Media Sosial Baru Itu Bernama WhatsApp Groups

Berapa banyak WhatsApp groups yang Anda ikuti?

Jujur, kalau pertanyaan itu ditanyakan balik ke saya, jawabannya cukup banyak. (Jadi ada berapa? Tunggu ya.) Ini ngomongnya sambil malu-malu. Ya abis, kenyataannya memang seperti itu. Apalagi buat saya dan banyak orang lain yang kerjaannya by projects. Tiap ada proyek pekerjaan baru, pasti ada grup WhatsApp baru. Dalam satu project saja, malah bisa ada dua, tiga, atau lebih grup WhatsApp. Anggota grup-grup ini bisa sama. Ada yang jadi anggota di satu atau dua grup, sementara yang lain tidak.

Pusing? Banget!

Apalagi kalau lagi membicarakan hal yang sama. Bedanya, grup yang satu lagi ngomongin grup yang lain. Atau membuat referensi seperti, “Coba cek di grup sebelah deh. Masak dia ngomong gitu?” Walah!

Ini baru yang terkait dengan pekerjaan. Sementara pasti ada grup-grup lain yang dibentuk berdasarkan pertemanan atau kekeluargaan. Saya cukup “beruntung”, karena urusan keluarga sebaiknya dibicarakan langsung lewat telepon. Ya, menelpon dengan telepon. Masih ingat fungsi itu?

whatsapp-groups

Sementara untuk pertemanan, saya cukup pilih-pilih. Untuk teman-teman kuliah, yang intensitas komunikasi cukup tinggi selama sepuluh tahun terakhir, mati-matian saya bilang supaya kita gak usah bikin WhatsApp grup. Cukup komunikasi via email reply all saja. Itu juga sudah banyak.
Untuk teman-teman dengan minat yang sama, biasanya sebisa mungkin anggotanya tidak lebih dari 5 orang di dalam satu grup.
Oh, dan tentu saja, ada grup khusus penulis Linimasa di WhatsApp. Isinya apa? Rahasia dong. Mau tahu aja, ih.

Gak ding.
Gak rahasia, kok. Soalnya gak ada lagi yang bisa dirahasiakan di dunia ini sejak adanya media sosial. Apalagi dengan adanya WhatsApp groups ini. Kenapa? Karena di WhatsApp groups inilah lalu lintas screenshots atau screen captures menyebar luas.

Sejatinya WhatsApp memang media komunikasi personal antara satu orang dengan orang lainnya. Lalu berkembang menjadi komunikasi komunal. Mirip dengan fenomena BBM groups beberapa tahun lalu. Cuma saja, WhatsApp bisa melintasi perbedaan gawai atau alat komunikasi dengan operating systems yang berbeda-beda. Mau pakai Android phones atau Apple phones, masih bisa ngobrol pakai WhatsApp.

Alhasil, makin ramai dan bervariasi jenis informasi yang dibagi. Tiga huruf ampuh, yaitu “Btw” dan “OOT nih”, biasanya akan memulai pembicaraan lain di luar pekerjaan, kalau itu WhatsApp grup pekerjaan, atau sekedar mulai sharing info kalau itu WhatsApp grup yang lain. Tidak sekedar rumpi ngomongin screencaps di media sosial lain seperti Instagram atau Path, tapi juga info lowongan kerja, info online shops yang lagi menggelar diskon di jam-jam tertentu (macam Ramayana aja!), sampai nego gaji pun.

1906883

Benar-benar media sosial yang luar biasa. Di saat Facebook sudah makin rapi dengan fitur filter informasi yang kita lihat, lalu Path juga mulai mengekor Facebook, dan Twitter masih setia dengan batasan jumlah karakter, chatting tool bernama WhatsApp benar-benar menghabiskan daya batere ponsel kita. Tidak bisa kita saring, tahu-tahu kita sudah berada di satu grup. Lalu lupa untuk set supaya gambar-gambar dan video yang dishare tidak otomatis tersimpan di ponsel. Tiba-tiba begitu banyak gambar-gambar dan video memes di ponsel kita.

Mau keluar dari grup, sungkan.
Mau diam saja, dianggap tidak ramah.

Kalau sudah begitu, what to do?

If you ask me, saya orangnya cukup “cemen”. Notifikasi grup yang dirasa kurang penting buat saya, akan saya “mute”. Kalau memang grup itu seputar pekerjaan, maka saya akan minta pembicaraan penting ditulis via email. Pasti saya akan tambahkan alasan bahwa ada file yang perlu di-attach. Kebetulan menerima dokumen dalam bentuk Word atau Excel masih dirasa kurang pantas dibagi di WhatsApp groups. Lalu kalau grup itu terbentuk seputar event yang harus dihadiri, sementara saya tidak bisa hadir, maka saya langsung permisi di awal untuk tidak terlibat di grup itu.

how-to-exit-whatsapp-chat-group[22]

One less WhatsApp group can save your phone.

(Oh, ada berapa grup WhatsApp di ponsel saya? Sejauh ini … 10. Anda?)

Iklan

31 thoughts on “Media Sosial Baru Itu Bernama WhatsApp Groups

  1. Di WhatsApp, ada 8 grup. 4 di antaranya aku mute 😂

    Di LINE, ada 3. 2 di antaranya aku mute.

    IMO, kalo buat urusan kerjaan justru lebih enak share di LINE.

    Btw, gimana Whatsapp kamu? Masih bermasalah.

    Suka

        1. Berbeda dengan WhatsApp group yang hanya bisa ngandelin group chat, kalau di LINE group ada postingan grup berupa teks atau foto yang bisa di-post tanpa perlu di-post di group chat alias misah. Jadi, ndak ada istilah kalo chat atau foto yang kita post ‘tenggelem’ oleh chat orang lain yang ada di group itu 😁

          Suka

  2. pengalaman paling menggelikan dengan grup whatsapp saat ada yg masukin saya ke grup buat ngundang ke kawinan dia. bbrp menit dimasukkin langsung keluar.
    pernah juga dimasukin grup yg ga saya suka dua kali, dua kali juga saya langsung keluar. sampe ada yg bilang jangan dimasukin lagi tar jadinya hattrick. wkwkwkwk

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s