Jakarta, Hari ke-49

DEAR diary, enggak terasa ya, kalau dihitung-hitung ternyata sudah sebulan lebih berada di Jakarta. Hampir dua bulan malah. Menjadi salah satu penghuninya. Dan makin ke sini, ada makin banyak hal yang akhirnya dialami, dirasakan, dan diketahui sendiri, meski masih belum ada apa-apanya. Masih banyak yang menanti untuk dieksplorasi. Baru kemarin sore, istilahnya.

Yang pasti, terasa menyenangkan, sampai sejauh ini. Soalnya, dimulai dengan bertemu banyak orang dan berhadapan dengan aneka ragam sudut pandang, baik yang sejalan maupun berseberangan. Semuanya benar-benar memperluas wawasan dan cara pandang.

Namanya juga di kota orang, di lingkungan yang baru dan perlu dikenali lebih jauh. Supaya bisa bertahan.

Terus, rasa-rasanya kota ini cocok bagi para penyendiri. Cocok, karena ada begitu banyak sudut dan situasi yang bisa dinikmati seorang diri. Mulai mal, pertunjukan dan galeri seni, sampai taman-taman kecil di pinggir kali. Bahkan hanya dengan jalan kaki, dari Menteng sampai Gunung Sahari.

IMG_0493

Aktivitas-aktivitas yang dianggap aneh bila dilakukan sendirian di kota kampung halaman, di Jakarta malah terasa lebih menyenangkan. Seperti nonton di bioskop, ngafe, baca buku di mana saja, datang ke pameran-pameran seni aneka media, olahraga, keliling kota, dan lainnya.

Akan tetapi, ada juga beberapa teman–orang sini–yang enggan berteman dengan sepi. “Jakarta is not suitable for the solitudes,” begitu katanya. Saya angguk-angguk saja. Lagipula keriuhan di kota ini seakan tak pernah mati. Paling-paling rehat sejenak, untuk kemudian berlanjut kembali. Tinggal perkara siapa yang menikmati, siapa yang protes dan pasang spanduk besar tinggi-tinggi, dan yang tidak acuh lantaran masih ada kesibukan lain.

IMG_0228

Salah satu keriuhannya itu seperti di jalan raya. Hampir sebagian besar pengendara di Jakarta, kayaknya, suka banget pencet klakson, entah apa pun tujuan dan maksudnya. Seolah dengan memencet klakson panjang-panjang atau pendek namun berulang-ulang, beban hidup mereka berkurang. Seneeeng banget. Padahal, dampaknya enggak signifikan juga. Arus kendaraan padat merayap, ya tetap aja padat dan merayap.

Padahal kan ya, klakson adalah perangkat penghasil bunyi-bunyian dengan desibel cukup tinggi yang berfungsi sebagai media komunikasi antarpengendara di jalan raya. “Pesan” yang disampaikan pun cenderung netral. Seperti, untuk memberi tanda keberadaan kita kepada pengemudi lain agar tidak salah bermanuver, maupun kepada pejalan kaki dan pesepeda yang terlalu dekat dengan badan jalan.

Alih-alih dijadikan media komunikasi, klakson dijadikan banyak pengemudi Jakarta sebagai perpanjangan mulut untuk meneriaki orang lain, bisa menyulut emosi dan membuat perjalanan jadi tidak terlalu menyenangkan, atau dianggap semacam alat ajaib yang mampu mempercepat perjalanan. Salah satunya, bayangin aja, lampu lalu lintas baru berubah jadi hijau, pengendara di bagian tengah dan belakang antrean membunyikan klakson panjang. Seolah-oleh pengemudi di bagian depan ketiduran, atau sedang masak Indomie goreng dengan cara digoreng kembali. Enggak sopir mobil atau pengendara motor. Sama.

Pernah iseng beberapa kali nih, diary, mengendarai motor teman mengarungi jalanan Jakarta dalam jarak belasan kilometer. Rasanya asyik-asyik aja sih. Padat ya padat, tapi enggak sampai bikin pengin nglaksonin orang-orang. Tapi enggak tahu lah ya, mungkin itu cuma perkara suasana hati.

Waktu bawa motornya teman saat itu, kita mau pergi makan. Ya namanya juga Jakarta ya, pilihan makanannya buanyaaak banget. Ada yang benar-benar enak (di lidah orang pendatang), dan ada juga yang cukup enak (meski enggak seheboh yang dikatakan). Semuanya beragam. Harga, rasa, nama, dan rupa. Mulai fine dining tiga sampai lima courses ditambah wine tasting, sampai makan pecel lele garing di pinggir jalan dengan lalapan yang bakal terasa makin enak kalau kolnya digoreng.

Yang pasti, meski tidak masak sendiri, masih bisa kok pasang bujet Rp 50 ribu untuk makan sehari. Tiga kali, malah. Apalagi di hari kerja. Kalau sudah akhir pekan, baru deh tuh bisa bablas-bablas dikit. Tetap disesuaikan kemampuan dan kapasitas perut juga lah. Mau makan sebanyak apa sih memangnya?

Tahu gak sih, diary, dari semua ini, ada satu hal yang penting dan pasti. Ternyata, dengan hampir dua bulan di sini, bikin merasa lebih bersyukur. Setelah sadar betapa beruntungnya orang-orang yang punya kelegaan dan keleluasaan, sehingga masih bisa memilih, hampir apa saja. Termasuk yang dilakukan pengamen, dengan memilih untuk mengembalikan duit cepek kepada pemberinya. Ndaktau ya, apakah dia tersinggung diberi segitu, atau memang duit cepek enggak ada artinya di Jakarta. Hahahaha!

Ya… mudah-mudahan kita semua dijauhkan dari segala bentuk keterbatasan. Syukur-syukur kalau bisa membantu yang lain bebas dar keterbatasannya sendiri.

Itu dulu aja deh ya, diary.

Sampai kapan-kapan lagi.

[]

Sangat wajar bila tulisan ini dianggap terlalu prematur, agak terburu-buru, sotoy, hanya didasarkan pada temuan-temuan yang situasional, pretensius, terkesan berlebihan alias lebay, socioeconomically incorrect, dan sebagainya. Subjektif, sebabnya.

Iklan

16 thoughts on “Jakarta, Hari ke-49

  1. saya suka bunyi2an klakson yg ‘lembut’ dan ‘ringan’, rasanya indah didengar. seperti membunyikan klakson sebagai ucapan terima kasih kepada pengendara lain karena sudah diberi jalan (kalau saya biasanya sambil melambaikan tangan & tersenyum), menyapa seseorang yg kebetulan kita kenal di jalan, atau menyapa seseorang yg kebetulan kendaraannya sama2 keluaran zaman baheula xD

    Suka

  2. Awal-awal tinggal di Jakarta, saya agak menggerutu, tapi begitu kenal dengan Jakarta…ah, kota ini menyenangkan kok, dengan segala carut marutnya; kota ini ‘hidup’ dan bising sekali 😀 dan saya setuju, sendirian ke mana-mana di Jakarta itu menyenangkan juga, bisa puas mengamati orang-orang di sekitar.

    Suka

  3. Saya jadi inget waktu pertama kali tinggal di Jakarta, setahun yg lalu. Masih bisa ketawa-ketawa dan ngetawain orang2 yg desek-desekan di kereta dan bus, eh tapi makin ke sini malah jadi orang yg serius, jadi malah ikutan menggerutu. Soal kebiasaan pengendara di Jakarta juga salah satu yg paling saya notice pertama kali, orang-orang sini ramah klakson 😀

    Tulisan nya bikin nostalgia 🙂

    Suka

  4. “Setelah sadar betapa beruntungnya orang-orang yang punya kelegaan dan keleluasaan, sehingga masih bisa memilih, hampir apa saja.”

    Kalimat ini bikin sadar kalau yang tak ternilai harganya itu kelegaan dan keleluasaan hati. 🙂

    Makasih, Koh. Semoga makin enjoy di jakarta. 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s