Star Wars. Mulai dari bank, ponsel, sampai produk F&B.

IMG_1597

Atau ada juga yang menawarkan produk merchandise Star Wars. Kalau lagi kena macet, maka saya akan membuka ponsel. Eh lha kok ada promosi gratis tiket Star Wars plus merchandise juga di beberapa aplikasi obrolan. Buka media sosial, ada yang mengunggah sampul beberapa majalah. Isi sampulnya? Apalagi kalau bukan karakter-karakter Star Wars. Tentu saja dalam berbagai versi. Malah ada yang sampai 8 versi.

Tidak menampilkan sampul? Majalah pun masih memuat iklan bertema Star Wars. Saya berpikir, iklannya pasti seputar produk-produk untuk para fanboys, pangsa pasar terbesar film in. Ternyata tidak. Produk kosmetik remaja putri pun bisa masuk mendukung franchise ini!

IMG_0923

Kemarin pagi saya curhat ke salah satu grup WhatsApp, “Gila ya. Brand sebesar Star Wars iklannya jor-joran di mana-mana. Ini udah sampai taraf mengepung sih. Online, offline, no product and no one is immune from Star Wars. Atau karena brand-nya sebesar Star Wars, makanya semua mau jump in?’

Salah satu teman berkata, “Mungkin meskipun brand udah besar, tapi bisa jadi mereka insecure juga dengan kepungan aktif model film-film Marvel ya, Val. Walaupun nggak ada yang rilis barengan, but still, it’s comparable. Mana figurines yang lebih bagus, mana merchandise yang lebih oke. Dan pangsa pasarnya kan mirip.”

Makes sense, saya bilang. Apalagi sampai 10 tahun lalu, ketika film terakhir Star Wars diluncurkan, Marvel belum menunjukkan dominasinya. Justru Marvel mengisi kekosongan Star Wars (live action version ya) dalam satu dekade terakhir ini.

IMG_1598

Lalu teman lain berujar, “Aduh, aku lelah melihat Star Wars di mana-mana ini. Malah menurunkan hype dan membuat aku jadi over expecting.”

Hahaha, kok bisa sih?

Lanjutnya, “Ya abis, udah dari awal kena exposure Star Wars ini. Dari awal banget. Udah tau tampang cast-nya sekarang kayak gimana. Udah kebayang kayak gimana look filmnya. Jadi gak misterius lagi, gitu lho. Gak ada sense of anticipation jadinya. Eh ini berlaku juga buat film-film lain, ding. Gak cuma Star Wars. Mau film dari dalam negeri, atau luar negeri, kayanya sama aja sekarang effort promosinya.”

Lho kan tujuannya supaya mengajak orang tahu proses pembuatannya gimana? Jadi merasa dekat gitu? Nggak ya?

Pungkasnya, “Ya nggak lah. ‘Kan aku mau nonton di bioskop supaya bisa deg-degan anticipating gitu. Mendingan cuma tau dikit, cukup tau judul, sinopsis yang gak panjang-panjang, pemainnya siapa, posternya kayak gimana, udah. Lha ini kan kayak aku ikut bikin filmnya, udah tau dari awal. Hahaha.”

Saya ikut ketawa. Lalu saya menambahkan sambil menanyakan, bukankah semuanya begitu? Maksudnya, dengan kehadiran media sosial dalam genggaman kita setiap saat, bukankah semuanya ingin berbagi setiap saat, setiap waktu?
Tentu saja ini berlaku buat semua orang, semua produk, semua aktivitas dengan akun media sosial. Of course there is too much noise out there. And how you beat the noise? By creating bigger, louder noise. Toh tinggal kita yang memilah dan memilih apa yang kita mau ikuti.

IMG_0997

Artinya, kepungan dan serangan promosi itu tidak bisa dihindari. It is inevitable. Kalau mau berlindung, take cover. Log out atau matikan ponsel sementara waktu, atau abaikan dan hiraukan saja. Saat ini diperkirakan ada tiga milyar jenis informasi dalam teks dan gambar yang berseliweran di dunia maya setiap detiknya. Tiga milyar. Setiap detik. Kita sudah terbiasa menerima begitu banyak informasi setiap saat mata kita menatap gawai. Dari yang terbiasa menerima, feeling overwhelmed mungkin pada awalnya, akhirnya kita mau tidak mau akan memutuskan informasi mana yang akan kita terima berdasarkan kedekatan hati. Ini sesuai dengan beberapa tulisan Glenn akhir-akhir ini.

Lalu, siapa yang dekat dengan Star Wars? Tentu saja mereka yang sudah akrab dengan franchise berusia hampir 40 tahun ini. Mereka yang menonton dulu sudah menjadi orang tua, bahkan kakek sekarang. Mereka mungkin menularkan kecintaan mereka ini kepada anak dan cucu mereka. Lagi pula, brand ini harus diakui cukup pintar menjaga rentang waktu dari satu trilogi ke trilogi lain. Tentu saja saya lebih familiar dengan trilogi ke-1 sampai ke-3 dari tahun 1999 ke 2005, meskipun dari segi kualitas, jauh lebih suka trilogi ke-4 sampai ke-6 dari tahun 1977 sampai 1983.

Ada faktor nostalgia yang berperan besar juga dalam kepopuleran brand Star Wars, dan juga franchise lain.
Kenapa bisa nostalgia sells?
Lebih baik kita sambung minggu depan ya.

Cukup juga ‘kan waktu seminggu buat Anda menimbang-nimbang buat nonton Star Wars nanti bareng kami?

IMG_1006

Media Sosial Baru Itu Bernama WhatsApp Groups

Berapa banyak WhatsApp groups yang Anda ikuti?

Jujur, kalau pertanyaan itu ditanyakan balik ke saya, jawabannya cukup banyak. (Jadi ada berapa? Tunggu ya.) Ini ngomongnya sambil malu-malu. Ya abis, kenyataannya memang seperti itu. Apalagi buat saya dan banyak orang lain yang kerjaannya by projects. Tiap ada proyek pekerjaan baru, pasti ada grup WhatsApp baru. Dalam satu project saja, malah bisa ada dua, tiga, atau lebih grup WhatsApp. Anggota grup-grup ini bisa sama. Ada yang jadi anggota di satu atau dua grup, sementara yang lain tidak.

Pusing? Banget!

Apalagi kalau lagi membicarakan hal yang sama. Bedanya, grup yang satu lagi ngomongin grup yang lain. Atau membuat referensi seperti, “Coba cek di grup sebelah deh. Masak dia ngomong gitu?” Walah!

Ini baru yang terkait dengan pekerjaan. Sementara pasti ada grup-grup lain yang dibentuk berdasarkan pertemanan atau kekeluargaan. Saya cukup “beruntung”, karena urusan keluarga sebaiknya dibicarakan langsung lewat telepon. Ya, menelpon dengan telepon. Masih ingat fungsi itu?

whatsapp-groups

Sementara untuk pertemanan, saya cukup pilih-pilih. Untuk teman-teman kuliah, yang intensitas komunikasi cukup tinggi selama sepuluh tahun terakhir, mati-matian saya bilang supaya kita gak usah bikin WhatsApp grup. Cukup komunikasi via email reply all saja. Itu juga sudah banyak.
Untuk teman-teman dengan minat yang sama, biasanya sebisa mungkin anggotanya tidak lebih dari 5 orang di dalam satu grup.
Oh, dan tentu saja, ada grup khusus penulis Linimasa di WhatsApp. Isinya apa? Rahasia dong. Mau tahu aja, ih.

Gak ding.
Gak rahasia, kok. Soalnya gak ada lagi yang bisa dirahasiakan di dunia ini sejak adanya media sosial. Apalagi dengan adanya WhatsApp groups ini. Kenapa? Karena di WhatsApp groups inilah lalu lintas screenshots atau screen captures menyebar luas.

Sejatinya WhatsApp memang media komunikasi personal antara satu orang dengan orang lainnya. Lalu berkembang menjadi komunikasi komunal. Mirip dengan fenomena BBM groups beberapa tahun lalu. Cuma saja, WhatsApp bisa melintasi perbedaan gawai atau alat komunikasi dengan operating systems yang berbeda-beda. Mau pakai Android phones atau Apple phones, masih bisa ngobrol pakai WhatsApp.

Alhasil, makin ramai dan bervariasi jenis informasi yang dibagi. Tiga huruf ampuh, yaitu “Btw” dan “OOT nih”, biasanya akan memulai pembicaraan lain di luar pekerjaan, kalau itu WhatsApp grup pekerjaan, atau sekedar mulai sharing info kalau itu WhatsApp grup yang lain. Tidak sekedar rumpi ngomongin screencaps di media sosial lain seperti Instagram atau Path, tapi juga info lowongan kerja, info online shops yang lagi menggelar diskon di jam-jam tertentu (macam Ramayana aja!), sampai nego gaji pun.

1906883

Benar-benar media sosial yang luar biasa. Di saat Facebook sudah makin rapi dengan fitur filter informasi yang kita lihat, lalu Path juga mulai mengekor Facebook, dan Twitter masih setia dengan batasan jumlah karakter, chatting tool bernama WhatsApp benar-benar menghabiskan daya batere ponsel kita. Tidak bisa kita saring, tahu-tahu kita sudah berada di satu grup. Lalu lupa untuk set supaya gambar-gambar dan video yang dishare tidak otomatis tersimpan di ponsel. Tiba-tiba begitu banyak gambar-gambar dan video memes di ponsel kita.

Mau keluar dari grup, sungkan.
Mau diam saja, dianggap tidak ramah.

Kalau sudah begitu, what to do?

If you ask me, saya orangnya cukup “cemen”. Notifikasi grup yang dirasa kurang penting buat saya, akan saya “mute”. Kalau memang grup itu seputar pekerjaan, maka saya akan minta pembicaraan penting ditulis via email. Pasti saya akan tambahkan alasan bahwa ada file yang perlu di-attach. Kebetulan menerima dokumen dalam bentuk Word atau Excel masih dirasa kurang pantas dibagi di WhatsApp groups. Lalu kalau grup itu terbentuk seputar event yang harus dihadiri, sementara saya tidak bisa hadir, maka saya langsung permisi di awal untuk tidak terlibat di grup itu.

how-to-exit-whatsapp-chat-group[22]

One less WhatsApp group can save your phone.

(Oh, ada berapa grup WhatsApp di ponsel saya? Sejauh ini … 10. Anda?)

… Karena Seluruh Dunia Tidak Harus Selalu Tahu

Correct me if I’m wrong, please.
Tapi setahu saya, tanpa googling, belum ada film atau karya populer lain yang bercerita tentang “how to go through a breakup in social media”. Seingat saya, film-film terkait media sosial biasanya berkutat dengan isu-isu serius, seperti The Social Network atau Catfish. Untuk hal-hal ringan penuh romansa, sepertinya kita harus melayangkan ingatan lebih jauh lagi.

Tahun 1998, film You’ve Got Mail membuka mata kita bahwa cinta bisa terjadi lewat kabel modem via telepon rumah dengan bunyi “eeerrnnggg … ngiiikkk … ngoookkk …. rrrnnggg” sebelum akhirnya tersambung ke internet.
Tahun 2009, ada satu bagian di film He’s Just Not that Into You, di mana Drew Barrymore berkeluh kesah tentang susahnya menghubungi gebetan: lewat sms, email, Facebook message, dan lain-lain.
Itu pun hanya sebagian kecil dari film. Kedua film itu juga belum memberikan solusi, atau paling tidak menjadi panduan persoalan di paragraf pertama.

He's Just Not that Into You
He’s Just Not that Into You

Tentu saja yang saya maksud di atas adalah film-film layar lebar, yang sebisa mungkin dibuat oleh major studios supaya bisa ditonton banyak orang.
Mungkin Hollywood sama gagapnya dengan saya atau teman saya, Shasya. Beberapa waktu lalu, kami sempat membahas betapa susahnya melalui masa-masa sesudah putus di era media sosial. Putus saja sudah susah. Apalagi ditambah sekarang harus berhadapan dengan “publik”.

Kata publik harus saya beri tanda kutip, karena kita tidak berhadapan dengan mereka. Tapi kita berinteraksi dengan jempol mereka. Mana yang lebih bahaya, wajah atau jempol? Dua-duanya. Tapi dengan teknologi 2G sekalipun, kecepatan jempol jauh lebih melesat daripada kemampuan menginterpretasikan raut muka.

Tentu saja kemudahan having the world at your fingertips ini sangat menggoda. Apalagi kita tidak pernah bisa lepas dari ponsel. Mau tidur, pegang ponsel. Bangun tidur, ponsel dulu yang dicari.
Di saat-saat rentan setelah putus, di saat kita menangis sendiri dengan membenamkan muka di bantal, tangan kita masih memegang ponsel. Kita tidak pernah bisa sendiri lagi di era media sosial sekarang. Kita punya “teman”.

Again, with the quotation marks.
Are “friends” really your friends? Are “followers” your friends?

Sangat mungkin ada beberapa yang kita kenal dalam kehidupan nyata, tapi jauh lebih banyak yang hanya sebatas dunia maya saja. Baik itu interaksinya, maupun jenis pertemanannya.

Kalau sudah begitu, maka berikut ini ada beberapa tips yang bisa digunakan untuk “how to go through a breakup in social media”:

1. Logout

Anda tidak salah baca. Anda tidak perlu harus menghapus aplikasi media sosial di ponsel. Anda cukup perlu logout. Dan itu berlaku untuk semua jenis media sosial: mulai dari Facebook, Twitter, Instagram, Path, dan lain-lain.
Trust me: your updated status can wait. Your sanity cannot.

2. Logout

Saya punya satu kata: Timehop. Aplikasi ini bisa menampilkan apa saja yang pernah kita unggah di media sosial mulai dari setahun yang lalu, sampai beberapa tahun ke belakang. Jadi, kemarahan yang kita pasang di media sosial sekarang, hanya akan membuat kita mengernyit heran di beberapa tahun mendatang sambil bergumam, “What was I thinking? Did the world know how stupid I was?”

3. Logout

Apa yang bisa diharapkan dari stalking akun mantan kita? Berharap dia post foto-foto inspirational quotes, tapi malah menemukan foto dia dengan pacar barunya sedang liburan? Nah, ‘kan.

4. Logout

Oke, kita sudah unshare, unfollow, block pertemanan dengan mantan di semua jaringan media sosial. But what about our friends in common? Apa hak kita untuk memutus pertemanan yang sudah terjalin di antara mereka? Tidak ada. Sama seperti jargon “we can never choose who we fall in love with”, maka berlaku juga istilah sahih “we can never choose who we befriend and get comfortable with”. Ketika kita sudah memutuskan untuk tidak terkoneksi dengan mantan, namun kita masih melihat fotonya hangout bareng dengan teman-teman lain, atau melihat namanya di komen status teman, maka itu saatnya untuk …

5. Logout

Beri waktu buat diri kita sendiri. Berapa lama? Tidak ada yang tahu. Butuh pikiran tenang dan jiwa yang legowo buat bermain di sosial media. Bukan sekedar untuk membaca hujatan, kritikan atau makian politis. Tapi ketika masalah hati ikut dimainkan dan dibicarakan, maka kesabaran diri jadi faktor utama.

You've Got Mail
You’ve Got Mail

Ketika Anda membaca ini, mungkin bisa jadi Anda berpikir bahwa it’s easier said than done. Betul. Saya setuju. Makanya, saya tidak mungkin bisa menuliskan semua hal di atas sebelum saya mengalaminya sendiri. I was there. We’ve all been there.

Because when you’re angry, take a step back.