“Wish you all the best”

ATAU WYATB, akronim yang biasanya kita sampaikan selama ini ketika menimpali HBD, akronim lainnya. Padahal sesuai maknanya; wish you all the best, ini menjadi doa dan harapan yang paling dibutuhkan untuk menjadi kenyataan. Karena apa pun yang terjadi, itulah yang terbaik bagi penerimanya. Saat menyampaikan ucapan selamat dan pengharapan kepada seseorang dalam berbagai situasi, kita… Read More

Mencari Validasi Sampai Mati

BEBERAPA hari lalu, saya tanpa sengaja menonton salah satu episode serial “Star Trek: Voyager” (1995-2001). Ceritanya, Seven of Nine (Jeri Ryan) mengalami kerusakan komponen penting, dan membuatnya mengalami risiko cease to function atau kematian. Dalam kepasrahannya menghadapi kematian, ada salah satu bagian dialog Seven of Nine yang menarik. Yakni bagaimana setelah kematiannya nanti, tidak ada… Read More

Mengizinkan Diri untuk Minta Maaf dan Memaafkan

BESOK sudah Lebaran lagi; hari kemenangan bagi kawan-kawan muslim yang sudah menjalankan ibadah puasa Ramadan meski masih dalam situasi pandemi. Menang, karena telah berhasil mengendalikan diri, menahan hawa nafsu, dan mengikuti semua ketentuan yang berlaku. Menang, karena telah berusaha semaksimal mungkin kembali ke fitrah, ditandai dengan saling bermaafan … dan saya justru melihatnya sebagai ujian… Read More

“Kita” Adalah Isi Perut Kita?

PERTANYAAN yang menjadi judul tulisan di atas muncul setelah membaca twit berikut, dan lanjut membaca serangkaian utas yang ditautkan di dalamnya, hingga sedikit Googling saking penasarannya. Sebagai seseorang yang awam soal biologi dan cabang-cabang keilmuannya, pandangan ini menggelitik sekaligus mengundang untuk mikir macem-macem. Sederhananya, segala dorongan tindakan, aktivitas organ tubuh dan fisiologis, gejolak hormonal, serta… Read More

Mental Penimbun & Mental Berbagi

PERCAKAPAN ini terjadi setelah kegiatan membuang sampah; setelah melihat ada tiga kontainer besar lain tanpa penutup yang saat ditengok dalamnya, ternyata adalah clutter charity box untuk meletakkan barang-barang yang disumbangkan. Bukan barang baru tentunya, tetapi masih dalam kondisi relatif baik. Minimal tetap berfungsi sebagaimana mestinya. Sebagai seseorang yang cheapskate, saya triggered. Maklum masuk golongan #AntiBocuan… Read More

Kenyamanan Hati

PERASAAN atau suasana batin yang satu ini memang tidak ternilai harganya. Kita tahu, tetapi tidak benar-benar tahu, hingga akhirnya sadar dan menjadi tahu. Terlampau misterius untuk dikenali, tetapi terasa amat sederhana untuk terlampau disakralkan. Ada yang merasakan kenyamanan hati setelah berbuat baik kepada orang lain; berusaha membahagiakan, membantu mereka yang membutuhkan, dan bersikap welas asih… Read More

Selesai Karantina

MUDAH-MUDAHAN ini hanya pengalaman sekali dalam seumur hidup; menjalani karantina wajib selama 14 hari setelah tiba di luar negeri. Selain menguras sumber daya, saya membayangkan situasi ini bisa sedemikian menyiksa orang-orang ekstrover, orang-orang yang memerlukan ruang gerak relatif luas, dan tidak nyaman dengan kesendirian maupun rasa kesepian (kecuali kalau karantina berdua, atau sekeluarga). Belum lagi… Read More

“Bolehkah Saya…”

DI KANTOR, kita kian sering mendengar; Lebih baik minta maaf daripada minta izin,yang penting jalan dulu. Ungkapan ini disampaikan dengan penuh percaya diri dalam internal tim, serta keyakinan yang tinggi bahwa rencana atau project yang akan digulirkan bisa berbuah keberhasilan, meskipun bisa saja tetap mengundang kontroversi, pertanyaan, maupun keraguan dari tim-tim lainnya. Rasanya, seolah-olah ingin… Read More

Bahagia dalam Pencapaian-pencapaian Kecil

PERIHAL rasa gembira dan hal-hal yang bisa membuat kita gembira, kita tampaknya adalah makhluk-makhluk yang hatinya gampang kebas. Kejadian yang terulang tidak akan seberkesan saat pertama kalinya. Kegembiraan perlahan kehilangan rasanya; dari euforia menjadi sesuatu yang biasa-biasa saja. Fenomena ini wajar, dan justru bermanfaat mendorong agar manusia terus bereksplorasi dalam kehidupannya; memperluas pengalaman dan wawasan,… Read More

Terima Kasih Pak Suhadi…

… YANG sudah menunjukkan bahwa umat Buddha Indonesia–atau setidaknya yang disebut tokoh umat Buddha Indonesia–masih jarang ngobrol satu sama lainnya. Kalau pakai bahasa yang ndakik-ndakik-nya, kurang konsolidasi. Jadi, jangankan perbedaan dengan pihak eksternal yang jelas-jelaa bisa terjadi di republik ini, lha wong sesama umat Buddha, maupun antara tokoh dan umat Buddha di Indonesia saja masih… Read More

Siapa Salah? Salah Siapa?

APA gunanya menyimpan banyak pulpen dan kertas, kalau jarang menulis … atau setidaknya corat-coret sekenanya saat melamun dan berkhayal. Corat-coret sekenanya; bisa berupa gambar, bisa pula berupa kata-kata. Nama entah siapa, umpatan dan makian tak jelas juntrungannya, kata dan frase yang selintas lewat dalam benak kita. Bisa juga kita menulis panjang lebar kegundahan dan kegalauan… Read More

Pemberian yang Pantas (2)

SAYA mengawali tahun baru dengan sesuatu yang kurang mengenakkan, secara harfiah maupun kiasan. Tepat di tanggal 1 Januari, saya terpaksa membuang tiga perempat isi botol kopi susu literan yang didapat dua malam sebelumnya … dalam sepaket bingkisan Natal pemberian partner kantor. Éman memang. Membuang sesuatu yang tadinya masih enak dan menyegarkan, dengan kuantitas yang masih… Read More

Teh Mondo: Catatan Akhir Tahun 2020

SAYA baru kembali dari Solo kemarin malam, makanya tulisan Linimasa hari ini baru naik sekarang. Terdengar bodoh, memang. Sudah tahu wabah COVID-19 masih–makin–merajalela di Indonesia, kok berani-beraninya saya bepergian ke luar kota. Ya … yang namanya maut memang selalu datang tiba-tiba. Urusan maut juga yang menjadi alasan saya (nekat) pergi ke luar kota, dan mesti… Read More

Agama yang Menghibur

SEBUAH pertanyaan sederhana: “Apakah yang serius-serius itu tidak akan bisa menghibur?“ yang selanjutnya akan memunculkan pertanyaan baru: “Apakah sesuatu yang menghibur itu pasti tidak serius?“ Manakala jawaban untuk dua pertanyaan di atas adalah “belum tentu“, iseng saya ingin membahasnya dengan agama sebagai objeknya. Yang selama ini–sepanjang peradaban manusia–agama pasti diatribusikan sebagai sesuatu maha serius, bukan… Read More

Mampu Bertanggung Jawab Itu Privilese

ADA perbedaan mendasar antara mau bertanggung jawab, dan mampu bertanggung jawab yang kerap luput dari perhatian. Mau bertanggung jawab, belum tentu mampu. Dengan segala keterbatasan dan kekurangan, kemauan hanyalah kemauan. Belum tentu bisa dijalankan secara langsung, sebagaimana mestinya dalam situasi normal. Dalam hal ini, anything but the person is the determining factor. Jika ada sedikit… Read More