Mensyukuri dan Menikmati Penderitaan Orang Lain

SAAT berjalan kaki di trotoar dengan paving block bolong-bolong, tiba-tiba ada motor berknalpot bising yang ngebut serampangan. Menyisakan asap putih tebal berbau sisa pembakaran bensin yang khas.

Penumpangnya ada tiga, remaja semua, tanpa helm, dan berteriak sambil tertawa-tawa. Tanpa peduli pengendara lain maupun para penyeberang jalan, mereka selalu ngegas dan ugal-ugalan. Bising, serampangan, dan memusingkan.

Selewatnya mereka, kita merasa terganggu. Muncul rasa tidak senang, bahkan benci di dalam hati. Dorongan utamanya, entah karena kita lihat kelakuan mereka yang serampangan; melaju dan bikin kaget; ada banyak peraturan lalu lintas yang dilanggar; bisingnya suara knalpot yang memekakkan telinga; atau karena kita memang tidak suka saja.

Di ujung persimpangan jalan, ternyata ada polisi yang berjaga. Kaget tetapi tidak bisa menghindar dan salah berbelok, motor tersebut oleng. Jatuh dan meluncur di atas aspal, pengemudi dan dua penumpang sial tadi tersungkur dengan lecet di beberapa bagian tubuhnya.

Teriakan “MAMPOOOS LO!” spontan terdengar dari arah depan, dekat lokasi kejadian. Tanpa sadar, kita juga ikut membatin macam “KAPOK!” atau “SOKORIIIN!” Terkesan ada kegembiraan‒atau lebih tepat berupa kegirangan‒yang diluapkan saat mengucapkannya. Seakan-akan itu sesuatu yang sangat menyenangkan, dan sudah dinanti-nantikan sebelumnya.

Marah yang ingin banget diluapkan.

Contoh di atas menunjukkan adanya kemalangan, sebuah kecelakaan. Tatkala dilihat dari akibat yang terjadi dan siapa yang mengalaminya, para remaja ugal-ugalan tadilah yang bisa disebut sebagai korban. Bukan kita, meskipun sudah merasa sebal dan terganggu saat berjalan kaki; apalagi para warga yang menghamburkan sumpah serapah tadi. Tanpa kita sadari, ungkapan “Mampus!” tadi, atau yang kadang ditambahi menjadi “Mampus lu!” menunjukkan bahwa kita ingin mereka meninggal; menunjukkan bahwa kita berpandangan mereka pantas meninggal saat itu juga.

Apakah dengan demikian kita adalah seseorang yang mengharapkan dan menikmati penderitaan orang lain?

Di sisi lain, apakah kita telah menjadi seseorang yang mampu menilai pantas tidaknya orang lain mengalami kemalangan‒atau sebut saja ganjaran‒dalam hidupnya.

Dalam perspektif yang berbeda, kita kerap terpaku pada pembagian benar dan salah. Dalam contoh kasus di atas, para remaja pengemudi motor ugal-ugalan tadi diposisikan sebagai yang salah. Orang-orang lain, termasuk kita yang merasa terganggu, otomatis memposisikan diri sebagai yang tidak salah.

Sayangnya, dengan menganggap diri sebagai pihak yang tidak salah, mudah sekali membuat kita merasa sebagai pihak yang lebih baik, lebih unggul, dan lebih pantas ada dibanding lawannya. Kembali pada contoh di atas, kita dan sejumlah warga merasa pantas melontarkan sumpah serapah, bahkan sampai mendoakan terjadinya keburukan bagi pihak yang salah. “Mampus lu!”

Haruskah kita merasa biasa-biasa saja dengan sikap yang demikian? Ketika tanpa sadar kita terus-menerus memikirkan hal-hal buruk, mengucapkan hal-hal buruk, sampai ikut melakukan tindakan-tindakan buruk, dan menganggap semua itu wajar-wajar saja dengan dalih “mereka pantas menerimanya” atau “kesabaran itu ada batasnya”?

Susah, sih. Memang.

Okelah, contoh kasus di atas barangkali terlampau sepele, tidak begitu penting. Namun, bagaimana bila kasusnya adalah tabrak lari? Atau perkosaan? Atau penyiksaan anak-anak? Atau anak yang berbuat amat kasar terhadap orang tuanya? Atau korupsi? Beragam hal yang seolah-olah bisa bikin hati kita ikut panas.

Akankah doa kita dikabulkan? Doa yang dipanjatkan karena marah dan benci, doa yang mengharapkan orang lain celaka.

Akankah dikabulkan?

Mohon maaf lahir batin.

[]

Advertisements

Hati Sebagai Tempat Berteduh dan Berdiam

KETIKA kita ingin pindah rumah atau tempat tinggal, salah satu proses yang paling menyita perhatian dan melelahkan adalah penyortiran barang. Demi kebaikan diri sendiri, kita harus memilih, menentukan, lalu memutuskan. Jika tidak, bukan hanya kerepotan, terlalu berat, dan membuat tempat baru yang semestinya lapang menjadi sesak, sehingga mengulang kesumpekan yang sama.

Berpindah tempat tinggal seringkali bukan sekadar pergantian lokasi. Bisa menjadi titik mula, awal yang baru, atau bahkan hidup yang sepenuhnya berbeda. Oleh sebab itu, dari sekian banyak barang yang telah kita peroleh, kita kumpulkan, kita simpan, dan kita pertahankan di balik dinding rumah selama ini, harus ada yang kita tinggalkan. Bukan lantaran ingin kita lupakan, tetapi, ia seakan-akan bergelayut di kaki kita; menghalangi kita untuk terus melangkah ke depan. Terkadang kita justru diseretnya mundur.

Ia–semua barang tersebut–tak lagi tepat untuk selalu kita bawa ke mana-mana.

Foto: Pexels

Demikian pula hati. Jika diibaratkan sebuah tempat hunian, hati kita lebih mirip sebuah tenda. Portabel, bisa dipasang dan dilepas di mana saja, dan selalu kita bawa sewaktu berpindah dari satu titik ke titik yang lain. Apabila tenda (hati) itu kita tinggalkan, kita pun menjadi seorang tunawismarasa. Jiwa yang menggelandang tanpa keteduhan.

Setiap titik perhentian, tempat kita bertahan, berhenti untuk sementara waktu, berdiam, dan mendirikan tenda (hati), merupakan fase-fase dalam hidup kita–karena kita menJALANi hidup; karena hidup adalah sebuah perjalanan dengan sejumlah persinggahan.

Sewaktu bertahan dan berdiam, kita membentuk, merasakan, dan meringkuk dalam lingkar kenyamanan kita sendiri. Dalam zona nyaman tersebut, kita terbuai, menolak dan mengingkari kenyataan bahwa segalanya pasti berubah (dan karenanya, perubahan yang datang pun akan terasa lebih mengguncang dan menggetarkan).

Kala perubahan terjadi, titik singgah kita saat ini akan ditinggalkan. Cepat atau lambat, kita harus kembali mengemas tenda (hati) beserta isinya. Lagi-lagi, apakah semuanya akan dibawa?

Foto: Removers.org.uk

Mau berapa banyak yang akan dibawa serta?

Mengapa?

Setiap orang memiliki pandangan dan pertimbangan yang berbeda-beda. Namun, mereka yang cermat dan sigap–biasanya tertempa pengalaman-pengalaman tidak menyenangkan, bisa langsung menentukan apa saja yang bakal dibawa beserta tenda (hati) dalam perjalanan menuju titik singgah berikutnya. Perhatian dan tenaga mereka pun disimpan secara efisien, agar mereka tidak dibuat repot oleh hal-hal yang sejatinya sepele. Sebab, walau bagaimapun juga, kehidupan akan terus berjalan.

Kedewasaan dan kebijaksanaan seseorang tumbuh seiring berjalannya waktu. Ada satu momen ketika kita akhirnya memiliki daftar berisi “hal-hal yang penting” dan “hal-hal yang tidak penting” bagi hidup kita. Isi setiap bagiannya selalu berubah. Ada yang bertambah, ada yang berkurang. Semua yang ada dalam daftar “hal-hal yang penting” pasti kita prioritaskan. Apa saja misalnya, keluarga, orang tua, hubungan asmara, karier, gaya hidup, kepemilikan dan harta, nama besar, popularitas, hubungan sosial, kenikmatan seksual, penghormatan, waktu yang leluasa, anak-anak, pencapaian pribadi, ego, dan masih banyak lagi lainnya. Pasti kita bawa menuju titik singgah berikutnya.

Foto: Storage Monkey

Saat ini, cobalah tengok sejenak daftar-daftar tersebut. Lihat isinya sekejap. Apakah isinya sudah pas, atau ada yang perlu digeser? Setelah itu, bayangkan hal paling mengejutkan, paling liar, atau paling tidak terbayangkan sebelumnya.

Andai apa yang kamu bayangkan tadi terjadi di kehidupan nyata, memaksamu untuk berpindah dari zona nyaman (membongkar tenda [hati] dan isinya), apakah kamu mampu menjejalkannya, memanggul semua isi dalam “daftar hal-hal penting” itu? Atau malah terbebani oleh itu semua?

Supaya dapat berjalan lebih lancar dan ringan, seseorang terkadang perlu meninggalkan begitu banyak hal. Meski harus terasa tidak menyenangkan.

…dan kehidupan pun terus berjalan, bagi kita, dengan hati sebagai tempat bernaung.

[]

Hidup yang Lapang, Lega, dan Leluasa

RINGAN dan enteng. Perasaan yang selalu kita dambakan dalam hidup ini, baik batin maupun jasmani. Siapa saja yang pernah merasakan beban berat dan dibuat susah karenanya, pasti akan bisa menghargai dan mensyukuri keadaan ketika beban tersebut menjadi tiada. Perasaan ringan dan enteng itu kemudian berubah menjadi kelapangan, kelegaan, dan keleluasaan untuk melihat serta bergerak lebih bebas. Menghadirkan kehidupan yang berbeda.

Foto: Anthony Tran

Yang harus kita lakukan seringkali sesederhana pilah lalu tinggalkan, sebab tak semua hal sepenting itu untuk terus dipikul ke mana-mana. Hanya saja, seberat-beratnya beban fisik, lebih berat lagi beban mental. Beban fisik berupa benda; bisa diangkat sendiri atau bersama-sama. Dapat dilihat, dan dapat dinilai oleh orang lain. Jika sudah tidak diperlukan atau dapat ditinggalkan, cukup diletakkan begitu saja. Bahkan bisa saja langsung dibuang sebagaimana mestinya.

Berbeda dengan beban batin yang gaib, tak kasatmata, dan kerap justru lebih membahayakan dibanding benda nyata. Beban batin belum tentu bisa dibagi. Saat ada keinginan untuk membaginya pun, mesti tetap berlaku hati-hati supaya tidak tambah sakit hati. Apabila tidak tepat, beban batin yang niat awalnya ingin dibagi tersebut bukannya menjadi ringan, malah bertambah berat.

Di antara berbagai cara yang biasa kita lakukan untuk membagi dan mengurangi beban batin, salah satu yang paling digemari adalah menyalahkan dan memojokkan diri sendiri. Padahal, beban batin itu bukannya berkurang, melainkan hanya dialihkan ke kompartemen ego yang berbeda. Ada kompartemen yang dipenuhi puja puji, ada pula kompartemen untuk kehinaan diri.

Jikalau orang-orang yang terlalu positif atau terlampau percaya diri selalu mencari—bahkan mirip kecanduan—validasi orang lain atas keberhasilan serta pencapaian-pencapaian dalam hidup mereka, menyalahkan dan memojokkan diri merupakan kebalikannya 180 derajat. Berupa validasi negatif. Mereka ingin diiyakan sebagai seseorang yang paling malang, paling kurang, paling tidak berkualitas, paling tidak berguna, dan sebagainya di seluruh dunia. Seolah-olah ada kenyamanan ego yang mereka peroleh dari validasi negatif tersebut.

Salah satu ciri khasnya adalah kemampuan melihat segala hal secara negatif. Dalam sebesar atau sekecil apa pun suatu kebaikan maupun prestasi yang diperoleh, selalu saja ada nada sumbang yang dilontarkan. Terhadap hal ini, sebenarnya terdapat dua sudut pandang berbeda. Dari si pengucap, dan para pendengar.

Dengan terus berupaya mendapatkan validasi negatif atas apa pun yang telah mereka capai atau lakukan, si pengucap ingin menunjukkan bahwa dirinya tidak cukup pantas; biasa-biasa saja; atau terkesan berusaha ingin bersikap rendah hati—meskipun kebablasan, dan pada akhirnya malah ditangkap sebagai kesombongan terselubung.

Sedikit banyaknya, kita pernah bersikap begini, atau mungkin terus berlangsung sampai sekarang. Tanpa sadar, dan terus mengakar kuat.

Foto: Lesly Juarez

Kembali ke pilah lalu tinggalkan. Tak ada yang benar-benar penting untuk dibopong ke mana-mana. Maka, alami sesuatu, dapatkan pengalaman dan kesannya, kemudian tinggalkan. Tidak perlu disanjung-sanjung maupun direndah-rendahkan sendiri.

Hidup minimalis; hanya mengisi hidup dengan hal-hal yang sungguh penting, dan berguna dalam kurun waktu lama. Dibutuhkan kebijaksanaan dan kedewasaan. Yang tumbuh, bukan muncul begitu saja. Demi kehidupan yang ringan dan enteng, lapang, lega, serta leluasa.

[]

Tutur Bahasa Indonesia Nan Adiluhung … atau Ambigu?

SETIAP orang Indonesia yang sudah cukup dewasa dan tidak punya masalah komunikasi lisan tampaknya akan selalu memiliki kemampuan ini; memahami maksud tersembunyi lewat pesan yang tak diucapkan secara terang-terangan.

Jadi semacam rahasia umum, atau kesepakatan bersama, bahwa ketika seseorang mengatakan sesuatu, yang dia inginkan sebenarnya ialah sesuatu yang berbeda. Kita pun akhirnya ikut terbiasa, lantaran terus-menerus terpapar dengan pola seperti ini, dan justru turut paham pesan yang disampaikan. Terutama berupa ungkapan-ungkapan khas.

“Tolong kamu apakan dulu itunya biar dia bisa bagaimana lah. Tolong, ya.”

Saat mengutarakan ini, tentu terikat pada konteks tertentu yang berlangsung saat itu. Kalau tidak, semuanya bakal berantakan dan menjadi tak jelas arahnya; apanya yang diapakan, supaya tidak bagaimana?

Ada tingkat kepercayaan diri‒atau beda tipis dengan arogansi‒yang tinggi ketika seseorang mengucapkan celetukan ini, yaitu bahwa kepada siapa pun pesan ini ditujukan, yang bersangkutan haruslah paham dan langsung mengerjakannya. Tanpa perlu bertanya ulang, meski sekadar memastikan.

“Tahu sama tahu.”

Ada asumsi dalam pernyataan ini, bahwa semua pihak yang terlibat dalam pembicaraan sudah memiliki pemahaman yang sama terhadap sesuatu. Selaras antara yang diminta, dan yang bisa diberikan, tanpa keberatan, tanpa sanggahan, tanpa penolakan. Menjadi semacam kode universal, tanpa mempertimbangkan kemungkinan adanya ketidakcocokan, perlunya penyesuaian, dan perubahan lebih lanjut.

“Ya begitulah…”

Begitu yang gimana? Entah apakah pihak pendengar yang harus menebak sendiri, atau pihak penyampai yang malas menjelaskan lebih jauh?

“Pokoknya beres.”

Pernyataan ini pada dasarnya disampaikan untuk memberi dan mendorong rasa tenang, atau rasa terjamin terhadap sesuatu kepada si penerima pesan. Maksudnya adalah, tidak perlulah pusing, cemas, khawatir, atau bersusah payah memikirkan sesuatu bakal berjalan lancar dan baik atau tidak. Percayakan saja, dan semuanya pasti sesuai keinginan.

Masalahnya seringkali ada pada kesamaan standar dan kesepahaman mengenai capaian yang diinginkan. Beres menurut seseorang, belum tentu sama beresnya menurut orang lain. Dengan demikian ada reputasi yang dipertaruhkan, sebab ucapan ini diucapkan oleh si pelaksana, yang mengerjakan sesuatu tersebut.

“Tolong dikondisikan.”

Setiap kali mendengar ungkapan ini, saya langsung bertanya dalam hati tentang kondisi seperti apa yang diinginkan oleh si pengucap? Apakah bersifat positif atau negatif? Apakah berupa tindakan tertentu, atau justru harus disikapi dengan tindakan khusus?

Mempertanyakan kembali kondisi “kondisi” yang diinginkan pada saat ini disampaikan, dapat menimbulkan kesan ketidakmampuan memahami maksud sejak awal. Bisa juga dibarengi sentimen ketidaktepatan dan ketidakcermatan saat menjalankan tugas. Mau tidak mau harus mampu paham dalam ambiguitas dan ketidakjelasan.

Pada saat ungkapan ini disampaikan, sebenarnya wajar bagi siapa pun yang mendengarnya untuk bertanya-tanya apakah si pengucap memang sedang hemat bicara, atau malah juga tidak paham apa yang sebenarnya dia inginkan.

“Bisa kurang lebih lah.”

Seberapa jauh batasnya? Sesedikit apa kurangnya, dan sebanyak apa lebihnya? Lagi-lagi, kedua pihak sebaiknya memiliki pengertian yang sama, demi menghindari perselisihan lebih lanjut. Karena bagaimanapun juga, diperlukan negosiasi yang gamblang untuk mengetahui titik tengah bagi semua pihak.

Di pasar atau pusat perbelanjaan umum, persoalan kurang lebih bisa dibantu dengan nominal angka. Namun, untuk perihal yang lain, tetap ada kemungkinan ketika sedikit menurut satu pihak, tetapi masih kebanyakan menurut pihak lainnya.

“Atur aja…”

Memiliki karakteristik yang agak berbeda dibanding yang lain, ungkapan ini menunjukkan sikap keterserahan. Bukan pasrah, melainkan kesediaan aktif untuk menyerahkan atau mempercayakan penanganan dan penyelesaian sesuatu kepada orang lain.

Dalam situasi tertentu, ungkapan ini juga bisa mengesankan keinginan untuk tidak mau repot, tinggal menunggu dan menerima hasilnya. Termasuk di dalamnya kecenderungan untuk tidak ambil pusing, dan tidak terlalu mau tahu dengan metode maupun cara yang digunakan.

“Mohon kebijaksanaannya.”

Sisi ambiguitas dari ungkapan ini terletak pada seberapa bijaksana kedua belah pihak dalam masalah yang terjadi? Meski terdengar seperti sebuah permintaan pasif, akan tetapi pada dasarnya terdapat ekspektasi atau keinginan yang harus dipenuhi.

Setiap orang bertindak dengan, dan memiliki tingkat kebijaksanaan yang berbeda. Bijaksana bagi seseorang, belum tentu menyenangkan atau sesuai keinginan orang lain. Pasalnya, ada banyak hal yang patut dipertimbangkan bila terkait dengan kebijaksanaan. Sikap bijaksana itu adil, jelas, objektif, dan tidak bias. Dengan demikian, dalam banyak situasi kita bisa melihat bahwa ungkapan ini lebih condong kepada sebuah permintaan yang didasari pada aspek-aspek subjektif. Termasuk mengkamuflase emosi dan simpati.


Di era ini, kala segalanya bertambah laju dan kencang, tak semua orang memiliki ketahanan dan kemampuan untuk mengikuti alur pembicaraan. Baik yang berupa basa-basi berkedok sopan santun dan tata krama, maupun bahasa-bahasa bersayap yang tersirat.

Sementara keseharian kita sudah sedemikian melelahkan, rasanya terlalu berharga memboroskan stamina maupun tenaga untuk munafik dan berpura-pura.

[]

Mengapresiasi dan Berterima Kasih

LANGSUNG saja. Terpujilah pergelaran-pergelaran gratisan, terberkatilah orang-orang yang memungkinkan semua itu terjadi, serta sepatutnyalah bersyukur mereka yang berkesempatan hadir dan menikmatinya. Beruntung, semua itu kian sering ditemui di banyak kota–yang besar maupun yang sedang–di Indonesia.

Termasuk yang telah, dan tengah saya alami saat ini, di Jakarta.

Melewatkan kesempatan menghadiri seremoni pembukaan Europe on Screen (EoS) 2019–festival film-film Eropa terkurasi yang digawangi oleh Mas Nauval–Kamis pekan lalu (18/4), baru semalam saya kembali menikmati pengalaman mengantre tiket gratisan; memilih tempat duduk secara bebas; melihat official bumper video/opening title video dari EoS 2019; dan menonton film yang sudah dijadwalkan.

Sebuah kebetulan banget, judul yang diputar tadi malam adalah “Terra Willy”, film animasi komersial yang akan beredar di bioskop mulai bulan depan. Menonton dan menikmati festival, mengambil sejenak jeda dari hiruk pikuk kehidupan keseharian yang penuh dengan aksi kejar-kejaran, untuk dibuat merasa gembira setelahnya.

Film yang menyenangkan!

Dari sampul bukletnya, EoS tahun ini tetap hadir di banyak kota selain Jakarta. Dimulai dari yang paling dekat; Tangerang, dan Bekasi, disusul Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, serta Medan. Berlangsung hingga penutupan festival di 30 April mendatang. Masih sampai seminggu lagi.

Cek dan simak katalog filmnya di situs EoS. Silakan pilih judul-judul dari total seratusan karya yang tersedia, tanggal dan waktu, serta lokasi menontonnya. Tak ada perbedaan metode dan mekanisme dibanding EoS tahun-tahun sebelumnya, kecuali ada kartu penanda keanggotaan di penyelenggaraan tahun ini.

Terima kasih, Mas Nauval dan tim yang kembali menghadirkan EoS tahun ini.


Mencerap. Dicerap. Tercerap.

Begitu pun beberapa pekan sebelumnya. Sekali lagi, sangatlah beruntung warga kota ini, dilimpahi sedemikian banyak wadah ekspresi seni beraneka kaliber secara rutin. Tinggal pilih untuk dikunjungi, dinikmati, dan diapresiasi.

Adalah pameran objek-objek instalasi dan spasial “The Monster: Chapter II Momentum” dari Pramuhendra, yang sepenuhnya disajikan bugil tanpa curatorial note atau catatan karya. Berlangsung di gedung utama Galeri Nasional Indonesia, gelap, dan sepenuhnya bernuansa Katolikisme.

Salah satu karya yang paling menarik perhatian saya adalah–entah, apa judulnya–kolam ketenangan. Gelap, hening, sunyi, tertutup, hampir tanpa intervensi luar. Hanya ada sesorot cahaya, penerangan yang diarahkan ke tengah-tengah kolam dangkal persegi panjang beralas kain warna hitam, tempat sebuah replika bebas burung merpati (perlambang kedamaian) ditempatkan. Kecil, nyaris tak dikenali dari posisi pengunjung, tetapi mencuat mengemuka. Lagi-lagi beruntung, datang kala sepi, sehingga memiliki kesempatan lebih lama untuk jongkok sendiri tercerap dalam suasana yang coba dihadirkan sang perupa.

Ingin duduk, bersila di bibir anjungan kolam buatan, layaknya posisi lazim meditasi, lantaran–meditatif–tampaknya itulah yang ide dasar yang disuguhkan sang seniman.

Mencoba bertafakur.

Sampai akhirnya diingatkan seorang penjaga yang berkostum jubah biarawan Katolik asketis, berwarna cokelat, bertudung dengan ujung lancip menghadap ke atas, dan menutup hampir keseluruhan wajah, berikat tampar di pinggang.

Kendati nyaring, suaranya terdengar berjarak. Sejauh kesadaran realitas dengan pusaran kesan yang muncul di situ.


Saya yakin, terdapat berbagai pergelaran atau pun pameran seni lainnya yang sedang berlangsung saat ini selain kedua kegiatan di atas. Punya waktu dan minat, cobalah hadiri. Sendirian atau bersama teman, sama saja. Sama asyiknya.

Cukup datang, masuk, mencoba memahami sebisa mungkin, atau langsung saja berusaha menikmati yang ada, mengamati kesan dan persepsi yang ditimbulkan, untuk kemudian menjadi seseorang dengan pengalaman yang telah diperkaya. Walaupun sedikit. Setidaknya, memunculkan dorongan supaya mengapresiasi, dan berterima kasih.

Pengin rasanya kapan-kapan bisa hadir dan menyaksikan gelaran lain di kota-kota lainnya. Apalagi kalau ada di … Samarinda.

[]

Cinta Jangan Terlalu Cinta, Benci Jangan Terlalu Benci

HARI ini kita memilih. Semuanya digabung jadi satu. Mulai memilih anggota DPRD di kota dan ibu kota kabupaten masing-masing sampai calon presiden, yang untungnya—atau malangnya—hanya terdiri dari dua pasangan. Keduanya pun sama-sama wajah lama, beda kiprah dan ranah saja. Yang satu petahana, yang satu lagi gigih unjuk diri untuk sekian lama.

Wajar jika ada yang suka maupun tidak suka terhadap masing-masing pasangan calon. Bukannya muncul begitu saja, preferensi atau pendapat itu muncul dengan segala alasan, pertimbangan, dan narasinya. Bedanya, ada yang tumbuh dari kesadaran dan pemahaman atas pemikiran sendiri; lalu sebaliknya, ada juga yang didasarkan pada rasa percaya terhadap orang lain, dipengaruhi pendapat orang lain, atau boleh disebut indoktrinasi.

Baik kelompok yang mendukung maupun menolak pun sama-sama terbagi dalam beberapa spektrum. Dari yang paling garis keras, hingga ke paling lembut hampir datar. Namun, barisan paling fanatik, berisik, mendengar dan melihatnya saja bisa bikin terasa melelahkan yang paling mengemuka, paling sering tampil, paling sering memenuhi media lewat segala perangainya. Seringkali sampai membuat kita terusik.

Kedua kubu memiliki semuanya, tetapi proporsi atau jumlahnya yang tampaknya berbeda.

Asumsinya, makin banyak pendukung yang fanatik menunjukkan bahwa ketokohan yang tertanam sangat kuat, tidak lupa, sekaligus potensi kehilangan kemampuan melihat secara objektif, terbuka, dan kritis. Hanya seorang pemimpin megalomania beserta para kaki tangannya yang picik, yang nyaman dengan situasi ini.

Sebagai sesama manusia pun, kita sama-sama tidak punya kemampuan menebak isi hati dan pikiran seseorang.

Foto: Jon Tyson

Sementara itu, selain kelompok pendukung maupun penolak, ada pula kelompok yang tidak keduanya—atau bahkan tidak peduli terhadap keduanya.

Ada yang bersikap tidak peduli lantaran sudah apatis dan patah harapan (patah harapan kepada sistem, kepada figur, kepada keadaan, dan sebagainya); ada yang bersikap tidak peduli lantaran malas mencoba lagi; ada yang bersikap tidak peduli sebagai bentuk protes dan mogok berpartisipasi; ada yang bersikap tidak peduli karena mengambek segala sesuatunya dirasa tidak sesuai keinginan dia; ada pula yang bersikap tidak peduli karena … ya, tak peduli saja, malas gerak.

Terlepas dari pengotakan di atas, pada dasarnya semua orang sama dan setara. Tidak ada segolongan pun yang lebih tinggi atau lebih rendah dibanding yang lain dalam hal kedudukan sosial. Riak dan gesekan yang ditimbulkan memang kerap bikin gemas, jengkel, dan geregetan. Hanya saja—menurut saya—itu tak ubahnya pergaulan kita sehari-hari. Ada yang bebal, ada yang sabar, ada yang pintar, ada yang licik, ada yang tak acuh, ada yang tulus, ada yang berjiwa besar, ada yang kecut hati, ada yang menyenangkan, ada yang mengesalkan, ada yang bikin males, ada yang bikin rindu … dan tentu saja mustahil berharap semua orang bisa bersikap sesuai yang kita inginkan. Lagipula, belum tentu semua yang kita pikiran, rencanakan, dan inginkan bakal membawa dampak positif serta rentetan hal-hal baik sesuai bayangan sebelumnya.

Cobalah untuk selalu menyisakan ruang hening dan tenang dalam hati, supaya tidak terlampau sesak. Kemudian, mari saling melanjutkan hidup dengan sebaik-baiknya. Ini berlaku bagi semua. Mau “cinta”, “benci”, atau pun “tak peduli”, toh semuanya berakhir hari ini.

Ya … seperti hari ini. Sebesar apa pun sebuah pesta (juga anti pestanya), pasti akan usai pula. Mau tidak mau, bersiaplah untuk besok. Sebab kehidupan itu mestinya terus moving on, bukan mandek.

Selamat memilih, bagi yang memilih.
Bagi yang sengaja melewatkan kesempatan memilih, selamat libur panjang. 😊

[]

Terlampau Indah

RASA sakit dan wajah-wajah yang mengerang, air mata dan tangis, tubuh-tubuh telanjang yang lemah, kubangan darah, daging merah segar, organ-organ tubuh manusia, gunting pemotong yang tajam, napas yang terengah-engah, basah dan becek di mana-mana, serta senyuman-senyuman bahagia yang ditujukan kepada tubuh-tubuh lemah terkulai tak berdaya.

Di antara sekian banyak hal indah di dunia, gentle birth ialah salah satunya, menurut saya. Tak hanya indah, tetapi sekaligus mencekam dan menakutkan.

Setidaknya ada dua nyawa yang dipertaruhkan dan diperjuangkan agar tetap hidup. Ada berjiwa-jiwa lainnya yang berdoa, menanti dalam kecemasan. Ada pula dorongan rasa cinta yang sedemikian kuatnya. Begitu kuat terasa, cukup hanya dengan melihatnya dari kejauhan.

Tidak pernah sekalipun tidak merinding, bergidik ngeri, dan terharu secara bersamaan ketika melihat foto-foto—apalagi video—dari gentle birth. Termasuk milik Vanessa Decosta pada 11 Maret lalu, dan diabadikan oleh Vanessa Mendez (semua langsung terhubung ke album Facebook; NSFW) berikut ini.

Vanessa Decosta, sang ibu, meringkuk, mengejan.
Fotografer: Vanessa Mendez

Her pain.
Ibunya.
That very moment!

What a strong mother!
Tali pusar tidak buru-buru dipotong, plasenta tetap dibiarkan bertahan dalam rahim selama beberapa waktu.
You did a good job, girl!
Sustenance for both.
Hai!

Indigo June. It’s her name.

Album lengkap: The Birth of Indigo June

Melihat foto-foto dari peristiwa menakjubkan tersebut, kita–saya–kembali diingatkan betapa kuatnya seorang wanita, terutama sebagai seorang ibu. Kelahiran dan proses persalinan memang bukan titik akhir, tetapi cukup dari titik ini saja, kita dapat menyadari sepenuhnya bahwa woman is the very symbol of humanity.

Jangan bawa-bawa kodrat, di sini bukan tempatnya. Kelahiran dan proses persalinan memang sedemikian agung, luhur, dan sepatutnya dihujani takzim oleh siapa saja. Bukan sekadar urusan konsekuensi alamiah dari persetubuhan (yang banyak orang tak siap menghadapinya), bukan pula sekadar ambisi punya anak dan meneruskan keturunan (entah demi apa saja, sih?). Wanita bukanlah alat untuk beranak! Wanita berhak memilih dengan sepenuh-penuhnya kesadaran. Bukan lantaran tanggung jawab moral kepada suami dan orang tua dari kedua belah pihak; bukan lantaran tanggung jawab sosial kepada orang lain; bukan pula lantaran diiming-imingi, terlebih diperdaya.

Begitu pula sebaliknya.

Alasannya sudah jelas. Wanitalah yang…

  • Dihamili
  • Hamil selama sembilan bulan
  • Menanggung risiko dan sakitnya proses persalinan
  • Berkemampuan untuk menyediakan nutrisi dan sumber makanan pertama bagi sang bayi
  • Menjadi ibu

Bukan orang lain, para wanita berhak memutuskan ingin/tidak ingin memiliki anak (minimal) berdasarkan poin-poin di atas. Silakan tuding saya melakukan mansplaining, yang jelas foto-foto Vanessa Decosta di atas membuat saya berkata demikian.

Ini menyangkut kesejahteraan batin si ibu dan si anak. Kesampingkanlah dahulu kepentingan suami, orang tua, mertua, apalagi tetangga. Sesayang apa pun mereka, tampaknya, kepada sang bayi.

Kembali ke foto-foto proses persalinan Vanessa Decosta di atas sebagai contoh. Sang ibu memilih untuk menjalani gentle birth dengan sepenuh hati meskipun harus bersusah payah, dan agak berantakan. Sang suami mendampingi di sepanjang proses, lengkap dengan skin-to-skin contact. Ibunya sang ibu pun hadir memberikan dorongan semangat, senyum, dan dukungan kepada putrinya (atau menantunya). Dari situ saja, bisa dirasakan adanya curahan kasih sayang yang besar, kesediaan dan kehadiran, komitmen dan kekuatan kebersamaan. Maka, tak aneh bila kemudian kita–saya–berasumsi bahwa si kecil akan dirawat dan tumbuh dibesarkan dalam lingkungan terbaik. Paling tidak tergambarkan lewat cara penanganan yang dipilih dalam proses persalinan.

Gentle birth di tangan yang tepat, menjadi proses persalinan yang minim trauma bagi sang bayi, walaupun terlihat lebih merepotkan. Tidak buru-buru memisahkan sang bayi dari tembuninya, yang lagi-lagi berarti meminimalkan risiko dan memaksimalkan penyerapan zat nutrisi internal selama dalam kandungan.

Besar kemungkinan, segalanya dipikirkan matang-batang, dipilih dan dijalani sedalam-dalamnya kesadaran.

Dari contoh Vanessa Decosta tadi, semua orang, dan semua yang berkelindan di dalamnya…

Indah.
Sekali lagi, terlampau indah.

[]

Tentang mereka yang bisa ke atas dengan mudahnya

KITA awali saja dengan serangkaian peristiwa yang diperingati hari ini.

1. Nabi Muhammad SAW

Ilustrasi peristiwa mikraj dalam kitab Siyer-i-Nebi dari masa Utsmaniyah abad ke-15. Gambar: publicdomainreview.org

Ialah Isra dan Mikraj. Yaitu diberangkatkan dalam sebuah perjalanan, lalu dibawa naik atau dinaikkan.

Perjalanan (Isra) berlangsung dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem dalam semalam. Tetap dengan menunggangi burak, Rasulullah dibawa naik untuk kemudian melintasi berlapis-lapis langit serta bertemu pada nabi pendahulu. Berturut-turut dimulai dari Nabi Adam, Nabi Isa (Yesus) dan Nabi Yahya (Yohanes), Nabi Yusuf, Nabi Idris, Nabi Harun, Nabi Musa, Nabi Ibrahim (Abraham). Di langit tingkat tertinggi barulah Rasulullah menerima perintah beribadah wajib. Dijadikan lima kali dalam sehari, sejak subuh sampai isya.

Gambar terkait
Ilustrasi burak yang populer selama ini, dan kerap menghiasi dinding ruang tamu sebagai ornamen utama. Gambar: publicdomainreview.org

2. Yesus Kristus

Setelah penyaliban (Jumat Agung), kebangkitan dalam kubur batu terjadi di hari ketiga (Minggu Paskah). Lalu, tubuh itu pun terangkat dari Bukit Zaitun ke surga lepas 40 hari sesudahnya, ketika Yesus kembali berhimpun dan berkumpul dengan sejumlah murid.

“… et eritis mihi testes in Jerusalem, et in omni Judæa, et Samaria, et usque ad ultimum terræ.

“… kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.

Kisah Para Rasul 1:8

Kini, mereka, golongan orang-orang yang percaya, tengah menanti janji nubuat kedatangan Yesus Kristus untuk kedua kalinya. Salah satu penanda akhir zaman.

Gambar terkait
“Christi Himmelfahrt” atau “Naiknya Kristus” karya Gebhard Fugel tahun 1893. Gambar: Wikipedia

3. Yudistira

Perang kolosal Mahabharata telah lama usai. Dimenangkan oleh kubu Pandawa, Yudistira kembali memimpin kerajaan Hastinapura selama 36 tahun, sebelum akhirnya menarik diri bersama istri dan para saudaranya. Mereka bertujuh: Pandawa Lima (Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa), istri mereka Drupadi, dan seekor anjing melakukan perjalanan spiritual menuju surgaloka di Himalaya.

Satu demi satu anggota rombongan meninggal di sepanjang perjalanan akibat buah karma mereka. Dimulai dari Drupadi, Sadewa, Nakula, Arjuna, dan Bima. Tersisa Yudistira dan anjingnya yang terus berjalan hingga mencapai kaki Gunung Meru menuju kayangan.

Di tengah-tengah perjalanan yang sepi itu, muncul Dewa Indra dengan keretanya. Dewa Indra menawarkan tumpangan kepada Yudistira ke surga, tetapi ditolak. Yudistira tidak mau ke surga tanpa istri dan saudara-saudaranya. Dewa Indra terus membujuk, menyebut Drupadi dan adik-adiknya telah mencapai surga setelah kematian mereka. Menurut Dewa Indra, Yudistira bisa naik ke surga dalam tubuh manusianya—tanpa melalui kematian—karena moralitasnya yang tanpa cela.

Belum selesai di situ, Yudistira kembali urung bergabung dengan Dewa Indra lantaran dilarang membawa anjingnya serta. Yudistira telah menganggap anjing tersebut sebagai teman seperjalanan, dan merasa sangat berdosa apabila meninggalkannya demi kebahagiaan sendiri.

Di tengah proses bujuk rayu Dewa Indra kepada Yudistira, anjing itu menunjukkan bentuk aslinya: Dewa Yama. Ia memuji kesetiakawanan Yudistira, dan membuatnya pantas memasuki surga dalam raga duniawinya.

Gambar terkait
Ketika Dewa Indra membujuk Yudistira menaiki keretanya ke kayangan tanpa membawa anjingnya. Gambar: Wikipedia

4. Buddha Gotama

Ratu Maya meninggal saat tujuh hari setelah melahirkan Pangeran Siddhattha.

Sebagai seorang piatu, sang pangeran tumbuh besar di bawah asuhan Pajapati, tantenya, dan tentu tidak berkesempatan untuk berbagi kebahagiaan atau pun berbakti kepada ibu kandungnya. Ketika ia berhasil memenangkan sayembara dan menikahi Yasodhara; ketika putranya lahir, Rahula; ketika ia kembali mengunjungi kerajaan kampung halamannya sebagai seorang Buddha.

Pada tahun ketujuh kebuddhaannya, Buddha Gotama melihat dan mempelajari kebiasaan para Buddha di masa lalu. Salah satunya ialah pergi dan mengajarkan Abhidhamma kepada murid dan makhluk-makhluk lain yang mampu memahaminya kala itu–kendati pada akhirnya tercatat dan berhasil dibukukan beberapa abad setelah wafatnya. Abhidhamma sendiri merupakan kumpulan ajaran mendalam yang disepakati berasal dari Sang Buddha langsung secara historis, dan kemudian jadi bagian dari Tipitaka hingga sekarang.

Mendiang Ratu Maya melanjutkan siklus kehidupannya terlahir di surga tingkat empat, Tusita, yaitu seorang dewa bernama Santusita. Maka pada saat Buddha Gotama mengunjungi surga tingkat dua, Tavatimsa untuk membabarkan Abhidhamma kepada ribuan dewa penghuninya, Santusita turut diundang hadir.

Pengajian Abhidhamma di Tavatimsa berlangsung selama tiga bulan (ukuran waktu bumi). Selama itu pula, para umat awam menunggu kepulangan Sang Buddha sambil berkemah dan mendengarkan ajaran dari beberapa murid utama. Titik konsentrasi umat ada di Samkassa (kota kuno yang saat ini bekas-bekasnya dipercaya berada di antara kota Farrukhabad dan Mainpuri, Provinsi Uttar Pradesh) sehingga Sang Buddha memutuskan “turun” di sana.

Mengetahui rencana kepulangan Sang Buddha ke bumi, Dewa Sakka—pemimpin surga Tavatimsa—menciptakan tiga jalur “tangga” dari “puncak Gunung Sineru” dan berujung ke pintu kota Samkassa. Jalur-jalur tangga tersebut terbagi menjadi tangga perak di kiri bagi para Mahabrahma, dan tangga emas di kanan bagi para dewa mengapit tangga permata untuk Sang Buddha.

Gambar terkait
Sang Buddha turun dari Tavatimsa didampingi para dewa hingga Mahabrahma dengan tangga permata. Gambar: journal.phong.com

Kisah-kisah di atas berasal dari hampir semua agama resmi yang diakui negara ini. Hanya saja, saya belum pernah membaca/tidak pernah menemukan catatan peristiwa serupa dalam ajaran Konghucu. Sementara ajaran Tao yang memiliki segudang cerita sejenis (Delapan Dewa, Lv Shang alias Jiang Ziya, atau bahkan sosok Laozi sendiri) masih dianggap bagian dari kepercayaan tradisional Tionghoa, yang rancunya, terkadang dilekatkan pada Buddhisme Mahayana. Maka dapat dikesampingkan untuk sementara waktu.

Dari keempat kisah di atas, saya hanya berhak mengomentari cerita tentang Sang Buddha “turun” dari Surga Tavatimsa.

Sebagai seorang Buddhis, saya tidak berkewajiban membuta untuk mempercayai kisah tersebut bulat-bulat. Toh, saya tidak ada di sana dan menyaksikannya waktu itu. Apalagi tidak tertutup kemungkinan, terbatasnya wawasan dan ilmu pengetahuan manusia di era tersebut dapat menyebabkan kekeliruan serta mispersepsi. Misalnya mengenai ruang: “naik”, “ke atas”, “turun”, “tangga”, dan sebagainya. Membuat kisah pembabaran Abhidhamma di surga itu terdengar mirip dongeng.

Apakah benar Sang Buddha naik untuk ke Surga Tavatimsa?
Apakah benar Sang Buddha turun ke bumi menggunakan tangga ciptaan Dewa Sakka?

Namun, satu hal yang nyata, kumpulan kitab Abhidhamma memang ada dan sebagiannya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Bukan untuk sekadar dianggap sakral atau keramat, tetapi agar mudah dibaca, dipahami, dipraktikkan, dan dialami sendiri. Sebab hakikatnya, menjalankan dhamma—ajaran—jauh lebih penting dibanding urusan “tangga-tangga gaib” yang ribuan kilometer panjangnya.

Demikianlah sebagian cerita tentang mereka yang bisa ke atas dengan mudahnya.

… dan, barangkali, bukan itu intinya.

[]

Kopar Kapir Horam Harom… Haruskah Ku Peduli?

CAPEK, lho, beneran. Mendengar/melihat orang lain berbicara dan saling berbantahan hampir setiap hari di mana saja. Namun, sayangnya keberisikan ini tak bisa dihindari. Disodorkan di depan muka kita tanpa kesempatan untuk mengelak. Ibarat dipaksa menjadi pemirsa, menyaksikan apa yang terjadi di panggung begitu saja, tapi serba ndak jelas ranahnya.

Memang cuma “orang dalam” yang berhak tampil dan bersuara soal masalah tersebut. Mereka yang punya kepentingan. Mereka adalah para penganut. Mereka yang harus mengurusi, sebab menyangkut hidup mereka, bagaimana mereka menjalaninya, dan bagaimana mereka berupaya bertanggung jawab secara sosial dan moral kepada sesama.

Makanya, tak perlu kaget kalau ada tulisan di Mojok yang berjudul: “KALAU PUBG HARAM, APAKAH MUI PERLU MENGHARAMKAN KITAB SUCI SEKALIAN?”

Yang dikritik adalah organisasi pemuka agama Islam, yang mengkritik pun seorang muslim. “Aman”, lantaran tidak melibatkan pemeluk agama lainnya secara aktif. Ya… paling-paling hanya menjadi pembaca dan pemberi komentar.

Sembarang œ wis… Itu urusan mereka.

Mari kita resapi sejenak, “Surefire”-John Legend.

Pada dasarnya, perkara label-label semacam “kafir”, “haram”, serta berbagai pengistilahan lainnya berasal dan hanya berlaku secara terbatas. Yakni di dalam komunitas muslim, atau kelompok masyarakat yang para anggotanya telah mengikrarkan diri untuk tunduk dan patuh terhadap aturan-aturan agama Islam. Otomatis, pemaknaan dan ragam penggunaan istilah-istilah tersebut pun tidak berlaku menyeluruh. Bagi saya, misalnya.

Sesuai koridor dan proporsinya, para kenalan maupun kawan yang muslim sangat boleh menyebut saya sebagai seorang kafir. Pasalnya, saya menyembah galon akwa. Berarti saya tidak beragama Islam, bukan seorang muslim. Kenyataan ini menjadi prasyarat utama untuk mengkategorikan saya sebagai seorang kafir.

Lalu, apakah saya harus merasa terganggu ketika dipanggil “Kafir, kamu!“?

Lha wong tuhannya beda, kok. Justru menjadi aneh bila saya terganggu dengan panggilan itu–kecuali jika ucapan tersebut dilontarkan tepat di depan hidung kita oleh seseorang yang lupa sikat gigi.

Lebih terganggu baunya, sih, bukan ucapannya.

Di sisi lain, jangan lupa bahwa pengistilahan adalah salah satu aktivitas linguistik. Apa pun tujuannya, perumusan dan penggunaan suatu istilah dimaksudkan untuk mempermudah komunikasi. Efek samping yang ditimbulkan bisa berupa pemaknaan konotatif dan pengarahan persepsi, dramatisasi, dan penggunaan yang keliru atau salah kaprah.

Contohnya, (1) alih-alih digunakan dalam percakapan antarsesama muslim, sebutan “kafir” malah lebih populer dijadikan bahan perundungan. Termasuk kepada orang yang tak dikenal sekalipun.

"Dasar kafir!"

Kemudian (2) alih-alih digunakan dalam percakapan antarsesama muslim untuk sekadar menyebut penganut agama lain, sebutan “kafir” seakan-akan digunakan untuk mengesahkan perbedaan kedudukan. Yaitu bahwa para muslim memiliki derajat lebih tinggi daripada para penganut agama lain. Juga melanggengkan stereotip.

Unpopular opinion: Sebenarnya sah-sah saja apabila para muslim berpandangan seperti itu. Namanya juga kepercayaan agama, dianggap kebenaran tunggal tak ada duanya. Akan tetapi, banyak yang tidak menyadari bahwa pandangan ini bisa mengakar sedemikian kuat, hingga memengaruhi tindakan atau perbuatan kesehariannya.

Secara logis, seseorang tak akan mampu melakukan sesuatu secara nyaman jika bertentangan dengan pikiran atau kehendaknya sendiri.

Kemungkinannya besar, seseorang yang bisa melakukan diskriminasi agama betul-betul percaya bahwa para penganut agama lain memang memiliki kedudukan lebih rendah dibanding mereka.

"Kalau kafir ya pantesnya digituin."

Berikutnya, (3) alih-alih digunakan dalam percakapan antarsesama muslim, sebutan “kafir” dilancarkan untuk mengintimidasi. Seolah-olah menjadi bagian dari upaya penyadaran dan pertobatan. Asumsinya, dengan sering disampaikan, ditambah intonasi yang tepat, si pendengar akan terdorong atau tergerak untuk menyadari kesalahannya (baca: menganut agama lain).

Padahal, pahala dan dosa, kepantasan masuk ke surga dan ganjaran jatuh ke neraka, hak tuhan sepenuhnya selaku pemilik. Siapa kita? Kok percaya diri banget menjatuhkan vonis akhirat kepada seseorang?

Situ malaikat?
Malaikat pun tetap menunggu perintah majikan, bukan berinisiatif.
Konon.

Terakhir, (4) alih-alih digunakan dalam percakapan antarsesama muslim, tanpa disadari hardikan “kafir” jadi candu ego. Hampir setiap orang ingin menjadi sosok yang penting. Ucapannya sakti, wajib ditaati. Mendapatkan bantahan, jiwanya bergejolak. Meronta ingin memenangkan perselisihan. Sebuah istilah dalam bahasa Arab itu pun mendorong banyak orang menjadi agresif. Beringas.

"Dasar kafir kamu!"
   "Iya. Memangnya kenapa?"
"Kurang ajar! Sudah kafir malah nyolot! Masuk neraka jahanam, kamu!"
   "Tahu dari mana?"
(Akhirnya dikeroyok. Mati.)

Sementara itu, bagaimana dengan “haram”?

Ya… kembali lagi, selain hal-hal terlarang secara universal (seperti: membunuh, mencuri dan mempergunakan uang ilegal, persetubuhan tidak patut, berbohong dan menipu, serta lain sebagainya), “keharaman” berlaku secara terbatas. Hanya oleh penganutnya.

Haram bagimu, belum tentu bagiku.
Jangan asal dipaksa. Memangnya kamu mau kalau dipaksa-paksa juga?

Haruskah ku peduli?
Coba saja dimengerti dan dipahami, supaya tidak melakukan hal serupa kepada yang lainnya.

[]

Berhenti Sok Tahu Mengejar “Kebahagiaan”

SAAT teman baikmu ada masalah dengan pacarnya‒yang lagi-lagi ketahuan selingkuh, kamu gemar, bahkan jago memberikan nasihat kepada dia.

Dengan kebijaksanaan laksana seorang begawan, kamu tunjukkan dan jabarkan hal-hal yang selama ini diluputkannya. Kamu berikan dia pandangan tentang bagaimana menyikapi masalah tersebut. Kamu juga mendorongnya menjadi wanita pemberani. Berani melihat kenyataan, berani mengambil keputusan, berani meninggalkan seseorang yang memang tak pantas didampingi.

Tanpa terlalu mencampuri kehidupannya seperti seseorang yang tak tahu batasan, kamu peluk dan kuatkan dia. Kamu dampingi dia dalam setiap langkah yang perlu diambil untuk menyudahi dan bangkit dari keterpurukan itu. Kamu berhasil mendorong dan menyemangati agar dia kembali menjadi dirinya sendiri. Menjadi seorang wanita yang berharga, yang semestinya diperlakukan dengan sebaik mungkin, yang pantas mendapatkan laki-laki terbaik di sisinya.

Usahamu berbuah manis. Temanmu kembali menjadi figur yang ceria, manis, dan bebas berekspresi. Kamu berhasil membantunya melewati momen-momen tidak menyenangkan yang kritis. Kamu menunaikan tugas sebagai seorang teman yang membantu di saat paling dibutuhkan, sekaligus sekali lagi membuktikan kemampuan sebagai penasihat yang baik. Pemberi panduan bagi mereka yang hilang arah, dan tak tahu harus berbuat apa. Kamu memang hebat.

Nasib orang siapa yang tahu.

Menjadi seseorang yang cantik, pintar, baik, lucu, menggemaskan, dan pandai menampilkan diri bukan jaminan bisa terhindar atau terlepas sepenuhnya dari orang-orang yang tak tahu diuntung.

Kamu diselingkuhi oleh pacarmu sendiri. Seseorang yang sudah diajak menjalani hubungan dua tahunan lamanya.

Kamu terpukul hebat, tentu saja. Untuk beberapa waktu lamanya, giliran kamu yang kehilangan arah. Kamu sadar penuh bahwa kamu adalah korbannya, dan dia, seseorang yang pernah (atau masih) kamu anggap sebagai rumah tempat kelelahan dan hati berlabuh, ternyata tidak lebih dari sekadar bocah. Tak peduli berapa usianya, apa pekerjaannya, berapa yang dia hasilkan, dan pencapaian-pencapaiannya yang lain, dia hanya anak-anak yang dengan mudahnya beralih perhatian dari satu mainan ke mainan lain. Kadang ia pegang di kedua tangannya, bersamaan, tanpa mau melepaskannya. Dibawa saat tidur, dibawa saat mandi, dibawa saat makan, dibawa saat berak. Dia cuma seperti anak-anak, yang manakala dijauhkan dari mainan-mainannya sebentar saja, akan menangis meraung mengamuk tantrum tanpa peduli di mana dia berada, di hadapan siapa dia melakukannya.

Dia tak ubahnya anak-anak. Bukan laki-laki dewasa, seseorang yang seharusnya tahu betul apa arti dari komitmen, tanggung jawab, kejujuran, dan kepatutan. Soal pernikahan dan menjadi pasangan seumur hidup dalam ikatan cinta? Oh, belum tingkatannya. Masih jauh. Banget. Terlepas dari apa pun hal-hal indah yang pernah kalian jalani sebelumnya. Termasuk janji, serta ucapan-ucapan menyenangkan dan menyamankan yang pernah dia sampaikan. Baik lewat teks, dengan berbicara langsung, maupun yang dibisikkannya secara lembut lirih perlahan langsung di depan liang telingamu.

Bila masalah ini dilihat oleh dirimu yang dahulu; yang menasihati, membantu menyadarkan, dan menguatkan teman baikmu kala menghadapi perkara serupa, kamu pasti langsung tahu harus ngapain dan berbuat apa. Baik untuk dirimu sendiri, maupun kepada seseorang yang belum becus menjadi laki-laki dewasa sepenuhnya.

Namun, mendadak kok jadi tidak “segampang” itu? Tak lancar seperti sebelumnya? Kamu justru butuh mendapatkan masukan dari orang lain. Perlu dinasihati dan dibantu menuju solusi.

Itulah kita, yang jago memberikan nasihat bagi orang lain tetapi malah jadi pengambil keputusan yang payah bagi diri sendiri. Meskipun seringkali untuk masalah yang sama. Kan lucu.

Diistilahkan sebagai Solomon’s Paradox, hal ini dikenal sebagai salah satu “keunikan” lazim pada manusia. Yakni ketika seseorang bisa melihat masalah orang lain dengan begitu jelas, sehingga dapat langsung mengidentifikasi inti/fokus utamanya. Dibanding saat menghadapinya sendiri.

Di sisi lain, perbedaannya adalah sudut pandang dan apa yang dialami. Bagi orang lain, masalah tersebut dapat dilihat dari satu atau dua dimensi. Sedangkan bagi yang mengalami sendiri, terdapat banyak faktor dan pertimbangan tambahan. Belum lagi soal perasaan yang hanya diketahui oleh mereka‒dan bikin bias‒secara eksklusif.

Dengan demikian, kita akan selalu rentan untuk menjadi sok tahu tentang masalah orang lain. Belum lagi jika kita menyuapkan (baca: memaksakan) saran-saran yang terdengar positif, tetapi sejatinya beracun.

Sebab segala masalah yang mereka alami, kerap tidak sesederhana yang kita pahami. Hingga akhirnya terjadi pada diri kita sendiri.

[]

Ngegas Ergo Sum: Aku Ngegas, Maka Aku Ada


ENGGAK peduli yang disampaikannya benar atau salah, tepat atau tidak, pokoknya ngegas dulu. Supaya “ada”, atau lebih tepatnya supaya dianggap dan merasa “ada”.

Diawali dengan satu pertanyaan: “Kenapa mesti ngegas, sih, anjjj…” (lah, kok ngegas juga?)

Ini barangkali bukan sekadar soal eksistensi. Bukan semata-mata tentang keberadaan seseorang, terutama menurut dirinya sendiri. Ego memang menjadi landasan utama, tetapi ada berbagai alasan dan latar belakang lain yang mendorong seseorang untuk bersikap demikian.

Emosional

Ada orang yang awalnya sabar, mampu menjaga sikap, dan mengendalikan diri. Namun, lama-lama mulai kehilangan kesabaran, gemas, geregetan, jengkel, sampai kesal ketika berinteraksi sosial. Nada bicara yang mulanya terdengar biasa-biasa saja, mulai meninggi, bahkan sampai membentak. Di titik yang paling parah bahkan bisa berupa teriakan. Bukan lagi berbicara atau diskusi seperti biasa, melainkan amukan amarah atau debat pakai urat.

Seseorang menjadi emosional lantaran banyak hal. Bisa karena pembawaan yang temperamental; tidak menyenangi lawan bicaranya; merasa terganggu dengan lawan bicaranya; si lawan bicara yang terkesan bebal atau susah dinasihati; bisa juga karena pembawaan yang memang tidak sabaran, atau judes dan suka ketus.

Kalau sudah begini, mesti dihadapi dengan luwes. Ngegas jangan dibalas dengan ngegas balik. Biarkan saja dia ngegas kenceng sampai saatnya harus tarik napas, lalu mulai kembali pembicaraan dengan landai dan santai. Kembali ke tujuan utama berlangsungnya pembicaraan tersebut; komunikasi, ada yang perlu disampaikan. Bukan adu-aduan mana yang lebih baik, lebih benar, dan seterusnya. Tidak menutup kemungkinan dia ngegas karena kita juga.

Butuh Perhatian

Semua orang butuh diperhatikan, dipedulikan, didengar, diiyakan, dianggap ada sebagai seseorang/sesuatu yang signifikan. Untuk tujuan ini, ngegas yang dilakukan sebatas konteks atau bungkusnya saja. “Notice me, Senpai!” Setelah diperhatikan dan mendapat tanggapan, gembira hatinya.

Ada banyak cara untuk ngegas demi mendapatkan perhatian. Bukan hanya meninggikan suara, atau berbicara lebih nyaring dan keras—awalnya dipikir dapat meredam suara lain, membuat suaranya saja yang didengar, padahal jadi tambah berisik—apalagi pakai gebrak meja. Ngegas bisa ditunjukkan secara virtual lewat media sosial. Cukup sambar twit seseorang, hujani dengan kritik, argumentasi perlawanan, bantahan dengan gaya yang diinginkan. Bisa juga ditambah gaya khas netizen yang berasanya ramah padahal sejatinya penuh penghakiman: “Sekadar mengingatkan 🙏🏼”

Enaknya kalau ngegas di media sosial, jika terbukti keliru atau salah cukup ditinggal ngilang

Aku Benar, Kamu Salah

Faktor ini juga bersinggungan dengan emosi, hanya saja seringkali dibarengi kebanggaan diri dan superioritas. Dengan merasa sebagai seseorang yang benar, dan sedang berhadapan dengan seseorang yang salah, timbul semangat untuk muncul dan mengemukakan diri sebagai pihak yang benar. Terkadang malah hanya gara-gara sok tahu.

Sayangnya, semangat kebanggaan diri ini rentan bikin kepleset. Harga diri dan gengsi sebagai seseorang yang benar tadi seolah-olah menjadi perisai kritik, tinggi hati, dan membuat seseorang tersebut susah menerima kenyataan bahwa dia salah. Ngeles terus sebisa mungkin, atau justru melemparkan kesalahan kepada pihak lain. Banyak banget contohnya.

Seringkali yang ngegasnya lebih kencang justru orang yang jelas-jelas salah. Itu mereka lakukan demi menutupi kesalahan tersebut, atau mengalihkan perhatian supaya tidak terlampau malu.

Selain urusan benar atau salah, seseorang bisa ngegas karena banyak aspek lainnya. Superioritas tersebut mencakup status sosial dan ekonomi; “Aku lebih tinggi daripada kamu,” senioritas; “Aku lebih duluan daripada kamu,” dan ilusi moral; “Aku lebih baik daripada kamu.” Seakan-akan semua kondisi tersebut membuat mereka berhak untuk ngegas.

Sindrom Sang Penyelamat

Ini berhubungan dengan prioritas, atau hal yang dianggap penting oleh seseorang tetapi dianggap biasa-biasa saja bagi orang lain. Berkaitan juga dengan seberapa tenang seseorang saat menghadapi sesuatu. Ada yang bisa woles, ada juga yang panik, padahal ujung-ujungnya tidak serumit yang dibayangkan.

Maka, orang-orang dengan Sindrom Sang Penyelamat ini akan berusaha sekeras mungkin agar bisa didengar, diiyakan, dan dituruti oleh orang lain.

Berbeda dengan dorongan sebelumnya, orang-orang yang ngegas demi tujuan ini sebenarnya tidak memiliki niatan buruk. Mereka hanya terfokus pada hal-hal yang dianggap penting, bukan selebihnya. Lagi-lagi, yang membuat ngegas itu terjadi adalah perbedaan sikap dan pandangan terhadap sesuatu. Oleh sebab itu, dorongan ini bebas dari baper. Setelah sesuatu selesai, langsung move on.

Memang Dasar Mulutnya Jelek, Aja!

[]

Mengelak dari Kesusahan Kini atau Nanti? Kita Memang Makhluk yang Sangat Pamrih

TENTU saja! Mustahil bagi kita untuk benar-benar tanpa pamrih, tanpa berhitung, atau tanpa mempertimbangkan sejumlah hal sesedikit apa pun dalam menjalani hidup. Hal ini lazim, selazimnya kita menikmati hal-hal yang menyenangkan, dan menolak hal-hal yang tidak menyenangkan.

Sederhananya, disadari atau tidak, kita pasti melakukan sesuatu demi sesuatu yang lain. Begitu pula sebaliknya, kita pasti tidak melakukan sesuatu demi menghindari sesuatu yang lain. Dalam bentuknya serendah atau sekasar apa pun (bertahan hidup, pahala dan bisa masuk surga, mendapatkan uang dan harta, makanan, belas kasihan, kesempatan bersetubuh atau disetubuhi, reputasi dan popularitas, kedudukan, hadiah, dan sebagainya), sampai yang seluhur atau sehalus apa pun (merasa memiliki tujuan hidup, rasa batin yang terpenuhi, rasa syukur, kepuasan batin, rasa senang dan syukur karena telah berkontribusi bagi kesejahteraan orang lain, merasa telah menjadi seseorang yang baik dengan moral terpuji, merasa berlatih ikhlas dan sukarela, rasa ingin menjadi orang yang lebih baik, rasa bakti, dan sebagainya) kita pasti mengharapkan sesuatu. Bahkan orang-orang dengan kegemaran menyakiti perasaan dan diri sendiri pun, cenderung terus melakukan hal-hal tidak menyenangkan demi tujuan dan kepuasan tertentu.

Image result for fruit of self control
Foto: Pinterest

Di luar kesadarannya, seorang anak mengalami tantrum. Ia menangis meraung-raung, melelahkan, terkadang sampai tersedak dan hampir muntah, serta tidak memberikan perasaan gembira, supaya diperhatikan dan kemauannya dituruti. Sebelum mendapatkan yang ia inginkan, tantrum akan terus berlangsung.

Kecenderungan perilaku tersebut bertahan seiring usia, tetapi berubah sesuai keadaan baik dari dalam maupun luar. Dengan pengkondisian yang tepat, ada nilai sekaligus hal baru yang ditanamkan dari lingkungan di sekitarnya. Berproses bersama kepribadian dan tabiat yang bersangkutan, membentuk kebiasaan.

Mulai mengenali gadget dan tablet sebagai benda-benda yang menarik perhatian, atau permen, atau diajak jalan dan dibawa ke suatu tempat baru, atau donat, atau cokelat, atau kukis, atau uang, atau mainan, dan atau-atau yang lainnya, si anak tadi bersedia melakukan sesuatu demi mendapatkan yang diinginkan. “Nanti dikasih permen, ya.” Bila tidak begitu, si anak akan menggerutu ketika diminta ibunya melakukan ini dan itu saat tengah asyik bermain.

Sekali lagi, disadari atau tidak, kecenderungan itu bertahan sampai dewasa dan seterusnya. Dengan tujuan yang positif maupun negatif, kita terus berhitung kendati tidak berupa angka.

“Ya, sudah, tidak apa-apa lah, hitung-hitung beramal.”
“Kamu boleh senang-senang sekarang, lihat
aja nanti.”
“Biar lembur sekarang, supaya Jumat bisa pulang cepat.”
“Aku rela begini, supaya dia
enggak ninggalin aku.”
“Tak apa lah repot-repot sedikit, supaya hatimu bisa luluh nanti.”
“Ambil
aja kembaliannya, Pak (ribet pegang uang receh).”
“Cari muka, buang malu
dulu, biar nanti jadi orang kepercayaannya.”
“Sekarang susah-susah dahulu, biar nanti uangnya terkumpul buat bayar kuliah.”

“Ingat, tuhan tidak tidur.”
“Tidak apa-apa kita susah begini, mudah-mudahan kesabaran kita diganjar surga.”

Silakan amati perubahannya. Dari seorang bocah yang tidak sadar, tidak peduli, dan tidak mau tahu, bagaimanapun caranya harus mendapatkan yang diinginkan saat ini juga, menjadi seseorang yang akrab dengan ungkapan “bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian,” dan melakoninya sendiri.

Delayed gratification atau menunda kenikmatan, demikian hal tersebut dikenal sebagai sebuah sikap hidup yang kita ciptakan sendiri. Menunda desakan ego, mengatasi godaan.

Kita mengenal, mempelajari, dan mempraktikannya melalui banyak nama. Ketekunan, kesabaran, kegigihan, keuletan, keterampilan, ketabahan, pengendalian diri (dari ganjaran yang tersedia saat ini demi mendapatkan sesuatu yang lebih nanti), kecermatan dan ketepatan, keuntungan maksimal, pilihan yang lebih baik, kebahagiaan, dan kebahagiaan yang sejati ialah beberapa di antaranya.

Semua adalah soal pilihan yang diambil lewat beragam alasan dan latar belakang. Sempat disinggung sebelumnya, beragam alasan dan latar belakang dipengaruhi oleh pengkondisian serta nilai-nilai yang diperoleh dari lingkungan.

Delayed gratification yang dilakukan oleh anak orang kaya dan bukan anak orang kaya; orang religius dan orang sekuler; orang konservatif dan moderat; orang paguyuban dan orang patembayan; tentu berbeda. Namun, yang berbeda hanyalah objek-objek pilihannya. Sementara prinsip dan cara kerjanya sama: Menunda dari mendapatkan kesenangan saat ini, demi merasakan kesenangan yang lebih intensif di masa yang akan datang. Termasuk setelah datangnya kematian.

Iya, ini berlaku dalam beragama.

Terima saja, kita memang makhluk yang sangat pamrih … atau mungkin tuhan memang menciptakan kita sebagai makhluk yang sangat pamrih, dan dalam situasi kehidupan yang memang mesti dijalani pakai pamrih.

Jadi, cobalah santai sedikit saja.

[]

“Kriminalisasi” Terhadap Orang-orang Gemuk

HIDUP dalam dan menjadi bagian dari masyarakat yang sangat terobsesi pada ukuran serta tampilan fisik, tanpa sadar membuat kita sudah bersikap diskriminatif selama ini. Termasuk terhadap orang-orang yang bertubuh gemuk.

Bukan berbentuk perundungan atau bullying, diskriminasi yang kerap kita lakukan justru sangat halus, tidak kasar, tidak menyakiti, apalagi blak-blakan menyerang. Saking halusnya nyaris tak membuat si penerima merasa terganggu, tak sampai memunculkan penolakan dan kebencian. Lantaran kebanyakan berupa saran dan masukan.

Kamu kayaknya perlu olahraga, deh. Perutmu sudah gendutan, tuh. Sudah waktunya jaga kesehatan. Misalnya.

person measuring someone waist line
Photo by rawpixel on Unsplash

Sekilas tidak ada yang salah dari ucapan itu. Terkesan akrab, memiliki kedekatan personal, dan menunjukkan adanya perhatian dari si pengucap kepada lawan bicaranya. Namun, ada asumsi yang mengaitkan ukuran lingkar perut seseorang dengan kondisi kesehatan dan kemampuannya merawat diri. Padahal kondisi gemuk/kurusnya seseorang dipengaruhi berbagai faktor. Baik yang bisa diubah (gaya hidup, pola makan, pola aktivitas, kecepatan metabolisme tubuh, pikiran, tingkat stres sehari-hari, dan banyak lagi), maupun bawaan genetik yang mustahil bisa dimodifikasi. Itu sebabnya tak semua orang bisa ditangani dengan cara dan pendekatan yang sama. Seperti yang pernah ditulis Ko Glenn dan Mbak Leila beberapa tahun lalu, sebuah metode diet yang berhasil pada seseorang belum tentu memberikan dampak positif serupa bagi seseorang lainnya.

Ini bukan perkara preferensi pribadi, melainkan anggapan-anggapan yang muncul, tumbuh, berkembang, dan bertahan dalam masyarakat, hingga menjadi kesepakatan umum mengenai orang-orang bertubuh gemuk. Tatarannya pun berbeda. Dimulai dari yang hanya patut disimpan dalam hati, sampai yang bisa terang-terangan dirayakan.

Iya, dirayakan. Kompetisi berhadiah.

Beberapa anggapan sosial tentang orang bertubuh gemuk, di antaranya…

  • Orang gemuk tidak mampu mengendalikan diri/nafsu makannya.
  • Orang gemuk hobi makan, bahkan rakus.
  • Orang gemuk hanya memikirkan soal makanan.
  • Orang gemuk tidak gesit saat bergerak atau bekerja.
  • Orang gemuk tidak suka berolahraga.
  • Orang gemuk tidak bisa menjaga dietnya.
  • Orang gemuk pemalas (lantaran susah bergerak).
  • Orang gemuk lamban.
  • Orang gemuk berwajah cakep: “Sayang, badannya kegedean.
  • Orang gemuk berwajah kurang cakep: “Sudah gemuk, jelek pula.” Apalagi jika ditambah parameter-parameter negatif lain.
  • Orang gemuk gampang terserang penyakit degeneratif.
  • Orang gemuk sulit mendapatkan pasangan.
  • Orang gemuk gampang berkeringat.
  • Orang gemuk bikin gerah.
  • Orang gemuk menyusahkan sekelilingnya, bikin sempit.

… dan masih banyak lainnya.

Terdengar kejam dan merendahkan, kalimat-kalimat di atas memang tak sepatutnya diutarakan secara terbuka. Berbeda jika dalam konteks teman akrab, celetukan di atas bisa dianggap biasa-biasa saja. Jangan lupa, body shaming masih dianggap topik kelakar yang biasa-biasa saja.

Di tingkat berikutnya, kita menempatkan keadaan “gemuk” sebagai sebuah tantangan, kemudian mengaitkannya dengan kualitas perorangan. Sebut saja kegigihan dan konsistensi, motivasi dan semangat.

Awalnya mereka menjadi (baca: dibuat) merasa tidak nyaman, dan memunculkan keinginan agar bisa kurus. Entah disengaja atau tidak, ada beragam alasannya. Mulai dari masalah tampang dan penampilan, hingga paranoia tentang kesehatan. Kemudian, upaya-upaya penurunan berat badan digambarkan layaknya serangkaian perjuangan berat.

Jika tidak diejek gorila, bisa jadi jalan ceritanya berbeda. Setelah berhasil menurunkan berat badan, sebutan “jejaka tampan” mulai muncul dan dilekatkan.

Namanya juga perjuangan, tentu saja tidak mudah. Sehingga tujuan yang ingin dicapai pun lekat dengan kesan positif; sesuatu yang harus berhasil karena telah dijalani dengan susah payah. Bisa ditebak, keberhasilan itu pun dirayakan, disambut pujian dan apresiasi. Kadangkala bisa memabukkan.

Di satu sisi, itu adalah pencapaian, memang sepantasnya diperlakukan begitu, akan tetapi juga melanggengkan pandangan bahwa …

GEMUK = TIDAK BAIK

Ada ucapan bijak: “Mau gemuk atau kurus, terserah. Yang penting sehat.” Pasalnya, gemuk belum tentu sehat, kurus pun belum tentu bebas dari potensi penyakit. Cukup sampai di situ saja.

Sayangnya apabila rumus gemuk = tidak baik tertancap kuat dalam benak banyak orang, gelombang kekhawatiran berlebih dan insecurity pun bisa meluas. Dampak buruknya…

  • Cara instan menurunkan berat badan makin laku meskipun berbahaya,
  • Kehidupan sosial terganggu karena banyak yang sensitif dan gampang tersinggung,
  • Selalu terfokus pada diri sendiri (self-conscious), dan
  • Potensi gangguan psikologis termasuk kecenderungan anoreksia,
  • Pada akhirnya menghasilkan kepribadian yang rapuh.

Jadi, pilih mana? Gemuk dan bahagia, bisa menerima diri apa adanya; atau tidak gemuk tetapi enggak bisa santai?

Pokoknya, jangan berlebihan. Jangan serbasalah, dan pastikan dapat masukan yang profesional dari dokter. Cuma mereka yang punya kapasitas profesional untuk didengarkan untuk urusan berat badan dan kesehatan.

Idealnya, sih, begitu, dan mesti didukung oleh lingkungan. Jika tidak, diskriminasi itu bakal mustahil dihindari.

[]