Lebaran Tanpa Melupakan

(30 Ramadan 1421 H)

“Tiketmu sudah diurus?”

“Sudah, Yah. Jadinya aku mundurkan saja sampai akhir tahun. We’ll see, mudah-mudahan sudah bisa traveling lagi bulan itu.”

“Insya Allah. Harusnya gak sampai Desember sih pembatasan ini.”

“Cuma kita kan gak pernah tahu, Yah.”

“Iya. Berdoa saja, sambil terus jaga kesehatan. Kamu masih olahraga?”

“Sekadarnya saja. Ayah?”

“Masih rutin senam. Diusahakan rutin.”

That’s good!”

“Sambil kadang-kadang jalan kaki nyekar juga ke makam mama kamu. Lumayan itu jaraknya. Jadi ya buat nambah frekuensi jalan tiap hari.”

Kali ini Andi terdiam. Namun dalam diam, Andi merasa heran. Tidak ada lagi kesedihan atau pertanyaan “mengapa”.

“Ndi? Halo?”

“Ya, Yah? Sorry, sambil mempersiapkan buka ini.”

“Oke kalau gitu. Besok pagi jangan lupa kita video call rame-rame ya. Kita kumpul jam 9. Ingatkan kakak-kakakmu. Nanti Ayah ingatkan juga. Jangan ketiduran. Assalamualaikum.”

“Oke, Yah. Waalaikumsalam.”

Setelah ditutup, Andi kembali menuntaskan urusannya di dapur. Namun mendadak Andi melamun.

Dia heran, kenapa dia tidak lagi merasa terbawa emosi, entah itu sedih atau kecewa, saat ayahnya menyebut soal kepergian istrinya, atau ibu Andi.

Tidak ada lagi pertanyaan, baik itu “mengapa” atau “what if”. Yang ada hanya perasaan biasa saja. Bahwa kenyataanya, Andi sekarang tidak bisa menemu ibunya lagi dalam keadaan fisik. Yang berbentuk fisik hanya makamnya saja yang belum tentu Andi bisa temui setiap bulan. Yang ada hanya doa yang Andi panjatkan setiap saat untuk ibunya. Doa yang bisa dia panjatkan beberapa kali dalam sehari. Seolah-olah semua ini adalah hal normal yang memang sudah berjalan seperti biasanya. Tidak seperti dulu, di awal-awal kepergian beliau.

I wonder if this is what we call time heals, batin Andi. If it is what it is, why does it always come at unexpected times?, tanya Andi lagi dalam hati.

If this is the new normal, then why does it feel like it’s already been there?

Sambil terus menyiapkan takjil, dengan pandangan kosong, Andi berpikir.

If time does indeed heal, if time does indeed allow us to live a “new normal” normally, then why do we still yearn the presence of some of our loved ones? In particular …

Tiba-tiba ponsel Andi bergetar. Ada notifikasi pesan masuk. Andi lihat sekilas nama pengirimnya. Ali.

Andi buru-buru mencuci tangan, lalu membuka pesan dari ayahnya tersebut.

“Ndi, jangan lupa selalu doa untuk mama kamu, ya. Meskipun sekarang kita sudah terbiasa hidup tanpa beliau, kita harus ingat untuk membiasakan diri mendoakan orang yang sudah pergi dari hidup kita. Supaya mereka tenang, tapi yang paling penting, supaya kita tenang. Ayah tidak bisa tidur kalau ayah belum mendoakan mama kamu. Jadi jangan lupa ya, Ndi.”

We make peace by letting go. We make peace by accepting people we let go.

Andi menekan tombol “reply”, lalu mengetik “Terima kas…”, sebelum ada telepon masuk. Nomer yang tidak dikenal.

“Halo? Ya, betul. Ha? Kiriman paket? Iya, betul saya Andi. Kiriman paket dari siapa ya, pak?”

Lalu Andi terdiam. Penelpon menyebut nama orang yang dulu pernah tidak asing di telinga Andi. Nama seseorang yang dulu selalu dia sebut setiap hari, mungkin setiap beberapa jam sekali. Nama yang sempat familiar, sebelum akhirnya menjadi asing kembali dalam beberapa waktu terakhir. Nama yang harus dia tahan untuk tidak dia ingat-ingat kembali. Nama yang mendadak sekarang datang lagi. Nama yang masih membuat hati Andi berdesir.

“Sebentar ya, pak. Tunggu sebentar di lobi. Saya turun sekarang.”

Andi menutup telepon. Dia tersenyum lebar.

source-juliehyde-com-au
(source: juliehyde.com.au)
Advertisements

4 thoughts on “Lebaran Tanpa Melupakan

Leave a Reply