MASIHKAH ingat dengan atau pernahkah tahu tentang mainan pancing-pancingan ikan yang terdiri dari papan bundar berputar, yang berlubang dengan jarak teratur dan di dalamnya ditempatkan ikan-ikanan plastik?
Di bagian bawah papan plastik bundar berputar tersebut terpasang tonjolan-tonjolan acak. Ketika ujung buntut ikan-ikanan plastik terdorong tonjolan tersebut, ia akan sedikit terangkat hingga melewati permukaan papan bundar berputar, lalu bagian mulut ikan-ikanan plastik tersebut akan sedikit terbuka dan kita memancingnya menggunakan mata kail berbesi berani.

Tergantung dari seberapa besar mainannya, di setiap detik akan ada beberapa ikan-ikanan plastik yang mencuat dan mangap. Demikian seterusnya dan berulang.
Mangap.
Mangap.
Mangap.
Mangap.
Ketika kian banyak orang yang sibuk menjadi pengamat dan pengomentar, yang lain akan tetap berpacu dengan waktu dan kehidupan mereka masing-masing.
Mereka yang mengamati dan mengomentari, terkesan hidup tetapi tidak benar-benar menjalaninya. Mirip ikan-ikanan plastik tadi, yang kalau jeli, sebenarnya akan bisa dipancing menggunakan magnet pengamplifikasi. Itulah media sosial dan narasi di dunia maya.
Mainan ini akan sangat menarik dan menggoda untuk anak-anak hingga usia 4 tahun. Bagi yang berusia lebih tua, mungkin akan beralih ke hal lain.
Begitu juga kita, mungkin jika sudah lebih dewasa, akan mampu melihat bahwa mangap-mangap digital yang terus-menerus dilakukan dan dipaparkan kepada kita, sudah tak begitu menarik atau justru membosankan.
Bagi yang masih menyenanginya, ya, tidak salah juga. Karena tingkat penerimaan dan kedewasaan setiap orang tidaklah sama.
[]
Tinggalkan komentar