#RekomendasiStreaming – Tontonan Libur Lebaran 2018 Yang Mencerahkan

Libur Lebaran tahun 2018 ini terasa sekali panjangnya ya?

Sepertinya baru kali ini ada gerakan libur bersama secara nasional yang cukup lama, dimulai hampir seminggu sebelum Lebaran, dan akan berakhir sekitar seminggu setelahnya. Bahkan beberapa instansi, baik kantor maupun sekolah, baru akan mulai beraktivitas lagi bulan depan.

Beberapa teman yang sudah berkeluarga mengaku cukup kelimpungan untuk mencari kegiatan pengisi waktu liburan bagi anak-anak mereka. Sementara saya yang memang tidak berkeluarga, paling cukup kelabakan kalau ditanya, “enaknya nonton apa ya? Film di bioskop sudah ditonton semua.”

Memang perbandingan jumlah film (baru) di bioskop dengan jumlah hari libur tidak berbanding lurus. Oleh karena itu, setelah menonton film-film Lebaran di bioskop, mungkin tidak ada salahnya kita kembali menundukkan kepala untuk melihat konten-konten yang ada di aplikasi video streaming yang kita punya. Tentu saja penundukan kepala ini terjadi kalau Anda menonton serial dan film pilihan saya ini di perjalanan mudik, atau perjalanan balik ke kota tempat beraktifitas. Kalau misalnya sedang dalam keadaan santai, ada baiknya #rekomendasistreaming saya kali ini ditonton beramai-ramai di televisi.
Hitung-hitung sambil memperkenalkan konsep video streaming ke sanak saudara yang mungkin belum familiar.

Jadi, buat yang siap menghabiskan waktu panjang untuk menghabiskan serial televisi, maka tontonlah …

Brooklyn Nine-Nine

Brooklyn Nine Nine

Mungkin ini adalah salah satu serial paling lucu saat ini. Dan yang saya maksud paling lucu adalah, it is genuinely funny. Berlokasi di markas polisi fiktif bernama distrik 99 di Brooklyn, New York, serial ini bercerita tentang keunikan masing-masing karakter penghuni distrik tersebut. Ada detektif Jake Peralta (Andy Samberg) yang selalu menggunakan insting yang salah. Lalu bosnya, komandan Ray Holt (Andre Braugher), yang selalu terjebak dalam image dirinya yang serius. Ditambah dengan rekan-rekan kerja mereka yang lebih suka bertingkah laku konyol dibanding memecahkan kasus kejahatan, serial ini tidak berpura-pura dalam menghadirkan kekocakannya. Sudah ada lima musim penayangan, masing-masing episode berdurasi sekitar 22 menit. Time flies when you’re having fun, and time files when you’re having fun watching something fun.

Mom

Mom

Saat ini sudah jarang sekali serial komedi situasi (sitcom) yang diproduksi dengan menggunakan teknik multiple camera. Apa itu teknik multiple camera? Mungkin dari segi teknis kita tidak bisa membedakan. Tapi ada satu elemen dari sitcom multiple camera ini yang jelas terlihat: ada suara orang tertawa di setiap joke yang dilontarkan. Bahasa kerennya, pakai laughing track.
Nah, dari sedikit serial dengan laughing track yang masih bertahan sampai sekarang, salah satunya adalah serial “Mom” ini. Kenapa saya rekomendasikan?
Karena fokus ceritanya yang tidak biasa. “Mom” berpusat pada hubungan ibu (Alison Janney) dan anak (Anna Faris), yang sama-sama bekas pecandu alkohol dan obat-obatan terlarang. Mereka benci satu sama lain, namun mereka tidak bisa hidup tanpa satu sama lain. Setiap episode berpusat pada mereka, lalu pertemuan Alcoholic Anonymous dan makan seusai pertemuan tersebut bersama teman-teman mereka sesama mantan pecandu. Menemukan humor di sisi kehidupan yang terlihat kelam memang tidak mudah, namun serial ini melakukannya dengan sukses. Kita dibuat selalu tertawa, sambil tidak sadar bahwa kita sedang menertawakan getirnya kehidupan yang keras dan susah yang harus dilalui para mantan pecandu ini. Ada 5 musim penayangan, dengan durasi masing-masing episode sekitar 22 menit. Dan kita akan semakin jatuh cinta dengan ibu dan anak di setiap akhir episodenya.

Queer Eye

Queer Eye

Tanpa tedeng aling-aling, saya cuma mau bilang begini: I LOVE THIS SHOW!
Ini adalah reboot dari reality show yang cukup populer sekitar 15 tahun lalu, bertajuk “Queer Eye for the Straight Guy”. Konsep acaranya masih sama, yaitu 5 pria ahli kuliner, interior desain, etiket, busana, dan rambut secara kompak mendandani ulang, atau make over, pria-pria yang sebagian besar adalah heteroseksual. Secara langsung, saat 5 pria yang dikenal sebagai The Fab 5 ini melakukan make over, maka kehidupan pria lain yang mereka make over ini juga akan berubah drastis.
Yang saya suka dari reboot ini adalah penempatan logika yang pas di setiap episodenya. Tidak lagi berbicara soal perbedaan gay dan straight, yang juga masih penting ditempatkan di beberapa bagian cerita. Namun lebih dari itu, banyak pemikiran yang muncul saat mereka melakukan make over yang, terus terang, cukup menggugah saya.
Di salah satu episode, saat mereka mendandani seorang pria yang tidak punya waktu mengurus dirinya karena kesibukannya, salah satu anggota the Fab 5 cuma mengatakan, “It’s important for you to take care of yourself, because you’re not doing it to yourself, but also to your wife and your family. It’s important that you need to be the best version of yourself, because you cannot take them for granted. You want them to love you, so work on it.”
Mungkin kalimatnya tidak persis sama, tapi intinya adalah bahwa menjaga diri bukanlah sebuah kemewahan atau luxury, tapi sebuah keperluan, atau necessity, untuk menjaga sebuah hubungan.
Terus terang saya tidak terlalu suka menonton reality show. Tapi kalau ada reality show yang bisa membuat kita tertawa, tersenyum, dan akhirnya belajar menerima perubahan dalam hidup, I can’t recommend this enough.

Jika perlu selingan film panjang di sela-sela menonton serial-serial di atas, maka dua film ini bisa dipilih:

Bad Genius

Bad Genius

Ini bukan thriller biasa. Bagaimana sekelompok anak bisa mengelabui sistem ujian nasional di Thailand dan memperoleh keuntungan finansial dari situ, merupakan ide cerita gila yang mungkin jarang sekali bisa ditemukan di film-film dari negara-negara lain. Penggarapan filmnya pun sangat serius. Gaya film ini dibuat seperti film thriller papan atas, yang membuat kita semakin gregetan saat menontonnya. Meskipun tidak masuk dalam top 10 film tahun 2017, namun film ini termasuk sebagai salah satu film yang sangat menyenangkan untuk ditonton.

Hindi Medium

Hindi Medium

Masih berkutat soal pendidikan, namun dari sudut pandang lain. Film ini mengajak kita melihat bagaimana ketatnya persaingan untuk memasukkan anak ke sekolah bergengsi demi mendapatkan pendidikan terbaik. Termasuk pura-pura menjadi orang miskin, demi mendapatkan jatah penempatan murid dari kalangan underprivileged. Ide cerita yang sangat menarik, dan dikemas dengan penceritaan yang straight forward, dan menyentuh. Sebagai orang tua murid yang rela melakukan apa saja demi pendidikan anaknya, Irrfan Khan bermain sangat cemerlang. Salah satu film Hindi terbaik tahun lalu.

Semoga lima pilihan saya untuk tontonan Lebaran tahun ini bisa membuat pemikiran kita semakin terbuka dan tercerahkan.
Ada tontonan lain yang Anda ikuti selama libur Lebaran kali ini?
Share di komentar di bawah ya!

Advertisements

Sebatang Kere

Maafkan saya. 

Selama bulan puasa saya sibuk menggunggah banyak sekali foto keceriaan buka bersama teman SMP, SMA, Kuliah (sebelum DO), Kuliah (hingga lulus,.. eh lolos), kantor tempat kerja pertama kali, kantor saat ini, keluarga besar dari ibu, keluarga besar dari bapak.

Maafkan saya.

Selama bulan puasa, setiap hari, saya rajin mengunggah di path, twitter, facebook, zomato, foto berbuka yang jarang saya lahap saat hari biasa. Sederetan sajian berbuka yang manis dan lucu, juga enak diajak ngobrol dan ndak baperan. Melimpahnya sajian istimewa makanan cepat saji, kolak, manisan, korma ajwa, sayur lodeh, paru goreng, pho, pizza, pasta, nasi ayam jagoan, dendeng batokok, gajeboh, ayam likku, barongko, lotek, semur jengkol, hingga indomie. Baik saya unggah usai berbuka maupun di siang bolong. 

Maafkan saya.

Lewat whatssapp grup senantiasa menampilkan ayat-ayat suci alquran, petuah orang bijak, kutipan ustad pengusaha, motivator botak dan zuper, juga kalimat berbau surga yang mudah dan keren ditampilkan tapi susah dijalankan. 

Juga maafkan saya.

Memamerkan tiket kereta api, voucher hotel dan rute serta foto-foto selama perjalanan mudik. Termasuk warung, penginapan, toilet pom bensin, toilet hotel, wajah pemudik, peta perjalanan, dan banyak bukti yang menunjukkan saya sedang pulang.

Oh iya.

Maafkan saya.

Selama di kampung halaman saya menampilkan foto halaman rumah saya yang wah, wajah keluarga besar saya yang asik, juga kegiatan takbiran yang takzim, acara sungkeman penuh syahdu. Banjir cucuran air mata. Pakaian seragam keluarga kami yang tiada duanya, interior rumah yang menarik, dan terutama tumpukan angpau kami yang berebut dibagikan kepada ponakan, tetangga dan keluarga jauh. 

Maafkan saya jika semua ini disampaikan kepada Anda tanpa pernah bertanya. Anda (terpaksa me) lihat dan ternyata dengan ikhlas disematkan tanda lope-lope, like, retuit, maupun komentar pujian. 


Saya ndak terlalu pusing dengan makna puasa. Saya ndak perlu mikir untuk mengambil hikmah apa itu lapar dan dahaga, apalagi menahan nafsu syahwat. Saya menjalani ritual bulan puasa sama dengan yang lain. Sahur, berbuka, ibadah, mudik, membagikan THR, membayar zakat, dan sholat ied di tanah lapang, lalu sungkem dan menangis. 

Uang bisa dicari lagi. Membeli baju baru, sepatu keren, kaftan menjurai, parfum impor, dan hape teranyar adalah bagian dari kemeriahan saya dalam menjalankan perayaan agama. Tak perlu banyak ngirit jika ada alasan tepat bahwa hari kemenangan harus dirayakan dengan penuh suka cita. 

Jika ternyata di antara pembaca ada yang lebaran dengan sahur seadanya, menjalankan siang hari penuh aktivitas, berbuka di rumah, kamar kos, pantry kantor dengan menu ala kadarnya, tanpa pernah di-tag akun teman, maka itu di luar kendali saya. 

Apalagi jika ada pembaca yang budiman kehabisan tiket, THR yang tak penuh dibayarkan, tak sempat mudik, bahkan malam takbiran sendirian, itu semata-mata adalah kebetulan. 

Tapi percayalah.

Lebaran bukan hanya milik mereka yang dilimpahkan kesenangan dan keceriaan bersama sanak famili. 


Lebaran juga milik orang-orang yang terlupakan. Malam lebaran sebatang kara. 

Orang-orang yang tak sanggup untuk pulang. Tak kuasa untuk berbagi keceriaan. Mereka (atau kita) yang memilih untuk memaknai lebaran dengan cara yang beda. Karena pilihan maupun keadaan. Tak apa. Selama duit THR ndak habis buat beli arloji kemahalan. 

Jika terlanjur, maka Anda adalah sebatang kere. 

Selamat menikmati suasana liburan dan lebaran. Iya kamu. Kamu kamu kamu dan kamu. 

Salam anget dari saya,

Oy Ayul

Kenapa Sabtu Pagi Terakhir Bulan Ramadan Begitu Indah

Tagihan telah dibayarkan. Janji sudah ditunaikan. Mencoba resep baru. Menata rumah dan tak jadi digunakan karena tersadar permasalahan bukan soal tata ruang melainkan luas bangunan. Menyeka keringat. Menyapu lantai. Memanaskan kendaraan. Kenakan sandal jepit. Kaos tipis dan sarungan. Memandikan hewan peliharaan.

Menyiapkan peralatan mudik. Menata pakaian. Mencari koper yang pas. Mengecek tiket pulang. Menghitung uang. Mengumpulkan harapan. Semangat pertemanan. Bertekad bahwa saudara lebih penting dari uang. Rejeki tak dibawa mati dan ada untuk dibagi.

Memilih pakaian pergi. Memastikan semuanya tercatat dan tak ketinggalan. Bingung memilih apakah ke salon atau bengkel. Menghubungi tukang jahit langganan.

Perjalanan menuju pulang. Udara cerah dan wajah-wajah sumringah. Hangat pelukan dan senyum merekah.

Libur panjang usai malam panjang. Usai subuhan bisa bangun siang. Sebentar lagi lebaran. Bangun di kamar kesayangan. Terjaga dan sudah di kampung halaman.

Komorebi. Lantunan lagu perlahan. Tatapan orang tua. Hati yang hangat. Rencana jalan-jalan. Bertemu anak kesayangan.

Menjemput di terminal. Menunggu di peron. Pertemuan di ruang tunggu.

Ruang tamu yang kembali riuh. Rumah yang dicat ulang. Memasak rendang. Memesan kue hantaran.

Ke pasar tanpa mandi. Berburu penganan. Memesan janur kuning. Membeli daun pisang. Tawar ayam kampung hidup dan menghampiri tempat sembelihan.

Lihat album kenangan. Membuka lemari pakaian. Hubungi teman sepermainan. Naik kendaraan usang. Membeli jajan di warung masa lalu. Menyentuh hangat masa silam. Membayangkan mantan di kota itu. Bertemu sepupu. Memanjakan rindu. Bertukar senyum dan harapan.


Menghitung angpau. Mencoba baju baru. Membelikan ponakan rupa-rupa. Kantung penuh uang pecahan. Percaya diri penuh tanpa mengingat urusan kerjaan. Pamer gawai canggih. Bicarakan kota metropolitan dibarter dengan suasana pedesaan.

Dia. Engkau. Mereka dan harapan-harapan yang diucapkan. Aku dan hidup. Kamu dan masa lalu. Kita dan masa depan.

Hari Terakhir

(29 Ramadhan, 23:45)

Andi berusaha memejamkan mata sekuat tenaga. Tapi suara petasan di luar terlalu bising untuk dihiraukan. Anehnya, tiga krucil anak kakak-kakaknya ini bisa pulas terlelap di sampingnya.
Andi tersenyum memandangi mereka tidur. Dia bangun, dan menaruh bantal di bawah kepala Rino, keponakannya yang paling kecil. Buku, tablet dan mainan lain yang berserakan di tempat tidur, dia singkirkan ke meja di samping kasur.

Pelan-pelan Andi membuka pintu. Lampu di ruang tamu bawah masih menyala. Saat dia turun, Andi heran, karena tidak ada siapa-siapa di sana. Dia pikir kakak-kakaknya masih bangun.

“Ndi”.

Andi menoleh. Ayahnya mengangkat muka dari buku yang dia baca.

“Nggak bisa tidur?”

Andi menggeleng.

“Maaf ya, kamarmu masih belum beres. Tukangnya kewalahan ngerjain renovasi belakang. Jadi kamarmu belum sempet dibenerin.”

“Nggak pa-pa. Ini petasan aja bikin berisik. Tapi yang lain malah pulas sampai ngorok.”

“Mereka kecapekan keliling seharian. Makanya pas kamu nyampe rumah tadi, cuma ada Parmi sama Darmo.”

Andi mengangguk. Dia mulai menyesal meninggalkan ponselnya di kamar. Sekarang dia kikuk duduk berhadapan dengan ayahnya berdua saja di ruang tamu. Apalagi, di antara kakak-kakaknya, Andi sangat jarang berkomunikasi dengan ayahnya.

“Papa baca apa?”

“Ini, Umar Kayam. Jalan Menikung. Baru sekarang sempet baca. Mamamu ‘kan suka sekali ngumpulin buku-buku Umar Kayam.”

Andi menengadah, lalu buru-buru menunduk lagi.
Almarhumah, Pa, ucapnya dalam hati.

Keduanya terdiam lagi. Pandangan Andi menuju pada foto keluarga. Foto lima tahun lalu. Andi tersenyum. Ali melihat senyuman itu.

“Kenapa, Ndi?”

Andi terkekeh. “Enggak. Itu, si Abang. Dulu bisa kurus kayak gitu. Sekarang, perutnya buncit kemana-mana.”

Ayahnya ikut tersenyum. “Gantian sama kamu. Kenapa kamu sekarang kurus lagi?”

Andi ingin sekali menjawab, “Abis nggak ada yang ngingetin supaya olahraga dan makan yang bener lagi,”, atau, “Pa, come on! Everything has changed since Mom died”, tapi dia cuma berkata, “Ya lagi banyak kerjaan aja di lapangan, Pa, gak sempet makan.”

Ali cuma melihat muka anak bungsunya ini. Dia tahu apa yang tidak terucap di sana.
Ali menutup buku dan meletakkannya di meja. Andi melihat buku itu di meja, dan refleks dia bangkit dari kursi, menghindari obrolan serius dengan ayahnya.

“Ndi, duduk dulu.”

“Bentar, ambil minum.”

“Duduk dulu.”

Tak ada pilihan lagi selain menurut.

How are you?”

“Baik, kok. Alhamdulillah, sehat. Kenapa, Pa?”

Ali menghelas nafas.

“Ndi …”

Ali tercekat. Terasa berat apa yang dia ingin ucapkan. Dia menggantungkan ucapannya.

Andi buru-buru berkata, “Pa, udah jam 12 lewat. Besok jangan kesiangan sholat Ied. Papa tidur ya? Andi nanti matiin lampu.”

Ali menggeleng.

“Papa harus ngomong ini sama kamu, Ndi. Gak gampang Papa ngomong ini. Gak gampang juga Papa menjalani puasa sebulan ini tanpa mama kamu, Ndi.”

No, no, no. Please don’t go there. Please. Please, minta Andi dalam hati.

“Besok … Ya, hari ini. Hari ini, Lebaran pertama tanpa mama kamu. Setengah mati Papa berusaha gak ketemu hari ini, tapi mau gimana lagi? Ini harus kita jalani, Ndi.”

Andi menunduk.

“Papa yakinkan diri sendiri, ke kamu, ke kakak-kakakmu, kalau kita puasa karena ibadah, tapi Papa gak bisa bohong, Ndi. Walau Mamamu memang gak puasa, tapi lain rasanya tanpa ada Mamamu yang menemani.”

Please, Pa. She’s gone. Please.

Ali masih menerawang. Matanya sedikit berkaca-kaca.

“Ndi, Papa belum sempet bilang terima kasih sama kamu dan kakak-kakakmu yang merawat Mamamu sampai hari terakhir. Terutama kamu yang sampai keluar kerja.”

Runtuhlah pertahanan Andi. Gumpalan sesak di dada yang berbulan-bulan ini dia tahan, sudah tak terbendung lagi.

Semakin sesak pula Andi mengingat sosok lain yang dulu, sebulan sekali, membawakan pakaian dan perlengkapan Andi dari rumah, sekaligus mengantarkan Andi bolak-balik pulang dari rumah sakit setiap dia datang di kota ini.
Sosok yang Andi harus lupakan sekarang.

“Ndi, Papa minta maaf, kalau Papa lupa bilang terima kasih.”

Andi menggeleng. “Pa, justIt’s okay. Udah lah, Pa.”

“Ndi, ini Papa serius. Papa pengen, kamu juga bisa belajar memaafkan diri sendiri. Gak cuma memaafkan orang lain. Tapi kamu, Papa, harus bisa rela, kalau kita sudah berbuat semampu kita. Kalau nurutin mau Papa sendiri, Papa akan menyesal terus. Papa gak bisa nemenin Mama kamu setiap saat. Papa gak teliti dari dulu tentang penyakit Mamamu. Dan yang seperti ini, gak akan habis, Ndi.”

Ali menghela nafas dalam. Dari ketiga anaknya, Andi yang paling dekat dengan ibunya. Seakan-akan waktu tak pernah habis kalau ibu dan anak itu menghabiskan waktu berbincang-bincang. Saat ibunya tak bisa lagi membalas ucapan Andi, Andi tetap tak berhenti menceritakan apa yang bisa dia ceritakan pada ibunya.

“Perpisahan itu, kita gak bisa tahu. Kalau sudah saatnya, kamu harus relakan. Dan kamu harus maafkan. Kamu maafkan kamu sendiri, dan kamu relakan, atau maafkan orang yang sudah pergi. Meskipun orang itu sangat kita cintai. Biar kita lega, Ndi.”

Andi lemas.
Tak berdaya lagi dia menjaga air mata yang dia simpan selama ini.
Tak pernah dia keluarkan tangisan saat tanah di pemakaman telah naik.
Tak pernah dia keluarkan tangisan saat sepasang kunci rumah yang pernah dia gandakan untuk orang lain, telah kembali dengan tulisan “I’m sorry” di amplopnya.

Andi berdiri. Di depan ayahnya, dia bersimpuh dan mencium tangan ayahnya.

“Maaf Andi duluan sungkemnya, Pa. Andi minta maaf …”

Ali menepuk pundak Andi sambil dipeluknya erat-erat. Pelukan yang menyatakan “I know you. I know. All these years, I know. And you’re still my brightest son.”

Ali berucap lirih, “Ndi. You’re home now.”

IMG_8637