Diperdaya Pikiran Sendiri

PERNAH mendengar ungkapan: “Makin dikejar, makin menjauh; makin dicari, makin sukar ditemukan; makin diinginkan, makin sulit didapatkan“?

woman wearing black tank top fading photo effect
Foto: @thuwbeoo

Tanpa kita sadari, itulah yang terjadi antara kita dengan pikiran kita sendiri. Yang kemudian lantaran keterbatasan pengalaman menyadari dan mengamati sesuatu, serta terbiasa menanggapi segala hal secara reaktif, kita pun melemparkan kesalahan kepada … nyaris apa saja. Keadaan, lingkungan, orang-orang yang terhubung dengan kita, bahkan kehidupan ini beserta seluruh aspeknya. Kita pun makin jauh dari akar utamanya: Pikiran sendiri.

Segala hal yang dilakukan selanjutnya menjadi sekadar pengalihan, distraksi, penjejal jeda. Sementara pikiran kita, si poin utama, tetap terkondisi untuk melakukan “muslihat-muslihatnya”. Beraneka meditasi, latihan olah pikiran, dan metode-metode lainnya juga tak lepas dari kecerdikan pikiran memanipulasi kesan indra dan perasaan.

Sebagai ilustrasi, berikut saya bagikan secuplik narasi.

Kalau Anda senang suara lembut…
Anda mendengar suara keras…
Anda menjadi tidak senang…
“Tidak sopan itu… disturbing… mengganggu…”
Timbul kebencian, timbul penolakan…
Karena Anda senang suara lembut.

Nanti kalau Anda bermeditasi,
ada suara yang keras-keras… Anda marah…
“Tidak tahu ini lagi meditasi… suaranya kayak betet…”
Jadi waktu Anda bermeditasi, kebencian yang muncul.
“Kan sudah diberi tulisan, ‘Harap tenang, ada meditasi’… Orang ini tidak bisa membaca… tidak punya aturan …”
Timbul kebencian dalam pikiran.

Karena itu beliau mengatakan, jangan menilai…
Suara ya suara…
Omongan ya suara…
Keras atau lembut ya suara…

Kalau Anda tidak biasa menilai…
Anda tidak terpancing oleh kemarahan, kebencian, kelekatan, kesukaan…

Batuk ya batuk…
Kalau Anda mendengar saya batuk, jangan kasih nilai apa-apa…
“Batuk tuh… mengganggu… bicara bagus-bagus, serius-serius, pakai batuk-batuk…”
Tidak senang…
Kalau Anda menilai, timbul kemarahan, kebencian, penolakan…
Anda tidak tenang, Anda tidak bahagia.

Batuk ya suara…
Suara keras ya suara…
Suara lembut ya suara…
Biasa saja…
Itu right view

Karena penilaian itu berdasarkan suka tidak-suka…
Kebiasaan yang Anda punyai…
Dan itu sumber penderitaan.

Jadi kalau Anda duduk bermeditasi,
Anda tidak usah mengharapkan:
“Sedang meditasi… Papa-Mama sedang bermeditasi…
Anak-anak harus tahu… harus tenang… tidak boleh teriak-
teriak… jalan harus pelan-pelan… menelan air harus tidak berbunyi…”
Karena kalau itu semua muncul…
Anda marah…
Karena Anda ingin tenang, ingin tenteram.

Apakah Anda bermeditasi ingin cari tenang atau tenteram?
Kalau Anda bermeditasi ingin cari tenang tenteram hening tenang tenteram hening…
Itu keinginan juga…
Kalau nanti Anda terganggu, Anda marah…

Ada anak menangis… ada benda jatuh… “krompyang“…
“O ya, suara…”
Jangan diberi nilai…
Jangan diberi label…
Supaya tidak memancing keserakahan
atau kebencian…
Dan Anda akan terbebas.

Kalau selama ini Anda tidak pernah berpikir begitu…
Tapi hanya cari tenang…
Cari tenteram …
Ya nanti akan timbul kemarahan lebih besar…
Anda terganggu sedikit, Anda marah…
Meditasi bukan tambah sabar…
Tambah tenang…
Tambah siap menerima keadaan…
Tapi mudah marah… mudah tersinggung…
Karena ketenangan ketenteraman yang
diinginkan terganggu…

Kami pernah ke Buddha Gaya*…
Banyak orang… lalu lalang…
Di antara bhante kami ada yang bermeditasi…
Ada umat yang bermeditasi…
Waktu makan pagi, ada yang mengatakan,
“Pagi ini mengapa saya tidak bisa tenang ya…
Padahal di Buddha Gaya, tempat Buddha Gotama mencapai pencerahan…
Ribut… orang-orang jalan, “srag-sreg-srag-sreg“…
Tidak mengerti kita-kita ini bermeditasi?…
Lha, apa yang timbul?…
Kemarahan, kejengkelan…
Bahkan kebencian…
“Apa mereka itu bukan umat Buddha?… Apa mereka itu tidak tahu, kita-kita lagi duduk bermeditasi? Apalagi dia pakai sandal… diseret…”
Lha, pikirannya berputar-putar…
penuh dengan kemarahan, ketidaksenangan, kebencian…
Saya bertanya, apa Anda di Buddha Gaya bermeditasi mencari ketenangan?
Kalau Anda mencari ketenangan di Buddha Gaya, ya tidak dapat tenang…
Wong di Buddha Gaya ribut melulu…
Kayak pasar…

Meditasi bukan menguber, mengejar ketenangan…
Sebab kalau ketenangan Anda terganggu, Anda marah nanti…
Sadar saja…
Ada tenang, ada tenteram, suara keras, suara lemah…
Ada orang teriak… ada anak menangis…
Sadari saja… sadar… sadar…
Jangan dinilai…
Itu pengertian benar.

~ Bhante Paññavaro Mahathera
Image may contain: 8 people, people smiling, people sitting
Bhante Paññavaro Mahathera (kiri)

Kita, oleh pikiran kita sendiri, dibuat terbiasa untuk memberikan nilai, melabeli segala sesuatu, melekati semuanya dengan kesan rasa: “Ini menyenangkan, itu tidak menyenangkan; ini yang aku mau, itu yang aku tidak mau…

Dari penilaian tersebut, lagi-lagi lewat muslihat pikiran kita sendiri, kita bisa dikendalikan sepenuhnya tanpa sadar. Dikendalikan untuk merasa senang, dikendalikan untuk merasa tidak senang, dan seterusnya. Kita tak bisa melihat dengan apa adanya. Kita merasa perasaan bahagia dan menderita yang kita alami, semuanya tergantung pada apa-apa saja yang ada di luar diri.

Padahal, segalanya bermuara dari pikiran. Pikiran kita sendiri.

[]

* Buddha Gaya, Bihar, India: Tempat Petapa Gotama bermeditasi dan mencapai kebuddhaan.
Advertisements

Bucin, Realitas Elusif, dan Derita Sukarela

SEBUAH derita bukanlah penderitaan jika belum disadari dan diterima sebagai demikian. Derita–segala sesuatu yang memberatkan dan menyusahkan hati–biasanya baru disadari sebagai sebuah penderitaan setelah dampaknya mulai terasa. Padahal derita, seperti segala hal terkondisi lainnya, selalu memiliki penyebab dan tanda-tanda. Termasuk hal yang satu ini.

Itu kata Chu Pat Kai (豬八戒), tokoh fiktif dalam kisah “Perjalanan ke Barat” (西遊記) yang harus mengalami seribu kali patah hati dalam setiap reinkarnasinya, bentuk hukuman karena berupaya merudapaksa dewi penghuni bulan. Sayangnya, dalam hal ini Wu Cheng-en, sang pengarang, merancukan antara cinta dan berahi, dua hal yang sejatinya tidak koheren mutlak.

Pertanyaannya, apakah derita cinta hanya mewujud setelah terjadinya patah hati, hilangnya cinta, padamnya kasih, khianat, atau dua orang yang tak lagi bersama? Adakah derita cinta yang justru diterima sebagai sebaliknya? Sebuah rasa keterpenuhan, misalnya, hal yang dirasa patut dilakukan, dan justru memberikan rasa puas; kepuasan setelah kita berhasil menunaikannya.

Menjadi budak cinta, atau bucin, ialah mereka yang sebenarnya dibuat/merasa menderita secara sukarela karena cinta dengan seperangkat latar belakangnya. Termasuk “at the end, it’s all worth it. It’s all worth fighting for.” Tetap ada perasaan susah dan hati yang berat ketika hal itu terjadi, tetapi luput disadari sampai akhirnya terasa kian menyakitkan.

Servitude.

Kapankah “at the end” tersebut?

Hanya ada dua hal di dunia ini, yakni bahagia dan derita. Sejauh ini, dunia pun telah membentuk anggapan bahwa bahagia dicapai dengan meniadakan derita. Dari situ, kita cenderung lebih fokus pada hal-hal yang menyenangkan, yang kita dambakan, yang mati-matian ingin kita capai. Di sisi lain, kita abai atau bahkan sengaja menjauhkan diri dari mengamati hal-hal yang menderitakan, penyebab derita.

Seperti sabda Epikuros bahwa kebahagiaan tak akan terpengaruh rasa sakit fisik, dan bentuk-bentuk kesakitan lainnya. Termasuk rasa takut.

Banyak yang tidak menyadari bahwa (sesuatu yang dikira) bahagia dan derita dalam cinta hanya setipis rambut perbedaannya. Realitasnya menjadi samar. Ketiadaan derita menimbulkan bahagia, dan usainya momen-momen bahagia pun kembali menimbulkan situasi derita. Hanya saja, lagi-lagi karena keberserahan dan kesukarelaan, sebuah derita tidak disadari dan diterima sebagai demikian.

Kebebasan

Seseorang yang merdeka menjaga dan berusaha mempertahankan kebebasannya sebagai individu. Dengan cinta, seseorang merelakan kebebasan tersebut, mengurangi atau bahkan menyerahkannya secara sukarela. Derita tak lagi dianggap sebagai derita, lantaran tidak memberatkan dan menyusahkan hati. Derita justru muncul jika terjadi yang sebaliknya; ketika kita gagal, tidak mampu, merasa dihalangi, terkendala, dan pada akhirnya tak bisa melakukan yang kita inginkan–servitude.

Perjumpaan

Karena cinta, sebuah perjumpaan bisa sedemikian membahagiakan. Kemudian berakhirnya perjumpaan–perpisahan dan rasa rindu pun bisa menyakitkan. Bahagia berubah jadi derita. Kendati jumpa-tidak jumpa ialah kondisi alamiah yang tak terhindarkan. Sedetik sebelumnya bahagia dengan hati berbunga-bunga, sedetik berikutnya malah terasa merana.

Pemberian

Pada hakikatnya masih senada dengan dua poin di atas, pemberian atas nama cinta dianggap bisa menimbulkan bahagia. Bahagia karena telah mampu memberikan yang dia inginkan, walau tidak diminta secara langsung. Bahagia karena telah mampu membuat dia bahagia.

Pemberian dalam cinta bisa berbentuk hampir apa saja, tangible dan intangible, mulai dari barang hingga perhatian, mulai dari minta dibawa jalan-jalan hingga keperawanan (btw, memangnya ada yang minta keperjakaan?) Saat sanggup diberikan, rasanya menyenangkan. Begitu pula sebaliknya. Hati didera kekhawatiran sendiri, menjadi bulan-bulanan kecemasan sendiri.

Apakah salah? Entah.
Apakah tidak salah? Entah.
Bagaimana yang benar? Entah.
Bagaimana supaya tidak salah? Entah.

Kamu sendirilah penentu bahagia dan derita. Derita belumlah menjadi sebuah derita sebelum kamu anggap dan terima sebagai sebuah derita. Begitu juga bahagia. Hanya kamu yang bisa mengizinkan dirimu sendiri untuk merasa bahagia.

Dan cinta adalah sebenar-benarnya daya kuasa yang bisa membolak-balikkan antara derita dan bahagia. Cinta adalah daya kuasa yang membuat seseorang bersedia berserah sepenuhnya.

[]

Ruang Publik: Ketika Aku dan Kamu Tak Harus Sepakat Terhadap Sesuatu tetapi Malah Diarahkan oleh Struktur

DI SUATU sore, tiga orang sedang berjalan-jalan di sebuah taman. Tidak terlalu luas, dan terdapat satu tiang bendera di tengah-tengahnya. Sesaat, bendera terlihat berkibar tertiup angin, dan memicu sebuah perbincangan di antara mereka.

A: “Lihat, benderanya bergerak.
B: “Bukan bendera yang bergerak. Angin yang bergerak.
C: “Bukan bendera atau angin. Yang bergerak adalah pikiran.

Aku berpikir, dan aku berpendapat.
Aku berpikir dengan kemampuan nalarku sendiri, dan aku utarakan sebagai pendapat.

Kamu berpikir, dan kamu berpendapat.
Kamu berpikir dengan seluruh pertimbanganmu, dan kamu utarakan sebagai pendapat.

Begitu pula dia, berpikir dan berpendapat.
Dia juga memikirkan hal-hal yang dipahaminya, dan dia utarakan sebagai pendapat.

people standing inside building
Foto: @teapowered

Demikianlah Ruang Publik, yang memang semestinya dipenuhi oleh opini-opini publik dalam makna sebenarnya. Opini publik tidak harus bersifat kolektif. Opini publik pun tidak harus berupa konsensus atau kesepakatan bersama. Suara dan pendapat individual pun termasuk sebagai opini publik berkedudukan sama dengan milik orang-orang lainnya.

Di Ruang Publik, opini-opini publik tersebut bebas untuk didiskusikan secara kritis, dan sekali lagi, terbuka bagi semua orang dalam kesetaraannya. Pertemuan opini-opini publik tersebut akan menjadi diskusi yang menghasilkan nalar publik, yang dengan kekuatan dan sifat dasarnya menjadi pengimbang dan pengawas kekuatan struktur yang sedang berjalan/dijalankan.

Nalar publik yang merupakan sintesis dari opini-opini publik yang saling dipertemukan, dibahas, dan dibenturkan di Ruang Publik, menjadi ekspresi langsung dari kebutuhan maupun kepentingan individu-individu yang terlibat di dalamnya; aku, kamu, dia. Sayangnya, tanpa disadari saat ini kita diajak dan dikondisikan agar lebih menyenangi serta menenggelamkan diri dalam isu-isu yang bersifat privat, atau diarahkan ke sudut pandang yang lebih privat, alih-alih dilihat dalam konteks kepentingan publik. Ketika sebuah perkara yang sejatinya menyangkut kepentingan publik digulirkan, tanpa sadar kita diarahkan agar semata-mata meninjaunya terbatas pada apa dampaknya ke diri sendiri, bukan partisipatif.

Mengapa bisa begitu? “Berterimakasihlah” pada media komersial dan penyuara massa–dalam segala bentuknya–yang terus-terusan menyuap benak-benak publik dengan informasi kemasan siap telan. Informasi tak lagi dibahas, melainkan dikonsumsi begitu saja. Perdebatan rasional dan konsensus atas opini-opini publik pun berganti menjadi sikap pasif. Diskusi-diskusi menjadi diatur sedemikian rupa, terancang atau terskenario sebagaimana yang diinginkan sesuai talking points alias butir-butir pendapat.

Media komersial dan penyuara massa tadi sudah berubah fungsi, dari menjadi bagian Ruang Publik yang memfasilitasi wacana dan perdebatan rasional, malah menjadi pembentuk, penyusun, pengkonstruksi, pembangun, sekaligus pembatas wacana publik. Tak ada lagi hubungan antara partisipasi individual dalam ranah publik dengan Ruang Publik itu sendiri. Eksistensi publik bagi individual dipupuskan oleh struktur-struktur yang mengatur media. Kepentingan bersama–dalam arti luas–pun digeser dengan kepentingan-kepentingan kelompok atau privat. Opini publik tak lagi menjadi milik individual, digantikan dengan pendominasi. Yang seolah-olah disuarakan demi publik, padahal menyangkut kepentingan privat.

Banyak contohnya. Mulai dari penumbangan Orde Lama, ke dikotomi politik Cebong-Kampret baru-baru ini, sampai ragam diskursus mengenai dukungan dan penolakan atas sederetan UU dan RUU teranyar republik ini. Segenap informasi dan opini disajikan dan disuapkan kepada individu-individu, membuat mereka ngap-ngapan hingga mau tidak mau terserap arus opini yang disepahamkan. Sesederhana berupa “mendukung” versus “menolak”. Tak ada kesetaraan dalam dikotomi “benar” versus “salah”, kendati mesti berhati-hati melihat bahwa tak ada yang benar-benar benar, dan salah sesalah-salahnya.

Coba saja amati:

  • Apa yang kamu ketahui?
  • Sejauh apa kamu berusaha mengetahui?
  • Apa yang kamu dengar dari orang-orang yang terkesan mengetahui?
  • Apa sikap yang kamu ambil terhadap narasi dari orang-orang tersebut?
  • Di mana akhirnya kamu berdiri terhadap narasi tersebut?
  • Apa saja perangkat opini yang akhirnya kamu miliki dari narasi tersebut?
  • Apakah kita telah benar-benar kuat dalam argumentasi, atau terarahkan untuk mengikuti narasi (mereka)?

Tindakan partisipatif direduksi menjadi sekadar penghimpunan dan perwujudan konsensus partikelir. Panggung tarung politik kontemporer. Tentu saja, negara punya andil dalam pengkondisiannya. Saat ini terjadi, situasi bicara ideal otomatis pupus. Lantaran tak semua orang terbekali dengan kapasitas wacana yang cukup; tak adanya persamaan sosial dasar; terjadi distorsi.

Tak ada lagi kesepahaman, apalagi kesalingpahaman. Kesepahaman dicapai dari diskusi dan perdebatan publik, sementara kesalingpahaman ialah kemampuan menerima dan menyadari perbedaan masing-masing. Sikap tahu sama tahu dalam tingkat yang setara. Tak ada lagi strukturisasi pembicaraan yang bebas dari tekanan dan ketidaksetaraan argumentatif.

Itulah public sphere, yang entah bagaimana bisa kembali diupayakan eksistensinya kini. Merebutnya kembali dari para agen manipulator, mencegah terus terjadinya pengarusutamaan kepentingan privat.

Bisa jadi, salah satu perangkat tindakannya adalah: Bangun landasan wacana, dan berlaku Peduli-Tidak Peduli.

[]

Kita, dan Kesukaran untuk Berpikir (Kritis)

woman with head resting on hand
Foto: H A M A N N

SETIAP orang memiliki akal sehat, atau setidaknya kesempatan asasi untuk diposisikan dan diperlakukan demikian, itu adalah sebuah fakta. Namun, bagaimana cara setiap orang berpikir dan mempergunakan akal sehatnya, itu adalah sebuah tanya.

Kita seringkali dibuat terheran-heran, mengapa seseorang atau sekelompok orang bisa setuju serta sepakat pada sesuatu yang terang-terangan keliru, salah, atau bahkan ngaco dan membahayakan? Kita pun jadi mempertanyakan: “Mereka enggak bisa mikir atau gimana, sih? Sudah jelas-jelas ngawur begitu, kok malah diiyakan?” Dari yang kurang lebihnya begitu, sampai yang riuh akhir-akhir ini, macam UU KPK, RUU KUHP, RUU PKS, dan beraneka keberisikan terkait hajat hidup orang banyak lainnya.

Dengan terlontarnya pertanyaan bernada protes di atas, perasaan atau kesan superior memang tak terhindarkan. Kita, dengan segala pemikiran dan seperangkat argumentasi yang kita miliki, seolah-olah lebih baik daripada mereka. Dan mungkin begitu pula sebaliknya. Akan tetapi, apakah sekadar perbedaan pemikiran yang menjadi masalah utamanya, ataukah ada persoalan yang jauh lebih mendasar dan lebih penting di balik polemik itu? Seberapa perlu, atau sejauh dan sedalam apa kita perlu melihat dari sudut pandang orang lain (yang pendapatnya berbeda) tersebut? Untuk berusaha mengetahui dan memahami beberapa hal:

  • Apa yang mereka anggap benar, dan kenapa?
  • Apa yang mereka taati serta patuhi, dan kenapa?
  • Apa yang mereka dengar, percayai, dan kenapa?
  • Apa yang menyebabkan dan mendorong mereka bersikap demikian?
  • Apa yang mereka lihat, dan bagaimana mereka melihat sesuatu?

Tak hanya bersikap dan berpikiran kritis terhadap orang lain, bagaimanakah kita bersikap dan berpikiran kritis terhadap diri kita sendiri? Bisa jadi salah satunya karena ini…

Orthodoxy means not thinking–not needing to think. Orthodoxy is unconsciousness.

Apakah berpikir, apalagi berpikir kritis dan cermat memang sesusah, atau semenyusahkan itu? Saking susahnya, sampai-sampai dihindari, bikin malas untuk dilakukan, dan menjadikan banyak orang–barangkali termasuk kita–untuk bersikap iya-iya saja, dan mengikuti yang ramai di depan mata?

Kutipan di atas saya temukan dari novel “1984”, salah satu karya George Orwell keluaran 70 tahun lalu. Dan entah mengapa, kutipan itu tampaknya bakal sering saya celetukkan, utamanya ketika mempertanyakan sikap diri terhadap sesuatu. Di dalam novel itu pun disajikan sebuah plot, yakni manakala masyarakat–orang banyak–dicegah agar tak mampu berpikir kritis lewat pembatasan bahasa dan kosakata.

Berpikirlah kritis, sebelum berpikir kritis itu dilarang.

Dalam hal ini, kepatuhan; keputusan untuk patuh terhadap sesuatu pasti ada penyebabnya. Kita meyakini pula, penyebab(-penyebab)nya juga pasti tersusun lewat proses pemikiran dan seperangkat argumentasi. Lalu, sudah sepaham apakah kita, untuk bisa menunjukkan serta menyatakan bahwa dasar-dasar argumentasi tersebut nyata salahnya dan perlu dihadapkan dengan koreksi?

Membaca dan membayangkannya saja cukup bikin spaning kepala, tetapi berpikir kritis sejatinya sebuah kemampuan berbasis kebiasaan. Makin sering dilakukan, makin mulus prosesnya, serta justru makin membuat kita haus akan referensi dan terus mencari sudut pandang berbeda, meskipun tentu saja menyita tenaga, waktu, perhatian, dan stamina.

Dan lagi-lagi, mungkin itu sebabnya berpikir serta berpikir kritis dirasa terlampau merepotkan bagi banyak orang.

Orthodoxy means not thinking–not needing to think. Orthodoxy is unconsciousness.” Berpikir kritis, demi terhindar dari pandangan keliru dan bias, fanatisme, serta apatisme dan ketidaktahuan.

[]

Terlalu Banyak Dipikir, Masalah Malah Jadi Kenyataan

“AKU berpikir, maka aku ada.” Ini kata René yang Descartes, bukan yang Suhardono.

Sementara, tanpa disadari, inilah yang terjadi dalam kehidupan kita hampir tiap hari: “Aku memikirkannya, maka itu ada, dan terjadilah.”

Sebuah masalah baru akan benar-benar menjadi masalah ketika terjadi. Namun, dengan mempersilakan masalah itu mewujud dalam bentuk pikiran-pikiran negatif, kegelisahan dan kekhawatiran yang berlebihan, serta memasrahkan diri untuk terus-menerus dilumat rasa takut, kita seolah-olah membantunya agar lebih cepat terjadi. Di tengah-tengah deraan masalah tersebut, barulah kita mencari-cari dispensasi dari mana saja. Melemparkan kesalahan kepada orang lain, kepada situasi dan keadaan, juga kepada diri sendiri secara keliru (menyalahkan diri sendiri untuk alasan yang salah).

Kita kerap tidak bisa santai barang sedikit saja terhadap diri sendiri. Didorong oleh banyak aspek dalam kehidupan–misalnya lingkungan sosial budaya dan tempat tinggal, kecenderungan sifat atau pembawaan dari lahir, maupun lewat nilai-nilai yang ditanamkan orang tua dan keluarga–kita diajari agar selalu curiga terhadap kehidupan. Bukan waspada, melainkan berprasangka.

Perbedaan antara waspada dan curiga adalah apa yang dipikirkan, dan apa yang akan dilakukan dalam menyikapi sesuatu.

Waspada lebih kepada bersiap-siap, berjaga-jaga, atau mempersiapkan diri terhadap sesuatu yang barangkali bisa terjadi. Tentunya ada sejumlah pertimbangan, perhitungan, dan antisipasi rasional yang dibangun. Kemampuan melihat dan berpikir secara jernih pun mutlak diperlukan, supaya tahu benar apa yang bakal dihadapi dan bagaimana menghadapinya. Apabila perubahan diperlukan, seseorang dengan kewaspadaan bisa menyesuaikan diri dan gesit bertindak. Tidak terlampau lama membuang-buang waktu dan tenaga untuk hal-hal tak perlu.

Berkebalikan dengan sikap waspada, curiga lebih berupa pikiran dan perasaan negatif yang tidak berujung ke mana-mana melainkan ke objek kecurigaan itu sendiri. Terdiri atas sekumpulan ketakutan, kekhawatiran, kegelisahan, keragu-raguan, kebingungan, penolakan membuta, yang pada akhirnya hanya bisa dikenali dan dirasakan sebagai sebuah ketidaksukaan besar, atau bahkan kebencian yang sukar dijelaskan alasan mendasarnya.

Saking kuatnya rasa tidak suka itu, sampai bisa memengaruhi dan menyetir tindakan kita. Cukup membuat kacau, membuat banyak hal terbengkalai, hingga justru menjadikan objek kecurigaan tadi menjadi kenyataan. Sebuah kondisi yang semestinya bisa diantisipasi atau dielakkan, malah kita fasilitasi biar terjadi… dan kembali lagi, tatkala peristiwa itu terjadi, ujung-ujungnya yang bisa kita lakukan hanyalah buang bodi, melempar kesalahan.

Kewaspadaan dapat ditumbuhkan dan terus diasah, sedangkan kecurigaan seharusnya dikenali dan diatasi. Manakala kita bisa menyadari sedang memupuk sebuah kecurigaan, angkat dia, siangi dan bersihkan menggunakan akal sehat, lalu coba amati secara cermat. Perhatikan, apakah ada poin-poin dari kecurigaan tersebut yang sekiranya mesti diwaspadai pakai akal sehat?

Kecurigaan yang telah disiangi dan dibersihkan menggunakan akal sehat, akan menyisakan inti masalah yang bisa dilihat dengan apa adanya. Tanpa dibungkus ketakutan, kegelisahan, dan kekhawatiran yang berlebihan. Hanya saja, jika kita telah berusaha keras tetapi tetap tidak mampu melihatnya, jangan pernah ragu untuk meminta bantuan dari orang-orang yang sesuai.

  • Takut berpotensi mengidap penyakit tertentu, cobalah konsultasikan ke dokter dan periksakan sebagaimana mestinya.
  • Takut berpotensi mengalami gangguan psikis, cobalah konsultasikan ke psikolog. Daripada membangun anxiety dan dibiarkan begitu saja.
  • Takut berpotensi tidak berguna secara karier, cobalah bicarakan ke atasan, atau bagian sumber daya manusia.
  • Takut berpotensi gagal dalam hubungan, cobalah dimulai dengan berbicara kepada pasangan demi mendapatkan kejelasan atas gejolak yang dirasakan. Dari situ, biasanya, akan ada progres. Setidaknya menjadi tahu agar tidak perlu resah berkepanjangan. Lalu, bisa juga menghasilkan keputusan.
  • Takut berpeluang mengalami kegagalan, cobalah berdiskusi dan bertukar pikiran dengan yang sudah pernah mengalami kegagalan sejenis.
  • Takut mati, ehm, mungkin cobalah dengan berbicara kepada diri sendiri, sang entitas yang nantinya bakal mati; atau cobalah berbicara kepada tuhan, sang entitas yang dianggap menciptakan dwi kondisi hidup dan mati tersebut. Bisa jadi akan ada jawaban yang menjernihkan pandangan.

[]

Capek: Berjeda dari Kekinian

“GOD does not play dice with the universe,” kata Einstein.

Namun, if it does so (play dice with the universe), what would you do?

Tuhan tidak berundi dadu untuk semesta. Namun, kalau dia ternyata memang melakukannya, kamu mau apa? Akan bagaimana?

Iya. Saya sengaja menyitat kutipan tersebut secara serampangan dan di luar konteksnya‒fisika kuantum‒karena sedang capek banget sepekan terakhir ini. Capek badan, capek pikiran, dan capek hati. Dan ketiganya terjadi bersamaan, seakan-akan mengeroyok untuk mengisap habis bulir-bulir tenaga yang tersisa. Tenaga (ber)gerak, tenaga (ber)pikir, dan tenaga (me)rasa. Bikin ingin mengambil sejenak jeda dari kekinian, mengindar sebentar agar tak terpapar. Meskipun susah, kayaknya.

Tidak. Tidak semua kecapekan itu bersifat negatif dan bikin menderita, kok. Capeknya badan karena bekerja dan berkegiatan yang tak terhindarkan. Capek yang tersisa masih bisa dibarengi rasa gembira telah melakukan sesuatu, rasa bangga atas keterlibatan, rasa puas telah berperan dalam sesuatu yang lebih besar, rasa berdaya dan bermanfaat bagi sesama, serta rasa pantas sebagai seseorang.

Capek pikiran dan capek hati yang bikin tidak nyaman, dan sekali lagi, tak terhindarkan. Ingin sekali tidak acuh dan tidak peduli, hanya saja, kok agak sulit, ya?

– Hari ini, VK dicari polisi. Dijadikan terduga provokator soal Papua.

– Sekali lagi, perempuan diobjektivikasi, dijadikan objek. Dan karena saya sepakat dengan prinsip “No uterus, no comment!” maka, sudah sepatutnya adu argumentasi perihal tersebut terjadi antara sesama perempuan, atau setidaknya, oleh orang-orang yang layak turut berbicara. Satu hal yang pasti, orang-orang yang menyalahkan korban perkosaan adalah sekumpulan manusia idiot!

Twitter: @nynecomics

– Melihat video seorang bocah SD yang dihajar habis-habisan oleh anak-anak seusianya, dengan berbagai gaya pukulan dan tendangan. Menontonnya, dan mendengarkan tangisan mengaduh sang korban saja sudah bisa bikin sesak napas.

Ketiga hal di atas cukup berhasil menyusahkan pikiran dan hati. Ya, itu tadi, bikin pengin sejenak menjauh dari kekinian; apa yang tengah berlangsung saat ini. Akan tetapi, capek hati paling berat ternyata terjadi dalam lingkar pribadi; kemalangan seorang kerabat dekat.

Mereka adalah pasangan muda yang baru dikaruniai anak, yang saya tidak bisa membayangkan, betapa hancur hati mereka dan bagaimana susah payahnya mereka agar bisa kembali tegar, begitu mengetahui jika anak mereka terlahir dengan sejumlah kondisi serius. Salah satunya, kelainan pada jantung dan saluran paru-paru.

Kedekatan kami selama ini, bahkan sejak kecil, membuat saya susah untuk bersikap biasa-biasa saja terhadap kenyataan itu. Apalagi tindakan yang bisa saya lakukan barangkali nyaris tak ada artinya bagi si kecil dan kedua orang tuanya. Capek hati jadinya.

Tuhan tidak berundi dadu untuk semesta. Namun, kalau dia ternyata memang melakukannya, kamu mau apa? Akan bagaimana?

Pikiran saya meliar, bikin tambah capek.

Apa yang akan saya (dan pasangan) lakukan jika‒amit-amit‒mengalami hal serupa?

Apa yang akan saya (dan pasangan) lakukan jika kondisi tersebut telah diketahui lebih awal, saat masih dalam kandungan? Apakah akan terus menyodorkan kehidupan dan masa depan yang hampir pasti penuh kesulitan dan kesukaran bagi dia? Kemudian, ditambah dengan sebuah keniscayaan bahwa saya, kami, orang tuanya bakal mati suatu saat nanti, dan dia pun akan terus menjalani hidupnya sendiri.

Aduh! Sungguh-sungguh berat di kepala, dan di hati. Saya hanya bisa bertakzim kepada para orang tua kuat, yang mendedikasikan kehidupan mereka saat ini, berusaha sepenuh tenaga menghadirkan kehidupan layak bagi anak-anak dalam kekurangan dan keterbatasannya.

Capek. Saya ingin istirahat dulu.

[]

Yang Tersisa dari Ulang Tahun ke-5 Linimasa

IYA, ulang tahunnya memang sudah lewat, tanggal 24 Agustus kemarin, dan, iya, tulisan di Linimasa hari ini memang lumayan telat. Namun, ada yang kurang pas rasanya, bila perihal keduanya dibiarkan berlalu begitu saja.

Jumat pekan lalu, Mas Nauval sudah “membuka peringatan dan perayaan” hari jadi Linimasa tahun ini. Sejumlah ucapan selamat–yang kecepetan–pun disampaikan lewat Twitter, yang saya yakin empunya adalah para pembaca, para penaut hati dengan Linimasa, yang cukup setia … itu sebabnya, tak aneh jika selain di Twitter, mereka juga lumayan rajin memberi tanggapan dan berbagi cerita pada kolom komentar.

Seperti yang ditulis Mas Nauval di artikel sebelumnya, para kakak-kakak penulis tetap di Linimasa masih ada, kok, meskipun halaman depannya belum tentu diperbarui setiap harinya. Bahkan saat ini banget, kami juga sedang berunding ingin menonton film di bioskop mana, dan kapan enaknya, supaya bisa ikut semua–kasihan Kang Agun, jauh, di Bandung. 😅 Kami juga belum berkumpul untuk makan malam bersama.

Sesi nongkrong paling anyar, bulan puasa kemarin. Itu pun tanpa Mas Roy.

Kalau dirasa-rasani, Linimasa di usianya yang ke-5 tahun ini kian mirip grup WhatsApp “zona nyaman”, tidak seramai seperti awal-awal keberadaannya dulu, tetapi meskipun sudah relatif sepi, tetapi tetap tidak bikin pengin leave group. Haha! Entahlah, apakah ini merupakan analogi yang pas atau tidak. Yang pasti, inilah kami; para pedamba pendebar hati. Termasuk juga para penulis tamu, para kontributor, yang sempat dan telah bersedia menitipkan secuplik isi hatinya di sini.

Apresiasi kami untuk yang sudah menyampaikan twit ucapan, berikut ini.

Terima kasih juga, Mas.
Terima kasih, dan syukurlah kalau bisa mendapatkan pengalaman dan perasaan menyenangkan. Semoga selalu, ya.
Terima kasih, dan #penasaran, kira-kira bakal ada hasil yang berbeda dari survei sebelumnya, tidak, ya?
Terima kasih, dan selalu, pasti tetap ada orang-orang baik di dunia. Mudah-mudahan kita selalu berkesempatan bertemu mereka, ya, atau setidaknya, menjadi salah satu di antaranya.
Terima kasih, wahai kamu yang telah bertahan sekian lama. Hahaha.
Terima kasih, juga. Semoga kapan-kapan kalau ketemu beberapa penulisnya, disapa saja. Tak perlu sungkan, pun malu.
Terima kasih, dan salam sayang juga.
Terima kasih, dan sebaik-baiknya serentang umur, adalah yang bisa bermanfaat dan membagikan senyuman.
Kembali kasih.

Ada masukan, saran, kritik, atau apa pun yang bisa disampaikan, sampaikan saja, ya.

…dan sebagai penutup tulisan kali ini, jangan pernah berhenti berbagi hati. Bukan untuk dimiliki, tetapi untuk diisi; berupaya tetap menjadi manusia yang manusiawi.

Terima kasih.

[]

Jejak Digital: UAS Ada di Semua Agama

NIAT menulis tentang ini (di blog pribadi) berawal dari sebuah pertanyaan sederhana: “Buddha pernah bilang sesuatu, atau ngasitau gimana seharusnya seseorang berbicara waktu ceramah, gak sih?

Pertanyaan ini memang dilontarkan dan dibahas secara internal di antara sesama Buddhis lewat grup WA. Dipicu beredarnya video tanya jawab majelis kajian Ustaz Abdul Somad (diunggah ke Facebook 15 Agustus), hingga kemudian beliau resmi dilaporkan ke polisi 17 Agustus, kemarin.

Sejauh ini, ada banyak orang yang terganggu, tetapi tak sedikit pula yang malahan bertanya: “Di mana salahnya?” dengan sederet alasan dan apologia. Lengkap dengan tagar, menjadikannya semacam gelombang kekuatan yang barangkali sukar digegar.

But anyway, kalau ngobrolin ini lebih jauh, ada beberapa hal yang saya yakini berlaku secara universal.

  1. Setiap agama, sebagai sebuah institusi, pasti memiliki pakem atau tata cara dalam berbicara, baik sebagai aktivitas sosial biasa maupun ketika berkhotbah. Ada ketentuan-ketentuan yang harus dijalankan; harus dihormati; harus dihindari; dan yang dianjurkan.
  2. Setiap orang, terlebih pembicara publik berbalut label profesi apa pun, memiliki karakteristik dan gaya berkomunikasi masing-masing. Mereka pun umumnya mampu melakukan penyesuaian di berbagai lingkungan atau suasana. Bukan dengan mengganti isi pesan yang akan disampaikan, tetapi gaya penyampaiannya.
  3. Ada sebagian orang yang gemar sekali berkelakar, ada pula yang cenderung gemar berolok-olok. Bedanya, kelakar dapat disampaikan secara terbuka kepada khalayak heterogen, sedangkan olok-olok yang sedemikian sensitif seringkali dicetuskan dalam lingkungan tertutup kepada khalayak homogen. Walaupun pada dasarnya, olok-olok tetap tidak sepatutnya dikemukakan karena tidak berfaedah, bertujuan tiada lain daripada menghina, serta tidak berkontribusi apa-apa dalam narasi penjelasan yang tengah dibawakan.
  4. Di berbagai kasus, kelakar atau olok-olok digunakan untuk memantik tawa dalam sesi public speaking, menarik kembali perhatian penonton hingga akhir durasi. Hanya itu fungsinya, dengan keterhiburan yang timbul kemudian sebagai efek samping.
  5. Oleh sebab itu, tidak menutup kemungkinan figur pengkhotbah yang kerap memanfaatkan kelakar dan olok-olok bukan Ustaz Abdul Somad seorang. Bisa jadi ada di semua agama resmi Indonesia. Termasuk yang Buddhis.

Mari dilihat satu-satu.

Poin 1

Untuk agama yang lain, silakan cari sendiri. Sebagai seorang Buddhis, saya mencoba menukil salah satu bagian mikro terkait hal ini (Aṅguttara Nikāya, 5.159 Udāyī). Yaitu, setidaknya ada lima kualitas internal yang harus ditegakkan seseorang sebelum memaparkan Dhamma atau berkhotbah.

  • Menyampaikan khotbah secara bertingkat,
  • Menyampaikan khotbah berisi alasan-alasan (di balik penjelasan),
  • Menyampaikan khotbah yang simpatik,
  • Menyampaikan khotbah bukan demi materi (dan perolehan-perolehan lainnya),
  • Menyampaikan khotbah yang tidak membahayakan diri sendiri dan orang lain.

Disimak sepintas, tidak ada yang terlampau spesifik dari hal-hal di atas. Seseorang pun tak perlu menjadi Buddhis supaya bisa menyadari bahwa lima kualitas internal tersebut memang sebaiknya diperhatikan sebelum menggegaskan sebuah pesan kepada orang banyak.

Penyampaian secara bertingkat berarti menyesuaikan bobot pesan dengan penerimanya. Jangan terlalu canggih, terlalu tinggi, terlalu sulit dijangkau tetapi tidak bisa dipahami orang lain. Saking kedengaran rumitnya, para hadirin hanya bisa manggut-manggut tanpa memahami sepenuhnya, atau bingung sekalian.

Jelaskan menggunakan alasan-alasan, agar yang disampaikan benar-benar bisa ditangkap, mengundang untuk dipikirkan lebih jauh, dan memahamkan.

Sikap dan penyampaian yang simpatik menyentuh sisi manusiawi dalam berceramah. Tujuannya pun untuk menanamkan pengertian, bukan untuk menghakimi atau malah mendorong banyak orang melakukan keburukan, apalagi memperluas ketidaksukaan. Juga bukan demi mengumpulkan donasi untuk pribadi, atau meningkatkan popularitas.

Terakhir, bijaklah dalam bersikap. Sampaikanlah sesuatu yang tidak membahayakan diri sendiri dan orang lain, bukan terkait hinaan atau cercaan, melainkan situasi yang tengah terjadi. Ini pun baru aspek sederhananya saja.

Mengingat hal-hal di atas bersifat universal dan tidak ekslusif milik Buddha dan umat Buddha semata, mari kita exercise sejenak. Merujuk pada video tanya jawab Ustaz Abdul Somad, hal-hal mana saja yang terpenuhi dan tidak?

Poin 2

Para pemuka agama sejatinya adalah public speaker, sekaligus marketer. Tatkala berceramah, tentu ada tujuan yang ingin dicapai. Kala menjelaskan sesuatu, atau menjawab pertanyaan-pertanyaan praktis (berkaitan dengan kehidupan keseharian) dari perorangan, idealnya ada berbagai aspek yang perlu dipertimbangkan. Jawaban bagi seseorang, belum tentu cocok disampaikan bagi orang lain. Asumsi yang dijatuhkan kepada kondisi seseorang, pastinya tidak patut ditimpakan kepada orang lain.

Belum lagi tidak ada yang bisa menjamin bahwa jawaban itu benar, ataukah hanya akal-akalan. Dalam bahasa Inggris disebut: “Think on your feet.” Berusaha merespons sesuatu secepatnya, sebisanya. Bisa tergesa-gesa, dan bisa gegabah.

Poin 3 & Poin 4

Banyak penyimak khotbah yang haus untuk dihibur. Ketika pengkhotbahnya lihai membuat tertawa, besar kemungkinan beliau akan terkenal setelahnya. Makin sering diundang, makin sering tampil, makin sering mendapatkan banyak hal.

Terkait itu, banyak juga narasi-narasi yang bisa bikin ketawa, termasuk olok-olok. Siapa pun yang terbiasa berpikir cepat, mampu melihat celah di balik sesuatu, pasti bisa berseloroh dengan lancarnya. Lihat saja para pelawak verbal yang terkenal di Indonesia dalam sepuluh tahun belakangan. Begitu cergasnya mereka melemparkan lelucon berupa olok-olok yang membuat para penontonnya–kadang-kadang termasuk kita–ngakak luar biasa.

Dalam konteks perbincangan bertema keagamaan, bahan olok-olokan tersebar di semua agama dalam berbagai aspeknya. Tampilan, nama, sebutan, bahasa, ritual, dan ragam-ragam lain. Sayangnya, kejadian itu seringkali diperparah oleh umat agama (yang diperolok) itu sendiri. Mereka menjadi reaktif, tak bisa tenang, padahal olok-olok yang dilontarkan pada hakikatnya hanyalah omong kosong, sesuatu yang mengada-ada alias dusta, dan mestinya cukup diperlakukan tak ubahnya seseorang yang ingin meludahi langit. Pasti meleset, dan bisa saja terkena wajah sendiri.

Jadi, kalau diolok-olok, senyumin aja; “balas” dengan sesuatu yang lebih elegan. Don’t get that low too. Khusus bagi para Buddhis, amatilah apa pun gejolak batin yang muncul begitu mengindra (melihat, mendengar, mengingat) sebuah olok-olok. Lebih penting untuk tetap “sadar”, ketimbang turut hanyut dalam dangkal pikir seperti itu. Toh, apa yang mereka katakan merupakan kekeliruan, bukti dari ketidaktahuan terhadap sesuatu.

Kombinasi dari kesoktahunan, dan hasrat untuk mengalahkan sesuatu. Sampai bisa tidak sadar, bahwa butir-butir penjelasan yang disampaikan invalid semua. Tidak bakal nyambung, dan tidak bakal kompatibel.

Ambillah contoh ini, deh.

Dia Tionghoa, kan?
  • Kira-kira, tahukah dia siapa nama tokoh yang gambarnya dia tampilkan? Kok dia sebut tuhan? Tuhan ajaran apa?
  • Kira-kira, tahukah dia bahwa Sun Wukong atau Kera Sakti hanyalah figur rekaan dalam sebuah kisah sastra? Mengapa menggunakan cerita fiksi dalam membahas kepercayaan lain?
  • Kira-kira, tahukah dia bahwa Buddha bukan tuhan?
  • Kira-kira, tahukah dia bahwa gambar-gambar patung Buddha yang dia tampilkan sebenarnya adalah figur berbeda?
  • Kira-kira, sadarkah dia bahwa upaya personifikasi tuhan dilakukan banyak orang dari berbagai agama?
  • Kira-kira, dia sebenarnya sungguh-sungguh paham dengan apa yang disampaikannya, atau tidak, sih? 😂
  • Kemudian, bagaimana dengan para penyimaknya di ruangan tersebut? Apakah cocoklogi tersebut memang semenghibur itu? Lagi-lagi, apakah ada jaminan bahwa mereka yang hadir di sana tidak akan mengutarakan pernyataan-pernyataan yang sama?

Nah, itu pula masalahnya. Ada penceramah, ada yang mendengar ceramah, ada yang dijadikan objek olok-olok dalam ceramah. Penceramah mengutarakan olok-olok yang merupakan ucapan minim faedah. Umat objek olok-olok dalam ceramah bisa memilih untuk tetap bersikap tenang, dan cukup membalas lewat senyuman. Dicueki. Sementara itu, jangan lupa ada yang mendengar ceramah dan mungkin ikut tertawa-tawa tentang olok-olok yang disampaikan. Manakala mereka menyerap informasi olok-olok tersebut begitu saja, siapa yang bisa menjamin mereka tidak akan meneruskan olok-olok tersebut di masyarakat, atau justru terang-terangan melontarkannya untuk menghina?

Poin 5

Di era jejak digital sekarang ini, tinggal cari atau tunggu saja unggahan video atau rekamannya. Tinggal perkara apa yang disampaikan, dan apes atau tidak apesnya saja.

Namun, satu hal yang perlu diperhatikan para pengkhotbah. Katakanlah, sepeninggalnya Anda nanti, dan yang tersisa hanyalah video-video ceramah, Anda ingin dikenal dan dikenang sebagai seseorang yang bagaimana?

Bhante Uttamo Mahathera
KH Quraish Shihab

[]

Anyway, Linimasa sebentar lagi ulang tahun! 🎉

Menjadi “Perfeksionis” Itu Melelahkan

APALAGI yang terjadi di luar kendali dalam kehidupan sehari-hari, dan terasa amat sukar untuk diatasi.

Misalnya seperti beberapa kejadian berikut ini.

Pernahkah kamu mengalami ini? Sebelum berangkat pergi, kamu mengunci pintu kamar kos, pintu rumah atau apartemen dengan secermat mungkin. Kamu sudah tahu bahwa kunci pintu tersebut bisa diputar searah jarum jam maksimal dua kali.

Ctak! Ctak!” Penguncinya sudah mentok, dan anak kunci sudah tidak bisa diputar lagi.

Namun, untuk lebih memastikan lagi, kamu mencoba menekan-putar anak kunci, seolah-olah ingin memastikan kunciannya sudah betul-betul rapat.

Sekali, mentok.
Dua kali, mentok.
Tiga kali, mentok.
Oke, ini pasti sudah terkunci.

Kamu pun mulai berjalan. Entah ke garasi, ke tempat parkir, ke muka gang, atau ke ambang pintu eskalator. Siap bepergian, menjalankan agenda dan rencana yang sudah disusun sebelumnya.

Anehnya, belum seberapa jauh, mendadak sebuah keraguan menyeruak dalam benakmu. Seakan-akan ada yang mempertanyakan:

Eh, itu pintu tadi sudah dikunci belum, sih?

Tanpa memiliki masalah dengan ingatan atau kesadaran saat melakukan sesuatu, pertanyaan ini terus mengusik pikiran. Membuat perasaan tidak nyaman.

Benar, enggak, sih, tadi sudah dikunci rapat?”

Sungguh beruntung mereka yang tidak pernah mengalami keadaan seperti ini. Ketenangan dan ketenteraman sebagai berkah. Mereka tahu apa yang telah mereka alami, apa yang telah mereka lakukan, dan yakin bahwa semuanya sudah berjalan seperti yang telah terjadi.

Sedangkan bagi yang akhirnya kalah dengan kekhawatiran dan keragu-raguan–seringnya terkombinasi dengan rasa takut–tersebut, bisa bela-belain untuk putar balik, kembali ke depan pintu yang sama, dan mengulang ritual penguncian pintu tersebut. Bahkan seringkali ditambah dengan beberapa gerakan lainnya, yang bisa menyisakan sensasi fisik, yang niat awalnya berfungsi sebagai penanda bahwa apa yang telah terjadi memang benar-benar terjadi, bukan mimpi, atau halusinasi. Jika pintu telah dikunci, maka telah dikuncilah pintu itu. Tak perlu takut mendapatkan gambaran fiksi.

Tak hanya itu, dalam beberapa kasus “ritual” tambahan tadi harus berjalan dengan “sempurna”. Gerakannya harus mulus, tanpa interupsi yang menyela. Contohnya, pada saat pintu diayunkan menutup, tetapi tiba-tiba sempat tersandung sandal yang kebetulan diletakkan di dekat pintu, maka pintu akan kembali diayun membuka, dan “prosesi” mengayun menutup diulang sekali lagi. Lalu, setelah bunyi “klik“, anak kunci kembali diputar dua kali, dan lagi-lagi, mencoba untuk diputar mentok sampai tiga kali. Bisa juga diakhiri dengan menjentikkan jari, layaknya sebuah sentuhan penutup.

Aduh. Capek.

Mengganggu, melelahkan, dan terkadang bikin frustasi. Mengapa harus seperfeksionis itu?

Dengan termakan umpan rasa takut tersebut, ada waktu, tenaga, perhatian yang terbuang percuma. Menyita beberapa belas menit, ketika seharusnya sudah berada di tengah-tengah jalan raya, malah dihabiskan untuk kembali ke tempat semula, sebelum perjalanan dimulakan.

Itu baru pintu depan. Bagian paling akhir yang disentuh sebelum bepergian. Perasaan ragu, khawatir, dan takut serupa juga bisa menimpa pada segala aspek di dalam rumah atau tempat kerja.

Jendela kamar, pintu balkon, steker lampu, kompor (untuk yang satu ini memang harus ekstra hati-hati, sih), bahkan sampai posisi bantal dan guling setelah ditinggal bangun.

(GIF: Petra Švajger)
Kurang lebih seperti ini, dengan tempo lebih lamban. Foto: Konbini

Pada contoh lainnya–dan saya alami sendiri–ialah ketika mengetik. Termasuk saat menulis buat Linimasa kali ini.

Manakala salah mengetik, apakah itu kurang huruf, posisi huruf terbalik, terpencet, kesalahan karena mengetik terlalu cepat, atau sekalian ingin membalik posisi kata dalam sebuah kalimat, seseorang normalnya akan mengarahkan tanda kursor berkedip-kedip ke bagian yang ingin diperbaiki. Sementara saya, menghapus (menekan tuts backspace) kata yang salah tersebut beserta satu kata sebelumnya. Alih-alih memperbaiki huruf yang salah, saya justru mengetik ulang dua kata tersebut. Berulang-ulang di bagian yang sama. Merasa kurang pas sedikit saja, langsung hapus dua kata atau lebih dan mengetiknya ulang, persis sama kata demi kata. Begitu terus sambil diulangi, dan diulangi, bunyi susunan kata-kata tersebut pun kehilangan makna dan strukturnya.

Tak percaya? Coba saja cari kalimat pendek, dan baca terus menerus. Bunyinya, meskipun hanya dalam hati, lama-kelamaan akan memudarkan makna. Menjadikan mereka tidak lagi relevan dalam konteks apa pun.

Iya, saya sangat paham bahwa tindakan itu cukup membuang-buang waktu, apalagi saat dikejar tenggat. Hanya saja, kebiasaan itu sulit hilang. Juga termasuk saat menulis ini.

Bukan baru sadar belakangan ini, tetapi sudah berlangsung lama, lebih dari enam atau tujuh tahun lalu, waktu masih berprofesi sebagai wartawan dan redaktur harian di Samarinda. Lantaran acap kali teramat mengganggu, beberapa cara telah dicoba secara sporadis.

Mulai dari mencoba fokus, menempatkan kegiatan mengetik secara sadar (mindful), tetapi malah tercerap mengamati gejolak batin yang timbul; mencoba mengetik lebih perlahan, tetapi ide dan gagasan malah buyar tak beraturan; mencoba mengabaikan kesalahan-kesalahan yang terjadi, dengan pertimbangan nantinya akan melewati proses penyuntingan, tetapi tak bertahan lama. Sikap yang (sok) perfeksionis ini membandel, bertahan sampai sekarang,

Momen-momen bisa mengetik dengan lancar, cepat, dan relatif tepat kian jarang terjadi. Biasanya, setelah berganti tekstur dan keempukan papan kibor; mendapati meja dan kursi dengan sudut yang terasa pas; atau ketika semangat dan inspirasi menulis sedang deras-derasnya.

Saya menyerah sajalah. Yang pasti masih banyak hal-hal penting lain, yang lebih patut diperhatikan dalam menjalani hidup saat ini. Segala ketidaknyamanan dalam berkegiatan tetap bercokol di sana, menjadi benalu tanpa keterangan dan penjelasan. Sampai tanpa sengaja terpapar dengan artikel ini.

Image result for OCD typing animated gif
OCD typing. Foto: articles.aplus.com

Setelah membacanya, saya berusaha tidak ingin gegabah menyebut kebiasaan tersebut adalah gejala Obsessive Compulsive Disorder (OCD) Perfectionism. Kendati, tanda-tandanya kok ada yang bersinggungan?

Sebelumnya, sepertinya ada perbedaan cukup besar antara bersikap perfeksionis dalam konteks aktivitas keseharian ini, dengan bersikap perfeksionis dalam upaya menghasilkan sesuatu.

Bersikap perfeksionis saat memastikan pintu sudah terkunci dengan serapat-rapatnya sebelum pergi, ialah isyarat kepada diri sendiri bahwa: “Semuanya sudah berjalan dengan lancar.” Sedikit atau sesepele apa pun gangguan yang muncul, bisa menjadi pengacau kondisi “lancar” tadi. Begitu pula saat mengetik, yang entah bagaimana, menandakan bahwa otak dan pikiran kita “tidak mau” mempercayai apa yang dilihat mata, dan terbaca dalam hati.

Mengutip artikel tadi.

Unhealthy perfectionism tends to be high if your OCD symptoms revolve around checking. Specifically, if you do not feel you have perfect certainty that you have locked the door or turned off the stove, you might return to check these items over and over again. Tied to this is the excessive fear of making a catastrophic mistake, such as leaving the door open all day or burning down the house by leaving the stove on. Ironically, checking over and over again reinforces the idea that you are not perfect or possibly even “losing your mind.” This can make you feel even worse and less self-confident which, of course, sets you up to do more checking.

Jika kamu juga mengalami situasi yang sama, dan sudah di tingkat mengganggu, satu-satunya cara terbaik adalah dengan memeriksakannya secara proper. Pencarian artikel sebanyak apa pun, baru sebatas memberi pengetahuan baru, atau bias informasi.

Apalagi sejauh ini, penyebab utamanya belum bisa dijelaskan. Pendapat yang disarikan dari riset-riset baru mengklasifikasi faktor pemengaruh OCD. Yakni:

  • faktor genetik,
  • faktor autoimun,
  • faktor hormonal,
  • faktor neurologis atau saraf,
  • faktor kognitif
  • faktor lingkungan dan perilaku

Kalau sudah begini, kembali teringat ungkapan “tak ada yang sempurna“, sebab seberat-beratnya upaya yang dilakukan demi mencapai kesempurnaan tersebut, tetap saja merupakan hal yang rentan. Dicolek sedikit, bubar jalan, mesti diulangi kembali. Padahal, kehidupan ini tidak selalu ringan, lancar, dan mudah untuk dijalani. Jangan menambahkan siksaan.

Semoga kamu tidak mengalaminya, ya.

… dan mudah-mudahan, bisa dipatahkan semudah penjelasan di video ini.

“Debunking the myths of OCD”

[]

Membaca di Dalam Bus TransJakarta, dan Dua Orang Asing yang Saling Berbagi Cerita

HAMPIR pukul setengah sebelas, tadi malam, dan saya masih belum tahu ingin menulis apa untuk Linimasa. Namun, kesan yang tertinggal dari kejadian kemarin pagi tetap kuat terasa, karena merupakan sesuatu yang tidak pernah dialami sebelumnya.

Memanfaatkan waktu tempuh dalam perjalanan menuju kantor setiap pagi, saya terkadang membaca buku bila memungkinkan. Selama penumpang tidak terlalu berjejalan hingga berhimpit-himpitan, apalagi kalau sudah mengerti selanya, akan ada cukup ruang untuk mengangkat dan membaca buku di dalam bus TransJakarta, meski sambil berdiri dengan salah satu tangan memegang tali penyangga sekalipun. Ini sebabnya, saya lebih menyukai buku-buku edisi saku–sebenarnya hanya sedikit lebih kecil dibanding ukuran buku pada umumnya–yang lebih nyaman dibawa-bawa, serta cukup mudah saat membalik halaman-halamannya.

Kemarin, saya baru mulai membaca “1984” versi terjemahan bahasa Indonesia. Menaiki armada TransJakarta yang panjang dan terdiri dari tiga bagian, saya cukup nyaman berdiri dan bersandar di area sambungan yang mirip tarikan akordeon. Agak gelap, memang, tetapi setidaknya bisa memegang buku dengan kedua tangan.

Seperti biasanya, jumlah penumpang terus bertambah dari setiap halte, bikin makin sempit ditambah bau badan yang lumayan kencang. Lewat dari Halte Grogol 1, barulah situasi berangsur kondusif, dan saya bisa bergeser ke belakang bus mencari pegangan kosong serta meneruskan membaca.

“1984”

Melewati RS Sumber Waras, seorang penumpang yang duduk tak jauh dari posisi saya berdiri membuka maskernya lalu sekonyong-konyong berkata: “Baca ‘Nineteen Eighty-Four’ juga, ya?” sambil tersenyum dan menunjuk sampul depan buku di tangan saya. Sempat tidak menyadari ada yang mengajak bicara, saya copot salah satu earphone, buru-buru menjawab “iya”, dan langsung dia respons: “Bukunya itu bagus banget!” Ada buku Andrea Hirata bersampul hitam kuning yang ia pegang di atas pangkuannya; telunjuk kanannya terselip di halaman yang tampaknya tengah ia baca.

Perbincangan di antara kami, dua orang asing yang bahkan tidak menanyakan nama satu sama lainnya, terus berlanjut sekira 10 menit. Kurang lebih dari atas Flyover Roxy sampai akhirnya bus kami tiba di Halte Harmoni. Dia mengemukakan tentang betapa briliannya George Orwell, sang penulis, menggambarkan imajinasi mengenai masa depan manusia. Pendapat yang saya amini, lantaran Orwell sudah laiknya seorang futuris. Ia menggunakan cakupan perspektif dan wawasan seorang warga terpelajar London pasca Perang Dunia Kedua, tahun 1949, mencoba menerka apa yang akan terjadi 35 tahun ke depan lewat berbagai terpaan gejolak ekonomi politik pada manusia.

Pernyataan dan tanggapan terus bersambutan, dan begitu seterusnya. Dia menyarankan untuk lanjut membaca “Animal Farm”, novel legendaris lain yang berkutat pada sosialisme dan komunisme, yang kerap disandingkan dengan “1984”. Dia juga mengutarakan kekagumannya terhadap trivia mengenai Newspeak, salah satu objek minor cerita yang berkaitan dengan pola berbahasa dalam plotnya … serta masih banyak lainnya, sampai ia harus turun dan berganti bus, dan kita sama-sama mengakhiri obrolan dengan: “Nice talking to you…”

Dari sini, Jakarta ternyata tetap bisa menjadi kota yang membuat orang-orang asing, penghuninya, merasa baik-baik saja.

Satu hal yang menjadi penyesalan, saya lupa membuka masker di sepanjang pembicaraan.

Sungguh tidak sopan.

[]

Hidup: Koreksi Tiada Henti

DAN kalau tulisan-tulisan di Linimasa yang dulu-dulu kita remake lagi, setuju nggak?”

Itu kalimat penutup tulisan Mas Nauval, pekan lalu. Cukup menggoda untuk dilakukan, sih, tetapi saya ingin lebih melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Yaitu, paduan antara waktu yang bergulir, pandangan, dan penerimaan kita. Dalam konteks Linimasa–maupun tulisan-tulisan lain pada umumnya–yang terjadi bukanlah sekadar remake buah-buah pikiran, melainkan perubahan-perubahan yang saling berhubungan. Segalanya selalu direvisi, mengalami peningkatan dan perkembangan.

Remake tulisan bukan sekadar perkara menghangatkan sesuatu yang sama dari masa lalu, supaya tidak basi dan bisa dinikmati kembali oleh orang-orang yang berbeda. Pasalnya, sepanjang waktu yang berlalu sejak tulisan dan ide itu dituangkan pertama kali, pemikiran si penulis berubah, dipengaruhi kondisi sosial budaya di sekitarnya. Perikehidupan manusia dan masyarakat berubah cukup drastis.

Contohnya, dahulu para gadis dan wanita hanya bisa terdiam malu, menunggu untuk ditanya barulah bisa memberikan jawaban, itu pun secara terbatas, serta dianggap tak patut jika mengutarakan keinginan terlebih dahulu. Kini, semua perubahan yang terjadi terkait itu tak lagi dianggap keanehan semata, banyak yang bahkan membudayakannya, merayakannya. Maka segala ide dan tulisan berkenaan dengan hal tersebut, sudah semestinya ditinjau kembali. Mengalami proses sintesisnya lagi. Direvisi. Di-remake.

Remake tulisan pun bukan sekadar benar dan salah secara kaku; pemikiran yang sebelumnya salah, pemikiran yang sekarang benar, sehingga pemikiran yang sebelumnya harus dilupakan dan ditinggalkan sepenuhnya.

Rumus sederhananya, sebuah kesalahan barulah menjadi kesalahan ketika ada yang menyanggahnya, mengkritisinya atas dasar banyak hal. Dari sisi etika, manfaat, efektivitas dan efisiensi dalam kehidupan kita.

Maksudnya begini, kita akan sangat awam, abai, dan tidak tahu bahwa sesuatu itu keliru atau salah, sebelum ada argumentasi yang menunjukkannya demikian. Terutama terhadap aspek-aspek baru yang belum pernah terpikirkan dalam kurun puluhan tahun.

Contohnya, sampai lebih dari 20 tahun lalu, pendidikan formal di sekolah diarahkan untuk menghasilkan calon-calon tenaga kerja. “Bersekolah yang baik, cari kerja di tempat yang bagus, pastikan ada fasilitas pensiun, dan menualah dalam ketenteraman yang terjamin.” Itu sebabnya berbondong-bondong mencoba menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS, kini Aparatur Sipil Negara-ASN). Kemudian, sebuah pemikiran baru muncul yang mengedepankan pentingnya mengejar sang renjana, passion dalam berkarya. Ada yang awalnya menjadi seorang karyawan, cukup produktif dan berprestasi, lalu seakan-akan menemukan renjananya. Lewat pemikiran dan serangkaian pertimbangan, dia akhirnya memutuskan berhenti dari tempat kerja untuk berkonsentrasi pada usahanya. Dia mengambil langkah berani, melepaskan kenyamanan agar bisa berkembang lebih besar tanpa batasan. Namun, seiring berjalannya waktu, pasang surut dia alami. Ada masanya dia merasa tercekik, dan berandai-andai terhadap masa lalunya sebagai karyawan. Mungkin apabila masih bertahan, dia sudah menjadi seorang manajer, atau bahkan VP. Ada pelajaran baru tentang rencana, renjana, dan realita.

Dari ilustrasi di atas, ada proses koreksi internal di sana. Bukan semata-mata perkara ini benar, itu salah yang kaku. Lebih kepada pemahaman dan pengertian yang lebih luas. Mau jadi karyawan, pemberi pekerjaan, pekerja tunggal dan lepas, atau bahkan menjadi seseorang yang tidak ingin terikat dengan batasan-batasan berpenghasilan dan berpenghidupan, semuanya sah-sah saja. Kenyataan dan pengalaman hidup menjadi referensi dalam memilih langkah selanjutnya.

Selain tentang pekerjaan dan passion di atas, contoh-contoh lainnya bertebaran di sekeliling kita. Yang dahulu dianggap baik, ternyata belum tentu seterusnya baik di saat ini. Misalnya, dahulu: Menjadi religius itu dianggap baik; kini; Religiusitas cenderung konservatif dan membuta. Perspektif pembahasan tentang isu ini sudah melebar, aspek-aspeknya pun berjenjang lebih panjang. Tak bisa divonis semata-mata benar versus salah.

Ko Glenn pernah berbagi cerita, dan menuliskannya di Linimasa, beberapa tahun lalu. Salah satu hal yang dihindari lewat menulis di blog adalah konfrontasi dan klarifikasi. Rekam jejak digital yang bisa dibaca sewaktu-waktu membekukan pemikiran kita pada saat itu. Bisa saja saat ini, beberapa waktu selepasnya, kita sudah memiliki pandangan berbeda terhadap hal tersebut. Kita pun bisa dihadapkan pada pertanyaan: “Mengapa bisa berpikiran seperti itu?” Baik dari diri sendiri, maupun orang lain. Proses koreksi telah terjadi, kendati tak selalu dituangkan dalam tulisan kembali. Menghasilkan remake. Toh, keputusan untuk menulis revisinya atau tidak, sepenuhnya kembali kepada si pemilik pemikiran dan tulisan.

…dan demikian, kehidupan kita tak ubahnya sebuah rangkaian proses koreksi, revisi, termasuk remake tiada henti. Coba saja simak tulisan-tulisan sebelumnya di Linimasa. Hampir semuanya berkelanjutan, sebagai cerita, cerita yang melibatkan hati, pun sebagai topik-topik yang mencuat kembali.

[]

“Cowok itu, enggak mesti ganteng…”

“COWOK itu, enggak mesti ganteng. Enggak peduli umurnya sudah 30 tahun, kek, 40 tahun, kek, pasti tetap gampang kalau mau kawin (menikah). Yang penting mapan, duitnya ada, cukup buat ngapa-ngapain.”

Sepupu, wanita, ngomong begitu, kalau tidak salah ingat, sembari mematah buku-buku kaki kepiting masak saus Padang berukuran sedang untuk kemudian diisap daging yang ada di dalam rongga kakinya. Beberapa tahun lalu. Jauh sebelum saya pindah kota.

Ini tipikal pembicaraan yang mengumandang di atas meja makan setelah sesi makan malam bersama kerabat dan famili tanpa merayakan, atau memperingati sesuatu secara spesifik. Yang dibincangkan pun tidak jauh-jauh dari urusan manusia. Termasuk pekerjaan, hubungan berpacaran, pernikahan, suasana rumah tangga, hubungan orang tua dan anak, masa depan anak, kekayaan dan capaian-capaian sosial … orang lain, intrik-intrik internal, serta masih banyak lagi lainnya.

Saya berasumsi, barangkali sebagian orang di ruang makan waktu itu setuju dengan pernyataan tersebut. Tidak ada respons atau tanggapan khusus yang dilontarkan. Tidak ada sanggahan, tidak pula penolakan. Hanya kelihatan dua tante yang, entah, agak manggut-manggut sambil mengupas dan makan buah, mungkin relevan bagi mereka. Sementara saya sendiri, berdiri di salah satu sisi sambil memegang gelas berisi soda, terlampau kenyang untuk terlalu peduli dan menggubris percakapan lebih jauh. Hanya berceletuk sekenanya.

Bertahun-tahun sudah lewat, dan seringkali tercetus pertanyaan internal tentang (1) apakah para wanita memang serentan (vulnerable) itu? Terus-menerus diidentikkan dengan keterbatasan sosial, keterbatasan fisiologis, dan keterbatasan emosional.

Tentang keterbatasan sosial, meliputi;

– Apakah hanya wanita yang dituntut untuk selalu concerned atau “bersiaga” dengan penampilannya, tampilan fisiknya, atau riasannya di hampir sepanjang waktu, terlepas dari preferensinya? Sebelum menikah, setelah menikah, setelah punya anak, atau pun setelah menjadi ibu rumah tangga.

Berkebalikan dengan itu, apakah satu-satunya hal yang harus diprioritaskan para pria ialah cari uang, cari uang, cari uang, dan jadi kaya, supaya–setidaknya–bisa menikahi tanpa kesulitan, serta menjamin kehidupan yang stabil di masa depan?

– Apakah hanya wanita yang bisa “dinikahi”, mengambil posisi pasif sebagai pemberi jawaban? Tak bisakah wanita yang “menikahi”, menjadi yang mengajukan keinginan?

– Bagaimana seharusnya sikap dan posisi para wanita terhadap “kepatuhan”, “ketaatan”, dan “pelayanan” terutama dalam hubungan, atau pernikahan?

– Bagaimana seharusnya sikap dan posisi para wanita terhadap tuntutan sosial agar menikah dalam kondisi-kondisi tertentu (seperti menikah sebelum dianggap tua; menikah dengan seseorang yang socially acceptable; kemudian bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik tanpa menghabiskan waktu di luar rumah jauh dari anak; berkeinginan dan mampu memiliki anak; memberikan asi; dan seterusnya).

Tentang keterbatasan fisiologis, misalnya;

– Terlepas dari kondisi alamiah yang memang demikian adanya, mengapa para wanita harus terus terpapar dengan narasi “masa kedaluwarsa”? Apakah dalam pernikahan, semua wanita harus hamil dan memiliki anak? Intinya, kalau sudah “kedaluwarsa”, so what?

– Lagi, terlepas dari preferensinya, bagaimana seharusnya seorang wanita memandang dan memperlakukan tubuhnya, katakanlah setelah melahirkan? Dalam hal ini, tubuhnya tidak sekadar tampilan fisik, melainkan juga situasi hormonal, dan hal-hal terkait.

Tentang keterbatasan emosional, seperti halnya perkara-perkara berikut;

– Adakah atau bagaimanakah batas wajar bagi seorang wanita mengekspresikan perasaannya; menyimpan dan mengelola perasaannya, katakanlah, demi standar kepatutan? Lebih jauh lagi, apakah batas wajar tersebut diperlukan?

– Kemudian, apabila batas wajar tersebut tidak diperlukan, bagaimana seharusnya para wanita menyikapi tindakan dan luapan emosi yang meledak-ledak? Meluap begitu saja, dan menuntut untuk diiyakan.

– Apakah tepat bila wanita selalu diidentikkan dengan “makan hati”, “sabar menerima”, dan “menjalani tanpa menuntut apa-apa”?

– Bagaimana dengan dikotomi pria lebih kuat dari wanita, maupun sebaliknya? Lebih kuat menahan perasaan, contohnya.

(2) Apakah semestinya para wanita harus dipersepsikan bergantung kepada pria? Dalam banyak hal, mulai dari “ditembak” sebagai pacar; dilamar sebagai calon istri; semata-mata menjadi pengikut suami, bukan rekan bicara apalagi berdiskusi.

Mengapa persepsi ini dilestarikan? Diajarkan dan ditanamkan sejak usia dini, tidak hanya kepada bocah-bocah wanita, tetapi juga pria. Yang akhirnya terbawa sampai dewasa, menghasilkan wanita-wanita submissive dan pria-pria arogan atas kepriaannya.

Saking lestarinya pula, sampai menghasilkan wanita-wanita yang desperate ingin segera dinikahi seiring bertambahnya usia, dan pria-pria yang menganggap wajar jika istri memiliki kedudukan lebih rendah daripada suami. Sebab, toh, yang mereka butuhkan (untuk menikah) hanyalah punya uang dan kebugaran seksual.

Menjadi semacam rumus sederhana, wanita yang ngebet menikah + pria dengan toxic masculinity yang kadangkala ditambah dengan kedunguan = terjadilah pernikahan yang begitulah. Pada akhirnya cuma menghasilkan situasi “ditinggalkan”, dan/atau “tak berani meninggalkan.”

(3) Apakah menjadi sebuah pandangan yang bias, atau justru merupakan pendapat yang sexist ketika pernyataan di atas justru dilontarkan oleh sesama wanita?

Demi menghindarkan saya agar tak tergelincir melakukan mansplaining, hampir semua pertanyaan di atas hanya berhak dijawab oleh para wanita, dan/atau oleh sejumlah pria yang dinilai layak berbicara mengenai ini, serta dipersilakan untuk menjawabnya.

Oke, pertanyaan terakhir. Kalau kamu seorang wanita, apakah kamu setuju dengan pernyataan pertama di atas tadi?

Be my guest…

[]

“Berisik!”

NUN, empat biksu sedang berlatih bersama. Mereka berikhtiar menjalani meditasi dalam bisu atau tanpa bicara selama dua minggu.

Malam hari pertama tiba. Mereka melanjutkan meditasi, berusaha berkonsentrasi dan mawas diri dalam posisi bersila dengan diterangi cahaya lilin.

Semilir angin malam berembus. Tidak terlalu kencang, tetapi cukup kuat untuk membuat api padam. Hingga beberapa waktu kemudian, api lilin mati dan ruangan pun menjadi gelap gulita.

Related image
Foto: Buddha Eye Temple

Salah satu biksu sontak berucap: Yah… lilinnya mati.
Ditanggapi biksu kedua: Bukankah kita tak boleh berbicara, ya?
Biksu ketiga kemudian bergumam: Kalian berisik!
Terakhir, biksu keempat berbicara dengan nada bangga: Aha! Hanya saya yang tidak berbicara.


Bisakah kita melihat diri kita sendiri dalam salah satu kisah Koan* di atas? Apakah kita menjadi biksu pertama, kedua, ketiga, atau yang keempat dalam kehidupan sehari-hari?

Biksu pertama adalah orang-orang yang sekadar mengekspresikan perasaan terhadap sesuatu. Seringkali memberikan respons secara spontan, refleks, reaktif, bahkan eksplosif tanpa sempat dipertimbangkan matang-matang.

Biksu kedua adalah orang-orang yang terpancing memberikan respons terhadap tindakan biksu pertama, atau orang lain. Mengingatkan saya dengan tren gerakan “Sekadar Mengingatkan 🙏🏽” yang marak di media sosial akhir-akhir ini. Dengan mampu mengingatkan orang lain, mereka cenderung merasa sudah benar. Baik secara konten, yakni tentang hal yang mereka ingatkan, juga secara konteks, mengenai tindakan mereka yang mengingatkan orang lain.

Biksu ketiga adalah orang-orang yang merasa terganggu dengan kebisingan tersebut. Mereka tengah berupaya mencapai sesuatu, tetapi dalam prosesnya malah terpapar dan turut terusik dengan pertentangan yang berlangsung. Mereka pun cenderung merasa benar, lantaran melihat dua pihak yang lain telah berlaku salah. Tanpa sadar, mereka turut melakukan kesalahan.

Sementara biksu keempat adalah orang-orang yang merasa lebih unggul, merasa memiliki posisi argumentatif yang lebih baik dibanding kelompok-kelompok lainnya dengan berbagai alasan. Beberapa di antaranya seperti merasa lebih pandai, lebih bijaksana, lebih cerdas, lebih berilmu; lebih tangguh dan lebih tahan banting; lebih berkelas dan lebih sophisticated; termasuk juga merasa lebih religius dan saleh; lebih alim dan lebih rajin beribadah; lebih paham tentang peraturan-peraturan tata cara keagamaan, serta sebagainya.

Ilusi ego.

Bagi kita yang terbiasa melihat segalanya secara biner, hanya mengenal benar dan salah secara absolut, keempat biksu tadi gagal dalam ikhtiarnya. Mereka melakukan kesalahan, melanggar ketentuan yang telah digariskan atau disepakati akibat dorongan emosional dan ketidaktahuan mereka sendiri.

Biksu pertama melakukan kesalahan karena hanyut dalam gelombang perasaan. Sensasinya serupa dengan keceplosan, berceletuk, menyumpah, dan sejenisnya. Ada banyak orang yang masih bisa memakluminya sebagai ketidaksengajaan, tetapi ada juga banyak orang lain yang langsung terpancing atau tersulut menanggapinya (biksu kedua, biksu ketiga, dan biksu keempat).

Entah benar atau salah, demikianlah yang kerap terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Semua orang–termasuk diri kita sendiri–ikut berkoar-koar senyaring mungkin terhadap banyak hal, seakan-akan koar yang kita teriakkan ialah pembeda keadaan, sekaligus penyelamat orang lain. Sekali lagi tanpa menyadari bahwa justru akan menjadi sama saja dengan yang lainnya.


Kisah Koan di atas biasanya hanya diakhiri dengan celetukan biksu keempat, tanpa ada kelanjutannya. Mereka berempat sedang berlatih meditasi, dan sudah gagal di malam pertama atas kesalahan yang amat dangkal, amat sepele.

Padahal, mereka masih memiliki 13 malam berikutnya untuk terus belajar mengawasi batin dan diri sendiri, agar mampu hening, dan bertindak tanpa gejolak.

Begitulah. Pengertian tumbuh seiring berjalannya waktu dan sebanyak-banyaknya pengalaman.

https://scontent-atl3-1.cdninstagram.com/vp/7b855938b51b72d9d31e4369e8a585de/5D83CDF9/t51.2885-15/e35/59796849_298219671087879_3317711070926421868_n.jpg?_nc_ht=scontent-atl3-1.cdninstagram.com
Foto: Deskgram

[]

*Koan: Kisah ilustratif dan anekdotal untuk pemahaman praktik Zen, sebagiannya tercatat berupa peristiwa yang terjadi/dialami oleh para guru dan sesepuh, dan sebagiannya lagi bersifat teka-teki absurd.