Momen Itu…

KALAU dikira-kira, apa sih sebenarnya yang bikin kemunculan perasaan cinta terasa begitu menyenangkan, manis, dan selalu terkenang?

Hanya bisa, atau cuma mampu melihat dia dari kejauhan dengan senyum yang terus mengembang. Deg-degan entah mengapa, dan tidak banyak keluar kata-kata. Sesekali ada momen ketika bisa berada dekat banget dengan dia, secara fisik. Sebelah-sebelahan kurang lebih. Dalam hati terus bertanya, kapan bisa mulai berkenalan dan berbicara dengannya. Geregetan-geregetan senang gitu.

Memberanikan diri mengajak berkenalan, dengan sedikit banyaknya diwarnai kalimat standar. Lalu mencoba untuk mengajaknya menongkrong bareng ditemani secangkir kopi atau cokelat. Berusaha bersikap sebaik mungkin, jaim tipis-tipis. Tanpa terasa, tutur bicara berubah sopan, dan seakan punya waktu luang yang cukup panjang. Fleksibel untuk disesuaikan dengan dia. Setelah pertemuan, tidak lupa untuk mengirimkan pesan singkat dengan kalimat standar: “thank you for the talk 🙂 it was nice.”

Sudah kenal, tapi belum banyak tahu. Menikmati detik demi detik upaya membangun obrolan dengannya. Memang bukan percakapan yang mulus lancar seperti berkendara jalan tol di tengah malam, atau pembicaraan yang luwes. Tetap ada beberapa hal yang masih disimpan, belum nyaman saja dibagikan kepada orang lain. Situasi canggung di sana sini, tentu masih bisa ditoleransi. Cukup diredam dengan senyuman. Tapi bisa duduk semeja bersamanya, dengan pembicaraan soal topik-topik remeh. Sudah boleh disebut bahagia?

Mulai bisa kelepasan tertawa keras, tanpa merasa malu diri setelahnya. Boleh disebut achievement unlocked? Ketika sudah berhasil saling menyamankan diri satu sama lain dalam sesi obral-obrol di meja kafe. Makin banyak tahu, mulai aktor dan sutradara terfavorit, sampai hobi masing-masing. Kalau cocok, boleh dilakukan bareng kapan-kapan. Nonton bioskop atau gigs. Menghadiri pameran seni, entah serius mengapresiasi atau untuk seru-seruan berdua. Kian akrab, makin dekat.

Setelah berulang kali memastikan ke diri sendiri, akhirnya sampai pada salah satu titik krusial. Ada yang lagi-lagi harus mempersiapkan energi supaya berani, ada pula yang malah kalah agresif dibanding si dia. Ada yang lebih memilih cara-cara dramatis dengan setting dan segala keperluannya, ada pula yang lebih suka disampaikan secara biasa dan sederhana, mewakili kepribadian diri. Akhirnya, isi hati dinyatakan, entah diterima atau tidak. Sebuah permulaan.

Kini, hubungan sudah beranjak makin dalam. Upaya untuk saling mengenali terus berjalan. Yang pasti, selalu ada pelukan hangat yang gampang sekali bikin kangen dan dirindukan. Juga ada kecupan mesra yang tidak boleh ketinggalan. Tidak tahu dari mana sumbernya, namun dua hal tersebut mampu menguatkan. Meringankan beban yang tengah dialami.

Rasa kangen mendadak bersikap seperti bocah laki-laki, suka usil dan jail. Suka muncul tiba-tiba, dan membuat “onar” mencari perhatian. Bikin aktivitas kita terhenti sejenak, dengan dorongan untuk menelepon, atau berkirim pesan kepadanya. Menanyakan hal-hal yang sebenarnya sepele, tapi entah kenapa terasa tetap harus disampaikan.

Terlelap dalam perasaan nyaman. Dengan dahi, atau ujung hidung yang hampir menempel ke punggung, atau tengkuk. Sesekali menarik lengan dari belakang, untuk dilingkarkan di perut bagian atas. Berpegangan. Makin erat, setelah bunyi guntur menggelegar di balik jendela.

Ada kalanya bertengkar hebat. Menguras tenaga, emosi, dan kesiapan hati. Melelahkan. Hingga akhirnya semua terasa berbeda kembali, setelah ada yang berkata “maafin aku ya…” Bukan pertengkaran yang dapat panggung utama, melainkan perasaan nyesss… saat maaf diutarakannya. Senyum kembali mengembang, namun kali ini dengan pikiran yang lebih siaga. Belajar dari pengalaman. Terdewasakan.

Masih ada puluhan, bahkan ratusan momen serupa tapi tak sama lainnya.

Tak ada habisnya.

[]

Iklan

10 thoughts on “Momen Itu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s