So You’ve Been Publicly Shamed, What’s Next for Us?

Beberapa bulan lalu, saya membeli buku berjudul “So You’ve Been Publicly Shamed” karya Jon Ronson. Dalam waktu singkat, tak sampai 48 jam, buku itu selesai saya baca. Sampai segitu menariknya buku ini? Buat saya, ya, buku ini sangat mudah dibaca dan isinya sangat menggugah.

Buku non fiksi ini berkisah tentang pengalaman pengarang saat dia terkena fitnah di Twitter. Usut punya usut, ternyata fitnah tersebut bersumber dari akun palsu yang punya nama sama dengan beliau, tapi merupakan akun “spam bot” buatan mesin. Tertarik mengetahui lebih banyak tentang fenomena “spam bot” ini, perjalanan Ronson malah membawanya menemui orang-orang yang dipermalukan secara umum di media sosial.

Cover buku So You’ve Been Publicly Shamed (source: Amazon)

Kasusnya menarik, dan berbeda-beda. Ada seorang penulis yang ketahuan memalsukan kutipan yang menjadi isi buku yang ditulisnya. Ada seorang jurnalis yang menuduh dua ilmuwan atas sexism, namun tuduhan ini malah berbalik arah, sehingga jurnalis tersebut dipecat karena menyebarkan tuduhan palsu. Ada pekerja rumah jompo yang dipecat karena mengunggah foto becandaan yang malah dianggap senonoh dan tak pantas. Ada seorang pekerja humas yang kehilangan kredibilitas begitu dia mengunggah twit humor yang justru dianggap melecehkan kaum etnis tertentu.

Kasus yang berbeda-beda, namun semuanya mempunyai kesamaan: semuanya mengalami hujatan langsung di sosial media (Facebook dan Twitter yang menjadi studi kasus buku ini) oleh jutaan orang di seluruh dunia. Mereka kehilangan pekerjaan. Mereka terpaksa dan dipaksa mundur dari “masyarakat” secara virtual, bahkan hampir semuanya akhirnya menarik mundur dari kehidupan nyata. Berdiam diri di rumah. Kalaupun keluar rumah, hanya untuk menemui psikiater yang merawat kesehatan mental mereka setelah kasus yang menimpa mereka masing-masing.

Akhir perjalanan mereka berbeda-beda. Ada yang mendapatkan pekerjaannya kembali, ada yang pindah ke negara bagian lain, ada yang harus sampai re-invent a new persona untuk mengembalikan reputasinya. Pilihan terakhir yang rasanya mustahil, namun ternyata bisa dilakukan. Tentu saja harganya selangit.

Isi buku ini masih bercokol di benak saya lama setelah saya selesai membacanya. Ingin menulis untuk berbagi kesan tentang buku ini di sini, namun entah kenapa belum ada penggerak untuk melakukannya dari dulu. Sampai sekarang. Tepatnya setelah ada kejadian besar yang menimpa saya.

Kemarin, atau sehari sebelum tulisan ini saya unggah, saya meninggalkan komentar atas sebuah status teman saya di suatu media sosial. Komentar yang saat saya tulis dan tinggalkan di situ, saya anggap sebagai sebuah candaan belaka. Celakanya, komentar tersebut diterima oleh teman saya sebagai sebuah celaan. Buru-buru saya baca lagi. Memang komentar saya itu bisa dibaca sebagai a joke, tapi bisa juga sebagai an insult. Saya tidak bermaksud untuk menyinggung teman saya sama sekali.

Teman saya protes secara terbuka di balasan komentar saya. Komentar dari teman saya cukup keras. Rupanya komentar saya sebelumnya sangat menyinggung perasaannya.
Buru-buru saya meminta maaf sebagai balasan komentar tersebut. Berhubung saya mempunyai nomer ponselnya, saya juga meminta maaf secara pribadi. Saya sampaikan bahwa saya menyesal atas apa yang saya tulis.

Saat kita meminta maaf, kita sadar bahwa kita tidak berhak untuk meminta apalagi memaksa orang tersebut untuk memaafkan kita. Itu hak mereka. Yang menjadi kewajiban kita adalah meminta maaf kalau kita sudah menyinggung apalagi menyakiti mereka.

Lalu saya teringat isi buku di atas. Bahwa sebuah guyonan atau humor sangat jarang yang bisa tersampaikan dengan baik. Artinya, apa yang dimaksud sebagai a joke oleh penyampainya, belum tentu diterima sebagai hal yang sama bagi mereka yang mendengarnya. Makanya sebagian besar dari kita tidak berprofesi sebagai komedian. Dan dari yang sedikit itu, tidak banyak komedian yang berhasil.

Dan saya sadar, dari pengalaman kemarin dan isi buku itu, bahwa jari kita mempunyai kekuatan yang luar biasa untuk mengubah hidup orang lain. Mengubah hidup bisa mulai dari mengubah hari, mengubah mood, sampai mengubah nasib orang. Kita memang tidak bisa mengontrol apa yang orang lain pikirkan atau rasakan. Yang bisa kita kontrol adalah untuk memikirkan ulang sebelum kita menulis: is it worth it? Is it worth saying? Is it worth sharing?

Setiap tulisan kita, sesingkat atau se-trivial apapun, mempunyai potensi untuk dilihat dan dibaca jutaan orang lain. Istilahnya, “goes viral”. Di kasus-kasus dari buku tersebut, para pemilik akun korban mempunyai pengikut (followers) yang tidak banyak. Maksimal ratusan. Namun saat cuitan mereka disebarkan oleh ratusan akun lain yang jumlah pengikutnya jauh lebih banyak, maka tak bisa dielakkan lagi, public shaming happens.

Saya pribadi bukan orang yang pandai beropini. Keterbatasan kemampuan otak saya untuk belajar hal baru, menerima informasi baru, dan menyerap apa yang baru dipelajari sampai benar-benar mengerti, ternyata sangat terbatas. Ditambah lagi dengan kemampuan intelejensia yang semakin menurun seiring dengan bertambahnya umur. Setiap saya baca berita, saya selalu mencari sumber lain tentang topik yang sama untuk membandingkan sudut pandang. Karena kebanyakan informasi yang dibaca, akhirnya malah tidak berniat untuk membagi karena takut kesalahpahaman saya malah menularkan keburukan untuk orang lain.

Pada akhirnya spontanitas memang bukan menjadi urutan utama dalam berinteraksi di media sosial. Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, social media is not for the weak of heart and mind. Perlu kedewasaan dalam berinteraksi tanpa tatap muka lewat media tulisan. Perlu kesabaran, ke-legowo-an, dan keikhlasan di media sosial. Ini berlaku buat semua: yang menulis, dan yang membaca tulisan.

Sampai tulisan ini diunggah, akhirnya saya memutuskan untuk mengurangi waktu di media sosial. Dari jumlah waktu yang sudah saya habiskan selama ini di akun-akun media sosial, mungkin untuk sementara waktu saya akan lebih mengurangi lagi untuk social media interaction. Bukan menghilang sama sekali, tapi hanya mengurangi.
Tentu saja ini pilihan pribadi, sama sekali bukan ajakan. Bagi mereka yang berprofesi sebagai pemegang akun-akun media sosial publik, atau bekerja di ranah media sosial, keputusan saya tersebut mustahil untuk dilakukan. Tetapi buat saya yang hanya memiliki akun pribadi, maka mengurangi untuk menahan diri adalah pilihan yang bisa diambil.

Saya teringat sebuah kutipan dari film yang dibintangi Julia Roberts, salah satu film komedi romantis favorit saya sepanjang masa, yaitu Notting Hill. Adegan ini terjadi saat Julia tertangkap basah sedang di rumah Hugh Grant:

William (Hugh Grant): I mean, today’s newspapers will be lining tomorrow’s waste paper bins.
Anna (Julia Roberts): Excuse me?
William: Well, you know, it’s just one day. Today’s papers will all have been thrown away tomorrow.
Anna: You really don’t get it, do you? This story gets filed. Every time anyone writes anything about me, they’ll dig up these photos. Newspapers last forever. I’ll regret this forever.

Notting Hill

Memang tidak mudah untuk berhati-hati, tanpa harus kehilangan atau meninggalkan jati diri. Di media sosial, kita ingin didengar. Namun kadang kita harus menghabiskan lebih banyak waktu untuk mendengar. Sebagian besar apa yang harus kita dengar kadang tidak mudah untuk diterima.

Learning is never easy. But it always brings us somewhere better.

Advertisements

20 thoughts on “So You’ve Been Publicly Shamed, What’s Next for Us?

Leave a Reply