Hari Terakhir

(29 Ramadhan, 23:45)

Andi berusaha memejamkan mata sekuat tenaga. Tapi suara petasan di luar terlalu bising untuk dihiraukan. Anehnya, tiga krucil anak kakak-kakaknya ini bisa pulas terlelap di sampingnya.
Andi tersenyum memandangi mereka tidur. Dia bangun, dan menaruh bantal di bawah kepala Rino, keponakannya yang paling kecil. Buku, tablet dan mainan lain yang berserakan di tempat tidur, dia singkirkan ke meja di samping kasur.

Pelan-pelan Andi membuka pintu. Lampu di ruang tamu bawah masih menyala. Saat dia turun, Andi heran, karena tidak ada siapa-siapa di sana. Dia pikir kakak-kakaknya masih bangun.

“Ndi”.

Andi menoleh. Ayahnya mengangkat muka dari buku yang dia baca.

“Nggak bisa tidur?”

Andi menggeleng.

“Maaf ya, kamarmu masih belum beres. Tukangnya kewalahan ngerjain renovasi belakang. Jadi kamarmu belum sempet dibenerin.”

“Nggak pa-pa. Ini petasan aja bikin berisik. Tapi yang lain malah pulas sampai ngorok.”

“Mereka kecapekan keliling seharian. Makanya pas kamu nyampe rumah tadi, cuma ada Parmi sama Darmo.”

Andi mengangguk. Dia mulai menyesal meninggalkan ponselnya di kamar. Sekarang dia kikuk duduk berhadapan dengan ayahnya berdua saja di ruang tamu. Apalagi, di antara kakak-kakaknya, Andi sangat jarang berkomunikasi dengan ayahnya.

“Papa baca apa?”

“Ini, Umar Kayam. Jalan Menikung. Baru sekarang sempet baca. Mamamu ‘kan suka sekali ngumpulin buku-buku Umar Kayam.”

Andi menengadah, lalu buru-buru menunduk lagi.
Almarhumah, Pa, ucapnya dalam hati.

Keduanya terdiam lagi. Pandangan Andi menuju pada foto keluarga. Foto lima tahun lalu. Andi tersenyum. Ali melihat senyuman itu.

“Kenapa, Ndi?”

Andi terkekeh. “Enggak. Itu, si Abang. Dulu bisa kurus kayak gitu. Sekarang, perutnya buncit kemana-mana.”

Ayahnya ikut tersenyum. “Gantian sama kamu. Kenapa kamu sekarang kurus lagi?”

Andi ingin sekali menjawab, “Abis nggak ada yang ngingetin supaya olahraga dan makan yang bener lagi,”, atau, “Pa, come on! Everything has changed since Mom died”, tapi dia cuma berkata, “Ya lagi banyak kerjaan aja di lapangan, Pa, gak sempet makan.”

Ali cuma melihat muka anak bungsunya ini. Dia tahu apa yang tidak terucap di sana.
Ali menutup buku dan meletakkannya di meja. Andi melihat buku itu di meja, dan refleks dia bangkit dari kursi, menghindari obrolan serius dengan ayahnya.

“Ndi, duduk dulu.”

“Bentar, ambil minum.”

“Duduk dulu.”

Tak ada pilihan lagi selain menurut.

How are you?”

“Baik, kok. Alhamdulillah, sehat. Kenapa, Pa?”

Ali menghelas nafas.

“Ndi …”

Ali tercekat. Terasa berat apa yang dia ingin ucapkan. Dia menggantungkan ucapannya.

Andi buru-buru berkata, “Pa, udah jam 12 lewat. Besok jangan kesiangan sholat Ied. Papa tidur ya? Andi nanti matiin lampu.”

Ali menggeleng.

“Papa harus ngomong ini sama kamu, Ndi. Gak gampang Papa ngomong ini. Gak gampang juga Papa menjalani puasa sebulan ini tanpa mama kamu, Ndi.”

No, no, no. Please don’t go there. Please. Please, minta Andi dalam hati.

“Besok … Ya, hari ini. Hari ini, Lebaran pertama tanpa mama kamu. Setengah mati Papa berusaha gak ketemu hari ini, tapi mau gimana lagi? Ini harus kita jalani, Ndi.”

Andi menunduk.

“Papa yakinkan diri sendiri, ke kamu, ke kakak-kakakmu, kalau kita puasa karena ibadah, tapi Papa gak bisa bohong, Ndi. Walau Mamamu memang gak puasa, tapi lain rasanya tanpa ada Mamamu yang menemani.”

Please, Pa. She’s gone. Please.

Ali masih menerawang. Matanya sedikit berkaca-kaca.

“Ndi, Papa belum sempet bilang terima kasih sama kamu dan kakak-kakakmu yang merawat Mamamu sampai hari terakhir. Terutama kamu yang sampai keluar kerja.”

Runtuhlah pertahanan Andi. Gumpalan sesak di dada yang berbulan-bulan ini dia tahan, sudah tak terbendung lagi.

Semakin sesak pula Andi mengingat sosok lain yang dulu, sebulan sekali, membawakan pakaian dan perlengkapan Andi dari rumah, sekaligus mengantarkan Andi bolak-balik pulang dari rumah sakit setiap dia datang di kota ini.
Sosok yang Andi harus lupakan sekarang.

“Ndi, Papa minta maaf, kalau Papa lupa bilang terima kasih.”

Andi menggeleng. “Pa, justIt’s okay. Udah lah, Pa.”

“Ndi, ini Papa serius. Papa pengen, kamu juga bisa belajar memaafkan diri sendiri. Gak cuma memaafkan orang lain. Tapi kamu, Papa, harus bisa rela, kalau kita sudah berbuat semampu kita. Kalau nurutin mau Papa sendiri, Papa akan menyesal terus. Papa gak bisa nemenin Mama kamu setiap saat. Papa gak teliti dari dulu tentang penyakit Mamamu. Dan yang seperti ini, gak akan habis, Ndi.”

Ali menghela nafas dalam. Dari ketiga anaknya, Andi yang paling dekat dengan ibunya. Seakan-akan waktu tak pernah habis kalau ibu dan anak itu menghabiskan waktu berbincang-bincang. Saat ibunya tak bisa lagi membalas ucapan Andi, Andi tetap tak berhenti menceritakan apa yang bisa dia ceritakan pada ibunya.

“Perpisahan itu, kita gak bisa tahu. Kalau sudah saatnya, kamu harus relakan. Dan kamu harus maafkan. Kamu maafkan kamu sendiri, dan kamu relakan, atau maafkan orang yang sudah pergi. Meskipun orang itu sangat kita cintai. Biar kita lega, Ndi.”

Andi lemas.
Tak berdaya lagi dia menjaga air mata yang dia simpan selama ini.
Tak pernah dia keluarkan tangisan saat tanah di pemakaman telah naik.
Tak pernah dia keluarkan tangisan saat sepasang kunci rumah yang pernah dia gandakan untuk orang lain, telah kembali dengan tulisan “I’m sorry” di amplopnya.

Andi berdiri. Di depan ayahnya, dia bersimpuh dan mencium tangan ayahnya.

“Maaf Andi duluan sungkemnya, Pa. Andi minta maaf …”

Ali menepuk pundak Andi sambil dipeluknya erat-erat. Pelukan yang menyatakan “I know you. I know. All these years, I know. And you’re still my brightest son.”

Ali berucap lirih, “Ndi. You’re home now.”

IMG_8637

Iklan

9 thoughts on “Hari Terakhir

  1. Aku baca tulisan roy sayur hari ini, lalu sedihnya menggenang. Mau kunikmati. Lalu aku inget pernah baca tulisan tentang kehilangan yang kena banget juga.

    Nah, untung ketemu.

    Suka

  2. udah bulan puasa lagi aja. setahun yg lalu baca ini. ngena banget rasanya. T_T
    hari pertama puasa tahun ini, nyari2 tulisan ini di arsip linimasa, baru ketemu (karena lupa judulnya, akhirnya nemu di tab mention twitter).
    terimakasih sudah nulis ini mas @carnauval T_T

    Suka

  3. Mirip sama kejadian saya dan ayah saya soal anak perempuannya yang paling bandel gak lagi satu atap sama kita. Pergi ikut suami, saya bilang: “ikhlasin yah”. Menyentuh banget mas Nauval. Makasih bacaan dini harinya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s