Spark firework

Ribet Tak Usah Dicari

TAK kenal maka tak sayang, setelah kenal kok malah jadi bajingan?

Banyak dari kita yang pernah, atau tengah merasakan situasi ini. Sebab manusia dengan segala dimensi perasaannya, pasti cenderung tidak netral saat menghadapi sesuatu dalam kehidupannya.

Ada sesuatu yang diharapkan dari seseorang, atau suatu keadaan. “Mudah-mudahan nanti begini“; “semoga nanti begitu“; dan sebagainya. Di sisi lain, ada keraguan dan kekhawatiran baik kepada seseorang yang sama maupun berbeda. “Kenapa begitu, sih? Jangan-jangan…“; “khawatirnya, dia nanti begini…

Tanpa banyak disadari, dua aspek yang saling sebelah-menyebelah ini merupakan sumber kekecewaan. Dari kekecewaan berkembang menjadi kesedihan, ketidaknyamanan, ketidakterimaan atau penolakan, ratapan, penyesalan, atau penderitaan secara umum.

Sekarang, ingin melakukan pendekatan model apa? Yang lebih berorientasi pada diri sendiri, atau justru terfokus pada yang lain?

Pada Diri Sendiri

Kita, diri sendiri ini, adalah subjek sekaligus objek harapan, kekhawatiran, dan kekecewaan. Kita yang menjalani dan terlibat dalam segala prosesnya, kita jugalah yang mengalami hasilnya. Hal-hal yang berada di luar sana merupakan pengkondisi, komponen-komponen yang memberikan stimulus, dan memengaruhi ke mana arah penerimaan kita. Hingga akhirnya, kita sendirilah yang “memutuskan” (secara sadar atau tidak) ingin menerima dan menyikapinya seperti apa.

Pada saat kita memilih untuk berorientasi pada diri sendiri demi menghindari segala hal-hal di atas, maka secara garis besar kita tidak membiarkan diri ini digoyang ke sana kemari oleh perasaan sendiri.

Mustahil memang, untuk sepenuhnya kebal atau tidak takluk terhadap perasaan. Namanya saja sudah “rasa”, sedikit banyak pasti meninggalkan kesan bagi kita selaku penderita. Namun, jangan lupa, “rasa” dan penerimaan kita terhadap “rasa” juga dipengaruhi oleh lingkungan, serta pembiasaan.

Contohnya, kita cenderung terbiasa meratap saat kehilangan. Tak hanya kehilangan sesuatu yang kita usahakan atau hasilkan sendiri, melainkan juga kehilangan sesuatu yang sebenarnya kita peroleh sebagai pemberian. Bukan benar-benar milik kita, tidak sepenuhnya dimiliki oleh kita.

Pada yang Lain

Dari judulnya saja, jelas perspektif ini berorientasi pada segala sesuatu yang berada di luar diri kita. Alih-alih menata respons batin dan pikiran, kita berusaha agar semua hal bisa berjalan dengan baik sesuai keinginan–meskipun tidak ada jaminan bahwa keinginan kita pasti berujung baik. Harapannya, apabila berjalan sesuai gambaran atau kehendak, setidaknya bisa merasa tenteram, tanpa perlu khawatir lagi. Padahal, hidup terus bergulir. Satu urusan kelar, pasti akan muncul urusan berikutnya.

Lantaran berorientasi pada hal-hal lain di luar diri sendiri, pendekatan ini tentu lebih melelahkan fisik dan batin. Setiap dari kita yang mengusahakannya, harus mengalokasikan tenaga, perhatian, sumber daya, dan ketabahan dalam menjalaninya. Lagi-lagi, kita mengerahkan segenap hal, mengupayakan agar semua yang berhubungan dengan kita dapat sesuai harapan. Tatkala gagal dan berjalan di luar rencana, kita kembali harus mengalokasikan tambahan tenaga, perhatian, sumber daya, dan keteguhan baru dalam menghadapinya. Intinya, lebih melelahkan. Walaupun kebanyakan orang malah lebih memilih yang ini, dibanding pendekatan satunya.

Ya sudah. Apa yang terjadi pada mereka dan objek-objek lain di luar kita, terjadilah. Tak perlu ngoyo. Ibarat memencet klakson sekeras dan selama mungkin saat gerbong kereta sedang melintas. Sampai jari pegal atau klakson meledak sekalipun, Anda tidak akan bisa bergerak. Justru dilihat aneh dan mengganggu orang lain, dan andaikan Anda tetap memaksa lewat, selamat bertaruh pakai nyawa. Silakan. Suka-suka Anda sajalah. Kurang lebih seperti itu.

Meminjam perspektif Schopenhauer–filsuf pesimisme–kita, manusia, mustahil bisa terpuaskan. Terhadap keinginan-keinginan yang selalu memenuhi ruang batin kita, akan muncul polemik. Ketika kita mencapainya, kita bisa merasa bosan dan excitement atau kesenangannya dapat menurun; tetapi ketika kita gagal mencapainya, kita dilanda kekecewaan. Manusia, menurut filsuf yang lebih sayang anjing pudelnya ketimbang manusia-manusia lain itu, akan selalu berayun antara penderitaan (akibat tidak mendapatkan yang diinginkan) dan kebosanan atau kejenuhan. Di sisi lain, kita pun cenderung selalu dibuat resah oleh diri sendiri. Resah karena akan selalu muncul keinginan-keinginan baru, bahkan saat keinginan-keinginan sebelumnya masih menggantung.

Dipenuhi tumpukan keinginan yang entah bagaimana atau kapan bisa tercapai, silakan dibayangkan seperti apa rasanya menjalani kehidupan yang begitu? Maka, kita memerlukan keterampilan menyikapi dan menjalani hidup. Banyak pilihannya, mau menggunakan sudut pandang agama, kepatutan sosial, etika dan moralitas, dan sebagainya. Dua pendekatan di atas, hanya sekelumit dari beragam pilihan yang tersedia.

Tak kenal maka tak sayang. Setelah kenal pun tidak mesti harus sayang.

Setelah kenal kok malah jadi bajingan? Bajingan terhadap siapa? Apakah dia menjadi bajingan bagi dirinya sendiri; bagi orang lain; atau bagi dirimu? Lalu, apakah dia menyadari dan memandang dirinya sendiri sebagai bajingan? Apakah orang lain juga merasa dan memandangnya sebagai bajingan? Apakah kamu merasa dan menganggapnya sebagai bajingan? Kalau iya, mengapa kamu memberikan kesempatan padanya untuk bisa menjadi bajingan? Kesempatan, bisa berupa penerimaanmu sendiri terhadapnya, atau keteledoranmu untuk jatuh dalam kebajinganannya.

[]

Advertisements
Silent

Mendingan diam, deh…

MARI bersepakat terlebih dahulu, bahwa kebaikan dan kebijaksanaan berada pada tataran yang berbeda.

Secara mendasar, kebaikan–perbuatan baik dan berbudi–diarahkan untuk “kebaikan”, kesejahteraan, ketenteraman, dan perasaan suka cita orang lain, yang kemudian baru turut berdampak bagi diri kita sendiri. Karena itu, sebutan “orang baik” disematkan kepada seseorang yang telah memberikan atau melakukan sesuatu bagi kepentingan penerimanya.

Sedangkan kebijaksanaan diposisikan lebih mendalam, yaitu pemahaman yang utuh dan benderang terhadap sesuatu sebelum diperbuat. Menghasilkan kearifan dan kecermatan bertindak, demi kebaikan yang terbaik, dan relatif tidak bercela.

Dengan batasan tersebut, so-called “berbuat baik” belum tentu terhitung bijaksana. Hal yang menyenangkan di awal, mungkin saja memiliki potensi efek balik yang negatif. Sebaliknya, kebijaksanaan pasti membawa dampak baik, bahkan berlaku secara menyeluruh dan berorientasi jangka panjang. Meskipun bisa terasa tidak menyenangkan pada mulanya.

Yang baik belum tentu bijak.
Yang bijak pasti baik.

Kebaikan dan kebijaksanaan menyoroti aspek-aspek berbeda, pun menggunakan sudut pandang yang tak sama. Salah satunya, kebaikan cenderung bersifat monokromatis, hanya terdiri dari dua sisi absolut. “Memberi itu baik, memberi itu benar; tak memberi itu tidak baik, tak memberi itu salah.

Sementara kebijaksanaan meliputi spektrum yang lebih luas. Setiap tindakan diambil berdasarkan latar belakang, alasan, serta sejumlah pertimbangan. Dampaknya bukan sebatas yang terjadi saat ini saja, tetapi juga dipersiapkan untuk mengantisipasi segala hal yang bisa terjadi nanti. “Pemberian itu tepat, pemberian itu tidak tepat; tak memberi itu tepat, tak memberi itu tidak tepat.

Berikut adalah beberapa contohnya dalam bentuk ucapan, yang kerap kita temui dan rasakan sendiri, atau justru kita yang menyampaikannya kepada orang lain.

“Sekadar mengingatkan…”

Merasa telah melakukan sebuah kebaikan kepada orang lain, padahal lebih sarat kesan narsistiknya. Menganggap diri sudah lebih baik, lebih unggul, lebih signifikan, dan lebih sadar (dibanding orang lain), dan terjebak ilusi tanggung jawab moral untuk menjadi pengingat dan penyelamat kehidupan.

Entah disadari si pengucapnya atau tidak, ungkapan ini bisa terdengar sebagai sebuah ancaman alih-alih menasihati atau memberitahu.

“Ya kalau bukan saya yang mengingatkan, siapa lagi?”

Masih banyak yang lebih berhak atau berwenang. Orang tua, saudara, keluarga sendiri, seseorang yang dipercaya, dokter, psikiater, psikolog, guru, pemuka agama, dan sebagainya.

Terlepas dari urusan identitas, kita masih sama-sama manusia biasa.

“Tujuannya, kan, baik…”

Baik menurut siapa? Sesuatu yang kamu anggap baik belum tentu benar-benar baik. Semua orang memiliki pandangan, latar belakang, pendekatan, dan penilaian masing-masing. Maka, seyogianya, jangan paksakan ukuran kebaikan menurutmu kepada orang lain.

Tidak menutup kemungkinan pula, ungkapan ini diutarakan menyusul pernyataan yang manipulatif. Sebuah apologia untuk sesuatu yang belum tentu benar. Pasalnya, kekeliruan tetaplah merupakan kekeliruan. Biarpun dimanfaatkan dan dieksploitasi sedemikian rupa untuk mencapai tujuan tertentu, tetap saja bukan sesuatu yang patut dilakukan.

“Tuh, benar, kan yang aku bilang…”

Iya, benar, kok. Terima kasih sudah mengingatkan dan memberitahu, karena benar-benar terjadi seperti yang sudah disampaikan. Namun, kalau ternyata tidak benar dan tidak sesuai dengan yang kamu sampaikan sebelumnya, bakal bagaimana?


Ungkapan di atas terkesan baik-baik saja, sih? Hanya saja, apakah bijak ketika kita lontarkan? Apalagi tanpa mempertimbangkan keadaan orang lain.

Bagaimana pula jika kita yang mendapatkannya? Bisakah kita terima?

Apabila polemik ini semata-mata karena masalah komunikasi dan penyampaian, maka, mulailah belajar memperbaiki lisan.

[]

Apakah Saya Melakukan Mansplaining?

SEJUJURNYA, saya masih awam dengan bahasan mengenai interaksi antargender dalam kehidupan sosial secara umum. Termasuk isu yang satu ini; Mansplaining. Yaitu cara pandang dan tindakan pria terhadap wanita beserta segenap aspeknya.

Mansplaining bersifat negatif. Sebab dari sedikit yang saya pahami, Mansplaining pada dasarnya adalah sikap sok tahu yang disampaikan pria untuk/dengan merendahkan wanita. Sebagai prasyarat terjadinya Mansplaining, penyampaian kesoktahuan tersebut sarat arogansi dan dominasi. Mengesankan bahwa pria selalu benar dan wanita tak lebih pintar, sehingga mereka harus didengarkan.

Saya memberanikan diri menulis soal ini lantaran judul di atas. Setidaknya agar bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut.

  1. Apakah saya telah melakukan Mansplaining?
  2. Jika iya, apakah saya sengaja melakukannya?
  3. Jika iya tetapi saya tidak sengaja, apa yang menyebabkannya menjadi sebuah Mansplaining?
  4. Jika iya tetapi saya tidak sengaja, apa dampak dari tindakan Mansplaining tersebut?
  5. Apa saja hal-hal lain yang perlu saya ketahui agar tidak melakukan Mansplaining lagi?
  6. Apa yang harus segera saya lakukan setelah tidak sengaja melancarkan Mansplaining?
  7. Apa saja yang harus diperhatikan saat menyampaikan sesuatu agar tidak mejadi Mansplaining?

Berorientasi pada diri sendiri, pertanyaan-pertanyaan di atas dikemukakan demi menghindari Mansplaining di kemudian hari. Pasalnya, tidak semua orang, baik pria atau wanita, terlepas dari tidak tahu atau tidak mau tahu, memiliki pemahaman dan aspirasi yang sama terhadap hal ini. Tak bisa dimungkiri, Mansplaining juga merupakan produk budaya. Terlebih di Indonesia, ketika pria dikondisikan untuk selalu memiliki relasi kuasa tertentu dibanding wanita sedari kecil.

Berawal dari twit saya tempo hari.

Mendapatkan tanggapan sebagai berikut.

Screen shot of Twitter

Alih-alih tersinggung, saya tertarik untuk menelisik lebih jauh. Dimulai dengan membaca twit saya kembali, lalu beralih ke tanggapan yang diberikan supaya ketemu selisihnya. Khawatir, saya telah berlaku: “Komentar/twit dahulu, berpikir belakangan.” 😅

Saya #penasaran, which part did I define? Lebih berupa ungkapan menghargai kualitas tertentu pada wanita, dibanding sebuah upaya menjelaskan suatu kondisi yang tidak saya miliki. Mudah-mudahan saya tidak keliru menyampaikannya.

Selanjutnya, kalau “it is up to me and my kind of peep …” apakah berarti pria—saya—sebaiknya tidak mengutarakan pendapat tentang wanita? Ataukah baru berbicara setelah diizinkan, maupun saat ditanya? Apabila demikian, ya, tidak apa-apa juga, sih. Menjadi pelajaran bagi saya untuk diam saja, dan ini tentu berada di luar batasan benar versus salah. Diwangsulké mawon.

Screen shot of Twitter

Di sisi lain, apakah ini bisa dimasukkan ke kategori masalah komunikasi? Pesan disampaikan secara tertulis, justru menimbulkan polemik dalam pembacaan/penerimaan maksudnya. Apabila demikian, kesalahannya tentu pada pengutaraan saya.

Mohon maaf.

Maka, dalam situasi berbeda dan lebih terbatas, saya barangkali baru ingin mengutarakannya kepada mama, saudara wanita, pacar, teman dekat wanita, rekan kerja wanita saat bertatap muka. Bukan lewat media sosial, kepada khalayak anonim.


Terpisah, saya menemukan penjelasan ringkas dan aplikatif terkait Mansplaining dari Kim Goodwin lewat diagram berikut.

Diagram on mansplaining.

Ilustrasi: bbc.com

Saya mungkin bisa meraba-raba jawaban menggunakan diagram di atas.

[]

Men on motorcycle staring at women in hijab.

Jilbabphilia?

FEITICO. Sebuah kata yang kurang lebih bisa diartikan “pesona; pukau; pikat; atau daya tarik” dalam bahasa Portugis. Dari istilah ini sebutan fetish berasal, merujuk dan menggambarkan ketertarikan seksual-obsesif seseorang pada berbagai hal.

Seksual, lantaran bisa mengantarkan seseorang mencapai sensasi kenikmatan atau kepuasan seksualnya. Baik yang dilakukan dengan partner, atau hanya oleh diri sendiri.

Obsesif, lantaran membuat seseorang tersebut gandrung, memberikan dorongan yang tak terbendung secara psikis, sehingga cenderung selalu dikejar.

Tak mesti genitalia atau aktivitas seksual penetratif itu sendiri, objek fetish meliputi banyak hal yang bersifat unik dan personal. Termasuk bagian tubuh tertentu, benda-benda tertentu, tindakan atau aktivitas tertentu, maupun sensasi jasmani tertentu. Saking unik dan personalnya, terhitung ada lebih dari 549 fetish yang teridentifikasi—dinamai pakai istilah Latin—dan berpotensi terus bertambah.

Sebagai sesuatu yang atipikal, atau tidak sebagaimana biasanya, tanggapan terhadap ratusan fetish itu mengalami perubahan seiring waktu dan lingkungan sosial manusia. Ada yang dahulu dianggap aneh, kini dianggap wajar dan biasa-biasa saja. Namun, sebagian besar fetish masih/tetap dianggap ganjil, menabrak norma-norma sosial setempat, membuat tidak nyaman, bahkan membahayakan. Barangkali karena itu, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menyebut fetish dengan parafilia, yang langsung diterjemahkan: Ketertarikan seksual pada hal-hal yang tidak biasa atau tabu.

Padahal menurut Justin Lehmiller, Ph.D, seorang psikolog-ilmuwan Harvard, hampir semua hal berkemungkinan memiliki asosiasi hasrat seksual bagi seseorang.

“Pretty much anything you can think of, someone out there probably has sexual associations attached to it.”

… dan bisa saja, inilah yang terjadi dengan fenomena Akhwat Hunter.

Dari sejumlah pernyataan dalam utas twit di atas, izinkan saya mengistilahkannya “Jilbabphilia”. Sebab—ini baru asumsi, dan harap koreksi saya bila keliru—entah mereka sadari atau tidak, fenomena Akhwat Hunter menyinggung fetishism. Mengacu pada dua komponen yang selalu hadir:

  1. Para wanita berjilbab sebagai objek yang dinikmati.
  2. Adanya ekspresi seksual dari para penikmat, baik secara perorangan maupun berkelompok.

Menyimak isi cuplikan percakapan tadi, para Akhwat Hunter itu—kelihatannya—belum menikah. Sejauh ini hanya bisa bermasturbasi sambil melihat foto-foto wanita berjilbab, dan belum diketahui apakah setelah menikah nanti mereka lebih suka pasangannya tetap berpenutup kepala saat senggama, atau telanjang sepenuhnya.

Seseorang dengan fetish tertentu, sejatinya tidak bisa mencapai klimaks seksual tanpa kehadiran objek fetish terkait. Bukan sekadar fantasi, atau bumbu keintiman (kinky). Dalam kasus Akhwat Hunter, tak menutup kemungkinan mereka mesum doang. Sampai akhirnya biar mereka sendiri yang membuktikan.

Di sisi lain, dikenal pula istilah garment fetishism. Yaitu hasrat seksual yang dipicu oleh jenis atau bagian pakaian tertentu. Misalnya, seragam, rok mini, lingerie, dan sebagainya, baik dikenakan salah satu atau kedua pihak terlibat.

Kembali lagi, fetish berada dalam spektrum yang unik dan personal. Bersifat pribadi, kecuali ketahuan atau sengaja diumbar-umbar kepada orang lain. Tatkala objek fetish berupa foto-foto wanita berjilbab sengaja diekspose dan ditunjukkan ke publik oleh akun-akun anonim, bahkan lengkap dengan ekspresi seksualnya, itu sudah merupakan pelecehan. Tak ada consent di situ, persetujuan dan kesepakatan kedua belah pihak.

Parahnya lagi, perbuatan tersebut mereka kait-kaitkan dengan narasi agama. Mengingat kerudung jilbab, beragam model hijab, sampai cadar nikab identik sebagai busana keagamaan dengan seperangkat argumentasinya. Dengan demikian, tak peduli seberapa tertutupnya pakaian para wanita tersebut, mereka akan selalu diseksualisasi—dieksploitasi seksual—oleh pria-pria Jilbabphilia. Baca saja alasan-alasan mereka yang begitu didramatisasi.

Atas narasi agama tersebut, alih-alih mengendalikan diri, para Akhwat Hunter itu lebih suka melempar kesalahan pada orang lain, mempertahankan posisi sebagai yang paling benar, dan seolah-olah berhak menghakimi. Seperti tulisan pertama saya di Linimasa, soal Jilboobs. Pasalnya, bagaimanapun juga, kita adalah tuan dari tubuh dan kehendak kita, bukan sebaliknya. Pengendalian diri bisa dilatih. Jangan manja.

Terlepas dari itu semua, mungkin saja para Akhwat Hunter atau pria-pria Jilbabphilia tadi hanya sekelompok orang ngacengan, punya latar belakang dan kebiasaan yang tak lazim mengenai jilbab, serta sok religius.

[]

Bisa dibaca juga:

https://www.psychologytoday.com/intl/conditions/fetishistic-disorder
https://bigthink.com/philip-perry/are-sexual-fetishes-psychologically-healthy
Photo by Hermes Rivera on Unsplash

Pertanyaan Para Atasan Amatiran

PERTAMA kali bekerja saat masih kuliah semester 3, ada satu nasihat—barangkali sebuah teguran—dari bos waktu itu. Lumayan bikin bingung.

Kamu jangan terlalu akrab sama anak buah. Kerja yang betul.

Sempat bertanya-tanya. Apa hubungannya antara bersikap akrab di lingkungan kerja—khususnya kepada bawahan—dan bekerja yang baik dan benar?

Apakah bergaul akrab bisa membuat seseorang tidak dapat bekerja dengan baik?
Apakah berpengaruh terhadap efektivitas dan efisiensi pekerjaan?
Apakah bisa menghambat pencapaian target?
Apakah berpengaruh negatif terhadap KPI?
Apakah merugikan perusahaan?

Mulanya, kesan yang tertangkap dari nasihat di atas adalah prasangka, kecurigaan, dan ketidakpercayaan dalam hubungan sosial. Kendati bersifat negatif dan seyogianya dihindari, semua orang tetap berhak bersikap demikian sampai berubah pikiran sendiri. “Namanya juga si bos. Mungkin dia memang begitu orangnya,” saya membatin.

Seiring waktu dan beberapa kali berganti pekerjaan, nasihat tadi makin terasa ada benarnya. Walaupun tidak berlaku mutlak, ada kalanya kita mesti menyadari situasi dan bertindak tepat agar tetap fokus menjalankan tanggung jawab yang diemban. Termasuk dengan membatasi diri dari keakraban yang melenakan, atau bahkan menghambat pekerjaan.

Hal ini cukup pelik. Mengingat setiap orang punya perangai yang berbeda. Begitu pula ketika bekerja. Baik sebagai pemimpin maupun yang dipimpin tentu memiliki gaya dan preferensi masing-masing. Ada pemimpin yang hanya tahu memberi perintah dan memarahi, ada yang suka berdiskusi dan mendengar masukan dari bawahannya, ada yang tegas tetapi tidak arogan, dan sebagainya.

Tak sedikit contohnya seseorang yang terkenal tidak luwes, tidak bisa ditawar-tawar, bersikap masa bodoh dengan keadaan orang lain dalam hal pekerjaan, tetapi selalu berhasil memberikan kualitas yang terbaik. Yang kemudian justru membuat banyak orang beranggapan bahwa ketegasan dan ketidakluwesan adalah ciri khas profesionalnya. Tentu saja selama masih dalam batas kewajaran.

Di sisi lain, ada pula bawahan yang harus selalu diarahkan, ada yang harus selalu diingatkan supaya disiplin, ada yang perlu diberi ruang berinisiatif demi memaksimalkan kemampuannya, ada juga yang manipulatif dan cenderung memanfaatkan situasi. Kalau begini, setiap orang memerlukan perlakuan berbeda-beda terkait profesionalismenya. Ada yang cocok diakrabi seperti teman sendiri, ada juga yang lebih baik dihadapi seperlunya saja biar tidak berpotensi mengganggu.

Akan selalu muncul pertanyaan, apakah memang sebaiknya begitu? Menciptakan jarak sosial dengan para pekerja secara sengaja dan konsisten, demi menjaga suasana profesional dan menghindari penurunan efektivitas kerja. Lagi-lagi, jawaban akan tergantung siapa penanyanya, serta apa yang telah dialaminya.

Mereka yang suka bergaul, supel, outgoing, dan berjiwa sosial tinggi, bisa saja agak kesulitan untuk bersikap atau mencitrakan diri sebagai individu yang dingin dan kaku. Sementara sebaliknya, orang-orang berpembawaan tak acuh, tanpa basa basi, dan efisien, bisa menciptakan jarak sosial dengan mudah.

Untuk pertanyaan yang satu ini, entah sudah ada berapa banyak konsep dan teori manajemen yang bisa diterapkan. Namun, satu hal yang pasti, bahwa setiap orang memiliki perangai, pembawaan, dan penerimaan yang beragam. Tidak menutup kemungkinan pula, ada sekelompok orang yang memiliki etos kerja tinggi, tetapi ada pula yang cenderung oportunis dan mau enaknya sendiri. Dari dua kategori ini, kelompok pertama relatif memahami arti profesionalisme dalam bekerja, sedangkan mereka di kelompok kedua malah berusaha untuk memanfaatkan celah pada pimpinannya, atau sebut saja … memanfaatkannya.

Sangat tipis dan riskan jeblos. Sikap ramah dan bersahabat, atau mudah berakrab-akrab ria antara pemimpin dan pekerjanya bisa berujung tak sesuai bayangan awal. Keramahan, keterbukaan, tenggang rasa dan toleransi, serta sikap mau kurang lebih membuat si pemimpin seolah-olah kehilangan cakar. Dia dianggap sepele oleh pekerjanya, benar-benar diperlakukan layaknya kawan bermain, sehingga ada profesionalisme dan etos kerja yang menurun. Jika sudah begini, dan sang pimpinan bersikap tegas kembali, para anak buah pun menganggapnya sebagai bentuk arogansi dan ketersinggungan. Dari yang sebelumnya asyik, berubah jadi ribet dan menyusahkan.

Dilema?

Pada akhirnya, silakan dipilih: reputasi sosial, atau reputasi profesional.

[]

Membayar (untuk) Ego

TERASA sangat menyenangkan, buaian ego berhasil menaklukkan hampir semua orang. Sensasi yang disuguhkannya hampir mirip candu; membuat kita selalu ingin merasakannya lagi, dan lagi, dan bahkan lebih lagi.

Seperti yang sempat ditulis beberapa pekan lalu, ego selalu lapar agar bisa menjadi besar. Ia butuh asupan secara konsisten, dan dengan rakus melahap apa yang ada di hadapannya.

“Makanan” bagi ego adalah segala hal yang membuat kita merasa penting dan signifikan secara positif. Sesuatu yang bisa bikin bangga, atau gembira. Oleh sebab itu, permintaan terhadap pemenuhannya pun selalu tinggi. Uang menjadi sesuatu yang sangat penting, demi kebutuhan-kebutuhan pembuai ego.

Berikut beberapa di antaranya, dan ini bukan perkara benar atau salah.

  1. Ego Trip

Sudah gamblang dari nama program yang ditawarkannya. Paket perjalanan ini bukan sekadar untuk berwisata, titik beratnya justru pada foto-foto yang dijanjikan ada di akhir kegiatan.

Berlatar belakang panorama dan pemandangan yang indah, atau objek monumental dengan komposisi fotografis, para pembeli paket bisa mendapatkan sekurang-kurangnya belasan foto Instagram materials. Tujuannya tentu agar layar Instagram terlihat lebih kece dan dikagumi orang lain. Dihujani likes dan komentar pujian, untuk kemudian bikin mereka kepingin juga.

Efek sampingnya, tidak sedikit peserta paket wisata yang malah menyembunyikan informasi tentang program ini. Biar ekslusif dan tidak pasaran. Dalihnya.

 

  1. Fotografer Pribadi

Asalinya, fotografi bertujuan untuk mengabadikan sesuatu. Menghasilkan penanda dan pengingat visual yang tak lekang zaman. Fungsinya bergeser seiring waktu, menjadi penghasil cenderamata yang menampilkan keindahan objek di dalam gambar, termasuk para manusia.

Berbeda dengan pejabat publik, yang demi keterbukaan dan transparansi dituntut dapat terpantau khalayak, makin banyak orang memerlukan fotografer demi rasa senang dan pembesaran ego. Bukan lagi untuk menghasilkan kenang-kenangan sebagai tujuan utamanya.

Fotografi pranikah, menghasilkan foto-foto pelengkap dekorasi lokasi pesta—mungkin itu sebabnya tidak ada foto post-wedding, atau juga membuat pasangan mempelai merasakan sensasi bak fotomodel. Begitu pula dengan fotografi kehamilan, yang tetap saja terfokus pada penampilan sang calon ibu dengan perutnya yang sudah membesar sedemikian rupa. Terkadang juga didampingi sang suami. Sekali lagi, ini tidak salah. Setiap orang berhak difoto dalam kondisi apa saja. Misalnya, satu paket. Pre-wedding, saat pemberkatan pernikahan, saat resepsi, saat malam pertama, fotografi kehamilan, saat melahirkan, dan seterusnya. Bebas.

  1. Jual Followers dan Likes Instagram

Entah, apakah ini menjadi latar belakang penggunaan sebutan follower di ranah media sosial, atau kebetulan belaka. Pastinya, istilah follower atau pengikut punya dampak khayali yang cukup kuat sebagai efek sampingnya.

Sejak awal, sudah banyak pengguna media sosial yang terjebak ilusi merasa signifikan dan penting melalui angka pengikut. Tanpa sadar telah keliru, mereka menganggap para pengikut tersebut adalah penggemar, orang-orang yang sebegitu sukanya dengan pemikiran dan tingkah laku digital mereka.

Tak heran gelombang “folbek dong…” mustahil surut, dan banyak yang menganggapnya serius. Tidak followback di media sosial bisa memengaruhi pertemanan di dunia nyata. Sekali lagi, ini menunjukkan betapa membuai sekaligus menipunya angan-angan tentang jumlah pengikut dan kesan signifikan.

Kebutuhan akan angka pengikut ini pun ditangkap sebagai peluang bagi sekelompok orang. Mereka beternak akun yang siap menjadi followers konsumen. Harganya pun jauh dari mahal, bisa dimulai dengan seharga segelas teh susu ala Taiwan untuk penambahan seratus pengikut.

Efek dominonya, tren ini ditangkap sebagai gejala baru pemasaran digital, dan landasan penambahan fitur platform media sosial itu sendiri. Para pemilik akun media sosial berpengikut banyak digelari Selebgram, Selebtwit, sekaligus Influencer—para pemengaruh publik. Mereka memasang tarif iklan, pengiklan pun mengalokasikan bujet bagi mereka. Maka, jangan heran mengapa Awkarin menjual akun kepada … dirinya sendiri. Suka-suka dialah. Toh, tetap banyak juga followers-nya.

 

  1. Penyedia Penonton Bayaran

Khusus yang satu ini, tidak semata-mata untuk membesarkan ego penggunanya. Dalam beberapa kasus, penonton bayaran dihadirkan supaya memeriahkan suasana dan studio, sekalian agar tampak cantik di foto dan hasil siaran.

Di luar itu, kehadiran penonton bayaran tentu diperlukan penyelenggara guna mendapatkan suasana ramai bagi bos atau atasannya. Terserah apa sebutannya, penonton bayaran seringkali dikenal juga sebagai fans atau anggota komunitas pengguna merek tertentu. Praktik ini biasanya terlihat saat acara peluncuran apa pun.

  1. Pengajar Kursus Seni Sekaligus Juri

Kerap dilakukan para orang tua muda kepada anak-anaknya, umumnya dengan alasan yang mudah dibelokkan. Di satu sisi, mereka mengaku ingin memberikan pendidikan keahlian terbaik bagi putra putri mereka. Di sisi lain, mereka sendiri yang sebenarnya haus rasa bangga dan keinginan memamerkan anak-anak mereka dibanding orang lain.

Diikutkan kursus menggambar dan mewarnai, lalu memenangkan lombanya. Begitupun pada kursus musik, modeling, dan sebagainya. Apakah mereka pernah bertanya atau berusaha mencari tahu apa bidang yang sungguh-sungguh diminati oleh anak-anak mereka, sebelum menjejalinya dengan agenda yang padat?

Ada juga kasusnya, kala si anak memiliki bakat di bidang lain, tetapi dikelabui dan agak dipaksa mengikuti kursus tarik suara. Tanpa ia sadari sama sekali, suaranya sumbang. Sang pengajar, atas dorongan si orang tua, terpaksa memuji dan membesarkan hati si anak. Waktu terus berjalan, sampai akhirnya si anak terhenyak dan sadar bahwa suaranya tidak sebagus yang ia kira, lewat ejekan orang. Kasihan, kan?

  1. Jasa Titip Pre-order

Bagi sebagian orang, ada kebanggaan tersendiri menjadi pemilik pertama sejumlah barang yang tidak atau belum beredar di negara atau kota sendiri. Kendati uang yang harus dikeluarkan 30-40 persen lebih tinggi dibanding banderol aslinya, mereka terkesan tidak peduli. Pokoknya harus jadi yang awal.

Sementara, tidak ada jaminan dia bakal puas dan bertahan dengan barang yang dibelinya tersebut untuk waktu lama. Termasuk di daerah (luar pulau Jawa), ketika teknologi baru sekadar dilihat dari sisi gengsi. Namun, saat produknya datang dan siap digunakan, si empunya malah kebingungan.

Beda cerita kalau yang bersangkutan membeli untuk memanfaatkan momen ekonomi, dan melihat kesempatan menjualnya pada harga lebih tinggi di kemudian hari. Itu namanya investasi.

Apple Store queue.

Foto: Business Insider

  1. Personal Trainer

Pembesaran ego bisa terjadi lewat banyak hal. Termasuk anggapan atau merasa memiliki kondisi fisik yang bagus. Demi tujuan yang satu ini, tak ayal banyak pusat kebugaran yang kebanjiran pelanggan baru. Baik yang paham dan tahu apa yang mereka inginkan, maupun yang sekadar ingin merasa sudah berolahraga, selanjutnya bisa memiliki bentuk tubuh yang rupawan.

Untuk yang satu ini, pelatih pribadi bertugas mengajari, mengawasi, memastikan semua aspek bagi kliennya. Jasanya dibayar oleh klien dengan beragam pemikiran dan pertimbangan. Ada pelanggan yang siap dikerasi, ada pula yang justru gampang tersinggung manakala dikerasi sedikit saja. Risikonya, minta ganti pelatih atau bahkan pindah gym.

Sebagai personal trainer, apa yang mesti dilakukan?

  1. Concierge

Pada dasarnya, profesi ini terbentuk sebagai wujud pelayanan tertinggi dan berkelas bagi kalangan atas. Singkat kata, apa pun yang diinginkan pasti bisa diatur dan disediakan oleh mereka. Seekstrem, sesulit, seekslusif apa pun permintaan yang disampaikan pelanggannya.

Sejauh ini—setidaknya dari informasi dan gambaran yang didapatkan—permintaan dan pelayanan terkait concierge lekat dengan kesan elegan. Bukan norak. Konsumennya pun bukan orang yang kagetan, setidaknya. Hanya saja, tingkat keruwetannya berubah drastis terhadap riche nouveau, alias Orang Kaya Baru (OKB). Turis-turis Tiongkok, contohnya.

Concierge adalah yang membantu, bukan pembantu, terlebih babu. Idealnya dianggap seperti itu.

Concierge bell.

Foto: growthinvestingresearch.com

Orang-orang kita pun bisa mengarah ke sana. Ditandai celetukan: “Ya biarin aja. Kan kita bayar juga…” Merasa penting karena sebagai pemilik uang, dan pembayar jasa layanan.

[]

Keliru Kutip, Anti LGBTIQ, atau Jurnalisme yang Bias?

BILA mengacu pada tulisan saya sebelumnya, entah, apakah saya masih kompeten dan berhak berbicara tentang topik yang satu ini, atau sebaiknya menelan semua unek-unek dan diam saja. Pasalnya, ini tentang praktik jurnalisme arus utama (mainstream) di Indonesia, serta risiko terjadinya persepsi bias. Soalnya, saya bukan lagi seorang jurnalis, pun bukan pekerja di bidang ini.

Urusan LGBTIQ dan jurnalisme. Mulai definisi dan batasannya, spektrumnya dalam pandangan psikologi, sampai kepada orang-orang yang berkenaan dengannya, baik para pemilik preferensi seksual tersebut maupun para heteroseksual simpatisan. Barulah kemudian pemberitaan yang dilakukan berpijak pada pemahaman-pemahaman itu, demi menghindari bias dan pengarahan persepsi massa ke kekeliruan.

Tulisan ini tidak mengarahkan pada pembelaan atau penolakan LGBTIQ, atau kembali menanyakan apakah LGBTIQ itu salah atau tidak salah, beserta semua alasannya. Namun, lebih fokus pada praktik jurnalisme yang berbobot dan berwawasan, bebas bias, profesional, dan manusiawi.

Berawal dari sini.

Seorang wartawan di Balikpapan—atau barangkali Samarinda—salah mengutip pernyataan narasumbernya yang pegiat hak-hak perempuan, dan termasuk advokasi LGBTIQ. Intinya, wartawan menulis bahwa sang narasumber seolah-olah mengidentikkan praktik pedofilia dengan homoseksualitas. Padahal, tidak.

Meskipun akhirnya diralat, kesalahan pengutipan ini tetaplah sesuatu yang tak sepantasnya terjadi dalam praktik jurnalisme. Baik secara tidak sengaja—karena tidak teliti membaca, menyimpulkan dengan asumsi, keliru konteks, atau memang minim referensi—apalagi kalau disengaja, dan melibatkan peran redaktur sebagai penyunting isi sebelum publikasi.

Kesalahan pengutipan adalah satu hal. Sedangkan isi artikel berita itu sendiri—sinyalemen bahwa homoseksualitas harus ditindak hukum supaya menghindarkan terjadinya pedofilia; yang secara tak langsung membentuk asumsi bahwa pedofilia selalu dilakukan oleh homoseksual—tentunya merupakan hal yang berbeda. Semestinya dibahas terpisah.

Salah Kutip

Pengumpulan dan pengolahan data, hingga penyajiannya dalam bentuk berita berada di aspek teknis. Bisa dilatih, ditingkatkan, dan dipertajam sampai membentuk karakter individu yang khas. Demi menghindari kesalahan kontekstual, para pewarta pun menggunakan notes dan perekam yang dipegang olehnya sendiri. Dalam kasus di atas, syukurnya wawancara tercatat oleh kedua belah pihak lewat percakapan digital. Narasumber bisa menunjukkan pesan yang ia sampaikan di awal, di sebelah hasil tulisan. Lazimnya, si pewarta harus disanksi, dan untuk kembali belajar kemampuan dasar jurnalistik. Redakturnya pun bisa ditegur, agar lebih mendalami tulisan dan poin yang disampaikan, tak sekadar memperbaiki tipo dan tata bahasa.

Asumsi Tindak Pedofilia

Di sisi lain, berkenaan dengan konten yang disampaikan dalam berita itu sendiri. Artikel di atas membicarakan tentang kejahatan seksual dan prosedur hukum sebagai alternatif penanganannya, tetapi menempatkan pedofilia dan homoseksualitas sama-sama sebagai tindak kriminal.

Bagi kebanyakan masyarakat Indonesia yang konservatif, tidak ada yang keliru dengan kalimat di atas. Pedofilia dan homoseksualitas beserta seluruh komponen LGBTIQ ialah kesalahan, jadi seharusnya ditindak. Titik. Sentimen ini menjadi opini populer, diiyakan oleh banyak orang melalui beragam sudut pandang. Terutama narasi agama. Berita keliru kutip di atas pun tetap dapat diterima oleh mayoritas pembacanya dengan baik, tanpa kritik maupun penolakan.

Selebihnya, setiap pendapat yang berseberangan pun akan dianggap sama salahnya; “Pokoknya, kalau kamu tidak anti dan menolak LGBT, berarti kamu mendukung mereka, dan jadi bagian dari mereka.” Dengan tulisan ini, misalnya, bisa saja Linimasa dianggap sebagai blog yang mendukung aktif LGBTIQ. Saya pun mungkin dikira atau diduga seorang homoseksual. Pandangan monokromatik semata.

Dari kasus di atas, tentu akan lebih mengkhawatirkan apabila artikel di atas ternyata dihasilkan oleh pewarta dan redaktur yang berpandangan konservatif, termasuk dalam kelompok masyarakat yang mengelompokkan pedofilia dan homoseksualitas di “kotak” yang sama: kejahatan.

Tak menutup kemungkinan, si pewarta dan redaktur sama-sama beranggapan bahwa sang narasumber—seorang tokoh publik—pasti sependapat dengan mereka dan anggapan kebanyakan orang. Sehingga mereka salah membaca pesan di WhatsApp, serta menganggap ketidakcocokan tadi hanya salah ketik. Atas dugaan ini, wajib dipastikan langsung kepada si pewarta dan redakturnya.

Namanya juga jurnalistik arus utama, yang salah satu prinsipnya adalah fakta serta kondisi apa adanya dengan mempertimbangkan banyak aspek. Contohnya, pedofilia termasuk kriminalitas berupa aksi seksual terhadap anak kecil, dan telah tertera dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP). Sementara homoseksualitas tidak tergolong kejahatan pidana. Sejijik atau setidak suka apa pun si wartawan dan redaktur atas realitas hukum ini, tidak sepatutnya ditumpahkan dalam produk berita mainstream.

Lain halnya jika artikel tersebut dimuat dalam media komunitas, terafiliasi pada agama tertentu, atau pun mengusung tujuan khusus, dan secara terbuka menyatakan sikap menolak LGBTIQ. Contohnya, mustahil bagi penyusun buletin mingguan di gereja, atau redaksi mading di universitas Islam menyuguhkan berita legalisasi pernikahan homoseksual di Taiwan baru-baru ini. Kalaupun dimuat, akan cenderung dibarengi kecaman dan ancaman keagamaan.

Begitu pula gejalanya kala membahas soal agama.

Fish Huang and You Yating, first lesbian couple in Buddhism matrimony.

Fish Huang dan You Yating, pasangan lesbian pertama di Taiwan yang menikah secara Buddhis. Foto: buddha.by

Lalu, apa yang sepatutnya dilakukan guna mencapai praktik jurnalisme bebas bias tentang topik ini?

  • Dimulai Dari Atas

Pola kerja dan arahan kepada pewarta maupun redaktur berasal dari pemimpin redaksi, serta dewan senior yang ada di belakangnya. Setiap perusahaan pers dan manajemennya berhak menentukan posisinya terhadap isu LGBTIQ, baik ditinjau dari sisi bisnis maupun idealisme yang diusung.

Berlabel media massa umum dan mainstream, idealnya berlakulah netral dan berupaya menjunjung tinggi profesionalisme dan kemanusiaan. Setidaknya sampai ada pernyataan resmi bahwa perusahaan tersebut anti LGBTIQ. Agak percuma memiliki reporter dan editor yang netral terhadap hal tersebut, bila atasannya bertentangan.

Di manakah posisi Dewan Pers, dan organisasi-organisasi wartawan yang ada? Sejauh ini, Dewan Pers mensyaratkan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) sebagai standar profesi. Hanya saja tidak terlalu spesifik, dan selanjutnya bergantung pada kapasitas individu.

  • Pemetaan Personel

Pendapat mengenai LGBTIQ masuk di ranah pribadi. Setiap orang berhak menentukan posisinya masing-masing: mendukung, simpatik, netral, menolak, benci. Berkaitan dengan mata pencarian, pemecatan atau dorongan untuk mengundurkan diri terasa kurang elok.

Makanya, akan lebih baik apabila para pemimpin redaksi mengetahui posisi personel-personelnya, dan terhindar dari produk berita berpolemik akibat menugasi orang yang kurang tepat. Lebih baik ditanya langsung, tak perlulah mengintai akun media sosialnya.

  • Bimbingan dan Panduan

Perihal LGBTIQ bersifat majemuk. Tak hanya sudut pandang agama, mesti pula memerhatikan ilmu kedokteran, psikiatri, psikologi modern, sosiologi, kriminologi, politik, dan berbagai disiplin ilmu lain saat membahasnya.

Pekerja pers pun berasal dari beragam latar belakang dan kadar pemahaman, sehingga wajar memerlukan pengenalan, dan sosialisasi dari para ahlinya. Bisa pula berlanjut pada proses bertukar pikiran dan berdiskusi untuk berusaha saling memahami, bukan untuk memengaruhi, atau mengelabui. Wartawan harus tahu lebih banyak, sebab dari tangan merekalah informasi menjangkau khalayak.

Tak ada salahnya menyusun panduan peliputan dan pemberitaan tema-tema terkait LGBTIQ. Bukan dijadikan tambahan peraturan, melainkan bahan pengaya hasil warta. Biar makin tahu, dan tidak terperosok dalam kekeliruan berdampak masif. Baik di Jakarta, markasnya media-media massa berprivilese nasional, terlebih lagi di daerah. Ya… seperti contoh kasus di atas tadi.

[]

Writing on trash bin

Siapa yang Berhak Berbicara?

NOTIFIKASI pesan WhatsApp mencuat di layar ponsel waktu bus TransJakarta baru naik jalur Flyover Pesing, Sabtu siang kemarin. Kirain ngajak ketemuan, ternyata bukan.

Lebih menarik, malahan.

A WhatsApp chat snippet.

Sebagai seorang Tionghoa, yang kebetulan juga antusias terhadap tulisan Cina, permintaan teman dari Samarinda tadi terasa menggoda untuk ditindaklanjuti. Bisa dengan mengamati aksaranya satu demi satu, mencari kesamaannya, kemudian menyusun dan mencoba membacanya.

Sempat lihat pesan WhatsApp-nya sekali lagi, dan tertahan di bagian ini.

A WhatsApp chat snippet.

Terpikirkan sesuatu, dan merasa sudah bersikap sok tahu.

Tidak pernah mengambil pendidikan bahasa Tionghoa atau belajar secara formal, pengetahuan dan pemahaman saya mengenai topik tersebut tentu tidak sekomprehensif adiknya si teman, yang jelas-jelas telah bersekolah di sana sampai mendapat gelar sarjana.

Dengan demikian pula, kebisingan saya tentang tulisan Cina selama ini boleh-boleh saja dibilang sekadar pencitraan.

Melalui media sosial, blog, termasuk di Linimasa ini, saya mencitrakan diri seolah-olah cukup tahu dan berilmu. Padahal ketika melafalkan atau diajak bercakap-cakap dalam bahasa Tionghoa, saya belum tentu bisa. Intonasinya keliru, perbendaharaan kata yang sedikit, tetapi lumayan luwes menulis aksaranya lantaran gemar coret-coret sejak kecil.

Orang Indonesia pun terbiasa menanggapinya pakai celetukan: “Halaaah… Kamu tahu apa sih?

Kapasitas personal, dan validasi kemampuan. Dua konsep ini yang dijadikan standar kepantasan seseorang dalam berpendapat dan bertindak. Sri Mulyani, misalnya. Dia mempunyai legitimasi berbicara perkara kondisi ekonomi negara karena kapasitasnya adalah Menteri Keuangan Republik Indonesia (RI). Jabatan dan rekam jejaknya sejauh ini pun bisa digunakan memvalidasi argumentasi-argumentasinya.

Wajar bila Sri Mulyani diberi podium-podium untuk berbicara tentang ekonomi. Pernyataannya bisa dikutip dan disebarluaskan ke publik, maupun didiskusikan selepasnya.

Di samping itu, semua orang memang berhak untuk bersepakat atau justru menolak pernyataannya. Namun, tatkala ketidaksetujuan muncul, maka seyogianya tetap dilandasi dasar dan alasan yang konkret. Mengingat tentangan itu disasarkan kepada kapasitas dan ketokohannya. Baik sebagai menteri, atau pun sebagai pakar ekonomi.

Fair, kan?

Sri Mulyani

Foto: WartaKota.co

Di sisi lain, bolehkah Sugeng, seorang tengkulak bawang (nama dan pekerjaan cuma reka-reka) berbicara tentang kondisi ekonomi Tanah Air? Boleh! Dia bebas berbicara sampai sejauh topik kebijakan fiskal dan moneter Indonesia kalau mau, tetapi kerangka referensi yang dipakai Sugeng tentu berbeda dibanding ibu menteri. Kapasitasnya sebatas masyarakat awam yang tetap patut didengarkan, tetapi bukan penyusun kebijakan.

Sri Mulyani dan Sugeng sama-sama warga negara, memiliki kesetaraan hukum dan kesempatan berbicara yang sejajar. Hanya saja, mengacu pada kapasitas personal dan validasi kemampuan di bidang ekonomi, sangat wajar apabila respons dan jawaban Sri Mulyani untuk banyak pertanyaan bisa lebih dipertanggungjawabkan.

Masalahnya, orang-orang yang memiliki kapasitas personal dan tervalidasi, sepertinya malah irit bicara.

Lalu, bagaimana dengan contoh kasus saya di atas? Apakah saya terus saja berbicara dan menawarkan pandangan tentang tulisan Cina tadi, atau sebaiknya menyerahkan pembahasan kepada ahlinya (bila ada)? Toh, saya sendiri pun belum mampu menjamin bebas dari kekeliruan, dan bebas dari potensi informasi bohong.

Ini baru soal tulisan Cina, yang dampaknya barangkali bisa dihitung minim. Belum lagi masalah Buddhisme dan konsep-konsepnya (saya bukan Pandita atau Dhammaduta); budaya Tionghoa dan teori-teorinya (saya bukan pakar budaya atau sarjana antropologi budaya); kehidupan masyarakat di Samarinda (saya hanya warga biasa, bukan figur tokoh); topik-topik sosial dan humanistis; serta bahasan lain yang kerap saya angkat via media sosial dan blog.

Di sinilah pentingnya kecermatan mendengar, kejelian mencerna informasi, kritis dan cakap membangun landasan berpikir, berani berdiskusi—bukan berdebat, serta mampu dan mau bersikap adil.

Siapa yang berhak berbicara? Siapa saja. Dibarengi kewajiban berlaku patut; tidak berdusta, tidak berniat menjatuhkan atau mencelakakan, tidak menghina dan merendahkan, tidak sombong dan berbesar hati apabila sanggup, serta menjawab sebenar-benarnya ketika ditanya.

Selanjutnya, para pendengar pun berhak setuju atau tidak dengan yang disampaikan oleh orang lain, atau bahkan tidak peduli sama sekali. Asal tetap dibarengi kewajiban berlaku patut; tidak mengada-ada (ikut-ikutan reaktif padahal belum mendengar sendiri), tidak menghina dan merendahkan pendapat yang berbeda, serta selalu memiliki alasan atau dasar yang jelas. Tidak membabi-buta, dan mau bertanya, bukan asal menyimpulkan atau berasumsi.

Kan, lebih enak kalau bisa saling bicara… Ngobrol, ya ngobrol aja…

[]

Pedestrian lawn area Jakarta

Dari Titik Singgah ke Titik Singgah Lain

ADALAH transit-oriented development (TOD), sebuah konsep perencanaan urban yang mendorong manusia—para warga sebuah kota—lebih bergerak ketika beranjak. Idealnya, alih-alih duduk sendirian dalam bilik yang sejuk dan lumayan lega tetapi berlangsung lebih dari dua jam, skema berdasarkan TOD akan berpotensi memangkas durasi perjalanan. Meski bakal diselingi aktivitas menunggu sambil duduk atau berdiri, berjalan kaki, maupun agak berlari.

Dari namanya saja, sudah cukup menggambarkan ide dasar konsep perencanaan urban ini; pembangunan yang berorientasi pada titik-titik singgah. Andaikan boleh sedikit filosofis, kita pergi dari dan pulang ke rumah. Sekolah, kampus, kantor, toko, tempat usaha, mal, tempat rapat, restoran dan kafe, tempat-tempat publik dan pusat keramaian lain, rumah ibadah, pemakaman, rumah sakit, serta lain-lainnya merupakan lokasi berkegiatan dalam kurun waktu tertentu. Bisa dianggap sebagai titik-titik singgah, dan untuk bisa sampai ke sana mesti melalui titik-titik singgah pula. Katakanlah halte, stasiun, terminal, atau areal parkir.

Pertanyaannya, maukah kita begitu? Bersediakah menjalani keseharian dengan gaya hidup TOD?

Belum tentu, atau malah tidak akan mau.

1. Kota kita bukan kota untuk para pejalan kaki, dan pengguna moda transportasi umum.

Dilematis seperti masalah telur dan ayam. Mana yang harus diadakan terlebih dahulu? Perubahan pola pikir dan kebiasaan para warga kota, ataukah situasi dan penataan kotanya sendiri?

Perencanaan urban berdasarkan konsep TOD tentu bertujuan untuk efisiensi, tanpa menghilangkan sebagian besar kenyamanan hidup. Waktu tempuh perjalanan bisa dihemat setidaknya hingga sekian puluh persen, begitu pula dengan tingkat kepadatan lalu lintasnya (efektivitas tergantung rencana, implementasi, dan modifikasi).

Dengan TOD, dari satu titik singgah ke titik singgah yang lain akan memakan waktu sekitar sepuluh hingga 45 menit. Baik dengan berjalan kaki, bersepeda, maupun menggunakan moda transportasi umum. Sayangnya, jangankan Samarinda, Banjarmasin, Pekanbaru, Batam, Medan, dan kota-kota provinsi di luar pulau Jawa; Jakarta, Bandung, Semarang, atau Surabaya pun—tampaknya—belum bisa diacu ke prinsip-prinsip TOD sepenuhnya.

Di lima kota luar pulau Jawa di atas, jarak dari satu titik singgah ke titik singgah lain relatif lebih jauh. Pun begitu, sarana transportasi publik belum mampu diandalkan secara menyeluruh. Mau tidak mau, warga harus bergantung pada kendaraan pribadi, atau moda transportasi personal seperti taksi, ojek, mobil sewaan. Terlebih di waktu-waktu istirahat. Mau berjalan kaki? Sangat tidak mangkus sangkil. Kecuali sangat terpaksa.

Sementara itu, di empat kota besar pulau Jawa, kendala yang dihadapi kurang lebih sama. Moda transportasi umumnya memang sudah dikembangkan sedemikian rupa, hanya saja, sejauh ini, baru TransJakarta yang beroperasi 24 jam sehari. Kendati di atas pukul 10 malam, jumlah armada yang beroperasi tidak banyak.

Di sisi lain, belum banyak ruas jalan yang memiliki trotoar lebar dan nyaman. Baru sebatas di kawasan wisata dan area populer dalam kota, belum menyentuh pemukiman. Kegiatan berjalan kaki pun masih identik dengan ketidaknyamanan, walaupun hanya urusan ke minimarket di ujung gang untuk beli cemilan.

2. Kendaraan pribadi adalah perlambang kemakmuran dan kemapanan.

Tak ada yang salah dari pernyataan di atas. Setiap orang berhak membeli dan memiliki kendaraan pribadi, sebanyak atau semahal apa pun. Namun, jangan lupa bahwa kepemilikan kendaraan pribadi akan diikuti sejumlah konsekuensi. Mulai dari harga yang harus dibayar, segala jenis biaya yang timbul, lahan parkir pribadi yang seyogianya ada, risiko-risiko, termasuk potensi terjebak macet dan mengalami ketidaknyamanan emosional yang muncul saat itu.

Sebaliknya, justru keliru apabila beranggapan bahwa kepemilikan kendaraan sama dengan kualitas kehidupan seseorang. Hal tersebut memang dapat dijadikan parameter, tetapi bukanlah poin mutlak.

Commuter line train Jakarta

KRL terakhir, dengan mereka yang sudah lelah dan ingin pulang.

Sah-sah saja jikalau seseorang memiliki kendaraan pribadi, dan hanya digunakannya di akhir pekan atau hari libur lantaran malas terjebak macet dari dan ke kantor. Ketika keputusannya seperti itu, kendaraan pribadi tadi pun berubah fungsi dari aset menjadi kewajiban. Ya … setiap orang boleh punya pertimbangan berbeda-beda, sih. Lagi-lagi, sayangnya, suasana di dalam kendaraan umum—TransJakarta dan KRL—pada hari kerja pun tak selalu nyaman. Berdesak-desakan, juga selalu dihantui pencoleng dan perogoh.

Dengan demikian, salah satu cara yang cukup masuk akal untuk dicoba demi gaya hidup ala TOD adalah membiasakan jalan kaki sebisa mungkin. Tak perlu jauh-jauh, semampunya saja. Maklum saja, udara Indonesia cenderung gerah dan panas. Mana ada yang betah berkeringat barang sedikit pun, khawatir terlihat dekil, tak wangi lagi, dan seterusnya. Belum banyak pula kantor-kantor yang menyediakan bilik mandi di kamar kecil, yang semestinya bisa mengakomodasi pegawai pesepeda. Belum lagi di kota-kota sarat tambang macam Samarinda, dengan jalanan berdebu yang bisa bikin kulit sarat daki.

Padahal, jujur saja, berjalan kaki itu romantis, lho. Menjadi terbiasa berjalan kaki di Jakarta dan mengamati-menikmati setiap momen yang ada di depan mata, membuat saya cukup nyaman berjalan kaki di luar kota. Termasuk di Samarinda, saat pulang kampung. Sensasi ini barangkali saja memang bukan untuk semua orang. 😊

3. Hidup sudah melelahkan, jangan sok ide!

Pemandangan yang lazim, sekawanan manusia berebut masuk ke bus TransJakarta dan KRL. Terkesan agak beringas, mereka berusaha mendapatkan tempat duduk atau setidaknya posisi yang nyaman sepanjang perjalanan. Buru-buru mereka naik, buru-buru pula mereka turun. Seolah-olah hanya itulah kesempatan mereka untuk melanjutkan hidup. Padahal, mereka pasti berhadapan dengan suasana yang sama keesokan harinya. Begitu lagi, dan lagi. Mungkin sampai mati.

Apakah urusan yang satu ini termasuk sebagai permasalahan hidup? Mungkin. Mungkin tidak.

Bagaimana bila justru kita sendiri yang menjadikannya sebuah masalah? Respons dan cara kita menanggapinyalah yang membuatnya terasa tidak menyenangkan, menambah beban kehidupan dengan sesuatu yang diada-adakan. Tanpa sadar, kita diperbudak oleh perasaan sendiri. Salah satu komponen kehidupan yang semestinya menjadi “milik kita”.

Tubuh lelah, alamiahnya memang begitu setelah berkegiatan. Hati lelah, siapa yang menyebabkannya? Kita sendiri, atau orang lain? Ataukah kita “mengizinkan” orang lain untuk bikin hati kita lelah? Manusia bisa jadi memang selemah itu.

Jadi terpikir. Apabila TOD adalah konsep perencanaan urban, dari satu titik singgah ke titik singgah lain, kita pun sebenarnya sedang berpindah-pindah dalam menjalani kehidupan ini. Dari satu momen singgah ke momen singgah lainnya … cuma, ada yang tersisa dan terus dibawa-bawa. Entah kenangan, kepahitan, kegembiraan, syahwat, atau kerinduan.

Memberatkan dan berusaha ingin ditinggalkan (baca: dilupakan), atau malah bikin kita kecanduan dan mencari-cari agar bisa menikmatinya kembali.

[]

Akun Alter Ego Non Prostitusi

https://i0.wp.com/images.8tracks.com/cover/i/010/303/237/154417_300878139990580_151011474977248_693980_1602364401_n-6468.jpg?w=492&ssl=1

IALAH Dionysus, dewa bertopeng dari asal yang asing dan misterius.

Dia disebut sebagai “dewa yang datang”, sebab hadiratnya selalu memunculkan antusiasme pada manusia, perasaan gembira yang menggejolak (excitement), sensasi ekstase, serta dorongan hasrat. Karena itu pula, dewa berwajah cantik ini identik dengan minuman anggur. Yang tak hanya memabukkan, tetapi juga mampu mengubah (altering) kepribadian seseorang. Maka dari itu, bangsa Yunani kuno percaya ada sang dewa dalam tubuh mereka saat mengalami mabuk alkohol. Mereka menjadi seseorang yang berbeda.

Mungkin serupa tetapi tidak sama. Tanpa perlu mabuk anggur, ada banyak individu yang menikmati menjadi sosok yang berbeda. Bukan lewat Dionysus, melainkan via media sosial.

Mengenakan topeng-topeng digital, mereka lebih bebas berekspresi dan leluasa dalam tindak tanduknya. Kendati apa yang mereka lakukan cenderung provokatif terhadap kaidah kepatutan dan kelaziman sosial. Tak ada yang salah, pun tidak melanggar hukum formal, tetapi di luar kebiasaan umum saja.

Di semesta maya, mereka dapat ditemui sebagai akun-akun alter ego. Tanpa mengganti identitas atau pun menyaru personalitas orang lain (seperti pada akun-akun role play [rp] selebritas Korea), mereka riuh bermain-main dengan kepribadian dan tubuh mereka sendiri, beserta rekan. Bisa pasangan suami/istri, pacar, sekadar teman, maupun sesama pemilik akun alter ego.

Dengan akun alter ego tersebut, mereka tentu saja menyembunyikan nama. Sesekali menampilkan sesisi wajah, terkadang juga ditutupi stiker. Ada lebih banyak area tubuh lain yang disingkap dan bisa dilihat secara terbuka di lini masa mereka, selain kelamin. Ya, mereka tidak pamer genitalia. Lebih aman—dan nyaman?—bagi mereka menunjukkan lekukan tubuh, meskipun tak semua dari mereka telah terbebas dari insecurity bernama “standar keindahan tubuh”. Setidaknya melalui akun alter ego tersebut, mereka merayakan kehidupan. Bebas dari penilaian orang lain, bebas dari ketidakpercayadirian, bebas dari keluhan atas kekurangan yang dimiliki.

(Pemuatan twit video di atas telah diketahui dan diperkenankan oleh pemiliknya.)

Mengapa selain kelamin? Karena itu merupakan pornografi, dan mereka bukanlah pemilik akun-akun alter ego prostitusi, yang berjualan terang-terangan. Sangatlah tak adil bila keduanya disamaratakan. Akun-akun alter ego non prostitusi tidak bertransaksi … atau setidaknya terlihat demikian.

Dari yang teramati sejauh ini, memiliki akun alter ego non prostitusi berarti akan dihadapkan pada risiko “didekati dan ingin dibeli”. Mereka yang tampil sendirian, bisa ditanya: “Berapa semalam?” Sedangkan mereka yang tampil berpasangan, bisa ditanya: “Mau threesome?” atau dikira pasangan swinger, atau dikira pasangan kumpul kebo semata. Padahal, ada yang (mengaku) sudah beranak tiga, dan bentuk tubuh mereka terlalu proporsional untuk dipersamakan dengan kerbau.

Cuplikan twit yang diambil dari thread. Dimuat dengan persetujuan pemilik.

Kemudian, pasti ada yang berkomentar: “Makanya, kalau tidak mau dikira begitu, ngapain pamer-pamer foto sensual? Biarpun sama pasangan sendiri.

Apabila saya adalah mereka, langsung saya jawab: “Memangnya kenapa?” Pasalnya, siapa saja, si empunya foto maupun mereka yang melihatnya, tetap punya kuasa kendali diri. Menjaga dan bertahan agar tidak melanggar aturan terkait konten pornografi (kecuali jika akunnya dikunci, dan materi hanya dikonsumsi pribadi).

Bagi penonton, agar tidak kagetan dan langsung kalang kabut mencari pelampiasan, atau malah merasa berhak menghakimi si pemilik foto. Sekaligus iri, kepingin bisa begitu juga. Ya punya bentuk badannya, ya mengalami adegan yang sama. Hahaha!

Nah, kalau yang ini belum sempat minta izin sama pemiliknya. Namun, tertampil dan bisa dibaca secara umum.

Terakhir, hanya ada satu hal yang membuat saya #penasaran. Mengapa, dan apa alasannya mereka membuat serta menikmati menjadi akun-akun alter ego non prostitusi tersebut? Apakah menjaga reputasi? Apakah pertimbangan orang tua dan keluarga? Dengan fisik dan kepercayaan diri yang mereka tunjukkan, bukan mustahil mereka tetap bisa merayakan kehidupan sebagai diri sendiri.

Perhatian. Barangkali.

[]

Path, Aplikasi Curhat, dan Generasi Bertopeng

SAAT menulis ini Sabtu siang kemarin, saya masih belum memutuskan kafe mana yang akan didatangi untuk memanfaatkan jaringan internetnya mengunduh semua data dari akun Path. Tidak menyangka, dari hanya 4.238 moments sepanjang menggunakan media sosial yang pernah disebut Mas Roy sebagai Aplikasi Pamer Anak, Tempat, Hidangan itu, totalnya mencapai 1,4 GB!

Path moment.

Moment pertama.

Sejak awal, saya adalah pengguna Path dengan intensitas relatif rendah. Kadangkala bisa bawel dan membagi banyak hal dalam kurang dari 24 jam, tetapi ada lebih banyak hari tanpa satu moment pun. Toh jumlah teman yang terhubung melalui Path juga kurang dari seratus orang. Sampai sekarang.

Boleh dibilang itulah daya tarik Path. Ketika kita mulai terbiasa dengan keterbukaan dan ekspose personal yang membabi buta lewat media sosial, Path hadir dengan pembatasan dan keterbatasan. Justru itu, Path menjadi semacam wadah digital baru tanpa perlu risau soal reputasi, nama baik, citra, dan tanggapan orang-orang yang kita kira kita kenal.

Path moment.

Sebuah moment.

Pembatasan dalam Path membuat penggunanya kembali nyaman untuk jujur dan apa adanya. Demi menjaga perasaan orang lain, ulasan dan komentar di Twitter atau Facebook cenderung berupa pujian dan terkesan sangat baik. Sedangkan di Path, kita mungkin menemukan pendapat yang berbeda serta alasan-alasannya. Untuk konsumsi pribadi, tentu saja.

Pada dasarnya, manusia sangat senang bila mendapatkan perhatian. Sebab dengan itu pula, manusia tersebut bisa merasa signifikan, penting, didengar dan diikuti, serta dipenuhi keinginannya. Kehadiran beraneka platform media sosial melimpahi manusia-manusia modern dengan ilusi perhatian. Awalnya, mereka menikmati itu. Followers diterjemahkan secara harfiah, sehingga jumlah pengikut menjadi label yang membanggakan diri sendiri. Di sisi lain, mereka pun merasakan sindrom selebritas, beranggapan bahwa para followers tadi memang sebegitu gandrungnya dengan semua yang mereka unggah-bagi.

Para warganet yang telah jenuh dengan kebisingan media sosial, bisa beralih ke Path untuk pengalaman berbeda. Idealnya begitu. Hingga kemudian memunculkan para pengguna ikut-ikutan yang asal mengirimkan permintaan pertemanan, dan membagi konten yang sama untuk semua akun media sosial yang dimilikinya.

Path moment.

Sebuah moment lainnya.

Semenjak kabar penutupan Path beredar, banyak orang—setidaknya kontak di Path saya—yang berkesah bahwa mereka akan kehilangan tempat untuk berkeluh dan menumpahkan unek-unek tanpa khawatir menyinggung orang lain. Bagaimanapun kondisinya, mereka selalu merasa perlu menyampaikan segala yang ingin mereka sampaikan. Entah itu pemikiran atau isi hati.

One of the main reasons why we vent is to reduce our stress levels. Rime (2009) states that disclosing stress is a coping mechanism.

The Psychology of Venting

Akun anonim mengemuka sebagai salah satu alternatif. Terutama di Twitter, berupa akun-akun alter ego non-prostitusi*. Namun, dengan catatan akan lebih baik jika si empunya akun mengunci lini masa mereka. Lantaran fitur pencarian spesifik dan niche tetap menyasar akun-akun publik, cukup dengan kata kunci yang sesuai.

Sementara di Path, terdapat berlapis-lapis pelokalisasian. Moments hanya bisa dilihat oleh teman. Fitur pencariannya pun tak semulus Twitter atau pun Facebook. Selain itu ada pula Inner Circle, dan pengaturan privasi di tiap moments. Kebebasan dan kenyamanannya jelas berbeda. Dalam hal ini, Path bernasib sama dengan beberapa aplikasi curhat yang telah menghilang lebih dahulu. Misalnya Ooh! dan Secret yang sudah tidak tersedia, serta Legatalk yang mentok sampai halaman signup.

Bagi mereka yang terbiasa bebas bicara, dengan demikian mau tidak mau harus memilih antara mengorbankan rasa nyaman demi norma sosial, mulai belajar menggunakan topeng sosial dan membiasakan diri berada di baliknya, atau bersikap persetan.

Btw, terima kasih Path.

[]

Bacaan lainnya terkait anonimitas saat berinternet:
Why Do People Seek Anonymity on the Internet? Informing Policy and Design
Verbal Venting in the Social Web: Effects of Anonymity and Group Norms on Aggressive Language Use in Online Comments

Sebuah Tujuan?

SEPERTI yang pernah diceritakan beberapa pekan lalu, tulisan ini dibuat saat berada di Samarinda. Sambil menyeruput kopi, memandangi bukit sebelah, dan berusaha membenahi mood. Untuk kemudian, tanpa sengaja, teringat pernah menulis begini di blog pribadi.

Kapan kamu mau keluar dari comfort zone-mu?

Hah? Apaan?

Entah, lamunan apa yang sedang menguasai pikiranku saat itu. Namun yang pasti, pertanyaan seorang kawan tadi tidak menempel di benak sama sekali, bahkan mungkin hanya berlalu begitu saja. Layaknya anak panah yang ditembakkan menuju pelat baja setebal 5 cm, mentul total.

“Kapan kamu mau keluar dari comfort zone­-mu? Kondisi kamu saat ini. Kenyamanan hidup yang sedang kamu jalani.”

“Memangnya hidupku sudah nyaman? Kamu tahu dari mana?”

Percakapan itu hampir berakhir dengan singkat. Tanpa banyak argumentasi yang biasanya meruncing menjadi sebuah perdebatan, pertanyaan mengenai zona nyaman dalam hidup seseorang menjadi tidak valid untuk dijawab, lantaran sang penanya mendadak sadar bahwa sikap sok tahu kerap tidak menyenangkan.

“Oke kalau gitu, kapan kamu terakhir pergi jauh? Jauh dari sini, jauh dari apa yang selama ini kamu lakukan sehari-hari, pokoknya jauh.”

Ehm… Sudah lama. Banget. Mungkin 2008. Tapi maksudnya gimana ya?”

“Jauh, sampai bisa merasa sangat asing. Bukan keterasingan yang bikin takut, waswas, curiga. Tapi yang bisa bikin kamu terasa makin utuh. Redefining your existence. Kebingungan yang membahagiakan.”

“…” (jujur saja, tak tahu harus dijawab seperti apa)

Dia tersenyum menunggu jawaban, agar durasi pembicaraan terus berjalan. Sementara aku mendadak terdiam, berpikir keras dalam-dalam. Saking kerasnya, hingga seolah merasa tak punya isi tengkorak untuk dipakai berpikir lagi.

“Selama ini kamu ngapain aja?”

“Ya kerja lah. . . ”

“Kamu senang dengan hasil pekerjaanmu?”

Ehm… Iya… Most likely…

Komentar “most likely” tadi seakan menyusun sebuah pertanyaan baru, bukan dari orang lain, melainkan dari diri sendiri, dan untuk kembali dicecarkan kepada diri sendiri. Pertanyaan itu masih menanti untuk dijawab, hingga saat ini.

Kini, kendati telah maju beberapa tahun, pertanyaan-pertanyaan tersebut terdengar tetap/kembali relevan. Tentang zona nyaman, tentang mempertanyakan eksistensi, tentang kepuasan batin, tentang kemampuan menerima, tentang memandang dengan apa adanya. Hanya jawaban dan cara menjawabnya saja yang berbeda. Barangkali.

Berpindah dari Samarinda ke Jakarta (atau dari satu kota ke kota lain), telah menetap dan mengikatkan diri, saya ternyata berhadapan dengan refleksi yang telah diperbarui. Idealnya, kehidupan, tanpa peduli sekeras apa pun deraannya, selalu mampu mengasah kebijaksanaan. Menjadikan seseorang lebih awas dan waspada, terbuka, terlucut dari praduga, lebih biasa-biasa saja, stabil dalam emosi. Kian mampu memberikan tanggapan yang tepat dan tidak berlebihan. Sebab tindakan yang berlebihan itu melelahkan.

Bisa jadi kita hanya beralih dari satu zona nyaman ke zona nyaman lainnya. Mungkin karena merasa jenuh terhadap zona nyaman yang kita huni saat ini; merasa butuh tantangan baru; atau merasa perlu peningkatan dalam hidup. Kita beranjak dari lingkar kenyamanan saat ini, mencari cerukan yang baru. Lalu bersusah payah membuat perubahan, memahat sudut-sudut tajam yang cadas, menghaluskan sisi-sisi dinding yang kasar, memangkas ujung-ujungnya yang mencuat dan menusuk. Sedemikian rupa kita lakukan, agar ceruk itu bersesuaian dengan kita. Pas dan cocok, mirip potongan-potongan puzzle. Di sisi lain, kita pun ikut menyesuaikan diri. Memberi toleransi semaksimal mungkin untuk segala bentuk ketidaknyamanan yang ditemui.

Bukan proses yang gampang, atau pun terjadi dalam waktu yang singkat. Sejak memutuskan untuk beranjak dari zona nyaman awal, mencari dan menakar, melakukan perubahan dan turut menyesuaikan diri, bisa berlangsung setahun, sewindu, belasan-puluhan tahun, atau malah seumur hidup. Oleh karena itu, bersyukurlah jika kamu telah pernah menikmati zona nyaman hingga beberapa waktu lamanya, untuk selanjutnya merasa bosan, dan berkesempatan untuk mencari calon zona nyaman yang baru. Terlebih bila berhasil menikmatinya.

Itu tandanya, kamu “punya tujuan”, dan “punya tujuan” selalu terasa menenangkan. Setitik tenteram dalam kegelisahan. Tahu ada yang ingin dituju, walau sesampainya di sana, justru terasa biasa-biasa saja.

Selebihnya, bagi kamu yang sudah tak membutuhkan tujuan, atau melampaui batas punya/tidak punya tujuan, izinkan saya bersulang pakai secangkir kopi di sini.

Cheers!

[]

Photo by Fares Hamouche on Unsplash

Ego Feeding nJengking

BARU selesai sepekan lalu, tugas saya sebagai sukarelawan sebuah konferensi independen dan nirlaba. Menjelang akhir acara, ada satu pernyataan menarik.

Memberi makan ego itu memang menyenangkan.

Iya, menyenangkan. Hanya saja, ego kita akan melahap segalanya bak lubang hitam raksasa. Tak cuma hal-hal menyenangkan, termasuk juga semua ketidaknyamanan. Kita cenderung menerima semuanya tanpa kemampuan pilih-pilih. Semuanya terserap, masuk, langsung berdampak pada ego kita, dan kemudian memengaruhi pertimbangan serta tindakan ke depannya.

Apa pun bentuknya; pujian dan sanjungan, formalitas atas prestasi yang kita capai, penganugerahan, nama baik maupun popularitas, pengakuan atas kesuksesan dan perasaan sebagai seseorang yang penting, pengunggulan, sampai pembalasan keadaan, serta banyak lagi lainnya, semua bisa jadi makanan yang nikmat bagi ego kita yang selalu lapar.

Jangan lupa, atas hal-hal yang menyenangkan tersebut ego kita mustahil dibuat kenyang. Setelah dibuat mengembang karena kegembiraan, kita terdorong untuk terus mencari celah-celah keberhasilan yang baru.

Semua yang bikin senang dan menggembirakan, akan membuat ego kita membesar. Sensasinya bisa mencandukan, membuat kita ingin dan ingin lagi merasakan pengalaman yang sama, bahkan lebih. Baik dari lingkupnya, luas cakupannya, objek dan subjeknya, tingkatannya, signifikansinya. Pokoknya, harus ada penambahan dosis. Jika tidak, paling-paling dianggap receh atau beda level. Lebih baik buat orang lain saja.

Misal, pencapaian berjenjang. Awalnya bisa memberi dampak bagi warga kota setempat, ke ibu kota provinsi, ke kota besar pulau lain, ke tingkat nasional atau ibu kota negara, ke tingkat internasional atau ke kota luar negeri.

Sebaliknya, begitu pula ketika ego kita tanpa sadar berhadapan dengan “santapan” yang tidak menyenangkan. Alih-alih membesar, ego kita akan mengecil, menciut, tetapi tak sampai hilang. Ego kita tetap ada, dan tetap siap untuk dibuat mengembang kembali. Dari pengalaman tidak menyenangkan itu, kita terdorong menjauhi dan menghindarinya.

Seperti apa saja? Tinggal dibalik dari beberapa parameter di atas, atau versi negatifnya. Celaan dan hinaan, pengumuman atas ketidakberhasilan, penganugerahan cemooh, nama cemar maupun popularitas negatif, pengakuan atas kekonyolan dan perasaan sebagai seseorang yang kecil, diungguli atau dilangkahi oleh rival, sampai pembalasan gagal.

Emosi yang menjadi kunci. Ego mengembang, rasanya menyenangkan. Ego dikecilkan, rasanya tidak menyenangkan. Untungnya saja, manusia adalah makhluk dengan kemampuan melupakan, atau memulihkan perasaan. Sekadar dipulihkan, bukan sepenuhnya hilang dari ingatan. Itu saja masih lebih baik dibanding tak mampu beranjak dan melepaskan masa lalu. Makanya, setiap kali ada yang terkenang, pengalaman baik akan memunculkan kebanggaan dan keinginan merasakan kembali kegembiraan dari masa lalu; sedangkan pengalaman buruk akan memunculkan penyesalan, kekecewaan, dan aneka cara agar ingatan itu lekas berlalu. Seringkali sampai pakai cara menggoyang-goyangkan kepala, menutup telinga, membuat bunyi-bunyian seolah-olah tidak ingin mendengar sesuatu, padahal berasal dari dalam diri sendiri.

Semenyenangkan apa pun sebuah pengalaman yang ego feeding, atau setidakmenyenangkan apa pun sebuah pengalaman yang mengecilkan hati, pasti akan berlalu jua. Apa pun yang terjadi, ego kita akan/tetap bisa kembali ke ukuran semula.

Ego yang terus-menerus dibesarkan dan membengkak, pasti akan merasa tidak nyaman bila mengalami pengecilan biar hanya sedikit. Ego yang tertekan dan dikecilkan, pasti tetap akan membesar saat kita dapat menyadari bahwa masih mampu bersyukur dan berterima kasih atas hal-hal kecil.

Tidak perlu kejauhan ingin diterimakasihi oleh orang sekota, atau se-Indonesia, cukup bisa menyenangkan perasaan orang tua atau anak saja, kurang lebih, nilainya terkadang jauh lebih besar dari seisi dunia.

Sementara itu, di sisi lain, ego feeding hanya terasa bagi diri sendiri. Pada waktu kita merasa telah menjadi seseorang yang penting, telah melakukan sesuatu yang penting, telah memberi dampak yang penting bagi orang lain, mesti dipastikan kembali kepada orang-orang lain tersebut; apakah kita, dan apa yang telah kita lakukan, memang sebermanfaat atau berdampak sepenting itu bagi mereka?

Jangan sampai mau ditipu ilusi perasaan sendiri.

[]