Lebaran Sendirian

(29 Ramadan 1442 H)

Incoming video call.

“Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam, Yah.”

“Lagi apa, Ndi?”

“Nggak lagi apa-apa. Paling mau cuci piring bentar lagi. What’s up, Yah?

“Nggak, nggak ada apa-apa. Apa rencanamu Lebaran lusa?”

“Apa ya …” Andi menggaruk kepalanya, meski tidak gatal. Sejenak dia angkat kepala melihat sekeliling rumahnya. “Nggak ada. Sholat Id di rumah. Habis itu sarapan. Ya habis mau gimana lagi?”

Ali tertawa kecil.

“Ayah sendiri? Kakak gimana?”

“Ya sama. Ayah nggak ngijinin kakakmu ke sini. Jalanan di sekitar rumah juga masih pada ditutup. Malah repot nanti.”

“Jadi Ayah Lebaran sendiri?”

“Ada mbok, ada supir. Kebetulan anaknya mbok itu sudah beberapa bulan ikut bantu-bantu benerin rumah. Nggak sendiri-sendiri banget, lah.”

“Oh ya alhamdulillah.”

“Iya.”

Here we go, the dreadful dead silence. Sesuatu yang tidak bisa dielakkan saat Andi harus melakukan video call dengan ayahnya. Andi harus berpikir keras memikirkan percakapan selanjutnya.

“Sudah ada kabar tentang vaksin, Yah?”

“Belum. Mungkin nanti setelah Lebaran. Tapi Ayah kontrol rutin terus ke dokter. Kamu sendiri?”

“Sama, belum dapat giliran juga. Bukan golongan prioritas juga.”

“Ya sabar aja. Kamu sudah bayar zakat kan ini?”

“Sudah, Yah.”

“Puasa lancar kan?”

“Alhamdulillah.”

“Jangan lupa teruskan tahajud dan zikir meskipun sudah di luar Ramadan.”

“Iya, insya Allah. Terima kasih.”

“Dan terus monitor gizimu, ya. Supaya kolesterolmu turun.”

Andi tersenyum miris. “Iya, Yah.”

“Segitu dulu ya, Ndi. Jangan lupa besok masih puasa. Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam, Yah.”

End video call.

(source: marcandangel.com)

Andi menghela nafas. Sudah lebih dari 1,5 tahun Andi tidak bisa pulang ke rumah Ali, ayahnya, yang tinggal di luar kota. Demikian pula Ali yang tidak bisa mengunjungi Andi, kegiatan rutin yang Ali lakukan paling tidak dua tahun sekali.

Alhasil, Ali memilih untuk sering melakukan video call dengan Andi, walaupun sebenarnya Andi lebih memilih untuk melakukan percakapan lewat panggilan telpon.

Maklum, Andi tidak pernah merasa percaya diri, kalau harus melihat dirinya sendiri, saat melakukan video call dengan lawan bicara, siapapun orangnya. Di lubuk hatinya yang paling dalam, Andi tidak pernah merasa nyaman dengan dirinya sendiri. Sudah berkali-kali konsultasi dengan psikolog, toh Andi masih berada dalam titik yang sama. 

It’s a work in progress, demikian yang selalu disampaikan beberapa psikolog yang Andi temui. Andi pun menyadari hal itu. Tetapi dengan segala keterbatasan di masa pandemi, Andi tidak punya pilihan lain. 

Andi teringat pada satu penggalan kisah di sebuah film pendek bagian dari antologi yang dia tonton minggu lalu. Ceritanya berkisah seputar seorang pria tuli yang menjalin kisah cinta dengan perempuan yang bisa berbicara dengan bahasa isyarat, meskipun indera pendengaran perempuan ini normal. Di satu adegan perempuan ini bertanya, “Apa kamu pernah bisa mendengar?”

Lalu lelaki tersebut menjawab, “Aku bisa mendengar, kok, kalau pasang alat bantu pendengaran.”

Terkejut, perempuan itu bertanya, “Lalu kenapa kamu tidak memasang alat itu? Mengapa kamu memilih hidup tidak nyaman seperti ini?”

Pria tersebut tersenyum. Dia memandang perempuan itu, lalu berkata dalam bahasa isyarat, “Justru dengan bahasa isyarat atau tulisan, aku bisa melihat kejujuran di mata orang yang sedang berkomunikasi dengan aku. Kamu tahu, orang yang bisa berbicara, lebih sering berbohong dengan penglihatan mereka. Apa yang mereka sampaikan lewat mata mereka, sering kali tidak sama dengan apa yang mereka ucapkan. Dengan berbicara tanpa suara, mau tidak mau kita menggunakan penglihatan kita untuk menyampaikan apa yang kita mau. Jadi kita harus jujur. Kalau sudah begitu, terasa nyaman, bukan?”

Perempuan tersebut terkesima melihat tutur kata lelaki yang mulai dicintainya itu. 

Demikian pula Andi, yang terdiam dan terpaku melihat adegan itu. Ada sedikit perasaan tertampar, bahwa dia pun sering mengucapkan hal yang tidak pernah dia maksud. Dan sekarang dia sadar, bahwa mata dan pandangan kita mengungkapkan banyak hal yang tidak selaras dengan apa yang kita ucapkan. 

“And that’s the reason why we should ask for forgiveness in this special day, right?”, pikir Andi dalam hati.

(source: medium.com)

Ponsel Andi tiba-tiba bergetar. Ada pesan masuk dari Ali, ayahnya.

“Andi, tadi Ayah lupa mau bilang. Sebisa mungkin kita tulus saat minta maaf di hari Idul Fitri ya. Kalau kita forward ucapan selamat hari raya, boleh saja, tapi niatkan juga untuk benar-benar minta maaf. Kita kan nggak tahu kalau ucapan kita pernah menyinggung mereka, atau kita lupa pernah berbohong sama mereka. Jadi jangan lupa itu ya, Ndi. Assalamualaikum.”

Andi tersenyum, menyadari bahwa hal seperti telepati ini sering terjadi. Apa yang Andi sedang pikirkan, bisa diketahui oleh ayahnya tanpa pernah diucapkan sebelumnya.

Dan saat Andi hendak membalas pesan ayahnya, muncul sebuah pesan lain. Hanya deretan nomer, tanpa nama.

Hi. Apa kabar, the great Andira?”

Andi terkesiap. Dia menegakkan badannya di sofa, memegang ponselnya tanpa berkedip.

Hanya ada satu orang yang pernah memanggil seperti itu. Hanya ada satu nama yang pernah membuat Andi tersenyum lebar saat menghabiskan waktu dengannya. Hanya ada satu manusia yang selalu Andi harapkan diam-diam. Hanya ada satu yang selalu mengingatkan Andi, nobody is never alone.

Andi buru-buru membalas. “Sorry, is this …”

Belum selesai Andi mengetik, muncul pesan lain.

I’m back in town. For good now.”

Andi menutup mulutnya yang terbuka saat membaca pesan tersebut. Muncul pesan lain.

Can we talk?”

Andi terpaku.

Phone call. Not video call. I know you don’t like it. May I?”

Andi tersenyum.

Andi is typing …

Leave a Reply