Konsistensi dan Ketetapan Hati

SEPERTI biasa, selalu ada masa-masa ketika bingung dan tak tahu ingin menulis apa buat Linimasa. Terus saja terjadi, meski sudah empat tahun dijalani. Makanya, tak aneh bila soal ganjalan ini kembali diobrolkan saat makan malam dalam rangka hari jadi, Jumat kemarin. Tetap saja buntu, dan akhirnya kembali kami biarkan berlalu.

Awalnya, sempat tergoda menulis tentang topik berikut.

Namun, setelah dipikir-pikir malam tadi, mungkin ada baiknya disimpan saja untuk nanti-nanti. Agak jemu juga rasanya bila kembali menulis tentang Buddhisme, dan hal-hal lain yang berkenaan dengannya. Toh, saya pun hanya seorang pembelajar Buddhisme biasa, bukan pembabar ajaran, pemuka agama, apalagi Pandita. Cukup kabari saja nanti, jika memang benar-benar penasaran tentang ihwal di atas.

Masih berhubungan dengan obrolan saat makan malam Jumat kemarin, saya justru tertarik dengan konsistensi. Tanpa disadari, sikap tersebut selalu mampu memberikan dorongan, tambahan tenaga, ide dan pemikiran, sekaligus tantangan yang mesti dihadapi. Contohnya, ya, Linimasa dan para penulisnya, yang secara berkala selalu berbagi cerita, pandangan, persepsi, walau jedanya kian menjarang. Padahal jelas-jelas kegiatan mingguan yang satu ini memang ranahnya di waktu senggang, atau manakala ada sesuatu yang terasa ingin diluapkan oleh para penulisnya.

Eh, tapi bener, lho, Gon, kita kan jadinya selalu berusaha untuk tetap menulis setiap minggu. Mau menulis apa, itu masalahnya,” kata Mas Nauval, saya amini.

Biar cuma berdua, yang penting suasananya. #shameless 🤪

Pada bagian inilah, konsistensi akan bertubrukan dengan ketetapan hati, menempatkan kita sebagai insan dengan kesempatan dan kemampuan memilih. Kondisi itulah yang membuat Linimasa saat ini telah memiliki total lebih dari 1.300 tulisan, dikumpulkan satu demi satu sejak pertama kali mengudara sebagai blog gotong royong pada 24 Agustus 2014 lalu … dan saya berkukuh, sebagian besar di antaranya masih cukup relevan dan menyegarkan bila dibaca sekarang.

Menurut saya, yang membedakan antara konsistensi dan ketetapan hati adalah fokus dan tujuan yang dikejar. Konsistensi mengarahkan pandangan kita ke titik imajiner, menjadi arah langkah demi hasil yang telah dipertimbangkan. Menjadikan kita yakin sampai ke sana. Sedangkan ketetapan hati lebih bertumpu pada keteguhan, membuat kita seakan-akan menyatakan: “Apa pun hasilnya, aku akan tetap menjalankan ini.” Serupa tetapi tak sama, kan?

Di sisi lain, baik konsistensi maupun ketetapan hati yang dijalankan, bakal membawa serta segala aral dan hambatan. Selain kebuntuan ide di atas, juga ada kebosanan atau kejenuhan, kesan ketidakjelasan, munculnya kesan bahwa ini adalah suatu keharusan, pudarnya rasa asyik dan gemar, serta bermacam-macam lainnya. Saya malah membayangkan, akan bagaimanakah kiranya andai seorang Goenawan Mohamad minta izin untuk tidak menulis Catatan Pinggir barang satu edisi saja. Ada berapa banyak pembacanya yang merasa kehilangan?

Kendati rasanya kurang pas dibanding-bandingkan, memang sih, tulisan-tulisan di Linimasa tidak sekaliber Catatan Pinggirnya Goenawan Mohamad. Hanya saja, tetap ada pembaca Linimasa yang selalu menantikan obrolan-obrolan Ko Glenn, Mas Gandrasta, Kang Agun, Mbak Leila, Mas Nauval, serta Mas Roy, yang dibekukan dalam bentuk tulisan.

Untungnya saja, menulis di Linimasa bukanlah aktivitas yang mengawang-awang. Di antara seribu tiga ratusan artikel yang telah ada, hampir semuanya ditutup dengan baik, tidak dibiarkan menggantung, menyisakan ketidakjelasan. Ibarat habis makan seporsi menu, ditutup dengan beberapa teguk air. Bukan untuk menambah rasa kenyang, melainkan untuk melegakan tenggorokan.

Lagipula, bilamana ada tulisan di Linimasa yang menyisakan keraguan dan pertanyaan, telah tersedia kolom komentar, atau pada beberapa kasus, sejumlah pembaca sudah sangat leluasa menghubungi si penulis langsung lewat media sosial.

Jika sudah menyangkut ketetapan hati, saya cenderung setuju dengan pernyataan Mas Roy dalam beberapa tulisan lalu. Dia, sebagai “bapaknya anak-anak”, sepenuhnya memperlakukan Linimasa bak diary, buku catatan harian tempat si empunya bebas menuliskan apa saja. Mulai dari kegelisahan eksistensial sampai kegilaan konseptual, dari perenungan spiritual sampai kelakar seksual. Oleh karena itu pula, Linimasa telah jadi taman bermain pribadi para penulisnya. Suka-suka. Sebuah prasyarat untuk kebebasan yang menggembirakan. Ada yang membaca atau tidak, terserah.

Tak pelak lagi, untuk setiap pertanyaan: “Linimasa ini sebenarnya mau diapakan, sih?” Kami, selain Mas Roy, akan serempak menjawab: “Ya, enggak tahu, terserah Mas Roy.” Untuk kemudian dijawab oleh yang bersangkutan: “Ya suka-suka gue, mau diapain, kek. Punya ide seru? Boleh dicoba, kalau mau, dan punya waktu.” Kurang lebih demikian.

… dan kalaupun keliru, ya Mas Roy tinggal membetulkan. Hahaha! 😄 Namanya juga taman bermain milik pribadi, yang kebetulan bisa ditengok oleh siapa saja yang lewat.

Dalam hal ini, kalau boleh saya bilang, Linimasa telah menjadi blog yang berketetapan hati tanpa peduli beragam situasi yang terjadi. Setidaknya selama empat tahun berjalan, dan entah sampai kapan. Semoga kita semua tak terbelenggu rasa bosan.

Semoga kita semua selalu punya hati untuk dibagi, setidaknya di sini, karena internet selalu butuh lebih banyak hati.

[]

Advertisements

2 thoughts on “Konsistensi dan Ketetapan Hati

  1. Linimasa sepantaran sama blogku. Awalnya aku juga semangat nulis, seminggu sekali. Lama-kelamaan makin jarang.

    Tapi yang pasti, aku masih punya ketetapan hati untuk berbagi apa pun di blog, meski terengah-engah. Biar lega.

    Terserah mau dibaca orang atau tidak. 🤣

    • Pilihannya nanti, pengin menghabiskan tenaga untuk mengaso karena terengah-engah, atau mau dituntaskan sekalian. Hahaha!

Leave a Reply