Rasa Gelisah: Anugerah atau Musibah?

img_8896

Kamu sering gelisah? Ada satu teman dulu pernah bilang gelisah itu sebenarnya anugerah. Soalnya ia bilang ‘gelisah’ itu kependekkan dari ‘geli-geli basah’.
Namun, ada juga orang bilang gelisah itu sebenarnya musibah. Sebab, kadang-kadang gelisah menjadi gangguan di sela-sela aktivitas sehari-hari. Tidur tidak nyenyak, konsentrasi menurun, fokus terganggu, dan yang lainnya.

Apa pun jawaban yang diberikan—gelisah itu anugerah atau musibah—rasa itu memang unik dan barangkali hanya ada dalam diri manusia. Dengan demikian: khas.

Binatang seperti sapi atau kalkun, misalnya, tidak pernah terlihat gelisah dan muram seperti manusia, meski mungkin mereka tahu hidupnya tidak akan lama dan panjang.

Apalagi binatang yang lebih kecil seperti laron atau kunang-kunang. Rentang waktu hidup mereka singkat. Mereka lahir, bercahaya dalam gelap sekitar 2 bulan, lantas mati: terlupakan atau terkenang dalam ingatan…

Rasa gelisah, bisa disimpulkan, memang menjadi suatu ciri dalam diri manusia. Kalau kamu sedang berlibur di akhir pekan, misalnya, lantas tidak tahu harus berbuat apa, itu bisa disebut kegelisahan di samping kebosanan.

Jalan mondar-mandir, berpikir tak tentu arah ke sana ke mari, buka media sosial secara acak, pikiran melayang ke mana-mana, jadi ciri kegelisahan yang umum terjadi.

Dalam bahasa yang lebih mudah, kegelisahan bisa diibaratkan saat kita tahu ada sesuatu yang kurang dalam diri, tapi tidak tahu apa namanya. Apalagi bagaimana bentuknya, sebab muasal ia bisa muncul, dan kapan waktu datangnya. Roy Sayur mungkin tahu persis akan hal ini?

Namun, bicara soal kegelisahan juga mengingatkan saya pada cerita Narcissus dan Goldmund yang ditulis Herman Hesse tahun 1930.

Dalam novel yang berlatar Abad Pertengahan tersebut, ada sepasang kawan yang memiliki karakteristik bertolak belakang satu sama lain. Sepasang kawan itu bernama Narcissus dan Goldmund.

Narcissus seorang pendeta. Ia logis, teratur, asketik, stabil. Sementara itu Goldmund seorang yang penuh gairah, pengembara sejati yang tidak lelah mencari kenikmatan dari dunia sensual sehari-hari. Tidak heran pada perjalanannya kemudian, Goldmund menjadi seorang pemahat, meski awalnya ia murid Narcissus di Gereja.

“Kita semua takut pada kematian,” ujar Goldmund suatu ketika. “Kita bergidik pada hidup yang penuh ketidakstabilan ini. Kita berduka melihat bunga-bunga yang layu berkali-kali, dan daun-daun pun senantiasa gugur—dan di dalam hati kita pun tahu, bahwa kita sebenarnya fana dan akan segera musnah.”

“Namun,” lanjut Goldmund kemudian, “Ketika seorang seniman membuat gambar dan pemikir mencari hukum serta merumuskan pikiran, itu merupakan sebuah usaha untuk menyelamatkan kita dari tarian besar kematian, untuk membuat sesuatu yang lebih kekal, abadi, dari semua yang pernah kita lakukan selama ini.”

Kematian, dalam kebudayaan manapun, agaknya memang menjadi sesuatu yang kerap memunculkan rasa gelisah. Tidak heran, jika pada perjalannya kemudian, banyak orang berusaha membuat peradabannya melintasi waktu. Mereka membuat candi. Mereka melestarikan buku-buku pengetahuan. Mereka mengagungkan tarian, puisi, syair, dan lain-lain.

Sama halnya dengan kebanyakan dari kita kini. Meski cuma orang biasa, yang mungkin lelah karena senantiasa bekerja nine to five lima hari seminggu, kita sering membuat kenang-kenangan dalam bentuk tulisan, foto, video.

Bukankah, secara sadar atau tidak sadar, itu merupakan satu usaha kecil untuk membuat “yang sekarang” menjadi terkenang di masa depan?

Kembali lagi ke cerita Narcissus dan Goldmund. Kegelisahan dalam diri Goldmund yang seorang pengembara itu juga yang menjadi dorongan bagi dirinya untuk terus mencari. Berbeda dengan Narcissus yang teguh belajar di Gereja, ia terus berpindah-pindah tempat mencari “kenikmatan sensual” guna memenuhi kepuasan tidak hanya bagi otak dan batinnya, tapi juga untuk menemukan dirinya sendiri.

Herman Hesse, sang penulis cerita, memang seseorang yang terpengaruh kuat oleh psikoanalitik Jung dan pemikiran filsuf Friedrich Nietzsche. Narcissus dan Goldmund sendiri, bisa dilihat dalam kerangka pemikiran semangat Apollonian versus Dionysian yang dipopulerkan Friedrich Nietzsche dalam The Birth of Tragedy.

Menurut “filsuf dinamit” tersebut, karakter Appolonian mewakili tipe “pemikiran maskulin” yang logis, rasional dan dekat dengan penalaran akan Tuhan. Sementara Dionysian sebaliknya: ia mewakili tipe “pemikiran feminim” yang dekat dengan gairah, semangat, dan nafsu mencerap pengalaman sensual secara inderawi.

Jika pun ia berusaha “menemukan Tuhan”, orang yang memiliki “tipe pemikiran feminin” tidak akan melalui jalan penalaran serta logika, melainkan hati dan batin yang tidak lelah-lelahnya terus mencari.

Tidak heran, jika suatu kali Narcissus bergumam mengenai Goldmund, bahwa jika ia memilih dekat dengan Tuhan, ia akan melalui jalan “mistik” yang lebih menekankan intuisi dan pengalaman inderawi.

Lepas dari cerita Narcissus dan Goldmund, apa arti penting semua itu dalam hubungannya dengan kegelisahan?

Bisa jadi semua cerita itu dapat menjadi petunjuk, bahwa kegelisahan itu bukan sesuatu yang mesti ditakutkan atau bahkan dilawan.

Layaknya Goldmund dalam cerita Herman Hesse, kegelisahan itu bisa diterjemahkan menjadi satu drive (dorongan) dalam diri untuk terus berusaha berkreasi, produktif, dan mengartikulasikan sesuatu dalam diri agar bisa membunyikan gema ke luar diri.

Ah, tapi kan Goldmund dikisahkan sebagai seorang seniman di Abad Pertengahan. Bagaimana dengan kita yang barangkali cuma pegawai biasa di zaman modern ini? Banyak deadline, meeting, dan tumpukan pekerjaan.

Sebaiknya tidak perlu pesimis. Kegelisahan itu tetap bisa punya arti penting. Hal itu bisa membuat kita terus berkembang dalam hal skill atau pengetahuan.

Misalnya kita bisa menyalurkan hobi menulis, bisa jalan-jalan naik gunung, bisa menciptakan craft di sela-sela tumpukan pekerjaan yang menggila, atau bisa juga terus menciptakan cara baru untuk mengatasi permasalahan di kantor.

Di samping bentuk turunan teknikal seperti itu, kegelisahan demikian, bagi sebagian orang yang senang berpikir dan merasa secara mendalam, juga dapat menjadi momen eksistensial tertentu yang membuat diri ini terus bergerak dan mencari kedamaian di tengah harmoni…

Kegelisahan: itu anugerah atau musibah? Barangkali tidak penting apa jawaban dari pertanyaan itu. Sebab suatu kali pada permulaan abad 20, Nietzsche sudah mengumandangkan, “You must carry a chaos inside you to give birth to a dancing star!”
[]

 

Iman Purnama, penulis tamu pertama linimasa. Pernah bekerja sebagai wartawan magang, copywriter dan content writer. Saat ini sedang menyiapkan sekolah lanjutan (S2).

 

Iklan

4 thoughts on “Rasa Gelisah: Anugerah atau Musibah?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s