Masakan Ibu

Apa masakan buatan Ibu yang paling Anda sukai?
Kalau pertanyaan ini ditujukan balik ke saya, jawabnya sudah pasti adalah kacang pedas.
Kacang pedas ini bisa ditemukan di mana saja. Pada dasarnya ini adalah kacang tanah yang dijemur, lalu digoreng bersama kulitnya sampai kecoklatan, dan dilumuri adonan bumbu pedas berikut potongan cabe. Tentu saja lebih sedap disajikan ketika panas. Apalagi bersama nasi putih. Meskipun begitu, disantap waktu sudah dingin pun terbukti masih enak. Waktu itu pernah ibu saya membawakan kacang pedas ini ketika mengunjungi saya di luar negeri. Kacangnya tentu saja dibungkus plastik. Ketika saya melihat bungkusan plastik di meja kamar hotel, langsung saya makan sambil mengobrol. Berbungkus-bungkus plastik itu langsung habis dalam waktu singkat. Saking enaknya, saya sampai ketiduran setelah selesai makan. Ibu saya membangunkan beberapa jam kemudian. Saya menyesal karena janji mengajak jalan-jalan terpaksa batal, karena sudah larut malam. Ibu saya tidak keberatan. Dia bilang lebih senang melihat anaknya makan lahap di depan orang tua.

mom-cooking

Kacang pedas ini sudah jarang ibu buat lagi. Alasan ibu, capek mengulek sambelnya. Alasan lain, karena faktor kesehatan saya, yang harus mengurangi makanan berprotein tinggi seperti kacang. Tapi dia tetap memasak makanan lain ketika saya pulang ke rumah. Dan selayaknya ibu-ibu lain, tetap sebal kalau melihat anaknya suka jajan di luar. “Udah capek-capek dimasakin, masak gak dimakan?” Sepertinya ini senjata pamungkas setiap ibu supaya kita makan di rumah, ya? Akhirnya jalan tengah kami ambil: kalau mau makan di luar, harus kasih tahu di pagi hari. Ibu juga maklum, ketika anaknya pulang, pasti ada keinginan untuk mencicipi makanan-makanan di luar. Apalagi kalau ada restoran atau tempat makan baru yang belum pernah dicoba. Tapi toh, hasilnya tetap saja. Ketika bangun tidur, dan mau pergi tidur, yang dituju adalah kulkas atau meja makan di rumah. Tentu saja sambil bertanya dengan mata berat, “Ada makanan apa?”

family-stove-clip-art-15

Saya jadi ingat sebuah iklan penyedap makanan yang menampilkan kisah anak perempuan yang rindu masakan ibunya. Masakan-masakan yang ditampilkan kebanyakan “biasa saja”, tipikal makanan rumah. Semua punya pesan yang sama, yaitu ketika mencicipi makanan tertentu (yang sudah dibumbui penyedap rasa itu tentunya), maka mereka akan teringat ibu dan rumah mereka.
Iklan ini, meskipun terasa panjang, cukup berhasil. Meskipun begitu, menurut saya, ada pesan lain yang tak tersampaikan di situ.

Makanan apapun yang dibuat oleh ibu kita, pasti terasa enak.

Saya percaya, ada banyak sense of determination dari ibu yang memasakkan makanan untuk anaknya, sesimpel apapun itu.
Saya percaya, ada rasa menghormati ibu ketika kita mulai menikmati masakan ibu, terlebih di depannya.
Saya percaya, tidak ada ibu yang tidak bisa memasak. Sense of urgency often beats the most impossible thing.
Terlebih lagi, apapun yang disajikan dengan hati, meskipun sesederhana mungkin, rasanya pasti akan terserap dengan baik.

cooking-clipart-black-and-white-cg_cooking

Ibu saya adalah ibu rumah tangga biasa. Tapi dia punya beberapa kesibukan untuk menopang ekonomi keluarga. Selain punya kos-kosan, dia juga berdagang batik. Kadang ibu saya harus menempuh perjalanan jauh berjam-jam untuk kulakan batik. Kadang harus menginap di rumah saudara kalau sudah terlalu malam. Seringkali ibu meninggalkan saya di rumah dengan makanan a la kadarnya. Selama nasi putih cukup untuk dua hari, lauknya bisa cukup abon, atau telur dadar yang dibuat sendiri. Kacang pedas itu pun dibuat tanpa sengaja di kala senggang. Namun entah mengapa itu menjadi makanan kesukaan saya. Meskipun begitu, kalau beliau lebih sering memasakkan saya nasi goreng, pasti saya akan bilang kalau makanan favorit saya adalah nasi goreng buatan ibu.

Saya tidak bisa recreate semua masakan ibu saya. Kebetulan tangan ini bukan tangan yang cekatan untuk urusan dapur. Jadi saya belum bisa menjawab pertanyaan selanjutnya, apa masakan favorit ibu saya.

Kalau Anda?

Iklan

11 thoughts on “Masakan Ibu

  1. Jadi keingetan kalau di bagian “ucapan terima kasih” di skripsi aku, aku nulis nama tengah Mamah jadi “The Real Master Chef” karena Mamah emang jago masak di antara adik kakak di keluarganya. Makanya kalau ada acara hajatan, Mamah yang jadi ‘head chef’ mulai dari nentuin menu, budget, dll.

    Telur dadar buatan Mamah yang isinya cuma irisan bawang daun entah kenapa rasanya surga banget. Apalagi kalau masak Cap Cay yang kembang tahunya diperbanyak karena alasannya biar aku makan lebih banyak. Sayur Bayam buatan Mamah juga bikin ketagihan! Pernah komentar ke Mamah, “Mah, ini kok sayur bayamnya enak banget. Pake ganja ya?” Eh, malah ditoyor :(( #Yaiyalah

    Salam buat Ibunya Nauval ya ^o^

    Disukai oleh 1 orang

  2. Ibu saya jagoan memasak. Ketika kami masih kecil, hidup kami tidaklah mudah. Kami berhemat di semua aspek agar bisa bersekolah. Kami tidak makan di restoran dan tidak berpesta. Supaya anaknya bisa makan enak, ibu saya berusaha menciptakan semua masakan restoran di rumah. Ketika Pizza Hut baru saja buka, beliau membuat pizza di rumah. Beliau membuat croissant di rumah. Beliau membuat African Gateux, Duck Egg Curry, Sicilian Pizza, Canapé, Fruit Tart dan masih banyak lagi lengkap dengan hiasan kue yang berkelas di masanya. Semua dibuat di rumah dari nol. Pada hari2 tertentu beliau akan mengeluarkan porselen indah hadiah pernikahan dari ibunya untuk kami gunakan. My favorite were the home made ice cream and Sacher torte. Yes, she introduced them with their proper name.

    We tasted restaurant at home. We tasted heaven.

    Disukai oleh 1 orang

  3. Telur dadar yang dinamain oleh bokap “telur masa depan”. Cuma telur dadar isi bawang bombay dan cabe merah iris. Nyokap dulu kerja dan kuliah malem jadi pulangnya bener-bener malem. Jarang banget masak. Kalau masak pun cuma masak telur dadar ini. Ga tau juga kenapa dinamain gini sama bokap. :))) mungkin semacam premonition kali ya because 20 years after, it’s still my mom’s ‘signature dish’. 😂😂

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s