Tulisan tentang Tulisan

tak ada yg lbh tabah
dr hjn bln Juni
dirhsiaknny rntik rnduny
kpd phn brbnga itu

tak ada yg lbh bijak
dr hjn bln Juni
dihpusny jjak-jjak kkiny
yg rgu-rgu di jln itu

tak ada yg lbh arif
dr hjn bln Juni
dibiarknny yg tak terucpkn
diserap akar phn bnga itu

MAAF, bukan bermaksud untuk mengubrak-abrik karya susastra kontemporer, tapi…

Ya! Kita pasti mengenali puisi di atas sebagai “Hujan Bulan Juni” karya Sapardi Djoko Damono. Namun tidak. Tidak ada yang salah secara fungsional atas penulisannya. Sebab, meskipun dengan beberapa huruf vokal yang hilang, kita tetap mampu mengidentifikasi kata dan membacanya. Akan tetapi ada kesan yang berbeda, gereget yang kurang, rasa yang tak sampai, lantaran kita lebih menggunakan pikiran analitis ketimbang kalbu saat membunyikannya. Memahami maknanya, namun gagap memaknainya.

Demikianlah tulisan, yang berupa kumpulan simbol penanda bunyi tertentu; aksara-aksara. Susunan aksara menghasilkan kata, kumpulan bunyi yang mewakili atau berarti sesuatu. Begitu seterusnya kumpulan kata menghasilkan kalimat, kumpulan kalimat menghasilkan ide, konsep, pemikiran, ekspresi emosi, dan sebagainya dalam bentuk kasatmata. Bahkan bisa sampai beribu-ribu halaman panjangnya.

Pada intinya, tulisan membekukan lisan.

Sebagai penutur bahasa Indonesia, sangat mudah bagi kita untuk mengenali kata-kata dalam tiga bait puisi Sapardi Djoko Damono di atas. Huruf-huruf vokal yang dimutilasi dengan pola tertentu, relatif tidak menimbulkan bias pelafalan pada bentuk kata yang tersisa. Toh dalam keseharian saat ini pun, kita sudah sangat terbiasa dengan kata-kata yang tak utuh. Saat mengetik SMS atau online chatting, misalnya. Pemotongan huruf dilakukan supaya lebih cepat, atau ada tombol yang terlewat. Yang penting si penerima bisa memahami pesan yang disampaikan.

Hanya saja, trik memangkas tulisan seperti ini tidak cocok diberlakukan pada bahasa maupun kebanyakan bentuk aksara lain. Boro-boro diterapkan pada tulisan Tionghoa yang berupa logogram atau piktogram termodifikasi atau kata-kata yang nyaris berbentuk gambar (berkurang satu garis, berbeda pula maknanya), untuk tulisan bahasa Jerman yang sama-sama menggunakan alfabet saja bakal jadi membingungkan.

Kendati demikian, penghilangan sebagian atau keseluruhan huruf vokal dalam satu kata, sukses diterapkan dalam bahasa-bahasa Timur Tengah dan sekitarnya sampai sekarang. Seperti dalam tulisan Arab modern maupun Arab gundul tanpa tanda baca yang fungsinya mirip huruf vokal, tulisan Ibrani atau Yahudi, termasuk tulisan Aramaic (dipercaya sebagai bahasa tutur Yesus saat hidup), maupun tulisan bangsa Saba (ingat cerita Ratu Balqis dan Nabi Sulaiman?). Bukan sekadar menghilangan tanda baca, pada praktiknya tetap berlaku kaidah penulisan dibarengi dengan kesepakatan dan pemahaman kontekstual. Supaya pembaca tetap bisa mengenali kata-kata meski tertulis hanya berupa abjad-abjad saja.

Bacanya apa, hayo…? 😛

Secara umum, selain alfabet dan abjad (huruf + tanda baca), setidaknya ada tiga model tulisan lain untuk bahasa-bahasa manusia selama ini. Yaitu silabel, Abugida, dan logo-fonetik. Dari ketiganya, bentuk tulisan silabel dan Abugida lumayan lebih mudah dihafal, serta dipakai untuk menulis bahasa lain, jadi semacam tulisan kode rahasia.

Silabel adalah tulisan baku per satu suku kata. Sederhananya, satu aksara mewakili satu suku kata (konsonan + vokal, misal: ba, bi, bu, be, bo). Sudah tidak banyak bahasa tutur modern yang menggunakan tulisan model ini.

Contoh:

  • Hiragana, dan Katakana Jepang;
  • Tulisan Cherokee.

Skema penulisan bentuk Abugida sekilas mirip abjad, sebab terdiri dari aksara konsonan dan aksara vokal. Tapi berbeda dengan abjad yang tanda bacanya bisa dihilangkan, Abugida tetap harus menampilkannya karena tiap-tiap suku kata memiliki bentuk hasil kombinasinya sendiri.

Contoh:

  • Hanacaraka (Jawa Kuno, dan Bali),
  • Kawi Singosari,
  • Sunda,
  • Devanagari (mulai Sanskerta sampai Hindi),
  • Punjabi,
  • Kannada,
  • Bengali,
  • Sinhala,
  • Thai,
  • Khmer,
  • Tulisan Tibet,
  • Siddham (Bonji dalam bahasa Jepang),
  • Lontara Bugis,
  • Pallava,
  • Tagalog,
  • Tulisan Batak,
  • Tamil,
  • banyak lainnya.

Sedangkan logo-fonetik menggunakan bentuk-bentuk gambar untuk mewakili bunyi dan kata, baik yang bermakna konkret maupun abstrak.

Contoh:

  • Hanzi (tulisan Tionghoa, dan variannya dalam Kanji Jepang maupun Hanja Korea),
  • Hieroglif,
  • Tulisan bangsa Maya,
  • Huruf paku.

Dari kelima model tulisan, logo-fonetik adalah yang paling riweuh. Karena ada beribu-ribu bentuk yang mesti dihafal untuk bisa disebut menguasai penulisannya. Keberlimpahan kosakata terjadi secara harfiah. Dalam bahasa Tionghoa, misalnya. Kategori anak TK sebaiknya menguasai hingga puluhan karakter, angka itu makin bertumbuh sampai akhirnya menginjak usia kuliah dan dewasa dengan penguasaan 5 ribu sampai 8 ribu karakter. Belum lagi apabila seseorang bekerja di bidang bahasa sebagai penulis, pengajar, seniman kaligrafi maupun sastra, arkeolog, dan sebagainya, bisa menguasai belasan ribu karakter. Tidak ketinggalan, “kabar baiknya” adalah, dalam kamus Kangxi terbitan 1716, setidaknya ada 42 ribu karakter tulisan Tionghoa. Itu pun diklaim masih belum sepenuhnya mengakomodasi karakter-karakter khusus dialek tertentu. Wow! Leluhur orang Tionghoa rajin sekali menciptakan kata-kata.

Seru-seruan waktu novel TLOTR baru terbit di Indonesia: Tengwar. :)

Seru-seruan waktu novel TLOTR baru terbit di Indonesia: Tengwar. 😀

[]

Advertisements

Moonage Daydream

Ini baru bangun. Harusnya semalem saya nulis buat hari ini. Tapi bingung mau nulis apa. Akhirnya ketiduran deh. Sebenernya banyak ide sih yang bisa ditumpahkan. Tapi kalo sekedar tumpah dan basah kan ngapain. Lagian kemaren Bandung kan hujan. Lumayan lama hujannya. Bisa membasahi tanah dan pohon yang sudah mengering dan meranggas. Efek sampingnya malemnya jadi dingin. Atau entah karena Bloody Moon tadi malam yang membuat mood saya berpindah tak tentu arah.

Tadinya mau nulis tentang Mina Stampede. Tapi mau bahas apanya ya. Yang mau naik haji tiap hari nambah. Konon katanya sekarang nembus dua juta per tahunnya yang merapat ke Masjidil Haram. Padahal di tahun 1920 cuma puluhan ribu yang naik haji. Di tahun 70an nembus ratusan ribu. Jadi korban jiwa di Mina itu tidak terelakkan? Gak tau ah. Yang jelas saya gak akan naik haji selama keluarga Saud memerintah Arab Saudi. Walaupun ada uangnya. Walaupun ada kesempatannya. Tapi kalo tidak ada niatnya buat apa. Mabrur dan tidaknya haji kan bukan dilihat dari sudah pernah ke Arab Saudi atau belum. Terlalu dangkal pemikirannya kalo cuma karena punya uang haji kita menjadi mabrur. Salah satu syarat naik haji kan baligh, yang artinya berakal sehat. Akal sehat bukan sekedar waras lho. Koruptor juga semuanya berakal. MUI dan Depag juga isinya orang yang berakal. Eh gimana?

sicario1

Satu lagi mau nulis tentang film Sicario. Banyak yang bilang film ini bagus. Salah satu film yang masuk seleksi untuk mendapatkan Palm d’Or di Cannes Festival tahun ini. Yang bikin David Villeneuve. Iya emang orang Belgia. Yang bikin film Prisoners. Namanya sama kayak mantan pembalap F1, Jacques Villeneuve. Yang maen Benicio Del Toro, Josh Brolin sama ahhh.. Emily Blunt. Saya memang agak fetish sama cewek bule cantik berambut gelap. Tentang narkoba juga.. Jadi ini film wajib tonton buat saya.

martian

Terus satu lagi filmnya Ridley Scott yang diambil dari novel laris yang berjudul sama, The Martian. Yang maen Matt Damon. Perpaduan Appolo 13 dan Castaway. Konon premisnya mirip dengan apa yang sudah baru saja ditemukan para ilmuwan NASA kemarin malam. Betul pemirsa, ternyata ada air di Planet Mars. Yang artinya ada kehidupan di sana. Wah sudah waktunya Richard Branson bikin tour ini untuk melihat Planet Mars lebih dekat. Ini penemuan penting buat NASA. Setidaknya uang yang dikeluarkan tidak dibuang percuma. Padahal David Bowie sudah memprediksi ini di tahun 1971. Ini mungkin juga yang membuat para ilmuwan NASA terobsesi dengan Planet Mars.

Terus nanti kalau sudah pada pindah ke Planet Mars, nanti naek hajinya ke mana? Jauh dong kalo harus ke Arab Saudi.

Jenis Undangan Berdasarkan Umur

UMUR
1 – 17: Ulang Tahun.
5 – 40 (ada! jangan salah): Sunat.
15 – 35: Tujuh Bulanan.
16 – 35: Baby Shower.
17 – 23: Kelulusan.*
19 – 30: Pertunangan.**
21 – 65 (kadang bisa sampai 90 tergantung tekad seseorang untuk tetap bernafas): Pernikahan.
25 – 65 (terutama di rentang umur 32 – 45): Perceraian.***
45 – 65: Ngunduh Mantu.
46 – 75: Silver Anniversary.
50 – 65: Ngunggah Mantu.****
50 – 70: Pengajian.
60 – 75: Dokter Orthopedi.
70 – 90: Gold Anniversary.*****
70 – 90: Pemakaman.******

image

CATATAN
*asumsi kuliah normal dengan batas toleransi 4 tahun. Abaikan yang menjalani kuliah pasca sarjana dan seterusnya, kuliah maksimum diatas 5 tahun, kuliah abal-abal tanpa proses belajar-mengajar, kuliah subuh, dan kultum.
**mari kita anggap bertunangan di umur 35 adalah kebodohan.
***undangan biasanya didapatkan dari pengadilan agama dan catatan sipil setempat. Tamu terbatas hanya dalam lingkungan kerabat dekat.
****sama dengan ***.
*****menurut statistika, perayaan ini langka. Tergantung tekad seseorang untuk tetap bernafas atau alasan ***.
******tamu terbatas karena alasan telah dimakamkan lebih dulu atau ada undangan konsultasi Dokter Orthopedi.

Pada Sebuah Pantai

Masihkah kita saling mencinta saat cinta pergi meninggalkan kita? Saat kita tersadar bahwa impian dan harapan akan cinta ternyata buatan kita tak nyata. Saat cinta tak lagi bisa memberikan seperti saat kita mendeklarasikannya. Saat hanya ada aku dan kamu, tanpa cinta diantaranya. Masihkah kita menyebutnya keindahan?

image

Pertanyaan-pertanyaan yang kita simpan di hati masing-masing, saat mulut kita menyatakan cinta. Kita bebankan pada waktu untuk menjawabnya. Dan bersiap untuk tidak menyalahkan waktu kalau jawaban yang diberikannya tidak seperti yang kita inginkan.

Menggantung. Namun kita jalan bersama. Gamang. Namun kita saling meyakinkan. Cemas. Namun kita saling menenangkan. Karena menanti keyakinan dan kesempurnaan, hanyalah buang-buang usia kita yang semakin berkurang.

image

Adakah kata tergesa-gesa untuk cinta? Bukankah tanpa cinta kita bisa terus bersama? Haruskah ada cinta untuk menjadikannya lestari? Cinta sanggup membuat kita menjadi orang yang berbeda. Dan menghempas untuk mengembalikan diri kita saat dia pergi.

Selalu ada cinta dalam hatiku. Dan itu tak selalu kamu. Tapi aku tak pernah tau apakah aku ada di hatinya. Begitu pun di hatimu. Rasa penasaran yang menjadikan cinta bergelora. Seperti gemuruh ombak samudera di malam hari. Gemanya menusuk ke satu titik hampa. Dan kemudian perlahan hilang. Sampai sunyi. Dalam gelap. Yang terdengar hanya suara nafas kita. Pertanda kita masih hidup. Dan bersama.

image

Terdiam kita. Sampai riuh burung pantai mengelus telinga. Menyadarkan hari baru telah datang. Tak ada lagi tenaga untuk berseteru. Siapa yang harus berjalan ke Timur. Dan siapa yang ke Barat. Keyakinan jika kita terus berjalan lurus, maka kita akan bertemu lagi di satu titik di bumi.

Mimpi Besar dan Mimpi Kecil

Jika ada yang berkata kalau “namanya hidup harus punya tujuan”, minta yang berkata itu memberikan kalimat yang lebih spesifik dan tepat. Mungkin seperti, “namanya hidup harus punya beberapa tujuan besar dan ratusan mungkin ribuan tujuan kecil yang bisa dicapai tiap hari dan sampai kita mati.” Karena toh, semua juga tahu kalau “life’s a journey, not a destination,” kalau kata Steve Tyler yang gagal tampil di sini beberapa tahun yang lalu (masih dendam). Atau seperti Rapunzel di film Tangled yang setiap hari bermimpi melihat dari dekat ribuan cahaya yang sejak kecil hanya bisa dilihatnya dari balik jendela kecilnya, sehingga takut jika dia berhasil mencapai mimpinya itu, lalu apa? “Well, that’s the good part, I guess. You get to go find a new dream,” kata Flynn Ryder sambil mengangkat bahunya.

0b6bc5ba947aeb87f269b2f6490aa1c4cde24d03749afc8c29af9384b4691d60

Terkadang kita naif dan mengidentifikasikan diri kita dengan tujuan hidup tersebut. Berpikir dan berpendapat kalau hanya dan hanya bila kita meraih tujuan tersebut, akhirnya kita menjadi manusia sempurna dan bahagia selamanya. Mungkin karena ini juga hampir semua dongeng yang kita tahu berakhir dengan protagonis meraih mimpinya dan ditutup dengan “…and they live happily ever after.” Seolah kejadian penutup tersebut adalah puncak dari kehidup sang karakter, dan dari sana dia tidak akan mencari puncak baru, atau mungkin agak menurun ke bawah, tetapi yang jelas tidak mungkin terus di puncak. Paling tidak, tidak mungkin demikian tanpa kerja keras.

Karena kenyataannya demikian. Ketika mencapai mimpi, tidak ada tujuh (atau tujuh puluh?) perawan cantik atau ganteng yang menunggu untuk melayani hasrat selamanya (apa karena itu ya, ada yang melakukan suicide bombing dengan dalih mati syahid, perawan menanti tanpa perlu kerja keras). Ketika pekerjaan atau karir yang selama ini diimpikan didapat, yang menunggu bukan kenyamanan (saja) tetapi juga kerja keras dan tujuan berikutnya. Ketika idaman hati yang sudah di-stalk berbulan bahkan bertahun akhirnya menjadi pasangan, bukan berarti dengan jadi diri sendiri lantas semua akan baik-baik saja dan menjadi pasangan paling romantis dan paling bahagia di dunia. Kerja keras dan banyak sekali kompromi dan memaafkan juga melupakan akan menanti di perjalanan yang baru ini. Mengingatkan dengan adegan akhir film The Graduate yang kurang lebih menjadi insipirasi tulisan ini.

Hello, Darkness. (I can't forget their expression).

Hello, Darkness. (I can’t forget their expression).

Jadi sepertinya tak ada gunanya punya pemikiran, “aku akan bahagia kalau aku jadi…” atau, “hidupku akan lengkap kalau aku memiliki (masukkan barang atau nama),” karena kalau ingin bahagia, dan lengkap, bahagialah sekarang dan lengkaplah sekarang. Karena begitu mencapai tujuan berikutnya, tantangan hidup mungkin sudah berbeda lagi dan skenario bahagia bisa jadi berubah dan terasa lebih jauh dari yang bisa kita raih.

Mari siapkan beberapa genggam tujuan besar, dan ratusan tujuan kecil. Siapkan hati kalau ternyata orang lain mencapai tujuan itu duluan, dan siapkan banyak sekali tujuan cadangan. Karena dunia akan berputar, tidak peduli kita berpartisipasi atau tidak. Mine as well…

Masakan Ibu

Apa masakan buatan Ibu yang paling Anda sukai?
Kalau pertanyaan ini ditujukan balik ke saya, jawabnya sudah pasti adalah kacang pedas.
Kacang pedas ini bisa ditemukan di mana saja. Pada dasarnya ini adalah kacang tanah yang dijemur, lalu digoreng bersama kulitnya sampai kecoklatan, dan dilumuri adonan bumbu pedas berikut potongan cabe. Tentu saja lebih sedap disajikan ketika panas. Apalagi bersama nasi putih. Meskipun begitu, disantap waktu sudah dingin pun terbukti masih enak. Waktu itu pernah ibu saya membawakan kacang pedas ini ketika mengunjungi saya di luar negeri. Kacangnya tentu saja dibungkus plastik. Ketika saya melihat bungkusan plastik di meja kamar hotel, langsung saya makan sambil mengobrol. Berbungkus-bungkus plastik itu langsung habis dalam waktu singkat. Saking enaknya, saya sampai ketiduran setelah selesai makan. Ibu saya membangunkan beberapa jam kemudian. Saya menyesal karena janji mengajak jalan-jalan terpaksa batal, karena sudah larut malam. Ibu saya tidak keberatan. Dia bilang lebih senang melihat anaknya makan lahap di depan orang tua.

mom-cooking

Kacang pedas ini sudah jarang ibu buat lagi. Alasan ibu, capek mengulek sambelnya. Alasan lain, karena faktor kesehatan saya, yang harus mengurangi makanan berprotein tinggi seperti kacang. Tapi dia tetap memasak makanan lain ketika saya pulang ke rumah. Dan selayaknya ibu-ibu lain, tetap sebal kalau melihat anaknya suka jajan di luar. “Udah capek-capek dimasakin, masak gak dimakan?” Sepertinya ini senjata pamungkas setiap ibu supaya kita makan di rumah, ya? Akhirnya jalan tengah kami ambil: kalau mau makan di luar, harus kasih tahu di pagi hari. Ibu juga maklum, ketika anaknya pulang, pasti ada keinginan untuk mencicipi makanan-makanan di luar. Apalagi kalau ada restoran atau tempat makan baru yang belum pernah dicoba. Tapi toh, hasilnya tetap saja. Ketika bangun tidur, dan mau pergi tidur, yang dituju adalah kulkas atau meja makan di rumah. Tentu saja sambil bertanya dengan mata berat, “Ada makanan apa?”

family-stove-clip-art-15

Saya jadi ingat sebuah iklan penyedap makanan yang menampilkan kisah anak perempuan yang rindu masakan ibunya. Masakan-masakan yang ditampilkan kebanyakan “biasa saja”, tipikal makanan rumah. Semua punya pesan yang sama, yaitu ketika mencicipi makanan tertentu (yang sudah dibumbui penyedap rasa itu tentunya), maka mereka akan teringat ibu dan rumah mereka.
Iklan ini, meskipun terasa panjang, cukup berhasil. Meskipun begitu, menurut saya, ada pesan lain yang tak tersampaikan di situ.

Makanan apapun yang dibuat oleh ibu kita, pasti terasa enak.

Saya percaya, ada banyak sense of determination dari ibu yang memasakkan makanan untuk anaknya, sesimpel apapun itu.
Saya percaya, ada rasa menghormati ibu ketika kita mulai menikmati masakan ibu, terlebih di depannya.
Saya percaya, tidak ada ibu yang tidak bisa memasak. Sense of urgency often beats the most impossible thing.
Terlebih lagi, apapun yang disajikan dengan hati, meskipun sesederhana mungkin, rasanya pasti akan terserap dengan baik.

cooking-clipart-black-and-white-cg_cooking

Ibu saya adalah ibu rumah tangga biasa. Tapi dia punya beberapa kesibukan untuk menopang ekonomi keluarga. Selain punya kos-kosan, dia juga berdagang batik. Kadang ibu saya harus menempuh perjalanan jauh berjam-jam untuk kulakan batik. Kadang harus menginap di rumah saudara kalau sudah terlalu malam. Seringkali ibu meninggalkan saya di rumah dengan makanan a la kadarnya. Selama nasi putih cukup untuk dua hari, lauknya bisa cukup abon, atau telur dadar yang dibuat sendiri. Kacang pedas itu pun dibuat tanpa sengaja di kala senggang. Namun entah mengapa itu menjadi makanan kesukaan saya. Meskipun begitu, kalau beliau lebih sering memasakkan saya nasi goreng, pasti saya akan bilang kalau makanan favorit saya adalah nasi goreng buatan ibu.

Saya tidak bisa recreate semua masakan ibu saya. Kebetulan tangan ini bukan tangan yang cekatan untuk urusan dapur. Jadi saya belum bisa menjawab pertanyaan selanjutnya, apa masakan favorit ibu saya.

Kalau Anda?

Momen Itu…

KALAU dikira-kira, apa sih sebenarnya yang bikin kemunculan perasaan cinta terasa begitu menyenangkan, manis, dan selalu terkenang?

Hanya bisa, atau cuma mampu melihat dia dari kejauhan dengan senyum yang terus mengembang. Deg-degan entah mengapa, dan tidak banyak keluar kata-kata. Sesekali ada momen ketika bisa berada dekat banget dengan dia, secara fisik. Sebelah-sebelahan kurang lebih. Dalam hati terus bertanya, kapan bisa mulai berkenalan dan berbicara dengannya. Geregetan-geregetan senang gitu.

Memberanikan diri mengajak berkenalan, dengan sedikit banyaknya diwarnai kalimat standar. Lalu mencoba untuk mengajaknya menongkrong bareng ditemani secangkir kopi atau cokelat. Berusaha bersikap sebaik mungkin, jaim tipis-tipis. Tanpa terasa, tutur bicara berubah sopan, dan seakan punya waktu luang yang cukup panjang. Fleksibel untuk disesuaikan dengan dia. Setelah pertemuan, tidak lupa untuk mengirimkan pesan singkat dengan kalimat standar: “thank you for the talk 🙂 it was nice.”

Sudah kenal, tapi belum banyak tahu. Menikmati detik demi detik upaya membangun obrolan dengannya. Memang bukan percakapan yang mulus lancar seperti berkendara jalan tol di tengah malam, atau pembicaraan yang luwes. Tetap ada beberapa hal yang masih disimpan, belum nyaman saja dibagikan kepada orang lain. Situasi canggung di sana sini, tentu masih bisa ditoleransi. Cukup diredam dengan senyuman. Tapi bisa duduk semeja bersamanya, dengan pembicaraan soal topik-topik remeh. Sudah boleh disebut bahagia?

Mulai bisa kelepasan tertawa keras, tanpa merasa malu diri setelahnya. Boleh disebut achievement unlocked? Ketika sudah berhasil saling menyamankan diri satu sama lain dalam sesi obral-obrol di meja kafe. Makin banyak tahu, mulai aktor dan sutradara terfavorit, sampai hobi masing-masing. Kalau cocok, boleh dilakukan bareng kapan-kapan. Nonton bioskop atau gigs. Menghadiri pameran seni, entah serius mengapresiasi atau untuk seru-seruan berdua. Kian akrab, makin dekat.

Setelah berulang kali memastikan ke diri sendiri, akhirnya sampai pada salah satu titik krusial. Ada yang lagi-lagi harus mempersiapkan energi supaya berani, ada pula yang malah kalah agresif dibanding si dia. Ada yang lebih memilih cara-cara dramatis dengan setting dan segala keperluannya, ada pula yang lebih suka disampaikan secara biasa dan sederhana, mewakili kepribadian diri. Akhirnya, isi hati dinyatakan, entah diterima atau tidak. Sebuah permulaan.

Kini, hubungan sudah beranjak makin dalam. Upaya untuk saling mengenali terus berjalan. Yang pasti, selalu ada pelukan hangat yang gampang sekali bikin kangen dan dirindukan. Juga ada kecupan mesra yang tidak boleh ketinggalan. Tidak tahu dari mana sumbernya, namun dua hal tersebut mampu menguatkan. Meringankan beban yang tengah dialami.

Rasa kangen mendadak bersikap seperti bocah laki-laki, suka usil dan jail. Suka muncul tiba-tiba, dan membuat “onar” mencari perhatian. Bikin aktivitas kita terhenti sejenak, dengan dorongan untuk menelepon, atau berkirim pesan kepadanya. Menanyakan hal-hal yang sebenarnya sepele, tapi entah kenapa terasa tetap harus disampaikan.

Terlelap dalam perasaan nyaman. Dengan dahi, atau ujung hidung yang hampir menempel ke punggung, atau tengkuk. Sesekali menarik lengan dari belakang, untuk dilingkarkan di perut bagian atas. Berpegangan. Makin erat, setelah bunyi guntur menggelegar di balik jendela.

Ada kalanya bertengkar hebat. Menguras tenaga, emosi, dan kesiapan hati. Melelahkan. Hingga akhirnya semua terasa berbeda kembali, setelah ada yang berkata “maafin aku ya…” Bukan pertengkaran yang dapat panggung utama, melainkan perasaan nyesss… saat maaf diutarakannya. Senyum kembali mengembang, namun kali ini dengan pikiran yang lebih siaga. Belajar dari pengalaman. Terdewasakan.

Masih ada puluhan, bahkan ratusan momen serupa tapi tak sama lainnya.

Tak ada habisnya.

[]

1989 di 2015

Dua hari kemarin ketika saya sedang tidur siang, tiba-tiba (maaf, saya tidak akan menggunakan kata tetiba) masuk pesan melalui Whatsapp dari teman saya yang mengaku metal-head sejati. Sebut saja namanya Mawar (beliau menolak dipublikasikan identitasnya karena takut ke-metalhead-annya tercemar karena diam-diam dia adalah seorang Swifties). Pesannya berisi “Bro, dah dapet album Ryan Adams yang cover album Taylor Swift?” Saya yang masih setengah terlelap seketika mengetik “Hah? Album yang mana? 1989?” Lalu dengan kecepatan cahaya saya googling nama Ryan Adams dan Taylor Swift dalam satu kalimat, dan jreeeng.. keluarlah ratusan tautan menuju berita yang dimaksud. Baru satu lagu yang rilis. Lagu yang berjudul “Bad Blood”. Kamu para Taytay Armies pasti tahu dong lagu itu. Lagu dengan video musik yang menampilkan para penyanyi tersohor saat ini. Layaknya film Expandables yang menampilkan para aktor laga gaek. Cuma ini versi para penyanyi wanita di Amrik.

IMG_20150922_005957_375

Sebetulnya berita ini biasa seandainya seorang penyanyi cover lagu penyanyi lainnya. Yang menjadi luar biasa adalah ketika seorang penyanyi membawakan album dari orang lain. Dan orang lain itu adalah Taylor Swift. Ryan Adams sebetulnya bukan orang baru di dunia musik. Dia sudah malang melintang di dunia musik sejak era 90an. Sempat beberapa kali mendapat nominasi Grammy walaupun belum pernah menang. Musiknya pun oke. Walaupun rada bunglon seperti Beck. Tidak pernah konsisten di satu genre musik. Atau mungkin karena ada kesamaan nama dengan penyanyi Bryan Adams. Mungkin itu penyebabnya. Dia adalah mantan suami dari penyanyi Mandy Moore.

taylorswiftryanadams3

Entah apa motivasi dari Ryan Adams membawakan semua lagu dari 1989, album terakhir dari Taylor Swift. Jujur saja itu bukan album favorit saya. Saya lebih suka Taytay tetap di musik country. Tapi mungkin karena dia jeli melihat adanya kekosongan kekuasaan di musik pop saat ini. Khususnya untuk penyanyi wanita–maka dia beralih menjadi penyanyi pop dan ternyata berhasil. Dia adalah penyanyi terbesar saat ini di kelasnya. Suka tidak suka kita harus mengakuinya. Siapa yang diuntungkan? Taytay atau Ryan Adams? Saya cenderung memilih yang kedua. Penggemar Ryan Adams pasti tahu Taylor Swift tapi belum tentu sebaliknya. Tapi yang jelas Ryan Adams memang senang membawakan lagu orang lain. Terakhir dia membawakan lagu Wonderwall dari Oasis, yang diakui sendiri oleh Noel Gallagher, bahwa lagu tersebut lebih baik dari versi aslinya.

taylorswiftryanadams

Kembali ke 1989, setelah saya mendengarkan album ini berulang-ulang. Ini adalah album cover version yang sangat bagus. Ryan Adams berhasil menerjemahkan setiap lagu yang ada di album 1989 ini seperti menjadi lagunya sendiri. Mengubah album 1989 versi Taylor Swift yang upbeat dan sumringah menjadi album yang begitu rapuh dan sedih. Saya yakin jika kamu belum pernah mendengar album versi Taylor Swift pasti tidak akan menyangka bahwa ini adalah cover album. Bagaimana dia mengubah aransemen dari lagu “Out Of The Woods” (favorit saya di album ini) mengingatkan saya ketika mendengarkan lagu Beyonce yang berjudul XO yang dibawakan kembali oleh John Mayer. That good.

Ryan Adams pun memaksa saya untuk mendengarkan kembali 1989 versi dari Taylor Swift. Hahaha. Saya tidak keberatan sih. Demi Taytay apa sih yang nggak. Yekan. Jikalau memang kalau harus memilih tentu saja saya pilih versi Ryan Adams. Saya yakin Lena Dunham pun pasti setuju dengan saya. Kalau kamu suka yang mana? Belum dengar? Klik play di tautan Youtube di atas. Bermasalah dengan koneksi internet? Cantumkan saja alamat surelnya di kolom komen nanti saya kasih file-nya untuk diunduh.

Sekarang yang saya inginkan adalah Taylor Swift membawakan album 1989 versi dari Ryan Adams. Haaah? INCEPTIOOON!!

Kalimat Itu!

Hey, lunch bareng yuk besok?
Bro, I’m flattered, but I am married.

Dude!

Aku paham! kamu punya citra yang harus dijaga. Pria menikah dengan karir yang gilang-gemilang. Kamu ingin seisi bumi ini tau kalau kamu seorang heteroseksual tulen yang dicintai agama, negara dan sanak keluarga. Ndak boleh ada celah sedikitpun untuk orang lain meragukan preferensi seksualmu.

Tapi, tolong–TOLONG!–demi apapun di langit dan bumi ini, waktu aku ajak makan siang, jangan mulai dengan “kalimat itu!”

Iya, kalimat “Bro, I’m flattered, but…” itu lho.

Gini, aku udah kenyang denger “kalimat itu.” Dalam. Segala. Versi. dan. Situasi. Entah sedang santai atau rusuh karena begitu sibuknya harus menghajar ratusan penjahat di sebuah flat dan ndak sempet makan siang bareng. Seperti kalau aku ajak Iko Uwais persis waktu dia seruangan dengan Mad Dog. Dalam hal ini, Iko Uwais punya justifikasi yang sah untuk membalas dengan “kalimat itu!” Dan aku bisa terima dengan lapang dada.

Aku juga paham. Kamu cuma mau mengklarifikasi keadaan. Bikin semuanya jelas di depan dan ndak menimbulkan salah sangka. Pastinya, aku akan menghormati inisiatif mulia itu jika diperlukan. Tapi, apakah emang perlu?

Sekarang, gimana kalau situasinya beda. Misalkan, kamu pria menikah, dan aku seorang perempuan, dan aku ajak makan siang. Apakah kamu akan menjawab ajakan tadi dengan mengingatkan lagi soal status pernikahan kamu? Kalau iya, baiklah, silakan mulai dengan “kalimat itu.” Kalau ndak, kenapa jadi perlu?

Apakah setiap aku ajak makan siang atau ngopi atau nonton The Raid, berarti aku berharap pelukan atau kecupan atau BDSM?

Bro, I’m flattered, but…

Flattered? Um… Why? It’s just a fucking lunch!

Kenapa harus beranggapan bahwa aku akan meniduri kamu di Warung Mang Didi? Sempit, Bro!

Lagipula, apa ada cara lain untuk mengajak kamu makan siang? Atau, adakah kombinasi kalimat yang tepat dari “lunch” dan “yuk” yang ndak setara dengan “ngentot?” Oh, mungkin aku yang salah nyusun kalimat. Apa sebaiknya aku mulai dengan, “Listen, Bro, I’m totally gay, and have no romantic interest in you, and promise not to let you experiment with me even should the situation arise, but… ?

Atau, sebaliknya. Kamu yang ajak aku makan siang, lalu aku jawab, “Bro, I’m flattered, but I just need to remind you how fabulously gay I am. So gay, in fact, that I would love nothing more than to publicly trick you into making love to me atop a Sambel Lalab. That being said, I could use a cucumber right now. Let’s go!

Mungkin kamu pikir aku ndak tau dan ndak peduli kamu sudah menikah. Kecuali kamu Iko Uwais, AKU TAU!

Ok, aku ndak peduli. Tapi AKU TAU!

Look at me as a person, not as a gay. Kalau homoseksual bukan masalah, mari kita makan siang. Kalau homoseksual adalah masalah buat kamu, jangan mulai dengan kalimat “Bro, I’m flattered, but…“, tapi langsung aja “Bro, maaf saya pengecut!

Hormati diri sendiri, dan kami semua. Bubuhi sedikit harga diri. Sedikit tata-krama. Menjadi gay ndak selalu mudah. Kami sering disalahpahami. Kenali kami lebih dulu sebelum kamu berasumsi. Sayangnya kami ndak berpikir tentang kelamin kamu sesering yang kamu sangka. Atau, dalam hal ini, sesering kamu memikirkan kelamin kamu sendiri.

Ah, bisa aja kamu justru yang ndak paham. Ndak tau gimana harus bereaksi kalau seorang homoseksual ngajak makan siang. Baiklah. Agar hubungan kita berjalan lancar, satu hal yang harus diingat kalau ada seorang homoseksual ngajak makan siang: Act like a human being.

Dan untuk “kalimat itu,” jawabanku selalu:

image

Bantu Jawab Mbak Pargi

Jam 09:00 tepat, Mbak Pargi sudah tiba. Berjalan masuk ke unit apartemen yang sudah diurusnya selama lebih dari 9 tahun. Sambil melepas helmnya, Mbak Pargi bercerita:

“Tetangga depan rumah semalam kena PHK. Di rumah samping udah dari minggu lalu. Yang di gang sebelah lebih kasian, udah di PHK, pesangonnya dicicil sampai setahun…”

“Owh ya? Terus…”

“Iya terus pada rame-rame jadi Gojek. Tapi kayaknya belakangan malah sepi orderan. Balik nongkrong di bawah pohon lagi mereka. Padahal katanya bisa 4 juta sebulan. Kayaknya sejuta juga belum tentu…”

“Makin banyak armadanya kali sekarang ya…”

“Kok jadi gini ya Mas? Apa-apa susah. Padahal presidennya udah Jokowi…Kenapa ya?”

*hening*

“Owh ini resesi bukan cuma di Indonesia, Mbak… Tapi di seluruh dunia loh…” sepertinya bukan jawaban yang pas. Lantas kenapa kalau di seluruh dunia?

“Indonesia masih lebih beruntung loh Mbak, pertumbuhan ekonomi kita masih ada dibanding negara lain di Asia sekalipun…” Paling-paling Mbak Pargi akan diam saja pura-pura menerima.

“Ini gak ada hubungannya sama Jokowi, Mbak. Siapa pun Presiden kita saat ini, pasti akan kena krisis juga kok. Malah bagus Jokowi Presidennya. Kalau yang lain bisa lebih parah!” Bukan jawaban yang pas pula. Apa yang di depan Mbak Pargi dan tetangganya berkata lain.

“Sabar aja lah Mbak… Yang penting masih bisa nabung”. Paling di hatinya Mbak Pargi hanya akan mengaminkan sambil berkata “semoga masih ada sisa”.

Atau mungkin harus kasih liat video ini ke Mbak Pargi?

Atau tunjukin berita ini ke Mbak Pargi biar bisa dia sebar luaskan ke tetangganya?

BPS Tegaskan Perlambatan Ekonomi Saat Ini Bukan Resesi

Atau kasih liat ini bisa bikin Mbak Pargi lebih lega?

proyeksi-pertumbuhan-ekonomi 44426-pertumbuhan-ekonomi-indonesia-hsbc-lambat-triwulan-i2015-cuma-4.17 Keterlambatan-EkonomiWEB_0

Karena tak mendapatkan jawaban yang diinginkannya, Mbak Pargi pun memulai aktivitas paginya. Ketika sedang mencuci perkakas dapur, tiba tiba terdengar Mbak Pargi bergumam.

“Kenapa Mbak? Gak kedengeran…”

Sambil mematikan keran air supaya tidak berisik, Mbak Pargi berkata:

“Eeeh… kalo susah sih udah biasa ya Mas. Disuruh kerja keras, ya udah. Tapi kalau diPHK apa yang mau dikerjain? Apa mesti ngapain lagi sih?”

A Hug a Day Keeps the Doctor Away

Ndak mungkin kalau saya bilang bahwa ngewek sebaiknya jadi corporate culture perusahaan di Indonesia. Paling pol ya saya akan berujar bahwa pelukan adalah sesuatu yang baik, dan seharusnya menjadi budaya kerja perusahaan. “Kenapa ndak dijadikan kultur keluarga saja?” Otentuiya! Ciri khas Teletubbies berkomunikasi adalah cara terbaik keluarga dalam berinteraksi. Itu mah wajib atuh.

Beberapa minggu yang lalu saya menyempatkan diri makan siang bersama OB kantor. Benar-benar makan siang bersama. Mengajak sejak jam 11.45 wib hingga kembali ke kantor satu jam berikutnya. Bukan sekadar kebetulan bertemu di warung makan yang sama. Namun pertemuan di meja makan yang direncanakan. Sebetulnya bukan hanya OB karena OB perempuan turut serta. Makan siangnya pun biasa saja: soto padang dan semesta printilannya.

Dalam perjamuan makan siang tersebut, saya berusaha mengenal setiap rekan makan saya. Salah satunya, OB perempuan yang paling muda. Sebut saja namanya Siti. Dia kelahiran tahun 1994.  Sudah punya anak satu. Usianya setahun. Menjadi OB perempuan karena terpaksa. Lulus SMA dia lanjutkan kuliah. Bukannya tugas kampus yang menjadi fokusnya, Siti lebih menyukai berpacaran. Saking getolnya pacaran, akhirnya berbuah manis. Dia terlambat datang bulan untuk kesekian bulan.

Si Pria, bukan teman kuliahnya. Namun rekan sejawat sesama alumni SMA. Seumuran dan saat itu si Pria telah bekerja di konter hape. Hidup masih ikut orang tua.  Maka, ketika kabar manis itu datang bahwa dirinya super-duper keren bisa menghasilkan buah hati, si Pria merinding disko. Singkat cerita si Pria Kabur. Menghilang entah kemana. Bisa jadi numpang sana-sini ke rumah kenalan dan sanak Saudara.

Orang tua Siti murka mengetahui anaknya berbadan dua. Maka, mereka segera mendatangi rumah si Pria. Memaksa orang tua si Pria untuk menjadi besan mereka. Karena si Pria nyata-nyata bukan percetakan. Hanya perusahaan percetakan saja yang bisa dengan leluasa bilang pada khalayak: “Isi di luar tanggung jawab kami”.

Lantas dengan segera dan syukuran secukupnya, mereka dinikahkan. Si Pria dipaksa pulang saat dirinya entah ada dimana, yang penting pulang dan bertanggung jawab.

Selanjutnya mereka hidup bersama di rumah orang tua Siti. Si Pria kembali bekerja di konter hape. Namun berbeda toko semula. Semua kebutuhan keluarga sejatinya masih disokong orang tua Siti. Gaji bulanan si Pria, habis untuk ongkos dan rokok. Siti cuti kuliah, untuk sementara.

Beberapa bulan kemudian, ketika bayi itu lahir, si Pria riang gembira. Apalagi Siti. Bagaimanapun juga dia bahagia menjadi seorang Ibu. Namun, kebahagiaan itu hanya sementara waktu. Si Pria merasa tugasnya telah paripurna. Maka, tanpa pamit, dirinya kembali pergi. Entah apakah untuk kembali atau tidak.

Orang tua saya butuh dia untuk akta kelahiran anak saya, Pak“, Siti menjawab atas pertanyaan saya kenapa jika memang tak ikhlas menikahi kamu, harus dipaksa.

Dia sebetulnya pernah cerita pacarnya ada lima“, Siti menjawab atas pertanyaan saya kenapa jika sama-sama cinta kok ndak bersama. Atas jawaban itu, saya berpikir dan mulai tergoda untuk alih profesi menjadi penjaga konter hape. JIka ada mbak lucu dan minta diserpis (hapenya), saya bisa lihat nomer hapenya dan lanjut “usaha”.

Dari kecil saya ndak pernah dipeluk. Nyaman rasanya ada teman lelaki yang minta sesuatu dari saya. Apalagi saat memeluk“, Siti menjawab pertanyaan saya mengapa bukannya kuliah malah lebih banyak pacaran.

Jawaban yang di luar dugaan. Peluk. Pelukan. Dipeluk. Memeluk. Berpelukan. Dekap erat yang merangsang hormon dan menenangkan pikiran. Apalagi perasaan. Pelukan secara alamiah dan ilmiah terbukti menularkan getar rasa. Nyaman. Mencegah kesepian. Tekanan darah lancar. Hilangkan rasa takut dan mencegah stres.

Atas jawaban Siti terakhir, saya jadi langsung mengingat kejadian tadi pagi. Apakah saya sudah memeluk kedua putri saya?

Saya sungguh cemas. Alasannya jelas: ndak mau banget jika saya punya menantu penjaga konter hape.

Kawan Lama

Mengantuk, di sebuah airport negara antah berantah. Lounge terisi penuh dan semua sumber listrik terisi. Pikiran biarkan saja melayang sedikit diberi dukungan oleh secangkir kopi susu yang barusan disesap karena tidak tahu lagi harus melakukan apa. Teringat cerita adik tentang seorang teman lama kami.

“Dia terlihat lelah,” kata adik,”mungkin kamu harus coba menyambung komunikasi dengan dia lagi.”

Terdiam mencoba mengingat apa yang menyebabkan kami putus komunikasi. Tidak sepenuhnya putus karena masih ada teman yang sama biasa mengabari kami keadaan masing-masing. Tetapi sudah bertahun-tahun tidak berjumpa. Kemudian teringat salah satu proyek teman ini yang luar biasa ambisius, dan membuat kami teman-temannya khawatir ketika mendengar dia akan menjalankannya. Dan yang ditakutkan pun terjadi, proyeknya gagal dan banyak pihak merasa dirugikan. Sampai kini pun teman saya itu masih membayar kerugian tersebut. Baik dengan material maupun sedikit demi sedikit kembali membangun namanya di lapangan pekerjaan yang selama ini ditekuninya.

Sejak dulu teman ini memang cukup keras kepala. Jika sudah ada yang diingininya sulit rasanya berbicara dengannya walau terkadang siapapun merasa keinginannya tak masuk akal. Tidak jarang rekan yang berusaha bicara akhirnya justru menimbulkan konflik. Tetapi biasanya tak lama pertemanan kembali hangat. Tapi entah mengapa beberapa tahun belakangan ini tidak demikian. Padahal yang sering terjadi adalah rasa maklum dan keinginan kompromi juga rasa mudah memaafkan yang tak terbatas dirasakan untuk seorang sahabat. Seperti juga seorang kekasih, sahabat – bagaimana sering dia membuat kesal atau gemas – selalu berada di tempat istimewa di hati. Mungkin karena itu saya teringat lagi kepada teman saya ini. Mungkin saya tidak bisa menghakiminya dari mimpi yang dia punya. Terkadang kita tidak bisa memilih mimpi kita. Hanya bisa memilih mengejarnya dengan terbuka atau sambil diam diam saja. Teman saya tentunya bukan termasuk yang ingin semua di sekelilingnya paham soal mimpinya. Tidak salah juga.

Antara alam sadar dan alam mimpi, terbayang hari-hari yang kami isi dengan percakapan yang panjang dan tawa berderai. Juga nyanyian yang sering menghiasi malam kami. Baik di karaoke maupun di mana pun kami duduk. Ternyata kerinduan ada.

Maka diputuskan dua hal: saya akan menghubungi teman saya dan mengajak berjumpa dalam waktu dekat. Dan saya akan ambil kopi susu lagi. Kali ini yang kekuatannya ganda.