Inovasi untuk Mencegah Pencopetan, atau Menemukan Dompet yang Dicopet

SEBAGAI seseorang yang kerap bicara (dan menulis) tentang detachment atau ketidakmelekatan pada banyak hal, perasaan tidak menyenangkan yang muncul setelah mengalami kecopetan untuk pertama kalinya ternyata memang sukar diabaikan begitu saja. Dimulai ketika menghadapi keterkejutannya, mengurus kerugiannya, dan menghadapi kerepotan-kerepotan yang mesti dijalani sesudahnya.

● Menghubungi satu demi satu call center bank untuk memblokir kartu ATM dan kartu kredit. Bisa dibayangkan, jika satu sesi telepon pelaporan ke call center bank untuk proses blokir membutuhkan 10 sampai 15 menit lengkap dengan prosedur pencocokan data dan sebagainya, maka dibutuhkan 40 sampai 60 menit apabila memiliki empat kartu berbeda. Seperti berjudi dan berpacu dengan waktu, tetap ada peluang bagi si pencopet menyalahgunakan kartu yang dicurinya.

Langkah pencegahan: Cara terbaik untuk menghindari pencopetan adalah jangan bawa dompet. Apanya yang mau dicopet, kalau dompet pun tidak bisa ditemukan? Cuma, kan mustahil tidak membawa dompet, ya. Sebab sebagai Warga Negara Indonesia (WNI), selalu ada kesempatan tak terduga saat kita diminta menunjukkan Kartu Tanda Penduduk (KTP), Surat Izin Mengemudi (SIM), dan berbagai kartu identitas lain. Bedanya, kartu-kartu tersebut tidak bisa diuangkan, tak berguna bagi para pencopet.

Sayangnya, pencopet mengambil dompet beserta seluruh isinya. Kartu-kartu identitas tadi akan dibuang, sementara kartu-kartu pengganti uang tunai lainnya yang akan mereka coba manfaatkan (dalam kasus saya, mereka berhasil melakukan sepuluh kali transaksi pembelian rokok, tanpa filter pengecekan kesamaan tanda tangan oleh kasir). Jadi, alangkah baiknya bila tidak perlu membawa semua jenis kartu perbankan. Cukup satu ATM, dan satu kartu kredit kalau diperlukan. Selebihnya, tinggalkan saja di rumah.

Namun, percayalah, mengurus pencetakan ulang kartu-kartu identitas di negara ini jauh lebih meletihkan dan merendahkan semangat hidup dibanding urusan perbankan.

● Melakukan klaim kehilangan, dan mengganti kartu-kartu identitas yang diperlukan di semua kantor terkait. KTP yang hilang, urusannya mulai dari pengurus apartemen, ketua RT, sampai Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) tingkat provinsi. SIM yang hilang, urusannya tentu ke kantor Satuan Pelayanan Administrasi (Satpas) setempat dengan liku-likunya. Beruntung kartu Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) bisa dicetak di mana saja, dan kartu penanda keanggotaan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan sudah berbasis digital dengan kode QR.

Langkah mempermudah: Tak semua orang mampu menghafal Nomor Induk Kependudukan (NIK) di KTP, apalagi ditambah nomor SIM. Pindai atau foto semua kartu-kartu administrasi, agar saat terjadi kehilangan tetap dapat melampirkan salinannya. Pengurusan pun dimungkinkan lebih lancar (dalam kasus saya, SIM tak berhasil dicetak di Jakarta, sehingga menjadwalkan diri pulang ke Samarinda pertengahan September mendatang. Daripada membayar dan berpeluang gagal dalam ujian-ujian pengurusan SIM baru, atau pun membayar Rp1,3 juta untuk dua SIM yang ditawarkan oleh calo di sekitar kantor).

Tidak berkendaraan pribadi di Jakarta, idealnya SIM A dan SIM C bisa ditinggal saja di rumah. Namanya juga kebiasaan, semua kartu dibawa. Untungnya, selama berkeliling mengurus surat-surat tersebut dengan meminjam kendaraan teman (terima kasih!), tak ada pemeriksaan lalu lintas.

Dalam mengurus pencetakan ulang kartu-kartu tersebut, semuanya pasti dimulai dengan pengetahuan yang minim tentang apa yang harus diajukan, ke mana harus pergi, dan seterusnya. Pastikan bertanya dan mendapatkan informasi sejelas-jelasnya sebelum meninggalkan sebuah kantor, yang petugasnya berkata: “Oh, kalau mengurus ini bukan di sini, tetapi di sana…” supaya tidak buang-buang waktu di jalan (dalam kasus saya, tempat-tempat yang didatangi adalah kantor kelurahan, kantor Suku Dinas Dukcapil kota, diarahkan ke Disdukcapil provinsi. Data KTP elektronik sudah ada dan sama persis, tetapi harus melengkapi syarat di kantor kecamatan, lanjut ke pengurus apartemen, mencari ketua RT yang tinggal di kawasan berbeda termasuk memberikan “sumbangan” Agustusan, dan begitu seterusnya).

Apa fungsinya kartu ini?

Saya #penasaran, mengapa mereka cenderung suka memberikan informasi yang sepotong-sepotong? Apa karena “Ya, situ tidak tanya, sih…” begitu?

Hanya dua hal di atas, cukup membuat saya lumayan dysfunctional atau tak berfungsi sebagaimana mestinya dalam sepekan terakhir kecuali terkait urusan kantor, termasuk bolos menulis pekan lalu kendati tulisannya sudah hampir jadi (kecopetannya pun terjadi saat ingin pulang dari kafe tempat mengetik 😅). Berbagai aktivitas dijalani dengan penuh godaan untuk mengeluh, meratap, dan suasana hati yang tidak menyenangkan … sesuatu yang semestinya bisa saya lalui dengan lebih ringan, lantaran sekeras dan sesering apa pun keluhan dilontarkan, tak mengubah fakta bahwa saya harus menyelesaikannya. Berat? Bring it on! Sampai selesai, pokoknya.

Dari pengalaman tidak menyenangkan tersebut, ada beberapa hal yang saya sadari. Pertama, saya menjadi seseorang yang jauh lebih selfish dan relatif buta-tuli dengan kondisi di sekitar. Fokus hanya pada ketidaknyamanan dan kemalangan pribadi; agak tidak peduli dengan bencana gempa bumi yang terjadi, lumayan bodoamat dengan riuh soal calon presiden dan siapa calon wakil presiden masing-masing, serta terlampau sering melontarkan keluhan kepada siapa saja yang diinginkan. Entah apa dampaknya terhadap kenyamanan diri, tetapi ya tetap saja dilakukan. Mungkin sampai lawan bicara berganti perasaan, dari kasihan, jadi bosan.

Terlepas dari itu, saya terpikir beberapa hal yang tampaknya menarik dan cukup oke mengantisipasi tindak pencopetan, serta mengurangi kerepotan yang dapat terjadi setelahnya.

Pemantauan Belakang
Bisa berupa kamera pantau, bisa juga berupa sinyal pendeteksi gerakan yang memenuhi kondisi tertentu. Kurang lebih seperti memiliki mata di belakang kepala, bisa berupa topi, liontin yang menghadap ke belakang, atau komponen tertentu di tas ransel. Agar si pemilik dompet bisa mendapatkan peringatan, dan punya kesempatan mengecek atau memindahkan dompetnya ke posisi yang lebih aman. Akan lebih keren lagi bila ditambahkan fitur memotret wajah pelaku, dan langsung mengirimkannya ke pihak berwenang terdekat sebagai langkah pengamanan.

Tas atau Dompet Beralarm
Bagaimana pun mekanismenya, dompet dan tas akan mengeluarkan bunyi nyaring saat dipegang atau dibuka paksa oleh orang asing. Tujuannya, kan, pengamanan. Bunyi yang nyaring, seberapa pun mengganggunya, berfungsi dengan baik mencegah terjadinya tindak pencopetan. Bahkan membuat orang lain di sekeliling turut waspada. Tak lebih repot daripada tak atau dompet berkunci gembok, yang lebih merepotkan saat digunakan.

Tas atau Dompet Berpelacak
Kayaknya sudah ada yang menjual produk ini. Memanfaatkan koneksi Bluetooth, pemilik bisa mengecek di mana posisi dompet mereka. Tantangannya tentu saja ketersediaan daya pada dompet, agar sanggup memancarkan sinyal Bluetooth selama digunakan. Jadi, walaupun isi dompet sudah dikuras pencopet, setidaknya bisa berharap supaya KTP dan SIM tetap ditinggalkan di slotnya.

Bisa juga memadukan pelacak dengan alarm. Pada saat dompet terpisah dari pemiliknya sampai jarak tertentu, alarm berbunyi. Layar ponsel juga menunjukkan notifikasi serta lokasi terkini dompet tersebut. Pencopet bisa dikejar.

Tombol Panik
Aktivitas perbankan yang kian digital saat ini, memungkinkan adanya keterkoneksian secara langsung. Akun-akun bank dan kepemilikan kartu kredit terpantau serta bisa dipantau melalui ponsel. Dengan verifikasi sedemikian rupa, pemilik bisa langsung menekan tombol darurat memblokir status aktif kartu. Selepas itu, barulah tim bank menghubungi dan mengkonfirmasi tindakan pemblokiran itu. Toh, dalam kondisi diblokir sekalipun, pemilik kartu tetap mendapatkan pernyataan tagihan, kan? Pemilik pun bisa meminta pembukaan blokir setelahnya, baik dengan nomor kartu yang sama atau berbeda. Intinya, langkah sigap mencegah terjadinya kerugian lebih lanjut.

Dari sisi teknologi KTP elektronik—yang katanya sudah dipasangi cip tertentu itu—sudah mentok. Tak mungkin dilengkapi pelacak lokasi. Begitu hilang, tentu harus menyediakan tenaga, waktu, dan biaya untuk mengurusnya kembali. Terlebih lagi SIM, yang memang hanya berupa kartu penanda identitas pengendara.

Sementara itu, belum semua mesin Electronic Data Capture (EDC) di kasir-kasir toko dikhususkan hanya untuk menerima Personal Identification Number (PIN) atau kode One-Time Password (OTP) saat digunakan berbelanja. Ketika tanda tangan tidak dicocokkan kasir, selesailah sudah. Notifikasi pembelanjaan yang biasanya dikirim lewat SMS pun baru masuk setengah jam setelah kejadian. Bisa dipastikan, kartunya pasti sudah dibuang. Menyisakan pemilik sah kartu harus berurusan dengan bank, pun dengan peluang tetap diwajibkan membayar tagihan yang timbul.

Padahal transaksi-transaksinya terjadi sekitar pukul 20.45 Wib.

Ya, apa pun itu, semoga saya, dan kita semua tidak mengalami hal seperti ini (lagi). Lebih penting lagi, semoga makin banyak orang yang menyadari bahwa mencopet atau menjadi pencopet bukanlah hal yang patut dilakukan. Dampaknya pun tidak menyenangkan.

Cepat atau lambat, ya … bakal mati juga, sih.

[]

Advertisements
A girl in Morges sits at the end of a dock and stares at the mountains

Yang Pandai Diam-diam Saja… Yang Dungu Malah Berisik…

BARU ketemu satu twit video menarik beberapa hari lalu. Disimak, deh.

Kalau twitnya tidak termuat sempurna, bisa langsung lihat di sini:

Intinya, para sarjana pun kerap berpandangan keliru. Gelar akademis bukanlah jaminan mampu berpikir runut, teratur, sistematis, dan berimbang, agar terbebas dari pemikiran yang timpang.

Iya. Tulisan di Linimasa hari ini kembali tentang berpikir dan bersikap kritis, manfaat berpandangan skeptis dalam berkehidupan, dan pentingnya bertindak adil (imbang) terhadap diri sendiri maupun segala hal. Terlebih menyangkut pilihan dan keputusan untuk percaya atau tidak percaya pada sesuatu, serta bagaimana kita menindaklanjutinya*.

Komponen-komponen (beserta contohnya) sebagai berikut:

Ada sesuatu
“Planet bumi berbentuk bulat.”

● Sesuatu tersebut dipercaya, atau tidak dipercaya. Dipercaya berarti diiyakan, sedangkan tidak dipercaya berarti ditentang
“Ya, planet bumi itu memang berbentuk bulat.” atau
“Tidak, planet bumi itu tidak berbentuk bulat.”

● Mempercayai sesuatu, seseorang cenderung menyebarluaskannya, baik dengan atau tanpa menjabarkan alasan terverifikasi
“Pokoknya planet bumi itu berbentuk bulat.”

● Tidak mempercayai sesuatu, seseorang juga cenderung menyebarluaskannya, baik dengan atau tanpa menjabarkan alasan terverifikasi
“Pokoknya planet bumi itu tidak berbentuk bulat.”

● Yang mempercayai sesuatu tersebut, akan menyalahkan pendapat yang tidak mempercayai
“Kamu/dia salah! Planet bumi itu berbentuk bulat.”

● Yang tidak mempercayai sesuatu tersebut, akan menyalahkan pendapat yang mempercayai
“Kamu/dia salah! Planet bumi itu tidak berbentuk bulat.”

Sampai di tahap ini, atas nama gengsi dan ego, biasanya hanya ada kemungkinan kecil bagi kedua pihak untuk membuka pikiran, menilik argumentasi sisi seberang, membedahnya tanpa dorongan emosional (suka/tidak suka), dan sungguh-sungguh membuktikan benar/tidak benarnya pernyataan yang sedang dipermasalahkan. Agar kemudian disepakati sebagai sesuatu yang tidak keliru, bisa diterima, dan secara akal sehat memang sewajarnya diterima, sampai nantinya ada fakta baru yang mesti didiskusikan. Persis seperti yang disajikan dalam video pembuka di atas.

Tahu Secara Menyeluruh

Singkatnya, seseorang yang benar-benar tahu dapat menjelaskan sesuatu dari segala aspek dasarnya. Tidak setengah-setengah menjabarkan mengapa “situasi ini” bisa disebut benar, sedangkan “situasi itu” bisa disebut salah. Bukan asal mengklaim benar dan salah, menyerukan orang lain agar percaya pandangannya, serta mencela pandangan-pandangan yang berseberangan, tanpa diskusi lebih lanjut.

Pengetahuan sejatinya mengarah pada kebenaran. Dalam artian, pengetahuan terdiri atas sekumpulan informasi yang menunjukkan bahwa “ini memang demikian adanya” versus “sesuatu itu tidaklah demikian”.

Berangkat dari dua kalimat sederhana di atas, selalu ada kondisi dan alasan yang menyebabkan “ini” “memang demikian adanya”, dan “sesuatu itu” “tidaklah demikian”. Kondisi dan alasan tersebut bisa diamati sendiri melalui kelima indra dalam proses yang alamiah, atau pun disampaikan oleh orang lain yang telah mengamatinya terlebih dahulu.

Bersikap dan berpikir kritis memiliki fungsi penting, yakni untuk benar-benar memastikan bahwa keadaan yang “memang demikian adanya” memang sungguh-sungguh demikian adanya, begitu pun sebaliknya. Tanpa terganggu pandangan yang bias, kesimpulan yang keliru, apalagi ketidaksukaan dan sabotase.

Dengan semua karakteristik di atas, pengetahuan bersifat menyeluruh. Mencakup semua kondisi, baik yang benar maupun tidak benar; yang semestinya maupun tidak semestinya. Sebab semua argumentasi sudah teruji, hingga kemudian dapat dikelompokkan sebagai “benar” dan “tidak benar”, “semestinya” dan “tidak semestinya”.

Analoginya seperti ini.

“Ada sesuatu, bentuknya benda cair”
“Benda cair itu air”
“Semua yang cair belum tentu air”

Beranjak dari dialog di atas, seyogianya dilanjutkan dengan adu argumentasi, pengamatan, dan pembuktian apakah benda cair tersebut ialah air atau bukan. Bukan malah bertengkar atau bertikai memperebutkan predikat sebagai pihak yang benar.

Pengetahuan Selalu Berkembang

Satu temuan mengantarkan kepada temuan baru yang lain. Satu pemahaman berujung kepada pemahaman baru yang lain. Proses berpikir, berhitung, mengamati, dan beragam metode lain yang diperlukan pun mesti dilakukan lebih mendalam.

Persis seperti semesta berdasarkan Hukum Hubble: terus berkembang (tentu saja masih berupa teori, sebab belum ada satu orang pun yang sanggup mengamati langsung gerakan semesta mengembang dengan matanya sendiri). Jika ditarik mundur satu atau dua abad lalu, mustahil bisa berpikir begitu konkret soal ini.

Demikianlah pengetahuan, berupa kumpulan-kumpulan fakta saling terkait dan akan selalu bertambah. Tak akan berhenti. Oleh sebab itu, agak kurang bijak apabila satu poin pengetahuan dijadikan titik henti mutlak, dan menolak untuk beranjak ke perkembangan pengetahuan berikutnya. Padahal, mekanisme verifikasi tetap tersedia dan siap digunakan dalam memastikan benar/tidak benarnya sesuatu tersebut.

Pastinya, pengetahuan itu tak pernah mandek. Maka, pikiran manusia pun seharusnya tidak mandek, dibuat mandek, apalagi dipaksa mandek.

Teruslah Menyelidiki dan Mempertanyakan

Meminjam serangkaian petuah.

  • Jangan begitu saja mengikuti apa yang telah diperoleh karena berulang kali didengar;
  • atau yang berdasarkan tradisi;
  • atau yang berdasarkan desas-desus;
  • atau yang ada di kitab suci;
  • atau yang berdasarkan dugaan;
  • atau yang berdasarkan aksioma;
  • atau yang berdasarkan penalaran yang tampaknya bagus;
  • atau yang berdasarkan kecondongan ke arah dugaan yang telah dipertimbangkan berulang kali;
  • atau yang kelihatannya berdasarkan kemampuan seseorang;
  • atau yang berdasarkan pertimbangan bahwa hal itu disampaikan guru.

Pasti ada yang bertanya: “Lho, itu kok nyebut-nyebut kitab suci supaya jangan begitu saja diikuti. Ini petuah apaan?”

Itu tadi adalah ucapannya Sang Buddha (ini bukan Buddhaisasi, lho, ya, daripada saya sok tahu mengutip pernyataan dari tokoh agama lain, lebih baik mengambil dari agama sendiri, hehehe…) yang disampaikan kepada para anggota suku Kalama, dan dicatat sebagai Kalama Sutta.

Mengapa Buddha menyampaikan hal tersebut? Lantaran para anggota suku Kalama ketika itu bingung dengan banyaknya ajaran, opini, dan pandangan yang beredar dan dikumandangkan di kota mereka setiap hari. Tak hanya banyak, ajaran, opini, dan pandangan tersebut saling berbantahan satu sama lain.

Serangkaian petuah di atas menjadi semacam panduan awal sebelum memilih sesuatu untuk ditelaah dan didalami lebih jauh. Menurut saya, kurang lebih begini.

  • Sesuatu yang berulang kali didengar belum tentu benar;
  • Sesuatu yang berdasarkan tradisi belum tentu benar;
  • Sesuatu yang berdasarkan desas-desus jelas belum tentu benar;
  • Sesuatu yang ada di kitab suci belum tentu seharfiah itu, tetap memerlukan tafsiran dari banyak ahli;
  • Sesuatu yang berdasarkan dugaan belum tentu benar;
  • Sesuatu yang berdasarkan aksioma belum tentu benar, kan masih berupa aksioma;
  • Sesuatu yang berdasarkan penalaran yang tampaknya bagus belum tentu benar;
  • Sesuatu yang berdasarkan kecondongan ke arah dugaan yang telah dipertimbangkan berulang kali masih berpeluang bias;
  • Sesuatu yang kelihatannya berdasarkan kemampuan seseorang belum tentu benar;
  • Sesuatu yang berdasarkan pertimbangan bahwa hal itu disampaikan guru sendiri juga belum tentu benar.

Pertanyaan: “Kalau isi kitab suci belum tentu seharfiah itu, berarti kitab suci agama Buddha juga dong?”
Jawaban: Saat Buddha masih hidup, belum ada kitab suci agama Buddha (Tipitaka/Tripitaka). Kemudian, yang disebut sebagai kitab suci dalam agama Buddha, sesungguhnya adalah kumpulan khotbah dan ceramahnya selama hidup, kumpulan peraturan-peraturan kedisiplinan, dan tambahan penjelasan analitis terhadap topik-topik khusus. Fungsinya bukan untuk dianggap suci, disakralkan, atau diperlakukan secara khusus selayaknya pusaka, melainkan untuk dibaca, didiskusikan, dipahami, dan dipraktikkan. Berbeda dengan kitab suci-kitab suci agama Samawi yang berasal dari wahyu.

Pertanyaan: “Kalau kita diminta jangan mengikuti begitu saja sesuatu yang disampaikan guru sendiri, berarti termasuk ucapan Buddha, dong?”
Jawaban: Iya, memang. Selama hidup dan mengajar, lalu wafat dan ajarannya menjadi sebuah institusi agama, Buddha tidak menyarankan murid dan pengikutnya agar percaya dia. Yang Buddha lakukan, kasarnya adalah membagikan hal-hal yang telah membuatnya berhasil merealisasi kebuddhaan; menjadi seorang Buddha. Mau diikuti silakan, tidak mau diikuti ya tidak apa-apa. Buddha justru mendorong murid dan pengikutnya supaya membuktikannya sendiri atas dasar skeptisisme netral (demi menghindari fanatisme, menjadi bigot, kepercayaan membuta, dan intoleransi, kata Bhikkhu Soma Thera). Melakukan penyelidikan apakah ajaran Buddha memang mampu membuat orang lain menjadi Buddha, atau tidak. Caranya, yaitu dicoba dan dipraktikkan.

Bukan sekadar tidak suka atau ragu, tetapi aktif mencari tahu.

Pertanyaan: “Lalu mengenai problemnya suku Kalama, yang bingung memilih ajaran yang benar dan harus diikuti, apa saran dari Buddha? Kan Buddha tidak mempromosikan ajarannya sendiri.”
Jawaban: Setelah memilah, kemudian diselidiki sendiri dengan cara dicoba dan dipraktikkan, seseorang pasti mendapatkan pengalaman, pemahaman, dan pandangan atas apa yang dijalankannya. Di bagian ini, ada satu kalimat penutup dari Buddha kepada Kalama;

▶︎ bila kalian sendiri mengetahui: ‘Hal-hal ini buruk; hal-hal ini salah; hal-hal ini dicela oleh para bijaksana; bila dilakukan dan dijalankan, hal-hal ini akan menuju pada keburukan dan kerugian’, tinggalkanlah hal-hal itu.”
▶︎ “… bila kalian sendiri mengetahui: ‘Hal-hal ini baik; hal-hal ini tidak dapat disalahkan; hal-hal ini dipuji oleh para bijaksana; bila dilakukan dan dijalankan, hal-hal ini akan menuju pada keuntungan dan kebahagiaan’, masuklah dan berdiamlah di dalamnya.”

Sebagai catatan, keuntungan di sini tentu bukan soal materi dan hal-hal duniawi lainnya. Dalam terjemahan bahasa Inggris, kata yang dipilih adalah “benefit” dan lebih menitikberatkan pada faedahnya. Menurut Buddha, faedah tertinggi dari sesuatu adalah kemajuan batin. Terkikisnya keserakahan (ketidakpuasan), kebencian (ketidaksukaan), dan kebodohan rohani (ketidaktahuan).

Oke. Sekarang mari kita lupakan tentang Buddha dan Buddhisme. Pertanyaannya, bisakah napas skeptisisme dan prinsip-prinsip penyelidikan tadi kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari? 😊

[]

*Bacaan lain di Linimasa yang terang-terangan soal skeptisisme:
– “Meringis Skeptis” dari Mbak Leila.
– “Jadilah Pendukung yang Biasa-Biasa Saja” dari Kang Agun.

Dan Dunia Pun Semakin Kejam Kepada Orang-orang Jelek

YANG jelek wajahnya, terutama. Sebab itu yang bisa dilihat sejak pertama kali berjumpa. Bertemu langsung, atau melalui dunia maya. Bukan jelek pemikirannya, jelek hati dan kehendaknya, apalagi jelek keimanannya.

Bukan salahnya manusia pula memiliki mata yang berfungsi untuk melihat benda-benda kasatmata, mengetahui dan mengenali apa yang dilihat, lalu memiliki perasaan atau kesan terhadap sesuatu yang dilihat tersebut. Indah/jelek, menarik/biasa saja, suka/benci, gandrung/tak acuh, senang/jijik, dan lain-lain.

Berbekal perasaan dan kesan tadi, si manusia akan bertindak sesuai konteks maupun keinginannya. Mereka akan cenderung mendekati dan menyukai segala yang indah-indah dan menarik perhatian. Sebaliknya, mereka akan cenderung menjauhkan diri, bahkan membenci yang buruk dan jelek. Kecenderungan ini kita lakukan sejak masih bayi, dan biasanya bakal menguat seiring bertambahnya usia. Membentuk preferensi dan selera.

Cakep itu relatif, jelek itu mutlak.

Mekanisme di atas terjadi begitu saja, dan secara alamiah membuat kita takluk pada rupa. Tanpa kita sadari, sayangnya kita memberikan penilaian serta perlakuan berbeda berdasarkan pandangan mata, dan inilah yang membuat dunia seakan tidak adil bagi sebagian orang. Mendorong mereka untuk lebih mengejar hal-hal yang fana.

Dengan gampangnya, kita bisa memperolok-olok orang (yang dianggap berwajah) jelek sebagai polusi pemandangan. Seolah-olah tampilan wajah mereka memberi efek mengganggu ketertiban lingkungan setempat. Dalam posisi ini, si pengejek tentu merasa dirinya lebih cantik atau tampan ketimbang sasarannya.

Tak usahlah saya tampilkan cuplikan video komentar juri dalam ajang menyanyi yang viral belakangan ini.

Mendapat perlakuan tidak menyenangkan seperti itu, ada yang tak acuh dan bahkan yang tidak sadar tentang hal tersebut. Selebihnya, ada pula yang terdampak cukup keras. Mereka mengiyakan olok-olok tersebut, menganggap diri mereka memang jelek, kemudian mengusahakan berbagai cara untuk “menghilangkan” faktor-faktor yang membuat mereka jelek.

Kulit gelap? Maka jangan heran mengapa produk pemutih kulit dari berbagai rentang harga, termasuk layanan suntik putih selalu banyak peminatnya. Wajah berminyak dan berjerawat? Maka jangan heran mengapa produk perawatan wajah juga laris manis. Beraneka produk kosmetik dan riasan untuk perubahan total dan berlebihan. Sampai operasi plastik di luar negeri berbiaya fantastis.

Tak sedikit kasus ketika perubahan wajah juga menimbulkan perubahan perlakuan. Kala jelek dihina-hina dan disepelekan, setelah berubah (menjadi tidak jelek lagi), orang yang dahulunya mengejek malah berusaha mendekat.

Duh, sudah cakep, baik, wangi, pinter pula…

Bagi yang belum berpasangan, berharapnya bisa mendapat pacar yang rupawan. Karena itu, selalu ada anggapan bahwa yang cakep-cakep pasti sudah ada yang “punya”, kalaupun sendirian berarti baru habis putusan, atau malah bikin berpikir yang bukan-bukan. Buka Instagram, Tinder, dan beraneka media sosial lainnya pun, pasti tertarik dengan wajahnya terlebih dahulu. Setelah sekali dua kali jalan bareng, atau berkencan, baru mulai ketahuan kekurangannya, untuk dipertimbangkan berlanjut atau udahan.

Bagi yang sudah punya pasangan, dan merasakan sedikit ketidakpuasan atau rasa bosan, pasti bisa membandingkan sang pasangan dengan orang lain. Kebanyakan, para suami yang mengkritisi penampilan istri. Harus cantiklah, harus berdandanlah, harus seksilah, harus wangilah, harus langsinglah, dan seterusnya. Namun, sebaliknya, para suami-suami tersebut pun bukannya memiliki profil fisik yang menawan. Para pemuda tetap akan menjadi om-om, dan kakek-kakek pada waktunya. Masalah ini kadang makin pelik dengan keterlibatan orang tua dan orang-orang di sekelilingnya. Para orang tua berharap memiliki menantu yang rupawan. Demi kepantasan. Dalihnya.

Kenapa mesti diakhiri “… hati suami udah tertaut pada anda“? Lah, kalau suaminya jelek juga, bagaimana? Dicuplik dari twit: https://twitter.com/inganggita/status/1020314541580681217

Mundur, Mas. Kamu jele…”

Ada yang tidak tahu bahwa mereka cakep.
Ada yang tahu bahwa mereka cakep.
Ada yang biasa-biasa saja setelah tahu bahwa mereka cakep.
Ada yang tidak tahu bahwa mereka jelek.
Ada yang tahu bahwa mereka jelek.
Ada yang bisa menerima bahwa mereka jelek.
Ada yang tidak bisa menerima bahwa mereka jelek.

Ada yang lemah terhadap orang cakep.
Ada yang biasa saja terhadap orang cakep.
Ada yang risi terhadap orang jelek.
Ada yang biasa saja terhadap orang jelek.

Walau bagaimanapun juga, perkara perbedaan perlakuan lantaran wajah cakep versus wajah jelek ini pasti tak akan berakhir dan hilang begitu saja sampai akhir zaman. Di tingkatan yang paling dasar sekalipun, selalu ada pengecualian untuk orang-orang cakep. Tak adil memang, hanya saja, lagi-lagi manusia sudah terkondisi secara alamiah untuk begitu: menggandrungi yang indah, dan menjauhi yang buruk.

Untung cakep…”

Para orang tua, guru dan lembaga pendidikan, maupun lingkungan keagamaan memang mengajarkan don’t judge the book by its cover kepada anak-anak mereka. Harapannya, agar anak-anak tersebut bisa berlaku baik kepada siapa saja, tanpa membeda-bedakan penampilan. Namun, pengajaran ini baru bersifat normatif, sesuatu yang dilakukan demi kepantasan sosial. Selanjutnya, anak-anak tersebut pun tetap akan tumbuh memiliki preferensi dan selera fisik masing-masing. Mulai menaksir seseorang lantaran wajah dan penampilannya, tingkat kekerenannya, dan lain-lain.

Jangan lupa, media dan suguhan-suguhan audiovisual pun mengumandangkan nuansa yang sama. Menonton televisi, ada acara yang menjadikan wajah orang lain sebagai objek kelakarnya, lalu memunculkan anggapan massa bahwa wajah si orang lain tersebut bisa disebut jelek. Dahulu ada Zainal Abidin Zetta, yang kemudian malah lebih terkenal sebagai Diding Boneng. Padahal boneng itu sendiri merujuk pada keadaan yang bisa dijadikan bahan olok-olok. Berlanjut ke sederetan nama-nama tokoh lainnya yang justru diidentikkan sebagai hinaan bersifat fisik. Tampilan muka, lebih tepatnya.

… dan dunia pun bersikap semakin kejam terhadap orang-orang yang dianggap kurang rupawan.

Tuh, baca caption-nya. Foto: Tribunnews

Dari sini, kita semestinya memahami bahwa setiap orang memiliki tingkat kedewasaan dan kebijaksanaan yang berbeda-beda, termasuk diri kita sendiri. Mustahil untuk dijadikan sama rata. Ada yang benar-benar mengerti bahwa wajah dan tampilan fisik hanya sebatas kulit. Namun, meski setipis-tipisnya kulit, tetap saja bisa membuat orang tergila-gila. Menyukai maupun membenci.

Kalau begitu, janganlah terburu-buru mencibir apalagi mengutuk kedangkalan pemikiran dan sikap orang lain. Lebih baik memerhatikan diri sendiri terlebih dahulu, dan memastikan agar kedewasaan sikap yang sudah kita punya tidak tergerus, dan malah terikut arus, merasakan keseruan dengan mengolok-olok wajah orang. Bila bertemu dengan orang lain, entah seperti apa pun tatanan wajahnya, ya sudah, biarkan saja dan tetap berharap yang terbaik untuk dia. Tetaplah bersikap layaknya manusia yang berbudi dan beradab. Andai tak tahan ingin tertawa, cobalah untuk mohon diri. Kamu barangkali memang tidak sekuat itu.

 

 

 

 

 

Tertanda,

Orang jelek.

[]

Mass singing One Love

Semua Agama Itu Sama

SAMA-SAMA tergantung dan diarahkan oleh interpretasi manusia, para penganutnya. Baik yang termasuk (1) golongan orang-orang terpilih, para ulama, para pandit, para pembabar ajaran, dan mereka yang mendalami segala aspek dalil-dalilnya agar bisa lebih mudah dipahami oleh; (2) umat awam sebagai golongan pendengar dan pelaksana, yang jumlahnya akan selalu lebih banyak dibanding para pemuka.

Kendati berasal dari tuhan langsung, keterlibatan manusia berperan penting dalam pembentukan agama. Pasalnya, setiap manusia diciptakan dengan pemahaman spiritual yang berbeda-beda. Agak disayangkan, agama tidak diturunkan tuhan berupa seperangkat sistem utuh, terstruktur, dan sistematik. Melainkan potongan demi potongan yang mesti disatukan sendiri.

Apa pun karakteristiknya—berasal dari wahyu maupun non-wahyu, petunjuk dari tuhan atau pengalaman adikodrati—yang kemudian dijadikan agama—pada awalnya pasti disampaikan kepada atau dialami perorangan. Kala itu, detail peristiwa atau interaksi antara pencipta dan ciptaannya hanya benar-benar diketahui oleh yang terlibat di dalamnya. Ya … oleh tuhan dan manusia pilihannya tersebut. Termasuk firman ilahi yang disampaikan atau berbunyi secara verbatim, kata per kata.

Beberapa waktu setelahnya, barulah pengalaman ilahiah tersebut dibagikan kepada orang lain. Umumnya orang-orang dari lingkar terdekat sang manusia pilihan tersebut. Entah nabi atau guru. Misalnya, antara Yesus dan 12 muridnya, atau antara Buddha dan Pancavagiya (lima petapa yang jadi pengikut pertamanya). Dari sinilah interpretasi manusia mulai berpengaruh dalam pemaknaan landasan agama.

Terbagi atas sejumlah fase.

Diawali dengan pencatatan pengalaman atau kejadian ilahian tadi. Sang manusia pilihan akan bertutur, orang-orang lain dari lingkar terdekatnya pun akan berusaha mengingat, atau bahkan mencatatnya ke medium tertulis. Menghasilkan catatan suci dan dikultuskan, lantaran diutarakan oleh atau melalui manusia pilihan, manusia yang pernah berhubungan langsung dengan tuhan. Tujuan dasarnya adalah sebagai bentuk penghargaan, keyakinan dan keimanan, serta selalu diingat dan diteruskan ke generasi berikutnya. Dari perspektif sejarah, tidak ada satu pun kitab suci yang langsung diturunkan berwujud buku; bersampul, berjilid, berhalaman-halaman, dan seterusnya. Setebal atau setipis apa pun kitab suci sebuah agama, tetap merupakan hasil pencatatan ulang. Katakanlah Mazmur (Psalm atau Zabur) memang berasal dari Daud, sang raja dan nabi dalam tiga agama samawi utama, tetapi bukan Daud yang mencatat dan membukukannya.

Selain itu, hanya ada sedikit nabi atau guru yang berkemampuan untuk mencatatnya sendiri. Contohnya Laozi, pendiri ajaran Daoisme, atau Konfusius, nabi ajaran Konghucu. Keduanya menulis buku-buku yang selanjutnya dianggap sebagai kitab suci ajaran masing-masing.

Statue of Laozi, Henan, China.

Patung Laozi dan Daodejing, Gunung Laojün, Henan. Foto: foxdw.com

Catatan-catatan suci tidak dihasilkan dalam bentuk yang mudah dipahami begitu saja. Seringkali berbentuk syair, atau pernyataan-pernyataan bernuansa sastrawi yang perlu ditelaah lebih lanjut. Ditambah lagi keterbatasan akses publik di masa itu, ketika rakyat jelata yang buta huruf mustahil menyentuh apalagi membacanya kembali. Sehingga di fase berikutnya, para pemikir dan pembelajar agama menyampaikan buah-buah pikiran mereka, baik untuk tujuan keilmuan maupun mempermudah ibadah dan perilaku religius dalam kehidupan sehari-hari.

Setelah mengkaji serta mendalami catatan-catatan suci, mereka menggariskan intisari, penjelasan tafsir, dan komentar guna memperjelas ayat demi ayat yang ada. Karena berkaitan dengan hal-hal yang disukai dan dibenci tuhan, ada juga sejumlah cendekiawan yang merumuskan peraturan. Poin-poin ini yang diajarkan dan disosialisasikan kepada umat awam, dengan tujuan penyederhanaan, kemudahan, dan kepraktisan menerapkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Mereka seakan-akan berujar: “Daripada kebingungan, keliru, dan tidak sanggup mengkaji sendiri, nih, saya sudah bikin formulasinya. Cukup jalankan saja yang ini.

Setiap buah pikiran yang disampaikan tentu tidak diterima bulat-bulat begitu saja. Ada mekanisme verifikasi yang dijalankan oleh sesama ahli agama. Mana yang dianggap cocok, pantas, dan patut akan disebarluaskan, bahkan diajarkan kepada masyarakat. Sebaliknya, yang dianggap bertentangan, tercemar, dan menyesatkan akan diberedel, disita, dan terlarang untuk dipublikasikan. Itulah sebabnya ada empat Injil dalam Alkitab Perjanjian Baru, serta menempatkan Injil-Injil lainnya sebagai Apokrifa, atau pun proses kategorisasi hadis yang sahih, hasan, dan daif.

Nicea Council.

Lukisan Konsili Nicea pertama, seleksi ajaran yang termasuk dalam dasar kekristenan modern. Foto: newyorkapologetics.com

Pokok-pokok ajaran dan aturan-aturan keagamaan baku yang diterima melalui kesepakatan golongan alim tadi, disodorkan kepada umat awam. Seyogianya supaya dijalankan dengan baik dan menyeluruh. Tokoh-tokoh agama tersebut pun memposisikan diri mereka sebagai para penjaga; menjaga agar agama dijalankan sebaik-baiknya, menjaga agar aturan agama dipatuhi sepenuhnya, serta menjaga kaidah dan mencegah munculnya penafsiran liar yang berpotensi menyesatkan. Kondisi ini menjadikan mereka cenderung konservatif, dan kerap memiliki pendapat berbeda tentang fleksibilitas dalam beragama; dalam memaknai dan pengamalan ajaran serta peraturan agama.

Namanya juga interpretasi manusia. Dalam hal ini, ada kelompok pemuka agama dengan pemahaman yang keras, ada pula kelompok yang relatif lebih luwes dalam berpendapat. Adu dalil, argumentasi, dan ayat kitab suci ada di tataran mereka. Sedangkan umat awam sebagai pengikut, sesuai kenyamanan religius mereka akan memilih mengikuti kelompok ulama yang mana. Fase inilah yang menyebabkan potensi konflik atau kisruh internal dalam semua agama. Saling menyalahkan antarsesama penganutnya sendiri. Praktik keagamaan pun menjadi bising. Ini yang menyebabkan terjadinya Great Schism, memisahkan Katolikisme dan Protestanisme.

Sekali lagi, semua bermula dari interpretasi manusia.

Agama. Dari manusia, oleh manusia, untuk manusia.


Sebuah Analogi

Biasanya, hampir semua penumpang Kereta Api Listrik (KRL) atau bus TransJakarta pasti ingin duduk selama perjalanan. Kenapa? Karena posisi duduk terasa lebih santai dan nyaman. Saking nyamannya, seringkali malah sampai berebutan atau bahkan tidak peduli keadaan orang lain. Apalagi jika bisa mendapat kursi di pojokan. Lebih enak. Duduk sambil menyandarkan punggung dan sisi tubuh.

Agama pun kurang lebih demikian, menjadi tempat bersandar sekaligus kendaraan ke pelbagai jurusan. Tidak usah melulu berdiri, menahan lelah letihnya badan sepanjang jalan. Namun bagaimanapun juga, kendaraan tetap harus ditinggalkan setibanya di tujuan.


Sebuah Intermeso

Manusia yang membutuhkan ritual agama, atau ritual agama yang membutuhkan manusia?

Saat sebuah robot di India berhasil diprogram untuk melaksanakan aarti (bagian dari prosesi pemujaan Hindu India), apakah persembahan yang dijalankannya bernilai ibadah? Ataukah justru dinilai sebagai penyimpangan?

Mirip pula dengan ini.

Pemutar rekaman mengaji di kuburan. Buat kirim doa, katanya. Foto: radarislam.com


Sebuah Penutup

Kita masih ingat, riuhnya pujian dan cercaan dari berbagai pihak kepada Kiai Haji Yahya Cholil Staquf yang hadir serta berbicara di forum American Jewish Committee (AJC), Israel.

… dan inilah yang terjadi kala seribuan umat Muslim (termasuk Kiai Haji Yahya Cholil Staquf), umat Kristen, dan umat Yahudi menyanyikan lagu bernuansa perdamaian secara massal bergantian menggunakan bahasa Inggris, bahasa Arab, dan bahasa Ibrani.

Menurut saya—yang bukan Muslim, Kristen, atau Yahudi ini, videonya bagus dan bikin merinding.

[]

Photo by Felix Russell-Saw on Unsplash

Menghakimi dan Menghukum Orang Lain Itu Memang Nikmat

MANUSIA memang makhluk yang istimewa. Baik pandangan agama maupun sains sama-sama menyepakatinya.

Menggunakan akal, manusia menjadi satu-satunya spesies di muka bumi ini yang mampu berpikir dan menimbang, menghasilkan kehendak untuk bertindak.

Manusia juga bisa mengenali dan merasakan sensasi yang dihasilkan dari tindakannya tersebut, tahu mana yang menyenangkan dan tidak menyenangkan. Yang kemudian memunculkan keinginan untuk dapat merasakannya lagi, atau justru berusaha menghindarinya lain kali.

Termasuk tindakan yang satu ini; nikmatnya menghakimi dan menghukum orang lain.

Ya, hanya manusia yang bisa melakukan ini terhadap sesamanya. Terlebih kepada orang asing, orang-orang yang tidak memiliki kedekatan subjektif. Makin mudah saat melakukannya, tanpa beban. Maka jangan heran jika internet dan media sosial akan selalu ramai dengan urusan yang satu ini. Lantaran siapa saja dapat bebas berbicara, menyampaikan alasan, pemikiran, serangan, dan penghakiman.

The more the merrier. Tambah “meriah” ketika timbul tanggapan yang bertentangan. Kedua kubu mendapatkan gelombang dukungan. Begitu aja terus, sampai akhirnya reda, terlupakan, dan beralih ke drama berikutnya.

Photo by Kristopher Roller on Unsplash

Photo by Kristopher Roller on Unsplash

Manusia mempunyai kecenderungan untuk ingin melibatkan diri dalam urusan manusia lain, bahkan dengan kadar terendah sekalipun (dengar sekilas, dan ditanggapi: “Oh, begitu…”). Ini mungkin ada kaitannya dengan sifat instingtif manusia yang penasaran dan selalu ingin tahu sejak awal, alias kepo.

Penghakiman sosial identik dengan komentar pedas dan menjatuhkan, atau nyinyiran di media sosial. Berawal dari sebuah pernyataan atau celetukan seseorang, diikuti pernyataan setuju yang tak kalah nyelekitnya.

Tanpa bermaksud merendahkan kaum ibu rumah tangga, di ranah analog, penghakiman sosial seperti ini terjadi di “majelis” gerobak tukang sayur keliling. Ada yang berbicara, ada yang menyimak, ada yang menimpali. Sedangkan yang tidak setuju akan merasa kurang nyaman, dan mempercepat aktivitas berbelanjanya.

Di Facebook atau Twitter, seseorang menuliskan sesuatu. Sedang tren dibikin thread atau rangkaian twit, bisa juga berupa posting-an panjang di Facebook. Ada yang me-Retweet, ada yang memberikan komentar, ada yang membagikannya ke laman sendiri dengan atau tanpa pernyataan tambahan. Terkadang malah lebih heboh dan berapi-api, memanas-manasi. Tak terlalu berbeda dengan “majelis” ibu-ibu kompleks tadi, kan? Hanya saja, informasi yang disampaikan di media sosial bisa dibaca publik, termasuk oleh yang tidak setuju. Umumnya, tulisan berbalas tulisan, nomention berbalas nomention, ujung-ujungnya pun jadi tweet war.

Third-Party Punishment

Berbeda dengan binatang, manusia menggunakan manusia lain guna penyelesaian konflik. Bukan pertarungan langsung. Di antara dua individu yang bermasalah, selalu ada pihak lain yang berada di tengah-tengah. Dalam bentuk yang formal, sebagai lembaga, ada perangkat peradilan. Terdapat seseorang atau sekumpulan orang yang berwenang memberikan ganjaran.

Nah, masalahnya ada pada sekumpulan orang yang tidak berkedudukan sebagai hakim, tetapi menikmati bertingkah laku selayaknya hakim.

Mengapa tindakan menghakimi dan menghukum orang lain terasa nikmat?

Sebab dengan menghakimi orang lain, kita merasa telah menjadi individu yang lebih baik dibanding si “terdakwa”; tiada bercela, berpijak di pihak yang benar, menjunjung tinggi kepatutan sosial, memiliki kualitas moral yang terpuji. Pokoknya mengedepankan hal-hal yang menggembirakan ego kita, membuat keberadaan kita seolah amat berharga dibanding orang lain, yang kebetulan tengah melakukan kesalahan. Tak peduli sekecil apa pun kesalahan tersebut, tak peduli sudah semenyesal apa pun yang bersangkutan meminta maaf, dan sebagainya.

Aku lebih baik daripada kamu. Titik.

Dilanjutkan dengan memberikan hukuman. Bukan sanksi formal, melainkan hukuman sosial, yang maraknya ya berupa cemoohan tertulis dan cuplikan twit, status, atau pesan pribadi (DM). Bertujuan awal agar yang bersangkutan menyadari kesalahan dan mengubah perilakunya (tetap dengan pendekatan “Kamu salah. Lihat aku dong, aku kan benar.”) atau ya … ingin mempermalukan orang lain saja.

Tambah asoi lagi jika dilakukan rame-rame, keroyokan. Pasalnya, selain merasa mendapat dukungan, semua orang ingin tampil dan bersuara, dan karakteristik media sosial yang terbuka seakan kian menyemangati banyak orang untuk unjuk diri. Sehingga respons yang muncul seringkali terlihat berlebihan, ya jumlahnya, ya isi pesannya. Melenceng dari niat awal.

Ini bersifat alamiah. Kajian “The Neural Basis of Altruistic Punishment” yang dirilis 2004 lalu bahkan menunjukkan bahwa kegiatan menghukum orang lain berdampak pada bagian tertentu di otak manusia, khususnya yang berhubungan hadiah atau ganjaran (reward). Indikasi sederhananya, sedari kecil kita terkondisi untuk merasa senang saat menerima hadiah, dan seperti itulah yang kita rasakan setelah berhasil menghukum orang lain.

Jangan lupa, kenikmatan yang digandrungi secara berlebihan, apalagi sampai bikin kecanduan, bisa berujung pada kerugian. Seseorang yang terlalu suka menghakimi, menghukum, dan mempermalukan orang lain secara terbuka, tetap berpotensi melakukan kesalahan. Dia—seseorang yang awalnya dianggap benar, suci, tak ternoda—pun tetap bisa menjadi sasaran penghakiman massa selanjutnya.

Celaan balik yang dilancarkan khalayak bakal tanpa tedeng aling-aling. Mirip air bah. Terang-terangan dan banyak. Sampai berlebihan. Oleh sebab itu wajib punya mental yang kuat untuk sanggup menghadapinya.

Dulunya menghantam, eh kini gilirannya kena hantaman serupa. Sakit hati gara-gara rasa malunya lebih gede. Harga diri dan gengsi ikut kebanting.

Benar banget sih, memang paling enak ngomongin orang lain. Cuma, alangkah baiknya ditinjau dan ditanyakan ke diri sendiri terlebih dahulu sebelum melakukannya: “Apa sih tujuanku (dengan ngomongin orang lain itu)?” Kalau hanya pengin mempermalukan orang lain di depan umum, ya apa bedanya dengan iseng ikut-ikutan mukulin maling. Merasakan kegembiraan dari perbuatan jahat.

Masih banyak hal yang lebih penting untuk dilakukan, dan kamu bukan juru selamat peradaban, kok.

[]

Photo by Jeremy Yap on Unsplash

“Kalau Bisa Dibikin Mudah, Kenapa Cari yang Susah?”

KEMUDAHAN itu menyenangkan, bikin nyaman, dan tidak merepotkan. Sedangkan hal-hal yang susah itu menyulitkan, terasa membebani, dan bikin ruwet. Membuatnya cenderung ditolak dan dihindari. Makanya, sangat wajar bila kita menginginkan semua kemudahan dalam hidup. Tergambarkan lewat ungkapan populer sebagai judul di atas.

Sejak awal, manusia terus berusaha keras untuk membuat, menciptakan, dan mewujudkan kemudahan. Bermacam-macam bentuknya. Dari yang berupa benda, sampai yang mempergunakan sesama manusia menjadi objeknya.

Para penemu dan ilmuwan berhasil menciptakan terobosan, inovasi, dan teknologi untuk memudahkan kehidupan manusia. Sejak manusia pertama berhasil memahat batu dan menjadikannya senjata untuk memudahkan perburuan; penemuan cara membuat api dan mempertahankannya agar tetap menyala di malam hari agar mudah mendapatkan kehangatan, perlindungan dari cuaca dingin dan hewan buas; menemukan roda untuk mempermudah pergerakan; menemukan tulisan dan kertas; serta kemajuan-kemajuan aspek fisik masa kini.

Begitu pula di bidang sosial. Dimulai dengan bahasa, tuntunan adat dan norma budaya, sistem hukum lainnya dan agama, konsep kerajaan, negara, dan penguasa, termasuk perbudakan. Ketika seorang manusia, atau sekumpulan manusia, merasa berhak membeli manusia-manusia lainnya, untuk kemudian dianggap sebagai benda hidup pelaksana perintah.

Ironisnya, banyak capaian kebudayaan dunia dari masa lalu yang justru bisa terjadi “berkat” perbudakan. Piramida Mesir dibuat oleh budak, Tembok Besar Cina juga dibuat oleh budak, bahkan sendi-sendi filsafat modern di Yunani kuno juga hanya bisa terjadi karena mereka—para filsuf maupun sofis—memiliki budak di kediaman masing-masing. Bisa memiliki waktu luang yang cukup melimpah, mereka leluasa untuk berpikir, merenung, berdiskusi, berdebat, menulis, hingga akhirnya melontarkan kearifan berpikir manusia yang didengungkan sampai sekarang.

Semua itu memberikan kemudahan hidup bagi para pelakunya. Merekalah yang menikmati kemudahan-kemudahan tersebut. Tujuannya cuma satu, yaitu mendapatkan yang diinginkan dengan upaya seminimal mungkin. Tidak terlalu banyak keluar tenaga, pemikiran, uang, dan waktu. Pokoknya harus dapat, dan kalau bisa dapat lebih, ya … dikejar sampai mentok.

Berikut ini, mungkin, salah satu contohnya.

Lanjut lagi soal kemudahan dalam hidup yang harus melibatkan orang lain. Secara resmi, perbudakan memang sudah tidak ada lagi saat ini. Kecuali perbudakan terselubung maupun pemaksaan dan labelisasi, yang bisa dilakukan atau terjadi pada siapa saja. Semuanya dianggap mudah, semudah tinggal bilang:

“Udaaah… Nanti tinggal bayar aja,”

Seperti contoh berikut ini, sesuatu yang sejatinya adalah isu lama tetapi tengah menghangat kembali.

Cuplikan di atas sedang ramai-ramainya beredar dan dibahas para warganet sepekan terakhir. Beberapa tahun sebelumnya, perbincangan serupa juga terjadi untuk restoran siap saji. Fokus pembicaraannya tetap mengenai uang dan pembayaran, sebagai imbalan sesuai pekerjaan.

Dalam kasus di atas, membereskan dan membuang sampah milik sendiri adalah hal yang menyusahkan bagi sebagian orang. Dorongan utamanya adalah rasa malas, yang kemudian ditambahkan dengan alasan-alasan lainnya. Termasuk profesi dan pekerjaan para petugas kebersihan, gaji yang mereka terima, sampai penekanan tentang: “Aku kan sudah bayar, kok disuruh bersih-bersih lagi?” Seolah-olah mereka disuruh untuk membersihkan sampah seisi ruangan bioskop, padahal hanya untuk sisa mereka sendiri.

Apakah mereka memang sejorok dan seberantakan itu, sampai-sampai merasa enggan membersihkan bekas makanan mereka sendiri?
Apakah mereka memang sejorok dan seberantakan itu juga saat di rumah atau kamar sendiri?
Apakah mereka bersikap seperti itu, karena terbiasa memiliki pembantu atau baru merasakan punya pembantu?

Kemudahan itu memang terasa menyenangkan. Namun, mudah menurut siapa saja? Apakah ada orang lain yang malah jadi susah karena itu? Kita bisa dengan gampangnya menuntut kemudahan-kemudahan dalam hidup kita, tetapi jangan lupa bahwa tetap ada upaya dan andil orang lain agar keadaan tersebut bisa terlaksana.

Saat kesusahan atau kerepotan yang dialami orang lain berhasil memudahkan urusan kita, itu merupakan bantuan. Apa pun namanya, diikuti dengan bayaran atau tidak, tetaplah patut untuk mengucapkan terima kasih. Kalau tidak berhasil pun, ucapan terima kasih seringkali tetap patut disampaikan. Lantaran bagaimanapun juga, orang lain sudah menyusahkan diri demi kita.

Coba kalau dibalik, bersediakah kita untuk direpotkan hal yang sama? Jika kita tidak bersedia, enggak fair, dong. Jadi manusia kok mau enaknya doang, maunya merepotkan tetapi menolak setengah mati waktu dimintai bantuan. Jangan nanggung, andaikan tidak bersedia membantu orang lain (yang memang perlu dibantu), maka berusahalah mandiri semaksimal mungkin. Jauh dari utang budi. Jadi, sama-sama tak ada beban.

Lalu, mending ganti mindset soal “mudah” dan “susah” dari sekarang. Semudah-mudahnya sesuatu, bisa semudah apa sih? Apakah semudah cukup dipikir, lalu muncul atau terjadi dengan sendirinya. Macam pesulap yang tinggal mengelipkan mata, dan tanpa melibatkan atau perlu dibantu orang lain?

Sesusah-susahnya sesuatu, akan jadi seberat apa? Apakah bisa menyebabkan cacat permanen, atau kematian? Kalau hanya perkara jalan kaki sekitar 50-100 meter, atau berdiri selama dalam perjalanan dengan moda transportasi umum, ya coba dilakukan. Tak perlulah mengeluh seperti disuruh menyeberangi laut dengan sampan kecil, atau melompati jurang dengan mata tertutup.

[]

Ambillah Makanan Secukupnya, dan Habiskan

MAKANNYA kok enggak habis? Nanti nasinya nangis, lho…”

Ini yang biasanya kita dengar waktu masih kecil, ketika sedang malas-malasan atau susah makan.

Ada juga cara lain–yang barangkali terlalu keras untuk diterapkan saat ini–supaya kita segera menghabiskan makanan. Mulai dari diimingi hadiah atau akan diajak jalan-jalan, diomeli dan dimarahi, ditakut-takuti, bahkan sampai dicubit serta tindakan pemaksaan lainnya. Termasuk menggunakan argumentasi yang tak logis, mengandung logical fallacy. Jangankan dipahami anak-anak, orang dewasa pun banyak yang keliru dalam memahaminya. Juga emotional blackmail.

Kenapa enggak dimakan sih? Di Afrika sana banyak anak-anak seperti kamu yang mau makan tetapi kesusahan.

Kenapa enggak dimakan sih? Kamu enggak kasihan sama mama, sudah capek-capek bikinin makanan buat kamu begini.

Padahal ada banyak alasan dan cara lain yang dapat disampaikan kepada anak-anak, agar mau menghabiskan makanannya. Bisa dengan menjelaskan konsep mubazir, membagi makanan dalam porsi yang lebih kecil dengan frekuensi lebih sering, berkreasi dengan hidangan yang digemari, dan masih banyak lagi cara lainnya.

Tujuan mereka melakukan itu semua adalah agar si kecil melahap habis sajian yang ada, sehingga mendapatkan asupan nutrisi yang cukup. Itu sebabnya, selalu ada pujian dan apresiasi khusus bagi anak-anak dengan nafsu makan yang tinggi, dan sanggup menuntaskan santapannya.

Bagaimana sekarang, setelah kita dewasa?

Selalu muncul perasaan sebal saat melihat orang-orang yang tidak menghabiskan makanannya, apalagi jika yang disisakan masih setengah porsi atau lebih. Mereka memesan atau mengambil makanan seolah tanpa mampu menakar kemampuan sendiri, seperti baru pertama kali. Karena merasa kebanyakan, lalu dibiarkan dan ditinggalkan begitu saja.

Bukan cuma saya, beberapa teman juga merasakan kekesalan yang sama. Terutama di restoran yang menyediakan sajian all you can eat, atau salad bar. Berikut contohnya, salad Pizza Hut.

Pizza Hut salad

Ini kiasu, atau supaya tidak mubazir? Untung tidak seekstrem salad stacking seperti di Tiongkok. Lokasi: Samarinda.

Alih-alih memesan salad untuk setiap orang pada waktu makan bareng, si teman tadi akan datang membawa ini. Cukup untuk digado sampai empat orang sekaligus di luar menu utama. Tak berselang lama ada dua cewek yang masing-masing memesan salad. Sekembalinya dari salad bar, mangkuk mereka tidak terlihat penuh. Sepulangnya mereka, isi mangkuk salad masih tersisa seperempatnya. Si teman tadi pun geregetan, dan agak bersungut-sungut.

Paling males kalau lihat makanan dibuang-buang begitu,” kata dia, yang kemudian dilanjutkan dengan pengalamannya sebagai pramusaji di Belanda selama dua tahun.

Rasa sebal itu tentu cuma bisa saya telan sendiri. Makanan tersebut adalah hak mereka sepenuhnya; entah dihabiskan, dibuang, dibeli hanya untuk difoto-foto, atau diberikan kepada orang lain. Bukan kewajiban saya pula untuk bersikap bak orang tua ala Indonesia; menasihati mereka tentang apa yang patut dan tidak, atau pun menegur. Saya baru berhak mengekspresikan kemarahan atau luapan emosi yang terjadi, apabila sisa makanan itu dilemparkan ke muka saya.

Di sisi lain, siapa tahu ada alasan khusus yang tidak saya ketahui. Mendadak sakit perut atau tidak enak badan misalnya, makanannya tidak cocok dengan selera, maupun ada panggilan darurat yang membuat mereka tidak sempat meminta pelayan membungkus sisa makanan. Jadi, pada akhirnya, ya sudahlah. Biarkan saja. Kemubaziran yang terjadi tak bisa dibatalkan lagi.

Sekilas, hal ini terkesan remeh dan sepele. Cenderung diabaikan lantaran bukan masalah penting yang perlu diperhatikan secara khusus, macam khilafah, utang negara, LGBTIQ, Asian Games 2018, Pemilu 2019, aplikasi goblok dan tetew-tetew-nya, atau fanatisme terhadap apa saja (dari agama, klub sepak bola, sampai veganisme dan faux-mindfulness movement, serta lain sebagainya). Hanya saja, hal yang remeh dan sepele ini “berhasil” menjadikan warga Indonesia sebagai orang-orang tak tahu diuntung kedua setelah … Arab Saudi.

Source: foodsustainability.eiu.com/food-loss-and-waste/

Setiap orang di Indonesia rata-rata membuang atau memubazirkan 300 kg makanan setiap tahun. Bisa jadi termasuk mbak-mbak di Pizza Hut tadi.

Dari data di atas, namanya juga rata-rata. Total makanan terbuang dibagi jumlah penduduk. Kendati dari jumlah penduduk tersebut pasti ada yang berkecukupan, ada juga yang rentan kelaparan. Ada yang banyak makan, dan ada yang “lambungnya kecil”. Makannya sedikit-sedikit. Total makanan terbuang pun pasti terdiri dari konsumsi rumah tangga, komersial, massal, dan kegiatan atau pesta.

Sebagai individu, apa yang bisa kita lakukan?

Mulailah dengan ambil secukupnya, dan habiskan.

Kalau kurang, toh bisa tambah lagi selama masih ada. Setidaknya mengurangi potensi makanan yang tidak habis dan terbuang.

Apabila sudah mampu dan memiliki sumber dayanya, barulah lakukan cara lain. Misalnya begini.

Bukan sok pas-pasan atau ogah rugi, melainkan bersikap cermat.

[]

Photo by Kyle Cottrell on Unsplash

Berpikir Setengah-setengah

SAYA menonton film “Lima” dua pekan lalu. Rasanya seperti berada dalam kelas, “membaca” narasi pengantar untuk lima nomor ujian esai dengan pertanyaan utama: “Apa yang akan kamu lakukan jika …” Ada soal yang bikin mikir banget dan terasa jauh lebih pelik dibandingkan lainnya, ada juga yang terkesan biasa-biasa saja karena relatif sering kita temui di kehidupan sehari-hari.

Di waktu yang hampir bersamaan pula, ada dua hal menarik yang saya temui di Twitter.

Entah apakah percakapan di atas terjadi secara faktual atau tidak, tetapi tetap mengundang untuk dipikirkan.

Terlepas dari sebaik hati, sewelas asih, pemurah maaf dan penuh ampunan apa pun sang nenek, pencopet tersebut tetap telah melakukan percobaan tindak kriminal. Keputusan akhir tetap menjadi kewenangan aparat hukum. Respons sang nenek tentu sungguh mulia dan patut dicontoh, hanya saja apakah mampu membuat si pelaku sadar dan bertobat agar tidak mengulanginya di kemudian hari?


Berulang kali berganti nama; poin-poin materi; dan metode penyampaian, salahkah bila Pendidikan Moral Pancasila (PMP) yang diubah menjadi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), serta sempat disebut Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) itu dianggap sebagai salah satu mata pelajaran tertaksa di Indonesia?

Banyak aspeknya yang samar, atau tanpa sengaja tersamarkan. Baik lantaran modul-modul petunjuk pelaksanaannya mengarahkan demikian, ataukah memang para pengajar dan orang-orang yang lebih tua merasa canggung untuk terlibat terlampau jauh dalam pelbagai pembahasannya. Tahu, kan, ketidaknyamanan timbul ketika kita dihadapkan pada topik-topik pembicaraan yang dianggap sensitif, dan membuat kita berusaha menghindarinya. Begitu dan jadi kebiasaan, diturunkan ke generasi berikutnya.

Biar bagaimanapun, kehidupan manusia akan terus berkembang. Kondisi sosial dan kemasyarakatan kian kompleks dengan makin beragamnya situasi yang dapat terjadi. PMP/PPKn/PKN semestinya dapat memberikan gambaran sikap ideal. Namun telanjur samar, PMP/PPKn/PKN hanya menyisakan wacana-wacana normatif, mengobservasi dari permukaannya saja, dan tidak direntangkan lebih jauh sebagai landasan berargumentasi.

• Apa yang akan kamu lakukan jika mendapat undangan kerja bakti di lingkungan tempat tinggalmu?
A. Mengikutinya
B. Pura-pura sakit
C. Tidak peduli
D. Menyuruh pembantu untuk ikut

Dalam PMP/PPKn/PKN, sudah sangat jelas bahwa jawaban untuk pertanyaan pilihan ganda di atas adalah butir A. Anak-anak diajarkan mana yang patut (benar), dan yang tidak patut (salah). Idealnya, sikap dan pemahaman itu mereka terapkan dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari.

Cukup disayangkan, pendekatan ini malah bisa menumbuhkan orang-orang munafik. Mereka tahu, dan akan memberi jawaban yang benar saat disodori pertanyaan demikian, tetapi belum tentu benar-benar dijalankan. Mereka “diajarkan” pentingnya melakukan pencitraan sedari kecil, salah satu kemampuan dasar untuk jadi politikus. Lain ucapan, lain pula tindakan.

Tidak arif, kaku, dan berpolaritas, yang bahkan bisa mendorong seseorang bertindak munafik. Ia hanya tahu membedakan label “benar” dan “salah”; ia tahu karakteristiknya; dan ia tentu memilih label “baik” di hadapan publik, tetapi tidak bersungguh-sungguh menjalankannya. Hanya agar terlihat pantas, dan tentu saja dapat berubah sesuai keadaan. Sayangnya, begitu menghadapi peristiwa dan kejadian yang belum pernah ditemui, langsung gelagapan, lalu melakukan tindakan yang hanya bisa disesali kemudian.

Bisa jadi lantaran tidak ada aspek perasaan (kegelisahan saat berbuat tidak patut versus kelegaan saat berbuat patut), motivasi (menghindari rasa malu versus menumbuhkan kebanggaan), maupun alasan (melakukan/tidak melakukan begini agar begitu) di sana. Sehingga mereka hanya tahu bahwa “ini benar, itu salah” dalam lingkup terbatas.
Coba kita modifikasi contoh soal di atas.

• Di hari libur kamu ingin Ayah dan Ibu membawamu bertamasya ke kebun binatang. Namun, ada undangan kerja bakti dari Pak RT untuk mencegah banjir di lingkungan tempat tinggalmu. Apa yang akan kamu lakukan?
A. Tetap meminta Ayah dan Ibu untuk membawamu bertamasya ke kebun binatang, apa pun caranya
B. Memarahi Pak RT yang menyampaikan undangan
C. Meminta Ayah mengganti rencana tamasya ke lain hari
D. Ikut Ayah kerja bakti

Mana jawaban yang benar dari sudut pandang sang anak, atau peserta didik PMP/PPKn/PKN? Di sisi lain, bagaimana dengan si Ayah? Jalan-jalan dan bertamasya bersama keluarga pasti jauh lebih menyenangkan dibanding mengikuti kerja bakti, bukan? Andaikan pun sang Ayah tetap ingin menjalankan kewajibannya sebagai warga, bagaimana caranya memahamkan dan bernegosiasi dengan sang anak? PMP/PPKn/PKN tidak menyentuh celah tersebut.

Ilustrasi di atas baru berbicara mengenai urusan sepele: kerja bakti. Sementara ragam peristiwa yang kita hadapi kini sudah kian beraneka. Misalnya:

Bagaimana cara bergaul dan menyikapi teman sekolah yang berbeda agama?

Bisa kita exercise lagi menjadi: “Bagaimana caramu menyikapi teman sekolah yang berbeda agama, dan terlihat sedang minum es teh saat kamu sedang berpuasa?

… atau “Bagaimana caramu menyikapi teman sekolah yang berbeda agama, dan sedang menjalankan ibadah puasa?” Berlaku di dua sisi, kan?

Dalam hal ini, pengajaran orang tua di rumah seringkali jauh lebih tertanam dibanding kaidah dalam PMP/PPKn/PKN. Belum lagi jika guru atau pihak sekolah ternyata memiliki pandangan yang berbeda.

Seperti yang baru lewat beberapa hari lalu.

Pemahaman yang mendasar sekaligus menyeluruh dari PMP/PPKn/PKN seyogianya bisa mencegah dan menjauhkan seseorang dari perbuatan demikian. Terlebih bila yang bersangkutan juga memegang nilai-nilai positif lainnya; agama, budi pekerti, prinsip kelayakan sosial, serta kemampuan berempati.

Beberapa ilustrasi lainnya.

• Bisakah pemahaman PMP/PPKn/PKN menghindarkan masyarakat atau massa dari aksi persekusi dan main hakim sendiri? Apalagi sampai menyebabkan kematian.

Seberapa mampukah pendekatan PMP/PPKn/PKN yang diberikan sejauh ini menumbuhkan empati, rasa kasihan, dan kemanusiaan tanpa memandang latar belakang individu?

Apakah bisa disederhanakan dengan dibilang bahwa para perisak dan pelaku aksi main hakim sendiri adalah orang-orang yang nilai PMP/PPKn/PKN-nya jeblok waktu bersekolah dulu?

• Bagaimana menerjemahkan pemahaman PMP/PPKn/PKN agar menghindarkan warganet dari keteledoran digital, seperti membagi dan menyebarkan kabar dusta maupun hoaks, dengan mudahnya mengutarakan kebohongan dan ujaran kebencian, serta lain sebagainya?

• Bagaimana mengamalkan pemahaman PMP/PPKn/PKN dalam menghadapi, menyikapi, bahkan bergaul dengan orang-orang yang telah menjalani operasi kelamin dan telah berganti gender secara legal? Sebab sampai sejauh ini, perisakan terkait itu pasti selalu terjadi. Baik yang dilatarbelakangi argumentasi keagamaan, atau sekadar karena perasaan tidak nyaman/tidak senang.

Pakai ilustrasi Trans Man luar negeri saja, ya. Jagat maya kita tampaknya sudah cukup jenuh dengan figur transeksual Indonesia yang terus-menerus jadi objek hinaan.

Di balik foto-foto transformasi yang mencengangkan, ada proses yang menyakitkan dan membahayakan, biaya yang tidak sedikit, serta waktu dan kesabaran yang harus dicurahkan.

• Bisakah menerapkan prinsip musyawarah dalam menghadapi hubungan pacaran berbeda agama? Ataukah hasil akhirnya sudah diputuskan di muka?

• Ketika yang merasa miskin selalu meminta kepada yang dianggapnya kaya, atau yang merasa miskin mudah kesal kepada yang dianggapnya kaya, apakah hal tersebut sesuai atau bertentangan dengan prinsip keadilan sosial?

… dan masih banyak lainnya.

Jangan lupa, kehidupan manusia akan semakin kompleks.

Oh, ya, Selamat Idulfitri. Maaf lahir batin, ya. 🙏🏼

[]

Sitting alone on a dock.

Basa Basi (Tidak) Busuk

SESEORANG menitipkan tulisan ini.


“Apa kabar?”

Pernah merasa jengah dengan basa basi?

Sama, saya juga. Seringnya orang-orang sebenarnya tidak ingin tahu jawaban dari pertanyaan di atas. Pertanyaan itu juga biasanya dijawab dengan normatif, balasan standar satu kata yang harus dibalas dengan menanyakan pertanyaan yang sama ke penanya. Kadangkala keceplosan, penanya tadi menjawab dan menyakan kembali “lo gimana?” #seringterjadi

Bagi sebagian orang, menanyakan kabar merupakan fase pembicaraan yang harus dilalui sebelum berlanjut ke topik berikutnya. Demikian pun, ada juga yang mengambil kesempatan untuk mencurahkan isi hati terdalam tanpa permisi yang seringnya berujung jeritan hati pendengar, “Gue cuma nanya kabar hoi! Bukan kisah hidup!”

Pernah suatu kali saya berbasa basi menanyakan kabar salah satu rekan sejawat yang dijawab dengan “Gue habis berantem sama partner gue, tadi dia drop gue di kantor dan gue sama sekali gak ngomong sama dia sedikitpun! Masa dia…” Dan dilanjutkan dengan ekstra 20 menit detail hubungan mereka yang semakin dingin dan rentan masalah, yang saya simpan di kotak “Informasi kurang bermanfaat” di pikiran saya.

Seorang sahabat yang saya ceritakan mengenai kejadian itu berkelakar, “Makanya jangan bertanya open-ended questions! Itu sih cari masalah namanya!”

Baru-baru ini kita dikejutkan dengan meninggalnya Kate Spade, designer fashion kondang di Amerika. Kate ditemukan gantung diri di apartemennya di New York, dan dilaporkan sudah berjuang 5 tahun melawan depresi dan kecemasan. Suami Kate memberikan penjelasan bahwa Kate secara aktif berusaha untuk sembuh, bertemu dokter setiap minggu dan mendapatkan pengobatan untuk depresi dan kecemasan yang dia alami.

Tak kalah kaget juga waktu mendengar Anthony Bourdain ditemukan bunuh diri pada umur 61 tahun. Tidak sedikit orang yang bilang, “Enak ya kerja kayak Anthony Bourdain! Keliling dunia sambil makan-makan!” tanpa menyadari bahwa yang menjalani pun belum tentu merasa semudah dan seenak itu hidupnya. Benar, yang kita lihat makan-makan dan jalan-jalannya. Tapi bagaimana dengan sisi lain kehidupannya yang tidak pernah terekspose?

Sebelum Kate dan Tony, kita juga sudah mendengar mengenai Robin Williams, Chester Bennington dan juga pesohor-pesohor lain yang akhirnya tunduk oleh tekanan hidup dan memutuskan untuk mengakhiri hidup mereka sendiri dengan satu maupun lain cara. Berita yang tersebar, mereka memang melalui masa-masa sulit dan melawan depresi di akhir hidupnya.

Death doesn’t discriminate between the sinners and the saints.

Sialnya, demikian juga dengan penyakit kejiwaan. Tidak hanya menyerang artis-artis tapi juga rakyat jelata- karyawan kantoran, polisi, pengangguran, mahasiswa, ibu rumah tangga, pelajar juga bisa mengalami depresi atau penyakit-penyakit jiwa lainnya. Entahlah, saya sendiri masih belum yakin apa sekarang ini semakin banyak orang yang mengalaminya atau dengan pemberitaan zaman modern semakin banyak kasus yang terekspose oleh khalayak ramai. Tapi yang saya sadari, penyakit kejiwaan bukan lagi menjadi sesuatu yang asing yang kita dengar.

Death doesn’t discriminate between the sinners and the saints.

We will all live to face it eventually. Still, that does not justify you taking your own life.

Kalau kalian merasa cemas, sedih, depresi, takut dan merasa tidak normal, tolong cari bantuan. Cari orang-orang yang kenal dan peduli dengan kalian, cari bantuan profesional–there is no shame in seeking help. Tidak ada yang memalukan dari berusaha sembuh dan hidup “normal”, apa pun itu bentuknya. Tolong jangan berobat sendiri, karena asal minum obat sendiri never ends well.

Pernah saya mendengar kabar bahwa teman satu SD, yang pernah duduk di sebelah saya pada satu masa ditemukan gantung diri di kamarnya. Menurut kabar, ia baru saja putus dengan pacarnya waktu itu dan tengah-tengah mengerjakan skripsi, bapaknya juga sedang sakit waktu itu.

Saya tercenung. Gamang waktu mendengar berita tersebut beredar di alumni sekolah kami. Dia kurang lebih seumur saya. Orang tuanya masih hidup. Dan orang tuanya harus kehilangan anak yang semestinya masih memiliki jalan panjang dalam kehidupannya. Orang tua harus menguburkan si anak. Teriring doa supaya orang tuanya tetap tabah dan terus menjalani hidup.

Saya sesungguhnya sudah tidak ada kontak semenjak kami berpisah sekolah. Bahkan waktu kami satu sekolah, saya bukan termasuk golongan teman-temannya. Tetapi saya juga bertanya-tanya, apa kira-kira akan berbeda kalau ia membuka diri dan mencari pertolongan saat ia mengalami masalahnya?

Kalau kalian merasa normal dan baik-baik saja, bersyukurlah. Sebagai yang “waras”, ingat bahwa kalian bisa ikut membantu orang-orang yang tidak seberuntung kalian dengan berusaha membangun koneksi dengan mereka. Dari pengalaman saya, banyak orang yang menderita dalam diam dan mempertanyakan kewarasan mereka dalam konteks yang tidak bercanda. Dihantui rasa takut akan kehilangan kendali akan diri. Perasaan gelap yang menghantui tanpa ada jalan keluar yang terlihat. Keengganan untuk melakukan apapun. Hati yang terasa berat. Takut tidak dimengerti. Takut ditertawakan. Takut dipermalukan. Dan banyak lagi perasaan kompleks yang tidak biasanya ada atau tidak dirasakan dengan kadar berlebih oleh orang yang “normal” pada umumnya.

A tweet snippet.

Saya juga punya pengalaman pribadi dalam hal ini–saya pernah “menyelamatkan” (dia yang bilang, bukan saya) seorang sahabat saat dia hampir bunuh diri. Dia bilang dia sudah menyiapkan semuanya, lalu saya mengontak dia melalui chat untuk menyapa dan menanyakan kabarnya. Dia batal bunuh diri karena akhirnya membalas chat saya dan masih hidup sampai sekarang. Saya sendiri tertegun waktu dia cerita ke saya. Bukan, bukan mau bilang saya ternyata bisa menyelamatkan orang. Hanya mau bilang ternyata sapaan dan perhatian itu yang kadang bisa berimbas lebih besar buat yang lebih membutuhkan.

Di Australia, ada organisasi “R U OK?” (ruok.org.au) yang bertujuan untuk membangkitkan kesadaran tentang orang-orang yang mungkin butuh pertolongan dan tidak bisa mencari atau memintanya.

Websitenya berisi petunjuk dan bantuan untuk memastikan orang-orang lebih sadar dan memberi perhatian lebih pada pertanyaan “Are you okay?” dan juga tindakan lanjutan apabila yang ditanya membutuhkan bantuan. Bukan hanya itu, website ini juga memberikan petunjuk supaya kita tidak asal bertanya. Sebagai salah satu tahapan, bahkan diberikan petunjuk, apakah kita siap menerima kala yang ditanya menjawab tidak baik-baik saja? Apakah kita siap membantu? Apakah kita memilih saat yang tepat? Silakan dibaca, barangkali bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari kita semua.

Akhir kata, kita bisa lebih terlibat dan membantu orang-orang di sekitar kita. Jangan anggap sepele menanyakan kabar orang lain. For better or worse, be genuinely interested in people’s life. Mungkin mereka tidak bersedia berbagi, ya tidak apa-apa.  Tapi mungkin pertanyaan itu menjadi suatu kunci, suatu terang yang ditunggu-tunggu yang ditanya untuk bisa mendapatkan bantuan atau dukungan. Yang saya sebut di atas hanyalah satu medium yang bisa mencontohkan bagaimana caranya, tapi saya yakin kita masing-masih bisa lebih punya simpati dan empati terhadap orang lain selama kita menjalani hidup kita sendiri. Or you can just not care. The choice is all yours. Eitherway, jangan menghakimi dan menertawakan orang dengan berbagai perjuangannya. Toh hidup orang lain bukan kita yang menjalani.


Sekian.

[]

Mengalir

TANGGAL hari ini cantik, 6-6. “Liu-liu” bunyinya, kalau dilafalkan dalam Mandarin. Mungkin gara-gara itu banyak orang Tionghoa yang lumayan suka dengan angka 6. Meskipun rasa sukanya belum sekuat seperti pada 7, 8, dan 9, yang masing-masing ialah “qi” (dibaca: chi), “ba” (dibaca: pa), dan “jiu” (dibaca: ciu). Oh, ya, kenapa ada tulisan yang berbeda dengan cara bacanya? Karena penulisan itu adalah Pinyin, sistem transliterasi untuk memudahkan pembelajaran dan pembacaan, khususnya bagi bukan penutur bahasa Tionghoa.

“Liu”-nya angka 6 (六) punya pelafalan yang sama dengan “liu” yang berarti mengalir atau bergerak (流). Mirip juga dengan “liu”-nya sejenis pohon dedalu atau willow (柳), yang aslinya tidak sebuas whomping willow dalam cerita Harry Potter. Makanya seringkali kita mendapati lukisan-lukisan Tionghoa dengan pohon willow sebagai objek utamanya, terpasang di ruang tamu rumah maupun kantor. Supaya kehidupan di situ mengalir. Doa dan harapannya begitu. Itu sebabnya rumah orang Tionghoa penuh dengan simbolisasi, bermacam-macam rupa. Setidaknya bagi mereka yang masih mengerti dan memahami … dan masih peduli … dan masih hidup.

Lukisan klasik pohon willow.

Oh, well, nevermind.

Air dan udara mengalir. Ini sesuai prinsip fisika. Air yang mengalir jauh lebih baik daripada genangan. Air yang mengalir berarti tidak ada yang buntu. Dari ketinggian, mengucur deras ke arah bawah. Air yang menggenang jadi tempatnya nyamuk bertelur, sumber penyakit, berlumut, dan berlendir. Kental-kental bikin geli. Bukan geli yang enak, tetapi geli yang bikin jijik.

Udara yang mengalir artinya kehidupan. Kalau udara tidak mengalir, tidak bakal ada proses pernapasan. Udara yang mengalir pun pertanda kenikmatan. Enggak percaya? Coba sekali-kali dihayati saat akan berkentut, tanpa ditahan-tahan. Nikmat, kan? Asal jangan los kentutnya saat berada di dalam lift. Kenikmatan untuk kita, jadi penderitaan bagi orang lain. Tak elok pula kalau kentutnya dipaksa-paksa. Biarlah udara yang satu itu terdorong dan keluar secara alamiah. Kalau dipaksa, nanti keluar bareng temen-temennya. Bisa berabe kalau terjadi bukan pada tempatnya.

Demikian juga soal hidup. Biarlah mengalir dan bergerak sesuai kondisinya. Ke kanan dia bergulir, ya sudah ke kanan juga kita melangkah. Ke kiri dia berbelok, ikuti arah alirannya. Ke depan dia menuju, jalani apa yang ada. Yang penting harus tetap bergerak. Tidak mentok, tidak mandek, tidak mampet.

Perkataan dan pikiran juga sebenarnya mengalir, bagi yang menyadarinya. Malah saking lancarnya, sampai-sampai lebih susah dibendung ketimbang air dan udara. Mau dibendung pakai apa pula? Perkataan dan pemikiran bisa muncul dan terus muncul pada banyak orang. Tatkala diucapkan dan disampaikan, bisa menginspirasi, mengilhami, memotivasi, dan menggerakkan lebih banyak orang lagi. Apalagi jika para pendengarnya punya antusiasme tinggi, seperti hadirin kelas filsafat tanpa biaya yang diselenggarakan di Jakarta Timur secara berkala, atau mereka-mereka yang jadi jemaat gereja-gereja keren kekinian di Jakarta Selatan: suka mencatat.

Ada yang pakai notes, ada yang pakai binder seperti anak kuliahan, ada juga yang lebih suka mengetiknya di gadget. Entah nantinya catatan itu dibaca dan diresapi kembali di saat senggang, dibagikan sebagai pengajaran bagi sesama, ataukah jadi caption di media sosial. Semua boleh saja, yang penting tidak berhenti di situ saja dan ada faedahnya. Mengalir. Dialirkan.

Manusia memang ahlinya membendung. Bukan cuma bikin bendungan lho, ya, tetapi berkemampuan untuk mengarahkan dan mengalirkan. Terutama air dan udara. Mulai dari Kaisar Yu yang pertama kalinya berhasil mengatasi banjir bandang di Tiongkok kuno, sampai ke Aang sang avatar airbender. Namun, beda keadaannya kalau sudah menyangkut perkataan dan pikiran. Bukan melulu orang lain yang mampu membendung atau mengarahkan kedua hal tersebut, melainkan si empunya perkataan dan pikiran tersebut.

Mau sekuat apa pun seseorang membendung perkataan dan pikiran orang lain, pasti bisa tetap bocor juga, atau lebih banyak bermunculan yang serupa. Hanya si pemiliknya sendiri yang dapat benar-benar membendung, mengarahkan, menahan, mengendalikan aliran perkataan dan pikiran. Sekali seseorang sudah memutuskan untuk tidak mau mengutarakan perkataan dan pikirannya, terlebih atas dasar alasan tertentu yang kuat, sudah pasti terkunci rapat. Mau dipaksa sekuat apa pun, pasti tak bisa tembus.

Terberkatilah Indonesia, tempat di mana seorang Pram dilahirkan … dan terberkatilah Pram, yang dengan karya-karyanya terus mengalirkan ide, pemikiran, semangat, serta gagasan gerakan sejauh ini. Tengah berada dalam situasi sepelik dan setidak nyaman apa pun, dia tetap menulis. Dia tetap mengalirkan pemikirannya, yang untungnya bukan jadi sekadar lisan, melainkan kumpulan tulisan. Buku, lembar-lembar catatan, sampai kertas bekas pembungkus semen yang diperlakukan laiknya artefak pustaka. Tuh, sedang dipamerkan hingga sekarang, kalau tidak salah.

Selain Pram, tak kurang-kurang tokoh Indonesia yang kita kenal terus menulis, berpidato dan memberikan kuliah terbuka, berdiskusi dengan eloknya tanpa peduli bendungan, batasan, maupun kekangan yang dipasang oleh zaman.

Andaikan mau dipikir-pikir lebih mendalam, kita saat ini sesungguhnya juga demikian. Makin bebas mengalirkan perkataan dan pemikiran tak ubahnya para figur merdeka terdahulu. Bedanya, perkataan dan pemikiran mereka bermanfaat. Bukan semata-mata hal sepele macam ngrasani wong liya, bersungut-sungut, serta bergunjing-gelinjang. Nihil batas.

Ya bisa jadi, dan jelas saja, kita memang tak semendalam, seberwawasan, sepatut, dan semulia mereka-mereka yang terdahulu. Hanya saja, lagi-lagi, mbok ya sedikit jeli saat berkata dan berpikir. Biarkanlah keduanya mengalir sebaik-baiknya keperluan, bukan malah sengaja ditumpahkan begitu saja. Mengganggu orang lain, menyebabkan kerusakan.

[]

Pada Akhirnya, Semua akan Lelah Membanding-bandingkan

FERLY, sebut saja demikian. 26 tahun usianya saat ini.

Dilihat dari feed Instagram dan foto-fotonya di Facebook, Ferly memiliki kehidupan yang tampak hampir sempurna. Tidak hanya yang menampilkan dirinya di tengah-tengah pesta, di lokasi-lokasi bergengsi penuh gaya, ada banyak foto lain yang menunjukkan bahwa karier Ferly sedang gemilang-gemilangnya.

Sesekali, ia membagikan posting-an inspirasional melalui akun LinkedIn. Berisi empat-lima paragraf komentar lugas mengenai isu-isu terkini yang berkaitan dengan bidang profesinya. Maklum saja, ia seorang manajer perusahaan FMCG terkemuka. Sudah cukup dikenal berwawasan luas dan cerdas, tepat bertindak, luwes bergaul, dan punya visi yang kuat. Semua itu membuat Ferly selalu jadi incaran perusahaan-perusahaan lain yang ingin “membajaknya”.

Kepribadian Ferly yang hangat dan bersahabat tidak hanya ditunjukkan kala berinteraksi dengan khalayak. Di mata para teman, terlebih keluarga, Ferly adalah seseorang yang sangat menyenangkan. Penuh perhatian, dan selalu punya tenaga yang cukup untuk mencurahkan luapan perhatian tersebut.

Membahas tentang Ferly, kurang lengkap bila belum berbicara tentang seleranya terhadap seni dan gaya.

Fisik Ferly memudahkannya dalam penampilan; bermacam model pakaian cocok dikenakannya. Elegan saat memberikan presentasi bisnis kepada mitra dan kolega, keren saat berbaur dalam pesta maupun aktivitas sosial lainnya. Ia juga memiliki kecintaan khusus pada seni kontemporer. Terlihat dari bagaimana caranya mengapresiasi lukisan dan kriya pahatan maupun logam dari seniman-seniman Indonesia. Ia tidak sok-sokan mengharamkan diri dari berswafoto di depan karya, tetapi juga memiliki referensi dan kedalaman argumentasi saat memberikan apresiasi. Apa dan bagaimana cara dia menjelaskan pandangan artistiknya, mengesima.

Kita cukupkan sampai di sini.


Tuhan itu adil.” Demikian ungkapan yang populer di pendengaran kita sejauh ini. Namun, maknanya ganda.

Bisa diutarakan sebagai bentuk kemakluman, bahwa tiada seseorang pun yang sempurna. Di balik segudang kelebihan, keutamaan, dan anugerah, ternyata tersimpan sejumlah ketidakberuntungan.

… atau sebenarnya malah menjadi tanda bahwa kita iri dan dengki terhadap yang bersangkutan. Diam-diam berharap ada satu atau dua kekurangan dan kondisi tidak beruntung yang terjadi pada seseorang tersebut. Tidak bisa benar-benar menerima keadaan diri sendiri, dengan kekurangan di sana sini.

Ah, pasti ada kurangnya kok. Kita belum tahu aja.


Demikianlah cara kerja jebakan pembandingan (comparison trap). Sesuatu yang menjauhkan kita dari rasa bersyukur, mengaburkan kita dari semua potensi dan kelebihan yang sebenarnya kita miliki, serta menciptakan ilusi jarak antara kita dengan kebahagiaan kita sendiri.

Bukan masalah si Ferly, apabila kehidupannya penuh dengan kebaikan, kualitas, anugerah, dan keberuntungan. Melainkan jadi masalah bagi orang-orang lain, yang mengeluhkan keadaan dirinya sendiri saat dibandingkan dengan kehidupan Ferly. Terlepas dari sesederhana dan sebersahaja apa pun Ferly ingin bersikap dalam menjalani kehidupannya, tetap bisa terlihat enviable, bikin iri dan kepingin juga.

Begitu pula sebaliknya, bukan keharusan bagi si Ferly untuk turut mengekspose kemalangan dan kekurangan yang ia alami. Bukan juga kewajiban orang-orang lain untuk turut dibebani dengan sekumpulan problemnya si Ferly. Jadi, tidak salah bila gambaran kehidupan Ferly yang dibagikannya ialah yang baik-baiknya saja. Penuh senyum dan tawa, yang indah-indah dan menyenangkan siapa pun pemirsanya.

Photo by Caleb George on Unsplash

Apakah kunci kebahagiaan dalam hidup?

Bagi banyak orang zaman sekarang adalah … uninstall Instagram, mute Twitter, dan menutup akun Facebook. Alias berusaha menghindarkan diri dari segala media yang secara terus menerus menyediakan gambaran baik nan indah orang-orang lain di luar sana. Sebab pada kenyataannya, kita belum tentu sanggup menerima semua gempuran tersebut. Tidak semua dari kita dibekali kebijaksanaan dan kemampuan untuk melihat segala sesuatu dengan sebagaimana mestinya, apalagi memanfaatkannya dengan maksimal.

Upaya membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain memang memiliki dua orientasi, ke atas, dan di bawah. Hanya saja, kita cenderung lebih memilih untuk terlena dengan semua yang ada di atas, serta sengaja mengabaikan pandangan kita ke bawah. Idealnya, semua bergantung pada bagaimana cara kita mengolah informasi yang diterima; dalam hal ini, informasi mengenai segala hal yang baik dalam hidup si orang lain tersebut. Motivasi untuk melakukan perbaikan diri, upaya untuk mencapai perkembangan dan kemajuan dalam hidup, muncul sebagai dampak positif dari perbandingan ke atas.

Berkebalikan dengan itu, dampak negatif dari perbandingan ke atas seringkali—dan utamanya—dipengaruhi pandangan serba kekurangan terhadap diri sendiri. Self-esteem yang rendah kerap disebut sebagai sebuah ramalan yang sahih, yang pasti akan jadi kenyataan. “Ramalan” tersebut dipatuhi dan diiyakan, self-fulfilling prophecies, sehingga segala kekurangan yang muncul dianggap sebagai sebuah kewajaran yang tak terhindarkan. Akan menjadi sangat berbahaya bila pandangan tersebut selalu diakomodasi, lantaran dapat mengantarkan seseorang kepada risiko mental. Di satu titik, hingga menuju ambang risiko depresi.

Lalu, harus bagaimana untuk menanganinya?

Bakal ada lusinan jawaban berbeda, dengan pendekatan yang beragam pula. Yang jelas, kuncinya adalah motivasi dan keinginan dari dalam diri. Benar-benar muncul dan berpengaruh mengubah semuanya secara drastis. Pandangan hidup, pandangan terhadap diri sendiri, tindakan dan sikap hidup menanggapi sesuatu.

Teorinya, terdapat berbagai faktor yang bisa menimbulkan dorongan dan keinginan berubah dari dalam diri setiap orang. Misalnya, ada yang sadar setelah memahami alasannya: “Kenapa aku begini, padahal aku bisa begitu?” yang memungkinkan terjadinya dialog dengan diri sendiri; ada yang baru tergerak atas desakan dan pengaruh dari seseorang; setelah adanya kejadian yang mengejutkan; dan masih banyak lagi.

Silakan cari dan temukan sendiri. Yang penting, jangan asal memasang-masangkan standar kebahagiaan maupun penderitaan. Kebahagiaan kita berbeda dengan kebahagiaan orang lain. Begitupun penderitaan kita tidak mesti sama dengan penderitaan orang lain.

[]

Sebuah Ketidakjelasan

“ENGGAK adil, deh. Coba dipikir. Kita enggak minta diciptakan, dilahirkan ke dunia ini dengan segala kondisinya. Ada yang sempurna, ada yang tidak. Ada yang cakep, ada juga yang jelek dari sananya. Ada yang terlahir di lingkungan baik, ada juga yang terlahir di keluarga sengsara. Kita bisanya terima-terima doang. Cuma waktu kepingin ‘pergi’ dengan cara kita sendiri, malah dilarang. Dibilang dosa, dan masuk neraka.

Bagi mereka yang memegang teguh sejumlah pandangan, pemikiran di atas sangat berbahaya. Jangankan dipikirkan atau dibahas lebih lanjut, kemunculannya saja sudah harus diwaspadai. Alih-alih ditangani sebagaimana mestinya agar tidak menyisakan gelisah dan rasa penasaran yang mengganggu, narasi di atas harus dihindari, dibuang jauh-jauh, atau ditekan habis-habisan. Singkat kata, hal ini salah dan terlarang.

Di sisi lain, apakah memungkinkan jika pemikiran tersebut dijadikan titik tolak untuk berpikir, merenung, berdiskusi, dan bersepakat lebih jauh? Bukankah manusia diciptakan dengan anugerah akal budi serta kemampuan berpikir dan menimbang, yang sejatinya dapat diberdayakan semaksimal mungkin demi kebaikan, kesejahteraan jasmani dan batin, ketenteraman, serta kearifan dan kebijaksanaan.

Menurut orang-orang yang agamais dan religius, pemikiran di atas dapat mengarahkan seseorang untuk mempertanyakan tuhan, rahasianya, dan kemahakuasaannya. Sikap yang berbahaya karena terkesan tidak hormat, bisa kualat dan diazab, mengarah pada dosa. Selain itu, meskipun kita telah jungkir balik menjalankannya, tetapi hidup dan kuasa kematian tetap merupakan milik tuhan. Menentangnya adalah sebuah kesalahan besar.

Menurut orang-orang yang patuh pada hukum positif, pemikiran di atas dianggap sudah mengarah pada tindak kriminal. Sejauh ini masih ada beberapa negara yang mengkategorikan perbuatan tersebut sebagai kejahatan, kendati ada pula yang sudah menempatkannya sebagai masalah psikologis dan sosial. Oleh karena itu, melalui prosedur dan pertimbangan legal yang cukup panjang, seseorang hanya bisa melakukannya atas keputusan persidangan. Itu pun harus dengan cara-cara manusiawi, bukan yang melibatkan rasa sakit.

Menurut orang-orang yang awam, yang hanya menjalani kehidupannya sebagai bagian dari keluarga dan masyarakat, pemikiran di atas akan menimbulkan kesedihan. Bukan sesuatu yang pantas diberi perhatian, apalagi dituruti. Lantaran dalam kehidupan sosial, tindakan ini dapat menyebabkan munculnya perasaan kehilangan, serta membebani mereka yang ditinggalkan.

… dan masih ada beragam sudut pandang lainnya, dan berujung pada kesimpulan yang sama.

Dengan demikian, manusia tak akan pernah benar-benar berhak atas kehidupannya sendiri sampai kapan pun. Di balik segala kemampuan dan pengusahaan hidup, manusia hanya bisa menjalankannya saja. Hingga perjalanan hidup tersebut berakhir dengan sendirinya, karena faktor-faktor yang berada di luar kendali.

Bagaimana dengan ini?

Noel Conway. Assisted dying.

Ada perbedaan sangat mendasar antara orang-orang yang ingin melakukannya untuk menghindari hidup, dengan orang-orang yang ingin melakukannya karena merasa telah mencapai dan memiliki segalanya dalam hidup. Termasuk memiliki umur sangat panjang, misalnya. Bosan hidup dalam arti sebenar-benarnya.

Perbedaan sangat mendasar pula antara orang-orang yang ingin melakukannya karena pengecut dan takut terhadap kenyataan hidup; dengan orang-orang yang ingin melakukannya karena egois dan semau-maunya sendiri; juga dengan orang-orang yang ingin melakukannya karena mementingkan orang lain dan beralasan tidak ingin menimbulkan kesusahan lebih lama.

Dalam situasi-situasi tertentu, ini bukan lagi sekadar perkara benar dan salah, atau boleh dan tidak boleh. Melainkan jadi satu pertanyaan filosofis: “Mana yang lebih baik?”

Mampukah narasi dan diskusi meredam obsesi?

[]

Agama dan Budaya: Kesalehan dan Keindahan

MARAH dan tersinggung. Inilah yang—lazimnya—terjadi pada seseorang waktu merasa agamanya dijadikan bahan kelakar. Baik oleh umat seagama, apalagi oleh orang-orang dengan keyakinan berbeda.

Demikianlah yang dirasakan Piers Morgan, seorang jurnalis kesohor Inggris, dan sebagian jemaat Katolik di seluruh dunia terhadap penyelenggaraan Met Gala 2018, 7 Mei lalu. Pasalnya, mengangkat tajuk “Heavenly Bodies: Fashion and the Catholic Imagination”, acara fesyen yang dianggap setara dengan Oscars atau Super Bowl-nya dunia mode kali ini terpusat pada simbol-simbol Katolik.

Dalam artikel protesnya yang penuh sinisme, Morgan kurang lebih bilang begini: “Tema Met Gala tahun depan adalah Islam. Para tamu bisa mengenakan busana pendek dan menggoda sebagai ‘penghormatan’ kepada Nabi Muhammad, cara berpakaian muslim termasuk hijab dan burka, serta kepada Alquran. Sedangkan Met Gala 2020 akan bertema Yahudi. Para selebritas dan model akan berpose dengan mengenakan baju serta pernik Yahudi, termasuk berpakaian seperti rabi, juga memakai kipah.

Jewish man wearing kippah.

Foto: YouTube

Morgan tidak terima ikon-ikon Katolik yang selama ini identik dengan kekudusan, ekspresi kesalehan, altar dan liturgi, diremehkan sedemikian rupa menjadi sekadar aksesori maupun penghias busana para bintang tamu—yang belum tentu saleh, dan seringkali digambarkan sebagai bintang hidup keduniawian. Intinya, mereka dianggap jauh dari kepantasan untuk mengenakan benda-benda tersebut. Terlebih beberapa di antaranya dibuat menyerupai barang aslinya, seperti mitre atau tiara paus.

Rihanna in Met Gala 2018.

Foto: New York Times

Yang membuat hal ini tidak sesederhana kelihatannya, ialah pemilihan simbolisme Katolik sebagai tema Met Gala 2018 bukan sekadar iseng atau sengaja cari masalah. Berawal dari pertemuan Andrew Bolton, kurator di Costume Institute at the Metropolitan Museum of Art (Met), dengan Uskup Georg Gänswein, kepala urusan rumah tangga kepausan, Mei tahun lalu. Mereka membincangkan gereja sebagai inspirasi keindahan bagi para perancang busana selama berabad-abad. Hasil akhirnya, tak hanya mendapat izin, Vatikan malah bersedia meminjamkan sejumlah artefak untuk dipamerkan.

Some of Vatican's artifacts in Met Gala 2018.

Foto: Daily Mail

Informasi lebih lanjut tentang Met, tujuan Met Gala, serta hal-hal terkait lainnya, termasuk mengapa dukungan dari Vatikan dalam penyelenggaraannya tahun ini begitu penting, silakan Google sendiri. Sebab bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan Linimasa hari ini, melainkan melihat bagaimana kebanyakan orang, terutama yang beragama dan mengaku saleh, menyikapi “kolaborasi langit dan bumi” semacam ini.

Bagi Morgan dan sebagian umat Katolik dunia lainnya, hal ini tentu tidak dapat diterima. Hanya saja, tidak sedikit pula yang tergerak, terkagum-kagum, dan dibuat takjub dengan hasilnya. Termasuk dari masyarakat umum.

Agama, budaya, dan keindahan.
Bagaimana menempatkan ketiganya?
Tak bisakah ketiganya dipadukan?

Dalam kasus Met Gala 2018, para penentang beranggapan bahwa agama (Katolik) semestinya tidak dicampurkan dengan ragam budaya hasil buah pikir manusia (mode busana), terlepas dari keindahan (visual) yang dihasilkannya. Proses pencampuran dan hasil-hasilnya akan dianggap sebagai penghinaan atas keagungan agama, serta bertentangan dengan cultural appropriation atau kepatutan budaya. Kendati sejatinya, institusi dan segala tata kelola agama yang ada hingga saat ini, terbentuk lewat pemikiran dan tenaga manusia pula. Dimulai dari konsep struktur agama, sampai susunan dan kumpulan kitab suci, disinggahkan dalam benak manusia.

“The church and the Catholic imagination—the theme of this exhibit—are all about three things: truth, goodness and beauty. That’s why we’re into things such as art, culture, music, literature, and, yes, even fashion.”

Cardinal Timothy Dolan, pemimpin Keuskupan Agung New York di Met Gala 2018.

Anggapan seperti ini bisa terjadi dalam ajaran agama apa pun. Bukan hanya Katolik, para muslim, orang Kristen, Buddhis, umat Hindu, Khonghucu, serta agama-agama besar dunia lainnya akan punya kecenderungan menolak akulturasi agama dan budaya. Padahal bagaimanapun juga, setiap ajaran agama tak akan lepas dari keindahan, dan keindahan justru merupakan salah satu bentuk kekaguman dan kecintaan terhadap tuhan yang mahakarya.

Singkat kata, segala sesuatu yang indah berasal dari tuhan, mampu menimbulkan perasaan menyenangkan bagi manusia, dan oleh sebab itu juga pantas didedikasikan kembali. Khususnya di bidang-bidang yang tangible atau konkret. Misalnya seni pahat, seni lukis atau kaligrafi, arsitektur, musik dan tari, seni busana, serta lain sebagainya. Entah itu patung “Pieta” karya Michelangelo, ketika batu yang padat keras bisa dibuat terlihat seperti daging dan kulit sungguhan, desain Candi Borobudur maupun Angkor Wat yang sedemikian megah, sampai karangan dan gubahan manakib yang dinyanyikan secara massal dalam setiap gelaran haul mendiang ulama bersangkutan. Tidak ada satu pun dari buah karya orang-orang hebat tersebut yang tidak indah.

Borobudur.

Foto: Kata.co.id

Di sisi lain, sebagai hasil dari buah pikir manusia, tidak tertutup kemungkinan ada pula budaya-budaya yang bersifat negatif dan merusak, tetapi kemudian disangkutpautkan dengan label agama demi penerapan yang lebih luas. Karakteristiknya saja sudah bersifat merusak atau destruktif, lalu di mana letak keindahannya? Apanya yang menenteramkan hati, dan bisa dijadikan pendorong untuk memanjatkan puji syukur kepada tuhan?

Salah satu contohnya, seperti yang terjadi Minggu dan Senin kemarin. Pantaskah “budaya” penghancur seperti itu dikait-kaitkan dengan pemujaan kepada tuhan?

Tuhan pun ogah kali.

[]