Kebergantungan Kita Terhadap “Orang-orang Biasa”

PER hari ini, lepas dua pekan kita menjalani keseharian dan gaya hidup yang jauh berbeda dibanding sebelumnya.

Perspektif kita diubah paksa oleh keadaan; melihat hal-hal yang sebelumnya terabaikan, mengalami hal-hal yang dahulunya tak begitu diacuhkan, menyadari bahwa hal-hal yang selama ini disepelekan ternyata amatlah penting. Setidaknya, penting untuk mempertahankan rasa nyaman, atau bahkan untuk mempertahankan kehidupan itu sendiri.

Memberikan berkat kepada ruang … kosong.
Foto: CNN

Saat menyampaikan berkat mingguan selepas Doa Angelus, Minggu dua pekan lalu (15/3), Paus Fransiskus memberikan pujian khusus kepada “orang-orang biasa” atau orang-orang yang selama ini dianggap biasa-biasa saja, sebagai kelaziman peradaban manusia modern. Yang disebut Paus saat itu adalah para petugas toko-toko kelontong, apotek, dan polisi yang terus memberikan pelayanan-pelayanan mendasar di tengah masa krisis seperti sekarang.

Anyway, sejujurnya saya agak kesusahan menemukan kata atau istilah yang lebih tepat dibanding “biasa”. Pasalnya, saya percaya bahwa tidak ada satu pun profesi yang biasa-biasa saja. Semuanya memiliki fungsi khusus dan positifnya masing-masing, kecuali penjahat dari segala jenis. Untuk menyamakan persepsi, orang-orang biasa dalam konteks ini ialah mereka dengan profesi yang kurang bergengsi. Pekerjaan yang selama ini dinilai tak cukup kece untuk membangkitkan rasa kagum. Tidak perlente.

Saya yakin yang dimaksud Paus kala itu juga mencakup banyak profesi (biasa) lainnya, semisal sopir angkutan barang, tenaga kebersihan, pasukan pemadam kebakaran, dan sebagainya. Malahan bagi sebagian besar dari kita di Indonesia saat ini, kemudahan, kelancaran, dan kenyamanan hidup kita bergantung pada “orang-orang biasa”.

Dimulai dari tukang sayur keliling, atau tukang sayur yang menerima pesanan antar, pengemudi ojek online, para pemilik, juru masak, dan pramusaji di restoran, warung, kedai, hingga penjual makanan dengan sistem pemesanan di muka. Mereka terus beroperasi, menyesuaikan pelayanan dengan standar keselamatan (bungkus makanan disegel rapat, tidak lagi diantar langsung tetapi bisa cukup digantung di depan pagar, serta beraneka cara lainnya), dan itu semua‒sekali lagi‒membantu kita mempertahankan kenyamanan hidup.

Bantu Petani saat Corona, IPB Lakukan Program Belanja Sayur dari Rumah
Foto: Kompas
Di ILC, Driver Ojol Ini Ungkap Perasaannya Tetap Kerja Saat Corona ...

Jika kita tarik mundur lagi, di belakang “orang-orang biasa” tersebut masih ada beberapa lapis “orang-orang biasa” lainnya. Para pedagang bahan makanan di pasar-pasar tradisional yang terus berjualan, pun melayani pesanan via telepon maupun memasok stok kepada para tukang sayur keliling. Para petani dan pekebun yang ada di daerah, nun jauhnya dari kota sehingga relatif dijauhkan dari paparan wabah. Tak ketinggalan para petugas kebersihan, yang tetap bekerja termasuk membantu penyiraman disinfektan. Sedangkan bagi para orang tua, ada guru-guru sekolah negeri atau pun swasta yang berupaya tetap memberikan pengajaran walaupun secara online.

Demikianlah. Perspektif kita diubah paksa oleh keadaan; melihat hal-hal yang sebelumnya terabaikan, mengalami hal-hal yang dahulunya tak begitu diacuhkan, menyadari bahwa hal-hal yang selama ini disepelekan ternyata amatlah penting. Setidaknya, penting untuk mempertahankan rasa nyaman, atau bahkan untuk mempertahankan kehidupan itu sendiri.

Bahwa sejatinya, tidak ada yang namanya “orang-orang biasa”.

Berterima kasihlah. Sepantasnya.

[]

Advertisements

The Juxtaposition of Faith (?)

LANGSUNG saja. Di saat-saat genting seperti sekarang, perilaku manusia dalam konteksnya sebagai makhluk religius cenderung terbagi dua: Mereka yang berpaling KEPADA agama, dan yang berpaling DARI agama. Meski saling bertolak belakang, keduanya sama-sama didorong oleh ketakutan dan kekhawatiran, serta kepasrahan atau penerimaan nan dungu yang beda tipis dengan penyangkalan atau penolakan. Objeknya saja yang berbeda.

Baik kelompok yang berpaling kepada agama maupun yang berpaling dari agama sama-sama takut akan kematian. Bedanya, kelompok pertama memang takut mati, tetapi lebih takut lagi jika matinya tidak masuk surga. Dan dengan mengupayakan hal-hal lain di luar keyakinan kepada entitas sentral dalam agamanya masing-masing‒tuhan‒itu dianggap sebagai salah satu bentuk keragu-raguan‒meragukan tuhan, sang pencipta segalanya. Sikap ragu-ragu itulah yang dipercaya bisa mengurangi bobot kredit seseorang dalam penilaian kepantasan untuk bisa masuk surga.

Mendingan aku buruan mati saja, daripada enggak bisa masuk surga.

Sedangkan bagi kelompok kedua, rasa takut dan khawatir akan kematian seringkali diawali dengan peristiwa terkait. Apakah ada kerabat atau keluarga yang terdampak dan meninggal, atau justru dirinya sendiri yang terkena. Mereka pun berpaling dari agama karena keyakinan kuat yang dipegang selama ini nyatanya tidak menghindarkan mereka (dan orang-orang terdekat) dari musibah. Ada nuansa kekecewaan di situ, yang bahkan bisa memunculkan amarah lantaran doa dan permohonan yang dipanjatkan seakan-akan tak berguna. Apalagi dalam konsep penciptaan, virus atau apa pun objek bencana juga muncul/hanya bisa dimunculkan olehnya. Sehingga, manakala sesuatu yang buruk terjadi, bisa karena memang dibuat sedemikian rupa, atau justru terjadi begitu saja secara alamiah … bukan diciptakan olehnya‒dia tidak ada.

Ah, ternyata semuanya bohong!

Berikutnya, sebagai kelompok yang berpaling kepada agama, segala-galanya digantungkan pada keyakinan atau kepercayaan. Apa pun yang terjadi/akan terjadi telah disuratkan sebelumnya; menjadi kehendak mutlak sang pemilik semesta; dan pada akhirnya akan tetap berbuah manis sebagai ganjaran bagi orang-orang yang percaya. Di sisi lain, ada juga anggapan bahwa tak peduli sebagai keras, tekun, mutakhir sebuah usaha, tidak akan memberikan hasil apa-apa bila tanpa seizinnya. Tak perlulah melawan. Terima saja. Oleh sebab itu, menurut logika mereka, akan lebih baik untuk pasrah dan menerima saja. Sikap tersebut akan membuahkan ketenteraman, membantu melewati dunia yang penuh dengan penderitaan dan cobaan, menuju kehidupan bahagia yang kekal di ujung sana.

Saya percaya, ada sesuatu yang indah sebagai akhirnya.

Lalu, mengapa kepasrahan atau penerimaan membuta seperti di atas disebut beda tipis dengan penyangkapan atau penolakan?

Karena dengan meyakini sesuatu, otomatis harus tidak meyakini lawannya. Dengan meyakini bahwa agama (A)‒beserta seluruh batang tubuh ajaran, termasuk entitasnya‒ialah jalan keluar tunggal yang telah ditentukan oleh tuhan, maka janganlah meyakini hal-hal lain di luar agama (non A). Menerima yang satu, dan menolak yang lain. Memasrahkan diri kepada yang satu, dan menyangkal fungsi dan manfaat yang lain. Mau itu sains dan ilmu pengetahuan, perhitungan yang konkret dan realistis, selama bukan merupakan bagian dari ajaran agama, lupakan saja.

“Pokoknya, ini yang bener…”

Setiap orang pada dasarnya berhak menjadi bagian dari kelompok pertama, kedua, atau bahkan bukan keduanya. Masalahnya, di saat-saat genting seperti sekarang, egoisme dan preferensi pribadi seseorang dapat membahayakan keselamatan orang lain dalam jumlah besar. Bukan sekadar kalkulasi ilusi (misalnya: Satu orang berbuat salah, seluruh desa kena tulah), melainkan perhitungan yang konkret. Ada satu saja orang yang jorok, menyebabkan beberapa orang lainnya berpotensi tertular dan terjangkit penyakit serupa. Sesederhana prinsip perkalian.

Sayangnya, demikian pula dengan keyakinan. Ada satu saja yang pandai berbicara dan memikat hati, ada sekelompok orang yang ikut dan mungkin mengekor tanpa pengetahuan untuk bersikap kritis.

Ya begitulah.

[]

Kita Memang Hobi Ribut-ribut

SAMPAI saat ini, saya selalu “terkagum-kagum” melihat begitu melimpahnya tenaga, stamina, perhatian, dan waktu banyak orang–dan terkadang diri kita sendiri–untuk ribut-ribut. Baik yang kita mulai sendiri, atau yang bisa bikin kita ikutan.

Banyak hal, atau bahkan hampir segalanya diributkan. Bukan lagi “mangan ora mangan ngumpul“, tetapi jadinya “ngumpul ora ngumpul ribut”. Dan boleh dibilang, ini menunjukkan prioritas atau hal yang didahulukan dalam kehidupan kita masing-masing. Tanpa ada ribut-ribut barang sehari saja, rasanya seperti ada yang kurang. Entah kurang seru; kurang bersemangat; kurang bergairah; atau kurang rame macam pasar malam di kampung gang sebelah.

Sejujurnya, saya pernah begini. Hobi banget ribut-ribut, meributkan banyak hal yang saya anggap telah saya pahami dan kuasai dengan segala rupa alasannya. Apakah itu ingin mengkoreksi atau membenarkan orang lain; yang secara tidak langsung juga bertujuan untuk ingin menunjukkan superioritas kita dibanding orang lain; maupun sekadar ingin mencari keributan lantaran memang tidak bisa diam. Namun, seiring bertambahnya usia (sekaligus pengalaman hidup, kesadaran, dan mudah-mudahan kebijaksanaan), saya kian menyadari betapa sia-sianya berkubang dalam keributan. Ketika menit demi menit dalam setiap harinya sudah dipenuhi dengan kesibukan pekerjaan, tenggat, pemikiran dan pertimbangan, serta lain sebagainya, berasa banget betapa berharganya waktu dalam satu hari ketimbang dicurahkan untuk ribut; memulai atau pun terlibat dalam keributan.

Disclaimer: Kendati telah berusaha menyadari hal di atas, akan tetap ada momen-momen saat saya turut terjun dalam keributan. Jadi, harap dimaklumi saja.

Kembali ke hal-hal yang kerap diributkan, dapat kita amati bahwa ribut-ribut terjadi merata pada segala topik dan bahasan. Mulai dari yang paling sensitif–gara-gara kerap tak terjangkau oleh banyak orang–semisal Suku, Agama, Ras, Antargolongan (SARA), termasuk anatomi dan fisik, politik dan ekonomi, hukum dan kriminal, sosial budaya, filsafat, teknologi, seksualitas, hingga kelakar dan kegoblokan macam urusan hamil gara-gara berenang tempo hari.

Jika diperhatikan lebih dalam, bukan topik atau bahasannya yang salah, dan perlu dihindari, melainkan aktivitas dan vibe ribut-ributnya yang bikin malesin. Pada dasarnya, kita bisa membicarakan atau mendiskusikan hampir apa saja secara konstruktif dan membangun, asal tidak pakai ribut-ribut yang justru malah membuat suasana kian kisruh.

Dengan bicara baik-baik (dan pintar), urusan kursi partai PAN tidak bakal pakai acara lempar-lemparan kursi secara harfiah; urusan anatomi dan fisik akan berkembang sesuai Zeitgeist-nya atau kesadaran sejalan waktu, contohnya, ada masa ketika kondisi tubuh seseorang dijadikan lelucon habis-habisan dalam sederetan film Warkop DKI (gigi tonggos) sampai episode-episode Ketoprak Humor (mata juling, pincang) tanpa memicu ketersinggungan yang riuh, kemudian berkembang menjadi kesadaran bahwa kondisi fisik sama sekali bukanlah objek lucu-lucuan yang patut; atau seberani Mbak Margaretha Diana dengan tulisan berjudul “Enaknya Orang Kristen, Begitu Mualaf Langsung Jadi Ustaz Seribu Umat” di Mojok.co manakala membahas tentang ilusi superioritas agama berbalut alibi khayal (… tetap berasa, sih, slightly mangkel dalam poin-poin argumentasinya. Hahaha! I feel you, Mbak).

Kalau begini, bagaimana caranya supaya tidak perlu ribut-ribut?

Oke, kembali lagi ke satu landasan di atas, bukan topiknya yang salah, melainkan ribut-ribut (dan segala pemicunya) yang sebaiknya disadari untuk dipupuskan. Kita hidup di iklim yang bebas. Bebas berpikir dan mempertanyakan, bebas berbicara dan menyampaikan pendapat, serta bebas untuk menerima atau menolak, bebas untuk bertahan dengan pandangan awal atau berubah tanpa diintimidasi atas perubahan pemikiran tersebut.

Sedikit banyaknya, mungkin bisa mengacu kepada beberapa aspek berikut.

  1. Penting/Tidak Penting
  2. Bermanfaat/Tidak Bermanfaat
  3. Merugikan/Tidak Merugikan

Ketiga aspek tersebut kembali dibagi dalam tiga dimensi:

  1. Bagi diri sendiri
  2. Bagi orang lain yang berhubungan dengan kita
  3. Bagi orang lain yang tidak berhubungan dengan kita/umum

A. “Apakah sesuatu itu penting untuk diributkan, atau tidak?”
Bila diarahkan bagi diri kita sendiri, setiap orang tentu memiliki pertimbangan penting/tidak penting yang berbeda. Hanya saja, harap diingat bahwa penting bagi kita, belum tentu penting bagi orang lain. Apalagi bagi orang banyak.

B. “Apakah sesuatu itu bermanfaat jika diributkan, atau tidak?”
Kembali lagi, akan ada perbedaan tentang manfaat yang dapat kita peroleh (jenis dan bentuknya) bagi diri sendiri, maupun yang diperoleh orang lain, termasuk bagi masyarakat umum.

Jika sesuatu memberikan manfaat hanya bagi diri kita sendiri, tetapi tidak bagi orang lain yang kita kenal dan orang banyak, bukankah itu berarti kita egois dan mementingkan diri sendiri? Apabila memang demikian, keributan yang kita lakukan semata-mata demi keuntungan kita sendiri. Bukan untuk kemaslahatan orang banyak.

C. “Apakah keributan itu akan menimbulkan kerugian, atau tidak?”
Terdapat perbedaan yang cukup nyata antara sesuatu yang memberikan manfaat atau keuntungan, dengan sesuatu yang tidak memberikan kerugian.

Manfaat atau keuntungan dilakukan secara aktif, melibatkan aktivitas pencarian dan pengusahaan. Tujuannya tentu saja adalah memperoleh manfaat atau keuntungan. Sementara tidak adanya kerugian ialah situasi yang pasif dan netral.

Tatkala ada sesuatu yang tidak menimbulkan kerugian jika dilakukan, dan tidak menyebabkan apa pun (kerugian maupun keuntungan) jika tidak dilakukan, maka nuansanya akan jauh lebih rileks. Kita tidak merasa harus melakukannya sesegera mungkin, tetapi di sisi lain pun tak akan menimbulkan penyesalan atau rasa bersalah jika tidak dilakukan.

Nah… saat kita berhadapan dengan sesuatu yang penting bagi diri kita dan orang lain, bisa memberikan manfaat bagi diri kita dan orang lain, serta tidak menimbulkan kerugian bagi diri kita dan orang lain, sesuatu itu cukup patut diributkan ke tingkat lanjut.

Mengapa? Sebab semua aspeknya terpenuhi. Dengan kata lain, apabila tidak diributkan, akan menyebabkan kegentingan bagi kita dan orang lain, menghilangkan manfaat bagi kita dan orang lain, serta justru merugikan kita dan orang lain.

Begitu, kira-kira.

Sebagai penutup tulisan tentang ribut-ribut ini, saya ingin berbagi vibe positif, berani, penuh rasa percaya diri, dan empatik dari twit foto yang dibagikan Mbak Tara Basro beberapa waktu lalu.

Kenapa empatik? Ya bayangin aja, giliran banyak cewek (dan cowok) yang merasa insecure dengan bentuk tubuhnya sendiri, Mbak Tara Basro menghadirkan foto ini dengan caption demikian. Kendati sayangnya, mesti Mbak Tara Basro yang bersuara barulah kita cenderung memerhatikannya (kalau bukan Tara Basro: “Siapa elu?”).

Beginilah manusia-manusia rata-rata, haus dan dikendalikan oleh validasi. Validasi sosial dari lingkungan, yang lambat laun menjadi validasi dari dalam diri sendiri.

Praise!

… dan tak perlulah terpancing dengan beberapa komentar yang disampaikan segelintir netizen, peribut-ribut yang bisa jadi enggak ada seapa-apanya terhadap keributan mereka sendiri.

Ya, entahlah.

[]

Bahagia itu (Masih) Sederhana, Katanya…

SUDAH enam tahun sejak tulisan pertama tentang ini ada di Linimasa, waktu saya masih di Samarinda; si anak daerah. Kemudian, hadir kembali dua tahun selepasnya, sebagai warga pendatang di Jakarta. Kota dengan kehidupan yang sempat bikin kaget, bahkan sampai sekarang. Ya … lantaran orang-orangnya, keseharian yang dihadapi, serta mengamati cara diri ini menanggapinya.

Kini, rasanya kepingin melanjutkannya lagi.

Setidaknya ada satu hal yang saya sadari. Buah-buah kebahagiaan setiap orang terus berubah; seiring berjalannya waktu; seiring bergulirnya kehidupan; seiring tubuh yang mengusang; seiring berkembangnya kebijaksanaan dan kedewasaan.

Namun, apa pun perubahannya, bagi banyak orang kebahagiaan tetap identik dengan terpenuhinya keinginan-keinginan. Rasa bahagianya terkesan tetap sama, bentuk-bentuk keinginannya yang berbeda.

Premisnya masih serupa, bahwa setiap orang punya daftar kebahagiaannya masing-masing. Objek kebahagiaan seseorang, belum tentu memberikan kebahagiaan yang sama bagi orang lain. Perlukah kita berpayah-payah memperjuangkan agar orang lain sadar bahwa mereka sesungguhnya mengalami kondisi-kondisi ketidakbahagiaan selama ini (menurut sudut pandang kita)? Debatnya akan menjadi luar biasa panjang. Bisa bikin orang lupa masak, makan, istirahat, bekerja, kencing dan buang air-air lainnya … menjalani kehidupan yang ada di depan mata.

Dan tetap saja, serendah-rendahnya rasa “bahagia” ialah yang didapatkan dari ketidakbahagiaan atau penderitaan pihak lain. Buruk memang, tetapi alamiah, dan oleh sebabnya, tetap akan terjadi. Terkadang, malah pada/oleh diri kita sendiri.

Kebahagiaan tercapai karena mendapatkan/memperoleh/meraih. Masalahnya, makin sederhana sebuah kebahagiaan, terasa makin sukar dicapainya. Apa yang dahulu terkesan sepele–dan karenanya kerap diabaikan–kini terasa begitu jauh, begitu dirindukan.

Banyak yang beranggapan bahwa ini hanyalah persoalan beda masa hidup dan angka usia. Apa yang telah dialami dan dirasakan oleh yang “tua” maupun tua, jauh lebih hakiki dibandingkan yang dialami dan dirasakan oleh yang masih muda. Berangkat dari sini, banyak yang keliru dengan terlampau menyederhanakannya menjadi “yang muda harus belajar menjadi bijaksana lewat pengalaman dan perjalanan hidup yang tua-tua.” Padahal, belum tentu, dan itu pun terkesan dipaksakan.

Mau bagaimanapun juga, semua orang memiliki kehidupan yang berbeda. Apa yang mereka hadapi, cara mereka menghadapi, pengalaman dan pelajaran yang mereka dapatkan. Perbedaan-perbedaan tersebut merupakan keniscayaan. Tak bisa dipaksakan sekalipun.

Kebahagiaan tak bisa dipaksakan.

Kalaupun seseorang mengabaikan sesuatu yang semestinya bakal jadi kebahagiaan signifikan bagi dirinya sendiri, serta memilih sesuatu yang lain dan lebih dangkal, ya … biarkan saja. Itulah proses belajar yang ia jalani sendiri. Sebab penyadaran dan dorongan motivasi paling kuat yang bisa menggerakkan seseorang ialah yang muncul dari dalam dirinya.

Manakala seseorang sama sekali tak ingin melakukan sesuatu, walaupun dipaksa sedemikian rupa tetap tidak akan ia kerjakan sepenuh hati. Sebaliknya, begitu sebuah keinginan tumbuh dan mengakar kuat di dalam hati, ia akan mengusahakannya sekuat tenaga, bisa berubah menjadi tekad, bahkan ambisi maupun obsesi. Tak peduli halangan dan rintangan yang bisa muncul, ia akan terus menerjang. Baru berhenti setelah kepayahan.

Sudah terbayang ujungnya. Tatkala berhasil mendapatkan yang diinginkan (dan diupayakan lewat berbagai cara), ia pun merasa bahagia, beserta perasaan-perasaan ikutan lainnya (kepuasan, kelegaan, ketenangan).

Iya. Demikianlah. Bahagia itu memang sederhana. Sesederhana mendapatkan yang diinginkan. Kendati untuk bisa mendapatkan yang diinginkan, pastinya tak sesederhana yang sekadar dibayangkan.

Semoga kita semua selalu mampu merasa tenteram.

[]

Bergaul dengan yang Patut

DI SUNDAY service (kebaktian mingguan) Hillsong Melbourne Minggu kemarin, isi khotbahnya boleh dibilang membahas tentang … uang. Bukan seperti yang dibahas para kapitalis kikir, atau pun para oportunis tamak, David “Dave” Ramsey–pengkhotbah–menyampaikan tentang uang sebagai sumber daya. Makanya, perlu dikelola. Baik pengelolaan terhadap uang itu sendiri, serta pengelolaan terhadap sikap dan mindset si pemilik/penggunanya.

Lantaran berupa khotbah di gereja, Dave mengawalinya dengan disclaimer bahwa uang tidak akan/belum tentu memberikan kebahagiaan; uang pun tidak akan/belum tentu menyembuhkan permasalahan-permasalahan hidup. Melainkan tuhan. Tentu saja. Selebihnya, isi khotbah bisa disusun dalam lima poin berikut (narasi penjelasan setiap poin merupakan interpretasi pribadi, bukan bagian dari khotbah tersebut. Untuk rekaman utuhnya, nyoooh…).

  1. Anggarkan keuangan

Berdasarkan apa yang diperoleh, rencanakan pengeluaran secermat mungkin. Akan lebih tenang rasanya, saat kita tahu benar ke mana uang kita dibelanjakan. Sehingga tidak mendadak panik, ketika uang kita mendadak (seolah-olah) menghilang entah ke mana.

  1. Hindari berutang

Dalam konteks ini, lebih kepada utang yang konsumtif, pengeluaran yang tidak akan kembali, dan habis begitu saja setelah dikonsumsi. Sebab, mau dinamakan dengan apa pun juga, berutang pada hakikatnya berarti kita tidak punya uang. Padahal sejak kecil kita sudah diajari bahwa “kalau mau beli, harus punya uang dulu.

Namun, bagaimana apabila ada pengeluaran besar yang mendesak? Kembali ke poin nomor 1, sebisa mungkin merencanakan yang bisa direncanakan, seleluasa yang mampu dilakukan. Toh, namanya juga kebutuhan yang mendesak, semestinya punya kadar penting yang lebih tinggi dibanding belanja biasa.

  1. Cermat bergaul

Lingkungan pergaulan memengaruhi gaya hidup. Setiap orang pun memiliki standar batas belanja yang berbeda-beda; tergantung tingkat penghasilan, latar belakang, serta beberapa aspek lainnya. Poin ini bukan dalam konteks memilih untuk lebih dekat dan/atau menjauhi sekelompok orang, melainkan bersikap lebih cermat. Kembali lagi ke poin pertama, penganggaran yang tepat memampukan kita untuk punya ruang finansial lebih luang sampai ambang tertentu.

Meminjam istilah lain, pansos sesuai kemampuan.

  1. Simpan dan kembangkan

Badai bisa saja datang sewaktu-waktu. Bikin kacau dan menambah beban. Dengan berusaha menyimpan sedikit demi sedikit secara berkala, akan ada sumber daya tambahan yang bisa dipergunakan. Syukur-syukur jika uang yang disimpan juga dapat dikembangkan, baik dalam bentuk investasi maupun usaha yang menghasilkan. Sumber daya yang terlipatgandakan.

Lagi-lagi, penganggaran adalah kunci dasarnya.

  1. Murah hati

Hmm… sebagai seseorang yang tidak religius-religius amat, agak susah untuk tidak mengaitkan poin ini dengan konsep memberi sebagai sebuah perbuatan baik. Sebut saja sedekah, derma, donasi, pokoknya sesuatu yang diberikan kepada orang lain untuk membantunya, meringankan bebannya, menjadi orang baik, atau sekadar menjalankan perintah agama. Berhubung disampaikan di gereja, konteksnya bisa juga mengacu pada perpuluhan dan persembahan kasih; dapat dianggarkan sedari awal.

Di sisi lain, praktik memberi bisa juga menjadi semacam tindakan atau sikap yang menunjukkan bahwa kita memiliki keleluasaan, atau lebih beruntung dibanding orang lain (yang dalam buku “The God Delusion”, Richard Dawkins sebut juga sebagai tanda superioritas), maupun ekspresi rasa syukur atas apa yang dimiliki. Dalam istilah lain … merasa lebih kaya.

Kendati terdengar dan terkesan sangat sederhana, kelima poin di atas (disebut) termaktub dalam Alkitab. Menjadi semacam kiat-kiat dasar pengelolaan keuangan, yang mungkin saja telah bertahan dan terus diturunkan jauh sebelum Alkitab disusun (langsung teringat sebuah buku berjudul: “The Richest Man in Babylon”).

Seperti yang telah disinggung beberapa kali di atas, kelima poin pengelolaan keuangan tadi terpusat pada penganggaran. Namun, nilai pengeluaran cenderung bersifat tetap, sedangkan penghasilan bisa fluktuatif. Dalam celetukan pasarnya: “Apa yang mau dianggarkan, kalau duitnya enggak ada?” Oleh karena itu, makin banyak penghasilan yang diperoleh, makin leluasa seseorang mengatur keuangannya. Serendah-rendahnya pengeluaran bagi seseorang, adalah pengeluaran untuk kebutuhan pangan, sandang, dan papan.

Namun, bukan bagian itu yang ingin saya obrolkan kali ini. Setelah menyimak khotbah Dave yang lebih berupa gospel kemakmuran, saya langsung teringat Dighajanu Sutta, yang pada intinya adalah wejangan Buddha tentang upaya memperoleh dan mempertahankan kesejahteraan–kekayaan, kemakmuran–bagi perumah tangga.

Anyway, mengapa hanya berupa wejangan, ya, karena Buddha sendiri adalah seorang petapa; bisa mencapai kebuddhaan dengan menjalani hidup terlepas dari keduniawian. Termasuk melepaskan diri dari harta benda serta kepemilikan. (Makanya, agak aneh, menurut saya, kalau ada pasangan suami istri baru atau lama, datang kepada bhikkhu atau biksu meminta nasihat kelanggengan pernikahan. Lah wong dia selibat, kok.)

Oke, balik lagi ke Dighajanu Sutta (khotbah kepada Dighajanu). Ringkasnya begini, Buddha menyampaikan ada empat hal yang dapat membawa kekayaan dan kebahagiaan bagi para perumah tangga, yakni:

  1. Memiliki ketekunan (versi terjemahan lain: Kesempurnaan Inisiatif),
  2. Memiliki keseksamaan (versi terjemahan lain: Kesempurnaan Perlindungan/Penjagaan),
  3. Pertemanan yang baik, dan
  4. Kehidupan yang seimbang.

Berikut kutipan langsung penjelasan Buddha atas masing-masing poin dalam sutta tersebut.

(1) Apakah yang dimaksud dengan memiliki ketekunan (utthana-sampada)?

“Dalam hal ini, Vyagghapajja (alias Dighajanu), apa pun yang dilakukan oleh gharavasa (perumah tangga) untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, baik sebagai petani, pedagang, peternak, pemanah, pejabat pemerintahan atau dengan keahlian lainnya, dia harus ahli dan tidak malas. Dia memiliki keterampilan tentang cara yang benar; dia mampu melakukan dan memberikan tugas. Inilah yang dimaksud dengan memiliki ketekunan.”

(2) Apakah yang dimaksudkan dengan memiliki keseksamaan (arakkha-sampada)?

“Dalam hal ini, Vyagghapajja, kekayaan apa pun yang dimiliki gharavasa, yang dimiliki berkat kerja keras, dengan jerih payah sendiri, dengan cucuran keringat, yang diperoleh dengan cara yang sesuai Dhamma, ia berhemat dengan melindungi dan menjaga kekayaannya sehingga raja tidak menyitanya, pencuri tidak mencurinya , tidak terbakar dan tidak hanyut oleh air atau tidak juga diambil oleh pewaris-pewaris yang bersikap tidak baik. Inilah yang dimaksudkan dengan memiliki keseksamaan.”

(3) Apakah yang dimaksud dengan pertemanan yang baik (kalyana-mittata)?

“Dalam hal ini, Vyagghapajja, di desa atau di kota mana pun gharavasa tinggal dia bergaul, berbicara, berbincang-bincang dengan gharavasa atau anak dari gharavasa, baik yang muda dan sangat terpelajar maupun yang tua dan sangat terpelajar; memiliki keyakinan (saddha), kesusilaan (sila), kedermawanan (caga) dan kebijaksanaan (pañña).

Dia berbuat sesuai dengan keyakinan orang yang memiliki keyakinan, sesuai dengan kesusilaan orang yang memiliki kesusilaan, sesuai dengan kedermawanan orang yang memiliki kedermawanan, sesuai dengan kebijaksanaan orang yang memiliki kebijaksanaan. Inilah yang dimaksudkan dengan memiliki pertemanan yang baik.”

(4) Apakah yang dimaksud dengan kehidupan yang seimbang (samma-jivikata)?

“Dalam hal ini, Vyagghapajja, seorang gharavasa yang mengetahui penghasilan dan pengeluarannya akan mengatur hidupnya seimbang, tidak boros maupun tidak pelit. Dengan pengetahuan itu, ia akan membuat pemasukannya menjadi lebih besar dari pengeluarannya, bukannya pengeluarannya lebih besar dari pemasukkannya.

Seumpama pedagang emas atau muridnya mengetahui cara mempergunakan timbangan emas, dengan naiknya lengan timbangan sekian akan turun lengan lainnya sekian. Demikianlah gharavasa yang mengetahui pemasukan dan pengeluarannya akan hidup seimbang, tidak boros dan juga tidak pelit. Dengan pengetahuannya itu, ia akan membuat penghasilannya menjadi lebih banyak dari pengeluarannya, bukan pengeluarannya lebih banyak dari penghasilannya.”

Setelah bagian ini, Buddha melanjutkan dengan gambaran kondisi seseorang yang berpenghasilan kecil tetapi boros, dan sebaliknya, seseorang yang berpenghasilan besar tetapi menjalani hidup susah sekali (karena pelit). Kemudian menyampaikan empat hal yang bisa melenyapkan penghasilan yang telah dikumpulkan.

  1. Pesta pora yang berlebihan,
  2. Mabuk-mabukan,
  3. Perjudian, dan
  4. Persahabatan atau pergaulan dengan orang yang jahat.

(Isi Dighajanu Sutta masih berlanjut dari sini. Berikut teks lengkapnya dalam bahasa Inggris dari versi terjemahan Bhikkhu Thanissaro)

Silakan dicermati. Menariknya, dari ketiga bagian besar di atas, ada satu benang merah yang ditegaskan secara universal, bukan bertemanlah dengan orang kaya, melainkan:

JANGAN SAMPAI MISKIN GARA-GARA PERGAULAN.

[]

N.b.: Saking universalnya, bahkan mungkin tidak perlu menjadi seorang Kristen atau Buddhis, untuk sepakat bahwa menjaga pergaulan menjaga kekayaan. Ya, enggak?

Menghayati Makanan

PAṬI’SANGKHA yoniso bhojanang paṭi’sewami,

Newa dawaya na madaya na maṇḍanaya na wibhusanaya,

Yawadewa imassa kayassa ṭhitiya yapanaya wihingsuparatiya brahma-cariyanuggahaya,

Iti puraṇanca wedanang paṭihangkhami nawanca wedanang na uppadessami,

Yatra ca me bhawissati a’nawajjata ca phasu-wiharo cati.

Yang baru saja kamu baca tadi, populer dianggap sebagai “doa sebelum makan” dalam tradisi Buddhisme–khususnya mazhab Theravada–dengan sedikit penyesuaian penulisan agar lebih gampang dibaca.

Tenang aja… kamu enggak otomatis convert menjadi seorang Buddhis setelah membacanya, kok. Sebab, meskipun tercantum dalam salah satu bagian kitab suci Tipitaka (MN 39), makna syair demi syairnya tidak eksklusif menggambarkan atau mengacu pada ajaran Buddha saja.

Itu juga alasannya mengapa saya sebut “doa sebelum makan”; pakai tanda petik. Karena alih-alih berisi pujian atau ucapan terima kasih, “doa sebelum makan” ala Buddhisme ini lebih berupa perenungan, dan tidak ada peraturan yang mengharuskannya dibaca setiap kali sebelum menyantap makanan.

Supaya makin jelas, kurang lebih berikut artinya.

Secara cermat dan berhati-hati, saya menggunakan makanan ini,

Bukan untuk kesenangan; bukan untuk merasakan mabuk; bukan untuk menggemukkan badan; bukan pula untuk keindahan,

Tetapi hanya untuk mempertahankan kelangsungan (kerja) tubuh ini, menghentikan rasa tidak nyaman (akibat lapar), dan mendukung kehidupan luhur (yang tengah dijalani),

Demikianlah saya akan menghilangkan perasaan yang lama (lapar), dan tidak menimbulkan perasaan yang baru (dari makan yang berlebihan),

Dengan ini saya akan mempertahankan diri ini, menjauhi kesalahan-kesalahan, dan berdiam (hidup) dalam ketenteraman.

Poin-poin inilah yang–seyogianya–dihayati setiap kali ada hidangan tersaji di hadapan kami–umat Buddhis. Melihat makanan secara hakiki dan apa adanya; berupaya melepaskan diri dari kemelekatan terhadap rupa, aroma, dan rasa; serta tetap mampu berterima kasih atas bahan penunjang kehidupan yang diberikan/dibuatkan/dibeli, sehingga bisa dikonsumsi sebaik-baiknya dan tidak menyebabkan kemubaziran.

Pada dasarnya, perenungan ini dilakoni oleh para bhikkhu maupun samanera (calon bhikkhu) dalam keseharian. Alasannya, sebagai petapa selibat mereka telah melepaskan diri dari kehidupan duniawi, termasuk keleluasaan memilih/memasak/membeli makanan sendiri. Mereka hanya makan sekali atau dua kali setiap hari (konsepnya mirip intermittent fasting) dan merupakan donasi dari umat penyokong. Diberi, bukan meminta. Seperti yang kerap terlihat di negara-negara Indocina, ketika setiap pagi sebarisan bhikkhu membawa mangkuk masing-masing, menerima persembahan makanan dari umat.

Begitu pun bagi umat biasa, perenungan ini juga bertujuan untuk menyadarkan diri akan hakikat makanan. Selama makanan tersebut layak, dibuat secara baik, serta tetap mengandung nutrisi, makanan itu tetap bisa berfungsi sebagai pemberi asupan bagi tubuh dan menunjang proses berpikir. Tak ada sedikit pun ruang batin yang pantas diberikan untuk sifat kemaruk, rakus, tamak, banyak mau, susah dilayani, tidak perhitungan, dikendalikan oleh emosi yang mudah berantakan hanya gara-gara hal sepele, angkuh, dan sebagainya.

Saat kepingin makan sesuatu, mood tidak uring-uringan begitu mendapati restorannya tahu-tahu tutup. Tidak melekat; hanya mau makan makanan mahal dan mewah. Tidak gegabah; mengambil atau menumpuk makanan kesukaan sebanyak-banyaknya untuk kemudian tidak dihabiskan, atau malah menjadi begah.

Di sisi lain, sebagai umat biasa kita memang relatif sukar menghindari niatan makan untuk mendapatkan keindahan fisik. Bagi yang ingin bulking dan membangun massa otot, makan dalam jumlah banyak dan lebih sering dari biasanya. Sementara yang ingin langsing mengurangi porsi dan intensitas makan, menolak bahan-bahan makanan tertentu, atau justru disulitkan/menyulitkan oleh orang lain perihal makanan.

Image result for food for bulking"
Foto: YouTube

Keadaan-keadaan itu mustahil dihilangkan sepenuhnya, tetapi tetap bisa dibarengi dengan perenungan tentang makanan. Sekali lagi, setidaknya kita bisa berusaha agar tidak melekat. Melatih diri menghindari sikap yang bisa membuat kita marah-marah kepada orang lain hanya karena makanan, atau membuat hidup kita sepanjang hari terasa kacau berantakan hanya karena makanan.

Demikianlah. Dibawa santai saja.

Menghayati makanan sebagaimana adanya.

[]

Perenungan terhadap makanan di atas tertulis sesuai pelafalan penutur bahasa Indonesia. Dalam bentuk transliterasi latin aslinya, tertulis seperti berikut:
Paṭisaṅkhā yoniso bhojanaṃ paṭisevāmi,
Neva davāya na madāya na maṇḍanāya na vibhūsanāya,
Yāvadeva imassa kāyassa ṭhitiyā yāpanāya vihiṃsuparatiyā brahma-cariyānuggahāya,
Iti purāṇañca vedanaṃ paṭihaṅkhāmi navañca vedanaṃ na uppādessāmi,
Yātrā ca me bhavissati anavajjatā ca phāsu-vihāro cāti.

Keberuntungan Itu Bernama “Rasa Cukup”

KEBERUNTUNGAN. Keberhasilan. Umur panjang. Orang Tionghoa pada umumnya mengenal tiga serangkai ini sebagai “fu, lu, shou” (福祿壽); keadaan yang selalu didambakan–dan dikejar–dalam hidup.

Simbol “fu”, “lu”, “shou”.
Gambar: ucxinwen.com
Image result for fu lu shou
Foto: Wikimedia

Simbol dan ornamennya tersebar di mana-mana. Mulai tulisan/aksara Tionghoa dengan berbagai gaya, hingga lukisan maupun patung tiga sosok dewa yang dianggap identik dengan ketiganya. Termasuk yang jadi logo Amer Cap Orang Tua, dan yang juga ada di kotak bungkus misoa, makanan khas di setiap perayaan ulang tahun ala Tionghoa.

Related image
Gambar: stickpng.blogspot.com

“Fu” selalu disebut di urutan pertama, lantaran dianggap paling penting dibanding dua yang lainnya. Itu ibarat kata, jika seseorang harus memilih hanya satu dari ketiganya.

Mengapa? Sebab keberuntungan akan selalu memberikan kebahagiaan yang paling signifikan. Terjadi di saat yang tepat, dengan dampak yang tepat, serta tidak menyisakan potensi masalah baru kemudian. Karena itu pula, keberuntungan menjadi hal yang paling sulit ditemukan, diraih, dan dipertahankan. Keberuntungan itu misterius, muncul dan hilang tanpa bisa ditahan atau dikendalikan.

Berikut perbandingannya lebih lanjut.

“Lu” diartikan sebagai keberhasilan dalam konteks pencapaian sosial dan ekonomi. Berhasil mencapai sesuatu, seperti status; kedudukan bisnis; jenjang karier yang terus meningkat; termasuk kenaikan gaji serta keuntungan finansial yang mengiringinya. Demi mencapai “lu”, seseorang mesti berusaha keras, dan cerdas. Akan lebih baik lagi apabila didukung dengan adanya bakat serta keahlian. Namun, semua itu baru akan menjadi kombinasi yang pas dan meluncur tanpa halangan dalam situasi atau momen yang tepat. Di situlah muncul “fu”, keberuntungan.

Sesuai artinya, “shou” menunjukkan kehidupan yang lestari. Seseorang bisa hidup lebih lama, dan dijauhkan dari kematian yang menakutkan. Namun, usia yang panjang justru bisa menjadi siksaan apabila dipenuhi kekurangan dan kemalangan.

Berusia panjang, tetapi selalu sakit-sakitan, misalnya. Kehidupan pun menjadi terganggu, dan merasa merepotkan atau membebani orang lain. Membuat berpikir bahwa kematian mungkin bisa menjadi solusi terbaik atas keadaan ini.

Berusia panjang, tetapi selalu kekurangan. Selalu merasakan hidup yang sengsara, jarang bahagia.

Termasuk yang satu ini, berusia panjang, tetapi ditinggalkan dan kesepian. Hidup dengan penuh siksaan batin.

Lagi-lagi dengan keberuntungan, usia panjang menjadi berkah yang membahagiakan. Bisa menjalani sisa usia dengan kesehatan dan kebugaran; berada dalam kondisi berkecukupan; maupun merasa terkasihi atau dicintai banyak orang. Sampai pada akhirnya bisa berpisah dengan kehidupan secara baik-baik; mengalami kematian yang tidak menyakitkan atau pun merepotkan.

Demikianlah keberuntungan.

Lalu, bagaimanakah caranya mengejar keberuntungan?

Ada yang berpandangan bahwa keberuntungan bisa dikondisikan lewat kemakmuran. Selama masih memiliki harta, maka masih berkesempatan untuk mengupayakan hal-hal baik yang mendukung keberhasilan maupun umur panjang.

Terhadap “lu”, harta dapat digunakan untuk melanggengkan keberhasilan; mempertahankan dan makin meningkatkan pencapaian. Harta juga bisa digunakan untuk menjaga kedudukan dan status sosial ekonomi di mata masyarakat. Jaminan supaya tetap menjadi orang terpandang.

Mengenai “shou”, harta dapat dimanfaatkan untuk menjaga dan menyembuhkan dari gangguan kesehatan. Kendati masih berupa upaya; entah berhasil atau tidak.

Harta juga dapat menghidupkan suasana, membuat situasi yang sepi menjadi ramai, menghimpun banyak orang. Entah apakah mereka benar-benar peduli dengan si pemilik harta, atau sekadar aji mumpung menjadi benalu.

Pandangan tentang kemakmuran tadi mendorong banyak orang bersusah payah, pontang-panting mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Beberapa di antaranya malah tidak lagi peduli dengan sekitar dan menghalalkan segala cara. Pada akhirnya, apa yang mereka anggap mampu membuat bahagia, justru menyeret mereka ke realitas sebaliknya. Sisa hidup pun dipenuhi kekhawatiran dan ketakutan berlebihan, ketidakwarasan, penyakit, serta ketidakberdayaan menghadapi kenyataan.

Dari sudut pandang “fu”, tidak ada yang salah dengan dorongan untuk mencari dan mengumpulkan harta. Hanya saja, titik akhirnya tidak terletak pada keberlimpahan, melainkan ketercukupan. Prinsip ini pun menjalar ke pertanyaan berikutnya, “Seberapa cukup?

Semua orang tentu punya jawabannya masing-masing, dan secara pribadi, saya yakin bahwa (1) rasa cukup bisa membahagiakan, dan (2) kebahagiaan itu bisa mencukupi.

Sungguhlah beruntung bila mampu merasa sungguh-sungguh cukup.

Saya ingin tutup tulisan hari ini dengan satu pertanyaan perbandingan. Mana yang lebih memberikan rasa bahagia; meminum segelas air putih saat sedang haus-hausnya di siang hari yang panas, atau meminum segelas air putih untuk membantu menelan makanan?

[]

Bersiap dan Menyesuaikan Diri

SAAT menulis ini, saya sebenarnya masih lumayan ketar-ketir. Beberapa kali menengok ke luar jendela, berharap agar langit mendung di atas sana tidak mendadak tumpah, menjadi hujan deras. Soalnya, banyak orang masih bertahan di pengungsian, dan beberapa yang lain baru mulai bersih-bersih setelah banjir berangsur surut menyisakan lumpur serta perabotan basah. Selain itu, ya … tentu saja karena saya bakal kesulitan lagi. Sulit bepergian, sulit mencari makan, sulit ini, sulit itu. 

Tempat tinggal saya sendiri saat ini, syukurnya, tidak tergenang–meskipun terkepung–banjir. Ketika harus susah payah berjalan kaki sejauh 6 km dan menerobos banjir setinggi hampir 1 meter untuk pulang pada 2 Januari malam lalu, saya setidaknya tetap bisa dalam situasi kering, mendapatkan penerangan, bisa mendapatkan air bersih, dan peralatan elektronik tidak sampai rusak.

Privilese? Tentu saja. Namun, bukan itu yang mau diobrolin hari ini. Saya malah kepingin meneruskan obrolan Mas Nauval dalam tulisannya pekan lalu; selalu berharap yang terbaik, dan selalu bersiap untuk kemungkinan paling buruk sekalipun. 

Tanpa menafikan tentang krisis iklim yang turut diteriakkan gara-gara banjir di awal 2020 ini, setiap hal selalu terdiri atas tiga fase: sebelum, saat, dan sesudah.

Perkara kesadaran atas krisis iklim; pembuatan sumur resapan; kedisiplinan membuang sampah dengan baik atau bahkan penerapan gaya hidup minim sampah plastik; hingga upaya mengamankan langkah-langkah politik agar tidak menghambat hal-hal yang telah disebut sebelumnya, merupakan perkara sebelum dan sesudah peristiwa. Simpan sajalah dahulu sampai semuanya menuju pulih, saat rasa lelah dan letih yang tersisa masih relevan untuk bicara pencegahan. 

Begitu peristiwa mulai terjadi, seperti yang dikatakan Mas Nauval di atas: Hope for the best, prepare for the worst. Kenapa prepare for the worst-nya tidak dipikirkan sedari awal, di fase “sebelum”? Karena kondisi worst dalam konteks antisipasi atau pencegahan selalu tidak gawat darurat. Belum terasa pentingnya sebelum mulai terjadi. Saat peristiwa terjadi, situasi worst barulah berdampak pada survival, urusan selamat dan tidak selamat, serta paling mungkin bikin orang panik, mendadak sukar berpikir cermat.

Dari berharap yang terbaik dan bersiap untuk yang terburuk, ingin saya lanjutkan dengan kesiapan menghadapi krisis dan fleksibilitas menyesuaikan diri terhadap keadaan. Bersiap untuk yang terburuk, termasuk mempersiapkan segala hal yang bisa dijangkau dalam menghadapi krisis. Beruntungnya, banyak ringkasan dan petunjuk singkat terkait ini.

https://i1.wp.com/www.pantau.com/uploads/news/content/1577926723-29816268.png?w=1540&ssl=1
Infografik: Pantau.com

Bagi yang berpengalaman, atau pernah mengalami, kemungkinan besar sudah tahu harus mempersiapkan apa dan bagaimana caranya bersiaga. Sementara bagi yang baru pertama kali mengalaminya–mudah-mudahan musibah banjir sudah tuntas sepenuhnya hari ini–setidaknya bisa belajar dari pengalaman di awal tahun. Dari yang tidak tahu, menjadi tahu. Dari yang abai, menjadi lebih peduli.

Sedikit cerita mengenai ini, saya cukup bersyukur lahir dan besar di Samarinda. Sedari kecil, sudah relatif terbiasa dengan curah hujan yang tinggi dan konstan sepanjang tahun, berenang dan akrab dengan arus Sungai Mahakam. Kemudian, terpapar dengan bahaya maut saat banjir untuk pertama kalinya saat duduk di bangku SMP (terjatuh dalam lubang gorong-gorong yang dalam dan berarus deras). 

Berlanjut ketika bekerja sebagai jurnalis sekaligus pewarta foto di surat kabar lokal Samarinda. Musim hujan dan banjir parah setidaknya berlangsung sekali dalam setahun. Entah sambil berjalan kaki atau menumpang perahu karet lembaga-lembaga penyalur bantuan, pemerintah maupun organisasi sosial, blusukan ke kawasan pemukiman yang rendah dengan ketinggian banjir sampai lebih dari 130 cm. Banjir yang terjadi agak dimaklumi kala itu, sebab Samarinda dikepung lokasi-lokasi tambang batu bara berbagai skala. Belum lagi Bendungan Benanga di Samarinda Utara yang tak mampu menahan debit air dari utara kota.

“Sambil menunggu banjir surut.”
Salah satu foto banjir Samarinda, Mei 2008.

Peristiwa banjir Jakarta yang akhirnya turut saya alami pada tanggal 2 dan 3 Januari kemarin pun, ya … kurang lebih semodel dengan yang pernah saya alami beberapa tahun sebelumnya di Samarinda. Berbekal pengalaman tersebut, saya berusaha berhati-hati. Misalnya: 

  • Memilih jalur arah pulang yang sudah diakrabi, agar bila berjalan dalam banjir dan gelap sekalipun, tetap bisa terhindar dari lubang tergenang dan potensi bahaya lainnya. 
  • Sebisa mungkin tidak melepas alas kaki saat menerjang banjir. Biarlah sneakers saya rusak karena dipakai berjalan dalam banjir, daripada telapak kaki saya robek kena pecahan kaca. Kendati di beberapa titik, ada saja orang yang bilang kepada saya untuk melepas sepatu supaya bisa berjalan lebih cepat. 
  • Apabila tidak mau/tidak memungkinkan untuk pulang, bersiap untuk menumpang/menginap/mengungsi. Jangan rempong. Situasi darurat, bukan staycation. Kecuali banyak duit dan buka kamar di hotel. Terserah you.

Hal-hal di atas ada kaitannya pula dengan fleksibilitas menyesuaikan diri terhadap keadaan. Banjir melanda semua orang; semua orang menjadi korban. Kita penting, orang lain pun penting. Jika kondisi memaksa untuk berjalan kaki menuju akses kering, ya, berjalanlah. Santai saja. Keluhan dan gerutu tidak akan bikin banjirnya surut. Kecuali kalau kamu punya kemampuan seperti Nabi Musa; membelah air.

Masih bisa bekerja, ya, bekerjalah. Namanya juga musibah, bos di kantor pun bisa memaklumi. Kalau tidak bisa memaklumi, coba saja dilihat sejauh apa dampaknya. Unpaid leave? Harus memotong uang makan, atau mengurangi jatah cuti? First things first. Akan tetapi, yang satu ini lagi-lagi ada urusannya dengan privilese. Fokus sajalah pada hal yang lebih penting dan gawat darurat. 

Jikalau status sosial dan ekonomi belum memampukan kita untuk sefleksibel itu, setidaknya mindset kita sudah mengarah ke situ. Biar enggak nambah-nambahin otak sumpek. Setelah semua reda, baru deh berjuang menyuarakan kesadaran akan lingkungan dan krisis iklim. 

Enggak gampang, memang, tetapi, namanya juga berharap yang terbaik, bersiap untuk yang terburuk, siap menghadapi krisis, dan fleksibel menyesuaikan diri terhadap keadaan. Toh, lebih mudah dibaca (dan dipahami) saat tidak sedang kebanjiran, kan? Padahal, sikap ini pun bisa diterapkan pada hampir segala hal. Musibah dan bencana alam, maupun musibah dan bencana hati serta pikiran.

[]

Btw, tetap siaga dan berjaga-jaga. Cuaca ekstrem berupa hujan deras dan kroni-kroninya berpotensi terjadi antara tanggal 11 sampai 15 Januari mendatang.

Memulai dengan Mendengar

SELAMAT menjalani tahun baru, dengan cara kita masing-masing.

Seperti lazimnya. Ada yang memasuki tahun baru dengan segudang proyeksi dan rencana yang siap dijalankan. Aspirasi atau resolusi hidup yang baru, cita-cita atau tujuan yang baru, karier atau lingkungan pekerjaan yang baru, sekolah atau kampus yang baru, rumah dan lingkungan tempat tinggal yang baru, kehadiran seseorang di dalam hidup, maupun niat atau tekad penting yang baru dalam hidup.

Ada juga yang mulai memasuki tahun baru laksana tangkai-tangkai biji bunga Randa Tapak; luwes melayang mengikuti arah angin, hingga akhirnya bertahan di satu tempat, dan apabila ideal, akan mulai bertumbuh dan berkembang seiring berjalannya waktu. Ringan, tanpa perkiraan yang berlebihan, apalagi keinginan-keinginan.

Image result for dandelion animated gif
Randa Tapak

Ada yang memasuki tahun baru dengan “penambahan”, ada pula yang “kehilangan”. Saya sendiri, hari ini masih dalam suasana berduka setelah ditinggal tante yang berpulang tepat tanggal 25 Desember kemarin. Sementara bagi para sepupu dan keponakan‒anak dan cucu mendiang, mereka akan mulai menjalani tahun baru dengan pergi ke perairan Situbondo untuk melarung abu jenazah. Besok.

Kita semua punya cerita masing-masing dalam memasuki tahun yang baru ini. Namun, pada dasarnya, apa yang akan kita hadapi bersama nanti sepenuhnya merupakan misteri. Tak seorang pun yang benar-benar tahu apa yang akan diperoleh, dialami, dirasakan, atau dilepaskan. Segala yang telah terjadi di tahun kemarin, bahkan sampai di detik terakhir 31 Desember 2019, sudah berlalu. Sekeras apa pun rasanya; semenyangkan atau setidakmenyenangkan apa pun rasanya; sebesar atau sekecil apa pun rasanya; berhasil tercapai atau tidak, semua hal itu sudah berlalu. Hanya menyisakan ingatan, dan pengalaman.

Mau kamu apakan pengalaman-pengalaman tersebut, itu menjadi hak prerogatifmu seutuhnya. Akan tetapi, entah mau kamu bagaimanakan ingatan-ingatan tersebut, semua itu akan tetap menjadi kenangan. Ingatan yang di setiap kemunculannya akan selalu memberikan sensasi rasa, dan hanya itu saja. Tak lebih.

Satu hal lainnya, kita semua sama-sama memasuki tahun baru ini sebagai individu yang telah berbeda, berubah dari sebelumnya. Entah seperti apa perubahan itu; menjadi lebih baik atau tidak (menurut standar sosial yang diterima umum, atau mungkin menurut penilaian kita sendiri). Harapan, kekhawatiran, kerisauan dan kegelisahan, semangat, ketakutan, keragu-raguan, kegembiraan, kekecewaan, apatisme, serta beraneka perasaan manusiawi lainnya mustahil lenyap. Pasti akan ada, dan oleh karenanya, coba diamati saja. Kita belum tentu sekuat hati itu, atau sebijaksana itu untuk bisa menepis perasaan-perasaan tersebut.

Setidaknya, yang bisa kita lakukan, barangkali adalah memulai dengan mendengar. Mendengar diri kita sendiri; mendengar isi hati kita sendiri.

Apakah yang sebenarnya aku inginkan?
Ini kah yang sebenarnya aku inginkan?

Apa yang kurasakan?

Tahun lalu kita mungkin terlalu sering mengabaikan diri sendiri, tidak mengacuhkan pemikiran, pertimbangan, dan suara hati. Tahun ini, dengan cara ini, kita mungkin bisa memulai berdamai dengan diri sendiri. Berhenti bertikai dengan diri sendiri.


Ya sudah… tak usah terlampau serius bacanya. Semalam kan habis begadang bersama teman-teman. Recovery tenaga dulu saja, toh, besok kan sudah kembali masuk kantor dan bekerja.

Selamat menjalani tahun baru. Selamat di permulaan, selamat di pertengahan, dan selamat di penutupan.

[]

Kebencian

PERNAH suatu ketika selepas sesi ceramah diskusi di satu vihara di utara Jakarta, saya dihampiri salah seorang umat peserta. Siswi SMP, atau barangkali masih awal-awal SMA, yang rupanya punya beberapa pertanyaan, tetapi terlampau malu untuk menyampaikannya saat sesi berlangsung.

Ko, kalau ada seseorang yang jahat banget sama kita, padahal kita sudah berusaha ngomong baik-baik, tetapi tindakannya semakin tidak menyenangkan, sampai-sampai kita yang tadinya berdoa supaya dia berbahagia biar tidak lagi menyusahkan kehidupan orang lain, doanya berganti menjadi semoga orang tersebut cepat-cepat ‘pergi’, itu kira-kira apakah saya sudah berbuat jahat?

Foto: Abhisek

Mendapatkan pertanyaan yang demikian, jelaslah bahwa kehidupan manusia itu kompleks, rumit, tidak segampang teori-teori yang pernah kita baca. Agak susah untuk tidak menjawabnya secara normatif, atau yang setidaknya masih bisa diterima dari sudut pandang moralitas sosial, yang pada akhirnya hanya kembali berujung pada dualitas kaku benar versus salah.

Kebiasaannya selama ini, tanpa berupaya benar-benar memahami yang terjadi dan menyelidiki lebih jauh, kita langsung mendaratkan tudingan “Kamu salah. Tidak boleh!” Kalaupun bahasanya ingin sedikit diperhalus, paling-paling akan menjadi “Kamu sebaiknya tidak boleh begitu.” Pada intinya, langsung memberikan penilaian akhir. Apalagi bila yang ditanya adalah seseorang yang merasa memiliki reputasi, patut dijadikan tempat bertanya dan meminta solusi.

“Untungnya” saja, pertanyaan tadi ia sampaikan dalam konteks pemahaman Buddhisme, sehingga pandangan dan tanggapan yang saya coba tawarkan relatif lebih mengerucut. Lah wong, saya sendiri masih gampang merasakan kebencian terhadap sesuatu atau seseorang, kok.

Ko, apakah saya sudah melakukan kamma buruk?

Lalu, apa pandanganmu terhadap pertanyaan tersebut?

Bolehkah membenci seseorang yang telah berlaku jahat kepada kita?

Titik pusatnya ada pada emosi atau perasaan. Anugerah sekaligus kutukan bagi manusia, barangkali bisa disebut begitu. Anugerah, lantaran itulah yang mampu memanusiakan manusia; memampukan manusia menjadi manusia; memberikan rasa.

Kutukan, lantaran perasaan pulalah yang seakan-akan menguasai kita. Terutama untuk segala hal yang tidak menyenangkan, memberatkan hati, menyedihkan, mengecewakan, bahkan yang menderitakan. Termasuk kebencian kita terhadap sesuatu atau seseorang, baik karena perlakuannya, karakteristiknya, maupun hal-hal lain.

Dalam hal ini, perasaan dapat membuat hati kita berkembang sedemikian besar, menjadi gembira atau senang setelahnya. Sebaliknya, perasaan juga bisa memberikan siksaan, yang salah satu bentuknya ialah kebencian. Saking bencinya, membuat kita menginginkan‒berharap‒agar objek kebencian kita tersebut lenyap secepatnya.

Sampai pada poin ini, bolehkah kita membenci?

Kita mustahil agaknya untuk bisa mengenyahkan perasaan sepenuhnya. Sekuat-kuatnya kita, paling kuat hanya mampu membendung rasa terhadap perasaan yang muncul. Namun, kita tak akan bisa menjadi makhluk yang tidak punya perasaan, atau kemampuan merasa, sama sekali. Oleh sebab itu, perasaan benci akan tetap bisa muncul dalam kehidupan kita, menjadi sebuah fenomena mental yang alamiah dan wajar.

Akan tetapi, jauh lebih penting bagi kita untuk mengenali dan mengelolanya. Tak hanya perasaan, manusia memiliki akal budi. Tak hanya merasakan kebencian dan dibuat terombang-ambing olehnya, kita juga memiliki kemampuan mengenali dan menyikapi segala hal terkait kebencian tersebut.

  • Mengapa kebencian itu muncul?
  • Apa penyebab munculnya kebencian itu?
  • Apakah penyebab kebencian tersebut benar-benar sesuatu yang negatif dan merugikan kita, ataukah ada penilaian lain?
  • Apakah kebencian yang kita rasakan beralasan, ataukah hanya karena kita tidak suka terhadap keadaan?
  • Adakah cara untuk mengatasi atau menyelesaikan masalah yang menjadi akar penyebab kebencian ini?
  • Apakah langkah yang aku lakukan untuk menghilangkan kebencian tersebut turut merugikan orang lain?
  • Apakah perasaan benci tersebut cukup penting untuk dipedulikan?

Jika ingin membenci, bencilah secukupnya. Setelah itu tinggalkan, dan mulailah urus hal lainnya, yang bisa jadi jauh lebih penting dari rasa benci itu sendiri.

[]

*** Lalu muncul pertanyaan: Seperti apakah “secukupnya” itu?

“Listen to Your Heart”

KALIMAT di atas sejatinya bukan sekadar judul tulisan Linimasa hari ini, melainkan salah satu judul lagu dari duo Roxette yang saya akrabi lewat siaran radio waktu masih SMA.

Kemarin, Mas Nauval ngabarin kalau Marie Fredriksson–vokalisnya–meninggal dunia. Maka, tak banyak cerita untuk hari ini; saya ingin mendedikasikan halaman ini untuk mengenang Roxette, lewat beberapa judul lagunya yang telah menempel di ingatan setelah selama ini. Yang minimal selalu terngiang nada dan syair reff-nya.

Dimulai dengan … “Listen to Your Heart”

“Spending My Time”

“Wish I Could Fly”

“Milk and Toast and Honey”

Dan … “It Must’ve Been Love”

Abadi dalam karya, selamat jalan…

[]

Manakala Enggan Memulai Kembali (gpp, kok…)

SALING berkenalan; mulai dekat; menjalin hubungan; larut dalam kemesraan; menghadapi perselisihan; bersepakat untuk berdamai dan saling memaafkan, atau justru memilih untuk mengakhiri kebersamaan dan saling berpisah–atau dalam banyak kasus, salah satunya menyerah, lalu pergi meninggalkan. Yang awalnya sendirian, menjadi berdua, kemudian kembali bersendirian.

Sekilas, siklus di atas tampak sederhana. Namun aku, kita, sudah sama-sama tahu bahwa itu tidak sesepele kelihatannya. Jika urusannya hanya soal mencurahkan waktu dan tenaga, tentu tak seberat atau sepenting itu untuk dijadikan persoalan. Melainkan soal mencurahkan perhatian, menjaga perasaan, serta berupaya memegang teguh kepercayaan dan komitmen terhadap seseorang. Itu yang susah, melelahkan, dan menguras isi hati maupun kepala.

Makanya, kita tetap harus bisa menghormati dan menghargai segala keputusan orang-orang yang tengah patah hati. Barangkali teramat mudah bagi kita untuk menyoraki seseorang agar segera move on, beranjak dari situasi emosionalnya saat ini, padahal bukannya mereka tidak mau move on, tetapi masih menyimpan keraguan (terhadap diri sendiri); trauma dan ketakutan (untuk mempercayai orang lain, apalagi yang datang dengan segala sikap baik dan manis); atau pun keengganan (dari kembali berdekatan dengan orang lain). Biarkanlah mereka mengambil dan menghabiskan waktu seberapa pun lamanya yang mereka butuhkan, agar benar-benar pulih; benar-benar utuh hatinya; benar-benar kuat kepribadiannya.

Setelah itu, barulah persilakan mereka untuk mencoba kembali lewat apa saja. Biarkan mereka memilih ingin menggunakan apa untuk mulai terhubung dengan orang-orang baru, orang-orang yang berbeda. Entah apakah nantinya menjadi mula dari bab utama sebuah cerita, ataukah menjadi sekadar catatan-catatan tambahan di kaki halaman. Entah apakah mereka memang ingin mencari pasangan, ataukah menjadi sekadar penjajakan yang tak usah diteruskan.

Biarkan mereka terpapar dengan semua pilihan, dan biarkan mereka memilih sendiri. Lagipula, kita sendiri pun tahu rasanya, kan?

Lain halnya apabila mereka terkesan “buta”, tidak tahu harus bagaimana; memulai dari mana, dengan cara apa. Itulah saatnya untuk menunjukkan berbagai pilihan yang ada. Yang mereka perlu lakukan ialah mempersiapkan diri dan mulai terbuka dengan segala kemungkinan.

Dating Platform

Mendaftarkan diri, sama artinya bersedia untuk ter/diekspose. Langkah ini memungkinkan seseorang untuk bertemu dengan seseorang lainnya yang–mungkin–memiliki tujuan serupa. Di sisi lain, seseorang yang mendaftarkan diri pada dating apps berarti siap mencari pasangan, apa pun batasannya. Banyak orang berhasil menemukan jodohnya (baca: pasangan resmi hingga pernikahan) lewat sejumlah dating apps, hanya saja tak sedikit pula yang menjadikan platform ini sebagai wadah menemukan partner kencan semalam-dua malam saja.

Yang pasti, dating apps hanyalah pintu gerbang perkenalan. Itu pun secara daring saja. Tetap diperlukan serangkaian percakapan, kemudian berlanjut pada pertemuan tatap muka, barulah bisa berujung ke sejumlah peluang. Tidak cocok? Selama masih di level online, tinggal unmatch saja. Sebab setiap orang belum tentu sepenting itu untuk dikejar atau diperebutkan. Semuanya masih tampil di balik persona, profile picture. Kamu tak akan pernah menyangka bakal bertemu siapa di sana.

Sesederhana itu.

Saling Memperkenalkan/Diperkenalkan

Inilah salah satu manfaatnya memiliki lingkar pertemanan atau pergaulan yang luas. Seseorang memperkenalkan temannya/diperkenalkan kepada temannya yang lain. Umumnya dalam sebuah kegiatan bersama, atau acara. Serius, atau santai.

Ketertarikan awal bisa memantik seketika lewat tampilan fisik, pembawaan, maupun cara berbicara. “Orangnya asyik juga, nih.” Lagi-lagi tentu diperlukan pendalaman tujuan. Apakah pihak sana juga punya niat barang setitik pun untuk menjalin sebuah hubungan serius, ataukah buat main-main saja.

Ajang Cari Jodoh

Namanya juga usaha, apa saja bisa dilakukan selama tidak melanggar norma atau merugikan. Ajang cari jodoh, misalnya seperti foto di bawah ini, tak ubahnya dating platform yang analog. Orang-orang yang datang dan menghadirinya, setidaknya punya satu tujuan senada: Ingin mencari seseorang. Siapa tahu ada yang cocok, dan dia pantas diperjuangkan. Syukur-syukur kalau dia punya ketertarikan yang sama.

Sebuah upaya.

Dalam beberapa aspeknya pun, acara-acara yang demikian bisa sekaligus menjadi ajang screening, agar kendala-kendala mendasar bisa diatasi lebih awal. Contohnya persoalan agama. Daripada sesudah berkenalan, telanjur sayang, tahu-tahu terbentur perbedaan dan meninggalkan sakit yang terlampau dalam, lebih baik mengambil “jalan agak memutar” atau menghindar. Kendati di luar sana banyak pasangan yang kuat, tangguh, dan berhasil mendobrak batas-batas perbedaan tersebut, sungguhlah tak adil jika kita menganggap semua orang punya kekuatan serupa. Yang dapat kita lakukan hanyalah menyokongnya, tanpa sok mampu dan campur tangan terlalu dalam.

Jadi, bagi kamu yang belum siap memulai kembali dan mencari, please take your time, as much as you need. Tak usah terburu-buru, karena lebih penting bagimu untuk kembali menata hati.

Manakala kamu telah siap dan berani memulai kembali, yakinlah bahwa kamu sudah jauh lebih kuat; lebih tangguh; lebih berpengalaman; dan lebih cermat dari sebelumnya. Coba saja semua celah kesempatan yang ada. You deserve the best.

Sudah mencari tetapi belum menemukannya? Ya, sudah… buat apa dipaksa. Ada hidup yang tetap harus kita jalani dengan sebaik-baiknya. Kuasa untuk menjadikannya penuh dengan bahagia, ada di tangan kita.

Sini, peluk dulu…

[]

Apa yang Kamu Lakukan Jika Dispensermu Bocor?

KITA sedang gemar-gemarnya membicarakan tentang kepatutan dan kepantasan akhir-akhir ini. Dengan mudahnya kita menuding orang lain bertindak tidak patut, atau pun tidak pantas mendapatkan apa yang telah mereka peroleh karena beragam alasan. Padahal yang dijadikan patokan hanyalah penilaian pribadi; belum tentu benar, dan pastinya cenderung berisik.

Untuk setiap kalimat “Menurut saya, dia tidak pantas…” yang dilontarkan, wajar saja bila dijawab “Memangnya kamu siapa?” Terdengar tidak menyenangkan, memang, tetapi kian tak terhindarkan.

Setiap orang kini terkesan merasa berkewajiban moral untuk mengkoreksi orang lain. Mereka seolah-olah entitled atau sudah sepantasnya menjadi mercusuar bermodalkan kepercayaan diri berbicara lantang, kendati apa yang disampaikan bisa saja bias, keliru, sok tahu, atau sekadar upaya pencitraan diri sebagai seseorang yang berbudi lebih terpuji dibanding orang lain; panutan masyarakat. Makanya, tak heran orang-orang seperti itu bisa makin menjadi-jadi jika mendapat dukungan, apalagi sampai berupa pengikut. Mereka seakan-akan mendapat tambahan legitimasi dan entitlement agar terus bersikap sebagaimana biasanya, biar sekontroversial apa pun.

Saat ini, dukungan tak mesti hadir secara fisik. Gaya hidup digital telah memungkinkan hampir semua orang tampil dan bersuara–atau bergaya, dan direspons secara langsung. Bisa dibayangkan, serta telah dialami sendiri, betapa riuhnya jagat maya. Konsisten, konstan, dan terus dipenuhi dengan “energi” sampai sekarang. Ke mana ujungnya, atau bakal menghasilkan apa, tak ada yang sungguh-sungguh tahu.

Awal pekan, pembicaraan tentang hak istimewa yang melekat pada seseorang mengemuka dan membesar seketika. Apa pun argumentasi kritiknya, tetaplah berujung pada “Kamu/dia/mereka tidak pantas…” Lah, kalau tidak pantas, terus kamu mau gimana?

Semuanya saling bersahutan, apakah itu saling mendukung (lantaran merasa dapat backing-an atas bacot ngawur beberapa waktu sebelumnya) maupun saling serang.

Seorang penulis yang meromantisasi–apa yang terlihat sebagai–kemalangan atau kemandekan hidup orang lain sebagai perbandingan terhadap dirinya sendiri demi mengutarakan “Aku lebih baik dari mereka,” menunjukkan dukungan dan kesepahaman atas pendapat seorang sutradara mengenai kepantasan versus ketidakpantasan tersebut.

Kemudian seperangkat argumentasi tadi kembali berhadapan dengan pemikiran yang berseberangan dari beberapa figur lain. Bolak-balik, bolak-balik laiknya pertandingan tenis lapangan. Berhenti di tingkat atas, dan terus bergulir ala kadarnya di tingkat bawah.

Jadi, apa maunya?

Kita lihat saja ke depannya. Tak langsung musnah bumi ini jika pernyataanmu jadi kenyataan, atau pun sebaliknya.

Sejak beberapa hari lalu, kembali bergulir bahasan baru yang membagi para pembahas menjadi kubu “Kamu/dia tak pantas berbicara begitu” dan sebaliknya. Perhatian pun mengerucut pada; lemahnya pemahaman kontekstual, ditambah kegemaran bersikap reaktif, dan kebiasaan memodifikasi pesan demi memancing reaksi.

Padahal, apakah ada dampaknya bagi kamu?

Naga-naganya lagi, bahasan ini bakal terus mengalir sampai pengujung pekan. Kecuali bila ada “keseruan” lainnya yang mampu mengambil alih perhatian massa.

Disadari atau tidak, hal-hal di atas ya … begitu sajalah adanya, dan melelahkan. Kita seringkali lupa, kita sendiri belum tentu patut dan pantas untuk menilai kepatutan dan kepantasan orang lain. Di satu sisi, memiliki pandangan dan pendapat pribadi ialah wajar adanya. Namun, di sisi lain, pandangan dan pendapat pribadi bukanlah alat yang tepat untuk menilai orang dengan segala keadaannya.

Lalu, apa yang sebaiknya kita lakukan?

Amati sekitar kita, dan lakukan yang perlu dilakukan.

TenorGIF

Apabila dispenser air minum bocor, apakah bisa diperbaiki atau lebih baik sekalian beli yang baru? Dispenser dengan air panas dan dingin, atau air panas dan air biasa saja? Dispenser elektrik atau dispenser keramik? Dispenser dengan galon di atas, atau galon di bawah yang risikonya akan berisik setiap kali airnya hampir habis? Ataukah pakai pompa portabel bertenaga baterai?

Apabila gemar bersepeda, coba cek apakah rantai sepeda sedang perlu diberi oli lagi, atau hanya butuh dibersihkan? Bagaimana dengan remnya? Kondisi bannya? Atau keseluruhan bodinya, sudah perlu dicuci atau dibiarkan saja?

Apabila punya beberapa baju atau celana yang kancingnya copot, apakah bisa menjahitnya sendiri, atau lebih baik dijadikan kain lap karena sudah cukup usang, atau malah mending dibuang sekalian?

Ketiga contoh di atas tak kalah pentingnya dibanding pembahasan dan debat tak berkesudahan tentang kepatutan dan kepantasan … orang lain dan kehidupan mereka. Bukan kamu.

[]