3 Keterampilan Dasar & Krusial untuk Ngetwit Saat Ini

BUKAN hanya Twitter-an, sebenarnya, keterampilan-keterampilan berikut dibutuhkan hampir setiap saat dalam berkomunikasi. Termasuk berbicara, menulis, mendengar, dan membaca. Sementara Twitter merupakan platform media sosial dengan ruang isi yang relatif sempit. Hanya 280 karakter tulisan.

Mengapa sedemikian penting? Karena kita—sebagian besar—terlalu gampang gusar, kesal, sebal, merasa terganggu, dan membenci manakala tidak mengerti sesuatu, maupun saat tidak dimengerti oleh orang lain. Kita ciptakan sendiri sebuah ketidaknyamanan; kita terisap dalam pusaran ketidaknyamanan itu; lalu kita meratap seolah-olah paling teraniaya dan sengsara akibat ketidaknyamanan itu. Padahal, semampu kita menciptakan perkara, semestinya semampu itu pula kita menghadapi dan menjalaninya.

1. Memahami pesan sejelas-jelasnya, semaksimal mungkin

Boleh dibilang hampir semua masalah berawal dari kesalahpahaman atau kekeliruan terhadap sesuatu. Bentuknya semakin nyata bila kesalahpahaman atau kekeliruan tersebut disikapi, dilanjutkan dengan tindakan. Dari situ, masalah tercipta hingga merembet ke mana-mana. Makanya, kemampuan memahami sejelas-jelasnya merupakan landasan terpenting. Langkah pencegahan paling dini, pereda potensi konflik. Intinya, tanpa kesalahpahaman atau kekeliruan, tidak akan muncul masalah. Kecuali jika memang itu yang dicari, sengaja dibuat dan diadakan.

Komunikasi adalah proses penyampaian pesan dari pemberi kepada penerima. Ada kesan bahwa sang pemberi pesan adalah pihak aktif (yang melakukan), sedangkan sang penerima adalah pihak yang pasif (sekadar mendapatkan).

Kemampuan memahami sejatinya bersifat aktif, atau justru proaktif. Bukan sekadar membaca atau mendengar informasi dari pihak lain secara pasif, tetapi sang penerima pesan juga melakukan aktivitas berpikir, mempertimbangkan hal-hal yang diterimanya, dan mempergunakan logika dalam mengolah pesan yang diterima, sebelum akhirnya memberikan tanggapan. Ia menghindari bersikap gegabah, atau terburu-buru, atau menelan mentah-mentah informasi yang didapatkannya.

Caranya bisa relatif sederhana. Berawal dari sebuah pertanyaan singkat: “Benarkah begitu?” atau “Masa, sih, begitu?

Pertanyaan di atas mampu mengusik kita untuk mencari tahu dan memahami lebih jauh. Sebab saat ini, rendahnya kemampuan memahami pesan memicu banyak pertikaian. Termasuk di media sosial.

Gara-garanya~

● Ada yang terlalu percaya diri dengan kemampuannya memahami, kendati keliru dan salah kaprah. Saking tingginya rasa percaya diri itu, dia malah bisa mengelak, menyangkal, dan melemparkan kesalahan kepada orang lain, atau menyalahkan situasi bila dia terbukti salah.

● Ada yang terkesan bodoamat. Benar atau tidak benar, yang penting ia memberikan tanggapannya dahulu. Bisa karena merasa dirinya–dan pernyataannya–sangat penting, sehingga harus disampaikan sesegera mungkin; bisa juga lantaran telanjur benci dengan objek dan subjek pembicaraan. Jadi, menyerang dahulu selagi ada kesempatan. Sebanyak apa pun, sekeras apa pun.

● Ada yang sekadar ikut-ikutan, dan ini berdampak paling mematikan. Secara harfiah. Pasalnya, ketika hanya ada satu orang yang keliru, orang-orang di sekitarnya masih mampu mengingatkan dan mencegahnya bertindak lebih lanjut. Namun, ketika satu orang yang keliru dikelilingi orang-orang dengan kekeliruan yang sama, mereka malah berhimpun dan saling memperkuat, mendorong untuk bertindak lebih lanjut. Nyawa bisa jadi taruhannya. Parahnya lagi, mereka tidak sadar bahwa tindakan tersebut salah. Setelah peristiwa terjadi, hanya ada wajah-wajah menyedihkan yang seakan-akan meneriakkan pembelaan: “Aku, kan, tidak tahu.

Ya~ kalau tahu, tidak bakal bertindak begitu, kan?

2. Menyampaikan pesan dengan ringkas, cermat, dan mudah dipahami

Setelah mampu memahami pesan dengan jelas dan baik, tantangan berikutnya adalah bagaimana menyampaikannya dengan jelas dan baik pula. Sehingga informasi yang diteruskan tidak berpotensi keliru serta menimbulkan kesalahpahaman.

Keterampilan ini beranjak dari kesadaran bahwa setiap orang memiliki kemampuan berpikir dan memahami yang berbeda-beda. Sangat tidak bijaksana apabila kita menggantungkan “nasib” sebuah perkara pada penangkapan dan pemahaman orang lain semata. Jangan lupa, pada saat sebuah masalah muncul akibat kekeliruan dan kesalahpahaman komunikasi, pemberi maupun penerima pesan sama-sama punya andil.

Dengan keterbatasan ruang penyampaian pesan, Twitter adalah salah satu media sosial yang pas untuk melatihnya. Pengguna berusaha menyampaikan informasi sejelas-jelasnya, selengkap-lengkapnya, secermat-cermatnya, tetapi juga seringkas-ringkasnya supaya lebih mudah dibaca, tidak terlewatkan dari perhatian, serta tak membingungkan.

Yang patut diwaspadai adalah perbedaan sudut pandang. Kita seringkali beranggapan bahwa pesan yang kita susun sudah sedemikian jelas, benar, ringkas, dan mudah dipahami. Sayangnya, realitas berkata lain. Para pembaca pesan sama sekali tidak paham, atau justru salah paham. Ujung-ujungnya berkembang menjadi masalah baru.

Itu sebabnya, sama seperti pada keterampilan pertama, proses menyusun dan menyampaikan pesan tetap memerlukan proses berpikir yang intensif, mempertimbangkan banyak faktor, serta pertukaran perspektif. “Kalau aku yang jadi dia, apa yang akan aku dengar/baca/pahami dari pesan ini?” atau berusaha memastikan dengan pertanyaan “Apakah pesan ini sudah benar-benar jelas?

Serumit atau sesulit apa pun sebuah pesan dirumuskan, seseorang dengan keterampilan ini tetap tidak ingin gegabah atau terburu-buru menyampaikannya. Apalagi sampai dibuat jadi utas berpanjang-panjang.

Tak semua orang betah membaca, atau suka diajak berbicara lama-lama.

3. Selalu bersikap tenang (atau cuek)

Keterampilan ini memiliki beberapa aspek, yang salah satunya justru lebih tepat ditempatkan paling pertama; dijadikan landasan sebelum berpayah-payah memahami pesan dengan benar dan sejelas-jelasnya.

A) Tenang ketika terpapar sebuah pesan, untuk kemudian dapat memutuskan apakah pesan tersebut cukup penting untuk diperhatikan, dipahami, dan ditanggapi, atau cukup dibiarkan berlalu begitu saja. Tidak semua hal perlu, patut, atau pantas.

B) Tetap tenang ketika kita, dan pesan yang kita sampaikan, disalahpahami. Lumrahnya, seseorang akan berusaha keras mengerahkan semua kemampuan untuk mengkoreksi kesalahpahaman yang terjadi. Sebab, perasaan sebagai yang salah itu tidak menyenangkan, dan tidak ada seorang pun yang mau mengalaminya. Dengan tetap bersikap tenang, kita berkesempatan untuk mengetahui “apa kesalahpahaman yang muncul“, dan “mengapa kesalahpahaman itu muncul” dengan sejelas-jelasnya. Agar upaya koreksi dan perbaikan yang akan kita lakukan tepat sasaran, efektif, dan efisien.

C) Tetap tenang ketika kita, dan pesan yang kita sampaikan, ditanggapi negatif. Terutama tanpa dasar argumentasi yang solid. Misalnya berupa penolakan, penghinaan dan makian, serta cemoohan. Merujuk kembali kepada poin A), semua tanggapan negatif tersebut bisa kita anggap sebagai paparan pesan yang tidak penting untuk diperhatikan. Tidak usah ditanggapi lagi. Biarlah mereka bermasturbasi dengan ego sendiri. Merasa menang bertarung melawan angin.

D) Tetap tenang ketika kita, dan pesan yang kita sampaikan, ternyata salah. Dalam ketenangan, kita bisa menerima kesalahan dengan pandangan lebih jernih, lebih bertanggung jawab, dan lebih apa adanya. Menyesal, tentu saja harus. Menandakan bahwa kita sadar atas perbuatan tersebut. Namun, rasa gusar hanya akan membuat segalanya makin terasa tidak enak, tanpa faedah apa pun terhadap kebijaksanaan dan pemahaman. Dalam ketenangan pula, kita terkondisi untuk dapat menerima ganjaran dan menjalani hukuman dengan penuh integritas. Secuil kemuliaan manusia.

[]

Bertukar untuk Kebutuhan dan/atau Keinginan

SENDIRIAN di salah satu meja Starbucks depan halte Harmoni, pandangannya menerawang. Jelas, ia tak sedang menatap etalase gelas dan botol-botol minum yang terpajang di samping pintu, sebab pikiran dan kesadarannya sedang tak berada di situ.

Sama sekali tak terusik dengan orang yang berlalu lalang di depannya; yang menggeser-geser meja dan kursi di sebelahnya; yang naik dan turun tangga di sudut ruangan. Ia sepenuhnya tercerap dalam benaknya sendiri.

Enaknya menulis tentang apa?” Ia membatin. Jelas tak mengharapkan munculnya jawaban seketika.

Lagu-lagu berbahasa Inggris soal Natal diputar sebagai latar. Maklum, sudah bulan Desember. Itu sebabnya pula, koleksi gelas dan botol-botol minum yang dijual di sana berhias ornamen setema. Sesekali menarik perhatian pengunjung, membuat mereka berdiri dan mengamati untuk beberapa lama. Ada beberapa di antaranya yang langsung membeli, ada juga yang harus pakai acara berdiskusi.

Kamu ngapain beli? Buat apa?
Ya buat dipakai. Buat minum.
Kan tumbler-mu sudah banyak di rumah, masih bagus-bagus. Ngapain beli lagi?
Ini kan lucu. Edisi Christmas 2018.
Terus kenapa? Kenapa mesti beli?
“Pengen punya.

Mendengar potongan percakapan itu, dia berpikir bahwa adalah hak setiap orang untuk membeli apa pun yang ia inginkan. Asalkan punya uang yang cukup, dan barang tersebut memang tersedia dan memang dijual. Tak ada yang aneh dari realitas tersebut.

Namun, bagaimana dengan kegunaannya? Kadar manfaat dan pemanfaatannya, apa pun benda yang dibeli. Bagaimana dengan perihal kesia-siaan, kemubaziran, dan kekurang-bergunaan yang biasanya baru disadari belakangan? Bagaimana bila justru saking tidak bergunanya barang yang dibeli tadi, ujung-ujungnya malah menjadi sampah, rongsokan, yang bukan hanya membuang-buang uang, tetapi juga menyita tempat penyimpanannya, dan bahkan berpotensi menjadi limbah yang meracuni air, merusak lingkungan, sukar terurai.

Apakah seseorang bisa lepas dari tanggung jawab tersebut? Tanggung jawab atas apa yang ia beli, apa yang ia pergunakan, apa yang tak ia pergunakan, termasuk apa yang ia buang.

Apakah juga merupakan hak setiap orang untuk lalai dalam pengeluaran dan pengaturan keuangan? Jika demikian, seseorang semestinya juga hanya berhak untuk menyesali dan menyalahkan dirinya sendiri ketika tengah mengalami kekeringan finansial atau kurang uang.

Ia teringat akan ungkapan:

Membeli karena butuh, bukan sekadar ingin.

Ada guna, berguna, dan kegunaan di dalamnya.

Antara kebutuhan dan keinginan. Mustahil untuk dapat membahasnya dalam poin-poin kesimpulan yang sumir. Setiap orang memiliki segudang pertimbangan berbeda dalam mengkategorisasi hal-hal yang ia butuhkan, dan yang dia inginkan. Kendati di sisi lain, tak menutup kemungkinan ada orang-orang yang malah belum tahu atau belum mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Wajar saja, tak semua orang memiliki pemahaman, latar belakang sosial ekonomi, serta perilaku ekonomi yang sama. Apa yang dinilai penting bagi seseorang, belum tentu sepenting itu pula bagi seseorang lainnya. Hal ini memberi dampak pada pengalaman kehidupannya masing-masing. Kenyamanan dan keleluasaan, kesusahan dan kesempitan tentu dialami secara perorangan. Ada banyak faktor yang memengaruhinya pula.

Terlepas dari semua itu, terdapat beberapa hal yang disepakati bersama. Kita perlu uang untuk membeli sebagian besar barang keseharian; kita memperoleh uang lewat berbagai cara, termasuk bekerja maupun mendapatkan pemberian; dengan memiliki simpanan, kita cenderung leluasa untuk melakukan pembelian. Maka, saat kita membeli apa pun, itu artinya kita mempergunakan uang yang barangkali telah didapatkan dan kumpulkan lewat usaha.Tak elok bersikap kikir dan melekat, akan tetapi boleh-boleh saja untuk bersikap cermat. Orang Jawa menyebutnya dengan sikap éman-éman~ sayang. Seyogianya dipergunakan sebagaimana mestinya.

Di sisi lain, ada ungkapan berbeda yang terlintas:

We’re creating the demand. We make people buy things they don’t need.

Keberhasilan eksistensial sebuah perusahaan tergambarkan lewat omzet, aset, capaian, dan raihan. Semua diukur secara progresif, artinya selalu meningkat dari waktu ke waktu. Terus memberikan angka yang positif dan surplus, menghindari angka yang negatif dan minus. Lihat saja, angka target pasti selalu bertambah, setidaknya berupa persentase.

Begitupun dengan para pekerjanya. Seorang pemasar, atau tim pemasar yang baik, adalah yang mampu mendorong terjadinya peningkatan penghasilan. Tentu saja lewat peningkatan penjualan. Menggunakan berbagai cara, sudut pandang, dan pendekatan, mereka membuat orang menjadi ingin; mereka mengubah keinginan seolah-olah menjadi kebutuhan; mereka mendorong terjadinya penjualan. Itulah gambaran dasar dari sebuah kesuksesan profesional. Silakan refleksikan pada pekerjaan Anda saat ini.

Semua pekerjaan sejatinya adalah jual beli. Tak hanya barang serta benda-benda fisik, tenaga, suara, komunikasi, pemikiran, sampai identitas, dan jati diri. Selalu ada yang dipertukarkan. Seorang abdi menjual kepatuhan dan dedikasinya kepada sang tuan. Sang tuan membelinya dengan kepercayaan dan sejumlah imbalan.

Sama halnya dengan Anda dan perusahaan tempat Anda bekerja. Anda memang menjual produk dan jasa kepada orang lain, tetapi Anda pun sebenarnya menjual komitmen dan kemampuan kepada perusahaan, demi karier dan penghasilan rutin. Lihatlah secara netral dan apa adanya; apakah itu yang Anda butuhkan, atau inginkan?

Jangan sampai terjebak dilema,” ia bicara dalam hati. Kemudian bersiap pergi. Dia lapar.

Selamat berbelanja.

[]

Ribet Tak Usah Dicari

TAK kenal maka tak sayang, setelah kenal kok malah jadi bajingan?

Banyak dari kita yang pernah, atau tengah merasakan situasi ini. Sebab manusia dengan segala dimensi perasaannya, pasti cenderung tidak netral saat menghadapi sesuatu dalam kehidupannya.

Ada sesuatu yang diharapkan dari seseorang, atau suatu keadaan. “Mudah-mudahan nanti begini“; “semoga nanti begitu“; dan sebagainya. Di sisi lain, ada keraguan dan kekhawatiran baik kepada seseorang yang sama maupun berbeda. “Kenapa begitu, sih? Jangan-jangan…“; “khawatirnya, dia nanti begini…

Tanpa banyak disadari, dua aspek yang saling sebelah-menyebelah ini merupakan sumber kekecewaan. Dari kekecewaan berkembang menjadi kesedihan, ketidaknyamanan, ketidakterimaan atau penolakan, ratapan, penyesalan, atau penderitaan secara umum.

Sekarang, ingin melakukan pendekatan model apa? Yang lebih berorientasi pada diri sendiri, atau justru terfokus pada yang lain?

Pada Diri Sendiri

Kita, diri sendiri ini, adalah subjek sekaligus objek harapan, kekhawatiran, dan kekecewaan. Kita yang menjalani dan terlibat dalam segala prosesnya, kita jugalah yang mengalami hasilnya. Hal-hal yang berada di luar sana merupakan pengkondisi, komponen-komponen yang memberikan stimulus, dan memengaruhi ke mana arah penerimaan kita. Hingga akhirnya, kita sendirilah yang “memutuskan” (secara sadar atau tidak) ingin menerima dan menyikapinya seperti apa.

Pada saat kita memilih untuk berorientasi pada diri sendiri demi menghindari segala hal-hal di atas, maka secara garis besar kita tidak membiarkan diri ini digoyang ke sana kemari oleh perasaan sendiri.

Mustahil memang, untuk sepenuhnya kebal atau tidak takluk terhadap perasaan. Namanya saja sudah “rasa”, sedikit banyak pasti meninggalkan kesan bagi kita selaku penderita. Namun, jangan lupa, “rasa” dan penerimaan kita terhadap “rasa” juga dipengaruhi oleh lingkungan, serta pembiasaan.

Contohnya, kita cenderung terbiasa meratap saat kehilangan. Tak hanya kehilangan sesuatu yang kita usahakan atau hasilkan sendiri, melainkan juga kehilangan sesuatu yang sebenarnya kita peroleh sebagai pemberian. Bukan benar-benar milik kita, tidak sepenuhnya dimiliki oleh kita.

Pada yang Lain

Dari judulnya saja, jelas perspektif ini berorientasi pada segala sesuatu yang berada di luar diri kita. Alih-alih menata respons batin dan pikiran, kita berusaha agar semua hal bisa berjalan dengan baik sesuai keinginan–meskipun tidak ada jaminan bahwa keinginan kita pasti berujung baik. Harapannya, apabila berjalan sesuai gambaran atau kehendak, setidaknya bisa merasa tenteram, tanpa perlu khawatir lagi. Padahal, hidup terus bergulir. Satu urusan kelar, pasti akan muncul urusan berikutnya.

Lantaran berorientasi pada hal-hal lain di luar diri sendiri, pendekatan ini tentu lebih melelahkan fisik dan batin. Setiap dari kita yang mengusahakannya, harus mengalokasikan tenaga, perhatian, sumber daya, dan ketabahan dalam menjalaninya. Lagi-lagi, kita mengerahkan segenap hal, mengupayakan agar semua yang berhubungan dengan kita dapat sesuai harapan. Tatkala gagal dan berjalan di luar rencana, kita kembali harus mengalokasikan tambahan tenaga, perhatian, sumber daya, dan keteguhan baru dalam menghadapinya. Intinya, lebih melelahkan. Walaupun kebanyakan orang malah lebih memilih yang ini, dibanding pendekatan satunya.

Ya sudah. Apa yang terjadi pada mereka dan objek-objek lain di luar kita, terjadilah. Tak perlu ngoyo. Ibarat memencet klakson sekeras dan selama mungkin saat gerbong kereta sedang melintas. Sampai jari pegal atau klakson meledak sekalipun, Anda tidak akan bisa bergerak. Justru dilihat aneh dan mengganggu orang lain, dan andaikan Anda tetap memaksa lewat, selamat bertaruh pakai nyawa. Silakan. Suka-suka Anda sajalah. Kurang lebih seperti itu.

Meminjam perspektif Schopenhauer–filsuf pesimisme–kita, manusia, mustahil bisa terpuaskan. Terhadap keinginan-keinginan yang selalu memenuhi ruang batin kita, akan muncul polemik. Ketika kita mencapainya, kita bisa merasa bosan dan excitement atau kesenangannya dapat menurun; tetapi ketika kita gagal mencapainya, kita dilanda kekecewaan. Manusia, menurut filsuf yang lebih sayang anjing pudelnya ketimbang manusia-manusia lain itu, akan selalu berayun antara penderitaan (akibat tidak mendapatkan yang diinginkan) dan kebosanan atau kejenuhan. Di sisi lain, kita pun cenderung selalu dibuat resah oleh diri sendiri. Resah karena akan selalu muncul keinginan-keinginan baru, bahkan saat keinginan-keinginan sebelumnya masih menggantung.

Dipenuhi tumpukan keinginan yang entah bagaimana atau kapan bisa tercapai, silakan dibayangkan seperti apa rasanya menjalani kehidupan yang begitu? Maka, kita memerlukan keterampilan menyikapi dan menjalani hidup. Banyak pilihannya, mau menggunakan sudut pandang agama, kepatutan sosial, etika dan moralitas, dan sebagainya. Dua pendekatan di atas, hanya sekelumit dari beragam pilihan yang tersedia.

Tak kenal maka tak sayang. Setelah kenal pun tidak mesti harus sayang.

Setelah kenal kok malah jadi bajingan? Bajingan terhadap siapa? Apakah dia menjadi bajingan bagi dirinya sendiri; bagi orang lain; atau bagi dirimu? Lalu, apakah dia menyadari dan memandang dirinya sendiri sebagai bajingan? Apakah orang lain juga merasa dan memandangnya sebagai bajingan? Apakah kamu merasa dan menganggapnya sebagai bajingan? Kalau iya, mengapa kamu memberikan kesempatan padanya untuk bisa menjadi bajingan? Kesempatan, bisa berupa penerimaanmu sendiri terhadapnya, atau keteledoranmu untuk jatuh dalam kebajinganannya.

[]

Mendingan diam, deh…

MARI bersepakat terlebih dahulu, bahwa kebaikan dan kebijaksanaan berada pada tataran yang berbeda.

Secara mendasar, kebaikan–perbuatan baik dan berbudi–diarahkan untuk “kebaikan”, kesejahteraan, ketenteraman, dan perasaan suka cita orang lain, yang kemudian baru turut berdampak bagi diri kita sendiri. Karena itu, sebutan “orang baik” disematkan kepada seseorang yang telah memberikan atau melakukan sesuatu bagi kepentingan penerimanya.

Sedangkan kebijaksanaan diposisikan lebih mendalam, yaitu pemahaman yang utuh dan benderang terhadap sesuatu sebelum diperbuat. Menghasilkan kearifan dan kecermatan bertindak, demi kebaikan yang terbaik, dan relatif tidak bercela.

Dengan batasan tersebut, so-called “berbuat baik” belum tentu terhitung bijaksana. Hal yang menyenangkan di awal, mungkin saja memiliki potensi efek balik yang negatif. Sebaliknya, kebijaksanaan pasti membawa dampak baik, bahkan berlaku secara menyeluruh dan berorientasi jangka panjang. Meskipun bisa terasa tidak menyenangkan pada mulanya.

Yang baik belum tentu bijak.
Yang bijak pasti baik.

Kebaikan dan kebijaksanaan menyoroti aspek-aspek berbeda, pun menggunakan sudut pandang yang tak sama. Salah satunya, kebaikan cenderung bersifat monokromatis, hanya terdiri dari dua sisi absolut. “Memberi itu baik, memberi itu benar; tak memberi itu tidak baik, tak memberi itu salah.

Sementara kebijaksanaan meliputi spektrum yang lebih luas. Setiap tindakan diambil berdasarkan latar belakang, alasan, serta sejumlah pertimbangan. Dampaknya bukan sebatas yang terjadi saat ini saja, tetapi juga dipersiapkan untuk mengantisipasi segala hal yang bisa terjadi nanti. “Pemberian itu tepat, pemberian itu tidak tepat; tak memberi itu tepat, tak memberi itu tidak tepat.

Berikut adalah beberapa contohnya dalam bentuk ucapan, yang kerap kita temui dan rasakan sendiri, atau justru kita yang menyampaikannya kepada orang lain.

“Sekadar mengingatkan…”

Merasa telah melakukan sebuah kebaikan kepada orang lain, padahal lebih sarat kesan narsistiknya. Menganggap diri sudah lebih baik, lebih unggul, lebih signifikan, dan lebih sadar (dibanding orang lain), dan terjebak ilusi tanggung jawab moral untuk menjadi pengingat dan penyelamat kehidupan.

Entah disadari si pengucapnya atau tidak, ungkapan ini bisa terdengar sebagai sebuah ancaman alih-alih menasihati atau memberitahu.

“Ya kalau bukan saya yang mengingatkan, siapa lagi?”

Masih banyak yang lebih berhak atau berwenang. Orang tua, saudara, keluarga sendiri, seseorang yang dipercaya, dokter, psikiater, psikolog, guru, pemuka agama, dan sebagainya.

Terlepas dari urusan identitas, kita masih sama-sama manusia biasa.

“Tujuannya, kan, baik…”

Baik menurut siapa? Sesuatu yang kamu anggap baik belum tentu benar-benar baik. Semua orang memiliki pandangan, latar belakang, pendekatan, dan penilaian masing-masing. Maka, seyogianya, jangan paksakan ukuran kebaikan menurutmu kepada orang lain.

Tidak menutup kemungkinan pula, ungkapan ini diutarakan menyusul pernyataan yang manipulatif. Sebuah apologia untuk sesuatu yang belum tentu benar. Pasalnya, kekeliruan tetaplah merupakan kekeliruan. Biarpun dimanfaatkan dan dieksploitasi sedemikian rupa untuk mencapai tujuan tertentu, tetap saja bukan sesuatu yang patut dilakukan.

“Tuh, benar, kan yang aku bilang…”

Iya, benar, kok. Terima kasih sudah mengingatkan dan memberitahu, karena benar-benar terjadi seperti yang sudah disampaikan. Namun, kalau ternyata tidak benar dan tidak sesuai dengan yang kamu sampaikan sebelumnya, bakal bagaimana?


Ungkapan di atas terkesan baik-baik saja, sih? Hanya saja, apakah bijak ketika kita lontarkan? Apalagi tanpa mempertimbangkan keadaan orang lain.

Bagaimana pula jika kita yang mendapatkannya? Bisakah kita terima?

Apabila polemik ini semata-mata karena masalah komunikasi dan penyampaian, maka, mulailah belajar memperbaiki lisan.

[]

Apakah Saya Melakukan Mansplaining?

SEJUJURNYA, saya masih awam dengan bahasan mengenai interaksi antargender dalam kehidupan sosial secara umum. Termasuk isu yang satu ini; Mansplaining. Yaitu cara pandang dan tindakan pria terhadap wanita beserta segenap aspeknya.

Mansplaining bersifat negatif. Sebab dari sedikit yang saya pahami, Mansplaining pada dasarnya adalah sikap sok tahu yang disampaikan pria untuk/dengan merendahkan wanita. Sebagai prasyarat terjadinya Mansplaining, penyampaian kesoktahuan tersebut sarat arogansi dan dominasi. Mengesankan bahwa pria selalu benar dan wanita tak lebih pintar, sehingga mereka harus didengarkan.

Saya memberanikan diri menulis soal ini lantaran judul di atas. Setidaknya agar bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut.

  1. Apakah saya telah melakukan Mansplaining?
  2. Jika iya, apakah saya sengaja melakukannya?
  3. Jika iya tetapi saya tidak sengaja, apa yang menyebabkannya menjadi sebuah Mansplaining?
  4. Jika iya tetapi saya tidak sengaja, apa dampak dari tindakan Mansplaining tersebut?
  5. Apa saja hal-hal lain yang perlu saya ketahui agar tidak melakukan Mansplaining lagi?
  6. Apa yang harus segera saya lakukan setelah tidak sengaja melancarkan Mansplaining?
  7. Apa saja yang harus diperhatikan saat menyampaikan sesuatu agar tidak mejadi Mansplaining?

Berorientasi pada diri sendiri, pertanyaan-pertanyaan di atas dikemukakan demi menghindari Mansplaining di kemudian hari. Pasalnya, tidak semua orang, baik pria atau wanita, terlepas dari tidak tahu atau tidak mau tahu, memiliki pemahaman dan aspirasi yang sama terhadap hal ini. Tak bisa dimungkiri, Mansplaining juga merupakan produk budaya. Terlebih di Indonesia, ketika pria dikondisikan untuk selalu memiliki relasi kuasa tertentu dibanding wanita sedari kecil.

Berawal dari twit saya tempo hari.

Mendapatkan tanggapan sebagai berikut.

Screen shot of Twitter

Alih-alih tersinggung, saya tertarik untuk menelisik lebih jauh. Dimulai dengan membaca twit saya kembali, lalu beralih ke tanggapan yang diberikan supaya ketemu selisihnya. Khawatir, saya telah berlaku: “Komentar/twit dahulu, berpikir belakangan.” 😅

Saya #penasaran, which part did I define? Lebih berupa ungkapan menghargai kualitas tertentu pada wanita, dibanding sebuah upaya menjelaskan suatu kondisi yang tidak saya miliki. Mudah-mudahan saya tidak keliru menyampaikannya.

Selanjutnya, kalau “it is up to me and my kind of peep …” apakah berarti pria—saya—sebaiknya tidak mengutarakan pendapat tentang wanita? Ataukah baru berbicara setelah diizinkan, maupun saat ditanya? Apabila demikian, ya, tidak apa-apa juga, sih. Menjadi pelajaran bagi saya untuk diam saja, dan ini tentu berada di luar batasan benar versus salah. Diwangsulké mawon.

Screen shot of Twitter

Di sisi lain, apakah ini bisa dimasukkan ke kategori masalah komunikasi? Pesan disampaikan secara tertulis, justru menimbulkan polemik dalam pembacaan/penerimaan maksudnya. Apabila demikian, kesalahannya tentu pada pengutaraan saya.

Mohon maaf.

Maka, dalam situasi berbeda dan lebih terbatas, saya barangkali baru ingin mengutarakannya kepada mama, saudara wanita, pacar, teman dekat wanita, rekan kerja wanita saat bertatap muka. Bukan lewat media sosial, kepada khalayak anonim.


Terpisah, saya menemukan penjelasan ringkas dan aplikatif terkait Mansplaining dari Kim Goodwin lewat diagram berikut.

Diagram on mansplaining.
Ilustrasi: bbc.com

Saya mungkin bisa meraba-raba jawaban menggunakan diagram di atas.

[]

Jilbabphilia?

FEITICO. Sebuah kata yang kurang lebih bisa diartikan “pesona; pukau; pikat; atau daya tarik” dalam bahasa Portugis. Dari istilah ini sebutan fetish berasal, merujuk dan menggambarkan ketertarikan seksual-obsesif seseorang pada berbagai hal.

Seksual, lantaran bisa mengantarkan seseorang mencapai sensasi kenikmatan atau kepuasan seksualnya. Baik yang dilakukan dengan partner, atau hanya oleh diri sendiri.

Obsesif, lantaran membuat seseorang tersebut gandrung, memberikan dorongan yang tak terbendung secara psikis, sehingga cenderung selalu dikejar.

Tak mesti genitalia atau aktivitas seksual penetratif itu sendiri, objek fetish meliputi banyak hal yang bersifat unik dan personal. Termasuk bagian tubuh tertentu, benda-benda tertentu, tindakan atau aktivitas tertentu, maupun sensasi jasmani tertentu. Saking unik dan personalnya, terhitung ada lebih dari 549 fetish yang teridentifikasi—dinamai pakai istilah Latin—dan berpotensi terus bertambah.

Sebagai sesuatu yang atipikal, atau tidak sebagaimana biasanya, tanggapan terhadap ratusan fetish itu mengalami perubahan seiring waktu dan lingkungan sosial manusia. Ada yang dahulu dianggap aneh, kini dianggap wajar dan biasa-biasa saja. Namun, sebagian besar fetish masih/tetap dianggap ganjil, menabrak norma-norma sosial setempat, membuat tidak nyaman, bahkan membahayakan. Barangkali karena itu, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menyebut fetish dengan parafilia, yang langsung diterjemahkan: Ketertarikan seksual pada hal-hal yang tidak biasa atau tabu.

Padahal menurut Justin Lehmiller, Ph.D, seorang psikolog-ilmuwan Harvard, hampir semua hal berkemungkinan memiliki asosiasi hasrat seksual bagi seseorang.

“Pretty much anything you can think of, someone out there probably has sexual associations attached to it.”

… dan bisa saja, inilah yang terjadi dengan fenomena Akhwat Hunter.

Dari sejumlah pernyataan dalam utas twit di atas, izinkan saya mengistilahkannya “Jilbabphilia”. Sebab—ini baru asumsi, dan harap koreksi saya bila keliru—entah mereka sadari atau tidak, fenomena Akhwat Hunter menyinggung fetishism. Mengacu pada dua komponen yang selalu hadir:

  1. Para wanita berjilbab sebagai objek yang dinikmati.
  2. Adanya ekspresi seksual dari para penikmat, baik secara perorangan maupun berkelompok.

Menyimak isi cuplikan percakapan tadi, para Akhwat Hunter itu—kelihatannya—belum menikah. Sejauh ini hanya bisa bermasturbasi sambil melihat foto-foto wanita berjilbab, dan belum diketahui apakah setelah menikah nanti mereka lebih suka pasangannya tetap berpenutup kepala saat senggama, atau telanjang sepenuhnya.

Seseorang dengan fetish tertentu, sejatinya tidak bisa mencapai klimaks seksual tanpa kehadiran objek fetish terkait. Bukan sekadar fantasi, atau bumbu keintiman (kinky). Dalam kasus Akhwat Hunter, tak menutup kemungkinan mereka mesum doang. Sampai akhirnya biar mereka sendiri yang membuktikan.

Di sisi lain, dikenal pula istilah garment fetishism. Yaitu hasrat seksual yang dipicu oleh jenis atau bagian pakaian tertentu. Misalnya, seragam, rok mini, lingerie, dan sebagainya, baik dikenakan salah satu atau kedua pihak terlibat.

Kembali lagi, fetish berada dalam spektrum yang unik dan personal. Bersifat pribadi, kecuali ketahuan atau sengaja diumbar-umbar kepada orang lain. Tatkala objek fetish berupa foto-foto wanita berjilbab sengaja diekspose dan ditunjukkan ke publik oleh akun-akun anonim, bahkan lengkap dengan ekspresi seksualnya, itu sudah merupakan pelecehan. Tak ada consent di situ, persetujuan dan kesepakatan kedua belah pihak.

Parahnya lagi, perbuatan tersebut mereka kait-kaitkan dengan narasi agama. Mengingat kerudung jilbab, beragam model hijab, sampai cadar nikab identik sebagai busana keagamaan dengan seperangkat argumentasinya. Dengan demikian, tak peduli seberapa tertutupnya pakaian para wanita tersebut, mereka akan selalu diseksualisasi—dieksploitasi seksual—oleh pria-pria Jilbabphilia. Baca saja alasan-alasan mereka yang begitu didramatisasi.

Atas narasi agama tersebut, alih-alih mengendalikan diri, para Akhwat Hunter itu lebih suka melempar kesalahan pada orang lain, mempertahankan posisi sebagai yang paling benar, dan seolah-olah berhak menghakimi. Seperti tulisan pertama saya di Linimasa, soal Jilboobs. Pasalnya, bagaimanapun juga, kita adalah tuan dari tubuh dan kehendak kita, bukan sebaliknya. Pengendalian diri bisa dilatih. Jangan manja.

Terlepas dari itu semua, mungkin saja para Akhwat Hunter atau pria-pria Jilbabphilia tadi hanya sekelompok orang ngacengan, punya latar belakang dan kebiasaan yang tak lazim mengenai jilbab, serta sok religius.

[]

Bisa dibaca juga:

https://www.psychologytoday.com/intl/conditions/fetishistic-disorder
https://bigthink.com/philip-perry/are-sexual-fetishes-psychologically-healthy

Pertanyaan Para Atasan Amatiran

PERTAMA kali bekerja saat masih kuliah semester 3, ada satu nasihat—barangkali sebuah teguran—dari bos waktu itu. Lumayan bikin bingung.

Kamu jangan terlalu akrab sama anak buah. Kerja yang betul.

Sempat bertanya-tanya. Apa hubungannya antara bersikap akrab di lingkungan kerja—khususnya kepada bawahan—dan bekerja yang baik dan benar?

Apakah bergaul akrab bisa membuat seseorang tidak dapat bekerja dengan baik?
Apakah berpengaruh terhadap efektivitas dan efisiensi pekerjaan?
Apakah bisa menghambat pencapaian target?
Apakah berpengaruh negatif terhadap KPI?
Apakah merugikan perusahaan?

Mulanya, kesan yang tertangkap dari nasihat di atas adalah prasangka, kecurigaan, dan ketidakpercayaan dalam hubungan sosial. Kendati bersifat negatif dan seyogianya dihindari, semua orang tetap berhak bersikap demikian sampai berubah pikiran sendiri. “Namanya juga si bos. Mungkin dia memang begitu orangnya,” saya membatin.

Seiring waktu dan beberapa kali berganti pekerjaan, nasihat tadi makin terasa ada benarnya. Walaupun tidak berlaku mutlak, ada kalanya kita mesti menyadari situasi dan bertindak tepat agar tetap fokus menjalankan tanggung jawab yang diemban. Termasuk dengan membatasi diri dari keakraban yang melenakan, atau bahkan menghambat pekerjaan.

Hal ini cukup pelik. Mengingat setiap orang punya perangai yang berbeda. Begitu pula ketika bekerja. Baik sebagai pemimpin maupun yang dipimpin tentu memiliki gaya dan preferensi masing-masing. Ada pemimpin yang hanya tahu memberi perintah dan memarahi, ada yang suka berdiskusi dan mendengar masukan dari bawahannya, ada yang tegas tetapi tidak arogan, dan sebagainya.

Tak sedikit contohnya seseorang yang terkenal tidak luwes, tidak bisa ditawar-tawar, bersikap masa bodoh dengan keadaan orang lain dalam hal pekerjaan, tetapi selalu berhasil memberikan kualitas yang terbaik. Yang kemudian justru membuat banyak orang beranggapan bahwa ketegasan dan ketidakluwesan adalah ciri khas profesionalnya. Tentu saja selama masih dalam batas kewajaran.

Di sisi lain, ada pula bawahan yang harus selalu diarahkan, ada yang harus selalu diingatkan supaya disiplin, ada yang perlu diberi ruang berinisiatif demi memaksimalkan kemampuannya, ada juga yang manipulatif dan cenderung memanfaatkan situasi. Kalau begini, setiap orang memerlukan perlakuan berbeda-beda terkait profesionalismenya. Ada yang cocok diakrabi seperti teman sendiri, ada juga yang lebih baik dihadapi seperlunya saja biar tidak berpotensi mengganggu.

Akan selalu muncul pertanyaan, apakah memang sebaiknya begitu? Menciptakan jarak sosial dengan para pekerja secara sengaja dan konsisten, demi menjaga suasana profesional dan menghindari penurunan efektivitas kerja. Lagi-lagi, jawaban akan tergantung siapa penanyanya, serta apa yang telah dialaminya.

Mereka yang suka bergaul, supel, outgoing, dan berjiwa sosial tinggi, bisa saja agak kesulitan untuk bersikap atau mencitrakan diri sebagai individu yang dingin dan kaku. Sementara sebaliknya, orang-orang berpembawaan tak acuh, tanpa basa basi, dan efisien, bisa menciptakan jarak sosial dengan mudah.

Untuk pertanyaan yang satu ini, entah sudah ada berapa banyak konsep dan teori manajemen yang bisa diterapkan. Namun, satu hal yang pasti, bahwa setiap orang memiliki perangai, pembawaan, dan penerimaan yang beragam. Tidak menutup kemungkinan pula, ada sekelompok orang yang memiliki etos kerja tinggi, tetapi ada pula yang cenderung oportunis dan mau enaknya sendiri. Dari dua kategori ini, kelompok pertama relatif memahami arti profesionalisme dalam bekerja, sedangkan mereka di kelompok kedua malah berusaha untuk memanfaatkan celah pada pimpinannya, atau sebut saja … memanfaatkannya.

Sangat tipis dan riskan jeblos. Sikap ramah dan bersahabat, atau mudah berakrab-akrab ria antara pemimpin dan pekerjanya bisa berujung tak sesuai bayangan awal. Keramahan, keterbukaan, tenggang rasa dan toleransi, serta sikap mau kurang lebih membuat si pemimpin seolah-olah kehilangan cakar. Dia dianggap sepele oleh pekerjanya, benar-benar diperlakukan layaknya kawan bermain, sehingga ada profesionalisme dan etos kerja yang menurun. Jika sudah begini, dan sang pimpinan bersikap tegas kembali, para anak buah pun menganggapnya sebagai bentuk arogansi dan ketersinggungan. Dari yang sebelumnya asyik, berubah jadi ribet dan menyusahkan.

Dilema?

Pada akhirnya, silakan dipilih: reputasi sosial, atau reputasi profesional.

[]

Membayar (untuk) Ego

TERASA sangat menyenangkan, buaian ego berhasil menaklukkan hampir semua orang. Sensasi yang disuguhkannya hampir mirip candu; membuat kita selalu ingin merasakannya lagi, dan lagi, dan bahkan lebih lagi.

Seperti yang sempat ditulis beberapa pekan lalu, ego selalu lapar agar bisa menjadi besar. Ia butuh asupan secara konsisten, dan dengan rakus melahap apa yang ada di hadapannya.

“Makanan” bagi ego adalah segala hal yang membuat kita merasa penting dan signifikan secara positif. Sesuatu yang bisa bikin bangga, atau gembira. Oleh sebab itu, permintaan terhadap pemenuhannya pun selalu tinggi. Uang menjadi sesuatu yang sangat penting, demi kebutuhan-kebutuhan pembuai ego.

Berikut beberapa di antaranya, dan ini bukan perkara benar atau salah.

  1. Ego Trip

Sudah gamblang dari nama program yang ditawarkannya. Paket perjalanan ini bukan sekadar untuk berwisata, titik beratnya justru pada foto-foto yang dijanjikan ada di akhir kegiatan.

Berlatar belakang panorama dan pemandangan yang indah, atau objek monumental dengan komposisi fotografis, para pembeli paket bisa mendapatkan sekurang-kurangnya belasan foto Instagram materials. Tujuannya tentu agar layar Instagram terlihat lebih kece dan dikagumi orang lain. Dihujani likes dan komentar pujian, untuk kemudian bikin mereka kepingin juga.

Efek sampingnya, tidak sedikit peserta paket wisata yang malah menyembunyikan informasi tentang program ini. Biar ekslusif dan tidak pasaran. Dalihnya.

 

  1. Fotografer Pribadi

Asalinya, fotografi bertujuan untuk mengabadikan sesuatu. Menghasilkan penanda dan pengingat visual yang tak lekang zaman. Fungsinya bergeser seiring waktu, menjadi penghasil cenderamata yang menampilkan keindahan objek di dalam gambar, termasuk para manusia.

Berbeda dengan pejabat publik, yang demi keterbukaan dan transparansi dituntut dapat terpantau khalayak, makin banyak orang memerlukan fotografer demi rasa senang dan pembesaran ego. Bukan lagi untuk menghasilkan kenang-kenangan sebagai tujuan utamanya.

Fotografi pranikah, menghasilkan foto-foto pelengkap dekorasi lokasi pesta—mungkin itu sebabnya tidak ada foto post-wedding, atau juga membuat pasangan mempelai merasakan sensasi bak fotomodel. Begitu pula dengan fotografi kehamilan, yang tetap saja terfokus pada penampilan sang calon ibu dengan perutnya yang sudah membesar sedemikian rupa. Terkadang juga didampingi sang suami. Sekali lagi, ini tidak salah. Setiap orang berhak difoto dalam kondisi apa saja. Misalnya, satu paket. Pre-wedding, saat pemberkatan pernikahan, saat resepsi, saat malam pertama, fotografi kehamilan, saat melahirkan, dan seterusnya. Bebas.

  1. Jual Followers dan Likes Instagram

Entah, apakah ini menjadi latar belakang penggunaan sebutan follower di ranah media sosial, atau kebetulan belaka. Pastinya, istilah follower atau pengikut punya dampak khayali yang cukup kuat sebagai efek sampingnya.

Sejak awal, sudah banyak pengguna media sosial yang terjebak ilusi merasa signifikan dan penting melalui angka pengikut. Tanpa sadar telah keliru, mereka menganggap para pengikut tersebut adalah penggemar, orang-orang yang sebegitu sukanya dengan pemikiran dan tingkah laku digital mereka.

Tak heran gelombang “folbek dong…” mustahil surut, dan banyak yang menganggapnya serius. Tidak followback di media sosial bisa memengaruhi pertemanan di dunia nyata. Sekali lagi, ini menunjukkan betapa membuai sekaligus menipunya angan-angan tentang jumlah pengikut dan kesan signifikan.

Kebutuhan akan angka pengikut ini pun ditangkap sebagai peluang bagi sekelompok orang. Mereka beternak akun yang siap menjadi followers konsumen. Harganya pun jauh dari mahal, bisa dimulai dengan seharga segelas teh susu ala Taiwan untuk penambahan seratus pengikut.

Efek dominonya, tren ini ditangkap sebagai gejala baru pemasaran digital, dan landasan penambahan fitur platform media sosial itu sendiri. Para pemilik akun media sosial berpengikut banyak digelari Selebgram, Selebtwit, sekaligus Influencer—para pemengaruh publik. Mereka memasang tarif iklan, pengiklan pun mengalokasikan bujet bagi mereka. Maka, jangan heran mengapa Awkarin menjual akun kepada … dirinya sendiri. Suka-suka dialah. Toh, tetap banyak juga followers-nya.

 

  1. Penyedia Penonton Bayaran

Khusus yang satu ini, tidak semata-mata untuk membesarkan ego penggunanya. Dalam beberapa kasus, penonton bayaran dihadirkan supaya memeriahkan suasana dan studio, sekalian agar tampak cantik di foto dan hasil siaran.

Di luar itu, kehadiran penonton bayaran tentu diperlukan penyelenggara guna mendapatkan suasana ramai bagi bos atau atasannya. Terserah apa sebutannya, penonton bayaran seringkali dikenal juga sebagai fans atau anggota komunitas pengguna merek tertentu. Praktik ini biasanya terlihat saat acara peluncuran apa pun.

  1. Pengajar Kursus Seni Sekaligus Juri

Kerap dilakukan para orang tua muda kepada anak-anaknya, umumnya dengan alasan yang mudah dibelokkan. Di satu sisi, mereka mengaku ingin memberikan pendidikan keahlian terbaik bagi putra putri mereka. Di sisi lain, mereka sendiri yang sebenarnya haus rasa bangga dan keinginan memamerkan anak-anak mereka dibanding orang lain.

Diikutkan kursus menggambar dan mewarnai, lalu memenangkan lombanya. Begitupun pada kursus musik, modeling, dan sebagainya. Apakah mereka pernah bertanya atau berusaha mencari tahu apa bidang yang sungguh-sungguh diminati oleh anak-anak mereka, sebelum menjejalinya dengan agenda yang padat?

Ada juga kasusnya, kala si anak memiliki bakat di bidang lain, tetapi dikelabui dan agak dipaksa mengikuti kursus tarik suara. Tanpa ia sadari sama sekali, suaranya sumbang. Sang pengajar, atas dorongan si orang tua, terpaksa memuji dan membesarkan hati si anak. Waktu terus berjalan, sampai akhirnya si anak terhenyak dan sadar bahwa suaranya tidak sebagus yang ia kira, lewat ejekan orang. Kasihan, kan?

  1. Jasa Titip Pre-order

Bagi sebagian orang, ada kebanggaan tersendiri menjadi pemilik pertama sejumlah barang yang tidak atau belum beredar di negara atau kota sendiri. Kendati uang yang harus dikeluarkan 30-40 persen lebih tinggi dibanding banderol aslinya, mereka terkesan tidak peduli. Pokoknya harus jadi yang awal.

Sementara, tidak ada jaminan dia bakal puas dan bertahan dengan barang yang dibelinya tersebut untuk waktu lama. Termasuk di daerah (luar pulau Jawa), ketika teknologi baru sekadar dilihat dari sisi gengsi. Namun, saat produknya datang dan siap digunakan, si empunya malah kebingungan.

Beda cerita kalau yang bersangkutan membeli untuk memanfaatkan momen ekonomi, dan melihat kesempatan menjualnya pada harga lebih tinggi di kemudian hari. Itu namanya investasi.

Apple Store queue.
Foto: Business Insider

  1. Personal Trainer

Pembesaran ego bisa terjadi lewat banyak hal. Termasuk anggapan atau merasa memiliki kondisi fisik yang bagus. Demi tujuan yang satu ini, tak ayal banyak pusat kebugaran yang kebanjiran pelanggan baru. Baik yang paham dan tahu apa yang mereka inginkan, maupun yang sekadar ingin merasa sudah berolahraga, selanjutnya bisa memiliki bentuk tubuh yang rupawan.

Untuk yang satu ini, pelatih pribadi bertugas mengajari, mengawasi, memastikan semua aspek bagi kliennya. Jasanya dibayar oleh klien dengan beragam pemikiran dan pertimbangan. Ada pelanggan yang siap dikerasi, ada pula yang justru gampang tersinggung manakala dikerasi sedikit saja. Risikonya, minta ganti pelatih atau bahkan pindah gym.

Sebagai personal trainer, apa yang mesti dilakukan?

  1. Concierge

Pada dasarnya, profesi ini terbentuk sebagai wujud pelayanan tertinggi dan berkelas bagi kalangan atas. Singkat kata, apa pun yang diinginkan pasti bisa diatur dan disediakan oleh mereka. Seekstrem, sesulit, seekslusif apa pun permintaan yang disampaikan pelanggannya.

Sejauh ini—setidaknya dari informasi dan gambaran yang didapatkan—permintaan dan pelayanan terkait concierge lekat dengan kesan elegan. Bukan norak. Konsumennya pun bukan orang yang kagetan, setidaknya. Hanya saja, tingkat keruwetannya berubah drastis terhadap riche nouveau, alias Orang Kaya Baru (OKB). Turis-turis Tiongkok, contohnya.

Concierge adalah yang membantu, bukan pembantu, terlebih babu. Idealnya dianggap seperti itu.

Concierge bell.
Foto: growthinvestingresearch.com

Orang-orang kita pun bisa mengarah ke sana. Ditandai celetukan: “Ya biarin aja. Kan kita bayar juga…” Merasa penting karena sebagai pemilik uang, dan pembayar jasa layanan.

[]

Keliru Kutip, Anti LGBTIQ, atau Jurnalisme yang Bias?

BILA mengacu pada tulisan saya sebelumnya, entah, apakah saya masih kompeten dan berhak berbicara tentang topik yang satu ini, atau sebaiknya menelan semua unek-unek dan diam saja. Pasalnya, ini tentang praktik jurnalisme arus utama (mainstream) di Indonesia, serta risiko terjadinya persepsi bias. Soalnya, saya bukan lagi seorang jurnalis, pun bukan pekerja di bidang ini.

Urusan LGBTIQ dan jurnalisme. Mulai definisi dan batasannya, spektrumnya dalam pandangan psikologi, sampai kepada orang-orang yang berkenaan dengannya, baik para pemilik preferensi seksual tersebut maupun para heteroseksual simpatisan. Barulah kemudian pemberitaan yang dilakukan berpijak pada pemahaman-pemahaman itu, demi menghindari bias dan pengarahan persepsi massa ke kekeliruan.

Tulisan ini tidak mengarahkan pada pembelaan atau penolakan LGBTIQ, atau kembali menanyakan apakah LGBTIQ itu salah atau tidak salah, beserta semua alasannya. Namun, lebih fokus pada praktik jurnalisme yang berbobot dan berwawasan, bebas bias, profesional, dan manusiawi.

Berawal dari sini.

Seorang wartawan di Balikpapan—atau barangkali Samarinda—salah mengutip pernyataan narasumbernya yang pegiat hak-hak perempuan, dan termasuk advokasi LGBTIQ. Intinya, wartawan menulis bahwa sang narasumber seolah-olah mengidentikkan praktik pedofilia dengan homoseksualitas. Padahal, tidak.

Meskipun akhirnya diralat, kesalahan pengutipan ini tetaplah sesuatu yang tak sepantasnya terjadi dalam praktik jurnalisme. Baik secara tidak sengaja—karena tidak teliti membaca, menyimpulkan dengan asumsi, keliru konteks, atau memang minim referensi—apalagi kalau disengaja, dan melibatkan peran redaktur sebagai penyunting isi sebelum publikasi.

Kesalahan pengutipan adalah satu hal. Sedangkan isi artikel berita itu sendiri—sinyalemen bahwa homoseksualitas harus ditindak hukum supaya menghindarkan terjadinya pedofilia; yang secara tak langsung membentuk asumsi bahwa pedofilia selalu dilakukan oleh homoseksual—tentunya merupakan hal yang berbeda. Semestinya dibahas terpisah.

Salah Kutip

Pengumpulan dan pengolahan data, hingga penyajiannya dalam bentuk berita berada di aspek teknis. Bisa dilatih, ditingkatkan, dan dipertajam sampai membentuk karakter individu yang khas. Demi menghindari kesalahan kontekstual, para pewarta pun menggunakan notes dan perekam yang dipegang olehnya sendiri. Dalam kasus di atas, syukurnya wawancara tercatat oleh kedua belah pihak lewat percakapan digital. Narasumber bisa menunjukkan pesan yang ia sampaikan di awal, di sebelah hasil tulisan. Lazimnya, si pewarta harus disanksi, dan untuk kembali belajar kemampuan dasar jurnalistik. Redakturnya pun bisa ditegur, agar lebih mendalami tulisan dan poin yang disampaikan, tak sekadar memperbaiki tipo dan tata bahasa.

Asumsi Tindak Pedofilia

Di sisi lain, berkenaan dengan konten yang disampaikan dalam berita itu sendiri. Artikel di atas membicarakan tentang kejahatan seksual dan prosedur hukum sebagai alternatif penanganannya, tetapi menempatkan pedofilia dan homoseksualitas sama-sama sebagai tindak kriminal.

Bagi kebanyakan masyarakat Indonesia yang konservatif, tidak ada yang keliru dengan kalimat di atas. Pedofilia dan homoseksualitas beserta seluruh komponen LGBTIQ ialah kesalahan, jadi seharusnya ditindak. Titik. Sentimen ini menjadi opini populer, diiyakan oleh banyak orang melalui beragam sudut pandang. Terutama narasi agama. Berita keliru kutip di atas pun tetap dapat diterima oleh mayoritas pembacanya dengan baik, tanpa kritik maupun penolakan.

Selebihnya, setiap pendapat yang berseberangan pun akan dianggap sama salahnya; “Pokoknya, kalau kamu tidak anti dan menolak LGBT, berarti kamu mendukung mereka, dan jadi bagian dari mereka.” Dengan tulisan ini, misalnya, bisa saja Linimasa dianggap sebagai blog yang mendukung aktif LGBTIQ. Saya pun mungkin dikira atau diduga seorang homoseksual. Pandangan monokromatik semata.

Dari kasus di atas, tentu akan lebih mengkhawatirkan apabila artikel di atas ternyata dihasilkan oleh pewarta dan redaktur yang berpandangan konservatif, termasuk dalam kelompok masyarakat yang mengelompokkan pedofilia dan homoseksualitas di “kotak” yang sama: kejahatan.

Tak menutup kemungkinan, si pewarta dan redaktur sama-sama beranggapan bahwa sang narasumber—seorang tokoh publik—pasti sependapat dengan mereka dan anggapan kebanyakan orang. Sehingga mereka salah membaca pesan di WhatsApp, serta menganggap ketidakcocokan tadi hanya salah ketik. Atas dugaan ini, wajib dipastikan langsung kepada si pewarta dan redakturnya.

Namanya juga jurnalistik arus utama, yang salah satu prinsipnya adalah fakta serta kondisi apa adanya dengan mempertimbangkan banyak aspek. Contohnya, pedofilia termasuk kriminalitas berupa aksi seksual terhadap anak kecil, dan telah tertera dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP). Sementara homoseksualitas tidak tergolong kejahatan pidana. Sejijik atau setidak suka apa pun si wartawan dan redaktur atas realitas hukum ini, tidak sepatutnya ditumpahkan dalam produk berita mainstream.

Lain halnya jika artikel tersebut dimuat dalam media komunitas, terafiliasi pada agama tertentu, atau pun mengusung tujuan khusus, dan secara terbuka menyatakan sikap menolak LGBTIQ. Contohnya, mustahil bagi penyusun buletin mingguan di gereja, atau redaksi mading di universitas Islam menyuguhkan berita legalisasi pernikahan homoseksual di Taiwan baru-baru ini. Kalaupun dimuat, akan cenderung dibarengi kecaman dan ancaman keagamaan.

Begitu pula gejalanya kala membahas soal agama.

Fish Huang and You Yating, first lesbian couple in Buddhism matrimony.
Fish Huang dan You Yating, pasangan lesbian pertama di Taiwan yang menikah secara Buddhis. Foto: buddha.by

Lalu, apa yang sepatutnya dilakukan guna mencapai praktik jurnalisme bebas bias tentang topik ini?

  • Dimulai Dari Atas

Pola kerja dan arahan kepada pewarta maupun redaktur berasal dari pemimpin redaksi, serta dewan senior yang ada di belakangnya. Setiap perusahaan pers dan manajemennya berhak menentukan posisinya terhadap isu LGBTIQ, baik ditinjau dari sisi bisnis maupun idealisme yang diusung.

Berlabel media massa umum dan mainstream, idealnya berlakulah netral dan berupaya menjunjung tinggi profesionalisme dan kemanusiaan. Setidaknya sampai ada pernyataan resmi bahwa perusahaan tersebut anti LGBTIQ. Agak percuma memiliki reporter dan editor yang netral terhadap hal tersebut, bila atasannya bertentangan.

Di manakah posisi Dewan Pers, dan organisasi-organisasi wartawan yang ada? Sejauh ini, Dewan Pers mensyaratkan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) sebagai standar profesi. Hanya saja tidak terlalu spesifik, dan selanjutnya bergantung pada kapasitas individu.

  • Pemetaan Personel

Pendapat mengenai LGBTIQ masuk di ranah pribadi. Setiap orang berhak menentukan posisinya masing-masing: mendukung, simpatik, netral, menolak, benci. Berkaitan dengan mata pencarian, pemecatan atau dorongan untuk mengundurkan diri terasa kurang elok.

Makanya, akan lebih baik apabila para pemimpin redaksi mengetahui posisi personel-personelnya, dan terhindar dari produk berita berpolemik akibat menugasi orang yang kurang tepat. Lebih baik ditanya langsung, tak perlulah mengintai akun media sosialnya.

  • Bimbingan dan Panduan

Perihal LGBTIQ bersifat majemuk. Tak hanya sudut pandang agama, mesti pula memerhatikan ilmu kedokteran, psikiatri, psikologi modern, sosiologi, kriminologi, politik, dan berbagai disiplin ilmu lain saat membahasnya.

Pekerja pers pun berasal dari beragam latar belakang dan kadar pemahaman, sehingga wajar memerlukan pengenalan, dan sosialisasi dari para ahlinya. Bisa pula berlanjut pada proses bertukar pikiran dan berdiskusi untuk berusaha saling memahami, bukan untuk memengaruhi, atau mengelabui. Wartawan harus tahu lebih banyak, sebab dari tangan merekalah informasi menjangkau khalayak.

Tak ada salahnya menyusun panduan peliputan dan pemberitaan tema-tema terkait LGBTIQ. Bukan dijadikan tambahan peraturan, melainkan bahan pengaya hasil warta. Biar makin tahu, dan tidak terperosok dalam kekeliruan berdampak masif. Baik di Jakarta, markasnya media-media massa berprivilese nasional, terlebih lagi di daerah. Ya… seperti contoh kasus di atas tadi.

[]

Siapa yang Berhak Berbicara?

NOTIFIKASI pesan WhatsApp mencuat di layar ponsel waktu bus TransJakarta baru naik jalur Flyover Pesing, Sabtu siang kemarin. Kirain ngajak ketemuan, ternyata bukan.

Lebih menarik, malahan.

A WhatsApp chat snippet.

Sebagai seorang Tionghoa, yang kebetulan juga antusias terhadap tulisan Cina, permintaan teman dari Samarinda tadi terasa menggoda untuk ditindaklanjuti. Bisa dengan mengamati aksaranya satu demi satu, mencari kesamaannya, kemudian menyusun dan mencoba membacanya.

Sempat lihat pesan WhatsApp-nya sekali lagi, dan tertahan di bagian ini.

A WhatsApp chat snippet.

Terpikirkan sesuatu, dan merasa sudah bersikap sok tahu.

Tidak pernah mengambil pendidikan bahasa Tionghoa atau belajar secara formal, pengetahuan dan pemahaman saya mengenai topik tersebut tentu tidak sekomprehensif adiknya si teman, yang jelas-jelas telah bersekolah di sana sampai mendapat gelar sarjana.

Dengan demikian pula, kebisingan saya tentang tulisan Cina selama ini boleh-boleh saja dibilang sekadar pencitraan.

Melalui media sosial, blog, termasuk di Linimasa ini, saya mencitrakan diri seolah-olah cukup tahu dan berilmu. Padahal ketika melafalkan atau diajak bercakap-cakap dalam bahasa Tionghoa, saya belum tentu bisa. Intonasinya keliru, perbendaharaan kata yang sedikit, tetapi lumayan luwes menulis aksaranya lantaran gemar coret-coret sejak kecil.

Orang Indonesia pun terbiasa menanggapinya pakai celetukan: “Halaaah… Kamu tahu apa sih?

Kapasitas personal, dan validasi kemampuan. Dua konsep ini yang dijadikan standar kepantasan seseorang dalam berpendapat dan bertindak. Sri Mulyani, misalnya. Dia mempunyai legitimasi berbicara perkara kondisi ekonomi negara karena kapasitasnya adalah Menteri Keuangan Republik Indonesia (RI). Jabatan dan rekam jejaknya sejauh ini pun bisa digunakan memvalidasi argumentasi-argumentasinya.

Wajar bila Sri Mulyani diberi podium-podium untuk berbicara tentang ekonomi. Pernyataannya bisa dikutip dan disebarluaskan ke publik, maupun didiskusikan selepasnya.

Di samping itu, semua orang memang berhak untuk bersepakat atau justru menolak pernyataannya. Namun, tatkala ketidaksetujuan muncul, maka seyogianya tetap dilandasi dasar dan alasan yang konkret. Mengingat tentangan itu disasarkan kepada kapasitas dan ketokohannya. Baik sebagai menteri, atau pun sebagai pakar ekonomi.

Fair, kan?

Sri Mulyani
Foto: WartaKota.co

Di sisi lain, bolehkah Sugeng, seorang tengkulak bawang (nama dan pekerjaan cuma reka-reka) berbicara tentang kondisi ekonomi Tanah Air? Boleh! Dia bebas berbicara sampai sejauh topik kebijakan fiskal dan moneter Indonesia kalau mau, tetapi kerangka referensi yang dipakai Sugeng tentu berbeda dibanding ibu menteri. Kapasitasnya sebatas masyarakat awam yang tetap patut didengarkan, tetapi bukan penyusun kebijakan.

Sri Mulyani dan Sugeng sama-sama warga negara, memiliki kesetaraan hukum dan kesempatan berbicara yang sejajar. Hanya saja, mengacu pada kapasitas personal dan validasi kemampuan di bidang ekonomi, sangat wajar apabila respons dan jawaban Sri Mulyani untuk banyak pertanyaan bisa lebih dipertanggungjawabkan.

Masalahnya, orang-orang yang memiliki kapasitas personal dan tervalidasi, sepertinya malah irit bicara.

Lalu, bagaimana dengan contoh kasus saya di atas? Apakah saya terus saja berbicara dan menawarkan pandangan tentang tulisan Cina tadi, atau sebaiknya menyerahkan pembahasan kepada ahlinya (bila ada)? Toh, saya sendiri pun belum mampu menjamin bebas dari kekeliruan, dan bebas dari potensi informasi bohong.

Ini baru soal tulisan Cina, yang dampaknya barangkali bisa dihitung minim. Belum lagi masalah Buddhisme dan konsep-konsepnya (saya bukan Pandita atau Dhammaduta); budaya Tionghoa dan teori-teorinya (saya bukan pakar budaya atau sarjana antropologi budaya); kehidupan masyarakat di Samarinda (saya hanya warga biasa, bukan figur tokoh); topik-topik sosial dan humanistis; serta bahasan lain yang kerap saya angkat via media sosial dan blog.

Di sinilah pentingnya kecermatan mendengar, kejelian mencerna informasi, kritis dan cakap membangun landasan berpikir, berani berdiskusi—bukan berdebat, serta mampu dan mau bersikap adil.

Siapa yang berhak berbicara? Siapa saja. Dibarengi kewajiban berlaku patut; tidak berdusta, tidak berniat menjatuhkan atau mencelakakan, tidak menghina dan merendahkan, tidak sombong dan berbesar hati apabila sanggup, serta menjawab sebenar-benarnya ketika ditanya.

Selanjutnya, para pendengar pun berhak setuju atau tidak dengan yang disampaikan oleh orang lain, atau bahkan tidak peduli sama sekali. Asal tetap dibarengi kewajiban berlaku patut; tidak mengada-ada (ikut-ikutan reaktif padahal belum mendengar sendiri), tidak menghina dan merendahkan pendapat yang berbeda, serta selalu memiliki alasan atau dasar yang jelas. Tidak membabi-buta, dan mau bertanya, bukan asal menyimpulkan atau berasumsi.

Kan, lebih enak kalau bisa saling bicara… Ngobrol, ya ngobrol aja…

[]

Dari Titik Singgah ke Titik Singgah Lain

ADALAH transit-oriented development (TOD), sebuah konsep perencanaan urban yang mendorong manusia—para warga sebuah kota—lebih bergerak ketika beranjak. Idealnya, alih-alih duduk sendirian dalam bilik yang sejuk dan lumayan lega tetapi berlangsung lebih dari dua jam, skema berdasarkan TOD akan berpotensi memangkas durasi perjalanan. Meski bakal diselingi aktivitas menunggu sambil duduk atau berdiri, berjalan kaki, maupun agak berlari.

Dari namanya saja, sudah cukup menggambarkan ide dasar konsep perencanaan urban ini; pembangunan yang berorientasi pada titik-titik singgah. Andaikan boleh sedikit filosofis, kita pergi dari dan pulang ke rumah. Sekolah, kampus, kantor, toko, tempat usaha, mal, tempat rapat, restoran dan kafe, tempat-tempat publik dan pusat keramaian lain, rumah ibadah, pemakaman, rumah sakit, serta lain-lainnya merupakan lokasi berkegiatan dalam kurun waktu tertentu. Bisa dianggap sebagai titik-titik singgah, dan untuk bisa sampai ke sana mesti melalui titik-titik singgah pula. Katakanlah halte, stasiun, terminal, atau areal parkir.

Pertanyaannya, maukah kita begitu? Bersediakah menjalani keseharian dengan gaya hidup TOD?

Belum tentu, atau malah tidak akan mau.

1. Kota kita bukan kota untuk para pejalan kaki, dan pengguna moda transportasi umum.

Dilematis seperti masalah telur dan ayam. Mana yang harus diadakan terlebih dahulu? Perubahan pola pikir dan kebiasaan para warga kota, ataukah situasi dan penataan kotanya sendiri?

Perencanaan urban berdasarkan konsep TOD tentu bertujuan untuk efisiensi, tanpa menghilangkan sebagian besar kenyamanan hidup. Waktu tempuh perjalanan bisa dihemat setidaknya hingga sekian puluh persen, begitu pula dengan tingkat kepadatan lalu lintasnya (efektivitas tergantung rencana, implementasi, dan modifikasi).

Dengan TOD, dari satu titik singgah ke titik singgah yang lain akan memakan waktu sekitar sepuluh hingga 45 menit. Baik dengan berjalan kaki, bersepeda, maupun menggunakan moda transportasi umum. Sayangnya, jangankan Samarinda, Banjarmasin, Pekanbaru, Batam, Medan, dan kota-kota provinsi di luar pulau Jawa; Jakarta, Bandung, Semarang, atau Surabaya pun—tampaknya—belum bisa diacu ke prinsip-prinsip TOD sepenuhnya.

Di lima kota luar pulau Jawa di atas, jarak dari satu titik singgah ke titik singgah lain relatif lebih jauh. Pun begitu, sarana transportasi publik belum mampu diandalkan secara menyeluruh. Mau tidak mau, warga harus bergantung pada kendaraan pribadi, atau moda transportasi personal seperti taksi, ojek, mobil sewaan. Terlebih di waktu-waktu istirahat. Mau berjalan kaki? Sangat tidak mangkus sangkil. Kecuali sangat terpaksa.

Sementara itu, di empat kota besar pulau Jawa, kendala yang dihadapi kurang lebih sama. Moda transportasi umumnya memang sudah dikembangkan sedemikian rupa, hanya saja, sejauh ini, baru TransJakarta yang beroperasi 24 jam sehari. Kendati di atas pukul 10 malam, jumlah armada yang beroperasi tidak banyak.

Di sisi lain, belum banyak ruas jalan yang memiliki trotoar lebar dan nyaman. Baru sebatas di kawasan wisata dan area populer dalam kota, belum menyentuh pemukiman. Kegiatan berjalan kaki pun masih identik dengan ketidaknyamanan, walaupun hanya urusan ke minimarket di ujung gang untuk beli cemilan.

2. Kendaraan pribadi adalah perlambang kemakmuran dan kemapanan.

Tak ada yang salah dari pernyataan di atas. Setiap orang berhak membeli dan memiliki kendaraan pribadi, sebanyak atau semahal apa pun. Namun, jangan lupa bahwa kepemilikan kendaraan pribadi akan diikuti sejumlah konsekuensi. Mulai dari harga yang harus dibayar, segala jenis biaya yang timbul, lahan parkir pribadi yang seyogianya ada, risiko-risiko, termasuk potensi terjebak macet dan mengalami ketidaknyamanan emosional yang muncul saat itu.

Sebaliknya, justru keliru apabila beranggapan bahwa kepemilikan kendaraan sama dengan kualitas kehidupan seseorang. Hal tersebut memang dapat dijadikan parameter, tetapi bukanlah poin mutlak.

Commuter line train Jakarta
KRL terakhir, dengan mereka yang sudah lelah dan ingin pulang.

Sah-sah saja jikalau seseorang memiliki kendaraan pribadi, dan hanya digunakannya di akhir pekan atau hari libur lantaran malas terjebak macet dari dan ke kantor. Ketika keputusannya seperti itu, kendaraan pribadi tadi pun berubah fungsi dari aset menjadi kewajiban. Ya … setiap orang boleh punya pertimbangan berbeda-beda, sih. Lagi-lagi, sayangnya, suasana di dalam kendaraan umum—TransJakarta dan KRL—pada hari kerja pun tak selalu nyaman. Berdesak-desakan, juga selalu dihantui pencoleng dan perogoh.

Dengan demikian, salah satu cara yang cukup masuk akal untuk dicoba demi gaya hidup ala TOD adalah membiasakan jalan kaki sebisa mungkin. Tak perlu jauh-jauh, semampunya saja. Maklum saja, udara Indonesia cenderung gerah dan panas. Mana ada yang betah berkeringat barang sedikit pun, khawatir terlihat dekil, tak wangi lagi, dan seterusnya. Belum banyak pula kantor-kantor yang menyediakan bilik mandi di kamar kecil, yang semestinya bisa mengakomodasi pegawai pesepeda. Belum lagi di kota-kota sarat tambang macam Samarinda, dengan jalanan berdebu yang bisa bikin kulit sarat daki.

Padahal, jujur saja, berjalan kaki itu romantis, lho. Menjadi terbiasa berjalan kaki di Jakarta dan mengamati-menikmati setiap momen yang ada di depan mata, membuat saya cukup nyaman berjalan kaki di luar kota. Termasuk di Samarinda, saat pulang kampung. Sensasi ini barangkali saja memang bukan untuk semua orang. 😊

3. Hidup sudah melelahkan, jangan sok ide!

Pemandangan yang lazim, sekawanan manusia berebut masuk ke bus TransJakarta dan KRL. Terkesan agak beringas, mereka berusaha mendapatkan tempat duduk atau setidaknya posisi yang nyaman sepanjang perjalanan. Buru-buru mereka naik, buru-buru pula mereka turun. Seolah-olah hanya itulah kesempatan mereka untuk melanjutkan hidup. Padahal, mereka pasti berhadapan dengan suasana yang sama keesokan harinya. Begitu lagi, dan lagi. Mungkin sampai mati.

Apakah urusan yang satu ini termasuk sebagai permasalahan hidup? Mungkin. Mungkin tidak.

Bagaimana bila justru kita sendiri yang menjadikannya sebuah masalah? Respons dan cara kita menanggapinyalah yang membuatnya terasa tidak menyenangkan, menambah beban kehidupan dengan sesuatu yang diada-adakan. Tanpa sadar, kita diperbudak oleh perasaan sendiri. Salah satu komponen kehidupan yang semestinya menjadi “milik kita”.

Tubuh lelah, alamiahnya memang begitu setelah berkegiatan. Hati lelah, siapa yang menyebabkannya? Kita sendiri, atau orang lain? Ataukah kita “mengizinkan” orang lain untuk bikin hati kita lelah? Manusia bisa jadi memang selemah itu.

Jadi terpikir. Apabila TOD adalah konsep perencanaan urban, dari satu titik singgah ke titik singgah lain, kita pun sebenarnya sedang berpindah-pindah dalam menjalani kehidupan ini. Dari satu momen singgah ke momen singgah lainnya … cuma, ada yang tersisa dan terus dibawa-bawa. Entah kenangan, kepahitan, kegembiraan, syahwat, atau kerinduan.

Memberatkan dan berusaha ingin ditinggalkan (baca: dilupakan), atau malah bikin kita kecanduan dan mencari-cari agar bisa menikmatinya kembali.

[]

Akun Alter Ego Non Prostitusi

https://i0.wp.com/images.8tracks.com/cover/i/010/303/237/154417_300878139990580_151011474977248_693980_1602364401_n-6468.jpg?w=1540&ssl=1

IALAH Dionysus, dewa bertopeng dari asal yang asing dan misterius.

Dia disebut sebagai “dewa yang datang”, sebab hadiratnya selalu memunculkan antusiasme pada manusia, perasaan gembira yang menggejolak (excitement), sensasi ekstase, serta dorongan hasrat. Karena itu pula, dewa berwajah cantik ini identik dengan minuman anggur. Yang tak hanya memabukkan, tetapi juga mampu mengubah (altering) kepribadian seseorang. Maka dari itu, bangsa Yunani kuno percaya ada sang dewa dalam tubuh mereka saat mengalami mabuk alkohol. Mereka menjadi seseorang yang berbeda.

Mungkin serupa tetapi tidak sama. Tanpa perlu mabuk anggur, ada banyak individu yang menikmati menjadi sosok yang berbeda. Bukan lewat Dionysus, melainkan via media sosial.

Mengenakan topeng-topeng digital, mereka lebih bebas berekspresi dan leluasa dalam tindak tanduknya. Kendati apa yang mereka lakukan cenderung provokatif terhadap kaidah kepatutan dan kelaziman sosial. Tak ada yang salah, pun tidak melanggar hukum formal, tetapi di luar kebiasaan umum saja.

Di semesta maya, mereka dapat ditemui sebagai akun-akun alter ego. Tanpa mengganti identitas atau pun menyaru personalitas orang lain (seperti pada akun-akun role play [rp] selebritas Korea), mereka riuh bermain-main dengan kepribadian dan tubuh mereka sendiri, beserta rekan. Bisa pasangan suami/istri, pacar, sekadar teman, maupun sesama pemilik akun alter ego.

Dengan akun alter ego tersebut, mereka tentu saja menyembunyikan nama. Sesekali menampilkan sesisi wajah, terkadang juga ditutupi stiker. Ada lebih banyak area tubuh lain yang disingkap dan bisa dilihat secara terbuka di lini masa mereka, selain kelamin. Ya, mereka tidak pamer genitalia. Lebih aman—dan nyaman?—bagi mereka menunjukkan lekukan tubuh, meskipun tak semua dari mereka telah terbebas dari insecurity bernama “standar keindahan tubuh”. Setidaknya melalui akun alter ego tersebut, mereka merayakan kehidupan. Bebas dari penilaian orang lain, bebas dari ketidakpercayadirian, bebas dari keluhan atas kekurangan yang dimiliki.

https://twitter.com/imaginarychad/status/1040190471316725760

(Pemuatan twit video di atas telah diketahui dan diperkenankan oleh pemiliknya.)

Mengapa selain kelamin? Karena itu merupakan pornografi, dan mereka bukanlah pemilik akun-akun alter ego prostitusi, yang berjualan terang-terangan. Sangatlah tak adil bila keduanya disamaratakan. Akun-akun alter ego non prostitusi tidak bertransaksi … atau setidaknya terlihat demikian.

Dari yang teramati sejauh ini, memiliki akun alter ego non prostitusi berarti akan dihadapkan pada risiko “didekati dan ingin dibeli”. Mereka yang tampil sendirian, bisa ditanya: “Berapa semalam?” Sedangkan mereka yang tampil berpasangan, bisa ditanya: “Mau threesome?” atau dikira pasangan swinger, atau dikira pasangan kumpul kebo semata. Padahal, ada yang (mengaku) sudah beranak tiga, dan bentuk tubuh mereka terlalu proporsional untuk dipersamakan dengan kerbau.

Cuplikan twit yang diambil dari thread. Dimuat dengan persetujuan pemilik.

Kemudian, pasti ada yang berkomentar: “Makanya, kalau tidak mau dikira begitu, ngapain pamer-pamer foto sensual? Biarpun sama pasangan sendiri.

Apabila saya adalah mereka, langsung saya jawab: “Memangnya kenapa?” Pasalnya, siapa saja, si empunya foto maupun mereka yang melihatnya, tetap punya kuasa kendali diri. Menjaga dan bertahan agar tidak melanggar aturan terkait konten pornografi (kecuali jika akunnya dikunci, dan materi hanya dikonsumsi pribadi).

Bagi penonton, agar tidak kagetan dan langsung kalang kabut mencari pelampiasan, atau malah merasa berhak menghakimi si pemilik foto. Sekaligus iri, kepingin bisa begitu juga. Ya punya bentuk badannya, ya mengalami adegan yang sama. Hahaha!

Nah, kalau yang ini belum sempat minta izin sama pemiliknya. Namun, tertampil dan bisa dibaca secara umum.

Terakhir, hanya ada satu hal yang membuat saya #penasaran. Mengapa, dan apa alasannya mereka membuat serta menikmati menjadi akun-akun alter ego non prostitusi tersebut? Apakah menjaga reputasi? Apakah pertimbangan orang tua dan keluarga? Dengan fisik dan kepercayaan diri yang mereka tunjukkan, bukan mustahil mereka tetap bisa merayakan kehidupan sebagai diri sendiri.

Perhatian. Barangkali.

[]

Path, Aplikasi Curhat, dan Generasi Bertopeng

SAAT menulis ini Sabtu siang kemarin, saya masih belum memutuskan kafe mana yang akan didatangi untuk memanfaatkan jaringan internetnya mengunduh semua data dari akun Path. Tidak menyangka, dari hanya 4.238 moments sepanjang menggunakan media sosial yang pernah disebut Mas Roy sebagai Aplikasi Pamer Anak, Tempat, Hidangan itu, totalnya mencapai 1,4 GB!

Path moment.
Moment pertama.

Sejak awal, saya adalah pengguna Path dengan intensitas relatif rendah. Kadangkala bisa bawel dan membagi banyak hal dalam kurang dari 24 jam, tetapi ada lebih banyak hari tanpa satu moment pun. Toh jumlah teman yang terhubung melalui Path juga kurang dari seratus orang. Sampai sekarang.

Boleh dibilang itulah daya tarik Path. Ketika kita mulai terbiasa dengan keterbukaan dan ekspose personal yang membabi buta lewat media sosial, Path hadir dengan pembatasan dan keterbatasan. Justru itu, Path menjadi semacam wadah digital baru tanpa perlu risau soal reputasi, nama baik, citra, dan tanggapan orang-orang yang kita kira kita kenal.

Path moment.
Sebuah moment.

Pembatasan dalam Path membuat penggunanya kembali nyaman untuk jujur dan apa adanya. Demi menjaga perasaan orang lain, ulasan dan komentar di Twitter atau Facebook cenderung berupa pujian dan terkesan sangat baik. Sedangkan di Path, kita mungkin menemukan pendapat yang berbeda serta alasan-alasannya. Untuk konsumsi pribadi, tentu saja.

Pada dasarnya, manusia sangat senang bila mendapatkan perhatian. Sebab dengan itu pula, manusia tersebut bisa merasa signifikan, penting, didengar dan diikuti, serta dipenuhi keinginannya. Kehadiran beraneka platform media sosial melimpahi manusia-manusia modern dengan ilusi perhatian. Awalnya, mereka menikmati itu. Followers diterjemahkan secara harfiah, sehingga jumlah pengikut menjadi label yang membanggakan diri sendiri. Di sisi lain, mereka pun merasakan sindrom selebritas, beranggapan bahwa para followers tadi memang sebegitu gandrungnya dengan semua yang mereka unggah-bagi.

Para warganet yang telah jenuh dengan kebisingan media sosial, bisa beralih ke Path untuk pengalaman berbeda. Idealnya begitu. Hingga kemudian memunculkan para pengguna ikut-ikutan yang asal mengirimkan permintaan pertemanan, dan membagi konten yang sama untuk semua akun media sosial yang dimilikinya.

Path moment.
Sebuah moment lainnya.

Semenjak kabar penutupan Path beredar, banyak orang—setidaknya kontak di Path saya—yang berkesah bahwa mereka akan kehilangan tempat untuk berkeluh dan menumpahkan unek-unek tanpa khawatir menyinggung orang lain. Bagaimanapun kondisinya, mereka selalu merasa perlu menyampaikan segala yang ingin mereka sampaikan. Entah itu pemikiran atau isi hati.

One of the main reasons why we vent is to reduce our stress levels. Rime (2009) states that disclosing stress is a coping mechanism.

The Psychology of Venting

Akun anonim mengemuka sebagai salah satu alternatif. Terutama di Twitter, berupa akun-akun alter ego non-prostitusi*. Namun, dengan catatan akan lebih baik jika si empunya akun mengunci lini masa mereka. Lantaran fitur pencarian spesifik dan niche tetap menyasar akun-akun publik, cukup dengan kata kunci yang sesuai.

Sementara di Path, terdapat berlapis-lapis pelokalisasian. Moments hanya bisa dilihat oleh teman. Fitur pencariannya pun tak semulus Twitter atau pun Facebook. Selain itu ada pula Inner Circle, dan pengaturan privasi di tiap moments. Kebebasan dan kenyamanannya jelas berbeda. Dalam hal ini, Path bernasib sama dengan beberapa aplikasi curhat yang telah menghilang lebih dahulu. Misalnya Ooh! dan Secret yang sudah tidak tersedia, serta Legatalk yang mentok sampai halaman signup.

Bagi mereka yang terbiasa bebas bicara, dengan demikian mau tidak mau harus memilih antara mengorbankan rasa nyaman demi norma sosial, mulai belajar menggunakan topeng sosial dan membiasakan diri berada di baliknya, atau bersikap persetan.

Btw, terima kasih Path.

[]

Bacaan lainnya terkait anonimitas saat berinternet:
Why Do People Seek Anonymity on the Internet? Informing Policy and Design
Verbal Venting in the Social Web: Effects of Anonymity and Group Norms on Aggressive Language Use in Online Comments