Jenama Agama dan Strategi MarComm-nya

MERUPAKAN salah satu topik yang paling sensitif sepanjang masa, setiap orang memiliki kadar kenyamanan berbeda-beda saat membicarakan tentang agama. Ada yang saking santainya, bisa mengutarakan sesuatu tentang agama seringan obrolan sambil ngopi dan ngudap pisang goreng. Sambil tertawa-tawa.

Namun, tampaknya ada lebih banyak orang yang menganut prinsip Agama jangan dibecandain…” meski ada yang pakai embel-embel tambahan Terutama agamaku. Kalau agama yang lain… terserah, deh. Itu sebabnya, kaitkan saja sesuatu–nyaris apa saja–dengan agama, pasti bisa menarik dan mendapatkan perhatian dalam kelipatan eksponensial, bahkan berbuah tindakan.

Jadikan ini saja, deh, sebagai, contoh, biar lebih “aman”.

Bayangkan bila figur Buddha diganti dengan tokoh spiritual dunia lainnya, atau, dari agamamu.
  • Seseorang berpindah agama. Apalagi dia figur publik, entah apa pun alasan dan latar belakangnya. Heboh.
  • Pernikahan berbeda agama, kelahiran anak, dan urusan masa depannya. Heboh.
  • Perkara kehidupan sosial bermasyarakat, dan kebisingan. Heboh. 
  • Situasi ekonomi, termasuk orang-orang yang berkenaan dengannya. Heboh.
  • Terkait politik, mulai dari persaingan kubu, manuver biar rame, sampai Pilpres. Heboh.
  • Hingga teori konspirasi, yang meskipun asal comot, tetapi tetap diiyakan banyak orang setelah disangkutpautkan dengan agama. Hal-hal yang sejatinya remeh dan bisa dikesampingkan begitu saja, malah ikut jadi sorotan. Heboh.
Foto: SMCP.com

Ialah prinsip dasar komunikasi; pesan disampaikan demi mencapai sebuah tujuan. Dalam konteks soal topik agama tadi, baik penyampai maupun penerima mungkin mempunyai tujuannya masing-masing. Beberapa di antaranya, barangkali seperti ini.

Tujuan PenyampaiTujuan Penerima
– Ingin para pendengarnya mengetahui, dan memahami sesuatu
– Ingin agar para pendengarnya menjadi lebih dekat dengan agama, dan lebih banyak melakukan hal-hal baik. 
– Ingin dipercayai, agar lebih mudah dalam menyampaikan pesan berikutnya; dan agar para pendengar menuruti/melakukan yang dia utarakan. 
– Sekadar ingin melakukan kebaikan, atau yang menurutnya adalah sebuah kebaikan.
– Ingin tahu, ingin belajar, dan ingin memahami
– Ingin menjadi/termasuk/terkesan sebagai orang-orang religius (baca: saleh). 

Mengapa agama bisa menjadi “bungkus” komunikasi gagasan yang efektif? 

Exposure, alias keterpaparan. Macam dalam standar marketing communication. Dalam penyampaiannya, banyak orang yang terpapar secara terus-menerus tanpa merasa terpaksa atau terganggu. Tanpa sadar, ide, gagasan, dan siapa pun yang terkait isu tersebut akan melekat dalam benak pirsawannya. Termasuk orang tua, keluarga, tetangga, rekan kerja, dan masyarakat di sekitar keseharian kita. 

Konsepnya serupa brand exposure demi popularitas. Makin sering sebuah isu dikemukakan, makin tertanam dalam benak khalayak, makin menggoda untuk ditanggapi. Baik berupa tanggapan internal (ikut merasa dongkol, kesal, sebal, marah, lucu, sedih, bersemangat, dan sebagainya), maupun tanggapan eksternal (ikut dibicarakan atau disuarakan kepada orang lain, mencari dan berhimpun dengan orang-orang yang sepemikiran, membenci dan gusar dengan orang-orang yang berbeda pandangan, termasuk berbalas komentar di media sosial, dan sebagainya). 

Efek bola salju. Makin heboh sebuah isu, makin banyak orang yang penasaran dan ingin mencari. Ini pun menjadi peluang bagi para penyedia konten digital untuk berlomba-lomba berburu klik–upaya monetization, menghasilkan uang lewat dunia maya. 

Isu agama tak ubahnya jadi jenama. Ada nilainya, diukur dengan satuan rupiah lewat prinsip media brand value. Karena itu, makin sering sebuah topik mencuat, makin tinggi nominalnya. Popularitas setara angka uang yang mesti dibayarkan dalam keadaan normal (netral, tidak populer). 

Begini ilustrasinya. Deddy Corbuzier berpindah agama. Tak hanya berprofesi sebagai bintang layar televisi, sosoknya sendiri sudah cukup kontroversial dan menjadi pembicaraan nasional. Banyak portal berita online yang memberitakannya, terbagi dalam tiga fase: 

  1. Sebelum berpindah agama
  2. Prosesi berpindah agama
  3. Setelah berpindah agama

Katakanlah, Detik adalah salah satu portal berita yang aktif memberitakannya. Readership atau tingkat keterbacaannya cukup tinggi–anggap saja seratus pembaca setiap menit. Selanjutnya, total ada 25 artikel terkait perpindahan agama tersebut, menampilkan tulisan “Deddy Corbuzier” di judul serta paragraf pertamanya. 

Mari kita berhitung. Dengan readership mencapai seratus pembaca setiap menit, Detik memasang banderol Rp100 juta per tulisan (semacam patokan tarif, dikenakan kepada merek-merek yang ingin memuat artikelnya di sana). Dengan demikian, media brand value khusus untuk “Deddy Corbuzier berpindah agama” di sana sudah senilai Rp2,5 miliar! Belum lagi dari media-media lain. Nilai ini bisa saja lebih tinggi dibanding topik-topik Deddy Corbuzier lainnya, semisal “Deddy Corbuzier tantang Kapten Vincent”, “Deddy Corbuzier alami cedera punggung”, atau “Cara Deddy Corbuzier merawat kulit kepala”, dan seterusnya.

Tak tertutup kemungkinan readership-nya bisa lebih tinggi lagi, dan jumlah artikelnya pun terus bertambah, lantaran topik yang diberitakan adalah seorang artis berpindah agama. Bisa bercabang ke mana-mana. Itu pun belum ditambah topik-topik lapis kedua maupun ketiga, yang bagi banyak orang tak kalah menariknya (baca: memicu rasa kepo lebih lanjut). Contohnya: “Siapa guru mengaji Deddy Corbuzier?”, “Apakah anak Deddy Corbuzier juga akan berpindah agama?”, “Apakah Deddy Corbuzier sudah bersunat?”, atau bahkan “Inilah gaya Deddy Corbuzier mengenakan baju koko.”

Sampai ada tagar khususnya, lho: #Deddy Corbuzier Mualaf.

Coba saja kalau seluruh warganet Indonesia cuek bebek dengan urusan kepindahan agama si Deddy Corbuzier, tidak ada kehebohan khusus, media massa online pun cenderung sepi dari pemberitaan tersebut. Suasanya jadi berbeda.

Ya, begitulah. Semua berbau agama, dan tak kurang-kurang contoh lainnya.

Minat seseorang, atau sebagian orang Indonesia, terhadap topik-topik menyangkut agama memiliki spektrum yang luas. Mulai dari rasa terganggu hingga mudah tersinggung; mulai percaya buta tanpa kemampuan berpikir kritis hingga sikap reaktif. Salah satunya seperti:  

  • Langsung memberi komentar berapi-api terhadap sesuatu yang dilihat di media sosial, walaupun baru hanya membaca judul tanpa memahami keseluruhan konteksnya. 
  • Langsung forward atau meneruskan sebuah pesan panjang di grup WhatsApp hanya karena memuat ayat-ayat agama, tanpa sepenuhnya menyimak isi serta konteks yang disampaikan.

Kenapa bisa begitu? Karena berhubungan dengan agama. Apalagi kalau sesuai dengan pandangan yang bersangkutan. Jadinya “auto berisik”.

Entah disadari atau tidak, mereka pun bertindak tidak adil. Mereka menyebarkan sebuah narasi, tetapi setelah narasi itu terbukti bohong, mereka justru senyap dan tidak menyebarkan klarifikasinya. 

Kenapa bisa begitu? Karena sang penyampai pesan sebelumnya, telah berhasil membuat mereka percaya; membentuk perilaku dan respons batin mereka; atau bahkan melakukan brainwashing kepada mereka, menjadikan mereka tidak mau/tidak mampu/merasa tidak perlu untuk berpandangan kritis terhadap apa pun yang disampaikan. Juga tak tahu malu!

Foto: Twitter @incitu

Anehnya orang-orang Indonesia belakangan ini, ketika kita bersikap biasa saja, atau justru cenderung kritis terhadap narasi-narasi agama, kita bisa dianggap tidak saleh, berpotensi menjadi pembangkang religius, atau bakal jadi ateis sekalian. 😅 

Melihat ini, tuhan geleng-geleng kepala di “sana”. Ikut malu, barangkali. 

[] 

Advertisements

Menjual Agama Lewat Rasa Takut dan Keinginan-keinginan

TERDAPAT sebuah model pemasaran yang memanfaatkan sisi lemah dan rapuh psikologi manusia: Emosi atau perasaan. Model ini dinamakan BJ FOGG Behavioral Model atau cukup populer dengan sebutan B=MAT, yang kurang lebih demikian.

BJ Fogg Behavior Model

Secara sederhana, model ini menggambarkan bahwa setiap orang berpotensi menjadi konsumen, asal terpapar dengan pendekatan yang sesuai. Penjual pun tak sekadar menjadi pemenuh permintaan di pasar, tetapi justru menciptakan permintaan di pasar walaupun produk tersebut belum tentu benar-benar diperlukan (terlepas dari kualitas produk itu sendiri).

Motivation: Hal-hal yang mendorong
Ability: Fitur-fitur yang memperkuat dorongan
Trigger: Momen-momen yang memperkuat urgensi

Apa yang terjadi ketika model ini dipadukan dengan upaya penyebaran agama? Jualan. Agama jadi objek jualan.

Seharusnya. Foto: daaji.org

Tanpa disadari, banyak orang yang menjual agama dengan metode serupa. Bukan sebagai objek konsumtif melainkan komoditas nominatif, agama disodorkan lewat impian yang diidam-idamkan, maupun ketakutan. Dari situlah permintaan dibuat, dari sesuatu yang awalnya tidak ada atau tidak terpikirkan, menjadi sesuatu yang digandrungi dan dikejar-kejar. Macam seorang downline MLM yang berupaya sekuat tenaga agar bisa tutup target point.

Apa tujuannya berjualan agama? Mendapatkan tambahan sumber daya manusia. Dari situ, semuanya bisa dihasilkan. Cadangan tenaga kerja dan massa; cadangan dana. Makanya, semua pemuka agama ingin agar jumlah umat terus bertambah, bukan malah berkurang.

Sila intip: “Kenapa Anak-anak Harus Beragama yang Sama dengan Orang Tuanya?”

Barangkali nyambung

Bagaimana alurnya? Mencari pengguna baru (acquisition), dan mempertahankan pengguna lama (retention).

Bagaimana caranya? Papar-pukau-pikat. Sampaikan hal-hal yang belum pernah diketahui sebelumnya; yang mengejutkan; yang menggentarkan; yang menakutkan. Kebetulan agama selalu bersifat absolut, hanya ada benar dan salah secara mutlak. Tidak ada ruang abu-abu, sehingga semua orang yang masih berpikiran abu-abu merupakan sasaran. Baik sebagai calon kawan untuk disadarkan, atau sepenuhnya lawan.

Motivation

Dalam konteks B=MAT, motivasi lebih berupa tujuan atau kebutuhan spesifik yang mendorong keinginan seseorang. Termasuk di dalamnya, kesenangan dan ketidaksenangan; untuk memperoleh hal-hal yang menyenangkan, atau menghindari hal-hal yang tidak menyenangkan. Harapan dan ketakutan.

Merasa menjadi seseorang yang alim dan lebih baik, memberikan perasaan menyenangkan. Merasa menjadi seseorang yang sangat berdosa (perasaan tidak menyenangkan), dan ingin tobat agar merasa bersih kembali (perasaan menyenangkan).

Ingin bisa masuk surga dan segala keuntungan tambahannya, atau takut masuk neraka setelah meninggal.

Komik siksa neraka yang legendaris. Saya pun punya. Foto: YouTube

Ability

Cepat, mudah dan gampang, tidak merepotkan. Tak perlu ada proses konsultasi yang berhari-hari, maupun serangkaian jadwal kelas pengajaran dasar-dasar agama demi memastikan niatan seseorang menjadi religius, dan seterusnya.

Pada saat seseorang melakukan kesalahan, cukup bertobat dan memperbanyak perbuatan baik. Niscaya ada pengampunan atau keringanan hukuman, sebab dia sudah religius.

Bagaimanapun juga, yang terpenting adalah kecepatan dan kemudahan. Kalau bisa, sesuatu yang memberikan efek instan. Berikut ilustrasinya.

Bagi seseorang yang sedang mengalami rentetan kesusahan; kebingungan tanpa pegangan dan resah, agama dipasarkan sebagai sesuatu yang mereka butuhkan. Sesuatu yang bisa menenangkan jiwa, mengangkat perasaan tidak menyenangkan yang berasal dari masalah-masalah hidup.

Trigger

Banyak hal yang bisa dikondisikan untuk memacu seseorang. Dalam konteks agama, kemukakan dan sangkut pautkan semua hal yang berkaitan dengan masa depan, apa pun itu namanya. Nubuat wahyu, ramalan, janji, kiamat, dan sebagainya.

Beberapa contoh yang telanjur populer sejak beberapa abad lalu: kiamat sudah dekat, dajal segera muncul di bumi, setan dan pasukan Antikristus. Semua itu menarik perhatian dan berkesan di hati, kendati narasi-narasi tadi selalu tanpa bukti faktual nan konkret. Kebanyakan hanya berupa teori konspirasi dan pencocok-cocokan secara serampangan, lalu sukses menghimpun kepercayaan banyak orang. Segalanya seolah-olah terkait, dengan keterkaitan yang disutradarai oleh iblis itu sendiri. Berbeda dengan dampak sampah plastik dan perubahan iklim (Climate Change), misalnya, yang bisa dilihat oleh mata kepala sendiri.

Selebihnya, tulisan-tulisan seperti ini pun bisa digunakan untuk memperbesar urgensi. Membuat isu tersebut terkesan semakin darurat, lantaran setan dan seluruh pasukannya terus melakukan cara mengelabui manusia. Membuat manusia ragu-ragu, hingga kehilangan kepercayaannya terhadap agama.

Di mana-mana, selalu ada saja.

Setan adalah musuhnya agama, jadi, sesuatu yang tidak sejalan dengan agama, atau bahkan mempertanyakannya sedikit saja, adalah hasil kerjaan setan.

Agama menurut siapa? Agama menurut sang tokoh yang menyampaikannya, yang berjualan.

Dengan demikian, tak usah heran bila agama makin menjadi komersial. Bukan lagi ajaran atau jalan hidup, melainkan sumber penghasilan yang mengatasnamakan tuhan.

Yaudasik

[]

Menertawakan (Hidup)

SAMA seperti menguap‒ketika kita tak kuasa menahan dorongan untuk membuka mulut lebar-lebar, menghirup udara sebanyak-banyaknya‒tertawa itu menular, secara besar-besaran pula. Apalagi kalau suara tawanya begitu renyah, bebas, lepas, atau terdengar lucu dan menggemaskan, selucu dan semenggemaskan balita yang melakukannya, yang tanpa sadar membuat hati kecil kita agak iri: “Aku mau dong bisa segembira itu juga…

Begitu kita mendengar dan terpapar nuansa tawa tersebut, kita setidaknya bakal ikut tersenyum. Spontan dan alamiah, seakan-akan turut menikmati berkah keceriaan yang sejatinya ditumpahkan kepada orang lain. Saking spontannya, kita seringkali ikut tertawa kecil tanpa (perlu) tahu apa penyebabnya. Yang terasa hanyalah suatu hal yang menggelikan bergejolak dalam dada, yang susah kita tahan berlama-lama.

Untungnya, selain kemampuan merasa geli dan tertawa, kita juga telah dianugerahi dengan kemampuan berpikir. Itu sebabnya kita bisa mengenali tawa seperti apa yang berasal dari kegembiraan, dan yang justru merupakan tanda kekejaman serta kekejian seseorang. Untuk urusan yang satu ini, manusia sudah mahir semahir-mahirnya dengan kemampuan yang tumbuh dan terus berkembang seiring pertambahan usia.

Menertawakan dan ditertawakan.

Terakhir, dan sekaligus yang terpenting, tertawa sanggup meringankan atau bahkan mengangkat beban batin maupun pikiran yang sedang mendera kita. Hanya saja tidak mudah. Tertawa itu sejatinya gampang dan sederhana. Namun, makin berat masalah yang kita hadapi, kita makin sukar untuk berpikir sederhana. Ngarahnya ke yang njelimetnjelimeeet melulu… Jangankan tertawa, menyadari bahwa kehidupannya terus bergulir saja mungkin agak susah. Tahu-tahu waktu sudah jauh berlalu, dan membuat makin bingung, makin tertekan, makin tak tahu harus melakukan apa.

Bisa jadi benar kiranya, orang-orang yang mudah dibuat tertawa sungguhan, bukan tertawa palsu demi adab sosial, adalah mereka yang mudah pula dibuat merasa bahagia. Perasaan bahagia di tingkat paling dasar. Ibarat bayi yang terpingkal-pingkal saat melihat dan mendengar kertas dirobek.

Greseeek…

Ehehehehehehehehehe…

~~~ Tak usahlah menirukan suaranya di dalam hati; cukup dibayangkan saja suaranya. Pejamkan mata, bila perlu. Pasti pernah dengar suara bayi tertawa, kan? Tertawa yang saking kencangnya, sampai-sampai bikin mereka tertawa sambil menghela napas. Kelelahan. Sesuatu yang melelahkan, tetapi terasa menyenangkan.

Play to brighten your day.

Ngomong-ngomong, kapan terakhir kalinya kamu‒yang sudah dewasa‒tertawa terpingkal-pingkal seperti balita yang kamu bayangkan tadi? Apa waktu hari raya atau libur panjang kemarin? Asal tertawa yang benar-benar lepas, lho, ya, bukan tertawa yang nyaring doang bareng teman satu geng setelah ngomongin orang. Tertawa yang cuma berisik, tetapi di hati malah berasa kosong dan palsu kemudian.

Ya… whatever. Itu tadi tentang orang-orang yang mudah dibuat tertawa, yang konon katanya paling sulit untuk direkrut menjadi pelaku terorisme. Lagipula, buat apa menjadi pelaku terorisme, kalau dalam kehidupan kesehariannya sudah dipenuhi kegembiraan yang bikin raut wajahnya selalu kencang, dan memancarkan aura kegembiraan. Aura yang biasanya bertahan hingga seseorang tua, lanjut usia, parasnya meneduhkan. Cuma, kebetulan saja kalau ybs sudah tua, giginya sudah ompong juga. Menjadikan wajah senyumnya makin lucu… dan lagi-lagi, kita pun bisa ikut-ikutan tersenyum hanya dengan membayangkannya.

Kendati sebaliknya, seseorang yang mudah membuat orang lain tertawa malah belum tentu berbahagia. Tahu, kan, perbedaannya. Dibuat dan membuat; yang melakukan atau yang memunculkan penyebabnya, dan yang mengalami dampaknya.

Demikianlah.

Seandainya memang begini adanya, puji syukur ke hadirat tuhan yang mahalucu, humoris, dan mahabesar hati sampai-sampai sudi menciptakan manusia dengan kemampuan tertawa sedemikian rupa, serta mahabaik untuk bisa bersama-sama menertawakan semesta beserta seisinya. Termasuk dirinya sendiri.

Maka, tertawalah.

Jikalau tidak bisa, cobalah untuk mulai tertawa kembali.

Asal jangan sampai lupa caranya.

Kita, tampaknya, tidak butuh nyimeng untuk bisa geli cekikikan sendiri saat melihat yang ada di sekeliling kita.

[]

Mensyukuri dan Menikmati Penderitaan Orang Lain

SAAT berjalan kaki di trotoar dengan paving block bolong-bolong, tiba-tiba ada motor berknalpot bising yang ngebut serampangan. Menyisakan asap putih tebal berbau sisa pembakaran bensin yang khas.

Penumpangnya ada tiga, remaja semua, tanpa helm, dan berteriak sambil tertawa-tawa. Tanpa peduli pengendara lain maupun para penyeberang jalan, mereka selalu ngegas dan ugal-ugalan. Bising, serampangan, dan memusingkan.

Selewatnya mereka, kita merasa terganggu. Muncul rasa tidak senang, bahkan benci di dalam hati. Dorongan utamanya, entah karena kita lihat kelakuan mereka yang serampangan; melaju dan bikin kaget; ada banyak peraturan lalu lintas yang dilanggar; bisingnya suara knalpot yang memekakkan telinga; atau karena kita memang tidak suka saja.

Di ujung persimpangan jalan, ternyata ada polisi yang berjaga. Kaget tetapi tidak bisa menghindar dan salah berbelok, motor tersebut oleng. Jatuh dan meluncur di atas aspal, pengemudi dan dua penumpang sial tadi tersungkur dengan lecet di beberapa bagian tubuhnya.

Teriakan “MAMPOOOS LO!” spontan terdengar dari arah depan, dekat lokasi kejadian. Tanpa sadar, kita juga ikut membatin macam “KAPOK!” atau “SOKORIIIN!” Terkesan ada kegembiraan‒atau lebih tepat berupa kegirangan‒yang diluapkan saat mengucapkannya. Seakan-akan itu sesuatu yang sangat menyenangkan, dan sudah dinanti-nantikan sebelumnya.

Marah yang ingin banget diluapkan.

Contoh di atas menunjukkan adanya kemalangan, sebuah kecelakaan. Tatkala dilihat dari akibat yang terjadi dan siapa yang mengalaminya, para remaja ugal-ugalan tadilah yang bisa disebut sebagai korban. Bukan kita, meskipun sudah merasa sebal dan terganggu saat berjalan kaki; apalagi para warga yang menghamburkan sumpah serapah tadi. Tanpa kita sadari, ungkapan “Mampus!” tadi, atau yang kadang ditambahi menjadi “Mampus lu!” menunjukkan bahwa kita ingin mereka meninggal; menunjukkan bahwa kita berpandangan mereka pantas meninggal saat itu juga.

Apakah dengan demikian kita adalah seseorang yang mengharapkan dan menikmati penderitaan orang lain?

Di sisi lain, apakah kita telah menjadi seseorang yang mampu menilai pantas tidaknya orang lain mengalami kemalangan‒atau sebut saja ganjaran‒dalam hidupnya.

Dalam perspektif yang berbeda, kita kerap terpaku pada pembagian benar dan salah. Dalam contoh kasus di atas, para remaja pengemudi motor ugal-ugalan tadi diposisikan sebagai yang salah. Orang-orang lain, termasuk kita yang merasa terganggu, otomatis memposisikan diri sebagai yang tidak salah.

Sayangnya, dengan menganggap diri sebagai pihak yang tidak salah, mudah sekali membuat kita merasa sebagai pihak yang lebih baik, lebih unggul, dan lebih pantas ada dibanding lawannya. Kembali pada contoh di atas, kita dan sejumlah warga merasa pantas melontarkan sumpah serapah, bahkan sampai mendoakan terjadinya keburukan bagi pihak yang salah. “Mampus lu!”

Haruskah kita merasa biasa-biasa saja dengan sikap yang demikian? Ketika tanpa sadar kita terus-menerus memikirkan hal-hal buruk, mengucapkan hal-hal buruk, sampai ikut melakukan tindakan-tindakan buruk, dan menganggap semua itu wajar-wajar saja dengan dalih “mereka pantas menerimanya” atau “kesabaran itu ada batasnya”?

Susah, sih. Memang.

Okelah, contoh kasus di atas barangkali terlampau sepele, tidak begitu penting. Namun, bagaimana bila kasusnya adalah tabrak lari? Atau perkosaan? Atau penyiksaan anak-anak? Atau anak yang berbuat amat kasar terhadap orang tuanya? Atau korupsi? Beragam hal yang seolah-olah bisa bikin hati kita ikut panas.

Akankah doa kita dikabulkan? Doa yang dipanjatkan karena marah dan benci, doa yang mengharapkan orang lain celaka.

Akankah dikabulkan?

Mohon maaf lahir batin.

[]

Hati Sebagai Tempat Berteduh dan Berdiam

KETIKA kita ingin pindah rumah atau tempat tinggal, salah satu proses yang paling menyita perhatian dan melelahkan adalah penyortiran barang. Demi kebaikan diri sendiri, kita harus memilih, menentukan, lalu memutuskan. Jika tidak, bukan hanya kerepotan, terlalu berat, dan membuat tempat baru yang semestinya lapang menjadi sesak, sehingga mengulang kesumpekan yang sama.

Berpindah tempat tinggal seringkali bukan sekadar pergantian lokasi. Bisa menjadi titik mula, awal yang baru, atau bahkan hidup yang sepenuhnya berbeda. Oleh sebab itu, dari sekian banyak barang yang telah kita peroleh, kita kumpulkan, kita simpan, dan kita pertahankan di balik dinding rumah selama ini, harus ada yang kita tinggalkan. Bukan lantaran ingin kita lupakan, tetapi, ia seakan-akan bergelayut di kaki kita; menghalangi kita untuk terus melangkah ke depan. Terkadang kita justru diseretnya mundur.

Ia–semua barang tersebut–tak lagi tepat untuk selalu kita bawa ke mana-mana.

Foto: Pexels

Demikian pula hati. Jika diibaratkan sebuah tempat hunian, hati kita lebih mirip sebuah tenda. Portabel, bisa dipasang dan dilepas di mana saja, dan selalu kita bawa sewaktu berpindah dari satu titik ke titik yang lain. Apabila tenda (hati) itu kita tinggalkan, kita pun menjadi seorang tunawismarasa. Jiwa yang menggelandang tanpa keteduhan.

Setiap titik perhentian, tempat kita bertahan, berhenti untuk sementara waktu, berdiam, dan mendirikan tenda (hati), merupakan fase-fase dalam hidup kita–karena kita menJALANi hidup; karena hidup adalah sebuah perjalanan dengan sejumlah persinggahan.

Sewaktu bertahan dan berdiam, kita membentuk, merasakan, dan meringkuk dalam lingkar kenyamanan kita sendiri. Dalam zona nyaman tersebut, kita terbuai, menolak dan mengingkari kenyataan bahwa segalanya pasti berubah (dan karenanya, perubahan yang datang pun akan terasa lebih mengguncang dan menggetarkan).

Kala perubahan terjadi, titik singgah kita saat ini akan ditinggalkan. Cepat atau lambat, kita harus kembali mengemas tenda (hati) beserta isinya. Lagi-lagi, apakah semuanya akan dibawa?

Foto: Removers.org.uk

Mau berapa banyak yang akan dibawa serta?

Mengapa?

Setiap orang memiliki pandangan dan pertimbangan yang berbeda-beda. Namun, mereka yang cermat dan sigap–biasanya tertempa pengalaman-pengalaman tidak menyenangkan, bisa langsung menentukan apa saja yang bakal dibawa beserta tenda (hati) dalam perjalanan menuju titik singgah berikutnya. Perhatian dan tenaga mereka pun disimpan secara efisien, agar mereka tidak dibuat repot oleh hal-hal yang sejatinya sepele. Sebab, walau bagaimapun juga, kehidupan akan terus berjalan.

Kedewasaan dan kebijaksanaan seseorang tumbuh seiring berjalannya waktu. Ada satu momen ketika kita akhirnya memiliki daftar berisi “hal-hal yang penting” dan “hal-hal yang tidak penting” bagi hidup kita. Isi setiap bagiannya selalu berubah. Ada yang bertambah, ada yang berkurang. Semua yang ada dalam daftar “hal-hal yang penting” pasti kita prioritaskan. Apa saja misalnya, keluarga, orang tua, hubungan asmara, karier, gaya hidup, kepemilikan dan harta, nama besar, popularitas, hubungan sosial, kenikmatan seksual, penghormatan, waktu yang leluasa, anak-anak, pencapaian pribadi, ego, dan masih banyak lagi lainnya. Pasti kita bawa menuju titik singgah berikutnya.

Foto: Storage Monkey

Saat ini, cobalah tengok sejenak daftar-daftar tersebut. Lihat isinya sekejap. Apakah isinya sudah pas, atau ada yang perlu digeser? Setelah itu, bayangkan hal paling mengejutkan, paling liar, atau paling tidak terbayangkan sebelumnya.

Andai apa yang kamu bayangkan tadi terjadi di kehidupan nyata, memaksamu untuk berpindah dari zona nyaman (membongkar tenda [hati] dan isinya), apakah kamu mampu menjejalkannya, memanggul semua isi dalam “daftar hal-hal penting” itu? Atau malah terbebani oleh itu semua?

Supaya dapat berjalan lebih lancar dan ringan, seseorang terkadang perlu meninggalkan begitu banyak hal. Meski harus terasa tidak menyenangkan.

…dan kehidupan pun terus berjalan, bagi kita, dengan hati sebagai tempat bernaung.

[]

Hidup yang Lapang, Lega, dan Leluasa

RINGAN dan enteng. Perasaan yang selalu kita dambakan dalam hidup ini, baik batin maupun jasmani. Siapa saja yang pernah merasakan beban berat dan dibuat susah karenanya, pasti akan bisa menghargai dan mensyukuri keadaan ketika beban tersebut menjadi tiada. Perasaan ringan dan enteng itu kemudian berubah menjadi kelapangan, kelegaan, dan keleluasaan untuk melihat serta bergerak lebih bebas. Menghadirkan kehidupan yang berbeda.

Foto: Anthony Tran

Yang harus kita lakukan seringkali sesederhana pilah lalu tinggalkan, sebab tak semua hal sepenting itu untuk terus dipikul ke mana-mana. Hanya saja, seberat-beratnya beban fisik, lebih berat lagi beban mental. Beban fisik berupa benda; bisa diangkat sendiri atau bersama-sama. Dapat dilihat, dan dapat dinilai oleh orang lain. Jika sudah tidak diperlukan atau dapat ditinggalkan, cukup diletakkan begitu saja. Bahkan bisa saja langsung dibuang sebagaimana mestinya.

Berbeda dengan beban batin yang gaib, tak kasatmata, dan kerap justru lebih membahayakan dibanding benda nyata. Beban batin belum tentu bisa dibagi. Saat ada keinginan untuk membaginya pun, mesti tetap berlaku hati-hati supaya tidak tambah sakit hati. Apabila tidak tepat, beban batin yang niat awalnya ingin dibagi tersebut bukannya menjadi ringan, malah bertambah berat.

Di antara berbagai cara yang biasa kita lakukan untuk membagi dan mengurangi beban batin, salah satu yang paling digemari adalah menyalahkan dan memojokkan diri sendiri. Padahal, beban batin itu bukannya berkurang, melainkan hanya dialihkan ke kompartemen ego yang berbeda. Ada kompartemen yang dipenuhi puja puji, ada pula kompartemen untuk kehinaan diri.

Jikalau orang-orang yang terlalu positif atau terlampau percaya diri selalu mencari—bahkan mirip kecanduan—validasi orang lain atas keberhasilan serta pencapaian-pencapaian dalam hidup mereka, menyalahkan dan memojokkan diri merupakan kebalikannya 180 derajat. Berupa validasi negatif. Mereka ingin diiyakan sebagai seseorang yang paling malang, paling kurang, paling tidak berkualitas, paling tidak berguna, dan sebagainya di seluruh dunia. Seolah-olah ada kenyamanan ego yang mereka peroleh dari validasi negatif tersebut.

Salah satu ciri khasnya adalah kemampuan melihat segala hal secara negatif. Dalam sebesar atau sekecil apa pun suatu kebaikan maupun prestasi yang diperoleh, selalu saja ada nada sumbang yang dilontarkan. Terhadap hal ini, sebenarnya terdapat dua sudut pandang berbeda. Dari si pengucap, dan para pendengar.

Dengan terus berupaya mendapatkan validasi negatif atas apa pun yang telah mereka capai atau lakukan, si pengucap ingin menunjukkan bahwa dirinya tidak cukup pantas; biasa-biasa saja; atau terkesan berusaha ingin bersikap rendah hati—meskipun kebablasan, dan pada akhirnya malah ditangkap sebagai kesombongan terselubung.

Sedikit banyaknya, kita pernah bersikap begini, atau mungkin terus berlangsung sampai sekarang. Tanpa sadar, dan terus mengakar kuat.

Foto: Lesly Juarez

Kembali ke pilah lalu tinggalkan. Tak ada yang benar-benar penting untuk dibopong ke mana-mana. Maka, alami sesuatu, dapatkan pengalaman dan kesannya, kemudian tinggalkan. Tidak perlu disanjung-sanjung maupun direndah-rendahkan sendiri.

Hidup minimalis; hanya mengisi hidup dengan hal-hal yang sungguh penting, dan berguna dalam kurun waktu lama. Dibutuhkan kebijaksanaan dan kedewasaan. Yang tumbuh, bukan muncul begitu saja. Demi kehidupan yang ringan dan enteng, lapang, lega, serta leluasa.

[]

Tutur Bahasa Indonesia Nan Adiluhung … atau Ambigu?

SETIAP orang Indonesia yang sudah cukup dewasa dan tidak punya masalah komunikasi lisan tampaknya akan selalu memiliki kemampuan ini; memahami maksud tersembunyi lewat pesan yang tak diucapkan secara terang-terangan.

Jadi semacam rahasia umum, atau kesepakatan bersama, bahwa ketika seseorang mengatakan sesuatu, yang dia inginkan sebenarnya ialah sesuatu yang berbeda. Kita pun akhirnya ikut terbiasa, lantaran terus-menerus terpapar dengan pola seperti ini, dan justru turut paham pesan yang disampaikan. Terutama berupa ungkapan-ungkapan khas.

“Tolong kamu apakan dulu itunya biar dia bisa bagaimana lah. Tolong, ya.”

Saat mengutarakan ini, tentu terikat pada konteks tertentu yang berlangsung saat itu. Kalau tidak, semuanya bakal berantakan dan menjadi tak jelas arahnya; apanya yang diapakan, supaya tidak bagaimana?

Ada tingkat kepercayaan diri‒atau beda tipis dengan arogansi‒yang tinggi ketika seseorang mengucapkan celetukan ini, yaitu bahwa kepada siapa pun pesan ini ditujukan, yang bersangkutan haruslah paham dan langsung mengerjakannya. Tanpa perlu bertanya ulang, meski sekadar memastikan.

“Tahu sama tahu.”

Ada asumsi dalam pernyataan ini, bahwa semua pihak yang terlibat dalam pembicaraan sudah memiliki pemahaman yang sama terhadap sesuatu. Selaras antara yang diminta, dan yang bisa diberikan, tanpa keberatan, tanpa sanggahan, tanpa penolakan. Menjadi semacam kode universal, tanpa mempertimbangkan kemungkinan adanya ketidakcocokan, perlunya penyesuaian, dan perubahan lebih lanjut.

“Ya begitulah…”

Begitu yang gimana? Entah apakah pihak pendengar yang harus menebak sendiri, atau pihak penyampai yang malas menjelaskan lebih jauh?

“Pokoknya beres.”

Pernyataan ini pada dasarnya disampaikan untuk memberi dan mendorong rasa tenang, atau rasa terjamin terhadap sesuatu kepada si penerima pesan. Maksudnya adalah, tidak perlulah pusing, cemas, khawatir, atau bersusah payah memikirkan sesuatu bakal berjalan lancar dan baik atau tidak. Percayakan saja, dan semuanya pasti sesuai keinginan.

Masalahnya seringkali ada pada kesamaan standar dan kesepahaman mengenai capaian yang diinginkan. Beres menurut seseorang, belum tentu sama beresnya menurut orang lain. Dengan demikian ada reputasi yang dipertaruhkan, sebab ucapan ini diucapkan oleh si pelaksana, yang mengerjakan sesuatu tersebut.

“Tolong dikondisikan.”

Setiap kali mendengar ungkapan ini, saya langsung bertanya dalam hati tentang kondisi seperti apa yang diinginkan oleh si pengucap? Apakah bersifat positif atau negatif? Apakah berupa tindakan tertentu, atau justru harus disikapi dengan tindakan khusus?

Mempertanyakan kembali kondisi “kondisi” yang diinginkan pada saat ini disampaikan, dapat menimbulkan kesan ketidakmampuan memahami maksud sejak awal. Bisa juga dibarengi sentimen ketidaktepatan dan ketidakcermatan saat menjalankan tugas. Mau tidak mau harus mampu paham dalam ambiguitas dan ketidakjelasan.

Pada saat ungkapan ini disampaikan, sebenarnya wajar bagi siapa pun yang mendengarnya untuk bertanya-tanya apakah si pengucap memang sedang hemat bicara, atau malah juga tidak paham apa yang sebenarnya dia inginkan.

“Bisa kurang lebih lah.”

Seberapa jauh batasnya? Sesedikit apa kurangnya, dan sebanyak apa lebihnya? Lagi-lagi, kedua pihak sebaiknya memiliki pengertian yang sama, demi menghindari perselisihan lebih lanjut. Karena bagaimanapun juga, diperlukan negosiasi yang gamblang untuk mengetahui titik tengah bagi semua pihak.

Di pasar atau pusat perbelanjaan umum, persoalan kurang lebih bisa dibantu dengan nominal angka. Namun, untuk perihal yang lain, tetap ada kemungkinan ketika sedikit menurut satu pihak, tetapi masih kebanyakan menurut pihak lainnya.

“Atur aja…”

Memiliki karakteristik yang agak berbeda dibanding yang lain, ungkapan ini menunjukkan sikap keterserahan. Bukan pasrah, melainkan kesediaan aktif untuk menyerahkan atau mempercayakan penanganan dan penyelesaian sesuatu kepada orang lain.

Dalam situasi tertentu, ungkapan ini juga bisa mengesankan keinginan untuk tidak mau repot, tinggal menunggu dan menerima hasilnya. Termasuk di dalamnya kecenderungan untuk tidak ambil pusing, dan tidak terlalu mau tahu dengan metode maupun cara yang digunakan.

“Mohon kebijaksanaannya.”

Sisi ambiguitas dari ungkapan ini terletak pada seberapa bijaksana kedua belah pihak dalam masalah yang terjadi? Meski terdengar seperti sebuah permintaan pasif, akan tetapi pada dasarnya terdapat ekspektasi atau keinginan yang harus dipenuhi.

Setiap orang bertindak dengan, dan memiliki tingkat kebijaksanaan yang berbeda. Bijaksana bagi seseorang, belum tentu menyenangkan atau sesuai keinginan orang lain. Pasalnya, ada banyak hal yang patut dipertimbangkan bila terkait dengan kebijaksanaan. Sikap bijaksana itu adil, jelas, objektif, dan tidak bias. Dengan demikian, dalam banyak situasi kita bisa melihat bahwa ungkapan ini lebih condong kepada sebuah permintaan yang didasari pada aspek-aspek subjektif. Termasuk mengkamuflase emosi dan simpati.


Di era ini, kala segalanya bertambah laju dan kencang, tak semua orang memiliki ketahanan dan kemampuan untuk mengikuti alur pembicaraan. Baik yang berupa basa-basi berkedok sopan santun dan tata krama, maupun bahasa-bahasa bersayap yang tersirat.

Sementara keseharian kita sudah sedemikian melelahkan, rasanya terlalu berharga memboroskan stamina maupun tenaga untuk munafik dan berpura-pura.

[]

Mengapresiasi dan Berterima Kasih

LANGSUNG saja. Terpujilah pergelaran-pergelaran gratisan, terberkatilah orang-orang yang memungkinkan semua itu terjadi, serta sepatutnyalah bersyukur mereka yang berkesempatan hadir dan menikmatinya. Beruntung, semua itu kian sering ditemui di banyak kota–yang besar maupun yang sedang–di Indonesia.

Termasuk yang telah, dan tengah saya alami saat ini, di Jakarta.

Melewatkan kesempatan menghadiri seremoni pembukaan Europe on Screen (EoS) 2019–festival film-film Eropa terkurasi yang digawangi oleh Mas Nauval–Kamis pekan lalu (18/4), baru semalam saya kembali menikmati pengalaman mengantre tiket gratisan; memilih tempat duduk secara bebas; melihat official bumper video/opening title video dari EoS 2019; dan menonton film yang sudah dijadwalkan.

Sebuah kebetulan banget, judul yang diputar tadi malam adalah “Terra Willy”, film animasi komersial yang akan beredar di bioskop mulai bulan depan. Menonton dan menikmati festival, mengambil sejenak jeda dari hiruk pikuk kehidupan keseharian yang penuh dengan aksi kejar-kejaran, untuk dibuat merasa gembira setelahnya.

Film yang menyenangkan!

Dari sampul bukletnya, EoS tahun ini tetap hadir di banyak kota selain Jakarta. Dimulai dari yang paling dekat; Tangerang, dan Bekasi, disusul Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, serta Medan. Berlangsung hingga penutupan festival di 30 April mendatang. Masih sampai seminggu lagi.

Cek dan simak katalog filmnya di situs EoS. Silakan pilih judul-judul dari total seratusan karya yang tersedia, tanggal dan waktu, serta lokasi menontonnya. Tak ada perbedaan metode dan mekanisme dibanding EoS tahun-tahun sebelumnya, kecuali ada kartu penanda keanggotaan di penyelenggaraan tahun ini.

Terima kasih, Mas Nauval dan tim yang kembali menghadirkan EoS tahun ini.


Mencerap. Dicerap. Tercerap.

Begitu pun beberapa pekan sebelumnya. Sekali lagi, sangatlah beruntung warga kota ini, dilimpahi sedemikian banyak wadah ekspresi seni beraneka kaliber secara rutin. Tinggal pilih untuk dikunjungi, dinikmati, dan diapresiasi.

Adalah pameran objek-objek instalasi dan spasial “The Monster: Chapter II Momentum” dari Pramuhendra, yang sepenuhnya disajikan bugil tanpa curatorial note atau catatan karya. Berlangsung di gedung utama Galeri Nasional Indonesia, gelap, dan sepenuhnya bernuansa Katolikisme.

Salah satu karya yang paling menarik perhatian saya adalah–entah, apa judulnya–kolam ketenangan. Gelap, hening, sunyi, tertutup, hampir tanpa intervensi luar. Hanya ada sesorot cahaya, penerangan yang diarahkan ke tengah-tengah kolam dangkal persegi panjang beralas kain warna hitam, tempat sebuah replika bebas burung merpati (perlambang kedamaian) ditempatkan. Kecil, nyaris tak dikenali dari posisi pengunjung, tetapi mencuat mengemuka. Lagi-lagi beruntung, datang kala sepi, sehingga memiliki kesempatan lebih lama untuk jongkok sendiri tercerap dalam suasana yang coba dihadirkan sang perupa.

Ingin duduk, bersila di bibir anjungan kolam buatan, layaknya posisi lazim meditasi, lantaran–meditatif–tampaknya itulah yang ide dasar yang disuguhkan sang seniman.

Mencoba bertafakur.

Sampai akhirnya diingatkan seorang penjaga yang berkostum jubah biarawan Katolik asketis, berwarna cokelat, bertudung dengan ujung lancip menghadap ke atas, dan menutup hampir keseluruhan wajah, berikat tampar di pinggang.

Kendati nyaring, suaranya terdengar berjarak. Sejauh kesadaran realitas dengan pusaran kesan yang muncul di situ.


Saya yakin, terdapat berbagai pergelaran atau pun pameran seni lainnya yang sedang berlangsung saat ini selain kedua kegiatan di atas. Punya waktu dan minat, cobalah hadiri. Sendirian atau bersama teman, sama saja. Sama asyiknya.

Cukup datang, masuk, mencoba memahami sebisa mungkin, atau langsung saja berusaha menikmati yang ada, mengamati kesan dan persepsi yang ditimbulkan, untuk kemudian menjadi seseorang dengan pengalaman yang telah diperkaya. Walaupun sedikit. Setidaknya, memunculkan dorongan supaya mengapresiasi, dan berterima kasih.

Pengin rasanya kapan-kapan bisa hadir dan menyaksikan gelaran lain di kota-kota lainnya. Apalagi kalau ada di … Samarinda.

[]

Cinta Jangan Terlalu Cinta, Benci Jangan Terlalu Benci

HARI ini kita memilih. Semuanya digabung jadi satu. Mulai memilih anggota DPRD di kota dan ibu kota kabupaten masing-masing sampai calon presiden, yang untungnya—atau malangnya—hanya terdiri dari dua pasangan. Keduanya pun sama-sama wajah lama, beda kiprah dan ranah saja. Yang satu petahana, yang satu lagi gigih unjuk diri untuk sekian lama.

Wajar jika ada yang suka maupun tidak suka terhadap masing-masing pasangan calon. Bukannya muncul begitu saja, preferensi atau pendapat itu muncul dengan segala alasan, pertimbangan, dan narasinya. Bedanya, ada yang tumbuh dari kesadaran dan pemahaman atas pemikiran sendiri; lalu sebaliknya, ada juga yang didasarkan pada rasa percaya terhadap orang lain, dipengaruhi pendapat orang lain, atau boleh disebut indoktrinasi.

Baik kelompok yang mendukung maupun menolak pun sama-sama terbagi dalam beberapa spektrum. Dari yang paling garis keras, hingga ke paling lembut hampir datar. Namun, barisan paling fanatik, berisik, mendengar dan melihatnya saja bisa bikin terasa melelahkan yang paling mengemuka, paling sering tampil, paling sering memenuhi media lewat segala perangainya. Seringkali sampai membuat kita terusik.

Kedua kubu memiliki semuanya, tetapi proporsi atau jumlahnya yang tampaknya berbeda.

Asumsinya, makin banyak pendukung yang fanatik menunjukkan bahwa ketokohan yang tertanam sangat kuat, tidak lupa, sekaligus potensi kehilangan kemampuan melihat secara objektif, terbuka, dan kritis. Hanya seorang pemimpin megalomania beserta para kaki tangannya yang picik, yang nyaman dengan situasi ini.

Sebagai sesama manusia pun, kita sama-sama tidak punya kemampuan menebak isi hati dan pikiran seseorang.

Foto: Jon Tyson

Sementara itu, selain kelompok pendukung maupun penolak, ada pula kelompok yang tidak keduanya—atau bahkan tidak peduli terhadap keduanya.

Ada yang bersikap tidak peduli lantaran sudah apatis dan patah harapan (patah harapan kepada sistem, kepada figur, kepada keadaan, dan sebagainya); ada yang bersikap tidak peduli lantaran malas mencoba lagi; ada yang bersikap tidak peduli sebagai bentuk protes dan mogok berpartisipasi; ada yang bersikap tidak peduli karena mengambek segala sesuatunya dirasa tidak sesuai keinginan dia; ada pula yang bersikap tidak peduli karena … ya, tak peduli saja, malas gerak.

Terlepas dari pengotakan di atas, pada dasarnya semua orang sama dan setara. Tidak ada segolongan pun yang lebih tinggi atau lebih rendah dibanding yang lain dalam hal kedudukan sosial. Riak dan gesekan yang ditimbulkan memang kerap bikin gemas, jengkel, dan geregetan. Hanya saja—menurut saya—itu tak ubahnya pergaulan kita sehari-hari. Ada yang bebal, ada yang sabar, ada yang pintar, ada yang licik, ada yang tak acuh, ada yang tulus, ada yang berjiwa besar, ada yang kecut hati, ada yang menyenangkan, ada yang mengesalkan, ada yang bikin males, ada yang bikin rindu … dan tentu saja mustahil berharap semua orang bisa bersikap sesuai yang kita inginkan. Lagipula, belum tentu semua yang kita pikiran, rencanakan, dan inginkan bakal membawa dampak positif serta rentetan hal-hal baik sesuai bayangan sebelumnya.

Cobalah untuk selalu menyisakan ruang hening dan tenang dalam hati, supaya tidak terlampau sesak. Kemudian, mari saling melanjutkan hidup dengan sebaik-baiknya. Ini berlaku bagi semua. Mau “cinta”, “benci”, atau pun “tak peduli”, toh semuanya berakhir hari ini.

Ya … seperti hari ini. Sebesar apa pun sebuah pesta (juga anti pestanya), pasti akan usai pula. Mau tidak mau, bersiaplah untuk besok. Sebab kehidupan itu mestinya terus moving on, bukan mandek.

Selamat memilih, bagi yang memilih.
Bagi yang sengaja melewatkan kesempatan memilih, selamat libur panjang. 😊

[]

Terlampau Indah

RASA sakit dan wajah-wajah yang mengerang, air mata dan tangis, tubuh-tubuh telanjang yang lemah, kubangan darah, daging merah segar, organ-organ tubuh manusia, gunting pemotong yang tajam, napas yang terengah-engah, basah dan becek di mana-mana, serta senyuman-senyuman bahagia yang ditujukan kepada tubuh-tubuh lemah terkulai tak berdaya.

Di antara sekian banyak hal indah di dunia, gentle birth ialah salah satunya, menurut saya. Tak hanya indah, tetapi sekaligus mencekam dan menakutkan.

Setidaknya ada dua nyawa yang dipertaruhkan dan diperjuangkan agar tetap hidup. Ada berjiwa-jiwa lainnya yang berdoa, menanti dalam kecemasan. Ada pula dorongan rasa cinta yang sedemikian kuatnya. Begitu kuat terasa, cukup hanya dengan melihatnya dari kejauhan.

Tidak pernah sekalipun tidak merinding, bergidik ngeri, dan terharu secara bersamaan ketika melihat foto-foto—apalagi video—dari gentle birth. Termasuk milik Vanessa Decosta pada 11 Maret lalu, dan diabadikan oleh Vanessa Mendez (semua langsung terhubung ke album Facebook; NSFW) berikut ini.

Vanessa Decosta, sang ibu, meringkuk, mengejan.
Fotografer: Vanessa Mendez

Her pain.
Ibunya.
That very moment!

What a strong mother!
Tali pusar tidak buru-buru dipotong, plasenta tetap dibiarkan bertahan dalam rahim selama beberapa waktu.
You did a good job, girl!
Sustenance for both.
Hai!

Indigo June. It’s her name.

Album lengkap: The Birth of Indigo June

Melihat foto-foto dari peristiwa menakjubkan tersebut, kita–saya–kembali diingatkan betapa kuatnya seorang wanita, terutama sebagai seorang ibu. Kelahiran dan proses persalinan memang bukan titik akhir, tetapi cukup dari titik ini saja, kita dapat menyadari sepenuhnya bahwa woman is the very symbol of humanity.

Jangan bawa-bawa kodrat, di sini bukan tempatnya. Kelahiran dan proses persalinan memang sedemikian agung, luhur, dan sepatutnya dihujani takzim oleh siapa saja. Bukan sekadar urusan konsekuensi alamiah dari persetubuhan (yang banyak orang tak siap menghadapinya), bukan pula sekadar ambisi punya anak dan meneruskan keturunan (entah demi apa saja, sih?). Wanita bukanlah alat untuk beranak! Wanita berhak memilih dengan sepenuh-penuhnya kesadaran. Bukan lantaran tanggung jawab moral kepada suami dan orang tua dari kedua belah pihak; bukan lantaran tanggung jawab sosial kepada orang lain; bukan pula lantaran diiming-imingi, terlebih diperdaya.

Begitu pula sebaliknya.

Alasannya sudah jelas. Wanitalah yang…

  • Dihamili
  • Hamil selama sembilan bulan
  • Menanggung risiko dan sakitnya proses persalinan
  • Berkemampuan untuk menyediakan nutrisi dan sumber makanan pertama bagi sang bayi
  • Menjadi ibu

Bukan orang lain, para wanita berhak memutuskan ingin/tidak ingin memiliki anak (minimal) berdasarkan poin-poin di atas. Silakan tuding saya melakukan mansplaining, yang jelas foto-foto Vanessa Decosta di atas membuat saya berkata demikian.

Ini menyangkut kesejahteraan batin si ibu dan si anak. Kesampingkanlah dahulu kepentingan suami, orang tua, mertua, apalagi tetangga. Sesayang apa pun mereka, tampaknya, kepada sang bayi.

Kembali ke foto-foto proses persalinan Vanessa Decosta di atas sebagai contoh. Sang ibu memilih untuk menjalani gentle birth dengan sepenuh hati meskipun harus bersusah payah, dan agak berantakan. Sang suami mendampingi di sepanjang proses, lengkap dengan skin-to-skin contact. Ibunya sang ibu pun hadir memberikan dorongan semangat, senyum, dan dukungan kepada putrinya (atau menantunya). Dari situ saja, bisa dirasakan adanya curahan kasih sayang yang besar, kesediaan dan kehadiran, komitmen dan kekuatan kebersamaan. Maka, tak aneh bila kemudian kita–saya–berasumsi bahwa si kecil akan dirawat dan tumbuh dibesarkan dalam lingkungan terbaik. Paling tidak tergambarkan lewat cara penanganan yang dipilih dalam proses persalinan.

Gentle birth di tangan yang tepat, menjadi proses persalinan yang minim trauma bagi sang bayi, walaupun terlihat lebih merepotkan. Tidak buru-buru memisahkan sang bayi dari tembuninya, yang lagi-lagi berarti meminimalkan risiko dan memaksimalkan penyerapan zat nutrisi internal selama dalam kandungan.

Besar kemungkinan, segalanya dipikirkan matang-batang, dipilih dan dijalani sedalam-dalamnya kesadaran.

Dari contoh Vanessa Decosta tadi, semua orang, dan semua yang berkelindan di dalamnya…

Indah.
Sekali lagi, terlampau indah.

[]

Tentang mereka yang bisa ke atas dengan mudahnya

KITA awali saja dengan serangkaian peristiwa yang diperingati hari ini.

1. Nabi Muhammad SAW

Ilustrasi peristiwa mikraj dalam kitab Siyer-i-Nebi dari masa Utsmaniyah abad ke-15. Gambar: publicdomainreview.org

Ialah Isra dan Mikraj. Yaitu diberangkatkan dalam sebuah perjalanan, lalu dibawa naik atau dinaikkan.

Perjalanan (Isra) berlangsung dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem dalam semalam. Tetap dengan menunggangi burak, Rasulullah dibawa naik untuk kemudian melintasi berlapis-lapis langit serta bertemu pada nabi pendahulu. Berturut-turut dimulai dari Nabi Adam, Nabi Isa (Yesus) dan Nabi Yahya (Yohanes), Nabi Yusuf, Nabi Idris, Nabi Harun, Nabi Musa, Nabi Ibrahim (Abraham). Di langit tingkat tertinggi barulah Rasulullah menerima perintah beribadah wajib. Dijadikan lima kali dalam sehari, sejak subuh sampai isya.

Gambar terkait
Ilustrasi burak yang populer selama ini, dan kerap menghiasi dinding ruang tamu sebagai ornamen utama. Gambar: publicdomainreview.org

2. Yesus Kristus

Setelah penyaliban (Jumat Agung), kebangkitan dalam kubur batu terjadi di hari ketiga (Minggu Paskah). Lalu, tubuh itu pun terangkat dari Bukit Zaitun ke surga lepas 40 hari sesudahnya, ketika Yesus kembali berhimpun dan berkumpul dengan sejumlah murid.

“… et eritis mihi testes in Jerusalem, et in omni Judæa, et Samaria, et usque ad ultimum terræ.

“… kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.

Kisah Para Rasul 1:8

Kini, mereka, golongan orang-orang yang percaya, tengah menanti janji nubuat kedatangan Yesus Kristus untuk kedua kalinya. Salah satu penanda akhir zaman.

Gambar terkait
“Christi Himmelfahrt” atau “Naiknya Kristus” karya Gebhard Fugel tahun 1893. Gambar: Wikipedia

3. Yudistira

Perang kolosal Mahabharata telah lama usai. Dimenangkan oleh kubu Pandawa, Yudistira kembali memimpin kerajaan Hastinapura selama 36 tahun, sebelum akhirnya menarik diri bersama istri dan para saudaranya. Mereka bertujuh: Pandawa Lima (Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa), istri mereka Drupadi, dan seekor anjing melakukan perjalanan spiritual menuju surgaloka di Himalaya.

Satu demi satu anggota rombongan meninggal di sepanjang perjalanan akibat buah karma mereka. Dimulai dari Drupadi, Sadewa, Nakula, Arjuna, dan Bima. Tersisa Yudistira dan anjingnya yang terus berjalan hingga mencapai kaki Gunung Meru menuju kayangan.

Di tengah-tengah perjalanan yang sepi itu, muncul Dewa Indra dengan keretanya. Dewa Indra menawarkan tumpangan kepada Yudistira ke surga, tetapi ditolak. Yudistira tidak mau ke surga tanpa istri dan saudara-saudaranya. Dewa Indra terus membujuk, menyebut Drupadi dan adik-adiknya telah mencapai surga setelah kematian mereka. Menurut Dewa Indra, Yudistira bisa naik ke surga dalam tubuh manusianya—tanpa melalui kematian—karena moralitasnya yang tanpa cela.

Belum selesai di situ, Yudistira kembali urung bergabung dengan Dewa Indra lantaran dilarang membawa anjingnya serta. Yudistira telah menganggap anjing tersebut sebagai teman seperjalanan, dan merasa sangat berdosa apabila meninggalkannya demi kebahagiaan sendiri.

Di tengah proses bujuk rayu Dewa Indra kepada Yudistira, anjing itu menunjukkan bentuk aslinya: Dewa Yama. Ia memuji kesetiakawanan Yudistira, dan membuatnya pantas memasuki surga dalam raga duniawinya.

Gambar terkait
Ketika Dewa Indra membujuk Yudistira menaiki keretanya ke kayangan tanpa membawa anjingnya. Gambar: Wikipedia

4. Buddha Gotama

Ratu Maya meninggal saat tujuh hari setelah melahirkan Pangeran Siddhattha.

Sebagai seorang piatu, sang pangeran tumbuh besar di bawah asuhan Pajapati, tantenya, dan tentu tidak berkesempatan untuk berbagi kebahagiaan atau pun berbakti kepada ibu kandungnya. Ketika ia berhasil memenangkan sayembara dan menikahi Yasodhara; ketika putranya lahir, Rahula; ketika ia kembali mengunjungi kerajaan kampung halamannya sebagai seorang Buddha.

Pada tahun ketujuh kebuddhaannya, Buddha Gotama melihat dan mempelajari kebiasaan para Buddha di masa lalu. Salah satunya ialah pergi dan mengajarkan Abhidhamma kepada murid dan makhluk-makhluk lain yang mampu memahaminya kala itu–kendati pada akhirnya tercatat dan berhasil dibukukan beberapa abad setelah wafatnya. Abhidhamma sendiri merupakan kumpulan ajaran mendalam yang disepakati berasal dari Sang Buddha langsung secara historis, dan kemudian jadi bagian dari Tipitaka hingga sekarang.

Mendiang Ratu Maya melanjutkan siklus kehidupannya terlahir di surga tingkat empat, Tusita, yaitu seorang dewa bernama Santusita. Maka pada saat Buddha Gotama mengunjungi surga tingkat dua, Tavatimsa untuk membabarkan Abhidhamma kepada ribuan dewa penghuninya, Santusita turut diundang hadir.

Pengajian Abhidhamma di Tavatimsa berlangsung selama tiga bulan (ukuran waktu bumi). Selama itu pula, para umat awam menunggu kepulangan Sang Buddha sambil berkemah dan mendengarkan ajaran dari beberapa murid utama. Titik konsentrasi umat ada di Samkassa (kota kuno yang saat ini bekas-bekasnya dipercaya berada di antara kota Farrukhabad dan Mainpuri, Provinsi Uttar Pradesh) sehingga Sang Buddha memutuskan “turun” di sana.

Mengetahui rencana kepulangan Sang Buddha ke bumi, Dewa Sakka—pemimpin surga Tavatimsa—menciptakan tiga jalur “tangga” dari “puncak Gunung Sineru” dan berujung ke pintu kota Samkassa. Jalur-jalur tangga tersebut terbagi menjadi tangga perak di kiri bagi para Mahabrahma, dan tangga emas di kanan bagi para dewa mengapit tangga permata untuk Sang Buddha.

Gambar terkait
Sang Buddha turun dari Tavatimsa didampingi para dewa hingga Mahabrahma dengan tangga permata. Gambar: journal.phong.com

Kisah-kisah di atas berasal dari hampir semua agama resmi yang diakui negara ini. Hanya saja, saya belum pernah membaca/tidak pernah menemukan catatan peristiwa serupa dalam ajaran Konghucu. Sementara ajaran Tao yang memiliki segudang cerita sejenis (Delapan Dewa, Lv Shang alias Jiang Ziya, atau bahkan sosok Laozi sendiri) masih dianggap bagian dari kepercayaan tradisional Tionghoa, yang rancunya, terkadang dilekatkan pada Buddhisme Mahayana. Maka dapat dikesampingkan untuk sementara waktu.

Dari keempat kisah di atas, saya hanya berhak mengomentari cerita tentang Sang Buddha “turun” dari Surga Tavatimsa.

Sebagai seorang Buddhis, saya tidak berkewajiban membuta untuk mempercayai kisah tersebut bulat-bulat. Toh, saya tidak ada di sana dan menyaksikannya waktu itu. Apalagi tidak tertutup kemungkinan, terbatasnya wawasan dan ilmu pengetahuan manusia di era tersebut dapat menyebabkan kekeliruan serta mispersepsi. Misalnya mengenai ruang: “naik”, “ke atas”, “turun”, “tangga”, dan sebagainya. Membuat kisah pembabaran Abhidhamma di surga itu terdengar mirip dongeng.

Apakah benar Sang Buddha naik untuk ke Surga Tavatimsa?
Apakah benar Sang Buddha turun ke bumi menggunakan tangga ciptaan Dewa Sakka?

Namun, satu hal yang nyata, kumpulan kitab Abhidhamma memang ada dan sebagiannya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Bukan untuk sekadar dianggap sakral atau keramat, tetapi agar mudah dibaca, dipahami, dipraktikkan, dan dialami sendiri. Sebab hakikatnya, menjalankan dhamma—ajaran—jauh lebih penting dibanding urusan “tangga-tangga gaib” yang ribuan kilometer panjangnya.

Demikianlah sebagian cerita tentang mereka yang bisa ke atas dengan mudahnya.

… dan, barangkali, bukan itu intinya.

[]

Kopar Kapir Horam Harom… Haruskah Ku Peduli?

CAPEK, lho, beneran. Mendengar/melihat orang lain berbicara dan saling berbantahan hampir setiap hari di mana saja. Namun, sayangnya keberisikan ini tak bisa dihindari. Disodorkan di depan muka kita tanpa kesempatan untuk mengelak. Ibarat dipaksa menjadi pemirsa, menyaksikan apa yang terjadi di panggung begitu saja, tapi serba ndak jelas ranahnya.

Memang cuma “orang dalam” yang berhak tampil dan bersuara soal masalah tersebut. Mereka yang punya kepentingan. Mereka adalah para penganut. Mereka yang harus mengurusi, sebab menyangkut hidup mereka, bagaimana mereka menjalaninya, dan bagaimana mereka berupaya bertanggung jawab secara sosial dan moral kepada sesama.

Makanya, tak perlu kaget kalau ada tulisan di Mojok yang berjudul: “KALAU PUBG HARAM, APAKAH MUI PERLU MENGHARAMKAN KITAB SUCI SEKALIAN?”

Yang dikritik adalah organisasi pemuka agama Islam, yang mengkritik pun seorang muslim. “Aman”, lantaran tidak melibatkan pemeluk agama lainnya secara aktif. Ya… paling-paling hanya menjadi pembaca dan pemberi komentar.

Sembarang œ wis… Itu urusan mereka.

Mari kita resapi sejenak, “Surefire”-John Legend.

Pada dasarnya, perkara label-label semacam “kafir”, “haram”, serta berbagai pengistilahan lainnya berasal dan hanya berlaku secara terbatas. Yakni di dalam komunitas muslim, atau kelompok masyarakat yang para anggotanya telah mengikrarkan diri untuk tunduk dan patuh terhadap aturan-aturan agama Islam. Otomatis, pemaknaan dan ragam penggunaan istilah-istilah tersebut pun tidak berlaku menyeluruh. Bagi saya, misalnya.

Sesuai koridor dan proporsinya, para kenalan maupun kawan yang muslim sangat boleh menyebut saya sebagai seorang kafir. Pasalnya, saya menyembah galon akwa. Berarti saya tidak beragama Islam, bukan seorang muslim. Kenyataan ini menjadi prasyarat utama untuk mengkategorikan saya sebagai seorang kafir.

Lalu, apakah saya harus merasa terganggu ketika dipanggil “Kafir, kamu!“?

Lha wong tuhannya beda, kok. Justru menjadi aneh bila saya terganggu dengan panggilan itu–kecuali jika ucapan tersebut dilontarkan tepat di depan hidung kita oleh seseorang yang lupa sikat gigi.

Lebih terganggu baunya, sih, bukan ucapannya.

Di sisi lain, jangan lupa bahwa pengistilahan adalah salah satu aktivitas linguistik. Apa pun tujuannya, perumusan dan penggunaan suatu istilah dimaksudkan untuk mempermudah komunikasi. Efek samping yang ditimbulkan bisa berupa pemaknaan konotatif dan pengarahan persepsi, dramatisasi, dan penggunaan yang keliru atau salah kaprah.

Contohnya, (1) alih-alih digunakan dalam percakapan antarsesama muslim, sebutan “kafir” malah lebih populer dijadikan bahan perundungan. Termasuk kepada orang yang tak dikenal sekalipun.

"Dasar kafir!"

Kemudian (2) alih-alih digunakan dalam percakapan antarsesama muslim untuk sekadar menyebut penganut agama lain, sebutan “kafir” seakan-akan digunakan untuk mengesahkan perbedaan kedudukan. Yaitu bahwa para muslim memiliki derajat lebih tinggi daripada para penganut agama lain. Juga melanggengkan stereotip.

Unpopular opinion: Sebenarnya sah-sah saja apabila para muslim berpandangan seperti itu. Namanya juga kepercayaan agama, dianggap kebenaran tunggal tak ada duanya. Akan tetapi, banyak yang tidak menyadari bahwa pandangan ini bisa mengakar sedemikian kuat, hingga memengaruhi tindakan atau perbuatan kesehariannya.

Secara logis, seseorang tak akan mampu melakukan sesuatu secara nyaman jika bertentangan dengan pikiran atau kehendaknya sendiri.

Kemungkinannya besar, seseorang yang bisa melakukan diskriminasi agama betul-betul percaya bahwa para penganut agama lain memang memiliki kedudukan lebih rendah dibanding mereka.

"Kalau kafir ya pantesnya digituin."

Berikutnya, (3) alih-alih digunakan dalam percakapan antarsesama muslim, sebutan “kafir” dilancarkan untuk mengintimidasi. Seolah-olah menjadi bagian dari upaya penyadaran dan pertobatan. Asumsinya, dengan sering disampaikan, ditambah intonasi yang tepat, si pendengar akan terdorong atau tergerak untuk menyadari kesalahannya (baca: menganut agama lain).

Padahal, pahala dan dosa, kepantasan masuk ke surga dan ganjaran jatuh ke neraka, hak tuhan sepenuhnya selaku pemilik. Siapa kita? Kok percaya diri banget menjatuhkan vonis akhirat kepada seseorang?

Situ malaikat?
Malaikat pun tetap menunggu perintah majikan, bukan berinisiatif.
Konon.

Terakhir, (4) alih-alih digunakan dalam percakapan antarsesama muslim, tanpa disadari hardikan “kafir” jadi candu ego. Hampir setiap orang ingin menjadi sosok yang penting. Ucapannya sakti, wajib ditaati. Mendapatkan bantahan, jiwanya bergejolak. Meronta ingin memenangkan perselisihan. Sebuah istilah dalam bahasa Arab itu pun mendorong banyak orang menjadi agresif. Beringas.

"Dasar kafir kamu!"
   "Iya. Memangnya kenapa?"
"Kurang ajar! Sudah kafir malah nyolot! Masuk neraka jahanam, kamu!"
   "Tahu dari mana?"
(Akhirnya dikeroyok. Mati.)

Sementara itu, bagaimana dengan “haram”?

Ya… kembali lagi, selain hal-hal terlarang secara universal (seperti: membunuh, mencuri dan mempergunakan uang ilegal, persetubuhan tidak patut, berbohong dan menipu, serta lain sebagainya), “keharaman” berlaku secara terbatas. Hanya oleh penganutnya.

Haram bagimu, belum tentu bagiku.
Jangan asal dipaksa. Memangnya kamu mau kalau dipaksa-paksa juga?

Haruskah ku peduli?
Coba saja dimengerti dan dipahami, supaya tidak melakukan hal serupa kepada yang lainnya.

[]

Berhenti Sok Tahu Mengejar “Kebahagiaan”

SAAT teman baikmu ada masalah dengan pacarnya‒yang lagi-lagi ketahuan selingkuh, kamu gemar, bahkan jago memberikan nasihat kepada dia.

Dengan kebijaksanaan laksana seorang begawan, kamu tunjukkan dan jabarkan hal-hal yang selama ini diluputkannya. Kamu berikan dia pandangan tentang bagaimana menyikapi masalah tersebut. Kamu juga mendorongnya menjadi wanita pemberani. Berani melihat kenyataan, berani mengambil keputusan, berani meninggalkan seseorang yang memang tak pantas didampingi.

Tanpa terlalu mencampuri kehidupannya seperti seseorang yang tak tahu batasan, kamu peluk dan kuatkan dia. Kamu dampingi dia dalam setiap langkah yang perlu diambil untuk menyudahi dan bangkit dari keterpurukan itu. Kamu berhasil mendorong dan menyemangati agar dia kembali menjadi dirinya sendiri. Menjadi seorang wanita yang berharga, yang semestinya diperlakukan dengan sebaik mungkin, yang pantas mendapatkan laki-laki terbaik di sisinya.

Usahamu berbuah manis. Temanmu kembali menjadi figur yang ceria, manis, dan bebas berekspresi. Kamu berhasil membantunya melewati momen-momen tidak menyenangkan yang kritis. Kamu menunaikan tugas sebagai seorang teman yang membantu di saat paling dibutuhkan, sekaligus sekali lagi membuktikan kemampuan sebagai penasihat yang baik. Pemberi panduan bagi mereka yang hilang arah, dan tak tahu harus berbuat apa. Kamu memang hebat.

Nasib orang siapa yang tahu.

Menjadi seseorang yang cantik, pintar, baik, lucu, menggemaskan, dan pandai menampilkan diri bukan jaminan bisa terhindar atau terlepas sepenuhnya dari orang-orang yang tak tahu diuntung.

Kamu diselingkuhi oleh pacarmu sendiri. Seseorang yang sudah diajak menjalani hubungan dua tahunan lamanya.

Kamu terpukul hebat, tentu saja. Untuk beberapa waktu lamanya, giliran kamu yang kehilangan arah. Kamu sadar penuh bahwa kamu adalah korbannya, dan dia, seseorang yang pernah (atau masih) kamu anggap sebagai rumah tempat kelelahan dan hati berlabuh, ternyata tidak lebih dari sekadar bocah. Tak peduli berapa usianya, apa pekerjaannya, berapa yang dia hasilkan, dan pencapaian-pencapaiannya yang lain, dia hanya anak-anak yang dengan mudahnya beralih perhatian dari satu mainan ke mainan lain. Kadang ia pegang di kedua tangannya, bersamaan, tanpa mau melepaskannya. Dibawa saat tidur, dibawa saat mandi, dibawa saat makan, dibawa saat berak. Dia cuma seperti anak-anak, yang manakala dijauhkan dari mainan-mainannya sebentar saja, akan menangis meraung mengamuk tantrum tanpa peduli di mana dia berada, di hadapan siapa dia melakukannya.

Dia tak ubahnya anak-anak. Bukan laki-laki dewasa, seseorang yang seharusnya tahu betul apa arti dari komitmen, tanggung jawab, kejujuran, dan kepatutan. Soal pernikahan dan menjadi pasangan seumur hidup dalam ikatan cinta? Oh, belum tingkatannya. Masih jauh. Banget. Terlepas dari apa pun hal-hal indah yang pernah kalian jalani sebelumnya. Termasuk janji, serta ucapan-ucapan menyenangkan dan menyamankan yang pernah dia sampaikan. Baik lewat teks, dengan berbicara langsung, maupun yang dibisikkannya secara lembut lirih perlahan langsung di depan liang telingamu.

Bila masalah ini dilihat oleh dirimu yang dahulu; yang menasihati, membantu menyadarkan, dan menguatkan teman baikmu kala menghadapi perkara serupa, kamu pasti langsung tahu harus ngapain dan berbuat apa. Baik untuk dirimu sendiri, maupun kepada seseorang yang belum becus menjadi laki-laki dewasa sepenuhnya.

Namun, mendadak kok jadi tidak “segampang” itu? Tak lancar seperti sebelumnya? Kamu justru butuh mendapatkan masukan dari orang lain. Perlu dinasihati dan dibantu menuju solusi.

Itulah kita, yang jago memberikan nasihat bagi orang lain tetapi malah jadi pengambil keputusan yang payah bagi diri sendiri. Meskipun seringkali untuk masalah yang sama. Kan lucu.

Diistilahkan sebagai Solomon’s Paradox, hal ini dikenal sebagai salah satu “keunikan” lazim pada manusia. Yakni ketika seseorang bisa melihat masalah orang lain dengan begitu jelas, sehingga dapat langsung mengidentifikasi inti/fokus utamanya. Dibanding saat menghadapinya sendiri.

Di sisi lain, perbedaannya adalah sudut pandang dan apa yang dialami. Bagi orang lain, masalah tersebut dapat dilihat dari satu atau dua dimensi. Sedangkan bagi yang mengalami sendiri, terdapat banyak faktor dan pertimbangan tambahan. Belum lagi soal perasaan yang hanya diketahui oleh mereka‒dan bikin bias‒secara eksklusif.

Dengan demikian, kita akan selalu rentan untuk menjadi sok tahu tentang masalah orang lain. Belum lagi jika kita menyuapkan (baca: memaksakan) saran-saran yang terdengar positif, tetapi sejatinya beracun.

Sebab segala masalah yang mereka alami, kerap tidak sesederhana yang kita pahami. Hingga akhirnya terjadi pada diri kita sendiri.

[]