Bahagia Tanpa Banyak Alasan

“BAHAGIA itu sederhana, yang ribet itu kamunya.” Kalimat teguran ini sangat mudah dipahami, tetapi amat sulit dijalani. Sehingga kita cenderung menjauhkan diri kita sendiri dari rasa bahagia secara sengaja, lewat berbagai kondisi dan alasan. Kita adalah insan, subjek, yang ingin merasakan bahagia. Ada hal-hal penyebab munculnya rasa bahagia, baik (1) yang mesti kita kejar dan dapatkan,… Read More

Advertisements

Orang-orang kok pada tersinggungan, ya?

BOCAH laki-laki itu baru selesai dimandikan ibunya. Seperti biasa, perut, punggung, dan kakinya dibalur minyak kayu putih yang aromanya khas serta menghangatkan. Sang bocah lalu dipakaikan piyama; kaus berlengan panjang lengkap dengan celana panjangnya. Terakhir, wajah dan leher sang bocah diberi bedak bayi. Wangi, meskipun berlepotan sekenanya. “Biar enggak diculik genderuwo,” dalihnya. Padahal, mungkin memang… Read More

Bahagia Dicintai | Bahagia Mencintai

LENGKAPNYA, judul tulisan ini ialah: “Bahagia karena Merasa Dicintai | Bahagia karena Mampu Mencintai“ Relatif cuma sekutil perbedaannya, tetapi besar dampaknya. Sebab, banyak yang menganggap bahwa pemberian (setelah memberi) akan, pasti, bahkan mesti diikuti penerimaan (dengan menerima), dan begitu seterusnya menjadi semacam siklus. Terlebih dalam urusan cinta, yang sudah misterius semenjak tercipta. Cinta, katanya, bisa… Read More

Menjadi Terlupakan

BEBERAPA hari lalu, saya terpapar dengan syair berikut: “Kebahagiaan berasal dari niat untuk membahagiakan orang lain,penderitaan berasal dari niat untuk memenuhi keinginan diri sendiri saja.” Tanpa melihatnya sebagai sebuah pemikiran yang terlampau disederhanakan (oversimplification) dan rawan diselewengkan, saya cenderung setuju dua kalimat tersebut. Manakala dengan berpikir serta menumbuhkan niat untuk bisa membahagiakan orang lain saja,… Read More

Gara-gara Minggu Lalu

ADA beberapa pemikiran yang kembali mencuat sepekan terakhir. Bukan sesuatu yang benar-benar baru, atau belum pernah terpikirkan sebelumnya, tetapi kembali muncul dan sempat menyita perhatian dalam beberapa saat. Salah satunya, atau mungkin pemicu utama, yaitu gagal menikah dan terpaksa memundurkan waktu penyelenggaraannya. Selain menjadi saluran emosi, tulisan pekan lalu pada dasarnya juga menjadi semacam pemberitahuan… Read More

Harusnya Aku Menikah Hari Ini

HARUSNYA, sih. Sesuai tanggal yang sudah dibahas sejak setahun sebelumnya; tanggal yang diajukan ke Births, Deaths, Marriages (BDM) Victoria–iya, memang sengaja direncanakan dilangsungkan di sana, nanti bakal diceritakan sedikit soal kenapanya; tanggal yang akhirnya ditulis di kertas pengumuman dan disebarkan secara digital di awal Maret kemarin. Cuma, ya … begitulah. Australian border masih ditutup sampai hari… Read More

Meromantisasi, Mendramatisasi

SELEMAH-LEMAHNYA manusia, adalah manusia yang takluk mutlak pada perasaannya. Begitu perasaannya goyah, langsung lumpuh dan gagap, tak bisa menjalankan kehidupan sebagaimana mestinya, walaupun hanya dalam beberapa waktu. Bukannya salah, sih, atau menyatakan bahwa dengan tak berperasaan itu lebih baik. Melainkan bersikap waspada dan berhati-hati dalam mencermati sesuatu, melihat dengan apa adanya, bukan karena ada apa-apanya.… Read More

Pemberian yang Pantas

Saya selalu terngiang ucapan ibu saya; “Kalo mo ngasih orang, mbok yang pantes gitu, lho…” setiap kali saya ingin memberikan, atau bahkan baru berpikiran untuk memberikan sesuatu kepada orang lain. Entah itu berupa pakaian, hadiah, buku, terlebih makanan atau paket bahan makanan, maupun angpau pernikahan. Tak sekali dua kali beliau malah rongseng kalang kabut sendiri,… Read More

Punya Kesabaran Itu Privilege

KITA, sebagian besarnya, mengamini bahwa kekuatan terbesar seorang manusia adalah kesabaran. Seberat apa pun masalah dan alangan yang terjadi akan bisa dihadapi tanpa menumbangkan. Asalkan bukan berupa deraan fisik; bisa melukai, bisa mencederai, bisa mengancam keselamatan nyawa. Itu sebabnya, manakala ada keluarga, kerabat, teman, maupun rekan yang mengalami musibah, nasihat paling lazim yang bisa kita… Read More

Siap untuk Ditinggalkan (?)

ADA kabar yang tidak menyenangkan kemarin. Teman–sepasang suami istri muda–harus berpisah dengan anak pertama mereka; bayi yang telah dinantikan setelah beberapa tahun pernikahan; yang ucapan selamat atas kelahirannya baru saya sampaikan kurang dari sebulan lalu. Begitu mendapat kabar ini, saya kaget. Siapa yang tidak? Membuat saya tak sampai hati untuk bertanya mengapa dan apa penyebabnya.… Read More

Cucilah Piringmu Sehabis Makan

HAMPIR sebulan ini, dalam setiap harinya malah lebih sering mencuci piring ketimbang mandi. Bukan sekadar perkara lebih banyak atau lebih sering makan maupun menyeduh, melainkan relatif punya waktu yang lebih cukup untuk mengerjakannya segera, tidak perlu menumpuk dua atau tiga piring kotor terlebih dahulu, seperti sebelumnya. Sempat terpikir–sambil mencuci piring–mengapa saya jadi cenderung lebih rajin mencuci… Read More

Kebergantungan Kita Terhadap “Orang-orang Biasa”

PER hari ini, lepas dua pekan kita menjalani keseharian dan gaya hidup yang jauh berbeda dibanding sebelumnya. Perspektif kita diubah paksa oleh keadaan; melihat hal-hal yang sebelumnya terabaikan, mengalami hal-hal yang dahulunya tak begitu diacuhkan, menyadari bahwa hal-hal yang selama ini disepelekan ternyata amatlah penting. Setidaknya, penting untuk mempertahankan rasa nyaman, atau bahkan untuk mempertahankan… Read More

The Juxtaposition of Faith (?)

LANGSUNG saja. Di saat-saat genting seperti sekarang, perilaku manusia dalam konteksnya sebagai makhluk religius cenderung terbagi dua: Mereka yang berpaling KEPADA agama, dan yang berpaling DARI agama. Meski saling bertolak belakang, keduanya sama-sama didorong oleh ketakutan dan kekhawatiran, serta kepasrahan atau penerimaan nan dungu yang beda tipis dengan penyangkalan atau penolakan. Objeknya saja yang berbeda.… Read More

Kita Memang Hobi Ribut-ribut

SAMPAI saat ini, saya selalu “terkagum-kagum” melihat begitu melimpahnya tenaga, stamina, perhatian, dan waktu banyak orang–dan terkadang diri kita sendiri–untuk ribut-ribut. Baik yang kita mulai sendiri, atau yang bisa bikin kita ikutan. Banyak hal, atau bahkan hampir segalanya diributkan. Bukan lagi “mangan ora mangan ngumpul“, tetapi jadinya “ngumpul ora ngumpul ribut”. Dan boleh dibilang, ini… Read More

Bahagia itu (Masih) Sederhana, Katanya…

SUDAH enam tahun sejak tulisan pertama tentang ini ada di Linimasa, waktu saya masih di Samarinda; si anak daerah. Kemudian, hadir kembali dua tahun selepasnya, sebagai warga pendatang di Jakarta. Kota dengan kehidupan yang sempat bikin kaget, bahkan sampai sekarang. Ya … lantaran orang-orangnya, keseharian yang dihadapi, serta mengamati cara diri ini menanggapinya. Kini, rasanya… Read More