Memulai dengan Mendengar

Memulai dengan mendengar. Selamat tahun baru 2020! Read More

Advertisements

Kebencian

PERNAH suatu ketika selepas sesi ceramah diskusi di satu vihara di utara Jakarta, saya dihampiri salah seorang umat peserta. Siswi SMP, atau barangkali masih awal-awal SMA, yang rupanya punya beberapa pertanyaan, tetapi terlampau malu untuk menyampaikannya saat sesi berlangsung. “Ko, kalau ada seseorang yang jahat banget sama kita, padahal kita sudah berusaha ngomong baik-baik, tetapi tindakannya semakin tidak menyenangkan,… Read More

“Listen to Your Heart”

KALIMAT di atas sejatinya bukan sekadar judul tulisan Linimasa hari ini, melainkan salah satu judul lagu dari duo Roxette yang saya akrabi lewat siaran radio waktu masih SMA. Kemarin, Mas Nauval ngabarin kalau Marie Fredriksson–vokalisnya–meninggal dunia. Maka, tak banyak cerita untuk hari ini; saya ingin mendedikasikan halaman ini untuk mengenang Roxette, lewat beberapa judul lagunya… Read More

Manakala Enggan Memulai Kembali (gpp, kok…)

SALING berkenalan; mulai dekat; menjalin hubungan; larut dalam kemesraan; menghadapi perselisihan; bersepakat untuk berdamai dan saling memaafkan, atau justru memilih untuk mengakhiri kebersamaan dan saling berpisah–atau dalam banyak kasus, salah satunya menyerah, lalu pergi meninggalkan. Yang awalnya sendirian, menjadi berdua, kemudian kembali bersendirian. Sekilas, siklus di atas tampak sederhana. Namun aku, kita, sudah sama-sama tahu… Read More

Apa yang Kamu Lakukan Jika Dispensermu Bocor?

KITA sedang gemar-gemarnya membicarakan tentang kepatutan dan kepantasan akhir-akhir ini. Dengan mudahnya kita menuding orang lain bertindak tidak patut, atau pun tidak pantas mendapatkan apa yang telah mereka peroleh karena beragam alasan. Padahal yang dijadikan patokan hanyalah penilaian pribadi; belum tentu benar, dan pastinya cenderung berisik. Untuk setiap kalimat “Menurut saya, dia tidak pantas…” yang… Read More

Mengambil Jarak dari Penilaian Diri

Iya, kita memang menggantungkan kebahagiaan kita pada penilaian. Read More

Māna; Perbandingan yang Menjebak

…dan pada akhirnya, segala bentuk perbandingan diri hanyalah berujung pada kesombongan. Read More

Diperdaya Pikiran Sendiri

PERNAH mendengar ungkapan: “Makin dikejar, makin menjauh; makin dicari, makin sukar ditemukan; makin diinginkan, makin sulit didapatkan“? Tanpa kita sadari, itulah yang terjadi antara kita dengan pikiran kita sendiri. Yang kemudian lantaran keterbatasan pengalaman menyadari dan mengamati sesuatu, serta terbiasa menanggapi segala hal secara reaktif, kita pun melemparkan kesalahan kepada … nyaris apa saja. Keadaan,… Read More

Bucin, Realitas Elusif, dan Derita Sukarela

SEBUAH derita bukanlah penderitaan jika belum disadari dan diterima sebagai demikian. Derita–segala sesuatu yang memberatkan dan menyusahkan hati–biasanya baru disadari sebagai sebuah penderitaan setelah dampaknya mulai terasa. Padahal derita, seperti segala hal terkondisi lainnya, selalu memiliki penyebab dan tanda-tanda. Termasuk hal yang satu ini. Itu kata Chu Pat Kai (豬八戒), tokoh fiktif dalam kisah “Perjalanan… Read More

Ruang Publik: Ketika Aku dan Kamu Tak Harus Sepakat Terhadap Sesuatu tetapi Malah Diarahkan oleh Struktur

DI SUATU sore, tiga orang sedang berjalan-jalan di sebuah taman. Tidak terlalu luas, dan terdapat satu tiang bendera di tengah-tengahnya. Sesaat, bendera terlihat berkibar tertiup angin, dan memicu sebuah perbincangan di antara mereka. A: “Lihat, benderanya bergerak.“B: “Bukan bendera yang bergerak. Angin yang bergerak.“C: “Bukan bendera atau angin. Yang bergerak adalah pikiran.“ Aku berpikir, dan… Read More

Kita, dan Kesukaran untuk Berpikir (Kritis)

SETIAP orang memiliki akal sehat, atau setidaknya kesempatan asasi untuk diposisikan dan diperlakukan demikian, itu adalah sebuah fakta. Namun, bagaimana cara setiap orang berpikir dan mempergunakan akal sehatnya, itu adalah sebuah tanya. Kita seringkali dibuat terheran-heran, mengapa seseorang atau sekelompok orang bisa setuju serta sepakat pada sesuatu yang terang-terangan keliru, salah, atau bahkan ngaco dan… Read More

Terlalu Banyak Dipikir, Masalah Malah Jadi Kenyataan

“AKU berpikir, maka aku ada.” Ini kata René yang Descartes, bukan yang Suhardono. Sementara, tanpa disadari, inilah yang terjadi dalam kehidupan kita hampir tiap hari: “Aku memikirkannya, maka itu ada, dan terjadilah.” Sebuah masalah baru akan benar-benar menjadi masalah ketika terjadi. Namun, dengan mempersilakan masalah itu mewujud dalam bentuk pikiran-pikiran negatif, kegelisahan dan kekhawatiran yang… Read More

Capek: Berjeda dari Kekinian

“GOD does not play dice with the universe,” kata Einstein. Namun, if it does so (play dice with the universe), what would you do? Tuhan tidak berundi dadu untuk semesta. Namun, kalau dia ternyata memang melakukannya, kamu mau apa? Akan bagaimana? Iya. Saya sengaja menyitat kutipan tersebut secara serampangan dan di luar konteksnya‒fisika kuantum‒karena sedang… Read More

Yang Tersisa dari Ulang Tahun ke-5 Linimasa

IYA, ulang tahunnya memang sudah lewat, tanggal 24 Agustus kemarin, dan, iya, tulisan di Linimasa hari ini memang lumayan telat. Namun, ada yang kurang pas rasanya, bila perihal keduanya dibiarkan berlalu begitu saja. Jumat pekan lalu, Mas Nauval sudah “membuka peringatan dan perayaan” hari jadi Linimasa tahun ini. Sejumlah ucapan selamat–yang kecepetan–pun disampaikan lewat Twitter,… Read More

Jejak Digital: UAS Ada di Semua Agama

NIAT menulis tentang ini (di blog pribadi) berawal dari sebuah pertanyaan sederhana: “Buddha pernah bilang sesuatu, atau ngasitau gimana seharusnya seseorang berbicara waktu ceramah, gak sih?” Pertanyaan ini memang dilontarkan dan dibahas secara internal di antara sesama Buddhis lewat grup WA. Dipicu beredarnya video tanya jawab majelis kajian Ustaz Abdul Somad (diunggah ke Facebook 15… Read More