Diganggu Suara

SUARA berkecap (bukan kécap), yaitu ketika seseorang mengunyah makanan dengan antusias tanpa mengatupkan bibir, alias dengan mulut terbuka. Suara itu muncul ketika lidah–yang basah–terlepas dari langit-langit mulut. Terdengar berulang, dan tentu saja nyaring.

Suara berserdawa. Setelah makan, gas terdorong keluar beserta aromanya. Dalam beberapa komunitas budaya, berserdawa adalah tanda kepuasan, kenikmatan dari bersantap, sekaligus ekspresi terima kasih kepada si pemberi makanan (karena sudah memberikan hidangan senikmat itu). Namun, ada sejumlah komunitas lain yang berpendapat sebaliknya. Begitu pula dengan suara menyeruput minuman.

Suara berdecak, tetapi bukan decak kagum, melainkan ekspresi rasa kesal. Kita pasti tahu bahwa seseorang sedang kesal, atau merasa tidak suka terhadap sesuatu jika dia berdecak. Tak hanya dari orang lain, kita sendiri pun bisa saja mengeluarkan suara tersebut tanpa sadar … dan membuat suasana jadi kurang nyaman.

Suara berdengus, yaitu ketika seseorang berusaha mengembuskan napas lewat hidung dengan keras dan kencang, seolah-olah ingin mengenyahkan sesuatu karena merasa gatal atau tidak nyaman. Bisa debu, rambut hidung rontok, upil, ingus, serangga, dan sebagainya.

Suara berludah dan mendahak. Tahu sendiri, kan, ya. Suara yang dihasilkan ketika seseorang berusaha mendorong sesuatu–lendir–dari area pangkal lidahnya. Tak ada yang salah dari aktivitas ini, selama tidak dilakukan secara terbuka di depan umum lengkap dengan hasil akhirnya.

Suara menyedot udara dari sela atau lubang gigi. Biasanya dilakukan setelah makan, ketika ada serat daging atau secuil sayuran kasar tersangkut di celah-celah gigi. Aktivitas ini dilakukan untuk mencopot potongan makanan tersebut dari posisi awalnya.

Suara mengembuskan napas lewat mulut untuk menyuruh diam, tidak berisik. Karena bertujuan untuk menghentikan kebisingan, suara “ssst…” tersebut justru terdengar lebih nyaring, dan justru menambah keributan. Makin keras embusan napasnya, makin kencang suaranya.

Bagi kita yang kerap terganggu dengan bunyi-bunyian tersebut, selalu timbul perasaan tidak nyaman yang sulit dijelaskan. Pokoknya tidak suka, saja. Apabila sudah tak tertahankan, kita pun bisa memberikan respons yang tak kalah negatifnya. Mulai dari ekspresi wajah, sekadar raut muka, sampai menegur yang bersangkutan.

Pertanyaan pertama: Mengapa kita terganggu?

Ada yang mengaitkannya dengan standar nilai dan kepatutan sosial, lantaran bunyi-bunyian tersebut dibuat dan didengar di ruang umum. Bagi pelaku, bunyi-bunyian tadi mungkin dianggap wajar karena begitulah kebiasaan yang terjadi di lingkungannya. Sebaliknya, bagi orang lain yang terpaksa harus mendengar, tindakan tersebut dinilai tidak sopan dan mengusik.

Sayangnya, penilaian yang demikian berpotensi menarik masalah lebih jauh; memunculkan ilusi derajat. Dalam lingkungan pergaulan modern masa kini, si pelaku bisa saja dianggap kampungan, tidak terdidik, berperilaku miring, berkelakuan jorok, beretiket rendah, dan menjadi cibiran lebih lanjut. Padahal, si pelaku mungkin tidak tahu bahwa kebiasaannya tersebut bukanlah sesuatu yang lazim bagi orang lain. Dia tak sepenuhnya salah dalam ketidaktahuannya tersebut.

Lalu, pertanyaan kedua: Bagaimana menyikapi perasaan terganggu itu?

Orang lain yang mengeluarkan suara, tetapi kita yang merasa terganggu dan merasa tidak nyaman. Wajar bila kita merasa sebagai korban, sebagai yang tertimpa dan berada di situasi tidak menyenangkan. Kita dibuat susah oleh suara, sementara si pemilik suara tersebut tetap bersikap biasa-biasa saja.

Apakah perasaan terganggu itu sedemikian penting untuk diperhatikan? Idealnya, akan lebih baik bila waktu, tenaga, dan perhatian yang kita miliki saat itu diarahkan kepada hal-hal produktif serta bermanfaat. Kalau tidak bisa, ya tidak apa-apa. Silakan beranjak, menyingkir dari situ. Sebab pada dasarnya kita tidak memiliki tanggung jawab moral untuk mendidik orang lain begitu saja. Lagipula, apa hak kita memberikan pengajaran kesopanan di depan umum?

Apakah sebaiknya kita lampiaskan dengan marah-marah, atau kita tinggalkan saja?

Kembali mengacu pada pandangan di atas, ada tenaga dan waktu yang kita curahkan saat marah-marah. Emosi dan suasana hati pun ikut berubah karenanya. Silakan ditanyakan kembali kepada diri sendiri, apakah hal itu berfaedah?

Meninggalkannya begitu saja merupakan salah satu respons yang alamiah. Sayangnya, hal ini tidak bisa dilakukan ketika Anda sama-sama terjebak dalam satu ruang dengan si pelaku. Beruntung ada earphone, yang bisa membantu kita terhindar dari bunyi-bunyian tersebut. Apabila tidak punya, ya, mohon maaf, saatnya kita mengamati batin kita sendiri.

Apakah kita mampu mengabaikannya? Pertanyaan ini relatif susah dijawab. Kemampuan mengabaikan sesuatu yang mengganggu memiliki beberapa dimensi. Termasuk aspek psikologis, dan kekuatan/kebebalan sendiri.

Dari perspektif psikologi, ketidaknyamanan itu disebut misophonia. Khususnya yang sudah mencapai kadar berat. Secara alamiah, orang-orang dengan misophonia akan mencari cara untuk terhindar dari gangguan bunyi tersebut. Ibarat berusaha melarikan diri, mereka akan merasa gelisah dan bisa saja memilih untuk keluar ruangan, mengenakan pengedap suara, atau mencari cara lain agar terpisahkan dari bunyi-bunyian tersebut berupa pengalihan. Termasuk dengan menutup telinga dan sambil bersenandung sendiri. Semua itu dilakukan sampai bunyi-bunyian berlalu.

Uniknya, para pemilik misophonia hanya terganggu apabila bunyi tersebut berasal dari orang lain. Dia tidak akan seterganggu itu jika bunyi yang sama berasal dari dirinya sendiri. Belum ada studi mendalam lebih lanjut tentang ini, dan misophonia baru dianggap sebagai bentuk sinestesia (tautan indra) antara suara serta perasaan. Kendati demikian, tercatat belum ada penyebab pasti dari munculnya kondisi misophonia tersebut.

Di sisi lain, pendekatan berbeda akan diambil oleh para meditator–orang-orang yang berlatih meditasi. Alih-alih mengalihkan perhatian, atau berkeras hati menahan ketidaknyamanan yang timbul, mereka akan berusaha melalui dan mengamati bunyi-bunyian tersebut. Hanya mengamati, menonton perubahan batin. Tidak semudah kedengarannya, memang, sebab pengamatan dilakukan dengan apa adanya. Tanpa menganalisis, tanpa menilai, tanpa membubuhkan apa-apa. Konon, di level paling halus, sang meditator dapat menyadari kemunculan sesuatu yang asalnya terasa netral, hingga kemudian berangsur-angsur berkembang menjadi perasaan tidak nyaman tersebut. Lewat proses pemahaman yang tepat, batin mereka tak lagi mudah digoyahkan oleh perasaan tak nyaman dari bunyi-bunyian tersebut. Tidak reaktif, tidak meledak-ledak. Kemunculan sampai hilangnya respons batin tersebut terlihat dengan gamblang. Ibarat Neo dari “The Matrix” atau Flash yang mampu menghindari peluru dan membiarkannya lewat tanpa perlu melakukan apa-apa.

Apabila tak lagi terganggu dengan suara–asupan indra pendengaran–tersebut, hidup kita sedikit lebih tenteram. Bukan lantaran menghilangkan sumber suara, atau menghilangkan perasaan maupun kemampuan merasa, melainkan kokoh, tak tergoyahkan. Energi dan perhatian pun bisa dialihkan untuk hal-hal lain yang lebih penting.

[]

“10 Annoying Sounds People Need to Stop Making”
“Mipsohonia: Triggers & Management”

Advertisements

Shio di 2019 (4)

SHIO adalah soal keteraturan. Selalu ada pola yang tersedia untuk dicermati, dan dibaca secara garis besarnya. Deviasi atau penyimpangan-penyimpangan, bahkan perbedaan yang timbul pun biasannya tetap berkaitan dengan catatan utama. Kadarnya saja yang berbeda. Kecuali jika terjadi perubahan seketika, baik yang dapat dianggap sebagai anomali, atau–dalam bahasa sehari-hari–takdir.

Seperti horoskop ala barat, urutan shio tidak akan pernah berubah. Juga sama-sama berjumlah 12. Bedanya, horoskop barat didasarkan pada rasi bintang dan posisinya di langit, sehingga perubahan selalu terjadi dalam rentang per bulan. Itu sebabnya Ophiuchus bisa hadir menjadi zodiak ke-13, meskipun tampaknya tidak dipakai juga.

Lambang binatang dalam shio memang berjumlah 12. Perubahannya berlangsung setiap tahun, mengikuti penanggalan Imlek. Sederhananya, antara para pemilik shio tikus pasti memiliki selisih usia sejauh 12 tahun. Namun, satu siklus shio sebenarnya berlangsung lebih lama dari itu. Yakni per 60 tahun, lantaran memiliki unsur berbeda-beda. Sebagai contoh, Imlek tahun 2019 bershio babi tanah, maka shio babi tanah baru akan terjadi kembali pada Imlek tahun 2079! Situasi kehidupan tentu sangat berbeda, begitu juga kecenderungan-kecenderungan peruntungan yang bakal terjadi. Katakanlah, teknologi kesehatan kian maju, kesejahteraan global kian meningkat, dan sebagainya. Ramalan pun tak akan pernah sama. Sekali lagi, yang ada hanyalah kecenderungan-kecenderungan.

Hari ini, mari kita tak usah berberat-berat pemikiran membahas tinjauan filosofis dan sosiokultural atas shio. Pasalnya, masih banyak yang bahkan salah mengira shionya sendiri. Sekali lagi, kuncinya adalah pergantian tahun Imlek. Biasanya berlangsung di akhir Januari hingga pertengahan Februari. Jadi, perhatikan tanggal lahir. Apabila ragu, gunakan saja penyesuai penanggalan, alias konverter.

Berikut sedikit bocorannya, silakan ditambah/dikurang 12 tahun.

Tikus1984, 1996, 2008…
Kerbau/sapi1985, 1997, 2009…
Macan1986, 1998, 2010…
Kelinci1987, 1999, 2011…
Naga1988, 2000, 2012…
Ular1989, 2001, 2013…
Kuda1990, 2002, 2014…
Kambing1991, 2003, 2015…
Monyet1992, 2004, 2016…
Ayam1993, 2005, 2017…
Anjing1994, 2006, 2018…
Babi1995, 2007, 2019…

Begitu seterusnya.


Ayam

Lingkungan sekeliling berpengaruh besar bagi peruntungan para pemilik shio ayam kali ini. Dikhawatirkan, situasi saat ini tidak ideal untuk segala aspek. Ingin maju, terhalang-halangan keadaan. Ingin bertahan, malah diusik. Pokoknya tidak menyenangkan, deh. Untungnya, faktor ini tidak sampai menyebabkan kerugian yang signifikan, tetapi efeknya, rezeki terasa semakin sukar dicari. Sabar, ya…

Suasana di tempat kerja bisa menjadi agak parah, sih. Karena terlalu sering “ditusuk dari belakang” oleh rekan sekantor, akhirnya berdampak buruk para reputasi profesional. Kita dianggap tidak kompeten oleh atasan, kita merasa tidak nyaman bekerja di sana, dan bisa berpikir untuk berhenti atau pindah tempat tanpa pemikiran dan persiapan yang matang. Salah satu langkah yang disarankan tetaplah bekerja dalam ketenangan, cermat mengamati, dan disikapi dengan sebaik mungkin. Karena kegelisahan bisa membuat terasa tak tentu arah. Ambillah sejenak waktu untuk melihat diri sendiri dengan jernih, jangan langsung menarik diri. Pada akhirnya, bagaimanapun juga, berpindah tempat kerja atau memulai bisnis baru akan kurang tepat tahun ini. Terutama jika pendorongnya adalah perasaan kurang nyaman di pekerjaan sebelumnya.

Bagi para cowok bershio ayam, ada kecenderungan bertemu dengan cewek maupun calon pasangan yang keras kepala dan kuat kemauan. Ini berpotensi jadi masalah. Sebab sedikit banyaknya, calon pasangan yang bisa menunjukkan kemandirian, atau sikap tidak bergantung pada pasangan, bisa menimbulkan rasa terusik. Ada ego yang terusik. Di sisi lain, teman dan keluarga dapat membayang-bayangi hubungan yang terjalin. Sementara bagi yang telah berpasangan, potensi berselisih agak meningkat di tahun ini. Sayangnya, bagi para cewek bershio monyet, barangkali belum akan berkesempatan ketemu partner kencan dalam sementara waktu.

Amit-amit jangan sampai terjadi, sih, cuma di tahun ini akan lebih banyak peluang sakit gigi, selain sakit hati. Begitu pula dengan peluang digigit binatang, mudah-mudahan hanya kelas serangga dan yang lebih kecil. Guncangan-guncangan yang diharapkan hanya berdampak kecil.

Anjing

Bisnis para anjing akan stabil di tahun ini. Akan tetapi, jangan memulai sesuatu yang baru dulu. Kecuali jika tujuannya untuk belajar, atau untuk waktu yang singkat. Kalau panjang-panjang, takutnya bisa berakhir kegagalan, dan menyebabkan beban tambahan yang mestinya bisa dihindari. Belum lagi peluang dikhianti partner sendiri, nyesek banget, kan? Paling parah bisa menyebabkan kebangkrutan yang sama sekali tidak bisa diprediksi.

Banyak hal yang sebenarnya bisa selesai dengan lancar, tetapi masalah-masalah sampingan tetap tak bisa dihindari. Kalau sudah begini, selalu diingat kalau backup plan bisa sangat diperlukan, dan menghindari efek gempuran.

Asmara para anjing rada suram, sih, tapi tetap dengan harapan baik bahwa semua itu tak akan terjadi, ya. Soalnya ada potensi berpisah, dan peruntungan asmara lanjutan yang tidak terlampau baik sesudahnya. Masuk ke tahap mencari-cari lagi. Melelahkan, memang. Bisa saja menemukan, dan mencoba kencan dengan orang dari lingkungan kantor atau tempat kerja. Hanya saja, kalau sudah ada rasa, jangan buru-buru. Amati kecocokannya, lalu biar dibangun pelan-pelan. Supaya mengurangi efek buruknya. Seperti, tidak akan ada terobosan asmara di kemudian hari.

Soal kesehatan, setidaknya lebih baik dari tahun sebelumnya. Tetap dengan perhatian pada kaki, tangan, dan organ gerak. Hindari cedera-cedera yang sebenarnya ringan, tetapi mengganggu aktivitas keseharian.

Babi

Para pemilik shio babi di tahun ini ibarat memasuki ruang penyimpanan emas, baru ruangannya sih. Semacam brankas gede, begitu. Tandanya, ada banyak pintu untuk mendapatkan peningkatan rezeki. Selain dari bisnis dan usaha, juga dari investasi, atau objek spekulasi. Khusus yang investasi dan spekulasi, naik turunnya relatif besar. Bisa-bisa lumayan mengejutkan. Di sisi lain, siapkan anggaran untuk kesehatan. Kayaknya ada peluang untuk tambahan pengeluaran terkait itu.

Kinerja perusahaan memang akan maju, dan boleh banget melakukan pembesaran dan pengembangan, atau menjajaki bidang baru. Terlepas dari itu, dinamika dalam karier dan pekerjaan akan relatif ekstrem. Bahkan bisa berbuntut masalah terhadap kolega dan partner.

Untuk urusan asmara pun juga naik turun. Bagi para cowok, urusan romantisme akan datar-datar saja, sedangkan bagi cewek akan sebaliknya. Dalam hal hubungan, masalah justru muncul dari komunikasi. Baik kepada pasangan, maupun kepada keluarga. Bisa sampai menimbulkan perselisihan. Di sisi lain, karena perubahan pola pergaulan atau kesibukan, teman-teman aktif di tahun ini tidak sebanyak tahun lalu. Ada yang muncul dan aktif ngumpul, ada yang tenggelam dan malah ngilang. Ya, dinikmati saja.

Akan cenderung banyak mengalami sakit, “untungnya” yang berskala kecil. Termasuk sembelit. Kemudian waspadai luka yang bisa dihasilkan dari logam. Khusus wanita, mudah-mudahan dijauhkan dari gangguan khusus kewanitaan.

Semoga semua hal-hal positif menjadi kenyataan.

恭喜發財, 豬事勝意!

Selamat Imlek! Semoga menjadi tahun yang penuh keberhasilan, kemudahan, kebugaran, dan kebahagiaan.

[]

Shio di 2019 (1): Tikus, Kerbau/Sapi, Macan.
Shio di 2019 (2): Kelinci, Naga, Ular.
Shio di 2019 (3): Kuda, Kambing, Monyet.

Shio di 2019 (3)

SEBUAH polemik superklasik: Tak perlulah bertanya tentang akurasi atau ketepatan ketika berbicara tentang peruntungan shio, maupun versi-versi zodiak lainnya. Selain sia-sia, juga bisa membuat kita kecewa jika sebegitu percayanya.

Seperti dalam tulisan pertama soal ini, saya lebih suka menyebutnya sebagai sekumpulan kecenderungan. Tanpa kepastian dan tanpa kewajiban untuk terlaksana, yang ada hanyalah berupa gambaran potensial. Sebab dari seribu perhitungan, akan ada seribu kemungkinan. Tidak sedikit di antaranya yang justru saling bertentangan.

Mana yang harus dipercaya?

Tidak ada. Itu menurut saya. Mending disikapi layaknya selingan, hiburan, atau sekadar pengingat agar tetap waspada dan berhati-hati dalam menjalani kehidupan.

Sebagai bukan peramal, ahli nujum, suhu, atau medium kegaiban, saya tidak punya kemampuan menerawang masa depan. Narasi peruntungan shio yang dibagi di sini bersumber dari almanak.

Almanak “Tongshu”. Semacam primbon tahunan dan buku pintar metafisika. Selain berisi kalender Imlek dan Masehi setahun lengkap dengan detail karakteristik setiap harinya, juga memuat soal arah baik/buruk, waktu baik/buruk (untuk menikah, meresmikan rumah, potong rambut, dan lain-lain), mengenali pertanda di rumah, serta masih banyak lagi. Terbit setiap tahun, dan bisa didapatkan di toko-toko perlengkapan sembahyang Tionghoa.
Salah satu contoh almanak Tionghoa.

Biasanya, buku almanak (通書) diterbitkan setiap tahun dengan pakem-pakem berbeda. Cukup tebal, karena peruntungan shio bukanlah konten utama satu-satunya.

Kini, sejumlah materi utama dalam almanak, ditambah beberapa metode dan konsep ramalan sudah tersedia secara daring. Pengelolaan data memudahkan proses pembacaan pola dan penghitungan probabilitas dasar. Formulasinya sudah ajek. Namun, tetap belum mampu mengkalkulasi keberuntungan/kesialan secara presisi.

Makanya, sekali lagi, jangan dipercaya buta, apalagi sampai melekat. Santai saja.

Kuda

Rezeki dan harta akan berdatangan bagi para pemilik shio kuda di tahun babi tanah. Selain berupa peningkatan posisi dan gaji, investasi yang dijalankan beberapa waktu terakhir ini akan mulai memberikan hasil. Lalu, karena semua hal berjalan baik dan membuahkan reputasi positif, lingkar sosial dan pergaulan juga akan bertambah. Otomatis biaya sosial juga bertambah. Situasi ini tidak sampai mengganggu keuangan sih, tetapi tetap perlu diperhatikan juga. Kalau hura-hura dibayarin mah oke-oke aja.

Lebih jauh lagi, peluang untuk memperluas bisnis bisa jadi pertimbangan. Sementara untuk para pekerja, lagi-lagi tetap harus menjaga komunikasi. Meskipun sedang cemerlang-cemerlangnya di tempat kerja, jangan sampai bersikap arogan dan merasa paling benar sendiri. Tidak ketinggalan, kegemilangan dalam pekerjaan bisa membuahkan tanggung jawab lebih besar, mesti gigih.

Nah, urusan asmara juga penuh warna. Orang-orang yang kamu temui, dan berpotensi ditaksir, adalah mereka dengan tipe-tipe idamanmu. Banyak alternatif untuk menentukan pilihan, asal dibawa santai dan tidak gegabah. Satu masalah, saking bagusnya peruntungan asmara di tahun babi tanah ini, kamu bisa tergoda dan jatuh dalam hubungan segitiga. Bisa kamunya yang menjadi subjek, atau malah kamunya yang jadi objek. Karena rasa suka kan idealnya terjadi dua arah. Iya kalau kamunya juga masih sendiri, bagaimana kalau si dia ternyata tidak sendiri? Mana yang mau diikuti? Masuk dan jadi bagian dalam kehidupan asmara orang lain, walau dia tipe idaman banget, dan berpotensi drama; atau hidup tenteram dan menjatuhkan pilihan ke figur lain yang mungkin tak kalah berkualitasnya.

Pikiran tenang, badan juga senang. Jauh dari penyakit dan gangguan kesehatan. Cuma, karena banyak aktivitas sosial dan keseruan yang dilalui sepanjang tahun, hati-hati bisa alami kelelahan. Atur waktu dengan baik, stay balanced. Jangan sampai istirahat kurang, asupan makanan pun tidak jelas. Salah-salah, peruntungan kesehatan di tahun mendatang malah jadi kacau.

Kambing

Pertama, akan ada peningkatan, baik gaji atau penghasilan, tetapi tidak sesuai ekspektasi. Jadi, sebagai solusi, mungkin lebih baik mengelola harapan atau mencoba mengamati yang didapatkan, untuk kemudian berusaha menerima. Kalaupun tidak cocok, sebaiknya dipikiran pelan-pelan guna mendapatkan solusi terbaik. Apabila bermain insturmen spekulatif, mesti tahu kapan harus berhenti. Jangan sampai menyesal kemudian, karena yang dimenangkan pasti akan hilang juga. Masalahnya, ketika itu terjadi bisa memengaruhi simpanan yang telah dimiliki selama ini. Bukannnya berkontribusi positif, malah merugikan lebih jauh. Selebihnya, harap jangan salah langkah ketika berurusan dengan pemerintahan. Pastikan semua syarat dan ketentuan sudah dipahami. Lebih baik berurusan yang aman.

Karier akan menanjak selangkah demi selangkah. Terutama bagi yang bekerja di sektor pelayanan publik, atau di pemerintahan, sebab ada peluang untuk mengemukakan gagasan dengan lebih jelas, dan sesuatu yang inovatif. Apalagi jika bisa diterapkan maksimal dan baik, pasti akan mendapatkan apresiasi dan pengakuan. Pokoknya, kalau butuh bantuan jangan diam-diam saja.

Soal asmara agak bergejolak, nih. Perasaan yang sudah ada, bisa kehilangan kepekatannya, dan akhirnya malah digelayuti rasa kesendirian. Tidak baik, lho, terlalu banyak memikirkan yang tidak-tidak tentang pasangan kita. Belum tentu yang dipikirkan itu benar adanya. Siapa tahu hanya ketakutan tak berdasar, atau malah karena dikipasi oleh orang-orang lain. Patut diwaspadai. Karena bisa memperbesar masalah, atau meningkatkan pertikaian. Selain itu, juga cenderung mudah berselisih dengan orang lain.

Sekali lagi, jangan overthinking, bisa bikin tidur terganggu. Nanti bisa merembet ke masalah kesehatan yang lain. Karena kurang tidur kan mengkondisikan gangguan kesehatan, termasuk daya tahan tubuh. Usahakan hindari bepergian ke tempat-tempat jauh, atau keluar malam hari.

Monyet

Tampaknya, tahun babi tanah adalah tahunnya para pekerja kreatif. Dari beberapa shio sebelumnya, bintang kecemerlangan dalam karier dan kemampuan personal jatuh pada orang-orang yang berkecimpung di bidang tersebut. Begitu pula bagi para pemilik shio monyet yang aktif di sektor itu. Meskipun demikian, tetap ada potensi masalah dan hambatan, jadi akan sangat baik jika mempersiapkan kedua tangan (baca: rencana cadangan) untuk mengantisipasi segala kondisi. Tidak ada salahnya juga meminta bantuan teman atau kerabat yang lebih tua, serta jangan terlampau berharap pada usaha sampingan, ya. Dibiarkan saja dahulu, tetapi jangan bergantung.

Mood dalam pekerjaan agak menurun, lantaran merasa selalu berjuang sendiri dan tidak ada yang mendukung atau membantu. Padahal bisa jadi karena komunikasi terhadap atasan maupun bawahan yang kurang maksimal, sehingga menyebabkan kendala serta ketidaknyamanan di berbagai aspek. Selain itu, pokoknya fokus bekerja, menyelesaikan tugas dan tanggung jawab sebaik-baiknya, tak perlu terpengaruh pandangan orang lain yang mungkin malah menyulitkan kita sendiri.

Para pemilik shio monyet akan cenderung susah bertemu calon pasangan yang diharapkan. Kalaupun engage dengan seseorang, entah bagaimana pasti akan melihat sisi-sisi negatifnya, situasi yang malah bikin tidak bakal bersama. Belum lagi kendala asmara dari pandangan keluargalah, sikap yang kurang dewasalah, dan sebagainya. Sedangkan bagi yang sudah berpasangan, akan cenderung jarang bertemu karena kesibukan masing-masing.

Ingat, ya. Kalau tidak peduli dengan penampilan sendiri, siap-siap saja bakal dihujani kritik orang-orang. Sebab, salah-salah bisa berpengaruh pada suasana hati. Badan yang sehat-sehat saja, nanti malah terikut kena dampaknya. Jika terasa ada gangguan-gangguan kesehatan, mending diperiksa dahulu dengan tenang. Apabila stres dan berbeban pikiran, berjalan-jalan itu perlu, lho. Atau bisa juga coba geluti hobi baru.

Semoga semua hal-hal positif menjadi kenyataan.

[]

Shio di 2019 (1): Tikus, Kerbau/Sapi, Macan.
Shio di 2019 (2): Kelinci, Naga, Ular.

Shio di 2019 (2)

SUDAH tiga shio pertama (tikus, kerbau/sapi, dan macan) pekan lalu, kini giliran shio-shio berikutnya. Tetap dipecah-pecah, selain supaya tidak kepanjangan dan scroll layar tak berkesudahan, biar gampang dan enak aja.

Cuma, kayaknya masih banyak yang belum ngeuh soal urutan shio-shio, jadi seakan-akan menanti yang belum pasti. Berikut daftarnya.

Tikus
Kerbau/sapi
Macan
Kelinci
Naga
Ular
Kuda
Kambing
Monyet
Ayam
Anjing
Babi

Sebelum mulai membahas kecenderungan-kecenderungan yang bisa saja dialami oleh para pemilik shio-shio di atas, saya sebenarnya masih #penasaran dengan konsep pengurutan. Mengapa diawali shio tikus dan ditutup dengan shio babi? Mengapa naga yang merupakan binatang legenda sebagai perlambang keberuntungan dan kebaikan ditempatkan di urutan lima? Itu pun berdempetan dengan shio ular, yang sama-sama bertubuh panjang.

Sejauh ini, baru pernah mendapatkan penjelasan tentang asumsi atas simbol-simbol hewan tersebut. Selebihnya, hanya ada cerita mitos tentang perlombaan dari Kaisar Langit—atau Buddha dalam versi lainnya—untuk menentukan posisi penghormatan bagi ke-12 hewan tersebut. Secara tersirat, kisah mitos tersebut barangkali berkaitan dengan perhitungan astronomi, yang justru baru dibuat belakangan. Yakni setelah pengurutan ke-12 shio ditentukan.

Tidak menutup kemungkinan, penentuan 12 shio justru didasarkan pada anggapan-anggapan mengenai pembagian waktu dalam sehari semalam. Jika kita mengenal sehari terdiri atas 24 jam, astronomi kuno Tionghoa membagi sehari semalam menjadi 12 rentang waktu. Satu rentang waktu kurang lebih sama dengan dua jam. Rentang pertama (子) dimulai pukul 11 malam hingga semenit sebelum pukul 1 dini hari.

Baiklah. Langsung lanjut ke shio, ya.

Kelinci

Naik turunnya peruntungan di 2019 tidak akan terlampau drastis. Di tahun babi tanah ini, bisnis atau usaha akan mengalir stabil, tetapi tetap fokus dan jangan terlampau hanyut dalam aktivitas spekulasi atau investasi skala menengah ke besar. Istilahnya, terlalu gorengan dan hanya menghasilkan uang panas. Sebab semua yang dilakukan terlampau agresif, pasti akan memberi dampak yang besar pula.

Di sisi lain, 2019 jadi tahun yang baik bagi para pemilik shio kelinci yang berkiprah di bidang kreativitas dan budaya. Karena akan ada banyak momen untuk menampilkan kemampuan, bakat, dan menunjukkan karakteristik. Peluang untuk mencuat. Jadi, sekalian manfaatkan kesempatan ini untuk berinspirasi, berkreasi tanpa batas, dan siap-siap mendapatkan apresiasi dari banyak orang. Di luar dari itu semua, apabila punya ambisi, tentu harus belajar berlari. Jangan setengah-setengah. Tetap jangan lupakan bangun fondasinya. Bisa berupa motivasi, kemampuan, aspirasi, dan sebagainya.

Soal asmara, kelinci cowok lebih beruntung di tahun babi tanah. Kenapa? Karena tanpa kencan yang ribet atau berpanjang-panjang episode, para cowok bisa ketemu calon pacar yang ideal atau sesuai kriteria. Tidak hanya urusan asmara yang berbunga-bunga, si pasangan tadi juga bisa memperluas jaringan dan relasi. Bisa membantu bisnis atau usaha, maupun aspek-aspek lainnya. Bagaimana dengan yang cewek? Ya, pelan-pelan sajalah.

Cenderung tidak akan terserang penyakit-penyakit besar. Kondisi mental juga bagus, termasuk suasana hati atau mood, dan perasaan dalam aktivitas keseharian. Hanya saja, perhatikan tenggorokan dan saluran pernapasan agar terhindar dari radang.

Naga

Kalau tahun babi tanah nanti, bisa dibilang banyak teman, banyak peluang rezeki. Karena akan ada banyak momen ketika kehadiran teman-teman bisa membantu dalam pekerjaan atau usaha. Bukan bantuan secara material, tetapi lebih kepada masukan-masukan, informasi internal, dan pandangan yang bisa bermanfaat untuk memaksimalkan kesempatan secara positif. Karena itu pula, potensi kerja sama dan kerja sama aktif akan bertambah. Meskipun begitu, jangan terlalu bernafsu bermain spekulasi apalagi judi, bisa merugikan dan menghilangkan harta. Tetap berhati-hati.

Keberuntungan karier dan capaian dalam bisnis ada di tahun ini. Asal tidak terburu-buru dan cermat memperhitungan segalanya, agar tidak mendapatkan gula tetapi malah kehilangan pabriknya. Sedangkan bagi para pekerja akan berpeluang naik jabatan, mendapat promosi, atau mendapatkan apresiasi dari atasan. Namun, waspadai masalah komunikasi dengan atasan dan bawahan untuk menghindari masalah-masalah remeh yang sebenarnya tidak perlu ada. Bisa karena asumsi, perbedaan latar belakang, tantangan-tantangan pekerjaan yang dihadapi, serta lain sebagainya. Termasuk mereka yang menganggap kamu arogan setelah naik jabatan.

Sayangnya, urusan asmara agak tersendat. Masalah utamanya bukan soal calon gebetan yang disabet teman atau kenalan sendiri, melainkan dari orang-orang lain di luar lingkar pertemanan. Ya, mungkin cuma perkara waktu saja; cepat, lambat, dan seterusnya. Namun, yang paling penting kan bukan berpacaran atau berpasangannya saja, tetapi kecocokan. Daripada buru-buru jadian lalu bermasalah dan menyesal, mending jalani apa yang ada. Sebagai alternatif, barangkali bisa dibantu dikenalkan oleh orang lain, siapa tahu cocok. Terutama kalau dikenalkan oleh kerabat yang lebih tua. Bukan dijodohkan, sih, ya. Lebih kepada menjajaki kesempatan. Kalau sudah ada sosoknya, ya bergaul dan berteman pelan-pelan, untuk menumbuhkan perasaan cocok. Bagi yang sudah punya pasangan, tetap cermati hubungan. Jangan sampai mood turun, dan ada kesan tidak saling dihiraukan.

Untuk kesehatan, perhatikan area perut. Coba kurangi deh makan atau minum yang dingin-dingin. Serta waspada terhadap cedera, terutama jika banyak beraktivitas di luar ruangan, apalagi kegiatan-kegiatan ekstrem.

Ular

Maaf-maaf, nih, ya. Peruntungan ular kurang bagus secara global di tahun babi tanah. Namun, jangan terlalu dipikirkan, ya. Tetap berusaha semaksimal mungkin, dan bersiap dengan semua kondisi yang bisa terjadi. Dimulai dengan adanya potensi pengeluaran besar-besaran, dan gangguan pada sumber penghasilan. Makanya, investasi besar dan bisnis baru sangat tidak disarankan, karena lebih mungkin keliru dan gagalnya.

Promosi dan kenaikan gaji tetap mungkin terjadi, tetapi berbarengan pula dengan bertambahnya beban serta tekanan pekerjaan. Karena itu, kalau ada kesempatan berganti pekerjaan, bisa dipikirkan matang-matang untuk pindah dengan segala konsekuensinya, atau tetap bertahan di tempat yang lama, juga tetap dengan semua kondisi yang terjadi.

Begitu juga soal asmara dan perasaan, ada yang bisa berubah menjadi negatif. Dengan masalah komunikasi, menumbuhkan pertikaian, atau malah memperbesar permusuhan. Sedangkan bagi yang sedang mencoba menjajaki hubungan, masalahnya bukan soal perasaan, tetapi gangguan di tengah-tengah proses. Termasuk sampai harus berhadapan dengan keluarga dan teman-temannya. Sudah cukuplah cedera hanya bisa terjadi di pinggang, tangan, kaki, dan sendiri. Jangan sampai cedera hati gara-gara ini.

Semoga semua hal-hal positif menjadi kenyataan.

[]

Shio di 2019 (1): Tikus, Kerbau/Sapi, Macan.

Shio di 2019 (3): Kuda, Kambing, Monyet.

Shio di 2019 (1)

HEHEHEHEHE, iya deh, nanti. 😁”

Itulah jawaban saya sepekan lalu, waktu diminta seorang teman untuk “membacakan” peruntungan shionya di tahun Imlek yang akan datang.

Permintaan itu tak kunjung saya lakukan hingga sekarang. Selain karena belum sempat, tentu saja lantaran saya bukan seorang suhu, atau peramal dengan kemampuan metafisika untuk itu. Lagipula, meski telah terpapar konsep shio sejak kecil, saya lebih sreg melihatnya sebagai statistika kecenderungan yang sudah tercatat sedemikian lama. Jadi, bukan ramalan, bukan pula gambaran nasib yang bakal terjadi di masa depan.

Seperti dalam tulisan Linimasa beberapa tahun lalu, yang melatarbelakangi narasi shio adalah prinsip hukum lima elemen. Dari skema tersebut, dihasilkan tiga kondisi dasar: baik, netral atau biasa saja, dan buruk. Pengkondisian itulah yang kemudian dikembangkan—secara imajinatif, barangkali—ke dalam berbagai aspek kehidupan masing-masing shio berupa generalisasi. Sehingga, mustahil bisa terjadi seluruhnya.

Apabila mustahil terjadi, atau bahkan belum tentu benar, mengapa tetap banyak orang yang antusias ingin tahu?

Entahlah. Mungkin ada yang menganggapnya sekadar lucu-lucuan, atau hiburan iseng, tetapi ada juga yang sedemikian penasaran dengan masa depan, khawatir dengan yang akan mereka hadapi nanti, dan berusaha sebisa mungkin mendapatkan spoilers kehidupan. Apa pun itu, tetaplah sadar akan saat ini. Hadapi, dan tak usahlah terlampau dibuat mengawang-awang. Segala yang telah terjadi, tak akan bisa diapa-apakan lagi.

Untuk itu, dari hari ini sampai Rabu terakhir sebelum Tahun Baru Imlek, ngomongin 12 shio dan kecenderungannya, ya. Bahas yang receh-receh saja. Sumbernya: almanak 卜易居 untuk tahun babi tanah. Kepanjangan buat dihabiskan sekaligus.

Tikus

Secara umum, tahun babi tanah merupakan tahun yang biasa-biasa saja bagi shio tikus. Namun, tetap dengan kecenderungan peningkatan. Misalnya, akan relatif baik untuk mencoba membuka usaha baru setelah melalui perhitungan matang, atau memperluas ragam usaha yang telah dijalani selama ini. Kondisi demikian terjadi karena menyambung tren positif di tahun lalu, ketika produktivitas berhasil dipertahankan, dan memiliki sumber daya lebih untuk mencoba berkembang. Lebih menenangkannya lagi, akan ada orang-orang baik yang siap menolong saat dibutuhkan. Siapakah mereka? Tidak ada yang bisa menduga. Bisa dari keluarga atau orang-orang yang sudah dikenal dekat selama ini, maupun figur-figur baru.

Bagi karyawan atau pekerja, akan ada potensi mendapatkan peningkatan karier. Wewenang bertambah, otomatis pekerjaan dan tanggung jawab pun mengikuti di belakangnya. Hanya saja, jangan kaget bila peningkatan-peningkatan tersebut tidak semuanya diimbangi dengan kenaikan gaji yang signifikan. Sebab segala bentuk peningkatan dan kerja keras yang mengikutinya akan membuahkan hasil ke depannya, walaupun bukan berupa materi. Di sisi lain, bisa juga peningkatan karier tanpa peningkatan gaji ini terjadi akibat berganti atasan atau pekerjaan. Yang artinya adalah adaptasi lagi, dan kesempatan untuk memperkuat reputasi serta kepercayaan dari dasar. Jangan lupa, semua ini bisa berdampak pada kelelahan baru, dan waktu pribadi untuk keluarga yang berkurang sebagai konsekuensi awal.

Kabar gembira bagi pemilik shio tikus yang baru menikah. Ada peluang memiliki anak di tahun ini. Sebaliknya, bagi yang masih belum berpasangan, tampaknya harus berusaha memperluas pergaulan dan dikenalkan oleh orang lain.

Pastinya, jangan sampai semua ini menjadi beban berlebih. Pasalnya kesehatan pemilik shio tikus di tahun ini kurang begitu baik. Bukan penyakit berat yang muncul, melainkan gangguan-gangguan kesehatan ringan, tetapi sering, dan mengganggu. Kemungkinan terbesarnya lantaran tekanan pekerjaan. Tetap jaga makan, waspadai perubahan cuaca saat bepergian, demi kesehatan dan menghindari pengeluaran pengobatan.

Kerbau/Sapi

Bagi para pemilik shio sapi, harap menghindari bekerja sama bisnis yang benar-benar baru, apalagi berinvestasi besar-besaran, atau dalam pinjam meminjam. Baik sebagai yang dipinjami, maupun yang menjamin peminjaman. Sama-sama membahayakan uang dan reputasi individual yang telah ada selama ini.

Selebihnya, tetap saja fokus pada usaha-usaha yang tengah dijalani saat ini. Sebab besar kemungkinan hasil pekerjaan kamu akan terpapar pada lebih banyak orang, calon klien, termasuk yang berasal dari luar (daerah, negeri). Semuanya diharapkan tetap berjalan lancar, bahkan tak menutup kemungkinan bisa membeli hunian baru di tahun ini.

Dalam dunia pekerjaan, kesalahan diri sendiri bisa merembet menyebabkan masalah eksternal. Hati-hati dan selalu sadar diri saat bertindak. Potensi masalah pasti akan selalu ada. Terlepas dari itu, kamu akan mendapatkan apresiasi dari atasan, juga bantuan rekan-rekan kerja, membuat segalanya terasa lebih mudah dan membalik kesialan menjadi kemujuran. Ada kesempatan pindah kerja ke luar negeri? Ambil!

Sayangnya, urusan asmara tidak sebagus bisnis. Ada teman yang bisa dekat banget sekalipun, tetapi belum berpeluang bersama sebagai pasangan. Bagi yang telah punya pacar atau pasangan, rasanya seperti sendirian. Jangan dibiarkan, ya. Penyelesaiannya, tergantung masalah yang dihadapi masing-masing. Apakah kebosanan, masalah komunikasi, atau sebagainya.

Jangan sampai kendala asmara juga bikin badan sakit. Sebab, para pemilik shio kerbau/sapi cenderung kerap mengalami cedera ringan, seperti terjatuh, terpeleset hingga terkilir, dan sebagainya. Untungnya semua tidak berdampak serius.

Macan

Peruntungan pemilik shio macan di tahun babi tanah terbilang baik. Dimulai dengan adanya potensi promosi di kantor, dan kenaikan gaji yang diharapkan signifikan. Bagi para pemilik usaha, bisnisnya pun berpeluang mengalami peningkatan yang berkesan. Entah sebagai sebab atau akibat, para pemilik shio macan akan merasakan antusiasme baru dalam karier dan usahanya. Energi positif yang juga mendorong munculnya ide-ide dan konsep baru nan cemerlang. Berbarengan dengan itu, menjadi kesempatan untuk menunjukkan kemampuan secara maksimal. Semua menjadi efek domino yang diinginkan. Saking positifnya, bahkan bukan merupakan kesalahan untuk mencoba berganti pekerjaan, mendapatkan yang ideal.

Soal asmara, wanita pemilik shio macan jauh lebih beruntung. Sebab berpeluang bertemu calon pasangan sesuai gambaran ideal, meskipun usahanya dibantu oleh rekan-rekan pria lainnya. Kalau sudah begini, harus pandai-pandai mengambil “kesempatan”. Sementara pria pemilik shio macan cenderung menghadapi kebuntuan asmara. Mereka yang belum berpasangan akan tetap berhati gelisah. Bisa karena tidak bertemu wanita ideal, tidak berani mengungkapkan perasaan, takut ditolak, terlalu banyak pertimbangan, dan sebagainya. Bagi yang sudah berpasangan pun, hati-hati akan mengalami asmara yang hambar.

Banyak masalah, jangan ditambah urusan kesehatan. Selalu jaga makan, rawat lambung, dan kondisi kulit.

Semoga semua hal-hal positif menjadi kenyataan.

[]

Shio di 2019 (2): Kelinci, Naga, Ular.
Shio di 2019 (3): Kuda, Kambing, Monyet.

Harapan 2019

TAK perlulah berpanjang-panjang, kala berdoa dan memanjatkan pinta. Sesungguhnya ia, apa pun sebutannya, hadir melampaui jumlah kata dan keterbatasan makna. Begitu pula untuk saat ini, di tahun yang baru dengan segudang pengharapan.

Berbekal pengalaman di tahun sebelumnya, serta semangat menjalani yang akan datang, semua orang sejatinya bebas meminta apa saja; segala hal yang dianggapnya bakal memberikan kegembiraan dan memberikan kebahagiaan. Ada yang dangkal, maupun yang mendasar.

Ketenangan

Ada kekuatan dalam ketenangan. Kuat menghadapi segala hal yang muncul atau terjadi, kuat menahan gejolak emosi sendiri yang timbul agar tidak mengganggu akal sehat ketika melakukan pertimbangan, kuat menjalani kehidupan dengan segala ketidakpastiannya.

Semoga kita selalu memiliki ketenangan, dan mampu menghadirkan ketenangan.

Ketenteraman

Merupakan rasa nyaman dan damai yang diperoleh melalui ketenangan, baik ketenangan dalam diri sendiri, maupun ketenangan yang dihasilkan dari lingkungan sekeliling kita. Termasuk kesehatan jasmani maupun batin.

Dalam ketenteraman, kita berbahagia. Bahkan tanpa perlu risau bisa kehilangan perasaan berbahagia, maupun sumber dari perasaan berbahagia tersebut. Sebab kita sudah cukup tenteram, tidak lagi merasa ingin meminta lebih.

Semoga kita selalu berbahagia dan tenteram, dalam situasi apa pun.

Penerimaan Diri

Ada yang jauh lebih penting dari penerimaan oleh orang lain dan lingkungan sekitar kita, yakni penerimaan oleh diri sendiri. Penerimaan oleh pihak lain memang membuat kita bisa merasakan banyak kemudahan dan kelancaran, tetapi tanpa sudi menerima diri sendiri–apa pun kondisinya–semua akan tetap terasa kurang, penuh kerisauan, dan membebani.

Saat kita sudah bisa menerima diri sendiri, penerimaan orang lain akan terasa mengikuti. Kalaupun tidak, kita menyadari bahwa hal tersebut tak sebegitu penting lagi.

Menerima diri sendiri bukanlah sesuatu yang mudah dan dapat langsung dilakukan begitu saja, dibutuhkan perjuangan (terhadap diri sendiri); ratusan diskusi bahkan perdebatan (kepada diri sendiri); dan penegasan batin (untuk diri sendiri).

Semoga kita selalu mampu berdamai dengan diri sendiri, dengan menerima apa pun adanya.

Kejernihan

Ketenangan dan ketenteraman memungkinkan kita untuk selalu berpikir serta melihat segalanya dengan jernih. Di sisi lain, kejernihan berpikir dan melihat atas segala hal mendorong kita agar selalu bisa tenang, serta merasakan ketenteraman.

Kejernihan pula yang mampu membuat kita memilih dengan tepat, karena kita terarah untuk berpikir lebih jauh dan menyeluruh. Menjadikan pilihan yang kita ambil benar-benar tanpa pertimbangan bias, dan patut.

Semoga kita selalu mampu berpikir dan bertindak jernih, menyadari semua sebagai apa adanya.

Keleluasaan

Apabila kemakmuran diibaratkan sebagai kunci, maka keleluasaan adalah pintunya, yang kemudian tetap mengarah pada ketenteraman. Sebab keleluasaan membebaskan kita dari kekhawatiran dan kerisauan berlebihan. Adanya keleluasaan menunjukkan bahwa kita akan selalu memiliki pilihan, alternatif, dan jalan keluar dalam segala hal.

Keleluasaan juga merupakan wajah lain dari kemudahan, dan kelancaran yang manusiawi. Karena kita bertanggung jawab penuh atas keputusan dari pilihan-pilihan tersebut.

Semoga kita selalu memiliki keleluasaan untuk segala hal.

Mampu Mempertahankan

Sesukar-sukarnya memperoleh hal-hal positif, tetap lebih susah mempertahankannya dengan baik. Namun, bisa dipastikan, sekali kita mampu berada dalam ketenangan dan selalu melihat dengan jernih, semua hal-hal positif tersebut justru akan melekat dengan sendirinya.

Semoga kita selalu mampu mempertahankan apa yang telah diperoleh dan dimiliki, bahkan mampu mengembangkannya.

Mampu Melepas

Mampu melepas ialah kondisi menuju perasaan terbebas. Lepaskanlah yang sepatutnya dilepas. Kekuatan untuk mengupayakan ketenteraman bagi diri sendiri, dan agar lebih berfokus pada hal-hal yang lebih penting dibandingkan sesuatu dari masa lalu.

Semoga kita selalu mampu bijaksana.

Semoga semuanya ada pada Anda, tahun ini hingga seterusnya.

[]

Rabu Terakhir 2018: Tempat Tinggal

SUDAH umum, anggapan bahwa menjadi dewasa berarti termasuk siap bertempat tinggal, atau memiliki tempat tinggal sendiri. Kedewasaan pun diidentikkan dengan kemapanan, kesuksesan finansial, serta kemampuan mengambil dan menjalani keputusan-keputusan besar dalam hidup.

Banyak orang tua yang merasa/dinilai berhasil mendidik dan membesarkan anak-anaknya, ketika mereka telah bisa membeli rumah. Sebab menunjukkan kemandirian, selain tiga aspek kedewasaan di atas. Pandangan ini pun langgeng, terus diturunkan lintas generasi.

Upaya memiliki hunian pribadi tentu bukan perkara mudah–terkecuali bagi sebagian kecil orang. Ada yang melihatnya sebagai tantangan dan target pencapaian dalam hidup; ada yang melihatnya sebagai bagian penting dari rencana masa depan; ada pula yang melihatnya sebagai beban, sesuatu yang sangat memberatkan. Padahal, masalahnya tidak berhenti sampai di situ saja.

Setelah mulai menempati rumah sendiri, apa pun bentuk dan konsepnya, kita akan berhadapan dengan pertanyaan “Mau diisi apa?“, dan “Bagaimana menatanya?” Dalam hal ini, setiap orang memiliki pandangan dan pertimbangannya masing-masing. Ada yang menginginkan kesan mewah dan lengkap untuk kenyamanan maksimal, ada yang menginginkan efisiensi dan efektivitas segala hal di dalam rumah tersebut, ada yang lebih berat kepada desain cantik dan indah untuk dipamerkan di media sosial, serta lain sebagainya. Pada akhirnya, semua kembali ke preferensi, selera, gaya hidup, dan ketersediaan dana.

Ada orang yang gampang bosan, ada yang tidak terlalu acuh, ada yang sangat rapi dan tertata, ada yang sederhana dan mudah merasa puas, ada yang kreatif, ada yang ambisius, ada yang mengedepankan kenyamanan privat, ada pula yang lebih suka keramaian dan kumpul-kumpul bersama teman atau keluarga. Semua kondisi tersebut memengaruhi hunian mereka, dan bisa kita rasakan saat berkunjung dan berkegiatan di sana.

Bagi saya, yang baru setahun terakhir merasakan tinggal dan bertanggung jawab atas hunian sendiri, gaya minimalis ternyata lebih cocok diterapkan. Simpel, mudah diurus, dan sesuai bujet. Lebih intens dibanding saat masih indekos dahulu, karena kesan bahwa senyaman-nyamannya, tempat tersebut tetaplah milik orang lain. Sementara.

…dan berikut barangkali adalah beberapa hal yang menggambarkannya.

  • Kalau kebetulan berjodoh dengan apartemen, pilih lantai tertinggi. Apalagi kalau lingkungan sekelilingnya tidak banyak gedung menjulang, dan berjendela menghadap selatan atau utara. Supaya tanpa dipasangi gorden pun, unit tidak akan panas ditembak sinar matahari. Privasi pun tetap terjaga, termasuk dari balkon unit sebelah. Apabila jendela berada di kamar tidur utama, bonus pemandangan langit.
  • Rangka tempat tidur memang memberikan kesan tinggi dan nyaman. Namun, akan ada kolong yang mesti disapu dan dipel berkala. Kita berada di Indonesia, debu halus berterbangan di mana-mana. Kasur dapat diletakkan langsung di atas lantai, memang mirip kamar kos, tetapi sama-sama nyaman dan mudah dibersihkan. Cukup dialasi. Bisa dengan karpet (asal harus sedia penyedot debu), atau karpet bilah kayu serupa parket.
Sumber: FLjasmy
  • Masih tentang tempat tidur, sangat menarik, hemat tempat, dan cakep pula jika menggunakan dipan lipat. Bermanfaat untuk ruang yang kecil atau sempit.
  • Begitu pula terhadap sofa. Pilih dengan bahan, bobot, dan desain yang sedemikian rupa agar mudah saat ingin membersihkan bagian bawahnya. Tidak ada salahnya juga bila membeli bean bag, terutama jika hunian akan lebih sering dikunjungi teman dekat. Sehingga bisa bersantai tanpa sungkan, macam ketika menerima tamu formal.
  • Sudah punya kulkas? Maka, apakah masih memerlukan mesin dispenser panas dan dingin? Perlu air dingin, silakan ambil dari kulkas. Perlu air panas, bisa masak air. Suhu didihannya pun bisa relatif berbeda dibanding di mesin dispenser. Hanya saja, dispenser akan menyediakan air dingin dan panas saat itu juga, dengan catatan selama mesinnya beroperasi.
  • Masih menonton lewat televisi? Tempelkan di dinding, agar meja di bawahnya bisa digunakan untuk barang-barang lainnya. Padahal makin banyak orang yang menghabiskan sebagain besar waktunya di luar. Sesampainya di rumah hanya tersisa sedikit waktu dan tenaga untuk mengerjakan yang perlu, lalu beristirahat.
  • Ada berapa orang di rumah? Sendirian atau berdua? Bisakah bila meja makan dijadikan meja bekerja, atau tetap harus dengan meja dan ruang berbeda? Apabila bisa, gunakan meja berbahan kayu solid agak panjang. Gunakan satu sisi untuk makan, agar masih ada sisi lainnya untuk buka laptop dan melakukan beragam aktivitas lain.
  • Belilah barang yang benar-benar dibutuhkan, bukan sekadar diinginkan. Apabila fungsinya masih bisa digantikan dengan barang yang lain, maksimalkan yang telah ada. Pemanas air untuk mandi? Seberapa sering mandi dini hari atau subuh? Sedingin apakah air yang mengalir?
  • Perlukah menggunakan cooker hood atau kipas penyedot yang kencang? Jika tinggal di apartemen model loft atau berkonsep studio, akan seberapa sering memasak? Terutama masakan yang heboh, tumisan, gorengan, panggangan. Sebab aroma dan partikel minyak akan berterbangan, dan menempel bahkan sampai di tempat tidur (tidak terhalang dinding). Di sisi lain, apartemen tipe studio mengingatkan kita dengan kamar-kamar hotel yang lumayan cukup.

Selain hal-hal tersebut, bisa jadi masih terdapat banyak “inspirasi” hidup minimalis yang layak, bukan ngenes. Oleh sebab itu, beruntunglah mereka yang sudah pernah merasakan jadi penghuni indekos semasa muda, dan kemudian berkemampuan memiliki tempat tinggal pribadi pada waktunya. Mereka setidaknya bisa menakar kadar ugahari saat mengisi dan menata hunian. Agar tidak malah menjadi beban tambahan yang sebenarnya bisa dihindarkan. Terlebih bagi mereka yang berkuliah arsitektur atau desain interior. Pasti bisa jadi kece. Kalau teknik sipil, bisa membangun rumah secara efisien.

Teriring doa dan harapan di Rabu terakhir 2018 ini, semoga kita semua dilancarkan/bisa memiliki tempat tinggal sendiri yang ideal, mudah diisi, mudah ditata, dan nyaman dihuni.

Selamat Natal, dengan berkat dan kasih yang menenteramkan.
Selamat tahun baru, dengan masa depan yang menyejahterakan.

[]

3 Keterampilan Dasar & Krusial untuk Ngetwit Saat Ini

BUKAN hanya Twitter-an, sebenarnya, keterampilan-keterampilan berikut dibutuhkan hampir setiap saat dalam berkomunikasi. Termasuk berbicara, menulis, mendengar, dan membaca. Sementara Twitter merupakan platform media sosial dengan ruang isi yang relatif sempit. Hanya 280 karakter tulisan.

Mengapa sedemikian penting? Karena kita—sebagian besar—terlalu gampang gusar, kesal, sebal, merasa terganggu, dan membenci manakala tidak mengerti sesuatu, maupun saat tidak dimengerti oleh orang lain. Kita ciptakan sendiri sebuah ketidaknyamanan; kita terisap dalam pusaran ketidaknyamanan itu; lalu kita meratap seolah-olah paling teraniaya dan sengsara akibat ketidaknyamanan itu. Padahal, semampu kita menciptakan perkara, semestinya semampu itu pula kita menghadapi dan menjalaninya.

1. Memahami pesan sejelas-jelasnya, semaksimal mungkin

Boleh dibilang hampir semua masalah berawal dari kesalahpahaman atau kekeliruan terhadap sesuatu. Bentuknya semakin nyata bila kesalahpahaman atau kekeliruan tersebut disikapi, dilanjutkan dengan tindakan. Dari situ, masalah tercipta hingga merembet ke mana-mana. Makanya, kemampuan memahami sejelas-jelasnya merupakan landasan terpenting. Langkah pencegahan paling dini, pereda potensi konflik. Intinya, tanpa kesalahpahaman atau kekeliruan, tidak akan muncul masalah. Kecuali jika memang itu yang dicari, sengaja dibuat dan diadakan.

Komunikasi adalah proses penyampaian pesan dari pemberi kepada penerima. Ada kesan bahwa sang pemberi pesan adalah pihak aktif (yang melakukan), sedangkan sang penerima adalah pihak yang pasif (sekadar mendapatkan).

Kemampuan memahami sejatinya bersifat aktif, atau justru proaktif. Bukan sekadar membaca atau mendengar informasi dari pihak lain secara pasif, tetapi sang penerima pesan juga melakukan aktivitas berpikir, mempertimbangkan hal-hal yang diterimanya, dan mempergunakan logika dalam mengolah pesan yang diterima, sebelum akhirnya memberikan tanggapan. Ia menghindari bersikap gegabah, atau terburu-buru, atau menelan mentah-mentah informasi yang didapatkannya.

Caranya bisa relatif sederhana. Berawal dari sebuah pertanyaan singkat: “Benarkah begitu?” atau “Masa, sih, begitu?

Pertanyaan di atas mampu mengusik kita untuk mencari tahu dan memahami lebih jauh. Sebab saat ini, rendahnya kemampuan memahami pesan memicu banyak pertikaian. Termasuk di media sosial.

Gara-garanya~

● Ada yang terlalu percaya diri dengan kemampuannya memahami, kendati keliru dan salah kaprah. Saking tingginya rasa percaya diri itu, dia malah bisa mengelak, menyangkal, dan melemparkan kesalahan kepada orang lain, atau menyalahkan situasi bila dia terbukti salah.

● Ada yang terkesan bodoamat. Benar atau tidak benar, yang penting ia memberikan tanggapannya dahulu. Bisa karena merasa dirinya–dan pernyataannya–sangat penting, sehingga harus disampaikan sesegera mungkin; bisa juga lantaran telanjur benci dengan objek dan subjek pembicaraan. Jadi, menyerang dahulu selagi ada kesempatan. Sebanyak apa pun, sekeras apa pun.

● Ada yang sekadar ikut-ikutan, dan ini berdampak paling mematikan. Secara harfiah. Pasalnya, ketika hanya ada satu orang yang keliru, orang-orang di sekitarnya masih mampu mengingatkan dan mencegahnya bertindak lebih lanjut. Namun, ketika satu orang yang keliru dikelilingi orang-orang dengan kekeliruan yang sama, mereka malah berhimpun dan saling memperkuat, mendorong untuk bertindak lebih lanjut. Nyawa bisa jadi taruhannya. Parahnya lagi, mereka tidak sadar bahwa tindakan tersebut salah. Setelah peristiwa terjadi, hanya ada wajah-wajah menyedihkan yang seakan-akan meneriakkan pembelaan: “Aku, kan, tidak tahu.

Ya~ kalau tahu, tidak bakal bertindak begitu, kan?

2. Menyampaikan pesan dengan ringkas, cermat, dan mudah dipahami

Setelah mampu memahami pesan dengan jelas dan baik, tantangan berikutnya adalah bagaimana menyampaikannya dengan jelas dan baik pula. Sehingga informasi yang diteruskan tidak berpotensi keliru serta menimbulkan kesalahpahaman.

Keterampilan ini beranjak dari kesadaran bahwa setiap orang memiliki kemampuan berpikir dan memahami yang berbeda-beda. Sangat tidak bijaksana apabila kita menggantungkan “nasib” sebuah perkara pada penangkapan dan pemahaman orang lain semata. Jangan lupa, pada saat sebuah masalah muncul akibat kekeliruan dan kesalahpahaman komunikasi, pemberi maupun penerima pesan sama-sama punya andil.

Dengan keterbatasan ruang penyampaian pesan, Twitter adalah salah satu media sosial yang pas untuk melatihnya. Pengguna berusaha menyampaikan informasi sejelas-jelasnya, selengkap-lengkapnya, secermat-cermatnya, tetapi juga seringkas-ringkasnya supaya lebih mudah dibaca, tidak terlewatkan dari perhatian, serta tak membingungkan.

Yang patut diwaspadai adalah perbedaan sudut pandang. Kita seringkali beranggapan bahwa pesan yang kita susun sudah sedemikian jelas, benar, ringkas, dan mudah dipahami. Sayangnya, realitas berkata lain. Para pembaca pesan sama sekali tidak paham, atau justru salah paham. Ujung-ujungnya berkembang menjadi masalah baru.

Itu sebabnya, sama seperti pada keterampilan pertama, proses menyusun dan menyampaikan pesan tetap memerlukan proses berpikir yang intensif, mempertimbangkan banyak faktor, serta pertukaran perspektif. “Kalau aku yang jadi dia, apa yang akan aku dengar/baca/pahami dari pesan ini?” atau berusaha memastikan dengan pertanyaan “Apakah pesan ini sudah benar-benar jelas?

Serumit atau sesulit apa pun sebuah pesan dirumuskan, seseorang dengan keterampilan ini tetap tidak ingin gegabah atau terburu-buru menyampaikannya. Apalagi sampai dibuat jadi utas berpanjang-panjang.

Tak semua orang betah membaca, atau suka diajak berbicara lama-lama.

3. Selalu bersikap tenang (atau cuek)

Keterampilan ini memiliki beberapa aspek, yang salah satunya justru lebih tepat ditempatkan paling pertama; dijadikan landasan sebelum berpayah-payah memahami pesan dengan benar dan sejelas-jelasnya.

A) Tenang ketika terpapar sebuah pesan, untuk kemudian dapat memutuskan apakah pesan tersebut cukup penting untuk diperhatikan, dipahami, dan ditanggapi, atau cukup dibiarkan berlalu begitu saja. Tidak semua hal perlu, patut, atau pantas.

B) Tetap tenang ketika kita, dan pesan yang kita sampaikan, disalahpahami. Lumrahnya, seseorang akan berusaha keras mengerahkan semua kemampuan untuk mengkoreksi kesalahpahaman yang terjadi. Sebab, perasaan sebagai yang salah itu tidak menyenangkan, dan tidak ada seorang pun yang mau mengalaminya. Dengan tetap bersikap tenang, kita berkesempatan untuk mengetahui “apa kesalahpahaman yang muncul“, dan “mengapa kesalahpahaman itu muncul” dengan sejelas-jelasnya. Agar upaya koreksi dan perbaikan yang akan kita lakukan tepat sasaran, efektif, dan efisien.

C) Tetap tenang ketika kita, dan pesan yang kita sampaikan, ditanggapi negatif. Terutama tanpa dasar argumentasi yang solid. Misalnya berupa penolakan, penghinaan dan makian, serta cemoohan. Merujuk kembali kepada poin A), semua tanggapan negatif tersebut bisa kita anggap sebagai paparan pesan yang tidak penting untuk diperhatikan. Tidak usah ditanggapi lagi. Biarlah mereka bermasturbasi dengan ego sendiri. Merasa menang bertarung melawan angin.

D) Tetap tenang ketika kita, dan pesan yang kita sampaikan, ternyata salah. Dalam ketenangan, kita bisa menerima kesalahan dengan pandangan lebih jernih, lebih bertanggung jawab, dan lebih apa adanya. Menyesal, tentu saja harus. Menandakan bahwa kita sadar atas perbuatan tersebut. Namun, rasa gusar hanya akan membuat segalanya makin terasa tidak enak, tanpa faedah apa pun terhadap kebijaksanaan dan pemahaman. Dalam ketenangan pula, kita terkondisi untuk dapat menerima ganjaran dan menjalani hukuman dengan penuh integritas. Secuil kemuliaan manusia.

[]

Bertukar untuk Kebutuhan dan/atau Keinginan

SENDIRIAN di salah satu meja Starbucks depan halte Harmoni, pandangannya menerawang. Jelas, ia tak sedang menatap etalase gelas dan botol-botol minum yang terpajang di samping pintu, sebab pikiran dan kesadarannya sedang tak berada di situ.

Sama sekali tak terusik dengan orang yang berlalu lalang di depannya; yang menggeser-geser meja dan kursi di sebelahnya; yang naik dan turun tangga di sudut ruangan. Ia sepenuhnya tercerap dalam benaknya sendiri.

Enaknya menulis tentang apa?” Ia membatin. Jelas tak mengharapkan munculnya jawaban seketika.

Lagu-lagu berbahasa Inggris soal Natal diputar sebagai latar. Maklum, sudah bulan Desember. Itu sebabnya pula, koleksi gelas dan botol-botol minum yang dijual di sana berhias ornamen setema. Sesekali menarik perhatian pengunjung, membuat mereka berdiri dan mengamati untuk beberapa lama. Ada beberapa di antaranya yang langsung membeli, ada juga yang harus pakai acara berdiskusi.

Kamu ngapain beli? Buat apa?
Ya buat dipakai. Buat minum.
Kan tumbler-mu sudah banyak di rumah, masih bagus-bagus. Ngapain beli lagi?
Ini kan lucu. Edisi Christmas 2018.
Terus kenapa? Kenapa mesti beli?
“Pengen punya.

Mendengar potongan percakapan itu, dia berpikir bahwa adalah hak setiap orang untuk membeli apa pun yang ia inginkan. Asalkan punya uang yang cukup, dan barang tersebut memang tersedia dan memang dijual. Tak ada yang aneh dari realitas tersebut.

Namun, bagaimana dengan kegunaannya? Kadar manfaat dan pemanfaatannya, apa pun benda yang dibeli. Bagaimana dengan perihal kesia-siaan, kemubaziran, dan kekurang-bergunaan yang biasanya baru disadari belakangan? Bagaimana bila justru saking tidak bergunanya barang yang dibeli tadi, ujung-ujungnya malah menjadi sampah, rongsokan, yang bukan hanya membuang-buang uang, tetapi juga menyita tempat penyimpanannya, dan bahkan berpotensi menjadi limbah yang meracuni air, merusak lingkungan, sukar terurai.

Apakah seseorang bisa lepas dari tanggung jawab tersebut? Tanggung jawab atas apa yang ia beli, apa yang ia pergunakan, apa yang tak ia pergunakan, termasuk apa yang ia buang.

Apakah juga merupakan hak setiap orang untuk lalai dalam pengeluaran dan pengaturan keuangan? Jika demikian, seseorang semestinya juga hanya berhak untuk menyesali dan menyalahkan dirinya sendiri ketika tengah mengalami kekeringan finansial atau kurang uang.

Ia teringat akan ungkapan:

Membeli karena butuh, bukan sekadar ingin.

Ada guna, berguna, dan kegunaan di dalamnya.

Antara kebutuhan dan keinginan. Mustahil untuk dapat membahasnya dalam poin-poin kesimpulan yang sumir. Setiap orang memiliki segudang pertimbangan berbeda dalam mengkategorisasi hal-hal yang ia butuhkan, dan yang dia inginkan. Kendati di sisi lain, tak menutup kemungkinan ada orang-orang yang malah belum tahu atau belum mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Wajar saja, tak semua orang memiliki pemahaman, latar belakang sosial ekonomi, serta perilaku ekonomi yang sama. Apa yang dinilai penting bagi seseorang, belum tentu sepenting itu pula bagi seseorang lainnya. Hal ini memberi dampak pada pengalaman kehidupannya masing-masing. Kenyamanan dan keleluasaan, kesusahan dan kesempitan tentu dialami secara perorangan. Ada banyak faktor yang memengaruhinya pula.

Terlepas dari semua itu, terdapat beberapa hal yang disepakati bersama. Kita perlu uang untuk membeli sebagian besar barang keseharian; kita memperoleh uang lewat berbagai cara, termasuk bekerja maupun mendapatkan pemberian; dengan memiliki simpanan, kita cenderung leluasa untuk melakukan pembelian. Maka, saat kita membeli apa pun, itu artinya kita mempergunakan uang yang barangkali telah didapatkan dan kumpulkan lewat usaha.Tak elok bersikap kikir dan melekat, akan tetapi boleh-boleh saja untuk bersikap cermat. Orang Jawa menyebutnya dengan sikap éman-éman~ sayang. Seyogianya dipergunakan sebagaimana mestinya.

Di sisi lain, ada ungkapan berbeda yang terlintas:

We’re creating the demand. We make people buy things they don’t need.

Keberhasilan eksistensial sebuah perusahaan tergambarkan lewat omzet, aset, capaian, dan raihan. Semua diukur secara progresif, artinya selalu meningkat dari waktu ke waktu. Terus memberikan angka yang positif dan surplus, menghindari angka yang negatif dan minus. Lihat saja, angka target pasti selalu bertambah, setidaknya berupa persentase.

Begitupun dengan para pekerjanya. Seorang pemasar, atau tim pemasar yang baik, adalah yang mampu mendorong terjadinya peningkatan penghasilan. Tentu saja lewat peningkatan penjualan. Menggunakan berbagai cara, sudut pandang, dan pendekatan, mereka membuat orang menjadi ingin; mereka mengubah keinginan seolah-olah menjadi kebutuhan; mereka mendorong terjadinya penjualan. Itulah gambaran dasar dari sebuah kesuksesan profesional. Silakan refleksikan pada pekerjaan Anda saat ini.

Semua pekerjaan sejatinya adalah jual beli. Tak hanya barang serta benda-benda fisik, tenaga, suara, komunikasi, pemikiran, sampai identitas, dan jati diri. Selalu ada yang dipertukarkan. Seorang abdi menjual kepatuhan dan dedikasinya kepada sang tuan. Sang tuan membelinya dengan kepercayaan dan sejumlah imbalan.

Sama halnya dengan Anda dan perusahaan tempat Anda bekerja. Anda memang menjual produk dan jasa kepada orang lain, tetapi Anda pun sebenarnya menjual komitmen dan kemampuan kepada perusahaan, demi karier dan penghasilan rutin. Lihatlah secara netral dan apa adanya; apakah itu yang Anda butuhkan, atau inginkan?

Jangan sampai terjebak dilema,” ia bicara dalam hati. Kemudian bersiap pergi. Dia lapar.

Selamat berbelanja.

[]

Ribet Tak Usah Dicari

TAK kenal maka tak sayang, setelah kenal kok malah jadi bajingan?

Banyak dari kita yang pernah, atau tengah merasakan situasi ini. Sebab manusia dengan segala dimensi perasaannya, pasti cenderung tidak netral saat menghadapi sesuatu dalam kehidupannya.

Ada sesuatu yang diharapkan dari seseorang, atau suatu keadaan. “Mudah-mudahan nanti begini“; “semoga nanti begitu“; dan sebagainya. Di sisi lain, ada keraguan dan kekhawatiran baik kepada seseorang yang sama maupun berbeda. “Kenapa begitu, sih? Jangan-jangan…“; “khawatirnya, dia nanti begini…

Tanpa banyak disadari, dua aspek yang saling sebelah-menyebelah ini merupakan sumber kekecewaan. Dari kekecewaan berkembang menjadi kesedihan, ketidaknyamanan, ketidakterimaan atau penolakan, ratapan, penyesalan, atau penderitaan secara umum.

Sekarang, ingin melakukan pendekatan model apa? Yang lebih berorientasi pada diri sendiri, atau justru terfokus pada yang lain?

Pada Diri Sendiri

Kita, diri sendiri ini, adalah subjek sekaligus objek harapan, kekhawatiran, dan kekecewaan. Kita yang menjalani dan terlibat dalam segala prosesnya, kita jugalah yang mengalami hasilnya. Hal-hal yang berada di luar sana merupakan pengkondisi, komponen-komponen yang memberikan stimulus, dan memengaruhi ke mana arah penerimaan kita. Hingga akhirnya, kita sendirilah yang “memutuskan” (secara sadar atau tidak) ingin menerima dan menyikapinya seperti apa.

Pada saat kita memilih untuk berorientasi pada diri sendiri demi menghindari segala hal-hal di atas, maka secara garis besar kita tidak membiarkan diri ini digoyang ke sana kemari oleh perasaan sendiri.

Mustahil memang, untuk sepenuhnya kebal atau tidak takluk terhadap perasaan. Namanya saja sudah “rasa”, sedikit banyak pasti meninggalkan kesan bagi kita selaku penderita. Namun, jangan lupa, “rasa” dan penerimaan kita terhadap “rasa” juga dipengaruhi oleh lingkungan, serta pembiasaan.

Contohnya, kita cenderung terbiasa meratap saat kehilangan. Tak hanya kehilangan sesuatu yang kita usahakan atau hasilkan sendiri, melainkan juga kehilangan sesuatu yang sebenarnya kita peroleh sebagai pemberian. Bukan benar-benar milik kita, tidak sepenuhnya dimiliki oleh kita.

Pada yang Lain

Dari judulnya saja, jelas perspektif ini berorientasi pada segala sesuatu yang berada di luar diri kita. Alih-alih menata respons batin dan pikiran, kita berusaha agar semua hal bisa berjalan dengan baik sesuai keinginan–meskipun tidak ada jaminan bahwa keinginan kita pasti berujung baik. Harapannya, apabila berjalan sesuai gambaran atau kehendak, setidaknya bisa merasa tenteram, tanpa perlu khawatir lagi. Padahal, hidup terus bergulir. Satu urusan kelar, pasti akan muncul urusan berikutnya.

Lantaran berorientasi pada hal-hal lain di luar diri sendiri, pendekatan ini tentu lebih melelahkan fisik dan batin. Setiap dari kita yang mengusahakannya, harus mengalokasikan tenaga, perhatian, sumber daya, dan ketabahan dalam menjalaninya. Lagi-lagi, kita mengerahkan segenap hal, mengupayakan agar semua yang berhubungan dengan kita dapat sesuai harapan. Tatkala gagal dan berjalan di luar rencana, kita kembali harus mengalokasikan tambahan tenaga, perhatian, sumber daya, dan keteguhan baru dalam menghadapinya. Intinya, lebih melelahkan. Walaupun kebanyakan orang malah lebih memilih yang ini, dibanding pendekatan satunya.

Ya sudah. Apa yang terjadi pada mereka dan objek-objek lain di luar kita, terjadilah. Tak perlu ngoyo. Ibarat memencet klakson sekeras dan selama mungkin saat gerbong kereta sedang melintas. Sampai jari pegal atau klakson meledak sekalipun, Anda tidak akan bisa bergerak. Justru dilihat aneh dan mengganggu orang lain, dan andaikan Anda tetap memaksa lewat, selamat bertaruh pakai nyawa. Silakan. Suka-suka Anda sajalah. Kurang lebih seperti itu.

Meminjam perspektif Schopenhauer–filsuf pesimisme–kita, manusia, mustahil bisa terpuaskan. Terhadap keinginan-keinginan yang selalu memenuhi ruang batin kita, akan muncul polemik. Ketika kita mencapainya, kita bisa merasa bosan dan excitement atau kesenangannya dapat menurun; tetapi ketika kita gagal mencapainya, kita dilanda kekecewaan. Manusia, menurut filsuf yang lebih sayang anjing pudelnya ketimbang manusia-manusia lain itu, akan selalu berayun antara penderitaan (akibat tidak mendapatkan yang diinginkan) dan kebosanan atau kejenuhan. Di sisi lain, kita pun cenderung selalu dibuat resah oleh diri sendiri. Resah karena akan selalu muncul keinginan-keinginan baru, bahkan saat keinginan-keinginan sebelumnya masih menggantung.

Dipenuhi tumpukan keinginan yang entah bagaimana atau kapan bisa tercapai, silakan dibayangkan seperti apa rasanya menjalani kehidupan yang begitu? Maka, kita memerlukan keterampilan menyikapi dan menjalani hidup. Banyak pilihannya, mau menggunakan sudut pandang agama, kepatutan sosial, etika dan moralitas, dan sebagainya. Dua pendekatan di atas, hanya sekelumit dari beragam pilihan yang tersedia.

Tak kenal maka tak sayang. Setelah kenal pun tidak mesti harus sayang.

Setelah kenal kok malah jadi bajingan? Bajingan terhadap siapa? Apakah dia menjadi bajingan bagi dirinya sendiri; bagi orang lain; atau bagi dirimu? Lalu, apakah dia menyadari dan memandang dirinya sendiri sebagai bajingan? Apakah orang lain juga merasa dan memandangnya sebagai bajingan? Apakah kamu merasa dan menganggapnya sebagai bajingan? Kalau iya, mengapa kamu memberikan kesempatan padanya untuk bisa menjadi bajingan? Kesempatan, bisa berupa penerimaanmu sendiri terhadapnya, atau keteledoranmu untuk jatuh dalam kebajinganannya.

[]

Mendingan diam, deh…

MARI bersepakat terlebih dahulu, bahwa kebaikan dan kebijaksanaan berada pada tataran yang berbeda.

Secara mendasar, kebaikan–perbuatan baik dan berbudi–diarahkan untuk “kebaikan”, kesejahteraan, ketenteraman, dan perasaan suka cita orang lain, yang kemudian baru turut berdampak bagi diri kita sendiri. Karena itu, sebutan “orang baik” disematkan kepada seseorang yang telah memberikan atau melakukan sesuatu bagi kepentingan penerimanya.

Sedangkan kebijaksanaan diposisikan lebih mendalam, yaitu pemahaman yang utuh dan benderang terhadap sesuatu sebelum diperbuat. Menghasilkan kearifan dan kecermatan bertindak, demi kebaikan yang terbaik, dan relatif tidak bercela.

Dengan batasan tersebut, so-called “berbuat baik” belum tentu terhitung bijaksana. Hal yang menyenangkan di awal, mungkin saja memiliki potensi efek balik yang negatif. Sebaliknya, kebijaksanaan pasti membawa dampak baik, bahkan berlaku secara menyeluruh dan berorientasi jangka panjang. Meskipun bisa terasa tidak menyenangkan pada mulanya.

Yang baik belum tentu bijak.
Yang bijak pasti baik.

Kebaikan dan kebijaksanaan menyoroti aspek-aspek berbeda, pun menggunakan sudut pandang yang tak sama. Salah satunya, kebaikan cenderung bersifat monokromatis, hanya terdiri dari dua sisi absolut. “Memberi itu baik, memberi itu benar; tak memberi itu tidak baik, tak memberi itu salah.

Sementara kebijaksanaan meliputi spektrum yang lebih luas. Setiap tindakan diambil berdasarkan latar belakang, alasan, serta sejumlah pertimbangan. Dampaknya bukan sebatas yang terjadi saat ini saja, tetapi juga dipersiapkan untuk mengantisipasi segala hal yang bisa terjadi nanti. “Pemberian itu tepat, pemberian itu tidak tepat; tak memberi itu tepat, tak memberi itu tidak tepat.

Berikut adalah beberapa contohnya dalam bentuk ucapan, yang kerap kita temui dan rasakan sendiri, atau justru kita yang menyampaikannya kepada orang lain.

“Sekadar mengingatkan…”

Merasa telah melakukan sebuah kebaikan kepada orang lain, padahal lebih sarat kesan narsistiknya. Menganggap diri sudah lebih baik, lebih unggul, lebih signifikan, dan lebih sadar (dibanding orang lain), dan terjebak ilusi tanggung jawab moral untuk menjadi pengingat dan penyelamat kehidupan.

Entah disadari si pengucapnya atau tidak, ungkapan ini bisa terdengar sebagai sebuah ancaman alih-alih menasihati atau memberitahu.

“Ya kalau bukan saya yang mengingatkan, siapa lagi?”

Masih banyak yang lebih berhak atau berwenang. Orang tua, saudara, keluarga sendiri, seseorang yang dipercaya, dokter, psikiater, psikolog, guru, pemuka agama, dan sebagainya.

Terlepas dari urusan identitas, kita masih sama-sama manusia biasa.

“Tujuannya, kan, baik…”

Baik menurut siapa? Sesuatu yang kamu anggap baik belum tentu benar-benar baik. Semua orang memiliki pandangan, latar belakang, pendekatan, dan penilaian masing-masing. Maka, seyogianya, jangan paksakan ukuran kebaikan menurutmu kepada orang lain.

Tidak menutup kemungkinan pula, ungkapan ini diutarakan menyusul pernyataan yang manipulatif. Sebuah apologia untuk sesuatu yang belum tentu benar. Pasalnya, kekeliruan tetaplah merupakan kekeliruan. Biarpun dimanfaatkan dan dieksploitasi sedemikian rupa untuk mencapai tujuan tertentu, tetap saja bukan sesuatu yang patut dilakukan.

“Tuh, benar, kan yang aku bilang…”

Iya, benar, kok. Terima kasih sudah mengingatkan dan memberitahu, karena benar-benar terjadi seperti yang sudah disampaikan. Namun, kalau ternyata tidak benar dan tidak sesuai dengan yang kamu sampaikan sebelumnya, bakal bagaimana?


Ungkapan di atas terkesan baik-baik saja, sih? Hanya saja, apakah bijak ketika kita lontarkan? Apalagi tanpa mempertimbangkan keadaan orang lain.

Bagaimana pula jika kita yang mendapatkannya? Bisakah kita terima?

Apabila polemik ini semata-mata karena masalah komunikasi dan penyampaian, maka, mulailah belajar memperbaiki lisan.

[]

Apakah Saya Melakukan Mansplaining?

SEJUJURNYA, saya masih awam dengan bahasan mengenai interaksi antargender dalam kehidupan sosial secara umum. Termasuk isu yang satu ini; Mansplaining. Yaitu cara pandang dan tindakan pria terhadap wanita beserta segenap aspeknya.

Mansplaining bersifat negatif. Sebab dari sedikit yang saya pahami, Mansplaining pada dasarnya adalah sikap sok tahu yang disampaikan pria untuk/dengan merendahkan wanita. Sebagai prasyarat terjadinya Mansplaining, penyampaian kesoktahuan tersebut sarat arogansi dan dominasi. Mengesankan bahwa pria selalu benar dan wanita tak lebih pintar, sehingga mereka harus didengarkan.

Saya memberanikan diri menulis soal ini lantaran judul di atas. Setidaknya agar bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut.

  1. Apakah saya telah melakukan Mansplaining?
  2. Jika iya, apakah saya sengaja melakukannya?
  3. Jika iya tetapi saya tidak sengaja, apa yang menyebabkannya menjadi sebuah Mansplaining?
  4. Jika iya tetapi saya tidak sengaja, apa dampak dari tindakan Mansplaining tersebut?
  5. Apa saja hal-hal lain yang perlu saya ketahui agar tidak melakukan Mansplaining lagi?
  6. Apa yang harus segera saya lakukan setelah tidak sengaja melancarkan Mansplaining?
  7. Apa saja yang harus diperhatikan saat menyampaikan sesuatu agar tidak mejadi Mansplaining?

Berorientasi pada diri sendiri, pertanyaan-pertanyaan di atas dikemukakan demi menghindari Mansplaining di kemudian hari. Pasalnya, tidak semua orang, baik pria atau wanita, terlepas dari tidak tahu atau tidak mau tahu, memiliki pemahaman dan aspirasi yang sama terhadap hal ini. Tak bisa dimungkiri, Mansplaining juga merupakan produk budaya. Terlebih di Indonesia, ketika pria dikondisikan untuk selalu memiliki relasi kuasa tertentu dibanding wanita sedari kecil.

Berawal dari twit saya tempo hari.

Mendapatkan tanggapan sebagai berikut.

Screen shot of Twitter

Alih-alih tersinggung, saya tertarik untuk menelisik lebih jauh. Dimulai dengan membaca twit saya kembali, lalu beralih ke tanggapan yang diberikan supaya ketemu selisihnya. Khawatir, saya telah berlaku: “Komentar/twit dahulu, berpikir belakangan.” 😅

Saya #penasaran, which part did I define? Lebih berupa ungkapan menghargai kualitas tertentu pada wanita, dibanding sebuah upaya menjelaskan suatu kondisi yang tidak saya miliki. Mudah-mudahan saya tidak keliru menyampaikannya.

Selanjutnya, kalau “it is up to me and my kind of peep …” apakah berarti pria—saya—sebaiknya tidak mengutarakan pendapat tentang wanita? Ataukah baru berbicara setelah diizinkan, maupun saat ditanya? Apabila demikian, ya, tidak apa-apa juga, sih. Menjadi pelajaran bagi saya untuk diam saja, dan ini tentu berada di luar batasan benar versus salah. Diwangsulké mawon.

Screen shot of Twitter

Di sisi lain, apakah ini bisa dimasukkan ke kategori masalah komunikasi? Pesan disampaikan secara tertulis, justru menimbulkan polemik dalam pembacaan/penerimaan maksudnya. Apabila demikian, kesalahannya tentu pada pengutaraan saya.

Mohon maaf.

Maka, dalam situasi berbeda dan lebih terbatas, saya barangkali baru ingin mengutarakannya kepada mama, saudara wanita, pacar, teman dekat wanita, rekan kerja wanita saat bertatap muka. Bukan lewat media sosial, kepada khalayak anonim.


Terpisah, saya menemukan penjelasan ringkas dan aplikatif terkait Mansplaining dari Kim Goodwin lewat diagram berikut.

Diagram on mansplaining.
Ilustrasi: bbc.com

Saya mungkin bisa meraba-raba jawaban menggunakan diagram di atas.

[]

Jilbabphilia?

FEITICO. Sebuah kata yang kurang lebih bisa diartikan “pesona; pukau; pikat; atau daya tarik” dalam bahasa Portugis. Dari istilah ini sebutan fetish berasal, merujuk dan menggambarkan ketertarikan seksual-obsesif seseorang pada berbagai hal.

Seksual, lantaran bisa mengantarkan seseorang mencapai sensasi kenikmatan atau kepuasan seksualnya. Baik yang dilakukan dengan partner, atau hanya oleh diri sendiri.

Obsesif, lantaran membuat seseorang tersebut gandrung, memberikan dorongan yang tak terbendung secara psikis, sehingga cenderung selalu dikejar.

Tak mesti genitalia atau aktivitas seksual penetratif itu sendiri, objek fetish meliputi banyak hal yang bersifat unik dan personal. Termasuk bagian tubuh tertentu, benda-benda tertentu, tindakan atau aktivitas tertentu, maupun sensasi jasmani tertentu. Saking unik dan personalnya, terhitung ada lebih dari 549 fetish yang teridentifikasi—dinamai pakai istilah Latin—dan berpotensi terus bertambah.

Sebagai sesuatu yang atipikal, atau tidak sebagaimana biasanya, tanggapan terhadap ratusan fetish itu mengalami perubahan seiring waktu dan lingkungan sosial manusia. Ada yang dahulu dianggap aneh, kini dianggap wajar dan biasa-biasa saja. Namun, sebagian besar fetish masih/tetap dianggap ganjil, menabrak norma-norma sosial setempat, membuat tidak nyaman, bahkan membahayakan. Barangkali karena itu, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menyebut fetish dengan parafilia, yang langsung diterjemahkan: Ketertarikan seksual pada hal-hal yang tidak biasa atau tabu.

Padahal menurut Justin Lehmiller, Ph.D, seorang psikolog-ilmuwan Harvard, hampir semua hal berkemungkinan memiliki asosiasi hasrat seksual bagi seseorang.

“Pretty much anything you can think of, someone out there probably has sexual associations attached to it.”

… dan bisa saja, inilah yang terjadi dengan fenomena Akhwat Hunter.

Dari sejumlah pernyataan dalam utas twit di atas, izinkan saya mengistilahkannya “Jilbabphilia”. Sebab—ini baru asumsi, dan harap koreksi saya bila keliru—entah mereka sadari atau tidak, fenomena Akhwat Hunter menyinggung fetishism. Mengacu pada dua komponen yang selalu hadir:

  1. Para wanita berjilbab sebagai objek yang dinikmati.
  2. Adanya ekspresi seksual dari para penikmat, baik secara perorangan maupun berkelompok.

Menyimak isi cuplikan percakapan tadi, para Akhwat Hunter itu—kelihatannya—belum menikah. Sejauh ini hanya bisa bermasturbasi sambil melihat foto-foto wanita berjilbab, dan belum diketahui apakah setelah menikah nanti mereka lebih suka pasangannya tetap berpenutup kepala saat senggama, atau telanjang sepenuhnya.

Seseorang dengan fetish tertentu, sejatinya tidak bisa mencapai klimaks seksual tanpa kehadiran objek fetish terkait. Bukan sekadar fantasi, atau bumbu keintiman (kinky). Dalam kasus Akhwat Hunter, tak menutup kemungkinan mereka mesum doang. Sampai akhirnya biar mereka sendiri yang membuktikan.

Di sisi lain, dikenal pula istilah garment fetishism. Yaitu hasrat seksual yang dipicu oleh jenis atau bagian pakaian tertentu. Misalnya, seragam, rok mini, lingerie, dan sebagainya, baik dikenakan salah satu atau kedua pihak terlibat.

Kembali lagi, fetish berada dalam spektrum yang unik dan personal. Bersifat pribadi, kecuali ketahuan atau sengaja diumbar-umbar kepada orang lain. Tatkala objek fetish berupa foto-foto wanita berjilbab sengaja diekspose dan ditunjukkan ke publik oleh akun-akun anonim, bahkan lengkap dengan ekspresi seksualnya, itu sudah merupakan pelecehan. Tak ada consent di situ, persetujuan dan kesepakatan kedua belah pihak.

Parahnya lagi, perbuatan tersebut mereka kait-kaitkan dengan narasi agama. Mengingat kerudung jilbab, beragam model hijab, sampai cadar nikab identik sebagai busana keagamaan dengan seperangkat argumentasinya. Dengan demikian, tak peduli seberapa tertutupnya pakaian para wanita tersebut, mereka akan selalu diseksualisasi—dieksploitasi seksual—oleh pria-pria Jilbabphilia. Baca saja alasan-alasan mereka yang begitu didramatisasi.

Atas narasi agama tersebut, alih-alih mengendalikan diri, para Akhwat Hunter itu lebih suka melempar kesalahan pada orang lain, mempertahankan posisi sebagai yang paling benar, dan seolah-olah berhak menghakimi. Seperti tulisan pertama saya di Linimasa, soal Jilboobs. Pasalnya, bagaimanapun juga, kita adalah tuan dari tubuh dan kehendak kita, bukan sebaliknya. Pengendalian diri bisa dilatih. Jangan manja.

Terlepas dari itu semua, mungkin saja para Akhwat Hunter atau pria-pria Jilbabphilia tadi hanya sekelompok orang ngacengan, punya latar belakang dan kebiasaan yang tak lazim mengenai jilbab, serta sok religius.

[]

Bisa dibaca juga:

https://www.psychologytoday.com/intl/conditions/fetishistic-disorder
https://bigthink.com/philip-perry/are-sexual-fetishes-psychologically-healthy