Photo by Kyle Cottrell on Unsplash

Berpikir Setengah-setengah

SAYA menonton film “Lima” dua pekan lalu. Rasanya seperti berada dalam kelas, “membaca” narasi pengantar untuk lima nomor ujian esai dengan pertanyaan utama: “Apa yang akan kamu lakukan jika …” Ada soal yang bikin mikir banget dan terasa jauh lebih pelik dibandingkan lainnya, ada juga yang terkesan biasa-biasa saja karena relatif sering kita temui di kehidupan sehari-hari.

Di waktu yang hampir bersamaan pula, ada dua hal menarik yang saya temui di Twitter.

Entah apakah percakapan di atas terjadi secara faktual atau tidak, tetapi tetap mengundang untuk dipikirkan.

Terlepas dari sebaik hati, sewelas asih, pemurah maaf dan penuh ampunan apa pun sang nenek, pencopet tersebut tetap telah melakukan percobaan tindak kriminal. Keputusan akhir tetap menjadi kewenangan aparat hukum. Respons sang nenek tentu sungguh mulia dan patut dicontoh, hanya saja apakah mampu membuat si pelaku sadar dan bertobat agar tidak mengulanginya di kemudian hari?


Berulang kali berganti nama; poin-poin materi; dan metode penyampaian, salahkah bila Pendidikan Moral Pancasila (PMP) yang diubah menjadi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), serta sempat disebut Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) itu dianggap sebagai salah satu mata pelajaran tertaksa di Indonesia?

Banyak aspeknya yang samar, atau tanpa sengaja tersamarkan. Baik lantaran modul-modul petunjuk pelaksanaannya mengarahkan demikian, ataukah memang para pengajar dan orang-orang yang lebih tua merasa canggung untuk terlibat terlampau jauh dalam pelbagai pembahasannya. Tahu, kan, ketidaknyamanan timbul ketika kita dihadapkan pada topik-topik pembicaraan yang dianggap sensitif, dan membuat kita berusaha menghindarinya. Begitu dan jadi kebiasaan, diturunkan ke generasi berikutnya.

Biar bagaimanapun, kehidupan manusia akan terus berkembang. Kondisi sosial dan kemasyarakatan kian kompleks dengan makin beragamnya situasi yang dapat terjadi. PMP/PPKn/PKN semestinya dapat memberikan gambaran sikap ideal. Namun telanjur samar, PMP/PPKn/PKN hanya menyisakan wacana-wacana normatif, mengobservasi dari permukaannya saja, dan tidak direntangkan lebih jauh sebagai landasan berargumentasi.

• Apa yang akan kamu lakukan jika mendapat undangan kerja bakti di lingkungan tempat tinggalmu?
A. Mengikutinya
B. Pura-pura sakit
C. Tidak peduli
D. Menyuruh pembantu untuk ikut

Dalam PMP/PPKn/PKN, sudah sangat jelas bahwa jawaban untuk pertanyaan pilihan ganda di atas adalah butir A. Anak-anak diajarkan mana yang patut (benar), dan yang tidak patut (salah). Idealnya, sikap dan pemahaman itu mereka terapkan dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari.

Cukup disayangkan, pendekatan ini malah bisa menumbuhkan orang-orang munafik. Mereka tahu, dan akan memberi jawaban yang benar saat disodori pertanyaan demikian, tetapi belum tentu benar-benar dijalankan. Mereka “diajarkan” pentingnya melakukan pencitraan sedari kecil, salah satu kemampuan dasar untuk jadi politikus. Lain ucapan, lain pula tindakan.

Tidak arif, kaku, dan berpolaritas, yang bahkan bisa mendorong seseorang bertindak munafik. Ia hanya tahu membedakan label “benar” dan “salah”; ia tahu karakteristiknya; dan ia tentu memilih label “baik” di hadapan publik, tetapi tidak bersungguh-sungguh menjalankannya. Hanya agar terlihat pantas, dan tentu saja dapat berubah sesuai keadaan. Sayangnya, begitu menghadapi peristiwa dan kejadian yang belum pernah ditemui, langsung gelagapan, lalu melakukan tindakan yang hanya bisa disesali kemudian.

Bisa jadi lantaran tidak ada aspek perasaan (kegelisahan saat berbuat tidak patut versus kelegaan saat berbuat patut), motivasi (menghindari rasa malu versus menumbuhkan kebanggaan), maupun alasan (melakukan/tidak melakukan begini agar begitu) di sana. Sehingga mereka hanya tahu bahwa “ini benar, itu salah” dalam lingkup terbatas.
Coba kita modifikasi contoh soal di atas.

• Di hari libur kamu ingin Ayah dan Ibu membawamu bertamasya ke kebun binatang. Namun, ada undangan kerja bakti dari Pak RT untuk mencegah banjir di lingkungan tempat tinggalmu. Apa yang akan kamu lakukan?
A. Tetap meminta Ayah dan Ibu untuk membawamu bertamasya ke kebun binatang, apa pun caranya
B. Memarahi Pak RT yang menyampaikan undangan
C. Meminta Ayah mengganti rencana tamasya ke lain hari
D. Ikut Ayah kerja bakti

Mana jawaban yang benar dari sudut pandang sang anak, atau peserta didik PMP/PPKn/PKN? Di sisi lain, bagaimana dengan si Ayah? Jalan-jalan dan bertamasya bersama keluarga pasti jauh lebih menyenangkan dibanding mengikuti kerja bakti, bukan? Andaikan pun sang Ayah tetap ingin menjalankan kewajibannya sebagai warga, bagaimana caranya memahamkan dan bernegosiasi dengan sang anak? PMP/PPKn/PKN tidak menyentuh celah tersebut.

Ilustrasi di atas baru berbicara mengenai urusan sepele: kerja bakti. Sementara ragam peristiwa yang kita hadapi kini sudah kian beraneka. Misalnya:

Bagaimana cara bergaul dan menyikapi teman sekolah yang berbeda agama?

Bisa kita exercise lagi menjadi: “Bagaimana caramu menyikapi teman sekolah yang berbeda agama, dan terlihat sedang minum es teh saat kamu sedang berpuasa?

… atau “Bagaimana caramu menyikapi teman sekolah yang berbeda agama, dan sedang menjalankan ibadah puasa?” Berlaku di dua sisi, kan?

Dalam hal ini, pengajaran orang tua di rumah seringkali jauh lebih tertanam dibanding kaidah dalam PMP/PPKn/PKN. Belum lagi jika guru atau pihak sekolah ternyata memiliki pandangan yang berbeda.

Seperti yang baru lewat beberapa hari lalu.

Pemahaman yang mendasar sekaligus menyeluruh dari PMP/PPKn/PKN seyogianya bisa mencegah dan menjauhkan seseorang dari perbuatan demikian. Terlebih bila yang bersangkutan juga memegang nilai-nilai positif lainnya; agama, budi pekerti, prinsip kelayakan sosial, serta kemampuan berempati.

Beberapa ilustrasi lainnya.

• Bisakah pemahaman PMP/PPKn/PKN menghindarkan masyarakat atau massa dari aksi persekusi dan main hakim sendiri? Apalagi sampai menyebabkan kematian.

Seberapa mampukah pendekatan PMP/PPKn/PKN yang diberikan sejauh ini menumbuhkan empati, rasa kasihan, dan kemanusiaan tanpa memandang latar belakang individu?

Apakah bisa disederhanakan dengan dibilang bahwa para perisak dan pelaku aksi main hakim sendiri adalah orang-orang yang nilai PMP/PPKn/PKN-nya jeblok waktu bersekolah dulu?

• Bagaimana menerjemahkan pemahaman PMP/PPKn/PKN agar menghindarkan warganet dari keteledoran digital, seperti membagi dan menyebarkan kabar dusta maupun hoaks, dengan mudahnya mengutarakan kebohongan dan ujaran kebencian, serta lain sebagainya?

• Bagaimana mengamalkan pemahaman PMP/PPKn/PKN dalam menghadapi, menyikapi, bahkan bergaul dengan orang-orang yang telah menjalani operasi kelamin dan telah berganti gender secara legal? Sebab sampai sejauh ini, perisakan terkait itu pasti selalu terjadi. Baik yang dilatarbelakangi argumentasi keagamaan, atau sekadar karena perasaan tidak nyaman/tidak senang.

Pakai ilustrasi Trans Man luar negeri saja, ya. Jagat maya kita tampaknya sudah cukup jenuh dengan figur transeksual Indonesia yang terus-menerus jadi objek hinaan.

Di balik foto-foto transformasi yang mencengangkan, ada proses yang menyakitkan dan membahayakan, biaya yang tidak sedikit, serta waktu dan kesabaran yang harus dicurahkan.

• Bisakah menerapkan prinsip musyawarah dalam menghadapi hubungan pacaran berbeda agama? Ataukah hasil akhirnya sudah diputuskan di muka?

• Ketika yang merasa miskin selalu meminta kepada yang dianggapnya kaya, atau yang merasa miskin mudah kesal kepada yang dianggapnya kaya, apakah hal tersebut sesuai atau bertentangan dengan prinsip keadilan sosial?

… dan masih banyak lainnya.

Jangan lupa, kehidupan manusia akan semakin kompleks.

Oh, ya, Selamat Idulfitri. Maaf lahir batin, ya. 🙏🏼

[]

Advertisements
Sitting alone on a dock.

Basa Basi (Tidak) Busuk

SESEORANG menitipkan tulisan ini.


“Apa kabar?”

Pernah merasa jengah dengan basa basi?

Sama, saya juga. Seringnya orang-orang sebenarnya tidak ingin tahu jawaban dari pertanyaan di atas. Pertanyaan itu juga biasanya dijawab dengan normatif, balasan standar satu kata yang harus dibalas dengan menanyakan pertanyaan yang sama ke penanya. Kadangkala keceplosan, penanya tadi menjawab dan menyakan kembali “lo gimana?” #seringterjadi

Bagi sebagian orang, menanyakan kabar merupakan fase pembicaraan yang harus dilalui sebelum berlanjut ke topik berikutnya. Demikian pun, ada juga yang mengambil kesempatan untuk mencurahkan isi hati terdalam tanpa permisi yang seringnya berujung jeritan hati pendengar, “Gue cuma nanya kabar hoi! Bukan kisah hidup!”

Pernah suatu kali saya berbasa basi menanyakan kabar salah satu rekan sejawat yang dijawab dengan “Gue habis berantem sama partner gue, tadi dia drop gue di kantor dan gue sama sekali gak ngomong sama dia sedikitpun! Masa dia…” Dan dilanjutkan dengan ekstra 20 menit detail hubungan mereka yang semakin dingin dan rentan masalah, yang saya simpan di kotak “Informasi kurang bermanfaat” di pikiran saya.

Seorang sahabat yang saya ceritakan mengenai kejadian itu berkelakar, “Makanya jangan bertanya open-ended questions! Itu sih cari masalah namanya!”

Baru-baru ini kita dikejutkan dengan meninggalnya Kate Spade, designer fashion kondang di Amerika. Kate ditemukan gantung diri di apartemennya di New York, dan dilaporkan sudah berjuang 5 tahun melawan depresi dan kecemasan. Suami Kate memberikan penjelasan bahwa Kate secara aktif berusaha untuk sembuh, bertemu dokter setiap minggu dan mendapatkan pengobatan untuk depresi dan kecemasan yang dia alami.

Tak kalah kaget juga waktu mendengar Anthony Bourdain ditemukan bunuh diri pada umur 61 tahun. Tidak sedikit orang yang bilang, “Enak ya kerja kayak Anthony Bourdain! Keliling dunia sambil makan-makan!” tanpa menyadari bahwa yang menjalani pun belum tentu merasa semudah dan seenak itu hidupnya. Benar, yang kita lihat makan-makan dan jalan-jalannya. Tapi bagaimana dengan sisi lain kehidupannya yang tidak pernah terekspose?

Sebelum Kate dan Tony, kita juga sudah mendengar mengenai Robin Williams, Chester Bennington dan juga pesohor-pesohor lain yang akhirnya tunduk oleh tekanan hidup dan memutuskan untuk mengakhiri hidup mereka sendiri dengan satu maupun lain cara. Berita yang tersebar, mereka memang melalui masa-masa sulit dan melawan depresi di akhir hidupnya.

Death doesn’t discriminate between the sinners and the saints.

Sialnya, demikian juga dengan penyakit kejiwaan. Tidak hanya menyerang artis-artis tapi juga rakyat jelata- karyawan kantoran, polisi, pengangguran, mahasiswa, ibu rumah tangga, pelajar juga bisa mengalami depresi atau penyakit-penyakit jiwa lainnya. Entahlah, saya sendiri masih belum yakin apa sekarang ini semakin banyak orang yang mengalaminya atau dengan pemberitaan zaman modern semakin banyak kasus yang terekspose oleh khalayak ramai. Tapi yang saya sadari, penyakit kejiwaan bukan lagi menjadi sesuatu yang asing yang kita dengar.

Death doesn’t discriminate between the sinners and the saints.

We will all live to face it eventually. Still, that does not justify you taking your own life.

Kalau kalian merasa cemas, sedih, depresi, takut dan merasa tidak normal, tolong cari bantuan. Cari orang-orang yang kenal dan peduli dengan kalian, cari bantuan profesional–there is no shame in seeking help. Tidak ada yang memalukan dari berusaha sembuh dan hidup “normal”, apa pun itu bentuknya. Tolong jangan berobat sendiri, karena asal minum obat sendiri never ends well.

Pernah saya mendengar kabar bahwa teman satu SD, yang pernah duduk di sebelah saya pada satu masa ditemukan gantung diri di kamarnya. Menurut kabar, ia baru saja putus dengan pacarnya waktu itu dan tengah-tengah mengerjakan skripsi, bapaknya juga sedang sakit waktu itu.

Saya tercenung. Gamang waktu mendengar berita tersebut beredar di alumni sekolah kami. Dia kurang lebih seumur saya. Orang tuanya masih hidup. Dan orang tuanya harus kehilangan anak yang semestinya masih memiliki jalan panjang dalam kehidupannya. Orang tua harus menguburkan si anak. Teriring doa supaya orang tuanya tetap tabah dan terus menjalani hidup.

Saya sesungguhnya sudah tidak ada kontak semenjak kami berpisah sekolah. Bahkan waktu kami satu sekolah, saya bukan termasuk golongan teman-temannya. Tetapi saya juga bertanya-tanya, apa kira-kira akan berbeda kalau ia membuka diri dan mencari pertolongan saat ia mengalami masalahnya?

Kalau kalian merasa normal dan baik-baik saja, bersyukurlah. Sebagai yang “waras”, ingat bahwa kalian bisa ikut membantu orang-orang yang tidak seberuntung kalian dengan berusaha membangun koneksi dengan mereka. Dari pengalaman saya, banyak orang yang menderita dalam diam dan mempertanyakan kewarasan mereka dalam konteks yang tidak bercanda. Dihantui rasa takut akan kehilangan kendali akan diri. Perasaan gelap yang menghantui tanpa ada jalan keluar yang terlihat. Keengganan untuk melakukan apapun. Hati yang terasa berat. Takut tidak dimengerti. Takut ditertawakan. Takut dipermalukan. Dan banyak lagi perasaan kompleks yang tidak biasanya ada atau tidak dirasakan dengan kadar berlebih oleh orang yang “normal” pada umumnya.

A tweet snippet.

Saya juga punya pengalaman pribadi dalam hal ini–saya pernah “menyelamatkan” (dia yang bilang, bukan saya) seorang sahabat saat dia hampir bunuh diri. Dia bilang dia sudah menyiapkan semuanya, lalu saya mengontak dia melalui chat untuk menyapa dan menanyakan kabarnya. Dia batal bunuh diri karena akhirnya membalas chat saya dan masih hidup sampai sekarang. Saya sendiri tertegun waktu dia cerita ke saya. Bukan, bukan mau bilang saya ternyata bisa menyelamatkan orang. Hanya mau bilang ternyata sapaan dan perhatian itu yang kadang bisa berimbas lebih besar buat yang lebih membutuhkan.

Di Australia, ada organisasi “R U OK?” (ruok.org.au) yang bertujuan untuk membangkitkan kesadaran tentang orang-orang yang mungkin butuh pertolongan dan tidak bisa mencari atau memintanya.

Websitenya berisi petunjuk dan bantuan untuk memastikan orang-orang lebih sadar dan memberi perhatian lebih pada pertanyaan “Are you okay?” dan juga tindakan lanjutan apabila yang ditanya membutuhkan bantuan. Bukan hanya itu, website ini juga memberikan petunjuk supaya kita tidak asal bertanya. Sebagai salah satu tahapan, bahkan diberikan petunjuk, apakah kita siap menerima kala yang ditanya menjawab tidak baik-baik saja? Apakah kita siap membantu? Apakah kita memilih saat yang tepat? Silakan dibaca, barangkali bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari kita semua.

Akhir kata, kita bisa lebih terlibat dan membantu orang-orang di sekitar kita. Jangan anggap sepele menanyakan kabar orang lain. For better or worse, be genuinely interested in people’s life. Mungkin mereka tidak bersedia berbagi, ya tidak apa-apa.  Tapi mungkin pertanyaan itu menjadi suatu kunci, suatu terang yang ditunggu-tunggu yang ditanya untuk bisa mendapatkan bantuan atau dukungan. Yang saya sebut di atas hanyalah satu medium yang bisa mencontohkan bagaimana caranya, tapi saya yakin kita masing-masih bisa lebih punya simpati dan empati terhadap orang lain selama kita menjalani hidup kita sendiri. Or you can just not care. The choice is all yours. Eitherway, jangan menghakimi dan menertawakan orang dengan berbagai perjuangannya. Toh hidup orang lain bukan kita yang menjalani.


Sekian.

[]

Mengalir

TANGGAL hari ini cantik, 6-6. “Liu-liu” bunyinya, kalau dilafalkan dalam Mandarin. Mungkin gara-gara itu banyak orang Tionghoa yang lumayan suka dengan angka 6. Meskipun rasa sukanya belum sekuat seperti pada 7, 8, dan 9, yang masing-masing ialah “qi” (dibaca: chi), “ba” (dibaca: pa), dan “jiu” (dibaca: ciu). Oh, ya, kenapa ada tulisan yang berbeda dengan cara bacanya? Karena penulisan itu adalah Pinyin, sistem transliterasi untuk memudahkan pembelajaran dan pembacaan, khususnya bagi bukan penutur bahasa Tionghoa.

“Liu”-nya angka 6 (六) punya pelafalan yang sama dengan “liu” yang berarti mengalir atau bergerak (流). Mirip juga dengan “liu”-nya sejenis pohon dedalu atau willow (柳), yang aslinya tidak sebuas whomping willow dalam cerita Harry Potter. Makanya seringkali kita mendapati lukisan-lukisan Tionghoa dengan pohon willow sebagai objek utamanya, terpasang di ruang tamu rumah maupun kantor. Supaya kehidupan di situ mengalir. Doa dan harapannya begitu. Itu sebabnya rumah orang Tionghoa penuh dengan simbolisasi, bermacam-macam rupa. Setidaknya bagi mereka yang masih mengerti dan memahami … dan masih peduli … dan masih hidup.

Lukisan klasik pohon willow.

Oh, well, nevermind.

Air dan udara mengalir. Ini sesuai prinsip fisika. Air yang mengalir jauh lebih baik daripada genangan. Air yang mengalir berarti tidak ada yang buntu. Dari ketinggian, mengucur deras ke arah bawah. Air yang menggenang jadi tempatnya nyamuk bertelur, sumber penyakit, berlumut, dan berlendir. Kental-kental bikin geli. Bukan geli yang enak, tetapi geli yang bikin jijik.

Udara yang mengalir artinya kehidupan. Kalau udara tidak mengalir, tidak bakal ada proses pernapasan. Udara yang mengalir pun pertanda kenikmatan. Enggak percaya? Coba sekali-kali dihayati saat akan berkentut, tanpa ditahan-tahan. Nikmat, kan? Asal jangan los kentutnya saat berada di dalam lift. Kenikmatan untuk kita, jadi penderitaan bagi orang lain. Tak elok pula kalau kentutnya dipaksa-paksa. Biarlah udara yang satu itu terdorong dan keluar secara alamiah. Kalau dipaksa, nanti keluar bareng temen-temennya. Bisa berabe kalau terjadi bukan pada tempatnya.

Demikian juga soal hidup. Biarlah mengalir dan bergerak sesuai kondisinya. Ke kanan dia bergulir, ya sudah ke kanan juga kita melangkah. Ke kiri dia berbelok, ikuti arah alirannya. Ke depan dia menuju, jalani apa yang ada. Yang penting harus tetap bergerak. Tidak mentok, tidak mandek, tidak mampet.

Perkataan dan pikiran juga sebenarnya mengalir, bagi yang menyadarinya. Malah saking lancarnya, sampai-sampai lebih susah dibendung ketimbang air dan udara. Mau dibendung pakai apa pula? Perkataan dan pemikiran bisa muncul dan terus muncul pada banyak orang. Tatkala diucapkan dan disampaikan, bisa menginspirasi, mengilhami, memotivasi, dan menggerakkan lebih banyak orang lagi. Apalagi jika para pendengarnya punya antusiasme tinggi, seperti hadirin kelas filsafat tanpa biaya yang diselenggarakan di Jakarta Timur secara berkala, atau mereka-mereka yang jadi jemaat gereja-gereja keren kekinian di Jakarta Selatan: suka mencatat.

Ada yang pakai notes, ada yang pakai binder seperti anak kuliahan, ada juga yang lebih suka mengetiknya di gadget. Entah nantinya catatan itu dibaca dan diresapi kembali di saat senggang, dibagikan sebagai pengajaran bagi sesama, ataukah jadi caption di media sosial. Semua boleh saja, yang penting tidak berhenti di situ saja dan ada faedahnya. Mengalir. Dialirkan.

Manusia memang ahlinya membendung. Bukan cuma bikin bendungan lho, ya, tetapi berkemampuan untuk mengarahkan dan mengalirkan. Terutama air dan udara. Mulai dari Kaisar Yu yang pertama kalinya berhasil mengatasi banjir bandang di Tiongkok kuno, sampai ke Aang sang avatar airbender. Namun, beda keadaannya kalau sudah menyangkut perkataan dan pikiran. Bukan melulu orang lain yang mampu membendung atau mengarahkan kedua hal tersebut, melainkan si empunya perkataan dan pikiran tersebut.

Mau sekuat apa pun seseorang membendung perkataan dan pikiran orang lain, pasti bisa tetap bocor juga, atau lebih banyak bermunculan yang serupa. Hanya si pemiliknya sendiri yang dapat benar-benar membendung, mengarahkan, menahan, mengendalikan aliran perkataan dan pikiran. Sekali seseorang sudah memutuskan untuk tidak mau mengutarakan perkataan dan pikirannya, terlebih atas dasar alasan tertentu yang kuat, sudah pasti terkunci rapat. Mau dipaksa sekuat apa pun, pasti tak bisa tembus.

Terberkatilah Indonesia, tempat di mana seorang Pram dilahirkan … dan terberkatilah Pram, yang dengan karya-karyanya terus mengalirkan ide, pemikiran, semangat, serta gagasan gerakan sejauh ini. Tengah berada dalam situasi sepelik dan setidak nyaman apa pun, dia tetap menulis. Dia tetap mengalirkan pemikirannya, yang untungnya bukan jadi sekadar lisan, melainkan kumpulan tulisan. Buku, lembar-lembar catatan, sampai kertas bekas pembungkus semen yang diperlakukan laiknya artefak pustaka. Tuh, sedang dipamerkan hingga sekarang, kalau tidak salah.

Selain Pram, tak kurang-kurang tokoh Indonesia yang kita kenal terus menulis, berpidato dan memberikan kuliah terbuka, berdiskusi dengan eloknya tanpa peduli bendungan, batasan, maupun kekangan yang dipasang oleh zaman.

Andaikan mau dipikir-pikir lebih mendalam, kita saat ini sesungguhnya juga demikian. Makin bebas mengalirkan perkataan dan pemikiran tak ubahnya para figur merdeka terdahulu. Bedanya, perkataan dan pemikiran mereka bermanfaat. Bukan semata-mata hal sepele macam ngrasani wong liya, bersungut-sungut, serta bergunjing-gelinjang. Nihil batas.

Ya bisa jadi, dan jelas saja, kita memang tak semendalam, seberwawasan, sepatut, dan semulia mereka-mereka yang terdahulu. Hanya saja, lagi-lagi, mbok ya sedikit jeli saat berkata dan berpikir. Biarkanlah keduanya mengalir sebaik-baiknya keperluan, bukan malah sengaja ditumpahkan begitu saja. Mengganggu orang lain, menyebabkan kerusakan.

[]

Pada Akhirnya, Semua akan Lelah Membanding-bandingkan

FERLY, sebut saja demikian. 26 tahun usianya saat ini.

Dilihat dari feed Instagram dan foto-fotonya di Facebook, Ferly memiliki kehidupan yang tampak hampir sempurna. Tidak hanya yang menampilkan dirinya di tengah-tengah pesta, di lokasi-lokasi bergengsi penuh gaya, ada banyak foto lain yang menunjukkan bahwa karier Ferly sedang gemilang-gemilangnya.

Sesekali, ia membagikan posting-an inspirasional melalui akun LinkedIn. Berisi empat-lima paragraf komentar lugas mengenai isu-isu terkini yang berkaitan dengan bidang profesinya. Maklum saja, ia seorang manajer perusahaan FMCG terkemuka. Sudah cukup dikenal berwawasan luas dan cerdas, tepat bertindak, luwes bergaul, dan punya visi yang kuat. Semua itu membuat Ferly selalu jadi incaran perusahaan-perusahaan lain yang ingin “membajaknya”.

Kepribadian Ferly yang hangat dan bersahabat tidak hanya ditunjukkan kala berinteraksi dengan khalayak. Di mata para teman, terlebih keluarga, Ferly adalah seseorang yang sangat menyenangkan. Penuh perhatian, dan selalu punya tenaga yang cukup untuk mencurahkan luapan perhatian tersebut.

Membahas tentang Ferly, kurang lengkap bila belum berbicara tentang seleranya terhadap seni dan gaya.

Fisik Ferly memudahkannya dalam penampilan; bermacam model pakaian cocok dikenakannya. Elegan saat memberikan presentasi bisnis kepada mitra dan kolega, keren saat berbaur dalam pesta maupun aktivitas sosial lainnya. Ia juga memiliki kecintaan khusus pada seni kontemporer. Terlihat dari bagaimana caranya mengapresiasi lukisan dan kriya pahatan maupun logam dari seniman-seniman Indonesia. Ia tidak sok-sokan mengharamkan diri dari berswafoto di depan karya, tetapi juga memiliki referensi dan kedalaman argumentasi saat memberikan apresiasi. Apa dan bagaimana cara dia menjelaskan pandangan artistiknya, mengesima.

Kita cukupkan sampai di sini.


Tuhan itu adil.” Demikian ungkapan yang populer di pendengaran kita sejauh ini. Namun, maknanya ganda.

Bisa diutarakan sebagai bentuk kemakluman, bahwa tiada seseorang pun yang sempurna. Di balik segudang kelebihan, keutamaan, dan anugerah, ternyata tersimpan sejumlah ketidakberuntungan.

… atau sebenarnya malah menjadi tanda bahwa kita iri dan dengki terhadap yang bersangkutan. Diam-diam berharap ada satu atau dua kekurangan dan kondisi tidak beruntung yang terjadi pada seseorang tersebut. Tidak bisa benar-benar menerima keadaan diri sendiri, dengan kekurangan di sana sini.

Ah, pasti ada kurangnya kok. Kita belum tahu aja.


Demikianlah cara kerja jebakan pembandingan (comparison trap). Sesuatu yang menjauhkan kita dari rasa bersyukur, mengaburkan kita dari semua potensi dan kelebihan yang sebenarnya kita miliki, serta menciptakan ilusi jarak antara kita dengan kebahagiaan kita sendiri.

Bukan masalah si Ferly, apabila kehidupannya penuh dengan kebaikan, kualitas, anugerah, dan keberuntungan. Melainkan jadi masalah bagi orang-orang lain, yang mengeluhkan keadaan dirinya sendiri saat dibandingkan dengan kehidupan Ferly. Terlepas dari sesederhana dan sebersahaja apa pun Ferly ingin bersikap dalam menjalani kehidupannya, tetap bisa terlihat enviable, bikin iri dan kepingin juga.

Begitu pula sebaliknya, bukan keharusan bagi si Ferly untuk turut mengekspose kemalangan dan kekurangan yang ia alami. Bukan juga kewajiban orang-orang lain untuk turut dibebani dengan sekumpulan problemnya si Ferly. Jadi, tidak salah bila gambaran kehidupan Ferly yang dibagikannya ialah yang baik-baiknya saja. Penuh senyum dan tawa, yang indah-indah dan menyenangkan siapa pun pemirsanya.

Photo by Caleb George on Unsplash

Apakah kunci kebahagiaan dalam hidup?

Bagi banyak orang zaman sekarang adalah … uninstall Instagram, mute Twitter, dan menutup akun Facebook. Alias berusaha menghindarkan diri dari segala media yang secara terus menerus menyediakan gambaran baik nan indah orang-orang lain di luar sana. Sebab pada kenyataannya, kita belum tentu sanggup menerima semua gempuran tersebut. Tidak semua dari kita dibekali kebijaksanaan dan kemampuan untuk melihat segala sesuatu dengan sebagaimana mestinya, apalagi memanfaatkannya dengan maksimal.

Upaya membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain memang memiliki dua orientasi, ke atas, dan di bawah. Hanya saja, kita cenderung lebih memilih untuk terlena dengan semua yang ada di atas, serta sengaja mengabaikan pandangan kita ke bawah. Idealnya, semua bergantung pada bagaimana cara kita mengolah informasi yang diterima; dalam hal ini, informasi mengenai segala hal yang baik dalam hidup si orang lain tersebut. Motivasi untuk melakukan perbaikan diri, upaya untuk mencapai perkembangan dan kemajuan dalam hidup, muncul sebagai dampak positif dari perbandingan ke atas.

Berkebalikan dengan itu, dampak negatif dari perbandingan ke atas seringkali—dan utamanya—dipengaruhi pandangan serba kekurangan terhadap diri sendiri. Self-esteem yang rendah kerap disebut sebagai sebuah ramalan yang sahih, yang pasti akan jadi kenyataan. “Ramalan” tersebut dipatuhi dan diiyakan, self-fulfilling prophecies, sehingga segala kekurangan yang muncul dianggap sebagai sebuah kewajaran yang tak terhindarkan. Akan menjadi sangat berbahaya bila pandangan tersebut selalu diakomodasi, lantaran dapat mengantarkan seseorang kepada risiko mental. Di satu titik, hingga menuju ambang risiko depresi.

Lalu, harus bagaimana untuk menanganinya?

Bakal ada lusinan jawaban berbeda, dengan pendekatan yang beragam pula. Yang jelas, kuncinya adalah motivasi dan keinginan dari dalam diri. Benar-benar muncul dan berpengaruh mengubah semuanya secara drastis. Pandangan hidup, pandangan terhadap diri sendiri, tindakan dan sikap hidup menanggapi sesuatu.

Teorinya, terdapat berbagai faktor yang bisa menimbulkan dorongan dan keinginan berubah dari dalam diri setiap orang. Misalnya, ada yang sadar setelah memahami alasannya: “Kenapa aku begini, padahal aku bisa begitu?” yang memungkinkan terjadinya dialog dengan diri sendiri; ada yang baru tergerak atas desakan dan pengaruh dari seseorang; setelah adanya kejadian yang mengejutkan; dan masih banyak lagi.

Silakan cari dan temukan sendiri. Yang penting, jangan asal memasang-masangkan standar kebahagiaan maupun penderitaan. Kebahagiaan kita berbeda dengan kebahagiaan orang lain. Begitupun penderitaan kita tidak mesti sama dengan penderitaan orang lain.

[]

Sebuah Ketidakjelasan

“ENGGAK adil, deh. Coba dipikir. Kita enggak minta diciptakan, dilahirkan ke dunia ini dengan segala kondisinya. Ada yang sempurna, ada yang tidak. Ada yang cakep, ada juga yang jelek dari sananya. Ada yang terlahir di lingkungan baik, ada juga yang terlahir di keluarga sengsara. Kita bisanya terima-terima doang. Cuma waktu kepingin ‘pergi’ dengan cara kita sendiri, malah dilarang. Dibilang dosa, dan masuk neraka.

Bagi mereka yang memegang teguh sejumlah pandangan, pemikiran di atas sangat berbahaya. Jangankan dipikirkan atau dibahas lebih lanjut, kemunculannya saja sudah harus diwaspadai. Alih-alih ditangani sebagaimana mestinya agar tidak menyisakan gelisah dan rasa penasaran yang mengganggu, narasi di atas harus dihindari, dibuang jauh-jauh, atau ditekan habis-habisan. Singkat kata, hal ini salah dan terlarang.

Di sisi lain, apakah memungkinkan jika pemikiran tersebut dijadikan titik tolak untuk berpikir, merenung, berdiskusi, dan bersepakat lebih jauh? Bukankah manusia diciptakan dengan anugerah akal budi serta kemampuan berpikir dan menimbang, yang sejatinya dapat diberdayakan semaksimal mungkin demi kebaikan, kesejahteraan jasmani dan batin, ketenteraman, serta kearifan dan kebijaksanaan.

Menurut orang-orang yang agamais dan religius, pemikiran di atas dapat mengarahkan seseorang untuk mempertanyakan tuhan, rahasianya, dan kemahakuasaannya. Sikap yang berbahaya karena terkesan tidak hormat, bisa kualat dan diazab, mengarah pada dosa. Selain itu, meskipun kita telah jungkir balik menjalankannya, tetapi hidup dan kuasa kematian tetap merupakan milik tuhan. Menentangnya adalah sebuah kesalahan besar.

Menurut orang-orang yang patuh pada hukum positif, pemikiran di atas dianggap sudah mengarah pada tindak kriminal. Sejauh ini masih ada beberapa negara yang mengkategorikan perbuatan tersebut sebagai kejahatan, kendati ada pula yang sudah menempatkannya sebagai masalah psikologis dan sosial. Oleh karena itu, melalui prosedur dan pertimbangan legal yang cukup panjang, seseorang hanya bisa melakukannya atas keputusan persidangan. Itu pun harus dengan cara-cara manusiawi, bukan yang melibatkan rasa sakit.

Menurut orang-orang yang awam, yang hanya menjalani kehidupannya sebagai bagian dari keluarga dan masyarakat, pemikiran di atas akan menimbulkan kesedihan. Bukan sesuatu yang pantas diberi perhatian, apalagi dituruti. Lantaran dalam kehidupan sosial, tindakan ini dapat menyebabkan munculnya perasaan kehilangan, serta membebani mereka yang ditinggalkan.

… dan masih ada beragam sudut pandang lainnya, dan berujung pada kesimpulan yang sama.

Dengan demikian, manusia tak akan pernah benar-benar berhak atas kehidupannya sendiri sampai kapan pun. Di balik segala kemampuan dan pengusahaan hidup, manusia hanya bisa menjalankannya saja. Hingga perjalanan hidup tersebut berakhir dengan sendirinya, karena faktor-faktor yang berada di luar kendali.

Bagaimana dengan ini?

Noel Conway. Assisted dying.

Ada perbedaan sangat mendasar antara orang-orang yang ingin melakukannya untuk menghindari hidup, dengan orang-orang yang ingin melakukannya karena merasa telah mencapai dan memiliki segalanya dalam hidup. Termasuk memiliki umur sangat panjang, misalnya. Bosan hidup dalam arti sebenar-benarnya.

Perbedaan sangat mendasar pula antara orang-orang yang ingin melakukannya karena pengecut dan takut terhadap kenyataan hidup; dengan orang-orang yang ingin melakukannya karena egois dan semau-maunya sendiri; juga dengan orang-orang yang ingin melakukannya karena mementingkan orang lain dan beralasan tidak ingin menimbulkan kesusahan lebih lama.

Dalam situasi-situasi tertentu, ini bukan lagi sekadar perkara benar dan salah, atau boleh dan tidak boleh. Melainkan jadi satu pertanyaan filosofis: “Mana yang lebih baik?”

Mampukah narasi dan diskusi meredam obsesi?

[]

Agama dan Budaya: Kesalehan dan Keindahan

MARAH dan tersinggung. Inilah yang—lazimnya—terjadi pada seseorang waktu merasa agamanya dijadikan bahan kelakar. Baik oleh umat seagama, apalagi oleh orang-orang dengan keyakinan berbeda.

Demikianlah yang dirasakan Piers Morgan, seorang jurnalis kesohor Inggris, dan sebagian jemaat Katolik di seluruh dunia terhadap penyelenggaraan Met Gala 2018, 7 Mei lalu. Pasalnya, mengangkat tajuk “Heavenly Bodies: Fashion and the Catholic Imagination”, acara fesyen yang dianggap setara dengan Oscars atau Super Bowl-nya dunia mode kali ini terpusat pada simbol-simbol Katolik.

Dalam artikel protesnya yang penuh sinisme, Morgan kurang lebih bilang begini: “Tema Met Gala tahun depan adalah Islam. Para tamu bisa mengenakan busana pendek dan menggoda sebagai ‘penghormatan’ kepada Nabi Muhammad, cara berpakaian muslim termasuk hijab dan burka, serta kepada Alquran. Sedangkan Met Gala 2020 akan bertema Yahudi. Para selebritas dan model akan berpose dengan mengenakan baju serta pernik Yahudi, termasuk berpakaian seperti rabi, juga memakai kipah.

Jewish man wearing kippah.

Foto: YouTube

Morgan tidak terima ikon-ikon Katolik yang selama ini identik dengan kekudusan, ekspresi kesalehan, altar dan liturgi, diremehkan sedemikian rupa menjadi sekadar aksesori maupun penghias busana para bintang tamu—yang belum tentu saleh, dan seringkali digambarkan sebagai bintang hidup keduniawian. Intinya, mereka dianggap jauh dari kepantasan untuk mengenakan benda-benda tersebut. Terlebih beberapa di antaranya dibuat menyerupai barang aslinya, seperti mitre atau tiara paus.

Rihanna in Met Gala 2018.

Foto: New York Times

Yang membuat hal ini tidak sesederhana kelihatannya, ialah pemilihan simbolisme Katolik sebagai tema Met Gala 2018 bukan sekadar iseng atau sengaja cari masalah. Berawal dari pertemuan Andrew Bolton, kurator di Costume Institute at the Metropolitan Museum of Art (Met), dengan Uskup Georg Gänswein, kepala urusan rumah tangga kepausan, Mei tahun lalu. Mereka membincangkan gereja sebagai inspirasi keindahan bagi para perancang busana selama berabad-abad. Hasil akhirnya, tak hanya mendapat izin, Vatikan malah bersedia meminjamkan sejumlah artefak untuk dipamerkan.

Some of Vatican's artifacts in Met Gala 2018.

Foto: Daily Mail

Informasi lebih lanjut tentang Met, tujuan Met Gala, serta hal-hal terkait lainnya, termasuk mengapa dukungan dari Vatikan dalam penyelenggaraannya tahun ini begitu penting, silakan Google sendiri. Sebab bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan Linimasa hari ini, melainkan melihat bagaimana kebanyakan orang, terutama yang beragama dan mengaku saleh, menyikapi “kolaborasi langit dan bumi” semacam ini.

Bagi Morgan dan sebagian umat Katolik dunia lainnya, hal ini tentu tidak dapat diterima. Hanya saja, tidak sedikit pula yang tergerak, terkagum-kagum, dan dibuat takjub dengan hasilnya. Termasuk dari masyarakat umum.

Agama, budaya, dan keindahan.
Bagaimana menempatkan ketiganya?
Tak bisakah ketiganya dipadukan?

Dalam kasus Met Gala 2018, para penentang beranggapan bahwa agama (Katolik) semestinya tidak dicampurkan dengan ragam budaya hasil buah pikir manusia (mode busana), terlepas dari keindahan (visual) yang dihasilkannya. Proses pencampuran dan hasil-hasilnya akan dianggap sebagai penghinaan atas keagungan agama, serta bertentangan dengan cultural appropriation atau kepatutan budaya. Kendati sejatinya, institusi dan segala tata kelola agama yang ada hingga saat ini, terbentuk lewat pemikiran dan tenaga manusia pula. Dimulai dari konsep struktur agama, sampai susunan dan kumpulan kitab suci, disinggahkan dalam benak manusia.

“The church and the Catholic imagination—the theme of this exhibit—are all about three things: truth, goodness and beauty. That’s why we’re into things such as art, culture, music, literature, and, yes, even fashion.”

Cardinal Timothy Dolan, pemimpin Keuskupan Agung New York di Met Gala 2018.

Anggapan seperti ini bisa terjadi dalam ajaran agama apa pun. Bukan hanya Katolik, para muslim, orang Kristen, Buddhis, umat Hindu, Khonghucu, serta agama-agama besar dunia lainnya akan punya kecenderungan menolak akulturasi agama dan budaya. Padahal bagaimanapun juga, setiap ajaran agama tak akan lepas dari keindahan, dan keindahan justru merupakan salah satu bentuk kekaguman dan kecintaan terhadap tuhan yang mahakarya.

Singkat kata, segala sesuatu yang indah berasal dari tuhan, mampu menimbulkan perasaan menyenangkan bagi manusia, dan oleh sebab itu juga pantas didedikasikan kembali. Khususnya di bidang-bidang yang tangible atau konkret. Misalnya seni pahat, seni lukis atau kaligrafi, arsitektur, musik dan tari, seni busana, serta lain sebagainya. Entah itu patung “Pieta” karya Michelangelo, ketika batu yang padat keras bisa dibuat terlihat seperti daging dan kulit sungguhan, desain Candi Borobudur maupun Angkor Wat yang sedemikian megah, sampai karangan dan gubahan manakib yang dinyanyikan secara massal dalam setiap gelaran haul mendiang ulama bersangkutan. Tidak ada satu pun dari buah karya orang-orang hebat tersebut yang tidak indah.

Borobudur.

Foto: Kata.co.id

Di sisi lain, sebagai hasil dari buah pikir manusia, tidak tertutup kemungkinan ada pula budaya-budaya yang bersifat negatif dan merusak, tetapi kemudian disangkutpautkan dengan label agama demi penerapan yang lebih luas. Karakteristiknya saja sudah bersifat merusak atau destruktif, lalu di mana letak keindahannya? Apanya yang menenteramkan hati, dan bisa dijadikan pendorong untuk memanjatkan puji syukur kepada tuhan?

Salah satu contohnya, seperti yang terjadi Minggu dan Senin kemarin. Pantaskah “budaya” penghancur seperti itu dikait-kaitkan dengan pemujaan kepada tuhan?

Tuhan pun ogah kali.

[]

Memilih dan Menghapus Kenangan

SETELAH membaca surel yang diterima 21 April lalu, baru sadar kalau selama ini sudah memiliki dan mempergunakan layanan flickr selama lebih dari sebelas tahun. Sampai akhirnya muncul pengumuman bahwa media layanan penyimpanan, yang kemudian berubah menjadi semacam media sosial berbasis fotografi serius itu telah dibeli oleh SmugMug–baru pertama kali dengar nama itu–per April kemarin.

Dengan pengambilalihan layanan oleh SmugMug, semua pengguna lama flickr diberi pilihan untuk meneruskan atau menutup akunnya. Jika tidak ada respons apa pun, semua data pengguna flickr akan otomatis dipindahkan ke infrastruktur SmugMug efektif sejak 25 Mei mendatang.

Disebut sebagai media sosial berbasis fotografi serius, pengguna flickr bisa menyimpan dan menampilkan foto-fotonya dalam format terbesar sekalipun. Memberikan atribusi atau label pada foto-foto tersebut, apakah boleh diunduh dan dipergunakan secara umum non komersial di bawah kategori Creative Commons atau tidak, serta fitur-fitur lainnya. Berbeda dengan Instagram, semua foto yang diunggah ke flickr tidak mengalami (atau minim) kompresi. Juga disediakan dalam berbagai ukuran.

Nah, bukan sebagai seorang fotografer profesional, atau seseorang yang cenderung suka menimbun foto tanpa kejelasan manfaat dan tujuan, ditambah lagi tidak terlalu ingin menambah satu lagi perpanjangan identitas digital, saya memilih untuk segera menutup akun. Untungnya flickr menyediakan layanan mengunduh semua foto yang telah ada.

Dari total 758 foto yang telah diunggah ke akun flickr sejak pertama kali, ternyata hanya ada 93 foto yang ingin diambil kembali. Alasannya beragam.

Kenapa hanya 93?
Apakah sisanya tidak penting?
Enggak sayang sama sisanya?
Bagaimana cara memilihnya?

Banyak dari kita, atau bahkan hampir kita semua, selalu bisa punya masalah dengan masa lalu, bayang-bayang, atau kenangan yang menyertainya. Mustahil untuk dihilangkan, dan justru bisa muncul sewaktu-waktu untuk kembali memunculkan berbagai perasaan. Yang menyenangkan, terlebih yang tidak.

Andai saja, menghapus gambaran masa lalu dan perasaan yang menyertainya semudah memilih dan mengunduh foto-foto di akun flickr tadi, hidup kita saat ini barangkali bisa jauh lebih ringan dan terbebas dari residu emosional yang tidak perlu. Dengan segala pertimbangan, alasan, serta latar belakang, kita bisa menentukan mana saja kenangan yang akan dipertahankan, mana yang sepantasnya dibuang atau ditinggalkan.

Tak perlu sampai seperti orang yang baru putus dari pacarnya, yang kemudian buru-buru menghapus foto di semua media sambil dipeluk kesedihan dan penuh air mata.

Sayangnya, kita tidak memiliki kemewahan itu. Entah apa alasannya, bagi yang percaya, tuhan tidak menganugerahi manusia dengan kemampuan tersebut, berikut malah melengkapinya dengan aneka perasaan terusan.

Silakan dibayangkan, seberapa besar penyesalan Adam dan Hawa ketika mereka harus memulai hidup di dunia, setelah dibuang dari taman firdaus atas sebuah kesalahan bersama. Bisa dibayangkan Hawa berkata: “Tahu gitu, mending enggak usah (makan buah).” Malu, putus asa, dan sejenisnya.

Silakan ganti dan skenarionya dengan cerita kita masing-masing. Ada yang salah memilih seseorang, meninggalkan yang pasti untuk kegembiraan dan kesenangan sekejap; ada yang salah memilih pekerjaan, meninggalkan kantor lama dengan segala keterbatasannya demi gengsi dan reputasi; ada yang salah memilih nasihat, membuat diri jauh dari keluarga dan kemudian terlampau malu untuk pulang; dan lain sebagainya.

Yang pasti, inginnya kenangan-kenangan tersebut bisa ditanggalkan di belakang. Membuat kita bisa benar-benar fokus menjalani saat sekarang tanpa gangguan. Namun, sekali lagi sayangnya, manusia tidak seperkasa itu menghadapi masa lalunya sendiri.

Kalaupun ada orang-orang yang sedikit lebih tahan dengan apa pun yang pernah terjadi sebelumnya, bisa jadi dia memang sudah dingin hati, jauh dari ekspresi emosi dan membuatnya relatif susah didekati. Kita pasti pernah bertemu orang-orang yang seperti ini. Jika kita merasa tidak nyaman, tentu saja itu bukan salah mereka. Selalu ada penyebab di balik semua akibat.

Lantaran kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi terhadap hal tersebut, hanya ada dua cara untuk berdamai dengan perasaan diri sendiri, dan terus berusaha maksimal menjalani hidup.

Pertama, membiarkannya berlalu.

Mustahil bagi kita untuk menghilangkan kenangan, kecuali bila mengalami amnesia. Mau tidak mau, selalu ada peluang ketika kenangan tidak menyenangkan kembali muncul, dan menyerang kesadaran kita kapan saja, dan di mana saja. Ada yang sanggup menghadapinya dengan cara masing-masing, tetapi tidak sedikit pula yang terganggu suasana hatinya. Membuat mereka tidak bisa beraktivitas dengan maksimal, emosional dan mengganggu manusia lain di sekitarnya, sampai ke berbagai dampak buruk yang lain.

Membiarkannya berlalu bukan hal yang mudah. Perlu penguasaan perasaan, belajar menjadi indifferent atau bersikap netral, bukan apatis, bukan pula tidak acuh. Dengan bertindak “cukup tahu”, efek emosional yang muncul tidak semengguncangkan biasanya. Kita benar-benar menyadari saat ini, semua yang berlangsung, dan masa lalu adalah masa lalu. Sekadar bayangan, dan seharusnya tidak memberi dampak apa-apa, kecuali bila diladeni. Yang berarti, kita memutuskan berbuat sesuatu, menyikapinya dengan tindakan lain, yang bisa jadi menghasilkan dampak baru.

Kedua, menjadikannya pengalaman.

Sebagai makhluk, salah satu keunggulan manusia adalah potensi untuk memiliki kebijaksanaan. Menjadikan masa lalu sebagai sumber pengalaman dan pelajaran adalah salah satunya. Sama seperti di sekolah, mudah susahnya sebuah pelajaran tetap akan kita lalui sesuai jadwal. Kita hadapi, kita simak dan pahami. Tatkala ujian, barulah kita membuktikan kemampuan kita menjalankannya. Setelahnya, sudah. Begitu saja.

Analogi lainnya. Bagi yang gemar menulis blog pasti pernah merasa geli dengan tulisan sendiri dari beberapa tahun lalu. Menertawakan ide dan pemikiran pada saat itu, sudut pandang yang mungkin masih kekanak-kanakan dan dangkal. Kini, dengan kita yang ada di saat ini, semuanya bisa terlihat jelas sebagai sebuah alur perubahan. Kita yang dulu menjadi kita yang sekarang. Melihat proses pertumbuhan dari sudut pandang berbeda.

Begitu pula dengan 665 foto lainnya di akun flickr saya. Berbagai hasil jepretan yang tidak jelas maksud dan juntrungannya, akan tetapi terasa keren banget di saat itu. Setidaknya hari ini, saya sudah bisa memutuskan untuk meninggalkan, menghapus, dan merelakan 665 foto yang sudah dikumpulkan sejak lebih dari sepuluh tahun lewat.

Sepuluh tahun lalu.

Terus belajar berdamai dengan masa lalu, dan memperlakukan mereka sebagai mana mestinya.

[]

“Boleh Dipegang, Enggak, Ya?”

“PLATONIC love atau Platonic relationship itu bullsh*t, Gon! What’s the point of having a relationship without sex, sih? Not alone it’s impossible.”

Begitulah kurang lebih pendapat sejumlah teman Twitter—yang kemudian menjadi teman di dunia nyata—beberapa tahun lalu tentang pandanganku mengenai hubungan asmara yang mengesampingkan aktivitas persetubuhan atau bahkan nirsanggama, tanpa kehilangan kemesraan dan kasih sayang.

Perbincangan terus berlanjut. Aku sampaikan sebuah analogi, yakni ketika ada seseorang yang melihat setangkai bunga teramat cantik saat sedang berjalan-jalan di taman. Keindahannya memunculkan rasa kagum, takjub, menyenangi apa yang dilihat. Lazimnya, dia akan memetik bunga tersebut dan membawanya pulang agar bisa menikmati keindahannya lebih lama. Sebagai konsekuensi, bunga itu pun akan layu dan mati lebih cepat.

Entah, apakah hubungan Platonis tepat digambarkan dengan analogi di atas atau tidak. Yang jelas, ada keengganan di situ. Tidak ingin melakukan sesuatu yang dapat mengubah situasi menyenangkan. Pasalnya, dipetik atau tidak, bunga tersebut akan tetap layu dan mati pada waktunya. Aktivitas pemetikan akan mempercepat terjadinya proses tersebut. Sementara melalui persetubuhan, hubungan antara dua orang akan beranjak ke fase yang berbeda. Seperti yang pernah kutulis sebelumnya, ada orang yang baper setelah bersetubuh, menjadi lebih clingy dan terikat dengan pasangannya. Sebaliknya, ada pula yang justru kehilangan gereget terhadap pasangan dan hubungan yang tengah mereka jalani setelah bersetubuh. Perlahan-lahan, suasana hati mereka hambar. Aktivitas seksual tak lagi se-exciting dibanding saat pertama kalinya.

Bagaimana seseorang bisa memilih untuk menjalani hubungan asmara secara Platonis? Apa penyebabnya? Lagi-lagi entahlah, tetapi ada kemungkinan besar rasa cinta dan sayang tidak muncul sendirian dalam hubungan tersebut. Ada rasa kagum dan takjub (adoration), rasa hormat (respect), dan perasaan setara atau tidak menganggap pasangan sebagai subordinat. Aktivitas seksual pun tetap bisa dilakukan, bukan sebagai media penyaluran hasrat biologis atau reproduktif semata, apalagi dijadikan parameter penguasaan. Other than a premise for physical and psychological subjugation, intercourse is more likely to be a sensual bodily discussion.

and by this, I can hear: “Alah… Omong kosong, kamu, Gon.” 😅

Alih-alih terpusat pada aktivitas seksual, rabaan dan sentuhan tetap punya makna khusus bagi para pasangan Platonis. Keintiman fisik, atau sebut saja “skinship” bukan sekadar jadi sinyal pemantik untuk ajakan bersetubuh, melainkan memberi kenyamanan dan perlindungan, rasa aman. Perasaan nyaman, lebih tepatnya … similar to being smitten. Hanya saja, ada pria atau wanita yang tidak tahan dengan perasaan kentang, ada juga yang mampu melaluinya tanpa harus melakukan aktivitas seksual penetratif. Pastinya, setiap orang memiliki keadaan yang berbeda. Tatkala berbicara tentang seksualitas dan hal-hal personal lainnya, tentu tak bisa disamaratakan karena menyangkut preferensi tiap individu.

Ah… Pada akhirnya kembali ke masing-masing. Di sini bukan ranahnya untuk mengklaim bahwa sesuatu lebih baik dan lebih benar dibanding lainnya. Pembahasan ini pun dipilih barangkali lantaran kangen dipeluk, atau merasa sudah bukan umurnya lagi untuk bertualang tanpa pertimbangan.

Bagi yang sedang punya pasangan saat ini, jangan lupa dipeluk, ya. Sebab berpelukan itu menyehatkan dan menyenangkan.

[]

P.S.: Carilah yang boleh dipegang, ya. Consent is the new sexy. Sementara itu, saya duluan ya, mau langsung kembali ke pelukannya … *(sinyal hilang)*

Bahagia itu Sederhana, Katanya… (Part 2)

Photo: Felix Mittermeier

SETIAP orang punya kebahagiaan versi masing-masing, dan pasti mengalami perubahan seiring berjalannya waktu. Hal-hal yang memicu timbulnya perasaan bahagia pada anak kecil, tentu berbeda dengan remaja, orang dewasa, dan orang lanjut usia.

Boleh dibilang menjadi kelanjutan dari tulisan berjudul sama tiga tahun lalu, daftar hal-hal sederhana yang membahagiakan terus bertambah dan bertambah. Setidaknya dari apa yang saya alami dalam dua tahun terakhir.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhananya bisa bangun tidur di pagi hari dengan tepat waktu, sehingga memiliki kesempatan yang cukup untuk melakukan aktivitas yang telah direncanakan semalam sebelumnya. Sempat membuat sarapan sederhana dengan hasil sempurna, dan menghabiskannya tanpa terburu-buru. Mandi dan mematut diri dengan sebagaimana mestinya, untuk kemudian mulai berangkat ke kampus atau tempat kerja tepat sesuai perkiraan.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana tidak perlu menunggu elevator terlalu lama. Setelah memencet tombol, bilik elevator tiba kurang dari satu menit. Begitu pula saat turun, tidak banyak lantai yang disinggahi.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana langsung mendapat tempat atau posisi yang nyaman di bus TransJakarta atau kereta listrik, baik berdiri atau duduk, tanpa terlalu berdesakan atau orang-orang yang suka mendorong sembarangan. Sehingga perjalanan selanjutnya dapat dilalui dengan relatif menyenangkan. Bisa sambil kembali melanjutkan tidur sejenak, membaca buku, atau mendengar musik.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana mendapat kode promo ketika membuka aplikasi transportasi online yang membuat ongkos perjalanan berkurang sekian puluh persen. Dalam hal ini, selalu ada alasan untuk mengeluh ketika kita tidak memiliki kendaraan pribadi. Namun, dengan tinggal dan berkehidupan di Jakarta, juga akan selalu ada alasan untuk mengeluh selama berkendara. Itu sebabnya, bagi sebagian orang yang lain …

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana bisa duduk di kendaraan sendiri, mengatur kecepatan dan rute perjalanan sendiri, mengupayakan efisiensi dan efektivitas perjalanan sendiri, dan berkesempatan untuk mengatur kenyamanan sendiri dalam berbagai situasi. Terlebih jika ada sopir pribadi, sehingga durasi perjalanan bisa diisi dengan beberapa kegiatan. Baik yang menyangkut pekerjaan, atau bersantai.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana bisa memiliki dan mempertahankan suasana hati yang positif setibanya di kampus atau kantor. Ditambah lagi bertemu dengan teman atau kolega yang menyenangkan, situasi lingkungan yang bersih, dan catatan agenda pekerjaan yang dapat ditangani. Lebih dari itu, adalah kemampuan menyadari dan mensyukuri bahwa profesi atau pekerjaan yang dilakoni saat ini benar-benar terasa menyenangkan di segala aspek. Sedangkan bagi para pekerja lepas …

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana bisa berkiprah secara profesional tanpa harus terikat waktu, penghasilan, dan keberadaan dengan hanya satu perusahaan. Bisa bekerja di mana saja, bisa mengupayakan situasi kerja seperti apa pun juga, dan tetap diperhitungkan sebagai seseorang dengan kemampuan. Intinya, bukan menjadi karyawan.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana bisa mendapatkan solusi atau alternatif ide ketika sedang menghadapi masalah. Baik solusi yang dipikirkan dan diusahakan sendiri, maupun alternatif ide yang dihasilkan dari diskusi dan rapat dengan orang-orang yang menyenangkan diajak bekerja sama.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana ketika ingin makan di tempat langganan, eh ada menu favorit. Bisa juga ketika datang ke restoran, ternyata ada promo khusus untuk menu yang diidam-idamkan. Mulut puas, perut kenyang, isi dompet pun bisa sedikit terselamatkan. Di sisi lain …

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana punya kemampuan untuk menolak ajakan kawan untuk makan, jalan-jalan, atau melakukan berbagai kegiatan bersuka lainnya, ketika benar-benar sedang “kering”. Tanpa perlu menutup-nutupi keadaan, atau malah mengorbankan sisa uang untuk menyelamatkan muka di depan orang lain. Berani bilang: “Sori, aku lagi bokek.” Demi keputusan yang lebih realistis.

(in general) will NEVER say “jangan di tempat yang mahal”. Akan jungkir balik dengan seribu alasan before just saying a place is out of budget.

Begitu isi twit seorang kawan digital, kemarin.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana bisa menikmati kesendirian, dijauhkan dari keramaian, dan kepadatan manusia. Karena itu merupakan kebutuhan bagi mereka yang introver, dan menemukan hampir segalanya dari dirinya sendiri. Kalaupun tidak …

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana seperti yang sudah Mbak Lei ceritakan di tulisan terbarunya. Yakni kemahiran dan kesempatan untuk mengelola kehidupan sosial sedemikian rupa. Memiliki porsi waktu, tenaga, dan perhatian yang cukup untuk tetap terhubung dengan semua lingkaran antarmanusia tanpa berlebihan. Bisa memulai, terlibat, dan menyudahi interaksi di momen yang tepat, tanpa perlu dianggap less sociable oleh orang lain. Sesuatu yang disadari kian tidak penting seiring perkembangan fase hidup, tetapi seringkali terlalu masif untuk dibiarkan larut begitu saja.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana dikelilingi kawan-kawan yang paling cocok. Bukan sekadar orang-orang baik, melainkan orang-orang yang tepat. You just know. Andai ternyata ada yang berubah pun, kita memiliki kekuatan untuk segera move on. Kembali fokus dengan kehidupan yang sedang dijalani. Di sisi lain …

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana ketemu orang baru, ternyata ngobrolnya nyambung, serasa mendapatkan penyegaran otak, dan mendapat asupan referensi sesuai keinginan. Selebihnya, mana tahu bisa muncul ketertarikan dan seterusnya.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana bisa terus menjaga kesehatan, berolahraga, merasa sehat, dan benar-benar sehat lewat hasil pemeriksaan profesional. Dengan segala upaya ini, kita berusaha menunjukkan kendali penuh atas tubuh. Menjaga dan memastikannya selalu berada dalam keadaan optimal. Meskipun pada akhirnya, kematian tetap berhak datang tiba-tiba. Setidaknya, berpulanglah tanpa kesakitan. Berbarengan dengan itu, kendali penuh atas tubuh juga ditandai dengan kepemilikan asuransi, baik untuk perawatan kesehatan maupun jiwa. Singkatnya, kalau sakit ada yang membantu membayari, apabila meninggal pun ada sejumlah uang yang bisa ditinggalkan.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana rasa puas setelah membersihkan kamar dan kamar mandi semaksimal mungkin. Berasa kinclong dan menyenangkan, ditambah lagi baru tahu kalau odol bisa digunakan untuk membersihkan semua permukaan stainless steel. Mendapatkan kinclong secara harfiah.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana bisa berjalan, beraktivitas, atau melakukan kegiatan-kegiatan harian di mana saja tanpa gangguan dan pelecehan seksual. Ketika para wanita bisa berjalan tanpa khawatir menghadapi catcalling, dan beragam hal yang bikin risi lainnya.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana tinggal tidak terlalu jauh dari tempat kerja. Apalagi kalau bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Bisa juga merasa bahagia, setelah tahu bahwa tempat tinggal baru saat ini hanya berjarak 10-15 menit berjalan kaki ke commuting hub, semisal stasiun kereta api listrik atau halte TransJakarta.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana baru menemukan home bakery atau toko roti kecil tetapi menyenangkan, atau pun rumah makan masakan Tionghoa yang menjual pangsit goreng enak di dekat tempat tinggal.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana selalu terhubung dengan orang-orang penyebar kesempatan untuk terus berkarya. Bersama mereka, kita terus bertumbuh dari berbagai sisi. Melalui peristiwa-peristiwa baik atau buruk, membuat kita menjadi lebih baik.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana banyak hal yang tak pernah kita sadari sebelumnya. Kebahagiaan bagi seseorang, bisa jadi terlihat sepele dan remeh bagi orang lain. Namun, bagaimana pun juga, hal itu memberi kebahagiaan bagi mereka.

… dan seperti biasa, daftar ini tidak akan pernah ada habisnya. Dengan senang hati saya akan membaca kebahagiaan dari hal-hal sederhana versi Anda.

Oleh karena itu, jangan lupa untuk selalu berbahagia. Kalau perlu, ciptakan sendiri kebahagiaanmu.

Oh, ya, satu lagi.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana bisa menjadi diri sendiri, dan apa adanya.

[]

Tak Perlu Takut untuk Memeriksakan Diri

DATANG agak telat dari biasanya, saya masuk kantor Kamis lalu dengan segaris plester luka di lengan sebelah kanan.

“Kenapa kamu, Gon? Habis donor darah?”
   “Bukan. Dari klinik tadi, MCU.”
“Hah? Kamu sakit? Sakit apa? Kok sampai harus periksa darah segala.”
   “Enggak lagi sakit kok. Ya checkup biasa. Sudah lama. Mumpung lagi murah. Kamu mau?”
“Enggak, ah. Takut.”
   “Takut darah? Jarum?”
“Takut kalau ternyata ada kenapa-kenapa.”

Tidak hanya satu atau dua kenalan yang berkomentar begitu. Sejak pertama kali menjalani prosedur general checkup di Samarinda sekitar lima tahun lalu, selalu ada saja teman yang justru menghindarinya dengan alasan takut. Padahal biaya bukan jadi satu masalah. Karena saat itu bisa menggunakan asuransi kantor yang layanannya mencakup pemeriksaan kesehatan, alias gratis.

Sangat manusiawi untuk merasa takut terhadap apa saja. Apalagi untuk hal-hal yang berkenaan dengan kehidupan kita di masa depan. Lantaran semuanya masih merupakan misteri, dan baru terbukti saat terjadi. Nanti.

Namun, akan lebih baik bila kita tetap bisa menyikapinya secara logis, serta mempersiapkan diri semaksimal mungkin jika suatu saat terpaksa harus berhadapan dengan ketakutan tersebut. Setidaknya, dampak dan kejutan yang dirasakan tidak seheboh yang dikhawatirkan.

Oleh sebab itu, menolak melakukan general checkup lantaran takut nantinya ketahuan mengidap penyakit, atau berpotensi mengalami gangguan kesehatan tertentu, sama saja dengan menghindari kenyataan. Selain itu juga mengurangi kesempatan atau peluang penanganan yang dapat dilakukan. Membuang atau memperpendek waktu yang semestinya bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin.

   “Cuma, kan … gara-gara takut, nanti malah bisa muncul macam-macam. Rasanya masih sehat kok.”
“Tidak ada keluhan kesehatan sama sekali?”
   “Iya.”
“Yakin?”

Ketika pertanyaan seperti di atas bisa memunculkan keraguan atas kondisi kesehatan Anda secara global, berarti poinnya ada dua: mindset Anda yang terbatas dan hanya bisa mengira-ngira, serta tak bisa dimungkiri bahwa pemeriksaan kesehatanlah cara untuk menghilangkan keraguan tersebut.

Blood pressure checking.

Photo by rawpixel.com on Unsplash

Begini ilustrasinya. Bukan tanpa alasan mengapa saya memutuskan untuk memberanikan diri, mengalokasikan waktu (datang ke rumah sakit, membuat janji, berpuasa, dan datang lagi keesokan harinya untuk konsultasi hasil pemeriksaan) sekitar lima tahun lalu. Pekerjaan sebagai seorang jurnalis harian membuat saya relatif nokturnal. Terbiasa pulang dan memulai tidur di atas pukul 2 pagi, dan baru memulai aktivitas (baca: bangun) menjelang tengah hari keesokannya. Seringkali melewatkan sarapan, doyan nasi, suka banget minum es teh manis. Entah mengapa, saya relatif gampang mengantuk di siang atau sore hari, dan sangat mudah tidur-tidur ayam dalam situasi yang sangat tidak kondusif sekalipun. Saat mengendarai sepeda motor, misalnya. 😅

Dari gejala-gejala tersebut, banyak orang berceletuk: “Coba kamu periksa gula darah. Hati-hati diabetes, lho.”

Sedikit terdengar menyumpahi, dan langsung memunculkan gambaran menakutkan: Gimana ya kalau ternyata kencing manis? Ngeri, kan? Lukanya basah terus, bisa diamputasi … dan sebagainya, dan sebagainya.”

Sedilematis apa pun pertimbangan yang muncul dalam pikiran, saya tidak bisa membantah fakta bahwa gampang sekali mengantuk, dan katanya ialah salah satu pertanda penyakit kencing manis. Sekuat apa pun saya menolak, saya tetap tidak punya jawaban pastinya. Pemeriksaan gula darahlah cara terbaik menjawab dugaan tersebut.

Setelah kantor memilih vendor asuransi korporat dengan layanan mencakup pemeriksaan kesehatan lengkap, langsung saya manfaatkan.

Hasilnya … gula darah normal, malah cenderung rendah. Lega, sudah pasti. Ditambah bonus beberapa poin lain, yang barangkali perlu diperhatikan di masa depan. Salah satunya adalah kolesterol. Baik kolesterol baik maupun kolesterol jahat (HDL dan LDL) ternyata sama-sama di bawah normal (pantesan kok agak oon-oon… 😂)

Dari hasil pemeriksaan tersebut, saya masih berkesempatan untuk menyesap es teh manis, dan menyantap nasi dengan porsi normal. Sedangkan serangan kantuk yang seolah intensif, benar-benar disebabkan waktu tidur yang tidak teratur serta kelelahan. Dalam hal ini, satu dua keraguan berhasil dihilangkan, sehingga bisa fokus untuk menangani masalah lain.

Ada lagi contoh kedua. Yang ini jauh lebih deg-degan, dan nyaris bikin frustasi. Berkaitan dengan kondisi darah, dan membuat saya tidak bisa/tidak boleh lagi mendonorkan darah ke PMI. Entah apakah status itu sudah berubah per saat ini, atau masih tetap sama.

Singkat cerita, dari pendonoran terakhir yang saya lakukan kala itu, pemeriksaan PMI mengindikasikan bahwa darah saya berstatus undetermined. Kemungkinan paling buruknya, saya terinfeksi HIV/AIDS!

Kurang mengerikan apa, coba? Mendengar informasi tersebut dan berusaha mencernanya sebaik mungkin. Pasalnya, saya belum pernah melakukan hubungan seksual, apalagi sembarangan; tidak menggunakan narkotika suntik; tidak (belum) bertato, apalagi secara sembarangan. Pokoknya jauh dari faktor-faktor risiko.

Saya yang lumayan panik kala itu, bisa saja hanyut dalam kebingungan dan memilih untuk mendiamkan informasi ini. Menyimpannya rapat-rapat, dan melanjutkan hidup di bawah bayang-bayang awan hitam. Aneka skenario dan adegan-adegan kehidupan pun bermunculan. Semuanya berupa imajinasi negatif.

Kemudian saya berusaha sadar, memastikan semua langkah yang bisa dilakukan, dan memeriksakan diri dalam VCT. Hari itu juga! Walaupun harus melewati prosedur birokratis seperti bertemu dan meminta rujukan dokter kepala PMI setempat, dan seterusnya, dan seterusnya.

Hasilnya, negatif atau non-reaktif.

Untuk cerita lengkapnya (dan melihat lembaran hasil pemeriksaan yang tidak boleh dibawa pulang oleh pasien) silakan dibaca di “Tak Bisa Donor Darah Lagi”.

Andaikan saja, amit-amitnya ya, hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa tubuh kita bermasalah, maka kita tetap bisa merdeka mengambil sikap. Ingin benar-benar fokus dan bertekun hati dalam penanganannya, atau bisa saja kita menjadi lebih menghargai hidup. Menghayati hari demi hari yang kita jalani.

Bukankah manusia memang cenderung menyia-nyiakan sesuatu, sampai akhirnya kehilangan dan menyesalinya?

Semoga kita selalu sehat, dan mampu mempertahankannya.

[]

Kenapa Anak-anak Harus Beragama yang Sama dengan Orang Tuanya?

BAGI sebagian orang, angka hanyalah angka. Simbol bilangan untuk memudahkan berhitung. Namun bagi para pengelola agama sebagai institusi massa, angka dan jumlah menjadi penanda keberlangsungan. Sehingga kerap diperlakukan lebih penting dibanding hal-hal lainnya. Meski soal ini seringkali hanya disampaikan secara tersirat, dan terkesan agak berbisik-bisik.

Mengapa agama harus disebut sebagai institusi massa? Sebab agama telah terlembaga, dan membutuhkan banyak orang untuk kesinambungannya. Padahal sebagai ajaran ilahiah—sesuatu yang dipercaya berasal dari langit, dan juga dipercaya dapat mengantarkan manusia ke langit yang sama— sejatinya agama tidak perlu manusia.

Ada atau tidak ada manusia; dan ada atau tidak ada penganutnya, kebenaran tetap akan menjadi kebenaran. Sama logisnya dengan pemikiran bahwa ada atau tidak ada manusia; dan ada atau tidak ada umat yang mempercayai dan menyembahnya, (entitas) tuhan tetaplah tuhan dengan segala kemahaannya. Lebih ekstrem lagi, tuhan bahkan tidak membutuhkan agama untuk tetap menjadi tuhan, Sang Adikodrati.

Kalau bagi para ateis maupun nonteis; ada tidak ada manusia, hukum-hukum alamiah (fisika, kimia, biologi) akan tetap ada, muncul karena terkondisi dan bekerja sebagaimana mestinya. Bisa dan akan mengalami perubahan, serta bisa dan akan menyebabkan perubahan mulai di skala atom hingga seluas semesta.

Lantaran angka dan jumlah, para pemimpin agama mengerahkan organisasi religiusnya masing-masing untuk terus menambah umat. Berbagai cara pun dilakukan. Dimulai dari:

  1. Melarang keras umatnya untuk berpindah agama,
  2. Memerintahkan umatnya agar menikah dengan yang seagama, atau membuat pasangannya berpindah agama, mendidik dan membesarkan anak-anaknya dengan ajaran agama yang sama,
  3. Mengagamakan atau menahbiskan seseorang sebagai pemeluk agama tertentu sejak masih kecil,
  4. Menjalankan misi Proselytism atau gerakan “…isasi” untuk menambah jumlah umat baru dengan perpindahan agama,
  5. Mendorong munculnya lingkungan-lingkungan tempat tinggal yang ekslusif, terbatas bagi umat agama tertentu. Termasuk menghalau segala hal yang berkaitan dengan agama lain. Dalihnya, agar tidak tercemar atau terkontaminasi pengaruh buruk,
  6. Mengupayakan eksklusivitas beragama di tingkat politik.

Lalu, mengapa harus menambah umat yang seagama sebanyak-banyaknya?

Pertanyaan di atas bisa dijawab secara normatif, maupun dengan jujur apa adanya.

Jawaban normatif: “Sebagai umat agama anu, saya berkewajiban untuk mengajak sebanyak-banyaknya orang menuju jalan kebenaran demi kebahagiaan di akhirat kelak. Apa yang saya lakukan adalah ibadah, dan bisa mendapat ganjaran pahala serta surga.

Jawaban jujur: Sumber daya. Makin banyak manusianya, makin banyak pula sumber daya yang tersedia. Sebagai sebuah institusi, eksistensi agama bersifat operatif. Perlu tenaga, perlu pikiran, dan perlu dana agar semuanya berjalan sesuai rencana.

Sebagai pemimpin kelompok, para pemuka agama memerlukan pengikut. Tanpa pengikut, para pemuka agama sekadar menjadi umat biasa. Yang tersisa hanyalah hubungan spiritualnya secara personal dengan tuhan. Tanpa pengikut pula, tak ada sumber dana untuk berbagai keperluan. Tempat-tempat ibadah tidak berdiri dengan sendirinya, tanpa bahan-bahan konstruksi, tanpa keringat orang-orang yang mengerjakannya, tanpa uang yang digunakan untuk membayar semuanya.

Jangan lupa, tuhan sebenarnya tidak membutuhkan tempat ibadah. Manusialah yang membutuhkan tempat ibadah sebagai lokasi khusus untuk bisa merasa terhubung dengan tuhannya. Oleh karena itu, agak kurang tepat bila tempat ibadah disebut rumah tuhan. Sebab tuhan semestinya tidak membutuhkan tempat, ruang berbatas tembok dan atap dalam tiga dimensi, apalagi dibuatkan oleh manusia, makhluk ciptaannya sendiri.


Muncul pertanyaan berikutnya. Kenapa anak-anak harus beragama yang sama dengan orang tuanya?

Lagi-lagi ada dua sudut pandang untuk menjawabnya. Dari perspektif para orang tua sebagai umat sebuah agama, dan perspektif agama sebagai sebuah institusi.

Setelah orang tua meninggal, anak-anaknyalah yang memanjatkan doa dan “mengirimkannya” kepada arwah para mendiang. Agar doa-doa tersebut bisa “tersampaikan” dengan baik dan dikabulkan, maka metodenya pun harus sesuai. Kesamaan metode sama dengan kesamaan agama. Tanpa kompatibilitas seperti ini, mustahil doa-doa yang dipanjatkan bakal diterima. Lha wong tuhannya berbeda.

Dalam sejumlah agama malah diajarkan bahwa apabila anak berbeda agama dengan orang tuanya, maka mereka (para orang tua) akan mendapatkan keadaan yang sengsara di alam kubur sana. Menjadi semacam siksaan pra akhirat. Pandangan ini biasanya dimiliki oleh agama-agama samawi.

Penjelasan semacam di atas telah diterima umum, serta dianggap sebagai kebenaran yang lazim. Itu sebabnya hampir semua orang tua di Indonesia mengagamakan anak-anak mereka sejak baru lahir (diazani, dibaptis, dan sebagainya), membesarkan mereka dengan indoktrinasi agama, memasukkan mereka ke sekolah-sekolah agama yang sama, dan seterusnya. Pokoknya, anak-anak harus beragama sama seperti orang tuanya.

Apakah tindakan para orang tua tersebut salah? Tentu saja tidak. Bagi para orang tua itu, agama merekalah yang paling benar. Titik. Sehingga membesarkan anak-anak mereka sesuai “satu-satunya” ajaran agama yang benar merupakan sebuah keniscayaan. An obvious decision. Lagipula hanya ajaran agama itu saja yang mereka pahami, tidak ada lainnya lagi. Bakal menjadi sebuah keanehan sosial, ketika sepasang orang tua beragama A membesarkan anak-anaknya dengan ajaran agama B.

Ada sebuah pengecualian di Indonesia, utamanya pada keluarga-keluarga Tionghoa. Para orang tua yang menjalankan kepercayaan tradisional—yang kerap mereka sebut sebagai “agama Khonghucu” padahal berbeda dengan Khonghucu yang baru saja diresmikan sebagai agama keenam—membesarkan anak-anak mereka dengan ajaran tradisi warisan, tanpa penjelasan keagamaan yang memadai. Sembahyang di meja altar, hayuk. Sembahyang di kelenteng ya juga oke.

Saat menginjak usia sekolah, anak-anak tersebut banyak yang dikirimkan ke sekolah Kristen maupun Katolik. Berkat paparan ilmu dan pemahaman agama yang intensif, tak mustahil beberapa dari mereka pun berpindah agama.

Bagaimana para orang tua Tionghoa Indonesia menyikapi perpindahan agama yang dilakukan oleh anak-anak mereka? Ada yang gusar dan tidak terima, tetapi banyak juga yang biasa-biasa saja. Masalah baru muncul ketika anak-anak mereka yang menjadi umat gereja konservatif dan/atau karismatik, mati-matian menolak menjalankan tradisi Tionghoa. Sebagai jemaat denominasi gereja tersebut, semua ritual tradisional Tionghoa dianggap sesat dan penuh kuasa gelap.

Berbeda dengan umat Katolik, mereka (yang Kristen karismatik) tidak boleh memegang hio, tidak boleh memasak-menyantap makanan bekas sajian di altar, dan menuding patung-patung dewata Tionghoa dilingkupi muslihat setan. Berbarengan dengan itu, mereka pun berusaha keras untuk mengajak orang tua untuk turut berpindah agama. Meninggalkan semua praktik-praktik purba dan primitif.

Bagi para anak-anak tersebut, keberhasilan mengubah agama kedua orang tua mereka tentu memiliki nilai ibadah. Hanya saja saking obsesifnya mengejar nilai ibadah tersebut, tidak jarang suasananya tak mengenakkan. Misalnya, para orang tua didesak berpindah agama justru menjelang masa-masa kematiannya. Deathbed conversion semacam ini merupakan kisah biasa di kalangan warga Tionghoa Indonesia. Ketika sang orang tua sudah dalam keadaan setengah sadar di tempat tidur, anaknya terus meminta agar calon mendiang menerima agama baru. Peristiwa ini bisa menimbulkan perselisihan di antara saudara. Baik saudara si anak, maupun saudara si mendiang.

Seorang muslim mengangkat hio.

Foto ini sempat viral di Facebook tahun lalu. Ada dua versi cerita: (1) ART yang muslim mengangkat hio untuk majikannya, karena anak-anak mendiang tidak ada yang menjalankan kepercayaan tradisional Tionghoa. Inti posting-an mengkritik fanatisme yang menjauhkan mereka dari berbakti kepada orang tua. (2) Foto diunggah di tionghoa.info, disebutkan bahwa sang ART yang muslim ikut memberi penghormatan terakhir kepada mendiang majikannya.

Nah, persoalan kompatibilitas doa dan agama antara orang tua dan anak juga dapat terjadi pada keluarga Tionghoa yang demikian. Bayangkan jika orang tuanya adalah umat kelenteng dan menjalankan tradisi Tionghoa, sementara anak-anaknya adalah umat gereja karismatik, dipastikan ada jurang kesenjangan yang besar dalam sikap spiritualitas mereka.

Para anak-anak mendiang, tentu tidak akan memiliki meja abu, altar berisi foto mendiang yang biasanya disembahyangi menggunakan hio, dan diberi sajian khusus pada hari-hari tertentu (hari lahir, hari wafat, menjelang Tahun Baru Imlek). Begitu pula saat Festival Qingming atau Ceng Beng, yang merupakan harinya berziarah dan bersih-bersih makam. Tidak akan ada sembahyangan, tidak ada pula aktivitas membakar kertas emas (kimcoa) dan kertas perak (gincoa) serta berbagai miniatur barang. Apabila ini yang terjadi, maka para mendiang pun dikhawatirkan akan menjadi arwah yang kelaparan, miskin tanpa harta, berpenampilan lusuh dan butut karena tidak mendapat kiriman benda-benda.

Setiap orang sangat berhak untuk meyakini agamanya sebagai satu-satunya yang benar, dan meragukan kaidah agama lain sebagai ketidakbenaran. Termasuk dari contoh di atas. Saat gambaran akhirat ala Tionghoa kerap dianggap terlalu imajinatif dan mengada-ada. Bisa saja ada yang bertanya: “Kertas dibakar di sini, di sana jadi uang? Kok konyol?” Akan tetapi jangan lupa, kita sebagai manusia yang masih hidup, sama-sama tidak memiliki pengetahuan apalagi pengalaman langsung tentang gambaran akhirat yang sebenarnya. Boleh jadi akhirat versi agama kita yang sungguhan terjadi, akan tetapi bagaimana kalau akhirat versi Tionghoa yang benar-benar ada di sana?

Aneka replika benda dari kertas di makam Tionghoa.

Kalau sudah urusan ziarah makam orang tua, banyak orang Tionghoa yang sampai sebegininya. Kecuali jika mereka sudah menjadi umat agama konservatif.

Miniatur gedung bank terbuat dari kertas.

Kenapa cuma mengirimkan uang ke alam baka, kalau bisa mengirimkan banknya sekalian? Coba perhatikan nama banknya dalam bahasa Tionghoa, sudah disesuaikan dengan lingkungan “setempat”.

Sedangkan ini … demi terus “membacakan” dan mengirimkan lantunan ayat suci untuk mendiang, dipasanglah MP3 Player khusus murottal Alquran dengan tenaga matahari. Bacaan ayat suci akan terkumandangkan tanpa putus, looping. Niatnya mungkin baik, tetapi anak cucu mendiang barangkali tak bisa berada di sana 24 jam. Tak tahulah. Foto: kabarmakkah.com

Dalam hal ini, celakalah kita semua jika akhirat yang sebenarnya ada adalah versi Mesir kuno. Sebab untuk mencapai kebahagiaan di sana, kita harus dimakamkan sebagai mumi. Hahaha! Soponyono dalam bahasa Jawa, artinya: siapa yang tahu.

Beda lagi ceritanya bila menyangkut anak angkat. Lantaran disesuaikan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2007 dan Peraturan Menteri Sosial Nomor 110/HUK/2009, calon orang tua angkat harus beragama sama dengan si anak. Tujuannya untuk menghindari terjadinya pemaksaan agama. Anehnya, untuk anak yang tidak diketahui agamanya (seperti bayi dibuang, bayi gagal aborsi, dan lain-lain), maka agama anak tersebut disesuaikan dengan agama mayoritas penduduk setempat setingkat desa atau kelurahan.

Bicara soal pemaksaan agama pada anak, bukankah pengagamaan sejak kecil juga bisa disebut pemaksaan agama? Si anak belum memiliki kuasa untuk memilih agamanya sendiri, tetapi harus dibuat tunduk pada kehendak/keinginan orang tuanya. Seringkali tanpa informasi yang berimbang, bahkan bias referensi. Membuat sang anak tumbuh dengan anggapan-anggapan yang bisa menjadi stigma dan stereotip terhadap penganut agama lain.

Oke, itu tadi jawaban dari perspektif para orang tua. Kemudian, mengapa anak-anak harus seagama dengan orang tuanya dari perspektif agama sebagai sebuah institusi?

Sustainability. Keberadaan yang berkesinambungan. Dengan anak-anak yang seagama, itu berarti adanya regenerasi sponsor. Setelah meninggal, akan ada segaris generasi umat untuk menggantikan posisi para orang tuanya di jajaran pemberi sumbangan. Ini adalah salah satu aspek dari sedekah, konsep yang ada di semua ajaran agama. Bedanya, ada praktik sedekah yang sepenuhnya diselimuti keikhlasan, ada pula yang dilakukan demi kewajiban dan imbalan kaveling petak di surga sana.

Prinsipnya: “Ya … uang, uangmu sendiri, suka-suka kamu mau dipergunakan untuk apa.” Jadi, tinggal para pemuka agama saja yang berusaha semaksimal mungkin untuk bisa menggaet para donatur potensial. Jangan heran kalau sentimen tarik-tarikan umat marak terjadi. Tempat ibadah A berusaha menggaet orang-orang kaya, begitu pula pengurus tempat ibadah B. Keberhasilan menggandeng orang-orang kaya menjadi umatnya adalah keberhasilan yang patut dirayakan.

Sebagai konsekuensi, “hubungan baik” tersebut pun harus terus dijaga, di-maintain. Di waktu umat tersebut membutuhkan bantuan doa dan sejenisnya, sang pemuka agama harus siap sedia hadir. Namanya juga umat prioritas, yang posisinya jauh lebih tinggi dan mulia dibanding umat kelas ekonomi.

Ya! Ini terjadi.

Demikianlah sedikit gambaran tentang betapa pentingnya angka dan jumlah dalam agama sebagai institusi, organisasi, dan lembaga. Oleh karena itu, terpujilah badan-badan agama, dan tempat ibadah yang memiliki kemandirian finansialnya sendiri. Tak lagi bergantung pada sumbangan dan donasi umat-umat kelas kakap, melainkan mampu berkesinambungan dengan daya upayanya sendiri. Kendati efek sampingnya akan membuat mereka seolah tidak butuh tambahan umat, dan betul-betul eksklusif dalam kehidupan beragama.

Risiko lainnya, lembaga agama dan tempat ibadah yang mampu berdikari seperti ini, akan mudah sekali dituding sebagai institusi bisnis terselubung, yang sesungguhnya memang benar. Namanya juga social enterprise. Entahlah, mana tahu tuhan pun sebenarnya tidak suka namanya terus menerus digunakan untuk mengumpulkan uang dan sumbangan.

Mana tahu, lho, ya, yang tuhan inginkan bukanlah dompet-dompet yang dibuka. Melainkan hati yang terbuka dengan rendah hati dan sukarela. Bukan karena terpaksa, takut masuk neraka.


Terus, kalau tidak diperlakukan begini dan umatnya makin berkurang, bagaimana kalau agamanya hilang?

Memangnya kamu tahu rencana tuhan?

[]

Menata Hunian

Memutuskan untuk tinggal di tempat sendiri sejak akhir tahun kemarin, ada perasaan excited sekaligus lega jadi satu.

Excited, karena akan memulai sesuatu yang baru, dan benar-benar dilakukan oleh diri sendiri. Mengisi ruangan-ruangan dengan sebagaimana mestinya meskipun hanya bisa satu demi satu, menatanya sedemikian rupa, dan memastikan agar semua terasa cukup nyaman dan menyenangkan.

Lega, karena sesuatu yang baru tadi dimulai dari ruangan-ruangan kosong. Tidak ada perabotan lama, tidak perlu ada pemilahan mana yang akan dipertahankan dan mesti dibuang. Ini berarti lebih hemat waktu, tenaga, dan pikiran. Walaupun konsekuensinya, ada kemungkinan besar untuk mengeluarkan lebih banyak uang jika ingin menambah ini dan itu.

Kemudian, cukup terkejut ketika pertama kali terpapar dengan teknik berbenah KonMari (akronim dari Marie Kondo, nama si empunya ilmu), yang booming dan termasyhur di dunia belakangan ini. Sebab alih-alih dianggap kemampuan berdasarkan pengalaman dan perspektif personal, aktivitas beberes di rumah ternyata punya “perguruannya” sendiri. Dikursuskan, dikonsultasikan, bahkan dikampanyekan sebagai gaya hidup kekinian. Lagi-lagi, sebagai seseorang yang baru pindah tempat tinggal dan mengurus sendiri, maka tidak ada salahnya untuk mencoba menjalankan beberapa kiat berbenah ala KonMari.

Marie Kondo. Foto: Daily Republic

Setelah selesai membaca bukunya, bisa disimpulkan bahwa Marie Kondo tidak kenal atau malah memerangi konsep “mubazir”. Kiat paling mendasar yang memenuhi hampir separuh bukunya adalah membuang barang. Namun, hal ini wajar. Lantaran kondisi yang dihadapi Marie Kondo adalah rumah dan apartemen yang sudah telanjur penuh, sudah ditinggali cukup lama, sehingga barang-barang yang ada di dalamnya pun sudah berlimpah ruah. Efeknya masuk akal. Banyak yang dibuang, ruangan pun menjadi lapang. Dibuang, bukan sekadar dipindahkan.

Dalam salah satu bagian di bukunya, Marie Kondo menyatakan bahwa teknik beberesnya sangat cocok bagi orang-orang yang tinggal di Jepang dan Amerika Serikat (serta di berbagai negara maju lainnya). Alasannya, warga kelas menengah dan ke atas di negara-negara tersebut memiliki kemampuan dan dorongan berbelanja yang cenderung tinggi, serta sangat mudah untuk menjadi penimbun barang. Masuk akal.

Apabila dirasa-rasa, tampaknya ada beberapa poin yang bisa ditambahkan sebelum kiat-kiat Marie Kondo dipraktikkan. Tentu saja berangkat dari perspektif seseorang yang baru akan mengisi dan menata huniannya.

  1. Beli Barang yang Benar-benar Dibutuhkan

Secara ekonomis, langkah ini diperlukan untuk menghemat pengeluaran. Berhitung dengan cermat untuk memaksimalkan anggaran, agar tidak terkesan percuma. Yang diperlukan adalah kecermatan, bukan sifat pelit berlebihan. Toh ini membeli, bukan meminta, mencuri, apalagi mengambil barang bekas.

Demi kerapian, langkah ini diperlukan untuk meminimalisasi potensi kesemrawutan yang bisa terjadi. Merencanakan penataan secara menyeluruh, membayangkan big picture-nya, agar efektif dan efisien. Agar ujung-ujungnya, merujuk pada kiat utama KonMari …

  1. Jika Tidak Punya Banyak Barang, Apa yang Mau Dibuang?

That’s it! Mengatasi problem kesumpekan bahkan jauh sebelum masalahnya muncul. Ya … meskipun fase ini juga tetap berpotensi memunculkan ketidaknyamanan, sesuai preferensi setiap individu sih. Ada yang betah-betah saja dengan ruangan lapang dan terlihat kosong, tetapi ada pula yang lebih suka keramaian harta benda. Sebagai pertanda kekayaan, kemakmuran, kesejahteraan, dan situasi serbaada. Padahal, punya duit banyak bukan berarti harus dibelanjakan semuanya, kan?

Bagi yang masih tinggal sendirian, setidaknya bisa bebas menentukan pilihan. Lain cerita apabila tinggal bareng pasangan dengan selera berbeda. Akan ada diskusi, negosiasi, dan kesepakatan mengenai hal ini. Kepemilikan barang tak lagi perseorangan, melainkan bersama. Asalkan keduanya bisa …

  1. Konsisten

Lebih kepada konsistensi untuk menjaga kerapian, dan memerhatikan sekeliling. Setuju banget dengan Marie Kondo; serapi apa pun rencana penataan dijalankan, tetap akan berantakan tanpa disiplin. Mending kalau masih tinggal sendiri, kesalahan maupun dampaknya berasal dan dirasakan oleh diri sendiri. Mengomel pun kepada diri sendiri. Setelah tinggal bersama, bakal muncul kesalahan dan aksi lempar-lemparan. Dampak dari ketidakrapian pun bisa dirasakan orang lain.

Hal ini sebenarnya tidak gawat-gawat amat. Bagi pasangan muda, atau pasangan yang terbiasa selalu mesra, urusan begini bisa tetap berujung manis dan bukan “perang dunia”, entah bagaimana pun caranya. Hanya saja, akan jauh lebih baik bila konsistensi untuk rapi bisa menjadi kebiasaan. Diturunkan, dan diajarkan kepada generasi penerus maupun sesama. Membangun dan berbagi kebaikan. Adab, begitu orang dulu menyebutnya.

Cobain, aja.

Photo by Bench Accounting

Doanya, mudah-mudahan bisa segera punya hunian pribadi, ya … dan buat yang sedang dalam proses, semoga selalu dilancarkan.

[]

Malu Bertanya Sesat di Jalan … Banyak Nanya Malu-maluin

SAAT bertanya, beberapa dari kita pasti pernah mengalami hal berikut.

  • Mendapatkan jawaban yang diawali: Begitu aja kok enggak tahu?”
  • Mendapatkan jawaban yang diawali: Google aja ndiri (jawabannya)!
  • Mendapatkan jawaban yang diselipkan kalimat: “Bego banget sih.
  • Mendapatkan jawaban yang diawali dengan tertawa mengejek, senyum yang seolah mengolok, ekspresi merendahkan. Jawaban pun disampaikan dengan intonasi seakan-akan kita adalah orang bodoh sekecamatan.
  • Mendapatkan jawaban yang diawali dengan marah-marah. Entah karena yang bersangkutan sedang sibuk, hanya malas meladeni, atau memang begitu perangainya.

Respons-respons yang bagi beberapa orang terasa kurang menyenangkan di atas sejatinya tak dapat dihindari saat ini. Di era ketika semua orang menjadi lebih sibuk menjalani kehidupannya masing-masing, ketika menit demi menit waktu menjadi sangat berharga untuk dibiarkan berlalu begitu saja (hal ini berarti, menjawab pertanyaan kita sama dengan membuang waktu dan pikiran), ketika penggunaan mesin pencari seperti Google dan Bing sudah menjadi kebutuhan sehari-hari, dan ketika signifikansi diri (merasa sebagai orang penting) makin adiktif, bikin candu.

Dengan signifikansi diri, seseorang merasa dirinya begitu penting. Dalam konteks bertanya dan menjawab ini, seseorang merasa penting karena menjadi yang ditanya, sumber informasi, jawaban, dan petunjuk bagi orang lain. Kita yang bisa mengenali gelagatnya saat seseorang terkesan agak angkuh saat memberi respons.

Mendapatkan tanggapan-tanggapan seperti di atas, baiknya tak usahlah dimasukkan ke hati atau baper, apalagi sampai dendam. Sebab setidaknya kita menjadi lebih tahu, mana orang-orang yang pantas ditanyai dan tidak. Mana yang cocok dijadikan teman lebih jauh di luar lingkungan kampus, kantor, atau pekerjaan, ke area yang lebih personal, dan yang tidak. Cukup tahu saja, kemudian jauhi atau tinggalkan. Karena ketenteraman hati itu lebih penting.

Selebihnya, pengalaman tidak menyenangkan tadi juga mendorong kita untuk belajar mencari tahu dengan cara lain, tanpa harus merepotkan orang dengan bertanya. Karena belum tentu seseorang senang ditanya-tanyai. Meskipun suatu saat nanti bisa terjadi sebaliknya. Giliran dia yang akan bertanya kepada kita.

Nah!

Ada kalanya kita yang bertanya, dan ada kalanya pula kita menjadi yang ditanya. Hanya perkara waktu. Namun, permasalahannya bukanlah siapa yang bertanya atau apa yang ditanyakan, melainkan bagaimana kita—sebagai yang ditanya—merespons pertanyaan tersebut.

Pada akhirnya, semua akan kembali ke kita. Satu hal yang pasti, jika kita pernah mendapat perlakuan tidak menyenangkan, apakah worth it bila kita melakukan hal tidak menyenangkan yang sama kepada dia?

Di sinilah pentingnya kita untuk menyadari serta memaklumi diri sendiri dan keadaan yang dihadapi. Akan lebih baik, sebagai penanya maupun yang ditanya, memahami situasi dan kondisi dimulai dari satu hal mendasar: adanya kebutuhan.

Ya jelas dong ada kebutuhan, makanya seseorang bertanya. Bahkan bertanya untuk sekadar mencari perhatian juga beranjak dari situ.

  • Penting/Tidak Penting

Baik penanya maupun yang ditanya bisa memiliki persepsi yang berbeda soal yang satu ini. Ada pertanyaan yang disampaikan karena si penanya benar-benar tidak tahu, dan membutuhkan jawaban segera. Ada pula penanya yang memang hobi bertanya, clueless terhadap persoalan yang dihadapinya, dan terbiasa bergantung pada petunjuk orang lain.

Ada sebagian orang, yang dari kecil diajarkan untuk mengusahakan sesuatu semaksimal mungkin terlebih dahulu, sebelum akhirnya terpaksa meminta bantuan orang lain saat sudah mentok dan tidak ada jalan keluar. Kita akan dengan mudah mengenali orang-orang yang seperti ini, sehingga jawaban pun bisa diberikan dengan ringan.

Ada juga sebagian orang, merasa sudah pandai dan berat memberi jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan yang dirasanya sepele. Apabila mereka memang benar-benar pandai, mereka semestinya bisa mengenali atau membedakan mana pertanyaan yang disampaikan secara bersungguh-sungguh, dan yang cuma sekadarnya. Lagipula, karena pandai, mereka pun tak hanya memberikan jawaban bulat-bulat, tetapi ditambahkan dengan petunjuk selanjutnya. Minimal agar si penanya bisa melakukan metode atau cara lain terlebih dahulu dalam mencari jawaban. Bertanya adalah langkah terakhir.

Dari cara demikian, tidak perlulah kiranya sampai emosi, dan mengatakan: “Tinggal dijawab. Apa susahnya sih?

Harap diingat, sesederhana apa pun pertanyaannya, seseorang bertanya karena dia tidak tahu, bukan karena dia bodoh.

Kesan ini yang terjadi di sekolah-sekolah negeri, ketika banyak murid enggan bertanya lantaran takut dianggap bodoh. Baik oleh teman sekelas, maupun ironisnya, oleh sang guru sendiri. Ketidaktahuan pun bercokol, bertahan, dan menghambat kemajuan.

Photo by Joshua Rawson-Harris

  • Perbedaan Tingkat Emosional

Mustahil untuk bisa benar-benar memahami seseorang, luar dan dalam. Apa yang kita anggap biasa-biasa saja, bisa jadi luka bagi orang lain.

Dalam kaidah agama, norma sosial dan pergaulan umum, kebiasaan di masyarakat, dan sebagainya sudah ada poin-poin bagaimana menjadi manusia yang baik lewat tutur kata. Hanya saja, saat ini kita tengah hidup di dunia yang berisik dan gaduh. Dengan bersikap seperti asket, resi di pertapaan, yang irit bicara tetapi sakti mandraguna, kita malah dianggap aneh. Tidak semua orang bisa menjalani hidup profesionalnya seperti Limbad.

Di sisi lain, ada juga banyak orang yang saking akrabnya sampai bisa melempar cacian dan serapahan tanpa menyinggung lawan bicara. Itu sudah lain cerita.

Jadi, berikanlah jawaban saat ditanya. Berikan informasi tambahan jika diperlukan, sekaligus petunjuk agar si penanya bisa paham, bukan cuma tahu.

Dengan tidak memberikan jawaban yang diperlukan, apalagi kalau pakai acara mengejek, bukan hanya menghalangi orang lain, tetapi juga mempermalukannya. Iya deh, tidak semua orang sepandai, secerdas, sepintar, dan berpengetahuan luas seperti kamu. Tak perlulah sombong.

Begitu pula bagi yang bertanya, silakan dipikirkan dulu apakah pertanyaan yang disampaikan bakal membuat dirinya terkesan agak … kurang berwawasan, atau bagaimana. Bertanyalah dengan baik. Jangan malah nyolot. Jangan memaksakan pertanyaan supaya keinginannya terpenuhi, setelah dijawab, eh … melengos begitu saja.

Tidak semua orang memiliki kualitas welas asih seperti Dewi Guanyin dalam serial Kera Sakti, yang selalu menjawab pertanyaan dari semua umat manusia dengan sabar dan telaten.

  • Manusia Tetap Butuh Bersosialisasi

Andai semua hal bisa dijawab oleh Google, Bing, Wikipedia, Harvard Business Review (HBR), dan sejenisnya, manusia pun tidak lagi perlu saling bertanya. Efektif dan efisien, tetapi kering, dingin, dan sepi.

It’s not your fault for craving such a quiet time. Akan tetapi, alih-alih membenci situasi (dan kesal terhadap seseorang yang bertanya atau mengajak bicara), coba tanyakan pada diri sendiri: “Apa sih yang bikin aku tidak suka dengan kondisi ini?”, “Kenapa aku merasa kesal, ya?

Sebagian besar jawabannya pasti: “Malas”, “Capek”, “Siapa kamu?

Doyan tidak menggubris orang lain secara sengaja, ya sewaktu-waktu harus siap untuk merasakan tidak nyamannya tak digubris oleh orang lain pula. Fair, kan? Ini bukan cara semesta membalas dendam. Ini hanya sebuah keterkondisian, yang niscaya. Jadi, tidak perlu merasa jadi korban, merasa teraniaya, ataupun merasa diperlakukan tidak adil. Hanya perubahan posisi, kok … dan itu alamiah. Ndak usah baper.

  • At the end, it’s your own problem

Bagaimana pun juga, perasaan menyenangkan atau tidak menyenangkan muncul dari dalam diri sendiri. Kita adalah subjek sekaligus objek kehidupan kita sendiri, bukan orang lain. Bukan dari orang yang bertanya, bukan pula dari orang yang kita tanya. Berhasil mendapatkan jawaban yang kita inginkan, berterima kasih lalu lanjutkan urusan. Tidak berhasil mendapatkan jawaban yang kita inginkan, move on lalu lanjutkan urusan.

Gon, kok ini jadi ribet amat sih?
Namanya juga hidup manusia. Kalau yang enggak ribet itu, jadi plankton aja.

[]