Mimpi Besar dan Mimpi Kecil

Jika ada yang berkata kalau “namanya hidup harus punya tujuan”, minta yang berkata itu memberikan kalimat yang lebih spesifik dan tepat. Mungkin seperti, “namanya hidup harus punya beberapa tujuan besar dan ratusan mungkin ribuan tujuan kecil yang bisa dicapai tiap hari dan sampai kita mati.” Karena toh, semua juga tahu kalau “life’s a journey, not a destination,” kalau kata Steve Tyler yang gagal tampil di sini beberapa tahun yang lalu (masih dendam). Atau seperti Rapunzel di film Tangled yang setiap hari bermimpi melihat dari dekat ribuan cahaya yang sejak kecil hanya bisa dilihatnya dari balik jendela kecilnya, sehingga takut jika dia berhasil mencapai mimpinya itu, lalu apa? “Well, that’s the good part, I guess. You get to go find a new dream,” kata Flynn Ryder sambil mengangkat bahunya.

0b6bc5ba947aeb87f269b2f6490aa1c4cde24d03749afc8c29af9384b4691d60

Terkadang kita naif dan mengidentifikasikan diri kita dengan tujuan hidup tersebut. Berpikir dan berpendapat kalau hanya dan hanya bila kita meraih tujuan tersebut, akhirnya kita menjadi manusia sempurna dan bahagia selamanya. Mungkin karena ini juga hampir semua dongeng yang kita tahu berakhir dengan protagonis meraih mimpinya dan ditutup dengan “…and they live happily ever after.” Seolah kejadian penutup tersebut adalah puncak dari kehidup sang karakter, dan dari sana dia tidak akan mencari puncak baru, atau mungkin agak menurun ke bawah, tetapi yang jelas tidak mungkin terus di puncak. Paling tidak, tidak mungkin demikian tanpa kerja keras.

Karena kenyataannya demikian. Ketika mencapai mimpi, tidak ada tujuh (atau tujuh puluh?) perawan cantik atau ganteng yang menunggu untuk melayani hasrat selamanya (apa karena itu ya, ada yang melakukan suicide bombing dengan dalih mati syahid, perawan menanti tanpa perlu kerja keras). Ketika pekerjaan atau karir yang selama ini diimpikan didapat, yang menunggu bukan kenyamanan (saja) tetapi juga kerja keras dan tujuan berikutnya. Ketika idaman hati yang sudah di-stalk berbulan bahkan bertahun akhirnya menjadi pasangan, bukan berarti dengan jadi diri sendiri lantas semua akan baik-baik saja dan menjadi pasangan paling romantis dan paling bahagia di dunia. Kerja keras dan banyak sekali kompromi dan memaafkan juga melupakan akan menanti di perjalanan yang baru ini. Mengingatkan dengan adegan akhir film The Graduate yang kurang lebih menjadi insipirasi tulisan ini.

Hello, Darkness. (I can't forget their expression).
Hello, Darkness. (I can’t forget their expression).

Jadi sepertinya tak ada gunanya punya pemikiran, “aku akan bahagia kalau aku jadi…” atau, “hidupku akan lengkap kalau aku memiliki (masukkan barang atau nama),” karena kalau ingin bahagia, dan lengkap, bahagialah sekarang dan lengkaplah sekarang. Karena begitu mencapai tujuan berikutnya, tantangan hidup mungkin sudah berbeda lagi dan skenario bahagia bisa jadi berubah dan terasa lebih jauh dari yang bisa kita raih.

Mari siapkan beberapa genggam tujuan besar, dan ratusan tujuan kecil. Siapkan hati kalau ternyata orang lain mencapai tujuan itu duluan, dan siapkan banyak sekali tujuan cadangan. Karena dunia akan berputar, tidak peduli kita berpartisipasi atau tidak. Mine as well…

Iklan

6 thoughts on “Mimpi Besar dan Mimpi Kecil

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s