Menjadi “Perfeksionis” Itu Melelahkan

APALAGI yang terjadi di luar kendali dalam kehidupan sehari-hari, dan terasa amat sukar untuk diatasi.

Misalnya seperti beberapa kejadian berikut ini.

Pernahkah kamu mengalami ini? Sebelum berangkat pergi, kamu mengunci pintu kamar kos, pintu rumah atau apartemen dengan secermat mungkin. Kamu sudah tahu bahwa kunci pintu tersebut bisa diputar searah jarum jam maksimal dua kali.

Ctak! Ctak!” Penguncinya sudah mentok, dan anak kunci sudah tidak bisa diputar lagi.

Namun, untuk lebih memastikan lagi, kamu mencoba menekan-putar anak kunci, seolah-olah ingin memastikan kunciannya sudah betul-betul rapat.

Sekali, mentok.
Dua kali, mentok.
Tiga kali, mentok.
Oke, ini pasti sudah terkunci.

Kamu pun mulai berjalan. Entah ke garasi, ke tempat parkir, ke muka gang, atau ke ambang pintu eskalator. Siap bepergian, menjalankan agenda dan rencana yang sudah disusun sebelumnya.

Anehnya, belum seberapa jauh, mendadak sebuah keraguan menyeruak dalam benakmu. Seakan-akan ada yang mempertanyakan:

Eh, itu pintu tadi sudah dikunci belum, sih?

Tanpa memiliki masalah dengan ingatan atau kesadaran saat melakukan sesuatu, pertanyaan ini terus mengusik pikiran. Membuat perasaan tidak nyaman.

Benar, enggak, sih, tadi sudah dikunci rapat?”

Sungguh beruntung mereka yang tidak pernah mengalami keadaan seperti ini. Ketenangan dan ketenteraman sebagai berkah. Mereka tahu apa yang telah mereka alami, apa yang telah mereka lakukan, dan yakin bahwa semuanya sudah berjalan seperti yang telah terjadi.

Sedangkan bagi yang akhirnya kalah dengan kekhawatiran dan keragu-raguan–seringnya terkombinasi dengan rasa takut–tersebut, bisa bela-belain untuk putar balik, kembali ke depan pintu yang sama, dan mengulang ritual penguncian pintu tersebut. Bahkan seringkali ditambah dengan beberapa gerakan lainnya, yang bisa menyisakan sensasi fisik, yang niat awalnya berfungsi sebagai penanda bahwa apa yang telah terjadi memang benar-benar terjadi, bukan mimpi, atau halusinasi. Jika pintu telah dikunci, maka telah dikuncilah pintu itu. Tak perlu takut mendapatkan gambaran fiksi.

Tak hanya itu, dalam beberapa kasus “ritual” tambahan tadi harus berjalan dengan “sempurna”. Gerakannya harus mulus, tanpa interupsi yang menyela. Contohnya, pada saat pintu diayunkan menutup, tetapi tiba-tiba sempat tersandung sandal yang kebetulan diletakkan di dekat pintu, maka pintu akan kembali diayun membuka, dan “prosesi” mengayun menutup diulang sekali lagi. Lalu, setelah bunyi “klik“, anak kunci kembali diputar dua kali, dan lagi-lagi, mencoba untuk diputar mentok sampai tiga kali. Bisa juga diakhiri dengan menjentikkan jari, layaknya sebuah sentuhan penutup.

Aduh. Capek.

Mengganggu, melelahkan, dan terkadang bikin frustasi. Mengapa harus seperfeksionis itu?

Dengan termakan umpan rasa takut tersebut, ada waktu, tenaga, perhatian yang terbuang percuma. Menyita beberapa belas menit, ketika seharusnya sudah berada di tengah-tengah jalan raya, malah dihabiskan untuk kembali ke tempat semula, sebelum perjalanan dimulakan.

Itu baru pintu depan. Bagian paling akhir yang disentuh sebelum bepergian. Perasaan ragu, khawatir, dan takut serupa juga bisa menimpa pada segala aspek di dalam rumah atau tempat kerja.

Jendela kamar, pintu balkon, steker lampu, kompor (untuk yang satu ini memang harus ekstra hati-hati, sih), bahkan sampai posisi bantal dan guling setelah ditinggal bangun.

(GIF: Petra Švajger)
Kurang lebih seperti ini, dengan tempo lebih lamban. Foto: Konbini

Pada contoh lainnya–dan saya alami sendiri–ialah ketika mengetik. Termasuk saat menulis buat Linimasa kali ini.

Manakala salah mengetik, apakah itu kurang huruf, posisi huruf terbalik, terpencet, kesalahan karena mengetik terlalu cepat, atau sekalian ingin membalik posisi kata dalam sebuah kalimat, seseorang normalnya akan mengarahkan tanda kursor berkedip-kedip ke bagian yang ingin diperbaiki. Sementara saya, menghapus (menekan tuts backspace) kata yang salah tersebut beserta satu kata sebelumnya. Alih-alih memperbaiki huruf yang salah, saya justru mengetik ulang dua kata tersebut. Berulang-ulang di bagian yang sama. Merasa kurang pas sedikit saja, langsung hapus dua kata atau lebih dan mengetiknya ulang, persis sama kata demi kata. Begitu terus sambil diulangi, dan diulangi, bunyi susunan kata-kata tersebut pun kehilangan makna dan strukturnya.

Tak percaya? Coba saja cari kalimat pendek, dan baca terus menerus. Bunyinya, meskipun hanya dalam hati, lama-kelamaan akan memudarkan makna. Menjadikan mereka tidak lagi relevan dalam konteks apa pun.

Iya, saya sangat paham bahwa tindakan itu cukup membuang-buang waktu, apalagi saat dikejar tenggat. Hanya saja, kebiasaan itu sulit hilang. Juga termasuk saat menulis ini.

Bukan baru sadar belakangan ini, tetapi sudah berlangsung lama, lebih dari enam atau tujuh tahun lalu, waktu masih berprofesi sebagai wartawan dan redaktur harian di Samarinda. Lantaran acap kali teramat mengganggu, beberapa cara telah dicoba secara sporadis.

Mulai dari mencoba fokus, menempatkan kegiatan mengetik secara sadar (mindful), tetapi malah tercerap mengamati gejolak batin yang timbul; mencoba mengetik lebih perlahan, tetapi ide dan gagasan malah buyar tak beraturan; mencoba mengabaikan kesalahan-kesalahan yang terjadi, dengan pertimbangan nantinya akan melewati proses penyuntingan, tetapi tak bertahan lama. Sikap yang (sok) perfeksionis ini membandel, bertahan sampai sekarang,

Momen-momen bisa mengetik dengan lancar, cepat, dan relatif tepat kian jarang terjadi. Biasanya, setelah berganti tekstur dan keempukan papan kibor; mendapati meja dan kursi dengan sudut yang terasa pas; atau ketika semangat dan inspirasi menulis sedang deras-derasnya.

Saya menyerah sajalah. Yang pasti masih banyak hal-hal penting lain, yang lebih patut diperhatikan dalam menjalani hidup saat ini. Segala ketidaknyamanan dalam berkegiatan tetap bercokol di sana, menjadi benalu tanpa keterangan dan penjelasan. Sampai tanpa sengaja terpapar dengan artikel ini.

Image result for OCD typing animated gif
OCD typing. Foto: articles.aplus.com

Setelah membacanya, saya berusaha tidak ingin gegabah menyebut kebiasaan tersebut adalah gejala Obsessive Compulsive Disorder (OCD) Perfectionism. Kendati, tanda-tandanya kok ada yang bersinggungan?

Sebelumnya, sepertinya ada perbedaan cukup besar antara bersikap perfeksionis dalam konteks aktivitas keseharian ini, dengan bersikap perfeksionis dalam upaya menghasilkan sesuatu.

Bersikap perfeksionis saat memastikan pintu sudah terkunci dengan serapat-rapatnya sebelum pergi, ialah isyarat kepada diri sendiri bahwa: “Semuanya sudah berjalan dengan lancar.” Sedikit atau sesepele apa pun gangguan yang muncul, bisa menjadi pengacau kondisi “lancar” tadi. Begitu pula saat mengetik, yang entah bagaimana, menandakan bahwa otak dan pikiran kita “tidak mau” mempercayai apa yang dilihat mata, dan terbaca dalam hati.

Mengutip artikel tadi.

Unhealthy perfectionism tends to be high if your OCD symptoms revolve around checking. Specifically, if you do not feel you have perfect certainty that you have locked the door or turned off the stove, you might return to check these items over and over again. Tied to this is the excessive fear of making a catastrophic mistake, such as leaving the door open all day or burning down the house by leaving the stove on. Ironically, checking over and over again reinforces the idea that you are not perfect or possibly even “losing your mind.” This can make you feel even worse and less self-confident which, of course, sets you up to do more checking.

Jika kamu juga mengalami situasi yang sama, dan sudah di tingkat mengganggu, satu-satunya cara terbaik adalah dengan memeriksakannya secara proper. Pencarian artikel sebanyak apa pun, baru sebatas memberi pengetahuan baru, atau bias informasi.

Apalagi sejauh ini, penyebab utamanya belum bisa dijelaskan. Pendapat yang disarikan dari riset-riset baru mengklasifikasi faktor pemengaruh OCD. Yakni:

  • faktor genetik,
  • faktor autoimun,
  • faktor hormonal,
  • faktor neurologis atau saraf,
  • faktor kognitif
  • faktor lingkungan dan perilaku

Kalau sudah begini, kembali teringat ungkapan “tak ada yang sempurna“, sebab seberat-beratnya upaya yang dilakukan demi mencapai kesempurnaan tersebut, tetap saja merupakan hal yang rentan. Dicolek sedikit, bubar jalan, mesti diulangi kembali. Padahal, kehidupan ini tidak selalu ringan, lancar, dan mudah untuk dijalani. Jangan menambahkan siksaan.

Semoga kamu tidak mengalaminya, ya.

… dan mudah-mudahan, bisa dipatahkan semudah penjelasan di video ini.

“Debunking the myths of OCD”

[]

Advertisements

Membaca di Dalam Bus TransJakarta, dan Dua Orang Asing yang Saling Berbagi Cerita

HAMPIR pukul setengah sebelas, tadi malam, dan saya masih belum tahu ingin menulis apa untuk Linimasa. Namun, kesan yang tertinggal dari kejadian kemarin pagi tetap kuat terasa, karena merupakan sesuatu yang tidak pernah dialami sebelumnya.

Memanfaatkan waktu tempuh dalam perjalanan menuju kantor setiap pagi, saya terkadang membaca buku bila memungkinkan. Selama penumpang tidak terlalu berjejalan hingga berhimpit-himpitan, apalagi kalau sudah mengerti selanya, akan ada cukup ruang untuk mengangkat dan membaca buku di dalam bus TransJakarta, meski sambil berdiri dengan salah satu tangan memegang tali penyangga sekalipun. Ini sebabnya, saya lebih menyukai buku-buku edisi saku–sebenarnya hanya sedikit lebih kecil dibanding ukuran buku pada umumnya–yang lebih nyaman dibawa-bawa, serta cukup mudah saat membalik halaman-halamannya.

Kemarin, saya baru mulai membaca “1984” versi terjemahan bahasa Indonesia. Menaiki armada TransJakarta yang panjang dan terdiri dari tiga bagian, saya cukup nyaman berdiri dan bersandar di area sambungan yang mirip tarikan akordeon. Agak gelap, memang, tetapi setidaknya bisa memegang buku dengan kedua tangan.

Seperti biasanya, jumlah penumpang terus bertambah dari setiap halte, bikin makin sempit ditambah bau badan yang lumayan kencang. Lewat dari Halte Grogol 1, barulah situasi berangsur kondusif, dan saya bisa bergeser ke belakang bus mencari pegangan kosong serta meneruskan membaca.

“1984”

Melewati RS Sumber Waras, seorang penumpang yang duduk tak jauh dari posisi saya berdiri membuka maskernya lalu sekonyong-konyong berkata: “Baca ‘Nineteen Eighty-Four’ juga, ya?” sambil tersenyum dan menunjuk sampul depan buku di tangan saya. Sempat tidak menyadari ada yang mengajak bicara, saya copot salah satu earphone, buru-buru menjawab “iya”, dan langsung dia respons: “Bukunya itu bagus banget!” Ada buku Andrea Hirata bersampul hitam kuning yang ia pegang di atas pangkuannya; telunjuk kanannya terselip di halaman yang tampaknya tengah ia baca.

Perbincangan di antara kami, dua orang asing yang bahkan tidak menanyakan nama satu sama lainnya, terus berlanjut sekira 10 menit. Kurang lebih dari atas Flyover Roxy sampai akhirnya bus kami tiba di Halte Harmoni. Dia mengemukakan tentang betapa briliannya George Orwell, sang penulis, menggambarkan imajinasi mengenai masa depan manusia. Pendapat yang saya amini, lantaran Orwell sudah laiknya seorang futuris. Ia menggunakan cakupan perspektif dan wawasan seorang warga terpelajar London pasca Perang Dunia Kedua, tahun 1949, mencoba menerka apa yang akan terjadi 35 tahun ke depan lewat berbagai terpaan gejolak ekonomi politik pada manusia.

Pernyataan dan tanggapan terus bersambutan, dan begitu seterusnya. Dia menyarankan untuk lanjut membaca “Animal Farm”, novel legendaris lain yang berkutat pada sosialisme dan komunisme, yang kerap disandingkan dengan “1984”. Dia juga mengutarakan kekagumannya terhadap trivia mengenai Newspeak, salah satu objek minor cerita yang berkaitan dengan pola berbahasa dalam plotnya … serta masih banyak lainnya, sampai ia harus turun dan berganti bus, dan kita sama-sama mengakhiri obrolan dengan: “Nice talking to you…”

Dari sini, Jakarta ternyata tetap bisa menjadi kota yang membuat orang-orang asing, penghuninya, merasa baik-baik saja.

Satu hal yang menjadi penyesalan, saya lupa membuka masker di sepanjang pembicaraan.

Sungguh tidak sopan.

[]

Hidup: Koreksi Tiada Henti

DAN kalau tulisan-tulisan di Linimasa yang dulu-dulu kita remake lagi, setuju nggak?”

Itu kalimat penutup tulisan Mas Nauval, pekan lalu. Cukup menggoda untuk dilakukan, sih, tetapi saya ingin lebih melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Yaitu, paduan antara waktu yang bergulir, pandangan, dan penerimaan kita. Dalam konteks Linimasa–maupun tulisan-tulisan lain pada umumnya–yang terjadi bukanlah sekadar remake buah-buah pikiran, melainkan perubahan-perubahan yang saling berhubungan. Segalanya selalu direvisi, mengalami peningkatan dan perkembangan.

Remake tulisan bukan sekadar perkara menghangatkan sesuatu yang sama dari masa lalu, supaya tidak basi dan bisa dinikmati kembali oleh orang-orang yang berbeda. Pasalnya, sepanjang waktu yang berlalu sejak tulisan dan ide itu dituangkan pertama kali, pemikiran si penulis berubah, dipengaruhi kondisi sosial budaya di sekitarnya. Perikehidupan manusia dan masyarakat berubah cukup drastis.

Contohnya, dahulu para gadis dan wanita hanya bisa terdiam malu, menunggu untuk ditanya barulah bisa memberikan jawaban, itu pun secara terbatas, serta dianggap tak patut jika mengutarakan keinginan terlebih dahulu. Kini, semua perubahan yang terjadi terkait itu tak lagi dianggap keanehan semata, banyak yang bahkan membudayakannya, merayakannya. Maka segala ide dan tulisan berkenaan dengan hal tersebut, sudah semestinya ditinjau kembali. Mengalami proses sintesisnya lagi. Direvisi. Di-remake.

Remake tulisan pun bukan sekadar benar dan salah secara kaku; pemikiran yang sebelumnya salah, pemikiran yang sekarang benar, sehingga pemikiran yang sebelumnya harus dilupakan dan ditinggalkan sepenuhnya.

Rumus sederhananya, sebuah kesalahan barulah menjadi kesalahan ketika ada yang menyanggahnya, mengkritisinya atas dasar banyak hal. Dari sisi etika, manfaat, efektivitas dan efisiensi dalam kehidupan kita.

Maksudnya begini, kita akan sangat awam, abai, dan tidak tahu bahwa sesuatu itu keliru atau salah, sebelum ada argumentasi yang menunjukkannya demikian. Terutama terhadap aspek-aspek baru yang belum pernah terpikirkan dalam kurun puluhan tahun.

Contohnya, sampai lebih dari 20 tahun lalu, pendidikan formal di sekolah diarahkan untuk menghasilkan calon-calon tenaga kerja. “Bersekolah yang baik, cari kerja di tempat yang bagus, pastikan ada fasilitas pensiun, dan menualah dalam ketenteraman yang terjamin.” Itu sebabnya berbondong-bondong mencoba menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS, kini Aparatur Sipil Negara-ASN). Kemudian, sebuah pemikiran baru muncul yang mengedepankan pentingnya mengejar sang renjana, passion dalam berkarya. Ada yang awalnya menjadi seorang karyawan, cukup produktif dan berprestasi, lalu seakan-akan menemukan renjananya. Lewat pemikiran dan serangkaian pertimbangan, dia akhirnya memutuskan berhenti dari tempat kerja untuk berkonsentrasi pada usahanya. Dia mengambil langkah berani, melepaskan kenyamanan agar bisa berkembang lebih besar tanpa batasan. Namun, seiring berjalannya waktu, pasang surut dia alami. Ada masanya dia merasa tercekik, dan berandai-andai terhadap masa lalunya sebagai karyawan. Mungkin apabila masih bertahan, dia sudah menjadi seorang manajer, atau bahkan VP. Ada pelajaran baru tentang rencana, renjana, dan realita.

Dari ilustrasi di atas, ada proses koreksi internal di sana. Bukan semata-mata perkara ini benar, itu salah yang kaku. Lebih kepada pemahaman dan pengertian yang lebih luas. Mau jadi karyawan, pemberi pekerjaan, pekerja tunggal dan lepas, atau bahkan menjadi seseorang yang tidak ingin terikat dengan batasan-batasan berpenghasilan dan berpenghidupan, semuanya sah-sah saja. Kenyataan dan pengalaman hidup menjadi referensi dalam memilih langkah selanjutnya.

Selain tentang pekerjaan dan passion di atas, contoh-contoh lainnya bertebaran di sekeliling kita. Yang dahulu dianggap baik, ternyata belum tentu seterusnya baik di saat ini. Misalnya, dahulu: Menjadi religius itu dianggap baik; kini; Religiusitas cenderung konservatif dan membuta. Perspektif pembahasan tentang isu ini sudah melebar, aspek-aspeknya pun berjenjang lebih panjang. Tak bisa divonis semata-mata benar versus salah.

Ko Glenn pernah berbagi cerita, dan menuliskannya di Linimasa, beberapa tahun lalu. Salah satu hal yang dihindari lewat menulis di blog adalah konfrontasi dan klarifikasi. Rekam jejak digital yang bisa dibaca sewaktu-waktu membekukan pemikiran kita pada saat itu. Bisa saja saat ini, beberapa waktu selepasnya, kita sudah memiliki pandangan berbeda terhadap hal tersebut. Kita pun bisa dihadapkan pada pertanyaan: “Mengapa bisa berpikiran seperti itu?” Baik dari diri sendiri, maupun orang lain. Proses koreksi telah terjadi, kendati tak selalu dituangkan dalam tulisan kembali. Menghasilkan remake. Toh, keputusan untuk menulis revisinya atau tidak, sepenuhnya kembali kepada si pemilik pemikiran dan tulisan.

…dan demikian, kehidupan kita tak ubahnya sebuah rangkaian proses koreksi, revisi, termasuk remake tiada henti. Coba saja simak tulisan-tulisan sebelumnya di Linimasa. Hampir semuanya berkelanjutan, sebagai cerita, cerita yang melibatkan hati, pun sebagai topik-topik yang mencuat kembali.

[]

“Cowok itu, enggak mesti ganteng…”

“COWOK itu, enggak mesti ganteng. Enggak peduli umurnya sudah 30 tahun, kek, 40 tahun, kek, pasti tetap gampang kalau mau kawin (menikah). Yang penting mapan, duitnya ada, cukup buat ngapa-ngapain.”

Sepupu, wanita, ngomong begitu, kalau tidak salah ingat, sembari mematah buku-buku kaki kepiting masak saus Padang berukuran sedang untuk kemudian diisap daging yang ada di dalam rongga kakinya. Beberapa tahun lalu. Jauh sebelum saya pindah kota.

Ini tipikal pembicaraan yang mengumandang di atas meja makan setelah sesi makan malam bersama kerabat dan famili tanpa merayakan, atau memperingati sesuatu secara spesifik. Yang dibincangkan pun tidak jauh-jauh dari urusan manusia. Termasuk pekerjaan, hubungan berpacaran, pernikahan, suasana rumah tangga, hubungan orang tua dan anak, masa depan anak, kekayaan dan capaian-capaian sosial … orang lain, intrik-intrik internal, serta masih banyak lagi lainnya.

Saya berasumsi, barangkali sebagian orang di ruang makan waktu itu setuju dengan pernyataan tersebut. Tidak ada respons atau tanggapan khusus yang dilontarkan. Tidak ada sanggahan, tidak pula penolakan. Hanya kelihatan dua tante yang, entah, agak manggut-manggut sambil mengupas dan makan buah, mungkin relevan bagi mereka. Sementara saya sendiri, berdiri di salah satu sisi sambil memegang gelas berisi soda, terlampau kenyang untuk terlalu peduli dan menggubris percakapan lebih jauh. Hanya berceletuk sekenanya.

Bertahun-tahun sudah lewat, dan seringkali tercetus pertanyaan internal tentang (1) apakah para wanita memang serentan (vulnerable) itu? Terus-menerus diidentikkan dengan keterbatasan sosial, keterbatasan fisiologis, dan keterbatasan emosional.

Tentang keterbatasan sosial, meliputi;

– Apakah hanya wanita yang dituntut untuk selalu concerned atau “bersiaga” dengan penampilannya, tampilan fisiknya, atau riasannya di hampir sepanjang waktu, terlepas dari preferensinya? Sebelum menikah, setelah menikah, setelah punya anak, atau pun setelah menjadi ibu rumah tangga.

Berkebalikan dengan itu, apakah satu-satunya hal yang harus diprioritaskan para pria ialah cari uang, cari uang, cari uang, dan jadi kaya, supaya–setidaknya–bisa menikahi tanpa kesulitan, serta menjamin kehidupan yang stabil di masa depan?

– Apakah hanya wanita yang bisa “dinikahi”, mengambil posisi pasif sebagai pemberi jawaban? Tak bisakah wanita yang “menikahi”, menjadi yang mengajukan keinginan?

– Bagaimana seharusnya sikap dan posisi para wanita terhadap “kepatuhan”, “ketaatan”, dan “pelayanan” terutama dalam hubungan, atau pernikahan?

– Bagaimana seharusnya sikap dan posisi para wanita terhadap tuntutan sosial agar menikah dalam kondisi-kondisi tertentu (seperti menikah sebelum dianggap tua; menikah dengan seseorang yang socially acceptable; kemudian bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik tanpa menghabiskan waktu di luar rumah jauh dari anak; berkeinginan dan mampu memiliki anak; memberikan asi; dan seterusnya).

Tentang keterbatasan fisiologis, misalnya;

– Terlepas dari kondisi alamiah yang memang demikian adanya, mengapa para wanita harus terus terpapar dengan narasi “masa kedaluwarsa”? Apakah dalam pernikahan, semua wanita harus hamil dan memiliki anak? Intinya, kalau sudah “kedaluwarsa”, so what?

– Lagi, terlepas dari preferensinya, bagaimana seharusnya seorang wanita memandang dan memperlakukan tubuhnya, katakanlah setelah melahirkan? Dalam hal ini, tubuhnya tidak sekadar tampilan fisik, melainkan juga situasi hormonal, dan hal-hal terkait.

Tentang keterbatasan emosional, seperti halnya perkara-perkara berikut;

– Adakah atau bagaimanakah batas wajar bagi seorang wanita mengekspresikan perasaannya; menyimpan dan mengelola perasaannya, katakanlah, demi standar kepatutan? Lebih jauh lagi, apakah batas wajar tersebut diperlukan?

– Kemudian, apabila batas wajar tersebut tidak diperlukan, bagaimana seharusnya para wanita menyikapi tindakan dan luapan emosi yang meledak-ledak? Meluap begitu saja, dan menuntut untuk diiyakan.

– Apakah tepat bila wanita selalu diidentikkan dengan “makan hati”, “sabar menerima”, dan “menjalani tanpa menuntut apa-apa”?

– Bagaimana dengan dikotomi pria lebih kuat dari wanita, maupun sebaliknya? Lebih kuat menahan perasaan, contohnya.

(2) Apakah semestinya para wanita harus dipersepsikan bergantung kepada pria? Dalam banyak hal, mulai dari “ditembak” sebagai pacar; dilamar sebagai calon istri; semata-mata menjadi pengikut suami, bukan rekan bicara apalagi berdiskusi.

Mengapa persepsi ini dilestarikan? Diajarkan dan ditanamkan sejak usia dini, tidak hanya kepada bocah-bocah wanita, tetapi juga pria. Yang akhirnya terbawa sampai dewasa, menghasilkan wanita-wanita submissive dan pria-pria arogan atas kepriaannya.

Saking lestarinya pula, sampai menghasilkan wanita-wanita yang desperate ingin segera dinikahi seiring bertambahnya usia, dan pria-pria yang menganggap wajar jika istri memiliki kedudukan lebih rendah daripada suami. Sebab, toh, yang mereka butuhkan (untuk menikah) hanyalah punya uang dan kebugaran seksual.

Menjadi semacam rumus sederhana, wanita yang ngebet menikah + pria dengan toxic masculinity yang kadangkala ditambah dengan kedunguan = terjadilah pernikahan yang begitulah. Pada akhirnya cuma menghasilkan situasi “ditinggalkan”, dan/atau “tak berani meninggalkan.”

(3) Apakah menjadi sebuah pandangan yang bias, atau justru merupakan pendapat yang sexist ketika pernyataan di atas justru dilontarkan oleh sesama wanita?

Demi menghindarkan saya agar tak tergelincir melakukan mansplaining, hampir semua pertanyaan di atas hanya berhak dijawab oleh para wanita, dan/atau oleh sejumlah pria yang dinilai layak berbicara mengenai ini, serta dipersilakan untuk menjawabnya.

Oke, pertanyaan terakhir. Kalau kamu seorang wanita, apakah kamu setuju dengan pernyataan pertama di atas tadi?

Be my guest…

[]

“Berisik!”

NUN, empat biksu sedang berlatih bersama. Mereka berikhtiar menjalani meditasi dalam bisu atau tanpa bicara selama dua minggu.

Malam hari pertama tiba. Mereka melanjutkan meditasi, berusaha berkonsentrasi dan mawas diri dalam posisi bersila dengan diterangi cahaya lilin.

Semilir angin malam berembus. Tidak terlalu kencang, tetapi cukup kuat untuk membuat api padam. Hingga beberapa waktu kemudian, api lilin mati dan ruangan pun menjadi gelap gulita.

Related image
Foto: Buddha Eye Temple

Salah satu biksu sontak berucap: Yah… lilinnya mati.
Ditanggapi biksu kedua: Bukankah kita tak boleh berbicara, ya?
Biksu ketiga kemudian bergumam: Kalian berisik!
Terakhir, biksu keempat berbicara dengan nada bangga: Aha! Hanya saya yang tidak berbicara.


Bisakah kita melihat diri kita sendiri dalam salah satu kisah Koan* di atas? Apakah kita menjadi biksu pertama, kedua, ketiga, atau yang keempat dalam kehidupan sehari-hari?

Biksu pertama adalah orang-orang yang sekadar mengekspresikan perasaan terhadap sesuatu. Seringkali memberikan respons secara spontan, refleks, reaktif, bahkan eksplosif tanpa sempat dipertimbangkan matang-matang.

Biksu kedua adalah orang-orang yang terpancing memberikan respons terhadap tindakan biksu pertama, atau orang lain. Mengingatkan saya dengan tren gerakan “Sekadar Mengingatkan 🙏🏽” yang marak di media sosial akhir-akhir ini. Dengan mampu mengingatkan orang lain, mereka cenderung merasa sudah benar. Baik secara konten, yakni tentang hal yang mereka ingatkan, juga secara konteks, mengenai tindakan mereka yang mengingatkan orang lain.

Biksu ketiga adalah orang-orang yang merasa terganggu dengan kebisingan tersebut. Mereka tengah berupaya mencapai sesuatu, tetapi dalam prosesnya malah terpapar dan turut terusik dengan pertentangan yang berlangsung. Mereka pun cenderung merasa benar, lantaran melihat dua pihak yang lain telah berlaku salah. Tanpa sadar, mereka turut melakukan kesalahan.

Sementara biksu keempat adalah orang-orang yang merasa lebih unggul, merasa memiliki posisi argumentatif yang lebih baik dibanding kelompok-kelompok lainnya dengan berbagai alasan. Beberapa di antaranya seperti merasa lebih pandai, lebih bijaksana, lebih cerdas, lebih berilmu; lebih tangguh dan lebih tahan banting; lebih berkelas dan lebih sophisticated; termasuk juga merasa lebih religius dan saleh; lebih alim dan lebih rajin beribadah; lebih paham tentang peraturan-peraturan tata cara keagamaan, serta sebagainya.

Ilusi ego.

Bagi kita yang terbiasa melihat segalanya secara biner, hanya mengenal benar dan salah secara absolut, keempat biksu tadi gagal dalam ikhtiarnya. Mereka melakukan kesalahan, melanggar ketentuan yang telah digariskan atau disepakati akibat dorongan emosional dan ketidaktahuan mereka sendiri.

Biksu pertama melakukan kesalahan karena hanyut dalam gelombang perasaan. Sensasinya serupa dengan keceplosan, berceletuk, menyumpah, dan sejenisnya. Ada banyak orang yang masih bisa memakluminya sebagai ketidaksengajaan, tetapi ada juga banyak orang lain yang langsung terpancing atau tersulut menanggapinya (biksu kedua, biksu ketiga, dan biksu keempat).

Entah benar atau salah, demikianlah yang kerap terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Semua orang–termasuk diri kita sendiri–ikut berkoar-koar senyaring mungkin terhadap banyak hal, seakan-akan koar yang kita teriakkan ialah pembeda keadaan, sekaligus penyelamat orang lain. Sekali lagi tanpa menyadari bahwa justru akan menjadi sama saja dengan yang lainnya.


Kisah Koan di atas biasanya hanya diakhiri dengan celetukan biksu keempat, tanpa ada kelanjutannya. Mereka berempat sedang berlatih meditasi, dan sudah gagal di malam pertama atas kesalahan yang amat dangkal, amat sepele.

Padahal, mereka masih memiliki 13 malam berikutnya untuk terus belajar mengawasi batin dan diri sendiri, agar mampu hening, dan bertindak tanpa gejolak.

Begitulah. Pengertian tumbuh seiring berjalannya waktu dan sebanyak-banyaknya pengalaman.

https://scontent-atl3-1.cdninstagram.com/vp/7b855938b51b72d9d31e4369e8a585de/5D83CDF9/t51.2885-15/e35/59796849_298219671087879_3317711070926421868_n.jpg?_nc_ht=scontent-atl3-1.cdninstagram.com
Foto: Deskgram

[]

*Koan: Kisah ilustratif dan anekdotal untuk pemahaman praktik Zen, sebagiannya tercatat berupa peristiwa yang terjadi/dialami oleh para guru dan sesepuh, dan sebagiannya lagi bersifat teka-teki absurd.

Nasi Campur Babi

SAMA nama, beda rupa. Itulah yang terjadi pada Nasi Campur, hidangan yang cukup akrab terdengar di telinga orang Indonesia. Tergantung kotanya.

Lahir dan tumbuh besar di Samarinda, Nasi Campur awalnya saya kenali berupa sepiring nasi, dengan mi goreng, lauk utama ayam atau ikan goreng, Orek Tempe atau teri kacang, tempe atau tahu, kuah lodeh dan potongan nangka maupun sayur, serta sambal. Kurang lebih seperti itulah tampilan Nasi Campur Bu Sum di Jalan Kinibalu tak jauh dari kantor gubernur, yang ramainya ampun-ampunnya setiap pagi hingga lepas waktunya makan siang.

Nasi Campur Bu Sum. Foto: Foursquare

Nasi Campur dengan model seperti itu lebih mudah ditemui di Surabaya, juga di kota-kota Jawa Timur lainnya. Nyaris tidak ada di Jakarta, lantaran lebih sering disebut Nasi Rames.

Semenjak menetap di Jakarta, Nasi Campur justru lebih dikenal sebagai sajian berbabi. Tetap terdiri atas sepiring nasi, hanya saja dengan komponen lauk didominasi daging babi, pakai sedikit sayur. Sedangkan di Samarinda, hidangan seperti itu disebut Nasi Babi, atau malah Nasi Campur Babi sekalian. Itu pun dibawa dan dipopulerkan oleh warga pendatang asal Pontianak dan Singkawang. Kalau tidak salah ingat, saya pertama kalinya menyantap Nasi Campur Babi waktu masih SMA. Baru tahu ada menu seperti itu, lebih tepatnya. Yaitu Nasi Campur Babi ala Singkawang di Jalan Pulau Flores, bersebelahan dinding dengan tempat karaoke murahan yang terlalu sering memutar lagu dangdut, mirip Asmoro, bagi yang tahu.

Baru di Jakarta pula, saya mengetahui perbedaan mendasar antara Nasi Campur (Babi) ala Singkawang, ala Pontianak, dan ala Jakarta sendiri, yang sepintas terlihat seperti Nasi Campur ala Cantonese ditambah sate.

Nasi Campur ala Singkawang

Nasi Campur Babi ala Singkawang di Samarinda.

Dimulai dari Nasi Campur ala Singkawang yang saya santap di Samarinda beberapa tahun lalu, lauknya terdiri atas:

  • Daging panggang/charsiu, biasanya agak kering,
  • Sosis babi/lapchiong,
  • Babi kecap atau tulangan babi dimasak kecap, plus siraman kuahnya,
  • Pork belly/siobak,
  • Telur Pitan dipotong separuh,
  • Irisan mentimun,
  • Dihidangkan bersama semangkuk kuah kaldu encer.

Meskipun tidak ada komponen yang mendominasi (selain nasi), pastinya saya selalu menyisihkan siobak untuk disantap terakhir. Iya, ini karena lapisan kulitnya yang renyah.

Nasi Campur ala Pontianak

Nasi Campur Akwang. Foto: Webstagram

Berpatokan pada Nasi Campur Yung Yung 99 dan Nasi Campur Akwang, dua nama yang relatif sering saya makan karena promo online, lauknya terdiri atas:

  • Daging panggang/charsiu, lebih juicy,
  • Sosis babi/lapchiong,
  • Pork belly/siobak,
  • Telur Pitan dipotong separuh atau seperempat,
  • Irisan mentimun,
  • Ayam goreng,
  • Irisan sawi asin,
  • Potongan bawang putih goreng, lumayan banyak,
  • Dihidangkan bersama semangkuk kuah kaldu kental,
  • Khusus Yung Yung 99, juga ditambah semangkuk kuah phaikut sayur asin,
  • Khusus Akwang, tersedia dua jenis sambal; merah dan hijau. Lebih enak yang merah.

Konon katanya banyak banget di Krendang. Cuma, saya belum pernah keliling di sekitar sana. Nantilah, kapan-kapan. Yang jelas, baru pertama kali saya menemukan Nasi Campur (Babi) pakai ayam, rebus atau goreng basah.

Nasi Campur ala Jakarta (?)

Nasi Campur Kenanga. Foto: Nibble.id @franzeskayuli

Apakah benar ala Jakarta? Tidak tahu pasti, kecuali bertanya langsung kepada si pemilik restoran. Saya berkesimpulan demikian, setelah menemukan satu gerai Nasi Campur Babi di pujasera Mal Artha Gading yang membedakan menu Nasi Campur Pontianak, dan Nasi Campur saja.

… dan yang termasuk kategori ini ialah Kaca Mata, Nasi Campur Kenanga, beserta merek-merek sempalan maupun KW-annya.

Lauknya terdiri atas:

  • Daging panggang/charsiu, kadang lebih juicy, kadang malah disiram kuah atau saus agak kemerahan. Sejujurnya, ini kurang cocok di saya,
  • Sosis babi/lapchiong,
  • Pork belly/siobak,
  • Telur Pitan dipotong separuh atau seperempat,
  • Irisan mentimun,
  • Satu tangkai sate babi,
  • Dihidangkan bersama semangkuk kuah phaikut sayur asin,
  • Khusus Nasi Campur Kenanga, juga ditambah potongan khekian dan siomai babi rebus.

Dalam hal ini, tidak perlulah berbicara tentang mana yang autentik di antara ketiganya. Sebab dalam sejumlah versi lain, Nasi Campur Babi turut menghidangkan bagian-bagian jeroan. Kemudian, Nasi Campur Babi disajikan di atas nasi putih biasa, bukan nasi ayam atau Nasi Hainan. Beda lagi, misalnya, dengan Nasi Campur Bali.

Toh, bagi saya, semuanya enak, kok. Apabila punya rekomendasi, tolong dibagi, ya.

[]

Jenama Agama dan Strategi MarComm-nya

MERUPAKAN salah satu topik yang paling sensitif sepanjang masa, setiap orang memiliki kadar kenyamanan berbeda-beda saat membicarakan tentang agama. Ada yang saking santainya, bisa mengutarakan sesuatu tentang agama seringan obrolan sambil ngopi dan ngudap pisang goreng. Sambil tertawa-tawa.

Namun, tampaknya ada lebih banyak orang yang menganut prinsip Agama jangan dibecandain…” meski ada yang pakai embel-embel tambahan Terutama agamaku. Kalau agama yang lain… terserah, deh. Itu sebabnya, kaitkan saja sesuatu–nyaris apa saja–dengan agama, pasti bisa menarik dan mendapatkan perhatian dalam kelipatan eksponensial, bahkan berbuah tindakan.

Jadikan ini saja, deh, sebagai, contoh, biar lebih “aman”.

Bayangkan bila figur Buddha diganti dengan tokoh spiritual dunia lainnya, atau, dari agamamu.
  • Seseorang berpindah agama. Apalagi dia figur publik, entah apa pun alasan dan latar belakangnya. Heboh.
  • Pernikahan berbeda agama, kelahiran anak, dan urusan masa depannya. Heboh.
  • Perkara kehidupan sosial bermasyarakat, dan kebisingan. Heboh. 
  • Situasi ekonomi, termasuk orang-orang yang berkenaan dengannya. Heboh.
  • Terkait politik, mulai dari persaingan kubu, manuver biar rame, sampai Pilpres. Heboh.
  • Hingga teori konspirasi, yang meskipun asal comot, tetapi tetap diiyakan banyak orang setelah disangkutpautkan dengan agama. Hal-hal yang sejatinya remeh dan bisa dikesampingkan begitu saja, malah ikut jadi sorotan. Heboh.
Foto: SMCP.com

Ialah prinsip dasar komunikasi; pesan disampaikan demi mencapai sebuah tujuan. Dalam konteks soal topik agama tadi, baik penyampai maupun penerima mungkin mempunyai tujuannya masing-masing. Beberapa di antaranya, barangkali seperti ini.

Tujuan PenyampaiTujuan Penerima
– Ingin para pendengarnya mengetahui, dan memahami sesuatu
– Ingin agar para pendengarnya menjadi lebih dekat dengan agama, dan lebih banyak melakukan hal-hal baik. 
– Ingin dipercayai, agar lebih mudah dalam menyampaikan pesan berikutnya; dan agar para pendengar menuruti/melakukan yang dia utarakan. 
– Sekadar ingin melakukan kebaikan, atau yang menurutnya adalah sebuah kebaikan.
– Ingin tahu, ingin belajar, dan ingin memahami
– Ingin menjadi/termasuk/terkesan sebagai orang-orang religius (baca: saleh). 

Mengapa agama bisa menjadi “bungkus” komunikasi gagasan yang efektif? 

Exposure, alias keterpaparan. Macam dalam standar marketing communication. Dalam penyampaiannya, banyak orang yang terpapar secara terus-menerus tanpa merasa terpaksa atau terganggu. Tanpa sadar, ide, gagasan, dan siapa pun yang terkait isu tersebut akan melekat dalam benak pirsawannya. Termasuk orang tua, keluarga, tetangga, rekan kerja, dan masyarakat di sekitar keseharian kita. 

Konsepnya serupa brand exposure demi popularitas. Makin sering sebuah isu dikemukakan, makin tertanam dalam benak khalayak, makin menggoda untuk ditanggapi. Baik berupa tanggapan internal (ikut merasa dongkol, kesal, sebal, marah, lucu, sedih, bersemangat, dan sebagainya), maupun tanggapan eksternal (ikut dibicarakan atau disuarakan kepada orang lain, mencari dan berhimpun dengan orang-orang yang sepemikiran, membenci dan gusar dengan orang-orang yang berbeda pandangan, termasuk berbalas komentar di media sosial, dan sebagainya). 

Efek bola salju. Makin heboh sebuah isu, makin banyak orang yang penasaran dan ingin mencari. Ini pun menjadi peluang bagi para penyedia konten digital untuk berlomba-lomba berburu klik–upaya monetization, menghasilkan uang lewat dunia maya. 

Isu agama tak ubahnya jadi jenama. Ada nilainya, diukur dengan satuan rupiah lewat prinsip media brand value. Karena itu, makin sering sebuah topik mencuat, makin tinggi nominalnya. Popularitas setara angka uang yang mesti dibayarkan dalam keadaan normal (netral, tidak populer). 

Begini ilustrasinya. Deddy Corbuzier berpindah agama. Tak hanya berprofesi sebagai bintang layar televisi, sosoknya sendiri sudah cukup kontroversial dan menjadi pembicaraan nasional. Banyak portal berita online yang memberitakannya, terbagi dalam tiga fase: 

  1. Sebelum berpindah agama
  2. Prosesi berpindah agama
  3. Setelah berpindah agama

Katakanlah, Detik adalah salah satu portal berita yang aktif memberitakannya. Readership atau tingkat keterbacaannya cukup tinggi–anggap saja seratus pembaca setiap menit. Selanjutnya, total ada 25 artikel terkait perpindahan agama tersebut, menampilkan tulisan “Deddy Corbuzier” di judul serta paragraf pertamanya. 

Mari kita berhitung. Dengan readership mencapai seratus pembaca setiap menit, Detik memasang banderol Rp100 juta per tulisan (semacam patokan tarif, dikenakan kepada merek-merek yang ingin memuat artikelnya di sana). Dengan demikian, media brand value khusus untuk “Deddy Corbuzier berpindah agama” di sana sudah senilai Rp2,5 miliar! Belum lagi dari media-media lain. Nilai ini bisa saja lebih tinggi dibanding topik-topik Deddy Corbuzier lainnya, semisal “Deddy Corbuzier tantang Kapten Vincent”, “Deddy Corbuzier alami cedera punggung”, atau “Cara Deddy Corbuzier merawat kulit kepala”, dan seterusnya.

Tak tertutup kemungkinan readership-nya bisa lebih tinggi lagi, dan jumlah artikelnya pun terus bertambah, lantaran topik yang diberitakan adalah seorang artis berpindah agama. Bisa bercabang ke mana-mana. Itu pun belum ditambah topik-topik lapis kedua maupun ketiga, yang bagi banyak orang tak kalah menariknya (baca: memicu rasa kepo lebih lanjut). Contohnya: “Siapa guru mengaji Deddy Corbuzier?”, “Apakah anak Deddy Corbuzier juga akan berpindah agama?”, “Apakah Deddy Corbuzier sudah bersunat?”, atau bahkan “Inilah gaya Deddy Corbuzier mengenakan baju koko.”

Sampai ada tagar khususnya, lho: #Deddy Corbuzier Mualaf.

Coba saja kalau seluruh warganet Indonesia cuek bebek dengan urusan kepindahan agama si Deddy Corbuzier, tidak ada kehebohan khusus, media massa online pun cenderung sepi dari pemberitaan tersebut. Suasanya jadi berbeda.

Ya, begitulah. Semua berbau agama, dan tak kurang-kurang contoh lainnya.

Minat seseorang, atau sebagian orang Indonesia, terhadap topik-topik menyangkut agama memiliki spektrum yang luas. Mulai dari rasa terganggu hingga mudah tersinggung; mulai percaya buta tanpa kemampuan berpikir kritis hingga sikap reaktif. Salah satunya seperti:  

  • Langsung memberi komentar berapi-api terhadap sesuatu yang dilihat di media sosial, walaupun baru hanya membaca judul tanpa memahami keseluruhan konteksnya. 
  • Langsung forward atau meneruskan sebuah pesan panjang di grup WhatsApp hanya karena memuat ayat-ayat agama, tanpa sepenuhnya menyimak isi serta konteks yang disampaikan.

Kenapa bisa begitu? Karena berhubungan dengan agama. Apalagi kalau sesuai dengan pandangan yang bersangkutan. Jadinya “auto berisik”.

Entah disadari atau tidak, mereka pun bertindak tidak adil. Mereka menyebarkan sebuah narasi, tetapi setelah narasi itu terbukti bohong, mereka justru senyap dan tidak menyebarkan klarifikasinya. 

Kenapa bisa begitu? Karena sang penyampai pesan sebelumnya, telah berhasil membuat mereka percaya; membentuk perilaku dan respons batin mereka; atau bahkan melakukan brainwashing kepada mereka, menjadikan mereka tidak mau/tidak mampu/merasa tidak perlu untuk berpandangan kritis terhadap apa pun yang disampaikan. Juga tak tahu malu!

Foto: Twitter @incitu

Anehnya orang-orang Indonesia belakangan ini, ketika kita bersikap biasa saja, atau justru cenderung kritis terhadap narasi-narasi agama, kita bisa dianggap tidak saleh, berpotensi menjadi pembangkang religius, atau bakal jadi ateis sekalian. 😅 

Melihat ini, tuhan geleng-geleng kepala di “sana”. Ikut malu, barangkali. 

[] 

Menjual Agama Lewat Rasa Takut dan Keinginan-keinginan

TERDAPAT sebuah model pemasaran yang memanfaatkan sisi lemah dan rapuh psikologi manusia: Emosi atau perasaan. Model ini dinamakan BJ FOGG Behavioral Model atau cukup populer dengan sebutan B=MAT, yang kurang lebih demikian.

BJ Fogg Behavior Model

Secara sederhana, model ini menggambarkan bahwa setiap orang berpotensi menjadi konsumen, asal terpapar dengan pendekatan yang sesuai. Penjual pun tak sekadar menjadi pemenuh permintaan di pasar, tetapi justru menciptakan permintaan di pasar walaupun produk tersebut belum tentu benar-benar diperlukan (terlepas dari kualitas produk itu sendiri).

Motivation: Hal-hal yang mendorong
Ability: Fitur-fitur yang memperkuat dorongan
Trigger: Momen-momen yang memperkuat urgensi

Apa yang terjadi ketika model ini dipadukan dengan upaya penyebaran agama? Jualan. Agama jadi objek jualan.

Seharusnya. Foto: daaji.org

Tanpa disadari, banyak orang yang menjual agama dengan metode serupa. Bukan sebagai objek konsumtif melainkan komoditas nominatif, agama disodorkan lewat impian yang diidam-idamkan, maupun ketakutan. Dari situlah permintaan dibuat, dari sesuatu yang awalnya tidak ada atau tidak terpikirkan, menjadi sesuatu yang digandrungi dan dikejar-kejar. Macam seorang downline MLM yang berupaya sekuat tenaga agar bisa tutup target point.

Apa tujuannya berjualan agama? Mendapatkan tambahan sumber daya manusia. Dari situ, semuanya bisa dihasilkan. Cadangan tenaga kerja dan massa; cadangan dana. Makanya, semua pemuka agama ingin agar jumlah umat terus bertambah, bukan malah berkurang.

Sila intip: “Kenapa Anak-anak Harus Beragama yang Sama dengan Orang Tuanya?”

Barangkali nyambung

Bagaimana alurnya? Mencari pengguna baru (acquisition), dan mempertahankan pengguna lama (retention).

Bagaimana caranya? Papar-pukau-pikat. Sampaikan hal-hal yang belum pernah diketahui sebelumnya; yang mengejutkan; yang menggentarkan; yang menakutkan. Kebetulan agama selalu bersifat absolut, hanya ada benar dan salah secara mutlak. Tidak ada ruang abu-abu, sehingga semua orang yang masih berpikiran abu-abu merupakan sasaran. Baik sebagai calon kawan untuk disadarkan, atau sepenuhnya lawan.

Motivation

Dalam konteks B=MAT, motivasi lebih berupa tujuan atau kebutuhan spesifik yang mendorong keinginan seseorang. Termasuk di dalamnya, kesenangan dan ketidaksenangan; untuk memperoleh hal-hal yang menyenangkan, atau menghindari hal-hal yang tidak menyenangkan. Harapan dan ketakutan.

Merasa menjadi seseorang yang alim dan lebih baik, memberikan perasaan menyenangkan. Merasa menjadi seseorang yang sangat berdosa (perasaan tidak menyenangkan), dan ingin tobat agar merasa bersih kembali (perasaan menyenangkan).

Ingin bisa masuk surga dan segala keuntungan tambahannya, atau takut masuk neraka setelah meninggal.

Komik siksa neraka yang legendaris. Saya pun punya. Foto: YouTube

Ability

Cepat, mudah dan gampang, tidak merepotkan. Tak perlu ada proses konsultasi yang berhari-hari, maupun serangkaian jadwal kelas pengajaran dasar-dasar agama demi memastikan niatan seseorang menjadi religius, dan seterusnya.

Pada saat seseorang melakukan kesalahan, cukup bertobat dan memperbanyak perbuatan baik. Niscaya ada pengampunan atau keringanan hukuman, sebab dia sudah religius.

Bagaimanapun juga, yang terpenting adalah kecepatan dan kemudahan. Kalau bisa, sesuatu yang memberikan efek instan. Berikut ilustrasinya.

Bagi seseorang yang sedang mengalami rentetan kesusahan; kebingungan tanpa pegangan dan resah, agama dipasarkan sebagai sesuatu yang mereka butuhkan. Sesuatu yang bisa menenangkan jiwa, mengangkat perasaan tidak menyenangkan yang berasal dari masalah-masalah hidup.

Trigger

Banyak hal yang bisa dikondisikan untuk memacu seseorang. Dalam konteks agama, kemukakan dan sangkut pautkan semua hal yang berkaitan dengan masa depan, apa pun itu namanya. Nubuat wahyu, ramalan, janji, kiamat, dan sebagainya.

Beberapa contoh yang telanjur populer sejak beberapa abad lalu: kiamat sudah dekat, dajal segera muncul di bumi, setan dan pasukan Antikristus. Semua itu menarik perhatian dan berkesan di hati, kendati narasi-narasi tadi selalu tanpa bukti faktual nan konkret. Kebanyakan hanya berupa teori konspirasi dan pencocok-cocokan secara serampangan, lalu sukses menghimpun kepercayaan banyak orang. Segalanya seolah-olah terkait, dengan keterkaitan yang disutradarai oleh iblis itu sendiri. Berbeda dengan dampak sampah plastik dan perubahan iklim (Climate Change), misalnya, yang bisa dilihat oleh mata kepala sendiri.

Selebihnya, tulisan-tulisan seperti ini pun bisa digunakan untuk memperbesar urgensi. Membuat isu tersebut terkesan semakin darurat, lantaran setan dan seluruh pasukannya terus melakukan cara mengelabui manusia. Membuat manusia ragu-ragu, hingga kehilangan kepercayaannya terhadap agama.

Di mana-mana, selalu ada saja.

Setan adalah musuhnya agama, jadi, sesuatu yang tidak sejalan dengan agama, atau bahkan mempertanyakannya sedikit saja, adalah hasil kerjaan setan.

Agama menurut siapa? Agama menurut sang tokoh yang menyampaikannya, yang berjualan.

Dengan demikian, tak usah heran bila agama makin menjadi komersial. Bukan lagi ajaran atau jalan hidup, melainkan sumber penghasilan yang mengatasnamakan tuhan.

Yaudasik

[]

Menertawakan (Hidup)

SAMA seperti menguap‒ketika kita tak kuasa menahan dorongan untuk membuka mulut lebar-lebar, menghirup udara sebanyak-banyaknya‒tertawa itu menular, secara besar-besaran pula. Apalagi kalau suara tawanya begitu renyah, bebas, lepas, atau terdengar lucu dan menggemaskan, selucu dan semenggemaskan balita yang melakukannya, yang tanpa sadar membuat hati kecil kita agak iri: “Aku mau dong bisa segembira itu juga…

Begitu kita mendengar dan terpapar nuansa tawa tersebut, kita setidaknya bakal ikut tersenyum. Spontan dan alamiah, seakan-akan turut menikmati berkah keceriaan yang sejatinya ditumpahkan kepada orang lain. Saking spontannya, kita seringkali ikut tertawa kecil tanpa (perlu) tahu apa penyebabnya. Yang terasa hanyalah suatu hal yang menggelikan bergejolak dalam dada, yang susah kita tahan berlama-lama.

Untungnya, selain kemampuan merasa geli dan tertawa, kita juga telah dianugerahi dengan kemampuan berpikir. Itu sebabnya kita bisa mengenali tawa seperti apa yang berasal dari kegembiraan, dan yang justru merupakan tanda kekejaman serta kekejian seseorang. Untuk urusan yang satu ini, manusia sudah mahir semahir-mahirnya dengan kemampuan yang tumbuh dan terus berkembang seiring pertambahan usia.

Menertawakan dan ditertawakan.

Terakhir, dan sekaligus yang terpenting, tertawa sanggup meringankan atau bahkan mengangkat beban batin maupun pikiran yang sedang mendera kita. Hanya saja tidak mudah. Tertawa itu sejatinya gampang dan sederhana. Namun, makin berat masalah yang kita hadapi, kita makin sukar untuk berpikir sederhana. Ngarahnya ke yang njelimetnjelimeeet melulu… Jangankan tertawa, menyadari bahwa kehidupannya terus bergulir saja mungkin agak susah. Tahu-tahu waktu sudah jauh berlalu, dan membuat makin bingung, makin tertekan, makin tak tahu harus melakukan apa.

Bisa jadi benar kiranya, orang-orang yang mudah dibuat tertawa sungguhan, bukan tertawa palsu demi adab sosial, adalah mereka yang mudah pula dibuat merasa bahagia. Perasaan bahagia di tingkat paling dasar. Ibarat bayi yang terpingkal-pingkal saat melihat dan mendengar kertas dirobek.

Greseeek…

Ehehehehehehehehehe…

~~~ Tak usahlah menirukan suaranya di dalam hati; cukup dibayangkan saja suaranya. Pejamkan mata, bila perlu. Pasti pernah dengar suara bayi tertawa, kan? Tertawa yang saking kencangnya, sampai-sampai bikin mereka tertawa sambil menghela napas. Kelelahan. Sesuatu yang melelahkan, tetapi terasa menyenangkan.

Play to brighten your day.

Ngomong-ngomong, kapan terakhir kalinya kamu‒yang sudah dewasa‒tertawa terpingkal-pingkal seperti balita yang kamu bayangkan tadi? Apa waktu hari raya atau libur panjang kemarin? Asal tertawa yang benar-benar lepas, lho, ya, bukan tertawa yang nyaring doang bareng teman satu geng setelah ngomongin orang. Tertawa yang cuma berisik, tetapi di hati malah berasa kosong dan palsu kemudian.

Ya… whatever. Itu tadi tentang orang-orang yang mudah dibuat tertawa, yang konon katanya paling sulit untuk direkrut menjadi pelaku terorisme. Lagipula, buat apa menjadi pelaku terorisme, kalau dalam kehidupan kesehariannya sudah dipenuhi kegembiraan yang bikin raut wajahnya selalu kencang, dan memancarkan aura kegembiraan. Aura yang biasanya bertahan hingga seseorang tua, lanjut usia, parasnya meneduhkan. Cuma, kebetulan saja kalau ybs sudah tua, giginya sudah ompong juga. Menjadikan wajah senyumnya makin lucu… dan lagi-lagi, kita pun bisa ikut-ikutan tersenyum hanya dengan membayangkannya.

Kendati sebaliknya, seseorang yang mudah membuat orang lain tertawa malah belum tentu berbahagia. Tahu, kan, perbedaannya. Dibuat dan membuat; yang melakukan atau yang memunculkan penyebabnya, dan yang mengalami dampaknya.

Demikianlah.

Seandainya memang begini adanya, puji syukur ke hadirat tuhan yang mahalucu, humoris, dan mahabesar hati sampai-sampai sudi menciptakan manusia dengan kemampuan tertawa sedemikian rupa, serta mahabaik untuk bisa bersama-sama menertawakan semesta beserta seisinya. Termasuk dirinya sendiri.

Maka, tertawalah.

Jikalau tidak bisa, cobalah untuk mulai tertawa kembali.

Asal jangan sampai lupa caranya.

Kita, tampaknya, tidak butuh nyimeng untuk bisa geli cekikikan sendiri saat melihat yang ada di sekeliling kita.

[]

Mensyukuri dan Menikmati Penderitaan Orang Lain

SAAT berjalan kaki di trotoar dengan paving block bolong-bolong, tiba-tiba ada motor berknalpot bising yang ngebut serampangan. Menyisakan asap putih tebal berbau sisa pembakaran bensin yang khas.

Penumpangnya ada tiga, remaja semua, tanpa helm, dan berteriak sambil tertawa-tawa. Tanpa peduli pengendara lain maupun para penyeberang jalan, mereka selalu ngegas dan ugal-ugalan. Bising, serampangan, dan memusingkan.

Selewatnya mereka, kita merasa terganggu. Muncul rasa tidak senang, bahkan benci di dalam hati. Dorongan utamanya, entah karena kita lihat kelakuan mereka yang serampangan; melaju dan bikin kaget; ada banyak peraturan lalu lintas yang dilanggar; bisingnya suara knalpot yang memekakkan telinga; atau karena kita memang tidak suka saja.

Di ujung persimpangan jalan, ternyata ada polisi yang berjaga. Kaget tetapi tidak bisa menghindar dan salah berbelok, motor tersebut oleng. Jatuh dan meluncur di atas aspal, pengemudi dan dua penumpang sial tadi tersungkur dengan lecet di beberapa bagian tubuhnya.

Teriakan “MAMPOOOS LO!” spontan terdengar dari arah depan, dekat lokasi kejadian. Tanpa sadar, kita juga ikut membatin macam “KAPOK!” atau “SOKORIIIN!” Terkesan ada kegembiraan‒atau lebih tepat berupa kegirangan‒yang diluapkan saat mengucapkannya. Seakan-akan itu sesuatu yang sangat menyenangkan, dan sudah dinanti-nantikan sebelumnya.

Marah yang ingin banget diluapkan.

Contoh di atas menunjukkan adanya kemalangan, sebuah kecelakaan. Tatkala dilihat dari akibat yang terjadi dan siapa yang mengalaminya, para remaja ugal-ugalan tadilah yang bisa disebut sebagai korban. Bukan kita, meskipun sudah merasa sebal dan terganggu saat berjalan kaki; apalagi para warga yang menghamburkan sumpah serapah tadi. Tanpa kita sadari, ungkapan “Mampus!” tadi, atau yang kadang ditambahi menjadi “Mampus lu!” menunjukkan bahwa kita ingin mereka meninggal; menunjukkan bahwa kita berpandangan mereka pantas meninggal saat itu juga.

Apakah dengan demikian kita adalah seseorang yang mengharapkan dan menikmati penderitaan orang lain?

Di sisi lain, apakah kita telah menjadi seseorang yang mampu menilai pantas tidaknya orang lain mengalami kemalangan‒atau sebut saja ganjaran‒dalam hidupnya.

Dalam perspektif yang berbeda, kita kerap terpaku pada pembagian benar dan salah. Dalam contoh kasus di atas, para remaja pengemudi motor ugal-ugalan tadi diposisikan sebagai yang salah. Orang-orang lain, termasuk kita yang merasa terganggu, otomatis memposisikan diri sebagai yang tidak salah.

Sayangnya, dengan menganggap diri sebagai pihak yang tidak salah, mudah sekali membuat kita merasa sebagai pihak yang lebih baik, lebih unggul, dan lebih pantas ada dibanding lawannya. Kembali pada contoh di atas, kita dan sejumlah warga merasa pantas melontarkan sumpah serapah, bahkan sampai mendoakan terjadinya keburukan bagi pihak yang salah. “Mampus lu!”

Haruskah kita merasa biasa-biasa saja dengan sikap yang demikian? Ketika tanpa sadar kita terus-menerus memikirkan hal-hal buruk, mengucapkan hal-hal buruk, sampai ikut melakukan tindakan-tindakan buruk, dan menganggap semua itu wajar-wajar saja dengan dalih “mereka pantas menerimanya” atau “kesabaran itu ada batasnya”?

Susah, sih. Memang.

Okelah, contoh kasus di atas barangkali terlampau sepele, tidak begitu penting. Namun, bagaimana bila kasusnya adalah tabrak lari? Atau perkosaan? Atau penyiksaan anak-anak? Atau anak yang berbuat amat kasar terhadap orang tuanya? Atau korupsi? Beragam hal yang seolah-olah bisa bikin hati kita ikut panas.

Akankah doa kita dikabulkan? Doa yang dipanjatkan karena marah dan benci, doa yang mengharapkan orang lain celaka.

Akankah dikabulkan?

Mohon maaf lahir batin.

[]

Hati Sebagai Tempat Berteduh dan Berdiam

KETIKA kita ingin pindah rumah atau tempat tinggal, salah satu proses yang paling menyita perhatian dan melelahkan adalah penyortiran barang. Demi kebaikan diri sendiri, kita harus memilih, menentukan, lalu memutuskan. Jika tidak, bukan hanya kerepotan, terlalu berat, dan membuat tempat baru yang semestinya lapang menjadi sesak, sehingga mengulang kesumpekan yang sama.

Berpindah tempat tinggal seringkali bukan sekadar pergantian lokasi. Bisa menjadi titik mula, awal yang baru, atau bahkan hidup yang sepenuhnya berbeda. Oleh sebab itu, dari sekian banyak barang yang telah kita peroleh, kita kumpulkan, kita simpan, dan kita pertahankan di balik dinding rumah selama ini, harus ada yang kita tinggalkan. Bukan lantaran ingin kita lupakan, tetapi, ia seakan-akan bergelayut di kaki kita; menghalangi kita untuk terus melangkah ke depan. Terkadang kita justru diseretnya mundur.

Ia–semua barang tersebut–tak lagi tepat untuk selalu kita bawa ke mana-mana.

Foto: Pexels

Demikian pula hati. Jika diibaratkan sebuah tempat hunian, hati kita lebih mirip sebuah tenda. Portabel, bisa dipasang dan dilepas di mana saja, dan selalu kita bawa sewaktu berpindah dari satu titik ke titik yang lain. Apabila tenda (hati) itu kita tinggalkan, kita pun menjadi seorang tunawismarasa. Jiwa yang menggelandang tanpa keteduhan.

Setiap titik perhentian, tempat kita bertahan, berhenti untuk sementara waktu, berdiam, dan mendirikan tenda (hati), merupakan fase-fase dalam hidup kita–karena kita menJALANi hidup; karena hidup adalah sebuah perjalanan dengan sejumlah persinggahan.

Sewaktu bertahan dan berdiam, kita membentuk, merasakan, dan meringkuk dalam lingkar kenyamanan kita sendiri. Dalam zona nyaman tersebut, kita terbuai, menolak dan mengingkari kenyataan bahwa segalanya pasti berubah (dan karenanya, perubahan yang datang pun akan terasa lebih mengguncang dan menggetarkan).

Kala perubahan terjadi, titik singgah kita saat ini akan ditinggalkan. Cepat atau lambat, kita harus kembali mengemas tenda (hati) beserta isinya. Lagi-lagi, apakah semuanya akan dibawa?

Foto: Removers.org.uk

Mau berapa banyak yang akan dibawa serta?

Mengapa?

Setiap orang memiliki pandangan dan pertimbangan yang berbeda-beda. Namun, mereka yang cermat dan sigap–biasanya tertempa pengalaman-pengalaman tidak menyenangkan, bisa langsung menentukan apa saja yang bakal dibawa beserta tenda (hati) dalam perjalanan menuju titik singgah berikutnya. Perhatian dan tenaga mereka pun disimpan secara efisien, agar mereka tidak dibuat repot oleh hal-hal yang sejatinya sepele. Sebab, walau bagaimapun juga, kehidupan akan terus berjalan.

Kedewasaan dan kebijaksanaan seseorang tumbuh seiring berjalannya waktu. Ada satu momen ketika kita akhirnya memiliki daftar berisi “hal-hal yang penting” dan “hal-hal yang tidak penting” bagi hidup kita. Isi setiap bagiannya selalu berubah. Ada yang bertambah, ada yang berkurang. Semua yang ada dalam daftar “hal-hal yang penting” pasti kita prioritaskan. Apa saja misalnya, keluarga, orang tua, hubungan asmara, karier, gaya hidup, kepemilikan dan harta, nama besar, popularitas, hubungan sosial, kenikmatan seksual, penghormatan, waktu yang leluasa, anak-anak, pencapaian pribadi, ego, dan masih banyak lagi lainnya. Pasti kita bawa menuju titik singgah berikutnya.

Foto: Storage Monkey

Saat ini, cobalah tengok sejenak daftar-daftar tersebut. Lihat isinya sekejap. Apakah isinya sudah pas, atau ada yang perlu digeser? Setelah itu, bayangkan hal paling mengejutkan, paling liar, atau paling tidak terbayangkan sebelumnya.

Andai apa yang kamu bayangkan tadi terjadi di kehidupan nyata, memaksamu untuk berpindah dari zona nyaman (membongkar tenda [hati] dan isinya), apakah kamu mampu menjejalkannya, memanggul semua isi dalam “daftar hal-hal penting” itu? Atau malah terbebani oleh itu semua?

Supaya dapat berjalan lebih lancar dan ringan, seseorang terkadang perlu meninggalkan begitu banyak hal. Meski harus terasa tidak menyenangkan.

…dan kehidupan pun terus berjalan, bagi kita, dengan hati sebagai tempat bernaung.

[]

Hidup yang Lapang, Lega, dan Leluasa

RINGAN dan enteng. Perasaan yang selalu kita dambakan dalam hidup ini, baik batin maupun jasmani. Siapa saja yang pernah merasakan beban berat dan dibuat susah karenanya, pasti akan bisa menghargai dan mensyukuri keadaan ketika beban tersebut menjadi tiada. Perasaan ringan dan enteng itu kemudian berubah menjadi kelapangan, kelegaan, dan keleluasaan untuk melihat serta bergerak lebih bebas. Menghadirkan kehidupan yang berbeda.

Foto: Anthony Tran

Yang harus kita lakukan seringkali sesederhana pilah lalu tinggalkan, sebab tak semua hal sepenting itu untuk terus dipikul ke mana-mana. Hanya saja, seberat-beratnya beban fisik, lebih berat lagi beban mental. Beban fisik berupa benda; bisa diangkat sendiri atau bersama-sama. Dapat dilihat, dan dapat dinilai oleh orang lain. Jika sudah tidak diperlukan atau dapat ditinggalkan, cukup diletakkan begitu saja. Bahkan bisa saja langsung dibuang sebagaimana mestinya.

Berbeda dengan beban batin yang gaib, tak kasatmata, dan kerap justru lebih membahayakan dibanding benda nyata. Beban batin belum tentu bisa dibagi. Saat ada keinginan untuk membaginya pun, mesti tetap berlaku hati-hati supaya tidak tambah sakit hati. Apabila tidak tepat, beban batin yang niat awalnya ingin dibagi tersebut bukannya menjadi ringan, malah bertambah berat.

Di antara berbagai cara yang biasa kita lakukan untuk membagi dan mengurangi beban batin, salah satu yang paling digemari adalah menyalahkan dan memojokkan diri sendiri. Padahal, beban batin itu bukannya berkurang, melainkan hanya dialihkan ke kompartemen ego yang berbeda. Ada kompartemen yang dipenuhi puja puji, ada pula kompartemen untuk kehinaan diri.

Jikalau orang-orang yang terlalu positif atau terlampau percaya diri selalu mencari—bahkan mirip kecanduan—validasi orang lain atas keberhasilan serta pencapaian-pencapaian dalam hidup mereka, menyalahkan dan memojokkan diri merupakan kebalikannya 180 derajat. Berupa validasi negatif. Mereka ingin diiyakan sebagai seseorang yang paling malang, paling kurang, paling tidak berkualitas, paling tidak berguna, dan sebagainya di seluruh dunia. Seolah-olah ada kenyamanan ego yang mereka peroleh dari validasi negatif tersebut.

Salah satu ciri khasnya adalah kemampuan melihat segala hal secara negatif. Dalam sebesar atau sekecil apa pun suatu kebaikan maupun prestasi yang diperoleh, selalu saja ada nada sumbang yang dilontarkan. Terhadap hal ini, sebenarnya terdapat dua sudut pandang berbeda. Dari si pengucap, dan para pendengar.

Dengan terus berupaya mendapatkan validasi negatif atas apa pun yang telah mereka capai atau lakukan, si pengucap ingin menunjukkan bahwa dirinya tidak cukup pantas; biasa-biasa saja; atau terkesan berusaha ingin bersikap rendah hati—meskipun kebablasan, dan pada akhirnya malah ditangkap sebagai kesombongan terselubung.

Sedikit banyaknya, kita pernah bersikap begini, atau mungkin terus berlangsung sampai sekarang. Tanpa sadar, dan terus mengakar kuat.

Foto: Lesly Juarez

Kembali ke pilah lalu tinggalkan. Tak ada yang benar-benar penting untuk dibopong ke mana-mana. Maka, alami sesuatu, dapatkan pengalaman dan kesannya, kemudian tinggalkan. Tidak perlu disanjung-sanjung maupun direndah-rendahkan sendiri.

Hidup minimalis; hanya mengisi hidup dengan hal-hal yang sungguh penting, dan berguna dalam kurun waktu lama. Dibutuhkan kebijaksanaan dan kedewasaan. Yang tumbuh, bukan muncul begitu saja. Demi kehidupan yang ringan dan enteng, lapang, lega, serta leluasa.

[]

Tutur Bahasa Indonesia Nan Adiluhung … atau Ambigu?

SETIAP orang Indonesia yang sudah cukup dewasa dan tidak punya masalah komunikasi lisan tampaknya akan selalu memiliki kemampuan ini; memahami maksud tersembunyi lewat pesan yang tak diucapkan secara terang-terangan.

Jadi semacam rahasia umum, atau kesepakatan bersama, bahwa ketika seseorang mengatakan sesuatu, yang dia inginkan sebenarnya ialah sesuatu yang berbeda. Kita pun akhirnya ikut terbiasa, lantaran terus-menerus terpapar dengan pola seperti ini, dan justru turut paham pesan yang disampaikan. Terutama berupa ungkapan-ungkapan khas.

“Tolong kamu apakan dulu itunya biar dia bisa bagaimana lah. Tolong, ya.”

Saat mengutarakan ini, tentu terikat pada konteks tertentu yang berlangsung saat itu. Kalau tidak, semuanya bakal berantakan dan menjadi tak jelas arahnya; apanya yang diapakan, supaya tidak bagaimana?

Ada tingkat kepercayaan diri‒atau beda tipis dengan arogansi‒yang tinggi ketika seseorang mengucapkan celetukan ini, yaitu bahwa kepada siapa pun pesan ini ditujukan, yang bersangkutan haruslah paham dan langsung mengerjakannya. Tanpa perlu bertanya ulang, meski sekadar memastikan.

“Tahu sama tahu.”

Ada asumsi dalam pernyataan ini, bahwa semua pihak yang terlibat dalam pembicaraan sudah memiliki pemahaman yang sama terhadap sesuatu. Selaras antara yang diminta, dan yang bisa diberikan, tanpa keberatan, tanpa sanggahan, tanpa penolakan. Menjadi semacam kode universal, tanpa mempertimbangkan kemungkinan adanya ketidakcocokan, perlunya penyesuaian, dan perubahan lebih lanjut.

“Ya begitulah…”

Begitu yang gimana? Entah apakah pihak pendengar yang harus menebak sendiri, atau pihak penyampai yang malas menjelaskan lebih jauh?

“Pokoknya beres.”

Pernyataan ini pada dasarnya disampaikan untuk memberi dan mendorong rasa tenang, atau rasa terjamin terhadap sesuatu kepada si penerima pesan. Maksudnya adalah, tidak perlulah pusing, cemas, khawatir, atau bersusah payah memikirkan sesuatu bakal berjalan lancar dan baik atau tidak. Percayakan saja, dan semuanya pasti sesuai keinginan.

Masalahnya seringkali ada pada kesamaan standar dan kesepahaman mengenai capaian yang diinginkan. Beres menurut seseorang, belum tentu sama beresnya menurut orang lain. Dengan demikian ada reputasi yang dipertaruhkan, sebab ucapan ini diucapkan oleh si pelaksana, yang mengerjakan sesuatu tersebut.

“Tolong dikondisikan.”

Setiap kali mendengar ungkapan ini, saya langsung bertanya dalam hati tentang kondisi seperti apa yang diinginkan oleh si pengucap? Apakah bersifat positif atau negatif? Apakah berupa tindakan tertentu, atau justru harus disikapi dengan tindakan khusus?

Mempertanyakan kembali kondisi “kondisi” yang diinginkan pada saat ini disampaikan, dapat menimbulkan kesan ketidakmampuan memahami maksud sejak awal. Bisa juga dibarengi sentimen ketidaktepatan dan ketidakcermatan saat menjalankan tugas. Mau tidak mau harus mampu paham dalam ambiguitas dan ketidakjelasan.

Pada saat ungkapan ini disampaikan, sebenarnya wajar bagi siapa pun yang mendengarnya untuk bertanya-tanya apakah si pengucap memang sedang hemat bicara, atau malah juga tidak paham apa yang sebenarnya dia inginkan.

“Bisa kurang lebih lah.”

Seberapa jauh batasnya? Sesedikit apa kurangnya, dan sebanyak apa lebihnya? Lagi-lagi, kedua pihak sebaiknya memiliki pengertian yang sama, demi menghindari perselisihan lebih lanjut. Karena bagaimanapun juga, diperlukan negosiasi yang gamblang untuk mengetahui titik tengah bagi semua pihak.

Di pasar atau pusat perbelanjaan umum, persoalan kurang lebih bisa dibantu dengan nominal angka. Namun, untuk perihal yang lain, tetap ada kemungkinan ketika sedikit menurut satu pihak, tetapi masih kebanyakan menurut pihak lainnya.

“Atur aja…”

Memiliki karakteristik yang agak berbeda dibanding yang lain, ungkapan ini menunjukkan sikap keterserahan. Bukan pasrah, melainkan kesediaan aktif untuk menyerahkan atau mempercayakan penanganan dan penyelesaian sesuatu kepada orang lain.

Dalam situasi tertentu, ungkapan ini juga bisa mengesankan keinginan untuk tidak mau repot, tinggal menunggu dan menerima hasilnya. Termasuk di dalamnya kecenderungan untuk tidak ambil pusing, dan tidak terlalu mau tahu dengan metode maupun cara yang digunakan.

“Mohon kebijaksanaannya.”

Sisi ambiguitas dari ungkapan ini terletak pada seberapa bijaksana kedua belah pihak dalam masalah yang terjadi? Meski terdengar seperti sebuah permintaan pasif, akan tetapi pada dasarnya terdapat ekspektasi atau keinginan yang harus dipenuhi.

Setiap orang bertindak dengan, dan memiliki tingkat kebijaksanaan yang berbeda. Bijaksana bagi seseorang, belum tentu menyenangkan atau sesuai keinginan orang lain. Pasalnya, ada banyak hal yang patut dipertimbangkan bila terkait dengan kebijaksanaan. Sikap bijaksana itu adil, jelas, objektif, dan tidak bias. Dengan demikian, dalam banyak situasi kita bisa melihat bahwa ungkapan ini lebih condong kepada sebuah permintaan yang didasari pada aspek-aspek subjektif. Termasuk mengkamuflase emosi dan simpati.


Di era ini, kala segalanya bertambah laju dan kencang, tak semua orang memiliki ketahanan dan kemampuan untuk mengikuti alur pembicaraan. Baik yang berupa basa-basi berkedok sopan santun dan tata krama, maupun bahasa-bahasa bersayap yang tersirat.

Sementara keseharian kita sudah sedemikian melelahkan, rasanya terlalu berharga memboroskan stamina maupun tenaga untuk munafik dan berpura-pura.

[]