Pedestrian lawn area Jakarta

Dari Titik Singgah ke Titik Singgah Lain

ADALAH transit-oriented development (TOD), sebuah konsep perencanaan urban yang mendorong manusia—para warga sebuah kota—lebih bergerak ketika beranjak. Idealnya, alih-alih duduk sendirian dalam bilik yang sejuk dan lumayan lega tetapi berlangsung lebih dari dua jam, skema berdasarkan TOD akan berpotensi memangkas durasi perjalanan. Meski bakal diselingi aktivitas menunggu sambil duduk atau berdiri, berjalan kaki, maupun agak berlari.

Dari namanya saja, sudah cukup menggambarkan ide dasar konsep perencanaan urban ini; pembangunan yang berorientasi pada titik-titik singgah. Andaikan boleh sedikit filosofis, kita pergi dari dan pulang ke rumah. Sekolah, kampus, kantor, toko, tempat usaha, mal, tempat rapat, restoran dan kafe, tempat-tempat publik dan pusat keramaian lain, rumah ibadah, pemakaman, rumah sakit, serta lain-lainnya merupakan lokasi berkegiatan dalam kurun waktu tertentu. Bisa dianggap sebagai titik-titik singgah, dan untuk bisa sampai ke sana mesti melalui titik-titik singgah pula. Katakanlah halte, stasiun, terminal, atau areal parkir.

Pertanyaannya, maukah kita begitu? Bersediakah menjalani keseharian dengan gaya hidup TOD?

Belum tentu, atau malah tidak akan mau.

1. Kota kita bukan kota untuk para pejalan kaki, dan pengguna moda transportasi umum.

Dilematis seperti masalah telur dan ayam. Mana yang harus diadakan terlebih dahulu? Perubahan pola pikir dan kebiasaan para warga kota, ataukah situasi dan penataan kotanya sendiri?

Perencanaan urban berdasarkan konsep TOD tentu bertujuan untuk efisiensi, tanpa menghilangkan sebagian besar kenyamanan hidup. Waktu tempuh perjalanan bisa dihemat setidaknya hingga sekian puluh persen, begitu pula dengan tingkat kepadatan lalu lintasnya (efektivitas tergantung rencana, implementasi, dan modifikasi).

Dengan TOD, dari satu titik singgah ke titik singgah yang lain akan memakan waktu sekitar sepuluh hingga 45 menit. Baik dengan berjalan kaki, bersepeda, maupun menggunakan moda transportasi umum. Sayangnya, jangankan Samarinda, Banjarmasin, Pekanbaru, Batam, Medan, dan kota-kota provinsi di luar pulau Jawa; Jakarta, Bandung, Semarang, atau Surabaya pun—tampaknya—belum bisa diacu ke prinsip-prinsip TOD sepenuhnya.

Di lima kota luar pulau Jawa di atas, jarak dari satu titik singgah ke titik singgah lain relatif lebih jauh. Pun begitu, sarana transportasi publik belum mampu diandalkan secara menyeluruh. Mau tidak mau, warga harus bergantung pada kendaraan pribadi, atau moda transportasi personal seperti taksi, ojek, mobil sewaan. Terlebih di waktu-waktu istirahat. Mau berjalan kaki? Sangat tidak mangkus sangkil. Kecuali sangat terpaksa.

Sementara itu, di empat kota besar pulau Jawa, kendala yang dihadapi kurang lebih sama. Moda transportasi umumnya memang sudah dikembangkan sedemikian rupa, hanya saja, sejauh ini, baru TransJakarta yang beroperasi 24 jam sehari. Kendati di atas pukul 10 malam, jumlah armada yang beroperasi tidak banyak.

Di sisi lain, belum banyak ruas jalan yang memiliki trotoar lebar dan nyaman. Baru sebatas di kawasan wisata dan area populer dalam kota, belum menyentuh pemukiman. Kegiatan berjalan kaki pun masih identik dengan ketidaknyamanan, walaupun hanya urusan ke minimarket di ujung gang untuk beli cemilan.

2. Kendaraan pribadi adalah perlambang kemakmuran dan kemapanan.

Tak ada yang salah dari pernyataan di atas. Setiap orang berhak membeli dan memiliki kendaraan pribadi, sebanyak atau semahal apa pun. Namun, jangan lupa bahwa kepemilikan kendaraan pribadi akan diikuti sejumlah konsekuensi. Mulai dari harga yang harus dibayar, segala jenis biaya yang timbul, lahan parkir pribadi yang seyogianya ada, risiko-risiko, termasuk potensi terjebak macet dan mengalami ketidaknyamanan emosional yang muncul saat itu.

Sebaliknya, justru keliru apabila beranggapan bahwa kepemilikan kendaraan sama dengan kualitas kehidupan seseorang. Hal tersebut memang dapat dijadikan parameter, tetapi bukanlah poin mutlak.

Commuter line train Jakarta

KRL terakhir, dengan mereka yang sudah lelah dan ingin pulang.

Sah-sah saja jikalau seseorang memiliki kendaraan pribadi, dan hanya digunakannya di akhir pekan atau hari libur lantaran malas terjebak macet dari dan ke kantor. Ketika keputusannya seperti itu, kendaraan pribadi tadi pun berubah fungsi dari aset menjadi kewajiban. Ya … setiap orang boleh punya pertimbangan berbeda-beda, sih. Lagi-lagi, sayangnya, suasana di dalam kendaraan umum—TransJakarta dan KRL—pada hari kerja pun tak selalu nyaman. Berdesak-desakan, juga selalu dihantui pencoleng dan perogoh.

Dengan demikian, salah satu cara yang cukup masuk akal untuk dicoba demi gaya hidup ala TOD adalah membiasakan jalan kaki sebisa mungkin. Tak perlu jauh-jauh, semampunya saja. Maklum saja, udara Indonesia cenderung gerah dan panas. Mana ada yang betah berkeringat barang sedikit pun, khawatir terlihat dekil, tak wangi lagi, dan seterusnya. Belum banyak pula kantor-kantor yang menyediakan bilik mandi di kamar kecil, yang semestinya bisa mengakomodasi pegawai pesepeda. Belum lagi di kota-kota sarat tambang macam Samarinda, dengan jalanan berdebu yang bisa bikin kulit sarat daki.

Padahal, jujur saja, berjalan kaki itu romantis, lho. Menjadi terbiasa berjalan kaki di Jakarta dan mengamati-menikmati setiap momen yang ada di depan mata, membuat saya cukup nyaman berjalan kaki di luar kota. Termasuk di Samarinda, saat pulang kampung. Sensasi ini barangkali saja memang bukan untuk semua orang. 😊

3. Hidup sudah melelahkan, jangan sok ide!

Pemandangan yang lazim, sekawanan manusia berebut masuk ke bus TransJakarta dan KRL. Terkesan agak beringas, mereka berusaha mendapatkan tempat duduk atau setidaknya posisi yang nyaman sepanjang perjalanan. Buru-buru mereka naik, buru-buru pula mereka turun. Seolah-olah hanya itulah kesempatan mereka untuk melanjutkan hidup. Padahal, mereka pasti berhadapan dengan suasana yang sama keesokan harinya. Begitu lagi, dan lagi. Mungkin sampai mati.

Apakah urusan yang satu ini termasuk sebagai permasalahan hidup? Mungkin. Mungkin tidak.

Bagaimana bila justru kita sendiri yang menjadikannya sebuah masalah? Respons dan cara kita menanggapinyalah yang membuatnya terasa tidak menyenangkan, menambah beban kehidupan dengan sesuatu yang diada-adakan. Tanpa sadar, kita diperbudak oleh perasaan sendiri. Salah satu komponen kehidupan yang semestinya menjadi “milik kita”.

Tubuh lelah, alamiahnya memang begitu setelah berkegiatan. Hati lelah, siapa yang menyebabkannya? Kita sendiri, atau orang lain? Ataukah kita “mengizinkan” orang lain untuk bikin hati kita lelah? Manusia bisa jadi memang selemah itu.

Jadi terpikir. Apabila TOD adalah konsep perencanaan urban, dari satu titik singgah ke titik singgah lain, kita pun sebenarnya sedang berpindah-pindah dalam menjalani kehidupan ini. Dari satu momen singgah ke momen singgah lainnya … cuma, ada yang tersisa dan terus dibawa-bawa. Entah kenangan, kepahitan, kegembiraan, syahwat, atau kerinduan.

Memberatkan dan berusaha ingin ditinggalkan (baca: dilupakan), atau malah bikin kita kecanduan dan mencari-cari agar bisa menikmatinya kembali.

[]

Advertisements

Akun Alter Ego Non Prostitusi

https://i0.wp.com/images.8tracks.com/cover/i/010/303/237/154417_300878139990580_151011474977248_693980_1602364401_n-6468.jpg?w=492&ssl=1

IALAH Dionysus, dewa bertopeng dari asal yang asing dan misterius.

Dia disebut sebagai “dewa yang datang”, sebab hadiratnya selalu memunculkan antusiasme pada manusia, perasaan gembira yang menggejolak (excitement), sensasi ekstase, serta dorongan hasrat. Karena itu pula, dewa berwajah cantik ini identik dengan minuman anggur. Yang tak hanya memabukkan, tetapi juga mampu mengubah (altering) kepribadian seseorang. Maka dari itu, bangsa Yunani kuno percaya ada sang dewa dalam tubuh mereka saat mengalami mabuk alkohol. Mereka menjadi seseorang yang berbeda.

Mungkin serupa tetapi tidak sama. Tanpa perlu mabuk anggur, ada banyak individu yang menikmati menjadi sosok yang berbeda. Bukan lewat Dionysus, melainkan via media sosial.

Mengenakan topeng-topeng digital, mereka lebih bebas berekspresi dan leluasa dalam tindak tanduknya. Kendati apa yang mereka lakukan cenderung provokatif terhadap kaidah kepatutan dan kelaziman sosial. Tak ada yang salah, pun tidak melanggar hukum formal, tetapi di luar kebiasaan umum saja.

Di semesta maya, mereka dapat ditemui sebagai akun-akun alter ego. Tanpa mengganti identitas atau pun menyaru personalitas orang lain (seperti pada akun-akun role play [rp] selebritas Korea), mereka riuh bermain-main dengan kepribadian dan tubuh mereka sendiri, beserta rekan. Bisa pasangan suami/istri, pacar, sekadar teman, maupun sesama pemilik akun alter ego.

Dengan akun alter ego tersebut, mereka tentu saja menyembunyikan nama. Sesekali menampilkan sesisi wajah, terkadang juga ditutupi stiker. Ada lebih banyak area tubuh lain yang disingkap dan bisa dilihat secara terbuka di lini masa mereka, selain kelamin. Ya, mereka tidak pamer genitalia. Lebih aman—dan nyaman?—bagi mereka menunjukkan lekukan tubuh, meskipun tak semua dari mereka telah terbebas dari insecurity bernama “standar keindahan tubuh”. Setidaknya melalui akun alter ego tersebut, mereka merayakan kehidupan. Bebas dari penilaian orang lain, bebas dari ketidakpercayadirian, bebas dari keluhan atas kekurangan yang dimiliki.

(Pemuatan twit video di atas telah diketahui dan diperkenankan oleh pemiliknya.)

Mengapa selain kelamin? Karena itu merupakan pornografi, dan mereka bukanlah pemilik akun-akun alter ego prostitusi, yang berjualan terang-terangan. Sangatlah tak adil bila keduanya disamaratakan. Akun-akun alter ego non prostitusi tidak bertransaksi … atau setidaknya terlihat demikian.

Dari yang teramati sejauh ini, memiliki akun alter ego non prostitusi berarti akan dihadapkan pada risiko “didekati dan ingin dibeli”. Mereka yang tampil sendirian, bisa ditanya: “Berapa semalam?” Sedangkan mereka yang tampil berpasangan, bisa ditanya: “Mau threesome?” atau dikira pasangan swinger, atau dikira pasangan kumpul kebo semata. Padahal, ada yang (mengaku) sudah beranak tiga, dan bentuk tubuh mereka terlalu proporsional untuk dipersamakan dengan kerbau.

Cuplikan twit yang diambil dari thread. Dimuat dengan persetujuan pemilik.

Kemudian, pasti ada yang berkomentar: “Makanya, kalau tidak mau dikira begitu, ngapain pamer-pamer foto sensual? Biarpun sama pasangan sendiri.

Apabila saya adalah mereka, langsung saya jawab: “Memangnya kenapa?” Pasalnya, siapa saja, si empunya foto maupun mereka yang melihatnya, tetap punya kuasa kendali diri. Menjaga dan bertahan agar tidak melanggar aturan terkait konten pornografi (kecuali jika akunnya dikunci, dan materi hanya dikonsumsi pribadi).

Bagi penonton, agar tidak kagetan dan langsung kalang kabut mencari pelampiasan, atau malah merasa berhak menghakimi si pemilik foto. Sekaligus iri, kepingin bisa begitu juga. Ya punya bentuk badannya, ya mengalami adegan yang sama. Hahaha!

Nah, kalau yang ini belum sempat minta izin sama pemiliknya. Namun, tertampil dan bisa dibaca secara umum.

Terakhir, hanya ada satu hal yang membuat saya #penasaran. Mengapa, dan apa alasannya mereka membuat serta menikmati menjadi akun-akun alter ego non prostitusi tersebut? Apakah menjaga reputasi? Apakah pertimbangan orang tua dan keluarga? Dengan fisik dan kepercayaan diri yang mereka tunjukkan, bukan mustahil mereka tetap bisa merayakan kehidupan sebagai diri sendiri.

Perhatian. Barangkali.

[]

Path, Aplikasi Curhat, dan Generasi Bertopeng

SAAT menulis ini Sabtu siang kemarin, saya masih belum memutuskan kafe mana yang akan didatangi untuk memanfaatkan jaringan internetnya mengunduh semua data dari akun Path. Tidak menyangka, dari hanya 4.238 moments sepanjang menggunakan media sosial yang pernah disebut Mas Roy sebagai Aplikasi Pamer Anak, Tempat, Hidangan itu, totalnya mencapai 1,4 GB!

Path moment.

Moment pertama.

Sejak awal, saya adalah pengguna Path dengan intensitas relatif rendah. Kadangkala bisa bawel dan membagi banyak hal dalam kurang dari 24 jam, tetapi ada lebih banyak hari tanpa satu moment pun. Toh jumlah teman yang terhubung melalui Path juga kurang dari seratus orang. Sampai sekarang.

Boleh dibilang itulah daya tarik Path. Ketika kita mulai terbiasa dengan keterbukaan dan ekspose personal yang membabi buta lewat media sosial, Path hadir dengan pembatasan dan keterbatasan. Justru itu, Path menjadi semacam wadah digital baru tanpa perlu risau soal reputasi, nama baik, citra, dan tanggapan orang-orang yang kita kira kita kenal.

Path moment.

Sebuah moment.

Pembatasan dalam Path membuat penggunanya kembali nyaman untuk jujur dan apa adanya. Demi menjaga perasaan orang lain, ulasan dan komentar di Twitter atau Facebook cenderung berupa pujian dan terkesan sangat baik. Sedangkan di Path, kita mungkin menemukan pendapat yang berbeda serta alasan-alasannya. Untuk konsumsi pribadi, tentu saja.

Pada dasarnya, manusia sangat senang bila mendapatkan perhatian. Sebab dengan itu pula, manusia tersebut bisa merasa signifikan, penting, didengar dan diikuti, serta dipenuhi keinginannya. Kehadiran beraneka platform media sosial melimpahi manusia-manusia modern dengan ilusi perhatian. Awalnya, mereka menikmati itu. Followers diterjemahkan secara harfiah, sehingga jumlah pengikut menjadi label yang membanggakan diri sendiri. Di sisi lain, mereka pun merasakan sindrom selebritas, beranggapan bahwa para followers tadi memang sebegitu gandrungnya dengan semua yang mereka unggah-bagi.

Para warganet yang telah jenuh dengan kebisingan media sosial, bisa beralih ke Path untuk pengalaman berbeda. Idealnya begitu. Hingga kemudian memunculkan para pengguna ikut-ikutan yang asal mengirimkan permintaan pertemanan, dan membagi konten yang sama untuk semua akun media sosial yang dimilikinya.

Path moment.

Sebuah moment lainnya.

Semenjak kabar penutupan Path beredar, banyak orang—setidaknya kontak di Path saya—yang berkesah bahwa mereka akan kehilangan tempat untuk berkeluh dan menumpahkan unek-unek tanpa khawatir menyinggung orang lain. Bagaimanapun kondisinya, mereka selalu merasa perlu menyampaikan segala yang ingin mereka sampaikan. Entah itu pemikiran atau isi hati.

One of the main reasons why we vent is to reduce our stress levels. Rime (2009) states that disclosing stress is a coping mechanism.

The Psychology of Venting

Akun anonim mengemuka sebagai salah satu alternatif. Terutama di Twitter, berupa akun-akun alter ego non-prostitusi*. Namun, dengan catatan akan lebih baik jika si empunya akun mengunci lini masa mereka. Lantaran fitur pencarian spesifik dan niche tetap menyasar akun-akun publik, cukup dengan kata kunci yang sesuai.

Sementara di Path, terdapat berlapis-lapis pelokalisasian. Moments hanya bisa dilihat oleh teman. Fitur pencariannya pun tak semulus Twitter atau pun Facebook. Selain itu ada pula Inner Circle, dan pengaturan privasi di tiap moments. Kebebasan dan kenyamanannya jelas berbeda. Dalam hal ini, Path bernasib sama dengan beberapa aplikasi curhat yang telah menghilang lebih dahulu. Misalnya Ooh! dan Secret yang sudah tidak tersedia, serta Legatalk yang mentok sampai halaman signup.

Bagi mereka yang terbiasa bebas bicara, dengan demikian mau tidak mau harus memilih antara mengorbankan rasa nyaman demi norma sosial, mulai belajar menggunakan topeng sosial dan membiasakan diri berada di baliknya, atau bersikap persetan.

Btw, terima kasih Path.

[]

Bacaan lainnya terkait anonimitas saat berinternet:
Why Do People Seek Anonymity on the Internet? Informing Policy and Design
Verbal Venting in the Social Web: Effects of Anonymity and Group Norms on Aggressive Language Use in Online Comments

Sebuah Tujuan?

SEPERTI yang pernah diceritakan beberapa pekan lalu, tulisan ini dibuat saat berada di Samarinda. Sambil menyeruput kopi, memandangi bukit sebelah, dan berusaha membenahi mood. Untuk kemudian, tanpa sengaja, teringat pernah menulis begini di blog pribadi.

Kapan kamu mau keluar dari comfort zone-mu?

Hah? Apaan?

Entah, lamunan apa yang sedang menguasai pikiranku saat itu. Namun yang pasti, pertanyaan seorang kawan tadi tidak menempel di benak sama sekali, bahkan mungkin hanya berlalu begitu saja. Layaknya anak panah yang ditembakkan menuju pelat baja setebal 5 cm, mentul total.

“Kapan kamu mau keluar dari comfort zone­-mu? Kondisi kamu saat ini. Kenyamanan hidup yang sedang kamu jalani.”

“Memangnya hidupku sudah nyaman? Kamu tahu dari mana?”

Percakapan itu hampir berakhir dengan singkat. Tanpa banyak argumentasi yang biasanya meruncing menjadi sebuah perdebatan, pertanyaan mengenai zona nyaman dalam hidup seseorang menjadi tidak valid untuk dijawab, lantaran sang penanya mendadak sadar bahwa sikap sok tahu kerap tidak menyenangkan.

“Oke kalau gitu, kapan kamu terakhir pergi jauh? Jauh dari sini, jauh dari apa yang selama ini kamu lakukan sehari-hari, pokoknya jauh.”

Ehm… Sudah lama. Banget. Mungkin 2008. Tapi maksudnya gimana ya?”

“Jauh, sampai bisa merasa sangat asing. Bukan keterasingan yang bikin takut, waswas, curiga. Tapi yang bisa bikin kamu terasa makin utuh. Redefining your existence. Kebingungan yang membahagiakan.”

“…” (jujur saja, tak tahu harus dijawab seperti apa)

Dia tersenyum menunggu jawaban, agar durasi pembicaraan terus berjalan. Sementara aku mendadak terdiam, berpikir keras dalam-dalam. Saking kerasnya, hingga seolah merasa tak punya isi tengkorak untuk dipakai berpikir lagi.

“Selama ini kamu ngapain aja?”

“Ya kerja lah. . . ”

“Kamu senang dengan hasil pekerjaanmu?”

Ehm… Iya… Most likely…

Komentar “most likely” tadi seakan menyusun sebuah pertanyaan baru, bukan dari orang lain, melainkan dari diri sendiri, dan untuk kembali dicecarkan kepada diri sendiri. Pertanyaan itu masih menanti untuk dijawab, hingga saat ini.

Kini, kendati telah maju beberapa tahun, pertanyaan-pertanyaan tersebut terdengar tetap/kembali relevan. Tentang zona nyaman, tentang mempertanyakan eksistensi, tentang kepuasan batin, tentang kemampuan menerima, tentang memandang dengan apa adanya. Hanya jawaban dan cara menjawabnya saja yang berbeda. Barangkali.

Berpindah dari Samarinda ke Jakarta (atau dari satu kota ke kota lain), telah menetap dan mengikatkan diri, saya ternyata berhadapan dengan refleksi yang telah diperbarui. Idealnya, kehidupan, tanpa peduli sekeras apa pun deraannya, selalu mampu mengasah kebijaksanaan. Menjadikan seseorang lebih awas dan waspada, terbuka, terlucut dari praduga, lebih biasa-biasa saja, stabil dalam emosi. Kian mampu memberikan tanggapan yang tepat dan tidak berlebihan. Sebab tindakan yang berlebihan itu melelahkan.

Bisa jadi kita hanya beralih dari satu zona nyaman ke zona nyaman lainnya. Mungkin karena merasa jenuh terhadap zona nyaman yang kita huni saat ini; merasa butuh tantangan baru; atau merasa perlu peningkatan dalam hidup. Kita beranjak dari lingkar kenyamanan saat ini, mencari cerukan yang baru. Lalu bersusah payah membuat perubahan, memahat sudut-sudut tajam yang cadas, menghaluskan sisi-sisi dinding yang kasar, memangkas ujung-ujungnya yang mencuat dan menusuk. Sedemikian rupa kita lakukan, agar ceruk itu bersesuaian dengan kita. Pas dan cocok, mirip potongan-potongan puzzle. Di sisi lain, kita pun ikut menyesuaikan diri. Memberi toleransi semaksimal mungkin untuk segala bentuk ketidaknyamanan yang ditemui.

Bukan proses yang gampang, atau pun terjadi dalam waktu yang singkat. Sejak memutuskan untuk beranjak dari zona nyaman awal, mencari dan menakar, melakukan perubahan dan turut menyesuaikan diri, bisa berlangsung setahun, sewindu, belasan-puluhan tahun, atau malah seumur hidup. Oleh karena itu, bersyukurlah jika kamu telah pernah menikmati zona nyaman hingga beberapa waktu lamanya, untuk selanjutnya merasa bosan, dan berkesempatan untuk mencari calon zona nyaman yang baru. Terlebih bila berhasil menikmatinya.

Itu tandanya, kamu “punya tujuan”, dan “punya tujuan” selalu terasa menenangkan. Setitik tenteram dalam kegelisahan. Tahu ada yang ingin dituju, walau sesampainya di sana, justru terasa biasa-biasa saja.

Selebihnya, bagi kamu yang sudah tak membutuhkan tujuan, atau melampaui batas punya/tidak punya tujuan, izinkan saya bersulang pakai secangkir kopi di sini.

Cheers!

[]

Photo by Fares Hamouche on Unsplash

Ego Feeding nJengking

BARU selesai sepekan lalu, tugas saya sebagai sukarelawan sebuah konferensi independen dan nirlaba. Menjelang akhir acara, ada satu pernyataan menarik.

Memberi makan ego itu memang menyenangkan.

Iya, menyenangkan. Hanya saja, ego kita akan melahap segalanya bak lubang hitam raksasa. Tak cuma hal-hal menyenangkan, termasuk juga semua ketidaknyamanan. Kita cenderung menerima semuanya tanpa kemampuan pilih-pilih. Semuanya terserap, masuk, langsung berdampak pada ego kita, dan kemudian memengaruhi pertimbangan serta tindakan ke depannya.

Apa pun bentuknya; pujian dan sanjungan, formalitas atas prestasi yang kita capai, penganugerahan, nama baik maupun popularitas, pengakuan atas kesuksesan dan perasaan sebagai seseorang yang penting, pengunggulan, sampai pembalasan keadaan, serta banyak lagi lainnya, semua bisa jadi makanan yang nikmat bagi ego kita yang selalu lapar.

Jangan lupa, atas hal-hal yang menyenangkan tersebut ego kita mustahil dibuat kenyang. Setelah dibuat mengembang karena kegembiraan, kita terdorong untuk terus mencari celah-celah keberhasilan yang baru.

Semua yang bikin senang dan menggembirakan, akan membuat ego kita membesar. Sensasinya bisa mencandukan, membuat kita ingin dan ingin lagi merasakan pengalaman yang sama, bahkan lebih. Baik dari lingkupnya, luas cakupannya, objek dan subjeknya, tingkatannya, signifikansinya. Pokoknya, harus ada penambahan dosis. Jika tidak, paling-paling dianggap receh atau beda level. Lebih baik buat orang lain saja.

Misal, pencapaian berjenjang. Awalnya bisa memberi dampak bagi warga kota setempat, ke ibu kota provinsi, ke kota besar pulau lain, ke tingkat nasional atau ibu kota negara, ke tingkat internasional atau ke kota luar negeri.

Sebaliknya, begitu pula ketika ego kita tanpa sadar berhadapan dengan “santapan” yang tidak menyenangkan. Alih-alih membesar, ego kita akan mengecil, menciut, tetapi tak sampai hilang. Ego kita tetap ada, dan tetap siap untuk dibuat mengembang kembali. Dari pengalaman tidak menyenangkan itu, kita terdorong menjauhi dan menghindarinya.

Seperti apa saja? Tinggal dibalik dari beberapa parameter di atas, atau versi negatifnya. Celaan dan hinaan, pengumuman atas ketidakberhasilan, penganugerahan cemooh, nama cemar maupun popularitas negatif, pengakuan atas kekonyolan dan perasaan sebagai seseorang yang kecil, diungguli atau dilangkahi oleh rival, sampai pembalasan gagal.

Emosi yang menjadi kunci. Ego mengembang, rasanya menyenangkan. Ego dikecilkan, rasanya tidak menyenangkan. Untungnya saja, manusia adalah makhluk dengan kemampuan melupakan, atau memulihkan perasaan. Sekadar dipulihkan, bukan sepenuhnya hilang dari ingatan. Itu saja masih lebih baik dibanding tak mampu beranjak dan melepaskan masa lalu. Makanya, setiap kali ada yang terkenang, pengalaman baik akan memunculkan kebanggaan dan keinginan merasakan kembali kegembiraan dari masa lalu; sedangkan pengalaman buruk akan memunculkan penyesalan, kekecewaan, dan aneka cara agar ingatan itu lekas berlalu. Seringkali sampai pakai cara menggoyang-goyangkan kepala, menutup telinga, membuat bunyi-bunyian seolah-olah tidak ingin mendengar sesuatu, padahal berasal dari dalam diri sendiri.

Semenyenangkan apa pun sebuah pengalaman yang ego feeding, atau setidakmenyenangkan apa pun sebuah pengalaman yang mengecilkan hati, pasti akan berlalu jua. Apa pun yang terjadi, ego kita akan/tetap bisa kembali ke ukuran semula.

Ego yang terus-menerus dibesarkan dan membengkak, pasti akan merasa tidak nyaman bila mengalami pengecilan biar hanya sedikit. Ego yang tertekan dan dikecilkan, pasti tetap akan membesar saat kita dapat menyadari bahwa masih mampu bersyukur dan berterima kasih atas hal-hal kecil.

Tidak perlu kejauhan ingin diterimakasihi oleh orang sekota, atau se-Indonesia, cukup bisa menyenangkan perasaan orang tua atau anak saja, kurang lebih, nilainya terkadang jauh lebih besar dari seisi dunia.

Sementara itu, di sisi lain, ego feeding hanya terasa bagi diri sendiri. Pada waktu kita merasa telah menjadi seseorang yang penting, telah melakukan sesuatu yang penting, telah memberi dampak yang penting bagi orang lain, mesti dipastikan kembali kepada orang-orang lain tersebut; apakah kita, dan apa yang telah kita lakukan, memang sebermanfaat atau berdampak sepenting itu bagi mereka?

Jangan sampai mau ditipu ilusi perasaan sendiri.

[]

Kapan Terakhir Kali Menulis (Bukan Mengetik)?

PERNAH ada masanya, suasana hati dan kepribadian seseorang tak hanya diraba lewat isi tulisan, tetapi diamati sekaligus dari penampilan dan bentuk tulisan tangannya.

Kala itu, masyarakat cukup enteng menganggap bahwa seseorang yang bisa menulis dengan rapi dan teratur, memiliki pembawaan yang tenang; sabar; telaten; halus perasaannya; serta memiliki karsa artistik tinggi lantaran peduli kepada keindahan. Jika ditarik mundur lebih jauh lagi, bahkan bisa menulis saja sudah identik dengan kepandaian dan berpendidikan. Makanya, dahulu ada jabatan carik, kerani, atau klerek. Posisi mentereng yang bisa bikin para orang tua di zaman itu bangga. Padahal tugasnya ya cuma satu, menulis. Yang ditulis pun bukan luapan isi hati, melainkan ucapan, komando, maupun perintah atasan. Bila tulisan pujangga bisa menggetarkan hati dan menggerakkan jiwa, tulisan carik dipercaya bisa menyejahterakan rakyat atau justru sebaliknya.

Kendati menyinggung tentang keindahan, menulis dalam konteks ini tetap berbeda dari membuat kaligrafi. Menulis, tujuan utamanya bukan untuk menghasilkan karya seni atau pajangan, tetapi mencatat. Baik untuk dibaca kembali di kemudian waktu, atau untuk disuratkan. Itu sebabnya, lambat laun aktivitas menulis bisa tergantikan oleh mengetik untuk hasil tulisan yang pasti lebih mudah dibaca, enak dilihat karena bentuk dan jarak yang konsisten, serta lebih hemat waktu maupun tenaga. Termasuk ketika harus digandakan menggunakan mesin stensil atau fotokopi. Ironisnya, bisa saja tulisan tangan para ahli kaligrafi terlihat biasa-biasa saja, tak seindah kaligrafinya, atau malah cenderung berantakan. Kurang lebih cakaran ayam.

Lalu, bagaimana dengan kita sendiri? Kapan terakhir kali kita menulis? Apalagi untuk tulisan yang agak panjang, bukan sekadar catatan daftar belanja atau mengisi formulir pendaftaran tertentu. Itu pun biasanya diminta dalam bentuk huruf balok atau huruf kapital semua biar lebih gampang dibaca.

Postcard from Yogyakarta

Dicomot dari Facebook teman.

Ini contohnya. Seorang teman di Samarinda dikirimi kartu pos. Bentuk dan susunan tulisan yang sedemikian rapi bikin betah dilihat berlama-lama, nyaman di mata.

Dari foto di atas, si empunya tulisan pasti masih rajin menulis. Lewat hasil tulisan tangan, kita dapat dengan mudah mengenali tangan yang masih luwes, dan yang sudah kaku. Silakan saja bandingkan tulisan tangan Anda saat ini, dengan tulisan tangan waktu masih SMA atau kuliah, di saat kita harus menjawab soal esai di berlembar-lembar kertas folio bergaris. Sebelum akhirnya buku-buku catatan atau penjepit kertas berlubang, digantikan dengan laptop dan halaman blog berisi makalah tugas.

Terlebih jika Anda terbiasa menulis huruf bersambung. Makin ke sini, ada makin banyak huruf yang bentuknya tak tertulis utuh sempurna, atau berasa tersendat-sendat. Belum lagi sensasi pegal di pergelangan tangan, maupun di pangkal celah-celah jari.

Book in an art and literature exhibition.

Terakhir kali menulis agak panjang di pameran tentang Pram.

Sementara itu, tidak salah juga apabila soal tulisan tangan ini dianggap perkara sentimental belaka, atau pun bagian dari kerisauan para produsen alat tulis. Sampai-sampai ada hari bernama National Handwriting Day di Amerika Serikat setiap tanggal 23 Januari. Pasalnya, sekarang sudah zaman sarat efisiensi dan efektivitas, kecepatan dan ketepatan, serta hasil akhir sesuai keinginan. Sehingga segala hal yang bertentangan, atau berpotensi menjadi penghalang, sah-sah saja untuk ditinggalkan. Termasuk tulisan tangan.

Para jurnalis, misalnya. Saat ini para pewarta yang mencatat wawancara makin langka dijumpai. Alih-alih membawa notes, mereka merekam suara narasumber menggunakan ponsel. Walhasil, mereka memang memiliki instrumen informasi yang autentik dan bisa diputar kembali, tetapi dalam prosesnya mereka condong untuk tidak/kurang menyimak pernyataan. Ya … lagi-lagi ini perkara efisiensi waktu dan tenaga saat bekerja.

Untung saja, kita bernasib baik terlahir dan menjadi penutur bahasa Indonesia dengan bentuk tulisan yang cukup sederhana: alfabet. Yang kalaupun sudah lama tidak menulis, dampak buruknya tak separah orang-orang Tionghoa. Perubahan kebiasaan dari menulis tangan ke mengetik, membuat mereka lupa caranya menulis. Buta aksara sebagian; mengenali tulisan dan bisa membacanya, tetapi sulit menuliskannya.

Selebihnya, bisa jadi karena itu pula (dunia yang menuntut segalanya serbacepat, efisien, dan efektif), menulis dengan tangan jadi semacam penenteram hati, rekreasi batin, atau sejenis upaya melarikan “diri” dari kejenuhan.

[]

(Di atas ini sebenarnya ada satu tautan video dari Facebook. Apabila video tidak termuat, klik di sini.)

Konsistensi dan Ketetapan Hati

SEPERTI biasa, selalu ada masa-masa ketika bingung dan tak tahu ingin menulis apa buat Linimasa. Terus saja terjadi, meski sudah empat tahun dijalani. Makanya, tak aneh bila soal ganjalan ini kembali diobrolkan saat makan malam dalam rangka hari jadi, Jumat kemarin. Tetap saja buntu, dan akhirnya kembali kami biarkan berlalu.

Awalnya, sempat tergoda menulis tentang topik berikut.

Namun, setelah dipikir-pikir malam tadi, mungkin ada baiknya disimpan saja untuk nanti-nanti. Agak jemu juga rasanya bila kembali menulis tentang Buddhisme, dan hal-hal lain yang berkenaan dengannya. Toh, saya pun hanya seorang pembelajar Buddhisme biasa, bukan pembabar ajaran, pemuka agama, apalagi Pandita. Cukup kabari saja nanti, jika memang benar-benar penasaran tentang ihwal di atas.

Masih berhubungan dengan obrolan saat makan malam Jumat kemarin, saya justru tertarik dengan konsistensi. Tanpa disadari, sikap tersebut selalu mampu memberikan dorongan, tambahan tenaga, ide dan pemikiran, sekaligus tantangan yang mesti dihadapi. Contohnya, ya, Linimasa dan para penulisnya, yang secara berkala selalu berbagi cerita, pandangan, persepsi, walau jedanya kian menjarang. Padahal jelas-jelas kegiatan mingguan yang satu ini memang ranahnya di waktu senggang, atau manakala ada sesuatu yang terasa ingin diluapkan oleh para penulisnya.

Eh, tapi bener, lho, Gon, kita kan jadinya selalu berusaha untuk tetap menulis setiap minggu. Mau menulis apa, itu masalahnya,” kata Mas Nauval, saya amini.

Biar cuma berdua, yang penting suasananya. #shameless 🤪

Pada bagian inilah, konsistensi akan bertubrukan dengan ketetapan hati, menempatkan kita sebagai insan dengan kesempatan dan kemampuan memilih. Kondisi itulah yang membuat Linimasa saat ini telah memiliki total lebih dari 1.300 tulisan, dikumpulkan satu demi satu sejak pertama kali mengudara sebagai blog gotong royong pada 24 Agustus 2014 lalu … dan saya berkukuh, sebagian besar di antaranya masih cukup relevan dan menyegarkan bila dibaca sekarang.

Menurut saya, yang membedakan antara konsistensi dan ketetapan hati adalah fokus dan tujuan yang dikejar. Konsistensi mengarahkan pandangan kita ke titik imajiner, menjadi arah langkah demi hasil yang telah dipertimbangkan. Menjadikan kita yakin sampai ke sana. Sedangkan ketetapan hati lebih bertumpu pada keteguhan, membuat kita seakan-akan menyatakan: “Apa pun hasilnya, aku akan tetap menjalankan ini.” Serupa tetapi tak sama, kan?

Di sisi lain, baik konsistensi maupun ketetapan hati yang dijalankan, bakal membawa serta segala aral dan hambatan. Selain kebuntuan ide di atas, juga ada kebosanan atau kejenuhan, kesan ketidakjelasan, munculnya kesan bahwa ini adalah suatu keharusan, pudarnya rasa asyik dan gemar, serta bermacam-macam lainnya. Saya malah membayangkan, akan bagaimanakah kiranya andai seorang Goenawan Mohamad minta izin untuk tidak menulis Catatan Pinggir barang satu edisi saja. Ada berapa banyak pembacanya yang merasa kehilangan?

Kendati rasanya kurang pas dibanding-bandingkan, memang sih, tulisan-tulisan di Linimasa tidak sekaliber Catatan Pinggirnya Goenawan Mohamad. Hanya saja, tetap ada pembaca Linimasa yang selalu menantikan obrolan-obrolan Ko Glenn, Mas Gandrasta, Kang Agun, Mbak Leila, Mas Nauval, serta Mas Roy, yang dibekukan dalam bentuk tulisan.

Untungnya saja, menulis di Linimasa bukanlah aktivitas yang mengawang-awang. Di antara seribu tiga ratusan artikel yang telah ada, hampir semuanya ditutup dengan baik, tidak dibiarkan menggantung, menyisakan ketidakjelasan. Ibarat habis makan seporsi menu, ditutup dengan beberapa teguk air. Bukan untuk menambah rasa kenyang, melainkan untuk melegakan tenggorokan.

Lagipula, bilamana ada tulisan di Linimasa yang menyisakan keraguan dan pertanyaan, telah tersedia kolom komentar, atau pada beberapa kasus, sejumlah pembaca sudah sangat leluasa menghubungi si penulis langsung lewat media sosial.

Jika sudah menyangkut ketetapan hati, saya cenderung setuju dengan pernyataan Mas Roy dalam beberapa tulisan lalu. Dia, sebagai “bapaknya anak-anak”, sepenuhnya memperlakukan Linimasa bak diary, buku catatan harian tempat si empunya bebas menuliskan apa saja. Mulai dari kegelisahan eksistensial sampai kegilaan konseptual, dari perenungan spiritual sampai kelakar seksual. Oleh karena itu pula, Linimasa telah jadi taman bermain pribadi para penulisnya. Suka-suka. Sebuah prasyarat untuk kebebasan yang menggembirakan. Ada yang membaca atau tidak, terserah.

Tak pelak lagi, untuk setiap pertanyaan: “Linimasa ini sebenarnya mau diapakan, sih?” Kami, selain Mas Roy, akan serempak menjawab: “Ya, enggak tahu, terserah Mas Roy.” Untuk kemudian dijawab oleh yang bersangkutan: “Ya suka-suka gue, mau diapain, kek. Punya ide seru? Boleh dicoba, kalau mau, dan punya waktu.” Kurang lebih demikian.

… dan kalaupun keliru, ya Mas Roy tinggal membetulkan. Hahaha! 😄 Namanya juga taman bermain milik pribadi, yang kebetulan bisa ditengok oleh siapa saja yang lewat.

Dalam hal ini, kalau boleh saya bilang, Linimasa telah menjadi blog yang berketetapan hati tanpa peduli beragam situasi yang terjadi. Setidaknya selama empat tahun berjalan, dan entah sampai kapan. Semoga kita semua tak terbelenggu rasa bosan.

Semoga kita semua selalu punya hati untuk dibagi, setidaknya di sini, karena internet selalu butuh lebih banyak hati.

[]

Manusia Kejam Kepada Sesama Manusia, Apalagi Kepada Hewan dan Binatang

EH, ini kadal kalau disate rasanya gimana, ya?

Refleks saya langsung bereaksi selepas mendengar celetukan itu; berhenti mengunyah potongan daging ayam bakar Jumat siang dua pekan lalu. Mendadak cemplang rasanya, tak lagi gurih, manis, pedas, yang beraroma agak hangus.

Bercelana pendek, mereka kemungkinan besar masih murid SD atau baru masuk SMP. Berjumlah sekitar empat orang, salah satunya terlihat sedang memegang kadal berukuran tanggung dari ekornya. Panjangnya terlihat lebih dari 20 cm, warnanya kecokelatan, spesies tipikal yang kerap ditemui di kebun maupun pemukiman warga.

Kadal

Itu kadalnya

Takut kadal

Takut kadal

Berjalan dari arah seberang warung ayam bakar, para bocah tadi rupanya baru bubaran sekolah, menjelang salat Jumat. Bukan tanpa alasan mereka membawa-bawa kadal tersebut entah dari mana asalnya, untuk kemudian duduk berhimpun dan menongkrong di depan warung. Setiap ada yang lewat, terutama siswi dan anak-anak sebaya, mereka gunakan kadal yang tersungsang itu untuk menakut-nakuti. Banyak cewek yang teriak, bahkan berlari menghindari si pembawa kadal sampai ke jalan raya. Untungnya cuma nyaris terjadi kecelakaan. Setelah kurang lebih 15 menit, si bocah kadal bersama teman-temannya pun beranjak. Mendapat teguran, barangkali.

Antara sudah bisa merasa lega atau masih khawatir, saya berharap semoga si kadal tadi terlepas dari tangan anak-anak tersebut, berhasil melarikan diri, dan akhirnya mendapat lokasi menetap yang relatif lebih aman. Kalaupun sudah saatnya untuk mati, semoga kadal tersebut mati akibat hal-hal alamiah dan apa adanya (juga mencakup mati dimangsa, mati terjepit, mati terjatuh, mati terbakar bukan dibakar, dan sebagainya), bukan lantaran disiksa atau dijadikan mainan oleh manusia. Misalnya saja, dimutilasi hidup-hidup, diputar-putarkan macam laso dari buntut, dibakar hidup-hidup, ditusuk, serta skenario-skenario kejam lainnya—yang hampir semuanya lazim terlintas di benak anak-anak Indonesia.

Perihal yang satu ini, soal kekejaman terhadap binatang, judul di atas memang berpotensi tidak adil. Tak semua orang yang kejam terhadap binatang juga punya kecenderungan bersikap jahat kepada manusia lainnya. Begitu pula sebaliknya, ada sebagian orang yang bisa lebih lemah lembut dan berperasaan terhadap binatang, tetapi malah benci sekali kepada manusia lain.

Di sisi lain, tanpa terlampau menggampangkan perkara dan langsung menuding manusia sebagai sang antagonisnya, urusan kekejaman terhadap binatang ini didorong oleh banyak hal. Sebut saja adat dan budaya, sejumlah pandangan agama, tabiat, keingintahuan, keserakahan industrial dan uang, dan sebagainya. Hal-hal itu bukan hanya diajarkan sejak kecil, diteruskan dari generasi ke generasi, sengaja dilakukan secara sadar setelah dewasa, dan dengan kontra argumentasi yang relatif minim. Memunculkan, menguatkan, lantas mengekalkan anggapan keliru bahwa:

Itu tidak salah, kok… Di mana kesalahannya?

Ini menjadi masalah utama. Bagaimana memperbaiki, mengubah, mengkoreksi sesuatu yang tidak dianggap salah oleh pelakunya. Namun, sebelum kita bicarakan lebih lanjut, ada batasan-batasan persepsi—menurut saya—agar tidak menggantung dan melayang tak tentu arah.

> Setiap makhluk hidup (manusia dan binatang) pasti akan mati.
> Ada banyak faktor penyebab dan pendorong terjadinya kematian.
> Ada kematian yang tidak disebabkan oleh makhluk lain (insiden, sakit).
> Ada kematian yang disebabkan oleh makhluk lain.
> Hanya manusia yang memiliki kemampuan berpikir.
> Setiap kematian makhluk lain yang disebabkan oleh manusia, pasti memiliki motif dan alasan (mulai untuk bertahan hidup secara langsung, sampai sekadar iseng).
> Setiap kematian makhluk lain yang disebabkan oleh binatang, selalu karena insting.
> Kondisi “sengaja/tidak sengaja” hanya ada pada tindakan manusia.
> “Sengaja” berarti punya niat melakukannya, dan dilakukan secara sadar.
> “Tidak sengaja” berarti tidak punya niat melakukannya, atau malah tak disadari.
> Kondisi “puas” dan “nikmat” hanya bisa dirasakan oleh manusia.

Dari poin-poin di atas saja, sudah bisa menjelaskan adanya istilah animal cruelty, kekejaman (manusia) terhadap binatang, dan bukan kekejaman (binatang) terhadap manusia. Yang ada justru kekejaman manusia terhadap sesama manusia. 😓

“Manusia Adalah Makhluk Termulia”

Pernyataan ini berkutub ganda. Benar, jika dimaksudkan bahwa manusia adalah makhluk dengan fitur-fitur hidup yang canggih. Terutama mampu berpikir dan merenung, serta menindaklanjuti hasil pemikiran dan perenungan tersebut menghasilkan sesuatu. Oleh karena itu, manusia bisa “menjadi ikan” tanpa insang dan sirip; bisa “menjadi burung” tanpa sayap dan tungkai. Manusia membuat perubahan pada alam, bukan diubah secara natural oleh alam.

Keliru, jika dimaksudkan bahwa gara-gara kemuliaannya, manusia merasa berhak melakukan apa saja terhadap makhluk lain, yang dianggap rendah dan tak bernilai. Pokoknya, semua makhluk (selain sesama manusia, idealnya) dapat dijadikan objek untuk memenuhi kebutuhan, keinginan, serta “kesejahteraan” manusia semata. Dianggap hidangan lezat yang bikin candu, musuh atau monster, sampai dianggap sebagai mainan, persis seperti yang dilakukan bocah dan kadal tadi, atau para juragan topeng monyet, atau para pemburu gajah, atau para penjual gantungan kunci ikan hidup … menghela napas panjang

Topeng monyet

Pemandangan dalam perjalanan menuju Tangkuban Perahu, dua tahun lalu. Kasihan, ya.

Kenapa pandangan kedua disebut keliru? Sebab berpotensi menyebabkan malapetaka lingkungan, dan justru mengarahkan manusia menuju sifat-sifat negatif. Berikut ilustrasinya.

Manusia mengkonsumsi daging hewan: wajar (untuk nutrisi).
Manusia menjagal hewan secara massal karena ingin makan daging tiga kali sehari seumur hidup: serakah (tak mau/tak punya pengendalian diri).

Manusia melempar tombak pada buaya: wajar (mempertahankan diri).
Manusia membasmi semua buaya: benci (menunjukkan superioritas).

Cuplikan dari Time.

Manusia menghalau belalang: wajar (merasa terganggu)
Manusia menangkap belalang dan memutus tungkainya satu per satu: jahat (menghibur? Tak jelas) malah terkesan bodoh.

Manusia mengusir biawak: wajar (menjaga lingkungan)
Manusia menangkap biawak, mengikatnya, melemparkannya ke jalan agar dilindas: berlebihan (balas dendam? Tak jelas) juga terkesan bodoh.

Sebagai penjaga atau penguasa alam, silakan pilih peran yang tepat bagi manusia.

Manusia Berhak Menjadi Algojo bagi Makhluk Lain?

Sejatinya, manusia membunuh makhluk lain untuk tiga alasan: bahan makanan, mempertahankan diri, dan keperluan lain di luar dua hal tersebut. Pertanyaannya, mengapa manusia berhak melakukannya?

Oh, saya ubah sedikit pertanyaannya, apakah manusia berhak melakukannya?

Lagi-lagi, manusia sejatinya adalah binatang yang berpikir dan emosional. Jauh sebelum membangun peradaban dan kebudayaan, manusia telah melihat bagaimana kolega spesies mereka di planet ini—binatang-binatang lain—mencari makanan. Termasuk memangsa makhluk lain. Sedari awal, manusia mengetahui bahwa mereka adalah omnivora. Saat mengalami perasaan tidak nyaman di perut, mereka dapat menyantap daging dan tumbuhan. Di situasi yang ekstrem, bahkan bisa melakukan kanibalisme. Jadilah manusia makhluk pelahap flora, fauna, dan sesama manusia (secara harfiah).

Pengalaman mereka bertumbuh seiring pengetahuan. Beberapa di antaranya, menyantap daging segar lebih baik dibanding daging bangkai, bisa menyebabkan sakit perut dan muntah-muntah; api bisa membuat daging mengeluarkan aroma berbeda yang menarik, dan membuat daging lebih mudah dikunyah; lalu terus berkembang sampai sekarang bersama seperangkat standar maupun aturan tata boga.

Sama halnya dalam upaya mempertahankan diri, dan keperluan lain (pakaian, kesehatan dan kecantikan, interior, rumah tangga, dan lain-lain). Hanya manusia yang berkemampuan memanfaatkan makhluk lain guna berbagai tujuan, selain dimakan.

Hemat saya, ketika seorang manusia menyantap daging ayam, ikan, sapi, kambing, babi, atau jenis binatang-binatang lain, idealnya sama seperti ular memangsa kodok, elang memangsa ikan, harimau memangsa rusa, dan sebagainya. Persoalan muncul saat manusia tak lagi memangsa hewan lain, tetapi menguasai mereka. Beternak, mengembangbiakkan hewan-hewan konsumsi sedemikian rupa, mengkondisikan hewan-hewan tersebut agar hidup bukan demi kehidupan itu sendiri, melainkan untuk dimakan pada akhirnya. Bukan hanya itu, hewan-hewan tersebut pun disediakan untuk dijual, untuk mendapatkan uang, untuk memenuhi berbagai keinginan. Termasuk yang bernuansa ibadah.

Inilah penandanya, bahwa manusia telah menjadi algojo bagi makhluk lain. Penentu kehidupan, dan kematian. Sebuah efek samping dari anugerah kemampuan berpikir dan bersiasat. Itu sebabnya, kebiasaan atau perilaku berterima kasih “kepada” hewan yang kita santap sungguhlah terpuji. Bagi mereka yang religius, rezeki dan makanan enak memang berkah dari tuhan. Hanya saja, jangan lupa bahwa tetap ada penyembelihan, perebusan hidup-hidup, penggetokkan agar makanan enak tersebut hadir di hadapan kita.

Realitasnya, ada profesi bernama “tukang jagal”, dan kita masih berada dalam lingkungan sosial ekonomi dengan permintaan terhadap daging serta produk-produk hewani. Apakah pada hari itu kita membeli daging atau pun tidak, sang jagal tetap akan menjajakan dagangannya, dan PASTI ada yang membelinya. Dunia tanpa penjagal boleh dikata hampir utopia.

Apa yang dapat kita lakukan untuk menuju ke sana, atau setidaknya mengurangi arus permintaan daging (supaya mengurangi kematian)? Kendalikan diri, makan seperlunya, tak usahlah kemaruk.

Sanggup berdiet vegetarian? Jadilah seorang vegetarian, asal jangan bikin risi dan menganggap rendah orang lain yang masih mengkonsumsi daging. Lagipula, Anda bervegetarian atas dasar belas kasihan dan lingkungan, kan? Bukan ikrar keagamaan (iya, ada kok). Pasalnya…

Belas Kasihan Berlaku Menyeluruh

Teramat mudah bagi kita merasa iba, kasihan, dan peduli kepada kucing atau anjing, terlebih jika mereka masih kecil, daripada kepada … katakanlah kadal dalam kejadian di atas. Soalnya, anak kucing atau anak anjing terlihat lebih lucu dibanding anak kadal.

Namanya juga makhluk hidup, sehingga hak untuk hidup, mempertahankan hidup, dan meneruskan kehidupan (melalui generasi berikutnya) berlaku tanpa terkecuali. Apakah itu seekor gajah, seekor ular, seekor anak kucing, seekor tikus, seekor cacing, atau pun seekor nyamuk. Sebesar atau sekecil apa pun; sejinak atau seliar apa pun; selucu atau semenakutkan apa pun; seaman atau semengganggu apa pun makhluk tersebut, kita seyogianya tidak mematikan mereka. Apalagi kalau sampai merasakan kesenangan, kepuasan, serta keriaan waktu melakukan pembunuhan.

Bisa saja muncul pertanyaan: “Lho, jadi kalau ada binatang yang berbahaya, kita diam saja? Pasrah? Biar digigit, lalu malah kita yang mati. Bagaimana kalau ada hama, menyerang tanaman kita, lalu gagal panen, kita rugi, kita kekurangan bahan makanan…

Di sinilah bedanya. Sebagai makhluk yang lebih mulia dan pandai, kita punya pilihan untuk tidak melakukan pembunuhan. Terutama pembunuhan tanpa alasan dan latar belakang yang jelas, atau yang sekadar iseng. Alih-alih mematikan binatang lain, kita mampu memikirkan beragam metode untuk menghalau, menghindari kontak, dan mengurangi potensi gangguan yang dapat ditimbulkan. Lebih jauh lagi, kita bisa mencari tahu apa penyebab kemunculan binatang-binatang itu, dan mencegahnya. Di situlah ilmu biologi beserta percabangannya berfungsi bagi kebaikan semua.

Contoh, nyamuk betina mengisap darah manusia untuk bereproduksi. Rentang hidupnya pun sangat singkat, dengan risiko mati ditepuk, terinjak, dilahap cecak atau katak, dan lain-lain. Sebagai manusia, kita tentu terganggu dengan dengung nyamuk dan rasa gatal yang disebabkannya. Agar kita dijauhkan dari nyamuk saat tidur, digunakanlah kelambu. Praktis, kita tak perlu membunuh nyamuk saat itu. Akan lebih cerdas lagi bila kita mencari sumber-sumber genangan, dan membersihkannya supaya nyamuk betina tak bisa bertelur di sana. Lagi-lagi, kita tidak melakukan pembunuhan, karena jentik-jentiknya saja belum sempat ditetaskan.

Hindarilah pembunuhan semaksimal mungkin; hanya jika benar-benar terpaksa, bukan suka-suka dan sengaja. Kecuali bila Anda memilih berprofesi sebagai penjagal, tukang daging, peternak, dan sejenisnya. Profesi yang bertumpu pada kehidupan dan kematian makhluk lain. Paling tidak, kita jangan sampai jadi manusia yang menggemari penyiksaan dan menyenangi kematian makhluk lain.

Sementara itu, tak perlulah kita beralih dari satu ekstrem ke ekstrem yang lain. Dari seorang “pembantai”, menjadi seseorang yang sangat kaku, terisolasi, dan terlalu memaksa. Carilah jalan tengahnya dan tetap menapak ke bumi.

[]

Inovasi untuk Mencegah Pencopetan, atau Menemukan Dompet yang Dicopet

SEBAGAI seseorang yang kerap bicara (dan menulis) tentang detachment atau ketidakmelekatan pada banyak hal, perasaan tidak menyenangkan yang muncul setelah mengalami kecopetan untuk pertama kalinya ternyata memang sukar diabaikan begitu saja. Dimulai ketika menghadapi keterkejutannya, mengurus kerugiannya, dan menghadapi kerepotan-kerepotan yang mesti dijalani sesudahnya.

● Menghubungi satu demi satu call center bank untuk memblokir kartu ATM dan kartu kredit. Bisa dibayangkan, jika satu sesi telepon pelaporan ke call center bank untuk proses blokir membutuhkan 10 sampai 15 menit lengkap dengan prosedur pencocokan data dan sebagainya, maka dibutuhkan 40 sampai 60 menit apabila memiliki empat kartu berbeda. Seperti berjudi dan berpacu dengan waktu, tetap ada peluang bagi si pencopet menyalahgunakan kartu yang dicurinya.

Langkah pencegahan: Cara terbaik untuk menghindari pencopetan adalah jangan bawa dompet. Apanya yang mau dicopet, kalau dompet pun tidak bisa ditemukan? Cuma, kan mustahil tidak membawa dompet, ya. Sebab sebagai Warga Negara Indonesia (WNI), selalu ada kesempatan tak terduga saat kita diminta menunjukkan Kartu Tanda Penduduk (KTP), Surat Izin Mengemudi (SIM), dan berbagai kartu identitas lain. Bedanya, kartu-kartu tersebut tidak bisa diuangkan, tak berguna bagi para pencopet.

Sayangnya, pencopet mengambil dompet beserta seluruh isinya. Kartu-kartu identitas tadi akan dibuang, sementara kartu-kartu pengganti uang tunai lainnya yang akan mereka coba manfaatkan (dalam kasus saya, mereka berhasil melakukan sepuluh kali transaksi pembelian rokok, tanpa filter pengecekan kesamaan tanda tangan oleh kasir). Jadi, alangkah baiknya bila tidak perlu membawa semua jenis kartu perbankan. Cukup satu ATM, dan satu kartu kredit kalau diperlukan. Selebihnya, tinggalkan saja di rumah.

Namun, percayalah, mengurus pencetakan ulang kartu-kartu identitas di negara ini jauh lebih meletihkan dan merendahkan semangat hidup dibanding urusan perbankan.

● Melakukan klaim kehilangan, dan mengganti kartu-kartu identitas yang diperlukan di semua kantor terkait. KTP yang hilang, urusannya mulai dari pengurus apartemen, ketua RT, sampai Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) tingkat provinsi. SIM yang hilang, urusannya tentu ke kantor Satuan Pelayanan Administrasi (Satpas) setempat dengan liku-likunya. Beruntung kartu Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) bisa dicetak di mana saja, dan kartu penanda keanggotaan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan sudah berbasis digital dengan kode QR.

Langkah mempermudah: Tak semua orang mampu menghafal Nomor Induk Kependudukan (NIK) di KTP, apalagi ditambah nomor SIM. Pindai atau foto semua kartu-kartu administrasi, agar saat terjadi kehilangan tetap dapat melampirkan salinannya. Pengurusan pun dimungkinkan lebih lancar (dalam kasus saya, SIM tak berhasil dicetak di Jakarta, sehingga menjadwalkan diri pulang ke Samarinda pertengahan September mendatang. Daripada membayar dan berpeluang gagal dalam ujian-ujian pengurusan SIM baru, atau pun membayar Rp1,3 juta untuk dua SIM yang ditawarkan oleh calo di sekitar kantor).

Tidak berkendaraan pribadi di Jakarta, idealnya SIM A dan SIM C bisa ditinggal saja di rumah. Namanya juga kebiasaan, semua kartu dibawa. Untungnya, selama berkeliling mengurus surat-surat tersebut dengan meminjam kendaraan teman (terima kasih!), tak ada pemeriksaan lalu lintas.

Dalam mengurus pencetakan ulang kartu-kartu tersebut, semuanya pasti dimulai dengan pengetahuan yang minim tentang apa yang harus diajukan, ke mana harus pergi, dan seterusnya. Pastikan bertanya dan mendapatkan informasi sejelas-jelasnya sebelum meninggalkan sebuah kantor, yang petugasnya berkata: “Oh, kalau mengurus ini bukan di sini, tetapi di sana…” supaya tidak buang-buang waktu di jalan (dalam kasus saya, tempat-tempat yang didatangi adalah kantor kelurahan, kantor Suku Dinas Dukcapil kota, diarahkan ke Disdukcapil provinsi. Data KTP elektronik sudah ada dan sama persis, tetapi harus melengkapi syarat di kantor kecamatan, lanjut ke pengurus apartemen, mencari ketua RT yang tinggal di kawasan berbeda termasuk memberikan “sumbangan” Agustusan, dan begitu seterusnya).

Apa fungsinya kartu ini?

Saya #penasaran, mengapa mereka cenderung suka memberikan informasi yang sepotong-sepotong? Apa karena “Ya, situ tidak tanya, sih…” begitu?

Hanya dua hal di atas, cukup membuat saya lumayan dysfunctional atau tak berfungsi sebagaimana mestinya dalam sepekan terakhir kecuali terkait urusan kantor, termasuk bolos menulis pekan lalu kendati tulisannya sudah hampir jadi (kecopetannya pun terjadi saat ingin pulang dari kafe tempat mengetik 😅). Berbagai aktivitas dijalani dengan penuh godaan untuk mengeluh, meratap, dan suasana hati yang tidak menyenangkan … sesuatu yang semestinya bisa saya lalui dengan lebih ringan, lantaran sekeras dan sesering apa pun keluhan dilontarkan, tak mengubah fakta bahwa saya harus menyelesaikannya. Berat? Bring it on! Sampai selesai, pokoknya.

Dari pengalaman tidak menyenangkan tersebut, ada beberapa hal yang saya sadari. Pertama, saya menjadi seseorang yang jauh lebih selfish dan relatif buta-tuli dengan kondisi di sekitar. Fokus hanya pada ketidaknyamanan dan kemalangan pribadi; agak tidak peduli dengan bencana gempa bumi yang terjadi, lumayan bodoamat dengan riuh soal calon presiden dan siapa calon wakil presiden masing-masing, serta terlampau sering melontarkan keluhan kepada siapa saja yang diinginkan. Entah apa dampaknya terhadap kenyamanan diri, tetapi ya tetap saja dilakukan. Mungkin sampai lawan bicara berganti perasaan, dari kasihan, jadi bosan.

Terlepas dari itu, saya terpikir beberapa hal yang tampaknya menarik dan cukup oke mengantisipasi tindak pencopetan, serta mengurangi kerepotan yang dapat terjadi setelahnya.

Pemantauan Belakang
Bisa berupa kamera pantau, bisa juga berupa sinyal pendeteksi gerakan yang memenuhi kondisi tertentu. Kurang lebih seperti memiliki mata di belakang kepala, bisa berupa topi, liontin yang menghadap ke belakang, atau komponen tertentu di tas ransel. Agar si pemilik dompet bisa mendapatkan peringatan, dan punya kesempatan mengecek atau memindahkan dompetnya ke posisi yang lebih aman. Akan lebih keren lagi bila ditambahkan fitur memotret wajah pelaku, dan langsung mengirimkannya ke pihak berwenang terdekat sebagai langkah pengamanan.

Tas atau Dompet Beralarm
Bagaimana pun mekanismenya, dompet dan tas akan mengeluarkan bunyi nyaring saat dipegang atau dibuka paksa oleh orang asing. Tujuannya, kan, pengamanan. Bunyi yang nyaring, seberapa pun mengganggunya, berfungsi dengan baik mencegah terjadinya tindak pencopetan. Bahkan membuat orang lain di sekeliling turut waspada. Tak lebih repot daripada tak atau dompet berkunci gembok, yang lebih merepotkan saat digunakan.

Tas atau Dompet Berpelacak
Kayaknya sudah ada yang menjual produk ini. Memanfaatkan koneksi Bluetooth, pemilik bisa mengecek di mana posisi dompet mereka. Tantangannya tentu saja ketersediaan daya pada dompet, agar sanggup memancarkan sinyal Bluetooth selama digunakan. Jadi, walaupun isi dompet sudah dikuras pencopet, setidaknya bisa berharap supaya KTP dan SIM tetap ditinggalkan di slotnya.

Bisa juga memadukan pelacak dengan alarm. Pada saat dompet terpisah dari pemiliknya sampai jarak tertentu, alarm berbunyi. Layar ponsel juga menunjukkan notifikasi serta lokasi terkini dompet tersebut. Pencopet bisa dikejar.

Tombol Panik
Aktivitas perbankan yang kian digital saat ini, memungkinkan adanya keterkoneksian secara langsung. Akun-akun bank dan kepemilikan kartu kredit terpantau serta bisa dipantau melalui ponsel. Dengan verifikasi sedemikian rupa, pemilik bisa langsung menekan tombol darurat memblokir status aktif kartu. Selepas itu, barulah tim bank menghubungi dan mengkonfirmasi tindakan pemblokiran itu. Toh, dalam kondisi diblokir sekalipun, pemilik kartu tetap mendapatkan pernyataan tagihan, kan? Pemilik pun bisa meminta pembukaan blokir setelahnya, baik dengan nomor kartu yang sama atau berbeda. Intinya, langkah sigap mencegah terjadinya kerugian lebih lanjut.

Dari sisi teknologi KTP elektronik—yang katanya sudah dipasangi cip tertentu itu—sudah mentok. Tak mungkin dilengkapi pelacak lokasi. Begitu hilang, tentu harus menyediakan tenaga, waktu, dan biaya untuk mengurusnya kembali. Terlebih lagi SIM, yang memang hanya berupa kartu penanda identitas pengendara.

Sementara itu, belum semua mesin Electronic Data Capture (EDC) di kasir-kasir toko dikhususkan hanya untuk menerima Personal Identification Number (PIN) atau kode One-Time Password (OTP) saat digunakan berbelanja. Ketika tanda tangan tidak dicocokkan kasir, selesailah sudah. Notifikasi pembelanjaan yang biasanya dikirim lewat SMS pun baru masuk setengah jam setelah kejadian. Bisa dipastikan, kartunya pasti sudah dibuang. Menyisakan pemilik sah kartu harus berurusan dengan bank, pun dengan peluang tetap diwajibkan membayar tagihan yang timbul.

Padahal transaksi-transaksinya terjadi sekitar pukul 20.45 Wib.

Ya, apa pun itu, semoga saya, dan kita semua tidak mengalami hal seperti ini (lagi). Lebih penting lagi, semoga makin banyak orang yang menyadari bahwa mencopet atau menjadi pencopet bukanlah hal yang patut dilakukan. Dampaknya pun tidak menyenangkan.

Cepat atau lambat, ya … bakal mati juga, sih.

[]

A girl in Morges sits at the end of a dock and stares at the mountains

Yang Pandai Diam-diam Saja… Yang Dungu Malah Berisik…

BARU ketemu satu twit video menarik beberapa hari lalu. Disimak, deh.

Kalau twitnya tidak termuat sempurna, bisa langsung lihat di sini:

Intinya, para sarjana pun kerap berpandangan keliru. Gelar akademis bukanlah jaminan mampu berpikir runut, teratur, sistematis, dan berimbang, agar terbebas dari pemikiran yang timpang.

Iya. Tulisan di Linimasa hari ini kembali tentang berpikir dan bersikap kritis, manfaat berpandangan skeptis dalam berkehidupan, dan pentingnya bertindak adil (imbang) terhadap diri sendiri maupun segala hal. Terlebih menyangkut pilihan dan keputusan untuk percaya atau tidak percaya pada sesuatu, serta bagaimana kita menindaklanjutinya*.

Komponen-komponen (beserta contohnya) sebagai berikut:

Ada sesuatu
“Planet bumi berbentuk bulat.”

● Sesuatu tersebut dipercaya, atau tidak dipercaya. Dipercaya berarti diiyakan, sedangkan tidak dipercaya berarti ditentang
“Ya, planet bumi itu memang berbentuk bulat.” atau
“Tidak, planet bumi itu tidak berbentuk bulat.”

● Mempercayai sesuatu, seseorang cenderung menyebarluaskannya, baik dengan atau tanpa menjabarkan alasan terverifikasi
“Pokoknya planet bumi itu berbentuk bulat.”

● Tidak mempercayai sesuatu, seseorang juga cenderung menyebarluaskannya, baik dengan atau tanpa menjabarkan alasan terverifikasi
“Pokoknya planet bumi itu tidak berbentuk bulat.”

● Yang mempercayai sesuatu tersebut, akan menyalahkan pendapat yang tidak mempercayai
“Kamu/dia salah! Planet bumi itu berbentuk bulat.”

● Yang tidak mempercayai sesuatu tersebut, akan menyalahkan pendapat yang mempercayai
“Kamu/dia salah! Planet bumi itu tidak berbentuk bulat.”

Sampai di tahap ini, atas nama gengsi dan ego, biasanya hanya ada kemungkinan kecil bagi kedua pihak untuk membuka pikiran, menilik argumentasi sisi seberang, membedahnya tanpa dorongan emosional (suka/tidak suka), dan sungguh-sungguh membuktikan benar/tidak benarnya pernyataan yang sedang dipermasalahkan. Agar kemudian disepakati sebagai sesuatu yang tidak keliru, bisa diterima, dan secara akal sehat memang sewajarnya diterima, sampai nantinya ada fakta baru yang mesti didiskusikan. Persis seperti yang disajikan dalam video pembuka di atas.

Tahu Secara Menyeluruh

Singkatnya, seseorang yang benar-benar tahu dapat menjelaskan sesuatu dari segala aspek dasarnya. Tidak setengah-setengah menjabarkan mengapa “situasi ini” bisa disebut benar, sedangkan “situasi itu” bisa disebut salah. Bukan asal mengklaim benar dan salah, menyerukan orang lain agar percaya pandangannya, serta mencela pandangan-pandangan yang berseberangan, tanpa diskusi lebih lanjut.

Pengetahuan sejatinya mengarah pada kebenaran. Dalam artian, pengetahuan terdiri atas sekumpulan informasi yang menunjukkan bahwa “ini memang demikian adanya” versus “sesuatu itu tidaklah demikian”.

Berangkat dari dua kalimat sederhana di atas, selalu ada kondisi dan alasan yang menyebabkan “ini” “memang demikian adanya”, dan “sesuatu itu” “tidaklah demikian”. Kondisi dan alasan tersebut bisa diamati sendiri melalui kelima indra dalam proses yang alamiah, atau pun disampaikan oleh orang lain yang telah mengamatinya terlebih dahulu.

Bersikap dan berpikir kritis memiliki fungsi penting, yakni untuk benar-benar memastikan bahwa keadaan yang “memang demikian adanya” memang sungguh-sungguh demikian adanya, begitu pun sebaliknya. Tanpa terganggu pandangan yang bias, kesimpulan yang keliru, apalagi ketidaksukaan dan sabotase.

Dengan semua karakteristik di atas, pengetahuan bersifat menyeluruh. Mencakup semua kondisi, baik yang benar maupun tidak benar; yang semestinya maupun tidak semestinya. Sebab semua argumentasi sudah teruji, hingga kemudian dapat dikelompokkan sebagai “benar” dan “tidak benar”, “semestinya” dan “tidak semestinya”.

Analoginya seperti ini.

“Ada sesuatu, bentuknya benda cair”
“Benda cair itu air”
“Semua yang cair belum tentu air”

Beranjak dari dialog di atas, seyogianya dilanjutkan dengan adu argumentasi, pengamatan, dan pembuktian apakah benda cair tersebut ialah air atau bukan. Bukan malah bertengkar atau bertikai memperebutkan predikat sebagai pihak yang benar.

Pengetahuan Selalu Berkembang

Satu temuan mengantarkan kepada temuan baru yang lain. Satu pemahaman berujung kepada pemahaman baru yang lain. Proses berpikir, berhitung, mengamati, dan beragam metode lain yang diperlukan pun mesti dilakukan lebih mendalam.

Persis seperti semesta berdasarkan Hukum Hubble: terus berkembang (tentu saja masih berupa teori, sebab belum ada satu orang pun yang sanggup mengamati langsung gerakan semesta mengembang dengan matanya sendiri). Jika ditarik mundur satu atau dua abad lalu, mustahil bisa berpikir begitu konkret soal ini.

Demikianlah pengetahuan, berupa kumpulan-kumpulan fakta saling terkait dan akan selalu bertambah. Tak akan berhenti. Oleh sebab itu, agak kurang bijak apabila satu poin pengetahuan dijadikan titik henti mutlak, dan menolak untuk beranjak ke perkembangan pengetahuan berikutnya. Padahal, mekanisme verifikasi tetap tersedia dan siap digunakan dalam memastikan benar/tidak benarnya sesuatu tersebut.

Pastinya, pengetahuan itu tak pernah mandek. Maka, pikiran manusia pun seharusnya tidak mandek, dibuat mandek, apalagi dipaksa mandek.

Teruslah Menyelidiki dan Mempertanyakan

Meminjam serangkaian petuah.

  • Jangan begitu saja mengikuti apa yang telah diperoleh karena berulang kali didengar;
  • atau yang berdasarkan tradisi;
  • atau yang berdasarkan desas-desus;
  • atau yang ada di kitab suci;
  • atau yang berdasarkan dugaan;
  • atau yang berdasarkan aksioma;
  • atau yang berdasarkan penalaran yang tampaknya bagus;
  • atau yang berdasarkan kecondongan ke arah dugaan yang telah dipertimbangkan berulang kali;
  • atau yang kelihatannya berdasarkan kemampuan seseorang;
  • atau yang berdasarkan pertimbangan bahwa hal itu disampaikan guru.

Pasti ada yang bertanya: “Lho, itu kok nyebut-nyebut kitab suci supaya jangan begitu saja diikuti. Ini petuah apaan?”

Itu tadi adalah ucapannya Sang Buddha (ini bukan Buddhaisasi, lho, ya, daripada saya sok tahu mengutip pernyataan dari tokoh agama lain, lebih baik mengambil dari agama sendiri, hehehe…) yang disampaikan kepada para anggota suku Kalama, dan dicatat sebagai Kalama Sutta.

Mengapa Buddha menyampaikan hal tersebut? Lantaran para anggota suku Kalama ketika itu bingung dengan banyaknya ajaran, opini, dan pandangan yang beredar dan dikumandangkan di kota mereka setiap hari. Tak hanya banyak, ajaran, opini, dan pandangan tersebut saling berbantahan satu sama lain.

Serangkaian petuah di atas menjadi semacam panduan awal sebelum memilih sesuatu untuk ditelaah dan didalami lebih jauh. Menurut saya, kurang lebih begini.

  • Sesuatu yang berulang kali didengar belum tentu benar;
  • Sesuatu yang berdasarkan tradisi belum tentu benar;
  • Sesuatu yang berdasarkan desas-desus jelas belum tentu benar;
  • Sesuatu yang ada di kitab suci belum tentu seharfiah itu, tetap memerlukan tafsiran dari banyak ahli;
  • Sesuatu yang berdasarkan dugaan belum tentu benar;
  • Sesuatu yang berdasarkan aksioma belum tentu benar, kan masih berupa aksioma;
  • Sesuatu yang berdasarkan penalaran yang tampaknya bagus belum tentu benar;
  • Sesuatu yang berdasarkan kecondongan ke arah dugaan yang telah dipertimbangkan berulang kali masih berpeluang bias;
  • Sesuatu yang kelihatannya berdasarkan kemampuan seseorang belum tentu benar;
  • Sesuatu yang berdasarkan pertimbangan bahwa hal itu disampaikan guru sendiri juga belum tentu benar.

Pertanyaan: “Kalau isi kitab suci belum tentu seharfiah itu, berarti kitab suci agama Buddha juga dong?”
Jawaban: Saat Buddha masih hidup, belum ada kitab suci agama Buddha (Tipitaka/Tripitaka). Kemudian, yang disebut sebagai kitab suci dalam agama Buddha, sesungguhnya adalah kumpulan khotbah dan ceramahnya selama hidup, kumpulan peraturan-peraturan kedisiplinan, dan tambahan penjelasan analitis terhadap topik-topik khusus. Fungsinya bukan untuk dianggap suci, disakralkan, atau diperlakukan secara khusus selayaknya pusaka, melainkan untuk dibaca, didiskusikan, dipahami, dan dipraktikkan. Berbeda dengan kitab suci-kitab suci agama Samawi yang berasal dari wahyu.

Pertanyaan: “Kalau kita diminta jangan mengikuti begitu saja sesuatu yang disampaikan guru sendiri, berarti termasuk ucapan Buddha, dong?”
Jawaban: Iya, memang. Selama hidup dan mengajar, lalu wafat dan ajarannya menjadi sebuah institusi agama, Buddha tidak menyarankan murid dan pengikutnya agar percaya dia. Yang Buddha lakukan, kasarnya adalah membagikan hal-hal yang telah membuatnya berhasil merealisasi kebuddhaan; menjadi seorang Buddha. Mau diikuti silakan, tidak mau diikuti ya tidak apa-apa. Buddha justru mendorong murid dan pengikutnya supaya membuktikannya sendiri atas dasar skeptisisme netral (demi menghindari fanatisme, menjadi bigot, kepercayaan membuta, dan intoleransi, kata Bhikkhu Soma Thera). Melakukan penyelidikan apakah ajaran Buddha memang mampu membuat orang lain menjadi Buddha, atau tidak. Caranya, yaitu dicoba dan dipraktikkan.

Bukan sekadar tidak suka atau ragu, tetapi aktif mencari tahu.

Pertanyaan: “Lalu mengenai problemnya suku Kalama, yang bingung memilih ajaran yang benar dan harus diikuti, apa saran dari Buddha? Kan Buddha tidak mempromosikan ajarannya sendiri.”
Jawaban: Setelah memilah, kemudian diselidiki sendiri dengan cara dicoba dan dipraktikkan, seseorang pasti mendapatkan pengalaman, pemahaman, dan pandangan atas apa yang dijalankannya. Di bagian ini, ada satu kalimat penutup dari Buddha kepada Kalama;

▶︎ bila kalian sendiri mengetahui: ‘Hal-hal ini buruk; hal-hal ini salah; hal-hal ini dicela oleh para bijaksana; bila dilakukan dan dijalankan, hal-hal ini akan menuju pada keburukan dan kerugian’, tinggalkanlah hal-hal itu.”
▶︎ “… bila kalian sendiri mengetahui: ‘Hal-hal ini baik; hal-hal ini tidak dapat disalahkan; hal-hal ini dipuji oleh para bijaksana; bila dilakukan dan dijalankan, hal-hal ini akan menuju pada keuntungan dan kebahagiaan’, masuklah dan berdiamlah di dalamnya.”

Sebagai catatan, keuntungan di sini tentu bukan soal materi dan hal-hal duniawi lainnya. Dalam terjemahan bahasa Inggris, kata yang dipilih adalah “benefit” dan lebih menitikberatkan pada faedahnya. Menurut Buddha, faedah tertinggi dari sesuatu adalah kemajuan batin. Terkikisnya keserakahan (ketidakpuasan), kebencian (ketidaksukaan), dan kebodohan rohani (ketidaktahuan).

Oke. Sekarang mari kita lupakan tentang Buddha dan Buddhisme. Pertanyaannya, bisakah napas skeptisisme dan prinsip-prinsip penyelidikan tadi kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari? 😊

[]

*Bacaan lain di Linimasa yang terang-terangan soal skeptisisme:
– “Meringis Skeptis” dari Mbak Leila.
– “Jadilah Pendukung yang Biasa-Biasa Saja” dari Kang Agun.

Dan Dunia Pun Semakin Kejam Kepada Orang-orang Jelek

YANG jelek wajahnya, terutama. Sebab itu yang bisa dilihat sejak pertama kali berjumpa. Bertemu langsung, atau melalui dunia maya. Bukan jelek pemikirannya, jelek hati dan kehendaknya, apalagi jelek keimanannya.

Bukan salahnya manusia pula memiliki mata yang berfungsi untuk melihat benda-benda kasatmata, mengetahui dan mengenali apa yang dilihat, lalu memiliki perasaan atau kesan terhadap sesuatu yang dilihat tersebut. Indah/jelek, menarik/biasa saja, suka/benci, gandrung/tak acuh, senang/jijik, dan lain-lain.

Berbekal perasaan dan kesan tadi, si manusia akan bertindak sesuai konteks maupun keinginannya. Mereka akan cenderung mendekati dan menyukai segala yang indah-indah dan menarik perhatian. Sebaliknya, mereka akan cenderung menjauhkan diri, bahkan membenci yang buruk dan jelek. Kecenderungan ini kita lakukan sejak masih bayi, dan biasanya bakal menguat seiring bertambahnya usia. Membentuk preferensi dan selera.

Cakep itu relatif, jelek itu mutlak.

Mekanisme di atas terjadi begitu saja, dan secara alamiah membuat kita takluk pada rupa. Tanpa kita sadari, sayangnya kita memberikan penilaian serta perlakuan berbeda berdasarkan pandangan mata, dan inilah yang membuat dunia seakan tidak adil bagi sebagian orang. Mendorong mereka untuk lebih mengejar hal-hal yang fana.

Dengan gampangnya, kita bisa memperolok-olok orang (yang dianggap berwajah) jelek sebagai polusi pemandangan. Seolah-olah tampilan wajah mereka memberi efek mengganggu ketertiban lingkungan setempat. Dalam posisi ini, si pengejek tentu merasa dirinya lebih cantik atau tampan ketimbang sasarannya.

Tak usahlah saya tampilkan cuplikan video komentar juri dalam ajang menyanyi yang viral belakangan ini.

Mendapat perlakuan tidak menyenangkan seperti itu, ada yang tak acuh dan bahkan yang tidak sadar tentang hal tersebut. Selebihnya, ada pula yang terdampak cukup keras. Mereka mengiyakan olok-olok tersebut, menganggap diri mereka memang jelek, kemudian mengusahakan berbagai cara untuk “menghilangkan” faktor-faktor yang membuat mereka jelek.

Kulit gelap? Maka jangan heran mengapa produk pemutih kulit dari berbagai rentang harga, termasuk layanan suntik putih selalu banyak peminatnya. Wajah berminyak dan berjerawat? Maka jangan heran mengapa produk perawatan wajah juga laris manis. Beraneka produk kosmetik dan riasan untuk perubahan total dan berlebihan. Sampai operasi plastik di luar negeri berbiaya fantastis.

Tak sedikit kasus ketika perubahan wajah juga menimbulkan perubahan perlakuan. Kala jelek dihina-hina dan disepelekan, setelah berubah (menjadi tidak jelek lagi), orang yang dahulunya mengejek malah berusaha mendekat.

Duh, sudah cakep, baik, wangi, pinter pula…

Bagi yang belum berpasangan, berharapnya bisa mendapat pacar yang rupawan. Karena itu, selalu ada anggapan bahwa yang cakep-cakep pasti sudah ada yang “punya”, kalaupun sendirian berarti baru habis putusan, atau malah bikin berpikir yang bukan-bukan. Buka Instagram, Tinder, dan beraneka media sosial lainnya pun, pasti tertarik dengan wajahnya terlebih dahulu. Setelah sekali dua kali jalan bareng, atau berkencan, baru mulai ketahuan kekurangannya, untuk dipertimbangkan berlanjut atau udahan.

Bagi yang sudah punya pasangan, dan merasakan sedikit ketidakpuasan atau rasa bosan, pasti bisa membandingkan sang pasangan dengan orang lain. Kebanyakan, para suami yang mengkritisi penampilan istri. Harus cantiklah, harus berdandanlah, harus seksilah, harus wangilah, harus langsinglah, dan seterusnya. Namun, sebaliknya, para suami-suami tersebut pun bukannya memiliki profil fisik yang menawan. Para pemuda tetap akan menjadi om-om, dan kakek-kakek pada waktunya. Masalah ini kadang makin pelik dengan keterlibatan orang tua dan orang-orang di sekelilingnya. Para orang tua berharap memiliki menantu yang rupawan. Demi kepantasan. Dalihnya.

Kenapa mesti diakhiri “… hati suami udah tertaut pada anda“? Lah, kalau suaminya jelek juga, bagaimana? Dicuplik dari twit: https://twitter.com/inganggita/status/1020314541580681217

Mundur, Mas. Kamu jele…”

Ada yang tidak tahu bahwa mereka cakep.
Ada yang tahu bahwa mereka cakep.
Ada yang biasa-biasa saja setelah tahu bahwa mereka cakep.
Ada yang tidak tahu bahwa mereka jelek.
Ada yang tahu bahwa mereka jelek.
Ada yang bisa menerima bahwa mereka jelek.
Ada yang tidak bisa menerima bahwa mereka jelek.

Ada yang lemah terhadap orang cakep.
Ada yang biasa saja terhadap orang cakep.
Ada yang risi terhadap orang jelek.
Ada yang biasa saja terhadap orang jelek.

Walau bagaimanapun juga, perkara perbedaan perlakuan lantaran wajah cakep versus wajah jelek ini pasti tak akan berakhir dan hilang begitu saja sampai akhir zaman. Di tingkatan yang paling dasar sekalipun, selalu ada pengecualian untuk orang-orang cakep. Tak adil memang, hanya saja, lagi-lagi manusia sudah terkondisi secara alamiah untuk begitu: menggandrungi yang indah, dan menjauhi yang buruk.

Untung cakep…”

Para orang tua, guru dan lembaga pendidikan, maupun lingkungan keagamaan memang mengajarkan don’t judge the book by its cover kepada anak-anak mereka. Harapannya, agar anak-anak tersebut bisa berlaku baik kepada siapa saja, tanpa membeda-bedakan penampilan. Namun, pengajaran ini baru bersifat normatif, sesuatu yang dilakukan demi kepantasan sosial. Selanjutnya, anak-anak tersebut pun tetap akan tumbuh memiliki preferensi dan selera fisik masing-masing. Mulai menaksir seseorang lantaran wajah dan penampilannya, tingkat kekerenannya, dan lain-lain.

Jangan lupa, media dan suguhan-suguhan audiovisual pun mengumandangkan nuansa yang sama. Menonton televisi, ada acara yang menjadikan wajah orang lain sebagai objek kelakarnya, lalu memunculkan anggapan massa bahwa wajah si orang lain tersebut bisa disebut jelek. Dahulu ada Zainal Abidin Zetta, yang kemudian malah lebih terkenal sebagai Diding Boneng. Padahal boneng itu sendiri merujuk pada keadaan yang bisa dijadikan bahan olok-olok. Berlanjut ke sederetan nama-nama tokoh lainnya yang justru diidentikkan sebagai hinaan bersifat fisik. Tampilan muka, lebih tepatnya.

… dan dunia pun bersikap semakin kejam terhadap orang-orang yang dianggap kurang rupawan.

Tuh, baca caption-nya. Foto: Tribunnews

Dari sini, kita semestinya memahami bahwa setiap orang memiliki tingkat kedewasaan dan kebijaksanaan yang berbeda-beda, termasuk diri kita sendiri. Mustahil untuk dijadikan sama rata. Ada yang benar-benar mengerti bahwa wajah dan tampilan fisik hanya sebatas kulit. Namun, meski setipis-tipisnya kulit, tetap saja bisa membuat orang tergila-gila. Menyukai maupun membenci.

Kalau begitu, janganlah terburu-buru mencibir apalagi mengutuk kedangkalan pemikiran dan sikap orang lain. Lebih baik memerhatikan diri sendiri terlebih dahulu, dan memastikan agar kedewasaan sikap yang sudah kita punya tidak tergerus, dan malah terikut arus, merasakan keseruan dengan mengolok-olok wajah orang. Bila bertemu dengan orang lain, entah seperti apa pun tatanan wajahnya, ya sudah, biarkan saja dan tetap berharap yang terbaik untuk dia. Tetaplah bersikap layaknya manusia yang berbudi dan beradab. Andai tak tahan ingin tertawa, cobalah untuk mohon diri. Kamu barangkali memang tidak sekuat itu.

 

 

 

 

 

Tertanda,

Orang jelek.

[]

Mass singing One Love

Semua Agama Itu Sama

SAMA-SAMA tergantung dan diarahkan oleh interpretasi manusia, para penganutnya. Baik yang termasuk (1) golongan orang-orang terpilih, para ulama, para pandit, para pembabar ajaran, dan mereka yang mendalami segala aspek dalil-dalilnya agar bisa lebih mudah dipahami oleh; (2) umat awam sebagai golongan pendengar dan pelaksana, yang jumlahnya akan selalu lebih banyak dibanding para pemuka.

Kendati berasal dari tuhan langsung, keterlibatan manusia berperan penting dalam pembentukan agama. Pasalnya, setiap manusia diciptakan dengan pemahaman spiritual yang berbeda-beda. Agak disayangkan, agama tidak diturunkan tuhan berupa seperangkat sistem utuh, terstruktur, dan sistematik. Melainkan potongan demi potongan yang mesti disatukan sendiri.

Apa pun karakteristiknya—berasal dari wahyu maupun non-wahyu, petunjuk dari tuhan atau pengalaman adikodrati—yang kemudian dijadikan agama—pada awalnya pasti disampaikan kepada atau dialami perorangan. Kala itu, detail peristiwa atau interaksi antara pencipta dan ciptaannya hanya benar-benar diketahui oleh yang terlibat di dalamnya. Ya … oleh tuhan dan manusia pilihannya tersebut. Termasuk firman ilahi yang disampaikan atau berbunyi secara verbatim, kata per kata.

Beberapa waktu setelahnya, barulah pengalaman ilahiah tersebut dibagikan kepada orang lain. Umumnya orang-orang dari lingkar terdekat sang manusia pilihan tersebut. Entah nabi atau guru. Misalnya, antara Yesus dan 12 muridnya, atau antara Buddha dan Pancavagiya (lima petapa yang jadi pengikut pertamanya). Dari sinilah interpretasi manusia mulai berpengaruh dalam pemaknaan landasan agama.

Terbagi atas sejumlah fase.

Diawali dengan pencatatan pengalaman atau kejadian ilahian tadi. Sang manusia pilihan akan bertutur, orang-orang lain dari lingkar terdekatnya pun akan berusaha mengingat, atau bahkan mencatatnya ke medium tertulis. Menghasilkan catatan suci dan dikultuskan, lantaran diutarakan oleh atau melalui manusia pilihan, manusia yang pernah berhubungan langsung dengan tuhan. Tujuan dasarnya adalah sebagai bentuk penghargaan, keyakinan dan keimanan, serta selalu diingat dan diteruskan ke generasi berikutnya. Dari perspektif sejarah, tidak ada satu pun kitab suci yang langsung diturunkan berwujud buku; bersampul, berjilid, berhalaman-halaman, dan seterusnya. Setebal atau setipis apa pun kitab suci sebuah agama, tetap merupakan hasil pencatatan ulang. Katakanlah Mazmur (Psalm atau Zabur) memang berasal dari Daud, sang raja dan nabi dalam tiga agama samawi utama, tetapi bukan Daud yang mencatat dan membukukannya.

Selain itu, hanya ada sedikit nabi atau guru yang berkemampuan untuk mencatatnya sendiri. Contohnya Laozi, pendiri ajaran Daoisme, atau Konfusius, nabi ajaran Konghucu. Keduanya menulis buku-buku yang selanjutnya dianggap sebagai kitab suci ajaran masing-masing.

Statue of Laozi, Henan, China.

Patung Laozi dan Daodejing, Gunung Laojün, Henan. Foto: foxdw.com

Catatan-catatan suci tidak dihasilkan dalam bentuk yang mudah dipahami begitu saja. Seringkali berbentuk syair, atau pernyataan-pernyataan bernuansa sastrawi yang perlu ditelaah lebih lanjut. Ditambah lagi keterbatasan akses publik di masa itu, ketika rakyat jelata yang buta huruf mustahil menyentuh apalagi membacanya kembali. Sehingga di fase berikutnya, para pemikir dan pembelajar agama menyampaikan buah-buah pikiran mereka, baik untuk tujuan keilmuan maupun mempermudah ibadah dan perilaku religius dalam kehidupan sehari-hari.

Setelah mengkaji serta mendalami catatan-catatan suci, mereka menggariskan intisari, penjelasan tafsir, dan komentar guna memperjelas ayat demi ayat yang ada. Karena berkaitan dengan hal-hal yang disukai dan dibenci tuhan, ada juga sejumlah cendekiawan yang merumuskan peraturan. Poin-poin ini yang diajarkan dan disosialisasikan kepada umat awam, dengan tujuan penyederhanaan, kemudahan, dan kepraktisan menerapkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Mereka seakan-akan berujar: “Daripada kebingungan, keliru, dan tidak sanggup mengkaji sendiri, nih, saya sudah bikin formulasinya. Cukup jalankan saja yang ini.

Setiap buah pikiran yang disampaikan tentu tidak diterima bulat-bulat begitu saja. Ada mekanisme verifikasi yang dijalankan oleh sesama ahli agama. Mana yang dianggap cocok, pantas, dan patut akan disebarluaskan, bahkan diajarkan kepada masyarakat. Sebaliknya, yang dianggap bertentangan, tercemar, dan menyesatkan akan diberedel, disita, dan terlarang untuk dipublikasikan. Itulah sebabnya ada empat Injil dalam Alkitab Perjanjian Baru, serta menempatkan Injil-Injil lainnya sebagai Apokrifa, atau pun proses kategorisasi hadis yang sahih, hasan, dan daif.

Nicea Council.

Lukisan Konsili Nicea pertama, seleksi ajaran yang termasuk dalam dasar kekristenan modern. Foto: newyorkapologetics.com

Pokok-pokok ajaran dan aturan-aturan keagamaan baku yang diterima melalui kesepakatan golongan alim tadi, disodorkan kepada umat awam. Seyogianya supaya dijalankan dengan baik dan menyeluruh. Tokoh-tokoh agama tersebut pun memposisikan diri mereka sebagai para penjaga; menjaga agar agama dijalankan sebaik-baiknya, menjaga agar aturan agama dipatuhi sepenuhnya, serta menjaga kaidah dan mencegah munculnya penafsiran liar yang berpotensi menyesatkan. Kondisi ini menjadikan mereka cenderung konservatif, dan kerap memiliki pendapat berbeda tentang fleksibilitas dalam beragama; dalam memaknai dan pengamalan ajaran serta peraturan agama.

Namanya juga interpretasi manusia. Dalam hal ini, ada kelompok pemuka agama dengan pemahaman yang keras, ada pula kelompok yang relatif lebih luwes dalam berpendapat. Adu dalil, argumentasi, dan ayat kitab suci ada di tataran mereka. Sedangkan umat awam sebagai pengikut, sesuai kenyamanan religius mereka akan memilih mengikuti kelompok ulama yang mana. Fase inilah yang menyebabkan potensi konflik atau kisruh internal dalam semua agama. Saling menyalahkan antarsesama penganutnya sendiri. Praktik keagamaan pun menjadi bising. Ini yang menyebabkan terjadinya Great Schism, memisahkan Katolikisme dan Protestanisme.

Sekali lagi, semua bermula dari interpretasi manusia.

Agama. Dari manusia, oleh manusia, untuk manusia.


Sebuah Analogi

Biasanya, hampir semua penumpang Kereta Api Listrik (KRL) atau bus TransJakarta pasti ingin duduk selama perjalanan. Kenapa? Karena posisi duduk terasa lebih santai dan nyaman. Saking nyamannya, seringkali malah sampai berebutan atau bahkan tidak peduli keadaan orang lain. Apalagi jika bisa mendapat kursi di pojokan. Lebih enak. Duduk sambil menyandarkan punggung dan sisi tubuh.

Agama pun kurang lebih demikian, menjadi tempat bersandar sekaligus kendaraan ke pelbagai jurusan. Tidak usah melulu berdiri, menahan lelah letihnya badan sepanjang jalan. Namun bagaimanapun juga, kendaraan tetap harus ditinggalkan setibanya di tujuan.


Sebuah Intermeso

Manusia yang membutuhkan ritual agama, atau ritual agama yang membutuhkan manusia?

Saat sebuah robot di India berhasil diprogram untuk melaksanakan aarti (bagian dari prosesi pemujaan Hindu India), apakah persembahan yang dijalankannya bernilai ibadah? Ataukah justru dinilai sebagai penyimpangan?

Mirip pula dengan ini.

Pemutar rekaman mengaji di kuburan. Buat kirim doa, katanya. Foto: radarislam.com


Sebuah Penutup

Kita masih ingat, riuhnya pujian dan cercaan dari berbagai pihak kepada Kiai Haji Yahya Cholil Staquf yang hadir serta berbicara di forum American Jewish Committee (AJC), Israel.

… dan inilah yang terjadi kala seribuan umat Muslim (termasuk Kiai Haji Yahya Cholil Staquf), umat Kristen, dan umat Yahudi menyanyikan lagu bernuansa perdamaian secara massal bergantian menggunakan bahasa Inggris, bahasa Arab, dan bahasa Ibrani.

Menurut saya—yang bukan Muslim, Kristen, atau Yahudi ini, videonya bagus dan bikin merinding.

[]

Photo by Felix Russell-Saw on Unsplash

Menghakimi dan Menghukum Orang Lain Itu Memang Nikmat

MANUSIA memang makhluk yang istimewa. Baik pandangan agama maupun sains sama-sama menyepakatinya.

Menggunakan akal, manusia menjadi satu-satunya spesies di muka bumi ini yang mampu berpikir dan menimbang, menghasilkan kehendak untuk bertindak.

Manusia juga bisa mengenali dan merasakan sensasi yang dihasilkan dari tindakannya tersebut, tahu mana yang menyenangkan dan tidak menyenangkan. Yang kemudian memunculkan keinginan untuk dapat merasakannya lagi, atau justru berusaha menghindarinya lain kali.

Termasuk tindakan yang satu ini; nikmatnya menghakimi dan menghukum orang lain.

Ya, hanya manusia yang bisa melakukan ini terhadap sesamanya. Terlebih kepada orang asing, orang-orang yang tidak memiliki kedekatan subjektif. Makin mudah saat melakukannya, tanpa beban. Maka jangan heran jika internet dan media sosial akan selalu ramai dengan urusan yang satu ini. Lantaran siapa saja dapat bebas berbicara, menyampaikan alasan, pemikiran, serangan, dan penghakiman.

The more the merrier. Tambah “meriah” ketika timbul tanggapan yang bertentangan. Kedua kubu mendapatkan gelombang dukungan. Begitu aja terus, sampai akhirnya reda, terlupakan, dan beralih ke drama berikutnya.

Photo by Kristopher Roller on Unsplash

Photo by Kristopher Roller on Unsplash

Manusia mempunyai kecenderungan untuk ingin melibatkan diri dalam urusan manusia lain, bahkan dengan kadar terendah sekalipun (dengar sekilas, dan ditanggapi: “Oh, begitu…”). Ini mungkin ada kaitannya dengan sifat instingtif manusia yang penasaran dan selalu ingin tahu sejak awal, alias kepo.

Penghakiman sosial identik dengan komentar pedas dan menjatuhkan, atau nyinyiran di media sosial. Berawal dari sebuah pernyataan atau celetukan seseorang, diikuti pernyataan setuju yang tak kalah nyelekitnya.

Tanpa bermaksud merendahkan kaum ibu rumah tangga, di ranah analog, penghakiman sosial seperti ini terjadi di “majelis” gerobak tukang sayur keliling. Ada yang berbicara, ada yang menyimak, ada yang menimpali. Sedangkan yang tidak setuju akan merasa kurang nyaman, dan mempercepat aktivitas berbelanjanya.

Di Facebook atau Twitter, seseorang menuliskan sesuatu. Sedang tren dibikin thread atau rangkaian twit, bisa juga berupa posting-an panjang di Facebook. Ada yang me-Retweet, ada yang memberikan komentar, ada yang membagikannya ke laman sendiri dengan atau tanpa pernyataan tambahan. Terkadang malah lebih heboh dan berapi-api, memanas-manasi. Tak terlalu berbeda dengan “majelis” ibu-ibu kompleks tadi, kan? Hanya saja, informasi yang disampaikan di media sosial bisa dibaca publik, termasuk oleh yang tidak setuju. Umumnya, tulisan berbalas tulisan, nomention berbalas nomention, ujung-ujungnya pun jadi tweet war.

Third-Party Punishment

Berbeda dengan binatang, manusia menggunakan manusia lain guna penyelesaian konflik. Bukan pertarungan langsung. Di antara dua individu yang bermasalah, selalu ada pihak lain yang berada di tengah-tengah. Dalam bentuk yang formal, sebagai lembaga, ada perangkat peradilan. Terdapat seseorang atau sekumpulan orang yang berwenang memberikan ganjaran.

Nah, masalahnya ada pada sekumpulan orang yang tidak berkedudukan sebagai hakim, tetapi menikmati bertingkah laku selayaknya hakim.

Mengapa tindakan menghakimi dan menghukum orang lain terasa nikmat?

Sebab dengan menghakimi orang lain, kita merasa telah menjadi individu yang lebih baik dibanding si “terdakwa”; tiada bercela, berpijak di pihak yang benar, menjunjung tinggi kepatutan sosial, memiliki kualitas moral yang terpuji. Pokoknya mengedepankan hal-hal yang menggembirakan ego kita, membuat keberadaan kita seolah amat berharga dibanding orang lain, yang kebetulan tengah melakukan kesalahan. Tak peduli sekecil apa pun kesalahan tersebut, tak peduli sudah semenyesal apa pun yang bersangkutan meminta maaf, dan sebagainya.

Aku lebih baik daripada kamu. Titik.

Dilanjutkan dengan memberikan hukuman. Bukan sanksi formal, melainkan hukuman sosial, yang maraknya ya berupa cemoohan tertulis dan cuplikan twit, status, atau pesan pribadi (DM). Bertujuan awal agar yang bersangkutan menyadari kesalahan dan mengubah perilakunya (tetap dengan pendekatan “Kamu salah. Lihat aku dong, aku kan benar.”) atau ya … ingin mempermalukan orang lain saja.

Tambah asoi lagi jika dilakukan rame-rame, keroyokan. Pasalnya, selain merasa mendapat dukungan, semua orang ingin tampil dan bersuara, dan karakteristik media sosial yang terbuka seakan kian menyemangati banyak orang untuk unjuk diri. Sehingga respons yang muncul seringkali terlihat berlebihan, ya jumlahnya, ya isi pesannya. Melenceng dari niat awal.

Ini bersifat alamiah. Kajian “The Neural Basis of Altruistic Punishment” yang dirilis 2004 lalu bahkan menunjukkan bahwa kegiatan menghukum orang lain berdampak pada bagian tertentu di otak manusia, khususnya yang berhubungan hadiah atau ganjaran (reward). Indikasi sederhananya, sedari kecil kita terkondisi untuk merasa senang saat menerima hadiah, dan seperti itulah yang kita rasakan setelah berhasil menghukum orang lain.

Jangan lupa, kenikmatan yang digandrungi secara berlebihan, apalagi sampai bikin kecanduan, bisa berujung pada kerugian. Seseorang yang terlalu suka menghakimi, menghukum, dan mempermalukan orang lain secara terbuka, tetap berpotensi melakukan kesalahan. Dia—seseorang yang awalnya dianggap benar, suci, tak ternoda—pun tetap bisa menjadi sasaran penghakiman massa selanjutnya.

Celaan balik yang dilancarkan khalayak bakal tanpa tedeng aling-aling. Mirip air bah. Terang-terangan dan banyak. Sampai berlebihan. Oleh sebab itu wajib punya mental yang kuat untuk sanggup menghadapinya.

Dulunya menghantam, eh kini gilirannya kena hantaman serupa. Sakit hati gara-gara rasa malunya lebih gede. Harga diri dan gengsi ikut kebanting.

Benar banget sih, memang paling enak ngomongin orang lain. Cuma, alangkah baiknya ditinjau dan ditanyakan ke diri sendiri terlebih dahulu sebelum melakukannya: “Apa sih tujuanku (dengan ngomongin orang lain itu)?” Kalau hanya pengin mempermalukan orang lain di depan umum, ya apa bedanya dengan iseng ikut-ikutan mukulin maling. Merasakan kegembiraan dari perbuatan jahat.

Masih banyak hal yang lebih penting untuk dilakukan, dan kamu bukan juru selamat peradaban, kok.

[]