“Listen to Your Heart”

KALIMAT di atas sejatinya bukan sekadar judul tulisan Linimasa hari ini, melainkan salah satu judul lagu dari duo Roxette yang saya akrabi lewat siaran radio waktu masih SMA.

Kemarin, Mas Nauval ngabarin kalau Marie Fredriksson–vokalisnya–meninggal dunia. Maka, tak banyak cerita untuk hari ini; saya ingin mendedikasikan halaman ini untuk mengenang Roxette, lewat beberapa judul lagunya yang telah menempel di ingatan setelah selama ini. Yang minimal selalu terngiang nada dan syair reff-nya.

Dimulai dengan … “Listen to Your Heart”

“Spending My Time”

“Wish I Could Fly”

“Milk and Toast and Honey”

Dan … “It Must’ve Been Love”

Abadi dalam karya, selamat jalan…

[]

Advertisements

Manakala Enggan Memulai Kembali (gpp, kok…)

SALING berkenalan; mulai dekat; menjalin hubungan; larut dalam kemesraan; menghadapi perselisihan; bersepakat untuk berdamai dan saling memaafkan, atau justru memilih untuk mengakhiri kebersamaan dan saling berpisah–atau dalam banyak kasus, salah satunya menyerah, lalu pergi meninggalkan. Yang awalnya sendirian, menjadi berdua, kemudian kembali bersendirian.

Sekilas, siklus di atas tampak sederhana. Namun aku, kita, sudah sama-sama tahu bahwa itu tidak sesepele kelihatannya. Jika urusannya hanya soal mencurahkan waktu dan tenaga, tentu tak seberat atau sepenting itu untuk dijadikan persoalan. Melainkan soal mencurahkan perhatian, menjaga perasaan, serta berupaya memegang teguh kepercayaan dan komitmen terhadap seseorang. Itu yang susah, melelahkan, dan menguras isi hati maupun kepala.

Makanya, kita tetap harus bisa menghormati dan menghargai segala keputusan orang-orang yang tengah patah hati. Barangkali teramat mudah bagi kita untuk menyoraki seseorang agar segera move on, beranjak dari situasi emosionalnya saat ini, padahal bukannya mereka tidak mau move on, tetapi masih menyimpan keraguan (terhadap diri sendiri); trauma dan ketakutan (untuk mempercayai orang lain, apalagi yang datang dengan segala sikap baik dan manis); atau pun keengganan (dari kembali berdekatan dengan orang lain). Biarkanlah mereka mengambil dan menghabiskan waktu seberapa pun lamanya yang mereka butuhkan, agar benar-benar pulih; benar-benar utuh hatinya; benar-benar kuat kepribadiannya.

Setelah itu, barulah persilakan mereka untuk mencoba kembali lewat apa saja. Biarkan mereka memilih ingin menggunakan apa untuk mulai terhubung dengan orang-orang baru, orang-orang yang berbeda. Entah apakah nantinya menjadi mula dari bab utama sebuah cerita, ataukah menjadi sekadar catatan-catatan tambahan di kaki halaman. Entah apakah mereka memang ingin mencari pasangan, ataukah menjadi sekadar penjajakan yang tak usah diteruskan.

Biarkan mereka terpapar dengan semua pilihan, dan biarkan mereka memilih sendiri. Lagipula, kita sendiri pun tahu rasanya, kan?

Lain halnya apabila mereka terkesan “buta”, tidak tahu harus bagaimana; memulai dari mana, dengan cara apa. Itulah saatnya untuk menunjukkan berbagai pilihan yang ada. Yang mereka perlu lakukan ialah mempersiapkan diri dan mulai terbuka dengan segala kemungkinan.

Dating Platform

Mendaftarkan diri, sama artinya bersedia untuk ter/diekspose. Langkah ini memungkinkan seseorang untuk bertemu dengan seseorang lainnya yang–mungkin–memiliki tujuan serupa. Di sisi lain, seseorang yang mendaftarkan diri pada dating apps berarti siap mencari pasangan, apa pun batasannya. Banyak orang berhasil menemukan jodohnya (baca: pasangan resmi hingga pernikahan) lewat sejumlah dating apps, hanya saja tak sedikit pula yang menjadikan platform ini sebagai wadah menemukan partner kencan semalam-dua malam saja.

Yang pasti, dating apps hanyalah pintu gerbang perkenalan. Itu pun secara daring saja. Tetap diperlukan serangkaian percakapan, kemudian berlanjut pada pertemuan tatap muka, barulah bisa berujung ke sejumlah peluang. Tidak cocok? Selama masih di level online, tinggal unmatch saja. Sebab setiap orang belum tentu sepenting itu untuk dikejar atau diperebutkan. Semuanya masih tampil di balik persona, profile picture. Kamu tak akan pernah menyangka bakal bertemu siapa di sana.

Sesederhana itu.

Saling Memperkenalkan/Diperkenalkan

Inilah salah satu manfaatnya memiliki lingkar pertemanan atau pergaulan yang luas. Seseorang memperkenalkan temannya/diperkenalkan kepada temannya yang lain. Umumnya dalam sebuah kegiatan bersama, atau acara. Serius, atau santai.

Ketertarikan awal bisa memantik seketika lewat tampilan fisik, pembawaan, maupun cara berbicara. “Orangnya asyik juga, nih.” Lagi-lagi tentu diperlukan pendalaman tujuan. Apakah pihak sana juga punya niat barang setitik pun untuk menjalin sebuah hubungan serius, ataukah buat main-main saja.

Ajang Cari Jodoh

Namanya juga usaha, apa saja bisa dilakukan selama tidak melanggar norma atau merugikan. Ajang cari jodoh, misalnya seperti foto di bawah ini, tak ubahnya dating platform yang analog. Orang-orang yang datang dan menghadirinya, setidaknya punya satu tujuan senada: Ingin mencari seseorang. Siapa tahu ada yang cocok, dan dia pantas diperjuangkan. Syukur-syukur kalau dia punya ketertarikan yang sama.

Sebuah upaya.

Dalam beberapa aspeknya pun, acara-acara yang demikian bisa sekaligus menjadi ajang screening, agar kendala-kendala mendasar bisa diatasi lebih awal. Contohnya persoalan agama. Daripada sesudah berkenalan, telanjur sayang, tahu-tahu terbentur perbedaan dan meninggalkan sakit yang terlampau dalam, lebih baik mengambil “jalan agak memutar” atau menghindar. Kendati di luar sana banyak pasangan yang kuat, tangguh, dan berhasil mendobrak batas-batas perbedaan tersebut, sungguhlah tak adil jika kita menganggap semua orang punya kekuatan serupa. Yang dapat kita lakukan hanyalah menyokongnya, tanpa sok mampu dan campur tangan terlalu dalam.

Jadi, bagi kamu yang belum siap memulai kembali dan mencari, please take your time, as much as you need. Tak usah terburu-buru, karena lebih penting bagimu untuk kembali menata hati.

Manakala kamu telah siap dan berani memulai kembali, yakinlah bahwa kamu sudah jauh lebih kuat; lebih tangguh; lebih berpengalaman; dan lebih cermat dari sebelumnya. Coba saja semua celah kesempatan yang ada. You deserve the best.

Sudah mencari tetapi belum menemukannya? Ya, sudah… buat apa dipaksa. Ada hidup yang tetap harus kita jalani dengan sebaik-baiknya. Kuasa untuk menjadikannya penuh dengan bahagia, ada di tangan kita.

Sini, peluk dulu…

[]

Apa yang Kamu Lakukan Jika Dispensermu Bocor?

KITA sedang gemar-gemarnya membicarakan tentang kepatutan dan kepantasan akhir-akhir ini. Dengan mudahnya kita menuding orang lain bertindak tidak patut, atau pun tidak pantas mendapatkan apa yang telah mereka peroleh karena beragam alasan. Padahal yang dijadikan patokan hanyalah penilaian pribadi; belum tentu benar, dan pastinya cenderung berisik.

Untuk setiap kalimat “Menurut saya, dia tidak pantas…” yang dilontarkan, wajar saja bila dijawab “Memangnya kamu siapa?” Terdengar tidak menyenangkan, memang, tetapi kian tak terhindarkan.

Setiap orang kini terkesan merasa berkewajiban moral untuk mengkoreksi orang lain. Mereka seolah-olah entitled atau sudah sepantasnya menjadi mercusuar bermodalkan kepercayaan diri berbicara lantang, kendati apa yang disampaikan bisa saja bias, keliru, sok tahu, atau sekadar upaya pencitraan diri sebagai seseorang yang berbudi lebih terpuji dibanding orang lain; panutan masyarakat. Makanya, tak heran orang-orang seperti itu bisa makin menjadi-jadi jika mendapat dukungan, apalagi sampai berupa pengikut. Mereka seakan-akan mendapat tambahan legitimasi dan entitlement agar terus bersikap sebagaimana biasanya, biar sekontroversial apa pun.

Saat ini, dukungan tak mesti hadir secara fisik. Gaya hidup digital telah memungkinkan hampir semua orang tampil dan bersuara–atau bergaya, dan direspons secara langsung. Bisa dibayangkan, serta telah dialami sendiri, betapa riuhnya jagat maya. Konsisten, konstan, dan terus dipenuhi dengan “energi” sampai sekarang. Ke mana ujungnya, atau bakal menghasilkan apa, tak ada yang sungguh-sungguh tahu.

Awal pekan, pembicaraan tentang hak istimewa yang melekat pada seseorang mengemuka dan membesar seketika. Apa pun argumentasi kritiknya, tetaplah berujung pada “Kamu/dia/mereka tidak pantas…” Lah, kalau tidak pantas, terus kamu mau gimana?

Semuanya saling bersahutan, apakah itu saling mendukung (lantaran merasa dapat backing-an atas bacot ngawur beberapa waktu sebelumnya) maupun saling serang.

Seorang penulis yang meromantisasi–apa yang terlihat sebagai–kemalangan atau kemandekan hidup orang lain sebagai perbandingan terhadap dirinya sendiri demi mengutarakan “Aku lebih baik dari mereka,” menunjukkan dukungan dan kesepahaman atas pendapat seorang sutradara mengenai kepantasan versus ketidakpantasan tersebut.

Kemudian seperangkat argumentasi tadi kembali berhadapan dengan pemikiran yang berseberangan dari beberapa figur lain. Bolak-balik, bolak-balik laiknya pertandingan tenis lapangan. Berhenti di tingkat atas, dan terus bergulir ala kadarnya di tingkat bawah.

Jadi, apa maunya?

Kita lihat saja ke depannya. Tak langsung musnah bumi ini jika pernyataanmu jadi kenyataan, atau pun sebaliknya.

Sejak beberapa hari lalu, kembali bergulir bahasan baru yang membagi para pembahas menjadi kubu “Kamu/dia tak pantas berbicara begitu” dan sebaliknya. Perhatian pun mengerucut pada; lemahnya pemahaman kontekstual, ditambah kegemaran bersikap reaktif, dan kebiasaan memodifikasi pesan demi memancing reaksi.

Padahal, apakah ada dampaknya bagi kamu?

Naga-naganya lagi, bahasan ini bakal terus mengalir sampai pengujung pekan. Kecuali bila ada “keseruan” lainnya yang mampu mengambil alih perhatian massa.

Disadari atau tidak, hal-hal di atas ya … begitu sajalah adanya, dan melelahkan. Kita seringkali lupa, kita sendiri belum tentu patut dan pantas untuk menilai kepatutan dan kepantasan orang lain. Di satu sisi, memiliki pandangan dan pendapat pribadi ialah wajar adanya. Namun, di sisi lain, pandangan dan pendapat pribadi bukanlah alat yang tepat untuk menilai orang dengan segala keadaannya.

Lalu, apa yang sebaiknya kita lakukan?

Amati sekitar kita, dan lakukan yang perlu dilakukan.

TenorGIF

Apabila dispenser air minum bocor, apakah bisa diperbaiki atau lebih baik sekalian beli yang baru? Dispenser dengan air panas dan dingin, atau air panas dan air biasa saja? Dispenser elektrik atau dispenser keramik? Dispenser dengan galon di atas, atau galon di bawah yang risikonya akan berisik setiap kali airnya hampir habis? Ataukah pakai pompa portabel bertenaga baterai?

Apabila gemar bersepeda, coba cek apakah rantai sepeda sedang perlu diberi oli lagi, atau hanya butuh dibersihkan? Bagaimana dengan remnya? Kondisi bannya? Atau keseluruhan bodinya, sudah perlu dicuci atau dibiarkan saja?

Apabila punya beberapa baju atau celana yang kancingnya copot, apakah bisa menjahitnya sendiri, atau lebih baik dijadikan kain lap karena sudah cukup usang, atau malah mending dibuang sekalian?

Ketiga contoh di atas tak kalah pentingnya dibanding pembahasan dan debat tak berkesudahan tentang kepatutan dan kepantasan … orang lain dan kehidupan mereka. Bukan kamu.

[]

Mengambil Jarak dari Penilaian Diri

SEBAGAI manusia, kita adalah makhluk yang memiliki kemampuan menilai; selalu memberikan penilaian terhadap hampir segala hal, dan menjadikan hasil penilaian tersebut dasar dalam menjalani hidup.

Dengan melakukan penilaian, kita berupaya mencari tahu dan memperbandingkan kondisi-kondisi–”ini begini, itu begitu, maka sebaiknya begini, bukan begitu“–baik melalui indra, persepsi, maupun nalar dan perenungan. Terlepas dari benar atau salah, hasil penilaian tersebut pun membuat kita condong pada salah satu sisi pemikiran, dan menolak sisi pemikiran yang berseberangan–”aku begini, bukan begitu.

Katakanlah saja, mirip dengan diagram Kartesius.

Image result for cartesian quadrant for religious view
Selalu ada empat sisi yang saling bertolak belakang (X, -X; Y, -Y), dan setiap hasil penilaian merupakan kombinasi dari dua sumbu (X dan Y).
Gambar: ThoughtCo

Saat kita condong ke salah satu sisi pemikiran tadi, kita akan cenderung melekat padanya. Kita akan merasa nyaman dengan dukungan dan pernyataan setuju dari orang lain. Perlakuan ini memperkuat dan mempertebal kesan yang kita miliki terhadap hasil penilaian tersebut. Sebaliknya kita akan merasa terusik dengan sanggahan dan penolakan dari orang lain. Penolakan ini akan kita tangkis sedemikian rupa; kita akan mempertahankan hasil penilaian yang telah kita pegang, berupaya semaksimal mungkin agar tak ada pendapat atau perspektif yang tergoyahkan, yang bisa menimbulkan perasaan tidak nyaman.

Sebab, tatkala hasil penilaian yang telah kita pegang selama ini mampu digoyahkan, itu artinya kita tengah memulai penilaian ulang; proses yang baru, dan seringkali diwarnai dengan ketidaknyamanan. Posisi awal kita, bayangkan seperti di diagram Kartesius, perlahan bisa bergeser, entah lebih ke atas, lebih ke bawah, lebih ke depan, atau lebih ke belakang.

Apakah setiap manusia akan terus melakukan ini di sepanjang hidupnya?

Sekilas kita berpikir, mengira-ngira, dan menimbang-nimbang, kegiatan ini tampaknya mustahil dihindari. Kecuali oleh orang yang kehilangan kesadarannya, baik secara temporer maupun permanen berupa gangguan jiwa.

shallow focus photography of white feather dropping in person's hand
Apakah bulu itu melayang ke atas?
Apakah bulu itu melayang ke bawah?
Apakah bulu itu benar-benar melayang?
Apakah bulu itu benar-benar tidak melayang?
Foto: Javardh

Namun, ternyata tidak begitu menurut Piron, filsuf skeptisisme total. Pemikirannya tentang penyangkalan total terhadap penilaian (subjek, objek, parameter, dan variabelnya) pada abad ke-3 SM ternyata ada yang melestarikan–kendati sangat berpotensi melanggar inti pemikiran Pironisme itu sendiri, yakni penyangkalan total terhadap penilaian benar-salah, atau tepat-keliru.

Apa yang dinilai benar, belum tentu benar.
Apa yang dinilai benar, belum tentu tidak benar.
Apa yang dinilai tidak benar, belum tentu benar.
Apa yang dinilai tidak benar, belum tentu tidak benar.
Apa yang dinilai benar, belum tentu benar maupun tidak benar.
Apa yang dinilai tidak benar, belum tentu benar maupun tidak benar.
Apa yang dinilai benar atau tidak benar, belum tentu benar atau tidak benar.
Apa yang dinilai bukan benar atau bukan tidak benar, belum tentu benar atau tidak benar.

Bagi Piron, apa yang bisa kita jadikan pegangan, baik terhadap hal-hal di kehidupan ini, maupun penilaian anti-penilaian di atas?

Tidak ada, tidak perlu, dan sebaiknya dihindari, demi mencapai titik tengah ketenangan (equanimity) dari perasaan susah dan kekhawatiran.

Menurutnya, terbebas dari penilaian adalah sumber sekaligus ketenteraman total itu sendiri. Kebahagiaan sejati (eudaimonia).

Lalu, bagaimana biasanya seorang Pironis–seseorang yang menjalankan laku pikir ala Piron–bersikap terhadap segala sesuatu?

Menunda menyetujui, dan menahan penilaian dari mewujud dalam pikiran. Caranya, ialah melawan argumen dengan argumen, dan itu terjadi dalam benak sendiri. Meredam gejolak internal, ibarat menutup kompor milik sendiri dengan selimut basah yang juga milik sendiri.

“Rather, we should be “without views” (adoxastous), “uninclined toward this side or that” (aklineis), and “unwavering in our refusal to choose” (akradantous), saying about every single one that it no more is than it is not or it both is and is not or it neither is nor is not. The outcome for those who actually adopt this attitude, says Timon, will be first “speechlessness, non-assertion” (aphasia) and then “freedom from disturbance” (ataraxia), and Aenesidemus says pleasure.”

Aristokles, mengutip Timon, murid Piron; dan Aenesidemus, filsuf Pironis.

Baiklah.

Jadi, apakah ini adalah cara terbaik untuk menghindari ketidaknyamanan dalam menjalani hidup?

Bisa jadi iya (is), bisa jadi tidak (is not), bisa jadi iya sekaligus tidak (both is and is not), dan bisa jadi bukan iya sekaligus bukan tidak (neither is nor is not).

[]

Māna; Perbandingan yang Menjebak

COMPARISON is the death of joy,” kata Mark Twain. Dan benar saja, kita memang selalu melihat segala sesuatu dengan nilai, menjadikan nilai sebagai ukuran yang pasti berujung pada tiga kemungkinan: Lebih, sama, kurang.

Ketika itu terjadi, seperti kata Mark Twain di atas tadi, alih-alih menikmati apa yang telah kita dapatkan dan siap untuk dinikmati, kita malah sibuk “berhitung” kembali dan membanding-bandingkan. Secara sengaja, meski tanpa disadari, kita mendorong diri sendiri menjauhi potensi kegembiraan yang walau sedangkal apa pun juga tetap menyenangkan.

Image result for ego trap
Foto: spiritualityhealth.com

Setiap kali membicarakan tentang “kutukan perbandingan” ini, kita diingatkan agar selalu meningkatkan rasa syukur terhadap apa yang telah kita miliki, maupun yang baru saja diperoleh. Sebab, tak akan habis bintang dihitung, tak akan tuntas langit diukur; selalu ada yang bisa melebihi kita dalam segala hal. Namun, sebenarnya bukan itu saja. Masih ada satu aspek lainnya.

Perbandingan bisa dilakukan ke atas dan ke bawah. Dengan membandingkan ke atas, kita akan selalu merasa kurang, melihat ada yang lebih baik/banyak/bagus/besar daripada yang kita dapatkan. Bahkan dalam tingkat yang ekstrem, perbandingan ke atas membuat kita kecewa dan berkecil hati.

Sebaliknya, perbandingan ke bawah tak hanya berdampak pada diri dan mindset kita, tetapi juga perlakuan kita kepada orang lain. Bukannya merasa bersyukur, kita malah terdorong untuk merasa lebih unggul, dan pada akhirnya mengarah pada sikap sombong. Ada kejemawaan di situ, yang kerap kita sangkal saking halusnya.

Jika diamati lebih dalam, urusan membanding-bandingkan ini tak lain hanyalah upaya meninggikan diri. Derajatnya saja yang berbeda. Dari kesombongan yang terang-terangan, hingga yang paling samar dibalut berbagai narasi positif seolah-olah ditujukan kepada orang lain; seolah-olah ada manfaat yang bisa dipetik oleh orang lain.

Dengan membandingkan ke atas, kita ingin tahu “seberapa atas, sih, yang di atas itu?” Dan setelah mengetahui bahwa yang “di atas” itu begitu-begitu saja, kita justru bisa menyepelekan atau menggampangkannya. Kita menganggapnya mudah saja untuk dicapai, tidak terlampau berat, dan “kalaupun berat, toh saya pasti bisa berhasil mencapainya juga.” Akan tetapi manakala yang “di atas” tadi ternyata lebih sulit untuk dicapai, di situlah kita bisa berkecil hati dan merasa kecewa. Berkecil hati lantaran belum/tidak mendapat yang sama seperti itu, kecewa karena merasa belum/tidak punya pencapaian yang layak dibanggakan (atau disombongkan).

Begitu pula dengan membandingkan ke bawah. Kita dihadapkan dengan banyaknya situasi dan keadaan yang kurang (dibandingkan kita), serta bisa membuat kita merasa lebih baik. Dalam hal material atau kepemilikan, nilai yang diperbandingkan bisa dihitung. Masalahnya ialah ketika yang diperbandingkan merupakan sesuatu yang bersifat abstrak, katakanlah seperti merasa lebih alim, lebih budiman, lebih patut, dan sebagainya. Kita bisa dengan mudahnya berkomentar: “Oh, dia ternyata juga lebih bejat daripada aku,” yang kemudian dilanjutkan lewat ucapan, tindakan, dan perlakuan.

Membandingkan ke bawah menghasilkan kesombongan moral.

Padahal, apakah dengan merasa lebih baik dari orang lain, diri kita memang sudah benar-benar baik? Siapa yang bisa menilai itu, dan apakah penilaian tersebut sudah benar apa adanya?

Sementara itu, dalam bentuknya yang paling halus, kesombongan moral seringkali tidak berwujud kesombongan; sesuatu yang diunjukkan atau dipamerkan kepada orang lain. Ucapan-ucapan berkesan positif semacam “sekadar mengingatkan”, “semoga bisa menginspirasi”, “Kamu juga bisa seperti saya”, dan sebagainya. Posisinya jelas, bahwa saya sudah berada dalam kondisi tertentu, kamu belum, maka selamat berjuang untuk bisa seperti saya juga. Semoga berhasil.

Demikianlah kesombongan, yang dalam bahasa Sanskerta dan Pali (bahasa kasta-kasta rendah dan non-kasta) disebut māna.

There can be conceit when we think ourselves better, equal or less than someone else.

[]

Diperdaya Pikiran Sendiri

PERNAH mendengar ungkapan: “Makin dikejar, makin menjauh; makin dicari, makin sukar ditemukan; makin diinginkan, makin sulit didapatkan“?

woman wearing black tank top fading photo effect
Foto: @thuwbeoo

Tanpa kita sadari, itulah yang terjadi antara kita dengan pikiran kita sendiri. Yang kemudian lantaran keterbatasan pengalaman menyadari dan mengamati sesuatu, serta terbiasa menanggapi segala hal secara reaktif, kita pun melemparkan kesalahan kepada … nyaris apa saja. Keadaan, lingkungan, orang-orang yang terhubung dengan kita, bahkan kehidupan ini beserta seluruh aspeknya. Kita pun makin jauh dari akar utamanya: Pikiran sendiri.

Segala hal yang dilakukan selanjutnya menjadi sekadar pengalihan, distraksi, penjejal jeda. Sementara pikiran kita, si poin utama, tetap terkondisi untuk melakukan “muslihat-muslihatnya”. Beraneka meditasi, latihan olah pikiran, dan metode-metode lainnya juga tak lepas dari kecerdikan pikiran memanipulasi kesan indra dan perasaan.

Sebagai ilustrasi, berikut saya bagikan secuplik narasi.

Kalau Anda senang suara lembut…
Anda mendengar suara keras…
Anda menjadi tidak senang…
“Tidak sopan itu… disturbing… mengganggu…”
Timbul kebencian, timbul penolakan…
Karena Anda senang suara lembut.

Nanti kalau Anda bermeditasi,
ada suara yang keras-keras… Anda marah…
“Tidak tahu ini lagi meditasi… suaranya kayak betet…”
Jadi waktu Anda bermeditasi, kebencian yang muncul.
“Kan sudah diberi tulisan, ‘Harap tenang, ada meditasi’… Orang ini tidak bisa membaca… tidak punya aturan …”
Timbul kebencian dalam pikiran.

Karena itu beliau mengatakan, jangan menilai…
Suara ya suara…
Omongan ya suara…
Keras atau lembut ya suara…

Kalau Anda tidak biasa menilai…
Anda tidak terpancing oleh kemarahan, kebencian, kelekatan, kesukaan…

Batuk ya batuk…
Kalau Anda mendengar saya batuk, jangan kasih nilai apa-apa…
“Batuk tuh… mengganggu… bicara bagus-bagus, serius-serius, pakai batuk-batuk…”
Tidak senang…
Kalau Anda menilai, timbul kemarahan, kebencian, penolakan…
Anda tidak tenang, Anda tidak bahagia.

Batuk ya suara…
Suara keras ya suara…
Suara lembut ya suara…
Biasa saja…
Itu right view

Karena penilaian itu berdasarkan suka tidak-suka…
Kebiasaan yang Anda punyai…
Dan itu sumber penderitaan.

Jadi kalau Anda duduk bermeditasi,
Anda tidak usah mengharapkan:
“Sedang meditasi… Papa-Mama sedang bermeditasi…
Anak-anak harus tahu… harus tenang… tidak boleh teriak-
teriak… jalan harus pelan-pelan… menelan air harus tidak berbunyi…”
Karena kalau itu semua muncul…
Anda marah…
Karena Anda ingin tenang, ingin tenteram.

Apakah Anda bermeditasi ingin cari tenang atau tenteram?
Kalau Anda bermeditasi ingin cari tenang tenteram hening tenang tenteram hening…
Itu keinginan juga…
Kalau nanti Anda terganggu, Anda marah…

Ada anak menangis… ada benda jatuh… “krompyang“…
“O ya, suara…”
Jangan diberi nilai…
Jangan diberi label…
Supaya tidak memancing keserakahan
atau kebencian…
Dan Anda akan terbebas.

Kalau selama ini Anda tidak pernah berpikir begitu…
Tapi hanya cari tenang…
Cari tenteram …
Ya nanti akan timbul kemarahan lebih besar…
Anda terganggu sedikit, Anda marah…
Meditasi bukan tambah sabar…
Tambah tenang…
Tambah siap menerima keadaan…
Tapi mudah marah… mudah tersinggung…
Karena ketenangan ketenteraman yang
diinginkan terganggu…

Kami pernah ke Buddha Gaya*…
Banyak orang… lalu lalang…
Di antara bhante kami ada yang bermeditasi…
Ada umat yang bermeditasi…
Waktu makan pagi, ada yang mengatakan,
“Pagi ini mengapa saya tidak bisa tenang ya…
Padahal di Buddha Gaya, tempat Buddha Gotama mencapai pencerahan…
Ribut… orang-orang jalan, “srag-sreg-srag-sreg“…
Tidak mengerti kita-kita ini bermeditasi?…
Lha, apa yang timbul?…
Kemarahan, kejengkelan…
Bahkan kebencian…
“Apa mereka itu bukan umat Buddha?… Apa mereka itu tidak tahu, kita-kita lagi duduk bermeditasi? Apalagi dia pakai sandal… diseret…”
Lha, pikirannya berputar-putar…
penuh dengan kemarahan, ketidaksenangan, kebencian…
Saya bertanya, apa Anda di Buddha Gaya bermeditasi mencari ketenangan?
Kalau Anda mencari ketenangan di Buddha Gaya, ya tidak dapat tenang…
Wong di Buddha Gaya ribut melulu…
Kayak pasar…

Meditasi bukan menguber, mengejar ketenangan…
Sebab kalau ketenangan Anda terganggu, Anda marah nanti…
Sadar saja…
Ada tenang, ada tenteram, suara keras, suara lemah…
Ada orang teriak… ada anak menangis…
Sadari saja… sadar… sadar…
Jangan dinilai…
Itu pengertian benar.

~ Bhante Paññavaro Mahathera
Image may contain: 8 people, people smiling, people sitting
Bhante Paññavaro Mahathera (kiri)

Kita, oleh pikiran kita sendiri, dibuat terbiasa untuk memberikan nilai, melabeli segala sesuatu, melekati semuanya dengan kesan rasa: “Ini menyenangkan, itu tidak menyenangkan; ini yang aku mau, itu yang aku tidak mau…

Dari penilaian tersebut, lagi-lagi lewat muslihat pikiran kita sendiri, kita bisa dikendalikan sepenuhnya tanpa sadar. Dikendalikan untuk merasa senang, dikendalikan untuk merasa tidak senang, dan seterusnya. Kita tak bisa melihat dengan apa adanya. Kita merasa perasaan bahagia dan menderita yang kita alami, semuanya tergantung pada apa-apa saja yang ada di luar diri.

Padahal, segalanya bermuara dari pikiran. Pikiran kita sendiri.

[]

* Buddha Gaya, Bihar, India: Tempat Petapa Gotama bermeditasi dan mencapai kebuddhaan.

Bucin, Realitas Elusif, dan Derita Sukarela

SEBUAH derita bukanlah penderitaan jika belum disadari dan diterima sebagai demikian. Derita–segala sesuatu yang memberatkan dan menyusahkan hati–biasanya baru disadari sebagai sebuah penderitaan setelah dampaknya mulai terasa. Padahal derita, seperti segala hal terkondisi lainnya, selalu memiliki penyebab dan tanda-tanda. Termasuk hal yang satu ini.

Itu kata Chu Pat Kai (豬八戒), tokoh fiktif dalam kisah “Perjalanan ke Barat” (西遊記) yang harus mengalami seribu kali patah hati dalam setiap reinkarnasinya, bentuk hukuman karena berupaya merudapaksa dewi penghuni bulan. Sayangnya, dalam hal ini Wu Cheng-en, sang pengarang, merancukan antara cinta dan berahi, dua hal yang sejatinya tidak koheren mutlak.

Pertanyaannya, apakah derita cinta hanya mewujud setelah terjadinya patah hati, hilangnya cinta, padamnya kasih, khianat, atau dua orang yang tak lagi bersama? Adakah derita cinta yang justru diterima sebagai sebaliknya? Sebuah rasa keterpenuhan, misalnya, hal yang dirasa patut dilakukan, dan justru memberikan rasa puas; kepuasan setelah kita berhasil menunaikannya.

Menjadi budak cinta, atau bucin, ialah mereka yang sebenarnya dibuat/merasa menderita secara sukarela karena cinta dengan seperangkat latar belakangnya. Termasuk “at the end, it’s all worth it. It’s all worth fighting for.” Tetap ada perasaan susah dan hati yang berat ketika hal itu terjadi, tetapi luput disadari sampai akhirnya terasa kian menyakitkan.

Servitude.

Kapankah “at the end” tersebut?

Hanya ada dua hal di dunia ini, yakni bahagia dan derita. Sejauh ini, dunia pun telah membentuk anggapan bahwa bahagia dicapai dengan meniadakan derita. Dari situ, kita cenderung lebih fokus pada hal-hal yang menyenangkan, yang kita dambakan, yang mati-matian ingin kita capai. Di sisi lain, kita abai atau bahkan sengaja menjauhkan diri dari mengamati hal-hal yang menderitakan, penyebab derita.

Seperti sabda Epikuros bahwa kebahagiaan tak akan terpengaruh rasa sakit fisik, dan bentuk-bentuk kesakitan lainnya. Termasuk rasa takut.

Banyak yang tidak menyadari bahwa (sesuatu yang dikira) bahagia dan derita dalam cinta hanya setipis rambut perbedaannya. Realitasnya menjadi samar. Ketiadaan derita menimbulkan bahagia, dan usainya momen-momen bahagia pun kembali menimbulkan situasi derita. Hanya saja, lagi-lagi karena keberserahan dan kesukarelaan, sebuah derita tidak disadari dan diterima sebagai demikian.

Kebebasan

Seseorang yang merdeka menjaga dan berusaha mempertahankan kebebasannya sebagai individu. Dengan cinta, seseorang merelakan kebebasan tersebut, mengurangi atau bahkan menyerahkannya secara sukarela. Derita tak lagi dianggap sebagai derita, lantaran tidak memberatkan dan menyusahkan hati. Derita justru muncul jika terjadi yang sebaliknya; ketika kita gagal, tidak mampu, merasa dihalangi, terkendala, dan pada akhirnya tak bisa melakukan yang kita inginkan–servitude.

Perjumpaan

Karena cinta, sebuah perjumpaan bisa sedemikian membahagiakan. Kemudian berakhirnya perjumpaan–perpisahan dan rasa rindu pun bisa menyakitkan. Bahagia berubah jadi derita. Kendati jumpa-tidak jumpa ialah kondisi alamiah yang tak terhindarkan. Sedetik sebelumnya bahagia dengan hati berbunga-bunga, sedetik berikutnya malah terasa merana.

Pemberian

Pada hakikatnya masih senada dengan dua poin di atas, pemberian atas nama cinta dianggap bisa menimbulkan bahagia. Bahagia karena telah mampu memberikan yang dia inginkan, walau tidak diminta secara langsung. Bahagia karena telah mampu membuat dia bahagia.

Pemberian dalam cinta bisa berbentuk hampir apa saja, tangible dan intangible, mulai dari barang hingga perhatian, mulai dari minta dibawa jalan-jalan hingga keperawanan (btw, memangnya ada yang minta keperjakaan?) Saat sanggup diberikan, rasanya menyenangkan. Begitu pula sebaliknya. Hati didera kekhawatiran sendiri, menjadi bulan-bulanan kecemasan sendiri.

Apakah salah? Entah.
Apakah tidak salah? Entah.
Bagaimana yang benar? Entah.
Bagaimana supaya tidak salah? Entah.

Kamu sendirilah penentu bahagia dan derita. Derita belumlah menjadi sebuah derita sebelum kamu anggap dan terima sebagai sebuah derita. Begitu juga bahagia. Hanya kamu yang bisa mengizinkan dirimu sendiri untuk merasa bahagia.

Dan cinta adalah sebenar-benarnya daya kuasa yang bisa membolak-balikkan antara derita dan bahagia. Cinta adalah daya kuasa yang membuat seseorang bersedia berserah sepenuhnya.

[]

Ruang Publik: Ketika Aku dan Kamu Tak Harus Sepakat Terhadap Sesuatu tetapi Malah Diarahkan oleh Struktur

DI SUATU sore, tiga orang sedang berjalan-jalan di sebuah taman. Tidak terlalu luas, dan terdapat satu tiang bendera di tengah-tengahnya. Sesaat, bendera terlihat berkibar tertiup angin, dan memicu sebuah perbincangan di antara mereka.

A: “Lihat, benderanya bergerak.
B: “Bukan bendera yang bergerak. Angin yang bergerak.
C: “Bukan bendera atau angin. Yang bergerak adalah pikiran.

Aku berpikir, dan aku berpendapat.
Aku berpikir dengan kemampuan nalarku sendiri, dan aku utarakan sebagai pendapat.

Kamu berpikir, dan kamu berpendapat.
Kamu berpikir dengan seluruh pertimbanganmu, dan kamu utarakan sebagai pendapat.

Begitu pula dia, berpikir dan berpendapat.
Dia juga memikirkan hal-hal yang dipahaminya, dan dia utarakan sebagai pendapat.

people standing inside building
Foto: @teapowered

Demikianlah Ruang Publik, yang memang semestinya dipenuhi oleh opini-opini publik dalam makna sebenarnya. Opini publik tidak harus bersifat kolektif. Opini publik pun tidak harus berupa konsensus atau kesepakatan bersama. Suara dan pendapat individual pun termasuk sebagai opini publik berkedudukan sama dengan milik orang-orang lainnya.

Di Ruang Publik, opini-opini publik tersebut bebas untuk didiskusikan secara kritis, dan sekali lagi, terbuka bagi semua orang dalam kesetaraannya. Pertemuan opini-opini publik tersebut akan menjadi diskusi yang menghasilkan nalar publik, yang dengan kekuatan dan sifat dasarnya menjadi pengimbang dan pengawas kekuatan struktur yang sedang berjalan/dijalankan.

Nalar publik yang merupakan sintesis dari opini-opini publik yang saling dipertemukan, dibahas, dan dibenturkan di Ruang Publik, menjadi ekspresi langsung dari kebutuhan maupun kepentingan individu-individu yang terlibat di dalamnya; aku, kamu, dia. Sayangnya, tanpa disadari saat ini kita diajak dan dikondisikan agar lebih menyenangi serta menenggelamkan diri dalam isu-isu yang bersifat privat, atau diarahkan ke sudut pandang yang lebih privat, alih-alih dilihat dalam konteks kepentingan publik. Ketika sebuah perkara yang sejatinya menyangkut kepentingan publik digulirkan, tanpa sadar kita diarahkan agar semata-mata meninjaunya terbatas pada apa dampaknya ke diri sendiri, bukan partisipatif.

Mengapa bisa begitu? “Berterimakasihlah” pada media komersial dan penyuara massa–dalam segala bentuknya–yang terus-terusan menyuap benak-benak publik dengan informasi kemasan siap telan. Informasi tak lagi dibahas, melainkan dikonsumsi begitu saja. Perdebatan rasional dan konsensus atas opini-opini publik pun berganti menjadi sikap pasif. Diskusi-diskusi menjadi diatur sedemikian rupa, terancang atau terskenario sebagaimana yang diinginkan sesuai talking points alias butir-butir pendapat.

Media komersial dan penyuara massa tadi sudah berubah fungsi, dari menjadi bagian Ruang Publik yang memfasilitasi wacana dan perdebatan rasional, malah menjadi pembentuk, penyusun, pengkonstruksi, pembangun, sekaligus pembatas wacana publik. Tak ada lagi hubungan antara partisipasi individual dalam ranah publik dengan Ruang Publik itu sendiri. Eksistensi publik bagi individual dipupuskan oleh struktur-struktur yang mengatur media. Kepentingan bersama–dalam arti luas–pun digeser dengan kepentingan-kepentingan kelompok atau privat. Opini publik tak lagi menjadi milik individual, digantikan dengan pendominasi. Yang seolah-olah disuarakan demi publik, padahal menyangkut kepentingan privat.

Banyak contohnya. Mulai dari penumbangan Orde Lama, ke dikotomi politik Cebong-Kampret baru-baru ini, sampai ragam diskursus mengenai dukungan dan penolakan atas sederetan UU dan RUU teranyar republik ini. Segenap informasi dan opini disajikan dan disuapkan kepada individu-individu, membuat mereka ngap-ngapan hingga mau tidak mau terserap arus opini yang disepahamkan. Sesederhana berupa “mendukung” versus “menolak”. Tak ada kesetaraan dalam dikotomi “benar” versus “salah”, kendati mesti berhati-hati melihat bahwa tak ada yang benar-benar benar, dan salah sesalah-salahnya.

Coba saja amati:

  • Apa yang kamu ketahui?
  • Sejauh apa kamu berusaha mengetahui?
  • Apa yang kamu dengar dari orang-orang yang terkesan mengetahui?
  • Apa sikap yang kamu ambil terhadap narasi dari orang-orang tersebut?
  • Di mana akhirnya kamu berdiri terhadap narasi tersebut?
  • Apa saja perangkat opini yang akhirnya kamu miliki dari narasi tersebut?
  • Apakah kita telah benar-benar kuat dalam argumentasi, atau terarahkan untuk mengikuti narasi (mereka)?

Tindakan partisipatif direduksi menjadi sekadar penghimpunan dan perwujudan konsensus partikelir. Panggung tarung politik kontemporer. Tentu saja, negara punya andil dalam pengkondisiannya. Saat ini terjadi, situasi bicara ideal otomatis pupus. Lantaran tak semua orang terbekali dengan kapasitas wacana yang cukup; tak adanya persamaan sosial dasar; terjadi distorsi.

Tak ada lagi kesepahaman, apalagi kesalingpahaman. Kesepahaman dicapai dari diskusi dan perdebatan publik, sementara kesalingpahaman ialah kemampuan menerima dan menyadari perbedaan masing-masing. Sikap tahu sama tahu dalam tingkat yang setara. Tak ada lagi strukturisasi pembicaraan yang bebas dari tekanan dan ketidaksetaraan argumentatif.

Itulah public sphere, yang entah bagaimana bisa kembali diupayakan eksistensinya kini. Merebutnya kembali dari para agen manipulator, mencegah terus terjadinya pengarusutamaan kepentingan privat.

Bisa jadi, salah satu perangkat tindakannya adalah: Bangun landasan wacana, dan berlaku Peduli-Tidak Peduli.

[]

Kita, dan Kesukaran untuk Berpikir (Kritis)

woman with head resting on hand
Foto: H A M A N N

SETIAP orang memiliki akal sehat, atau setidaknya kesempatan asasi untuk diposisikan dan diperlakukan demikian, itu adalah sebuah fakta. Namun, bagaimana cara setiap orang berpikir dan mempergunakan akal sehatnya, itu adalah sebuah tanya.

Kita seringkali dibuat terheran-heran, mengapa seseorang atau sekelompok orang bisa setuju serta sepakat pada sesuatu yang terang-terangan keliru, salah, atau bahkan ngaco dan membahayakan? Kita pun jadi mempertanyakan: “Mereka enggak bisa mikir atau gimana, sih? Sudah jelas-jelas ngawur begitu, kok malah diiyakan?” Dari yang kurang lebihnya begitu, sampai yang riuh akhir-akhir ini, macam UU KPK, RUU KUHP, RUU PKS, dan beraneka keberisikan terkait hajat hidup orang banyak lainnya.

Dengan terlontarnya pertanyaan bernada protes di atas, perasaan atau kesan superior memang tak terhindarkan. Kita, dengan segala pemikiran dan seperangkat argumentasi yang kita miliki, seolah-olah lebih baik daripada mereka. Dan mungkin begitu pula sebaliknya. Akan tetapi, apakah sekadar perbedaan pemikiran yang menjadi masalah utamanya, ataukah ada persoalan yang jauh lebih mendasar dan lebih penting di balik polemik itu? Seberapa perlu, atau sejauh dan sedalam apa kita perlu melihat dari sudut pandang orang lain (yang pendapatnya berbeda) tersebut? Untuk berusaha mengetahui dan memahami beberapa hal:

  • Apa yang mereka anggap benar, dan kenapa?
  • Apa yang mereka taati serta patuhi, dan kenapa?
  • Apa yang mereka dengar, percayai, dan kenapa?
  • Apa yang menyebabkan dan mendorong mereka bersikap demikian?
  • Apa yang mereka lihat, dan bagaimana mereka melihat sesuatu?

Tak hanya bersikap dan berpikiran kritis terhadap orang lain, bagaimanakah kita bersikap dan berpikiran kritis terhadap diri kita sendiri? Bisa jadi salah satunya karena ini…

Orthodoxy means not thinking–not needing to think. Orthodoxy is unconsciousness.

Apakah berpikir, apalagi berpikir kritis dan cermat memang sesusah, atau semenyusahkan itu? Saking susahnya, sampai-sampai dihindari, bikin malas untuk dilakukan, dan menjadikan banyak orang–barangkali termasuk kita–untuk bersikap iya-iya saja, dan mengikuti yang ramai di depan mata?

Kutipan di atas saya temukan dari novel “1984”, salah satu karya George Orwell keluaran 70 tahun lalu. Dan entah mengapa, kutipan itu tampaknya bakal sering saya celetukkan, utamanya ketika mempertanyakan sikap diri terhadap sesuatu. Di dalam novel itu pun disajikan sebuah plot, yakni manakala masyarakat–orang banyak–dicegah agar tak mampu berpikir kritis lewat pembatasan bahasa dan kosakata.

Berpikirlah kritis, sebelum berpikir kritis itu dilarang.

Dalam hal ini, kepatuhan; keputusan untuk patuh terhadap sesuatu pasti ada penyebabnya. Kita meyakini pula, penyebab(-penyebab)nya juga pasti tersusun lewat proses pemikiran dan seperangkat argumentasi. Lalu, sudah sepaham apakah kita, untuk bisa menunjukkan serta menyatakan bahwa dasar-dasar argumentasi tersebut nyata salahnya dan perlu dihadapkan dengan koreksi?

Membaca dan membayangkannya saja cukup bikin spaning kepala, tetapi berpikir kritis sejatinya sebuah kemampuan berbasis kebiasaan. Makin sering dilakukan, makin mulus prosesnya, serta justru makin membuat kita haus akan referensi dan terus mencari sudut pandang berbeda, meskipun tentu saja menyita tenaga, waktu, perhatian, dan stamina.

Dan lagi-lagi, mungkin itu sebabnya berpikir serta berpikir kritis dirasa terlampau merepotkan bagi banyak orang.

Orthodoxy means not thinking–not needing to think. Orthodoxy is unconsciousness.” Berpikir kritis, demi terhindar dari pandangan keliru dan bias, fanatisme, serta apatisme dan ketidaktahuan.

[]

Terlalu Banyak Dipikir, Masalah Malah Jadi Kenyataan

“AKU berpikir, maka aku ada.” Ini kata René yang Descartes, bukan yang Suhardono.

Sementara, tanpa disadari, inilah yang terjadi dalam kehidupan kita hampir tiap hari: “Aku memikirkannya, maka itu ada, dan terjadilah.”

Sebuah masalah baru akan benar-benar menjadi masalah ketika terjadi. Namun, dengan mempersilakan masalah itu mewujud dalam bentuk pikiran-pikiran negatif, kegelisahan dan kekhawatiran yang berlebihan, serta memasrahkan diri untuk terus-menerus dilumat rasa takut, kita seolah-olah membantunya agar lebih cepat terjadi. Di tengah-tengah deraan masalah tersebut, barulah kita mencari-cari dispensasi dari mana saja. Melemparkan kesalahan kepada orang lain, kepada situasi dan keadaan, juga kepada diri sendiri secara keliru (menyalahkan diri sendiri untuk alasan yang salah).

Kita kerap tidak bisa santai barang sedikit saja terhadap diri sendiri. Didorong oleh banyak aspek dalam kehidupan–misalnya lingkungan sosial budaya dan tempat tinggal, kecenderungan sifat atau pembawaan dari lahir, maupun lewat nilai-nilai yang ditanamkan orang tua dan keluarga–kita diajari agar selalu curiga terhadap kehidupan. Bukan waspada, melainkan berprasangka.

Perbedaan antara waspada dan curiga adalah apa yang dipikirkan, dan apa yang akan dilakukan dalam menyikapi sesuatu.

Waspada lebih kepada bersiap-siap, berjaga-jaga, atau mempersiapkan diri terhadap sesuatu yang barangkali bisa terjadi. Tentunya ada sejumlah pertimbangan, perhitungan, dan antisipasi rasional yang dibangun. Kemampuan melihat dan berpikir secara jernih pun mutlak diperlukan, supaya tahu benar apa yang bakal dihadapi dan bagaimana menghadapinya. Apabila perubahan diperlukan, seseorang dengan kewaspadaan bisa menyesuaikan diri dan gesit bertindak. Tidak terlampau lama membuang-buang waktu dan tenaga untuk hal-hal tak perlu.

Berkebalikan dengan sikap waspada, curiga lebih berupa pikiran dan perasaan negatif yang tidak berujung ke mana-mana melainkan ke objek kecurigaan itu sendiri. Terdiri atas sekumpulan ketakutan, kekhawatiran, kegelisahan, keragu-raguan, kebingungan, penolakan membuta, yang pada akhirnya hanya bisa dikenali dan dirasakan sebagai sebuah ketidaksukaan besar, atau bahkan kebencian yang sukar dijelaskan alasan mendasarnya.

Saking kuatnya rasa tidak suka itu, sampai bisa memengaruhi dan menyetir tindakan kita. Cukup membuat kacau, membuat banyak hal terbengkalai, hingga justru menjadikan objek kecurigaan tadi menjadi kenyataan. Sebuah kondisi yang semestinya bisa diantisipasi atau dielakkan, malah kita fasilitasi biar terjadi… dan kembali lagi, tatkala peristiwa itu terjadi, ujung-ujungnya yang bisa kita lakukan hanyalah buang bodi, melempar kesalahan.

Kewaspadaan dapat ditumbuhkan dan terus diasah, sedangkan kecurigaan seharusnya dikenali dan diatasi. Manakala kita bisa menyadari sedang memupuk sebuah kecurigaan, angkat dia, siangi dan bersihkan menggunakan akal sehat, lalu coba amati secara cermat. Perhatikan, apakah ada poin-poin dari kecurigaan tersebut yang sekiranya mesti diwaspadai pakai akal sehat?

Kecurigaan yang telah disiangi dan dibersihkan menggunakan akal sehat, akan menyisakan inti masalah yang bisa dilihat dengan apa adanya. Tanpa dibungkus ketakutan, kegelisahan, dan kekhawatiran yang berlebihan. Hanya saja, jika kita telah berusaha keras tetapi tetap tidak mampu melihatnya, jangan pernah ragu untuk meminta bantuan dari orang-orang yang sesuai.

  • Takut berpotensi mengidap penyakit tertentu, cobalah konsultasikan ke dokter dan periksakan sebagaimana mestinya.
  • Takut berpotensi mengalami gangguan psikis, cobalah konsultasikan ke psikolog. Daripada membangun anxiety dan dibiarkan begitu saja.
  • Takut berpotensi tidak berguna secara karier, cobalah bicarakan ke atasan, atau bagian sumber daya manusia.
  • Takut berpotensi gagal dalam hubungan, cobalah dimulai dengan berbicara kepada pasangan demi mendapatkan kejelasan atas gejolak yang dirasakan. Dari situ, biasanya, akan ada progres. Setidaknya menjadi tahu agar tidak perlu resah berkepanjangan. Lalu, bisa juga menghasilkan keputusan.
  • Takut berpeluang mengalami kegagalan, cobalah berdiskusi dan bertukar pikiran dengan yang sudah pernah mengalami kegagalan sejenis.
  • Takut mati, ehm, mungkin cobalah dengan berbicara kepada diri sendiri, sang entitas yang nantinya bakal mati; atau cobalah berbicara kepada tuhan, sang entitas yang dianggap menciptakan dwi kondisi hidup dan mati tersebut. Bisa jadi akan ada jawaban yang menjernihkan pandangan.

[]

Capek: Berjeda dari Kekinian

“GOD does not play dice with the universe,” kata Einstein.

Namun, if it does so (play dice with the universe), what would you do?

Tuhan tidak berundi dadu untuk semesta. Namun, kalau dia ternyata memang melakukannya, kamu mau apa? Akan bagaimana?

Iya. Saya sengaja menyitat kutipan tersebut secara serampangan dan di luar konteksnya‒fisika kuantum‒karena sedang capek banget sepekan terakhir ini. Capek badan, capek pikiran, dan capek hati. Dan ketiganya terjadi bersamaan, seakan-akan mengeroyok untuk mengisap habis bulir-bulir tenaga yang tersisa. Tenaga (ber)gerak, tenaga (ber)pikir, dan tenaga (me)rasa. Bikin ingin mengambil sejenak jeda dari kekinian, mengindar sebentar agar tak terpapar. Meskipun susah, kayaknya.

Tidak. Tidak semua kecapekan itu bersifat negatif dan bikin menderita, kok. Capeknya badan karena bekerja dan berkegiatan yang tak terhindarkan. Capek yang tersisa masih bisa dibarengi rasa gembira telah melakukan sesuatu, rasa bangga atas keterlibatan, rasa puas telah berperan dalam sesuatu yang lebih besar, rasa berdaya dan bermanfaat bagi sesama, serta rasa pantas sebagai seseorang.

Capek pikiran dan capek hati yang bikin tidak nyaman, dan sekali lagi, tak terhindarkan. Ingin sekali tidak acuh dan tidak peduli, hanya saja, kok agak sulit, ya?

– Hari ini, VK dicari polisi. Dijadikan terduga provokator soal Papua.

– Sekali lagi, perempuan diobjektivikasi, dijadikan objek. Dan karena saya sepakat dengan prinsip “No uterus, no comment!” maka, sudah sepatutnya adu argumentasi perihal tersebut terjadi antara sesama perempuan, atau setidaknya, oleh orang-orang yang layak turut berbicara. Satu hal yang pasti, orang-orang yang menyalahkan korban perkosaan adalah sekumpulan manusia idiot!

Twitter: @nynecomics

– Melihat video seorang bocah SD yang dihajar habis-habisan oleh anak-anak seusianya, dengan berbagai gaya pukulan dan tendangan. Menontonnya, dan mendengarkan tangisan mengaduh sang korban saja sudah bisa bikin sesak napas.

Ketiga hal di atas cukup berhasil menyusahkan pikiran dan hati. Ya, itu tadi, bikin pengin sejenak menjauh dari kekinian; apa yang tengah berlangsung saat ini. Akan tetapi, capek hati paling berat ternyata terjadi dalam lingkar pribadi; kemalangan seorang kerabat dekat.

Mereka adalah pasangan muda yang baru dikaruniai anak, yang saya tidak bisa membayangkan, betapa hancur hati mereka dan bagaimana susah payahnya mereka agar bisa kembali tegar, begitu mengetahui jika anak mereka terlahir dengan sejumlah kondisi serius. Salah satunya, kelainan pada jantung dan saluran paru-paru.

Kedekatan kami selama ini, bahkan sejak kecil, membuat saya susah untuk bersikap biasa-biasa saja terhadap kenyataan itu. Apalagi tindakan yang bisa saya lakukan barangkali nyaris tak ada artinya bagi si kecil dan kedua orang tuanya. Capek hati jadinya.

Tuhan tidak berundi dadu untuk semesta. Namun, kalau dia ternyata memang melakukannya, kamu mau apa? Akan bagaimana?

Pikiran saya meliar, bikin tambah capek.

Apa yang akan saya (dan pasangan) lakukan jika‒amit-amit‒mengalami hal serupa?

Apa yang akan saya (dan pasangan) lakukan jika kondisi tersebut telah diketahui lebih awal, saat masih dalam kandungan? Apakah akan terus menyodorkan kehidupan dan masa depan yang hampir pasti penuh kesulitan dan kesukaran bagi dia? Kemudian, ditambah dengan sebuah keniscayaan bahwa saya, kami, orang tuanya bakal mati suatu saat nanti, dan dia pun akan terus menjalani hidupnya sendiri.

Aduh! Sungguh-sungguh berat di kepala, dan di hati. Saya hanya bisa bertakzim kepada para orang tua kuat, yang mendedikasikan kehidupan mereka saat ini, berusaha sepenuh tenaga menghadirkan kehidupan layak bagi anak-anak dalam kekurangan dan keterbatasannya.

Capek. Saya ingin istirahat dulu.

[]

Yang Tersisa dari Ulang Tahun ke-5 Linimasa

IYA, ulang tahunnya memang sudah lewat, tanggal 24 Agustus kemarin, dan, iya, tulisan di Linimasa hari ini memang lumayan telat. Namun, ada yang kurang pas rasanya, bila perihal keduanya dibiarkan berlalu begitu saja.

Jumat pekan lalu, Mas Nauval sudah “membuka peringatan dan perayaan” hari jadi Linimasa tahun ini. Sejumlah ucapan selamat–yang kecepetan–pun disampaikan lewat Twitter, yang saya yakin empunya adalah para pembaca, para penaut hati dengan Linimasa, yang cukup setia … itu sebabnya, tak aneh jika selain di Twitter, mereka juga lumayan rajin memberi tanggapan dan berbagi cerita pada kolom komentar.

Seperti yang ditulis Mas Nauval di artikel sebelumnya, para kakak-kakak penulis tetap di Linimasa masih ada, kok, meskipun halaman depannya belum tentu diperbarui setiap harinya. Bahkan saat ini banget, kami juga sedang berunding ingin menonton film di bioskop mana, dan kapan enaknya, supaya bisa ikut semua–kasihan Kang Agun, jauh, di Bandung. 😅 Kami juga belum berkumpul untuk makan malam bersama.

Sesi nongkrong paling anyar, bulan puasa kemarin. Itu pun tanpa Mas Roy.

Kalau dirasa-rasani, Linimasa di usianya yang ke-5 tahun ini kian mirip grup WhatsApp “zona nyaman”, tidak seramai seperti awal-awal keberadaannya dulu, tetapi meskipun sudah relatif sepi, tetapi tetap tidak bikin pengin leave group. Haha! Entahlah, apakah ini merupakan analogi yang pas atau tidak. Yang pasti, inilah kami; para pedamba pendebar hati. Termasuk juga para penulis tamu, para kontributor, yang sempat dan telah bersedia menitipkan secuplik isi hatinya di sini.

Apresiasi kami untuk yang sudah menyampaikan twit ucapan, berikut ini.

Terima kasih juga, Mas.
Terima kasih, dan syukurlah kalau bisa mendapatkan pengalaman dan perasaan menyenangkan. Semoga selalu, ya.
Terima kasih, dan #penasaran, kira-kira bakal ada hasil yang berbeda dari survei sebelumnya, tidak, ya?
Terima kasih, dan selalu, pasti tetap ada orang-orang baik di dunia. Mudah-mudahan kita selalu berkesempatan bertemu mereka, ya, atau setidaknya, menjadi salah satu di antaranya.
Terima kasih, wahai kamu yang telah bertahan sekian lama. Hahaha.
Terima kasih, juga. Semoga kapan-kapan kalau ketemu beberapa penulisnya, disapa saja. Tak perlu sungkan, pun malu.
Terima kasih, dan salam sayang juga.
Terima kasih, dan sebaik-baiknya serentang umur, adalah yang bisa bermanfaat dan membagikan senyuman.
Kembali kasih.

Ada masukan, saran, kritik, atau apa pun yang bisa disampaikan, sampaikan saja, ya.

…dan sebagai penutup tulisan kali ini, jangan pernah berhenti berbagi hati. Bukan untuk dimiliki, tetapi untuk diisi; berupaya tetap menjadi manusia yang manusiawi.

Terima kasih.

[]

Jejak Digital: UAS Ada di Semua Agama

NIAT menulis tentang ini (di blog pribadi) berawal dari sebuah pertanyaan sederhana: “Buddha pernah bilang sesuatu, atau ngasitau gimana seharusnya seseorang berbicara waktu ceramah, gak sih?

Pertanyaan ini memang dilontarkan dan dibahas secara internal di antara sesama Buddhis lewat grup WA. Dipicu beredarnya video tanya jawab majelis kajian Ustaz Abdul Somad (diunggah ke Facebook 15 Agustus), hingga kemudian beliau resmi dilaporkan ke polisi 17 Agustus, kemarin.

Sejauh ini, ada banyak orang yang terganggu, tetapi tak sedikit pula yang malahan bertanya: “Di mana salahnya?” dengan sederet alasan dan apologia. Lengkap dengan tagar, menjadikannya semacam gelombang kekuatan yang barangkali sukar digegar.

But anyway, kalau ngobrolin ini lebih jauh, ada beberapa hal yang saya yakini berlaku secara universal.

  1. Setiap agama, sebagai sebuah institusi, pasti memiliki pakem atau tata cara dalam berbicara, baik sebagai aktivitas sosial biasa maupun ketika berkhotbah. Ada ketentuan-ketentuan yang harus dijalankan; harus dihormati; harus dihindari; dan yang dianjurkan.
  2. Setiap orang, terlebih pembicara publik berbalut label profesi apa pun, memiliki karakteristik dan gaya berkomunikasi masing-masing. Mereka pun umumnya mampu melakukan penyesuaian di berbagai lingkungan atau suasana. Bukan dengan mengganti isi pesan yang akan disampaikan, tetapi gaya penyampaiannya.
  3. Ada sebagian orang yang gemar sekali berkelakar, ada pula yang cenderung gemar berolok-olok. Bedanya, kelakar dapat disampaikan secara terbuka kepada khalayak heterogen, sedangkan olok-olok yang sedemikian sensitif seringkali dicetuskan dalam lingkungan tertutup kepada khalayak homogen. Walaupun pada dasarnya, olok-olok tetap tidak sepatutnya dikemukakan karena tidak berfaedah, bertujuan tiada lain daripada menghina, serta tidak berkontribusi apa-apa dalam narasi penjelasan yang tengah dibawakan.
  4. Di berbagai kasus, kelakar atau olok-olok digunakan untuk memantik tawa dalam sesi public speaking, menarik kembali perhatian penonton hingga akhir durasi. Hanya itu fungsinya, dengan keterhiburan yang timbul kemudian sebagai efek samping.
  5. Oleh sebab itu, tidak menutup kemungkinan figur pengkhotbah yang kerap memanfaatkan kelakar dan olok-olok bukan Ustaz Abdul Somad seorang. Bisa jadi ada di semua agama resmi Indonesia. Termasuk yang Buddhis.

Mari dilihat satu-satu.

Poin 1

Untuk agama yang lain, silakan cari sendiri. Sebagai seorang Buddhis, saya mencoba menukil salah satu bagian mikro terkait hal ini (Aṅguttara Nikāya, 5.159 Udāyī). Yaitu, setidaknya ada lima kualitas internal yang harus ditegakkan seseorang sebelum memaparkan Dhamma atau berkhotbah.

  • Menyampaikan khotbah secara bertingkat,
  • Menyampaikan khotbah berisi alasan-alasan (di balik penjelasan),
  • Menyampaikan khotbah yang simpatik,
  • Menyampaikan khotbah bukan demi materi (dan perolehan-perolehan lainnya),
  • Menyampaikan khotbah yang tidak membahayakan diri sendiri dan orang lain.

Disimak sepintas, tidak ada yang terlampau spesifik dari hal-hal di atas. Seseorang pun tak perlu menjadi Buddhis supaya bisa menyadari bahwa lima kualitas internal tersebut memang sebaiknya diperhatikan sebelum menggegaskan sebuah pesan kepada orang banyak.

Penyampaian secara bertingkat berarti menyesuaikan bobot pesan dengan penerimanya. Jangan terlalu canggih, terlalu tinggi, terlalu sulit dijangkau tetapi tidak bisa dipahami orang lain. Saking kedengaran rumitnya, para hadirin hanya bisa manggut-manggut tanpa memahami sepenuhnya, atau bingung sekalian.

Jelaskan menggunakan alasan-alasan, agar yang disampaikan benar-benar bisa ditangkap, mengundang untuk dipikirkan lebih jauh, dan memahamkan.

Sikap dan penyampaian yang simpatik menyentuh sisi manusiawi dalam berceramah. Tujuannya pun untuk menanamkan pengertian, bukan untuk menghakimi atau malah mendorong banyak orang melakukan keburukan, apalagi memperluas ketidaksukaan. Juga bukan demi mengumpulkan donasi untuk pribadi, atau meningkatkan popularitas.

Terakhir, bijaklah dalam bersikap. Sampaikanlah sesuatu yang tidak membahayakan diri sendiri dan orang lain, bukan terkait hinaan atau cercaan, melainkan situasi yang tengah terjadi. Ini pun baru aspek sederhananya saja.

Mengingat hal-hal di atas bersifat universal dan tidak ekslusif milik Buddha dan umat Buddha semata, mari kita exercise sejenak. Merujuk pada video tanya jawab Ustaz Abdul Somad, hal-hal mana saja yang terpenuhi dan tidak?

Poin 2

Para pemuka agama sejatinya adalah public speaker, sekaligus marketer. Tatkala berceramah, tentu ada tujuan yang ingin dicapai. Kala menjelaskan sesuatu, atau menjawab pertanyaan-pertanyaan praktis (berkaitan dengan kehidupan keseharian) dari perorangan, idealnya ada berbagai aspek yang perlu dipertimbangkan. Jawaban bagi seseorang, belum tentu cocok disampaikan bagi orang lain. Asumsi yang dijatuhkan kepada kondisi seseorang, pastinya tidak patut ditimpakan kepada orang lain.

Belum lagi tidak ada yang bisa menjamin bahwa jawaban itu benar, ataukah hanya akal-akalan. Dalam bahasa Inggris disebut: “Think on your feet.” Berusaha merespons sesuatu secepatnya, sebisanya. Bisa tergesa-gesa, dan bisa gegabah.

Poin 3 & Poin 4

Banyak penyimak khotbah yang haus untuk dihibur. Ketika pengkhotbahnya lihai membuat tertawa, besar kemungkinan beliau akan terkenal setelahnya. Makin sering diundang, makin sering tampil, makin sering mendapatkan banyak hal.

Terkait itu, banyak juga narasi-narasi yang bisa bikin ketawa, termasuk olok-olok. Siapa pun yang terbiasa berpikir cepat, mampu melihat celah di balik sesuatu, pasti bisa berseloroh dengan lancarnya. Lihat saja para pelawak verbal yang terkenal di Indonesia dalam sepuluh tahun belakangan. Begitu cergasnya mereka melemparkan lelucon berupa olok-olok yang membuat para penontonnya–kadang-kadang termasuk kita–ngakak luar biasa.

Dalam konteks perbincangan bertema keagamaan, bahan olok-olokan tersebar di semua agama dalam berbagai aspeknya. Tampilan, nama, sebutan, bahasa, ritual, dan ragam-ragam lain. Sayangnya, kejadian itu seringkali diperparah oleh umat agama (yang diperolok) itu sendiri. Mereka menjadi reaktif, tak bisa tenang, padahal olok-olok yang dilontarkan pada hakikatnya hanyalah omong kosong, sesuatu yang mengada-ada alias dusta, dan mestinya cukup diperlakukan tak ubahnya seseorang yang ingin meludahi langit. Pasti meleset, dan bisa saja terkena wajah sendiri.

Jadi, kalau diolok-olok, senyumin aja; “balas” dengan sesuatu yang lebih elegan. Don’t get that low too. Khusus bagi para Buddhis, amatilah apa pun gejolak batin yang muncul begitu mengindra (melihat, mendengar, mengingat) sebuah olok-olok. Lebih penting untuk tetap “sadar”, ketimbang turut hanyut dalam dangkal pikir seperti itu. Toh, apa yang mereka katakan merupakan kekeliruan, bukti dari ketidaktahuan terhadap sesuatu.

Kombinasi dari kesoktahunan, dan hasrat untuk mengalahkan sesuatu. Sampai bisa tidak sadar, bahwa butir-butir penjelasan yang disampaikan invalid semua. Tidak bakal nyambung, dan tidak bakal kompatibel.

Ambillah contoh ini, deh.

Dia Tionghoa, kan?
  • Kira-kira, tahukah dia siapa nama tokoh yang gambarnya dia tampilkan? Kok dia sebut tuhan? Tuhan ajaran apa?
  • Kira-kira, tahukah dia bahwa Sun Wukong atau Kera Sakti hanyalah figur rekaan dalam sebuah kisah sastra? Mengapa menggunakan cerita fiksi dalam membahas kepercayaan lain?
  • Kira-kira, tahukah dia bahwa Buddha bukan tuhan?
  • Kira-kira, tahukah dia bahwa gambar-gambar patung Buddha yang dia tampilkan sebenarnya adalah figur berbeda?
  • Kira-kira, sadarkah dia bahwa upaya personifikasi tuhan dilakukan banyak orang dari berbagai agama?
  • Kira-kira, dia sebenarnya sungguh-sungguh paham dengan apa yang disampaikannya, atau tidak, sih? 😂
  • Kemudian, bagaimana dengan para penyimaknya di ruangan tersebut? Apakah cocoklogi tersebut memang semenghibur itu? Lagi-lagi, apakah ada jaminan bahwa mereka yang hadir di sana tidak akan mengutarakan pernyataan-pernyataan yang sama?

Nah, itu pula masalahnya. Ada penceramah, ada yang mendengar ceramah, ada yang dijadikan objek olok-olok dalam ceramah. Penceramah mengutarakan olok-olok yang merupakan ucapan minim faedah. Umat objek olok-olok dalam ceramah bisa memilih untuk tetap bersikap tenang, dan cukup membalas lewat senyuman. Dicueki. Sementara itu, jangan lupa ada yang mendengar ceramah dan mungkin ikut tertawa-tawa tentang olok-olok yang disampaikan. Manakala mereka menyerap informasi olok-olok tersebut begitu saja, siapa yang bisa menjamin mereka tidak akan meneruskan olok-olok tersebut di masyarakat, atau justru terang-terangan melontarkannya untuk menghina?

Poin 5

Di era jejak digital sekarang ini, tinggal cari atau tunggu saja unggahan video atau rekamannya. Tinggal perkara apa yang disampaikan, dan apes atau tidak apesnya saja.

Namun, satu hal yang perlu diperhatikan para pengkhotbah. Katakanlah, sepeninggalnya Anda nanti, dan yang tersisa hanyalah video-video ceramah, Anda ingin dikenal dan dikenang sebagai seseorang yang bagaimana?

Bhante Uttamo Mahathera
KH Quraish Shihab

[]

Anyway, Linimasa sebentar lagi ulang tahun! 🎉