Cinta Jangan Terlalu Cinta, Benci Jangan Terlalu Benci

HARI ini kita memilih. Semuanya digabung jadi satu. Mulai memilih anggota DPRD di kota dan ibu kota kabupaten masing-masing sampai calon presiden, yang untungnya—atau malangnya—hanya terdiri dari dua pasangan. Keduanya pun sama-sama wajah lama, beda kiprah dan ranah saja. Yang satu petahana, yang satu lagi gigih unjuk diri untuk sekian lama.

Wajar jika ada yang suka maupun tidak suka terhadap masing-masing pasangan calon. Bukannya muncul begitu saja, preferensi atau pendapat itu muncul dengan segala alasan, pertimbangan, dan narasinya. Bedanya, ada yang tumbuh dari kesadaran dan pemahaman atas pemikiran sendiri; lalu sebaliknya, ada juga yang didasarkan pada rasa percaya terhadap orang lain, dipengaruhi pendapat orang lain, atau boleh disebut indoktrinasi.

Baik kelompok yang mendukung maupun menolak pun sama-sama terbagi dalam beberapa spektrum. Dari yang paling garis keras, hingga ke paling lembut hampir datar. Namun, barisan paling fanatik, berisik, mendengar dan melihatnya saja bisa bikin terasa melelahkan yang paling mengemuka, paling sering tampil, paling sering memenuhi media lewat segala perangainya. Seringkali sampai membuat kita terusik.

Kedua kubu memiliki semuanya, tetapi proporsi atau jumlahnya yang tampaknya berbeda.

Asumsinya, makin banyak pendukung yang fanatik menunjukkan bahwa ketokohan yang tertanam sangat kuat, tidak lupa, sekaligus potensi kehilangan kemampuan melihat secara objektif, terbuka, dan kritis. Hanya seorang pemimpin megalomania beserta para kaki tangannya yang picik, yang nyaman dengan situasi ini.

Sebagai sesama manusia pun, kita sama-sama tidak punya kemampuan menebak isi hati dan pikiran seseorang.

Foto: Jon Tyson

Sementara itu, selain kelompok pendukung maupun penolak, ada pula kelompok yang tidak keduanya—atau bahkan tidak peduli terhadap keduanya.

Ada yang bersikap tidak peduli lantaran sudah apatis dan patah harapan (patah harapan kepada sistem, kepada figur, kepada keadaan, dan sebagainya); ada yang bersikap tidak peduli lantaran malas mencoba lagi; ada yang bersikap tidak peduli sebagai bentuk protes dan mogok berpartisipasi; ada yang bersikap tidak peduli karena mengambek segala sesuatunya dirasa tidak sesuai keinginan dia; ada pula yang bersikap tidak peduli karena … ya, tak peduli saja, malas gerak.

Terlepas dari pengotakan di atas, pada dasarnya semua orang sama dan setara. Tidak ada segolongan pun yang lebih tinggi atau lebih rendah dibanding yang lain dalam hal kedudukan sosial. Riak dan gesekan yang ditimbulkan memang kerap bikin gemas, jengkel, dan geregetan. Hanya saja—menurut saya—itu tak ubahnya pergaulan kita sehari-hari. Ada yang bebal, ada yang sabar, ada yang pintar, ada yang licik, ada yang tak acuh, ada yang tulus, ada yang berjiwa besar, ada yang kecut hati, ada yang menyenangkan, ada yang mengesalkan, ada yang bikin males, ada yang bikin rindu … dan tentu saja mustahil berharap semua orang bisa bersikap sesuai yang kita inginkan. Lagipula, belum tentu semua yang kita pikiran, rencanakan, dan inginkan bakal membawa dampak positif serta rentetan hal-hal baik sesuai bayangan sebelumnya.

Cobalah untuk selalu menyisakan ruang hening dan tenang dalam hati, supaya tidak terlampau sesak. Kemudian, mari saling melanjutkan hidup dengan sebaik-baiknya. Ini berlaku bagi semua. Mau “cinta”, “benci”, atau pun “tak peduli”, toh semuanya berakhir hari ini.

Ya … seperti hari ini. Sebesar apa pun sebuah pesta (juga anti pestanya), pasti akan usai pula. Mau tidak mau, bersiaplah untuk besok. Sebab kehidupan itu mestinya terus moving on, bukan mandek.

Selamat memilih, bagi yang memilih.
Bagi yang sengaja melewatkan kesempatan memilih, selamat libur panjang. 😊

[]

Advertisements

Terlampau Indah

RASA sakit dan wajah-wajah yang mengerang, air mata dan tangis, tubuh-tubuh telanjang yang lemah, kubangan darah, daging merah segar, organ-organ tubuh manusia, gunting pemotong yang tajam, napas yang terengah-engah, basah dan becek di mana-mana, serta senyuman-senyuman bahagia yang ditujukan kepada tubuh-tubuh lemah terkulai tak berdaya.

Di antara sekian banyak hal indah di dunia, gentle birth ialah salah satunya, menurut saya. Tak hanya indah, tetapi sekaligus mencekam dan menakutkan.

Setidaknya ada dua nyawa yang dipertaruhkan dan diperjuangkan agar tetap hidup. Ada berjiwa-jiwa lainnya yang berdoa, menanti dalam kecemasan. Ada pula dorongan rasa cinta yang sedemikian kuatnya. Begitu kuat terasa, cukup hanya dengan melihatnya dari kejauhan.

Tidak pernah sekalipun tidak merinding, bergidik ngeri, dan terharu secara bersamaan ketika melihat foto-foto—apalagi video—dari gentle birth. Termasuk milik Vanessa Decosta pada 11 Maret lalu, dan diabadikan oleh Vanessa Mendez (semua langsung terhubung ke album Facebook; NSFW) berikut ini.

Vanessa Decosta, sang ibu, meringkuk, mengejan.
Fotografer: Vanessa Mendez

Her pain.
Ibunya.
That very moment!

What a strong mother!
Tali pusar tidak buru-buru dipotong, plasenta tetap dibiarkan bertahan dalam rahim selama beberapa waktu.
You did a good job, girl!
Sustenance for both.
Hai!

Indigo June. It’s her name.

Album lengkap: The Birth of Indigo June

Melihat foto-foto dari peristiwa menakjubkan tersebut, kita–saya–kembali diingatkan betapa kuatnya seorang wanita, terutama sebagai seorang ibu. Kelahiran dan proses persalinan memang bukan titik akhir, tetapi cukup dari titik ini saja, kita dapat menyadari sepenuhnya bahwa woman is the very symbol of humanity.

Jangan bawa-bawa kodrat, di sini bukan tempatnya. Kelahiran dan proses persalinan memang sedemikian agung, luhur, dan sepatutnya dihujani takzim oleh siapa saja. Bukan sekadar urusan konsekuensi alamiah dari persetubuhan (yang banyak orang tak siap menghadapinya), bukan pula sekadar ambisi punya anak dan meneruskan keturunan (entah demi apa saja, sih?). Wanita bukanlah alat untuk beranak! Wanita berhak memilih dengan sepenuh-penuhnya kesadaran. Bukan lantaran tanggung jawab moral kepada suami dan orang tua dari kedua belah pihak; bukan lantaran tanggung jawab sosial kepada orang lain; bukan pula lantaran diiming-imingi, terlebih diperdaya.

Begitu pula sebaliknya.

Alasannya sudah jelas. Wanitalah yang…

  • Dihamili
  • Hamil selama sembilan bulan
  • Menanggung risiko dan sakitnya proses persalinan
  • Berkemampuan untuk menyediakan nutrisi dan sumber makanan pertama bagi sang bayi
  • Menjadi ibu

Bukan orang lain, para wanita berhak memutuskan ingin/tidak ingin memiliki anak (minimal) berdasarkan poin-poin di atas. Silakan tuding saya melakukan mansplaining, yang jelas foto-foto Vanessa Decosta di atas membuat saya berkata demikian.

Ini menyangkut kesejahteraan batin si ibu dan si anak. Kesampingkanlah dahulu kepentingan suami, orang tua, mertua, apalagi tetangga. Sesayang apa pun mereka, tampaknya, kepada sang bayi.

Kembali ke foto-foto proses persalinan Vanessa Decosta di atas sebagai contoh. Sang ibu memilih untuk menjalani gentle birth dengan sepenuh hati meskipun harus bersusah payah, dan agak berantakan. Sang suami mendampingi di sepanjang proses, lengkap dengan skin-to-skin contact. Ibunya sang ibu pun hadir memberikan dorongan semangat, senyum, dan dukungan kepada putrinya (atau menantunya). Dari situ saja, bisa dirasakan adanya curahan kasih sayang yang besar, kesediaan dan kehadiran, komitmen dan kekuatan kebersamaan. Maka, tak aneh bila kemudian kita–saya–berasumsi bahwa si kecil akan dirawat dan tumbuh dibesarkan dalam lingkungan terbaik. Paling tidak tergambarkan lewat cara penanganan yang dipilih dalam proses persalinan.

Gentle birth di tangan yang tepat, menjadi proses persalinan yang minim trauma bagi sang bayi, walaupun terlihat lebih merepotkan. Tidak buru-buru memisahkan sang bayi dari tembuninya, yang lagi-lagi berarti meminimalkan risiko dan memaksimalkan penyerapan zat nutrisi internal selama dalam kandungan.

Besar kemungkinan, segalanya dipikirkan matang-batang, dipilih dan dijalani sedalam-dalamnya kesadaran.

Dari contoh Vanessa Decosta tadi, semua orang, dan semua yang berkelindan di dalamnya…

Indah.
Sekali lagi, terlampau indah.

[]

Tentang mereka yang bisa ke atas dengan mudahnya

KITA awali saja dengan serangkaian peristiwa yang diperingati hari ini.

1. Nabi Muhammad SAW

Ilustrasi peristiwa mikraj dalam kitab Siyer-i-Nebi dari masa Utsmaniyah abad ke-15. Gambar: publicdomainreview.org

Ialah Isra dan Mikraj. Yaitu diberangkatkan dalam sebuah perjalanan, lalu dibawa naik atau dinaikkan.

Perjalanan (Isra) berlangsung dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem dalam semalam. Tetap dengan menunggangi burak, Rasulullah dibawa naik untuk kemudian melintasi berlapis-lapis langit serta bertemu pada nabi pendahulu. Berturut-turut dimulai dari Nabi Adam, Nabi Isa (Yesus) dan Nabi Yahya (Yohanes), Nabi Yusuf, Nabi Idris, Nabi Harun, Nabi Musa, Nabi Ibrahim (Abraham). Di langit tingkat tertinggi barulah Rasulullah menerima perintah beribadah wajib. Dijadikan lima kali dalam sehari, sejak subuh sampai isya.

Gambar terkait
Ilustrasi burak yang populer selama ini, dan kerap menghiasi dinding ruang tamu sebagai ornamen utama. Gambar: publicdomainreview.org

2. Yesus Kristus

Setelah penyaliban (Jumat Agung), kebangkitan dalam kubur batu terjadi di hari ketiga (Minggu Paskah). Lalu, tubuh itu pun terangkat dari Bukit Zaitun ke surga lepas 40 hari sesudahnya, ketika Yesus kembali berhimpun dan berkumpul dengan sejumlah murid.

“… et eritis mihi testes in Jerusalem, et in omni Judæa, et Samaria, et usque ad ultimum terræ.

“… kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.

Kisah Para Rasul 1:8

Kini, mereka, golongan orang-orang yang percaya, tengah menanti janji nubuat kedatangan Yesus Kristus untuk kedua kalinya. Salah satu penanda akhir zaman.

Gambar terkait
“Christi Himmelfahrt” atau “Naiknya Kristus” karya Gebhard Fugel tahun 1893. Gambar: Wikipedia

3. Yudistira

Perang kolosal Mahabharata telah lama usai. Dimenangkan oleh kubu Pandawa, Yudistira kembali memimpin kerajaan Hastinapura selama 36 tahun, sebelum akhirnya menarik diri bersama istri dan para saudaranya. Mereka bertujuh: Pandawa Lima (Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa), istri mereka Drupadi, dan seekor anjing melakukan perjalanan spiritual menuju surgaloka di Himalaya.

Satu demi satu anggota rombongan meninggal di sepanjang perjalanan akibat buah karma mereka. Dimulai dari Drupadi, Sadewa, Nakula, Arjuna, dan Bima. Tersisa Yudistira dan anjingnya yang terus berjalan hingga mencapai kaki Gunung Meru menuju kayangan.

Di tengah-tengah perjalanan yang sepi itu, muncul Dewa Indra dengan keretanya. Dewa Indra menawarkan tumpangan kepada Yudistira ke surga, tetapi ditolak. Yudistira tidak mau ke surga tanpa istri dan saudara-saudaranya. Dewa Indra terus membujuk, menyebut Drupadi dan adik-adiknya telah mencapai surga setelah kematian mereka. Menurut Dewa Indra, Yudistira bisa naik ke surga dalam tubuh manusianya—tanpa melalui kematian—karena moralitasnya yang tanpa cela.

Belum selesai di situ, Yudistira kembali urung bergabung dengan Dewa Indra lantaran dilarang membawa anjingnya serta. Yudistira telah menganggap anjing tersebut sebagai teman seperjalanan, dan merasa sangat berdosa apabila meninggalkannya demi kebahagiaan sendiri.

Di tengah proses bujuk rayu Dewa Indra kepada Yudistira, anjing itu menunjukkan bentuk aslinya: Dewa Yama. Ia memuji kesetiakawanan Yudistira, dan membuatnya pantas memasuki surga dalam raga duniawinya.

Gambar terkait
Ketika Dewa Indra membujuk Yudistira menaiki keretanya ke kayangan tanpa membawa anjingnya. Gambar: Wikipedia

4. Buddha Gotama

Ratu Maya meninggal saat tujuh hari setelah melahirkan Pangeran Siddhattha.

Sebagai seorang piatu, sang pangeran tumbuh besar di bawah asuhan Pajapati, tantenya, dan tentu tidak berkesempatan untuk berbagi kebahagiaan atau pun berbakti kepada ibu kandungnya. Ketika ia berhasil memenangkan sayembara dan menikahi Yasodhara; ketika putranya lahir, Rahula; ketika ia kembali mengunjungi kerajaan kampung halamannya sebagai seorang Buddha.

Pada tahun ketujuh kebuddhaannya, Buddha Gotama melihat dan mempelajari kebiasaan para Buddha di masa lalu. Salah satunya ialah pergi dan mengajarkan Abhidhamma kepada murid dan makhluk-makhluk lain yang mampu memahaminya kala itu–kendati pada akhirnya tercatat dan berhasil dibukukan beberapa abad setelah wafatnya. Abhidhamma sendiri merupakan kumpulan ajaran mendalam yang disepakati berasal dari Sang Buddha langsung secara historis, dan kemudian jadi bagian dari Tipitaka hingga sekarang.

Mendiang Ratu Maya melanjutkan siklus kehidupannya terlahir di surga tingkat empat, Tusita, yaitu seorang dewa bernama Santusita. Maka pada saat Buddha Gotama mengunjungi surga tingkat dua, Tavatimsa untuk membabarkan Abhidhamma kepada ribuan dewa penghuninya, Santusita turut diundang hadir.

Pengajian Abhidhamma di Tavatimsa berlangsung selama tiga bulan (ukuran waktu bumi). Selama itu pula, para umat awam menunggu kepulangan Sang Buddha sambil berkemah dan mendengarkan ajaran dari beberapa murid utama. Titik konsentrasi umat ada di Samkassa (kota kuno yang saat ini bekas-bekasnya dipercaya berada di antara kota Farrukhabad dan Mainpuri, Provinsi Uttar Pradesh) sehingga Sang Buddha memutuskan “turun” di sana.

Mengetahui rencana kepulangan Sang Buddha ke bumi, Dewa Sakka—pemimpin surga Tavatimsa—menciptakan tiga jalur “tangga” dari “puncak Gunung Sineru” dan berujung ke pintu kota Samkassa. Jalur-jalur tangga tersebut terbagi menjadi tangga perak di kiri bagi para Mahabrahma, dan tangga emas di kanan bagi para dewa mengapit tangga permata untuk Sang Buddha.

Gambar terkait
Sang Buddha turun dari Tavatimsa didampingi para dewa hingga Mahabrahma dengan tangga permata. Gambar: journal.phong.com

Kisah-kisah di atas berasal dari hampir semua agama resmi yang diakui negara ini. Hanya saja, saya belum pernah membaca/tidak pernah menemukan catatan peristiwa serupa dalam ajaran Konghucu. Sementara ajaran Tao yang memiliki segudang cerita sejenis (Delapan Dewa, Lv Shang alias Jiang Ziya, atau bahkan sosok Laozi sendiri) masih dianggap bagian dari kepercayaan tradisional Tionghoa, yang rancunya, terkadang dilekatkan pada Buddhisme Mahayana. Maka dapat dikesampingkan untuk sementara waktu.

Dari keempat kisah di atas, saya hanya berhak mengomentari cerita tentang Sang Buddha “turun” dari Surga Tavatimsa.

Sebagai seorang Buddhis, saya tidak berkewajiban membuta untuk mempercayai kisah tersebut bulat-bulat. Toh, saya tidak ada di sana dan menyaksikannya waktu itu. Apalagi tidak tertutup kemungkinan, terbatasnya wawasan dan ilmu pengetahuan manusia di era tersebut dapat menyebabkan kekeliruan serta mispersepsi. Misalnya mengenai ruang: “naik”, “ke atas”, “turun”, “tangga”, dan sebagainya. Membuat kisah pembabaran Abhidhamma di surga itu terdengar mirip dongeng.

Apakah benar Sang Buddha naik untuk ke Surga Tavatimsa?
Apakah benar Sang Buddha turun ke bumi menggunakan tangga ciptaan Dewa Sakka?

Namun, satu hal yang nyata, kumpulan kitab Abhidhamma memang ada dan sebagiannya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Bukan untuk sekadar dianggap sakral atau keramat, tetapi agar mudah dibaca, dipahami, dipraktikkan, dan dialami sendiri. Sebab hakikatnya, menjalankan dhamma—ajaran—jauh lebih penting dibanding urusan “tangga-tangga gaib” yang ribuan kilometer panjangnya.

Demikianlah sebagian cerita tentang mereka yang bisa ke atas dengan mudahnya.

… dan, barangkali, bukan itu intinya.

[]

Kopar Kapir Horam Harom… Haruskah Ku Peduli?

CAPEK, lho, beneran. Mendengar/melihat orang lain berbicara dan saling berbantahan hampir setiap hari di mana saja. Namun, sayangnya keberisikan ini tak bisa dihindari. Disodorkan di depan muka kita tanpa kesempatan untuk mengelak. Ibarat dipaksa menjadi pemirsa, menyaksikan apa yang terjadi di panggung begitu saja, tapi serba ndak jelas ranahnya.

Memang cuma “orang dalam” yang berhak tampil dan bersuara soal masalah tersebut. Mereka yang punya kepentingan. Mereka adalah para penganut. Mereka yang harus mengurusi, sebab menyangkut hidup mereka, bagaimana mereka menjalaninya, dan bagaimana mereka berupaya bertanggung jawab secara sosial dan moral kepada sesama.

Makanya, tak perlu kaget kalau ada tulisan di Mojok yang berjudul: “KALAU PUBG HARAM, APAKAH MUI PERLU MENGHARAMKAN KITAB SUCI SEKALIAN?”

Yang dikritik adalah organisasi pemuka agama Islam, yang mengkritik pun seorang muslim. “Aman”, lantaran tidak melibatkan pemeluk agama lainnya secara aktif. Ya… paling-paling hanya menjadi pembaca dan pemberi komentar.

Sembarang œ wis… Itu urusan mereka.

Mari kita resapi sejenak, “Surefire”-John Legend.

Pada dasarnya, perkara label-label semacam “kafir”, “haram”, serta berbagai pengistilahan lainnya berasal dan hanya berlaku secara terbatas. Yakni di dalam komunitas muslim, atau kelompok masyarakat yang para anggotanya telah mengikrarkan diri untuk tunduk dan patuh terhadap aturan-aturan agama Islam. Otomatis, pemaknaan dan ragam penggunaan istilah-istilah tersebut pun tidak berlaku menyeluruh. Bagi saya, misalnya.

Sesuai koridor dan proporsinya, para kenalan maupun kawan yang muslim sangat boleh menyebut saya sebagai seorang kafir. Pasalnya, saya menyembah galon akwa. Berarti saya tidak beragama Islam, bukan seorang muslim. Kenyataan ini menjadi prasyarat utama untuk mengkategorikan saya sebagai seorang kafir.

Lalu, apakah saya harus merasa terganggu ketika dipanggil “Kafir, kamu!“?

Lha wong tuhannya beda, kok. Justru menjadi aneh bila saya terganggu dengan panggilan itu–kecuali jika ucapan tersebut dilontarkan tepat di depan hidung kita oleh seseorang yang lupa sikat gigi.

Lebih terganggu baunya, sih, bukan ucapannya.

Di sisi lain, jangan lupa bahwa pengistilahan adalah salah satu aktivitas linguistik. Apa pun tujuannya, perumusan dan penggunaan suatu istilah dimaksudkan untuk mempermudah komunikasi. Efek samping yang ditimbulkan bisa berupa pemaknaan konotatif dan pengarahan persepsi, dramatisasi, dan penggunaan yang keliru atau salah kaprah.

Contohnya, (1) alih-alih digunakan dalam percakapan antarsesama muslim, sebutan “kafir” malah lebih populer dijadikan bahan perundungan. Termasuk kepada orang yang tak dikenal sekalipun.

"Dasar kafir!"

Kemudian (2) alih-alih digunakan dalam percakapan antarsesama muslim untuk sekadar menyebut penganut agama lain, sebutan “kafir” seakan-akan digunakan untuk mengesahkan perbedaan kedudukan. Yaitu bahwa para muslim memiliki derajat lebih tinggi daripada para penganut agama lain. Juga melanggengkan stereotip.

Unpopular opinion: Sebenarnya sah-sah saja apabila para muslim berpandangan seperti itu. Namanya juga kepercayaan agama, dianggap kebenaran tunggal tak ada duanya. Akan tetapi, banyak yang tidak menyadari bahwa pandangan ini bisa mengakar sedemikian kuat, hingga memengaruhi tindakan atau perbuatan kesehariannya.

Secara logis, seseorang tak akan mampu melakukan sesuatu secara nyaman jika bertentangan dengan pikiran atau kehendaknya sendiri.

Kemungkinannya besar, seseorang yang bisa melakukan diskriminasi agama betul-betul percaya bahwa para penganut agama lain memang memiliki kedudukan lebih rendah dibanding mereka.

"Kalau kafir ya pantesnya digituin."

Berikutnya, (3) alih-alih digunakan dalam percakapan antarsesama muslim, sebutan “kafir” dilancarkan untuk mengintimidasi. Seolah-olah menjadi bagian dari upaya penyadaran dan pertobatan. Asumsinya, dengan sering disampaikan, ditambah intonasi yang tepat, si pendengar akan terdorong atau tergerak untuk menyadari kesalahannya (baca: menganut agama lain).

Padahal, pahala dan dosa, kepantasan masuk ke surga dan ganjaran jatuh ke neraka, hak tuhan sepenuhnya selaku pemilik. Siapa kita? Kok percaya diri banget menjatuhkan vonis akhirat kepada seseorang?

Situ malaikat?
Malaikat pun tetap menunggu perintah majikan, bukan berinisiatif.
Konon.

Terakhir, (4) alih-alih digunakan dalam percakapan antarsesama muslim, tanpa disadari hardikan “kafir” jadi candu ego. Hampir setiap orang ingin menjadi sosok yang penting. Ucapannya sakti, wajib ditaati. Mendapatkan bantahan, jiwanya bergejolak. Meronta ingin memenangkan perselisihan. Sebuah istilah dalam bahasa Arab itu pun mendorong banyak orang menjadi agresif. Beringas.

"Dasar kafir kamu!"
   "Iya. Memangnya kenapa?"
"Kurang ajar! Sudah kafir malah nyolot! Masuk neraka jahanam, kamu!"
   "Tahu dari mana?"
(Akhirnya dikeroyok. Mati.)

Sementara itu, bagaimana dengan “haram”?

Ya… kembali lagi, selain hal-hal terlarang secara universal (seperti: membunuh, mencuri dan mempergunakan uang ilegal, persetubuhan tidak patut, berbohong dan menipu, serta lain sebagainya), “keharaman” berlaku secara terbatas. Hanya oleh penganutnya.

Haram bagimu, belum tentu bagiku.
Jangan asal dipaksa. Memangnya kamu mau kalau dipaksa-paksa juga?

Haruskah ku peduli?
Coba saja dimengerti dan dipahami, supaya tidak melakukan hal serupa kepada yang lainnya.

[]

Berhenti Sok Tahu Mengejar “Kebahagiaan”

SAAT teman baikmu ada masalah dengan pacarnya‒yang lagi-lagi ketahuan selingkuh, kamu gemar, bahkan jago memberikan nasihat kepada dia.

Dengan kebijaksanaan laksana seorang begawan, kamu tunjukkan dan jabarkan hal-hal yang selama ini diluputkannya. Kamu berikan dia pandangan tentang bagaimana menyikapi masalah tersebut. Kamu juga mendorongnya menjadi wanita pemberani. Berani melihat kenyataan, berani mengambil keputusan, berani meninggalkan seseorang yang memang tak pantas didampingi.

Tanpa terlalu mencampuri kehidupannya seperti seseorang yang tak tahu batasan, kamu peluk dan kuatkan dia. Kamu dampingi dia dalam setiap langkah yang perlu diambil untuk menyudahi dan bangkit dari keterpurukan itu. Kamu berhasil mendorong dan menyemangati agar dia kembali menjadi dirinya sendiri. Menjadi seorang wanita yang berharga, yang semestinya diperlakukan dengan sebaik mungkin, yang pantas mendapatkan laki-laki terbaik di sisinya.

Usahamu berbuah manis. Temanmu kembali menjadi figur yang ceria, manis, dan bebas berekspresi. Kamu berhasil membantunya melewati momen-momen tidak menyenangkan yang kritis. Kamu menunaikan tugas sebagai seorang teman yang membantu di saat paling dibutuhkan, sekaligus sekali lagi membuktikan kemampuan sebagai penasihat yang baik. Pemberi panduan bagi mereka yang hilang arah, dan tak tahu harus berbuat apa. Kamu memang hebat.

Nasib orang siapa yang tahu.

Menjadi seseorang yang cantik, pintar, baik, lucu, menggemaskan, dan pandai menampilkan diri bukan jaminan bisa terhindar atau terlepas sepenuhnya dari orang-orang yang tak tahu diuntung.

Kamu diselingkuhi oleh pacarmu sendiri. Seseorang yang sudah diajak menjalani hubungan dua tahunan lamanya.

Kamu terpukul hebat, tentu saja. Untuk beberapa waktu lamanya, giliran kamu yang kehilangan arah. Kamu sadar penuh bahwa kamu adalah korbannya, dan dia, seseorang yang pernah (atau masih) kamu anggap sebagai rumah tempat kelelahan dan hati berlabuh, ternyata tidak lebih dari sekadar bocah. Tak peduli berapa usianya, apa pekerjaannya, berapa yang dia hasilkan, dan pencapaian-pencapaiannya yang lain, dia hanya anak-anak yang dengan mudahnya beralih perhatian dari satu mainan ke mainan lain. Kadang ia pegang di kedua tangannya, bersamaan, tanpa mau melepaskannya. Dibawa saat tidur, dibawa saat mandi, dibawa saat makan, dibawa saat berak. Dia cuma seperti anak-anak, yang manakala dijauhkan dari mainan-mainannya sebentar saja, akan menangis meraung mengamuk tantrum tanpa peduli di mana dia berada, di hadapan siapa dia melakukannya.

Dia tak ubahnya anak-anak. Bukan laki-laki dewasa, seseorang yang seharusnya tahu betul apa arti dari komitmen, tanggung jawab, kejujuran, dan kepatutan. Soal pernikahan dan menjadi pasangan seumur hidup dalam ikatan cinta? Oh, belum tingkatannya. Masih jauh. Banget. Terlepas dari apa pun hal-hal indah yang pernah kalian jalani sebelumnya. Termasuk janji, serta ucapan-ucapan menyenangkan dan menyamankan yang pernah dia sampaikan. Baik lewat teks, dengan berbicara langsung, maupun yang dibisikkannya secara lembut lirih perlahan langsung di depan liang telingamu.

Bila masalah ini dilihat oleh dirimu yang dahulu; yang menasihati, membantu menyadarkan, dan menguatkan teman baikmu kala menghadapi perkara serupa, kamu pasti langsung tahu harus ngapain dan berbuat apa. Baik untuk dirimu sendiri, maupun kepada seseorang yang belum becus menjadi laki-laki dewasa sepenuhnya.

Namun, mendadak kok jadi tidak “segampang” itu? Tak lancar seperti sebelumnya? Kamu justru butuh mendapatkan masukan dari orang lain. Perlu dinasihati dan dibantu menuju solusi.

Itulah kita, yang jago memberikan nasihat bagi orang lain tetapi malah jadi pengambil keputusan yang payah bagi diri sendiri. Meskipun seringkali untuk masalah yang sama. Kan lucu.

Diistilahkan sebagai Solomon’s Paradox, hal ini dikenal sebagai salah satu “keunikan” lazim pada manusia. Yakni ketika seseorang bisa melihat masalah orang lain dengan begitu jelas, sehingga dapat langsung mengidentifikasi inti/fokus utamanya. Dibanding saat menghadapinya sendiri.

Di sisi lain, perbedaannya adalah sudut pandang dan apa yang dialami. Bagi orang lain, masalah tersebut dapat dilihat dari satu atau dua dimensi. Sedangkan bagi yang mengalami sendiri, terdapat banyak faktor dan pertimbangan tambahan. Belum lagi soal perasaan yang hanya diketahui oleh mereka‒dan bikin bias‒secara eksklusif.

Dengan demikian, kita akan selalu rentan untuk menjadi sok tahu tentang masalah orang lain. Belum lagi jika kita menyuapkan (baca: memaksakan) saran-saran yang terdengar positif, tetapi sejatinya beracun.

Sebab segala masalah yang mereka alami, kerap tidak sesederhana yang kita pahami. Hingga akhirnya terjadi pada diri kita sendiri.

[]

Ngegas Ergo Sum: Aku Ngegas, Maka Aku Ada


ENGGAK peduli yang disampaikannya benar atau salah, tepat atau tidak, pokoknya ngegas dulu. Supaya “ada”, atau lebih tepatnya supaya dianggap dan merasa “ada”.

Diawali dengan satu pertanyaan: “Kenapa mesti ngegas, sih, anjjj…” (lah, kok ngegas juga?)

Ini barangkali bukan sekadar soal eksistensi. Bukan semata-mata tentang keberadaan seseorang, terutama menurut dirinya sendiri. Ego memang menjadi landasan utama, tetapi ada berbagai alasan dan latar belakang lain yang mendorong seseorang untuk bersikap demikian.

Emosional

Ada orang yang awalnya sabar, mampu menjaga sikap, dan mengendalikan diri. Namun, lama-lama mulai kehilangan kesabaran, gemas, geregetan, jengkel, sampai kesal ketika berinteraksi sosial. Nada bicara yang mulanya terdengar biasa-biasa saja, mulai meninggi, bahkan sampai membentak. Di titik yang paling parah bahkan bisa berupa teriakan. Bukan lagi berbicara atau diskusi seperti biasa, melainkan amukan amarah atau debat pakai urat.

Seseorang menjadi emosional lantaran banyak hal. Bisa karena pembawaan yang temperamental; tidak menyenangi lawan bicaranya; merasa terganggu dengan lawan bicaranya; si lawan bicara yang terkesan bebal atau susah dinasihati; bisa juga karena pembawaan yang memang tidak sabaran, atau judes dan suka ketus.

Kalau sudah begini, mesti dihadapi dengan luwes. Ngegas jangan dibalas dengan ngegas balik. Biarkan saja dia ngegas kenceng sampai saatnya harus tarik napas, lalu mulai kembali pembicaraan dengan landai dan santai. Kembali ke tujuan utama berlangsungnya pembicaraan tersebut; komunikasi, ada yang perlu disampaikan. Bukan adu-aduan mana yang lebih baik, lebih benar, dan seterusnya. Tidak menutup kemungkinan dia ngegas karena kita juga.

Butuh Perhatian

Semua orang butuh diperhatikan, dipedulikan, didengar, diiyakan, dianggap ada sebagai seseorang/sesuatu yang signifikan. Untuk tujuan ini, ngegas yang dilakukan sebatas konteks atau bungkusnya saja. “Notice me, Senpai!” Setelah diperhatikan dan mendapat tanggapan, gembira hatinya.

Ada banyak cara untuk ngegas demi mendapatkan perhatian. Bukan hanya meninggikan suara, atau berbicara lebih nyaring dan keras—awalnya dipikir dapat meredam suara lain, membuat suaranya saja yang didengar, padahal jadi tambah berisik—apalagi pakai gebrak meja. Ngegas bisa ditunjukkan secara virtual lewat media sosial. Cukup sambar twit seseorang, hujani dengan kritik, argumentasi perlawanan, bantahan dengan gaya yang diinginkan. Bisa juga ditambah gaya khas netizen yang berasanya ramah padahal sejatinya penuh penghakiman: “Sekadar mengingatkan 🙏🏼”

Enaknya kalau ngegas di media sosial, jika terbukti keliru atau salah cukup ditinggal ngilang

Aku Benar, Kamu Salah

Faktor ini juga bersinggungan dengan emosi, hanya saja seringkali dibarengi kebanggaan diri dan superioritas. Dengan merasa sebagai seseorang yang benar, dan sedang berhadapan dengan seseorang yang salah, timbul semangat untuk muncul dan mengemukakan diri sebagai pihak yang benar. Terkadang malah hanya gara-gara sok tahu.

Sayangnya, semangat kebanggaan diri ini rentan bikin kepleset. Harga diri dan gengsi sebagai seseorang yang benar tadi seolah-olah menjadi perisai kritik, tinggi hati, dan membuat seseorang tersebut susah menerima kenyataan bahwa dia salah. Ngeles terus sebisa mungkin, atau justru melemparkan kesalahan kepada pihak lain. Banyak banget contohnya.

Seringkali yang ngegasnya lebih kencang justru orang yang jelas-jelas salah. Itu mereka lakukan demi menutupi kesalahan tersebut, atau mengalihkan perhatian supaya tidak terlampau malu.

Selain urusan benar atau salah, seseorang bisa ngegas karena banyak aspek lainnya. Superioritas tersebut mencakup status sosial dan ekonomi; “Aku lebih tinggi daripada kamu,” senioritas; “Aku lebih duluan daripada kamu,” dan ilusi moral; “Aku lebih baik daripada kamu.” Seakan-akan semua kondisi tersebut membuat mereka berhak untuk ngegas.

Sindrom Sang Penyelamat

Ini berhubungan dengan prioritas, atau hal yang dianggap penting oleh seseorang tetapi dianggap biasa-biasa saja bagi orang lain. Berkaitan juga dengan seberapa tenang seseorang saat menghadapi sesuatu. Ada yang bisa woles, ada juga yang panik, padahal ujung-ujungnya tidak serumit yang dibayangkan.

Maka, orang-orang dengan Sindrom Sang Penyelamat ini akan berusaha sekeras mungkin agar bisa didengar, diiyakan, dan dituruti oleh orang lain.

Berbeda dengan dorongan sebelumnya, orang-orang yang ngegas demi tujuan ini sebenarnya tidak memiliki niatan buruk. Mereka hanya terfokus pada hal-hal yang dianggap penting, bukan selebihnya. Lagi-lagi, yang membuat ngegas itu terjadi adalah perbedaan sikap dan pandangan terhadap sesuatu. Oleh sebab itu, dorongan ini bebas dari baper. Setelah sesuatu selesai, langsung move on.

Memang Dasar Mulutnya Jelek, Aja!

[]

Mengelak dari Kesusahan Kini atau Nanti? Kita Memang Makhluk yang Sangat Pamrih

TENTU saja! Mustahil bagi kita untuk benar-benar tanpa pamrih, tanpa berhitung, atau tanpa mempertimbangkan sejumlah hal sesedikit apa pun dalam menjalani hidup. Hal ini lazim, selazimnya kita menikmati hal-hal yang menyenangkan, dan menolak hal-hal yang tidak menyenangkan.

Sederhananya, disadari atau tidak, kita pasti melakukan sesuatu demi sesuatu yang lain. Begitu pula sebaliknya, kita pasti tidak melakukan sesuatu demi menghindari sesuatu yang lain. Dalam bentuknya serendah atau sekasar apa pun (bertahan hidup, pahala dan bisa masuk surga, mendapatkan uang dan harta, makanan, belas kasihan, kesempatan bersetubuh atau disetubuhi, reputasi dan popularitas, kedudukan, hadiah, dan sebagainya), sampai yang seluhur atau sehalus apa pun (merasa memiliki tujuan hidup, rasa batin yang terpenuhi, rasa syukur, kepuasan batin, rasa senang dan syukur karena telah berkontribusi bagi kesejahteraan orang lain, merasa telah menjadi seseorang yang baik dengan moral terpuji, merasa berlatih ikhlas dan sukarela, rasa ingin menjadi orang yang lebih baik, rasa bakti, dan sebagainya) kita pasti mengharapkan sesuatu. Bahkan orang-orang dengan kegemaran menyakiti perasaan dan diri sendiri pun, cenderung terus melakukan hal-hal tidak menyenangkan demi tujuan dan kepuasan tertentu.

Image result for fruit of self control
Foto: Pinterest

Di luar kesadarannya, seorang anak mengalami tantrum. Ia menangis meraung-raung, melelahkan, terkadang sampai tersedak dan hampir muntah, serta tidak memberikan perasaan gembira, supaya diperhatikan dan kemauannya dituruti. Sebelum mendapatkan yang ia inginkan, tantrum akan terus berlangsung.

Kecenderungan perilaku tersebut bertahan seiring usia, tetapi berubah sesuai keadaan baik dari dalam maupun luar. Dengan pengkondisian yang tepat, ada nilai sekaligus hal baru yang ditanamkan dari lingkungan di sekitarnya. Berproses bersama kepribadian dan tabiat yang bersangkutan, membentuk kebiasaan.

Mulai mengenali gadget dan tablet sebagai benda-benda yang menarik perhatian, atau permen, atau diajak jalan dan dibawa ke suatu tempat baru, atau donat, atau cokelat, atau kukis, atau uang, atau mainan, dan atau-atau yang lainnya, si anak tadi bersedia melakukan sesuatu demi mendapatkan yang diinginkan. “Nanti dikasih permen, ya.” Bila tidak begitu, si anak akan menggerutu ketika diminta ibunya melakukan ini dan itu saat tengah asyik bermain.

Sekali lagi, disadari atau tidak, kecenderungan itu bertahan sampai dewasa dan seterusnya. Dengan tujuan yang positif maupun negatif, kita terus berhitung kendati tidak berupa angka.

“Ya, sudah, tidak apa-apa lah, hitung-hitung beramal.”
“Kamu boleh senang-senang sekarang, lihat
aja nanti.”
“Biar lembur sekarang, supaya Jumat bisa pulang cepat.”
“Aku rela begini, supaya dia
enggak ninggalin aku.”
“Tak apa lah repot-repot sedikit, supaya hatimu bisa luluh nanti.”
“Ambil
aja kembaliannya, Pak (ribet pegang uang receh).”
“Cari muka, buang malu
dulu, biar nanti jadi orang kepercayaannya.”
“Sekarang susah-susah dahulu, biar nanti uangnya terkumpul buat bayar kuliah.”

“Ingat, tuhan tidak tidur.”
“Tidak apa-apa kita susah begini, mudah-mudahan kesabaran kita diganjar surga.”

Silakan amati perubahannya. Dari seorang bocah yang tidak sadar, tidak peduli, dan tidak mau tahu, bagaimanapun caranya harus mendapatkan yang diinginkan saat ini juga, menjadi seseorang yang akrab dengan ungkapan “bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian,” dan melakoninya sendiri.

Delayed gratification atau menunda kenikmatan, demikian hal tersebut dikenal sebagai sebuah sikap hidup yang kita ciptakan sendiri. Menunda desakan ego, mengatasi godaan.

Kita mengenal, mempelajari, dan mempraktikannya melalui banyak nama. Ketekunan, kesabaran, kegigihan, keuletan, keterampilan, ketabahan, pengendalian diri (dari ganjaran yang tersedia saat ini demi mendapatkan sesuatu yang lebih nanti), kecermatan dan ketepatan, keuntungan maksimal, pilihan yang lebih baik, kebahagiaan, dan kebahagiaan yang sejati ialah beberapa di antaranya.

Semua adalah soal pilihan yang diambil lewat beragam alasan dan latar belakang. Sempat disinggung sebelumnya, beragam alasan dan latar belakang dipengaruhi oleh pengkondisian serta nilai-nilai yang diperoleh dari lingkungan.

Delayed gratification yang dilakukan oleh anak orang kaya dan bukan anak orang kaya; orang religius dan orang sekuler; orang konservatif dan moderat; orang paguyuban dan orang patembayan; tentu berbeda. Namun, yang berbeda hanyalah objek-objek pilihannya. Sementara prinsip dan cara kerjanya sama: Menunda dari mendapatkan kesenangan saat ini, demi merasakan kesenangan yang lebih intensif di masa yang akan datang. Termasuk setelah datangnya kematian.

Iya, ini berlaku dalam beragama.

Terima saja, kita memang makhluk yang sangat pamrih … atau mungkin tuhan memang menciptakan kita sebagai makhluk yang sangat pamrih, dan dalam situasi kehidupan yang memang mesti dijalani pakai pamrih.

Jadi, cobalah santai sedikit saja.

[]

“Kriminalisasi” Terhadap Orang-orang Gemuk

HIDUP dalam dan menjadi bagian dari masyarakat yang sangat terobsesi pada ukuran serta tampilan fisik, tanpa sadar membuat kita sudah bersikap diskriminatif selama ini. Termasuk terhadap orang-orang yang bertubuh gemuk.

Bukan berbentuk perundungan atau bullying, diskriminasi yang kerap kita lakukan justru sangat halus, tidak kasar, tidak menyakiti, apalagi blak-blakan menyerang. Saking halusnya nyaris tak membuat si penerima merasa terganggu, tak sampai memunculkan penolakan dan kebencian. Lantaran kebanyakan berupa saran dan masukan.

Kamu kayaknya perlu olahraga, deh. Perutmu sudah gendutan, tuh. Sudah waktunya jaga kesehatan. Misalnya.

person measuring someone waist line
Photo by rawpixel on Unsplash

Sekilas tidak ada yang salah dari ucapan itu. Terkesan akrab, memiliki kedekatan personal, dan menunjukkan adanya perhatian dari si pengucap kepada lawan bicaranya. Namun, ada asumsi yang mengaitkan ukuran lingkar perut seseorang dengan kondisi kesehatan dan kemampuannya merawat diri. Padahal kondisi gemuk/kurusnya seseorang dipengaruhi berbagai faktor. Baik yang bisa diubah (gaya hidup, pola makan, pola aktivitas, kecepatan metabolisme tubuh, pikiran, tingkat stres sehari-hari, dan banyak lagi), maupun bawaan genetik yang mustahil bisa dimodifikasi. Itu sebabnya tak semua orang bisa ditangani dengan cara dan pendekatan yang sama. Seperti yang pernah ditulis Ko Glenn dan Mbak Leila beberapa tahun lalu, sebuah metode diet yang berhasil pada seseorang belum tentu memberikan dampak positif serupa bagi seseorang lainnya.

Ini bukan perkara preferensi pribadi, melainkan anggapan-anggapan yang muncul, tumbuh, berkembang, dan bertahan dalam masyarakat, hingga menjadi kesepakatan umum mengenai orang-orang bertubuh gemuk. Tatarannya pun berbeda. Dimulai dari yang hanya patut disimpan dalam hati, sampai yang bisa terang-terangan dirayakan.

Iya, dirayakan. Kompetisi berhadiah.

Beberapa anggapan sosial tentang orang bertubuh gemuk, di antaranya…

  • Orang gemuk tidak mampu mengendalikan diri/nafsu makannya.
  • Orang gemuk hobi makan, bahkan rakus.
  • Orang gemuk hanya memikirkan soal makanan.
  • Orang gemuk tidak gesit saat bergerak atau bekerja.
  • Orang gemuk tidak suka berolahraga.
  • Orang gemuk tidak bisa menjaga dietnya.
  • Orang gemuk pemalas (lantaran susah bergerak).
  • Orang gemuk lamban.
  • Orang gemuk berwajah cakep: “Sayang, badannya kegedean.
  • Orang gemuk berwajah kurang cakep: “Sudah gemuk, jelek pula.” Apalagi jika ditambah parameter-parameter negatif lain.
  • Orang gemuk gampang terserang penyakit degeneratif.
  • Orang gemuk sulit mendapatkan pasangan.
  • Orang gemuk gampang berkeringat.
  • Orang gemuk bikin gerah.
  • Orang gemuk menyusahkan sekelilingnya, bikin sempit.

… dan masih banyak lainnya.

Terdengar kejam dan merendahkan, kalimat-kalimat di atas memang tak sepatutnya diutarakan secara terbuka. Berbeda jika dalam konteks teman akrab, celetukan di atas bisa dianggap biasa-biasa saja. Jangan lupa, body shaming masih dianggap topik kelakar yang biasa-biasa saja.

Di tingkat berikutnya, kita menempatkan keadaan “gemuk” sebagai sebuah tantangan, kemudian mengaitkannya dengan kualitas perorangan. Sebut saja kegigihan dan konsistensi, motivasi dan semangat.

Awalnya mereka menjadi (baca: dibuat) merasa tidak nyaman, dan memunculkan keinginan agar bisa kurus. Entah disengaja atau tidak, ada beragam alasannya. Mulai dari masalah tampang dan penampilan, hingga paranoia tentang kesehatan. Kemudian, upaya-upaya penurunan berat badan digambarkan layaknya serangkaian perjuangan berat.

Jika tidak diejek gorila, bisa jadi jalan ceritanya berbeda. Setelah berhasil menurunkan berat badan, sebutan “jejaka tampan” mulai muncul dan dilekatkan.

Namanya juga perjuangan, tentu saja tidak mudah. Sehingga tujuan yang ingin dicapai pun lekat dengan kesan positif; sesuatu yang harus berhasil karena telah dijalani dengan susah payah. Bisa ditebak, keberhasilan itu pun dirayakan, disambut pujian dan apresiasi. Kadangkala bisa memabukkan.

Di satu sisi, itu adalah pencapaian, memang sepantasnya diperlakukan begitu, akan tetapi juga melanggengkan pandangan bahwa …

GEMUK = TIDAK BAIK

Ada ucapan bijak: “Mau gemuk atau kurus, terserah. Yang penting sehat.” Pasalnya, gemuk belum tentu sehat, kurus pun belum tentu bebas dari potensi penyakit. Cukup sampai di situ saja.

Sayangnya apabila rumus gemuk = tidak baik tertancap kuat dalam benak banyak orang, gelombang kekhawatiran berlebih dan insecurity pun bisa meluas. Dampak buruknya…

  • Cara instan menurunkan berat badan makin laku meskipun berbahaya,
  • Kehidupan sosial terganggu karena banyak yang sensitif dan gampang tersinggung,
  • Selalu terfokus pada diri sendiri (self-conscious), dan
  • Potensi gangguan psikologis termasuk kecenderungan anoreksia,
  • Pada akhirnya menghasilkan kepribadian yang rapuh.

Jadi, pilih mana? Gemuk dan bahagia, bisa menerima diri apa adanya; atau tidak gemuk tetapi enggak bisa santai?

Pokoknya, jangan berlebihan. Jangan serbasalah, dan pastikan dapat masukan yang profesional dari dokter. Cuma mereka yang punya kapasitas profesional untuk didengarkan untuk urusan berat badan dan kesehatan.

Idealnya, sih, begitu, dan mesti didukung oleh lingkungan. Jika tidak, diskriminasi itu bakal mustahil dihindari.

[]

Pelecehan Seksual & Ketidakberdayaan: Sebuah Upaya

SEKALI lagi, topik ini rawan bias gender. Salah-salah, jatuhnya bisa jadi mansplaining–ketika laki-laki yang sok tahu dan arogan merasa paham tentang sesuatu, lalu memberikan komentar tanpa diminta–atau malah oversimplifying atau disepelekan, dianggap tak perlu mendapatkan perhatian sampai sebegitunya.

Padahal saat berbicara tentang pelecehan seksual yang dialami oleh wanita, urusannya tak segampang memberi tanggapan:

Mestinya kamu lawan dong!

Kenapa kamu biarkan dia begitu?

Tidak. Tidak sesederhana itu.

… dan itu pun bukan kesalahan mereka sebagai wanita.

Demi menghindari kesalahan-kesalahan tersebut, tulisan di Linimasa hari ini dibuat oleh seorang wanita dan dititipkan kepada saya. Dia pernah merasakan dorongan kuat untuk memberontak dan melawan waktu dilecehkan beberapa tahun lalu, tetapi dia hanya bisa terdiam. Menyisakan trauma dan beban.

Tak menutup kemungkinan, secara tidak sadar saya pun pernah atau kerap melakukan pelecehan dengan beragam bentuknya. Berupa tindakan atau ucapan yang mustahil saya lakukan kepada sesama laki-laki.

Bukan perkara meminta para wanita untuk lebih berhati-hati, atau memberikan mereka bekal menghadapi semua situasi, melainkan upaya mendidik para remaja berpenis agar tak tumbuh menjadi pria-pria brengsek yang merendahkan wanita.


Suatu pagi semasa masih sekolah, saya lamban bersiap-siap. Biasanya Ayah akan mengantar saya ke sekolah sebelum Beliau berangkat ke kantor, biar sekalian saja. Tetapi pagi itu Ayah ada rapat. Beda 5 menit saja sudah bisa menjadi penentu terlambat atau tepat waktu untuk sampai ke lokasi rapat. Ayah berangkat duluan dan saya terpaksa berangkat sekolah dengan Angkot dari depan kompleks perumahan.

Berjalan tergopoh-gopoh, saya sudah kesal memikirkan konsekuensi yang harus saya hadapi di sekolah bila akhirnya terlambat. Pagi itu frekuensi Angkot juga tidak bersahabat. Sudah beberapa lama menunggu, masih tidak ada yang lewat juga.

Lalu sebuah Innova hijau muda melipir dan berhenti di depan saya. Kaca diturunkan, seorang pria bertampang usia 40-an di kursi pengemudi memanggil saya dengan gestur tangannya. Di pikiran saya saat itu, ini bisa saja salah satu teman atau kenalan orang tua saya yang kenal wajah saya, tetapi saya tidak terlalu kenal mereka–mungkin saya bisa menebeng sampai sekolah.

Setelah mendekat, ternyata si bapak ini sudah separuh melepas celananya, dan mengayun-ayunkan penisnya dengan gerakan memutar. Jelas, bukan sesuatu yang saya pikir akan saya lihat pada Selasa pagi itu, di pinggir jalan besar kawasan utara Jakarta.

Saya mematung. Otak saya menjerit “PERGI, CEPAT MENJAUH DARI MOBIL!” Tetapi butuh waktu beberapa detik sebelum kaki saya akhirnya bekerja sama hingga akhirnya saya menjauh. Tanpa saya duga, mulut saya pun turut bekerja sama. “Oh, cuma segitu doang? Heh.

Ada Angkot mendekat di belakang mobil itu dan saya buru-buru memanggilnya. Innova itu pun meluncur pergi. Saya berangkat ke sekolah. Sisa hari itu kabur di ingatan saya. Di kepala saya berkecamuk pertanyaan: “What just happened there?” Emosi marah, kesal, sedih dan bingung campur aduk serta perasaan tidak berdaya yang mendominasi saya hingga berhari-hari, bahkan berminggu-minggu setelah itu.

***

Belasan tahun kemudian, saya tengah bekerja dengan seorang kolega senior di kantor, Pak Bos dan seorang klien. Berdiri agak jauh dari klien, kolega saya mengelus pantat saya tanpa permisi dan tanpa aba-aba. Refleks, saya menepis tangan itu dan lagi-lagi saya terpaku. Tidak langsung berpindah dari sebelah si pelaku. 

Kolega senior ini  juga sangat dekat dengan pemilik perusahaan. Setelah klien berlalu dan saya tinggal berdua dengan Pak Bos, saya melaporkan kejadian tersebut kepada Pak Bos.

Responnya saat itu (kurang lebih jika diterjemahkan dari bahasa Inggris), “Ya, saya tidak membenarkan perbuatannya. Tetapi ingat, bahwa dia bukanlah predator seksual, dia hanya orang tua yang… ya… begitulah.” Kala itu, saya hanya mengiyakan dan meminta Pak Bos untuk bertindak jika kali lain si kolega ini merasa akrab dan menyentuh saya tanpa persetujuan di lingkup pekerjaan.

Butuh waktu yang cukup lama bagi saya untuk kemudian tersadar. “Sebentar. Kalau misalnya istri atau anak perempuan si Pak Bos yang mengalaminya, apakah Beliau akan menjawab seperti itu juga?” Setelah tersadar, saya menyesal sejadi-jadinya tidak berkata demikian kepada Pak Bos saat itu juga.

Apa gunanya menanggapi kejadian yang sudah berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun lewat?

Dan, pada kenyataannya, saya tidak berada di posisi yang menguntungkan dalam pekerjaan waktu itu. Apabila saya ngotot untuk melaporkan dan mempermasalahkan kejadian itu, bisa saja si pelaku hanya berkata bahwa kejadian itu tidak disengaja, atau saya membesar-besarkan masalah yang tidak ada buktinya, dan apa yang dia katakan akan lebih dipercayai daripada apa yang saya katakan. Lebih parahnya lagi, si pelaku adalah kesayangan pemilik perusahaan. Kemungkinan besar, kalau masalah ini naik hingga ke manajemen di atas Pak Bos, sayalah yang dipecat atau diminta mengundurkan diri, bukan dia. Karena posisi saya dibanding dia hanyalah butiran jasjus di perusahaan itu.

Walau pada akhirnya Pak Bos menegur si kolega senior secara halus separuh bercanda untuk berhenti menyentuh staf lain tanpa permisi dan tidak ada lagi kejadian serupa, setiap mengingat kejadian itu saya marah. Sedih. Tidak berdaya untuk melawan, tetapi bagaimana saya bisa melawan lebih lanjut tanpa membahayakan posisi saya di pekerjaan?

***

Beberapa hari yang lalu, saya sedang bekerja di sebuah perusahaan dan saya ditugaskan untuk mewakili kantor berhadapan dengan klien. Dari komputer kantor, saya menerima pesan dari salah satu klien bahwa ia meminta saya menunjukkan payudara serta memperbolehkan dia untuk memegangnya.

Saya terdiam sewaktu membaca pesan itu. Dan untuk beberapa saat, saya seperti tidak menyadari secara penuh apa yang telah terjadi. Saya mengalihkan perhatian dengan mengerjakan hal-hal lain. Kira-kira 15 menit kemudian, it hits me. Saya sudah dilecehkan. Saya ingin memaki. Mengasari. Marah. Tetapi posisi saya sebagai representatif kantor membuat saya ragu untuk melawan balik. Saya tidak tahu mau menjawab apa. Akhirnya, saya memutuskan untuk menghubungi atasan saya dan menceritakan apa yang telah terjadi.

Tangis saya pecah saat menceritakan insiden tersebut dengan klien. Saya bahkan sulit untuk menjelaskan dengan baik kejadian yang sebenarnya karena saya masih terguncang. Hati, pikiran saya tidak tenang. Saya merasa tidak aman. Kalut. Marah. Bingung.

*** 

Saya mengalami berbagai jenis pelecehan seksual dengan situasi yang berbeda-beda, belum termasuk insiden-insiden saat saya dilecehkan secara verbal atau catcalling. Tetapi insiden-insiden di atas ini adalah beberapa contoh saat saya, seorang perempuan yang dikenal asertif dan berani melawan, akhirnya tidak melakukan apa-apa saat dilecehkan. Sungguh, saya ingin bisa memukul, memaki, berkata-kata kasar dan membalas secara agresif jika waktu bisa diulang kembali. Tetapi kenyataannya, saya terpaku. Dan selewat kejadian-kejadian tersebut, saya sangat kecewa dengan betapa tidak berdayanya saya.

Baru-baru ini, saya memutuskan untuk berkonsultasi dengan psikolog. Salah satu tujuan yang ingin saya capai adalah saya ingin bisa lebih baik menghadapi trauma semacam ini. Entah itu berarti saya tidak lagi terdiam saat “diserang” seperti ini atau lebih cepat pulih dari trauma hingga tidak berlarut-larut mengalami kecemasan di hari-hari berikutnya.

Kami akhirnya berdiskusi mengenai kecenderungan pelecehan seksual tersebut. Walau dianggap sebagai tindak kriminal, sejatinya sangat sulit untuk mengharapkan sebuah tanggapan yang tegas terhadap pelaku pelecehan seksual. Semisal, saat sedang berjejal-jejal di kendaraan umum, bagian intim kita dipegang. Bisa saja, saat kita teriak dan menuduh, si pelaku hanya bilang “Oh, kan kesenggol, tidak sengaja,” atau malah sekalian menyangkal. Tidak ada bekas tangan dengan sidik jari yang menjadi bukti konkret saat kita melaporkan kejadian itu kepada pihak yang berwajib. Masa kita harus membawa-bawa kamera atau perekam suara agar saat terjadi kita bisa melaporkan ke pihak berwajib? Seperti yang terjadi di sini, pelecehan seksual dapat dilakukan demikian halus tersembunyi sehingga menyulitkan korban untuk melawan balik.

Atau, seperti salah satu insiden yang saya alami. Bagaimana saya bisa membela diri tanpa takut kehilangan pekerjaan, karena saya berurusan dengan kolega yang hierarkinya lebih tinggi dari saya? 

Diskusi kami berlanjut, saya membicarakan bagaimana saat dihadapkan dengan “serangan” seperti itu, saya merasa tidak berdaya. Tidak mampu melawan. Dan saya menyalahkan diri saya sendiri, mengapa saya begitu tidak mampu? Begitu lemah? Begitu tidak berdaya? Saya kecewa karena tidak berhasil merespon lebih baik, lebih agresif, lebih vokal untuk mempertahankan diri sendiri.

Psikolog saya berkata bahwa kenyataannya, respons manusia terhadap serangan terbagi menjadi 3 jenis, fight-flight-freeze (melawan-kabur-membeku/terpaku).

Fight, jika insting bawah sadar merasa diri mampu mengalahkan penyerang.

Flight, jika insting bawah sadar merasa tidak mampu melawan dan dapat melarikan diri dari situasi secara konkret.

Freeze, merupakan respons diri saat tidak bisa melawan tetapi juga tidak bisa melarikan diri dengan aman. Lumpuh. Dan freeze adalah respons paling umum bagi korban pelecehan.

***

Lalu bagaimana solusinya? 

Mengenai bagaimana agar tidak mengalami pelecehan seksual, jujur saja saya masih agak mampet. Tidak ada cara untuk menjamin bahwa setelah bangun pagi, kita tidak akan mengalami pelecehan hari itu. Tidak ada jaminan juga bahwa kita pasti akan mengalaminya minimal sehari sekali. Apakah upaya pencegahan itu ada? Tidak. Seringnya, tidak ada tanda-tanda juga bahwa kita akan dilecehkan.

Bagaimana dengan upaya mempertahankan diri? Mungkin bisa membantu. Tetapi menurut psikolog saya, hanya belajar bela diri saja belum tentu cukup. Menurut cerita yang Beliau sampaikan, tetap ada kasus seorang praktisi bela diri yang freeze saat diserang. Solusi yang sepertinya mempunyai potensi yang paling sukses adalah memiliki mindfulness. Katanya, dengan menguasai kesadaran seperti itu, kita akan bisa menanggapi serangan dengan lebih rasional. Entahlah. Saya juga masih akan mencoba. Digabung dengan seni bela diri juga sekalian, mungkin.

Konklusi sementara saya adalah kita tidak bisa bergantung bahwa orang lain akan menolong atau membantu kita saat “serangan” semacam ini terjadi. Sebisa mungkin, jangan lengah. Tetapi di sisi lain, kita juga tidak bisa terlalu siaga yang malah membuat kita selalu tidak aman, terlalu responsif, yang bisa menyebabkan kelelahan fisik dan batin.

Mengenai bagaimana untuk bisa pulih dengan trauma, psikolog menyarankan beberapa hal yang sesuai dengan kondisi saya.

Bercerita mengenai kejadian ini. Saya menyadari bahwa saya perlu bercerita kepada orang-orang yang mendengar, peduli, dan bersimpati. Bukan kepada orang yang menyalahkan secara langsung (“Ya elu sih pake baju kurang bahan”), maupun secara tersembunyi (“Ih kok lu diem aja sih? Kalo gue mah udah gue tendang kali ‘barangnya’ biar impoten sekalian.”)

Berbicara mengenai kejadian ini membantu saya untuk memberi konteks, dan juga membantu emosi saya untuk mengejar rasional dan logika saya, sehingga saya lebih tenang dan bisa merasa lebih seimbang.

Merawat diri. Cukup tidur, cukup hidrasi, dan makan enak adalah bentuk tindakan self-kindness yang bisa meningkatkan mood untuk merasa lebih baik. Juga, katakan hal-hal yang positif. Sebagai contoh, sang psikolog menyarankan saya untuk memaafkan diri saya sendiri karena tidak mampu merespons lebih. Bahwa, tidak apa-apa, it’s okay, saya berada dalam situasi genting yang tidak memungkinkan saya untuk merespons secara maksimal.

Bersosialisasi. Tidak melulu membicarakan apa yang telah terjadi, tetapi berada dengan orang lain membantu untuk saya kembali ke kehidupan normal. Bahwa sesungguhnya masih banyak hal lain di hidup ini yang bisa saya pikirkan dan lakukan. Bahwa walaupun insiden-insiden tersebut terjadi, saya mempunyai pilihan untuk tetap beraktivitas.

***

Akhir kata, saya juga masih tidak punya solusi permanen dalam menghadapi pelecehan seksual secara spesifik. Saya sendiri masih dalam proses. Akan tetapi, jika kamu di luar sana mengalami hal yang sama, kamu tidak sendiri. Dan jika kamu mendengar orang lain mengalami pelecehan seksual, tolong jangan disepelekan. Paling tidak, jadilah seorang pendengar tanpa menilai atau memojokkan. 

Dan tolong, jangan lecehkan orang lain. Kalau melihat ada orang yang sepertinya melecehkan, lakukan sesuatu.

Tolong.

[]

Belajar Menjual Diri

TAHUN baru, pekerjaan baru di kantor yang baru, tentu dengan suasana dan nominal gaji yang baru pula. Itu yang biasanya berlaku di kota-kota besar. Terutama bagi mereka yang (merasa) memiliki keleluasaan untuk bekerja bukan demi penghasilan dan nafkah, sehingga bisa dengan mudahnya menolak sebuah tawaran pekerjaan dengan alasan: “Kantornya gak asyik, ah.” 

Banyak hal mengejutkan yang saya temui di tahun pertama merantau ke Jakarta. Durasi bekerja, salah satunya. Ketika banyak yang mengeluh susahnya mencari pekerjaan—entah apa pun alasan dan faktor penyebabnya, tetapi tak sedikit pula yang berhenti bekerja (kurang dari 18 bulan) dengan ringannya, untuk langsung aktif berkantor di tempat baru sekira dua bulan kemudian. Seseorang yang angka usianya belum 30 dan bekerja hampir sepuluh tahun di satu perusahaan tampaknya adalah sesuatu yang langka—atau, agak bodoh, menyia-nyiakan waktu dan kesempatan, barangkali.

Tidak ada yang salah dari keputusan tersebut. Setiap orang berhak untuk memilih pekerjaan; kantor yang ingin mereka datangi; dan bebas membuat pertimbangan atas setiap keputusan yang diambilnya. Lagipula, kalau ada tawaran pekerjaan serta tempat bekerja yang lebih baik dari segi kenyamanan, penghasilan, reputasi, sistem kerja, sistem pengembangan kemampuan personal, dan sebagainya, mengapa tidak? Bisa lebih maju, lebih ternama, dan lebih kaya. 

Baru di Jakarta pula saya menyadari bahwa mereka yang bekerja bisa terbagi dalam dua kategori: Bekerja karena pekerjaan itu sendiri, dan Bekerja demi taksiran nilai diri (valuation). 

Kelompok pertama, mereka yang bekerja karena pekerjaan itu sendiri, memiliki beragam alasan dan latar belakang. Termasuk;

  • Harus bekerja demi mendapatkan penghasilan,
  • Bekerja karena tuntutan orang tua atau keluarga,
  • Bekerja di perusahaan orang tua,
  • Bekerja karena menyenangi pekerjaan itu,
  • Bekerja karena sesuai dengan keahlian,
  • Tetap bekerja karena komitmen pada diri sendiri,
  • Tetap bekerja karena ingin menuntaskan atau mencapai sesuatu terkait pekerjaan tersebut (terfokus pada hasil pekerjaan, bukan siapa yang mengerjakannya),
  • Tetap bekerja karena telah menjadi zona nyaman atau malas untuk memulai lagi,
  • Bekerja karena pekerjaan itu terlalu spesifik bagi orang lain, atau
  • Bekerja karena tuntutan sosial, dan banyak lagi. 

Berbeda dengan kelompok kedua, yang bekerja sedemikian rupa untuk meningkatkan “banderol diri”. Caranya dengan terus menambah, melengkapi, dan mempercantik portofolio pekerjaan yang sudah maupun sedang berlangsung. Dengan atau tanpa penjelasan tentang eksekusi, apalagi capaian akhir dari pekerjaan tersebut. Secara garis besar, yang mereka lakukan adalah tentang memasarkan diri sendiri, sebagai seseorang yang berkeahlian dan mampu mengerjakan sesuatu/beberapa hal. Self-marketing and personal branding

Caricature for LinkedIn job titles meme
Source: Pinterest

Sekali lagi, tidak ada yang salah dengan self-marketingself-promotion, maupun personal branding. Wajar, lantaran setiap orang mengejar aktualisasi diri. Perasaan sebagai seseorang yang signifikan, yang patut dikejar karena kualitasnya, dan punya fungsi eksistensi khusus. Sebab, baik mereka di kelompok pertama atau pun kelompok kedua pasti harus berurusan dengan ekspektasi. Menghadapi ekspektasi atas diri sendiri, dan menghadapi ekspektasi orang lain/atasan/perusahaan terhadap diri sendiri.

Sementara itu, mengapa mereka berusaha meningkatkan taksiran nilai diri? Entah. Ego-feeding, mungkin? Karena merasa sedemikian berharganya dalam industri. Terutama yang punya segmentasi sempit. Misalnya seperti di era ekonomi digital sekarang ini, kebutuhan tenaga kerja di bidang teknologi informasi untuk Developer, Programmer, Project Manager, dan lain-lain sedang tinggi-tingginya. Setiap perusahaan, startup dan korporasi, seakan-akan berlomba-lomba mempekerjakannya. Sebagai konsekuensi, tentu ditawarkan penghasilan dan fasilitas yang menggoda. Yang bersangkutan pun bisa dengan santainya melakukan negosiasi demi mendapatkan hasil semaksimal mungkin. Jika penawaran dirasa kurang cocok, dia bisa menjawab “Ehm… saya coba pikir-pikir dulu, ya,” dengan penuh keyakinan dan percaya diri.

Ya! Kepercayaan diri. Ekspresi yang menunjukkan bahwa “Ini, lho. Aku.

Related image
Source: smokeylemon.com

Selebihnya, tak hanya ditawari pekerjaan di perusahaan baru nan bonafide, peningkatan taksiran nilai diri juga membuatnya berpeluang mendapatkan peningkatan status profesional. Berkedudukan sebagai supervisor di perusahaan sebelumnya, ditawari menjadi manajer di perusahaan baru. Berkedudukan sebagai General Manager (GM) di perusahaan saat ini, ditawari menjadi Vice President (VP) di perusahaan berikutnya. Bangga? Tentu saja.

Apabila penawaran diterima, tinggal dilihat saja pembuktiannya. Pakai ungkapan: “Sejago-jagonya seseorang memasarkan dirinya sendiri, pada akhirnya tetap tergantung penilaian orang lain juga.” 

Kemampuan memasarkan dan meningkatkan nilai diri, mestinya sepaket dengan kemampuan melindungi dan menjaga reputasi. Termasuk kemampuan bekerja sebaik mungkin. Toh, namanya juga pekerja, seseorang yang bekerja pada sang pemilik.

Jangan sampai terlampau terguncang, ketika dikomentari: “Oh, ternyata begitu doang.”

[] 

Diganggu Suara

SUARA berkecap (bukan kécap), yaitu ketika seseorang mengunyah makanan dengan antusias tanpa mengatupkan bibir, alias dengan mulut terbuka. Suara itu muncul ketika lidah–yang basah–terlepas dari langit-langit mulut. Terdengar berulang, dan tentu saja nyaring.

Suara berserdawa. Setelah makan, gas terdorong keluar beserta aromanya. Dalam beberapa komunitas budaya, berserdawa adalah tanda kepuasan, kenikmatan dari bersantap, sekaligus ekspresi terima kasih kepada si pemberi makanan (karena sudah memberikan hidangan senikmat itu). Namun, ada sejumlah komunitas lain yang berpendapat sebaliknya. Begitu pula dengan suara menyeruput minuman.

Suara berdecak, tetapi bukan decak kagum, melainkan ekspresi rasa kesal. Kita pasti tahu bahwa seseorang sedang kesal, atau merasa tidak suka terhadap sesuatu jika dia berdecak. Tak hanya dari orang lain, kita sendiri pun bisa saja mengeluarkan suara tersebut tanpa sadar … dan membuat suasana jadi kurang nyaman.

Suara berdengus, yaitu ketika seseorang berusaha mengembuskan napas lewat hidung dengan keras dan kencang, seolah-olah ingin mengenyahkan sesuatu karena merasa gatal atau tidak nyaman. Bisa debu, rambut hidung rontok, upil, ingus, serangga, dan sebagainya.

Suara berludah dan mendahak. Tahu sendiri, kan, ya. Suara yang dihasilkan ketika seseorang berusaha mendorong sesuatu–lendir–dari area pangkal lidahnya. Tak ada yang salah dari aktivitas ini, selama tidak dilakukan secara terbuka di depan umum lengkap dengan hasil akhirnya.

Suara menyedot udara dari sela atau lubang gigi. Biasanya dilakukan setelah makan, ketika ada serat daging atau secuil sayuran kasar tersangkut di celah-celah gigi. Aktivitas ini dilakukan untuk mencopot potongan makanan tersebut dari posisi awalnya.

Suara mengembuskan napas lewat mulut untuk menyuruh diam, tidak berisik. Karena bertujuan untuk menghentikan kebisingan, suara “ssst…” tersebut justru terdengar lebih nyaring, dan justru menambah keributan. Makin keras embusan napasnya, makin kencang suaranya.

Bagi kita yang kerap terganggu dengan bunyi-bunyian tersebut, selalu timbul perasaan tidak nyaman yang sulit dijelaskan. Pokoknya tidak suka, saja. Apabila sudah tak tertahankan, kita pun bisa memberikan respons yang tak kalah negatifnya. Mulai dari ekspresi wajah, sekadar raut muka, sampai menegur yang bersangkutan.

Pertanyaan pertama: Mengapa kita terganggu?

Ada yang mengaitkannya dengan standar nilai dan kepatutan sosial, lantaran bunyi-bunyian tersebut dibuat dan didengar di ruang umum. Bagi pelaku, bunyi-bunyian tadi mungkin dianggap wajar karena begitulah kebiasaan yang terjadi di lingkungannya. Sebaliknya, bagi orang lain yang terpaksa harus mendengar, tindakan tersebut dinilai tidak sopan dan mengusik.

Sayangnya, penilaian yang demikian berpotensi menarik masalah lebih jauh; memunculkan ilusi derajat. Dalam lingkungan pergaulan modern masa kini, si pelaku bisa saja dianggap kampungan, tidak terdidik, berperilaku miring, berkelakuan jorok, beretiket rendah, dan menjadi cibiran lebih lanjut. Padahal, si pelaku mungkin tidak tahu bahwa kebiasaannya tersebut bukanlah sesuatu yang lazim bagi orang lain. Dia tak sepenuhnya salah dalam ketidaktahuannya tersebut.

Lalu, pertanyaan kedua: Bagaimana menyikapi perasaan terganggu itu?

Orang lain yang mengeluarkan suara, tetapi kita yang merasa terganggu dan merasa tidak nyaman. Wajar bila kita merasa sebagai korban, sebagai yang tertimpa dan berada di situasi tidak menyenangkan. Kita dibuat susah oleh suara, sementara si pemilik suara tersebut tetap bersikap biasa-biasa saja.

Apakah perasaan terganggu itu sedemikian penting untuk diperhatikan? Idealnya, akan lebih baik bila waktu, tenaga, dan perhatian yang kita miliki saat itu diarahkan kepada hal-hal produktif serta bermanfaat. Kalau tidak bisa, ya tidak apa-apa. Silakan beranjak, menyingkir dari situ. Sebab pada dasarnya kita tidak memiliki tanggung jawab moral untuk mendidik orang lain begitu saja. Lagipula, apa hak kita memberikan pengajaran kesopanan di depan umum?

Apakah sebaiknya kita lampiaskan dengan marah-marah, atau kita tinggalkan saja?

Kembali mengacu pada pandangan di atas, ada tenaga dan waktu yang kita curahkan saat marah-marah. Emosi dan suasana hati pun ikut berubah karenanya. Silakan ditanyakan kembali kepada diri sendiri, apakah hal itu berfaedah?

Meninggalkannya begitu saja merupakan salah satu respons yang alamiah. Sayangnya, hal ini tidak bisa dilakukan ketika Anda sama-sama terjebak dalam satu ruang dengan si pelaku. Beruntung ada earphone, yang bisa membantu kita terhindar dari bunyi-bunyian tersebut. Apabila tidak punya, ya, mohon maaf, saatnya kita mengamati batin kita sendiri.

Apakah kita mampu mengabaikannya? Pertanyaan ini relatif susah dijawab. Kemampuan mengabaikan sesuatu yang mengganggu memiliki beberapa dimensi. Termasuk aspek psikologis, dan kekuatan/kebebalan sendiri.

Dari perspektif psikologi, ketidaknyamanan itu disebut misophonia. Khususnya yang sudah mencapai kadar berat. Secara alamiah, orang-orang dengan misophonia akan mencari cara untuk terhindar dari gangguan bunyi tersebut. Ibarat berusaha melarikan diri, mereka akan merasa gelisah dan bisa saja memilih untuk keluar ruangan, mengenakan pengedap suara, atau mencari cara lain agar terpisahkan dari bunyi-bunyian tersebut berupa pengalihan. Termasuk dengan menutup telinga dan sambil bersenandung sendiri. Semua itu dilakukan sampai bunyi-bunyian berlalu.

Uniknya, para pemilik misophonia hanya terganggu apabila bunyi tersebut berasal dari orang lain. Dia tidak akan seterganggu itu jika bunyi yang sama berasal dari dirinya sendiri. Belum ada studi mendalam lebih lanjut tentang ini, dan misophonia baru dianggap sebagai bentuk sinestesia (tautan indra) antara suara serta perasaan. Kendati demikian, tercatat belum ada penyebab pasti dari munculnya kondisi misophonia tersebut.

Di sisi lain, pendekatan berbeda akan diambil oleh para meditator–orang-orang yang berlatih meditasi. Alih-alih mengalihkan perhatian, atau berkeras hati menahan ketidaknyamanan yang timbul, mereka akan berusaha melalui dan mengamati bunyi-bunyian tersebut. Hanya mengamati, menonton perubahan batin. Tidak semudah kedengarannya, memang, sebab pengamatan dilakukan dengan apa adanya. Tanpa menganalisis, tanpa menilai, tanpa membubuhkan apa-apa. Konon, di level paling halus, sang meditator dapat menyadari kemunculan sesuatu yang asalnya terasa netral, hingga kemudian berangsur-angsur berkembang menjadi perasaan tidak nyaman tersebut. Lewat proses pemahaman yang tepat, batin mereka tak lagi mudah digoyahkan oleh perasaan tak nyaman dari bunyi-bunyian tersebut. Tidak reaktif, tidak meledak-ledak. Kemunculan sampai hilangnya respons batin tersebut terlihat dengan gamblang. Ibarat Neo dari “The Matrix” atau Flash yang mampu menghindari peluru dan membiarkannya lewat tanpa perlu melakukan apa-apa.

Apabila tak lagi terganggu dengan suara–asupan indra pendengaran–tersebut, hidup kita sedikit lebih tenteram. Bukan lantaran menghilangkan sumber suara, atau menghilangkan perasaan maupun kemampuan merasa, melainkan kokoh, tak tergoyahkan. Energi dan perhatian pun bisa dialihkan untuk hal-hal lain yang lebih penting.

[]

“10 Annoying Sounds People Need to Stop Making”
“Mipsohonia: Triggers & Management”

Shio di 2019 (4)

SHIO adalah soal keteraturan. Selalu ada pola yang tersedia untuk dicermati, dan dibaca secara garis besarnya. Deviasi atau penyimpangan-penyimpangan, bahkan perbedaan yang timbul pun biasannya tetap berkaitan dengan catatan utama. Kadarnya saja yang berbeda. Kecuali jika terjadi perubahan seketika, baik yang dapat dianggap sebagai anomali, atau–dalam bahasa sehari-hari–takdir.

Seperti horoskop ala barat, urutan shio tidak akan pernah berubah. Juga sama-sama berjumlah 12. Bedanya, horoskop barat didasarkan pada rasi bintang dan posisinya di langit, sehingga perubahan selalu terjadi dalam rentang per bulan. Itu sebabnya Ophiuchus bisa hadir menjadi zodiak ke-13, meskipun tampaknya tidak dipakai juga.

Lambang binatang dalam shio memang berjumlah 12. Perubahannya berlangsung setiap tahun, mengikuti penanggalan Imlek. Sederhananya, antara para pemilik shio tikus pasti memiliki selisih usia sejauh 12 tahun. Namun, satu siklus shio sebenarnya berlangsung lebih lama dari itu. Yakni per 60 tahun, lantaran memiliki unsur berbeda-beda. Sebagai contoh, Imlek tahun 2019 bershio babi tanah, maka shio babi tanah baru akan terjadi kembali pada Imlek tahun 2079! Situasi kehidupan tentu sangat berbeda, begitu juga kecenderungan-kecenderungan peruntungan yang bakal terjadi. Katakanlah, teknologi kesehatan kian maju, kesejahteraan global kian meningkat, dan sebagainya. Ramalan pun tak akan pernah sama. Sekali lagi, yang ada hanyalah kecenderungan-kecenderungan.

Hari ini, mari kita tak usah berberat-berat pemikiran membahas tinjauan filosofis dan sosiokultural atas shio. Pasalnya, masih banyak yang bahkan salah mengira shionya sendiri. Sekali lagi, kuncinya adalah pergantian tahun Imlek. Biasanya berlangsung di akhir Januari hingga pertengahan Februari. Jadi, perhatikan tanggal lahir. Apabila ragu, gunakan saja penyesuai penanggalan, alias konverter.

Berikut sedikit bocorannya, silakan ditambah/dikurang 12 tahun.

Tikus1984, 1996, 2008…
Kerbau/sapi1985, 1997, 2009…
Macan1986, 1998, 2010…
Kelinci1987, 1999, 2011…
Naga1988, 2000, 2012…
Ular1989, 2001, 2013…
Kuda1990, 2002, 2014…
Kambing1991, 2003, 2015…
Monyet1992, 2004, 2016…
Ayam1993, 2005, 2017…
Anjing1994, 2006, 2018…
Babi1995, 2007, 2019…

Begitu seterusnya.


Ayam

Lingkungan sekeliling berpengaruh besar bagi peruntungan para pemilik shio ayam kali ini. Dikhawatirkan, situasi saat ini tidak ideal untuk segala aspek. Ingin maju, terhalang-halangan keadaan. Ingin bertahan, malah diusik. Pokoknya tidak menyenangkan, deh. Untungnya, faktor ini tidak sampai menyebabkan kerugian yang signifikan, tetapi efeknya, rezeki terasa semakin sukar dicari. Sabar, ya…

Suasana di tempat kerja bisa menjadi agak parah, sih. Karena terlalu sering “ditusuk dari belakang” oleh rekan sekantor, akhirnya berdampak buruk para reputasi profesional. Kita dianggap tidak kompeten oleh atasan, kita merasa tidak nyaman bekerja di sana, dan bisa berpikir untuk berhenti atau pindah tempat tanpa pemikiran dan persiapan yang matang. Salah satu langkah yang disarankan tetaplah bekerja dalam ketenangan, cermat mengamati, dan disikapi dengan sebaik mungkin. Karena kegelisahan bisa membuat terasa tak tentu arah. Ambillah sejenak waktu untuk melihat diri sendiri dengan jernih, jangan langsung menarik diri. Pada akhirnya, bagaimanapun juga, berpindah tempat kerja atau memulai bisnis baru akan kurang tepat tahun ini. Terutama jika pendorongnya adalah perasaan kurang nyaman di pekerjaan sebelumnya.

Bagi para cowok bershio ayam, ada kecenderungan bertemu dengan cewek maupun calon pasangan yang keras kepala dan kuat kemauan. Ini berpotensi jadi masalah. Sebab sedikit banyaknya, calon pasangan yang bisa menunjukkan kemandirian, atau sikap tidak bergantung pada pasangan, bisa menimbulkan rasa terusik. Ada ego yang terusik. Di sisi lain, teman dan keluarga dapat membayang-bayangi hubungan yang terjalin. Sementara bagi yang telah berpasangan, potensi berselisih agak meningkat di tahun ini. Sayangnya, bagi para cewek bershio monyet, barangkali belum akan berkesempatan ketemu partner kencan dalam sementara waktu.

Amit-amit jangan sampai terjadi, sih, cuma di tahun ini akan lebih banyak peluang sakit gigi, selain sakit hati. Begitu pula dengan peluang digigit binatang, mudah-mudahan hanya kelas serangga dan yang lebih kecil. Guncangan-guncangan yang diharapkan hanya berdampak kecil.

Anjing

Bisnis para anjing akan stabil di tahun ini. Akan tetapi, jangan memulai sesuatu yang baru dulu. Kecuali jika tujuannya untuk belajar, atau untuk waktu yang singkat. Kalau panjang-panjang, takutnya bisa berakhir kegagalan, dan menyebabkan beban tambahan yang mestinya bisa dihindari. Belum lagi peluang dikhianti partner sendiri, nyesek banget, kan? Paling parah bisa menyebabkan kebangkrutan yang sama sekali tidak bisa diprediksi.

Banyak hal yang sebenarnya bisa selesai dengan lancar, tetapi masalah-masalah sampingan tetap tak bisa dihindari. Kalau sudah begini, selalu diingat kalau backup plan bisa sangat diperlukan, dan menghindari efek gempuran.

Asmara para anjing rada suram, sih, tapi tetap dengan harapan baik bahwa semua itu tak akan terjadi, ya. Soalnya ada potensi berpisah, dan peruntungan asmara lanjutan yang tidak terlampau baik sesudahnya. Masuk ke tahap mencari-cari lagi. Melelahkan, memang. Bisa saja menemukan, dan mencoba kencan dengan orang dari lingkungan kantor atau tempat kerja. Hanya saja, kalau sudah ada rasa, jangan buru-buru. Amati kecocokannya, lalu biar dibangun pelan-pelan. Supaya mengurangi efek buruknya. Seperti, tidak akan ada terobosan asmara di kemudian hari.

Soal kesehatan, setidaknya lebih baik dari tahun sebelumnya. Tetap dengan perhatian pada kaki, tangan, dan organ gerak. Hindari cedera-cedera yang sebenarnya ringan, tetapi mengganggu aktivitas keseharian.

Babi

Para pemilik shio babi di tahun ini ibarat memasuki ruang penyimpanan emas, baru ruangannya sih. Semacam brankas gede, begitu. Tandanya, ada banyak pintu untuk mendapatkan peningkatan rezeki. Selain dari bisnis dan usaha, juga dari investasi, atau objek spekulasi. Khusus yang investasi dan spekulasi, naik turunnya relatif besar. Bisa-bisa lumayan mengejutkan. Di sisi lain, siapkan anggaran untuk kesehatan. Kayaknya ada peluang untuk tambahan pengeluaran terkait itu.

Kinerja perusahaan memang akan maju, dan boleh banget melakukan pembesaran dan pengembangan, atau menjajaki bidang baru. Terlepas dari itu, dinamika dalam karier dan pekerjaan akan relatif ekstrem. Bahkan bisa berbuntut masalah terhadap kolega dan partner.

Untuk urusan asmara pun juga naik turun. Bagi para cowok, urusan romantisme akan datar-datar saja, sedangkan bagi cewek akan sebaliknya. Dalam hal hubungan, masalah justru muncul dari komunikasi. Baik kepada pasangan, maupun kepada keluarga. Bisa sampai menimbulkan perselisihan. Di sisi lain, karena perubahan pola pergaulan atau kesibukan, teman-teman aktif di tahun ini tidak sebanyak tahun lalu. Ada yang muncul dan aktif ngumpul, ada yang tenggelam dan malah ngilang. Ya, dinikmati saja.

Akan cenderung banyak mengalami sakit, “untungnya” yang berskala kecil. Termasuk sembelit. Kemudian waspadai luka yang bisa dihasilkan dari logam. Khusus wanita, mudah-mudahan dijauhkan dari gangguan khusus kewanitaan.

Semoga semua hal-hal positif menjadi kenyataan.

恭喜發財, 豬事勝意!

Selamat Imlek! Semoga menjadi tahun yang penuh keberhasilan, kemudahan, kebugaran, dan kebahagiaan.

[]

Shio di 2019 (1): Tikus, Kerbau/Sapi, Macan.
Shio di 2019 (2): Kelinci, Naga, Ular.
Shio di 2019 (3): Kuda, Kambing, Monyet.

Shio di 2019 (3)

SEBUAH polemik superklasik: Tak perlulah bertanya tentang akurasi atau ketepatan ketika berbicara tentang peruntungan shio, maupun versi-versi zodiak lainnya. Selain sia-sia, juga bisa membuat kita kecewa jika sebegitu percayanya.

Seperti dalam tulisan pertama soal ini, saya lebih suka menyebutnya sebagai sekumpulan kecenderungan. Tanpa kepastian dan tanpa kewajiban untuk terlaksana, yang ada hanyalah berupa gambaran potensial. Sebab dari seribu perhitungan, akan ada seribu kemungkinan. Tidak sedikit di antaranya yang justru saling bertentangan.

Mana yang harus dipercaya?

Tidak ada. Itu menurut saya. Mending disikapi layaknya selingan, hiburan, atau sekadar pengingat agar tetap waspada dan berhati-hati dalam menjalani kehidupan.

Sebagai bukan peramal, ahli nujum, suhu, atau medium kegaiban, saya tidak punya kemampuan menerawang masa depan. Narasi peruntungan shio yang dibagi di sini bersumber dari almanak.

Almanak “Tongshu”. Semacam primbon tahunan dan buku pintar metafisika. Selain berisi kalender Imlek dan Masehi setahun lengkap dengan detail karakteristik setiap harinya, juga memuat soal arah baik/buruk, waktu baik/buruk (untuk menikah, meresmikan rumah, potong rambut, dan lain-lain), mengenali pertanda di rumah, serta masih banyak lagi. Terbit setiap tahun, dan bisa didapatkan di toko-toko perlengkapan sembahyang Tionghoa.
Salah satu contoh almanak Tionghoa.

Biasanya, buku almanak (通書) diterbitkan setiap tahun dengan pakem-pakem berbeda. Cukup tebal, karena peruntungan shio bukanlah konten utama satu-satunya.

Kini, sejumlah materi utama dalam almanak, ditambah beberapa metode dan konsep ramalan sudah tersedia secara daring. Pengelolaan data memudahkan proses pembacaan pola dan penghitungan probabilitas dasar. Formulasinya sudah ajek. Namun, tetap belum mampu mengkalkulasi keberuntungan/kesialan secara presisi.

Makanya, sekali lagi, jangan dipercaya buta, apalagi sampai melekat. Santai saja.

Kuda

Rezeki dan harta akan berdatangan bagi para pemilik shio kuda di tahun babi tanah. Selain berupa peningkatan posisi dan gaji, investasi yang dijalankan beberapa waktu terakhir ini akan mulai memberikan hasil. Lalu, karena semua hal berjalan baik dan membuahkan reputasi positif, lingkar sosial dan pergaulan juga akan bertambah. Otomatis biaya sosial juga bertambah. Situasi ini tidak sampai mengganggu keuangan sih, tetapi tetap perlu diperhatikan juga. Kalau hura-hura dibayarin mah oke-oke aja.

Lebih jauh lagi, peluang untuk memperluas bisnis bisa jadi pertimbangan. Sementara untuk para pekerja, lagi-lagi tetap harus menjaga komunikasi. Meskipun sedang cemerlang-cemerlangnya di tempat kerja, jangan sampai bersikap arogan dan merasa paling benar sendiri. Tidak ketinggalan, kegemilangan dalam pekerjaan bisa membuahkan tanggung jawab lebih besar, mesti gigih.

Nah, urusan asmara juga penuh warna. Orang-orang yang kamu temui, dan berpotensi ditaksir, adalah mereka dengan tipe-tipe idamanmu. Banyak alternatif untuk menentukan pilihan, asal dibawa santai dan tidak gegabah. Satu masalah, saking bagusnya peruntungan asmara di tahun babi tanah ini, kamu bisa tergoda dan jatuh dalam hubungan segitiga. Bisa kamunya yang menjadi subjek, atau malah kamunya yang jadi objek. Karena rasa suka kan idealnya terjadi dua arah. Iya kalau kamunya juga masih sendiri, bagaimana kalau si dia ternyata tidak sendiri? Mana yang mau diikuti? Masuk dan jadi bagian dalam kehidupan asmara orang lain, walau dia tipe idaman banget, dan berpotensi drama; atau hidup tenteram dan menjatuhkan pilihan ke figur lain yang mungkin tak kalah berkualitasnya.

Pikiran tenang, badan juga senang. Jauh dari penyakit dan gangguan kesehatan. Cuma, karena banyak aktivitas sosial dan keseruan yang dilalui sepanjang tahun, hati-hati bisa alami kelelahan. Atur waktu dengan baik, stay balanced. Jangan sampai istirahat kurang, asupan makanan pun tidak jelas. Salah-salah, peruntungan kesehatan di tahun mendatang malah jadi kacau.

Kambing

Pertama, akan ada peningkatan, baik gaji atau penghasilan, tetapi tidak sesuai ekspektasi. Jadi, sebagai solusi, mungkin lebih baik mengelola harapan atau mencoba mengamati yang didapatkan, untuk kemudian berusaha menerima. Kalaupun tidak cocok, sebaiknya dipikiran pelan-pelan guna mendapatkan solusi terbaik. Apabila bermain insturmen spekulatif, mesti tahu kapan harus berhenti. Jangan sampai menyesal kemudian, karena yang dimenangkan pasti akan hilang juga. Masalahnya, ketika itu terjadi bisa memengaruhi simpanan yang telah dimiliki selama ini. Bukannnya berkontribusi positif, malah merugikan lebih jauh. Selebihnya, harap jangan salah langkah ketika berurusan dengan pemerintahan. Pastikan semua syarat dan ketentuan sudah dipahami. Lebih baik berurusan yang aman.

Karier akan menanjak selangkah demi selangkah. Terutama bagi yang bekerja di sektor pelayanan publik, atau di pemerintahan, sebab ada peluang untuk mengemukakan gagasan dengan lebih jelas, dan sesuatu yang inovatif. Apalagi jika bisa diterapkan maksimal dan baik, pasti akan mendapatkan apresiasi dan pengakuan. Pokoknya, kalau butuh bantuan jangan diam-diam saja.

Soal asmara agak bergejolak, nih. Perasaan yang sudah ada, bisa kehilangan kepekatannya, dan akhirnya malah digelayuti rasa kesendirian. Tidak baik, lho, terlalu banyak memikirkan yang tidak-tidak tentang pasangan kita. Belum tentu yang dipikirkan itu benar adanya. Siapa tahu hanya ketakutan tak berdasar, atau malah karena dikipasi oleh orang-orang lain. Patut diwaspadai. Karena bisa memperbesar masalah, atau meningkatkan pertikaian. Selain itu, juga cenderung mudah berselisih dengan orang lain.

Sekali lagi, jangan overthinking, bisa bikin tidur terganggu. Nanti bisa merembet ke masalah kesehatan yang lain. Karena kurang tidur kan mengkondisikan gangguan kesehatan, termasuk daya tahan tubuh. Usahakan hindari bepergian ke tempat-tempat jauh, atau keluar malam hari.

Monyet

Tampaknya, tahun babi tanah adalah tahunnya para pekerja kreatif. Dari beberapa shio sebelumnya, bintang kecemerlangan dalam karier dan kemampuan personal jatuh pada orang-orang yang berkecimpung di bidang tersebut. Begitu pula bagi para pemilik shio monyet yang aktif di sektor itu. Meskipun demikian, tetap ada potensi masalah dan hambatan, jadi akan sangat baik jika mempersiapkan kedua tangan (baca: rencana cadangan) untuk mengantisipasi segala kondisi. Tidak ada salahnya juga meminta bantuan teman atau kerabat yang lebih tua, serta jangan terlampau berharap pada usaha sampingan, ya. Dibiarkan saja dahulu, tetapi jangan bergantung.

Mood dalam pekerjaan agak menurun, lantaran merasa selalu berjuang sendiri dan tidak ada yang mendukung atau membantu. Padahal bisa jadi karena komunikasi terhadap atasan maupun bawahan yang kurang maksimal, sehingga menyebabkan kendala serta ketidaknyamanan di berbagai aspek. Selain itu, pokoknya fokus bekerja, menyelesaikan tugas dan tanggung jawab sebaik-baiknya, tak perlu terpengaruh pandangan orang lain yang mungkin malah menyulitkan kita sendiri.

Para pemilik shio monyet akan cenderung susah bertemu calon pasangan yang diharapkan. Kalaupun engage dengan seseorang, entah bagaimana pasti akan melihat sisi-sisi negatifnya, situasi yang malah bikin tidak bakal bersama. Belum lagi kendala asmara dari pandangan keluargalah, sikap yang kurang dewasalah, dan sebagainya. Sedangkan bagi yang sudah berpasangan, akan cenderung jarang bertemu karena kesibukan masing-masing.

Ingat, ya. Kalau tidak peduli dengan penampilan sendiri, siap-siap saja bakal dihujani kritik orang-orang. Sebab, salah-salah bisa berpengaruh pada suasana hati. Badan yang sehat-sehat saja, nanti malah terikut kena dampaknya. Jika terasa ada gangguan-gangguan kesehatan, mending diperiksa dahulu dengan tenang. Apabila stres dan berbeban pikiran, berjalan-jalan itu perlu, lho. Atau bisa juga coba geluti hobi baru.

Semoga semua hal-hal positif menjadi kenyataan.

[]

Shio di 2019 (1): Tikus, Kerbau/Sapi, Macan.
Shio di 2019 (2): Kelinci, Naga, Ular.